Anda di halaman 1dari 19

REFERAT

MENINGITIS

Pembimbing :
dr. Mukhdiar Kasim Sp. S

Disusun Oleh :
Nabila Islamiyati (030.12.181)

KEPANITERAAN KLINIK NEUROLOGI


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA CILEGON
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
PERIODE 12 JUNI 22 JULI 2017
LEMBAR PENGESAHAN

REFERAT

MENINGITIS

Disusun dalam rangka memenuhi tugas Kepaniteraan Klinik

Bagian Ilmu Penyakit Saraf

Rumah Sakit Umum Daerah Kota Cilegon

Telah Disetujui Oleh :

Dokter Pembimbing

Dr. Mukhdiar Kasim Sp. S

1
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ..1

DAFTAR ISI 2

BAB I PENDAHULUAN ....3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..4

II.1. DEFINISI...4

II.2. ANATOMI MENINGENS.4

II.3. KLASIFIKASI MENINGITIS...7

II.4. PATOFISIOLOGI..8

II.5. GEJALA KLINIS...9

II.6. PEMERIKSAAN FISIK...10

II.7. PEMERIKSAAN PENUNJANG.11

II.8. PENATALAKSANAAN..12

II.9. PENCEGAHAN...14

II.10. PROGNOSIS..16

BAB III KESIMPULAN .....17

BAB IV DAFTAR PUSTAKA ...18

2
BAB I
PENDAHULUAN

Di negara sedang berkembang maupun di negara maju, penyakit infeksi masih


merupakan masalah medis yang sangat penting oleh karena angka kematiannya masih
cukup tinggi. Diantara penyakit infeksi yang amat berbahaya adalah infeksi Susunan
Saraf Pusat (SSP) termasuk ke dalamnya meningitis dan ensefalitis.1
Meningitis adalah suatu peradangan yang mengenai satu atau semua lapisan
selaput yang membungkus jaringan otak dan sumsum tulang belakang, yang
menimbulkan eksudasi (keluarnya cairan) berupa pus (nanah) atau serosa.
Meningitis biasanya disebabkan oleh infeksi. Seperti infeksi virus, infeksi
bakteri, jamur, dan parasit, juga bisa dari berbagai penyebab non-infeksius, seperti
karena obat-obatan misalnya.
Infeksi pada susunan saraf pusat (SSP) secara akut merupakan salah satu
penyakit yang memerlukan penanganan yang cepat dan tepat. Kerusakan sistem saraf
pusat sebenarnya tidak hanya karena adanya mikroorganisme, tetapi lebih diakibatkan
oleh proses inflamasi sebagai respon adanya mikroorganisme tersebut. Penyakit
meningitis dapat terjadi pada semua tingkat, usia, namun kalangan usia muda lebih
rentan terserang penyakit ini.1

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II. 1. Definisi
Meningitis adalah infeksi atau inflamasi yang terjadi pada selaput otak
(meningens) yang terdiri dari piamater, arachnoid, dan duramater yang disebabkan
oleh bakteri, virus, riketsia, atau protozoa, yang dapat terjadi secara akut dan kronis.2

II. 2. Anatomi Meningens


Otak dibungkus oleh selubung mesodermal, meninges. Lapisan luarnya adalah
duramater dan lapisan dalamnya dibagi menjadi arachnoidea dan piamater.

1. Duramater

Dura kranialis adalah suatu struktur fibrosa yang kuat dengan suatu lapisan
dalam (meningeal) dan lapisan luar (periostal). Kedua lapisan dural yang melapisi
otak umumnya bersatu, kecuali di tempat di tempat dimana keduanya berpisah
untuk menyediakan ruang bagi sinus venosus (sebagian besar sinus venosus
terletak di antara lapisan-lapisan dural), dan di tempat dimana lapisan dalam
membentuk sekat di antara bagian-bagian otak.

