Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

I.I Latar Belakang


Manusia sebagai makhluk sosial memiliki kebutuhan untuk melakukan interaksi sosial.
Interaksi sosial diperlukan agar tercipta hubungan timbal balik yang kemudian mempengaruhi
perasaan, pikiran, dan tindakan manusia. Mereka saling berhadapan, berbicara, hingga
melakukan kontak fisik ketika interaksi terjadi. Interaksi sosial terjadi tidak hanya kepada
masyarakat yang saling kenal, namun juga bisa terjadi di tengah masyarakat yang saling tidak
mengenal. Namun, dalam waktu beberapa dekade terakhir tingkat interaksi sosial antar
masyarakat mengalami penurunan, yang diakibatkan oleh beberapa faktor.
Faktor pertama adalah kecanggihan teknologi yang semakin berkembang belakangan
ini mempengaruhi tingkat interaksi sosial antar masyarakat. Manusia sebagai makhluk sosial
membutuhkan proses interaksi untuk meningkatkan produktivitas hidupnya. Namun,
belakangan ini hal itu jarang terjadi pada masyarakat karena mereka sudah sibuk dengan
ponselnnya masing-masing. Manusia cenderung lebih tertarik dengan segala sesuatu yang
instan, maka dari itu manusia sangat menikmati kehadiran telepon pintar. Interaksi tatap muka
yang merupakan bentuk interaksi paling ideal berada menjadi disampingkan oleh sebagian
besar masyarakat. Selain itu, menurunnya intensitas interaksi sosial antar masyarakat tidak
hanya diakibatkan oleh teknologi yang semakin canggih, tetapi juga diakibatkan oleh
ketersediaan jumlah ruang terbuka publik yang terbatas.
Faktor kedua adalah masalah perkotaan yang belakangan ini semakin rumit menjadi
cukup sulit untuk diatasi. Perkembangan kota di beberapa sisi memang menimbulkan efek
positif, namun di samping itu juga memiliki dampak negatif, seperti dampak pada kualitas
lingkungan. Akibat perkembangan kota yang melahirkan banyak bangunan dan perluasan
jalan, kemudian menghabisi ketersediaan lahan terbuka. Sedangkan, dalam peraturan sebuah
kota, sudah dijelaskan bahwa diperlukan ruang di tengah kota yang mampu menampung
penduduk dan aktivitasnya, yaitu berinteraksi. Peraturan tersebut dibahas dalam Undang-
Undang No. 26 Tahun 2007 mengenai Penataan Ruang. Dalam peraturan tersebut disebutkan
dalam pasal 28, tentang perencanaan tata ruang wilayah kota perlunya rencana penyediaan dan
pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Ruang Terbuka Non Hijau (RTNH). (sumber:
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum)
Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Ruang Terbuka Non Hijau (RTNH) termasuk
kedalam kategori ruang terbuka, yang dimana sifatnya bisa untuk publik atau beberapa sektor
tertentu (privat). Ruang terbuka merupakan ruang yang bebas dari kawasan terbangun, bisa
berupa perkerasan atau area hijau. Jika kualitas ruang terbuka dalam suatu kota menurun, maka
tingkat produktivitas masyarakatnya pun akan ikut menurun. Hal itu bisa terjadi karena
masyarakat tidak memperoleh ruang untuk berinteraksi sosial. Di Jakarta, penyediaan ruang
terbuka untuk publik masih sangat minim, sehingga Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja
Purnama (Ahok) menargetkann adanya 54 pembangunan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak
(RPTRA). (sumber: megapolitan.harianterbit.com)
Ada beberapa faktor yang menimbulkan terjadinya interaksi sosial, salah satunya
adalah kualitas lingkungan yang baik. Ruang terbuka seharusnya tetap dipertahankan agar
masyarakat mendapat kesempatan kembali untuk membangun kehidupan sosialnya. Walaupun
banyak ruang terbuka yang diprivatisasi oleh bangunan sekitarnya, namun hal itu tidak
menutup kemungkinan bahwa ruang tersebut tetap bisa menumbuhkan interaksi sosial
didalamnya. Di kawasan Senayan, tepatnya di antara bangunan Sentral Senayan dan Plaza
Senayan masih terlihat eksistensi dari ruang terbuka. Ruang tersebut terkesan eksklusif karena
berada diantara kedua gedung yang umumnya hanya dikunjungi oleh masyarakat golongan
atas. Dalam penelitian ini, saya berupaya meneliti apakah ruang terbuka tersebut masih
berperan baik sebagai fungsi sosial.
Saat ini, salah satu ruang terbuka di Jakarta yang masih tersedia terdapat di kawasan
Senayan. Ruang terbuka yang lokasinya berada di Jl. Asia Afrika, Senayan, Jakarta Selatan ini
termasuk ke dalam kategori Ruang Terbuka Non Hijau (RTNH) karena lahannya berupa
perkerasan. Ruang terbuka diapit oleh tiga bangunan tinggi, yaitu dua gedung perkantoran dan
satu buah gedung pusat perbelanjaan. Dua gedung perkantoran tersebut adalah Gedung Sentral
Senayan I dan II, serta gedung pusat perbelanjaan Plaza Senayan. Ruang tersebut terkesan
eksklusif karena berada diantara kedua gedung yang umumnya hanya dikunjungi oleh
masyarakat golongan atas. Ruang terbuka ini menyatu dengan jalur pedestrian yang dapat
mengakses ketiga gedung tersebut dan ruas jalan Asia-Afrika.

