Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG MASALAH

Al-Quran adalah kitab suci bagi semua umat Islam, yang diturunkan Allah
Subhanahu wa ta aala dengan jalan mutawattir kepada Nabi Muhammad Shallallahu
alaihi wa sallam sebagai mukjizat kerasulannya, yang berisi Wahyu Allah untuk
memberi petunjuk kepada manusia kearah yang terang dan jalan yang lurus, agar
manusia beriman kepada Allah Subhanahu wa ta aala sebagai pencipta Alam
semesta sehingga mustahil untuk meyakini tuhan selain-Nya, juga meyakini bahwa
Allah Subhanahu wa ta aala mengutus seorang rasul untuk menjelaskan pesan yang
terkandung dalam wahyu-Nya tersebut.

Akan tetapi walau demikian, al-Quran bukanlah kitab ilmiah seperti kitab
ilmiah yang dikenal dalam dunia ilmu pengetahuan. Misi al-Quran adalah dakwah
untuk mengajak manusia menuju jalan yang terbaik. Dan al-Quran pun enggan
memilah-milah pesan-pesannya, agar timbul kesan bahwa satu pesan lebih penting
dari pesan yang lain. Allah Subhanahu wa ta aala yang menurunkan al-Quran
menghendaki agar pesan-pesan-Nya diterima secara utuh dan menyeluruh.1

Sedangkan tujuan al-Quran dengan memilih sistematika yang seakan-akan


tanpa keteraturan, adalah untuk mengingatkan manusia bahwa ajaran yang ada di
dalam al-Quran adalah satu kesatuan yang terpadu yang tidak dapat di pisah-
pisahkan. Dan bagi mereka yang tekun mempelajarinya justru akan menemukan
keserasian hubungan yang mengagumkan, sehingga kesan yang tadinya terlihat
kacau, berubah menjadi kesan yang terangkai indah, bagai kalung mutiara yang tidak
diketahui di mana ujung dan pangkalnya.2

1 M. Qraish Shihab, Mukjizat al-Quran, cet.XIV, (Bandung : Mizan, 2004), h. 242


2 Ibid, h. 243.

1
Berawal dari pernyataan di atas, banyak ulama yang mencoba memecah
kebuntuan permasalahan yang berkenaan dengan keterkaitan ayat dan surat dalam al-
Quran. Abu Bakr al-Naysaburi (w.324 H.) kemudian dikenal sebagai pelopor
pengenalan hubungan keterkaitan isi dalam al-Quran, yang bermula dari
pertanyaannya setiap kali ia dibacakan al-Quran, Mengapa ayat ini diletakkan di
samping ayat ini, dan apa rahasia diletakkan surat ini di samping surat ini?.3

M. Quraish Shihab, berpendapat bahwa yang dimaksud dengan keserasian


dalam al-Quran dapat terlihat antara lain : Hubungan kata demi kata dalam satu ayat,
hubungan antara kandungan ayat dengan fashilah (penutup ayat), hubungan ayat
dengan ayat berikutnya, hubungan mukaddimah satu surah dengan penutupnya,
hubungan penutup satu surah dengan mukaddimah surah berikutnya, dan hubungan
kandungan surah dengan surah berikutnya.4

Terlepas dari segala macam pro dan kontra mengenai munasabah dalam Al
Quran yang akan kita dapati dalam pemaparan makalah ini, yang jelas usaha untuk
mencari dan menggali lebih dalam tentang apapun yang terkandung di dalam Al-
Quran adalah merupakan upaya besar, dengan maksud kaum muslimin memberikan
perhatian penuh terhadap kitab sucinya, sehingga dapat mengambil petunjuk darinya.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 MUNASABAH DALAM AL-QURAN

3 Muhammad Chirzin, Al-Quran dan Ulumul Quran, cet. II, (Yogyakarta : PT. Dana Bhakti Prima
Yasa,2003), h, 51.
4 M. Quraish Shihab, Mukjizat al-Quran, h. 244

2
Membicarakan masalah munasabah dalam al-Quran, sangat berkaitan erat
dengan sistem penertiban ayat dan surat dalam al-Quran. Dalam hal ini Manna
Khalil al-Qattan menyatakan bahwa Quran terdiri atas surat-surat dan ayat-ayat,
baik yang pendek maupun yang panjang. Ayat adalah sejumlah kalam Allah yang
terdapat dalam sebuah surat dalam al-Quran, dan surat adalah sejumlah ayat al-
Quran yang mempunyai permulaan dan kesudahan. Tertib dan urutan ayat-ayat al-
Quran adalah taufiqi, ketentuan dari Rasulullah saw dan atas perintahnya. Hal
tersebut merupakan asumsi dari sebuah riwayat, dari Usman bin Abil As berkata :
:
(90 : . ) .
.

