Anda di halaman 1dari 63

PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH

PENGARUH EXERCISE TERHADAP


PERUBAHAN ANTROPOMETRI ANAK SD
DI DAERAH HIPOTIROID

Disusun oleh
Zaki Aditya Nugraha
20130310122

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2017

HALAMAN PENGESAHAN PROPOSAL KTI


PENGARUH EXERCISE TERHADAP

PERUBAHAN ANTROPOMETRI ANAK

DI DAERAH HIPOTIROID

Disusun oleh:

Zaki Aditya Nugraha

20130310122

Telah disetujui pada tanggal:

07 Juni 2017

Dosen Pembimbing

drh. Zulkhah Noor, M.Kes

NIK : 19540903099511 173 016

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah

melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

Karya Tulis Ilmiah dengan judul Pengaruh Exercise Terhadap Perubahan

Antropometri Anak di Daerah Hipotiroid pada anak umur 9-12 tahun di SDN

Tukharjo dan SDN Purwoharjo tahun 2017. Diajukan sebagai salah satu syarat

menyelesaikan pendidikan S1 Program Studi Pendidikan Dokter di Universitas

Muhammadiyah Yogyakarta. Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini tidak terlepas

dari dorongan dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan

banyak terimah kasih kepada :

1. Orang tua tercinta yang telah memberikan motivasi dan bantuan moril maupun

material dan doa restunya.

2. Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang telah memberikan izin

kepada penulis untuk mengadakan penelitian.

3. Kepala SD Negeri Tukharjo dan Purwoharjo yang telah bersedia menjadi

tempat penelitian.

4. drh. Zulkhah Noor, M.Kes., selaku Pembimbing I yang telah memberikan

bimbingan serta arahan sehingga Karya Tulis Ilmiah ini terselesaikan.

5. Segenap dosen dan karyawan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

6. Rekan mahasiswa S-1 Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

yang selalu memberikan semangat dan kerja samanya selama pendidikan.

7. Semua pihak yang telah memberikan bantuan kepada penulis sehingga penulis

dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh

dari sempurna karena terbatasnya pengetahuan dan kemampuan penulis untuk itu,

penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membanggun demi
kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini, semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat

bermanfaat bagi semua. Amin

Wassallamualaikum Wr.Wb.

Jogjakarta, 06 Juni 2017

Penulis,
Zaki Aditya Nugraha
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................ iii


DAFTAR ISI.......................................................................................................... v
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ..................................................................1
B. Rumusan Masalah ............................................................................6
C. Tujuan Penelitian .............................................................................7
D. Manfaat Penelitian ...........................................................................7
E. Keaslian Penelitian...........................................................................8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Telaah Pustaka ...............................................................................10
B. Kerangka Teori ..............................................................................40
C. Kerangka Konsep Penelitian..........................................................41
D. Hipotesis.........................................................................................41
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian............................................................................43
B. Populasi dan Sampel.......................................................................44
C. Variabel dan Definisi Operasional..................................................46
D. Instrumen Penelitian.......................................................................48
E. Cara Pengumpulan Data.................................................................49
F. Uji Validitas dan Reliabilitas..........................................................51
G. Analisa Data...................................................................................52
DAFTAR PUSTAKA

v
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan nasional dibidang kesehatan dengan paradigma sehat

menekankan upaya promotif dan preventif dalam upaya pembangunan manusia

Indonesia seutuhnya Upaya tersebut diselenggarakan melalui upaya kesehatan

anak yang dilakukan sedini mungkin sejak anak masih dalam kandungan sampai

lima tahun pertama kehidupan. Tujuannya adalah mempertahankan hidup

sekaligus meningkatkan kualitas hidup anak agar mencapai tumbuh kembang

optimal baik fisik, mental, emosional, sosial, serta memiliki intelegensi majemuk

sesuai potensi genetiknya (Depkes RI, 2015).

Anak yang berkualitas merupakan tulang punggung keberhasilan suatu

negara. Kualitas anak masa kini merupakan penentu kualitas Sumber Daya

Manusia (SDM) di masa yang akan datang. Pembangunan manusia masa depan

dimulai dengan pembinaan anak masa sekarang. Untuk mempersiapkan SDM

yang berkualitas di masa yang akan datang, maka anak perlu dipersiapkan agar

anak dapat tumbuh dan berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan

kemampuannya. Pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan hasil interaksi

seimbang antara faktor genetik-herediter-konstitusi dan faktor lingkungan. Faktor

lingkungan memberikan tiga kebutuhan dasar anak, yaitu kebutuhan fisik-

biomedis (asuh), didalamnya tercakup salah satunya nutrisi, kebutuhan kasih

sayang/emosi (asih) dan kebutuhan bermain/stimulasi (asah) (Tanuwidjaja, 2005).

1
Anak usia sekolah merupakan masa remaja awal anak dalam rentang usia

6 sampai 12 tahun yang memasuki masa pubertas. Anak usia sekolah pada

umumnya mempunyai kondisi gizi yang lebih baik daripada kelompok balita.

Meskipun demikian, masih terdapat berbagai kondisi gizi anak sekolah yang tidak

baik (Sediaoetama, 2010). Hal ini dapat disebabkan oleh kondisi yang berasal

dari dalam diri individu, antara lain usia, jenis kelamin, dan penyakit infeksi.

Anak usia sekolah membutuhkan asupan gizi lebih banyak yang sangat

dibutuhkan untuk tumbuh kembang menuju remaja (Sulistyoningsih, 2010).

Masalah gizi pada anak secara garis besar merupakan dampak dari

ketidakseimbangan antara kurang asupan dan keluaran zat gizi, yaitu asupan yang

melebihi keluaran ataupun sebaliknya, salah satunya adakah kurangnya asupan

protein (Arisman, 2009).

Rendahnya asupan protein dapat mengganggu metabolisme yodium yang

pada akhirnya mengganggu stimulasi metabolisme sel, termasuk tumbuh

kembang. Hormon tiroid memodulasi metabolisme energi dan penting untuk

pertumbuhan dan perkembangan. Efek hormon tiroid pada perkembangan melalui

beberapa faktor pertumbuhan, salah satunya adalah epidermal growth faktor

(EGF) yang terdapat pada cairan tubuh. Ikatan hormon tiroid pada reseptor

nuclear diketahui untuk menstimulasi sintesis. Hormon tiroid meningkatkan

sekresi hormon pertumbuhan. Hormon tiroid meningkatkan sekresi hormon

pertumbuhan hormon pertumbuhan dan memodulasi efek dari reseptornya. IGF-I

dan IGF terikat protein (IGFBP)-3 juga tergantung keadaan tiroid. Pada manusia,

2
kondisi hipotiroid dapat menurunkan tingkat konsentrasi IGF-I dan IGFBP-3

sehingga proses tumbuh kembang secara normal dapat terganggu. Hormon tiroid

secara langsung berpengaruh terhadap pertumbuhan tulang, maturasi tulang dan

tinggi badan (Zimmermann et al., 2007).

Penelitian lain menduga peran hormone tiroid dalam mengatur

termogenesis saat udara dingin dan diinduksi oleh diet yang disesuai dengan suhu

selama beraktitas (Silva, 2006). Poros hipotalamik pituitari tiroid (HPT)

mengatur energy expenditure, termogenesis, konsumsi oksigen, dan metabolisme

makanan. Kerusakan poros hipotalamus paratiroid dan tiroid (HPT) berdampak

pada metabolisme, termogenesis, dan berat badan. Rerata produksi dan

peningkatan metabolisme kortisol telah dilaporkan pada keadaan obesitas, tetapi

kadar dalam serum umumnya normal (DeLany, 2002).

Hipotiroid merupakan suatu sindroma klinis akibat penurunan produksi dan

sekresi hormon tiroid. Hal tersebut akan mengakibatkan penurunan laju

metabolisme tubuh dan penurunan glukosaminoglikan di interstisial terutama

dikulit dan otot (Soewondo & Cahyanur, 2008). Hipotiroid biasanya disebabkan

oleh proses primer dimana jumlah produksi hormon tiroid oleh kelenjar tiroid

tidak mencukupi. Dapat juga sekunder oleh karena gangguan sekresi hormon

tiroid yang berhubungan dengan gangguan sekresi Thyroid Stimulating Hormone

(TSH) yang adekuat dari kelenjar hipofisis atau karena gangguan pelepasan

Thyrotropin Releasing Hormone (TRH) dari hipotalamus (hipotiroid sekunder

atau tersier). Manifestasi klinis pada pasien akan bervariasi, mulai dari

3
asimtomatis sampai keadaan koma dengan kegagalan multiorgan atau koma

iksedema (Syahbuddin, 2009).

Insidensi hipotiroid bervariasi tergantung kepada faktor geografik dan

lingkungan seperti kadar iodium dalam makanan dan asupan zat goitrogenik.

Selain itu juga berperan faktor genetik dan distribusi usia dalam populasi tersebut.

Diseluruh dunia penyebab hipotiroid terbanyak adalah akibat kekurangan iodium.

Sementara itu dinegara-negara dengan asupan iodium yang mencukupi, penyebab

tersering adalah tiroiditis autoimun. Di daerah endemik, prevalensi hipotiroid

adalah 5 per 1000, sedangkan prevalensi hipotiroidi subklinis sebesar 15 per 1000

(Vaidya & Pearce, 2009). Hasil Riskesdas tahun 2013 menunjukkan bahwa

prevalensi hipertiroid di Indonesia berdasarkan wawancara yang terdiagnosis

dokter sebesar 0,4%. Penderita hipertiroid wanita lebih banyak dibandingkan

dengan pria yaitu 5 : 1. Penelitian di daerah Yogyakarta menunjukkan angka

kejadian 1 : 1500 hipotiroid kongenital sporadik dan 1 : 1300 bayi menderita

hipotiroid transien karena kekurangan iodium (endemis).

Pertumbuhan dan perkembangan anak menurut islam berlangsung fase

demi fase. Secara biologis pertumbuhan itu digambarkan oleh tuhan dalam Al-

Quran sesuai firmannya pada surat Al-Mumin ayat 67 sebagai berikut :

()

Artinya:

Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani,

sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang

4
anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa

(dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada

yang diwafatkan sebelum itu. (kami perbuat demikian) supaya kamu sampai

kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : " Setiap anak itu

dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya

menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang Majusi. Sebagaimana

seekor binatang yang melahirkan seekor anak tanpa cacat, apakah kamu

merasakan terdapat yang terpotong hidungnya?." (Shahih Muslim No.4803)

Dari hadits tersebut sangat jelas peran orang tua dalam pendidikan dan

memberikan stimulasi pada anak sangatlah besar. Terutama agar dapat menjadikan

seorang anak memiliki akhlaq yang baik sesuai dengan ajaran Islam, maka sejak

awal keberadaan anak, orang tua memiliki tugas untuk mentransfer nilai-nilai

Islami dalam kehidupannya dan menjadikannya Insan Rabbani yang beriman,

bertakwa dan beramal sholeh.

