Anda di halaman 1dari 47

SIFAT-SIFAT INDEKS

DAN KLASIFIKASI TANAH 3


3.1 Pendahuluan
Sifat-sifat indeks (index properties) menunjukkan sifat-sifat tanah yang
mengindikasikan jenis dan kondisi tanah, serta memberikan hubungan
terhadap sifat-sifat mekanis (engineering properties) seperti kekuatan dan
pemampatan atau kecenderungan untuk mengembang, dan permeabilitas.
Pada umumnya, untuk tanah berbutir kasar (coarse-grained), sifat-sifat
partikelnya dan derajat kepadatan relatif adalah sifat-sifat yang paling
penting. Sedangkan, untuk tanah berbutir halus (fine-grained), konsistensi
(keras atau lunak) dan plastisitas merupakan sifat-sifat yang paling
berpengaruh.
Perlu pula diketahui bahwa dalam kajian dan analisis untuk proyek
konstruksi seringkali tidaklah begitu penting untuk mengetahui semua
sifat-sifat indeks tanah. Data sifat-sifat tanah yang diperlukan bergantung
pada informasi seberapa banyak data tersebut benar-benar dibutuhkan.
Sebagai contohnya, analisis mineral lempung memerlukan alat khusus
yang mana data ini tidak diperlukan langsung untuk perancangan fondasi,
kecuali pada kondisi yang tertentu. Untuk tanah organik, kandungan
bahan organic sangat penting untuk diketahui karena dapat mempengaruhi
kekuatan dan pemampatan.
Untuk semua tanah pada umumnya, gambaran tentang tanah hendaknya
juga menyangkut warnanya. Warna ini dapat mengindikasikan komposisi
mineral dan juga sangat berguna untuk menentukan keseragaman
(homogeneity) endapan tanah serta dapat pula sebagai bantuan untuk
identifikasi dan kaitannya selama konstruksi di lapangan.

3.2 Ukuran Partikel Tanah


Untuk menentukan rentang ukuran partikel tanah yang biasanya
dinyatakan dalam prosentase dari berat kering total dilakukan analisis
secara mekanis (mechanical analysis). Ada dua metode yang umum
digunakan untuk memberikan informasi ukuran partikel tanah, yaitu : (1)
analisis saringan (sieving analysis), dan (2) analisis pengendapan
(sedimentation atau hydrometer analysis). Analisis saringan biasanya
digunakan untuk tanah berbutir kasar, sedangkan prosedur pengendapan
digunakan untuk analisis tanah berbutir halus.

Pengantar Rekayasa Geoteknik 46


Sifat-Sifat Indeks dan Klasifikasi Tanah

3.2.1 Analisis Saringan


Penyaringan merupakan metode yang biasanya secara langsung untuk
menentukan ukuran partikel dengan didasarkan pada batas-batas bawah
ukuran lubang saringan yang digunakan. Batas terbawah dalam saringan
adalah ukuran terkecil untuk partikel pasir. Ukuran saringan yang umum
digunakan untuk menentukan ukuran partikel tanah disajikan dalam Tabel
3.1.

Tabel 3.1 Ukuran saringan yang biasanya digunakan untuk analisis ukuran
partikel.
ASTM Vol. 14.02 BSI, BS-410
No. Saringan Ukuran (mm) No. Saringan Ukuran (mm)
" 19,00
#4 4,76
5 4,00 #5 3,353
6 3,36 6 2,812
7 2,83 7 2,411
8 2,38 8 2,057
10 2,00 10 1,676
12 1,68 12 1,405
14 1,41 14 1,204
16 1,19 16 1,003
18 1,00 18 0,853
20 0,841 22 0,699
25 0,707 25 0,599
30 0,595 30 0,500
35 0,500 36 0,422
40 0,420
45 0,354 44 0,353
50 0,297 52 0,295
60 0,250 60 0,251
70 0,210 72 0,211
80 0,177 85 0,780
100 0,149 100 0,152
120 0,125 120 0,124
140 0,105 150 0,104
170 0,088 170 0,089
200 0,074 200 0,076
230 0,063 240 0,066
270 0,053 300 0,053
325 0,044
400 0,037

Dalam analisis saringan, sejumlah saringan yang memiliki ukuran


lubang berbeda-beda disusun dengan ukuran yang terbesar di atas yang

47 Pengantar Rekayasa Geoteknik


A.S. Muntohar

kecil (Gambar 3.1a). Contoh tanah yang akan diuji dikeringkan dalam
oven, gumpalan dihancurkan dan contoh tanah akan lolos melalui susunan
saringan setelah saringan digetarkan. Tanah yang tertahan pada masing-
masing saringan ditimbang dan selanjutnya dihitung persentase dari tanah
yang tertahan pada saringan tersebut. Bila Wi adalah berat tanah yang
tertahan pada saringan ke-i (dari atas susunan saringan) dan W adalah
berat tanah total, maka persentase berat yang tertahan adalah :
W
% Berat tertahan pada saringan = i 100% (3.1)
W
dan persentase lebih kecil dari saringan ke-i :
i=n
% Berat lebih kecil daripada saringan ke-i = 100 - Wi (3.2)
i =1

(a) (b)
Hidrometer

Larutan
tanah air L

Endapan

(c)
Gambar 3.1 (a) Analisis saringan (b) Analisis hidrometer, (c) Skema analisis
hidrometer.

48 Pengantar Rekayasa Geoteknik


Sifat-Sifat Indeks dan Klasifikasi Tanah

Kemudian, hasilnya digambarkan pada grafik persentase partikel yang


lebih kecil dari pada saringan yang diberikan (partikel yang lolos
saringan) pada sumbu vertical dan ukuran partikel pada sumbu horizontal
(dalam skala logaritma). Grafik ini dinamakan dengan kurva distribusi
ukuran partikel atau kurva gradasi seperti ditunjukkan pada Gambar 3.2.

100

80
Persen Lolos Saringan

60
Tanah A

40

Tanah B
20

0
10 1 0.1 0.01 0.001
Ukuran Partikel (mm) -- - skala Log

Gambar 3.2 Kurva distribusi ukuran partikel.


3.2.2 Analisis Hidrometer
Proses penyaringan tidak dapat digunakan untuk tanah berbutir halus
seperti lanau dan lempung karena ukuran partikelnya sangat kecil berupa
koloid (colloid). Metode analisis di laboratorium yang biasa digunakan
untuk menentukan distribusi ukuran tanah berbutir halus adalah pengujian
hidrometer (Gambar 3.1b). Analisis hidrometer didasarkan pada prinsip-
prinsip pengendapan butiran tanah di dalam air. Bila contoh tanah
terdipersi di dalam air, partikel-partikel mengendap dengan kecepatan
yang berbeda-beda bergantung pada ukuran, berat, dan bentuk serta
kekentalan (viscosity) air. Partikel-partikel yang lebih besar akan
mengendap lebih cepat diikuti dengan partikel-partikel yang lebih kecil.
Untuk memudahkan dalam analisis pengendapan ini partikel-partikel
dianggap berbentuk bulat dan kecepatan partikel tanah dapat dinyatakan
dengan hukum Stokes (Stokes' law), yaitu :
w 2
= s D (3.3)
18
dimana, = kecepatan,
49 Pengantar Rekayasa Geoteknik
A.S. Muntohar

s = rapat masa partikel tanah,


w = rapat masa air,
= kekentalan air,
D = diameter partikel tanah.
Hidrometer yang dimasukkan dalam larutan tanah-air akan tenggelam
hingga gaya angkat (buoyancy force) cukup untuk menyeimbangkan berat
hidrometer. Panjang hidrometer yang berada di atas larutan merupakan
fungsi dari rapat masa (density), temperatur dan berat jenis dari larutan.
Dari persamaan (3.3),
18 18 L
D= = (3.4)
s w s w t
Panjang L
dimana, = = , dengan L ditentukan seperti pada Gambar 3.2.
waktu t
Dengan diketahuinya,
s = Gsw (3.5)

Kombinasi dari persamaan (4) dan (5) menghasilkan persamaan :


18 L
D= (3.6)
(Gs 1) w t
Jika satuan dari adalah (g. sec)/cm2, w diambil sama dengan 1 g/cm3, L
dalam cm, dan t dalam satuan menit (min), maka D dapat dinyatakan
dalam satuan mm sehingga persamaan (3.6) ditulis menjadi :
L
D=K (3.7)
t
18
dengan K = merupakan konstanta fungsi dari Gs dan yang
(Gs 1) w
dipengaruhi oleh temperatur. Nilai K disajikan dalam bentuk grafik dalam
Gambar 3.3.
Keandalan persamaan Stokes di atas untuk analisis tanah berbutir halus
didasarkan anggapan-anggapan sebagai berikut :
1. Pengaruh tubrukan antar partikel dan dinding silinder pengendapan
diabaikan.
2. Ukuran partikel cukup kecil untuk menjamin bahwa aliran dari larutan
berada dalam zona aliran laminer.
3. Bentuk partikel yang sesungguhnya didekati dengan bentuk bulat yang
memiliki permukaan halus.

50 Pengantar Rekayasa Geoteknik


Sifat-Sifat Indeks dan Klasifikasi Tanah

0.016

G s = 2,45
0.015
G s = 2,50
G s = 2,55

Nilai K
0.014 G s = 2,60

G s = 2,80
0.013 G s = 2,75
G s = 2,70
G s = 2,65
0.012
15 18 21 24 27 30
o
Temperatur (t, C)

Gambar 3.3 Nilai konstanta K untuk analisis hidrometer.


Lu, Ristow dan Likos (2000) menyebutkan bahwa 2 anggapan pertama
masih dapat dibenarkan dengan membuat suatu batasan kondisi selama
pengujian. Anggapan pertama dapat dibenarkan dengan batasan bahwa
jumlah tanah yang dicampur dengan 1000 cc air tidak lebih dari 50 g.
Sedangkan pendekatan kedua dapat dilakukan dengan membatasi bahwa
tanah yang digunakan dalam analisis hidrometer adalah yang memiliki
ukuran partikel lebih kecil dari 75 m. Namun, anggapan ketiga dalam
persamaan Stokes ini tidak sesuai untuk pengujian hidrometer yang mana
partikel dari mineral lempung sesungguhnya berbentuk lempengan
(platy).
Walaupun demikian, hasil dari analisis hidrometer ini telah cukup
untuk keperluan geoteknik. Untuk pengukuran distribusi ukuran partikel
yang lebih akurat, khususnya untuk tanah berbutir halus, dapat dilakuan
analisis dengan metode yang lebih lengkap seperti metode difraksi laser
atau metode SPOS (single particle optical sizing) seperti yang
dikembangkan oleh White (2002). Dalam penelitiannya, White (2002)
menemukan bahwa hasil analisis ukuran partikel menggunakan metode
SPOS lebih besar 20 40% dibandingkan dengan metode analisis
mekanis (saringan).
3.2.3 Kurva Distribusi Ukuran Partikel
Untuk tanah yang merupakan campuran dari butir kasar dan halus, hasil
analisis saringan dan hidrometer digambarkan dalam satu grafik seperti
diberikan dalam Gambar 3.4. Pada saat hasil analisis ini digabungkan,
51 Pengantar Rekayasa Geoteknik
A.S. Muntohar

dimungkinkan terjadi ketidaksinambungan persentase ukuran partikel.