Aku tengah duduk di samping Rasulullah, tiba-tiba pandangannya menjadi tajam


lalu kembali seperti semula. Kemudian katanya, Jibril telah datang kepadaku dan
memerintahkan agar aku meletakkan ayat ini di tempat dari surah ini :
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan serta
memberi kepada kerabat, (an-Nahl : 90) dan seterusnya5
Usman berhenti ketika mengumpulkan Quran pada tempat setiap ayat dari sebuah
surah dalam al-Quran, dan sekalipun ayat tersebut telah mansukh hukumnya, tanpa
mengubahnya. Ini menunjukkan bahwa penulisan ayat dengan tertibnya
adalah taufiqi.6
Dengan demikian, tertib ayat-ayat Quran seperti yang ada dalam mushaf yang
beredar saat ini adala taufiqi, tanpa diragukan lagi. As-Suyuthi menyebutkan hadits-
hadits berkenaan dengan surat tertentu mengemukakan : Pembacaan surat-surat yang
dilakukan nabi di hadapan para sahabat itu menunjukkan bahwa tertib atau susunan
ayat-ayatnya adalah taufiqi. Sebab, para sahabat tidak akan menyusunnya dengan

5 Manna Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu al-Quran, terj. Mudzakir AS., (Bogor : Pustaka Litera Antar
Nusa, 2001), h. 205-206
6 Ibid, h. 206

3
tertib yang berbeda dengan yang mereka dengar dari bacaan Nabi. Maka sampailah
tertib ayat seperti demikian kepada tingkat mutawatir.7

2.2 Definisi Munasabah dalam Al Quran

Secara etimologi, munasabah berasal dari bahasa arab dari asal kata nasaba-
yunasibu-munasabahan yang berarti musyakalah (keserupaan)8, menurut Manna
Khalil Al-Qattan ialah Al-Muqabarah artinya kedekatan9. Dalam pengertian ini As-
Suyuthi menambahkan al-Musyakalah dan Al-Muqabarah artinya kedekatan dan
keserupaan10. Az-Zarkasyi memberi contoh sebagai berikut : Fulan Yunasib
Fulan, berarti si Fulan mempunyai hubungan dekat dengan si fulan itu dan
menyerupainya. Dan dari kata itu lahir pula kata an-Nasib, berarti kerabat yang
mempunyai hubungan dekat seperti dua orang bersaudara.
Istilah munasabah digunakan dalam iIlat hukum dalam bab Qiyas yang berarti Al-
Wasf Al-Muqarib Li Al-Hukm (gambaran/sifat yang berdekatan atau berhubungan
dengan hukum.

Secara terminologi, pengertian Munasabah dapat diartikan sebagai berikut menurut


berbagai tokoh, yaitu:

1. Menurut Az-Zarkasyi, adalah :

Artinya :

7 Ibid, h. 207
8 Badr al-Din al-Zarkasyi, al Burhany fii ulum Al-Quran, (beirut:Dar al-Marifah li al-Tibaah wa
al_Nasyir, 1972), h. 35-36
9 Manna Khalil Al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Quran, (terj. Mabahis Fi Ulumil Quran oleh Mudzakir AS,
Bogor : Litera Antar Nusa, 2009), Cet. 12, h. 137.
10 Dr. Rosihan Anwar, Op Cit, hal. 82. mengutip dari jalaluddin As-Suyuthi, Al-Itqan Fi Ulumil
Quran, (Daar Al-Fikr, Beirut, t.t, Jilid I) h. 108.

4
Munasabah adalah suatu hal yang dapat dipahami, tatkala dihadapkan kepada akal,
akal itu pasti menerimanya.

2. Menurut Ibn Al-Arabi :

Artinya :

Munasabah adalah keterikatan ayat-ayat Al-Quran sehingga seolah-olah merupakan


suatu ungkapan yang mempunyai kesatuan makna dan keteraturan redaksi.
Munasabah merupakan ilmu yang sangat agung.

3. Menurut Manna Khalil Qattan :

Artinya :

Munasabah adalah sisi keterikatan antara beberapa ungkapan dalam satu ayat, atau
antar ayat pada beberapa ayat atau antar surat didalam Al-Quran.

4. Menurut Al-Biqai, yaitu :

Munasabah adalah suatu ilmu yang mencoba mengetahui alasan-alasan di balik


susunan atau urutan bagian-bagian Al-Quran, baik ayat dengan ayat, atau surat
dengan surat.