Gambar 1.1 Siteplan kawasan Sentral Senayan


Sumber: www.plaza-senayan.com diakses pada 13 Februari 2017
Pada penelitian ini, saya akan mengidentifikasi adanya interaksi sosial dalam ruang
terbuka tersebut. Mengingat letak ruang terbuka berada ditengah gedung perkantoran dan pusat
perbelanjaan, yang dimana ketiga bangunan tersebut diramaikan oleh pengguna. Peneliti ingin
meninjau lebih jauh pengaruh ruang terbuka di Sentral Senayan terhadap interaksi yang terjadi
dalam kehidupan pengguna bangunan sekitarnya. Peneliti melihat tingkatan aktivitas sosial
yang terjadi dan memetakan kegiatan tersebut. Selain itu, peneliti juga mengulas hal apa yang
memicu terjadinya aktvitas sosial di ruang terbuka tersebut. Harapannya, peneliti dapat
membuktikan eksistensi ruang terbuka mampu mengembalikan produktivitas masyarakat
Jakarta yang sebaiknya melakukan interaksi sosial.

I.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang sudah dituliskan pada bab 1.1, penulis membuat rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Apakah ruang terbuka di Sentral Senayan masih mampu mempengaruhi masyarakat
untuk melakukan interaksi sosial?
2. Bagaimana respon pengguna bangunan terhadap ruang terbuka yang mengisi ruang
diantaranya?
3. Bagaimana interaksi sosial yang terjadi dalam ruang terbuka di Sentral Senayan?
4. Apa yang memicu terjadinya interaksi sosial didalam ruang terbuka tersebut?

I.3 Tujuan Penelitian


Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui seperti apa interaksi sosial yang
terjadi dalam ruang terbuka di Senayan. Dengan mengetahui keberlangsungan interaksi sosial
yang terjadi, informasi yang didapatkan melalui penelitian ini bisa menjadi salah satu bahan
pertimbangan dalam mendesain sebuah ruang terbuka di tengah padatnya lahan perkotaan.

I.4 Manfaat Penelitian


Berdasarkan tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui interaksi sosial dalam ruang terbuka
yang berada di kawasan padat bangunan tinggi, maka penulis berharap penelitian ini membawa
manfaat, antara lain:
a. Mahasiswa dapat menggunakan penelitian ini sebagai referensi mengenai eksistensi
ruang terbuka yang memicu terjadinya interaksi sosial.
b. Praktisi, developer, dan pemerintah juga dapat menggunakan hasil penelitian ini
sebagai dasar pertimbangan untuk membangun kembali ruang terbuka di tengah
padatnya bangunan tinggi yang ada di ibukota.
I.5 Batasan Masalah
Batasan masalah pada penelitian ini difokuskan pada pengaruh adanya ruang terbuka
terhadap tingkat interaksi sosial. Tingkat interaksi sosial dipengaruhi oleh kualitas ruang
terbuka. Penelitian ini akan dibatasi oleh faktor yang menyebabkan terjadinya interaksi sosial
di dalam ruang terbuka Sentral Senayan. Subjek penelitian ini difokuskan pada pengguna
bangunan sekitar ruang terbuka.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Studi Literatur
Untuk mencari tahu keberlangsungan interaksi sosial di tengah ruang terbuka, maka
pada bab ini peneliti akan mengkaji jenis interaksi yang mungkin terjadi dan beberapa
faktor yang mempengaruhi terjadinya interaksi tersebut. Setelah itu, peneliti akan
mengaitkan kedua dari referensi tersebut, yang kemudian dihubungkan lagi dengan
interaksi sosial yang terjadi di ruang terbuka Sentral Senayan.

