Anda di halaman 1dari 16

Teori Hukum Alam Dan Positivisme Hukum

A. Pengertian Aliran Hukum Alam

Secara umum yang dimaksud dengan aliran Hukum Alam adalah hukum yang

berlaku universal dan abadi. Melihat sumbernya, Hukum Alam ini ada yang bersumber

dari Tuhan (irasional) dan ada yang bersumber dari akal (rasio).

Hukum Alam itu sebenarnya bukan merupakan satu jenis hukum, tetapi penamaan

seragam untuk banyak ide yang dikelompokkan menjadi satu nama yaitu Hukum alam.

Salah satu pemikiran Hukum Alam yang khas adalah tidak dipisahkannya secara tegas

antara hukum dan moral.

Hukum alam adalah lawan dari positiveme hukum, hanya saja, kenyataannya

banyak dogmatisme hukum dikaitkan dengan filsafat hukum alam ini. Dalam filsafat

hukum alam terdapat keyakinan bahwa ada suatu sistem hukum ideal yang diciptakan

oleh Tuhan, alam dan alam pikiran manusia itu sendiri.1

Sistem hukum ideal itu berlaku sama bagi seluruh atau semua masyarakat dan bagi

semua periode sejarah. Aturan-aturannya hanya dapat dijelaskan melalui alasan-alasan

dan pemikiran logis. Oleh karena itu, hukum alam berjalan di luar fenomena-fenomena

yang dapat diamati baik positiveme hukum maupun positiveme ilmu pengetahuan.

Dengan perkataan lain hukum alam adalah hukum yang berlaku mutlak bagi siapa saja,

kapan saja, dan dimana saja ia berada. Ia tidak dapat dibatasi oleh orang, waktu dan

tempat. Hukum alam adalah hukum yang abadi akan tetapi tidak semua alih filsafat

dapat berpendapat demikian.

1
Lon L. Fuller, Anatomy of the Law (New York:The New American Library,1969)
B. Tokoh Penganut Aliran Hukum alam

Pada umumnya penganut aliran Hukum Alam mamandang hukum dan moral

sebagai pencerminan dan pengaturan secara internal dan eksternal dari kehidupan

manusia dan hubungan sesama manusia.

Yang meletakkan dasar hukum alam adalah para ahli pikir Yunani. Heraclitus

sebagai orang yang pertama dalam deretan nama tokoh-tokoh pelopor hukum alam

tersebut. Ia berusaha menemukan hakikat dari segala yang ada, yang disebutnya takdie,

tatanan, dan akal duniawi. Dalam hal ini, alam yang tadinya sebgai substansi mengalami

degradasi tidak lagi sebagai substansi, melainkan suatu hubungan, suatu tatanan benda-

benda. Ini yang merupakan dasar kegemilangan aliran Yunani (sophis).2 Gerakan tersebut

muncul pada saat tingginya tingkat perkembangan politik, social, dan spiritual dari negara

kota di Yunani, pada abad ke 5 SM yang memaksa orang untuk berpikir tentang hukum

dan ketertiban.

1. ARISTOTLE : Nichomachean Ethics

Aristotle berpendapat bahwa hukum alam pertama-tama bersandar pada

bentuk atau hakikat yang dimiliki setiap makhluk. Semua makhluk mempunyai

bentuk tertentu dan hidup berkembang mengikuti bentuk tersebut sesuai dengan

hakikatnya.

Menurut Aristotle hukum alam itu dipandang sebagai hukum hukum yang

selalu dan dimana-mana tetap berlaku karena relasinya dengan tatanan alam semesta.

Hukum alam ini tetap, tidak berubah, adalah sah dari dirinya sendiri.

Hukum alam menuntut supaya para warga negara memberikan sumbangannya untuk

kepentingan umum. Sedangkan hukum positif menurut Aristotle sangat tergantung


2
W.Friedman, Teori & Filsafat Hukum. Susunan I. (Jakarta:Rajawali Pers,1990),hlm.51. Bandingkan
pula dengan Darji Darmodihajo et al, Pokok-pokok Filsafat Hukum Hlm 103 Pt Gramedia Pusaka Utama.
Jakarta 2006
pada peraturan-peraturan, ketentuan-ketentuan yang disusun oleh manusia yang

dirumuskan ke dalam bentuk peraturan perundang-undangan yang akan menjadi sah

apabila sudah ditetapkan dan secara resmi sudah diumumkan oleh pemerintah.

