Anda di halaman 1dari 220

-1-

FISIKA DASAR I

Kode Mata Kuliah : SPBS 1301


SKS :3
Dosen Pengampu : Drs. Ignatius Suraya
Program Studi : Statistika
Ilmu Komputer
BAB. I
BESARAN DAN SATUAN
VEKTOR
SPBS 1301/3 SKS

FISIKA DASAR I
Oleh :
Drs. Ignatius Suraya
-3-

DAFTAR ISI

Materi Halaman

I.1. Pengantar 4
I.2. Kompetensi 4
I.3. Kegiatan Belajar 4
I.3.1. Kegiatan Belajar 1 : Besaran dan Satuan 4
I.3.1.1. Uraian dan Contoh 4
1.3.1.1.1 Pendahuluan 4
1.3.1.1.2 Besaran dan Satuan 5
I.3.1.2. Rangkuman 8
I.3.1.3. Test Formatif 1 8
I.3.2. Kegiatan Belajar 2 : Vektor 9
I.3.2.1. Uraian dan Contoh 9
I.3.2.1.1 Pendahuluan 9
I.3.2.1.2a Penjumlahan Vektor 10
I.3.2.1.2b Pengurangan Vektor 11
I.3.2.1.2c Penjumlahan Bebrapa Vektor 13
I.3.2.1.2d Perkalian Antara dua Vektor 14
I.3.2.1.2e Komponen Vektor 14
I.3.2.1.2f Perkalian Antara Vektor Satuan 15
I.3.2.2. Rangkuman 17
I.3.2.3. Test Formatif 2 17
I.4. Kunci Jawaban Tes Formatif 17
I.5. Referensi 18
I.1. Pengantar
Fisika merupakan salah satu ilmu yang besar dari ilmu pengetahuan,
karena ilmuwan dari segala disiplin ilmu memanfaatkan ide-ide dari fisika, mulai
dari ahli kimia yang mempelajari struktur molekul sampai ahli paleontologi yang
berusaha merekonstruksi bagaimana dinosaurus berjalan. Fisika juga merupakan
dari semua ilmu rekayasa dan teknologi.
Fisika adalah ilmu eksperiman, Fisikawan mengamati fenomena alam dan
berusaha menemukan pola dan prinsip yang menghubungkan fenomena-fenomena
ini yang kemudian pola ini disebut teori fisika, dan jika pola tersebut telah diuji
kebenarannya dan digunakan secara luas maka disebut Hukum atau prinsip fisika.
Fisika adalah proses yang membawa kita pada prinsip-prinsip umum yang
mendiskripsikan bagaimana perilaku dunia fisik.

I.2. Kompetensi
Setelah mempelajaran bab, ini anda diharapkan dapat memahami dan
mampu menjelaskan arti besaran dan satuan, besaran skalar dan vektor, dapat
menggambarkan persoalan fisis dalam bentuk vektor serta operasi vektor.

I.3. Kegiatan Belajar


I.3.1. Kegiatan Belajar 1 : BESARAN DAN SATUAN
I.3.1.1. Uraian dan Contoh
I.3.1.1.1. Pendahuluan
Ilmu Alam (Fisika) adalah ilmu yang melukiskan peristiwa alam. Jadi ilmu
fisika adalah ilmu yang mempelajari komponen-komponen materi dan interaksi
antara komponen-komponen tersebut.
Untuk pengamatan terhadap suatu peristiwa harus menghasilkan informasi yang
kualitatif, maka diperlukan adanya pengukuran.
-5-

Melukiskan peristiwa ada 2 cara :


a. Secara kwalitatif ialah memberi jawaban atas pertanyaan bagaimana
keadaan penyelesaian itu.

air air air


dingin hangat panas
Bila tangan kita dicelupkan pada air dingin kemudian dicelupkan ke air
hangat seakan-akan air hangat tersebut terasa panas dan sebaliknya dari
air panas ke air hangat terasa dingin.
Jadi melukiskan secara ini tidak tepat.
b. Secara kwantitatif ialah memberi jawaban atas pertanyaan berapa besar
besaran peristiwa tersebut Dengan pengukuran misalnya memasang
termometer kedalam air tersebut dari air dingin pindah ke air hangat dan ke
air panas maka masing-masing akan dapat dilihat hasil penunjukan
termometer ternyata ada perubahan yang jelas. Jadi melukiskan secara ini
lebih tepat.

I.3.1.1.2. Besaran dan Satuan


Besaran ialah suatu pengertian yang padanya dapat dikenakan ukuran.
Contoh : gaya, massa, panjang, waktu, kecpatan, panjang gelombang dan
sebagainya.
Satuan ialah ukuran pembanding yang telah diperjanjikan terlebih dahulu.
Contoh : kg, meter, detik, ampere, volt. Joule dan sebagainya.
Besaran dikelompokan ada 3 macam :
a. Besaran dasar/pokok ialah merupakan besaran dasar dari besaran-besaran lain
yang jumlahnya ada tujuh dan satuan dari besaran dasar di sebut satuan
dasar.
Lambang Lambang
No Besaran dasar Satuan dasar
besaran dasar satuan dasar
1 Panjang l meter m
2 Massa m kilogram kg
3 Waktu t detik/secon s
4 Arus listrik i ampere A
5 Suhu T Kelvin K
6 Intensitas cahaya I candela cd
7 Jumlah zat n mole mol

b. Besaran tambahan/pelengkap adalah besaran yang hanya merupakan


pelengkap. Jumlahnya ada dua.
Lambang Lambang
No Besaran dasar Satuan dasar
besaran dasar satuan dasar
1 Sudut datar radian rad
2 Sudut ruang steradian ste

c. Besaran turunan ialah semua besaran yang terdiri dari besaran dasar dan
besaran tambanhan atau besaran yang tidak termasuk pada besaran dasar dan
besaran tambahan. Jumlahnya ada banyak.
Lambang Lambang
No Besaran dasar Satuan dasar
besaran dasar satuan dasar
1 Gaya F newton N
2 Usaha dan tenaga E; U joule J
3 dsb

Catatan :
Jika satuan berasal dari nama orang, penulisannya jika ditulis lengkap harus
dengan huruf kecil semua dan jika disingkat ditulis dengan huruf besar.
Beberapa aturan dan konversi SI.
-7-

No Faktor awalan lambang


1 1012 tera T
2 109 giga G
3 106 mega M
4 103 kilo k
5 10-3 milli m
6 10-6 mikro
7 10-9 nano n
8 10-12 piko p
9 10-15 finto f
10 10-18 atto a

Satuan diatas merupakan Satuan Internasional (SI) dalam sistem mks (meter
kilogram secon), sistem mks ini dapat dirubah menjadi sistem cgs (centimeter
gram secon). Misalkan :
No Besaran Satuan mks Satuan cgs
-2
1 Panjang m 1m = 10 cm
2 massa kg 1 kg = 10-3 gr
1N = kg m/s2 = 10-3 gr 10-2 cm/s2
3 Gaya N
= 10-5 gr cm/s2 = 10-5 dyne
1J = kg m2/s2 = (10-3 gr)(10-4 cm2)/s2
4 Energi J
= 10-7 gr cm2/s2 = 10-7 erg

selain satuan internasional juga banyak satuan-satuan lain yang bisa dipakai oleh
negara-negara tertentu. Misalkan : Kwh (kilo watt jam), PK (daya kuda), Pon,
inci, kaki dan sebagainya.
I.3.1.2. Rangkuman
Besaran dikelompokan ada 3 macam :
a. Besaran Dasar/pokok ada 7 (tujuh)
b. Besaran tambahan/pelengkap ada 2 (dua)
c. Besaran turunan ada banyak
Besaran hanya dapat ditambah/dikurangi dengan besaran yang sama
misal : Energi + gaya (tidak mungkin)
Energi + energi

I.3.1.3. Tes Formatif 1


Konversikan satuan-satuan dibawah ini :
a. 1 km/jam = m/s
b. 1 in3 = cm3
c. 1 pound = newton
-9-

I.3.2. Kegiatan Belajar 2 : VEKTOR


I.3.2.1. Uraian dan Contoh
I.3.2.1.1. Pendahuluan
Vektor adalah besaran yang mempunyai besar dan mempunyai arah,
sedangkan besaran yang hanya mempunyai besar dan tidak mempunyai arah
disebut besaran skalar.
Contoh besaran skalar : massa, waktu, volume, bilangan (1, 2, 3 dsb;
eksponensial; phi) dll.
Besaran yang mempunyai besar dan mempunyai arah disebut besaran vektor.
Contoh : kecepatan, gaya, momentum, arus listrik dan sebagainya.
Pada besaran vektor ada beberapa hal yang perlu dijelaskan :
a. Penulisan besaran vektor dengan memberi tanda anak panah diatas lambang
besaran atau dengan huruf cetak tebal pada lambang besaran tersebut
b. Digambar dengan anak panah dimana panjang anak panah menunjukan
panjang vektor dan arah anak panah menunjukan arah vektor.
c. Vektor dapat dipindah letaknya (digeser) asal tidak merubah besar dan
arahnya.
d. Dua atau banyak vektor dikatakan sama apabila besar dan arahnya sama.
e. Vektor satuan adalah vektor yang harganya jika diharga mutlakan sama
dengan satu dan arahnya sesuai dengan arah vektornya.
I.4.2.1.2.a. Penjumlahan vektor
Definisi : Jumlah dua vektor a dan b (ditulis a + b ) adalah sebuah vektor
yang diperoleh jika pangkal vektor b dihubungkan dengan ujung vektor a dan
ditarik dari pangkal verktor a ke ujung vektor b .
c = a+b
b

c b b sin

a
a b cos

Lihat pada gambar segitiga siku-siku, dengan persamaan phytagoras didapat


persamaan :

(c)2 = (a + b cos )2 + (b sin )2

c 2 = a 2 + b 2 cos 2 + 2ab cos + b 2 sin 2

c2 = a 2 + b 2 (sin 2 + cos2 ) + 2ab cos

c 2 = a 2 + b 2 + 2ab cos

c= a 2 + b 2 + 2 ab cos
..........I.1

dapat juga dibuktikan bahwa a+b =b +a (komutatif) ..........I.2

untuk mencari arah vektor dapat dengan persamaan :

a b c
= = ..........I.3
sin sin sin
- 11 -

I.4.2.1.2.b. Pengurangan vektor


Pengurangan vektor (ditulis a - b ) sama dengan penjumlahan vektor hanya
ditambahkan negatifnya.
d = a-b
a
b
d -b

d = a 2 + b 2 - 2 ab cos ..........I.4

untuk mencari arah vektor dapat dengan persamaan :

a b c
= = ..........I.5
sin sin sin

Dapat dibuktikan bahwa :

a b = (b a ) disebut anti komutatif

Contoh :
Vektor a panjangnya 6 satuan panjang dan arahnya membentuk sudut

36 o dengan sumbu x positif dan vektor b panjangnya 7 satuan panjang searah


dengan sumbi x negatif. Ditanyakan :
a. Carilah besar dan arah c = a + b
b. Carilah besar dan arah d = a - b
Jawab :
b -b

c a d
, 36 o

a. c = a 2 + b 2 + 2ab cos = 36 + 49 + 2(6)(-7) cos 36o = 4,128

b c b
= sin = sin 36o
sin sin 36o c
7
sin = sin 36o = 0,996
4,128

Jadi arah vektor c = 85o + 36 o = 121o dari sumbu x positif

b. d = a 2 + b 2 - 2ab cos = 36 + 49 - 2(6)(-7) cos 36o = 12,31

d b b
= , sin , = sin 144o
sin 144 sin d
7
sin , = sin144o = 0,336 ,
= 18,5o
12,31

Jadi arah vektor d = 36o - 19,5o = 16,5o dari sumbu x positif


- 13 -

I.4.2.1.2.c. Pejumlahan beberapa vektor


r = a +b+c+d
a
r
b

d
c

Z
R = X i + Yj + Zk

R = (X i )2 + (Yj) 2 + ( Zk )2

k R i = vektor satuan kearah sumbu X



i j Y j = vektor satuan kearah sumbu Y

k = vektor satuan kearah sumbu Z

X
Untuk mencari arah yaitu dengan persamaan :

cos2 + cos2 + cos2 = 1 ..........I.6

X Y Z
cos = , cos = , cos = ..........I.7
R R R
Contoh :
Vektor B = 2i + 4 j + 5k

Maka besar vektor B = (2i )2 + (4 j)2 + (5k ) 2 = 4 + 16 + 25 = 45 = 6,708

X 2
cos = = = 0,298 = ..
R 8,708
Y 4
cos = = = 0,586 = ..
R 8,708
Z 5
cos = = = 0,745 =..
R 8,708
I.4.2.1.2.d. Perkalian antara dua vektor
a. Perkalian titik (dot)
a.b = ab cos ..........I.18
b.a = ba cos ..........I.19
a.b = b.a Komutatif ..........I.20

a = a dan b = b

= sudut antara a dan b

b. Perkalian silang (croos)


axb = ab sin u ..........I.21
axb = ab sin u = sudut antara a dan b
u = vektor satuan yang arhnya
mengikuti arah majunya skrup jika
diputar dari a dan b
u a dan u b
axb = -bxa (anti komutatif) ..........I.22

bxa = ba sin (-u )

I.4.2.1.2.e. Komponen Vektor


Setiap vektor dapat diuraikan menjadi komponen-komponen vektor kearah
sumbu-sumbu koordinat (ke sumbu x, sumbu y dan sumbu z).
a = a x i + a yj + a z k ..........I.23

a x = komponen vektor a ke sumbu x


a y = komponen vektor a ke sumbu y

a z = komponen vektor a ke sumbu z

i = vektor satuan kearah sumbu X


j = vektor satuan kearah sumbu Y

k = vektor satuan kearah sumbu Z


- 15 -

I.4.2.1.2.f. Perkalian antar vektor satuan :


a. Perkalian titik

i.i = i i cos = 1.1. cos 0o = 1

j. j = j j cos = 1.1. cos 0o = 1

k.k = k k cos = 1.1. cos 0o = 1

Maka : i.i = j.j = k.k = 1 ..........I.24

i. j = i j cos = 1.1. cos 90o = 0

j.k = j k cos = 1.1. cos 90o = 0

k.i = k i cos = 1.1. cos 90o = 0

Maka : i. j = j.k = k.i = i.k = k. j = j.i = 0 ..........I.25

b. Perkalian silang

ixi = i i sin = 1.1.sin 0o = 0

jxj = j j sin = 1.1.sin 0o = 0

kxk = k k sin = 1.1.sin 0o = 0

Maka : ixi = jxj = kxk = 0 ..........I.26

ixj = i j sin k = 1.1.sin 90o k = k

jxk = j k sin i = 1.1.sin 90o i = i

kxi = k i sin j = 1.1.sin 90o j = j

jxi = j i sin (-k) = 1.1.sin 90o (-k ) = (-k)

kxj = k j sin (-i ) = 1.1.sin 90o (-i ) = (-i )

ixk = i k sin (- j) = 1.1.sin 90o (- j) = (-j) . ..........I.27


Contoh :
Diketahui dua buah vektor a = 2 i + 3j - 5k dan b = 4i - 5 j + 7 k
Hitunglah :
1. a + b 3. a b 5. a.b 7. axb 9. a = a

2. b + a 4. b a 6. b.a 8. bxa 10. b = b

11. sudut antara vektor a dan b

Jawab :
1. a = 2 i + 3 j 5 k 3. a = 2i + 3 j 5k

b = 4i - 5 j + 7 k + b = 4i - 5 j + 7 k -

a + b = 8i - 2 j + 2k a b = 2i + 8 j 12 k

2. b = 4i - 5 j + 7 k 4. b = 4i - 5 j + 7 k

a = 2i + 3 j 5k + a = 2i + 3 j 5k -

b + a = 8i - 2j + 2k b a = 2i - 8 j + 12k

5. a.b = ( 2i + 3 j - 5k ).(4i - 5 j + 7 k )

= 8(i.i) 10(i. j) +14(i.k) +12( j.i)-15( j. j) + 21( j.k)-20(k.i) + 25(k. j)-35(k.k)


= 8 - 0 + 0 + 0 15 + 0 0 + 0 - 35 = - 42

6. b.a = a.b = -42 (komutatif)

7. axb = ( 2i + 3 j - 5k ) x ( 4 i - 5 j + 7 k )

= 8(ixi) -10(ixj) +14(ixk) +12(jxi) -15(jxj) + 21(jxk) - 20(kxi) + 25(kxj) - 35(kxk)

= 0 -10(k) +14(- j) +12(-k) - 0 + 21(i) - 20( j) + 25(-i) 0 = - 4 i - 34 j - 22 k

atau dapat dihitung dengan determinan :


- 17 -

i j k i j
axb = 2 3 5 2 3 = 21i - 20j -10k -14j - 25i -12k
4 5 7 4 5

= - 4 i - 34j - 22 k

8. bxa = 4 i + 34 j + 22 k (anti komutatif)

9. a = a = (2i )2 + (3 j)2 + (-5k )2 = 4 + 9 + 25 = 6,16

10. b = b = (4i ) 2 + (-5j) 2 + (7 k ) 2 = 16 + 25 + 49 = 9,49

11. Dari soal nomor 5 a.b = -42


-42
a.b = ab cos cos = = 0,719
(6,16)(9, 48)

maka = 135,97o

I.4.2.2. Rangkuman
Vektor merupakan besaran yang mempunyai besar dan arah sedang skalar
merupakan besaran yang hanya mempunyai bersar tidak mempunyai arah.

I.4.2.3. Tes Formatif 2


Seorang berlari lurus menempuh jarak 72,4 m yang arahnya 58o dari arah
timur, belok kekiri dengan sudut 36o dari barat setelah menempuh jarak 57,3 m
belok ke kiri lagi ke arah selatan dan setelah menempuh jarak 17,8 dia berhenti.
Hitung secara vektor jarak dari titik awal sampai dia berhenti dan juga arahnya.

I.4. Kunci Jawabab Tes Formatif


Tes Formatif 1
a. 1 km/jam = 103m/3600 s = 2,777 m/s
b. 1 in = 2,54 cm
1 in3 = 16,38706 cm3
c. 1 pond = 4,448 N
Tes Formatif 2
Rx = -7,99 m
Ry = 9,92 m
R = 12,7 m
= 1290 (ke arah barat utara)

I.5. Referensi
1. Alonsa, M; Finn, EJ.Physics, 1970, Addison-Wiesly Company Inc.
2. Beiser, A. The Maintsream of Physics, 1962, addisopn-Wiesly Publishing
Company Inc.
3. Berkelay Physics Course, Vol. 1, 2 and 3, 1965 Mc Graw-hill book
campany.
4. Tilley, DE, University Physics for Science and Enginering, 1976,
Cumming Publishing Company Inc.
- 19 -

BAB. II
KINEMATIKA PARTIKEL
SPBS 1301/3 SKS

FISIKA DASAR I
Oleh :
Drs. Ignatius Suraya
DAFTAR ISI

Materi Halaman

II.1. Pengantar 22
II.2. Kompetensi 22
II.3. Kegiatan Belajar 22
II.3.1. Kegiatan Belajar 1 : Kecepatan dan Percepatan 22
II.3.1.1. Uraian dan Contoh 22
1I.3.1.1.1 Pendahuluan 22
1I.3.1.1.2 Kecepatan dan Percepatan 23
II.3.1.2. Rangkuman 25
II.3.1.3. Test Formatif 1 25
II.3.2. Kegiatan Belajar 2 : Gerak Lurus 26
II.3.2.1. Uraian dan Contoh 26
II.3.2.1.1 Pendahuluan 26
II.3.2.1.2a Penjumlahan Gerak Lurus Beraturan 26
II.3.2.1.2b Pengurangan Gerak Lurus Dengan Percepatan Konstan 27
II.3.2.1.2c Gerak Lurus dengan Percepatan tidak konstan 29
II.3.2.2. Rangkuman 33
II.3.2.3. Test Formatif 2 33
II.3.3. Kegiatan Belajar 3 : Gerak Dalam Bidang datar 33
II.3.3.1. Uraian dan Contoh 33
II.3.3.1.1 Pendahuluan 33
II.3.3.1.2a Gerak Lengkung Datar 34
II.3.3.1.2b Geral Melingkar Beraturan 36
II.3.3.1.2c Gerak Melingkar Dengan Percepatan 37
II.3.3.2. Rangkuman 40
II.3.3.3. Test Formatif 3 40
II.3.4. Kegiatan Belajar 4 : Gerak Relatif 41
- 21 -

II.3.4.1. Uraian dan Contoh 41


II.3.4.1.1 Pendahuluan 41
II.3.4.1.2a Gerak Nisbi 41
II.3.4.1.2b Geral Translasi 43
II.3.4.1.2c Gerak Rotasi 44
II.3.4.1.2d Transformasi Lorenz 46
II.3.4.2. Rangkuman 49
II.3.4.3. Test Formatif 4 49
II.4 Kunci Jawaban Tes Formatif 49
II.5 Referensi 50
II.1. Pengantar
Dalam mempelajari gerak dari suatu benda akan timbul beberapa
pertanyaan, misalkan benda bergerak pasti ada penyebabnya dan bagaimana
hubungan dengan penyebabnya. Kinematika merupakan cabang dari mekanika
yang mempelajari gerakkan suatu benda dengan konsep ruang dan waktu tetapi
tanpa memperhatikan penyebab dari gerak tersebut. Selama benda bergerak
tersebut selain translasi dapat juga berotasi, untuk menghindari kerumitan
tersebut dianggap benda yang dibahas adalah benda ideal yang dapat diperlakukan
sebagai sebuah partikel.

II.2. Kompetensi
Setelah mempelajaran bab ini, anda diharapkan dapat memahami dan
mampu menjelaskan serta menghitung perpindahan, kecepatan, percepatan pada
gerak lurus, gerak dalam bidang datar serta gerak lurus apabila kerangka
acuannya bergerak.

II.3. Kegiatan Belajar


II.3.1. Kegiatan Belajar 1 : Kecepatan dan Percepatan
II.3.1.1.Uraian dan Contoh
II.3.1.1.1 Pendahuluan
Gerak dari suatu benda merupakan perpindahan benda dari satu tempat
ketempat lain dan selama gerakkan tersebut benda akan mengalami kecepatan
bahkan juga mengalami percepatan. Maka untuk mengetahui besar dari kecepatan
maupun percepatan perlu diadakan percobaan dan perhitungan.
- 23 -

1I.3.1.1.2 Kecepatan dan Percepatan


a. Kecepatan ( v )
Misalkan : pada saat (waktu) t1 sebuah partikel berada di titik A pada
posisi r1 dan pada saat t2 berada di titik B pada posisi r2 .

Vektor perpindahan r = r2 - r1 waktu yang


dipergunakan paertikel untuk
r1
r = r2 r1 berpindah t = t 2 - t1 ,,,
r2 . Maka kecepatan rata-rata didefinisikan :
r r -r
X v= = 2 1 ..........II.1
t t 2 - t1

kelihatan pada persamaan di atas bahwa kecepatan tidak tergantung dengan


lintasan tetapi tergantung dari posisi awal dan posisi akhir. Sekarang jika yang
diketahui dari titik A sampai titik B jaraknya r dan waktu yang di perlukan
adalah t , maka dapat digunakan kecepatan sesaat yang didefinisikan sebagai
berikut :
r
v = lim ..........II.2
t 0 t

secara matematis ditulis :

d r
v = ..........II.3
dt

2. Percepatan ( a )
Jika kecepatan partikel tersebut tetap (konstan) berarti gerak partikel
tersebut tidak ada percepatan dan jika geraknya dengan kecepatan yang berubah-
ubah baik besarnya atau arahnya atau keduanya berati gerak partikel dengan
percepatan.
Misalkan pada saat t1 sebuah partikel bergerak dengan kecepatan v1 dan pada saat
t2 bergerak dengan kecepatan v2 , maka percepatan rata-rata adalah :
v v 2 - v1
a= = ..........II.4
t t 2 - t1
dan pecepatan sesaat :
v dv
a = lim = ..........II.5
x 0 t dt

dv d2r
a = = ..........II.6
dt dt 2

Jadi percepatan merupakan turunan pertama dari kecepatan terhadap waktu dan
merupakan turunan ke dua dari posisi terhadap waktu.
Satuan dari percepatan dalam mks adalah m/s2 atau dalam cgs adalah cm/s2.
Karena baik percepatan, kecepatan dan posisi adalah besaran vektor maka dapat
dinyatakan dengan :
dv dv y dv
a = a x i + a yj + a z k = x i + j + z k
dt dt dt
dx dx y dx
v = v x i + v yj + v z k = x i + j + z k
dt dt dt

r = x i + yj + zk

Contoh :
Sebuah partikel bergeral ke arah sumbu x positif memenuhi persamaan :

x = 4t 2 - 2t m
Hitunglah :
a. Posisi pada saat t 1 = 2 s dan pada saat t 2 = 4 s.
b. Kecepatan rata-rata dan sesaat, pada saat t 1 = 2 s dan pada saat t 2 = 4 s
c. Percepatan rata-rata dan sesaat, pada saat t1 = 2 s dan pada saat t 2 = 4 s.
Jawab :

a. Pada saat. t 1 = 2 detik, x1 = 4(2)2 - 2(2) = 28m

Pada saat t 2 = 4 detik, x 2 = 4(4)2 - 2(4) = 248m


- 25 -

x x 2 - x1 ( 248 - 28)m
b. Kecepatan rata-rata : v = = = = 110m / s
t t 2 - t1 ( 4 - 2)s
dx
Kecepatan sesaat : v= = 12 t 2 - 2
dt

Pada saat. t1 = 2 detik, v = 12(2) 2 - 2 = 46m / s

Pada saat t 2 = 4 detik., v = 12(4) 2 - 2 = 190m / s


v -v (190 - 46)
c. Percepatan rataa-rata: a = 2 1 = = 72m / s
t 2 - t1 ( 4 - 2)
dv
Percepatan sesaat : a= = 24 t
dt
Pada saat. t 1 = 2 detik, a1 = 24(2) = 48m / s
Pada saat t 2 = 4 detik., a = 24( 4) = 96m / s

II.3.1.2. Rangkuman
Percepatan merupakan turunan pertama dari kecepatan terhadap waktu dan
merupakan turunan ke dua dari posisi terhadap waktu.
Satuan dari percepatan dalam mks adalah m/s2 atau dalam cgs adalah cm/s2.
Percepatan, kecepatan dan posisi adalah merupakan besaran vektor.

II.3.1.3. Test Formatif 1


Sebuah partikel bergerak disepanjang sumbu x positif yang dapat dinyatakan
dengan persamaan x = at2 + b dimana a = 4; b = 20; x dalam cm dan t dalam
detik.
a. Selidiki besaran apakah a dan b
b. Tentukan jarak yang ditempuh dalam selang waktu antara t1 = 2 detik dan
t2 = 5 detik
c. Tentukan kecepatan rata-rata selama selang waktu tersebut
II.3.2. Kegiatan Belajar 2 : Gerak Lurus
II.3.2.1. Uraian dan Contoh
II.3.2.1.1 Pendahuluan
Gerak lurus artinya gerak suatu partikel yang lintasannya berbentuk garis
lurus. Gerak lurus dibedakan dalam 3 macam yaitu :
1. Gerak lurus beraturan
2. Gerak lurus dengan percepatan konstan
3. Gerak lurus dengan percepatan tidak konstan
Karena geraknya lurus dan satu arah maka dalam perhitungan tidak memakai
vektor satuan
Jadi persamaan kecepatan dan persamaan percepatan dapat ditulis :
dx
v= ..........II.7
dt
dv
a= ..........II.8
dt

II.3.2.1.2a Penjumlahan Gerak Lurus Beraturan


Gerak lurus beraturan adalah gerakan suatu partikel yang lintasannya
merupakan garis lurus dan kecepatannya konstan (tanpa percepatan) v = konstan
dan a = 0
dx
v= dx = vdt
dt
x = vt + c
c = adalah konstanta integrasi dapat dicari dari syarat awal / batas, misalkan pada
saat t = 0; x = x o sehingga :

xo= 0 + c jadi c = x o
jadi persamaan menjadi :

x = x o + vt atau x - x o = vt ..........II.9

x - x o disebut perpindahan jarak yang ditempuh partikel.


