Anda di halaman 1dari 3

2.

04 Stuktur Otak Anak ADHD

(Paulsen & Waschke, 2012)


2.04.1 Faktor fungsi otak

Secara biologis terdapat dua mekanisme di dalam otak, yaitu


pengaktifan sel-sel saraf atau disebut juga dengan eksitasi dan penghambat
sel-sel saraf atau disebut juga dengan inhibisi. Pada reaksi eksitasi sel-sel
saraf peka terhadap adanya rangsangan dari luar melalui panca indera.
Sedangkan pada reaksi inhibisi, sel-sel saraf akan mengatur bila terlalu
banyak eksitasi. Pada anak kecil, sistem hambatan belum cukup
berkembang dan setiap anak balita bereaksi implusif, sulit menahan diri,
menganggap dirinya pusat dari dunia. Sistem inhibisi ini akan mulai pada
usia 2 tahun dan usia 4 tahun akan berkembang secara kuat. Namun pada
anak ADHD perkembangan sistem ini lebih lambat dan juga dengan
kapasitas yang lebih kecil. Sistem penghambat di otak bekerja kurang
mencukupi. Pada anak yang menyandang ADHD dan tidak, maka terdapat
perbedaan neuro-anatomi dan neuro-kimiawi nya (Paternotte & Buitelaar,
2010).

2.04.2 Defisit Neurotransmiter

Menurut Flanagen (2006), terjadi perubahan struktur otak akibat


defisit neurotransmiter, dua neurotransmiter pada otak tampaknya berperan
dalam regulasi jumlah pembangkitan dan perhatian. Kedua neurotransmiter
tersebut noradrenaline dan dopamine. Konsumsi obat mempengaruhi
regulasi keduanya.

2.04.3 Gangguan atau kelainan otak terjadi sejak dalam kandungann

Gangguan atau kelainan otak tersebut terjadi sejak janin dalam


kandungann, yaitu saat fase pembentukan organ-organ (organogenesis)
pada usia kehamilan trimester pertama (0-4 bulan). Hal ini mengakibatkan
neuro-anatomis pada bagian otak berikut ini menurut Veskariyanti (2008):

1) Lobus parietalis, menyebabkan anak ADHD tidak peduli dengan


lingkungan sekitar.

2) Serebelum (otak kecil) terutama pada lobus VI dan VII menimbulkan


gangguan proses sensoris, daya ingat, berpikir, berbahasa dan perhatian.
3) Sistem limbik yang disebut hipokampus dan amigdala. Kelainan pada
hipokampus mengakibatkan gangguan fungsi kontrol terhadap agresi dan
emosi serta fungsi belajar dan daya ingat, sehingga anak autisme kurang
dapat mengendalikan emosi, terlalu agresif atau sangat pasif, timbulnya
perilaku atau gerakan yang diulang-ulang, aneh, dan hiperaktif serta
kesulitan menyimpan informasi baru. Kelainan pada amigdala
mengakibatkan gangguan berbagai rangsang sensoris (pendengaran,
penglihatan, penciuman, perabaan, dan rasa takut).

DAFTAR PUSTAKA :

Flanagen, R. 2006. ADHD kids attention deficit hyperactivity disorder. Jakarta :


Prestasi Pustaka Pelajar

F.Paulsen & J.Waschke. 2012. Atlas Anatomi Manusia Sobotta, Edisi 23 Jilid 1.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Kosasih, E. 2012. Cara Bijak Memahami Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung:


Yrama Widya.

Paternotte, A. & J. Buitelaar. 2010. Attention Deficit Hyperactivity


Disorder(Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas). Jakarta:
Prenada Media Group.

Veskarisyanti, G. A.2008. 12 Terapi Autis Paling Efektif & Hemat: Untuk Autisme,
Hiperaktif & Retardasi Mental. Yogyakarta : Pustaka Anggrek.