Pada masa itu Aristoteles telah membedakan dua macam hukum yang berlaku, yaitu:

(1) hukum alam

adalah hukum yang selalu berlaku dan tidak pernah berubah karena berhubungan

dengan aturan alam

(2) hukum positif

adalah undang-undang yang dibuat sebagai dasar pelaksanaan pemerintah

Undang-undang ini pun ada dua macam yaitu undang-undang yang berakar pada

tata susila, dan undang-undang yang tertulis.

Menurut Aristoteles, undang-undang yang disebut pertama itulah yang lebih besar

kekuatan mengikatnya daripada undang-undang lainnya. Undang-undang itu pulalah

yang lebih stabil karena selalu menuju ke penghidupan yang sempurna.3

Dengan demikian, hukum yang berlaku di Yunani menurut tata urutannya adalah

hukum alam sebagai hukum yang paling tinggi, kemudian undang-undang yang

tertulis.

2. CICERO : De Re Publica

Menurut Cicero, negara merupakan perkumpulan orang banyak yang

dipersatukan melalui suatu aturan hukum berdasarkan kepentingan bersama, sehingga

pengertian negara sebagai masyarakat moral sudah dilepaskan. Negara hanya

merupakan masyarakat hukum, namun supaya benar dalam pelaksanaannya, Negara

harus berpedoman kepada hukum alam dan memajukan kepentingan umum. Menurut

3
Ibid,hlm.28 dan 62
Cicero hukum yang benar a true law adalah adanya kesesuaian antara akal right

reason (Penalaran yang benar) dengan alam, hal ini merupakan kebutuhan

universal, tidak berubah dan abadi (kekal).

Hukum yang benar akan memuat tentang perintah-perintah untuk

melaksanakan kewajiban dan berpaling dari perbuatan jahat dan larangan-larangan.

Tidak ada perbedaan antara masa sekarang dan masa yang akan datang, tetapi tetap

sama, abadi dan tidak berubah, hukum yang akan sesuai untuk semua bangsa dan

setiap waktu. Tuhan yang mengatasi kita semua, Dia-lah yang menciptakan hukum

dan mengajarkannya kepada kita, sekaligus juga Dia bertindak sebagai Hakim, hukum

yang sejati adalah akal yang benar, sesuai dengan alam, ia dapat dipergunakan secara

universal, tidak berubah-ubah dan kekal.

3. THOMAS AQUINAS (1224-1274) : Summa Theologica Law in General

Filsafat Thomas Aquines berkaitan erat dengan theologia, ia mengakui bahwa

disamping kebenaran wahyu juga terdapat kebenaran akal. Menurutnya ada

pengetahuan yang tidak dapat ditembus oleh akal dan untuk itulah diperlukan

iman. Sekalipun akal manusia tidak dapat memecahkan misteri, ia dapat meratakan

jalan menuju pemahaman terhadapnya.

Dalam bukunya yang sangat terkenal yaitu Summa Theologica dan De

Regimene, Thomas Aquinas menguraikan ajaran hukum Alamnya yang kemudian

banyak mempengaruhi ajaran gereja hingga saat ini. Alam pikirannya dipengaruhi

oleh Aristoteles maupun kaum stoa. Kalau Aristoteles itu membagi hukum menjadi

hukum alam dan hukum positif, maka Thomas Aquinas membuat penggolongan yang

berbeda, dia menggolongkan hukum itu ke dalam 4 (empat) golongan yaitu:


1) Lex aeterna, hukum abadi yang menguasai seluruh dunia. Hukum ini bersumber

dari rasio Tuhan dan menjadi dasar bagi semua hukum yang ada. Rasio ini tidak

bisa ditangkap oleh pancaindera manusia. Hanya sebagian kecil saja yang

disampaikan kepada manusia.