Berdasarkan observasi awal siswa-siswi SDN Tukharjo dan SDN

Purwoharjo terdapat banyak siswa yang mengalami underweight dan beberapa

diantaranya terdapat siswa yang dinilai mengalami malnutrisi dan jarang sekali

ditemukan siswa yang mengalami overweight atau obesitas, sehingga

kemungkinan di antara siswa siswi sekolah dasar di daerah tersebut diduga

mengalami gejala hipotiroid. Penelitian yang akan dilakukan pada siswa-siswi di

SDN Tukharjo dan SDN Purwoharjo dengan melakukan exercise di SDN

5
Tukharjo termasuk metode quasy eksperiment untuk melihat tumbuh kembang

siswa siswi agar bisa mengetahui gejala resiko hipotiroid pada anak.

Terapi bermain salah satu bagian dari olahraga yang dapat digunakan

untuk meningkatkan aktivitas fisik pada anak (Anwar, 2005). Olah raga

merupakan suatu bentuk aktivitas fisik yang terencana, mempunyai struktur,

melibatkan gerak tubuh berulang-ulang (Kong, 2003). Penelitian (Wahyu A, 2008)

intervensi dengan cara olah raga dapat mempengaruhi kesehatan fisik.

Metode antropometri merupakan metode yang banyak dipakai di dalam

penelitian gizi masyarakat di dalam menentukan status gizi, karena cara

pengukurannya mudah dan dapat dibawa ke lapangan dengan mudah (portable)

serta tidak memerlukan alat yang mahal. Namun meskipun demikian, ada

beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam menggunakan metode ini, seperti

faktor genetik, penyakit lain yang menyertai gangguan gizi, dan lain-lain.

Beberapa faktor tersebut umumnya akan mempengaruhi validitas dan reliabillitas

dari pengukuran yang dilakukan (Supriasa, 2002).

Berdasarkan fenomena dan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian lebih lanjut dengan judul Pengaruh Exercise Terhadap

Perubahan Antropometri Anak SD di Daerah Hipotiroid pada anak umur 9-12

tahun di SDN Tukharjo dan SDN Purwoharjo tahun 2017.

B. Rumusan Masalah

6
Berdasarkan latar belakang tersebut maka disusunlah sebuah rumusan

masalah sebagai berikut: Apakah terdapat pengaruh exercise terhadap perubahan

antropometri anak SD di daerah hipotiroid?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah tersebut di atas, maka

tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1.3.1 Tujuan umum :

Menganalisis pengaruh exercise terhadap perubahan antropometri anak di

daerah hipotiroid pada anak SD umur 9-12 tahun di SDN Tukharjo dan SDN

Purwoharjo

1.3.2 Tujuan khusus :

Berdasarkan tujuan umum di atas maka dapat disusun tujuan khusus

sebagai berikut:

1. Menganalisis perubahan antropometri yang meliputi berat badan, tinggi

badan, lingkar kepala, lingkar lengan atas sebelum dan setelah exercise.

2. Menganalisis perubahan kadar tiroid sebelum dan setelah exercise.

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah, dan tujuan penelitian

tersebut di atas, maka manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :


1.4.1 Segi teoritis

Memberikan dasar informasi ilmiah mengenai peran exercise dalam

memperbaiki antropometri anak di daerah hipotiroid.

7
1.4.2 Segi praktis

Sebagai salah satu dasar untuk tata laksana mallgizi dan upaya pencegahan

terhadap risiko penyakit hipotiroid di kemudian hari

1.4.3 Segi penelitian

Sebagai salah satu dasar untuk penelitian lanjutan mengenai tata laksana

mallgizi dan pencegahan risiko penyakit hipotiroid pada umumnya dan pengaruh

exercise terhadap kadar tiroid pada khususnya.

E. Keaslian Penelitian

Penelitian tentang pengaruh exercise terhadap perubahan antropometri anak SD

di daerah hipotiroid sangat sedikit sekali dilakukan. Akan tetapi ditemukan ada beberapa

penelitian sebelumnya. Perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian yang peneliti

skrg lakukan ada variabel yang diteliti yaitu exercise sebagai variabel bebas dan

antropometri sebagai variabel terikat diukur dengan menggunakan beberapa alat ukur

antropometri anak serta hipotiroid sebagai variabel pengganggu.

Tabel 1. Penelitian-penelitian yg digunakan sebagai acuan


N Peneliti
Persamaan Perbedaan
o terdahulu

8
1 Deliana et Meneliti 1. Tujuan penelitian
al.,(2003) tentang Deliana et al.: Gambaran klinis awal,
hipotiroid Laboratorium dan respons terapi awal
natrium levotiroksin pada pasien anak
hipotiroid kongenital
Penelitian ini : Menganalisis pengaruh
exercise terhadap perubahan antropometri
anak SD di daerah hipotiroid pada umur 9-
12 tahun di SDN Tukharjo dan SDN
Purwoharjo.
2. Desain Penelitian :
Deliana et al. menggunakan desain
deskriptif observasional sedangkan dalam
penelitian ini menggunakan quasy
ekperimental.
2 Mexitalia Meneliti 1. Tujuan penelitian
et al., tentang Mexitalia et.,al: mengetahui hubungan
(2011) hipotiroid fungsi tiroid dengan energy expenditure
pada remaja obesitas dan normal l
Penelitian ini : Menganalisis pengaruh
exercise terhadap perubahan antropometri
anak SD di daerah hipotiroid pada umur 9-
12 tahun di SDN Tukharjo dan SDN
Purwoharjo.
2. Desain Penelitian :
Mexitalia et.,al : menggunakan desain
korelasi dengan pendekatan cross sectional
sedangkan dalam penelitian ini
menggunakan quasy ekperimental.

9
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Telaah Pustaka

2.1.1 Tiroid

2.1.1.1 Anatomi

Kelenjar tiroid terletak di leher, yaitu antara fasia koli media dan fasia

prevertebralis. Di dalam ruang yang sama terdapat trakea, esofagus, pembuluh

darah besar dan saraf. Kelenjar tiroid melekat pada trakea dan fascia pretrakealis

dan melingkari trakea dua pertiga bahkan sampai tiga perempat lingkaran.

Keempat kelenjar paratiroid umumnya terletak pada permukaan belakang kelenjar

tiroid, tetapi letak dan jumlah kelenjar ini dapat bervariasi. Arteri karotis komunis,

vena jugularis interna dan nervus vagus terletak bersama dalam suatu sarung

tertutup di latero dorsal tiroid. Nervus rekurens terletak di dorsal tiroid sebelum

masuk laring. Nervus frenikus dan trunkus simpatikus tidak masuk ke dalam

ruang antara fasia media dan prevertebralis (De Jong & Sjamsuhidajat, 2005).

10
Gambar 1. Anatomi kelenjar tiroid (De Jong & Sjamsuhidajat, 2005)

Vaskularisasi kelenjar tiroid berasal dari empat sumber antara lain arteri

karotis superior kanan dan kiri, cabang arteri karotis eksterna kanan dan kiri dan

kedua arteri tiroidea inferior kanan dan kiri, cabang arteri brakhialis. Kadang kala

dijumpai arteri tiroidea ima, cabang dari trunkus brakiosefalika. Sistem vena

terdiri atas vena tiroidea superior yang berjalan bersama arteri, vena tiroidea

media di sebelah lateral dan vena tiroidea inferior. Terdapat dua macam saraf yang

mensarafi laring dengan pita suara (plica vocalis) yaitu nervus rekurens dan

cabang dari nervus laringeus superior (De Jong & Sjamsuhidajat, 2005).

11
Gambar 2. Vaskularisasi kelenjar tiroid (Ellis, 2006).

2.1.1.2 Fisiologi

Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid utama yaitu tiroksin (T4) yang

kemudian berubah menjadi bentuk aktifnya yaitu triyodotironin (T3) Iodium

nonorganik yang diserap dari saluran cerna merupakan bahan baku hormon tiroid.

Zat ini dipekatkan kadarnya menjadi 30-40 kali sehingga mempunyai afinitas

yang sangat tinggi di dalam jaringan tiroid. T3 dan T4 yang dihasilkan ini

kemudian akan disimpan dalam bentuk koloid di dalam tiroid. Sebagian besar T 4

kemudian akan dilepaskan ke sirkulasi sedangkan sisanya tetap di dalam kelenjar

yang kemudian mengalami daur ulang. Di sirkulasi, hormon tiroid akan terikat

oleh protein yaitu globulin pengikat tiroid Thyroid Binding Globulin (TBG) atau

prealbumin pengikat albumin Thyroxine Binding Prealbumine (TBPA). Hormon

stimulator tiroid Thyroid Stimulating Hormone (TSH) memegang peranan

terpenting untuk mengatur sekresi dari kelenjar tiroid. TSH dihasilkan oleh lobus

anterior kelenjar hipofisis. Proses yang dikenal sebagai umpan balik negatif

12
sangat penting dalam proses pengeluaran hormon tiroid ke sirkulasi. Pada

pemeriksaan akan terlihat adanya sel parafolikular yang menghasilkan kalsitonin

yang berfungsi untuk mengatur metabolisme kalsium, yaitu menurunkan kadar

kalsium serum terhadap tulang (De Jong & Sjamsuhidajat, 2005).

Sekresi hormon tiroid dikendalikan oleh kadar hormon perangsang tiroid

yaitu Thyroid Stimulating Hormone (TSH) yang dihasilkan oleh lobus anterior

hipofisis. Kelenjar ini secara langsung dipengaruhi dan diatur aktifitasnya oleh

kadar hormon tiroid dalam sirkulasi yang bertindak sebagai umpan balik negatif

terhadap lobus anterior hipofisis dan terhadap sekresi hormon pelepas tirotropin

yaitu Thyrotropin Releasing Hormone (TRH) dari hipotalamus (Guyton & Hall,

2006).