Ketidaksinambungan ini terjadi dikarenakan partikel tanah berbentuk
yang tak beraturan. Analisis saringan memberikan ukuran rata-rata
partikel, sedangkan analisis hidrometer menunjukkan diameter ekivalen
partikel bulat yang mengendap sebagaimana partikel tanah mengendap.
Wen, Aydin, dan Duzgoren-Aydin (2002) menyebutkan bahwa
ketidakseninambungan ini disebabkan oleh factor utama yaitu perbedaan
rapat masa, bentuk dan mineralogi partikel tanah. Head (1992)
menyarankan bahwa pembacaan awal hidrometer dapat diabaikan jika
data tersebut tidak menghasilkan bentuk kurva distibusi partikel yang
kontinyu.

100
Analisis Saringan
90
Analisis Hidrometer
Persentase Butir Lebih Kecil (%)

80

70

60

50

40

30

20

10

0
D 60 D 30 D 10
100 10 1 0.1 0.01 0.001
Ukuran partikel (mm)
Cob- Kasar Halus Kasar Medium Halus
Lanau Lempung
bles Kerikil Pasir
No.: 3" 3/4" #4 # 10 # 40 # 200 Analisis Hidrometer

Gambar 3.4 Kurva distribusi ukuran partikel gabungan analisis saringan dan
hidrometer.
Tanah yang terdapat di alam pada kenyataannya terdiri atas bermacam-
macam ukuran partikel. Kondisi ini menghasilkan bentuk distribusi
ukuran partikel yang beragam. Bentuk kurva distribusi ukuran partikel
tanah tergantung pada rentang dan jumlah dari variasi ukuran partikel
contoh tanah yang diuji. Hal ini juga diperngaruhi oleh proses
pembentukan tanah dan metode pengangkutannya. Gambar 3.5
menunjukkan bentuk-bentuk kurva distribusi ukuran partikel yang sering
52 Pengantar Rekayasa Geoteknik
Sifat-Sifat Indeks dan Klasifikasi Tanah

dijumpai pada tanah pada umumnya. Tanah bergradasi baik (well-graded)


memiliki rentang distribusi ukuran partikel yang relatif lebih luas yang
mana menghasilkan kurva distribusi yang lurus dan panjang. Untuk tanah
yang seragam (uniform soil), distribusi partikel-partikelnya memiliki
ukuran yang relatif sama, sedangkan tanah yang bergradasi buruk (gap-
graded atau poorly graded) memiliki distribusi ukuran partikel yang
terputus yang mana tidak terdapat ukuran partikel antara butir kasar dan
halus. Dengan demikian, pemilihan tanah yang digunakan untuk tujuan
tertentu akan bergantung dari ragam partikel yang terkandung dalam
tanah. Untuk kepentingan ini, terdapat dua definisi koefisien yang dapat
memberikan petunjuk karakteristik tanah berdasarkan distribusi
partikelnya, yaitu : koefisien keseragaman (uniformity coefficient), Cu,
dan koefisien kelengkungan (coefficient of curvature), Cc.

D60
Cu = (3.8)
D10
(D30 )2
Cc = (3.9)
D10 D60

100
Persentase Butir Lebih Kecil (%)

90
80 Gradasi Seragam
70
60
50
Gradasi Buruk
40 Gradasi Baik
30
20
10
0
100 10 1 0.1 0.01 0.001
Ukuran partikel (mm)

Gambar 3.5 Bentuk-bentuk kurva distribusi ukuran partikel.


dimana D60, D30, D10 masing-masing menunjukkan bahwa masing-masing
60%, 30%, 10% partikelnya lebih kecil dari ukuran tertentu. Jika nilai D60
= 0,136 mm (lihat Gambar 3.4), berarti 60% dari berat partikel tanah
memiliki diameter lebih kecil dari 0,136 mm, atau untuk nilai D10 = 3,7
m artinya bahwa 10% partikel tanah berdiameter kurang dari 3,7 m.
53 Pengantar Rekayasa Geoteknik
A.S. Muntohar

Tanah yang memiliki gradasi yang baik mempunyai nilai Cu > 4 (untuk
tanah kerikil), Cu > 6 (untuk pasir), dan nilai Cc antara 1 3 (untuk kerikil
dan pasir).
Diameter D10 disebut juga sebagai diameter efektif tanah (effective size)
yang mana terkait dengan kegunaan tanah sebagai filter. Diameter efektif
ini sangat penting dalam pengaturan aliran air melalui tanah dan dapat
menentukan perilaku mekanis tanah. Nilai D10 yang besar menunjukkan
tanah lebih kasar dan memiliki karakteristik drainase yang baik. Diameter
yang menunjukkan ukuran partikel yang lebih kecil, yaitu D15, juga sering
digunakan sebagai criteria untuk filter tanah. Terzhagi, Peck dan Mesri
(1996) memberikan kriteria untuk filter tanah yang efektif untuk
mencegah hanyutnya filter tanah dan mencegah kecepatan aliran yang
tinggi :
D15 ( F ) D15( F )
< 4 dan >4 (3.10)
D85 ( BS ) D15( BS )
dimana indek F menunjukkan filter dan BS menunjukkan tanah dasar. D50
menunjukkan ukuran diameter rata-rata tanah.
Dalam perkembangannya, kurva distribusi ukuran partikel tanah dapat
juga digunakan untuk memperkirakan kurva karakterisitik tanah-air (soil-
water characteristic curve/SWCC) dari tanah tidak jenuh (unsaturated
soil). Dalam hal ini Fredllund, Wilson, dan Fredllund (2002)
menyebutkan bahwa perkiraan SWCC dari kurva distribusi ukuran
partikel memberikan hasil yang sangat baik untuk pasir dan lanau,
sedangkan untuk tanah lempung dan loam agak sulit untuk diperkirakan.

Contoh 3.1.
Hasil dari analisis saringan diberikan sebagai berikut :

No. Saringan Masa tanah tertahan


(ASTM) pada saringan (g)
#4 0
10 40
20 60
40 89
60 140
80 122
100 210
200 56
Pan 12

Gambarkan kurva distribusi ukuran partikel, dan tentukan D10, D30, D60,
Cu dan Cc.
54 Pengantar Rekayasa Geoteknik
Sifat-Sifat Indeks dan Klasifikasi Tanah

Penyelesaian
Untuk membuat kurva distribusi ukuran partikel, dihitung dulu persen
butir tanah yang lebih kecil :

No. Ukuran Masa tanah Jumlah kumulatif Persen lolos


Saringan partikel tertahan pada masa tertahan pada saringan (g)
(mm) saringan (g) saringan (g)
#4 4,75 0 (+) 0 100,0
10 2 40 40 94,5
(+)
20 0,85 60 100 86,3
40 0,425 89 189 74,1
60 0,25 140 329 54,9
80 0,18 122 451 38,1
100 0,15 210 661 9,3
200 0,075 56 717 1,6
Pan 12 M = 729 0

100
90 D 60 = 0.27 mm
Persen Butir Lebih Kecil (%)

80 D 30 = 0.18 mm
D 10 = 0.15 mm
70
60
50
40 D 60

30
20 D 30
10
0
D 10
10 1 0.1 0.01
Ukuran Partikel (mm)

Gambar 3.6 Kurva distribusi ukuran partikel untuk Contoh 1.


Jumlah kumulatif masa tanah yang tertahan pada saringan ke-i (misalnya
saingan No. 10) dihitung :
M(#10) = M(#4) + M(#10) = 0 + 40 = 40 g
dan pada saringan No. 20 : M(#20) = M(#10) + M(#20) = 40 + 60 = 100 g,
dan seterusnya untuk No. saringan lainnya.

55 Pengantar Rekayasa Geoteknik


A.S. Muntohar

Persen masa tanah yang lolos saringan atau persen butir lebih kecil dari
ukuran diameter terentu (misalnya 4,75 mm), dihitung :

F(#4) (%)

M
M (# 4 )
100 =
729 0
100 = 100%
M 729
dan persen masa tanah yang lolos saringan No. 10 :

F(#10) (%)

M
M (# 10 )
100 =
729 40
100 = 94,5%
M 729
Dan demikian seterusnya untuk masa tanah yang lolos saringan
berikutnya. Dan hasil dari penghitungan digambarkan menjadi kurva
seperti pada Gambar 3.7. Dari kurva pada Gambar 3.7 diketahui ukuran
diameter butir D10 = 0,15 mm, D30 = 0,18 mm, dan D60 = 0,27 mm.
Dengan menggunakan persamaan (8) dan (9) diperoleh nilai Cu dan Cc :
D 0 ,27 (D30 )2 (0 ,18 )2
Cu = 60 = = 1,8 dan Cc = = = 0,8
D10 0 ,15 D10 D60 (0 ,15 )(0 ,27 )
Contoh 3.2.
Hasil dari analisis saringan (Bristish Standard) sebagai berikut :

Ukuran Saringan, Masa tanah Ukuran Saringan, Masa tanah


mm (BS) tertahan (g) mm (BS) tertahan (g)
37,5 0,00 1,18 1,22
28 0,03 0,600 1,80
20 0,02 0,425 2,65
14 0,00 0,300 2,10
10 0,03 0,212 1,87
6,3 0,50 0,150 1,24
3,35 0,30 0,063 8,00
2,00 1,30 Pan 28,85

Dan hasil dari analisis hidrometer diberikan sebagai berikut :

Ukuran Persentase Ukuran Persentase


Partikel, mm lebih kecil (%) Partikel, mm lebih kecil (%)
0,04815 51,68 0,00702 20,80
0,03988 48,43 0,00504 15,93
0,03478 46,80 0,00362 11,05
0,02509 41,93 0,00250 6,18
0,01809 37,05 0,00140 2,93
0,01346 32,18 0,00100 1,30
0,00969 27,30

56 Pengantar Rekayasa Geoteknik


Sifat-Sifat Indeks dan Klasifikasi Tanah

Gambarkan kurva distribusi ukuran partikel, dan tentukan D10, D30, D60,
Cu dan Cc.
Penyelesaian
Untuk membuat kurva distribusi ukuran partikel, dihitung dulu persen
butir tanah yang lebih kecil dari hasil analisis saringan dengan cara yang
sama seperti pada Contoh 3.1 di atas :

Ukuran Masa tanah Jumlah kumulatif Persen lolos


Saringan (mm) tertahan (g) masa tertahan (g) saringan (g)
37,5 0,00 0,00 100,00
28 0,03 0,03 99,94
20 0,02 0,05 99,90
14 0,09 0,14 99,72
10 0,03 0,17 99,66
6,3 0,50 0,67 98,66
3,35 0,30 0,97 98,06
2,00 1,30 2,27 95,46
1,18 1,22 3,49 93,02
0,600 1,80 5,29 89,42
0,425 2,65 7,94 84,12
0,300 2,10 10,04 79,92
0,212 1,87 11,91 76,18
0,150 1,24 13,15 73,70
0,063 8,00 21,15 57,70
Pan 28,85 M = 50,00

Kombinasi antara analisis saringan dan analisis hidrometer digambarkan


kurva distribusi partikel yang disajikan pada Gambar 3.8. Dari kurva pada
Gambar 8 diketahui ukuran diameter butir D10 = 0,0034 mm, D30 = 0,013
mm, dan D60 = 0,085 mm. Dengan menggunakan persamaan (3.8) dan
(3.9) diperoleh nilai Cu dan Cc :
D60 0 ,085 (D30 )2 (0 ,013 )2
Cu = = = 25, dan Cc = = = 0,58
D10 0 ,0034 D10 D60 (0 ,0034 )(0 ,085 )

57 Pengantar Rekayasa Geoteknik


A.S. Muntohar

100
90 D 60 = 0.085 mm

Persen Butir Lebih Kecil (%)


D 30 = 0.013 mm
80
D 10 = 0.0034 mm
70
60
50
D 60
40
30
20 D 30
10
0
D 10
100 10 1 0.1 0.01 0.001
Ukuran Partikel (mm)

Gambar 3.7 Kurva distribusi ukuran partikel untuk Contoh 3.2.