2) Lex divina, yaitu bagian dari ratio Tuhan yang bisa ditangkap atas dasar wahyu

yang diterimanya, dan sebagian dari Lex divina ini disebut Hukum Tuhan yang

dalam Kitab Suci;

3) Lex naturalis, yaitu yang merupakan hukum alam. Dikatakan bahwa hukum alam

ini merupakan perwujudan Lex aeterna pada rasio manusia, atas dasar ini manusia

dapat melakukan suatu penilaian, dapat menentukkan mana yang baik dan mana

yang buruk.

4) Lex positivis, yang dibagi atas hukum positif yang di buat oleh Tuhan,yang

terdapat pada kitab-kitab suci, dan hukum positif buatan manusia. Hukum positif

ini merupakan pelaksanaan dari Hukum Alam oleh manusia atas dasar persyaratan

yang khusus yang diperlukan oleh keadaan dunia, Dengan kata lain jika hukum

(lex Humane) menjadi tidak benar karena (a) mengabaikan kebaikan masyarakat,

(b) mengabdi pada nafsu dan kesombongan pembuatnya (c) berasal dari

kekuasaan yang sewenang-wenang, (d) diskriminatif terhadap rakyat maka hukum

itu tidak sah karena bertentangan dengan moral hukum alam dan Tuhan.

Lebih lanjut Thomas Thomas Aquinas membagi konsep hukum alamnya atas 2 (dua )

jenis yaitu:

1) principia prima, yaitu azas-azas yang dimiliki oleh manusia sejak lahir dan tidak

dapat diasingkan dari padanya, oleh karena itu principia prima tidak dapat

berubah menurut tempat dan waktu.


2) principia secundaria, yaitu azas yang bersumber dari principia prima, sebaliknya

tidak bersifat mutlak dan dapat berubah pada setiap waktu dan tempat. Seringkali

azas ini sebagai penafsiran manusia dengan menggunakkan rasionya terhadap

principia prima. Penafsiran ini bervariasi,dapat baik atau buruk. Suatu tafsiran

dapat mengikat umum jika hukum positif memberikan pada azas-azas ini

kekuasaan mengikat, misalnya dalam bentuk undang-undang.

4. THOMAS HOBBES (1588-1679) : Leviathan

Hobbes meyakinkan terhadap pentingnya kekuasaan negara yang amat besar,

yang menurut pendapatnya harus diberikan kepada penguasa yang absolut. Hobbes

seperti kebanyakan penulis pada masanya, mengakui kekuasaan Hukum Alam. Tetapi

mengartikan Hukum Alamnya berbeda secara mendasar dari para penulis lainnya

yang menganggap Hukum Alam sebagai suatu tatanan objektif yang pasti dan yang

lebih tinggi dari hukum positif. Ia mengubah tekanan dari Hukum Alam sebagai

suatu tatanan objektif menjadi suatu hak alami sebagai tuntunan subjektif yang

didasarkan oleh sifat manusia, sehingga memberikan jalan untuk revolusi

individualisme di kemudian hari dengan nama hak-hak yang tak dapat dicabut

kembali.

Prinsip pokok Hukum Alam adalah hak alami untuk menjaga diri, Hal ini

berkaitan dengan pandangannya mengenai keadaan alam dimana orang hidup tanpa

kekuasaan bersama untuk membuat mereka semua mempunyai rasa hormat, mereka

hidup dalam keadaan yang disebut warre sebagaimana adanya pada setiap manusia

bertentangan dengan setiap manusia.

Hobbes berpendapat negara dan hukum tidak termasuk realitas alam sebab

diwujudkan oleh manusia sendiri. Tetapi disini pengertiannya juga berpangkal pada
pengalaman. Apa yang dialami dalam hidup bersama membawa kita kepada

pengertian negara dan hukum. Karena negara dan hukum diwujudkan oleh manusia

maka kebenarannya tergantung dari manusia juga. Apa yang dikehendaki manusia

disebut benar, tidak ada norma kebenaran selain manusia iti sendiri. Oleh karena itu

negara dan hukum ditentukan kebenarannya secara apriori dengan jalan deduksi.