Duramater lapisan luar melekat pada permukaan dalam cranium dan juga
membentuk periosteum, dan mengirimkan perluasan pembuluh dan fibrosa ke
dalam tulang itu sendiri; lapisan dalam berlanjut menjadi dura spinalis. Septa kuat
yang berasal darinya membentang jauh ke dalam cavum cranii. Di anatara kedua
hemispher terdapat invaginasi yang disebut falx cerebri dan melekat pada crista

4
galli dan meluas ke crista frontalis ke belakang sampai ke protuberantia occipitalis
interna, tempat dimana duramater bersatu dengan tentorium cerebelli yang meluas
ke dua sisi. Falx cerebri membagi pars superior cavum cranii sedemikian rupa
sehingga masing-masing hemispher aman pada ruangnya sendiri. Tentorium
cerebelli terbentang seperti tenda yang menutupi cerebellum dan letaknya di fossa
cranii posterior. Tentorium melekat di sepanjang sulcus transversus os occipitalis
dan pinggir atas os petrosus dan processus clinoideus. Di sebelah temporal ia
meninggalkan lobus besar yaitu incisura tentorii, tempat lewatnya trunkus cerebri.
Saluran-saluran vena besar, sinus dura mater, terbenam dalam dua lamina dura.

2. Arachnoidea

Membrane arachnoidea melekat erat pada permukaan dalam dura dan hanya
terpisah dengannya oleh suatu ruang potensial, yaitu spatium subdural. Ia
menutupi spatium subarachnoid yang menjadi liquor cerebrospinalis, cavum
subarachnoid dan dihubungkan ke piamater oleh trabekula dan septa-septa yang
membentuk suatu anyaman padat yang menjadi system rongga-rongga yang saling
berhubungan.
Dari arachnoidea menonjol kelura tonjolan-tonjolan mirip jamur ke dalam sinum-
sinus venosus utama yaitu granulationes pacchioni (granulotiones/vili
arachnoidea). Sebagian besar vili arachnoidea terdapat dis ekitar sinus sagitalis

5
superior dalam lacuna lateralis. Didduga bahwa liquor cerebrospinalis memasuki
circulus venosus melalui vili.
Cavum subarachnoidea adalah rongga di antara arachnoid dan piamater yang
secara relative sempit dan terletak di atas permukaan hemisfer cerebrum, namun
rongga tersebut menjadi jauh bertambah lebar di daerah-daerah dasar otak.
Pelebran rongga ini disebut cisterna arachnoidea, seringkali diberi nama menurut
struktur otak yang berdekatan. Cisterna ini berhubungan secara bebas dengan
cisterna yang berbatasan dengan rongga sub arachnoid umum.
Cisterna magna dibentuk oleh pelebaran-pelebaran rongga diatas sub arachnoid di
antara medulla oblongata dan hemisphere cerebellum: cisterna ini bersinambung
dengan rongga subarachnoid spinalis. Cisterna pontin yang terletak pada aspek
ventral dari pons mengandung arteri basilaris dan beberapa vena. Di bawah
cerebrum terdapat rongga yang lebar diantara ke dua lobus temporalis. Rongga ini
dibagi menjadi cisterna chiasmaticus di atas chiasma opticum, cisterna
supraselaris di atas diafragma sellae, dan cisterna interpeduncularis di antara
peduncle cerebrum. Rongga di antara lobus frontalis, parietalis, dan temporalis
dinamakan cisterna fissure lateralis (cisterna sylvii).

3. Piamater
Piamater merupakan selaput jaringan penyambung yang tipis yang menutupi
permukaan otak dan membentang ke dalam sulcus, fissure dan sekitar pembuluh
darah di seluruh otak. Piamater juga membentang ke dalam fissure transversalis di
bawah corpus callosum. Di tempat ini pia membentuk tela choroidea dari
ventrikel tertius dan lateralis, dan bergabung dengan ependim dan pembuluh-
pembuluh darah choroideus untuk membentuk pleksus choroideus dari ventrikel-
ventrikel ini. Pia dan ependim berjalan diatas atap dari ventrikel keempat dan
membentuk tela choroidea di tempat itu.