- 27 -

II.3.2.1.2b Pengurangan Gerak Lurus Dengan Percepatan Konstan


Gerak lurus dengan percepatan konstan adalah gerakan suatu partikel yang
lintasannya merupakan garis lurus dan percepatannya konstan. (v = tidak konstan
dan a = konstan).
dv
a= dv = adt
dt
v = at + c1 , c1 adalah konstanta integrasi dapat dicari dari syarat awal/batas,
misalkan : pada saat t = 0; v = v o sehingga :

vo = 0 + c1 jadi c1 = vo
Jadi persamaan menjadi :
v = v o + at atau v - vo = at ..........II.10
untuk mencari jarak yang ditempuh :
dx
v= dx = vdt = (vo + at )dt
dt

x = v o t + 12 at 2 + c 2

x = v o t + 12 at 2 + c 2

c 2 adalah konstanta integrasi dapat dicari dari syarat awal/batas, misalkan pada
saat t = 0; x = xo
xo = 0 + 0 + c2 c2 = vo
jadi persamaan menjadi :

x = x o + vo t + 12 at 2 ..........II.11

dari persamaan II.10 diperoleh persamaan


v - vo
t= dimasukan ke persamaan II.11
a

v - v o 1 v - v 2o
x = x o + vo + 2a
a a

vvo - vo2 v 2 - 2 vvo + vo2


x - xo = +
a a
sehingga diperoleh persamaan

v 2 = vo2 + 2a ( x - x o ) ..........II.12
Contoh :
Sebuah partikel bergerak di sepanjang sumbu x positif dengan kecepatan 50 m/s,
dan setelah bergerak dalam waktu 4 detik kecepatannya menjadi 30 m/s.
Hitunglah :
a. besar dan arah percepatannya.
b. jarak yang ditempuh selama waktu tersebut.
c. Jarak total dan waktu yang diperlukan sampai partikel berhenti.
Jawab :
v - v o 30m / s - 50m / s
a. a= = = 5m / s 2
t 4s
tanda negatif berarti arah percepatan ke sumbu x negatif yang biasa disebut
sebagai perlambatan

b. x = x o + v o t + 12 at 2

x = 0 + (50m / s)(4s) + 12 (-5m / s2 )(4s)2 = 200m - 40m = 160m

c. dari vo = 50m / s sampai v = 0, waktu yang diperlukan adalah :


v - v o 0 - 50 m / s
t= = = 10 s jadi jarak yang ditempuh adalah :
a 5m / s 2
x-xo = vot + at2 = (50 m/s)(10 s) + (-5 m/s2)(10 s) = (500-250)m
= 250 m
- 29 -

Gerak Lurus Keatas


Gerak lurus keatas adalah gerak suatu partikel yang lintasannya
merupakan garis lurus keatas dan percepatannya konstan yairu percepatan
gravitasi bumi (g).
Persamaan yang berlaku dama dengan persamaan gerak lurus mendatar dengan
percepatan konstan hanya x diganti y dan a diganti dengang karena arah g selalu
kebawah.
v = v o - gt ..........II.13

y = y o + vo t - 12 gt 2 ..........II.14

v 2 = vo2 - 2g( y - yo ) ..........II.15

Contoh :
Sebuah peluru ditembakan lurus keatas dengan kecepatan 100 m/s dari atas

sebuah dinding setinggi 50 m dari tanah ( g = 10m / s 2 ) Hitunglah :


a. tinggi maksimum yang dicapai peluru jika diukur dari tanan.
b. Waktu ang diperlukan untuk mencapai tinggi masimum tersebut.
c. Posisi peluru pada saat 15 detik pertama.
d. Waktu yang diperlukan peluru dari ditembakan sampai ke tanah.
e. Kecepatan peluru pada saat menumbuk tananh.
Jawab :
vo = 100m / s dan yo = 50m
a. ambil dari A-B-C

v 2 = v o2 - 2 g ( y - y o )

v2B = v2A - 2g(yB-yA )

0 = (100 m / s ) 2 - 2(10 m / s 2 )( y B - 50 m )
10 .000 + 1 .000
yB = = 550 m
20
y B = tinggi maksimum jika diukur dari tanah
b. ambil dari A B
v - v 100 m / s 0
v = vo - gt t= o = = 10s
g 10 m / s 2
c. posisi peluru pada saat 15 detik pertama :
v = vo gt = 10 m/s (10 m/s-2)(15 s) = - 50 m/s
arahnya sudah turun ke bawah.

v 2 = v o2 - 2 g ( y y o )

(-50m / s) 2 = (100m / s) 2 - 2(10m / s 2 )( y - 50m )


y = 425 m dari tanah

d. ambil posisi di C sehingga x C = 0

y C - y A = vAt - 12 gt 2

2
0 - 50 m = (100 m / s ) t - 12 (10 m / s 2 ) t 2 maka t - 20 t - 10 = 0 dengan

persamaan abc

b b 2 - 4 ac 20 400 + 40 20 20 ,98
t1; 2 = = =
2a 2 2

t1 = 20 ,49 s dan t 2 = -0,49s (tidak dipakai)

jadi waktu yang diperlukan sampai ketanah adalah = 20,49 s

e. kecepatan peluru pada saat menumbuk tanah

vC = v A -gt = 100 m / s - (10 m / s 2 )(20,49s) = -104,9m / s


tanda negatif karena arah kebawah.
- 31 -

II.3.2.1.2c Gerak Lurus dengan Percepatan tidak konstan


Gerak lurus dengan percepatan tidak konstan adalah gerakan suatu partikel
yang lintasannya merupakan garis lurus dan percepatannya tidak konstan yang
berubah sebagai fungsi waktu a = f(t) atau sebagai fungsi posisi a = f(x)
a. Gerak Lurus Dengan Percepatan Sebagai Fungsi Waktu a = f(t)
Contoh :
Sebuah partikel bergerak ke sumbu x positif dengan percepatan :

a = (10 + 4t )m / s 2 . Pada keadaan awal partikel berada pada x = 15 m dengan


kecepatan 5m/s. Hitunglah :
a. kecepatan dan posisi partikel pada saat t = 5 detik.
b. Waktu pada saat kecepatan partikel = 155 m/s

c. Kecepatan pada saat percepatannya = 30 m / s 2


Jawab :
dv
a. Percepatan a = dv = adt = (10 + 4t )dt
dt

v = 10t + 2t 2 + c1 dengan syarat awal pada saat t = 0, vo = 5m / s

didapat c1 = 5

v = 2t 2 + 10t + 5 = 2(5) 2 + 10(5) + 5 = 105m / s

posisi dx = vdt = (2t 2 + 10t + 5)dt

x = 23 t 3 + 5t 2 + 5t + c 2 dengan syarat awal pada saat t = 0, x o = 15m didapat

c 2 = 15
jadi posisi pada saat t = 5 detik adalah :

x = 23 t 3 + 5t 2 + 5t + 15 = 23 (5)3 + 5(5) 2 + 5(5) + 15 = 248,33m

b. waktu pada saat kecepatan partikel = 155 m/s

v = 2 t 2 + 10 t + 5

150 = 2 t 2 + 10 t + 5
t 2 + 5 t - 75 = 0 dengan persamaan abc diperoleh harga t1 = 65,515s dan

t 2 = 21,515s tidak dipakai

c. percepatan = 30 m / s 2
=10 + 4t
4t = 20 jadi t = 5 detik

Kecepatan pada saat percepatannya = 30 m / s 2

v = 2 t 2 + 10 t + 5 = 105 m / s

b. Gerak Lurus Dengan Percepatan Sebagai Fungsi Posisi a = f(x)


Contoh :
Sebuah partikel bergerak dengan percpatan yang merupakan fungsi posisi

dengan persamaan a = 6 x + 4m / s 2 . Pada saat dititik x = 0, kecepatannya 4 m/s.


Hitunglah kecepatan pada saat di x = 10 m.

Jawab :
Karena percepatan sebagai fungsi x, supaya muncul faktor x, persamaan a
dx
dikalikan dengan
dx
dv dv dx dv dx dv
a= = . = . = v
dt dt dx dx dt dx
v dv = a dx

vdv = (6 x + 4)dx

1 2
2
v = 3x 2 + 4x + c pada saat di x = 0; kecepatan : v = vo = 4m / s

1
2
(4) 2 = c c=8

1 2
2
v = 3x 2 + 4x + 8

v 2 = 6 x 2 + 8 x + 16 v = 6(10)2 + 4(10) + 8 = 25,45m / s


- 33 -

II.3.2.2. Rangkuman
Suatu partikel yang mengalami gerak lurus akam mengalami beberapa
kemungkinan, partikel tersebut akan bergerak dengan kecepatan yang konstan,
dipercepat dengan percepatan konstan atau percepatan berubah sebagai fungsi
posisi a = f(x) atau sebagai fungsi waktu a = f(t)

II.3.2.3. Test Formatif 2


Pada saat lampu lalu-lintas diperempatan jalan menunjuk warna merah,
sebuah Sedan berhenti. Pada saat lampu menunjuk warna hijau Sedan tersebut
mulai bergerak dengan percepatan konstan = 5 m/s2 dan pada saat yang sama
sebuah Bis melaju dengan kecepatan konstan 50 m/s, 8 detik kemudian sebuah
Mobil Ambulance lewat dengan kecepatan 60 m/s kemudian dipercepat 8 m/s2.
Hitunglah :
1. Jarak yang diperlukan Sedan sampai mendahului/sejajar Bis jika diukur
dari lampu tersebut
2. Jarak yang ditempuh Ambulance sampai mendahului/sejajar sedan jika
diukur dari lampu tersebut

II.3.3. Kegiatan Belajar 3 : Gerak Dalam Bidang datar (2 dimensi)


II.3.3.1. Uraian dan Contoh
II.3.3.1.1 Pendahuluan
Gerak lengkung datar merupakan gerak dalam 2 dimensi juga biasa
disebut gerak peluru yaitu gerak suatu partikel yang lintasannya merupakan garis
lengkung dalam satu bidang datar yang tegak lurus dengan bumi. Arah gerak
partikel kearah horizontal dan vertikal, dimana kearah vertikal (ke atas) berlaku
percepatan konstan yaitu percepatan gravitasi g dan arah horizontal (mendatar
berlaku percepatan a x = 0).
II.3.3.1.2a Gerak Lengkung Datar

vo = kecepatan awal
kecepatan awal ke sumbu X :
vox = vo cos II.16
kecepatan awal ke sumbu Y :
voy = vo sin II.17

kecepatan ke sumbu X adalah : v x = vox + a x t

v x = vox = vo cos II.18

kecepatan ke sumbu Y adalah : v y = voy - gt

vy = v0 sin gt II.19
2 2
Besar kecepatan v = vox + voy II.20

Posisi partikel pada sumbu X :

x = x o + v ox t +12 at 2

x = vox t = vo cos t II.21


Posisi partikel pada sumbu Y :

y = y0 + voy t - 12 gt 2

y = voy t - 12 gt 2

y = vo sin t - 12 gt 2 II.22

waktu untuk mencapai tinggi maksimum dengan persamaan II.19 dimana v y = 0

maka :
vo sin - gt ymaks = 0

v oyv sin
t ymaks = = o II.23
g g
2 2
voy
1
voy voy
tinggi maksimum h = y maks = v oy - g = II.24
g 2 g2 2g
- 35 -

waktu yang diperlukan untuk mencapai tanah t xmaks dengan persamaan II.22
dimana y = 0 maka :

v0 sin t xmaks - 12 gt 2xmaks = 0

2v o sin
t xmaks = II.25
g
Jarak mendatar maksimum = R dengan persamaan II.21

2 v o sin v o2 sin 2
R = vo cos t xmaks = v o cos = II.26
g g

2 sin cos = sin 2

dengan subsitusi persamaan II.22 dan II.23 dengan asumsi x 0 = 0 dan y o = 0


x
x = vo cos t t= masuk ke persamaan II.22
vo cos

x 1 x2 sin g
y = vo sin - g = x- 2 x2
vo cos 2 vo2 cos 2 cos 2vo cos 2

g
y = tg x - x2 II.27
2 v o2 cos 2
Contoh :
Sebuah peluru ditembakan dari tanah dengan kecepatan 200 m/s yang arahnya

membuat sudut 45o terhadap horizontal. Hitunglah :


a. kecepatan dan posisi pada saat t = 20 detik pertama.
b. Jarak tembak (jarak mendatar maksimum)
c. Waktu yang diperlukan untuk kembali ke tanah.

Jawab :
a. pada saat t = 20 detik pertama

vox = vo cos 45o = (200m / s)( 12 2 ) = 100 2m / s

v oy = v o sin 45o = (200m / s)( 12 2 ) = 100 2m / s

v x = v ox = 100 2m / s
v y = v oy at = (100 2 (10)( 20) = 48,6m / s

kecepatan pada saat t = 20 detik pertama adalah : v = v x + v y

besar kecepatan : v = v 2x + v 2y = (141,4) 2 + ( 58,6)2 = 153,1m / s

vy 58,6
arah kecepatan = arctg = arctg = 337,49o atau 22,52o
vx 141,4

posisi : x = v o t = (100 2 )(20) = 2828,4m

y = voy t - 12 gt 2 = (100 2 )(20) - 12 (10)(20) 2 = 828,5m

r = (2828,4 ; 828,5) m

v 2 sin 2 ( 200) 2 sin 90o


b. jarak tembak : R = o = = 4000m
g 10

2 v o sin 2(100 2 )
c. t xmaks = = = 28,3 det ik
g 10

II.3.3.1.2b Geral Melingkar Beraturan


Gerak melingkar adalah gerak dimana lintasannya selalu mempunyai jarak
yang tetap jika diukur dari satu titik tertentu dan arahnya selalu berubah yaitu
selalu menyinggung arah lintasannya

dalam gambar terlihat bahwa v v = v dan


untuk sudut kecil, maka panjang talibusur
PP panjangnya mendekati busur v. v .

P
Dengan pendekatan :

v v t v v2
= atau =
v r t r

v v2
maka percepatan ar = lim = II.28
li t 

om t r
- 37 -

a r mempunyai arah selalu menuju pusat lingkaran maka disebut percepatan radial
atau percepatan sentripetal. Untuk posisi partikel yang bergerak melingkar
dinyatakan dengan sudut .
Lihat gambar diatas bahwa PP = ds adalah tali busur

ds = r . d II.29
ds d
v= = r. II.30
dt dt
d
kecepatan sudut : = lim = II.31
li t 

om t dt

sehingga persamaan II.29 diperoleh v = r . II.32


2 2
r
dan persamaan II.27. ar = = 2r II.33
r

II.3.3.1.2c Gerak Melingkar Dengan Percepatan.


Gerak melingkar dengan percepatan tidak konstan baik besaran maupun
arahnya, maka mempunyai percepatan singgung/tangensial ( a T ) merupakan besar
kecepatannya dan percepatan sentripetal/radial ( a r ) merupakan akibat perubahan
arah kecepatannya.
dvT d(r ) d
aT = = =r =r II.34
dt dt dt
a T arahnya selalu menyinggung arah lintasan lingkaran
sehingga percepatan partikel setiap daat adalah : a = a r + a T II.35

2 2
a= a = ar + aT

a
= arctg T II.36
ar
Persamaan pada gerak melingkar identik dengan persamaan gerak lurus :

Besaran
Besaran
No Persamaan Gerak Lurus Gerak Besaran Gerak Melingkar
Gerak Lurus
Melingkar
dv Percepatan d
1 Percepatan a= m / s2 Sudut = rad / s 2
dt dt
dx Kecepatan d
2 Kecepatan v= m/s Sudut = rad/s
dt dt
3 Jarak/ posisi X dalam m Sudut dalam rad

v = vo + at = o+ t
1 2
x = x o + vo t + 2
at = o + o t + 12 t 2
2
2
- o2 = 2 ( + o )
v - v o2 = 2a ( x - x o )

Dalam hal gerak melingkar (tidak ada percepatan sudut) tidak ada percepatan
tangensial, tetapi ada percepatan radial/sentripetal yang akan mengubah arah
gerakan kecepatan.

Hubungan antara kecepatan sudut, kecepatan tangensial dan posisi


vektor dalam gerak melingkar.

Dari gambar dapat dilihat bahwa


R = r sin , sehingga
v = r sin II.37
secara vektor : v = xr II.38
Hal ini berlaku selama gerak
melingkar dengan t dan selalu tetap

Gerak periodik adalah gerak yang dilakukan berulang-ulang.


Misalkan benda bergerak melingkar/putar dari titik A sampai ke titik A lagi
disebut satu putaran. Jadi dapat didefinisikan untuk suatu benda gerak melingkar
beraturan :
- 39 -

Periode (T) = waktu yang diperlukan untuk satu kali putaran satuannya dalam
detik atau secon (s)
Frekwensi (n) = banyaknya putaran yang ditempuh dalam satu detik dan
satuannya adalah per detik yang biasa disebut hert (Hz).
1 1
T= atau n = II.39
n T

Contoh :

Roda bergerak dengan percepatan a = 2 t + 2( m / s 2 ) . Jika jari-jari roda 1 m, pada


keadaan awal kecepatan tepi roda adalah 2 m/s.
Hitunglah :
a. kecepatan sudut, percepatan radial, percepatan tangensial pada saat t = 2 s
b. sudut yang ditempuh selama 2 detik.
Jawab :
a 2t + 2
a. kecepatan sudut = dt = dt = dt = t 2 + 2t + c
r 1
v v
dengan syarat awal t = 0; = o = o sehingga c = o
r r
v
= t 2 + 2t + o pada saat t = 2 detik
r
2
= (2) 2 + 2(2) + = 4 + 4 + 2 = 10rad / s
1

v ( r ) 2 (10.1) 2
Percepatan radial a r = r = = = 100m / s 2
r r 1

Percepatan tangensial a T = 2 t + 2 = 2(2) + 2 = 6m / s 2


v 2
b. = dt = ( t 2 + 2t + o )dt = (t 2 + 2t + 2)dt = (13 t 3 + t 2 + 2t) 0 = 32/ 3rad
r
II.3.3.2. Rangkuman
Gerak dalam 2 dimensi yang dimaksud disini adalah lintasan yang dibuat
oleh gerak tersebut merupakan satu bidang datar.
Yang termasuk pada gerak 2 dimensi adalah:
Gerak Peluru
Jika gerak peluru tanpa hambatan udara, ax = 0 dan ay = -g. Koordinat dan
komponen-komponen kecepatannya adalah sebagai fungsi dari waktu dan
lintasan selalu berbentuk parabola
Gerak melingkar
Ketika sebuah partikel bergerak dalam sebuah lingkaran berjari-jari r dengan
kecepatan konstan v, partikel tersebut akan memiliki percepatan sebesar
arad = v2/r
Percepatan ini selalu mengarah ke pusat lingkaran dan tegak lurus terhadap v .
Periode T dari gerak melingkar adalah waktu untuk satu putaran. Jika
kecepatan konstan maka v = 2r/T dan arad = 42r/T2
Ketika kecepatan tidak konstan, masih terdapat komponen radial a , disamping
itu terdapat juga komponen a yang sejajar terhadap lintasan. Komponen ini
sama dengan perubahan dari kecepatan terhadap waktu dv/dt.

II.3.3.3. Test Formatif 3


a. Seseorang melempar dengan kecepatan 32 m/s yang membuat sudut 40o
dengan tanah. Hitunglah : kecepatan dan posisi bola setelah 3 detik
b. Pada sebuah komedi putar, penumpang bergerak dengan kecepatan dalam
sebuah lingkaran berjari-jari 5 m. Mereka menyelesaikan satu putaran dalam 4
detik. Berapa percepatannnya ?
- 41 -

II.3.4. Kegiatan Belajar 4 : Gerak Relatif


II.3.4.1. Uraian dan Contoh
II.3.4.1.1 Pendahuluan
II.3.4.1.2a Gerak Nisbi (Relatif).
Gerak nisbi ialah suatu konsep relatif dan selal;u mangacu pada suatu
kerangka acuan tertentu yang dapat dipilih olah pengamat. Kita perhatikan dua
obyek zarah A dan zarah B dan pengamat pada titik 0 dengan menggunakan
sumbu XYZ sebagai kerangka acuan.

d rA
Kecepatan zarah A = v A =
dt

dr
Kecepatan zarah B = v B = B
dt

d r AB
Kecepatan zarah A nisbi/relatif terhadap B = v AB = II.40
dt
d r BA
Kecepatan zarah A nisbi/relatif terhadap A = v BA = II.41
dt
Kecepatan zarah A nisbi terhadap kecepatan B adalah :
v AB = v A - v B II.42
Kecepatan zarah B nisbi terhadap kecepatan A adalah :
v BA = v B - v A II.43
Jarak A relatif terhadap jarak B adalah rBA = rB - rA
Jarak B relatif terhadap jarak A adalah rAB = rA - rB

rBA = - rAB
a AB = a A - a B II.44
Contoh :
Dua buah pesawat udara Aterbang menuju utara dengan kecepatan 300
km/jam relatif terhadap bumi. Pada saat yang sama pesawat B terbang kearah U
60o B dengan kecepatan 200 km/jam terhadap bumi, hitunglah : kecepatan A
relatif terhadap B dan kecepatan B relatif terhadap A.
Jawab :

Kecepatan A relatif terhadap B :


v AB = v A - v B

v AB = (300) 2 + (200) 2 - 2(300)(200)


= 26,4 km/jam

vB v
untuk mencari arah v AB digunakan hukum sinus : = AB o
sin sin 60

v sin 600
atau sin = B = 0,655 sehingga sudut = 40,9o
v AB
jadi bagi punampang dalam pesawat B tampak seolah-olah pesawat A dengan
kecepatan 264,6 km/jam ke arah U 40,9o T. Kecepatan B relatif dengan A : vAB
besarnya sama yaitu 264,6 km/jam,tetapi arahnya belawanan yaitu S 40,9o B.
- 43 -

II.3.4.1.2b. Gerak Translasi


Dua kerangka XYZ dengan pusatnya dititik O dan kerangka X,Y, Z
dengan pusatnya dititik O pada saat t = 0 pusat kedua kerangka berimpit.

Jika kerangka O bergerak ke sumbu X


dengan kecepatan v relatif dengan
kerangka O, maka pengamat yang
berada di kerangka O melihat pengamat
yang berada di kerangka O bergerak
dengan kecepatan v, tetapi pengamat di
O bergerak dengan kecepatn v.
Misalkan seorang pengamat A diatas peron stasiun kereta api dan
pengamat B berada didalam kereta api yang bergerak dengan kecepatan v, sama-
sama mengamati pesawat terbang yang melintas di atasnya.
Untuk memudahkan sumbu X dan sumbu X satu garis lurus dan sumbu-sumbu
YZ dan YZ selalu sejajar (pengamat A diatas peron dianggap kerangka O diam
dan pengamat B berada di kereta api sebagai kerangka O bergerak). Sehingga
pada saat t maka jarak antara OO = vt dan jika sebuah partikel pada titik P dari
gambar dapat dilihat bahwa :
OP = OO + OP
r = r + vt atau r = r vt II.45
persamaan vektor diatas dapat dipisahkan ke dalam 3 komponennya :
x = x vt; y = y; z = z dan t = t II.46
t = t maksudnya keduanya pengukurannya pada saat yang sama.
Jika kecepatan partikel pada titik P relatif terhadap O adalah V, maka :
dr
V=
dt
Jika kecepatan partikel pada titik P relatif terhadap O adalah V, maka :
dr '
V '=
dt
V = V v v = konstan
dV
Percepatan P relatif terhadap O dan O masing-masing a = dan
dt
dV '
a'
= mengingat t = t,
dt

x = a x ; a'
maka didapat a = a atau a ' y = a y ; a'
z = az II.47

II.3.4.1.2c. Gerak Rotasi


Dua kerangka XYZ dengan pusatnya dititik O dan kerangka XYZ dengan
pusatnya dititik O pada saat t = 0 kedua pusat tersebut berimpit dan sumbu Z dan
sumbu Z juga berimpit.
Misalkan : partikel berada di titik P diam
terhadap kerangka O berjarak r dari
kerangka O dan O. Kerangka O
bergerak berputar dengan kecepatan
konstan, maka bila dipandang dari
pengamat pada kerangka XYZ kelihatan
berputar dalam suatu lingkaran dengan
kecepatan sudut dan oleh karena itu
memiliki kecepatan relatif terhadap O,

v= + r . Sedang jika partikel P bergerak dengan kecepatan V dipandang


dari kerangka O, maka kecepatan partikel P relatif terhadap kerangka O adalah :
V = V'
+ xr II.48
untuk percepatannya adalah :
a = a'
+ x ( xr ) + 2 xV ' II.49
Dimana :
A = percepatan partikel P jika diamati oleh pengamat O
A = percepatan partikel P jika diamati oleh pengamat O
V = kecepatan parikel P jika diamati oleh pengamat O
r = vektor posisi
= kecepatan sudut dari gerak rotasi O terhadap O
- 45 -

Contoh :
Seekor semut bergerak dengan kecepatan 0,1 m/s di sepanjang batang yang
berputar terhadap satu ujungnya. Kecepatan sudut batang relatif terhadap bumi
adalah 5 rad/s. Berapa kecepatan dan percepatan semut relatif terhadap bumi ?.

dx dx' d cos
vx = = cos + x '
dt dt dt

dx dx ' d cos d
vx = = cos + x '
dt dt d dt
v x = v'
cos - x '
sin

dy dx ' d sin d
vy = = sin + x '
dt dt d dt
v y = v'
sin + x '
cos

untuk mencari kecepatan : v = v 2x + v 2y

v = ( v' sin )2 + ( v'


cos - x ' cos )2
sin + x '

v = v'
+xx'
selanjutnya untuk mencari percepatan dengan mendefrensialkan ke dt
dv x d cos d dx ' sin d
ax= = v' - sin - x '
dt d dt dt d dt

a x = v'
sin sin - 2 x '
- v' cos

sin - 2 x '
a x = -2 v' cos

cos - 2 x '
dengan cara yang sama : a y = 2 v' sin

a = a 2x + a 2y dengan cra seperti di atas diperoleh :

a = 2xv '
+ x ( xx ')
2xv' : merupakan percepatan Coriolis
x ( xx ') : merupakan percepatan sentripetal
jadi dengan memasukan harga diatas dapat dicari harga kecepatan dan percepatan
semut relatif terhadap bumi : v = 0,1 m/s dan = 5 rad/s.

II.3.4.1.2d .Transformasi Lorenz


Pada tahun 1881 Albert A. Michelson Fisikawan dari Amerika
mengadakan percobaan pengukuran kecepatan cahaya dengan bermacam-macam
arah dengan alat interferometer. Hasilnya kecepatan cahaya dari segala arah
adalah sama yaitu C. Pada tahun 1905 Einstein menyatakan prinsip relativitasnya.
Einstein menganggap bahwa kecepatan cahaya adalah suatu tetapan fisis yang
memiliki harga sama bagi semua pengamat.
Misalkan pada saat t = 0 berkas cahaya dipancarkan pada posisi yang sama.
Setelah pada saat t = t pengamat O akan mencatat bahwa cahaya mencapai titik A
dengan jarak r = Ct

r 2 = x 2 + y 2 + z 2 + C2 t 2

demikian pula pengamat O akan


mencatat bahwa cahaya tiba dititik A
yang sama dalam waktu t = t, pengamat
O akan mencatat bahwa cahaya
mencapai titik A dengan jarak r = Ct

2 2 2 2
r' = x' + y' + z' +C 2 t '
2
II.50
hubungan kedua pengamat O dan O adalah :
x vt
x '= , y = y; z = z II.51
1 - v / C2
2

t vx / C 2
t'
= II.52
1 - v2 / C2
x'
+ vt '
kebalikannya : x = II.53
1 - v 2 / C2
y = y ; z = z
- 47 -

+ vx '/ C 2
t'
t= II.54
1 - v 2 / C2
benda bergerak sepanjang garis gerak relatif pengamat-pengamat, maka kecepatan
benda A yang diukur oleh O ialah :
dx
V=
dt
dx '
kecepatan benda A yang diukur oleh O ialah : V'=
dt '
dx vdt V v
dx '= = dt II.55
2 2
1- v / C 1 - v / C2
2

dt - vdx / C 2 1 - vV / C2
dt '
= = dt II.56
1 - v 2 / C2 1 - v 2 / C2
dx ' V-v
V'
= = dt II.57
dt 1 - vV / C2
persamaan di atas adalah Hukum Transformasi Lorenz untuk kecepatan, yaitu
kecepatan benda yang diukur oleh kedua pengamat yang berada dalam dua
kerangka acuan inersial yang berbeda. Transformasi invers :
V'
+v
V= dt II.58
1 + vV'/ C2
dv ' dv 'dt
percepatan partikel yang diukur dari O adalah : a '= =
dt ' dt dt '
dengan mendefrensialkan harga V terhadap t, maka didapat percepatan

(1 - v 2 / C 2 )3 / 2
a '= a II.59
(1 - vV / C 2 )3
Konsekuensi Transformasi Lorenz
1. Kontraksi panjang
Batang ab terletak di kerangka O yang
bergerak dengan kecepatan v terhadap
kerangka O (diam).
Jadi jika dipandang dari kerangka
Obatang tersebut diam, jika dipandang
dari kerangka O batang bergerak.

Misalkan panjang ab = L jika diukur dari kerangka O dan pengukuran yang


dilakukan dari kerangka O harus simultan (pada saat yang sama).

Kerangka O mengukur L'= x ' '


b - xa

Kerangka O mengukur L = x b -x a secara simultan


Dengan persamaan :
x a - vt
x'
a =
1 - v 2 / C2
xb vt
x'
b =
1 - v 2 / C2
xb - xc
x' '
b - xa =
1 - v2 / C2
L
L'= II.60
1 - v2 / C2

atau L = L' (1 - v 2 / C2 jadi Lgerak < L diam

2. Dilatasi Waktu

t' / C2
a + vx '
ta =
1 - v2 / C2

t' / C2
b + vx '
tb=
1 - v 2 / C2
- 49 -

t' '
b ta
t b -t a =
1 - v 2 / C2
T'
T= atau
1 - v 2 / C2

T '= T 1 - v 2 / C 2

II.3.4.2. Rangkuman
Ketika sebuah bebda P bergerak relatif terhadap sebuah benda (atau kerangka
acuan) B, dan B bergerak relatif terhadap A. Kita tuliskan kecepatan P relatif
terhadap B dengan vPB , kecepatan P relatif terhadap ditulis dengan vPA dan

kecepatan B relatif terhadap A dengan vBA . Jika kecepatan-kecepatan ini berada


pada garis yang sama maka komponen-komponen pada garis tersebut
dihubungkan dengan vPA = vPB + vBA

II.3.4.3. Test Formatif 4


Kecepatan bunyi dalam udara diam 25oC adalah 346 m/s. Hitunglah kecepatan
yang diukur oleh seorang pengamat yang bergerak dengan kecepatan 90 km/jam
a. Menjauhi sumber
b. Menuju sumber
c. Tegaklurus arah rambat di udara

III.4 Kunci Jawaban Tes Formatif


Test Formatif 1
a. Besaran a merupakan besaran percepatan dan besaran b adalah besaran
panjang
b. t1 = 2 detik x1 = 4 (2)2 + 20 = 36 m
t2 = 5 detik x2 = 4 (5)2 + 20 = 120 m
Jarak yang ditempuh = 120 m 36 m = 84 m
c. x = 4t2 + 20 v= 8t
t1 = 2 detik v1 = 8 (2) = 16 m
t2 = 5 detik v2 = 8 (5) = 40 m
r r2 - r1 120 36
kecepatan rata-rata = v = = = = 28m / s
t t2 - t1 52
Test Formatif 2
1. 1000 m

II.5 Referensi
1. Alonsa, M; Finn, EJ.Physics, 1970, Addison-Wiesly Company Inc.
2. Beiser, A. The Maintsream of Physics, 1962, addisopn-Wiesly Publishing
Company Inc.
3. Berkelay Physics Course, Vol. 1, 2 and 3, 1965 Mc Graw-hill book
campany.
4. Tilley, DE, University Physics for Science and Enginering, 1976,
Cumming Publishing Company Inc.
- 51 -

BAB. III
DINAMIKA PARTIKEL
SPBS 1301/3 SKS

FISIKA DASAR I
Oleh :
Drs. Ignatius Suraya
DAFTAR ISI

Materi Halaman

III.1. Pengantar 53
III.2. Kompetensi 53
III.3. Kegiatan Belajar 53
III.3.1. Kegiatan Belajar : Dinamika Partikel 53
III.3.1.1. Uraian dan Contoh 53
III.3.1.1.1 Pendahuluan 53
III.3.1.1.2a Hukum Newton I, II dan III 53
III.3.1.1.2b Gaya Berat 55
III.3.1.1.2c Gaya Gesek 55
III.3.1.1.2d Gaya Sentripetal 61
III.3.1.1.2e Gaya Pegas 63
III.3.1.1.2f Gaya Tegangan Tali 63
III.3.1.2. Rangkuman 66
III.3.1.3. Test Formatif 66
III.4 Kunci Jawaban Tes Formatif 67
III.5 Referensi 67
- 53 -

III.1. Pengantar
Pada bab ini kita akan menggunakan besaran kinematika jarak, kecepatan
dan percepatan yang dihubungkan dengan dua konsep baru gaya dan massa untuk
menganalisis prinsip-prinsip dinamika. Gaya adalah besaran vektor, untuk
menggambarkan sebuah gaya kita perlu menggambarkan arah gaya yang bekerja
dan menentukan besarnya yaitu besaran yang menggambarkan sebanyak berapa
atau seberapa kuat gaya gaya tersebut mendorong atau menarik.

III.2. Kompetensi
Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan dapat memahami dan mampu
menjelaskan serta menghitung persoalan gerakan partikel, menerapkan Hukum
gravitasi universal, mengamplikasikan hukum-hukum Newton terhadap benda
karena pengaruh gaya-gaya luar, pengaruh permukaan papan terhadap benda yang
bergerak di atasnya, gaya yang bekerja pada benda yang bergerak melingkar

III.3. Kegiatan Belajar


III.3.1. Kegiatan Belajar : Dinamika Partikel
III.3.1.1. Uraian dan Contoh
III.3.1.1.1 Pendahuluan
Pada bab ini akan dibicarakan hubungan gerak dengan penyebab geraknya.
Cabang mekanika yang mempelajari gerakan benda dengan konsep ruang dan
waktu dengan memperhatikan penyebab geraknya disebut dinamika. Seperti bab
sebelumnya benda-benda yang dibahas diperlakukan sebagai partikel

III.3.1.1.2a Hukum Newton I


Setiap benda berada dalam keadaan diam atau bergerak lurus beraturan
kecuali jika benda tersebut dipaksa untuk mengubah keadaannya oleh gaya-gaya
yang dikerjakan padanya.
Hukum pertama Newton ini juga memperkenalkan pengertian sifat benda
tentang keadaannya, yaitu tetap diam atau bergerak lurus beraturan. Sifat ini
disebut sifat inersial, oleh sebab itu Hukum Newton I disebut juga disebut Hukum
Inersia.