Sherwood (2011) menjelaskan bahwa hampir semua sel di tubuh

dipengaruhi secara langsung atau tidak langsung oleh hormon tiroid. Efek T3 dan

T4 dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori yaitu :

a. Efek pada laju metabolisme

Hormon tiroid meningkatkan laju metabolisme basal tubuh secara

keseluruhan. Hormon ini adalah regulator terpenting bagi tingkat

konsumsi O2 dan pengeluaran energi tubuh pada keadaan istirahat.

b. Efek kalorigenik

Peningkatan laju metabolisme menyebabkan peningkatan produksi

panas.

c. Efek pada metabolisme perantara

13
Hormon tiroid memodulasi kecepatan banyak reaksi spesifik yang

terlibat dalam metabolisme bahan bakar. Efek hormon tiroid pada bahan

bakar metabolik bersifat multifaset, hormon ini tidak saja

mempengaruhi sintesis dan penguraian karbohidrat, lemak dan protein,

tetapi banyak sedikitnya jumlah hormon juga dapat menginduksi efek

yang bertentangan.

d. Efek simpatomimetik

Hormon tiroid meningkatkan ketanggapan sel sasaran terhadap

katekolamin (epinefrin dan norepinefrin), zat perantara kimiawi yang

digunakan oleh sistem saraf simpatis dan hormon dari medula adrenal.

e. Efek pada sistem kardiovaskuler

Hormon tiroid meningkatkan kecepatan denyut dan kekuatan kontraksi

jantung sehingga curah jantung meningkat.

f. Efek pada pertumbuhan

Hormon tiroid tidak saja merangsang sekresi hormon pertumbuhan,

tetapi juga mendorong efek hormon pertumbuhan (somatomedin) pada

sintesis protein struktural baru dan pertumbuhan rangka.

g. Efek pada sistem saraf

Hormon tiroid berperan penting dalam perkembangan normal sistem

saraf terutama Sistem Saraf Pusat (SSP). Hormon tiroid juga sangat

penting untuk aktivitas normal SSP pada orang dewasa.

14
2.1.1.3 Histologi

Kelenjar tiroid terdiri atas dua lobus yang dihubungkan oleh isthmus.

Jaringan tiroid terdiri atas folikel yang berisi koloid. Kelenjar dibungkus oleh

simpai jaringan ikat longgar yang menjulurkan septa ke dalam parenkim

(Jonqueira, 2007).

Gambar 3. Gambaran histologi dari kelenjar tiroid (Jonqueira, 2007).

Koloid terdiri atas tiroglobulin yaitu suatu glikoprotein yang mengandung

suatu asam amino teriodinisasi. Hormon kelenjar tiroid disimpan dalam folikel

sebagai koloid. Selain sel folikel, sel-sel parafolikel yang lebih besar juga terdapat

di kelenjar tiroid. Sel-sel ini terdapat di dalam epitel folikel atau diantara folikel.

Adanya banyak pembuluh darah di sekitar folikel, memudahkan mencurahkan

hormon ke dalam aliran darah (Jonqueira, 2007).

2.1.1.4 Gangguan fungsi tiorid

2.1.1.4.1 Hipotiroid

1. Defenisi Hipotiroid

Hipotiroid adalah suatu penyakit akibat penurunan fungsi

hormon tiroid yang diikuti tanda dan gejala yang mempengaruhi

15
sistem metabolisme tubuh. Faktor penyebabnya akibat penurunan

fungsi kelanjar tiroid, yang dapat terjadi kongenital atau seiring

perkembangan usia. Pada kondisi hipotiroid ini dilihat dari adanya

penurunan konsentrasi hormon tiroid dalam darah disebabkan

peningkatan kadar TSH (Tyroid Stimulating Hormon).

Hipotiroidisme adalah suatu sindroma klinis akibat dari

defisiensi hormontiroid, yang kemudian mengakibatkan perlambatan

proses metabolik. Hipotiroidisme pada bayi dan anak-anak berakibat

pertambahan pertumbuhan dan perkembangan jelas dengan akibat

yang menetap yang parah seperti retardasi mental. Hipotiroidisme

dengan awitan pada usia dewasa menyebabkan perlambatan umum

organisme dengan deposisi glikoaminoglikan pada rongga intraselular,

terutama pada otot dan kulit, yang menimbulkan gambaran klinis

miksedema. Gejala hipotiroidisme pada orang dewasa kebanyakan

reversibel dengan terapi (Anwar R, 2005).

2. Insiden dan Etiologi Hipotiroid

Hipotiroid merupakan kelainan endokrin kedua yang paling

banyak dijumpai di Amerika Serikat setelah diabetes mellitus

(Hueston, 2001). Hipotiroid lebih banyak terjadi pada wanita

dibandingkan pria dan insidensinya meningkat dengan pertambahan

umur. Hipotiroid primer lebih sering di jumpai dibanding hipotiroid

sekunder dengan perbandingan 1000:1 (Roberts & Ladenson, 2004).

16
Pada suatu survei komunitas di Inggris yang dikenal sebagai

the Whickham study, tercatat peningkatan kadar hormon tirotropin

(TSH) pada 7,5% wanita dan 2,8% pria (Tunbridge et al,1977). Pada

survey NHANES III (National Health and Nutritional Examination

Survey III) di Amerika Serikat, terdapat peningkatan kadar tirotropin

pada 4,6% responden, 0,3% diantaranya menderita hipotiroid klinis.

Pada mereka yang berumur di atas 65 tahun hipotiroid klinis dijumpai

pada 1,7% populasi, sedangkan hipotiroid subklinis dijumpai pada

13,7% populasi (Hollowell et al , 2002). Pada penelitian terhadap

wanita berusia 60tahun keatas di Birmingham, hipotiroid klinis

ditemukan pada 2,0% kasus sedangkan hipotiroid subklinis ditemukan

pada 9,6% kasus (Parle et al., 1991).

3. Klasifikasi Hipotiroid

Hipotiroid dapat diklasifikasikan berdasar waktu kejadian

(kongenital atau akuisital), disfungsi organ yang terjadi (primer atau

sekunder/ sentral), jangka waktu (transien atau permanen) atau gejala

yang terjadi (bergejala / klinis atau tanpa gejala / subklinis). Hipotiroid

kongenital biasa dijumpai di daerah dengan defisiensi asupan yodium

endemis. Pada daerah dengan asupan yodium yang mencukupi,

hipotiroid kongenital terjadi pada 1 dari 4000 kelahiran hidup, dan

lebih banyak dijumpai pada bayi perempuan (Roberts & Ladenson,

2004).

17
Pada anak-anak ini hipotiroid kongenital disebabkan oleh

agenesis atau disgenesis kelenjar tiroid atau gangguan sintesis hormon

tiroid. Disgenesis kelenjar tiroid berhubungan dengan mutasi pada gen

PAX8 dan thyroid transcription factor 1 dan 2 (Gillam & Kopp, 2001).

Hipotiroid akuisital disebabkan oleh berbagai faktor. Penyebab

yang paling sering dijumpai adalah tiroiditis autoimun yang sering

disebut tiroiditas Hashimoto. Peran auto imun pada penyakit ini

didukung adanya gambaran infiltrasi limfosit pada kelenjar tiroid dan

adanya antibodi tiroid dalam sirkulasi darah. Operasi atau radiasi

(misal: radioterapi eksternal pada penderita head and neck cancer,

terapi yodium radioaktif pada tirotoksikosis, paparan yodium

radioaktif yang tidak disengaja, infiltrasi besi di kelanjar tiroid pada

hemokromatosis. Beberapa bahan kimia maupun obat (misal:

amiodarone, lithium, interferon) juga dapat menyebabkan hipotiroid

dengan cara mempengaruhi produksi hormon tiroid atau

mempengaruhi autoimunitas kelenjar tiroid (Roberts & Ladenson,

2004).

Berdasarkan disfungsi organ yang terkena, hipotiroid dibagi

dua yaitu hipotiroid primer dan hipotiroid sentral. Hipotiroid primer

berhubungan dengan defek pada kelenjar tiroid itu sendiri yang

berakibat penurunan sintesis dan sekresi hormon tiroid, sedangkan

hipotiroid sentral berhubungan dengan penyakit penyakit yang

mempengaruhi produksi hormon thyrotropin releasing hormone

18
(TRH) oleh hipothalamus atau produksi tirotropin (TSH) oleh

hipofisis (Roberts & Ladenson, 2004)

Hipotiroid berdasarkan kadar TSH dibagi beberapa kelompok

yaitu:

a. TSH < 5,5 IU/L Normal

b. 5,5 IU/L = TSH < 7 IU/L Hipotiroid ringan

c. 7 IU/L = TSH < 15 IU/L Hipotiroid sedang

d. TSH = 15 IU/L Hipotiroid berat

Selain itu pasien dinyakan hipotiroid klinis jika dijumpai

peninggian kadar TSH (TSH = 5,5 IU/L) disertai adanya simptom

seperti fatique,peningkatan BB, ggn.siklus haid,konstipasi,intoleransi

dingin,rambut dan kuku rapuh (Wiseman, 2011).

4. Manifestasi klinis hipotiroid

Gejala secara umum yaitu kelelahan dan kelesuan, sering

mengantuk, jadi pelupa, kesulitan belajar, kulit kering dan gatal,

rambut dan kuku yang rapuh, wajah bengkak, konstipasi, nyeri otot,

penambahan berat badan, peningkatan sensitivitas terhadap banyak

pengobatan, menstruasi yang banyak, peningkatan frekuensi

keguguran pada wanita yang hamil (Wiseman, 2011).

5. Penegakan diagnosis hipotiroid

Pada tiroiditis Hashimoto, pemeriksaan goiter yang terbentuk

dapat diidentifikasi melalui pemeriksaan fisik, dan keadaan hipotiroid

diketahui dengan identifikasi gejala dan tanda fisik yang khas, serta

19
melalui hasil pemeriksaan laboratorium. Peningkatan antibodi

antitiroid merupakan bukti laboratorik paling spesifik pada tiroiditis

Hashimoto, namun tidak semuanya dijumpai pada kasus.

Pemeriksaan hormon tiroid biasanya diperiksa kadar TSH. Dikatakan

hipotiroid apabila terjadi peningkatan kadar TSH. Diagnosis pasti

hanya dapat ditegakkan secara histopatologis melalui biopsi. Kelainan

histopatologisnya dapat bermacam macam yaitu antara lain infiltrasi

limfosit yang difus, obliterasi folikel tiroid, dan fibrosis. Aspirasi

jarum halus biasanya tidak dibutuhkan pada penderita tiroiditis ini,

namun dapat dijadikan langkah terbaik untuk diagnosis pada kasus

yang sulit dan merupakan prosedur yang dibutuhkan jika nodul tiroid

terbentuk. Fungsi tiroid dinilai secara prospektif dengan mengukur

kadar TSH sesuai algoritme yang telah ditetapkan. Waktu pengukuran

kadar TSH untuk mendeteksi dan memberikan terapi hipotiroid post

operasi adalah preoperasi, fase awal post operasi ( 6 minggu) dan

fase lanjut post operasi (12 bln) (Wiseman, 2011).

Hipotiroid merupakan akibat yang sering terjadi setelah

lobektomi yang sangat mempengaruhi hasil akhir operasi dan kualitas

hidup pasien. Hampir 100% mengalami peningkatan kadar TSH.

Tetapi peningkatan kadar TSH tidak selalu menjadi patokan untuk

memulai terapi hormon. Semakin awal dideteksi dapat mencegah

terjadinya keluhan dan komplikasinya (Wiseman, 2011).