3.3 Plastisitas Tanah Berbutir Halus


Tanah berbutir halus yang mengandung mineral lempung atau bahan
organik dapat berubah bentuk menyesuaikan dengan kadar air tanpa
mengalami retak-retak. Kondisi ini dikenal dengan plastisitas yaitu
kemampuan tanah dalam menyesuaikan perubahan bentuk atau volume
tanpa terjadinya retak-retak yang disebabkan oleh penyerapan air di
sekeliling permukaan partikel lempung. Pada kadar air yang sangat
rendah, tanah menjadi padat (solid). Sedangkan pada kadar air yang
sangat tinggi, tanah dan air mengalir seperti cairan (liquid). Oleh karena
itu, berdasarkan perilaku ini, tergantung pada kadar air, perilaku tanah
dapat dibagi dalam empat keadaan yaitu padat (solid), agak padat (semi-
solid), plastis (plastic), dan cair (liquid) seperti diilustrasikan pada
Gambar 3.8.
Bila pada tanah yang berada pada kondisi cair (titik P) kemudian kadar
airnya berkurang hingga titik Q, maka tanah menjadi lebih kaku dan tidak
lagi mengalir seperti cairan. Kadar air pada titik Q ini disebut dengan
batas cair (liquid limit) yang disimbolkan dengan LL. Bila tanah terus
menjadi kering hingga titik R, tanah yang dibentuk mulai mengalami
retak-retak yang mana kadar air pada batas ini disebut dengan batas plastis
(plastic limit), PL. Rentang kadar air dimana tanah berada dalam kondisi
plastis, antara titik Q dan R, disebut dengan indek plastisitas (plasticity
index), PI, yang dirumuskan :

58 Pengantar Rekayasa Geoteknik


Sifat-Sifat Indeks dan Klasifikasi Tanah

PI = LL PL (3.10)

Padat -
getas Agak padat Padat-plastis Cair
P

Volume tanah total


Q

R
S

SL PL LL Kadar air

Gambar 3.8 Variasi volume dan kadar air pada kedudukan batas cair, batas
plastis, dan batas susut.

Jika kadar air tanah terus berkurang hingga ke titik S, tanah menjadi
keringdan berada dalam kondisi padat. Dalam kondisi ini, berkurangnya
kadar air tidak menyebabkan terjadinya perubahan volume. Kadar air
yang mana tanah berubah dari kondisi agak padat menjadi padat
dinamakan dengan batas susut (shrinkage limit), SL. Batas cair ini
merupakan salah satu parameter yang dapat digunakan untuk mengetahui
kemampuan kembang-susut tanah. Batas kadar air yang mengakibatkan
perubahan kondisi dan bentuk tanah dikenal pula sebagai batas-batas
konsistensi atau batas-batas Atterberg (yang mana diambil dari nama
peneliti pertamanya yaitu A. Atterberg pada tahun 1913).
Pada kebanyakan tanah di alam, berada dalam kondisi plastis. Kadar air
yang terkandung dalam tanah berbeda-beda pada setiap kondisi tersebut
yang mana bergantung pada interaksi antara partikel mineral lempung.
Bila kandungan air berkurang maka ketebalan lapisan kation akan
berkurang pula yang mengakibatkan bertambahnya gaya-gaya tarik antara
partikel-partikel. Untuk suatu tanah yang berada dalam kondisi plastis,
besarnya gaya-gaya antar partikel harus sedemikian rupa sehingga
partikel-partikel tidak mengalami pergeseran satu dengan lainnya yang
mana ditahan oleh kohesi dari masing-masing partikel. Perubahan kadar
air disamping menyebabkan perubahan volume tanah, juga mempengaruhi
kekuatan tanah yang mana akan berbeda-beda pada setiap kondisi
tanahnya. Pada kondisi cair, tanah memiliki kekuatan yang sangat rendah
dan terjadi deformasi yang sangat besar. Namun sebaliknya, kekuatan
tanah menjadi sangat besar dan mengalami deformasi yang sangat kecil
dalam kondisi padat.
59 Pengantar Rekayasa Geoteknik
A.S. Muntohar

Untuk mengukur kekuatan tanah berdasarkan batas-batas konsistensi


dikenal suatu parameter yaitu indek cair (liquidity index), LI, dimana :
w PL
LI = N (3.11)
PI
Dimana, wN = kadar air tanah asli di lapangan,
PL = batas plastis tanah,
PI = indek plastisitas tanah.
Jadi, untuk lapisan tanah asli yang pada kedudukan plastis, nilai LL > wN
> PL. Nilai indeks cair akan bervariasi antara 0 dan 1. Lapisan tanah asli
dengan wN > LL akan mempunyai LI > 1. Tabel 3.2 menyajikan uraian
tentang keadaan umum kekuatan tanah berdasarkan nilai indek cair.

Tabel 3.2 Karakeristik kekuatan tanah pada beberapa nilai indek cair.
Nilai Indek Cair Karakteristik Kekuatan Tanah
LI < 0 Kondisi tanah agak padat, memiliki kekuatan tinggi dan bersifat
getas (brittle).
0 < LI < 1 Tanah berada pada kondisi plastis, memiliki kekuatan yang
sedang dan mengalami deformasi seperti bahan plastis.
LI > 1 Tanah berada pada kondisi cair, memiliki kekuatan yang sangat
rendah dan mengalami deformasi seperti halnya bahan cair yang
kental (viscous fluid)

Plastisitas tanah pada dasarnya disebabkan karena penyerapan air


disekeiling partikel lempung ke permukaan partikel. Oleh karena itu, jenis
mineral lempung dan persentase partikelnya dalam tanah akan
mempengaruhi batas cair dan plastis tanah. Persamaan (3.12) memberikan
hubungan antara sifat plastisitas (yang ditunjukkan dengan nilai indek
plastisitas) dengan kandungan partikel ukuran lempung (clay-size). Oleh
Skempton (1953), hubungan ini disebut dengan activity (A).
PI
A= (3.12)
(% Fraksi partikel ukuran lempung )
Seed, Woodward dan Lundgren (1964) mengkaji sifat plastisitas untuk
beberapa campuran tanah (lempung dan pasir). Hasil penelitian ini
menyimpulkan bahwa meskipun hubungan indek plastisitas dan
kandungan partikel ukuran lempung adalah linear [Persamaan (3.12)]
namun tidak selalu berpotongan pada titik awalnya (0,0). Oleh karenanya,
persamaan (3.12) didefinisikan kembali menjadi :
PI
A= (3.13)
(% Fraksi partikel ukuran lempung ) C'

60 Pengantar Rekayasa Geoteknik


Sifat-Sifat Indeks dan Klasifikasi Tanah

dimana C' adalah suatu konstanta untuk tanah yang diuji. Untuk hasil
pengujian tanah yang dilakukan oleh Seed, Woodward dan Lundgren
(1964) diperoleh nilai C' = 9. Gambar 3.9 memberikan hubungan dari
persamaan (3.12) dan (3.13).

100
A = 2,0 A = 1,5
80

Indek Plastisitas (%) A = 1,0


60

40
A = 0,5

20 A = 0,5 (Seed,
et. al, 1964)

0
0 20 40 60 80 100

Persentase partikel ukuran lempung (< 2 mm)

Gambar 3.9 Hubungan indek plastisitas dan partikel ukuran lempung.

3.4 Penentuan Batas Cair


Batas cair tanah berbutir halus dapat ditentukan dengan pengujian
Casagrande dan kerucut penetrasi (cone penetration). Gambar 3.10
menunjukkan alat uji batas cair (metode Casagrande) dan
perlengkapannya.

(a) (b)
Gambar 3.10 Alat uji batas cair (a) Metode Casagrande, (b) Cone Penetrometer.

61 Pengantar Rekayasa Geoteknik


A.S. Muntohar

3.4.1 Metode Casagrande


Bagian utama alat uji ini terdiri atas cawan (bowl) dan bantalan karet yang
keras (rubber base). Secara skematik, uji batas cair metode Casagrande
ditunjukkan pada Gambar 3.11.

Cawan 8
46,8 54
27
Pasta tanah 11 2 mm

Pemutar
(b)

celah,
Bantalan karet
tertutup

(a)
11 (d)

2 mm celah

(c)
12,7

Gambar 3.11 Skema uji batas cair metode Casagrande (a) susunan alat uji batas
cair, (b) grooving tool, (c) pasta tanah sebelum pengujan, (d) pasta tanah sesudah
pengujian.
Untuk melakukan uji batas cair, sejumlah pasta tanah (tanah yang
dicampur rata dengan air) ditempatkan ke dalam cawan. Selanjutnya,
pasta tanah yang telah diratakan dibagi menjadi dua bagian terbentuk
celah antara dua bagian dengan menggunakan alat pembuat alur (grooving
tool) yang standar (Gambar 3.11b). Dengan menggunakan tangkai
pemutar, cawan akan terangkat setinggi 10 mm dan jatuh dengan 2
putaran per detiknya. Jumlah pukulan yang menyebabkan tertutupnya
celah sepanjang 12,7 mm (0,5 in) (Gambar 3.11c) dicatat dan contoh
tanah diambil guna diuji kadar airnya. Kadar air yang diperlukan untuk
menutup celah sepanjang 12,7 mm pada 25 kali pukulan didefinisikan
sebagai batas cair. Dalam praktek, cukup sulit mengatur agar celah dapat
tertutup pada 25 kali pukulan hanya dengan satu kali pengujian. Oleh
62 Pengantar Rekayasa Geoteknik
Sifat-Sifat Indeks dan Klasifikasi Tanah

karena itu, setidaknya diperlukan tiga hingga empat data lagi dengan
kondisi kadar air yang berbeda-beda dan jumlah pukulan antara 15 35.
Hubungan antara kadar air dan jumlah pukulan ini selanjutnya
digambarkan dalam grafik semi-logaritma, seperti ditunjukkan dalam
Gambar 3.12. Dari pasangan data tersebut ditarik suatu hubungan linear
yang terbaik (best-fit straight line) yang disebut dengan flow curve. Kadar
air pada jumlah pukulan 25 yang dihasilkan dari flow curve ini selanjutnya
ditetapkan sebagai batas cair tanah. Kemiringan garis lurus dalam flow
curve, selanjutnya didefinisikan sebagai flow index (FI) yang ditulis
sebagai :
w w2
FI = 1 (3.14)
N2
log
N
1
Dimana, w1 dan w2 masing-masing adalah kadar air pada jumlah pukulan
N1 dan N2.

100

80 Flow curve
Kadar Air, w (%)

60
Batas Cair, LL
40

20

0
10 15 20 25 30 35 40 45 50

Jumlah Pukulan, N

Gambar 3.12 Kurva batas cair tanah Metode Casagrande.