Hukum Newton II
Secara matematis pernyataan Hukum Newton II dapat ditulis :
F = ma ..........III.1
Jika yang bekerja lebih dari satu gaya maka persamaan dapat ditulis :
F = ma ..........III.2

F = gaya satuannya dalam newton (N) atau dyne


F = jumlah vektor gaya yang bekerja pada benda yang bermassa m
a = vektor kecepatan
persamaan III.2. dapat ditulis ke dalam bentuk komponen-komponen vektor
Fx = ma x ..........III.3a

Fy = ma y ..........III.3b

Fz = ma z ..........III.3c
atau dalam bentuk vektor satuan :
F = m (a x i + a y j + a z k ) ..........III.4

Jadi jika harga F = 0 berarti benda dalam keadaan diam atau gerak lurus
beraturan.

Hukum Newton III


Jika sebuah benda melakukan gaya terhadap benda lain, maka benda yang
dikenai gaya akan melakukan balasan yang besarnya sama dan arahnya
berlawanan. Selanjutnya gaya ini disebut gaya aksi dan gaya reaksi dan kedua
gaya ini lahirna bersamaan karena semua hasil interaksi atau dikatakan aksi jika
ada reaksi.

Faksi = Freaksi ..........III.5


- 55 -

III.3.1.1.2b. Gaya Berat (W)


Berat pada benda dikarenakan adanya tarikan bumi, maka arah gaya berat
selalu kebawah tegak lurus dengan bumi. Gaya tarik bumi disebut gaya gravitasi.
W = mg ..........III.6

III.3.1.1.2c. Gaya Gesek ( Fg )

Gaya gesek terjadi karena gesekan antara dua benda, maka masing-masing
benda akan melakukan gaya gesek. Gaya gesek arahnya berlawanan dengan arah
gerak benda.
a. Gaya gesek statik jika kedua benda yang bergesekan saling diam (Fs).
Gaya gesek statik maksimum sama dengan gaya terkecil yang dibutuh-kan
benda untuk mulai bergerak.
b. Gaya gesek kinetik jika kedua benda atau salah satu bendanya bergerak (Fk)

Secara umum gaya gesek ditulis :


Fg = N ..........III.7

Fgs = s N (gaya gesek Statik)

Fgk = k N (gaya gesek kinetik)

= koefisen gesek
N = gaya normal arahnya selalu ke atas dan tegak lurus dengan luas dasarnya
(alasnya)

Contoh :
1. Bidang datar

a. Benda massanya m (diam dan tidak ada


gaya dari luar), maka N = m g

Gaya gesek Fg = N = mg
b. Benda diarik dengan gaya luar dan konstan yang arahnya membuat sudut
dengan horisontal.

Fx = F cos dan Fy = F sin

Fy = 0

N+Fy - mg = 0 maka

N=mg - Fy = mg - F sin

Gaya gesek
Fg = N = (mg - F sin )

2. Bidang miring
a. Benda diam

N = m g cos

Gaya gesek Fg = N = mg cos

Benda ditarik dengan gaya konstan

N = m g cos
Gaya gesek Fg = N = mg cos

Resultan gaya yang bekerja pada benda :


untuk benda tetap diam Fx = 0

F - Fg - mg sin = 0 F = mg cos + mg sin

untuk benda bergerak ke atas dengan percepatan a Fx = ma

F - Fg - mg sin = ma
- 57 -

F mg cos mg sin = ma
untuk benda bergerak ke arah bawah dengan percepatan a
Fx = ma
F + Fg - mg sin = -ma maka F + mg cos mg sin = ma

3. Gaya gesek pada fluida (zat alir)


zat alir ialah zat yang dapat mengalir (zat cair dan gas)

Fg v
Fg
: etha : koefisien kekentalan
Fg = -K v tanda (-) kartena arah Fg

belawanan dengan arah


kecepatan v
Jika bendanya berbentuk boal dengan
volume 4/3 r 3 dan gaya berat disini
merupakan berat semu yaitu berat dalam
hampa dikurangi gaya keatas oleh zat cair.

Berat benda dalam hampa = 4 / 3 r 3 g


= rapat benda :massa/volume
Berat benda dalam zat cair = 4/3 r 3 'g
= rapat zat cair
Berat semu = W = 4/3 r 3 ( - '
)g
Menurut Stokes K = 6 r jadi Fg = - 6 r v

Pada saat Fg = W benda bergerak dengan kecepatan v konstan dan kecepatan


tersebut dinamakan kecepatan batas / terminal atau kecepatan limit ( v L )
4 3
4 3 r ( - '
)g
6 rv L = r ( - '
)g vL = 3
3 6 r
2r 2 ( - '
)g
vL = ..........III.8
9

2r 2 ( - '
)g
= ..........III.9
9vL
Resultan gaya
W + Fg = ma

dv
6 rv L - 6 rv = ma 6 r ( v L - v) = m
dt
dv 6 r
= dt
vL - v m
v t
dv 6r v 6 r t
= dt ln(v L - v) =-
vL v m 0 m 0
0 0

6 r
ln(v L - v) - ln(v L -0) = - t
m
v -v 6 r
ln L =- t
vL m

(
v = v L 1 - e-(6 rt / m ) ) ..........III.10

Jarak yang ditempuh sebagai fungsi waktu S= f(t)


t
S = v L (1 e ( 6 rt / m ) )dt
0

m m
S = vL t + e-(6 rt / m) - ..........III.11
6 r 6 r

= angka/koefisien kekentalan dinamis satuannya adalah :


dalam satuan mks adalah : kg/ms
dalam satuan cgs adalah : g/cms
- 59 -

Contoh :
1. Benda massanya 8 kg bergerak diatas papan miring dengan sudut
kemiringannya . Koefisien gesek antara benda dengan papan adalah 0,3
Hitunglah :
a. Gaya yang diperlukan agar benda bergerak keatas dengan percepatan

2 m / s2
b. Gaya yang diperlukan agar benda bergerak kebawah dengan percepatan

2 m / s2
Jawab :

a. untuk benda bergerak ke atas dengan percepatan 2 m / s 2


F ( m g cos ) (m g sin ) = m a
F = m a + ( m g cos ) + (m g sin ) = m (a + mg cos + g sin )

F = (8 kg)[(2 m / s 2 ) + (0,3)(10 m / s 2 )(cos 30o) + (10 m / s 2 )(sin30o)]


= 76,784 N

b. untuk benda bergerak ke bawah dengan percepatan 2 m / s 2


F + ( m g cos ) (m g sin ) = - m a
F = m (g sin - g cos - a)

F = (8 kg)[ (10 m / s 2 )(sin 30 o ) - (0,3)(10 m / s 2 )(cos 30 o ) - 92 m / s 2 )]


= 3,216 N

2.
Dua buah benda m1 = 6 kg dan
m2 = 3 kg dihubungkan dengan
tali melalui sebuah roda katrol
yang licin.
Jika m1 ditarik dengan gaya konstan sebesar 10 N yang membuat sudut 30 o

dari horisontal dan koefisien gesek antara m1 dengan papan sama dengan
0,3.
Hitunglah : Percepatan benda m 2 keatas.

Untuk benda m1 :

Gaya normal : N = m1 g F sin 30 o

Gaya gesek : Fg = N = ( m1 g F sin 30 o )

Benda m 1 bergeral kekanan ke sumbu x positif Fx = m1a x

F cos 30 o - Fg T = m1a x

F cos 30 o - ( m1 g F sin 30 o ) T = m1a x (a)

Untuk benda 2
Fy = m 2 a y

T - m 2g = m 2 a y (b)

F cos 30 o - ( m1 g F sin 30 o ) T = m1a x

T - m 2g = m 2 a y

F cos 30 o - ( m1 g F sin 30 o ) m2g = m1a x + m 2a y

Karena m1 dan m2 bergerak bersama, maka a x + a y = a


- 61 -

F(cos 30o + sin 30o ) - g (m 2 + m1)


a=
m1 + m 2

10 N (cos 30o + 0,3.sin 30o ) - (10m / s 2 )(3kg + 0,3.6kg )


a=
6kg + 3kg

= 0,31m / s 2

III.3.1.1.2d. Gaya Sentripetal (Fs)


Jika suatu benda bergerak melingkar beraturan dengan besar kecepatan
tetap akan mengalami percepatan sentripetal yang arahnya menuju pusat
lingkaran.

v2
as = ..........III.12
r
jadi besarnya gaya sentripetal

v2
Fs = m ..........III.13
r
arah gaya sentripetal selalu sama dengan arah percepatan sentripetal.

Contoh :
1. Sebuah batu massanya 20 gram diikat dengan benang panjang 50 cm dan
kemudian diputar horisontal dengan kecepatan tetap 2 detik setiap putaran.
Tentukan tegangan pada benang tersebut.

Jawab :
Keliling lingkaran = 2 r, batu berputar putaran setiap detik atau waktu
yang diperlukan untuk satu kali putaran t = 2 s dan kecepatannya adalah :
S 2r 2.3,14.0,5m
v= = = = 1,57 m / s
t t 2s
gaya sentripetal ditunjukan oleh tegangan tali :

mv 2 (0,2kg )(1,57 m / s) 2
T= = = 0,986 N
r 0,5m
2. Sebuah massa diikat dengan tali panjangnya 50 cm kemudian diputar vertikal.
Berapa besar kecepatan minimal massa pada saat di puncak atas benda dapat
berputar.
Jawab :

Pada saat massa berada di titik A gaya yang bekerja adalah gaya berat dan
gaya tegangan tali, maka besarnya gaya sentripetal adalah :

Fs = T m g cos

v2 r (T mg cos
Fs = m v=
r m

pada saat massa berada di puncak (titik B) berarti T 0 dan = 180 o


sehingga :

v2
T - mg cos = m
r

v2
0 - mg cos180o = m sedangkan cos 180 o = -1
r

v = gr = (10m / s 2 )(0,5M ) = 2,24m / s


- 63 -

III.3.1.1.2e. Gaya Pegas (Fp)


Jika sebuah pegas dengan konstanta k, maka jika pegas ditarik memanjang
sejauh x, maka pegas akan bekerja gaya yang melawan arah tarikan dan gaya
tersebut dinamakan gaya pengembali pegas yang biasa disebut gaya pegas dengan
persamaan :
Fp = -kx ..........III.14

tanda minus (-) pada persamaan III.14


karena arah gaya pegas selalu
berlawanan dengan arah perubahan
panjang.

III.3.1.1.2f. Gaya tegangan Tali (T)


Contoh :
Dikrtahui : massa benda m digantung dibawah simpol-simpol tali seperti
pada gambar dibawah ini dengan sudut-sudut 1, 2 , 1, dan 3 .
Hitunglah : tegangan disetiap tali

Jawab :
Untuk menjawab harus dikerjakan
setiap simpul (sambungan)
simpul A
Fx = 0
T3 cos 2 - T2 cos 1 = 0
T cos 1
T3 = 2 (a)
cos 2

Fy = 0

T3 sin 2 + T2 sin 1 - mg = 0
Masukan persamaan a, akan didapat
persamaan :

mg
T2 = (b)
sin 1 + (cos 1 / cos 2 )
dengan memasukan hasil perhitungan persamaan b ke persamaan a akan didapat
harga T3
Simpul B

Fx = 0

T4 + T2 cos 1 - T5 cos 1 = 0 (c)

Fy = 0

T5 sin 1 - T5 sin 1 = 0
T sin 1
T5 = 2 (d)
sin 1

dengan memasukan harta T2 ke persamaan d akan ditemukan harga T5 dan harga

T5 dimasukan kepersamaan c akan didapat harga T4 .


- 65 -

Simpul C

Fx = 0
T6 cos 2 - T4 - T3 cos 2 = 0

dengan memasukan harga T4


dan T3 akan didapat harga T6

Contoh :
Diketahui empat kereta masing-masing massanya 50 kg digandeng satu
sama yang lain dengan tali dan kemudian kereta paling ujung ditarik dengan gaya

F konstan, sehingga kereta bergerak dengan percepatan 2 m / s 2 . Hitunglah :


Besar gaya konstan tersebut dan gaya tarik setiap tali yang menghubungkan ke
setiap kereta.

Jawab :

Jika tidak ada gaya gesek maka besar gaya konstan adalah :

F = mtot a = (m1 + m2 + m3 + m4 )a

= (50kg + 50kg + 50kg + 50kg )(2m / s 2 ) = 400 N


Tegangan tali antara kereta 1 dan 2

F12 = (m2 + m3 + m4 )a = (50kg + 50kg + 50kg)(2m / s 2 ) = 300N


Tegangan tali antara kereta 2 dan 3

F23 = (m3 + m 4 )a = (50kg + 50kg)(2m / s 2 ) = 200N


Tegangan tali antara kereta 3 dan 4
F34 = ( m 4 )a = (50 kg )( 2m / s 2 ) = 100 N
Tegangan tali antara kereta 3 dan 4

F34 = ( m 4 )a = (50 kg )( 2m / s 2 ) = 100 N

III.3.1.2. Rangkuman
Jika sebuah benda berada dalam keadaan setimbung pada suatu kerangka
inersia, jumlah vektor gaya-gaya yang bekerja pada benda tersebut harus nol.
Fx = 0, Fy = 0,
Ketika jumlah vektor dari gaya-gaya yang bekerja pada sebuah benda tidak
nol, benda tersebut memiliki sebuah sebuah percepatan yang ditentukan oleh
Hukum Newton II
F = ma
Fx = max , Fy = may
Gaya kontak antara dua benda selalu dapat dinyatakan dalam sebuah gaya
normal yang tegak lurus terhadap permukaan interaksinya, serta gaya gesek
yang sejajar terhadap permukaannya.

III.3.1.3. Test Formatif


1. Benda massanya 8 kg bergerak di atas bidang miring dengan sudut kemiringan
30o. Berapakah gaya yang diperlukan benda agar benda bergerak :a). ke atas
dan b). ke bawah. Kedua keadaan ini diandaikan gerakan dipercepat dengan
percepatan 2 m/s2. Koefisien gesekan benda dengan bidang adalah 0,3

2. Sebuah mobil bergerak sepanjang sumbu x dengan percepatan konstan a = 5


m/s2. Pada saat t = 0 kendaraan itu berada di x = - 10 m dengan kecepatan v =
3 m/s. Tentukan posisi mobil itu pada saat t = 3 s dan hitung pula kecepatan
pada saat t = 5 s
- 67 -

3. Dua buah mobil bergerak pada arah yang sama. mula-mula kedua mobil sama-
sama berhenti. Mobil 1 posisinya di + xo dan mobil 2 di xo. Kedua mobil
serentak bergerak, mobil 1 dengan percepatan a sedang mobil 2 dengan
percepatan 2a. Kapan mobil 2 melewati mobil 1?

III.4 Kunci Jawaban Tes Formatif


1. a). F = 75,6 N
b). F = - 2,8 N

2. a). v = 28 m/s
b). x = 21,5 m

3. t = 2 xo / a

III.5 Referensi
1. Alonsa, M; Finn, EJ.Physics, 1970, Addison-Wiesly Company Inc.
2. Beiser, A. The Maintsream of Physics, 1962, addisopn-Wiesly Publishing
Company Inc.
3. Berkelay Physics Course, Vol. 1, 2 and 3, 1965 Mc Graw-hill book
campany.
4 Tilley, DE, University Physics for Science and Enginering, 1976,
Cumming Publishing Company Inc.
BAB. IV
USAHA DAN TENAGA
SPBS 1301/3 SKS

FISIKA DASAR I
Oleh :
Drs. Ignatius Suraya
- 69 -

DAFTAR ISI

Materi Halaman

IV.1. Pengantar 70
IV.2. Kompetensi 70
IV.3. Kegiatan Belajar 70
IV.3.1. Kegiatan Belajar : Usaha Dan Tenaga 70
IV.3.1.1. Uraian dan Contoh 70
IV.3.1.1.1 Pendahuluan 70
IV.3.1.1.2a Usaha Oleh Gaya Konstan 70
IV.3.1.1.2b Usaha Oleh Gaya Tadak Konstan 73
IV.3.1.1.2c Usaha Dan Tenaga Kinetik 75
IV.3.1.1.2d Usaha Dan Tenaga Potensial 78
IV.3.1.1.2e Hukum Kekekalan Energi 78
IV.3.1.1.2f Gaya Konservatif dan Gaya Tidak Konservatif 80
IV.3.1.1.2g Daya 82
IV.3.1.2. Rangkuman 84
IV.3.1.3. Test Formatif 84
IV.4 Kunci Jawaban Tes Formatif 84
IV.5 Referensi 85
IV.1. Pengantar
Dalam bab ini akan dibahas mengenai konsep energi. Energi banyak
dibicarakan dalam masyarakat karena kebutuhannya energi semakin meningkat
dan dampak penggunaannya yang sangat mempengaruhi kehidupan manusia.

IV.2. Kompetensi
Setelah mempelajari bab ini, anda anda diharapkan dapat memahami dan
mampu menjelaskan serta menghitung konsep energi dalam memecahkan
persoalan gerakan partikel yang diakibatkan oleg gaya luar serta memberikan
contoh pemakaian hukum kekekalan energi.

IV.3. Kegiatan Belajar


IV.3.1. Kegiatan Belajar : Usaha Dan Tenaga
IV.3.1.1. Uraian dan Contoh
IV.3.1.1.1 Pendahuluan
Pada bab in akan dibahas konsep usaha dan energi yang dapat digunakan
untuk memecahkan persoalan gerak. Konsep ini juga merupakan alternatif lain
yang dipilih untuk memecahkan persoalan gerak bila gaya yang bekerja pada
partikel tidak tetap.

IV.3.1.1.2a Usaha oleh Gaya Konstans


Usaha W didefinisikan sebagai hasil kali pergeseran dengan komponen
gaya dalam arah pergeseran. Secara umum ditulis :

Usaha = gaya . jarak


A

Sebuah benda massanya m ditarik gaya F


yang arahnya mendatar searah dengan arah
gerak benda sehingga massa bergeser
sejauh S, maka besarnya usaha W adalah :
- 71 -

W=F.S ..........IV.1
Jika antara massa dengan papan ada gaya gesek, berarti arah gaya gesek kekiri
maka :

N = mg Fg = N = mg

W = (F Fg) S = (F - mg) s ..........IV.2

B. Sebuah benda massanya m ditarik dengan gaya konstan F yang arahnya


membuat sudut terhadap arah gerak benda sehingga massa bergeser sejauh
S, maka besarnya usaha W adalah :

W = F S cos
Jika antara massa dengan papan ada
gaya gesek, berarti arah gaya gesek
kekiri maka :
N + F sin - m g = 0
N = m g F sin
Fg = N
= ( m g F sin )

W = (F cos - Fg ) S
W = [F cos - ( m g F sin )] S ..........IV.4
C. Sebuah benda massanya m ditarik dengan gaya konstan F yang arahnya ke
atas. Maka gaya tersebut tidak membuat usaha.

W=0 ..........IV.5

Jika antara massa dengan papan ada gaya


gesek, maka usahanya adalah : W = 0
Satuannya untuk mks dalam :
N m = joule (J)
untuk cgs dalam dyne cm = erg

jadi : 1 joule = 1 kg (m / s 2 )m
= (1000gr)(100cm / s2 )(100cm)

= 107 grcm2 / s 2 = 107 erg


Contoh :
1. Sebuah mobil massanya 1500 kg berjalan di atas jalan tanjakan yang sudut

kemiringannya 30 o naik dengan kecepatan konstan 45 km/jam. Jika koefisien


gesek antara ban mobil dengan jalan adalah 0,5 maka tentukan kerja yang
dilakukan mesin selama 5 menit.

F=ma

F Fg mg sin 30 o = m a
karena kecepatannya konstan maka a = 0
- 73 -

F Fg mg sin 30 o = 0

F - mg cos 30 o - m g sin 30 o = 0

F = mg ( cos 30 o + sin 30 o )

= (1500 kg)(!0 m / s 2 )(0,5 . 0,866 + 0,5) = 13995 N


F = Jarak S = v t = (12,5 m/s)(300 s) = 3750 m
Kerja mesin selama 5 menit W = F S = (13995 N)( 3750 m)
= 52481250 joule
2. Sebuah mabil massanya 1500 kg berjalan di atas jalan tanjakan yang sudut

kemiringannya 30 o Naik dengan kecepatan awal 45 km/jam dan

percepatannya 1 m / s 2 . Jika koefisien gesek antara ban mobil dengan jalan


adalah 0,5 maka tentukan kerja yang dilakukan mesin selama 5 menit.
Jawab :
Gambarnya sama dengan contoh 1

F=ma F Fg mg sin 30o = m a

F - mg cos 30 o - m g sin 30 o = ma

F = ma + mg cos 30 o + m g sin 30 o

F = (1500 kg)(!0 m / s 2 ) + 13995 N = 15495 N


Jarak S = v o t + 12 at 2 = (12,5 m/s)(300 s) + 12 (1m / s 2 )(300 ) 2 = 48750 m

Kerja mesin selama 5 menit


W = F S = (15495 N)( 48750m ) = 755381250 joule

IV.3.1.1.2b. Usaha Oleh Gaya Tidak Konstans


Jika gaya yang bekerja pada benda merupakan fungsi posisi F = f(x) dan
dalam waktu dt benda berpindah sejauh dx maka usaha yang dilakukan:
dW = F dx ..........IV.4
Usaha total yang dilakukan hingga benda berpindah dari x1 ke x 2 :
X2

W= Fdx ..........IV.5
x1
Contah dari gaya tidak konstan adalah gaya pegas (Fp) :
Jika pegas dengan konstanta k dan ditarik sepanjang x, maka pegas tersebut
membuat gaya yang arahnya berlawanan dengan arah tarikan dan besarnya :
Fp = - k x ..........IV.6
Usaha yang dilakukan untuk menarik pegas sehingga ujungnya berpindah posisi
dari x1 ke x 2 :
X2 X2

W= F( x )dx = kxdx = 12 k ( x 22 x 12 ) ..........IV.7


x1 x1

Contoh :
1. sebuah balaok massanya 1 kg pada posisi di
x1 : 10cm dihubungkan dengan gaya
konstan yang besarnya 7 N kekanan sehingga
balok bergeser di x 2 : 20 cm dan koefisien
anatar balok dengan papan adalah 0,5.
Hitunglah : Usaha yang dilaku-kan oleh
pegas ?

Jawab :
Balok akhirnya berhenti berarti a = 0

F Fp Fg = 0
Fkx mg = 0
7 Nk (0,1 m)0,5(1 kg)(10) = 0
k = 20 N/m
Usaha oleh pegas

Wp = 12 k ( x 22 + x12 ) = 12 (20n / m)(0,03m 2 ) = 0,3Nm = 0,3 joule


- 75 -

2.
Diketahui seperti contoh 1 di atas
hanya arah gaya konstan yang

diberikan membuat sudur 30 o dari


horisontal.
Hitunglah : Usaha yang dilakukan
pegas ?

Jawab :
N + F sin 30 o - m g = 0 N = m g - F sin 30 o

Fg = N = (m g - F sin 30 o )
F=0

F cos 30 o - Fg Fp = 0

F cos 30 o - (m g - F sin 30 o ) kx = 0
6,062 1,231 0,1 k = 0 k = 48,31 N/m
Usaha oleh pegas
Wp = 1
2 k ( x 22 + x12 ) = 12 (48,31 N/m )(0, 03 m 2 ) = 0, 72465 Nm

= 0, 72465 joule

IV.3.1.1.2c. Usaha dan Tenaga Kinetik (Ek)


Pada sebuah benda bekerja sejumlah gaya yang menyebabkan benda
bergeser dalam arah gaya (misal ke sumbu x) maka usaha oleh gaya resultan F
untuk memindahkan benda dari x1 ke x 2 :
X 2

W = Fdx
x1

Dari Hukum Newton II. F = ma dan percepatan ditulis :


dv dv dx dv dv
a= = . = .v = v sehinggan :
dt dx dt dx dx
X2 v2 v
dv 2

W= Fdx = mv dx = mvdv = 12 m( v 22 v 12 ) ..........IV.8


x1 v1
dx v1
hasil kali setengan massa benda dengan kuadrat kecepatannya disebut energi
kinetik, yang dinyatakan dengan lambang Ek.

E k = 12 mv2 ..........IV.9

Persamaan IV.9. dikenal sebagai teorema kerja-tenaga dan ini berlaku untuk gaya
tetap atau gaya berubah.Tenaga kinetik biasa disebut dengan tenaga gerak.
Contoh :
1
Sebuah massa dihubungkan dengan yang
mempunyai konstanta 1000 N/m. Benda
ditarik ke kanan sejauh 0,02 m dan kemudian
dilepas. Jika antara benda dengan papan licin
tidak ada gesekan, maka kecepatan massa
pada saat melewati titik 0 adalah 0,5 m/s.
Hitung : Kecepatan benda saat meleawt titik
setimbang jika koefisien gesek antara benda
dengan papan = 0,5

Jawab :
Papan yang licin

Wpegas = 12 kx 2 = 12 (1000N / m)(0,002m) 2 = 0,4 joule

W = 12 m( v 22 - v12 ) v1 = 0 (sebelum massa bergerak)

(
0,2 j = 12 m (0,5m / s) 2 - 0 )
0,4
m= = 1,6kg
0,25
Papan dengan massa ada gesekan :

Wpegas = Nx = mgx (0,5)(1,6kg)(10m / s 2 )(0,02m) = 0,16 joule

1 2
W pegas Wgesek = mv2
2
- 77 -

0,2 j - 0,16 j = 12 (1,6kg) v 22

0,04
v= = 0,05 = 0,22 m / s
0,8

2. tidak licin dengan sudut kemi-ringan

25o . Jika koefisien gesek antara benda


dengan bidang = 0,3 dan benda
berpindah sejauh 1 meter, maka usaha
totalnya adalah 4,8 joule. Hiyunglah :

Besar gaya konstan yang diberikan g= 9,8 m/s2


Jawab :

Usaha total Wtotal = Wgesek + Wolehgaya + Wgravitasi

Wtotal = mg cos 25o x + Fkons tan x - mg sin 25o x

4,8J = (0,3)(1,5kg )(9,8m / s 2 )(cos 25o )(1m)


4,8 = -4 + Fkons tan - 6,2

Fkons tan = 15 N
IV.3.1.1.2d. Usaha dan Tenaga Potensial (Ep)
Misalkan sebuah massa m bergerak dari y1 ke y 2 , maka usaha yang
dilakukan gravitasi adalah :
W = mg( y1 - y 2 ) ..........IV.10
W positif apabila massa jatuh y1 > y 2

W negatif apabila massa naik y1 < y 2


Jika massa bergerak naik maka usaha yang dilakukan melawan pengaruh
gravitasi, maka energi potensial adalah :
Ep = m g y ..........IV.11
Misalkan sebuah benda massanya m 1 dengan kecepatan v menumbuk benda lain
yang massanya m2 sehingga m2 bergeser sejauh h dan begitu menumbuk m1
berhenti . Pada peristiwa ini benda pertama menyerahkan semua energi kinetiknya
dan diterima oleh benda kedua berbentuk energi potensial yang biasa disebut
tenaga tempat.
1
m v 2 = m 2gh
2 1

IV.3.1.1.2e. Hukum Kekekalan Energi


Dapat dibayangkan jika sebuah batu dilempar keatas dengan kecepatan
vo (gerakan udara diabaikan). Maka batu tersebut mempunyai tenaga kinetik
maksimum dan tenaga potensialnya nol dan batu bergerak makin keatas kecepatan
semakin berkurang berarti tenaga kinetiknya makin berkurang sedang makin
tinggi tenaga potensialnya semakin besar, sehingga sampai ketinggian maksimum
kecepatannya nol berarti tenaga kinetiknya nol sedangkan tenaga potensialnya
maksimum. Selanjutnya keadaan turun kecepatan dari nol bertambah sehingga
tenaga kinetik makin bertambah sedangkan tenaga potensial makin berkurang.
Pada saat sampai ditanah diperoleh kecepatannya maksimun dan tenaga kinetik
maksimum sedang tenaga potensial nol.
E = Ek + Ep ..........IV.12

E = disebut energi mekanik = tetap


- 79 -

Kesimpulan :
Kenaikan tenaga kinetik akan disertai dengan penurunan tenaga potensial dan
sebaliknya kenaikan tenaga potensial akan diikuti penurunan tenaga kinetik.
Dalam kenyataan gaya-gaya yang bekerja tidak selalu gaya konservatif ( Wk )
tetapi juga gaya tidak konservatif( Wtk ), sehingga energi mekanik tidak lagi tetap.

Wk + Wk = Ek
Wk = Ek + Ep
Wtk = ( Ek 2 - Ek1 ) +( Ep 2 - Ep1 ) ..........IV.13
jadi energi oleh semua gaya tidak konservatif sama dengan perubahan energi
kinetik ditambah dengan perubahan energi potensial. Jika ditulis lagi dalam
bentuk persamaan :
Wtk = ( Ek 2 + Ep 2 )-( Ek1 + Ep1 )

Wtk = ( E 2 - E1 ) ..........IV.14
Usaha oleh semua gaya tidak konservatif sama dengan perubahan energi mekanik
sistem.

Contoh :
Sebuah batu kerikil dilemparkan mendatar dengan kecepatan awal 15 m/s dari

sebuah bukit setinggi 25 m dari tanah. Jika g = 10 m / s 2 hitunglah kecepatan batu


pada saat sampai di tanah.

Jawab :
Misalkan ketinggian bukit = h dan kecepatan sampai ditanah = v

m g h = m v 2 + m v o2

v 2 = v o2 + 2 g h = (15 m/s )2 + 2 (10 m / s 2 )(25 m)

= 225 + 500 = 725


v = 725 = 26,93m / s
IV.3.1.1.2f. Gaya Konservatif dan Gaya Tidak Konservatif
Gaya-gaya konservatif mempunyai ciri-ciri :
1. Gaya adalah konservatif jika kerja yang dilakukan pada benda dalam
menempuh lintasan tertutup sama dengan nol.

WAB = WBA

WAB + WBA = 0

2. Gaya adalah konsevatif jika kerja yang dilakukan pada sebuah benda yang
bergerak di atara dua titik tergantung pada lintasan yang ditempuhnya, hanya
tergantung pada keadaan benda dikedua titik.

Contoh :
Sebuah pegas ditekan maka gayanya negatif karena arahnya berlawanan
dengan arah penekanan dan usaha yang dilakukan negatif, setelah dilepas/ tidak
ditekan maka arah gaya ikut membalik arahnya (positif), sehingga usaha total
untuk pulang dan pergi sama dengan nol. Jadi gaya elastis pegas adalah gaya
konservatif.
Jika melempar batu massanya m keatas dengan kecepatan v setinggi h
maka tenaga potensialnya :
Ep = -m g h (- karena arah g selalu kebawah). Untuk pindahan horisontal tidak
ada usaha yang dilakukan gravitasi, sedang untuk perpindahan vertikal usaha yang
dilakukan tergantung posisi tidak tergantung lintasan yang ditempuh. Jika batu
kembali kesemula usaha totalnya sama dengan nol. Jadi gaya gravitasi adalah
gaya konsevatif.
Dari uraian diatas secara matematis gaya konservatif memenuhi persamaan :
x2

F .dx = 0 ..........IV.15
x1
- 81 -

Contoh :
Gaya tidak konservatif adalah gaya gesek, usaha oleh gaya gesek merupakan
hasil kali gaya gesek dengan panjang lintasannya

Contoh :
1. Sebuah massa 3 kg dengan kecepatanawal nol meluncur pada papan miring dan
kasar sepanjang 1 m (seperti gambar). Jika setelah sampai kebawah
kecepatannnya 1,583 m/s, hitunglah gaya geseknya.

Ep1 = mgy1 = (3kg)(10m / s 2 )(0,5m) = 15J

Keadaan akhir Ek 2 = 12 mv22 = 12 (3kg)(2,583m / s)2 = 10J

EP2 m g y2 = 0

Wtk = -Fg d = -Fg (1m) = -Fg

Masukkan ke persamaan IV.13

F .d = ( 1 mv22 - 0) + (0 - mgy1 ) = 10 -15 = 5


g 2
Fg = 5 N

2. Diketahui tiga bauah balok = 10 kg m 2 = 1 kg dan m3 =0,6 kg m 2 dan m3

dihubungkan dengan rali melalui roda yang licin sedangkan m2 dihubungkan


dengan dinding permanen melalui sebuah pegas dengan konstanta pegas 30 N/m.
Jika m1 diambil sedang koefisien gesek antara m 2 dengan lantai adalah 0,4 maka

hitunglah berapa jauh m3 turun ?.


Jawab : Misalkan m1 diambil maka m3 turun sejauh h maka m 2 juga bergeser

sejauh x = h

Wpegas = Wp = 12 kx 2 = 12 kh 2 = 12 (30m)h 2 = 15h 2

Wgesek = Wg = m 2gh = (0,4)(1kg )(10m / s 2 )h = 4h

Wgrav. = Wgrav + m3gh = (0,6kg )(10m / s 2 )h = 6h

Wgrav. Wp Wg = 0

6h 15 h 2 -4 h = 0 h = 0,13 m

IV.3.1.1.2g. Daya (P)


Daya didefinisikan sebagai usaha persatuan detik.
Satuan daya dalam SI adalah SI adalah joule/ detik didalam besaran listrik adalah
watt dengan lambang satuan W
W
P= ..........IV.16
t
Daya sesaat :
lim W dW
P= = ..........IV.17
t 0 t dt
Fds
P= = Fv ..........IV.18
dt
- 83 -

Contoh :
Sebuah benda massanya 3 kg bergerak mendatar. Pada saat benda di titik O
dengan kecepatan v = 3 m/s dan percepatannya sebagai fungsi waktu a = (6t-8)

m / s 2 . Hitunglah : Posisi, usaha dan daya yang dilakukan pada 4 detik pertama.

Jawab :
Kecepatan benda : dv = adt = (6 t 8)dt

v = 3t 2 - 8t + k1

syarat awal, pada t = 0, v = 3 m/s sehingga didapat karga k1 = 3


v = 3t 2 - 8 t + 3

Posisi benda :
dx = vdt = (3t 2 8t + 3)dt x = t 3 - 4 t 2 + 3t + k 2

dengan syarat awal, pada saat t = 0, x = 0 sehingga didapat karga k 2 = 0

x = t 3 - 4 t 2 + 3t = (4)3 - 4(4) 2 + 3(4) = 12m


Usaha yang dilakukan pada saat t = 4 detik pertama

W = F.dx = madx = mavdt = 3(6t 8)(3t 2 8t + 3)dt

4
= (53t 3 216t 2 + 246t 72)dt
0

[ ]4
W = 13,5t 4 72 t 3 + 123t 2 72 0 = 528 joule

Daya yang dilakukan pada saat t = 4 detik pertama :


d (Fdx )
P= = 54 t 3 - 216 t 2 + 246 t - 72 = 912J / s
dt
IV.3.1.2. Rangkuman

Kerja yang dilakukan pada sebuah partikel oleh gravitasi yang konstan dapat
dinyatakan dalam bentuk energi potensial
Kerja yang dilakukan oleh pegas yang ditarik atau ditekan menghasilkan gaya
dan energi potensial

IV.3.1.3. Test Formatif


1. Mobil massanya 1500 kg meluncur di atas jalan yang licin tanpa gesekkan
dengan kemiringan 30o, mengarah ke atas dengan kecepatan 45 km/jam,
tentukan kerja yang dilakukan mesin selama 5 menit dan dayanya.

2. Pertambahan liniar gaya yang dilukiskan seperti gambar pada benda yang
massanya 4 kg.
a. Carilah perubahan energi kinetik antara x1 = 2 m dengan x2 = 6 m
b. Jika kecepatan awal v1 = 8 m/s carilah v2.

60
40
20

0 1 2 3 4 5 6

IV.4 Kunci Jawaban Tes Formatif


1. E = 27, 56 . 106 J
P = 9,2 . 104 W

2. a). E = 160 Nm
b). v2 = 12 m/s
- 85 -

IV.5 Referensi
1. Alonsa, M; Finn, EJ.Physics, 1970, Addison-Wiesly Company Inc.
2. Beiser, A. The Maintsream of Physics, 1962, addisopn-Wiesly Publishing
Company Inc.
2. Berkelay Physics Course, Vol. 1, 2 and 3, 1965 Mc Graw-hill book
campany.
3. Tilley, DE, University Physics for Science and Enginering, 1976,
Cumming Publishing Company Inc.
BAB. V
MOMENTUM LINIER
DAN TUMBUKAN
SPBS 1301/3 SKS

FISIKA DASAR I
Oleh :
Drs. Ignatius Suraya
- 87 -

DAFTAR ISI
Materi Halaman

V.1. Pengantar 88
V.2. Kompetensi 88
V.3. Kegiatan Belajar 88
V.3.1. Kegiatan Belajar 1 : Momentum Linier dan Impuls 88
V.3.1.1. Uraian dan Contoh 88
V.3.1.1.1 Pendahuluan 88
V.3.1.1.2 Momentum Linier dan Impuls 88
V.3.1.2. Rangkuman 91
V.3.2. Kegiatan Belajar 2 : Tumbukan 92
V.3.2.1. Uraian dan Contoh 92
V.3.2.1.1 Pendahuluan 92
V.3.2.1.2a Tumbukan Sentral 92
V.3.2.1.2b Tumbukan Tidak Sentral 93
V.3.2.1.2c Tumbukan Elastis Sempurna 93
V.3.2.1.2d Tumbukan Elastis Tidak Sempurna 94
V.3.2.2. Rangkuman 97
V.3.3. Kegiatan Belajar 3 : Pusat Massa 98
V.3.3.1. Uraian dan Contoh 98
V.3.3.1.1 Pendahuluan 98
V.3.3.1.2 Pusat Massa 98
V.3.3.2. Rangkuman 101
V.3.4. Kegiatan Belajar 4 : Massa Berubah Dengan Waktu 101
V.3.3.1. Uraian dan Contoh 101
V.3.3.1.1 Pendahuluan 101
V.3.3.1.2 Gerak Roket 101
V.3.3.2. Rangkuman 102
V.4 Referensi 102
V.1. Pengantar
Pada saat anak-anak bermain kelereng dengan sistem permainan jika
menembak kelereng lawan mengenai maka dia akan dapat bermain lagi dengan
menembak musuh yang lain dan seterusnya. Untuk permainan ini diusahakan
setelah menembah mengenai lawan, kelerengnya mendekati kelereng musuh yang
lain (kebolehjadian menembak kena itu jika dari jarak dekat). Hal ini tidak dapat
diselesaikan dengan gaya atau Hukum newton, pendekatannya adalah dengan dua
konsep yaitu momentun dan impuls, dan hukum kekekalam momentum. Dalam
tumbukan dimungkinkan terjadi energi yang hilang, maka dalam penyelesaian
diperlukan hukum kekekalan energi.

V.2. Kompetensi
Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan dapat memahami dan mampu
menjelaskan serta menghitung/ menganalisa gerakan sistem partikel, membedakan
antara momentum linier dengan impuls, kecepatan dan percepatan benda sesudah
atau sebelum tumbukan, energi yang hilang akibat tumbukan, serta gerak pusat
massa suatu sistem partikel.

V.3. Kegiatan Belajar


V.3.1. Kegiatan Belajar 1 : Momentum Linier dan Impuls
V.3.1.1. Uraian dan Contoh
V.3.1.1.1 Pendahuluan
Pada Bab ini akan dipelajari hubungan gaya yang bekerja pada benda dan
waktu lamanya gaya itu bekerja dan juga dipelajari tumbukan yang mengakibat
kan benda yang bertumbukan tersebut dapat berubah kecepatannya dan juga arah
serta energinya

V.3.1.1.2 Momentum Linier dan Impuls


Momentum liniar yang biasa disebut dengan momentum ( p ), misalkan
sebuah benda yang mempunyai massa m bergerak dengan kecepatan v
didefinisikan :
- 89 -

p = mv ..........V.1
jadi momentum merupakan besaran vektor yang besarnya merupakan hasil kali
massa dengan kecepatannya, sedangkan arahnya searah dengan vektor
kecepatannya.
Persamaan V.1 dapat ditulis dalam bentuk komponen-komponen vektor :
p x = mv x ..........V.2a

p y = mv y ..........V.2b

p z = mv z ..........V.2c

Hubungan momentum liniar dengan gaya dikemukakan oleh Isaac Newton


adalah : perubahan momentum benda tiap satuan waktu sebanding dengan gaya
resultan yang bekerja pada benda dan berarah sama dengan gaya tersebut.
Secara matematis pernyataan tersebut dapat ditulis :

dp d dv
F= = ( mv ) = m = ma ..........V.3
dt dt dt
dp = Fdt . ..........V.4
Jika diintegralkan dari t1 sampai t 2
t2

p = p 2 p 1 = Fdt ..........V.5
t1

Integral gaya terhadap selang waktu bekerjanya gaya disebut impuls gaya ( I )
t2

I = Fdt = p ..........V.6
t1

jadi impuls gaya sama dengan perubahan momentum benda.


Satuan impuls sama dengan satuan momentum dalam SI adalah : kg m/s
Hukum Kekekalan Momentum Liniar
Jika resulta gaya luar yang bekerja pada benda sama dengan nol maka
momentumnya tetap atau kekal.
t2

Fdt = mv 2 mv 1 = 0 ..........V.7
t1

mv 2 = mv1 ..........V.8
jika ditulis dalam bentuk vektor :
p1x = p 2x ..........V.9a
p1y = p 2 y ..........V.9b

p1z = p 2z ..........V.9c
Hukum kekekalan momentum adalah hukum yang paling mendasar karena
tetap berlaku bagaimana sifat gayanya.
Contoh :
Bola dijatuhkan dari ketinggian 2 m tanpa kecepatan awal. Setelah
bertumbukan dengan lantai, bola terpantul keatas setinggi 1,8 m. Jika perubahan
momentum adalah 1,232 kg m/s.
Hitunglah :
a. Momentum sebelum dan sesudah menumbuk tanah :
b. Gaya rata-rata yang diserahkan lantai ke bola, jika waktu tumbukannya 10-2 s
Jawab :
a. kecepatan bola sebelum menumbuk tanah :

v1= 2ghq = 2(10m/ s2)(2m) = 6,32m/ s ke bawah.

kecepatan bola sesudah menumbuk tanah

: 12 mv 22 = mgh 2

v2 = 2gh2 = 2(10m / s2 )(1,8m) = 6,00m / s ke atas

momentum sebelum menumbuk tanah :


p1 = mv1 = (0,1 kg)(6,32 m/s) = 0,632 kg m/s
- 91 -

momentum sesudah menumbuk tanah :


p 2 = mv 2 = (0,1 kg)(6,00 m/s) = 0,600 kg m/s
Gaya rata-rata : p1 p2 = F t
(0,632 0,600) kg m/s = F (10-2 s)
F = 3,2 N

V.3.1.2. Rangkuman
Momentum dari partikel dengan massa m yang bergerak dengan kecepatan v
didefinisikan sebagai vektor p = mv
Dalam kaitannya dengan momentum, hukum Newton II untuk sebuah partikel
dp
dapat dinyatakan F =
dt
Perubahan momentum sebuah partikel di setiap selang waktu sama dengan
impuls dari gaya total yang bekerja pada partikel selama selang waktu tersebut
I = p2 p1
Momentum total sebuah sistem dari partikel a, b, c, . adalah jumlah vektor

dari momentum masing-masing partikel P = Pa + pb + Pc + .... =

ma va + mb vb + mc vc + ....
Jika total gaya luar pada sistem adalah nol, momentum total pada sisten adalah
konstan
V.3.2. Kegiatan Belajar 2 : Tumbukan
V.3.2.1. Uraian dan Contoh
V.3.2.1.1 Pendahuluan
Suatu benda yang bertumbukan dengan benda lain yang dalam keadaan
diam atau bergerak dapat ditentukan, selama benda-benda yang bertumbukan
gaya-gayanya diketahui. Jika gaya tidak diketahui dengan adanya prinsip
kekekalan momentum dapat diselesaikan.
Macamnya tumbukan :
1. Tumbukan Sentral
2. Tumbukan Tidak sentral
3. Tumbukan Elastik Sempurna
4. Tumbukan Elastik Tidak Sempurna

V.3.2.1.2a Tumbukan Sentral


Ciri dari tumbukan sentral adalah :
3. Mengikuti Hukum Kekekalan momentum
4. Tidak mengikuti Hukum Kekekalan energi

Dua benda sebelum tumbukan setelah tumbukan

v11 = kecepatan massa 1 sebelum tumbukan, arahnya kekanan harganya positif


v 21 = kecepatan massa 2 sebelum tumbukan, arahnya kekiri harganya negatif
v12 = kecepatan massa 1 sesudah tumbukan, arahnya kekiri harganya negatif

v 22 = kecepatan massa 2 sesudah tumbukan, arahnya kekanan harganya positif

m1 v11 + m2 v 21 = m1 v12 + m2 v 22 ..........V.10


- 93 -

V.3.2.1.2b Tumbukan Tidak sentral


Ciri dari tumbukan tidak sentral adalah :
1. Mengikuti Hukum Kekekalan momentum
2. Tidak mengikuti Hukum Kekekalan energi

m1 v11 + m2 v 21 = m1 v12 cos + m2 v 22 cos ..........V.11

V.3.2.1.2c. Tumbukan Elastik Sempurna


Ciri dari tumbukan elastik sempurna adalah :
Mengikuti Hukum Kekekalan momentum
Mengikuti Hukum Kekekalan energi

Jadi berlaku persamaan :

m1 v11 + m2 v 21 = m1 v12 + m2 v 22
..........V.12

1
m v 2 + 1 m v 2 = 1 m v 2 + 12 m2 v 222
2 1 11 2 2 21 2 1 12 ..........V.13
V.3.2.1.2d Tumbukan Elastik Tidak Sempurna
Ciri dari tumbukan tidak sentral adalah :
Mengikuti Hukum Kekekalan momentum
Tidak mengikuti Hukum Kekekalan energi

v11 = kecepatan massa 1 sebelum tumbukan


v 21 = kecepatan massa 2 sebelum tumbukan

v 2 = kecepatan massa 1 + massa 2 sesudah tumbukan

m1 v11 + m2 v 21 = ( m 1 + m2 ) v 2
..........V.14

Contoh :
1. Benda massanya m1 = 1 kg bergerak disepanjang sumbu x positif dengan
kecepatan v11 = 6 m/s menumbuk benda kedua massanya m 2 = 0,5 kg yang
bergerak juga ke sumbu x positif dengan kecepatan v 21 = 4 m/s. Jika
tumbukannya tidak elastik sempurna maka :
a. Hitunglah kecepatan benda setelah tumbukan
b. Hitunglah energi kinetik yang hilang pada saat tumbukan.
- 95 -

Jawab :
a. m 1 v11 + m2 v 21 = ( m1 + m2 ) v 2
m1v11 + m 2 v 21 (1kg )( 6 m / s ) + ( 0,5 kg )( 4 m / s )
v2 = = = 5,33 m / s
( m1 + m 2 ) (1kg + 0,5 kg )

b. Energi kinetik sebelum tumbukan

Ek1 = 12 m1 v11
2
+ 12 m2 v 221

= 12 (1 kg)(6 m/s )2 + 12 (0,5 kg)(4 m/s )2 = 22 J

Energi kinetik sesudah tumbukan

Ek 2 = 12 ( m1 + m2 ) v 22

= 12 (1 kg + 0,5 kg)(5,33 m/s )2 = 21,3 J

Energi yang hilang pada saat tumbukan =


Ek1 - Ek 2 = 22 J - 21,3 J = 0,7 J

2. Sebuah balok massanya 990 gram di atas papan licin yang dihubungkan
dengan pegas (k = 100 N/m). Jika sebuah peluru massanya 10 gram
menumbuk dan menancap pada balok sehingga pegas tertekan sepanjang 10
cm, hitunglah :
a. energi potensial pegas
b. kecepatan balok tepat sesaat setelah tumbukan.
c. kecepatan peluru sebelum menumbuk balok
d. energi yang hilang akibat tumbukan tersebut.
Jawab :
a. Energi pegas = 12 kx 2 = 12 (100N / m)(0,1m) 2 = 0,5J

1
b. 2
( mb + mp ) v 22 = 12 kx 2 = 0,5J

0,5J 0,5
v2 = 1 = 1 = 1m / s
2
( m b + m p ) 2
( 0,99 + 0,01) kg

c. Sebelum tumbukan

. mb v b + mp v p = ( mb + mp ) v 2

(0,99 kg)(0) +(0,01 kg) v p = ( 1 kg )(1 m/s )

v p = 100 m/s

d. Energi kinetik sebelum tumbukan


Ek1 = 12 mbvb2 + 12 mpv2p

= 12 (0,99kg ) + (0kg )2 + 12 (0,01kg )(100m / s )2 = 50 J

Energi kinetik ssesudah tumbukan

Ek 2 = 12 (m b + m p ) v 22 = 12 (0,00kg + 0,00kg )(1m / s) 2 = 0,5J Energi yang

hilang pada saat tumbukan = Ek1 - Ek 2


= 50 J 0,5 J = 49,5 J

3. Sebuah balok kayu massanya 3 kg digantung dengan dua tali yang sejajar dan
panjangnya sama. Sebuah peluru massanya 0,02 kg ditembakan mendatar
sehingga bersarang didalamnya dan akibatnya setelah ditembak balok bergeser
ke arah vertikal setinggi 25 kg.
Hitunglah : a. kecepatan sistem ke arah mendatar setelah ditembak.
b. kecepatan peluru sebelum menumbuk balok.
- 97 -

Jawab :

a. Energi kinetik diubah menjadi tenaga potensial

( mb + mp ) v 2bp = ( mb + mp ) g h

vbp = 2gh = 2(10m / s2 )(0,25m) = 0,707m / s kecepatan mendatar

b. mb v b + mp vp = ( mb + mp ) v bp

0 + (0,02 kg) v p = (3 kg +0,02 kg)(0,707 m/s)

v p = 106,757 m/s

V.3.2.2. Rangkuman
Tumbukan dapat diklasifikasikan berdasarkan hubungan energi dan
kecepatan akhir. Pada tumbukan elastis sempurna terjadi antara dua benda yang
bertumbukkan dengan hasil jumlah momentum sebelum tumbukan sama dengan
jumlah momentum setelah tumbukan dan jumlah energi kinetik sebelum
tumbukan sama dengan jumlah energi kinetik setelah tumbukan. Tetapi pada
tumbukan elastis tidak sempurna jumlah momentum sebelum tumbukan sama
dengan jumlah momentum setelah tumbukan tetapi jumlah energi kinetik sebelum
tumbukan lebih besar dari jumlah energi kinetik setelah tumbukan sehingga setiap
tumbukan akan terjadi energi yang hilang selama tumbukan tersebut.
V.3.3. Kegiatan Belajar 3 : Pusat Massa
V.3.3.1. Uraian dan Contoh
V.3.3.1.1 Pendahuluan
V.3.3.1.2 Pusat Massa

Vektor posisi pusat massa sistem partikel yang terdiri banyak partikel.

m1r + m 2 r2 + m3 r3 + ...
rp = ..........IV.15
m1 + m 2 + m3 +...

rp = vektor posisi pusat massa

1 n
rp = m i ri ..........IV.16
M i =1

n
M= m i = m 1 + m 2 + m 3 + ......
i =1

jadi koordinator pusat massa


n
1
xp = mixi ..........IV.16.a
M i =1

1 n
yp = mi yi ..........IV.16.b
M i =1

1 n
zp = mizi ..........IV.16.c
M i =1

pusat massa benda tegar dicari dengan membagi-bagi menjadi n buah elemen
sehingga setiapm elemen massanya m.
- 99 -

m1r + m 2 r2 + m3 r3 + ...
rp =
m1 + m2 + m3+...
n
m i ri
rp = i =1
n
..........IV.17
m i
i =1

jika elemen massa diatas dibagi lagi sehingga mendekati 0, maka persamaan
diatas dapat ditulis :
n
m i ri r dm
rp = i =1
n
=
m i dm
i =1

koordinasi pusat massa :


1
xp = xdm ..........IV.18.a
M
1
yp = ydm ..........IV.18.b
M
1
zp = zdm ..........IV.18.c
M
Mrp = m1r1 + m 2r2 + m3r3 + ...... + m n rn

didefrensialkan ke dt diperoleh :
d rp dr dr dr dr
M = m1 1 + m 2 2 + m3 3 + ...... + m n n
dt dt dt dt dt
Mv p = m1v1 + m 2 v 2 + m3v3 + ...... + m n v n ..........IV.19

didefrensialkan lagi ke dt diperoleh :


dv p dv1 dv dv dv
M = m1 + m 2 2 + m3 3 + ...... + m n n
dt dt dt dt dt
Ma p = m1a1 + m 2a 2 + m 3a 3 + ...... + m n a n ..........IV.20

Ma p = F1 + F2 + F3 + ...... + Fn ..........IV.21
Contoh : m1 = 6 kg pada titik (4;2) m dengan gaya 10 N k

m2 = 3 kg pada titik (-3;3) m dengan gaya 6 N i

m3 = 4 kg pada titik (2;-6) m dengan gaya 4 N i


Tentukan percepatan pusat massa.
Jawab :

Koordinat pusat massa :

(6kg )(4m)+ (3kg )( 3m) + (4kg )(2m) 23


xp = = m
(6 + 3 + 4)kg 13

(6kg )(2m)+ (3kg )(3m) + (4kg )( 6m) 3


yp = = m
(6 + 3 + 4)kg 13

Jadi koordinat pusat massa pada titik = ( 23/13 ; -3/13 ) m


Jumlah gaya ke sumbu x adalah = Fx = (-6 + 4 ) N i = -2 N i

Jumlah gaya ke sumbu y adalah = Fy = 10 N k

Besar gaya resultan :

F= ( 2 Ni ) 2 + (10 Nk ) 2 = 104 = 10,2m / s 2


- 101 -

V.3.3.2. Rangkuman
Pusat massa sebuah sistem bergerak seolah-olah seluruh massa M
dikonsentrasikan pada pusat massa. Jika gaya luar total pada sistem adalah nol,
kecepatan pusat massa vcm adalah konstan. Jika gaya luar tidak nol, pusat massa
mengalami percepatan.

V.3.4. Kegiatan Belajar 4 : Massa Berubah Dengan Waktu


V.3.3.1. Uraian dan Contoh
V.3.3.1.1 Pendahuluan
Untuk membahas masalah massa yang berubah dengan waktu dapat
dimisalkan dengan gerak suatu roket yang dikarenakan gerak roket akan diikuti
pemabaran bahan bakarnya sehingga bahan bakar semakin berkurang dengan
demikian massa akan berkurang.

V.3.3.1.2 Gerak Roket


Roket meluncur dikarenakan adanya pancaran sebagian massa
(pengurangan bahan bakar karena dibakar sebagai tenaga) yang arahnya
kebelakang, sedangkan gaya kedepan pada roket adalah gaya reaksi terhadap
pancaran sebagian massanya.
Misalkan kecepatan roket v arahnya vertikal nisbi terhadap bumi, kecepatan
bahan bakar v , nisbi terhadap bumi atau v , - v terhadap roket.
Massa roket + bahan bakar = m, jadi impuls sistem pada saar t =
p = mv
dalam waktu dt massa dari bahan bakar habis terbakar dan kecepatan roket
bertambah dengan dv dan impuls sistem pada saat t + dt adalah =
p , = (m dm)( v + dv) + dmv, ( m dm )( v + dv) = impuls roket

p , = mv dmv + mdv + dmdv + dmv,

dmv , = impuls gas


dmv , = impuls gas
jadi perubahan impuls dalam waktu dt
dp = p, p = mdv dmv + dmv, = mdv + dm(v, v) = mdv + dmvr

dimana v, v = v r = kecepatan bahan bakar nisbi terhadap roket


dp dv dm
F= =m + v
dt dt dt r
dv dm dv dm
m = F- v m = -mg - v dibagi dt/m
dt dt r dt dt r
v t m
dm
dv = gdt v r
vo o mo
m

mo
v - v o = -gt - v r ln ..........V.22
m
jika v o = 0

mo
v = -gt - v r ln ..........V.23
m

V.3.3.2. Rangkuman
Dalam masalah daya dorong roket, massa roket berubah ketika bahan
bakar terbakar dan dibuang. Analisis dari gerak roket harus mencakup momentum
yang dibawa pergi oleh bahan bakar beserta momentum roket itu sendiri.

V.4. Referensi
1. Alonsa, M; Finn, EJ.Physics, 1970, Addison-Wiesly Company Inc.
2. Beiser, A. The Maintsream of Physics, 1962, addisopn-Wiesly Publishing
Company Inc.
3. Berkelay Physics Course, Vol. 1, 2 and 3, 1965 Mc Graw-hill book
campany.
4. Tilley, DE, University Physics for Science and Enginering, 1976,
Cumming Publishing Company Inc.
- 103 -

BAB. VI
MEKANIKA BENDA TEGAR
SPBS 1301/3 SKS

FISIKA DASAR I
Oleh :
Drs. Ignatius Suraya
DAFTAR ISI

Materi Halaman

VI.1. Pengantar 105


VI.2. Kompetensi 105
VI.3. Kegiatan Belajar 105
VI.3.1. Kegiatan Belajar : Mekanika Benda Tegar 105
VI.3.1.1. Uraian dan Contoh 105
VI.3.1.1.1 Pendahuluan 105
VI.3.1.1.2a Momen Gaya 105
VI.3.1.1.2b Momen Sudut 106
VI.3.1.1.2c Torkas Gaya dan Momen Inersia 109
VI.3.1.1.2d Momen Inersia Benda Tegar 110
VI.3.1.1.2e Energi Kinetik Rotasi Benda Tegar 114
VI.3.1.1.2f Menggelinding 115
VI.3.1.1.2g Momentum Sudut dan Hukum Kekekalan 117
Momentum Sudut
VI.3.1.2. Rangkuman 119
VI.4 Referensi 119
- 105 -

VI.1. Pengantar
Dalam Bab ini akan dipelajari Mekanika benda Tegar yang meliputi
Momen Gaya, Momen Sudut, Torkas Gaya dan Momen Inersia, Momen Inersia
Benda Tegar, Energi Kinetik Rotasi Benda Tegar, Momentum Sudut dan Hukum
Kekekalan Momentum Sudut

VI.2. Kompetensi
Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan dapat memahami dan mampu
menjelaskan serta menghitung/menganalisa tentang konsep momen gaya,
momentum sudut, Hukum Kekekalan momentum sudut serta momen inersia

VI.3. Kegiatan Belajar


VI.3.1. Kegiatan Belajar 1 : Mekanika Benda Tegar
VI.3.1.1. Uraian dan Contoh
VI.3.1.1.1 Pendahuluan
Pembahasan pada Bab sebelumnya membahas kerja untuk menggerakan
suatu partikel yang digunakan untuk mengubah posisi (ketinggian) atau mengubah
kecepatan yang biasa disebut sebagai tenaga potensial atau tenaga kinetik. Pada
Bab ini membahas momentum sudut dan kekekalan momentum sudut juga
dibahas pengertian momen inersia sebagai benda tegar.

VI.3.1.1.2a Momen Gaya


Jika sebuah partikel p yang posisinya di r, bekerja gaya F maka momen
gaya yang bekerja pada partikel p terhadap titik didefinisikan sebagai :

= r xF ..........VI.1

F lengan momen
adalah besaran vektor yang besarnya
adalah :

= = r F sin = r F ..........VI.2
adalah sudut yang dibentuk anatar r dan F
Arah momen gaya mengikuti arah majunya skrup bila diputar arahnya dari
r menuju F melalui sudut terkecil.
r sin = r adalah : 1. komponen r tegak lurus pada garis F

2. disebut lengan momentum

F sin = F adalah : komponen F tegak lurus pada r

VI.3.1.1.2b Momen Sudut

Ditinjau sebuah partikel


massanya m yang bergerak
diatas bidang datar dengan
kecepatan v.

Momen-tum sudut partikel disekitar titik O diperoleh dari hasil perkalian antara
vektor r dengan vektor p.
Momentum sudut L disefinisikan sebagai :
L = r xp ..........VI.3

L = r xmv ..........VI.4
karena m konstan secara vektor L = m r xv ..........VI.5
Momen sudut adalah besaran vektor yang besarnya :
L = rp sin ..........VI.6
adalah sudut yang dibentuk antara r dan p
Arah momentum sudut adalah mengikuti arah majunya skrup apabila diputar dari
r menuju p melalui sudut terkecil. Momen sudut merupakan vektor yang tegak
lurus bidang yang dinyatakan oleh r dan v. Momentum sudut dari suatu partikel
secara umum mengubah besar dan arah gerak partikel. Jadi jika partikel bergerak
didalam bidang datar dan titik 0 juga berada pada bidang tersebut, maka arah
momentum sudut sama dengan arah normal dari bidang tersebut.
- 107 -

Jika partikel bergerak melingkar pada bidang datar dengan jari-jari r


yang tegak lurus dengan kecepatan v dan pusatnya pada titik 0, sehingga

v = r
Maka :

L = mrv = mr 2 ..........VI.7

Jika lintasan gerak partikel tidak berbentuk lingkaran melainkan berupa garis
lengkung, maka kecepatan v dapat diuraikan menjadi kecepatan transversal ( v tr )

dan kecepatan radial ( v r ), sehingga :


v = v tr + v r ..........VI.8
momentum sudut dapat ditulis :
L = m r x ( v tr + v r ) ..........VI.9

karena r sejajar dengan v r maka r x v r sama dengan nol, sehingga


L = m r x ( v tr ) ..........VI.10

karena x tegak lurus dengan v tr maka persamaan VI.10 dapat ditulis :

L = mrv tr ..........VI.11

d
v tr = r dan = sehingga persamaan VI.11 dapat ditulis :
dt
d
L = mr 2 ..........VI.12
dt
Momen sudut L merupakan perkalian vektor, dapat diselesaikan dengan :

i j k i j
L = r xp = x y z x y
px py pz px py

L x = ypz - zp y

L y = zpx - xpz

L z = xp y - ypx

Jika partikel bergerak pada bidang xy maka z = 0 sehingga p z = 0 sehingga

L x = L y = 0 dan Lz yang masih ada. Jadi momentum sudut arahnya tegal lurus

pada bidang.
- 109 -

VI.3.1.1.2c Torkas Gaya dan Momen Inersia

Contoh gambar dibawah ini menyebabkan terjadinya rotasi. Pada putaran


yang sama untuk tangkai yang panjang dihasilkan gaya yang kecil sedang untuk
lengan yang pendek akan dihasilkan gaya yang besar. Puntiran oleh gaya tersebut
dinamakan torkas atau kopel.

Gaya yang melakukan puntiran hanyalah komponen gaya yang tegak lurus lengan
yaitu F sin , sedangkan gaya yang searah atau sejajar hanyalah menekan atau
menarik baut tanpa memutar. Torka yang dilakukan oleh gaya pada mur baut
adalah :
= r xF ..........VI.13
besar torka dapat ditulis : = rF sin
dp
F= ..........VI.14
dt
Jika persamaan ini dikalikan dengan vektor r, maka diperoleh :
dp
r xF = r x
dt
dp
= rx ..........VI.16
dt
ika persamaan VI.4 didefrensialkan terhadap dt maka :
dL d dp
= ( r xp) = r x ..........VI.17
dt dt dt
dr
dimana : xp = 0
dt
dL
= = r xF ..........VI.18
dt
ini menyatakan bahwa kecepatan perubahan momentum sudut partikel terhadap
waktu sama dengan momen gaya yang bekerja bekerja pada partikel tersebut.
Momentum sudut untuk sistem.
partikel L, dicari dengan menjumlahkan semua momentum sudut masing-masing.
Untuk n partikel :

L tot = L1 + L 2 + L3 + ......+ L n
n n
L tot = rj xp j = m j rj xv j ..........VI.19
j1 j1

misalkan setiap massa mengikuti lintasan melingkar sebagai rotasi dengan


kecepatan sudut selalu sama, maka :
v j = x rj

n
L tot = m j . rj2 ..........VI.20
j1

n
Momen inersia : I = m j . rj2 ..........VI.21
j1

Jadi L tot = I ..........VI.22

dL tot d I
Jika didefrensialkan ke dt akan menjadi =
dt dt
=I ..........VI.23
d. adalah percepatan sudut

VI.3.1.1.2d Momen Inersia Benda Tegar

Benda tegar adalah posisi satu partikel terhadap partikel yang selalu tetap
tidak terkonsentrasi pada satu titik, tetapi tersebar merata seperti dalam suatu
cakram atau bentuk lin. Dalam contoh ini dibahas benda berbentuk lingkaran
dimana massanya tersebar merata di tepi lingkaran. Massa dibagi menjadi n
- 111 -

bagian (elemen) dan setiap bagian massanya adalah m maka jumlah momen
inersia adalah :
n
I= m j . rj2
j1

Apabila r2 = r adalah sama untuk masing-masing elemen Am, maka momen


inersia roda dapat di tulis menjadi
n
I = r2 m i = mr 2 ..........VI.24
i 1

misalkan massa jenis dari massa elemen


homogen adalah : (rho) sehingga : m =
v sehingga dari Persamaan VI.21
diintegralkan dapat ditulis :

I = r 2 dv sumbu z sebagai sumbu rotasi maka :

I z = ( x 2 + y 2 )dv ..........VI.25.a

analog jika sumbu x dan y sebagai sumbu rotasi :

I x = ( y 2 + z 2 )dv ..........VI.25.b

I y = ( x 2 + z 2 )dv ..........VI.25.c

Contoh : berikut ini untuk benda berupa plat.


Misalkan sumbu z adalah sembarang dan z p adalah sumbu yang sejajar dengan

sumbu z yang melewati pusat massa dan jarak antara sumbu z dan sumbu z p = a

maka menurut teorema Steiner :

I = Ip + Ma 2 ..........VI.26

I adalah momen inersia benda terhadap sumbu z dan Ip adalah: momen inersia

benda terhadap sumbu z p


M adalah massa benda

I = MK 2 atau K = I / M
K : radius girasi suatu benda
satuan dari momen inersia dalam

satuan SI (mks) adalah m 2kg

Contoh :
Buktikan bahwa momen inersia dari sebuah tongkat tipis homogen panjang L dan
luas penampangnya A yang kecil jika :
c. Sumbunya tegak lurus pada tongkat di salah satu ujung tongkat adalah :

I = 13 ML2

d. Sumbunya tegak lurus pada tongkat di pertengahan tongkat adalah :

I = 13 ML2

Jawab :
a. Sumbu rotasi melalui salah satu ujung tongkat.

Jika tongkat dipotong-potong


menjadi ba-nyak bagian dan
seti-ap bagian panjangnya dx
dan volumenya dV = A dx,
maka momen inersianya :
L L
I A = x 2 ( Adx ) = Ax 2 dx
0 0

I A = 13 AL3 = 13 ML2

AL : volume tongkat dan AL : M (massa)

K 2 = 13 L2
- 113 -

b. Sumbu rotasi melalui pertengahan tongkat.

dapat dianggap terdiri dari tongkat yang panjangnya masing-masing L dan


massanya M.

IC = 2( 13 )( 12 M )( 12 L) 2 = 12
1
ML2

dapat juga dicari dengan jalan lain yaitu dengan teori Steiner :

I A = IC + M ( 12 L) 2 dan IC = IA - 14 ML2 = 12
1
ML2

Daftar harga radius girasi (K) dan momen inersia (I)


Contoh :
Sebuah roda berbentuk silinder pejal dengan jari-jari 25 cm, massanya 10 kg
dan dililiti dengan tali yang diberi beban massanya 15 kg. Hitunglah : percepatan
sudut roda tersebut.
Jawab :

Tegangan tali akibat dari gaya berat W = m 2 g.


Tegangan ini mengakibatkan tokas pada roda
sebesar rT.
Dengan Hukum Newton II diperoleh :
m 2g T = m 2a
gerak translasi dan untuk gerak rotasi adalah :

rT = 12 m1r 2 a = r atau = a/r

rT = 12 m1r 2a / r

T = 12 m1a dimasukkan ke persamaan di atas m 2g - 12 m1a = m 2a

2m 2g 2(15kg)(10m / s 2 ) 300
a= = = = 7,5m / s 2
2m 2 + m1 2(15kg) + (10kg) 40

jadi = a/r = (7,5m / s 2 )(0,1m) = 75rad / s 2

VI.3.1.1.2e Energi Kinetik Rotasi Benda Tegar


Untuk membahas gerak rotasi disini khusus gerak rotasi terhadap sumbu
tetap. Jika sebuah benda tegar yang berotasi dengan kecepatan sudut ,
mengelilingi suatu sumbu tetap. Masing-masing partikel yang bermassa m
mempunyai energi kinetik.
n
Ek = 1
2
m i v i2 = 1
2
m i ri2 i2 ..........VI.27
i =1

Jadi energi kinetik total dapat ditulis :


- 115 -

Ek = 1
2
[m r ]
i i
2 2
i = 12 Ii2 ..........VI.28

VI.3.1.1.2f Menggelinding
Menggelinding adalah kombinasi antara gerak translasi pusat massa dan
rotasi pusat massa. Sebagai contoh sebuah silinder menggelinding diatas lantai
datar, jika tidak tergelincir (slep) maka bagian silinder yang berada dibagian
bawah atau bersinggungan dengan lantai (titik Q) pada saat itu harus dalam
keadaan diam. Setiap titik berotasi murni terhadap titik Q, oleh sebab itu titik Q
disebut sumbu sesaat. Diperhatikan bahwa titik Q kecepatannya v Q = 0, titik P

kecepatannya v p = R dan titik R kecepatannya

vR = 2 R

Energi kinetik gerak menggelinding :

E k = 12 Mv2p + 12 I p 2

Energi kinetik rotasi terhadap sumbu


pusat P :

E k = 12 Ip 2

menurut teorema sumbu sejajar, momen kelembaman terhadap sumbu pusat Q

IQ = I p + ML2

adalah jarak pusat massa ke sumbu sesaat Q jadi :

IQ = I p + MR 2

Sehingga energi kinetik rotasi terhadap sumbu sesaat Q :

E k = 12 IQ 2 = 12 I p 2 + 12 Mv 2p ..........VI.29

Supaya silinder tidak tergelincir serta dapat melakukan gerak rotasi, diperlukan
adanya gaya gesek statik antara silinder dengan permukaan lantai. Perlu diketahui
gaya gesek statik ini tidak melakukan kerja, karena tidak ada gerak relatif antara
silinder dengan lantai. Jadi silinder yang menggelinding tidak kehilangan energi
karena adanya gaya gesek
Contoh :

Sebuah silinder massanya M dan Jari-jari R menggelinding tanpa


tergelincir diatas papan miring tingginya h dan panjang yang ditempuh adalah s
dan gaya geseknya Fg. Carilah : percepatan pada saat menggelinding dan
kecepatan pusat massa pada saat silinder sampai didasar bidang miring tersebut.
Jawab :
Fx = - M a
Fg M g sin = - M a
Gaya gesek = N tidak membuat tokas pada silinder karena titik tangkapnya
pada dasar silinder bukan pada pusat silinder. Gaya gesek pada pusat silinder C
dengan jari-jari R dinamakan Fgc yang melakukan torkas dan besarnya adalah :

Fgc R = I I : gerak rotasi sekeliling pusat massa

untuk silinder tegar I = M R 2 dan = a/R, sehingga :


Fgc = I /R = M a

Fgc - M g sin = - M a

M a - M g sin = - M a
a = 2/3 g sin = (2 g h)/(3 s) percepatan tetap
Pusat massa bergerak dengan percepatan tetap, maka dengan persamaan :

v 2 - vo2 = 2a ( x - x o )

dimana vo = 0 dan xo = 0 diperoleh persamaan :

4
v = 2as = gh
3
- 117 -

VI.3.1.1.2g Momentum Sudut dan Hukum Kekekalan Momentum Sudut


Suatu zarah dengan massa m mempunyai jarak r dari titik O bergerak
dengan kecepatan v yang membuat sudut dari r, maka momentum p = mv
sedang definisi momentum sudut adalah :
L = r xp = r xmv = m r xv ..........VI.30

L = mr 2 sin ..........VI.31
dimana adalah sudut antara v dan r

jika m bergerak melingkar maka :

L = mr 2

dL = d ( r xp )

dL dp dr
= ( rx ) + ( xp) = rxF + vxmv = rxF + mvxv = rxF =
dt dt dt

vxv = 0 (perkalian vektor)


= dL / dt = r xF = momen gaya ..........VI.32
jika = 0, maka : = dL / dt = r xF = 0

berarti : 1. F = 0 zarah bebas


2. F // r
3. Harga L tetap (konstan)
Jika momen gaya eksternal resultan yang bekerja pada sistem sama dengan nol,
maka vektor mementum sudut total sistem adalah konstan. Pernyataan tadi biasa
dikenal sebagai Hukum Kekekalan Momentum Sudut.
Untuk suatu sistem yang terdiri dari banyak partikel, maka momentum sudut total
terhadap suatu titik tertentu :

L = L1 + L 2 + L3 + ...... + L n ..........VI.33
Jika momen gaya eksternala sama dengan nol, maka :
L = I = tetap I : kelembaman rotasi terhadap sumbu
Contoh :
Sebuah papan berbentuk lingkaran massanya 80 kg dan jari-jarinya 2 m,
berputar horizontal tanpa gesekkan. Orang yang massanya 40 kg berjalan
berlahan-lahan dari tepi menuju pusat lingkaran dengan kecepatan sudut 1 rad/s.
a. Tentukan kecepatan sudut ketika menempuh setengah perjalanan.
b. Hitunglah perubahan energi system.

Jawab :
Untuk mengerjakan ini diambil kondisi awal pada saat arang di tepi dan kondisi
pada saat orang di titik pusat.
* Pada saat orang ditepi lingkaran :

I1 = I p + Io = 12 MR 2 + MR 2

I1 = 12 (80kg)(2m) 2 + (40kg)(2m) 2 = 320kgm 2

Ip = momen kelembaman papan terhadap pusatnya.

Io = momenkelembaman orang.

a. Pada saat orang disetengah perjalanan

I 2 = I p + Io = 12 MR 2 + MR 2

I2 = 12 (80kg)(2m)2 + (40kg)(1m) 2 = 200kgm2

karena tidak ada momen gaya dari luar pada system, maka :
L1 = L 2

I1 1 = I2 2
- 119 -

I1 1 (320kgm 2 )(2rad / s)
2 = = = 3,2rad / s
I2 ( 200kgm 2 )
b. Perubahan energi kinetic
E k = E k1 - E k 2 = 1
2 I 1 12 - 12 I 2 22

= 12 (200kgm 2 )(3, 2rad / s ) 2 - 12 (320kgm 2 )(2 rad / s ) 2

= 384 joule

VI.3.1.2. Rangkuman
Ketika sebuah benda tegar berotasi pada sumbu tetap, posisinya digambar-
kan dengan koordinat sudur . Kecepatan sudut didefinisikan sebagai turunan
dari koordina sudut . Percepatan sudut didefinisikan sebagai turunan dari
kecepatan sudut atau turunan kedua dari koordinat .

VI.4 Referensi
1. Alonsa, M; Finn, EJ.Physics, 1970, Addison-Wiesly Company Inc.
2. Beiser, A. The Maintsream of Physics, 1962, addisopn-Wiesly Publishing
Company Inc.
3. Berkelay Physics Course, Vol. 1, 2 and 3, 1965 Mc Graw-hill book
campany.
4. Tilley, DE, University Physics for Science and Enginering, 1976,
Cumming Publishing Company Inc.
BAB. VII
KESEIMBANGAN BENDA
TEGAR
SPBS 1301/3 SKS

FISIKA DASAR I
Oleh :
Drs. Ignatius Suraya
- 121 -

DAFTAR ISI

Materi Halaman

VII.1. Pengantar 122


VII.2. Kompetensi 122
VII.3. Kegiatan Belajar 122
VII.3.1. Kegiatan Belajar : Keseimbangan Benda Tegar 122
VII.3.1.1. Uraian dan Contoh 122
VII.3.1.1.1 Pendahuluan 122
VII.3.1.1.2a Keseimbangan Benda Tegar 122
VII.3.1.2. Rangkuman 124
VII.4 Referensi 125
VII.1. Pengantar
Dalam Bab ini akan dipelajari masalah Keseimbangan Benda Tegar yang
dimaksud dengan benda tegar adalah benda padat yang dapat menopang benda
lain yang diletakkan di atasnya, tanpa mengalami perubahan bentuk

VII.2. Kompetensi
Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan dapat memahami dan mampu
menjelaskan serta menghitung/menganalisa percepatan linier pusat massa,
percepatan sudut yang mengelilingi sumbu tetap

VII.3. Kegiatan Belajar


VII.3.1. Kegiatan Belajar : Keseimbangan Benda Tegar
VII.3.1.1. Uraian dan Contoh
VII.3.1.1.1 Pendahuluan
Pada bab ini akan dibahas mengenai kondisi suatu benda tegar yang tidak
mengalami translasi maupun rotasi walaupun benda itu mengalami gaya atau
torkas, sehingga benda tersebut dalam keadan setimbang.

VII.3.1.1.2a Keseimbangan Benda Tegar


Benda tegar dikatakan dalam keadaan setimbang jika :
a. Percepatan linear pusat massanya sama dengan nol (a p = 0)

Berdasarkan Hukum Newton II, untuk benda dalam keadaan diam atau
bergerak dengan kecepatan konstan, maka :
F = ma = 0 ..........VII.1

Jumlah vector dari semua gaya eksternal yang bekerja pada benda diam
(keadaan setimbang) sama dengan nol.
b. Percepatan sudut yang mengelilingi sumbu tetap sama dengan nol ( = 0)

= I = 0 ..........VII.2
- 123 -

Jumlah vector dari semua momen gaya eksternal yang bekerja pada benda diam
(keadaan setimbang) sama dengan nol.

Contoh 1 :
Sebuah balok massanya m panjang l dan kedua ujungnya diletakkan diatas
kuda kuda. Jika balok homogen maka pusat massa ditengah-tengah dan jika tidak
homogen pusat massanya tidak ditengah. Maka besar gaya penopang kuda-kuda
adalah :

F1 = F2 = 12 mg

Contoh 2 :
Sebuah papan loncat tebal l dan panjang c. Pada ujung kiri diklem dan pada jarak
a juga diklem.
Misal pusat massanya pada jarak b dan pada ujung balok kanan ada orang
berdiri.
Diambil penopang kiri sebagai porosnya.
Gaya vertical yang bekerja
F =0
F1 + F2 W1 W2 = 0
Torkas yang arahnya keatas dianggap positip

F1(0) + F2 (a) W1(b) W2 (c) = 0

F2 = ( ba ) W1 + ( ac ) W2

dimasukan ke persamaan diatas :

F1 = W1 + W2 - F2

F1 = W1 + W2 - ( ba ) W1 - ( ac ) W2 = (1 - ba ) W1 + (1 - ac ) W2

dimana W1 = m pg mp = massa papan

W2 = m0g mo = massa orang

F1 = (1 - ba )mpg + (1 - ac )mog

VII.3.1.2. Rangkuman
Benda tegar dikatakan dalam keadaan setimbang jika percepatan linear
pusat massanya sama dengan nol (a p = 0) dan percepatan sudut yang

mengelilingi sumbu tetap sama dengan nol ( = 0)


- 125 -

VII.4 Referensi
1. Alonsa, M; Finn, EJ.Physics, 1970, Addison-Wiesly Company Inc.
2. Beiser, A. The Maintsream of Physics, 1962, addisopn-Wiesly Publishing
Company Inc.
3. Berkelay Physics Course, Vol. 1, 2 and 3, 1965 Mc Graw-hill book
campany.
4. Tilley, DE, University Physics for Science and Enginering, 1976, Cumming
Publishing Company Inc.
BAB. VIII
GETARAN SELARAS
SPBS 1301/3 SKS

FISIKA DASAR I
Oleh :
Drs. Ignatius Suraya
- 127 -

DAFTAR ISI

Materi Halaman

VIII.1. Pengantar 128


VIII.2. Kompetensi 128
VIII.3. Kegiatan Belajar 128
VIII.3.1. Kegiatan Belajar : Getaran Selaras 128
VIII.3.1.1. Uraian dan Contoh 128
VIII.3.1.1.1 Pendahuluan 128
VIII.3.1.1.2a Gerak Harmonik Sederhana 130
VIII.3.1.1.2b Energi Gerak Harmonik Sederhana 131
VIII.3.1.1.2c Aplikasi Gerak Harmonik Sederhana 134
VIII.3.1.1.2d Superposisi dua Gerak Harmonik Sederhana 138
VIII.3.1.2. Rangkuman 144
VIII.3.1.3. Test Formatif 144
VIII.4 Kunci Jawaban Tes Formatif 145
VIII.5 Referensi 146
VIII.1. Pengantar
Sebuah benda yang mengalami gerak periodik selalu mempunyai posisi
setimbang yang stabil. Jika benda tersebut dijauhkan dari posisi ini dan dilepaskan
akan timbul suatu gaya untuk menarik benda tersebut kembali ke posisi
setimbangnya. Akan tetapi pada saat benda tersebut mencapai setimbangnya,
benda tersebut telah memiliki energi kinetik sehingga melampaui posisi tersebut
dan berhenti di suatu tempat pada posisi yang laindan kemudian kembali ke posisi
setimbangnya. Sehingga dapat dibayangkan suatu benda bergerak maju-mundur
melewati titik setimbangnya.

VIII.2. Kompetensi
Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan dapat memahami dan mampu
menjelaskan serta menghitung/ menganalisa prinsip gerak harmonik sederhana

VIII.3. Kegiatan Belajar


VIII.3.1. Kegiatan Belajar : Getaran Selaras
VIII.3.1.1. Uraian dan Contoh
VIII.3.1.1.1 Pendahuluan
Gerak yang berulang dalam selang waktu yang sama disebut gerak
periodic. Gerak periodik ini selalu dapat dinyatakan dalam fungsi sinus atau
cosinus. Oleh sebab itu gerak periodik disebut gerak harmonik. Jika gerak
harmonik ini melewati lintasan yang sama disebut getaran atau isilasi.
Waktu untuk menempuh lintasan bolak-balik disebut Periode (T) satuannya dalam
detik (s), sedangkan banyaknya getaran/putaran setiap satuan waktu disebut
Frekwensi (f) satuannya dalam putaran perdetik atau hertz. Maka hubungan
keduanya adalah :
1
T= atau Tf =1 ..........VIII.1
f
Juga dari difinisi frekuensi sudut
= 2f = (2)/T ..........VIII.2
- 129 -

Contoh :
Suatu transduser ultrasonik (semacam pengeras suara) digunakan untuk diaknosa
medis pada frekuensi 6,7 MHz = 6,7 . 106 Hz. Berapa lama waktu yang diperlukan
untuk posisi, dan berapa frekuensi sudutnya?
Jawab :
1 1
T= = = 1,5.107 s
f 6, 7.106 Hz
frekuensi sudut
= 2f = (2)/T = 2 ( 6,7 . 106 Hz)
= (2 rad/siklus)(6,7 . 106 siklus/s) = 4,2 . 107 rad/s

Getaran yang sangat cepat sesuai dengan f dan yang besar sedang T nya
kecil, dan getaran yang lambat (kecil) sesuai dengan f dan yang kecil sedang
T nya besar .

Misalkan sebuah benda massanya m yang


dihubungkan dengan sebuah pegas dengan
konstanta pegas k diatas papan yang licin
tanpa gesekan. Jika benda disimpangkan
kekanan sejauh x, maka gaya yang
dilakukan oleh pegas arahnya kekiri,

gaya ini merupakan gaya pemulih yang selalu mengembalikan keposisi setimbang
yang besarnya sebanding dengan jaraknya dari posisi setimbang. Benda yang
dipengaruhi gaya yang demikian dikatakan benda bergerak harmonik sederhana.
Menurut Hukum Newton II

F=ma
Gaya pemulih pegas akibat gerak benda adalah : F = - k x, sehingga dari kedua
persamaan diatas didapat :

d2x
-kx = m
dt 2

d2x kx
2
+ =0 ..........VIII.3
dt m

d2x
2
+ 2x = 0 ..........VIII.4
dt

Persamaan VIII.3. disebut Persamaan Deferensial gerak harmonik sederhana. Jika


dibandingkan persamaan VIII.2 dengan persamaan VIII.3. didapat :

2 k
= dan 2 =(2 /T)2 ..........VIII.5
m
k
= ..........VIII.6
m

m
jadi periode T = 2 ..........VIII.7
k

1 k
frekwensi f = =
2 2 m
2
= 2f = ..........VIII.8
T

VIII.3.1.1.2a Gerak Harmonik Sederhana


Karena gerak harmonik maka dapat dinyatakan sebagai fungsi sinus atau
cosinus. Misalkan fungsi tersebut adalah :

x = A cos ( t + ) ..........VIII.9
- 131 -

( t + ) = fase gerak
= konstanta fase

Jika persamaan VIII.5. diturunkan dua kali terhadap waktu, maka diperoleh :

dx
v= = A sin( t + ) ..........VIII.10
dt

dv d2x
a= = 2
= - 2 A cos( t + ) = - 2 x ..........VIII.11
dt dt

VIII.3.1.1.2b Energi Gerak Harmonik Sederhana


Karena gaya-gaya yang bekerja pada gerak harmonik sederhana adalah
gaya konservatif , maka energi mekaniknya kekal yaitu :

E = Ek + EP ..........VIII.12

Energi Potensial pegas

x
EP = kxdx = 12 kx 2 = 12 kA2 cos 2 (t + ) ..........VIII.13
0

Energi Kinetik setiap saat

E = 12 mv 2 = 12 m[A sin( t + )]2 = 12 m 2A 2 sin 2 ( t + )


k

E = 12 kA 2 sin 2 ( t + ) ..........VIII.14
k

Jadi energi mekanik E = 12 kA 2 sin 2 ( t + ) + 12 kA 2 cos2 ( t + )


E = 12 kA 2 harganya selalu sama (konstan) ..........VIII.15

1 kA 2 = 1 mv2 + 1 kx 2
2 2 2

k 2
v= (A + x 2 ) ..........VIII.16
m

Pada gambar diatas pada saat ditarik kekanan sejauh x, maka harga
maksimum E maks = A sehingga E P = maksimum dan kecepatan nol sehingga

haerga E k =0

E = 0+E
Pmaks

1 kA 2 = 1 kx 2
2 2 maks
demikian juga setelah benda dilepas pada saat di titik 0, berarti x = 0 sehingga
tenaga potensial sama dengan nol tetapi kecepatan benda maksimum sehingga
harga tenaga kinetik maksimum, sehingga :
E=E +0
kmaks
1 kA 2 = 1 mv 2
2 2 maks

k
v maks = A ..........VIII.17
m
- 133 -

Contoh :
Sebuah benda dengan massa 200 gram dihubungkan dengan pegas (k = 5 N/m)
dan bebas bergetar pada bidang horizontal yang licin. Jika benda ditarik sejauh 5
cm dari keadaan setimbang dan kemudian dilepaskan, maka :
a. Hitunglah periode geraknya.
b. Hitunglah kecepatan maksimumnya.
c. Hitunglah percepatan maksimumnya.
d. Hitunglah kecepatan benda pada saat di titik 2 cm dati titik setimbang.

Jawab :

a. Periode

m 22 0.2kg
T = 2 =2 = 1,256 det ik
k 7 5N / m

b. Kecepatan maksimum terjadi tepat saat melewati titik 0

k 5N / m
v maks = A = (0,05m) = 0,25m / s
m 0,2kg

2
c. a = 2A = 2 A=
2(3,14)
(0,05m) = 1,25m / s2
maks T 1,256s
d. pada saat x = 2 cm = 0,02 m

E = Ek + EP 1 kA 2 = 1 mv 2 + 1 kx 2
2 2 2
1
2
(5 N / m)(0,05m) 2 = 12 (0,02kg ) v 2 + 12 (5 N / m)(0,02m) 2

0,0125 = 0,2 v 2 + 0,0020

0,0105
v= = 0,05025 = 0,22m / s
0,2

VIII.3.1.1.2c Aplikasi Gerak Harmonik Sederhana


A. Bandul Sederhana (Simple Pendelum)
Bandul sederhana juga biasa disebut dengan bandul matematis,
didifinisikan sebagai bandul terdiri sebuah benda massanya m yang tergantung
pada seutas tali ringan yang panjangnya l dan tidak dapat bertambah panjang
karena benda tersebut. Jika bandul ditarik kesamping sejauh x dari posisi
setimbang kemudian dilepas, maka bandul akan berayun karena pengaruh
gravitasi bumi.
Gaya pemulih yang bekerja pada massa adalah :
F = - m g sin
Karena x jauh lebih kecil dari l, maka :
sin = x/l
x mg
F = - m g sin = mg = mg = g
l l

d 2x
F = ma = m
dt 2
d 2x mg
m 2
= g
dt l
- 135 -

d 2x g
2
+ x = 0 bandingkan dengan persamaan VIII.3
dt l

akan diperoleh

2 g 2 2
= =
l T
maka :

l ..........VIII.18
T = 2
g

B. Bandul Fisis (Physical Pendelum)


Sebuah lempengan (plat) homogen dan sembarang bentuk, digantungkan
melalui sebuah titik (missal pada titik P) pada plat dan dapat berayun vertical.
Massa plat adalah M dan jarak dari titik ayun P sampai titik pusat massa C adalah
d, momen kelembaman terhadap titik P adalah I.

Momen gaya pemulihnya adalah :


= - M g d sin
untuk simpangan kecil
sin =
=-Mgd
=- K K= Mgd
K = momen kelembaman
Dari persamaan VI.23

d 2x
= I=I , maka :
dt 2
d2x K 2 = K = (2 / T )2
+ =0
dt 2 I I

I atau I ..........VIII.19
T = 2 T=2
K Mgd

C. Bandul Puntiran (Torsional Pendelum)

Sebuah piringan massanya M pada


pusat massanya dihubung kan dengan
kawat dan ujung yang lain dijepit, sehingga
posisi piring an tergantung. Titik P
berada ditepi piringan diritasikan ke
sehingga titik tadi titik P berada di titik R
(dalam hal ini kawat ikut terpuntir).

Kawat yang terpun tir akan melakukan gaya pemu lih untuk kembali ke posisi
semula. Untuk yang kecil maka momen gaya pemulihnya sebanding dengan
sudut pergeserannya yaitu :
=- K

d 2x
dari persamaan VI.23 = I=I
dt 2

d2x K 2 = K = (2 / T )2
+ =0
dt 2 I I

I
T = 2
K

I adalah : momen kelembaman benda terhadap sumbu rotasi


- 137 -

Contoh :
1. Sebuah benda massa m dihubungkan 3 pegas secara seri yang mempunyai
konstanta pegasnya masing-masing : k1, k2 dan k3 . Jika benda ditarik sejauh
x, maka : Carilah persaman periode getarannya.
Jawab :

Perpanjangan x merupakan perpanjangan dari ke 3 pegas.


Jadi : x = x1 + x 2 + x 3

F F1 F2 F
= + + 3 k adalah tetapan pegas gabungan
k k1 k 2 k 3

F = F1 = F2 = F3

1 1 1 1
= + +
k k1 k k3
2
k1k 2k 3
atau k=
k1k 2 + k1k 3 + k 2k 3

m
untuk mencari periode dimasukan ke persamaan T = 2
k
m ( k1k 2 + k1k 3 + k 2 k 3 ) ..........VIII.20
T = 2
k1k 2 k 3

2. Sebuah benda massa m dihubungkan 3 pegas secara paralel yang


mempunyai konstanta pegasnya masing-masing :k1, k2 dan k3. Jika benda
ditarik sejauh x, maka :
Carilah persaman periode getarannya.
Jawab :
Perpanjangan x merupakan perpanjangan masing-masing pegasnya.
x = x1 = x 2 = x 3

F = F1 + F2 + F3

kx = k1x1 + k 2 x 2 + k 3x 3 k = k1 + k 2 + k 3

m m
T = 2 = 2
k k1 + k 2 + k 3

VIII.21

VIII.3.1.1.2d Superposisi dua Gerak Harmonik Sederhana


A. Superposisi Dua gerak Harmonik Sederhana yang arah dan
frekwensinya sama
Misalkan dua buah gerah harmonik sederhana dengan persamaan :

x1 = A1 cos( t + 1)

x 2 = A 2 cos( t + 2 )

gerak resultannya : x = x1 + x 2

A cos( t + ) = A1 cos( t + 1) + A 2 cos( t + 2 )

Secara geometris persamaan :


A cos(t + ) = A cos t. cos A sin t.sin
A cos(t + ) = A cos t. cos A sin t.sin
1 1 1 1 1 1
A cos(t + ) = A cos t. cos A sin t.sin
2 2 2 2 2
- 139 -

diperoleh hubungan :
A cos = A cos + A cos
1 1 2 2
A sin = A sin + A sin
1 1 2 2
Kedua hubungan diatas dikwadratkan dan dijumlahkan didapat :
A2 = A12 + A22 + 2 A1 A2 cos(1 2 )

A= A12 + A22 + 2 A1 A2 cos(1 2 ) ..........VIII.22

sin
tg = ..........VIII.23
cos

a. Untuk Harga 1 = 2=0

x1 = A1 cos(t + 1)

x 2 = A 2 cos( t + 2 )

Persamaan superposisinya adalah :


x = x1 + x2
= A1 cos( t) + A2 cos( t)

A cos( t) = (A1 + A2) cos( t)

A = A1 + A 2
b. Untuk harga 1 = 0dan 2 =

x1 = A1 cos(t )

x2 = A2 cos(t + )

[
x = x1 + x 2 = A1 cos( t ) + A2 cos( t + ) = A1 cos( t ) - A2 cos( t ) ]
x = (A1 - A 2 ) cos( t )

A = A1 - A2

B . Superposisi dua gerak harmonik sederhana yang arahnya sama tetapi


frekwensi berbeda
Misalkan dua buah gerak harmonik sederhana dengan persamaan :

x1 = A1 cos ( 1 t)
x2 = A2 cos ( 2 t)
gerak resultannya :
x = x1 + x2
= A1 cos ( 1 t) + A2 cos ( 2 t)

Jika amplitodonya sama = A1 = A2

x = A1 cos ( 1 t) + A2 cos ( 2 t) = A1 [ cos ( 1 t) + cos ( 2 t)]

= A1 cos ( 1 - 2)t.cos ( 1 + 2)t

Jadi amplitudo adalah : A = A1 cos ( 1 - 2)t


- 141 -

C. Superposisi dua gerak harmonik sederhana yang arahnya saling tegak


lurus.
Dua buah gerak harmohik sederhana yang arahnya saling tegak lurus yaitu :
Gerak kearah sumbu x dilukiskan :
x = A sin t
Gerak kearah sumbu y dilukiskan :
y = B sin( t + )

a. Jika harga = 0
x
x = A sin t atau sin t =
A
x B B
y = B sin( t ) = B = x y = x
A A A
merupakan persamaan garis lurus

b. Jika harga = = 180 o


x
x = A sin t atau sin t =
A
y = B sin( t + ) = B sin t

B
y = x merupakan persamaan garis lurus
A
c. Jika harga = 12 = 90o

x = A sin t

y = B sin(t + 1` ) = B cos t
2

x2
kwadratkan : x 2 = A 2 sin 2 t atau sin 2 t =
A2

y2
y 2 = B 2 cos 2 t atau cos 2 t =
B2 +

x2 y2 atau
+ = 1 B2x 2 + A 2y2 = A 2B2
A2 B2

merupakan persamaan ellips

d. Jika harga = 12 = 90o dan amplitudonya sama A = B

x = A sin t

y = A sin(t + 1` ) = A cos t
2
- 143 -

x2
kwadratkan : x 2 = A 2 sin 2 t atau sin 2 t =
A2

y2
y 2 = A 2 cos 2 t atau cos 2 t =
A2 +

x2 y2 atau
+ = 1 x2 + y2 = A 2
A2 A2
merupakan persamaan lingkaran dengan jari-jari A

Contoh :
Sebuah benda bergerak melakukan dua gerakan harmonik sederhana yaitu :

x1 = 2 cos( t +14 ) cm

x 2 = 2 cos( t +18 ) cm

tentukan persamaan geraknya dan simpangannya pada saat t=1 detik

A = A12 + A 22 + 2A1A 2 cos( 1 - 2


)

A = ( 2) 2 + ( 4) 2 + 2( 2)( 4) cos( 14 - 18 )

A = 4 + 16 + 16 cos( 18 ) = ...........cm

harga A, dan t = 1s masukan ke persamaan :


x = A cos(t + ) sehingga harga x = ? cm
VIII.3.1.2. Rangkuman
Gerak periodik merupakan gerak berulang-ulang pada suatu siklus tertentu.
Gerak ini terjadi manakala suatu benda memiliki posisi kesetimbangan stabil
dan sebuah gaya pemulih atau torsi yang bekerja jika benda tersebut
dipindahkan dari kesetimbangannya. Petiode T adalah waktu untuk satu
siklus. frekuensi f adalah banyaknya siklus persatuan waktu
Jika gaya total adalah adalah gaya pemulih F yang berbanding langsung
dengan perpindahan x, geraknya dinamakan gerak harmonik sederhana
(GHS).
Konstruksi dari lingkaran acuan menggunakan vektor yang berputar yang
dinamakan fasor, memiliki suatu panjang yang sama dengan amplitudo
gerak. Proyeksinya pada sumbu horizontal mewakili gerak aktual dari suatu
benda pada gerak harmonik sederhana.
Frekuensi sudut, frekuensi, dan periode dalam GHS tidak tergantung pada
amplitudo akan tetapi hanya tergantung pada massa dan konstanta pegas k.

VIII.3.1.3. Test Formatif


1. Sebuah pegas dimana pada ujung kirinya dikunci dengan sebuah papan
sehingga tidak dapat berubah. Kemudian pada ujung kanan ditarik kekanan
sejauh 3 cm dengan gaya sebesar 6 newton. Pada keadaan normal ujung kanan
diberi benda massanya 0,5 kg dan ditaring sejauh 2 cm kemusian dilepas
sehingga terjadi osilasi dalam keadaan GHS. Carilah :
a). Konstanta pegas
b). Frekuensi sudut, frekuensi, dan periode osilasinya.
c). Kecepatan maksimum dan minimum benda tersebut
d). Kecepatan dan percepatan ketika benda telah menempuh setengah jalan
menuju pusat dari posisi asalnya.
e). Energi total, energi potensial dan energi kinetik pada posisi ini (soal d)

2. Sebuah pegas dimana pada ujung kirinya dikunci dengan sebuah papan
sehingga tidak dapat berubah dengan konstatant pegas : k. Kemudian pada
- 145 -

ujung kanan dihubungkan dengan massa M dan ditarik kekanan sejauh A1.
Pada saat balok dilepas dan melewati titik setimbang (titik 0) sebuah benda
massa m jatuh dan melekat pada massa M. Carikah :
a) Amplitudo dan peride yang baru
b) Ulangi seperti soal diatas tetapi saat kejatuhan massa m itu posisi massa M
berada disalah satu ujung lintasan

IV.4 Kunci Jawaban Tes Formatif


1. a). Konstanta pegas k = 200 N/m
b). Frekuensi sudut = 200 rad/s
frekuensi f = 3,2 Hz
periode osilasi T = 0,31 s.
c). Kecepatan maksimum = 0,4 m/s pada saat melewati titik setimbang
Kecepatan minimum = 0 pada saat benda mencapai jarak maksimum
d). Kecepatan = 0,35 m/s
percepatan = 4 m/s2
e). Energi total = 0,040 J
energi potensial Ep = 0,010 J
energi kinetik Ep = 0,030 J

2. a). Amplitudo yang baru A2 = A1 M


M +m
M +m
peride yang baru = T2 = 2
k
b). Amplitudo sama seperti semula A1

M +m
peride T2 = 2
k
VIII.5 Referensi
1. Alonsa, M; Finn, EJ.Physics, 1970, Addison-Wiesly Company Inc.
2. Beiser, A. The Maintsream of Physics, 1962, addisopn-Wiesly Publishing
Company Inc.
3. Berkelay Physics Course, Vol. 1, 2 and 3, 1965 Mc Graw-hill book
campany.
4. Tilley, DE, University Physics for Science and Enginering, 1976,
Cumming Publishing Company Inc.
- 147 -

BAB. IX
ELASTISITAS
SPBS 1301/3 SKS

FISIKA DASAR I
Oleh :
Drs. Ignatius Suraya
DAFTAR ISI

Materi Halaman

IX.1. Pengantar 149


IX.2. Kompetensi 149
IX.3. Kegiatan Belajar 149
IX.3.1. Kegiatan Belajar : Elastisitas 149
IX.3.1.1. Uraian dan Contoh 149
IX.3.1.1.1 Pendahuluan 149
IX.3.1.1.2a Tegangan (Stress) 149
IX.3.1.1.2b Regangan (Strain) 150
IX.3.1.1.2c Modulus Elastisitas 151
IX.3.1.2. Rangkuman 155
IX.3.1.3. Test Formatif 155
IX.4 Kunci Jawaban Tes Formatif 155
IX.5 Referensi 156
- 149 -

IX.1. Pengantar
Sebuah benda yang dapat dimodelkan sebagai sebuah partikel berada
dalam kesetimbangan ketika penjumlahan vektor dari gaya-gaya yang bekerja
padanya adalah nol. Benda tegar tidak melengkung, memanjang atau hancur jika
ada gaya yang bekerja padanya, tetapi benda tegar hanyalah suatu bentuk ideal
karena seluruh bahan nyata bersifat elastis dan mengalami deformasi sampai batas
tertentu. Sifat elastis bahan sangatlah penting

IX.2. Kompetensi
Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan dapat memahami dan mampu
menjelaskan serta menghitung/ menganalisa tentang Tegangan dan Regangan,
Elastisitas serta karakteristik bahan melalui hubungan Tegangan dan Regangan

IX.3. Kegiatan Belajar


IX.3.1. Kegiatan Belajar : Elastisitas
IX.3.1.1. Uraian dan Contoh
IX.3.1.1.1 Pendahuluan
Pada Bab ini akan dibahas bahwa perubahan bentuk (panjang, volume)
dari benda tegar dikarenakan adanya gaya luar yang melebihi batas-batas tertentu.
Sedangkan perubahan-perubahannya dapat diukur.

IX.3.1.1.2a Tegangan (Stress) S

yang besarnya sama, maka tegangan (stress) yang dialami oleh batang tersebut
dapat didifinisikan sebagai perbandingan gaya F dengan luas penampangnya.

Satuannya dalam mks adalah N / m 2 atau Pascal


F
S =
A dalam cgs adalah dyne / cm 2 ..........IX.1

ini juga disebut sebagai :


Tegangan normal karena gaya yang tersebar merata tegak lurus panampang A.
Tegangan tarik karena kedua potongan saling tarik menarik. Jika resultan seluruh
gaya yang tersebar merata dinyatakan dengan suatu vector, maka vector gaya ini
dapat diuraikan menjadi komponen normal ( Fn ) dan tangensial ( FT ) terhadap A.

F
Sn = n ..........IX.2
A'
F
ST = T ..........IX.3
A'
Tegangan tangensial ST disebut juga tegangan geser.
Jika yang bekerja adalah gaya tekan,

Batang yang tertekan tegangannya adalah perbandingan gaya tekan terhadap luas.

IX.3.1.1.2b Regangan (Strain)


Regangan adalah perubahan relatif bentuk benda karena adanya tegangan.
Misalkan panjang batang sebelum diberi gaya adalah lo dan setelah kedua
ujungnya ditarik gaya F adalah l
- 151 -

Regangan (strain) tarikan/tekanan didefinisikan sebagai perbandingan


pertambahan panjang terhadap panjang awalnya
l - lo l
Regangan akibat tarikan = = ..........IX.4
lo lo
Regangan yang mengakibatkan perubahan volume disebut regangan volume

V Vo V
Regangan volume = = ..........IX.5
Vo Vo
Regangan yang disebabkan oleh tegangan tangensial yang bekerja pada
penampang-penampang balok disebut regangan geser.

x
Regangan geser = ..........IX.6
h
Perbandingan antara tegangan dan regangan disebut Hukum Hooke

IX.3.1.1.2c Modulus Elastisitas E

Perbandingan antara tegangan & regangan disebut Modulus Elastisitas (E)

tegangantarik tegangantekan Fn / A
E= = = ..........IX.7
regangantarik regangantekan l / lo

E = disebut Modulus Young

Untuk modulus geser = G


tegangangeser FT / A hFT
G= = = ..........IX.8
regangangeser x/h Ax

Modulus yang berhubungan dengan tekanan hidrostatik dan perubahan volume


disebut dengan modulus Bulk (modulus volume) B.
dP dP
B= = V ..........IX.9
dV / V dV

tanda negatif artinya dengan bertambahnya tekanan menyebabkan berkurangnya


volume, tetapi harga B selalu positif. Kebalikan dari modulus Bulk disebut
kompresibilitas (K).

1 dV / V dV
K= = = ..........IX.10
B dP VdP

Modulus Elastisitas Hasil Pembulatan


Modulus Young
Bahan Modulus Bulk Modulus Geser
Y (Pa) B (Pa) S (Pa)
Aluminium 7,0 x 1010 7,5 x 1010 2,5 x 1010
Kuningan 9,0 x 1010 6,0 x 1010 3,5 x 1010
Tembaga 11 x 1010 14 x 1010 4,4 x 1010
Kaca Kerona 6,0 x 1010 5,0 x 1010 2,5 x 1010
Besi 21 x 1010 16 x 1010 7,7 x 1010
Timbal 1,6 x 1010 4,1 x 1010 0,6 x 1010
Nikel 21 x 1010 17 x 1010 2,8 x 1010
Baja 20 x 1010 16 x 1010 7,5 x 1010
- 153 -

Contoh :
1. Sebuah kawat baja panjangnya 3 m disambung dengan kawat tembaga
panjangnya 5 m sedang luas penampang keduanya adalah sama yaitu

8. 10 -7 m 2 . Pada sambungan kedua kawat diberi tengan 500 newton.


Hitunglah :
a). Perpanjangan setiap kawat.
b). Energi potensial elastik system.

Dimana : modulus elastisitas E baja = 21.1010 Pa

modulus elastisitas E tembaga = 1011 Pa

Jawab :

Fn / A Fnlo
a. l = =
E / lo AE
(500 N)(3m)
untuk baja : lbaja = = 0.009m = 0,9cm
(8.10 m 2 )(21.1010 Pa )
-7

(500N)(5m)
untuk tembaga : ltembaga = = 0.03m = 3cm
(8.10-7 m2 )(1011Pa)
b. F = kx = k l

Energi potensial elastisitas E p = 12 kx 2 = 12 k l. l = 12 F. l

l = lb + l t sehingga :

E p = 12 F( lb + l t ) = 12 (500 N)(0,9.10-2 m + 3.10-2 m) = 97,8J


2.

Diketahui seperti gambar diatas dengan gaya Fn = 5000 N ke arah kiri dan kanan
dimana :

Tembaga : E t = 1011 Pa

A t = 30cm 2 dan lot = 1m

Baja : E b = 21.1010 Pa

A b = 20cm 2

Hitunglah panjang l b jika pertambahan panjang kedua batang


sama
Tegangan di setiap batang
Regangan di setiap batang

Jawab :
a. l t = lb

Fnlot Fnlob
=
E t At AbEb
(5000 N)(1m) (5000 N)(lob )
-4 2 11
=
(30.10 m )(10 Pa (20.10-4 m 2 )(21.1010 Pa )

lob = 1,4m
Fn 5000 N
b. St = = = 1,67.106 N / m 2
A t 30.10- 4 m 2
Fn 5000 N
Sb = = - 4 2
= 2,50.106 N / m 2
A b 20.10 m
- 155 -

lt Fnlot / A t E t Fn
c. Regangan tembaga = = = = 1,67.10-5
lot lot AtEt

lb Fnlob / A b E b Fn
Regangan baja = = = = 1,29.10-5
lob lob AbEb

IX.3.1.2. Rangkuman
Hukum Hooke menyatakan bahwa dalam deformasi elastis merupakan
perbandingan antara tegangan dengan regangan
Tegangan tarik adalah gaya tarik persatuan luas; Regangan tarik adalah
fraksi perubahan panjang; Modulus Young adalah perbandingan tegangan
tarik dengan regangan tarik.

IX.3.1.3. Test Formatif


1. Sebuah batang baja sepanjang 2 m memounyai luas penampang melintang 30
cm2. Sebuah benda massanya 550 kg tergantung pada batang tersebut,
tentukan tegangan, regangan dan perpanjangan batang.
2. Sebuah pompa hidrolis berisi 0,25 m3 = (250 liter) minyak. Carilah
pengurangan volume minyak saat pompa ditambah tekanan sebesar P = 1,6 .
107 Pa (sekitas 160 atm). Modulus Bulk dari minyak adalah 5 . 109 Pa (sekitar
5.104 atm) dan kompresibilitasnya k = 20.10-6 /atm

IX.4 Kunci Jawaban Tes Formatif


1. Tegangan = 1,8.108 Pa
regangan = 9,0.10-4
perpanjangan = 1,8 mm

2. V = 0,8 liter
VIII.5 Referensi
1. Alonsa, M; Finn, EJ.Physics, 1970, Addison-Wiesly Company Inc.
2. Beiser, A. The Maintsream of Physics, 1962, addisopn-Wiesly Publishing
Company Inc.
3. Berkelay Physics Course, Vol. 1, 2 and 3, 1965 Mc Graw-hill book
campany.
4. Tilley, DE, University Physics for Science and Enginering, 1976,
Cumming Publishing Company Inc.
- 157 -

BAB. X
MEKANIKA FLUIDA
SPBS 1301/3 SKS

FISIKA DASAR I
Oleh :
Drs. Ignatius Suraya
DAFTAR ISI

Materi Halaman

X.1. Pengantar 159


X.2. Kompetensi 159
X.3. Kegiatan Belajar 159
X.3.1. Kegiatan Belajar : Mekanika Fluida 159
X.3.1.1. Uraian dan Contoh 159
X.3.1.1.1 Pendahuluan 159
X.3.1.1.2a Statika Fluida 160
X.3.1.1.2b Prinsif Pascal dan Prinsip Archimedes 162
X.3.1.1.2c Dinamika Fluida 165
X.3.1.2. Rangkuman 168
X.3.1.3. Test Formatif 169
X.4 Kunci Jawaban Tes Formatif 169
X.5 Referensi 169
- 159 -

X.1. Pengantar
Fluida adalah zat yang dapat mengalir (cairan dan gas) Banyak
beranggapan bahwa gas itu sesuatu yang mudah ditekan sedangkan cairan tidak
dapat. Statika fluida ini mempelajari tentang fluida yang diam pada keadaan
setimbang, dengan berdasarkan Hukum Newton I dan III dapat dikembangkan
konsep kunci densitas, tekanan, daya apung dan tegangan permukaan. Dinamika
fluida mempelajari tentang fluida yang bergerak.

X.2. Kompetensi
Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan dapat memahami dan mampu
menjelaskan serta menghitung/ menganalisa tekanan didalam fluida yang diam,
Hukum Pascal dan Hukum Archimedes, Persamaan Kontinuitas, Persamaan
Bernoulli.

X.3. Kegiatan Belajar


X.3.1. Kegiatan Belajar : Mekanika Fluida
X.3.1.1. Uraian dan Contoh
X.3.1.1.1 Pendahuluan
Pada Bab ini akan dibahas tabiat benda yang sangat cepat berubah
bentuknya jika mengalami gaya dari luar, biasanya benda yang dapat mengalir
yaitu fluida yang sifatnya berbeda dengan benda tegar
Fluida adalah zat yang dapat mengalir (cairan dan gas). Dalam mekanika fluida
akan dibahas khusus sifat-sifat fluida yang berhubungan dengan kemampuannya
untuk mengalir yang meliputi :
Statika fluida untuk zat alir diam
Dinamila fluida untuk zat alir yang bergerak.
X.3.1.1.2a Statika Fluida
A. Massa Jenis dan Tekanan
Misalkan fluida volumenya V dan massanya m, maka dapat didefinisikan besaran
massa jenis () adalah massa (m) persatuan volume (V).
m
= ..........X.1
V
satuan massa jenis yang biasa disebut dengan rapat massa dalam :

mks adalah = kg / m3 dan cgs adalah = gr / cm3

Tekana (P) didefinisikan sebagai gaya noemal (F) persatuan luas penampang (A) :

F
P= ..........X.2
A

satuan tekanan dalam : mks adalah = N / m 2 biasa disebut pascal (Pa) dan cgs

adalah = dyne / cm 2

1Pa = 1N / m 2 = 105 dyne / 104 cm 2 = 10dyne / cm2

B. Tekanan Dalam Fluida Diam

Misalkan sebuah cakram dengan luas penampang lingkaran lingkaran A dan tebal
dy dimasukan kedalam fluida cair yang diam. Massa cakram = A dy maka gaya
beratnya dW = g A dy.
- 161 -

Jumlah gaya horizontal = 0 karena saling meniadakan. Jika cakram dalam fluida
tetap diam atau bergerak kebawah dengan kecepatan konstan, maka :
Fy = 0
P A (P + dP) A - g A dy = 0
dP
= g ..........X.3
dy
persamaan (X.3) menunjukan bahwa y makin tinggi tekanan makin berkurang.
Misalkan Po adalah tekanan dipermukaan air laut yang biasa disebut dengan
tekanan atmosfier dan titik P1 berada didalam air laut setinggi y1 dari dasar laut,
sedangkan dalam air laut adalah y2

P2 y2

dP = g dy
P1 y1

P2 - P1 = - g ( y 2 - y1) P2 = Po dan P1 = P

Jadi : P = Po + gh ..........X.4

Jadi dari persamaan X.4 dapat disimpulkan bahwa semakin kedalam fluida
tekanan makin besar.
Misalkan Po dan o adalah tekanan udara dan massa jenis udara tepat diatas
permukaan air laut dan tekanan yang akan dicari pada titik p yang tingginya y
terhadap permukaan air laut.
P
didapat perbandingan =
o Po
dimasukan kepersamaan X.3 akan
didapat

P = Po e -( g o / Po ) y ..........X.5

P adalah tekanan pada titik p yang berada diudara setinggi y dari permukaan air
laut. Dari persamaan X.5 dapat disimpulkan bahwa makin keatas tekanan udara
semakin kecil dan penurunannya secara eksponensial.

X.3.1.1.2b Prinsip Pascal dan Prinsip rchimedes.


Prinsip Pascal :
Tekanan yang diberikan pada suatu fluida tertutup, maka tekanan tersebut
akan diteruskan semuanya tanpa pengurangan kesetiap fluida dan dinding-dinding
yang bersentuhan dengan fluidanya.

Prinsip Archimedes :
Jika sebuah benda dicelupkan sebagian atau semuanya kedalam fluida
yang diam, maka akan memdapat gaya keatas (gaya apung) yang besarnya sama
dengan berat fluida yang dipindahkan, dan pada bagian benda yang tercelup
paling dalam akan mendapat gaya apung yang paling besar.

Densitas Beberapa zat Umum


Massa Densitas (kg/m3)* Massa Densitas (kg/m3)*
Udara(1 atm,20oC) 1,20 Besi, Baja 7,8 . 103
Ethanol 0,81 . 103 Kuningan 8,6 . 103
Benzena 0,90 . 103 Tembaga 8,9 . 103
Es 0,92 . 103 Perak 10,5 . 103
Air 1,00 . 103 Timbal 11,3 . 103
- 163 -

Air laut 1,03 . 103 Raksa 13,6 . 103


Darah 1,06 . 103 Emas 19,3 . 103
Gliserin 1,26 . 103 Platinum 21,4 . 103
Beton 2 . 103 Aluminium 2,7 . 103

Contoh :
1. Balon karet massanya 1 gram diisi dengan gas helium yang massana 0,8 gram
dan jika volume balon itu adalah 2 liter, maka hitunglah gaya keatas yang

bekerja pada balon, dimana : g = 10 m / s 2 dan kerapatan udara = 1,29 gr/l

Jawab :
Prinsip Archimedes berlaku pula untuk gas/udara.
Volume balon 2 liter berarti memindahkan udara 2 liter. Jadi massa udara 2 liter

adalah m u = 2,58gram = 2,58.10-3 kg


Gaya keatas adalah :

Fu = m u g = (2,58.10-3 kg )(10m / s 2 ) = 2,58.10-2 N arah keatas.

[ ]
Fb = (m b + m u )g = (1 + 0,8).10-3 kg (10m / s 2 ) = 1,8.10- 2 N
arah kebawah.

Jadi gaya keatas netto ; Fnet = (2,5 - 1,8 )10-2 N = 0,70.10-2 N

2. Balok kayu yang berupa kubus dengan rusuk (sisi) 10 cm dan kerapatannya

adalah 0,6 g / cm3 terapung didalam air. Berapa bagian balok kayu yang
tercelup didalam air.

Jawab :
Berat balok kayu Wk = k Vk g dimana k
= 0,6 a

Gaya keatas Fb = a (f .Vk )g dimana f adalah perbandingan antara tinggi kayu


yang terendam air dengan tinggi balok
Dalam keadaan setimbang gaya netto adalah nol

Berat balok kayu = Gaya keatas

k Vk g = a (f .Vk )g

0,6 a
f = k = 0,6 bagian.
a a

jadi bagian balok kayu yang berada didalam air adalah


= 0,6 x 10 cm = 6 cm

3. Sebuah balok alluminium massanya 1 kg dengan kerapatan 2,7 . 103 kg / m3


dan digantung dengan seutas tali. Hitunglah tegangan tali sebelum dan
sesudah dimasukan kedalam air.

Jawab :
a. Sebelum dimasukan kedalam air :

T1 = mA1g = (1kg)(10m / s 2 ) = 10 N
b. Dimasukan kedalam air:
Massa akan mendapat gaya keatas Fa

T1 + Fa - mg = 0

untuk mencari gaya apung Fa harus dicari massa


alluminiun terlebih dahulu.
mAl 1kg
VAl = = = 3,7.10-4 m3
Al 2,7.103 kg / m3

Gaya keatas Fa sama dengan berat air yang


dipindahkan
Fa = m air .1 g = air .Vair g = (103 kg / m 3 )(3,7.10-4 m 3 )(10m / s 2 ) = 3,7 N

Jadi gaya tegang kawat : T2 = mg - Fa = 10N - 3,7 N = 6,3N


- 165 -

X.3.1.1.2c. Dinamika Fluida


A. Persamaan Kontinuitas

Dua buah pipa dengan luas penampang berbeda A1 dan A2 dialiri cairan dengan
kecepatan masuk v1 dan yang keluas v 2 . Karena cairan tidak berkurang, maka :
Volume cairan yang masuk sama dengan volume cairan yang keluar
a. Massa cairan yang masuk sama dengan massa cairan yang keluar.
b. Debit cairan yang masuk sama dengan debit cairan yang keluar

A1v1dt = A 2 v 2dt ..........X.6


A1v1 = A 2 v 2 A.v = debit

B. Persamaan Bernoulli

Usaha oleh gaya tekan kekanan W1 = P1.A1. l1


Usaha oleh gaya tekan kekiri W2 = P2 .A 2 . l 2
Usaha oleh gaya gravitasi = m.g.( y1 - y 2 )
Usaha yang dilakukan oleh system : W = P1 .A 1 . l 1 - P 2 .A 2 . l 2 +
m.g.( y1 - y 2 )
Volume cairan yang dipindahkan = A 1 . l 1 = A 2 . l 2 = m /
W = ( P1 - P 2 ) m / - mg ( y 2 - y 1 )

Perubahan energi kinetik system = 12 (mv22 - mv12 )

Usaha yang dilakukan system = perubahan energi kinetik system

(P1 - P2 )m / - mg( y2 - y1) = 12 (mv22 - mv12 )

dikalikan dengan /m maka didapat persamaan :

P1 + gy1 + 12 v12 = P2 + gy 2 + 12 v 22 ..........X.7

atau ..........X.8
P + gy + 12 v 2 = kons tan( tetap )

Persamaan X.8 biasa disebut Persaman Bernoulli


Jika tekana udara luar sama maka :

gy1 + 12 v12 = gy 2 + 12 v 22 ..........X.9

Contoh :
Air dari PAM yang dialirkan melalui pipa diameter 2 cm dengan

kecepatan mengalir : 1,5 m/s dan tekananya 4 x 105 Pa sampai dipermukan tanah.
Air tersebut akan dinaikan ke Bak penampungan yang berbentuk silinder dengan
luas lingkaran : 1 m2dengan pipa berdiameter 1 cm setinggi 6 meter. Dari dasar
Bak diberi pipa yang berdiameter 1 cm masuk ke Bak kamar mandi yang berada 4
m dibawah dasar Bak penampung air.
Hitunglah kecepatan, tekanan dan debit air yang masuk ke Bak penampung. Kran
kamar mandi ditutup dan air dari PAM dialirkan selama 50 menit kemudian
dimatikan (tekanan udara di Bak penampungan sama dengan tekanan dikamar
mandi). Hitunglah kecepatan air dikamar mandi pada saat kran dibuka.
- 167 -

Jawab :
a. Kecepatan air yang masuk ke Bak penampungan : v 2 dengan persamaan
kontinuitas

1 2
A1v1 4 (0,02m) (1,5m / s)
v2 = = 1
= 6m / s
A2
4
(0,01m) 2

untuk mencari tekanan air saat keluar dan masuk ke Bak penampungan

P1 + gy1 + 12 v12 = P2 + gy 2 + 12 v 22

P1 = P2 + 12 g (v 22 v12 ) + g ( y 2 y1 ) dimana y1 = 0

P1 = (4.105 Pa) 12 (103 kg / m3)(36 4,5) 2 (m / s) 2 (103 Pa)(10m / s 2 )(6m)

= 38 Pa

Debit air yang masuk ke Bak penampungan =

A 2 v2 = 14 (0,01m)2 (6m / s) = 4,71.10 -4 m3 / s


b. Volume air didalam Bak penampungan diisi selama 50 menit (3000 detik)
adalah :

VBak = debit.waktu = (4,71.10 -4 m3 / s)(3000s) = 1,413m3

luas lingkaran Bak penampungan adalah 1 m2 , naka tinggi airnya = 1,413 m


Kecepatan air didalam kamar mandi pada saat kran dibuka adalah :

PBak + g.y Bak + 12 v 2Bak = Pkm + g.y km + 12 v 2km

dimana : PBak = Pkm

y km = 0 (posisi kran kamar mandi dianggap =0)


y Bak = 4 m +1,413 m =5,413 m (diukur sampai permukaan air)

g.y Bak + 12 v 2Bak = g.ykm + 12 v 2km

A km v km
menurut persamaan kontinuitas : v Bak =
A Bak
2
Akm vkm
g . y Bak + 1
2 = g . y km + 12 vkm
2

ABak

2g( y km - yBak ) 2(10m / s2 )(0 - 5,413m)


v km = = = 3,3m / s
A 2km 1
4
(0,01m)2
-1 -1
A 2Bak 1m2

X.3.1.2. Rangkuman
Densitas (massa jenis) adalah massa m per satuan volumeV
Tekanan adalah gaya normal persatuan luas. Dalam Hukum Pascal dinyatakan
bahwa tekanan yang diberikan pada permukaan fluida dalam wadah yang
tertutup akan diteruskan secara merata ke setiap bagian fluida. Tekanan
absolut adalah tekanan total di dalam fluida, tekanan gauge adalah selisih
antara tekanan absolut dengan tekanan atmosfier.
Jika fluida densitas homogen berada dalam keadaan diam, maka tekanan di
dalam fluida sedalam h dari permukaan adalah : P = Po + gh dan tekanan
- 169 -

pada sebuah titik yang berada di ketinggian y dari permukaan air laut adalah

P = Po e -( g o / Po ) y
kesimpulannya makin masuk kedalam fluida cair
semakin besar tekanannya dan semakin keatas tekanan makin kecil.

X.3.1.3. Test Formatif


1. Sebuah sistem pemanas air menggunakan panel matahari di atas atap, 12 m di
atas tangki penyimpanan. Tekanan air pada panel adalah satu atmosfie. Berapa
tekanan absolut dan tekanan gauge dalam tangki?
2. Air mengalir ke dalam rumah melalui pipa dengan diameter dalam 2 cm pada
tekanan absolut 4 . 105 Pa (sekitar 4 atm). Pilpa berdiameter dalam 1 cm
digunakan untuk aliran yang menuju kamar mandi lantai dua setinggi 5 m,
ketika laju alir pada pipa masukan adalah 1,5 m/s, tentukan laju aliran, tekanan
dan laju aliran volume di dalam kamar mandi?

X.4 Kunci Jawaban Tes Formatif


1. Tekanan absolut = 2,19 . 105 Pa = 2,16 atm
Tekanan gauge = P Po = 1,18 . 105 Pa = 1,16 atm

2. v2 = 6 m/s
P2 = 3,3 . 105 Pa = 3,3 atm
Laju aliran volume dV/dt = 4,7 . 10-4 liter/s

X.5 Referensi
1. Alonsa, M; Finn, EJ.Physics, 1970, Addison-Wiesly Company Inc.
2. Beiser, A. The Maintsream of Physics, 1962, addisopn-Wiesly Publishing
Company Inc.
3. Berkelay Physics Course, Vol. 1, 2 and 3, 1965 Mc Graw-hill book
campany.
4. Tilley, DE, University Physics for Science and Enginering, 1976,
Cumming Publishing Company Inc.
BAB. XI
TERMOMETRI-
KALORIMETRI
SPBS 1301/3 SKS

FISIKA DASAR I
Oleh :
Drs. Ignatius Suraya
- 171 -

DAFTAR ISI

Materi Halaman
XI.1. Pengantar 171
XI.2. Kompetensi 171
XI.3. Kegiatan Belajar 171
XI.3.1. Kegiatan Belajar : Termometri-Kalorimetri 171
XI.3.1.1. Uraian dan Contoh 171
XI.3.1.1.1 Pendahuluan 171
XI.3.1.1.2a Pemuaian 172
XI.3.1.1.2b Kalor 175
XI.3.1.1.2c Azas Black 176
XI.3.1.2. Rangkuman 179
XI.3.1.3. Test Formatif 180
XI.4 Referensi 180
XI.1. Pengantar
Konsep suhu berakar dari ide kualitatif panas dan dingin yang berdasar
pada indera kita. Suatu benda dikatakan panas pada umumnya memilihi suhu yang
lebih tinggi sedang dikatakan dingin jika memiliki suhu lebih rendah. Tetapi
kesensitifan setiap manusia mungkin berbeda, sehingga seorang menyentuhkan
tangannya ke suatu benda mengatakan benta itu panas tetapi orang lain yang
menyentuh benda itu mengatakan tidak panas. Untuk mengecek perbedaan
tersebut diperlukan alat ukur yaitu termometer. Antara lian suhu sangat
mempengarui, volume, panjang, massa jenis dari suatu benda.

XI.2. Kompetensi
Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan dapat memahami dan mampu
menjelaskan serta menghitung/ menganalisa pengaruh perubahan temperatur dan
kalor, pengertian kapasitas panas, Azas Black beserta penggunaannya

XI.3. Kegiatan Belajar


XI.3.1. Kegiatan Belajar : Termometri-Kalorimetri
XI.3.1.1. Uraian dan Contoh
XI.3.1.1.1 Pendahuluan
Pada Bab ini akan membahas :
Hubungan suhu dengan energi
Perubahan ukuran panjang, luas dan volume benda akibat pengaruh dari
perubahan suhu
Perpindahan energi panas akibat dari perbedaan suhu

Dengan anggapan bahwa kita telah mengetahui cara mengukur suhu dan membaca
skala termometer serta macamnya termometer dan perbandingan skalanya.
- 173 -

XI.3.1.1.2a Pemuaian
Merupakan salah satu sifat termometri yaitu adanya perubahan bentuk
(panjang, luas dan volume) akibat perubahan suhu (temperatur). Jadi misalkan
sebuah benda panjangnya l0 , karena adanya kenaikan suhu maka panjangnya
akan bertambah panjang ini dikatakan bahwa terjadi pemuaian.

a. Muai Panjang
Misalkan panjang suatu benda pada sihu T1 adalah l0 dan pada suhu T2

adalah l , maka dapat dikatakan bahwa pertambahan panjang l = l - lo karena

perubahan suhu T = T2 - T1 , jadi :


l = lo T : koefisien muai panjang

l = l0 + l = lo + lo (T2 - T1)

l = l0 [1 + (T2 - T1)] ..........XI.1

b. Muai Luas
Sama dengan muai panjang, didapat : perubahan suhu T = T2 - T1 ,
pertambahan luas sebesar
A = Ao T A : luas penampang
: koefien muai luas
A = A 0 + A = A o + A o (T2 - T1)

A = A 0 [1 + (T2 - T1)] ..........XI.2

c. Muai Ruang/Volume
Sama dengan muai panjang, didapat : perubahan suhu T = T2 - T1 ,
pertambahan luas sebesar
V = Vo T A : luas penampang
: koefien muai luas
V = V0 + V = Vo + Vo (T2 - T1)

V = V0 [1 + (T2 - T1)] ..........XI.3

dimana : =2 dan =3

Contoh :
Sebuah gelas volumenya 100 cm3 , pada suhu 20o diisi dengan air raksa (Hg)
sebanyak 98 cm3 . Hitunglah : pada suhu berapa
1. Volume air raksa sama dengan volume gelas
2. Air raksa tumpah sebanyak 1 cm3

Dimana : koefisien muai volume gelas = 1,2 x10-5 (o C)-1

koefisien muai volume Hg = 18x10-5 (o C)-1


Jawab :

a. Misal pada saat volume gelas = volume air raksa tepat pada suhu T2

[ ] [
Vog 1 + g (T2 - T1) = V0Hg 1 + Hg (T2 - T1) ]
[ ] [
(100cm3) 1+ (1,2x10-5 /o C)(T2 - 20o) = (98cm3) 1 + (18x10-5 /o C)(T2 - 20o)]

T2 = 142o C

b. Misal pada suhu T3 air raksa tumpah 1 cm3

[ ] [
Vog 1 + g (T3 - T1) = V0Hg 1 + Hg (T3 - T1) - 1 ]
[ ] [ ]
(100cm3) 1 + (1,2x10-5 /o C)(T3 - 20o ) = (98cm3) 1 + (18x10-5 /o C)(T3 - 20o ) -1

T3 = ..?
- 175 -

Soal :
Sebuah kawat panjangnya 50 cm ketika diukur dengan penggaris dari baja

pada suhu 25o C . Kawat dan penggaris tersebut bersama-sama dimasukan

kedalam air dan dipanaskan sampai pada suhu 250 o C . Ketika diukur
dengan penggaris tadi panjang kawat menjadi 50,8 cm. Jika koefisien muai

panjang baja adalah : 12 x10-6 (o C)-1 , berapa koefisien muai panjang


kawat tersebut ?

Sebuah jendela dari kaca (gelas) pada suhu 10 o C ukurannya (20x40) cm.

Berapa pertambahan luas jendela tersebut jika suhunya naik 30 o C ?.

XI.3.1.1.2b Kalor
Kalor merupakan tenaga panas satuannya dalam kalori (kal).
Kalor didefinisikan sebagai sesuatu yang dipindahkan dari suatu system ke system
lain yang berada disekitarnya akibat dari perbedaan suhu.
Satu kalori adalah banyaknya kalor/panas yang dibutuhkan oleh 1 gram air untuk

menaikan suhunya dari 14,5o C menjadi 15,5o C .


Hubungan antara kalori dengan satuan energi mekanik yaitu :
1 kal = 4,186 joule
Besar kalor yang diperlukan untuk menaikan temperatur benda tergantung dari
massa dan jenis benda tersebut..
Kapasitas Panas ( C ) adalah perbandingan antara banyaknya kalor yang
diperlukan dengan kenaikan temperaturnya.
Q
C= dalam kal / o C ..........XI.4
T

Kalor Jenis (panas jenis) (c) adalah kapasitas panas persatuan massa.

C
c= dalam kal / gr.o C ..........XI.5
m
Kapasitas Kalor Molar adalah kapasitas panas per mol (c)

C
=
c' dalam kal / o C mol ..........XI.6
n

Jadi kalor yang diperlukan oleh benda yang massanya m dengan kapasitas panas
C untuk menaikan temperaturnya dari T1 sampai T2

Q = C(T2 - T1) = mc(T2 - T1) = nc'


(T2 - T1) ..........XI.7

persamaan XI.7 hanya berlaku selama perubahan temperatur dari T1 sampai T2


tersebut tidak mengalami perubahan fase/bentuk. Jika selama proses perubahan
temperatur mengalami perubahan fase, maka kalor yang diperlukan pada saat
perubahan fase adalah :

Q=mL ..........XI.8

Dimana : L disebut kalor laten atau disebut kalor penguapan jika terjadi
penguapan dan disebut kalor peleburan jika terjadi peleburan.

XI.3.1.1.2c Azas Black


Jika dua buah benda yang temperaturnya T1 dan T2 ( T1 < T2 ), kedua
benda dihubungkan maka terjadi perpindahan panas dari benda bersuhu tinggi ke
benda yang bersuhu lebih rendah sehingga mencapai suhu setimbang Ta .
Menurut Azas Black panas yang hilang sama dengan panas yang diterima.
Ungkapan ini merupakan Hukum Kekekalan energi.
Jadi panas yang diterima benda bersuhu T1 sama dengan panas yang dikeluarkan
benda bersuhu T2 .

Q1 = Q 2
m1c1(Ta - T1) = m2c2 (T2 - Ta ) ..........XI.9
- 177 -

Contoh :

Sebuah kalorimeter massanya 0,5 kg dan panas jenisnya 0,10 kal / gr.o C diisi
dengan 1 kg es suhu mulanya - 10oC. Jika pada system diberi :

a. kalor 1,7 x105 kal , berapa tinggi suhu yang dicapai ?.

b. kalor 2,8x105 kal , suhu kalorimeter menjadi 120 o C , berapa kg air yang
menjadi uap ?.
dimana : panas jenis es : 0,60 kal/gr K
panas jenis air : 1,00 kal/gr K
panas peleburan es : 80 kal/gr.
panas penguapan : 540 kal/gr.

titik lebur es : 0o C

titik didih air : 100 o C


Jawab :
Suhu kalorimeter selalu sama dengan suhu yang ada didalamnya.

* Kalor yg diperlukan kalorimeter dari -10oC menjadi 0oC dan es dari -10oC
menjadi es 0oC
Q1 = mk ck(273-263)K+mes ces(273-263)K =(mkck+mesces)(273-263)

Q1 = [(500 gr)(0,1 kal/gr.oC)+(1000 gr)(0,6 kal/gr.oC)](10K)


= 6500 kal = 0,065.105 kal
* Kalor yang diperlukan kalorimeter dari 0oC menjadi 0oC dan es dari 0oC
menjadi air 0oC

Q1 = mk ck (273-273)K + mes L = 0 + (1000gr)(80 kal/gr) = 0,8.105 kal

* Kalor yang diperlukan kalorimeter dari 0oC menjadi 100oC dan air dari 0oC
menjadi air 100oC

Q3 = (mk ck)(373-273)K + (mair cair)( 373-273)K


= (mk ck + mair cair)(100)K

[ ]
= (500gr )(0,10kal / gr oC) + (1000gr )(1kal / gr oC) (100)K
= 1,050 . 105 kal
* Kalor yang diperlukan kalorimeter dari 0oC menjadi 100oC dan air dari 0oC
menjadi air 100o

Q4 = (mk ck)(393-373) + muap L


= (500 gr)(0,1 kal gr oC)(120 K) + muap (540 kal/gr)
= 6000 kal + 540 muap

a. Sisa kalor untuk menaikan es dari suhu -10oC sampai menjadi air 0oC

= (1,7.105 kal) Q1 Q2 = (1,7.105 0,605.105 0,8.105 ) kal

= 0,295.105 kal

(sisa kalor ini untuk menaikan suhu kalorimeter dan air 0o C sampai T yang
ditanyakan)

= (mk ck)(T-273)K + (mair cair)(T-273)K = (mk ck + mair cair)(T-273)K

= [(500 gr)(0,10 kal/gr oC) + (1000 gr)( 1 kal/gr oC)].(T-273 K)


- 179 -

= 1050 T 2,3665.105 kal

( 2,8665 + 0,295 ).10 5


T= = 301K = 28 o C
1050
b.Sisa kalor untuk menaikan es dari suhu -10 oC sampai menjadi air 100 oC

= 2,8.105 kal Q1 Q2 Q3

= (2,8.105 0,605.105 0,8.105 1,05.105) kal

= 0,345.105 kal

(sisa kalor ini untuk menaikan suhu kalorimeter dari 100oC menjadi 120oC
dan air 100o C sampai sebagian menjadi uap)
0,345.105 kal = 6000 kal + 540 muap
34500 - 6000
muap = = 52,8 gram.
540
Jadi yang dapat menjadi uap = 52,8 gr.

XI.3.1.2. Rangkuman
Dua buah benda pada keadaan kesetimbangan termal harus memiliki suhu
yang sama. Bahan konduktor merupakan bahan pengantar panas, sedang
bahan isolator merupakan bahan yang mencegah atau mengurangi hantaran
panas.
Setiap benda jika mengalami kenaikan suhu maka benda tersebut akan
mengalami pemuaian, bahkan pada es pada suhu 0o C mengalami perubahan
bentuk menjadi air dan pada suhu 100o C air menjadi uap.
Benda jika dicampur dengan benda lain yang suhunya berbeda, maka terjadi
suhu merata sama. Benda bersuhu lebih tinggi akan memberikan ke denda lain
yang berada didekatnya sehingga suhu menjadi setimbang. (jumlah panas
yang diberikan sama besarnya dengan jumlah panas yang diterima yang biasa
disebut dengan Azas Black)

XI.3.1.3. Test Formatif


1. Dalam sebuah tabung berisi air dengan massa air = 500 gram suhunya 50 oC.
Kedalam tabung dimasukan 400 gram es yang suhunya 10oC (suhu tabung
diabaikan). Berapa massa es yang dapat mencair ?.
2. Sebuah ketel listrik membutuhkan waktu 15 menit untuk memanaskan sejumlah
air dari suhu 0oC menjadi 100oC dan berapa waktu yang diperlukan agar
seluruh air menjadi uap ?.
3. Massa sebuah kalorimeter 50 gr dan kalor jenisnya 8.10-6 kal/gr.oC didalamnya
berisi air 200 gr dan es 200 gr mula-mula suhunya 0oC. Kemudian kedalam
kedalam kalorimeter dimasukan kelereng logam massanya 150 gr dengan
panas jenis logam adalah 10-5 kal/groC dan setelah setimbang suhunya 150oC.
Hitunglah suhu logam mula-mula sebelum dimasukan kedalam kalorimeter.

XI.4 Referensi

1. Alonsa, M; Finn, EJ.Physics, 1970, Addison-Wiesly Company Inc.


2. Beiser, A. The Maintsream of Physics, 1962, addisopn-Wiesly Publishing
Company Inc.
3. Berkelay Physics Course, Vol. 1, 2 and 3, 1965 Mc Graw-hill book
campany.
4. Tilley, DE, University Physics for Science and Enginering, 1976,
Cumming Publishing Company Inc.
- 181 -

BAB. XII
PERPINDAHAN PANAS
SPBS 1301/3 SKS

FISIKA DASAR I
Oleh :
Drs. Ignatius Suraya
DAFTAR ISI

Materi Halaman

XII.1. Pengantar 183


XII.2. Kompetensi 183
XII.3. Kegiatan Belajar 183
XII.3.1. Kegiatan Belajar : Perpindahan Panas 183
XII.3.1.1. Uraian dan Contoh 183
XII.3.1.1.1 Pendahuluan 183
XII.3.1.1.2a Perpindahan Panas Secara Konduksi (hantaran) 183
XII.3.1.1.2b Perpindahan Panas Secara Konveksi (aliran) 188
XII.3.1.1.2c Perpindahan Panas Secara Radiasi (pancaran) 189
XII.3.1.2. Rangkuman 192
XII.3.1.3. Test Formatif 192
XII.4 Referensi 193
- 183 -

XII.1. Pengantar
Perpindahan panas merupakan bagian dari Kalor atau panas yang khusus
mempelajari cara perpindahan panas misal dari benda padat ke benda padat, benda
padat ke benda cair (zat alir) yang kedua benda tersenut disentuhkan dan
pagaimana perpindahan panas jika kedua benda tidak disentuhkan tetapi punya
jarak tetap dapat dirasakan misalkan waktu kita kedinginan maka untuk
menghangatkan badang kita tidak perlu masuk ke dalam api unggun tetapi cukup
berada disekitas api unggun tersebut.

XII.2. Kompetensi
Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan dapat memahami dan mampu
menjelaskan serta menghitung/ menganalisa perpindahan panas secara konduksi,
konveksi dan radiasi

XII.3. Kegiatan Belajar


XII.3.1. Kegiatan Belajar : Perpindahan Panas
XII.3.1.1. Uraian dan Contoh
XII.3.1.1.1 Pendahuluan
Dua buah benda yang suhunya berbeda dan dihubungkan, maka akan
terjadi perpindahan panas dari benda yang bersuhu tinggi ke benda yang suhunya
lebih rendah. Perpindahan panas ini menyebabkan terjadinya aliran panas.
Macamnya perpindahan panas ada 3 (tiga) macam, yaitu :
1. Perpindahan panas secara konduksi (hantaran).
2. Perpindahan panas secara konveksi (aliran).
3. Perpindahan panas secara radiasi (pancaran)

XII.3.1.1.2a Perpindahan panas secara konduksi (hantaran).


Perpindahan panas secara konduksi (hantaran) terjadi karena interaksi
molekul dimana molekul dengan tingkat energi tinggi memberikan kepada
molekul yang lebih rendah, terjadi pada benda padat. Besarnya aliran panas
berbanding dengan luas permukaan dan gradien temperatur.
dT
H~A ..........XII.1
dx

dT
H=-KA ..........XII.2
dx

Dimana : H = arus panas, arahnya dari permukaan bersuhu tinggi ke permukaan


bersuhu rendah satuannya dalam kal/s atau J/s
K = konduktivitas termal satuannya dalam kal/s cm oC atau kal/s cm
K atau J/s m oC atau J/s m K
A = Luas permukaan, arahnya tegak lurus dengan arah H satuannya
cm2 atau m2

dT
= gradien temperatur
dx

dT = selisih suhu, satuannya dalam oC atau K


Tanda minus karena semakin bertambah panjang, temperaturnya semakin
berkurang

Contoh.
1. Sebuah balok panjangnya l dan luas penampangnya A. Suhu salah satu
permukaannya adalah T1 dan suhu pada permukaan lainnya T2 dimana T1
lebih besar dari T2, T1 dan suhu pada permukaan lainnya T2 dimana T1 lebih
besar dari T2,
- 185 -

dT
H = -KA
dx
l
H dx = - T2
K A dT H l = - K A (T2 T1)
0 T1

H l = K A (T1 T2)
K A (T1 - T2 )
H= ..........XII.3
l

2. Diketahui dua buah bahan yang berbeda jenisnya dengan konduktivitasnya K1


dan K2 luas penampangnya sama yaitu A dan panjangnya l1 dan l2. Jika suhu
pada permukaan kiri T1 dan suhu permukaan kanan T2 (T1 lebih besar dari T2)
keduanya disambung. Hitunglag suhu pada sambungan.

K1 A (T1 - Ts ) K1 A (T1 - Ts )
H1 = dan H2 =
l1 l1

Dalam keadaan steady (tidak ada pengaruh panas dari luar)


H = H1 = H2

K1 A (T1 - Ts ) K A (T1 - Ts )
= 1
l1 l1
K1T1 K 2T2
+
l1 l2
T s= ..........XII.4
K1 K 2
+
l1 l2

Jika untuk mencari salah satu suhu ditepi kanan atau kiri dengan persamaan :

H 2l 2 H1l1
-T2 + Ts Ts + T1 = +
K 2 A K1A

H l1 l
T1 T2 = + 2 ..........XII.5
A K1 K 2

A(T1 T2 )
H= ..........XII.6
l1 l
+ 2
K1 K 2

Jika terjadi n lapisan dan suhu permukaan paling kanan : Tn dapat dicari dengan

A(T1 Tn )
H= ..........XII.7
n
li
i :1 K i
- 187 -

3. Sebuah pipa panjangnya l dan jari-jari dalam r1 dan jari-jari luar r2,
konduktivitas termal bahan pipa adalah K. Jika pipa untuk mengalirkan air
panas dengan suhu T1 dan suhu bagian luar adalah T2, hitunglah besar dan
arah arus panasnya.

dT
H=-KA Arah H keluar searah dengan jari-jari
dx

A=2 r l = luas kulit silinder dan dx = dr searah dengan H

r2 T2
dr
H =-2 Kl dT
r1 r R1

H ln (r2/r1)= - 2 k l (T2 T1)

2 Kl(T1 - T2 )
H= ..........XII.8
ln(r2 / r1)
XII.3.1.1.2b Perpindahan Panas Secara Konveksi (Aliran)
Perpindahan panas dimana salah satu atau kedua-duanya bahan bergerak
sehingga bentuk penye- lesaiannya sangat rumit, misalkan dengan fluida karena
panas pans ynag hilang dan yang diterima pada suatu permukaan yang
berhubungan dengan fluida tergantung pada berbagai keadaan :
Bentuk permukaan (vertical, horizontal, melengkung dll.)
Jenis fluida (cairan, gas)
Karakteristik fluida (rapat massa, kekentalan, panas jenis dll.)
Kecepatan fluida
Keadaan fluida (penguapan, pengembunan)
Dari ketergantungan diatas, maka laju perpindahan panas dituliskan :

H = hc A T ..........XII.9
Dimana : hc = adalah koefisien konveksi yang ditentukan berdasarkan analisa
dimensi
Persamaan (XII.9) diatas berlaku untuk :
a. Kenveksi alami dimana aliran fluida disebabkan oleh perbedaan rapat
massa yang disebabkan perpindahan panas itu sendiri.
b. Konveksi paksa diman aliran fluida disebabkan di pompa atau didorong
kemermukaan padat.
Untuk suatu fluida membawa panas dari suatu permukaan padat kepermukaan
padat lainnya maka ini sering dinamakan perpindahan massa. Jadi laju
perpindahan panas berlaku persaman :
dm
H= x cp x T ..........XII.10
dt
Dimana =
dm
= adalah laju aliran massa (kg m/s)
dt
cp = adalah panas fluida (J/kg m K)
T = adalah perubahan suhu antara kedua permukaan padat (K)
- 189 -

Contoh :
Sebuah plat berada pada posisi vertical, lebar 4 m dan tingginya 10 m dan
suhu di jaga agar tetap 60 oC Plat ini dikelilingi dengan udara yang suhunya
10 oC. hc = 1,42 (T/L)1/4
hitunglah laju perpindahan panas.

Jawab : hc = 1,42 (T/L)1/4 L = demensi vertical

= 1,42 (50/10)1/4 = 2,12 W/m2 K

dengan demikian , laju perpindahan panas adalah :

H = hc A T = (2,12 W/m2 k)(40 m2)(50 K) = 4240 watt.

XII.3.1.1.2c Perpindahan Panas Secara Radiasi (Pancaran)


Untuk perpindahan panas secara konduksi dan konveksi terjadi lewat suatu
zat perantara (medium), tetapi untuk perpindahan panas secra radiasi tidak
membutuhkan zat perantara karena itu dengan mekanisme yang sama sekali
berbeda. Misalkan panas dari matahari diubah menjadi energi radiasi, energi
radiasi ini merambat lewat ruang dan diubah kembali menjadi panas jika
mengenai suatu benda. Jadi radiasi merupakan transmisi energi radiasi (radiasi
panas yang dibawa oleh gelombang elektro- magnetik). Radiasi termis atau radiasi
panas tersebut berhubungan dengan gelombang infra merah yaitu gelombang
infra merah pendek (0,7 2,3 um) sampai gelombang infra merah panjang (2,3
100 um).
Maka tinggi suhu suatu benda makin banyak pula radiasi panasnya. Untuk benda
hitam sempurna (black body) yaitu benda yang menyerap seluruh radiasi yang
mengenainya. Jadi radiasi persatuan luas adalah :

Eb = T4 (W/m2) ..........XII.11
Dimana : adalah konstanta Stefan Boltmann (5,76.10-8 W/m2 K4)
T adalah suhu absolut benda dalam K
Untuk benda bukan hitam sempurna, radiasi panas lebih kecil dari Eb.
Perbandingan antara E/Eb = e disebut emitansi atau emisivitas permukaan yang
harganya 0 < e < 1. Jadi untuk benda bukan hitam sempurna, radiasi panas
persatuan waktu persatuan luas adalah :

E= A T4 (W/m2) ..........XII.12

Jika permukaan benda adalah A, maka radiasi panas dari benda ini persatuan
waktu adalah :

R= A (Ta4 T24) (W ) ..........XII.13

Misal untuk dua plat sejajar yang luasnya sama dan dari bahan yang sama. Jika
suhu plat kiri adalh T1 dan plat kanan T2 dimana T1 > T2 maka plat kiri selain
memancarkan radiasi juga menyerap radiasi panas dari plat kanan. Maka radiasi
panas netto antara dua plat yang sejajar dan sama luas dan sama sama bahannya
adalah :

R= A (Ta4 T24) (watt )

Contoh :
1. Sebuah bola Tungsten yang mempunyai
luas permukaan 10 cm2 digantung
didalam ruangan yang besar dan kosong.
Ruangan ini bersuhu 300 K sedangkan
emitansi tungsten adalah 0,35. Berapa
masukan daya yang diperlukan agar suh
bola tersebut tetap 3000 K ?
- 191 -

Jawab :
Dengan persaman XII.13. dapat dicari banyaknya panas netto dari bola tungsten

R = e A (T14 T24)

R = (0,35)(5,67.10-8 W/m2 K4)(3000 K)4 (300 K)4 = 1607 watt


Agar supaya Tungsten tetap 3000 K, maka masukan daya yang dibutuhkan adalah
1607 watt.

2. Sebuah plat yang luas salah satu permukaannya diisolasi dengan sempurna
sedangkan suhu pada permukaan satunya adalah T1. Emitansi permukaan 0,9
dan panas yang hilang dari permukaan ini adalah : 200 W/m2 jika diletakan
pada lingkungan bersuhu 0 K . Plat lain ukurannya sama dan salah satu
permukaannya juga diisolasi, mempunyai emitansi 0,45 dan suhunya T2 panas
yang hilang 100 W/m2 pada lingkungan 0 K. Jika suhu kedua plat ini dibuat
tetap, maka carilah panas netto persatuan luas yang dipancarkan antara kedua
plat.

Jawab :
Panas radiasi persatuan luas dari plat pertama adalah :

E 1 = e1 T14 = (0,9) T14 = 200 W/m2


200
T14 =
0,9
Panas radiasi persatuan luas dari plat pertama adalah :
E 2 = e2 T24 = (0,45) T24 = 100 W/m2
100
T24 =
0,45
Dari kedua perhitungan diatas bahwa T1 = T2, dengan demikian panas netto yang
dipancarkan antara kedua permukaan adalah :
E = E1 + E2 = 100 W/m2
XII.3.1.2. Rangkuman
Tiga mekanisme perpindahan panas adalah konduksi, konveksi dan radiasi.
Konduksi adalah perpindahan panas gerakan molekul suatu bahan tanpa
gerakan dasar dari bahan itu sendiri. Konveksi melibatkan gerakkan massa
dari suatu daerah ke daerah lain dan radiasi adalah perpindahan panas
melalui radiasi elektromagnitik.
Arus panas H untuk konduksi tergantung pada luas permukaan yang dilalui
aliran panas dan pajang l yang menjadi jalur panas.
Perpindahan panas melalui konveksi adalah proses yang komplek,
tergantung pada luas permukaan, arah dan perbedaan suhu antara benda dan
lingkungannya.

XII.3.1.3. Test Formatif


a. Sebuah batang dari kayu panjangnya 20 cm disambung dengan batang besi
panjang 50 cm dan luas penampangnya sama 6 cm2. Jika suhu pada ujung kiri
kayu 300 K dan suhu pada ujung kanan besi adalah 273 K, hitunglah : suhu
pada sambungan antara kayu dan besi juga hiyung arus panas pada kayu.
Dimana : konduktivitas termak kayu : 0,1 J/s m K
konduktivitas termak kayu : 50 J/s m K
b. Sebuah kawat pemanas yang panjangnya 10 m menghasilkan daya 2 kW.
Diameter kawat 6.10-4 m. Kawat ini dibungkus dengan bahan keramik
berbentuk silinder dengan diameter 12.10-4 m. Suhu kawat pemanas 800 oC
dan suhu pada keramik bagian luar 25 oC. Carilah konduktivitas termal bahan
keramik tersebut.
3. Sebuah kotak es terbuat dari kayu tebalnya 1,75 cm dan bagian dalamnya dila-
pisi dengan gabus setebal 3 cm. Jika suhu gabus bagian dalam 0 oC dan suhu
kayu bagian luar adalah 12 oC, berapa suhu pada bidang batas antara gabus
dengan kayu ?. dimana konduktivitas kayu dan gabus masing-masing 0,06
dan 0,012.
- 193 -

4. Sebuah batang (tongkat) kuningan yang berbentuk silinder pejal dan


panjangnya 1,5 m dan luas penampangnya 5 cm2 . Tongkat ini diisolasi supaya
tidak ada panas yang hilang. Pada salah satu ujungnya dimasukan kedalam es
suhunya 0 oC dan ujung yang lain dimasukan pada air mendidih 100 oC.
a. Hitunglah perpindaha
b. Hitunglah es yang mencair

XII.4 Referensi
1. Alonsa, M; Finn, EJ.Physics, 1970, Addison-Wiesly Company Inc.
2. Beiser, A. The Maintsream of Physics, 1962, addisopn-Wiesly Publishing
Company Inc.
3. Berkelay Physics Course, Vol. 1, 2 and 3, 1965 Mc Graw-hill book
campany.
4. Tilley, DE, University Physics for Science and Enginering, 1976,
Cumming Publishing Company Inc.
BAB. XIII
TERMODINAMIKA
SPBS 1301/3 SKS

FISIKA DASAR I
Oleh :
Drs. Ignatius Suraya
- 195 -

DAFTAR ISI

Materi Halaman

XIII.1. Pengantar 196


XIII.2. Kompetensi 196
XIII.3. Kegiatan Belajar 196
XIII.3.1. Kegiatan Belajar : Termodinamika 196
XIII.3.1.1. Uraian dan Contoh 196
XIII.3.1.1.1 Pendahuluan 196
XIII.3.1.1.2a Teori Kinetik Gas 197
XIII.3.1.1.2b Usaha Pada Perubahan volume 202
XIII.3.1.1.2c Termodinamika 203
XIII.3.1.1.2d Mesin-mesin Panas 208
XIII.3.1.1.2e Mesin Dingin (Refrigerator) 213
XIII.3.1.1.2f Hukum Kedua Termodinamika 214
XIII.3.1.1.2g Siklus Carnot 214
XIII.3.1.1.2h Entropi 218
XIII.3.1.2. Rangkuman 219
XIII.3.1.3. Test Formatif 219
XIII.4 Kunci Jawaban Tes Formatif 220
XIII.5 Referensi 220
XIII.1. Pengantar
Banyak contoh yang menunjukkan hubungan antara sifat skala besar atau
makrokospis dari bahan seperti tekanan, volume, suhu dan massa dari bahan.
Tetapi juga dapat mendiskripsikan suatu bahan menggunakan sudut pandang
mikroskopis, ini berarti menyelidiki kuantitas skala kecil seperti massa, laju,
energi kinetik, dan momentum dari setiap molekul yang menyusun benda. Dalam
bab ini kita akan menggunakan pendekatan makroskopis dan mikroskopis untuk
memperoleh pemahaman tentang sifat termal materi.

XIII.2. Kompetensi
Setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan dapat memahami dan mampu
menjelaskan serta menghitung/ menganalisa teori kinetik gas, Hukum Pertama
Termodinamika, proses adiabatis, isobarik, isovolum, isotermal, usaha yang
dilakukan oleh sistem, Hukum Ke dua Termodinamika

XIII.3. Kegiatan Belajar


XIII.3.1. Kegiatan Belajar : Termodinamika
XIII.3.1.1. Uraian dan Contoh
XIII.3.1.1.1 Pendahuluan
Untuk setiap zat murni (pure subsance), terdapat suatu hubungan antara
besaran-besaran zat tersebut seperti : massa m, tekanan P, Volume V dan suhu T.
Hubungan diatas disebut persamaan keadaan zat adapun yang dimaksud
keadaan adalah keadaan setimbang (equilibrium) artinya jika ditambahkan
sejumlah panas kedalam system yang berada dalam keadaan setimbang, maka
proses perpindahan panas dalam system itu akan membuat system mencapai
keadaan setimbang yang baru.
Hukum gas ideal merupakan hasil dari dua jenis eksperimen yang
berhubungan dengan tingkat lakunya. Pada percobaan pertama, suhu diatur agar
selalu tetap, sedangkan volume gas diubah-ubah dan pada setiap perubahan
volume tekanan diamati oleh Robert Boyle percobaan sebagai Hukum Boyle.
Untuk penyelesaian ini menggunakan metode dinamakan Teori Kinetik yaitu
- 197 -

metode yang bersifat fisis dan dengan cara pendekatan matematis yang relatif
sederhana.

XIII.3.1.1.2a Teori Kinetik Gas.


A. Persamaan Keadaan dan Gas Ideal
Misalkan suatu tabung volumenyaV diisi sejumlah gas yang massanya nM
dan suhunya T dimana : n adalah jumlah molekul dan M adalah berat molekul.

Hubungan antara variable-variabel termodinamika P, V dan T sebagai berikut :


Untuk sejumlah massa tertentu jika suhunya tetap, maka tekanan
berbanding terbalik dengan volumenya
Untuk sejumlah massa tertentu jika tekanannya tetap, maka volume
berbanding lurus dengan suhunya
Dari kedua persamaan diatas dapat dituliskan hubungan :
PV
= konstan ..........XIII.1
T

ternyata PV/T sebanding dengan massa gas, berarti sebanding juga dengan jumlah
molekul. Jadi :

PV
=nR ..........XIII.2
T

PV=NRT ..........XIII.3

R = konstanta gas ideal umum


= 8,314 J/mol K
= 1,986 kal/mol K
Gas ideal didefinisikan sebagai berikut :
Gas yang terdiri sejumlah partikel yang sangat banyak disebut molekul.
Molekul-molekul ini bergerak secara acak dan memenuhi Hukum Gerak
Newton.
Volume molekul-molekul dapat diabaikan terhadap volume bejana yang
ditempati gas tersebut
Selama tidak terjadi tumbukan, molekul bergerak dengan kecepatan konstan.
Tumbukan antar molekul atau antara molekul dengan dinding bejana adalah
merupakan tumbukan elastis sempurna dan terjadi dalam waktu yang singkat.

Contoh :
Sebuah tangki oksigen volumenya 50 liter. Dengan dikeluarkan sejumlah
oksigen dari tangki tersebut, tekanan yang terbaca pada indicator berkurang dari
2,06.106 Pa menjadi 6,86.105 Pa dan suhunya turun dari 30 oC menjadi 10 oC.
a. Hitunglah jumlah oksigen mula-mula di dalam tangki
b. Hitunglah jumlah oksigen yang dikeluarkan
c. Hitunglah volume yang akan ditempati oksigen yang dikeluarkan dari tangki
tersebut pada tekanan 1 atmosfier dan suhunya 20 oC. ( 1 atm = 1,01.105 Pa)

Jawab :
a. Tekanan total oksigen sebelum ada yang dikeluarkan :

P1 = (2,06.106 Pa) + 1 atm = (2,06.106 Pa) + (1,01.105 Pa) = 2,16.106 Pa

Tekanan total oksigen setelah sebagian dikeluarkan :

P2 = (6,87.105 Pa) + 1 atm = (6,87.105 Pa) + (1,01.105 Pa) = 7,88.105 Pa

Volume tangki 50 liter = 0,05 m3

Suhu T1 = 30 oC = 303 K dan suhu T2 = 10 oC = 283 K


- 199 -

d. Jumlah mol mula-mula adalah

P1V (2,16.106 Pa )(0,05m3 )


n1 = = = 42,9 mol
RT1 (8,314J / molK)(303K)
Jumlah oksigen mula-mula :

m1 = n1 M = (16,8 mol)(32 gram/mol) = 537 gram =1,373 kg

M = massa mol oksigen 32 gram/mol

b. Jumlah mol setelah sebagian dikeluarkan

P V (7,88.105 Pa )(0,05m3 )
n2 = 2 = = 16,8 mol
RT2 (8,314J / molK)(283K )

Jumlah oksigen setelah sebagian dikeluarkan

m2 = n2 M = (16,8 mol)(32 gram/mol) = 537 gram =0,537 kg

Jumlah oksigen yang dikeluarkan adalah = m1 m2


= 1,373 kg - 0,537 kg = 0,836 kg

c. Jumlah mol oksigen yang dikeluarkan adalah = n1 n2


= 42,9 mol - 16,8 mol = 26,1 mol

nRt (26,1mol)(8,314J / molK)(293K )


volumenya adalah : V = =
P (1,01.105 Pa )

= 0,63 m3
B. Tekanan gas Ideal
Misalkan : gas ideal didalam bejana berbentuk kubus dengan panjang sisi l
dan luas dindingnya : A
Sebuah partikel massanya m bergerak
kearah sumbu x dengan kecepatan vx dan
menumbuk dinding A2. Karena tumbukan
elastik sempurna maka partikel dipantulkan
dengan kecepatan vx. Jadi momentum
yang dialami oleh partikel adalah 2 m vx
dan momentum yang diberikan kedinding
A2 adalah 2 m vx.

Jika gerak partikel dari A2 ke A1 dan kembali ke A2 tidak ada tumbukan dengan
partikel lain, maka waktu yang diperlukan 2 l/vx. Jadi tumbukan persatuan waktu
adalah vx/2l.
Momentum persatuan waktu yang dipindahkan oleh partikel ke A1 adalah :
2 m vx .(vx/2l) = m vx2/l merupakan persamaan gaya

d (mv )
dari persamaan gaya F = dan D = F/A = F l-2 jadi tekanan
dt
P = m vx2 l-3

untuk N partikel tekanannya :

m
P= ( v x21 + v x2 2 + v x2 3 + ......... + v xN
2
)
l3

Jika nv = N l-3 = jumlah partikel persatuan volume

L3 = N/nv
- 201 -

( v 2x1 + v 2x 2 + v 2x3 + ......... + v 2xN )


P = m nv =
N

m nv adalah massa persatuan volume yaitu

( v 2x1 + v 2x 2 + v 2x3 + ......... + v 2xN )


adalah nilai rata-rata dari vx2
N
sehingga : P = vx2 ..........XIII.4

Setiap partikel bergerak dengan v2 = vx2 + vy2 + vz2

vx2 = vy2 = vz2 karena simetri, sehingga :

vx2 = 1/3 . v2

jadi P = vx2 = 1/3 . v2 ..........XIII.5


ideal sebanding dengan temperatur. Jika dibagi dengan bilangan Avogadro NA,
maka didapat :

. (M/NA) v2 = 3/2 . (R/NA) T

dimana : M/NA = m : massa sebuah molekul tunggal


R/NA = K : konstanta Boltzmann

. m v2 = 3/2 . K T ..........XIII.6
R 8,314J / molK
K= = = 1,38 . 10-23 j/molekul K
N A 6,023.1023 molekul/ mol

Untuk beratom tunggal berlaku persamaan . m v2 = 3/2 . K T


Untuk gas beratom dua , selain bergerak translasi juga rotasi dan bergetar
(vibrasi). Molekul dapat berputar terhadap sumbu X dan sumbu Y.
2 2
Energi kinetik rotasinya : . Ix x dan . Iy y sedang ke sumbu z
diabaikan sebab momen kelembaman kecil sekali tetapi bergetar pada sumbu Z
dengan energi potensial K Z2 dan energi kinetiknya m v2.
Jadi untuk satu molekul :

E = m (vx2 + vy2 + vz2 ) + I ( x


2
+ 2
y ) + m v2

Menurut prinsip ekipartisi energi : energi setiap suku yang berbentuk kwadrat
variable adalah K T, jadi :

E = 7/2 . K T ..........XIII.7

Energi rata-rata l molekul U = N E = 7/2 . N K T ..........XIII.8

XIII.3.1.1.2b Usaha Pada Perubahan Volume

Suatu silinder dengan luas penampang lingkaran A pada salah satu permukaannya
ditutup dengan bahan yang permanen tidak dapat bergerak dan pada permukan
yang lain ditutup dengan piston (klep) yang dapat bergerak. Tekanan yang terjadi
pada piston : P maka gaya yang dilakukan oleh system ke piston F = P A. Jika
piston berpindah sejauh ds, maka usaha oleh gaya tersebut.

dW = P A ds
- 203 -

dW = P dV dV = A ds perubahan volume system

Usaha yang dilakukan untuk perubahan volume dari V1 ke V2 adalah :


V2

W= PdV ..........XIII.9
V1

XIII.3.1.1.2c Termodinamika
Untuk membahas Hukum termodinamika andaikan system berubah dari
keadaan awal P1 V1 ke keadaan P2 V2 dengan menyerap atau mengeluarkan kalor
Q dan melakukan atau menerima kerja usaha W. Setelah diamati ternyata Q W
untuk semua proses tetap meskipun Q dan W tergantung dengan proses. Q W
disebut perubahan energi dalam system. Misalkan U1 adalah enerhi dalam system
pada keadaan awal dan U2 adalah energi pada keadaan akhir, maka perubahan
energi dalam system adalah :

U = U2 U1 = Q W ..........XIII.10

Persamaan XIII.12 disebut sebagai Hukum Pertama Termodinamika.

Jika perubahannya relatif kecil, maka persamaan diatas dapat ditulis

DU = dQ dW ..........XIII.11

W harganya positif jika system melakukan usaha


Q harganya positif jika system menyerap panas

Diatas dikemukakan bahwa kerja yang dikerjakan oleh system tergantung proses
a. Proses Isobarik (tekanan tetap)
V2

Dengan persamaan XIII.11 didapat W = PdV = P (V2 V1) ..........XIII.12


V1

Kapasitas panas molar pada tekanan tetap adalah cp, maka :

dQ = n cp dT

dan usaha pada tekanan tetap

dW = P dV = n R dT

b. Proses Isochorik (volume tetap)


V2

Dengan persamaan XIII.11 didapat W = PdV = 0 ..........XIII.13


V1

Kapasitas panas molar pada volume tetap adalah cV, maka ;

dQ = n cV dT ..........XIII.14

Dari Hukum Pertama Termodinamika :

DU = dQ dW

n cV dT = n cP dT n R dT

cP cV = R ..........XIII.15

persamaan XIII.17 berlaku untuk semua proses.


- 205 -

c. Proses Isotermal (temperatur tetap)


V2

Dengan persamaan XIII.11 didapat : W = PdV untuk gas ideal


V1

PV = n R T tetap
V2 V2
dV
W= PdV = n R T = n R T ln (V2/V1) ..........XIII.16
V1 V1 V

Untuk T tetap maka :

P1 V1 = P2 V2 atau V2/V1 = P1/P2 jadi persamaan XIII.18 menjadi :

W = n R T ln (P1/P2) ..........XIII.17
Pada proses isotermal dT = 0 sehingga dQ = dW

Proses Adiabatis. (tidak ada panas yang keluar atau masuk ke system
selama proses berlangsung)

Jadi dQ = 0, dU = n cV dT
dW = P dV

Hukum Pertama termodinamika dU = dQ dW


pada proses ini dU = - dW
n cV dT = - P dV

PdV
maka : dT = - ..........XIII.18
nc'
V

PdV
P dV + v dP = n R dT = -n R
nc'
V

P cV dV + V cV dP + R P dV = 0
V cV dP + (cV + R) P dV = 0 masukan persamaan XIII.15 didapat :

V cV dP + (cV + cP - cV ) P dV = 0

V cV dP + cP P dV = 0 dibagi dengan V cV P akan diperoleh :

dP c'
P dV
+ ' =0 cP/cV =
P cV V

dP dV
+ = 0 diintegralkan ln P + ln V = ln C
P V
C merupakan konstanta

P V = C konstan ..........XIII.19

Dapat ditulis : P1 V1 = P2 V2 ..........XIII.20


Masukan persamaan gas ideal ke persamaan XIII.21 didapat :

(nRT/V) V = C

T V( -1) = C/nR = C konstan . ..........XIII.21

T1 V1( -1) = T2 V2( -1) ..........XIII.22

Dari persamaan gas ideal V = nRT/P masukan ke persamaan XIII.24 didapat :

T (nRT/P)( -1)
= C

T P-( -1)
= C/(nR)( -1)
= C konstan

T P-( -1)
= C atau T P(1- )/ = C ..........XIII.23

Dapat ditulis : T1 P1(1- )/ = T2 P2(1- )/ . ..........XIII.24


- 207 -

V2

Usaha yang dilakukan pada proses adiabatic : W= PdV


V1

Masukan persamaan P = C/ V kepersamaan diatas


V2

W= (C/ V ) . dV = (1- )-1(P2 V2 P1 V1) ..........XIII.25


V1

= cP/cV dikenal sebagai tetapan Laplasce


= 1,67 untuk gas beratom tunggal
= 1,40 untuk gas beratom dwitunggal dan untuk gas beratom banyak tak ada
nilai yang khusus.

Contoh :
Gas N2 dengan tekanan 105 Pa dan suhunya 0 oC dan volumenya 25 liter
dikompresi secara adiabatic sehingga volumenya tinggal 0,8 volume semula.
Untuk N2, = 1,4 dan cV = 741 J/kg K, M = 28 gram/mol .
Hitunglah : a. Tekanan akhir dan suhu akhir
b. Usaha yang dilakukan pada gas

Jawab :
a. Dari persamaan : P1 V1 = P2 V2

(105 Pa)(V1)1,4 = P2 (0,8 V1)1,4

Pa = (105Pa)(81,4) = 18,34.105 Pa

Dari persamaan T1 V1( -1) = T2 V2( -1)

(273 K)(V1)0,4 = T2 (0,8 V1)0,4

T2 = (273 K)(80,4) = 627,2 K


b.Usaha yang dilakukan pada gas sama dengan kenaikan energi dalam proses
adiabatic :

W = M cV (T2 T1 ) = (0,028 kgm)(741 J/kg K)(627,2 K 273 K)


= 8,57.103 J

Dimana : m = 28 gram/mol = 0,028 kgm

XIII.3.1.1.2d Mesin-mesin Panas


Mesin panas (Heat engine) adalah mesin siklis yang menyerap panas Q
yang diubah menjadi kerja usaha mekanis W. Karena proses siklis maka dalam
kasus ini U = 0, sehingga Q = W, artinya jumlah panas netto Q yang mengalir
masuk kemesin dalam proses siklis sama dengan usaha netto W yang dilakukan
oleh mesin. Lingkaran menggambarkan mesin panas. Panas Q2 disuplai dari
wadah panas (hot reservoir) ke mesin panas dan membuang panas sebesar Q1 ke
wadah dingin (cold reservoir) sambil melakukan usaha W yang merupakan
keluaran (output) mesin yang berguna.
Jadi Q1 adalah panas yang dibuang dan Q2 adalah panas yang diserap mesin, maka
panas netto yang diserap mesin adalah :

Q = Q2 + Q1 ..........XIII.26

Q1 merupakan bilangan negatif (dilepas). Jadi Hukum Pertama Termodinamika,


usaha netto yang dilakukan adalah :

W = Q = Q2 + Q1 ..........XIII.27
- 209 -

Panas yang diserap mempunyai nilai


ekonomis karena ada hubungannya
dengan pemakaian bahan bakar. Sedang
panas yang dibuang tidak ada nilai
ekonomis. Penilaian baik buruknya
mesin biasa dilihat dengan perbandingan
antara usaha yang dilakukan dengan
banyaknya bahan bakar yang dihabiskan
yang biasa disebut effisiensi ( ). Lihat
gambar.

Effisiensi ( ) = W / Q2

= (Q2 + Q1)/Q2

Effisiensi ( ) = 1 + (Q1/Q2)

A. Mesin Bensin.
Mesin bensin biasanya merupakan jenis mesin siklus 4 yang artinya terjadi
4 proses setiap siklus. Untuk tujuan perhitungan dapat didekati dengan siklus Otto
seperti gambar dibawah.

Diagram PV untuk siklus Otto


Titik a udara didalam silinder pada tekanan atmosfier dikompresi secara adiabatic
menuju titik b, kemudian dipanaskan pada volume tetap munuju ke titik c. Setelah
itu dibiarkan memuai secara adiabatic menuju titik d, kemudian didinginkan pada
volume tetap menuju titik a. Lengkung ab menunjukan gerak kompresi, garis bc
menggambarkan ledakan pembakaran dan lengkung cd memperlihatkan gerak
muai (gerak kerja), garis da adalah proses pembuangan. V1 adalah volume udara
minimum dan V2 adalah volume udara maksimum.
Luasan dalam lintasan menunjukan usaha yang dilakukan oleh mesin, Garis bc
menunjukan panas yang masuk ke mesin terjadi pada proses, Garis da
menunjukan panas yang dibuang
Lengkung ab dan cd menggambarkan selama terjadi proses adiabatic.

Effisiensi ( ) = [1 (V2/V1 )( -1)].100%

Perbandingan V2/V1 disebut nisbah kompresi dan untuk mesin desel sekitar 10.

Gas ideal denagn cV = 20,88 J/mol K dan cP = 29,20 J/mol K. Tekanan dititik 1
adalah P1 = 100 kPa suhunya T1 = 330 K. Nisbah kompresi mampu membuat P2 =
1500 kPa dan panas yang ditambahkan dalam langkah 2 ke 3 mampu membuat T3
= 2450 K.
- 211 -

Tentukan :
Nilai Q dan W untuk keempat langkah diatas
Usaha netto siklus
Effisiensi mesin.

Jawab :
Cari dahulu suhu disetiap titik. Langkah 1 ke 2 adalah proses adiabatic, maka :
T2 = T1 (P2/P1)( -1)/ = (330 K)(1500 kPa/100 kPa)0,285 = 714 K
T4 = T1.T3/T2 = (300 K.2450 K)/714 K = 1132 K
a. Langkah 1 ke 2 : Q12 = 0, maka W12 = U12 = - n cV(T2 T1)
= - 8018 J/mol
langkah 2 ke 3 : W23 = 0, maka Q23 = U23 = n cV(T3 T2)
= 36248 J/mol
langkah 3 ke 4 : Q34 = 0, maka W34 = U34 = - n cV (T4 T3)
= 27520 J/mol
langkah 4 ke 2 : W41 = 0, maka Q41 = U41 = n cV(T4 T1)
= - 16746 J/mol
b. Usaha netto siklus adalah :
Wsiklus = W12 + W34 = 19502 K/mol
c. Effisiensi langkah :
= Wsiklus/Qmasuk = (W12 + W34)/Q23 = 0,538 x 100 % = 53,8 %
Atau dengan persamaan :
= 1 (T1 + T2) = 0,538 x 100 % = 53,8 %
jadi mesin ini dengan usaha netto sebesar 53,8 % dan panas yang dibuang
kelingkungan sebesar 46,2 % yakni sebesar
Q41 = - 16746 J/mol.
B. Mesin Diesel.
Dari diagram PV untuk siklus diesel,
maka dari titik a, udara dikompresi
secara adiabatic menuju titik b.
Kemudian udara tersebut di panasi
pada tekanan kons tan menuju ke titik c
dan selanjutnya dimuaikan seca ra
adiabatic ke titik d.

Setelah itu udara didingin kan pada volume konstan menuju ke titik a. Karena
didalam silinder pada saat kompresi tidak ada bahan bakar,
maka pada saat pra pengapian tidak adapt terjadi dan nisbah kompresi V1/V2
disini dapat lebih besar jika disbanding dengan nisbah kompresi mesin bensin.
Nisbah kompresi V1/V2 mesin diesel sekitar 15, sedang nisbah kompresi V1/V2
memiliki nilai sekitar 5.
Bila = 1,4 maka effisiensi siklus mesin diesel sekitar 56 %, biasa effisiensi
mesin lebih kecil dari perhitungan.

C. Mesin Uap

Siklus yang ideal dipakai pada mesin uap


adalah siklus Rankine. Dimulai dengan
air (dalam fase air) pada tekanan dan
suhu rendah (titik a), kemudian air
dikompresi secara adiabatic ke titik b
pada tekanan pendidih.

Kemudian dilakukan pemanasan sampai air mencapai titik didih (kurva bc)
dan air diubah menjadi uap (kurva cd) dipanaskan secara berlebihan (kurva de)
dan dimuaikan secra adiabatic dengan sebagian uap mengalami kondensasi
- 213 -

(kurva ef) dan akhirnya didinginkan serta terkondensasi (kurva fa) kembali seperti
keadaan semula. Effisiensi siklus mesin uap dapat juga dihitung seperti mesin
bensin atau mesin diesel. Dengan panas yang diserap kurva be dan panas yang
dilepas kurva fa.

XIII.3.1.1.2e Mesin Dingin (Refrigerator)


Mesin dingin (refrigerator) seperti mesin panas hanya arahnya berlawanan.

Mesin dingin merupakan siklis yang menyerap sejumlah panas Q dari


lingkungannya karena adanya usaha W. Seperti gambar diatas menunjukan
diagram alir untuk mesin dingin. Dalam sebuah siklis panas Q1 memasuki mesin
pada suhu rendah T1 dan usaha W dilakukan pada mesin itu, serta panas
dikeluarkan dari mesin pada suhu tinggi T2. Baik W maupun Q2 merupakan
bilangan negatif dan Q1 merupakan bilangan positif. Dari Hukum Pertama
Termodinamika dan karena U = 0, maka diperoleh

W = Q2 + Q1 atau - Q2 = Q1 - W ..........XIII.28
Artinya panas yang dilepas ke reservoir panas merupakan penjumlahan panas
yang diserap dari reservoir dingin dan panas yang sepadan dengan usaha yang
dilakukan oleh mesin.
Nilai ekonomisnya jika mesin dapat mengeluarkan panas sebesar-besarnya.
Definisi besaran baru yang identik dengan effisiensi yaitu COP (Coefficien Of
Performance) sebagai perbandingan(nisbah) Q1/W
Maka :

COP = -Q1/(Q2 + Q1) ..........XIII.29

COP mesin dingin berkisar antara 2 sampai 6, makin besar COP makin baik mesin
dingin tersebut.

XIII.3.1.1.2f Hukum Kedua Termodinamika


Pada contoh-contoh mesin diatas tidak ada mesin yang mempunyai
effisiensi 100 % yang berarti tidak ada mesin yang dapat mengubah seluruh panas
yang diserap menjadi usaha (tenaga mekanik). Dari ketidakadaan (ketidak
mungkinan) ini yang membuat timbulnya Hukum Kedua Termodinamika.

Hukum Kedua Termodinamika oleh Kelvin-Planck adalah :


Tidak mungkin dibuat suatu mesin panas yang menyerap panas dari reservoir
dan mengubah seluruh panas ini menjadi usaha mekanik

Hukum Kedua Termodinamika oleh Clausius :


Tidak mungkin dibuat suatu mesin dingin yang dapat menyerap panas dari
sebuah benda bersuhu rendah dan memindahkan panas itu kebenga lain yang
bersuhu lebih tinggu tanpa melakukan usaha

XIII.3.1.1.2f Siklus Carnot.


Karena tidak ada mesin dengan effisiensi 100 %, kemudian timbul
pertanyaan berapa effisiensi maksimum yang dapat dicapai suatu mesin ?.

Pada tahun 1824 oleh Sadi Carnot menemukan mesin ideal yang disebut
mesin Carnot, sedang siklusnya disebut siklus Carnot.
- 215 -

Siklus ini dibatasi oleh kedua lengkung isotermis yaitu kurva bc dan da sedangkan
kurva ab dan cd adalah lengkung adiabatic.

Semua panas Q2 yang masuk dipasok pada satu suhu tinggi (lengkung bc)
dan semua Q1 yang keluar terjadi pada satu suhu rendah (lengkung da).

Menurut gambar diatas arah proses panas Q2 dari reservoir panas masuk dan
panas Q1 keluar ke reservoir dingin sedang mesin melakukan usaha W. (jika
arahnya dibalik maka merupakan siklus Carnot untuk mesin dingin).
Jika berbagai siklus dibandingkan, ternyata bahwa : untuk mesin-mesin yang
bekerja diantara dua suhu tidak ada mesin yang lebih effisien dari mesin Carnot.
Teori Carnot berbunyi : Semua mesin Carnot yang bekerja diantara dua suhu-suhu
yang sama mempunyai effisiensi yang sama.

Untuk proses isotermik :

Q2 = n R T2 ln(V1/V2)

Q1 = n R T1 ln(V3/V4)
Sehingga diperoleh :

Q 2 T2 ln(V1 / V2 )
=
Q1 T1 ln(V3 / V4 )

untuk proses isotermik berlaku :

P1V1 = P2 V2 dan P3V3 = P4V4

untuk proses adiabatis berlaku :

P2V2 = P3V3 dan P4V4 = P1V1

Bila persamaan untuk proses isotermal dan adiabatic diatas dipadu dengan
mengeliminasi P1, P2, P3 dan P4, maka :

V1 V2 V3 V4 =V2 V3 V4 V1

; V
Sehingga 1/V2 = V3/V4 masukan persamaan ini ke persamaan Q2/Q1

Q2/Q1 = -T2/T1

Effisien mesin Carnot = 1 + (Q2/Q1)


= 1 - (T2/T1) ..........XIII.30

contoh :
1. Sebuah pabrik membuat mesin yang beroperasi di antara 430 oC dan 1870 oC.
Dalam 1 jam mesin ini memerlukan panas 6,85.109 kalori dan menghasilkan
energi mekanis (usaha) yang bermanfaat sebesar 1,2.1012 J. Hitunglah :
a. Effisiensi Carnot mesin ini.
- 217 -

b. Effisiensi sesungguhnya
c. Daya mesin ini dalam tenaga kuda (hp atau horse power)

Jawab :
a. Effisiensi Carnot Carnot = 1 - (T2/T1)

= 1 (703K/2143K) = 67 %

b. Effisiensi sesungguhnya = W/Q2 = (1,2.1010 kal)/(6,85.109 kal)(4,18


J/kal) = 42 %

c. Daya mesin ini dalam tenaga kuda :

P = W/t + (1,2.1010 J)/(3600 detik) = 3,33.106 watt

= 3,33.106 (1 hp/746 W) = 4460 hp

2. Ada tiga pabrik menawarkan mesinnya sebagai berikut : ketiga mesin yang
ditawarkan semua bekerja pada suhu antara 500 K sampai 300 K.
Pabrik A menawarkan bahwa mesinnya dapat menghasilkan usaha 3000 J untuk
setiap masukan panas sebesar 1 kilo kalori. Pabrik B menawarkan bahwa
mesinnya dapat menghasilkan usaha 2000 J untuk setiap masukan panas sebesar
1 kilo kalori. Pabrik C menawarkan bahwa mesinnya dapat menghasilkan usaha
1000 J untuk setiap masukan panas sebesar 1 kilo kalori.
Dari pabrik mana yang dapat anda percaya ?

Jawab :
Effisiensi tertinggi yang dapat dicapai oleh mesin yang bekerja antara suhu 500 K
sampai 300 K adalah :

Effisiensi Carnot Carnot = 1 - (T2/T1) = 1 (300 K/500 K) = 40 %


Dari formula = W/Q2 dan karena 1 kilo kalori = 4185 J/kal) , maka :

Effisiensi mesin pabrik A = (3000 J/4185 J) x 100 % = 72 %

Effisiensi mesin pabrik B = (2000 J/4185 J) x 100 % = 48 %

Effisiensi mesin pabrik A = (1000 J/4185 J) x 100 % = 24 %


Jadi mesin dari pabrik A dan B tidak mungkin karena lebih besar dari effisiensi
tertinggi, sedang mesin yang ditawarkan oleh pabrik C dibawah effisiensi
tertinggi. Jadi yang dapat dipercaya adalah mesin buatan pabrik C

XIII.3.1.1.2h Entropi
Entropi adalah suatu besaran yang tergantung pada keadaan system.
Entropi sebagai derajat ketakteraturan atau tingkat ketakteraturan.
Jika sejumlah panas dQ yang ditambahkan pada setiap perubahan kecil selama
proses dibagi dengan suhu mutlak T dan hasil pembagian untuk seluruh proses
dijumlahkan, maka didapat nilai yang sama untuk semua proses dapat balik.
- 219 -

2
dQ
= konstan untuk semua proses dapat balik antara keadaan 1 dan keadaan 2
1 T

Jika ada proses singkat panas yang dipasok adalah dQ, maka dQ/T disebut
perubahan entropy system atau secara metematis ditulis :

dS = dQ/T ..........XIII.31

dimana T adalah suhu mutlak (K), maka :


2
dS = S2 S1 ..........XIII.32
1

persamaan XIII.33 juga berlaku untuk proses yang tak dapat balik.

XIII.3.1.2. Rangkuman
Tekanan, volume dan suhu dari sejumlah bahan tertentu disebut sebagai
variabel keadaan. Variabel tersebut berhubungan dengan persamaan keadaan.
Sebuah diagram PV adalah satu set grafik disebut isiterm, masing-masing
menunjukkan tekanan sebagai fungsi dari volume pada suhu konstan
Energi kinetik translasi rata-rata dari molekul gas ideal berbanding lurus
terhadap suhu mutlak.
Laju molekul pada gas ideal didistribusi dengan distribusi Maxwell-
Boltzmann

XIII.3.1.3. Test Formatif

1. Dalam mesin mobil, campuran udara dan bensin dikompresi dalam silinder
sebelum dihidupkan. Mesin semacam ni mempunyai resiko kompresi 9
hingga1; ini berarti gas dalam silinder dikompresi menjadi 1/9 dari volume
awalnya.. Tekanan awalnya 1 atm dan suhu awalnya 27o C. Jika tekanan
sesudah kompresi adalah 21,7 atm, tentukan suhu dari gas yang dikompresi.

2. Sebuah tangki yang digunakan untuk menyelam volumenya 11 liter


dantekanan alat ukur saat penuh adalah 2,1 . 107 Pa. Tangki kosong berisi 11
liter udara pada 21oC dan 1 atm (1,013 . 105 Pa). Ketika tangki dipenuhi
dengan udara panas dari sebuah kompresor suhunya menjadi 420C dan
tekanan alat ukur adalah 2,1 . 105 Pa. Berapa massa udara yang ditambahkan?

XIII.4 Kunci Jawaban Tes Formatif

P2 V2
1. T2 = T1 = 723 K = 450o C
PV
1 1

PV
2. n2 = 2 2
= 0,337 . 105 Pa = 0,33 atm
RT2

XIII.5 Referensi
1. Alonsa, M; Finn, EJ.Physics, 1970, Addison-Wiesly Company Inc.
2. Beiser, A. The Maintsream of Physics, 1962, addisopn-Wiesly Publishing
Company Inc.
3. Berkelay Physics Course, Vol. 1, 2 and 3, 1965 Mc Graw-hill book
campany.
4. Tilley, DE, University Physics for Science and Enginering, 1976,
Cumming Publishing Company Inc.