6
II. 3. Klasifikasi Meningitis3
2.3.1 Meningitis bakterial
Meningitis bakterial merupakan salah satu penyakit infeksi yang menyerang
susunan saraf pusat, mempunyai resiko tinggi dalam menimbulkan kematian dan
kecacatan. Diagnosis yang cepat dan tepat merupakan tujuan dari penanganan
meningitis bakteri.
Meningitis bakterial selalu bersifat purulenta. Pada umumnya meningitis
purulenta timbul sebagai komplikasi dari septikemia. Pada meningitis meningokokus,
prodomnya ialah infeksi nasofaring, oleh karena invasi dan multiplikasi
meningokokus terjadi di nasofaring. Meningitis purulenta dapat menjadi komplikasi
dari otitis media akibat infeksi kuman - kuman tersebut.
Etiologi dari meningitis bakterial antara lain:
1. S. pneumonie
2. N. meningitis
3. Group B streptococcus atau S. agalactiae
4. L. monocytogenes
5. H. influenza
6. Staphylococcus aureus

2.3.2 Meningitis tuberkulosa


Untuk meningitis tuberkulosa sendiri masih banyak ditemukan di Indonesia
karena morbiditas tuberkulosis masih tinggi. Meningitis tuberculosis terjadi sebagai
akibat komplikasi penyebaran tuberkulosis primer, biasanya di paru. Terjadinya
meningitis tuberkulosa bukanlah karena terinfeksinya selaput otak langsung oleh
penyebaran hematogen, melainkan biasanya sekunder melalui pembentukan tuberkel
pada permukaan otak, sumsung tulang belakang atau vertebra yang kemudian pecah
kedalam rongga arachnoid.
Pada pemeriksaan histologis, meningitis tuberkulosa ternyata merupakan
meningoensefalitis. Peradangan ditemukan sebagian besar pada dasar otak, terutama
pada batang otak tempat terdapat eksudat dan tuberkel. Eksudat yang serofibrinosa
dan gelatinosa dapat menimbulkan obstruksi pada sisterna basalis. Etiologi dari
meningitis tuberkulosa adalah Mycobacterium tuberculosis.

7
2.4.3 Meningitis viral
Disebut juga dengan meningitis aseptik, terjadi sebagai akibat akhir / sequel
dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh virus seperti campak, mumps, herpes
simpleks, dan herpes zooster. Pada meningitis virus ini tidak terbentuk eksudat dan
pada pemeriksaan cairan serebrospinal (CSS) tidak ditemukan adanya organisme.
Inflamasi terjadi pada korteks serebri, white matter, dan lapisan menigens. Terjadinya
kerusakan jaringan otak tergantung dari jenis sel yang terkena. Pada herpes simpleks,
virus ini akan mengganggu metabolisme sel, sedangkan jenis virus lain bisa
menyebabkan gangguan produksi enzim neurotransmiter, dimana hal ini akan
berlanjut terganggunya fungsi sel dan akhirnya terjadi kerusakan neurologis.

2.3.3 Meningitis jamur


Meningitis oleh karena jamur merupakan penyakit yang relatif jarang
ditemukan, namun dengan meningkatnya pasien dengan gangguan imunitas, angka
kejadian meningitis jamur semakin meningkat. Problem yang dihadapi oleh para
klinisi adalah ketepatan diagnosa dan terapi yang efektif. Sebagai contoh, jamur tidak
langsung dipikirkan sebagai penyebab gejala penyakit / infeksi dan jamur tidak sering
ditemukan dalam cairan serebrospinal (CSS) pasien yang terinfeksi oleh karena jamur
hanya dapat ditemukan dalam beberapa hari sampai minggu pertumbuhannya.
Etilogi dari meningitis jamur antara lain:
1. Cryptococcus neoformans
2. Coccidioides immitris

II. 4. Patofisiologi
Meningitis pada umumnya sebagai akibat dari penyebaran penyakit di organ atau
jaringan tubuh yang lain. Virus/bakteri menyebar secara hematogen sampai ke selaput
otak, misalnya pada penyakit Faringitis, Tonsilitis, Pneumonia, Bronchopneumonia
dan Endokarditis. Penyebaran bakteri/virus dapat pula secara perkontinuitatum dari
peradangan organ atau jaringan yang ada di dekat selaput otak, misalnya Abses otak,
Otitis Media, Mastoiditis, Trombosis sinus kavernosus dan Sinusitis. Penyebaran
kuman bisa juga terjadi akibat trauma kepala dengan fraktur terbuka atau komplikasi
bedah otak.

8
Invasi kuman-kuman ke dalam ruang subaraknoid menyebabkan reaksi radang
pada pia dan araknoid, CSS (Cairan Serebrospinal) dan sistem ventrikulus. Mula-
mula pembuluh darah meningeal yang kecil dan sedang mengalami hiperemi; dalam
waktu yang sangat singkat terjadi penyebaran sel-sel leukosit polimorfonuklear ke
dalam ruang subarakhnoid, kemudian terbentuk eksudat. Dalam beberapa hari terjadi
pembentukan limfosit dan histiosit dan dalam minggu kedua sel sel plasma. Eksudat
yang terbentuk terdiri dari dua lapisan, bagian luar mengandung leukosit
polimorfonuklear dan fibrin sedangkan di lapisaan dalam terdapat makrofag.4
Proses radang selain pada arteri juga terjadi pada vena-vena di korteks dan dapat
menyebabkan trombosis, infark otak, edema otak dan degenerasi neuron-neuron.
Trombosis serta organisasi eksudat perineural yang fibrino-purulen menyebabkan
kelainan kraniales. Pada Meningitis yang disebabkan oleh virus, cairan serebrospinal
tampak jernih dibandingkan Meningitis yang disebabkan oleh bakteri.

II. 5. Gejala Klinis


Meningitis ditandai dengan adanya gejala-gejala seperti panas mendadak, letargi,
muntah dan kejang. Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan cairan
serebrospinal (CSS) melalui pungsi lumbal.
Meningitis karena virus ditandai dengan cairan serebrospinal yang jernih serta
rasa sakit penderita tidak terlalu berat. Pada umumnya, meningitis yang disebabkan
oleh Mumps virus ditandai dengan gejala anoreksia dan malaise, kemudian diikuti
oleh pembesaran kelenjer parotid sebelum invasi kuman ke susunan saraf pusat. Pada
meningitis yang disebabkan oleh Echovirus ditandai dengan keluhan sakit kepala,
muntah, sakit tenggorokan, nyeri otot, demam, dan disertai dengan timbulnya ruam
makopapular yang tidak gatal di daerah wajah, leher, dada, badan, dan ekstremitas.
Gejala yang tampak pada meningitis Coxsackie virus yaitu tampak lesi vasikuler pada
palatum, uvula, tonsil, dan lidah dan pada tahap lanjut timbul keluhan berupa sakit
kepala, muntah, demam, kaku leher, dan nyeri punggung.5
Meningitis bakteri biasanya didahului oleh gejala gangguan alat pernafasan dan
gastrointestinal. Meningitis bakteri pada neonatus terjadi secara akut dengan gejala
panas tinggi, mual, muntah, gangguan pernafasan, kejang, nafsu makan berkurang,
dehidrasi dan konstipasi, biasanya selalu ditandai dengan fontanella yang
mencembung. Kejang dialami lebih kurang 44% anak dengan penyebab Haemophilus

9
influenzae, 25% oleh Streptococcus pneumoniae, 21% oleh Streptococcus, dan 10%
oleh infeksi Meningococcus. Pada anak-anak dan dewasa biasanya dimulai dengan
gangguan saluran pernafasan bagian atas, penyakit juga bersifat akut dengan gejala
panas tinggi, nyeri kepala hebat, malaise, nyeri otot dan nyeri punggung. Cairan
serebrospinal tampak kabur, keruh atau purulen.5
Meningitis Tuberkulosa terdiri dari tiga stadium, yaitu stadium I atau stadium
prodormal selama 2-3 minggu dengan gejala ringan dan nampak seperti gejala infeksi
biasa. Pada anak-anak, permulaan penyakit bersifat subakut, sering tanpa demam,
muntah-muntah, nafsu makan berkurang, murung, berat badan turun, mudah
tersinggung, cengeng, obstipasi, pola tidur terganggu dan gangguan kesadaran berupa
apatis. Pada orang dewasa terdapat panas yang hilang timbul, nyeri kepala, konstipasi,
kurang nafsu makan, fotofobia, nyeri punggung, halusinasi, dan sangat gelisah.
Stadium II atau stadium transisi berlangsung selama 13 minggu dengan gejala
penyakit lebih berat dimana penderita mengalami nyeri kepala yang hebat dan kadang
disertai kejang terutama pada bayi dan anak-anak. Tanda-tanda rangsangan meningeal
mulai nyata, seluruh tubuh dapat menjadi kaku, terdapat tanda-tanda peningkatan
intrakranial, ubun-ubun menonjol dan muntah lebih hebat. Stadium III atau stadium
terminal ditandai dengan kelumpuhan dan gangguan kesadaran sampai koma. Pada
stadium ini penderita dapat meninggal dunia dalam waktu tiga minggu bila tidak
mendapat pengobatan sebagaimana mestinya

II. 6. Pemeriksaan Rangsang Meningeal6

2.6.1 Pemeriksaan Kaku Kuduk

Pasien berbaring terlentang dan dilakukan pergerakan pasif berupa fleksi dan rotasi
kepala. Tanda kaku kuduk positif (+) bila didapatkan kekakuan dan tahanan pada
pergerakan fleksi kepala disertai rasa nyeri dan spasme otot. Dagu tidak dapat
disentuhkan ke dada dan juga didapatkan tahanan pada hiperekstensi dan rotasi
kepala.

2.6.2 Pemeriksaan Tanda Laseque


Pasien yang sedang berbaring diluruskan (ekstensi) kedua tungkainya. Kemudian satu
tungkai diangkat lurus, dibengkokkan (fleksi) pada persendian panggulnya. Tungkai
yang satu lagi harus selalu berada dalam keadaan lurus (ekstensi). Pada keadaan

10
normal, kita dapat mencapai sudut 70 derajat sebelum timbul rasa sakit dan tahanan.
Bila sudah timbul rasa sakit dan tahanan sebelum kita mencapai 70 derajat, maka
disebut tanda laseque positif.

2.6.3 Pemeriksaan Tanda Kernig


Pasien berbaring terlentang, tangan diangkat dan dilakukan fleksi pada sendi panggul
kemudian ekstensi tungkai bawah pada sendi lutut sejauh mengkin tanpa rasa nyeri.
Tanda Kernig positif (+) bila ekstensi sendi lutut tidak mencapai sudut 135 (kaki
tidak dapat di ekstensikan sempurna) disertai spasme otot paha biasanya diikuti rasa
nyeri.

2.6.4 Pemeriksaan Tanda Brudzinski I ( Brudzinski Leher)

Pasien berbaring terlentang dan pemeriksa meletakkan tangan kirinya dibawah kepala
dan tangan kanan diatas dada pasien kemudian dilakukan fleksi kepala dengan cepat
kearah dada sejauh mungkin. Tanda Brudzinski I positif (+) bila pada pemeriksaan
terjadi fleksi involunter pada leher.

2.6.5 Pemeriksaan Tanda Brudzinski II ( Brudzinski Kontra Lateral Tungkai)


Pasien berbaring terlentang dan dilakukan fleksi pasif paha pada sendi panggul
(seperti pada pemeriksaan Kernig). Tanda Brudzinski II positif (+) bila pada
pemeriksaan terjadi fleksi involunter pada sendi panggul dan lutut kontralateral.

II. 7. Pemeriksaan Penunjang

2.7.1 Pemeriksaan Pungsi Lumbal

Lumbal pungsi biasanya dilakukan untuk menganalisa jumlah sel dan protein cairan
cerebrospinal, dengan syarat tidak ditemukan adanya peningkatan tekanan
intrakranial.
a. Pada Meningitis Serosa terdapat tekanan yang bervariasi, cairan jernih, sel
darah putih meningkat, glukosa dan protein normal, kultur (-).
b. Pada Meningitis Purulenta terdapat tekanan meningkat, cairan keruh, jumlah
sel darah putih dan protein meningkat, glukosa menurun, kultur (+) beberapa
jenis bakteri.

11
2.7.2 Pemeriksaan darah

Dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin, jumlah leukosit, Laju Endap Darah


(LED), kadar glukosa, kadar ureum, elektrolit dan kultur.
a. Pada Meningitis Serosa didapatkan peningkatan leukosit saja. Disamping itu,
pada Meningitis Tuberkulosa didapatkan juga peningkatan LED.
b. Pada Meningitis Purulenta didapatkan peningkatan leukosit.

2.7.3 Pemeriksaan Radiologis


a. Pada Meningitis Serosa dilakukan foto dada, foto kepala, bila mungkin
dilakukan CT Scan.
b. Pada Meningitis Purulenta dilakukan foto kepala (periksa mastoid, sinus
paranasal, gigi geligi) dan foto dada.
II. 8. Penatalaksanaan

2.8.1 Meningitis bacterial

Terapi bertujuan untuk mengobati penyebab infeksi disertai perawatan intensif


suportif untuk membantu pasien melalui masa kritis. Sementara menunggu hasil
pemeriksaan terhadap bakteri penyebab, dapat diberikan obat sebagai berikut :5

Kombinasi ampisilin 12-18 gram dan kloramfenikol 4 gram, diberikan secara


intravena dalam dosis terbagi 4 kali per hari.

Dapat ditambahkan campuran trimetoprim 80 mg, sulfametoksazol 400 mg


intravena

Dapat pula ditambahkan seftriakson 4-6 gram intravena

Bila sebab diketahui :

Meningitis yang disebabkan pneumokok, meningokok

o Ampisilin 12-18 gram intravena dalam dosis terbagi per hari, selama
minimal 10 hari atau hingga sembuh

Meningitis yang disebabkan Haemophylus influenza

12
o Kombinasi ampisilin dan kloramfenikol seperti diatas, kloramfenikol
disuntikkan intravena 30 menit setelah ampisilin. Lama pengobatan 10
hari. Bila pasien alergi terhadap penisilin dapat diberikan kloramfenikol.

Meningitis yang disebabkan Enterobacteriaceae

o Sefotaksim 1-2 gram intravena tiap 8 jam. Bila resisten terhadap


sefotaksim berikan campuran trimetoprim 80 mg dan sulfometoksazol 400
mg per infus 2 kali 1 ampul per hari, selama minimal 10 hari.

2.8.2 Meningitis tuberculosis

Saat ini telah tersedia berbagai macam tuberkulostatik. Tiap jenis


tuberkulostatik mempunyai mempunyai spesifikasi farmakologis tersendiri. Berikut
ini adalah beberapa contoh tuberkulostatik yang dapat diperoleh di Indonesia :

1. Rifampisin

Diberikan dengan dosis 10 20 mg/kgBB/hari. Pada orang dewasa diberikan


dengan dosis 600 mg/hari, dengan dosis tunggal.

2. Isoniazid

Diberikan dengan dosis 10-20 mg/kgBB/hari. Pada dewasa dengan dosis 400
mg/hari.

3. Etambutol

Diberikan dengan dosis 25 mg/kgBB/hari sampai 1.500 mg/hari selama lebih


kurang 2 bulan. Obat ini dapat menyebabkan neuritis optika.

4. Streptomisin

Diberikan intramuskular selama lebih kurang 3 bulan. Tidak boleh digunakan


terlalu lama. Dosisnya adalah 30-50 mg/kgBB/hari.

5. Kortikosteroid

Biasanya dipergunakan prednison dengan dosis 2-3 mg/kgBB/hari (dosis normal


20 mg/hari dibagi dalam 3 dosis) selama 2-4 minggu kemudian diteruskan dengan
dosis 1 mg/kgBB/hari selama 1-2 minggu. Pemberian kortikosteroid lebih kurang

13
diberikan 3 bulan. Steroid diberikan untuk menghambat reaksi inflamasi,
menurunkan edema serebri, dan mencegah perlengketan meningens.

6. Pemberian tuberkulin intratekal

Pemberian tuberkulin intratekal bertujuan untuk mengaktivasi enzim lisosomal


yang menghancurkan eksudat di bagian dasar otak.

Berbagai macam tuberkulostatik mempunyai efek samping yang beragam. Di


samping sifat ototoksik, streptomisin juga bersifat nefrotoksik. INH dapat
mengakibatkan neuropati, rifampisin dapat menyebabkan neuritis optik, muntah,
kelainan darah perifer, gangguan hepar, dan flu-like symptoms. Etambutol bersifat
hepatotoksik dan dapat menimbulkan polineuropati dan kejang.

2.8.3 Meningitis viral

Meningitis virus biasanya dapat sembuh sendiri dan kembali seperti semula
(penyembuhan secara komplit).

II. 9. Pencegahan

2.9.1 Pencegahan Primer


Tujuan pencegahan primer adalah mencegah timbulnya faktor resiko
meningitis bagi individu yang belum mempunyai faktor resiko dengan melaksanakan
pola hidup sehat.
Pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan imunisasi meningitis pada
bayi agar dapat membentuk kekebalan tubuh. Vaksin yang dapat diberikan seperti
Haemophilus influenzae type b (Hib), Pneumococcal conjugate vaccine (PCV7),
Pneumococcal polysaccaharide vaccine (PPV), Meningococcal conjugate vaccine
(MCV4), dan MMR (Measles dan Rubella). Imunisasi Hib Conjugate vaccine (Hb-
OC atau PRP-OMP) dimulai sejak usia 2 bulan dan dapat digunakan bersamaan
dengan jadwal imunisasi lain seperti DPT, Polio dan MMR. Vaksinasi Hib dapat
mlindungi bayi dari kemungkinan terkena meningitis Hib hingga 97%. Pemberian
imunisasi vaksin Hib yang telah direkomendasikan oleh WHO, pada bayi 2-6 bulan
sebanyak 3 dosis dengan interval satu bulan, bayi 7-12 bulan di berikan 2 dosis
dengan interval waktu satu bulan, anak 1-5 tahun cukup diberikan satu dosis. Jenis
imunisasi ini tidak dianjurkan diberikan pada bayi di bawah 2 bulan karena dinilai

14
belum dapat membentuk antibodi. Meningitis Meningococcus dapat dicegah dengan
pemberian kemoprofilaksis (antibiotik) kepada orang yang kontak dekat atau hidup
serumah dengan penderita. Vaksin yang dianjurkan adalah jenis vaksin tetravalen A,
C, W135 dan Y.35 meningitis TBC dapat dicegah dengan meningkatkan sistem
kekebalan tubuh dengan cara memenuhi kebutuhan gizi dan pemberian imunisasi
BCG. Hunian sebaiknya memenuhi syarat kesehatan, seperti tidak over crowded (luas
lantai > 4,5 m2 /orang), ventilasi 10 20% dari luas lantai dan pencahayaan yang
cukup. Pencegahan juga dapat dilakukan dengan cara mengurangi kontak langsung
dengan penderita dan mengurangi tingkat kepadatan di lingkungan perumahan dan di
lingkungan seperti barak, sekolah, tenda dan kapal. Meningitis juga dapat dicegah
dengan cara meningkatkan personal hygiene seperti mencuci tangan yang bersih
sebelum makan dan setelah dari toilet.7
2.9.2 Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder bertujuan untuk menemukan penyakit sejak awal, saat
masih tanpa gejala (asimptomatik) dan saat pengobatan awal dapat menghentikan
perjalanan penyakit. Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan diagnosis dini dan
pengobatan segera. Deteksi dini juga dapat ditingkatan dengan mendidik petugas
kesehatan serta keluarga untuk mengenali gejala awal meningitis. Dalam
mendiagnosa penyakit dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisik, pemeriksaan cairan
otak, pemeriksaan laboratorium yang meliputi test darah dan pemeriksaan X-ray
(rontgen) paru .
Selain itu juga dapat dilakukan surveilans ketat terhadap anggota keluarga
penderita, rumah penitipan anak dan kontak dekat lainnya untuk menemukan
penderita secara dini. Penderita juga diberikan pengobatan dengan memberikan
antibiotik yang sesuai dengan jenis penyebab meningitis.

2.9.3 Pencegahan Tertier


Pencegahan tertier merupakan aktifitas klinik yang mencegah kerusakan lanjut
atau mengurangi komplikasi setelah penyakit berhenti. Pada tingkat pencegahan ini
bertujuan untuk menurunkan kelemahan dan kecacatan akibat meningitis, dan
membantu penderita untuk melakukan penyesuaian terhadap kondisikondisi yang
tidak diobati lagi, dan mengurangi kemungkinan untuk mengalami dampak neurologis
jangka panjang misalnya tuli atau ketidakmampuan untuk belajar. Fisioterapi dan
rehabilitasi juga diberikan untuk mencegah dan mengurangi cacat.