2.1 Aktivitas di Ruang Terbuka


Menurut Jan Gehl, dalam bukunya yang berjudul Life Between Buildings kategori
aktivitas outdoor dibedakan menjadi tiga tipe, yaitu:
1. Necessary activities, adalah aktivitas yang dilakukan karena memang tugas
sehari-hari dan hanya sedikit dipengaruhi oleh batasan fisik. Contohnya seperti
pergi ke sekolah, bekerja, makan, mandi, buang air, dan menjalankan sebuah
kewajiban.
2. Optional activities, adalah aktivitas yang hanya dilakukan jika diinginkan. Selain
itu, aktivitas cukup dipengaruhi oleh waktu, tempat, dan cuaca yang mendukung.
Contohnya seperti jalan-jalan untuk mencari udara segar, duduk di taman,
sunbathing, dan rekreasi. Tentu, kategori aktivitas ini dipengaruhi oleh kondisi
fisik ruang luar.
3. Social activities, adalah kegiatan yang dihasilkan dari optional activities. Manusia
dalam melakukan aktivitas ini membutuhka kehadiran orang lain di ruang publik.
Contohnya seperti aktivitas memberikan salam hingga berbincang-bincang.
Melihat dan mendengar kegiatan dari individu lain juga termasuk ke dalam
aktivitas sosial, walaupun konteksnya adalah sifat kontak pasif. Kegiatan tersebut
terjadi secara spontan, ketika necessary dan optional activities berlangsung dalam
kondisi yang lebih baik di ruang terbuka.

Ketika ruang terbuka kualitasnya buruk, maka hanya terjadi necessary activities.
Ketika ruang terbuka kualitasnya lebih baik, intensitas necessary activities meningkat dan
optional activities juga terjadi. Jika sebuah jalan dan kota kualitasnya buruk, maka hanya
sedikit aktivitas yang dilakukan di ruang terbuka.Umumnya, masyarakat pada kota itu
memiliki karakter yang cenderung tidak ingin menghabiskan waktunya di luar rumah.
Masyarakat pada kota yang kualitas jalan dan ruang terbukanya buruh selalu ingin buru-
buru pulang ke rumah. (Gehl, 2006)

2.2 Interaksi Masyarakat di Ruang Terbuka


Aktivitas sosial yang terjadi di antara bangunan tentunya menimbulkan sebuah
kontak dalam masyarakat itu sendiri. Saat berada dalam ruang terbuka mereka bertemu,
melihat, mendengarkan, melakukan aktivitas kesehariannya, dan memperhatikan
kegiatan orang lain. Pertemuan dan kegiatan sehari-hari yang dilakukan di ruang
terbuka dapat memberi kesempatan terjadinya pertemuan antar masyarakat secara rutin.
Setelah itu, akan berkembang menghasilkan hubungan sosial yang baik antar
masyarakat atau pengguna bangunan di sekitar ruang terbuka tersebut. (Gehl, 2006)
Berikut adalah tingkat intensitas kontak dari berbagai bentuk:

High Intensity Close friendships


Friends
Acquaintances
Chance contacts
Low Intensity Passive contacts (see
and hear contacts)

Dari adanya diagram diatas, Jan Gehl menunjukan bahwa kontak sosial dibagi menjadi
beberapa tingkatan mulai dari pasif kontak hingga kontak yang aktif, seperti close friendships.
Kontak pasif yang hanya sekedar melihat dan mendengarkan orang lain berpotensi
meningkatkan intensitas kontak untuk tumbuh. Mulai dari kontak yang terjadi secara spontan
tersebut, bisa memicu individu itu sendiri untuk berpartisipasi. Kesempatan melihat dan
mendengar individu lain beraktvitas ternyata sudah bisa dikatakan sebagai sebuah interaksi
sosial kategori pasif kontak. (Gehl, 2006)