20
6 Minggu post
operasi
Cek TSH

TSH 5,5 TSH 5,6 14,9 TSH > 15


Tanpa gejala TSH > 5,5
Dengan gejala

6 bulan post operasi


Cek TSH

TSH 5,5 TSH 5,6 14,9 TSH > 7


Tanpa gejala TSH > 5,5
Dengan gejala

Cek TSH 12 bulan Cek TSH setiap 6 Mulai Treatment /


post operasi dan bulan jika TSH Pengobatan
setiap tahun normal tetap kontrol
kemudian atau sesuai sesuai kebutuhan
kebutuhan
berdasarkan gejala

Gambar 4. Algoritma untuk Mendeteksi dan Terapi Hormon pada Hipotiroid Post
Operasi

2.1.1.4.2 Hipertiroid

1. Definisi Hipertiroid

Hipertiroid adalah suatu kondisi dimana terjadi peningkatan

jumlah produksi jumlah hormon tiroid dalam tubuh.dengan katalain

kelenjar tiroid bekerja lebih aktif, dinamakan dengan thyrotoksikosis,

dimana berarti terjadi peningkatan level hormon tiroid yang ekstrim

dalam darah.

21
2. Patofisiologi Hipertiroid

Hormon tiroid mempunyai banyak peran yang sigmifikan di

dalam proses di dalam tubuh, proses-proses ini yang kita sebut

metabolisme. Jika terdapat banyak hormon tiroid, setiap fungsi dari

tubuh akan diatur untuk bekerja lebih cepat. Karena selama hipertiroid

terjadi peningkatan metabolisme, maka setiap pasien akan mengalami

kehilangan banyak energi.

3. Gejala Hipertiroid

Gejala yang sering tampak adalah sering gugup, iritabilitas,

peningkatan respirasi, bedebar-debar, tremor, ansietas, susah tidur

(insomnia), berkeringat banyak, rambut rontok, dan kelemahan pada

otot, khususnya kerja dari otot lengan dan kaki, frekwesi buang air

besar terganggu, kehilangan berat badan yang cepat, pada wanita

periode menstruasi lebih cepat dan aliran darah lebih kencang.

Hiperthiroid biasanya mulainya lambat, tetapi pada beberapa pasien

muda perubahan ini terjadi sangat cepat. awalnya gejela dirasakan

yang diartikan salah,contoh persaan gugup yang dianggap karena

stres.

2.1.2 Anak Usia Sekolah

2.1.2.1 Definisi

Menurut Wong (2009, dalam Hidayati 2011), usia sekolah adalah anak

pada usia 6-12 tahun, yang artinya sekolah menjadi pengalaman inti anak. Periode

ketika anak-anak dianggap mulai bertanggung jawab atas perilakunya sendiri

22
dalam hubungan dengan orang tua mereka, teman sebaya, dan orang lainnya. Usia

sekolah merupakan masa anak memperoleh dasar-dasar pengetahuan untuk

keberhasilan penyesuaian diri pada kehidupan dewasa dan memperoleh

keterampilan tertentu.

Safitri (2015) menambahkan bahwa tiba masa akhir anak-anak sulit untuk

diketahui secara tepat kapan periode ini berakhir, karena kematangan seksual

sebagai kriteria yang digunakan untuk memisahkan masa anak-anak dan pubertas

timbulnya tidak selalu sama pada setiap anak. Salah satu penyebabnya adalah

karena perbedaan kematangan seksual. Biasanya anak laki-laki mengalami masa

anak-anak lebih lama dibandigkan anak perempuan. Secara umum anak

perempuan masa akhir anak-anak berlangsung antara usia 6-13 tahun berarti

rentang waktunya sekitar 7 tahun.

2.1.2.2 Tahapan masa usia sekolah dasar

Nanang dkk. (2010) menjelaskan bahwa tahapan masa usia sekolah dasar

adalah sebagai berikut :

a. Masa kelas-kelas rendah Sekolah Dasar yang berlangsung antara usia

6/7 tahun sampai dengan usia 9/10 tahun, biasanya mereka duduk di

kelas 1, 2 dan 3 Sekolah Dasar.

b. Masa kelas-kelas tinggi Sekolah Dasar, yang berlangsung antara usia

9/10 tahun 12/13 tahun, biasanya anak duduk di kelas 4, 5 dan 6

Sekolah Dasar.

2.1.2.3 Karakteristik anak usia sekolah dasar

23
Moehji (2013, h.46) menjelaskan bahwa karakteristik anak sekolah adalah

sebagai berikut :

1. Pertumbuhan tidak secepat bayi.

2. Gigi merupakan gigi susu yang tidak permanen (tanggal).

3. Lebih aktif memilih makanan yang disukai.

4. Kebutuhan energi tinggi karena aktivitas meningkat.

5. Pertumbuhan lambat.

6. Pertumbuhan meningkat lagi pada masa pra remaja.

2.1.2.4 Pertumbuhan dan perkembangan anak usia sekolah

Selama usia sekolah, pertumbuhan dan perkembangan anak relatif stabil

dibandingkan masa bayi atau remaja yang sedang mengalami pertumbuhan cepat.

Pertambahan berat badan setiap tahun rata-rata sekitar 7 pounds (3 3,5 kg) dan

pertambahan tinggi badan setiap tahun rata-rata sekitar 2,5 inches (6 cm) (Brown,

2005). Kecepatan pertumbuhan anak wanita dan laki-laki hampir sama pada usia 9

tahun. Selanjutnya, antara usia 10 - 12 tahun, pertumbuhan anak wanita

mengalami percepatan lebih dulu karena tubuhnya memerlukan persiapan

menjelang usia reproduksi. Sementara anak laki-laki baru dapat menyusul dua

tahun kemudian (Arisman, 2004).

Pertumbuhan fisik anak usia Sekolah Dasar (SD) cenderung stabil, tetapi

perkembangan kognitif, emosional, dan sosial berkembang sangat pesat. Anak

usia 6 sampai 12 tahun mulai berhubungan tidak hanya dengan keluarga, tetapi

juga dengan teman, guru, pelatih, pengasuh, dan lain sebagainya. Orang di luar

keluarga tersebut turut mempengaruhi konsumsi makan anak (Brown, 2005).

24
Masalah gizi banyak dialami oleh golongan rawan gizi, salah satunya

adalah remaja. Kelompok remaja menunjukkan fase pertumbuhan pesat

adolescence growth spurt sehingga memerlukan zat-zat gizi relatif banyak

(Moehji, 2003). Anak sekolah biasanya mempunyai banyak perhatian dan

aktivitas di luar rumah, sehingga sering melupakan waktu makan (RSCM &

PERSAGI, 2003).

Tujuan utama dari perkembangan pada usia middle childhood adalah

selfefficacy, yaitu berhubungan dengan apa yang diketahui anak dan

bagaimana cara mereka untuk melakukannya. Pada usia sekolah, anak mengalami

tahap perubahan perkembangan dari preoperational ke concrete operation

yang ditandai oleh kemampuan lebih fokus terhadap sesuatu hal; kemampuan

untuk memberikan alasan yang lebih rasional untuk suatu masalah; kemampuan

untuk mengelompokkan dan menggeneralisasi sesuatu hal; dan penurunan sifat

mau menang sendiri sehingga anak mulai dapat melihat sesuatu dari sudut

pandang orang lain. Pada tahap ini anak juga mulai mengembangkan

kepribadiannya, meningkatkan kemandirian, dan belajar tentang perannya dalam

keluarga, sekolah dan masyarakat. Hubungan dengan teman sebaya menjadi

sangat penting dan mulai memisahkan diri dari keluarga. Mereka lebih senang

untuk menghabiskan waktu bersama dengan teman atau melakukan aktivitas lain

yang disukainya, seperti menonton televisi atau bermain video games (Brown,

2005).

2.1.2.5 Kecukupan gizi anak sekolah

25
Angka Kecukupan Gizi (AKG) adalah angka kecukupan rata-rata zat gizi

setiap hari bagi hamper semua individu menurut golongan umur, jenis kelamin,

ukuran tubuh dan aktivitas untuk mencegah terjadinya defisiensi zat gizi.

Kecukupan makanan dapat diukur secara kualitatif maupun kuantitatif. Secara

kualitatif antara lain dengan nilai sosial, ragam jenis pangan dan cita rasa,

sedangkan kuantitatif adalah kandungan zat gizi. Kelompok vitamin yang

merupakan komponen utama penyusun suplemen terdiri dari vitamin A,

riboflavin, niacin, piridoxin, asam folat, B kompleks dan vitamin C, sedangkan

untuk mineral terdiri dari kalcium (Ca), phosfor (P), besi (Fe), zinc (Zn), iodium

(Io) dan selenium (Se) (Almatsier, 2002).

2.1.2.6 Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak

Hidayat (2011, h. 11) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang

mempengaruhi tumbuh kembang anak adalah sebagai berikut :

2.1.2.6.1 Faktor hereditas

Faktor hereditas merupakan faktor yang dapat diturunkan sebagai dasar

dalam mencapai tumbuh kembang anak disamping faktor lain. Faktor hereditas

meliputi bawaan, jenis kelamin, ras dan suku bangsa

2.1.2.6.2 Faktor lingkungan

Faktor lingkungan meliputi lingkungan prenatal (lingkungan dalam

kandungan) dan lingkungan postnatal (lingkungan setelah bayi lahir).

1. Lingkungan prenatal, merupakan lingkungan dalam kandungan, mulai

darikonsepsi sampai lahir yang meliputi gizi pada waktu ibu hamil,

lingkungan mekanis, zat kimian atau toksin dan hormonal.

26
2. Lingkungan postnatal

a. Budaya lingkungan

Budaya lingkungan dapat menentukan bagaimana seseorang

atau masyarakat mempersepsikan pola hidup sehat, hal ini dapat

terlihat apabila kehidupan atau perilaku mengikuti budaya yang ada

sehingga kemungkinan besar dapat menghambat pertumbuhan dan

perkembangan anak.

b. Status sosial ekonomi

Anak dengan keluarga yang memiliki sosial ekonomi tinggi

umumnya pemenuhan kebutuhan gizinya cukup baik dibandingkan

dengan anak dengan sosial ekonomi rendah. Demikian juga dengan

anak dengan pendidikan rendah tentu akan sulit untuk menerima

arahan dalam pemenuhan gizi dan mereka sering tidak mau atau tidak

menyakini pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi atau pentingya

pelayanan kesehatan lain yang menunjang dalam membantu

pertumbuhan dan perkembangan anak.

c. Nutrisi

Nutrisi adalah salah satu komponen yang penting dalam

menunjang keberlangsungan proses pertumbuhan dan perkembangan

anak.

d. Iklim dan cuaca

27
Iklim dan cuaca dapat berperan dalam pertumbuhan dan

perkembangan. Misahnya pada saat musim tertentu kebutuhan gizi

dapat dengan mudah diperoleh, namun pada saat musim yang lain

justru sebaliknya. Sebagai contoh, saat musim kemarau penyediaan air

bersih atau sumber makanan sangatlah sulit.

e. Olah raga atau latihan fisik

Olahraga atau latihan fisik dapat memacu perkembangan anak

karena dapat meningkatkan sirkulasi darah sehingga suplai oksigen ke

seluruh tubuh dapat teratur serta dapat meningkatkan stimulasi

perkembangan tulang, otot, dan pertumbuhan sel lainnya.

f. Posisi anak dalam keluarga

Secara umum, anak pertama atau anak tunggal memiliki

kemampuan intelektual lebih menonjol dan cepat berkembang karena

sering berinteraksi dengan orang dewasa, namun dalam perkembangan

motoriknya kadang-kadang terlambat karena tidak ada stimulasi yang

biasanya dilakukan saudara kandungnya. Sedangkan pada anak kedua

atau anak tengah, kecenderungan orang tua yang merasa sudah biasa

dalam merawat anak lebih percaya diri sehingga kemampuan anak

untuk beradaptasi lebih cepat dan mudah, meskipun dalam

perkembangan intelektual biasanya kurang apabila dibandingkan

dengan anak pertamanya.

g. Status kesehatan

28
Anak yang berada dalam kondisi sehat dan sejahtera, maka

percepatan untuk tumbuh kembang menjadi sangat mudah dan

sebaliknya. Sebagai contoh, pada saat tertentu anak seharusnya

mencapai puncak dalam pertumbuhan dan perkembangan, namun

apabila saat itu pula terjadi penyakit kronis yang ada pada diri anak

maka pencapaian kemampuan untuk maksimal dalam tumbuh

kembang akan terhambat karena anak memiliki masa kritis.