Berdasarkan pandangan ilmiah ini ia memulai penyelidikannya tentang negara

dan hukum dengan mencari sebab timbulnya negara. Menurutnya manusia sejak

zaman purbakala seluruhnya dikuasai oleh nafsu-nafsu alamiah untuk

memperjuangkan kepentingannya sendiri.

Oleh karena dalam situasi asli belum terdapat norma-norma hidup bersama,

maka orang primitif mempunyai hak atas semuannya. Akibatnya adalah timbulnya

perang, semua orang melawan semua orang (bellum omnium contra

omnes) guna merebut apa yang dianggap haknya. Dalam situasi primitif ini

ditandai dengan kecurigaan dan keangkuhan hati individu-individu yang saling

menyerang.

Dalam situasi yang tegang itu lama kelamaan orang mulai sadar akan

keuntungan untuk mengamankan kehidupannya dengan menciptakan suatu aturan

hidup bersama bagi semua orang yang termasuk kelompok yang sama. Untuk

mencapai semua aturan itu semua orang harus menyerahkan hak-hak asli mereka atas

segala-galanya, mereka harus menuruti beberapa kecenderungan ilmiah yang disebut

hukum-hukum alam. Hukum hukum alam dalam arti petunjuk yang harus ditaati

jika tujuan-tujuan hendak dicapai. Petunjuk yang pertama adalah : carilah damai.

Petunjuk lain adalah; berlakunya terhadap orang lain sebagaimana kau ingin berlaku

terhadap dirimu, tepatilah janji-janjimu dan seterusnya.


Petunjuk terakhir mengenai janji-janji yang harus ditepati adalah sangat

penting sebab petunjuk ini menjadi dasar semua persetujuan sosial. Prinsip bahwa

janji harus di tepati ini disebut dengan kontrak asli. Membentuk suatu hidup bersama

yang teratur. Persetujuan sosial yang asli inilah yang menjadi asal terbentuknya

negara. Jadi pembentukan negara itu merupakan hasil itu merupakan hasil dari suatu

kontra dengan tujuan untuk mengamankan hidupnya dari serangan orang lain.

Dengan menyetujui kontra asli untuk membentuk negara, orang-orang menyatakan

kerelaannya untuk melepaskan hak-haknya sendiri. Dalam hal ini perlu juga adanya

kerukunan diantara mereka. Karena itu kerukunan hanya dapat diwujudkan jika

orang-orang itu mau melaksanakan keputusan-kepitusan yang diambil oleh kepala

negara, maka disini perlu ada orang-orang yang bersedia untuk menyerahkan hak-hak

pribadi mereka. Ini berarti kepala negara memiliki kedaulatan penuh terhadap semua

warga negara.

Thomas Hobbes dengan tegas menolak tiap hak kontraktual atau quasi

kontraktual dengan mana setiap subjek menuntut pemenuhan kewajiban tertentu oleh

penguasa. Oleh karena itu kontrak sosial-nya bukan merupakan kontrak siosial

yang sebenarnya melainkan suatu fiksi logis. Hanya ada satu syarat yang melekat

pada kekuasaan absolut dari penguasa;bahwa ia dapat memerintah dan menjaga

ketertiban. Hobbes mengecilkan arti ketidaktaatan, tapi dalam leviathan dengan jelas

mengemukakan bahwa kalau perlawanan berhasil maka penguasa berhenti

memerintah dan orang-orang kembali pada posisi semula.

Kewajiban para warga kepada pemerintah artinya adalah selama dan tidak

lebih lama kekuasaan berlangsung dimana pemerintah itu mampu melindungi para

warganya.
C. Pro dan Kontra terhadap Aliran Hukum Alam

1. Menurut Teori Falsifikasi

Karl Popper beranggapan bahwa suatu teori baru akan diterima jika ternyata

bahwa teori itu dapat meruntuhkan teori sebelumnya. Pengujian kedua teori (lama dan

baru) itu dilakukan melalui suatu tes empiris, yang direncanakan untuk membuktikan

salah tehadap apa yang diujinya, alias memfalsifikasi. Kalau dalam tes tersebut

sebuah teori terbukti salah, maka teori tersebut akan diterima sampai diketemukannya

cara pengujian yang lebih ketat4

Lepas dari cara pengujian apakah melalui tes empiris atau tidak, esensi teori

falsiikasi ini adalah suatu kebenaran yang diperoleh melalui kritik, artinya,

mengungkapkan kelemahan teori sebelumnya. Hal ini tampak jelas dalam

perkembangan teori-teori ilmu hukum, khususnya pergeseran kedudukan oleh mazhab

hukum yang satu terhadap yang lainnya.

Teori hukum positif hadir dan diterima setelah adanya kritik terhadap teori

hukum alam. Banayak buku yang menyingkapkan kelemahan hukum alam.

Kelemahan yang paling sering dikemukakan ialah bahwa hukum alam tidak menjamin

kepastian hukum. Hukum alam sendiri tidak dapat dipastikan secara obyektif, tidak

pula dapat ditentukan apa yang menjadi kodrat manusia. Akibat berbagai kelemahan

ini, dicari teori baru yang mampu menjamin kepastian hukum tersenut. Hadirlah teori

hukum positif yang mengajarkan bahwa hukum identik dengan undang-undang.

Upaya menyebarluaskan teori hukum positif antara lain dilakukan memlaui

Code Napoleon yang terkenal di Romawi, sebagaimana diterima juga di Perancis dan

Belanda. Akan teta[pi, jika memasuki Jerman, Cosde Napoleon ditolak karena

dianggap hukum asing. Hukum yang berlaku menurut mereka (Jerman) hanyalah

4
C.Verhaak,et al., Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah atas Cara Kerja Ilmu-Ilmu
(Jakarta:Gramedia,1989),hlm.160
hukum yang tumbuh dan berkembang menurut perkembangan sejarah bangsa itu

sendiri. Jadi hukum yang berlaku di Jerman harus hukum adapt Jerman sendiri, bukan

hukum asing seperti Code Napoleon. Bagi bangsa Jerman, penolakan terhadap Code

Napoleon itu sekaligus merupakan kritik terhadap teori hukum positif , dan lahirlah

mazhab sejarah dengan tokoh utamanya Friedrich Carl von Savigny.

Mazhab sejarah merpakan paradigma pengganti positiveme hukum.

Paradigma positiveme hukum, yang mengagung-agungkan pemikiran manusia dalam

menciptakan hukum yang logis, ditumbangkan oleh paradigma mazhab sejarah.

Hukum tidak dibuat, melainkan timbul dan berkembang bersama masyarakat. Hukum

merupakan ekspresi dan semangat jiwa rakyat (volksgeist). Artinya , hukum adalah

pengalaman sejarah.

Baik aliran hukum positif John Austin maupun mazhab sejarah von Savigny

dipersalahkan oleh Roscoe Pound. Kedua pandangan tersebut tidak ada satupun yang

dapat bertahan sendiri di dalam sistem hukum; kedua-duanya harus timbal balik.

Lebih lanjut, menurut Roscoe Pound, hanya hukum yang sanggup menghadapi ujian

akal yang dapat hidup terus, karena yang menjadi unsur-unsur kekal dalam hukum

hanyalah pernyataan-pernyataan kekal. Pernyataan kekal itu harus berdiri di atas

pengalaman dan diuji oleh pengalaman. Pengalaman dikembangkan oleh akal.

Sebaliknya, akal diuji oleh pengalaman5 Dengan demikian muncul mazhab baru

sebgai paradigma baru yang dinamakan Sociological Jurisprudence. Inti pemikiran

mazhab ini ialah bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan living

law yang sebagai inner order masyarakat, yang mencerminkan nilai-nilai yang

hidup di dalamnya6

5
Lili Rasjidi,op.cit.,hlm 48
6
Mochtar Kusumaatmadja,op.cit.,hlm.5
Akan tetapi, baik mazhab sejarah von Savigny maupun aliran Sociological

Jurisprudence dikritik oleh Prof. Muchtar Kusumaatmadja. Kedua mazhab itu tidak

dapat menerangkan secara memuaskan apa yang dimaksudkan dengan volksgeist

atau nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat, yang menurut mereka pada analisis

terakhir merupakan hakikat hukum dalam arti yang sebenar-benarnya.7 Kritik inilah

yang merontokkan paradigma lama, mazhab Sociological Jurisprudence, dan

muncul teori baru, yang oleh Prof. Muchtar Kusumaatmadja dinamakan teori hukum

pembangunan (nasional) atau mazhab Unpad

Dari uraian-uraian tersebut jelaslah bahwa kehadiran teori yang baru akan

terjadi setelah teori yang bersangkutan membuktikan salah terhadap teori sebelumnya.

Dengan lain perkataan, teori yang baru dalam ilmu hukum terjadi setelah

memfalsifikasi teori sebelumnya.

Meskipun demikian, dari perdebatan antara mazhab hukum yang satu terhadap

yang lain, sebagaimana dipertontonkan di muka, ternyata bahwa tidak semua unsur

dari masing-masing mazhab dirontokkan, digeser ataupun digugurkan oleh mazhab

hukum berikutnya. Terhadap mazhab hukum alam, unsur yang digugurkan adalah

unsur kepastian hukum karena hukum alam tidak menjamin kepastian hukum

tersebut. Adapun unsur etika, yang merupakan jatidiri hukum alam, justru

dipertahankan sebagai tolak ukur bagi suatu hukum yang adil, sehingga mampu

menerobos setiap rintangan mazhab hukum yang hadir setelah mazhab hukum alam.

Dengan kata lain , teori falsifikasi hanya merontokkan kelemahan (weakness) hukum

alam, sementra potensi (streng) hukum alam, yang berupa nilai etika yang terkandung

di dalamnya, tetap hidup terus pada setiap mazhab hukum

7
Ibid.,hlm7
2. Menurut Teori Revolusi Sains

Teori revolusi sains dilkemukakan oleh Thomas S. Kuhn dalam bukunya yang

berjudul The Structure Revolutions yang terbit tahun 1962, yang terbit kembali tahun

1970 dengan sedikit perubahan isi, tanpa mengubah judul. Dalam perdebatannya

melawan Popper, bahwa Popper telah menjungkirbalikkan kenyataan dengan terlebih

dahulu menguraikan terjadinya ilmu empiris melalui jalan hipotesis yang disusul

dengan upaya falsifikasi.8 Upaya yang bertolak dari hipotesis (=benar) ke falsifikasi

(=salah) tentunya dari positif ke negative. Akan tetapi, oleh Popper ini dikatakan

sebagai perkembangan, bukan kemerosotan. Hal ini yang dimaksudkan oleh Thomas

S. Kuhn dengan istilah menjungkirbalikkan kenyataan.

Dengan perkataan lain, paradigma kedua memperbaiki paradigma pertama,

paradigma ketiga memperbaiki paradigma kedua dan seterusnya. Sebagaimana

halmya yang Kuhn, Saya tidak meragukan, misalnya, bahwa mekanika Newton

memperbaiki mekanika Aristoteles, dan bahwa mekanika Einstein memperbaiki

mekankika Newton 9Kehadiran paradigma baru stelah mengalahkan paradigma

sebelumnya itulah yang dimaksudkan oleh Kuhn dengan istilah revolusi sains

Demikian pula dalam teori-teori ilmu hukum. Kehadiran positiveme hukum

sebagai paradigma tandingan ternyata telah memperbaiki sifat kepastian hukum yang

dimiliki hukum alam. Akan tetapi, positiveme hukum juga ternyata tidak dapat

menjawab semua permasalahan hukum, karena hukum yang berdasarkan hasil

pemikiran logis tidak selamanya mencerminkan nilai-nilai yang hidup dalam

masyarakat. Oleh karena itu, paradigma tandingan terhadap positiveme hukum adalah

mazhab sejarah mendasarkan diri pada hukum sebagai hasil pengalaman sejarah.

