Anda di halaman 1dari 9

Pemicu

Seorang wanita berusia 45 tahun datang ke poli paru dengan keluhan sesak
napas, os mengalami sesak napas pertama kali saat berumur 7 tahun sampai 15
tahun. Tiga bulan terakhir kambuh lagi, oleh dokter di beri obat inhaler dan sering
di pakai bila os sesak napas tetapi dalam 2 minggu terakhir sesak semakin
bertambah walaupun sudah memakai obat inhaler, dalam 1 bulan terakhir os
terbangun tengah malah karena sesak napas 2 sampai 3 kali seminggu, os juga
mengalami batuk berdahak semala 2 minggu ini, pada pemeriksaan fisik
auskultasi, dijumpai suara pernapasan ekspirasi yang memanjang, di sertai
wheezing di seluruh lapangan paru, di lakukan pemeriksaan foto thorax kesan
normal, juga di lakukan pemeriksaan spirometri didapi vep1 (volume ekspirasi
detik 1) : 70% prediksi, kvp (kapasitas vital paksa) : 90% prediksi.

I. KLARIFIKASI ISTILAH
1. Obat Inhaler : Sediaan Obat Yang Di Gunakan Dengan Cara Di Hirup
2. Pemeriksaan Spirometri : Pemeriksaan Yang Di Lakukan Untuk
Mengukur Volume Udara Di Dalam Paru
3. VEP (volume ekspirasi detik) : Untuk Mengetahui Adanya Gangguan
Kapasitas Ventilasi Dan Nilai Yang Kurang Dari 1 Liter Selama Detik
Pertama (Untuk Gangguan Fungsi Paru Berat)
4. KVP (kapsitas vital paksa) : Jumlah Udara Yang Bisa Di Ekspirasi
Maksimal Secara Paksa Setelah Inspirasi Maksimal.

II. DEFINISI MASALAH


1. Keluhan Sesak Napas
2. Batuk Berdahak
3. Pernapasan Ekspirasi Yang Memanjang
4. Wheezing Di Seluruh Lapangan Paru

1
III. ANALISA MASALAH
1. - Kekurangan O2
- Karena adanya benda asing
- Hipereaktivitas mukosa terhadap rangsangan
- Hipereaktivitas pada sel imun
- Penyempitan pada bronkus
2. Adanya Mukosa di dalam bronkus akibat infeksi (bakteri/virus)
3. Udara yang di dalam susah keluar
4. Karena saluran pernapasan yang sempit segingga udara yang keluar
menyebabkan terjadinya wheezing

IV. GALI KONSEP

OS WANITA (45 TAHUN)

ANAMNESE PEMERIKSAAN FISIK PEMERIKSAAN


- Sesak Napas - Perkusi : Hipersonor PENUNJANG
-Batuk Berdahak - Auskultasi : Wheezing - Foto Thorax : Normal
- Spirometri : VEP1 : 70%
KVP : 90%

DD :
- Asma
- PPOK
- Bronkitis Kronik
- Gagal Jantung Kongestif
- Batuk Kronik Akibat Lain lain
- Disfungsi Laring
- Obstruksi Mekanis(Misal Tumor)
- Emboli Paru

2
V. LEARNING OBJECTIVE
1. Anatomi Dan Fisiologi Pernapasan
2. Definisi dan faktor resiko asma
3. Prevalensi dan patogensis asma
4. Gejala klinis dan pemeriksaan penunjang asma
5. Klasifikasi, penatalaksanaan dan prognosis asma