5
Jadi, dalam konteks Ulum Al-Quran, Munasabah berarti menjelaskan korelasi
makna antar ayat atau antar surat, baik korelasi itu bersifat umum atau khusus;
rasional (aqli), persepsi (hassiy), atau imajinatif (khayali) ; atau korelasi berupa
sebab akibat, illat dan malul, perbandingan, dan perlawanan.11

Pada dasarnya pengetahuan tentang munasabah atau hubungan antara ayat-ayat


itu bukan taufiqi (tak dapat diganggu gugat karena telah ditetapkan Rasul), tetapi
didasarkan pada ijtihadi seorang mufassir dan tingkat penghayatannya terhadap
kemukjizatan Al-Quran, rahasia retorika, dan segi keterangannya yang mandiri.12

Seperti halnya pengetahuan tentang Asbabun Nuzul yang mempunyai pengaruh


dalam memahami makna dan menafsirkan ayat, maka pengetahuan
tentang munasabah atau korelasi antar ayat dengan ayat dan surat dengan surat juga
membantu dalam pentakwilan dan pemahaman ayat dengan baik dan cermat. Oleh
sebab itu sebagian ulama menghususkan diri untuk menulis buku mengenai
pembahasan ini. Tetapi dalam pendapat lain dikemukakan atas dasar perbedaan
pendapat tentang sistematika (perbedaan urutan surat dalam Al-Quran) adalah wajar
jika teori Munasabah Al-Quran kurang mendapat perhatian dari para ulama yang
menekuni Ulum Al-Quran.13 walaupun keadaan sebenarnya Munasabah ini masih
terus dibahas oleh para mufassir yang menganggap Al-Quran adalah Mukjizat secara
keseluruhan baik Redaksi maupun pesan ilahi-Nya.

Ilmu Munasabah ini dapat berperan mengganti ilmu Asbabun Nuzul, apabila
seseorang tidak dapat mengetahui sebab turunnya suatu ayat, tapi seseorang dapat
mengetahui relevansi / hubungan ayat itu dengan ayat lainnya. Ada beberapa
pendapat di kalangan ulama tentang ilmu Tanasubul Ayat Was-Suwar ini.
Diantaranya ada yang berpendapat, bahwa setiap ayat atau surat selalu ada

11Ibid. h. 83
12 Manna Khalil Al-Qattan, Op Cit, h. 138.
13 Dr. Rosihan Anwar, Op Cit, h. 81.

6
relevansinya atau hubungannya dengan ayat atau surat lain. Sementara ulama yang
lain berpendapat, bahwa hubungan itu tidak selalu ada. Hanya memang sebagian
besar ayat-ayat dan surat-surat ada hubungannya satu sama lain. Selain itu adapula
yang berpendapat, bahwa mudah mencari hubungan antara suatu ayat dengan ayat
lain, tapi sukar sekali mencari hubungan antara suatu surat dengan surat lain.14 Hal
yang demikian ini tidak berarti bahwa seorang mufassir harus mencari kesesuaian
bagi setiap ayat, karena Al-Quranul Karim turun secar bertahap sesuai dengan
peristiwa-peristiwa yang terjadi. Oleh karena itu, terkadang seorang mufassir
menemukan keterkaitan suatu ayat dengan yang lainnya dan terkadang tidak. Ketika
tidak menemukan keterkaitan itu, ia tidak diperkenankan memaksakan diri, sebab jika
memaksakannya juga akan menghasilkan kesesuaian yang dibuat-buat dan hal ini
tidak disukai, pernyataan ini senada dengan pendapat Syaikh Izz Ibn Abdus-
Salam.

2.3 PANDANGAN ULAMA MENGENAI MUNASABAH

Dalam menyikapi munasabah, para ulama terbagi kedalam dua golongan yang
pertama: golongan yang tertarik dengan munasabah, dan yang kedua, Golongan yang
tidak tertarik dan menganggap munasabah tidak perlu di kaji. Golongan pertama
diwakili oleh Abu Bakar al-Naysabury, Fakhrudin al-Razi, Fakhrudin al-Razi seorang
ulama yang sangat peduli terhadap munasabah, baik munasabah antar ayat atau antar
surat.

Ia pernah memberikan apresiasi terhadap surat al-Baqarah dengan mengatakan bahwa


barangsiapa yang menghayati dan merenungkan bagian-bagian dari susunan dan
keindahan urutan surat ini, maka pasti ia akan mengetahui bahwa al-Quran itu
merupakan mukjizat lantaran kefasihan lafal-lafalnya dan ketinggian mutu makna-
maknanya.