Interaksi sederhana seperti melihat dan mendengar individu lain membuat penasaran
individu lainnya tentang kegiatan atau kehidupan orang yang sedang dilihat dan
didengarkannya tersebut. Peluang untuk melihat dan mendengar orang lain dapat menjadi
sumber inspirasi dan ide untuk berkegiatan. Tambahan lagi, manusia perlu pengalaman
menarik yang bisa menstimulasi dirinya. Namun, kontak pasif ini hanya bisa terjadi jika
terdapat situasi yang bisa diamati dalam ruang terbuka. Apabila tidak ada aktivitas di ruang
tersebut, maka kemungkinan terjadinya kontak pasif juga menghilang. Manusia menjadi
komponen penting dalam upaya menghidupkan kembali kota yang semula terasa monoton,
karena manusia bisa saling berinteraksi. (Gehl, 2006)
Kehadiran manusia dan aktivitasnya dapat memberi atraksi tersendiri bagi manusia
lainnya. Mereka berkumpul dan berpindah menempatkan diri di dekat orang lain. Menurut Jan
Gehl, kebanyakan manusia cenderung memilih ruang yang ramai agar ada situasi yang bisa
mereka lihat. Dalam buku Life Between Buildings, terdapat contoh yang menyatakan bahwa
sebagus apapun taman atau halaman belakang yang dirancang untuk tempat bermain anak
kecil, mereka akan memilih bermain di tepi jalan yang ramai oleh anak kecil lainnya jika taman
yang disediakan situasinya lebih sepi. (Gehl, 2006)

Untuk menghadirkan adanya sebuah interaksi, bangku menjadi salah satu komponen
yang digunakan perancang kota untuk memperlihatkan aktivitas sekitar. Manusia memilih
tempat duduk di suatu ruang terbuka yang menghadap dan menggambarkan sebuah suasana.
Di beberapa tempat, disediakan tempat duduk yang membelakangi satu sama lain dan
menghadap ke arah sebuah jalan. Hal itu terjadi karena mengingat sebuah jalan yang selalu
digunakan sehingga diramaikan oleh orang. Menurut Jan Gehl, sebagian besar kursi di dunia
berorientasi pada tempat di dekatnya yang paling aktif. (Gehl, 2006)

Peluang untuk melihat, mendengar, dan bertemu orang lain dapat ditunjukan melalui
sebuah atraksi yang terjadi di sebuah pusat kota atau jalan pedestrian. Para pedestrian berhenti
sejenak saat berjalan karena ada suatu atraksi di ruang tersebut yang mendorong mereka untuk
berhenti dan mengamati hal tersebut. Tercatat bahwa sebagian besar pedestrian berhenti di
depan toko-toko dan pameran yang memiliki hubungan langsung dengan orang lain dan dengan
lingkungan sosial sekitarnya. Kehidupan dalam bangunan dan di antaranya terasa lebih penting
dan lebih relevan karena bisa menjadi atraksi sebuah kota daripada ruang dan bangunan itu
sendiri. (Gehl, 2006)
Bab II
TINJAUAN PUSTAKA
Jurnal