VI. PEMBAHASAN LEARNING OBJECTIVE


1. > Anatomi pernapasan

3
> Fisiologi pernapasan :
Sistem pernapsan adalah proses pertukaran oksigen dan CO2 yang terjadi
di mana oksigen di ambil melalui mulut dan hidung, kemudian masuk melalui
trakea sampai ke alveoli yang berhubungan dengan darah dalam kapiler pulmonal.
Alveoli memisahkan Oksigen dari darah, oksigen menembus membran, di ambil
oleh sel darah merah di bawa ke jantung, di pompakan ke seluruh tubuh. Di dalam
paru paru karbondioksida merupan hasil buangan yang menbus membran alveoli.
Dari kapiler darah di keluarkan melalui pipa bronkus berakhir sampai pada mulut
dan hidung. Proses pertukaran oksigen dan karbondioksida terjadi ketika
konsentrasi dalam darah mempengaruhi dan merangsang pusat pernapasan,
sehingga terjadi pengambilan oksigen dan pengeluaran karbondioksida lebih
banyak. Hemoglobin yang banyak mengandung oksigen dari seluruh tubuh masuk
ke dalam jarungan, mengambil karbondioksida untuk di bawa ke paru paru dan di
paru paru terjadi pernapasan eksterna.

2. Definisi dan faktor resiko asma


- Asma adalah gangguan inflamasi kronik pada saluran pernapasan yang
melibatkan banyak sel inflamasi dan disertai adanya hipersesitifitas bronkus
teradap bermacam macam rangsangan dengan manifestassi penyempitan
saluran pernapasan yang reversibel dengan atau tanpa pengobatn.
- Faktor resiko asma :
a. Faktor pejamu: - Prediposisi genetik
- Atopi
- Hiperesponsi jalan napas
- Jenis kelamin
- Ras atau entik
b. Faktor lingkungan
- Alergen dalam ruangan : Mite domestik, alergen binatang, alergen
kecoa, jamur (fungi, molds, yeasts)
- Alergen di luar ruangan : Tepung sari bunga, jamur (fungi, molds,
yeasts)
- Bahan di lingkunagn kerja : Asap rokok (pasif/aktif), polusi udara

4
- Infeksi pernapasan : Hipotesis higiene
- Infeksi parasit
- Status sosioekonomi
- Diet dan obat
- Obesiti

3. Prevalensi dan Patogenesis Asma


- Prevalensi asma menurut laporan WHO tahun 2013, sekitar 235 juta jiwa
penduduk dunia terkena penyakit asma. Behavioral Risk Factor Surveillance
Survey (BRFSS) tahun 2002-2007 melaporkan di florida prevalensi asma
dewasa sebanyak 10,7%. Asma menurut survey kesehatan rumah tangga
(SKRT) 1986 menduduki urutan ke 5 dari 10 penyebab kesakitan. penderita
asma indonesia sekita 7,7% dengan rincian laki laki 9,2% dan perempuan
6,6%.
- Patogenesis asma : Respons Imune dimulai dengan aktivitas sel T oleh
antigen melaui sel dendrit yang merupakan sel pengenal antigen primer /
APC. Setelah APC mempresentasikan alergen / antigen kepada sel limfosit
T dengan bantuan major histocompatibility klas II, limfosit T akan
membawa ciri antigen spesifik, teraktivasi kemudian berdiferensiasi dan
berpoliferasi. Limfosit T spesifik dan produknya akan mempengaruhi dan
mengontrol limfosit B dalam memproduksi Imunoglobulin. Interaksi alergen
pada limfosi B mempengaruhi IgE spesifik alergen. Pajanan ulang oleh
alergen yang sama akan meningkatkan produksi IgE spesifik. Imunoglobulin
E spesifik akan berikatan dengan sel sel yang mempunyai reseptor IgE
seperti sel Mast, basofil, eosinofil, makrofak, dan platelet. Bila alergen
berikatan dengan sel tersebut maka sel akan terakitvasi dan berdegranulasi
menguluarkan mediator yang berperan pada reaksi inflamasi.