3. Faktor hormonal, Hidayat (2011, h. 12), faktor hormonal yang

berperan dalam tumbuh kembang anak antara lain hormon

somatotropin, tiroid, dan glukokortikoid. Hormon somatotropin

(growth hormone) berperan dalam memengaruhi pertumbuhan tinggi

badan dengan menstimulasi terjadinya proliferasi sel kartilago dan

sistem skeletal. Hormon tiroid berperan menstimulasi metabolime

tubuh. Hormon glukokortikoid mempunyai fungsi menstimulasi

pertumbuhan sel interstisial dari testis (untuk memproduksi testoteron)

dan ovarium (untuk memproduksi estrogen).

2.1.3 Antropometri

2.1.3.1 Definisi

Antropometri adalah ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang

gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagi macam pengukuran

29
dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.

Penggunaan antropometri secara umum digunakan untuk melihat

ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat

pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan

jumlah air dalam tubuh (Supariasa, dkk 2002).

2.1.3.2 Tujuan

Tujuan dari pengukuran antropometri adalah untuk mengetahui kondisi

pertumbuhan dan gizi anak. Penilaian pertumbuhan pada anak sebaiknya

dilakukan dengan jarak yang teratur disertai dengan pemeriksaan serta

pengamatan fisik. Pengukuran berat badan digunakan untuk mengukur

pertumbuhan secara umum atau menyeluruh. Sedangkan tinggi badan digunakan

untuk mengukur pertumbuhan linier. Pengukuran antropometri (berat badan,

tinggi badan dan lingkar lengan) sebenarnya sangat mudah dilakukan namun juga

sekaligus rawan terhadap bias dan error data. Untuk menghindari bias dan error

data maka hal yang perlu diperhatikan adalah kualitas alat yang digunakan dan

ketelitian pewawancara dalam melakukan pengukuran (Badorsono, 2015).

2.1.3.3 Pengukuran antropometri

1. Berat Badan

Berat badan Menggambarkan jumlah dari protein, lemak, air, dan mineral

dalam tulang. Berat badan merupakan salah satu ukuran antropometri yang

30
terpenting karena dipakai untuk memeriksa kesehatan anak pada semua kelompok

umur (Supariasa, dkk 2002).

Cara pengukuran berat badan anak menurut WHO (2005) adalah sebagai berikut :

a. Ketika alat timbang sudah menunjukkan angka 00.00 mintalah anak

untuk berdiri di tengah-tengah alat timbang.

b. Pastikan posisi badan anak dalam keadaan berdiri tegak, mata/kepala

lurus ke arah depan, kaki tidak menekuk. Pewawancara dapat

membantu anak tersebut berdiri dengan baik di atas timbangan dan

untuk mengurangi gerakan anak yang tidak perlu yang dapat

mempengaruhi hasil penimbangan.

c. Tentukan hasil timbangan sesuai dengan jarum penunjuk pada

timbangan.

d. Selanjutnya, tentukan posisi berat badan anak sesuai dengan standar

yang berlaku, yaitu apakah status gizi anak normal, kurang atau buruk.

Untuk menentukan berat badan ini juga dapat dilakukan dengan

melihat pada kurva KMS, apakah berada berat badan anak berada

pada kurva berwarna hijau, kuning atau merah.

2. Tinggi Badan

Tinggi badan memberikan gambaran fungsi pertumbuhan yang dilihat dari

keadaan kurus kering dan kecil pendek. Tinggi badan dinyatakan dalam bentuk

Indeks TB/U (tinggi badan menurut umur), atau juga indeks BB/TB (Berat Badan

31
menurut Tinggi Badan) (Depkes RI, 2004). Cara pengukuran tinggi badan

menurut WHO (2005) adalah sebagai berikut :

a. Mintalah anak untuk melepaskan sepatu anak dan melepaskan hiasan

atau dandanan rambut yang mungkin dapat mempengaruhi hasil

pengukuran TB anak.

b. Tempatkan kedua kaki anak secara merata dan bersamaan di tengah-

tengah dan menempel pada alat ukur/dinding. Tempatkan tangan

kanan anda sedikit di atas mata kaki si anak pada ujung tulang kering,

tangan kiri anda pada lutut si anak dan dorong ke arah papan

ukur/dinding. Pastikan kaki si anak lurus dengan tumit dan betis

menempel di papan ukur/dinding.

c. Mintalah anak untuk memandang lurus ke arah depan. Pastikan garis

padang anak sejajar dengan tanah. Dengan tangan kiri, peganglah

dagu anak. Dengan perlahan-lahan ketatkan tangan anda. Jangan

menutupi mulut atau telinga anak. Pastikan bahu anak rata, dengan

tangan di samping, dan kepala, tulang bahu dan pantat menempel di

papan ukur/dinding.

d. Mintalah anak untuk mengambil nafas panjang

e. Dengan tangan kanan anda, turunkan meteran alat pengukur hingga

pas di atas kepala anak. Pastikan anda menekan rambut anak. Jika

posisi anak sudah betul, baca dan catatlah hasil pengukuran dengan

32
desimal satu di belakang koma dengan melihat angka di dalam kaca

pengukuran. Naikkan meteran dari atas kepala anak dan lepaskan

tangan kiri anda dari dagu anak.

3. Lingkar Lengan Atas (LILA)

Pertambahan lingkar lengan atas ini relatif lambat. Saat lahir, lingkar

lengan atas sekitar 11 cm dan pada tahun pertama, lingkar lengan atas menjadi 16

cm. Selanjutnya ukuran tersebut tidak banyak berubah sampai usia 3 tahun.

Ukuran lingkar lengan atas mencerminkan pertumbuhan jaringan lemak dan otot

yang tidak berpengaruh oleh keadaan cairan tubuh dan berguna untuk menilai

keadaan gizi dan pertumbuhan anak (Badorsono, 2015). Cara pengukuran lingkar

lengan atas menurut WHO (2005) adalah sebagai berikut :

a. Tentukan lokasi lengan yang diukur. Pengukuran dilakukan pada

lengan bagian kiri, yaitu pertengahan pangkal lengan dan siku.

Pemilihan lengan kiri tersebut dengan pertimbangan bahwa aktivitas

lengan kiri lebih pasif dibandingkan dengan lengan kanan sehingga

ukurannya lebih stabil. Untuk lebih jelasnya lihat gambar 3.

b. Lingkarkan alat pengukur pada lengan bagian atas seperti pada

gambar ( dapat digunakan pita pengukur). Hindari penekanan pada

lengan yang diukur saat pengukuran.

c. Tentukan besar lingkar lengan sesuai dengan angka yang tertera pada

pita pengukur.

d. Catat hasil pada KMS

4. Lingkar Kepala

33
Lingkar kepala digunakan sebagai pengganti pengukuran ukuran dan

pertumbuhan otak tetapi tidak sepenuhnya berkorelasi dengan volume otak.

Pengukuran lingkar kepala merupakan prediktor terbaik dalam melihat

perkembangan syaraf anak dan dalam menyediakan tampilan dinamis dari

pertumbuhan global otak dan struktur internal, sehingga harus dipantau dalam

pranatal awal dan tahap postnatal. Pada bayi baru lahir ukuran lingkar kepala

normal adalah 34-35 cm, akan bertambah 2 cm setiap bulan pada usia 0-3 bulan.

Pada usia 4-6 bulan akan bertambah 1 cm per bulan, dan pada usia 6-12 bulan

pertambahan 0,5 cm per bulan. Sampai usia 5 tahun biasanya sekitar 50 cm.Usia

5-12 tahun hanya naik sampai 52-53 cm dan setelah usia 12 tahun akan menetap.

2.1.4 Exercise

2.1.4.1 Definisi

Exercise adalah semua pergerakan tubuh yang mengeluarkan energi.

Pengeluaran energi melalui aktivitas fisik memiliki hubungan erat dengan

keseimbangan energi. Tubuh akan memerlukan oksigen yang banyak untuk

melakukan aktivitas fisik aerobik seperti bersepeda, menari dan berjalan. Aktivitas

fisik tidak harus dilakukan dalam sekali agar tubuh menjadi aktif. Untuk itu,

direkomendasikan untuk membagi waktu tersebut dalam waktu seminggu

(Suandana, 2013).

2.1.4.2 Manfaat exercise

Ana (2016) menjelaskan bahwa manfaat exercise untuk anak SD usia 7

sampai 12 tahun adalah sebagai berikut :

1. Membantu memelihara kesehatan

34
Pada usia anak SD adalah usia dimana tubuh akan lebih aktif untuk

melakukan perkembangan oleh sebab itu perlu dilakukan olahraga agar

kesehatannya terjaga, dengan olahraga akan mengurangi resiko dari

penyakit penyakit, perkembangan pada anak usia SD memang sangat pesat,

termasuk perkembangan pada bentuk badan, jika anak kurang melakukan

olahraga bisa jadi semakin lama akan semaakin menumpuk penyakit yang

akan menyebabkan obesitas.

2. Membuat anak lebih aktif dan produktif

Hal ini terjadi karena efek dari rajin olahraga sesuai dengan

takarannya akan membuat tubuh menjadi bugar, itu artinya olahraga tidak

perlu berlebihan, bila olahraga berlebihan justru akan menyebabkan

kelelahan yang tidak berarti, bukan malah menjadi sehat tapi malah menjadi

sakit. Dengan olahraga sesuai dengan porsinya meang mampu membuat

anak menjadi lebih aktif dan produktif karena tubuh mereka cenderung lebih

sehat.