14 Drs. H. A. Chaerudji Abd. Chalik, Ulum Al-Quran, (Jakarta : Diadit Media, 2007), hal. 110

7
Golongan ulama yang menolak adanya munasabah dalam al-Quran diwakili
oleh Maruf Dualibi. Ia paling keras menentang menggunakan munasabah untuk
menafsirkan ayat-ayat dan surat-surat dalam al-Quran. Ia mengatakan, maka
termasuk usaha yang tidak perlu dilakukan adalah mencari-cari hubungan di antara
ayat-ayat dan surat-surat al-Quran. Karena menurutnya, al-Quran dalam berbagai
ayat yang ditampilkannya hanya mengungkapkan hal-hal yang bersifat prinsip
(mabda) dan norma umum (kaidah) saja. Dengan demikian tidaklah pada tempatnya
bila orang bersikeras dan memaksakan diri mencari korelasi (tanasub) antara ayat-
ayat dan surat-surat yang bersifat tafshil lantaran kefasihan lafal-lafalnya dan
ketinggian mutu makna-maknanya. Mahmud Syaltut seorang ulama kontemporer,
kurang setuju dengan analisis munasabah dan menolak menjadikan munasabah
sebagai bagian dari ilmu-ilmu al-Quran. Ia tidak setuju dengan mufasir yang
menggunakan munasabah untuk menafsirkan al-Quran.

Di sisi lain terdapat pendapat-pendapat tentang munasabah, tertib surah dan


ayat. Para ulama sepakat bahwa tertib ayat-ayat dalam al-quran adalah taufiqi,
artinya penetapan dari Rasul, Sementara tertib surah dalam Al-Quran masih terjadi
perbedaan pendapat.

Al-Qhurtubi meriwayatkan pernyataan Ibn Ath-Thibb bahwa tertib surat Al-


Quran di perselisihkan, Dalam hal ini ada tiga golongan:

a. Tertib surat berdasarkan ijtihad para sahabat. Pendapat ini diikuti oleh jumhur
ulama seperti Imam Malik, Al-Qhadi Abu Bakr At-Thibb. Beberapa alasan mereka
adalah :

1. Tidak ada petunjuk langsung dari Rasulullah tentang tertib surah dalam Al-
Quran.

2. Sahabat pernah mendengar Rasul membaca Al-Quran berbeda dengan susunan


surah sekarang, hal ini di buktikan dengan munculnya empat buah mushaf dari

8
kalangan sahabat yang berbeda susunannya antara yang satu dengan yang lainnya.
Yaitu mushaf Ali, mushaf Ubay, mushaf Ibn Masud, mushaf Ibnu Abbas.

3. Mushaf yang ada pada catatan sahabat berbeda-beda ini menunjukkan bahwa
susunan surah tidak ada petunjuk resmi dari Rasul.

4. Alasan lain adalah riwayat Abu Muhammad Al-Quraysi bahwa Umar


memerintahkan agar mengurutkan surat At-Tiwal. Akan tetapi, riwayat ini diberi
catatan kaki oleh As-Sayuthi agar diteliti kembali.

b. Susunan surat berdasarkan petunjuk Rasulullah Saw (taufiqi).

Di antara ulama yang yang berpendapat demikian adalah Al-Qadhi Abu Bakr Al-
Anbari, Ibn Hajar, Al-Zarkasyi dan As-Sayuthi. Alasan yang dikemukakan sebagai
berikut :

1. Ijma sahabat terhadap mushaf Utsman. Ijma ini tak akan mungkin terjadi
kecuali kalau tertib itu tauqifiy, seandainya bersifat ijtihadiy, niscaya pemilik mushaf
lainnya akan berpegang teguh pada mushafnya.

2. Hadist tentang hijzb Al-Quran yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Dawud
dari Huzaifah As-Syaqafi.

c. Tertib surat sebagian taukifi dan sebagian ijtihadiy. Di antara yang berpendapat
demikian adalah Al-Baihaqi. Menurutnya: seluruh surat susunannya berdasarkan
tauqif Rasul kecuali surat Baraah dan Al-Anfal.

Al-Qhadi Abu Muhammad Ibn Athiyah termasuk golongan ini, Dan alasan
Lainnya:

Ternyata tidak semua nama-nama surah itu diberikan oleh Allah, tapi sebagiannya
diberikan oleh Nabi dan bahkan ada yang diberikan oleh para sahabat. Adapun yang
diberikan oleh Allah adalah misalnya surat Al-Baqarah, At-Taubah, Ali Imran dll.
Nama surah yang diberikan oleh Nabi adalah yang Nabi sendiri menyebutkan surah

9
tersebut, seperti surah Thaha dan Yasin. Oleh para sahabat seperti Al-Baroah, yaitu
surat yang di awali tanpa lafal basmalah.

2.4 SEJARAH PERKEMBANGAN MUNASABAH DALAM AL-QURAN

Menurut Asy Syarahbani, seperti dikutip Az Zarkasyi dalam Al Burhan, orang


pertama yang menampakkan munasabaah dalam menafsirkan Al-Quran ialah Abu
Nakar An Naisaburi (wafat tahun 342 H). Besarnya perhatian An Naisaburi terhadap
munasabah nampak dari ungkapan As Suyuti sebagai berikut : Setiap kali ia duduk
di atas kursi, apabila dibacakan Al-Quran kepadanya, beliau berkata, Mengapa ayat
ini diletakkan di samping ayat ini dan apa rahasia diletakkan surat ini di samping
surat ini? Beliau mengkritik para ulama Bagdad sebab mereka tidak mengetahui.

Tindakan An Naisaburu merupakan kejutan dan langkah baru dalam dunia tafsir
waktu itu. Beliau mempunyai kemampuan untuk menyingkap persesuian, baik
antarayat ataupun antarsurat, terlepas dari segi tepat atau tidaknya, segi pro dan
kontra terhadap apa yang dicetuskan beliau. Satu hal yang jelas, beliau di pandang
sebagai Bapak Ilmu Munasabah.

Tokoh yang mula-mula membicarakan tentang ilmu ini ialah al-Imam Abu Bakr
an-Naisaburi (meninggal 323H). Selain beliau terdapat banyak lagi ulama yang
membahas. Antara lain:

1. Al-Imam al-Biqaie - Nazm ad-Durar fi Tanasub al-Ayi was Suwar

2. Al-Imam as-Suyuti Tanasuq ad-Durar wa Tanasub as-Suwar

3. Al-Imam al-Farahi al-Hindi Dalail an-Nizam

Selain mereka para ulama seperti az-Zamakhsyari, ar-Razi, al-Baidhawi, Abu


Hayyan, al-Alusi, Rasyid Ridha, Sayyid Qutb, Dr. Muhammad Abdullah Darraz dan

10
lain-lain turut menyentuh tentang ilmu ini dan mempraktikkannya dalam penulisan
kitab-kitab tafsir mereka.

Sungguhpun begitu, ilmu ini bukanlah disepakati kewujudannya atau diterima


oleh semua ulama, mereka yang kontra mewajibkan syarat yang ketat untuk ilmu ini
ialah: Izzudin Bin Abdis Salam, as-Syaukani, as-Syinqiti dan sebagainya. Mereka ini
berhujah bahwa ilmu al-Munasabah ini adalah takalluf (beban) dan ia tidak dituntut
oleh syara.

2.5 MACAM-MACAM MUNASABAH

Berdasarkan kepada beberapa pengertian sebagaimana yang telah dikemukakan


di atas, pada prinsipnya munasabah al-Quran mencakup hubungan antar kalimat,
antar ayat, serta antar surat. Macam-macam hubungan tersebut apabila diperinci akan
menjadi sebagai berikut :

1. Munasabah antara surat dengan surat.

2. Munasabah antara nama surat dengan kandungan isinya.

3. Munasabah antara kalimat dalam satu ayat.

4. Munasabah antara ayat dengan ayat dalam satu surat.

5. Munasabah antara ayat dengan isi ayat itu sendiri.

6. Munasabah antara uraian surat dengan akhir uraian surat.

7. Munasabah antara akhir surat dengan awal surat berikutnya.

8. Munasabah antara ayat tentang satu tema.

Dalam upaya memahami lebih jauh tentang aspek-aspek munasabah yang telah
diterangkan di atas akan diajukan beberapa contoh di bawah ini.