Penentuan batas cair dengan metode Casagrande ini memiliki banyak
kelemahan sebagaimana dinyatakan sendiri dalam Casagrande (1958).
Sherwood dan Riley (1970) setidaknya mengidentifikasi keterbatasan
metode tersebut yaitu : (1) pada beberapa jenis tanah, teruatam yang
mengandung sedikit pasir halus, terdapat kesulitan dalam membuat alur
yang membagi dua bagian pasta tanah, (2) bila tanah yang memiliki
plastisitas rendah tidak menutup celah secara plastis, namun cenderung
runtuh dan menjadi cair (liquefy) karena getaran dalam cawan sebagai
63 Pengantar Rekayasa Geoteknik
A.S. Muntohar

akibat dari gaya dinamis, (3) sangat dipengaruhi oleh kemampuan orang
yang melakukan terutama untuk memastikan apakah celah telah tertutup
atau belum.
3.4.2 Metode Cone Penetrometer
Metode cone penetrometer atau fall cone ini telah banyak digunakan
untuk menentukan batas cair yang merupakan standar pengujian dari
Bristish Standard BS1377 : 1990.
Dalam metode ini, bagian kerucut memiliki kemiringan sudut 30o
dengan total masanya 80 g (Gambar 3.10b). Kerucut ini kemudian
dijatuhkan secara bebas, dengan kerucut pada awalnya menyentuh
permukaan tanah dalam cawan, hingga menembus tanah dalam selang
waktu 5 detik. Secara skematik penentuan batas cair metode ini
ditunjukkan dalam Gambar 13. Kadar air contoh tanah yang menunjukkan
pembacaan kedalaman kerucut yang masuk ke tanah (d) sebesar 20 mm
didefinisikan sebagai batas cair.

Penolok ukur
(dial gauge)

Kerucut 30o
80 g 35

Cawan
d
Pasta
tanah 40

55 mm

(a) (b) (c)


Gambar 3.13 Skema uji batas cair metode Cone Penetrometer (a) susunan alat uji,
(b) posisi sebelum pengujian, (c) posisi sesudah pengujian.
Pada prakteknya, penentuan batas cair dalam satu kali pengujian adalah
cukup sulit. Oleh karenanya, dilakukan empat atau lebih pengujian dengan
kadar air contoh tanah yang berbeda-beda sehingga diperoleh pasangan
data kedalaman kerucut dan pada setiap kadar air. Data ini kemudian
digambarkan dalam grafik seperti ditunjukkan dalam Gambar 3.14.
Hubungan linear yang terbaik dari data tersebut menunjukkan flow index,
yang mana :
64 Pengantar Rekayasa Geoteknik
Sifat-Sifat Indeks dan Klasifikasi Tanah

d 2 d1
FI = (3.15)
w2 w1
Dimana w1 dan w2 masing-masing adalah kadar air pada kedalam kerucut
d1 dan d2. Kadar air yang menunjukkan pembacaan kedalaman kerucut, d
= 20 mm selanjutnya ditentukan sebagai batas cair. Dalam BS-1377 :
1990 disarankan bahwa kadar air contoh tanah hendaknya sedemikianrupa
sehingga pembacaan kedalaman kerucut berada dalam rentang 15 25
mm.

80

60
Kadar Air, w (%)

Batas Cair, LL

40

Flow curve
20

0
10 15 20 25 30

Kedalaman Kerucut, d (mm) - skala log

Gambar 3.14 Kurva batas cair tanah Metode Cone Penetrometer.

3.5 Penentuan Batas Plastis


Batas plastis didefinisikan sebagai kadar air yang mana tanah mengalami
retak-retak bila digulung dengan jari-jari tangan menjadi diameter 3 mm.
Batas plastis merupakan batas terendah dari kondisi plastis tanah. Batas
plastis dapat ditentukan dengan pengujian yang sederhana dengan cara
menggulung sejumlah tanah (Gambar 3.15) dengan menggunakan tanah
secara berulang menjadi bentuk ellipsoidal. Kadar air contoh yang tanah
yang mana tanah mulai retak-retak didefinisikan sebagai batas plastis.
Stone & Phan (1995) menyebutkan bahwa penentuan batas plastis
dengan menggunakan metode seperti diuraikan di atas mempunyai
beberapa kekurangan. Hal ini disebabkan kesulitan dalam mengontrol (1)
pemberian tekanan selama penggulungan dengan tangan, (2) bidang
kontak antara tangan dan tanah yang digulung, (3) gesekan antara tanah,
tangan dan landasan, (4) kecepatan dalam menggulung.

65 Pengantar Rekayasa Geoteknik


A.S. Muntohar

(a)

(c) (b)

Gambar 3.15 Pengujian batas plastis (a) tahap awal pengujian, (b) hasil setelah
digulung dengan diameter 3 mm, (c) tanah retak-retak.

Gambar 3.16 Penentuan batas plastis dengan Cone Penetrometer (Wroth &
Wood, 1978)
Beberapa kajian tentang penggunaan metode fall-cone atau cone
penetrometer untuk menentukan batas cair tanah telah banyak dilakukan
(Wroth & Wood, 1978; Harisson, 1988; Feng, 2000). Wroth dan Wood
(1978) mendefinisikan batas plastis tanah lempung Cambridge Gault
dengan menggunakan dua kerucut yang memiliki berat yang berbeda yaitu
0,78 N dan 2,35 N. Prosedur pengujiannya seperti pada pengujian batas
cair. Selisih kadar air pada pembacaan kedalaman kerucut d = 20 mm
untuk kedua kerucut didefinisikan sebagai indek plastisitas (Gambar
3.16). Batas plastis ditentukan dengan persamaan (3.16) :

2w
PL = LL = LL 4 ,2w (3.16)

log 10 m
m1
2

66 Pengantar Rekayasa Geoteknik
Sifat-Sifat Indeks dan Klasifikasi Tanah

Gambar 3.17 Batas plastis tanah menggunakan BS Cone Penetrometer (Harisson,


1988).
Harison (1988) memberikan definisi batas plastis sebagai kadar air
pada pembacaan kedalaman kerucut d = 2 mm (Gambar 3.17). Sedangkan
Feng (2000) mendefinisikan batas plastis ditentukan pada pembacaan
kedalaman kerucut antara 23 mm. Selanjutnya, Feng (2001) memberikan
cara untuk menetapkan batas plastis pada kedalaman kerucut d = 2 mm
melalui model linear log d log w. Sharma dan Bora (2003) melakukan
pengujian batas plastis dengan menggunakan berat kerucut 30o sebesar
3,92 N. Batas plastis ditentukan pada kadar air yang menunjukkan
kedalaman kerucut d = 4,4 mm.
Sridharan, Nagaraj, dan Prakash (1999), dalam hasil penelitiannya,
memberikan suatu hubungan antara flow index, yang diperoleh dari
pengujian batas cair, dengan indek plastisitas seperti diberikan pada
persamaan (3.17) dan (3.18).
Metode Casagrande : PI = 4.12FI (%) (3.17)
Dan,
Metode Cone Penetrometer : PI = 0,74FI (%) (3.18)

Muntohar (2005) melakukan uji batas plastis dengan menggunakan BS-


cone penetrometer dan menyimpulkan bahwa nilai kedalaman kerucut
pada batas plastis adalah dPL = 2,2 mm (Gambar 3.18). Nilai ini lebih
dekat dengan hasil yang diperoleh Harison (1988( dan Feng (2000)

67 Pengantar Rekayasa Geoteknik


A.S. Muntohar

1.4
28 pairs of Data
Best-fit curve (Non Linear)
1.2
Liquid

Liquidity Index (LI)


1.0 Limit
0.8

0.6

0.4
dPL
0.2
dLL Plastic
0.0 Limit
1 2 3 4 5 6 7 8 910 20 30

Depth of Penetration (d, mm)

Gambar 3.18 Batas plastis tanah menggunakan BS Cone Penetrometer


(Muntohar, 2005).

(a) (b)

Gambar 3.19 Pengujian batas susut tanah (a) sebelum pengeringan, (b) setelah
kering oven.

3.6 Penentuan Batas Susut


Batas susut didefinisikan sebagai kadar air yang mana masa tanah tidak
mengalami perubahan volume bila kadar air berkurang. Batas susut
ditentukan dengan cara menempatkan sejumlah masa tanah, m1, dalam
cawan porselin dengan ukuran diameter 44, 5mm dan tinggi 12,5 mm, dan
kemudian dikeringkan dalam oven hingga terjadi pengurangan volume
(Gambar 3.18). Volume tanah kering ditentukan dengan cara menuangkan
air raksa agar menempati ruang-ruang kosong pada tanah akibat
penyusutan. Masa air raksa dapat dihitung dan pengurangan volume

68 Pengantar Rekayasa Geoteknik


Sifat-Sifat Indeks dan Klasifikasi Tanah

akibat penyusutan dapat dihitung dari rapat masa air raksa yang telah
diketahui. Batas susut selanjutnya dihitung dari persamaan (3.19).

m m2 V1 V2
SL = 1 w 100 (19)
m 2 m 2
Dimana, m1 dan m2 masing-masing adalah masa tanah basah dan masa
tanah kering oven, V1 dan V2 merupakan volume tanah basah dan volume
tanah kering setelah dimasukkan dalam oven, dan w adalah rapat masa
air.
Paramater lain yang dapat diperoleh dari pengujian batas susut adalah
angka penyusutan (shrinkage ratio), yang mana merupakan
perbandingan antara perubahan volume tanah sebagai persentase dari
volume kering terhadap perubahan kadar air. Dimana :

V1 V2 V

V2 V2 m2
SR = = = (3.20)
m1 m2 V w V2 w

m 2 m 2
Dengan, V adalah perubahan volume tanah.

3.7 Grafik Plastisitas Tanah


Batas plastis dan batas cair ditentukan dengan pengujian yang sederhana
di laboratorium yang mana merupakan parameter yang penting diketahui
untuk tanah berbutir halus atau tanah kohesif. Hasil dari pengujian ini
sangat sering digunakan untuk menghubungkan dengan parameter fisis
tanah seperti identifikasi dan klasifikasi tanah.
Gambar 3.19 memberikan hubungan antara batas cair dan indek
plastisitas tanah, yang mana dikenal dengan grafik plastisitas (plasticity
chart) Casagrande. Hal yang penting dalam grafik plastisitas ini adalah
garis pembagi (Garis-A) yang membedakan derajat plastisitas dari tanah
menjadi plastisitas tinggi dan rendah. Garis-A memiliki persamaan garis
lurus : PI = 0,73(LL 20). Garis-A ini memisahkan antara lempung
inorganik dan lanau inorganik. Lempung inorganik akan berada di atas
garis-A, dan lanau inorganik berada di bawah garis-A. Lanau organik
berada dalam bagian yang sama (dibawah garis-A dan dengan LL berkisar
antara 30 50%) yang mana merupakan lanau inorganik dengan derajat
pemampatan sedang. Lempung organic berada dalam bagian yang sama
dimana memiliki derajat pemampatan yang tinggi (dibawah garis-A dan
LL lebih besar dari 50%). Selain garis-A, terdapat pula garis-U (U-line)

69 Pengantar Rekayasa Geoteknik


A.S. Muntohar

yang merupakan batas atas dari hubungan antara indek plastisitas dan
batas cair untuk suatu tanah. Garis-U mengikuti persamaan garis lurus : PI
= 0,9(LL 8).