3. Baik untuk pertumbuhan

Seperti halnya penjelasan pada point pertama, bahwa usia-usia

seperti itulah usia mulainya aktif dalam pertumbuhann, olahraga yang benar,

baik dan rutin akan memban hormon merangsang tubuh dan meningkatkan

daya pertumbuhan yang sehat. Sehingga dengan tumbuh tubuh yang sehat

anak akan lebih mudah untuk menggapai potensi yang dimilikinya, karena

olahraga yang cukup dan rutin tidak hanya mempengharui kesehatan tubuh

saja, tetapi juga kesehatan psikologis dan daya nalar anak.

35
4. Menumbuh kembangkan sifat sosial di kalangan masyarakat

Olahraga pastilah membutuhkan orang-orang yang ada disekitar,

memang olahraga dapat dilakukan sendiri, namun alagkah lebih

menyenangkan diusia seperti ini olahraga dengan abanyak teman, dalam

permainan olahraga anak biasanya akan ada latihan kekompakan, latihan

berkomunikasi dan juga latihan memerintah, sehingga akan mudah bagi

anak belajar social dari olahraga. Dengan begitu anak akan mengerti dengan

sendirinya apa itu persahabatan, apa itu persaingan dan apa itu kemenangan

serta kekalahan. Dengan olahraga pula anak akan belajar menyelesaikan

masalah yang ada pada dirinya.

5. Membantu perkembangan anak

Olahraga pada usia ini biasanya olahraga daengan permainan,

sehingga anak akan belajar mengembangkan fungsi panca indra, karena

dalam permainan olahraga anak akan terdapat perintah, aturan main dan

juga kerja sama, ada pula mencari soslusi dan bagaimana mencapai tujuan.

Misalnya bermain kucing-kucingan. Disini akan ada aturan main, seperti

yang menjadi kucing dapat berlindung didalam lingkarang dan manusia

yang memburunya tidak boleh masuk dalam lingkungan, jadi anak akan

berfikir pula untuk melakukan perainan ini, sang anak pun akan terlatih

untuk mentaati peratruan, kerja sama yang terjadi disini adalah masing-

msing temaan akan menjag si kucing itu agar tidak tertanggkap oleh

manusia yang mengincarnya, begitu seterusnya.

6. Menjaga kesehatan jantung

36
Olahraga yang dilakukan anak secara rutin akan membantu jantung

untuk bekerja lebih maksimal, jantung akan menjadi lebih kuat dan juga

oksigen akan mudah menyebar ke semua sel sel yang ada didalam tubuh.

7. Melatih kecerdasan

Anak yang senang olahraga akan melatih kecerdasan, karena

olahraga membutuhkan strategi untuk mendapatkan yang terbaik, untuk itu

dengan rajin anak berolahraga anak akan lebih sering mengatur strategi dan

juga mengasah kecerdasannya. Olahraga pun mampu untuk membuat

koordinasi kerja otak sehingga berkembang semakin bagus, dengan rajin

berolahraga anak akan lebih mudah menyerap informasi yang diberikan.

8. Lebih percaya diri

Anak akan lebih percaya diri karena jiwa social dan kecerdasan

selalu terasah dengan melakukan olahraga, selain itu ketrampilan pun dapat

terasah dengan olahraga.

9. Membantu anak untuk berlatih sportif

Karena dalam permainan olahraga akan ada menang dan kalah,

namun disini hanyalah sebuah permainan jadi disetiap perainan tidak boleh

ada dendam ataupun yang lainnya. Dalam olahraga juga akan diajari

bagaimana cara menghargai dan memantaskan diri, menghargai jika ada

temannya yang kalah, bukan malah megolok-oloknya, karena itu akan

menimbulkan pertengkaran yang tidak baik untuk psikologis anak, dengan

olahraga guru pasti akan mengatakan bahwa ini hanya sebuah permainan

dan harus sportif, jadi tidak akan ada perbuatan curang.

37
10. Mengajarkan untuk dapat bekerjasama

Seperti telah dijelaskan dipoin-poin sebelumnya, bahwa permainan

olahraga dalam olahraga anak SD akan membantu untuk anak dalam

bekerjasama, karena biasanya olahraga pada usia SD adalah olahraga yang

dilakukan secara berkelompok.

2.1.4.3 Panduan exercise bagi anak-anak

Hage (2017) menjelaskan bahwa panduan berolahraga bagi anak-anak

yang direkomendasikan oleh Canadian Paediatric Society adalah sebagai berikut:

1. Untuk tumbuh kembang yang baik, bayi yang berusia kurang dari 1 tahun

sebaiknya diberi waktu aktif beberapa kali sehari, khususnya melalui

permainan-permainan sederhana yang sifatnya interaktif dan dilakukan di

lantai.

2. Balita atau anak yang berusia kurang dari 5 tahun dianjurkan melakukan

minimal 180 menit aktivitas fisik dengan intensitas ringan hingga tinggi

per harinya. Aktivitas fisik tersebut dapat berupa sejumlah aktivitas di

lingkungan luar rumah atau aktivitas bermain ataupun rekreasi.

3. Anak-anak di atas 5 tahun dan remaja (hingga usia 17 tahun)

direkomendasikan melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang

hingga tinggi minimal 60 menit per hari. Menurut Catharine (2016),

apabila anak tidak dapat melakukan aktivitas fisik selama satu jam penuh,

aktivitas tersebut dapat dilakukan 30 menit dalam sehari. Aktivitas fisik

tersebut disesuaikan dengan usia, gender, dan tahap perkembangan fisik

dan emosional anak. Sibarani (2016) menegaskan bahwa bergerak minimal

38
30 menit per hari dapat membuat tubuh menghasilkan enzim-enzim yang

membantu metabolisme.

Hage (2017), olahraga seperti berlari, berenang, bermain sepak bola, tenis,

senam, bela diri, dan roller skating sudah boleh dilakukan oleh anak-anak

begitu menginjak usia 5 tahun. Setelah anak-anak menginjak usia 10

tahun, olahraga yang bertujuan meningkatkan kekuatan otot boleh dimulai.

Akan tetapi, bentuk latihan beban ini harus disupervisi dan dipastikan

dilakukan dengan repetisi yang tinggi (15-20 repetisi) serta menggunakan

beban yang ringan dan teknik yang benar.

39
11

B. Kerangka Teori

Anak di daerah
hipotiroid

Manfaat exercise Tumbuh Faktor-faktor yang


kembang anak mempengaruhi
tumbuh kembang
anak

Membantu memelihara Antropometri


kesehatan Faktor hereditas
Membuat anak lebih Faktor lingkungan
aktif dan produktif a.
Baik untuk pertumbuhan
Lingkungan
Menumbuh kembangkan
sifat sosial di prenatal,
kalangan b.
masyarakat Lingkungan
Membantu postnatal
perkembangan anak Budaya lingkungan
Menjaga kesehatan Status sosial ekonomi
jantung
Nutrisi
Melatih kecerdasan
Lebih percaya diri Iklim dan cuaca
Membantu anak untuk Olah raga atau latihan
berlatih sportif fisik
Mengajarkan untuk Posisi anak dalam
dapat bekerjasama keluarga
Status kesehatan
Faktor hormonal.

Gambar 5. Kerangka Teori


12

C. Kerangka Konsep

Anak di daerah Antropometri Antropometri


hipotiroid awal akhir

Faktor Hereditas Pemberian Berat Badan


Faktor Lingkungan exercise Tinggi Badan
Faktor Hormonal Lingkar
Lengan Atas
Lingkar Kepala

Gambar 6 Kerangka Konsep Penelitian

D. Hipotesis

Sugiyono (2014) menjelaskan bahwa hipotesis penelitian adalah jawaban

sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah

penelitian telah dinyatakan dalam bentuk pertanyaan. Dikatakan sementara karena

jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori. Hipotesis dirumuskan atas

dasar kerangka pikir yang merupakan jawaban sementara atas masalah yang

dirumuskan. Terdapat 2 jenis hipotesis dalam penelitian yaitu hipotesis alternatif

(Ha) dan hipotesis observasi (Ho). Ha adalah rumusan formal hasil analisis

deduktif peneliti mengenai masalah yang dikajinya sedangkan Ho disusun untuk

kepentingan pegujian statistik dan dinyatakan dengan kalimat negatif. Hipotesis

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :


13

Ho : Tidak terdapat pengaruh exercise terhadap perubahan antropometri anak di

daerah hipotiroid pada anak obesitas umur 9-12 tahun di SDN Tukharjo

dan SDN Purwoharjo

Ha : Terdapat pengaruh exercise terhadap perubahan antropometri anak di

daerah hipotiroid pada anak obesitas umur 9-12 tahun di SDN Tukharjo

dan SDN Purwoharjo


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen. Metode

eksperiman dalam penelitian ini digunakan untuk mengungkap ada atau tidaknya

pengaruh dari exercise terhadap perubahan antropometri anak di daerah hipotiroid

pada anak obesitas umur 9-12 tahun di SDN Tukharjo dan SDN Purwoharjo.

Penelitian eksperimen diartikan sebagai pendekatan penelitian kuantitatitf yang

paling penuh, artinya memenuhi semua persyaratan untuk menguji hubungan

sebab akibat. Penelitian eksperimen merupakan pendekatan penelitian cukup khas.

Kekhasan tersebut diperlihatkan oleh dua hal, pertama penelitian eksperimen

menguji secara langsung pengaruh suatu variabel terhadap variabel lain, kedua

menguji hipotesis hubungan sebab akibat (Syaodih, 2009).

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan desain Pretest-Posttest Control

Group Design, hal ini sejalan dengan pendapat Sugiyono (2014) yang

menyatakan, desain penelitian eksperimen diantaranya adalah Pretest-Posttest

Control Group Design. Dengan menggunakan desain ini kelompok eksperimen

maupun kelompok kontrol memiliki karakteristik yang sama, karena diambil

secara acak (random) dari populasi yang homogen pula. Dalam desain ini kedua

kelompok terlebih dahulu diobservasi dengan antropometri (pretest), kemudian

kelompok eksperimen diberi perlakuan khusus yaitu pemberian exercise,

sedangkan kelompok kontrol tidak diberi perlakuan. Setelah kelompok intervensi

42
diberi perlakuan selama 7 minggu, kedua kelempok dilakukan observasi dengan

antropometri (posttest). Hasil observasi pada kedua kelompok kemudian

dibandingkan, demikian juga antara hasil observasi awal dengan obsservasi akhir

pada masing-masing kelompok. Desain penelitian ini digunakan untuk

mengetahui pengaruh exercise terhadap perubahan antropometri anak di daerah

hipotiroid pada anak umur 9-12 tahun di SDN Tukharjo dan SDN Purwoharjo.