11
1. Munasabah Antara Surat dengan Surat

Keserasian hubungan atau munasabah antar surat ini pada hakikatnya


memperlihatkan kaitan yang erat dari suatu surat dengan surat lainnya. Bentuk
munasabah yang tercermin pada masing-masing surat, kelihatannya memperlihatkan
kesatuan tema. Salah satunya memuat tema sentral, sedangkan surat-surat lainnya
menguraikan sub-sub tema berikut perinciannya, baik secara umum maupun parsial.
Salah satu contoh yang dapat diajukan di sini adalah munasabah yang dapat ditarik
pada tiga surat beruntun, masing-masing Q. S al-Fatihah (1), Q. S al-Baqarah (2),
dan Q. S al-Imran (3). Satu surah berfungsi menjelaskan surat sebelumnya, misalnya
di dalam surat al-Fatihah / 1 : 6 disebutkan :

(6)

Artinya : Tunjukilah kami jalan yang lurus (Q. S al-Fatihah / 1 : 6)

Lalu dijelaskan dalam surat al-Baqarah, bahwa jalan yang lurus itu ialah mengikuti
petunjuk al-Quran, sebagaimana disebutkan :

(2 )

Artinya : Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka
yang bertakwa (Q. S al-Baqarah / 2 : 2)

2. Munasabah Antara Nama Surat dengan Kandungan Isinya

Nama satu surat pada dasarnya bersifat taufiqi (tergantung pada petunjuk Allah
dan Nabi-Nya). Namun beberapa bukti menunjukkan bahwa suatu surat terkadang
memiliki satu nama dan terkadang dua nama atau lebih. Tampaknya ada rahasia
dibalik nama tersebut. Para ahli tafsir sebagaimana yang dikemukakan oleh al-
Suyuthi melihat adanya keterkaitan antara nama-nama surat dengan isi atau uraian

12
yang dimuat dalam suatu surat. Kaitan antara nama surat dengan isi ini dapat di
identifikasikan sebagai berikut :

a. Nama diambil dari urgensi isi serta kedudukan surat. Nama surat al-Fatihah
disebut dengan umm al-Kitab karena urgensinya dan disebut dengan al-Fatihah
karena kedudukannya.

b. Nama diambil dari perumpamaan , peristiwa, kisah atau peran yang menonjol,
yang dipaparkan pada rangkaian ayat-ayatnya; sementara di dalam perumpamaan,
peristiwa, kisah atau peran itu sarat dengan ide. Di sini dapat disebut nama-nama
surat : al-Ankabut, al-Fath, al-Fil, al-Lahab dan sebagainya.

c. Nama sebagai cerminan isi pokoknya, misalnya al-Ikhlas karena mengandung


ide pokok keimanan yang paling mendalam serta kepasrahan : al-Mulk mengandung
ide pokok hakikat kekuasaan dan sebagainya.

d. Nama diambil dari tema spesifik untuk dijadikan acuan bagi ayat-ayat lain yang
tersebar diberbagai surat. Contoh al-Hajj (dengan spesifik tema haji), an-Nisa
(dengan spesifik tema tentang tatanan kehidupan rumah tangga). Kata Nisa yang
berarti kaum wanita adalah tentang keharmonisan rumah tangga.

e. Nama diambil dari huruf-huruf tertentu yang terletak dipermulaan surat,


sekaligus untuk menuntut perhatian khusus terhadap ayat-ayat di dalamnya yang
memakai huruf itu. Contohnya : Thaha, Yasin, Shad, dan Qaf.

3. Munasabah Antara Satu Kalimat dengan Kalimat Lainnya dalam Satu Ayat

Munasabah antara satu kalimat dengan kalimat yang lainnya dalam satu ayat dapat
dilihat dari dua segi. Pertama adanya hubungan langsung antar kalimat secara konkrit
yang jika hilang atau terputus salah satu kalimat akan merusak isi ayat. Identifikasi
munasabah dalam tipe ini memperlihatkan ciri-ciri takid / tasydid (penguat /
penegasan) dan tafsir / itiradh (interfretasi /penjelasan dan cirri-cirinya). Contoh
sederhana takid :

13
"" , diikuti "( " Q.S al-Baqarah / 2:24).

Contoh tafsir:

Kemudian diikuti dengan (1:17/ )

Kedua masing-masing kalimat berdiri sendiri, ada hubungan tetapi tidak langsung
secara konkrit, terkadang ada penghubung huruf athaf dan terkadang tidak ada.
Dalam konteks ini, munasabahnya terletak pada :

a. Susunan kalimat-kalimatnya berbentuk rangkaian pertanyaan, perintah dan atau


larangan yang tak dapat diputus dengan fashilah. Salah satu contoh :

(25 ___ ___ )

b. Munasabah berbentuk istishrad (penjelasan lebih lanjut). Contoh :

(189 ___ ___ )

c. Munasabah berbentuk nazhir / matsil (hubungan sebanding) atau mudhaddah /


takis (hubungan kontradiksi). Contoh :

(177 ___ ___)