60
Lempung inroganik,
plastisitas tinggi Garis-U
50
Indek Plastisitas, PI (%) Lempung inroganik, Garis-A
40 plastisitas sedang
Lanau inroganik-
30 Lempung inroganik,
pemampatan tinggi,
plastisitas rendah
dan lempung organik
20 T anah non- Lanau inroganik-
kohesif pemampatan sedang,
dan lanau organik
10
Lanau inroganik-
pemampatan rendah
0
0 20 40 60 80 100
Batas Cair, LL (% )

Gambar 3.20 Grafik Plastisitas Casagrande.


Grafik plastisitas yang diberikan oleh BS sedikit berbeda dengan grafik
yang diusulkan oleh Casagrande (yang mana telah dicantumkan dalam
ASTM) seperti disajikan dalam Gambar 20. Namun, pada dasarnya grafik
plastisitas baik oleh ASTM dan BS didasarkan pada contoh tanah dengan
ukuran partikel < 425 m.

Gambar 3.21 Grafik plastisitas British Standard (BS 5930 : 1990)

70 Pengantar Rekayasa Geoteknik


Sifat-Sifat Indeks dan Klasifikasi Tanah

Gambar 3.22 Grafik plastisitas Al-Shayea (2001).


Dalam perkembangan penelitian di bidang mekanika tanah, terdapat
banyak penelitian yang mengkaji keandalan grafik plastisitas Casagrande.
Al-Shayea (2001) dan Polidori (2003) menyebutkan bahwa grafik
plastisitas Casagrande ditentukan secara empiris tanpa memperhatikan
kandungan lempung dalam tanah. Pada kenyataannya seperti diuraikan
dalam paragraf-paragraf sebelumnya, kandungan fraksi lempung
dalamtanah sangat mempengaruhi plastisitas tanah. Untuk itu, Al-Shayea
(2001) memberikan perubahan grafik plastisitas Casagrande dengan
menambahkan informasi tentang kandungan lempung seperti ditunjukkan
pada Gambar 3.21.
Polidori (2003) memberikan suatu grafik plastisitas baru (Gambar
3.22), terutama tentang pembagian antara zona lanau dan lempung. Garis
pembagi ini disebut dengan garis-C (C-line). Dalam grafik plastisitas
Polidori, garis-0,5C (0.5C-line) merupakan pendekatan dari garis-A dalam
grafik plastisitas Casagrande. Perbedaan yang terlihat dari grafik
plastisitas pada Gambar 3.20 dan 3.22 adalah letak zona lanau dan
lempung, yang mana dalam Gambar 3.22, zona lanau terletak diatas zona
lempung. Hal ini berbeda dengan pembagian zona lanau dan lempung
dalam grafik plastisitas Casagrande.

71 Pengantar Rekayasa Geoteknik


A.S. Muntohar

Gambar 23 Grafik plastisitas Polidori (2003)

3.8 Sistem Klasifikasi Tanah


Sistem klasifikasi tanah dibuat pada dasarnya untuk memberikan
informasi tentang karakteristik dan sifat-sifat fisis tanah. Karena variasi
sifat dan perilaku tanah yang begitu beragam, sistem klasifikasi secara
umum mengelompokan tanah ke dalam kategori yang umum dimana
tanah memiliki kesamaan sifat fisis. Sistem klasifikasi bukan merupakan
sistem identifikasi untuk menentukan sifat-sifat mekanis dan geoteknis
tanah. Karenanya, klasifikasi tanah bukanlah satu-satunya cara yang
digunakan sebagai dasar untuk perencanaan dan perancangan konstruksi.
Pada awalnya, metode klasfikasi yang banyak digunakan adalah
pengamatan secara kasat-mata (visual identification) melalui pengamatan
tekstur tanah. Selanjutnya, ukuran butiran tanah dan plastisitas digunakan
untuk identifikasi jenis tanah. Karakteristik tersebut digunakan untuk
menentukan kelompok klasifikasinya. Sistem klasifikasi tanah yang
umum digunakan untuk mengelompokan tanah adalah Unfied Soil
Clasification System (USCS). Sistem ini didasarkan pada sifat-sifat indek
tanah yang sederhana seperti distribusi ukuran butiran, batas cair dan
indek plastisitasnya. Disamping itu, terdapat sistem lainnya yang juga
dapat digunakan dalam identifikasi tanah seperti yang dibuat oleh
American Association of State Highway and Transportation Officials
Classfication (AASHTO), British Soil Classification System (BSCS), dan
United State Department of Agriculture (USDA).

72 Pengantar Rekayasa Geoteknik


Sifat-Sifat Indeks dan Klasifikasi Tanah

3.8.1 Klasifikasi Tanah Menurut USCS


Klasifikasi tanah sistem ini diajukan pertama kali oleh Casagrande dan
selanjutnya dikembangkan oleh United State Bureau of Reclamation
(USBR) dan United State Army Corps of Engineer (USACE). Kemudian
American Society for Testing and Materials (ASTM) telah memakai
USCS sebagai metode standar guna mengklasifikasikan tanah. Dalam
bentuk yang sekarang, sistem ini banyak digunakan dalam berbagai
pekerjaan geoteknik.
Dalam USCS, suatu tanah diklasifikasikan ke dalam dua kategori
utama yaitu :
1. Tanah berbutir kasar (coarse-grained soils) yang terdiri atas kerikil
dan pasir yang mana kurang dari 50% tanah yang lolos saringan No.
200 (F200 < 50). Simbol kelompok diawali dengan G untuk kerikil
(gravel) atau tanah berkerikil (gravelly soil) atau S untuk pasir (sand)
atau tanah berpasir (sandy soil).
2. Tanah berbutir halus (fine-grained soils) yang mana lebih dari 50%
tanah lolos saringan No. 200 (F200 50). Simbol kelompok diawali
dengan M untuk lanau inorganik (inorganic silt), atau C untuk
lempung inorganik (inorganic clay), atau O untuk lanau dan lempung
organik. Simbol Pt digunakan untuk gambut (peat), dan tanah dengan
kandungan organik tinggi.
Simbol lain yang digunakan untuk klasifikasi adalah W untuk gradasi baik
(well graded), P gradasi buruk (poorly graded), L plastisitas rendah
(low plasticity) dan H plastisitas tinggi (high plasticity).
Selanjutnya, tanah diklasifikasikan dalam sejumlah kelompok dan sub-
kelompok yang dapat dilihat dalam Tabel 3.3 dan 3.4.

60
CH/OH
50 Garis-U
Indek Plastisitas, PI (%)

40
Garis-A
30
CL/OL
20
CL-ML MH/OH
10
ML/OL
0
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Batas Cair, LL (% )

73 Pengantar Rekayasa Geoteknik


A.S. Muntohar

Gambar 3.24 Grafik Plastisitas untuk klasifikasi tanah USCS.


3.8.2 Sistem Klasifikasi AASHTO
Sistem klasifikasi AASHTO berguna untuk menentukan kualitas tanah
guna pekerjaan jalan yaitu lapis dasar (subbase) dan tanah dasar
(subgrade). Karena sistem ini ditujukan untuk pekerjaan jalan tersebut,
maka penggunaan sistem ini dalam prakteknya harus dipertimbangkan
terhadap maksud aslinya.
Sistem ini membagi tanah ke dalam 7 kelompok utama yaitu A-1
sampai dengan A-7. Tanah yang terklasifikasikan dalam kelompok A-1,
A-2, dan A-3 merupakan tanah granuler yang memiliki partikel yang lolos
saringan No. 200 kurang dari 35%. Tanah yang lolos saringan No. 200
lebih dari 35% diklasifikasikan dalam kelompok A-4, A-5, A-6, dan A-7.
Tanah-tanah dalam kelompok ini biasanya merupakan jenis tanah lanau
dan lempung. Sistem klasifikasi menurut AASHTO disajikan dalam Tabel
5 yang mana didasarkan pada kriteria sebagai berikut ini :
1. Ukuran partikel
a. Kerikil : fraksi yang lolos saringan ukuran 75 mm (3 in) dan
tertahan pada saringan No. 10.
b. Pasir : fraksi yang lolos saringan No. 10 (2 mm) dan tertahan pada
saringan No. 200 (0,075 mm).
c. Lanau dan lempung : fraksi yang lolos saringan No. 200.
2. Plastisitas : tanah berbutir halus digolongkan lanau bila memiliki
indek plastisitas, PI 10, dan dikategorikan sebagai lempung bila
mempunyai indek plastisitas, PI 11. Gambar 3.24 memberikan grafik
plastisitas untuk klasifikasi tanah kelompok A-2, A-4, A-5, A-6, dan
A-7.

74 Pengantar Rekayasa Geoteknik


Tabel 3.3 Klasifikasi tanah berbutir kasar*) menurut USCS
Jenis Simbol Nama Kelompok Kriteria Klasifikasi
GW Kerikil gradasi baik , F200 < 5% Tanah memiliki symbol
sedikit atau tidak 2 ganda jika 5% F200
D (D30 ) < 3
mengandung fraksi halus Cu = 60 > 4, dan 1 < C c = 12%, yaitu :
D10 D10 D60
a) GW-GM, jika Cc> 4, 1
GP Kerikil gradasi buruk dan < Cu < 3, PI < 4%
F200 < 5%
campuran pasir kerikil, b) GW-GC, jika Cc> 4, 1
Cu dan Cc tidak memenuhi kedua kriteria
sedikit atau tidak < Cu < 3, PI > 7%.
untuk GW
mengandung fraksi halus c) GP-GM, jika tidak
GM Kerikil berlanau, F200 > 12%, dan PI < Bila batas Atterberg memenuhi kriteria
campuran kerikil pasir - 4% (berada di bawah berada di daerah arsir GW dan PI < 4%
lanau garis-A) dari diagram d) GP-GC, jika tidak
GC Kerikil berlempung, plastisitas, maka

kasar tertahan saringan No.4


F200 > 12%, dan PI > memenuhi kriteria

Kerikil 50% atau lebih dari fraksi


campuran kerikil pasir - 7% (berada di atas dipakai simbol ganda, GW dan PI > 7%
lempung garis A) GM-GC.
SW Pasir gradasi baik, F200 < 5% Tanah memiliki symbol
berkerikil, sedikit atau 2 ganda jika 5% F200
D (D30 ) < 3
tidak mengandung fraksi Cu = 60 > 6 dan 1 < C c = 12%, yaitu :
halus D10 D10 D60
a) SW-SM, jika Cc> 4, 1
SP Pasir gradasi buruk, < Cu < 3, PI < 4%
F200 < 5%
berkerikil, sedikit atau b) SW-SC, jika Cc> 4, 1
Cu dan Cc tidak memenuhi kedua kriteria
tidak mengandung fraksi < Cu < 3, PI > 7%.
untuk SW
halus c) SP-SM, jika tidak
SM Pasir berlanau, campuran
F200 > 12%, dan PI < Bila batas Atterberg memenuhi kriteria
pasir - lanau
4% (berada di bawah berada di daerah arsir GW dan PI < 4%

lolos saringan No.4


garis-A) dari diagram d) SP-SC, jika tidak
SC Pasir berlempung, F200 > 12%, dan PI > plastisitas, maka memenuhi kriteria

Pasir lebih dari 50% fraksi kasar


campuran pasir - 7% (berada di atas dipakai simbol ganda, GW dan PI > 7%
lempung garis A) SM-SC.
*) Tanah berbutir kasar bila 50% atau lebih lolos tertahan pada saringan No.200 (R200).

Pengantar Rekayasa Geoteknik 75


A.S. Muntohar

Tabel 3.4 Klasifikasi tanah berbutir halus*) menurut USCS


Jeni s Simbol Nama Kelompok Kriteria
ML Lanau inorganik dan pasir sangat halus atau pasir PI < 4 atau berada di bawah garis-A dalam
halus berlanau atau berlempung Grafik Plastisitas (Gambar 23).
CL Lempung inorganik dengan plastisitas rendah PI > 7 dan berada pada atau di bawah garis-A
hingga sedang, lempung berkerikil, lempung dalam Grafik Plastisitas (Gambar 23).
Lanau dan berpasir, lempung berlanau, lempung kurus (clean
lempung dengan clays)
batas cair, LL < CL-ML Lanau berlempung inorganik,dengan pasir halus PI berada dalam daerah yang diarsir (hatched
50% atau sedikit kerikil. area) dalam Gambar 23.
OL Lanau organik dan lempung berlanau organik PI berada dalam daerah OL dalam Gambar 23
dengan plastisitas rendah dan LL(oven dried )
< 0 ,75
LL(not dried )
MH Lanau inorganik atau pasir halus diatomae, lanau PI berada dibawah garis-A dalam Grafik
elastis Plastisitas (Gambar 23)
Lanau dan CH Lempung inoragnik dengan plastisitas tinggi, PI berada diatas garis-A dalam Grafik
lempung dengan lempung gemuk (fat clays) Plastisitas (Gambar 23)
batas cair LL > OH Lempung organik dengan plastisitas sedang PI berada dalam daerah OH dalam Gambar 23
50% sampai tinggi dan LL(oven dried )
< 0 ,75
LL(not dried )
Tanah dengan Pt Gambut (peat), dan tanah lain kandungan organik
kadar organik tinggi
tinggi
*) Tanah berbutir halus bila 50% atau lebih lolos saringan No.200 (F200)

76 Pengantar Rekayasa Geoteknik


A.S. Muntohar

Tabel 3.5 Klasfikasi tanah untuk tanah dasar jalan raya, AASHTO.
Klasifikasi Umum Tanah Granuler1
A-1 A-2
Kelompok A-3
A-1-a A-1-b A-2-4 A-2-5 A-2-6
Persen lolos saringan
:
No. 10 50 max
No. 40 30 max 50 51 min
max
No. 200 15 max 25 10 max 35 max 35 max 35 max
max
Batas caira 40 max 41 min 40 max
Indek Plastisitasa 6 max NP 10 max 10 max 11 min
Pasir Kerikil dan pasir lanau atau
Fraksi tanah Kerikil dan pasir
halus lempung
Kondisi kuat dukung Sangat baik hingga baik
Klasifikasi Umum Tanah
Tanah Mengandung Lanau-Lempung2
Granuler
A-2 A-7
Kelompok A-4 A-5 A-6
A-2-7 A-7-5b A-7-6c
Persen lolos saringan
:
No. 10
No. 40
No. 200 35 max 36 min 36 min 36 min 36 min 36 min
Batas caira 41 min 40 max 41 min 40 max 40 max 41 min
Indek Plastisitasa 11 min 10 min 10 max 10 min 10 min 11 min
Kerikil, pasir
Fraksi tanah Lanau Lempung
lanau/lempung
Sangat baik
Kondisi kuat dukung Kurang baik hingga jelek
hingga baik
Keterangan : 1 Persen lolos saringan No. 200 35%, 2 Persen lolos saringan No. 200 > 35%, a
Tanah yang lolos sarinan No. 40, b Untuk A-7-5, PI LL 30, c Untuk A-7-6, PI > LL 30.

Kualitas tanah sebagai bahan tanah dasar jalan raya, dalam AASHTO,
dinyatakan dengan Indek Kelompok (group index, GI) yang ditulis
didalam tanda kurung setelah kelompok atau sub-kelompok tanah. Indek
kelompok ini diberikan dalam persamaan :

GI = (F200 35 )[0 ,2 + 0 ,005(LL 40 )] + 0 ,01(F200 15 )(PI 10 )


(3.20)

Dimana,F200 adalah persentase lolos saringan No. 200, LL dan PI adalah


batas cair dan indek plastisitas.
Suku pertama dalam persamaan (20), (F200 35 )[0 ,2 + 0 ,005(LL 40 )]
merupakan bagian indek kelompok yang ditentukan dari batas cair.
Sedangkan, suku keduanya yaitu 0 ,01(F200 15 )(PI 10 ) adalah bagian

Pengantar Rekayasa Geoteknik 77


Sifat-Sifat Indeks dan Klasifikasi Tanah

dari indek kelompok yang ditentukan dari indek plastisitas. Berikut ini
diberikan aturan untuk menentukan indek kelompok dari persamaan
(3.20).
1. Jika persamaan (3.20) menghasilkan nilai GI negatif, maka ditetapkan
sebagai 0.
2. Indek kelompok yang dihitung dari persamaan (20) dibulatkan ke nilai
terdekat, misalnya : GI = 3,4 dibulatkan menjadi 3, GI = 3,5
dibulatkan menjadi 4.
3. Tidak terdapat batas atas untuk indek kelompok.
4. Indek kelompok tanah yang mengikuti kelompok A-1-a, A-1-b, A-2-4,
A-2-5, dan A-3 adalah selalu 0.
5. Untuk tanah kelompok A-2-6 dan A-2-7, indek kelompok dihitung
dari suku kedua persamaan (20), yaitu :
GI = 0 ,01(F200 15 )(PI 10 ) (3.21)

70

60
Kedalaman Kerucut, d (mm)

50
A-7-6
40

30 A-2-6
A-6
20 A-2-7
A-7-5
10
A-2-4 A-4 A-2-5 A-5
0
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Kadar Air, w (% )

Gambar 3.25 Grafik plastisitas untuk klasifikasi tanah sistem AASHTO.


3.8.3 Klasifikasi Tanah Menurut BSCS
Klasfikasi tanah menurut BSCS disajikan secara rinci dalam Tabel 3.6.
Kelompok tanah dalam sistem klasifikasi dinyatakan dengan simbol
kelompok yang terdiri atas huruf untuk kelompok utama dan huruf untuk
uraian kualitas seperti disajikan dalam Tabel 3.7. Dalam sistem klasifikasi
ini, batas antara tanah berbutir kasar dan halus adalah 35% fraksi halus.
Sedangkan nilai batas antara lanau dan lempung adalah 65% fraksi halus.
Untuk tanah berbutir halus, klasifikasi didasarkan pula berdasarkan
sifat-sifat konsistensinya yang dibuat dalam grafik plastisitas seperti pada
Gambar 3.20. Grafik plastisitas ini dibagi dalam lima daerah batas cair.
78 Pengantar Rekayasa Geoteknik
A.S. Muntohar

Empat bagian yang memiliki plastisitas sangat tinggi (I, H, V, dan E)


dapat dikelompokan dalam satu kelompok plastisitas batas atas (U) jika
tidak diperlukan suatu pengelompokan yang lebih detail dan memerlukan
prosedur yang singkat.

Tabel 3.6 Klasifikasi tanah menurut British Soil Classification System.


Nama/Simbol Kelompok/Sub-Kelompok Uji Laboratorium
Kelompok Tanah Kelom Sub- Fraksi < Batas
Nama
-pok kelompok 0,06 mm Cair
GW GW
Tanah berbutir kasar (kurang dari 35% fraksi lebih kecil dari

Kerikil dengan sedikit


G 05
lanau atau lempung
berukuran 2 mm > 50%)

GP GPu, GPg
Kerikil dengan lanau GM GWM, GPM
Kerikil (Fraksi kasar

GF 5 15
Kerikil dengan lempung GC GWC, GPC
Kerikil banyak lanau GM GML, dst
GF 15 35
Kerikil dengan banyak GC GCL, GCI,
lempung GCH, GCV,
GCE
SW SW
Pasir dengan sedikit
S 05
lanau atau lempung
berukuran 2 mm < 50%)

SP SPu, SPg
Pasir dengan lanau SM SWM, SPM
Pasir (Fraksi kasar

SF 5 15
Pasir dengan lempung SC SWC, SPC
Pasir banyak lanau SM SML, dst
0,06 mm)

SF 15 35
Pasir banyak lempung SC SCL, SCI
SCH, SCV
SCE
Lanau dengan kerikil MG MLG, dst
(35% - 65% fraksi halus)

FG
dengn kerikil atau pasir
Tanah berbutri halus (lebih dari 35% fraksi

Lempung dengan CG CLG, < 35


Lanau dan Lempung

kerikil CIG 35 50
CHG 50 70
CVG 70 90
CEG > 90
Lanau dengan pasir MS MLS, dst
lebih kecil dari 0,06 mm)

FS
Lempung dengan pasir CG CLS, dst
Lanau (M-soil) M ML, dst
Lempung (65% -

F
Lempung C CL < 35
100% fraksi
Lanau dan

CI 35 50
CH 50 70
halus)

CV 70 90
CE > 90
Tanah Organik Diberikan huruf O diakhir sub-kelompok. Gambut disimbolkan Pt

Pengantar Rekayasa Geoteknik 79


Sifat-Sifat Indeks dan Klasifikasi Tanah

Tabel 3.7 Kualifikasi kelompok tanah dalam BSCS.


Kelompok Utama Simbol Kualifikasi Simbol
Kerikil G Gradasi baik W
Pasir S Gradasi buruk : P
Seragam (Uniform) Pu
Gap-graded Pg
Tanah berbutir halus F Plastisitas rendah (LL < 35) L
Lanau halus (M-Soil) M Plastisitas sedang (35 LL < 50) I
Lempung C Plastisitas tinggi (50 LL < 70) H
Plastisitas sangat tinggi (70 LL < 90) V
Plastisitas sangat tinggi sekali (LL 90) E
Plastisitas batas atas (LL > 35) U
Gambut Pt Mempunyai kandungan organik O

Huruf yang menunjukkan ukuran fraksi yang dominan dalam tanah


ditempatkan sebagai huruf pertama dalam simbol kelompok. Jika tanah
mempunyai kandungan bahan organik yang cukup tinggi, ditambahkan
dengan simbol huruf O diakhir simbol kelompok. Suatu kelompok simbol
dapat terdiri atas dua atau lebih huruf, sebagai contohnya : SW pasir
bergradasi baik (well-graded sand), SCL pasir mengandung banyak
lempung plastisitas rendah (very clayey sand low plasticity), CIS
lempung plastisitas sedang mengandung pasir (sandy clay of intermediate
plasticity), MHSO lanau organik plastistas tinggi mengandung pasir
(organic sandy silt of high plasticity).
Istilah tanah berbutir halus (F) digunakan bila tidak diperlukan suatu
pembedaan antara lanau (M) dan lempung (C). Lanau berada pada daerah
di bawah garis-A dan lempung berada di atas garis-A dalam grafik
plastisitas, yang mana lanau menunjukkan sifat lebih plastis pada kadar air
yang rendah jika dibandingkan dengan lempung pada batas cair yang
sama. Lanau dan lempung dikategorikan sebagai mengandung kerikil
(gravelly) jika lebih dari 50% fraksi kasar merupakan ukuran kerikil
(gravel size), dan sebagai mengandung pasir (sandy) jika lebih dari 50%
fraksi kasar berukuran pasir (sand size).

Contoh 3.3.
Hasil dari pengujian batas cair metode Casagrande sebagai berikut :

Jumlah Pukulan (N) : 10 19 23 27 40


Kadar Air (w %) : 60 45,2 39,8 36,5 25,2

Dua data hasil pengujian batas plastis memberikan kadar air 20,3% dan
20,8%. Tentukan :
d. Batas cair dan batas plastis,
e. Indek plastisitas,
80 Pengantar Rekayasa Geoteknik
A.S. Muntohar

f. Indek cair jika kadar air tanah asli 27,4%,


g. Angka pori pada keadaan batas cair, jika Gs = 2,7.
h. Tentukan kondisi tanah, apakah dalam kondisi getas ataukah
plastis.

Penyelesaian :

70

60
Kadar Air, w (%)

50

40
LL = 38%
30

20

10
10 15 20 25 30 35 40 45 50

Jumlah Pukulan, N

Gambar 3.26 Grafik batas cair Contoh 3.


a. Dari data pengujian tersebut, digambarkan grafik hubungan antara
jumlah pukulan dan kadar air (Gambar 3.27). Batas cair ditentukan
sebagai kadar air pada jumlah pukulan, N = 25, dari flow curve
diperoleh LL = 38%. Batas plastis ditentukan dengan cara menghitung
nilai rerat dari dua data, yaitu : PL =
(20 ,3 + 20 ,8 ) = 20,6%
2
b. Indek plastisitas, PI = LL PL = 28 20,6 = 17,4%
w PL (27 ,4 20 ,6 )
c. Indek cair, LI = N = = 0,39
PI 17 ,4
d. Angka pori dihitung dengan anggapan bahwa pada keadaan batas cair
tersebut tanah telah jenuh. Maka : e = wGs = (30,8)(2,7) = 1,03
e. Pada keadaannya di lapangan, tanah tersebut berada dalam kondisi
plastis (tidak getas) yang ditunjukkan dari nilai LI yaitu : 0 < LI < 1.

Contoh 3.4.
Hasil dari pengujian batas cair metode fall cone sebagai berikut :

Pengantar Rekayasa Geoteknik 81


Sifat-Sifat Indeks dan Klasifikasi Tanah

Parameter Kerucut 80 g Kerucut 240 g


Kedalaman, d (mm) : 5,5 7,8 14,8 22 32 8,5 15 21 35
Kadar Air, w (%) : 39 44,8 52,5 60,3 67 36 45,1 59,8 58,1

Tentukan : Batas cair dan batas plastis, indek plastisitas, dan indek cair
jika kadar air tanah asli 36%.

Penyelesaian :
Seperti halnya pada contoh 3.4, berdasarkan data-data pengujian batas cair
dibuatkan hubungan antara kedalaman kerucut (d) dan kadar air (w) dalam
grafik semi-logaritma seperti disajikan pada Gambar 26. Batas cair
ditentukan pada kedalaman kerucut, d = 20 mm yaitu LL = 58,9% (untuk
kerucut 80 g).
Selanjutnya batas plastis ditentukan dengan persamaan (3.16). Nilai
kadar air pada d = 20 mm untuk kerucut 240 g adalah 49,3%. Sehingga,
beda kadar air untuk kerucut 80 g dan 240 g, w = 58,9 49,3 = 9,6 %.
Maka :
PL = LL 4 ,2 w = 58 ,9 4 ,2(9 ,6 ) = 18,6 % (3.16)
Indek plastisitas, PI = LL PL = 58,9 18,6 = 40,3 %
w PL (36 18 ,6 )
Indek cair, LI = N = = 0,43
PI 40 ,3

80
m = 80 g
70
Kadar Air, w (%)

60 LL = 58.9%

w = 49.3% w
50 m = 240 g

40

30

20
4 5 6 7 8 910 20 30 40 50 60

Kedalaman kerucut, d (mm)

Gambar 27 Grafik batas cair Contoh 4.

82 Pengantar Rekayasa Geoteknik


A.S. Muntohar

Contoh 3.5.
Tentukan klasifikasi tanah menurut USCS dari dua jenis tanah A dan B
yang memiliki kurva distribusi ukuran partikel diberikan pada Gambar
3.27. Batas-batas Atterberg untuk kedua tanah tersebut adalah :

Tanah Batas Cair, LL Batas Plastis, PL


A 37 % 28 %
B 22 % 20 %

Penyelesaian :
Untuk mengklasifikasikan tanah, terlebih dahulu ditentukan persentase
masing-masing jenis tanah atau fraksi tanah berdasarkan kurva gradasi
butir dalam Gambar 3.27, seperti berikut ini :
0,002 0,075 4,75
100
90
Persen Ukuran Lebih Kecil

80 Tanah-A
70
60
50
Tanah-B
40
30
20
10
0
0.001 0.01 0.1 1 10
Ukuran Partikel (mm)

Gambar 3.28 Kurva distibusi ukuran partikel Contoh 3.5.

Persentase Fraksi/Jenis Tanah Tanah-A Tanah-B


Fraksi kasar (partikel > 0,075 mm) 15 80
Fraksi halus (partikel < 0,075 mm) 85 20
Ukuran partikel :
Kerikil (> 4,75 mm) 0 10
Pasir (0,075 4,75 mm) 14 81
Lanau (2 m 0,075 mm) 58 9
Lempung (< 2 m) 28 0

Tanah-A
Pengantar Rekayasa Geoteknik 83
Sifat-Sifat Indeks dan Klasifikasi Tanah

Berdasarkan hasil tersebut, dan mengacu pada sistem klasifikasi USCS


(Tabel 3.3), Tanah-A tergolong dalam tanah berbutir halus (fraksi yang
berukuran lebih kecil dari 0,075 mm adalah lebih besar dari 50 %). Untuk
Tanah-A, selanjutnya diklasifikasikan menggunakan grafik plastisitas
(Gambar 3.23). Dimana, nilai batas cair, LL = 26 % adalah lebih kecil dari
50%, dan nilai indek plastisitas, PI = LL PL = 37 28 = 9 %, sehingga
berada dibawah garis-A. Dengan demikian tanah-A adalah lanau
plastisitas rendah atau diberi simbol ML.

Tanah-B
Tanah-B termasuk tanah berbutir kasar (fraksi yang berukuran lebih kecil
dari 0,075 mm adalah kurang dari 50 %), dengan ukuran partikel yang
dominan merupakan tanah pasir (karena partikel pasir, 81 %, lebih banyak
dari kerikil, 10 %), dan memiliki kandungan lanau (9 %). Karena tanah-B
memiliki kandungan fraksi halus diantara 5 12 %, maka dikelompokkan
dengan menggunakan simbol ganda.
Dimana : D10 = 0,085 mm, D30 = 0,26 mm, dan D60 = 1,04 mm. Maka :
D 1,04
Cu = 60 = = 12,23
D10 0 ,085
(D30 )2 (0 ,26 )2
Cc = = = 0,76
D10 D60 (0 ,085 )(1,04 )
Nilai indek plastisitas, PI = 22 20 = 2 %.
Dengan nilai Cu = 12,23 > 6 dan Cc = 0,76 < 1, dan PI = 2 % < 4 %
(dibawah garis-A), Sehingga dikelompokan sebagai pasir bergradasi baik
bercampur lanau, yang diberi simbol SW-SM (lihat Tabel 3.4).

Contoh 3.6.
Analisis ukuran partikel suatu tanah diberikan seperti berikut ini :

No. Saringan #4 #10 #20 #40 #60 #100 #200


Persen Lolos 94 63 21 10 7 5 3

Tentukan klasifikasi tanah menurut USCS !

Penyelesaian :
Kurva distribusi ukuran partikel diberikan pada Gambar 3.28, dengan
persentase fraksi tanah terbanyak adalah pasir (91 %) yang bercampur
lanau (3 %). Dari gambar 3.28 diperoleh, D10 = 0,42 mm, D30 = 1,04 mm,
dan D60 = 1,85 mm.
84 Pengantar Rekayasa Geoteknik
A.S. Muntohar

Fraksi/Jenis Tanah Persentase


Fraksi kasar (partikel > 0,075 mm) 97
Fraksi halus (partikel < 0,075 mm) 3
Ukuran partikel :
Kerikil (> 4,75 mm) 6
Pasir (0,075 4,75 mm) 91
Lanau (2 m 0,075 mm) 3
Lempung (< 2 m) 0

100
Persen Lolos Saringan

80

60

40

20

0
0.01 0.1 1 10
Ukuran Partikel (mm)

Gambar 3.29 Gradasi partikel tanah Contoh 6.

Berdasarkan Tabel 3.4, untuk tanah pasir dengan kandungan fraksi halus,
F200 < 5 %, cukup ditentukan berdasarkan nilai Cc dan Cu.
D60 1,85 (D30 )2 (1,04 )2
Cu = = = 4,4 dan Cc = = = 1,4
D10 0 ,42 D10 D60 (0 ,42 )(1,85 )
Dengan nilai Cu = 4,4 < 6 dan Cc = 1,4 > 1, maka dapat dikelompokan
sebagai pasir bergradasi buruk, yang diberi simbol SP.
Contoh 3.7.
Hasil dari analisis ukuran partikel suatu tanah adalah sebagai berikut ini :

No. Saringan #10 #40 #200


Persen Lolos 100 80 58

Pengantar Rekayasa Geoteknik 85


Sifat-Sifat Indeks dan Klasifikasi Tanah

Batas cair dan batas plastis untuk fraksi tanah yang lolos saringan No. 40
adalah masing-masing 30 dan 20 %. Tentukan klasifikasi tanah menurut
AASHTO !

Penyelesaian :
Persentase fraksi yang lolos saringan No. 200, F200 = 58 % > 35 %, maka
tanah tersebut diklasfifikasikan sebagai tanah mengandung lanau-
lempung, dengan nilai indek plastisitas, PI = LL PL = 30 10 = 20 %.
Dengan menggunakan Tabel 3.5, setelah diurutkan dari kolom kiri ke
kanan maka termasuk dalam kelompok A-4, dengan indek kelompok :

GI = (F200 35 )[0 ,2 + 0 ,005(LL 40 )] + 0 ,01(F200 15 )(PI 10 )


= (58 - 35 )[0 ,2 + 0 ,005(30 40 )] + 0 ,01(58 15 )(10 10 ) = 3,45 3

Maka, tanah tersebut diklasifikasikan sebagai A-4(3).

Contoh 3.8.
Hasil dari analisis ukuran partikel suatu tanah adalah sebagai berikut ini :

Persen Lolos
No. Saringan
Tanah-X Tanah-Y
#4 90
#10 76
#200 34 95
LL (%) 37 60
PI (%) 12 40

Tentukan klasifikasi tanah menurut AASHTO !


Penyelesaian :
Tanah-X
Tanah tersebut memiliki persentase fraksi yang lolos saringan No. 200,
F200 = 34 % < 35 %, maka diklasfifikasikan sebagai tanah granuler.
Dengan menggunakan Tabel 5, termasuk dalam kelompok A-2-6, dengan
indek kelompok :

GI = 0 ,01(F200 15 )(PI 10 )
= 0 ,01(34 15 )(12 10 ) = 0,38 0

Maka, tanah tersebut diklasifikasikan sebagai A-2-6(0).

86 Pengantar Rekayasa Geoteknik


A.S. Muntohar

Tanah-Y
Persentase fraksi yang lolos saringan No. 200, F200 = 95 % > 35 %, maka
diklasfifikasikan sebagai tanah berbutir halus (lanau-lempung).
Berdasarkan grafik plastisitas pada Gambar 24, termasuk dalam kelompok
A-7-6, dimana PI = 40 > LL 30, dengan indek kelompok :

GI = (F200 35 )[0 ,2 + 0 ,005(LL 40 )] + 0 ,01(F200 15 )(PI 10 )


= (95 - 35 )[0 ,2 + 0 ,005(60 40 )] + 0 ,01(95 15 )(40 10 ) = 42

Maka, tanah tersebut diklasifikasikan sebagai A-7-6(42).

Contoh 3.8.
Persentase ukuran lebih kecil dari analisis ukuran partikel (British
Standard) untuk 4 contoh tanah A, B, C, dan D adalah sebagai berikut :

Ukuran 63 20 6,3 2 0,6 212 63 20 6 2


Saringan/Partikel mm mm mm mm mm m m m m m
Tanah-A 100 64 39 24 12 5 0
Tanah-B 100 98 90 9 3
Tanah-C 100 76 65 59 54 47 34 23 14 7
Tanah-D 100 95 69 46 31
Hasil uji batas cair dan batas plastis untuk tanah D adalah :

Parameter Batas Cair Batas Plastis


Kedalaman, d (mm) : 15,5 18 19,4 22,2 24,8
Kadar Air, w (%) : 39,3 40,8 42,1 44,6 45,6 23,9 24,3

Fraksi halus dari tanah C memiliki nilai batas cair, LL = 26 % dan indek
plastisitas, PI = 9 %. Tentukan nilai Cc dan Cu untuk tanah A, B, C, dan
klasifikasi tanah menurut British Soil Classification.

Penyelesaian :
Gambar 3.29 memberikan kurva distribusi ukuran partikel untuk masing-
masing tanah A, B, C, dan D. Ukuran D10, D30, dan D60 dibaca dari kurva
tersebut, dan selanjutnya dihitung nilai Cu dan Cc.

Pengantar Rekayasa Geoteknik 87


Sifat-Sifat Indeks dan Klasifikasi Tanah

100

Persen ukuran partikel lebih kecil


90
Tanah-D
80
Tanah-B
70
60
50 Tanah-C
40
30
Tanah-A
20
10
0
0.001 0.01 0.1 1 10 100
Ukuran partikel (mm)

Gambar 3.30 Kurva gradasi partikel Contoh 3.8.


D60 16 ,5
Cu(tanah A) = = = 35, dan
D10 0 ,47
(D30 )2 (3,25 )2
Cc(tanah A) = = = 1,36
D10 D60 (0 ,47 )(16 ,5 )
Tanah D10 (mm) D30 (mm) D60 (mm) Cu Cc
A 0,47 3,25 16,5 35 1,36
B 0,21 0,29 0,4 1,9 1,02
C 0,0041 0,042 2,6 600 0,17

Batas cair untuk tanah D ditentukan sebagai kadar air pada kedalaman
kerucut, d = 20 mm, dari grafik yang disajikan pada Gambar 3.30, yaitu
LL = 42,7 %. Dan, batas plastis ditentukan dengan cara menghitung nilai
rata-rata dari dua contoh tanah yang diuji, yaitu PL = 24,1 %. Indek
plastisitas tanah D, PI = 42,7 24,1 = 18,6 %.

Klasifikasi tanah :
Tanah-A terdiri atas 100 % fraksi berbutir kasar dengan ukuran kerikil
yang dominan (76 % kerikil, 24 % pasir), nilai Cu = 35 > 4 dan Cc = 1,36
(berada diantara 1 3). Dengan demikian memenuhi kriteria untuk
diklasifikasikan sebagai GW : kerikil bergradasi baik mengandung
banyak pasir.

88 Pengantar Rekayasa Geoteknik


A.S. Muntohar

50

45

Kadar Air, w (%)


LL = 42,7%

40

35

30
10 15 20 25 30

Kedalaman kerucut, d (mm)

Gambar 3.31 Grafik batas cair tanah D Contoh 8.

Tanah-B memiliki 97 % fraksi berbutir kasar dengan ukuran pasir yang


dominan (2 % kerikil dan 95 % pasir), dan 3 % fraksi berbutir halus
(lanau), dengan nilai Cu = 1,9 < 6 dan Cc = 1,02 (berada diantara 1 3).
Tanah ini tidak memenuhi kriteria sebagai tanah bergradasi baik. Dengan
demikian dapat diklasifikasikan sebagai SPu : pasir bergradasi buruk
(seragam) mengandung lanau.
Tanah-C terdiri atas 66 % fraksi berbutir kasar dengan ukuran kerikil
yang terbanyak (41 % kerikil dan 25 % pasir), dan 34 % fraksi berbutir
halus (dengan LL = 26 % dan PI = 9, berada dalam daerah CL pada grafik
plastisitas Gambar 3.20), dengan nilai Cu = 600 > 4 dan Cc = 0,17 < 1.
Dengan menggunakan Tabel 6, tanah C diklasifikasikan sebagai GCL :
kerikil mengandung banyak lempung plastisitas rendah.
Tanah-D terdiri atas 95 % fraksi berbutir halus dengan LL = 42,7 % dan
PI = 18,6 %. Tanah ini berada di ataas garis-A pada grafik plastisitas
Gambar 20 yaitu berada dalam daerah CI : lempung plastisitas sedang.

Contoh 3.9.
Klasifikasikan tanah pada Contoh 3.8 menurut sistem klasifikasi USCS
dan AASHTO !

Penyelesaian :
Dari Gambar 3.29 diperoleh persentase ukuran partikel yang lebih kecil
dari ukuran saringan sebagai berikut :

Pengantar Rekayasa Geoteknik 89


Sifat-Sifat Indeks dan Klasifikasi Tanah

No. Ukuran
Tanah A Tanah B Tanah C Tanah D
Saringan (mm)
#4 4,76 34 99 64
#10 2 24 98 59 100
#40 0,42 10 66 52 100
#200 0,075 0 3 36 98
Hydrometer 0,002 0 0 7 31

Klasifikasi tanah diberikan sebagai berikut :

Parameter Tanah A Tanah B Tanah C Tanah D


Fraksi Tanah :
Kerikil (%) 66 1 36 0
Pasir (%) 34 96 28 2
Lanau (%) 0 3 29 67
Lempung (%) 0 0 7 31
Batas Cair (%) NP NP 26 42,7
Indek Plastisitas (%) NP NP 9 18,6
Cu 35 1,9 600 -
Cc 1,36 1,02 0,17 -
Klasifikasi :
USCS GW SP SM-SC CL
AASHTO A-1-a(0) A-3(0) A-2-4(0) A-7-6(21)
BSCS GW SPu GCL CI

3.9 Daftar Pustaka dan Referensi


Al-Shayea, N.A., 2001, "The combined effect of clay and moisture content on the
behavior of remolded unsaturated soils", Engineering Geology, Vol. 62 (4), pp.
319-342.
Budhu, M., 2000, Soil Mechanics and Foundations, John Wiley & Son's, New York,
Ch. 2.
Casagrande, A., 1958, "Note on the design of the liquid limit device", Gotechnique,
Vol. 8 No. 2, pp. 84-91.
Das, B.M., 1986, Advanced Soil Mechanics, McGraw Hill, Singapore, Ch. 1.
Das, B.M., 2002, Principles of geotechnical engineering, 5th Ed., Brooks/Cole, USA,
Ch. 3.
Feng, T.W., 2000, "Fall-cone penetration and water content relationship of clays",
Gotechnique, Vol. 50 No. 2, pp. 181-187.
Feng, T.W., 2001, "A linear log d - log w model for the determination of consistency
limits of soils", Canadian Geotechnical Journal, Vol. 38, pp. 1335-1342.

90 Pengantar Rekayasa Geoteknik


A.S. Muntohar

Fredlund, M.D., Wilson, G.W., and Fredllund, D.G., 2002, "Use of the grain-size
distribution for estimation of the soil-water characteristic curve", Canadian
Geotechnical Journal, Vol. 39, pp. 1103-1117.
Harisson, J.A., (1988), "Using the BS cone penetrometer for the determination of the
plastic limis of soils", Gotechnique, Vol. 38 No. 3, pp. 433-438.
Head, K.H., 1992, Manual of Soil Laboratory Testing, Volume 1: Soil Classfication and
Composition Tests, 2nd Ed., Pentech Press, London.
Holtz, R.D., and Kovacs, W.D., 1981, An introduction to geotechnical engineering,
Prentice Hall, New Jersey, USA.
Lu, N., Ristow, G.H., and Likos, W.J., 2000, "The Accuracy of hydrometer analysis for
fine-granied clay particles", Geotechnical Testing Journal, Vol. 23 No. 4, pp. 487-
495.
McCharty, D.F., 1998, Essential of Soil Mechanics and Foundations: Basic
Geotechnics, Prentice Hall, New Jersey, USA, Ch. 2.
Mutohar, A.S., 2005, Determination of plastic limits of soils using cone penetrometer:
Re-Appraisal, Jurnal Teknik Sipil, Universitas Tarumanagara.
Polidori, E., (2003), "Proposal for a new plasticity chart", Gotechnique, Vol. 53 No. 4,
pp. 397-406.
Seed, H.B., Woodward , R.J., and Lundgren, R., 1964, "Clay mineralogical aspects of
Atterberg limits", Journal of The Soil Mechanics and Foundations Divisions,
ASCE, Vol. 90 No. SM4, pp. 107-131.
Sharma, B., and Bora, P.K., 2003, "Plastic Limit, Liquid Limit and Undrained Shear
Strengthof SoilReappraisal", Journal of Geotechnical and Geoenvironmental
Engineering, Vol. 129, No. 8, pp. 774-777.
Sherwood, P.T., and Ryley, M.D., 1970, "An investigation of a cone-penetrometer
method for the determination of liquid limit", Gotechnique, Vol. 20 No. 2, pp.
203-208.
Sridharan, A., Nagaraj, H.B., and Prakash, K., 1999, "Determination of the Plasticity
Index from Flow Index", Geotechnical Testing Journal, Vol. 22, No. 2, pp. 169
175.
Stone, K.J.L., and Phan, K.D., 1995, "Cone penetration tets near the plastic limit",
Gotechnique, Vol. 45 No. 1, pp. 155-158.
Terzaghi, K., Peck, R.,B., and Mesri, G., 1996, Soil Mechanics in Engineering Practice,
3rd Ed., John Wiley & Son's, New York.
Wen, B., Aydin, A., and Duzgoren-Aydin, N.S., 2002, "A comparative study of particle
size analyses by sieve-hydrometer and laser difraction methods", Geotechnical
Testing Journal, Vol. 25 No. 4, pp. 1-9.
White, D.J., 2002, The measurement of particle size distribution using the Single
Particle Optical Sizing (SPOS) Method, Technical Report No. CUED/D-
SOILS/TR321, August 2002, Cambridge University Engineering Department.

Pengantar Rekayasa Geoteknik 91


Sifat-Sifat Indeks dan Klasifikasi Tanah

Wroth, C.P., and Wood, D.M., 1978, "The correlation of index properties with some
basic engineering properties of soils", Canadian Geotechnical Journal, Vol, 15 No.
2, pp. 137-145.

92 Pengantar Rekayasa Geoteknik