15
II. 10. Prognosis

Prognosis meningitis tergantung kepada umur, mikroorganisme spesifik yang


menimbulkan penyakit, banyaknya mikroorganisme dalam selaput otak, jenis
meningitis dan lama penyakit sebelum diberikan antibiotik. Penderita usia neonatus,
anak-anak dan dewasa tua mempunyai prognosis yang semakin jelek, yaitu dapat
menimbulkan cacat berat dan kematian. Pengobatan antibiotika yang adekuat dapat
menurunkan mortalitas meningitis purulenta, tetapi 50% dari penderita yang selamat
akan mengalami sequelle (akibat sisa).8

Pada meningitis Tuberkulosa, angka kecacatan dan kematian pada umumnya


tinggi. Prognosa jelek pada bayi dan orang tua. Angka kematian meningitis TBC
dipengaruhi oleh umur dan pada stadium berapa penderita mencari pengobatan.
Penderita dapat meninggal dalam waktu 6-8 minggu. Penderita meningitis karena
virus biasanya menunjukkan gejala klinis yang lebih ringan, penurunan kesadaran
jarang ditemukan. Meningitis viral memiliki prognosis yang jauh lebih baik, sebagian
penderita sembuh dalam 12 minggu dan dengan pengobatan yang tepat
penyembuhan total bisa terjadi.

16
BAB III

KESIMPULAN

Di negara sedang berkembang maupun di negara maju, penyakit infeksi


masih merupakan masalah medis yang sangat penting oleh karena angka kematiannya
masih cukup tinggi.1 Meningitis adalah suatu peradangan yang mengenai satu atau
semua lapisan selaput yang membungkus jaringan otak dan sumsum tulang belakang,
yang menimbulkan eksudasi (keluarnya cairan) berupa pus (nanah) atau serosa.
Ada beberapa macam meningitis, yaitu meningitis bacterial, meningitis
tuberculosis, meningitis virus, dan meningitis jamur.3= Masing-masing jenis
meningitis memiliki perbedaan penatalaksanaannya tergantung dari penyebab
meningitis tersebut. Prognosis meningitis tergantung kepada umur, mikroorganisme
spesifik yang menimbulkan penyakit, banyaknya mikroorganisme dalam selaput otak,
jenis meningitis dan lama penyakit sebelum diberikan antibiotik.

17
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

1. Saharso D, dkk. Infeksi Susunan Saraf Pusat. Dalam : Soetomenggolo TS,


Ismael S, penyunting. Buku Ajar Neurologi Anak. Jakarta: BP IDAI; 1999. h.
40-6, 339-71
2. CDC. Meningitis. Centers for Disease Control and Prevention.
Updated: August 6th, 2009 Available from :
http://www.cdc.gov/meningitis/about/ prevention.html. Accessed July 2017
3. Arydina, Elisabeth SH, Agung T. Bacterial Meningeal Score Sebagai Indicator
Diagnosis Meningitis Bakterialis di RSUP Sardjito Yogyakarta. Sari Pediatri:
2014: 15(5); 274-280.
4. Ropper AH, Brown RH. Adan and Victors Principles of Neurology. 8th Ed.
New York: McGraw-Hill; 2005
5. Brouwer M, Van De Beek D, Thwaites G. Dilemmas in the Diagnosis of
Meningitis Bacterialis. Lancet: 2012; 380: 1684-92.
6. Lumbantobing SM. Neurolgi klinik pemeriksaan fisik dan mental. Jakarta:
FKUI; 2016.
7. Van De Beek D, Brouwer M, Thwaites G. Advanced in Treatmen of Bacterial
Meningitis. Lancet: 2012; 380.
8. Fernandes D, Pereira J, Silvestre J, Bento L. Acute bacterial meningitis in the
intensive care unitand risk factor for clinical outcomes. Retrospective study. J
Crit Care: 2014; 29.

18