O1 X O2

O3 O4
Gambar 7 Desain Pretest-Posttest Control Group Design

Keterangan:
O1 dan O3 = Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sama-sama
diobservasi (pretest) untuk mengetahui antropometri sebelum
dilakukan intervensi
X = Perlakuan berupa pemberian exercise
O2 = Posttest pada kelompok eksperimen setelah diberi perlakuan
exercise.
O4 = Posttest pada kelompok kontrol setelah kelompok intervensi
diberi perlakuan exercise.

B. Populasi Dan Sampel

1.2.1 Populasi

Populasi adalah adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau

subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh

peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono 2014).

Populasi dalam penelitian ini adalah semua anak umur 9-12 tahun di SDN

Tukharjo dan SDN Purwoharjo yaitu sebanyak 40 anak.

43
1.2.2 Sampel

Sugiyono (2014) menjelaskan bahwa sampel adalah bagian dari jumlah

dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Menurut Saryono (2008, h. 63),

supaya hasil penelitian sesuai dengan tujuan, maka penentuan sampel yang

ditetapkan harus sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Kriteria ini berupa

kriteria inklusi dan eksklusi. Adapun kriteria sampel dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut :
a. Kriteria inklusi
1) Siswa laki-laki dan perempuan yang berumur 9-12 tahun di SDN

Tukharjo dan SDN Purwoharjo.


2) Siswa yang diduga mengalami hipotiroid.
3) Siswa yang bersedia menjadi responden.
b. Kriteria eksklusi
1) Siswa yang saat dilakukan penelitian tidak mengikuti exercise sebesar

80% dari kesuluruhan jumlah exercise.

1.2.3 Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik

purposive sampling. Menurut Sugiyono (2014), purposive sampling adalah teknik

pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan

dalam penelitian ini adalah sesuai dengan kriteria inklusi yang telah ditetapkan

dalam penelitian ini. Langkah-langkah yang dilakukan, sebagai berikut :

a. Membuat daftar seluruh peserta didik kelas III, IV, V dan VI SDN

Tukharjo dan kelas IV, V, VI SDN Purwoharjo Tahun Ajaran 2016/2017.

b. Mengambil seluruh peserta didik yaitu 40 anak sebagai sampel penelitian

sedangkan jumlah kelompok kontrol adalah sebanyak 20 anak.

44
c. Sampel penelitian dibagi kedalam dua kelompok, yaitu kelompok

eksperimen dan kelompok kontrol karena penelitian eksperimen kuasi.

d. Subjek penelitian pada kelompok eksperiemen adalah siswa SDN

Tukharjo yang diduga mengalami hipotiroid dan kelompok kontrol adalah

siswa SDN Purwoharjo

C. Variabel dan Definisi Operasional

3.3.1 Variabel Penelitian

Sugiyono (2014) menjelaskan bahwa variabel penelitian adalah segala

sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari

sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik

kesimpulannya. Menurut hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain

maka macam-macam variabel dalam penelitian dapat dibedakan sebagai berikut :

a. Variabel bebas yaitu merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang

menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat. Variabel

bebas dalam penelitian adalah pemberian exercise.

b. Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat

karena adanya variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah

antropometri anak.

3.3.2 Definisi operasional

Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional

berdasarkan karakteristik yang diamati, sehingga memungkinkan peneliti untuk

melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau

fenomena. Definisi operasional ditentukan berdasarkan parameter yang dijadikan

45
ukuran dalam penelitian, sedangkan cara pengukuran merupakan cara dimana

variabel dapat diukur dan ditentukan karakteristiknya (Hidayat 2009). Definisi

operasional dalam penelitian ini tercantum pada tabel 3.3 di bawah ini.

Tabel 1. Definisi Operasional

N Definisi Cara Skala


Variabel Hasil Ukur
o operasional Ukur Ukur
1. Variabel
bebas:
Pemberian Pemberian kegiatan Data Data disajikan Nominal
exercise olah raga dan diperoleh menjadi 2
bermain pada siswa dengan kategori yaitu:
selama 30 menit menggunak 1) Intervensi
per hari yang an checklist 2) Kontrol
dilakukan selama 7 pemberian
minggu. exercise
2. Variabel
terikat :
Antropometri Ukuran tubuh anak Data Data disajikan Rasio
anak SDN terdiri dari berat diperoleh menjadi 3
Tukharjo dan badan menurut dengan kategori yaitu:
SDN umur (BB/U), mengukur 1) Hasil
Purwoharjo tinggi badan menggunak antropometri <
Tahun Ajaran menurut umur an alat batas normal
2016/ 2017 (TB/U), berat antropomet 2) Hasil
badan menurut ri portable antropometri
tinggi badan normal
(BB/TB), lingkar 3) Hasil
lengan atas antropometri >
menurut umur batas normal
(LLA/U), lingkar
kepala menurut
umur (LK/U) pada
anak SDN Tukharjo
dan SDN
Purwoharjo Tahun
Ajaran 2016/ 2017

D. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat-alat yang digunakan untuk

mengumpulkan data (Sugiyono, 2014). Instrumen dalam penelitian ini

46
menggunakan checklist pemberian exercise pada kelompok intervensi serta

menggunakan alat antropometri portable untuk mengukur berat badan, tinggi

badan dan lingkar lengan atas dari laboratorium skill lab Universitas

Muhamadiyah Yogyakarta. Pemberian exercise dalam penelitian ini adalah hasil

karya peneliti dengan menggabungkan kegiatan olah raga dan bermain. Kegiatan

exercise dalam penelitian hasil karya peneliti sendiri sehingga jika peneliti lain

akan menggunakan instrumen ini harus sudah mendapatkan ijin dari peneliti.

E. Cara Pengumpulan Data

3.5.1 Jenis Data

Saryono (2008) menurut sumbernya, data dibedakan menjadi dua jenis,

yaitu :

a. Data primer

Data primer diperoleh langsung dari subyek penelitian dengan

menggunakan alat pengukuran data langsung pada subyek sebagai sumber

informasi yang dicari (Saryono, 2008). Data primer dalam penelitian ini di dapat

dari hasil pengukuran antropometri pada anak SDN Tukharjo dan SDN

Purwoharjo Tahun Ajaran 2016/ 2017.

b. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain, tidak langsung

diperoleh peneliti dari subyek penelitiannya. Biasanya berupa data dokumentasi

atau data laporan yang telah tersedia (Saryono, 2008). Dalam penelitian ini, data

47
sekunder diperoleh dari SDN Tukharjo dan SDN Purwoharjo untuk mengetahui

jumlah siswa yang akan dijadikan sebagai sampel penelitian.

3.5.2 Prosedur pengumpulan data

Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan

berbagai tahap. Tahap yang dilakukan peneliti adalah sebagai berikut:

3.5.2.1 Tahap persiapan

Peneliti mempersiapkan materi dan konsep yang mendukung dalam

penelitian. Selanjutnya menyusun proposal penelitian yang terlebih dahulu

dikonsultasikan kepada dosen pembimbing. Setelah mendapatkan izin dari pihak

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta untuk melakukan studi pendahuluan,

peneliti kemudian melakukan koordinasi dengan pihak terkait yaitu kepala

Sekolah SDN Tukharjo dan SDN Purwoharjo untuk mengidentifikasi jumlah

siswa yang berumur 9-12 tahun. Tahap selanjutnya adalah melaksanakan ujian

proposal penelitian dan merevisi proposal penelitian. Setelah mendapatkan izin

dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, peneliti akan segera melakukan

penelitian.

3.5.2.2 Tahap pelaksanaan

Garis besar tahap pelaksanaan pengambilan data dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut :

a. Peneliti meminta perijinan kepada BAPPEDA DIY, dan pihak sekolah

untuk melakukan penelitian.

48
b. Peneliti melakukan sosialisasi tentang penelitian terhadap siswa-siswi

kepada pihak sekolah yang meliputi kepala sekolah, guru, murid, dan wali

murid

c. Melakukan penapisan terhadap calon sampel untuk memenuhi kriteria

inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan.

d. Peneliti mengumpulkan sampel dalam kelompok intervensi setiap hari

untuk diberikan treatment berupa pemberian exercise.

e. Peneliti meminta responden menandatangani lembar informed consent

bagi yang bersedia menjadi responden penelitian.

f. Sebelum pemberian exercise pada kelompok intervensi, peneliti akan

mengkaji antropometri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol

(pre-test).

g. Pemberian exercise pada kelompok intervensi di SDN Tukharjo dalam

durasi 30 menit perhari, 5 kali dalam seminggu, dan dilakukan selama 7

minggu.

h. Setelah siswa pada kelompok intervensi telah selesai, peneliti memberikan

mengukur kembali antropometri pada kelompok intervensi dan kelompok

kontrol (post-test).

i. Langkah terakhir dilakukan analisa data secara komputerisasi.

F. Uji Validitas dan Reliabilitas

49
Selanjutnya instrumen yang baik menurut Suharsimi Arikunto (2006,

h.168) harus memenuhi dua persyaratan penting yaitu valid dan reliabel. Adapun

untuk menguji valid dan reliabelnya sebuah instrumen dilakukan dengan cara

menguji cobakan instrumen tersebut. Hal ini dilaksanakan dengan tujuan

instrumen tersebut telah valid dan reliabel. Menurut Suharsimi Arikunto (2006)

validitas adalah keadaan yang menggambarkan tingkat instrumen yang

bersangkutan mampu mengukur apa yang akan diukur. Sedangkan menurut

Sugiyono (2014) valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk

mengukur apa yang seharusnya diukur.

Uji validitas instrumen dalam penelitian ini menggunakan validitas

konstrak (construct validity) sebagai pengukur tingkat validitasnya. Menurut

Sugiyono (2014, h. 177), mengemukakan bahwa untuk menguji validitas

konstrak, dapat menggunakan pendapat dari ahli. Dalam penelitian ini, peneliti

menunjuk seorang dosen ahli yaitu dosen pembimbing dalam penelitian ini.

G. Analisis Data

3.7.1 Pengolahan Data

Suyanto dan Salamah (2009, h.57-59) menjelaskan bahwa sebelum

melaksanakan analisa data beberapa tahapan yang harus dilakukan adalah sebagai

berikut :

a. Editing

50
Tahapan ini dilakukan pada saat mengumpulkan data observasi dari

responden. Periksa kembali apakah ada hasil observasi responden yang ganda atau

belum terisi. Jika ada, dilakukan observasi ulang.


b. Coding
Coding adalah tahapan memberikan kode pada jawaban responden yang

terdiri dari :

1. Memberi kode identitas responden untuk menjaga kerahasiaan identitas

responden dan mempermudah proses penelusuran biodata responden

bila diperlukan, selain itu juga untuk mempermudah penyimpanan

dalam arsip data.

2. Menetapkan kode untuk scoring hasil observasi yang telah dilakukan.

Coding dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1) Pemberian exercise

a) Intervensi = 1

b) Kontrol = 2

2) Antropometri

a) Kurang dari batas normal = 1

b) Batas normal = 2

c) Lebih dari batas normal = 3

c. Entering

Memasukkan data yang ke dalam komputer untuk dilakukan analisa data.