4. Munasabah Antara Ayat dengan Ayat dalam Satu Surat

Untuk melihat munasabah semacam ini perlu diketahui bahwa ini didaftarkan pada
pandangan datar yaitu meskipun dalam satu surat tersebar sejumlah ayat, namun pada
hakikatnya semua ayat itu tersusun dengan tertib dengan ikatan yang padu sehingga
membentuk fikiran serta jalinan informasi yang sistematis. Untuk menyebut sebuah
contoh, ayat-ayat di awal Q. S al-Baqarah : 1 20 memberikan sistematika informasi

14
tentang keimanan, kekufuran, serta kemunafikan. Untuk mengidentifikasikan ketiga
tipologi iman, kafir dan nifaq, dapat ditarik hubungan ayat-ayat tersebut.

Misalnya surat al-Muminun dimulai dengan :

Artinya : Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.

Kemudian dibagian akhir surat ini ditemukan kalimat

Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tidak beruntung.

5. Munasabah Antara Penutup Ayat dengan Isi Ayat Itu Sendiri

Munasabah pada bagian ini, Imam al-Sayuthi menyebut empat bentuk yaitu al-
Tamkin (mengukuhkan isi ayat), al-Tashdir (memberikan sandaran isi ayat pada
sumbernya), al-Tawsyih (mempertajam relevansi makna) dan al-Ighal (tambahan
penjelasan). Sebagai contoh :

mengukuhkan bahkan mengukuhkan hubungan


dengan dua ayat sebelumnya (al-mukminun: 12-14).

6. Munasabah Antara Awal Uraian Surat dengan Akhir Uraian Surat

Salah satu rahasia keajaiban al-Quran adalah adanya keserasian serta hubungan yang
erat antara awal uraian suatu surat dengan akhir uraiannya. Sebagai contoh,
dikemukakan oleh al-Zamakhsyari demikian juga al-Kimani bahwa Q. S al-
Muminun di awali dengan (respek Tuhan kepada orang-orang mukmin) dan di akhiri
dengan (sama sekali Allah tidak menaruh respek terhadap orang-orang kafir). Dalam

15
Q. S al-Qasash, al-Sayuthi melihat adanya munasabah antara pembicaraan tentang
perjuangan Nabi Musa menghadapi Firaun seperti tergambar pada awal surat dengan
Nabi Muhammad SAW yang menghadapi tekanan kaumnya seperti tergambar pada
situasi yang dihadapi oleh Musa AS dan Muhammad SAW, serta jaminan Allah
bahwa akan memperoleh kemenangan.

7. Munasabah Antara Penutup Suatu Surat dengan Awal Surat Berikutnya.

Misalnya akhir surat al-Waqiah / 96 :

Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar.

Lalu surat berikutnya, yakni surat al-Hadid / 57 : 1 :

Semua yang berada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan
kebesaran Allah). Dan Dia-lah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

8. Munasabah Antar Ayat dengan Satu Tema

Munasabah antar ayat tentang satu tema ini, sebagaimana dijelaskan oleh al-Sayuthi,
pertama-tama dirintis oleh al-Kisai dan al-Sakhawi. Sementara al-Kirmani
menggunakan metodologi munasabah dalam membahas mutasyabih al-Quran
dengan karyanya yang berjudul al-Burhan fi Mutasyabih al-Quran. Karya yang
dinilainya paling bagus adalah Durrah al-Tanzil wa Gharrat al-Tawil oleh Abu
Abdullah al-Razi dan Malak al-Tawil oleh Abu Jafar Ibn al-Zubair.

16
Munasabah ini sebagai contoh dapat dikemukakan tentang tema qiwamah (tegaknya
suatu kepemimpinan). Paling tidak terdapat dua ayat yang saling bermunasabah,
yakni Q. S al-Nisa / 4 : 34 :

Dan Q. S al-Mujadalah / 58 : 11 :

Tegaknya qiwamah (konteks parsialnya qiwamat al-rijal ala al-nisa) erat sekali
kaitannya dengan faktor ilmu pengetahuan / teknologi dan faktor ekonomi. Q. S an-
Nisa menunjuk kata kunci bimaa fadhdhala dan al-ilm. Antara bimaa
fadhdhala dengan yarfa terdapat kaitan dan keserasian arti dalam kata kunci nilai
lebih yang muncul karena faktor ilm.

Munasabah al-Quran diketahui berdasarkan ijtihad, bukan melalui petunjuk


Nabi (tauqifi). Setiap orang bisa saja menghubung-hubungkan antara berbagai hal
dalam kitab al-Quran.