Ruang Terbuka

Ruang terbuka menurut Sunaryo adalah ruang yang berada diantara bangunan pada
kawasan perkotaan. Umumya ruang terbuka bebas dari kawasan terbangun dan tidak beratap.
Pada ruang terbuka terdapat ruang untuk jalur pedestrian, area hijau, elemen air, dan bentuk
lansekap lainnya. Ruang terbuka ada yang disediakan untuk publik dan ada yang bersifat privat
karena dimiliki oleh sektor tertentu. Ruang terbuka yang disediakan untuk publik biasa disebut
ruang terbuka publik. Pencapaiannya untuk mendukung terjadinya interaksi sosial di tengah
masyarakat kota. (Sunaryo, 2015)
Keberhasilan ruang terbuka dalam memicu terjadinya aktivitas sosial bisa ditentukan
oleh adanya beberapa elemen pendukung bersifat fisik. Elemen pendukung tersebut contohnya
adalah seperti pusat perbelanjaan, taman rekreasi, museum, pedagang kaki lima (sektor
informal), pangkalan transportasi umum, dan lain sebagainya. Beberapa elemen tersebut
cenderung memiliki daya tarik tersendiri sehingga memicu timbulnya aktivitas sosial. Selain
itu, faktor lain yang bisa mempengaruhi penggunaan ruang terbuka oleh publik adalah tempat
duduk, sinar matahari, angin, vegetasi, dan air. Akses fisik dan visual yang langsung menuju
jalan utama juga menjadi daya tarik manusia untuk melakukan aktivitas sosial. Ruang dengan
tingkat aksesbilitas yang tinggi juga memiliki intensitas pengguna publik yang tinggi.
(Sunaryo, 2015)

Berikut adalah wacana mengenai ruang terbuka publik menurut jurnal dari Sunaryo:

Aksesibilitas untuk semua : Keterbukaan akses menjadi jaminan untuk terciptanya


keragaman kegiatan dan interaksi dari dan antar semua lapisan masyarakat kota.
Kebebasan aktivitas : Dengan kebebasan beraktivitas ruang publik memenuhi
fungsinya sebagai tempat pertukaran nilai-nilai sosial, budaya, ekonomi, bahkan agama
dan politik. Ada beberapa pendapat yang menyinggung aspek kebebasan ini juga
direpresentasikan dengan bebas dari biaya.
Kontrol dan perhatian dari pihak berwenang : Baik dengan status kepemilikan privat
maupun publik, dengan fungsi vitalnya bagi orang banyak, maka kontrol dan perhatian
dari pihak yang berwenang mengatur kepentingan publik menjadi penting, agar
karakter ruang publik yang ada tidak berubah menjadi terprivatisasi oleh sebagian
kepentingan.
Responsibilitas : Penataan fisik ruang publik menjadi faktor pengaruh ketergunaan
ruang oleh publik.Kebutuhan utama yang harus dipenuhi adalah kenyamanan, relaksasi,
aktivitas aktif dan pasif. Sementara fleksibilitas ruang juga akan membuat penggunaan
ruang publik menjadi lebih bervariasi untuk banyak jenis kegiatan dalam waktu yang
berbeda, atau mengakomodasi tuntutan kegiatan baru di generasi yang berbeda.
(Sunaryo, 2015)

Interaksi Sosial
Interaksi sosial adalah hubungan sosial yang terjadi secara dinamis di tengah masyarakat.
Hubungan sosial yang terjalin bisa berupa hubungan antara individu dengan individu, individu
dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok. Interaksi sosial dapat terjadi jika terdapat
kontak sosial dan komunikasi diantara dua individu atau kelompok. Kontak sosial merupakan
syarat dari terjadinya hubungan sosial. Berikut adalah pengertian dari tiga jenis interaksi sosial
menurut jurnal (Rahayu):
1. Interaksi antara individu dengan individu, adalah saat kedua individu bertemu.
Walaupun keduanya tidak melakukan kegiatan apapun, interaksi sosial dapat dikatakan
sudah terjadi. Dengan catatan, adanya kesadaran dari masing-masing pihak akan
adanya pihak lain yang mempengaruhi dirinya
2. Interaksi antar kelompok dengan kelompok, adalah ketika terdapat satu kesatuan dari
beberapa individu saling bersangkutan dan mempengaruhi kelompok lain
3. Interaksi antara individu dengan kelompok, terjadi berbeda-beda sesuai dengan
keadaan. Misalnya terjadi pertentangan antara kepentingan individu dengan
kepentingan kelompok.

Ciri-ciri interaksi sosial menurut jurnal (Rahayu) adalah sebagai berikut:


1. Ada pelaku dengan jumlah lebih dari satu orang
2. Ada komunkasi antarpelaku dengan menggunakan simbol-simbol
3. Ada dimensi waktu yang menentukan sebuah peristiwa sedang berlangsung
4. Ada tujuan tertentu
Kemudian faktor yang mempengaruhi interaksi sosial adalah:
1. Faktor Imitasi
Adalah proses interaksi sosial melalui tindakan yang meniru orang lain, dari segi
perilakunya, penampilan, gaya hidup, dan lainnya. Proses imitasi melibatkan panca
indera sebagai penerima rangsang
2. Faktor Sugesti
Adalah memberikan pandangan sikap dari dirinya untuk diterima oleh orang lain
3. Faktor Identifikasi
Adalah dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan orang lain.
4. Faktor Simpati
Adalah perasaan tertarik terhadap seseorang. Terjadi atas dasar penilaian terhadap diri
orang lain. (Rahayu)
Sintesis
Berdasarkan beberapa referensi yang sudah dikaji, peneliti berupaya mengaitkan
referensi tersebut dengan topik penelitian saya. Ruang terbuka diciptakan oleh perancang kota
untuk mewadahi aktivitas masyarakatnya. Namun, kualitas ruang terbuka ada yang baik dan
ada yang buruk. Jika kualitas ruang terbuka itu buruk, maka tidak banyak orang yang ingin
beraktivitas di dalamnya, sehingga ruang terbuka situasinya sepi. Hal seperti itu membuat
suasana kota terasa monoton, lifeless, dan tidak ada yang menstimulasi pengalaman
masyarakatnya. Namun apabila kualitas ruang terbuka cukup baik, maka banyak orang yang
beraktivitas didalamnya, sehingga suasana kehidupan perkotaan tergambar dengan jelas.
Beberapa kategori aktivitas di ruang terbuka diantaranya adalah necessary activities,
optional activities, dan social activities. Ketika lingkungan cukup baik maka necessary
activities dapat dilakukan bersamaan dengan optional activities. Ketika itu, memungkinkan
terjadinya social activities, masyarakat melihat, mendengar, dan bertemu dengan masyarakat
lainnya. Aktivitas sosial membutuhkan kehadiran orang lain di ruang tersebut dan terjadi secara
spontan. Interaksi merupakan salah satu bentuk dari aktivitas sosial, yang dimana terjalin
kontak antara satu individu dengan yang lainnya.

Kontak sosial menjadi salah satu syarat terbentuknya interaksi sosial. Intensitas kontak
sosial mulai dari yang terendah yaitu seeing and hearing contact hingga yang tertinggi yaitu
close friendship. Tentu, kualitas dan konten dalam ruang terbuka yang mendukung terjadinya
dan meningkatkan intensitas kontak sosial tersebut. Melalui desain, perancang kota
membentuk ruang terbuka di tengah bangunan yang padat pada kawasan perkotaan. Manusia
cenderung melakukan aktivitas sosial pada ruang yang suasananya ramai. Sehingga ruang
terbuka yang memiliki elemen pendukung berupa pusat perbelanjaan, pedagang kaki lima, dan
sejenisnya akan diramaikan oleh masyarakat.

Hal yang dipaparkan oleh studi literatur dan jurnal mengenai ruang terbuka dan
interaksi sosial terkait dengan topik penelitian saya. Lokasi ruang terbuka yang saya pilih
memiliki elemen pendukung fisik bereupa pusat perbelanjaan, tempat makanan, dan akses
langsung menuju jalan utama. Selain itu, di dalam ruang terbuka Sentral Senayan juga memiliki
beberapa elemen lansekap yang memfasilitasi masyarakat untuk mendukung terjadinya
interaksi sosial.
Daftar Pustaka
Gehl, J. Life Between Buildings, New York: Van Nostrand,1997, pp 17-39

Sunaryo, Rony Gunawan. 2015. Perubahan Setting Ruang dan Pola Aktivitas Publik
di Ruang Terbuka Kampus UGM.
http://repository.petra.ac.id/15515/1/Perubahan_Setting_Ruang_dan_Pola_Aktivitas_Publik_
di_Ruang_Terbuka.pdf diakses pada 23 Maret 2017
Ginintasasi, Rahayu. Interaksi Sosial.
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI/195009011981032-
RAHAYU_GININTASASI/INTERAKSI_SOSIAL.pdf diakses pada 23 Maret 2017
Sammy. 2016.
http://megapolitan.harianterbit.com/megapol/2016/02/09/55897/18/18/Hanya-Berjumlah-
998-Persen-Jakarta-Minim-Jumlah-RTH diakses pada tanggal 13 Maret 2017