3.7.2 Analisis Data

51
Langkah terakhir dari suatu penelitian adalah melakukan analisis data.

Analisa data dilakukan secara bertahap dan dilakukan melalui proses

komputerisasi.

3.7.2.1 Analisis univariat

Analisa univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan

karakteristik setiap variabel penelitian. Pada umumnya dalam analisis ini hanya

menghasilkan distribusi frekuensi dan presentase dari tiap variabel (Notoatmodjo

2010). Untuk menghitung distribusi frekuensi antropometri pada SDN Tukharjo

dan SDN Purwoharjo Tahun Ajaran 2016/ 2017

3.7.2.2 Uji normalitas

Uji normalitas adalah suatu bentuk pengujian tentang kenormalan

distribusi data. Tujuan dari uji ini adalah untuk mengetahui apakah data yang

diambil adalah data yang berdistribusi normal. Selain itu, untuk mengetahui

bahwa sampel yang dijadikan objek penelitian adalah mewakili populasi, sehingga

hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada populasi (Riduwan, 2009).

Uji normalitas ini penting untuk menentukkan jenis statistik yang

digunakan, jika data tersebut berdistribusi normal maka dapat menggunakkan

statistik parametrik. Sedangkan jika data tersebut tidak berdistribusi normal dapat

menggunakkan statistik non-parametrik. Uji normalitas data dilakukan dengan

menggunakan analisis data menggunakan komputerisasi. Dasar pengambilan

keputusan untuk menentukan normalitas data adalah sebagai berikut:

a. Jika probabilitas (Asymp.Sig) < 0,05 maka data tidak terdistribusi normal

b. Jika probabilitas (Asymp.Sig) > 0,05 maka data terdistribusi normal.

52
Jika data yang akan diuji berdistribusi normal untuk melihat perbedaan

antara sebelum dan sesudah ekpserimen, maka pengujian hipotesis dalam

penelitian ini menggunakan uji T-test. Menurut Sugiyono (2014) menjelaskan

bahwa persyaratan yang harus dipenuhi jika menggunakan analisis T-test adalah

data berbentuk interval dan berdistribusi normal dengan melihat nilai z-score

kurtosis atau skewness, kolmogorov smirnov, dan sebagainya.

53
DAFTAR PUSTAKA

Anwar, H., 2005. Pendidikan Jasmani Sekolah Dasar Sebagai Wahana


Kompensasi Gerak Anak. Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia. Universitas
Negeri Yogyakarta

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu pendekatan Praktik. Jakarta:


Rineka Cipta

Arisman, 2009. Buku Ajar Ilmu Gizi: Gizi dalam Daur Kehidupan, Jakarta: EGC.

Badorsono, S. 2015. Penilaian Status Gizi Balita (Antropometri),


<http://staff.ui.ac.id/system/files/users/saptawati.bardosono/material/penilai
anstatusgizibalitaantropometri.pdf>

Brown, J.E., et al,. 2005. Nutrition Through the Life Cycle 2nd edition. United
States of America : Thomson Wadsworth

Catharine, M.S 2016. Aktivitas Fisik pada Anak, diakses dari :


<http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/aktivitas-fisik-pada-
anak>

De Jong, W. dan Sjamsuhidajat, R. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC

DeLany JP, Bray GA, Harsha DW, Volaufova J. 2002. Energy expenditure in
preadolescent African American and white boys and girls: the Baton Rouge
childrens study, <http://ajcn.nutrition.org/content/75/4/705.full>

Deliana, M. 2003. Hipotiroidisme kongenital di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS


Ciptomangunkusumo Jakarta, tahun 1992-2002, Sari Pediatri, Vol. 5, No. 2,
September 2003

Departemen Kesehatan RI. 2015. Indonesia Sehat 2015, Visi Baru, Misi,
Kebijakan dan Strategi Pembangunan Kesehatan. Jakarta. Depkes RI

Depkes RI. 2010. Standar Antropometri Penilaian Gizi Anak. Jakarta : Keputusan
Menteri Kesehatan RI

Ellis, H. 2006. Clinical Anatomy: Applied Anatomy for Student & Junior Doctors.
11th edition. USA : Blackwell Publishing

Guyton AC, Hall JE. 2006. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11.
Penterjemah: Irawati, Ramadani D, Indriyani F. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Hidayat, A.A.A. 2009. Metodologi Kebidanan Teknik Analisa Data. Jakarta :
Salemba Medika.

Hidayat, A. Aziz Alimul, 2011. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1, Jakarta :


Salemba Medika

Hollowell J.G., Staehling N.W., Flanders W.D., Hannon W.H., Gunter E.W.,
Spencer C.A., et al. 2002. Serum TSH, T(4), and thyroid antibodies in the
United States population (1988 to 1994): National Health and Nutrition
Examination Survey (NHANES III). J Clin Endocrinol Metab

Jahari, AB. 2002. Penilaian Status Gizi dengan Anthropometri (Berat Badan dan
Tingggi Badan). Jakarta : Proseding Kongres Peratuan Ahli Gizi Indonesia
XII

Junqueira L.C., J.Carneiro, R.O. Kelley. 2007. Histologi Dasar. Edisi ke-5.
Penerjemah : Tambayang J. Jakarta: EGC

Kementrian Kesehatan RI. 2010. Peraturan Menteri Kesehatan Republik


Indonesia Tentang Penggunaan Kartu Menuju Sehat (KMS) Bagi Balita.
Jakarta : Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat

Kong, T.C. 2003. Promoting Physical Activity at A National Level The Singa
Experience, Combating The Obesity Epidemic : A Shared Responsibility
Second Asia Oceania Conference on obesity, Malaysia

Kurniasih, W. 2010. Hubungan Tingkat Pendidikan Dan Keaktifan Kader Dengan


Kemampuan Kader Posyandu Dalam Pengisian Kartu Menuju Sehat Bawah
Lima Tahun Di Desa Purwojati Kecamatan Purwojati Kabupaten
Banyumas, http://digilib.unimus.ac.id/gdl.php?
mod=browse&op=read&id=jtptunimus-gdl-wiwinkurni-5255

Mexitalia, M. 2011. Hubungan Fungsi Tiroid dengan Energy Expenditure pada


Remaja, Sari Pediatri, Vol. 12, No. 5, Februari 2011, diakses dari :
<https://saripediatri.org/index.php/sari-pediatri/article/download/487/424>

Moehji, S. 2003. Ilmu Gizi Jilid 2 Cet.I. Jakarta: PT. Bharatara Niaga Media

Nanang dkk. 2010. Masa Kanak-Kanak Akhir, diakses dari : http://staff.uny.ac.id/


sites/default/files/pendidikan/Nanang%20Erma%20Gunawan,
%20S.Pd./002.%20Perkmb%20Anak%20Akhir%20PowerPoint%20-
%20Prof%20Partini%20Tim.pdf

Notoatmodjo, S 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.

Oktafiana, R. 2016. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi Anak Usia


Sekolah pada Keluarga Atas dan Bawah (Kasus di Desa Sidoharjo,
Kabupaten Ponorogo), e-journal Boga, Volume 5, No. 3, Edisi Yudisium
Riduwan. 2009. Dasar-Dasar Statistika. Bandung: Alfabeta.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). (2013). Badan Penelitian dan Pengembangan


Kesehatan Kementerian RI tahun 2013, diakses dari
<http://www.depkes.go.id/ resources/download/general/Hasil%20Riskesdas
%202013.pdf>

Roberts CG and Ladenson PW. 2004. Hypothyroidism. Lancet. Mar 6 2004,


<https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15016491>

RSCM & PERSAGI, 2003. Penuntun Diit Anak. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama

Saryono. 2008. Metodologi Penelitian Kesehatan. Yogyakarta : Mitra Cendikia


Offset

Sediaoetama, D.A. 2010. Ilmu Gizi. Jakarta : Dian Rakyat

Sibarani, R.P.2016. Ini Lho Keuntungan Melakukan Aktivitas Fisik Minimal 30


Menit Tiap Hari, diakses dari : <https://health.detik.com/read/2016/11/18/
084554/3348233/766/2/ini-lho-keuntungan-melakukan-aktivitas-fisik-
minimal-30-menit-tiap-hari>

Silva JE. 2006. Thermogenic Mechanisms and their hormonal regulation.


<https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16601266>

Soewondo P & Cahyanur R. 2008. Hipotiroidisme dan gangguan akibat


kekurangan yodium. Dalam : Penatalaksanaan penyakit-penyakit tiroid
bagi dokter. Departemen ilmu penyakit dalam FKUI/RSUPNCM. Jakarta.
Interna publishing

Suandana, IYA. 2013. Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Status Obesitas Pada
Anak Sekolah Dasar, diakses dari :
http://erepo.unud.ac.id/17050/1/1002006057-2-Ali%20Suandana
%20jurnal.pdf

Sugiyono, 2014. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung :


Alfa Beta

Sulistyoningsih, H. 2010. Gizi Untuk Kesehatan Ibu dan Anak. Yogyakarta: Graha
Ilmu

Supariasa, IDN. 2002. Penilaian Status Gizi. EGC. Jakarta.

Suyanto dan Ummi S 2009. Riset Kebidanan Metodologi & Aplikasi. Yogyakarta:
Mitra Cendikia Offset
Syahbuddin S. 2009. Diagnosis dan pengobatan hipotiroidisme. Semarang :
Badan penerbit Universitas Diponegoro. Semarang

Syaodih, SN. 2009. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Rosdakarya

Tanuwijaya, S. 2005. Konsep Umum Tumbuh dan Kembang. Jakarta : Sagung Seto

Vaidya B, Pearce Simon HS. 2008. Management of hypothyroidism in adult


<http://www.bmj.com/content/337/bmj.a801>

Vinka, D. 2017. Langkah Hebat Seiapkan Anak Tumbuh Sehat,


<https://www.sahabatnestle.co.id/content/view/langkah-hebat-siapkan-anak-
tumbuh-sehat.html>

WHO, 2005, Panduan Pengukuran Antropometri


<http://microdata.worldbank.org/index.php/catalog/1049/download/21036>

Wiseman SM, Jones SJ, Johner A, Griffith OL, Walker B, Wood L, et al. 2011.
Detection and management of hypothyroidism following thyroid lobectomy
evaluation of a clinical algorithm. Ann Surg Oncol

Zimmermann MB, Pieter L. Jooste, Mabapa NS, Mbhenyane X, Schoeman S,


Biebinger R, Chaouki N, Bozo M, Grimci L and Bridson J. 2007. Treatment
of Iodine Deficiency in SchoolAge Children Increases Insulin-Like Growth
Factor (IGF)-I and IGF Binding Protein-3 Concentrations and Improves
Somatic Growth. The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism.