Anda di halaman 1dari 2

Pencegahan Striktur Uretra Pada Pemasangan

Kateter Uretra pada Laki-Laki


12FEB
Pendahuluan
Bali merupakan pulau yang menjadi tujuan wisata. Wisatawan yang datang ke Bali tidak hanya berasal
dari daerah Indonesia tapi juga berasal luar negeri. Kebanyakan dari wisatawan asing tersebut
menjadikan Bali sebagai tempat berlibur. Sebagai sebuah pulau yang didatangi wisatawan asing jutaan
orang tiap tahunnya, diperlukan tenaga kesehatan yang profesional. Salah satu kasus yang mungkin
ditemui oleh para dokter yang bertugas di Bali adalah retensi urin akut. Retensi akut ini dapat disebabkan
oleh banyak hal. Penyebabnya dapat berupa benign prostatik hiperplasia, batu uretra, striktur uretra, dan
lain-lain. Pemasangan kateter uretra menjadi penatalaksanaan pertama yang bisa dilakukan.
Retensi urin akut adalah ketidakmampuan secara mendadak untuk urinasi (miksi) dan biasanya
merupakan kondisi simptomatik dari prekursor kondisi lain yang memerlukan penanganan medis yang
segera. Kateterisasi uretra adalah prosedur medis rutin yang memfasilitasi drainase langsung dari
kandung kemih.1 Pemasangan kateter uretra menjadi terapi akut pada pasien yang mengalami retensi
urin akut.
Salah satu penyebab striktur uretra adalah pemasangan kateter dalam waktu yang cukup lama. Pola
penyakit striktur uretra yang ditemukan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung menyebutkan sebagian
besar pasien (82%) masuk dengan retensi urin. Penyebab utama terjadinya striktur adalah manipulasi
uretra (44%) dan trauma (33%).5 Salah satu manipulasi uretra adalah pemasangan kateter Folley.
Studi yang dilakukan di India menyebutkan penyebab dari striktur uretra meliputi trauma pelvis (54%),
post-kateterisasi (21,1%), infeksi (15,2%), dan post-instrument (5,6%). Study ini menunjukkan kesimpulan
bahwa etiologi diatas menentukan prognosis dari penatalaksanaan striktur uretra. 6 Studi yang dilakukan
oleh Lumen,et all juga mendapatkan hasil7 sebanyak 45,5% striktur uretra disebabkan iatrogenik yang
didalamnya termasuk reseksi transuretral, kateterisasi uretra, cystoscopy, prostatectomy, brachytherapy,
dan pembedahan hypospadia.8 Penelitian ini menjadi penting mengingat prosedur pemasangan kateter
uretra merupakan prosedur rutin pada penanganan kasus retensi urin akut seperti benign prostat
hiperplasia, adanya bekuan darah, urethritis, kronik obstruksi yang menyebabkan hidronefrosis, dan
dekompresi kantung kemih akibat permasalahan saraf.17
Keteterisasi urin merupakan salah satu tindakan yang membantu eliminasi urin maupun ketidakmampuan
melakukan urinasi. Prosedur pemasangan kateter uretra merupakan tindakan invasif. Pasien akan
dipasangkan sejenis alat yang disebut kateter Dower pada muara uretra. Dalam melakukan prosedur ini
diperlukan keprofesionalan. Banyak pasien merasa cemas, takut akan rasa nyeri, dan tidak nyaman pada
saat dilakukan kataterisasi uretra. Hasil studi11 dari Mushhab,2006 menunjukkan ada hubungan yang
signifikan antara lama waktu terpasang kateter dengan tingkat kecemasan pada pasien yang terpasang
kateter uretra.
Melihat data diatas timbul ide untuk mencegah terjadinya striktur uretra pada pemasangan kateter uretra.
Dengan berkurangnya angka kejadian diharapkan tindakan pembedahan yang dilakukan pada pasien
tidaklah terlalu banyak. Selain itu lama pasien menjalani rawat inap juga akan berkurang sehingga angka
morbiditas akan berkurang. Hal ini mengingat penatalaksanaan yang paling banyak dilakukan di pusat
rujukan urologi adalah pembedahan guna merekontruksi saluran uretra yang mengalami striktur. Selain
itu terdapat resiko terjadi striktur uretra yang berulang setelah menjalani prosedur pembedahan.