2.6 URGENSI DAN KEGUNAAN MEMPELAJARI MUNASABAH

Sebagaimana Asbabun Nuzul, Munasabah dapat berperan dalam memahami Al-


Quran. Muhammad Abdullah Darraz berkata : Sekalipun permasalahan yang
diungkapkan oleh surat-surat itu banyak, semuanya merupakan satu kesatuan
pembicaraan yang awal dan akhirnya saling berkaitan. Maka bagi orang yang hendak
memahami sistematika surat semestinyalah ia memperhatikan keseluruhannya,
sebagaimana juga memperhatikan permasalahannya.15

15 Dr. Rosihan Anwar, Op Cit, hal. 96. mengutip dari Abdullah Ad-Darraz, An-Naba Al-Adzim, (Mesir :
Dar Al-Urubah, 1974), h. 159.

17
Maka, dalam mempelajari Munasabah ini banyak sekali terkandung Faedah dan
kegunaannya, sebagaimana diuraikan dibawah ini :

1. Dapat mengembangkan bagian anggapan orang bahwa tema-tema Al-Quran


kehilangan Relevansi antara satu bagian dan bagian yang lainnya.16

2. Mengetahui persambungan/hubungan antara bagian Al-Quran, baik antara


kalimat atau antar ayat maupun antar surat, sehingga lebih memperdalam
pengetahuan dan pengenalan terhadap kitab Al-Quran sehingga memperkuat
keyakinan terhadap kewahyuan dan kemukjizatannya.(Abdul Djalal, H.A, 1998:
165).17

3. Dapat membantu dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Bila tidak ditemukan


Asbabun Nuzulnya. Setelah diketahui hubungan suatu kalimat atau suatu ayat dengan
kalimat atau ayat yang lain, dimungkinkan seseorang akan mudah mengistimbathkan
hukum-hukum atau isi kandungannya.18

4. Untuk memahami keutuhan, keindahan, dan kehalusan bahasa, (mutu dan


tingkat balaghah Al-Quran )-peny-. serta dapat membantu dalam memahami
keutuhan makna Al-Quran itu sendiri.19

Selain kaguanaan mempelajari munasabah dianggap penting, maka seseorang


yang ingin menemukan korelasi/hubungan antar ayat atau antar surat, sangat
diperlukan kejernihan rohani dan rasio, agar terhindar dari kesalahan penafsiran
(Muhammad Chirzin, 1998 : 58).20 Serta membaca secara cermat kitab-kitab tafsir
tentu akan membantu menemukan berbagai segi kesesuaian (munasabah) tersebut.21

16 Ibid.
17 Drs. H. A. Chaerudji Abd. Chalik, Op Cit, hal. 122
18 Ibid
19 Op Cit, hal. 123
20 Ibid.
21 Ibid.

18
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

1. Dalam konteks Ulum Al-Quran, Munasabah berarti menjelaskan korelasi


makna antar ayat atau antar surat, baik korelasi itu bersifat umum atau khusus;
rasional (aqli), persepsi (hassiy), atau imajinatif (khayali) ; atau korelasi berupa
sebab akibat, illat dan malul, perbandingan, dan perlawanan.
2. Ulama terbagi dua dalam memahami munasabah Al Quran, ada yang pro dan
kontra.
3. Orang pertama yang menampakkan munasabaah dalam menafsirkan Al-Quran
ialah Abu Nakar An Naisaburi (wafat tahun 342 H).
4. Dengan mempelajari Munasabah ini banyak sekali terkandung Faedah dan
kegunaannya dalam memahami Al Quran.

DAFTAR PUSTAKA

19
Al Qattan, Manna Khalil, Studi Ilmu-ilmu al-Quran, terj. Mudzakir AS., Bogor :
Pustaka Litera Antar Nusa, 2001

Al Zarkasyi, Badr al-Din al-Zarkasyi, al Burhany fii ulum Al-Quran, beirut:Dar al-
Marifah li al-Tibaah wa al_Nasyir, 1972
Anwar, Rosihan, Op Cit, hal. 82. mengutip dari jalaluddin As-Suyuthi, Al-Itqan Fi
Ulumil Quran, Daar Al-Fikr, Beirut, t.t, Jilid I

Chalik. A. Chaerudji Abd, Ulum Al-Quran, Jakarta : Diadit Media, 2007

Chirzin, Muhammad, Al-Quran dan Ulumul Quran, cet. II, Yogyakarta : PT. Dana
Bhakti Prima Yasa,2003
Shihab, M. Qraish, Mukjizat al-Quran, cet.XIV, Bandung : Mizan, 2004

20