5
4. > Gejala Klinis Asma:
a. Bersifat episodik, seringkali reversibel dengan atau tampa pengobatan
b. Gejala berupa batuk, sesak napas, rasa berat di dada dan beradahak
c. Gejala timbul / memburuk terutama malam / dini hari
d. Diawali oleh faktor pencetus yang bersifak individu
e. Respons terhadap pemberian bronkodilator

>Pemeriksaan Penunjang Asma


a. Pemeriksaan sputum, ditemukan Charcot Leyden yang merupakan
degranulasi dari kristal eosinofil, Curschmann (sel cetakan dari
cabang bronkus, creole (fragmen dari epitel bronkus), netrofil dan
eosinofil bersifat mukoid.
b. Pemeriksaan Darah, diharapkan terjad peningkatan eosinofil,
sedangkan leukosit dapat meningkat atau normal, walaupun terjadi
komplikasi.
c. Pemeriksaan Radiologi, menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru
paru, yakni radiolusen yang bertambah dan pelebaran rongga
interkostal, seta diafragma yang menurun.
d. Pemeriksaan faal paru, tingkat serangan dapat diketahui dengan
mengukur vital capacity, VEP1, dan FRC.
e. Elektrokardiografi, gambaran perubahan aksis jantung, tanda tanda
hipertrofi oto jantung, tanda tanda hipoksemia.
f. Skening paru, redistribusi udara selama serangan asma ternyata tidak
menyeluruh pada paru paru.

6
5. Klasifikasi Derajat Berat Asma Berdasarkan Gambaran Klinis
Derajat Asma Gejala Gejala Malam Faal Paru
3
I. Intermiten Bulanan APE 80%
* Gejala <1x/ * 2x/bulan *VEP1 3 80% nilai
minggu prediksi
* Tanpa gejala di APE3 80% nilai terbaik
luar serangan * Variabiliti APE<20%
* Serangan
singkat
II. Persisten ringan Mingguan APE3 >80%
* Gejala > * >2x/bulan *VEP1 3 80% nilai
1x/minggu prediksi
tetapi <1x/ hari APE3 80% nilai terbaik
* Variabiliti APE 20%-
30%
III. Persisten sedang Harian APE 60-80%
* Gejala setiap * >1x/minggu *VEP1 60-80% nilai
hari prediksi
* Serangan APE 60-80% nilai
mengganggu terbaik
aktivitas dan * Variabiliti APE>30%
tidur
* Membutuhkan
bronkodilator
setiap hari
IV. Persisten berat Kontinyu APE 60%
* Gejala terus * Sering *VEP1 60% nilai
menerus prediksi
* Sering kambuh APE 60% nilai terbaik
* Aktivitas fisik * Variabiliti APE>30%
terbatas

7
> Penatalaksanaan Asma :
a. Edukasi yakni mengenal seluk beluk asma
b. Menilai dan memonitor berat asma secara berkala yakni menentukan klasifikasi
c. Identifikasi dan mengendalikan faktor pencetus
d. Merencanakan dan memberikan pengobatan jangka panjang
e. Menetapkan pengobatan serangan akut yakni mengatasi serangan asma dengan tepat
f. Kontrol secara teratur
g. Pola hidup sehat yakni menjaga kebugaran dan olahraga

> Prognosis Asma


a. Pada umumnya bila segera di tangani dengan adekuat adalah baik.
b. Asma karena faktor imunologi (faktor ekstrinsik) yang muncil semasa kecil
prognosanya lebih baik dari pada muncul sesudah dewasa
c. Angka kematian meningkat bila tidak ada fasilitas kesehatan yang memadai

VII KESIMPULAN
Seorang wanita (45 tahun) dengan keluhan sesak napas (pertamakali umur 7-15 tahun)
tiga bulan terakhir kambuh lagi, batuk berdahak, pernapasan ekspirasi yang memanjang,
serta wheezing di seluruh lapangan paru mengalami penyakit asma.

8
DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. H. Tabrani Rab (2013). Buku Ilmu Penyakit Paru. Jakarta: Penerbit
Trans Info Media
www.klikpdpi.com
www.academia.edu