Akan tetapi, hukum semata-mata hasil pengalaman sejarah tanpa melampaui hasil

8
C.Verhaak,etal.,op.cit.,hlm.164
9
Thomas S. Kuhn,op.cit.,hlm.221
pemikiran logis tidak tidak dapat menjadi sarana pembaharu bagi masyrakat. Dengan

demikian, maka muncul aliran Pragmatic Legal Realism sebagai paradigma

pengganti yang mengajarkan law as a tool of social engineering (Roscoe Pound),

yang mirip dengan teori mazhab Unpad yang mengajarkan bahwa hukum adalah

sarana pembaruan masyarakat.10

Perbedaan teori law is a of social engineering (Roscoe Pound) dengan teori

hukum sebagai sarana pembaruan masyarakat (Mochtar Kusumaatmadja) ialah

bahwa teori Roscoe Pound ditujukan terutama kepada peranan pembaruan keputusan-

keputusan pengadilan, khususnya keputusan dari supreme court sebagai mahkamah

tertinggi. Hal ini sejalan dengan sistem hukum Anglo Saxon yang dianut di Amerika,

yang lebih mendasarkan hukumnya pada keputusan pengadilan dengan semboyan

hukum adalah apa yang dibuat oleh hakim" atau All the law is judge made law,

suatu slogan termasyur dari John Chipman Gray.11 Sebaliknya, teori hukum sebagai

sarana pembaharuan masyarakat dari Mochtar Kusumaatmadja ditujukan kepada

pembaharuan peraturan perundangan-undangan, kendatipum yurisprudensi (keputusan

hakim) juga tidak dapat diabaikan, dalam arti ikut memegang peranan.12

Baik menurut pendekatan falsifikasi maupun revolusi saind terhadap teori-

teori ilmu hukum, tampak bahwa perkembangan teori-teori hukum belakangan ini

merupakan hasil kumulasi dari teori-teori hukum sebelumnya. Misalnya, sociological

jurisprudence merupakan kumulasi dari positivisme hukum dan mahzab sejarah.

Teori hukum pembangunan merupakan hasil kumulasi dari positivisme hukum dan

sociological prudence yang dipengaruhi oleh teori pragmatic legal realism. Lalu,

bagaimana dengan hukum alam? Apakah sudah ditinggalkan sama sekali ataukah

10
Mochtar Kusumaatmadja,loc.cit. Bandingkan pula dengan Lili Rasjidi,op.cit.,hlm.57
11
Lili Rasjidi,op.cit.,hlm.52
12
Mochtar Kusumaatmadja,op.cit.,hlm.9
masih ikut berkumulasi dalam teori hukum yang paling mutakhir? Jawabannya akan

kita lihat dalam uraian berikut.

D. Perkembangan Aliran Hukum Alam Pada Saat Sekarang

Tidak dapat disangkal bahwa hukum alam sebagai hukum abadi, tetap berlaku bagi

siapa saja hingga saat ini dan tentu saja berlaku juga untuk waktu yang akan datang.

Dalam kesimpulan hasil analisisnya, dEntreves mengemukakan antara lain bahwa ajaran

hukum alam yang lama, jika dilihat dari pandangan modern yang kritis ini, ajaran tersebut

dapat tahan uji karena dalam hukum alam terkandung sifat hukum dan sifat etika. Dengan

kedua sifatnya itu, fungsi pokok hukum alam dalam turut menyelesaikan persoalan

hukum adalah sebagai penengah antara bidang hukum murnian bidang moral. Dalam hal

ini fungsi hukum alam memberikan status bagi titik perpotongan antara hukum dan

moral. Tentang apakah titik perpotongan itu ada, itulah ujian terakhir bagi berlaku atau

tidaknya semua pemikiran hukum alam.13

Bahwa hukum alam tetap ada dan berlaku, ini didukung pula oleh penulis lain, Lili

Rasjidi, yang mengangkat pandangan L. Bender bahwa hukum alam itu ada dan tetap

berlaku. Dengan berbagai argumentasi, mereka menolak setiap pandangan yang

mengabaikan kehadiran hukum alam dengan berbagai sifat yang terkandung di dalamnya.
14

Lepas dari pandangan-pandangan pro dan kontra terhadap hukum alam, yang jelas

ialah nilai etika, sebagai jati diri hukum alam, akan memberi warna kepada hukum positif

agar hukum positif dapat berkualitas sebagai hukum yang baik dan adil. Tanpa nilai etika

itu, hukum dapat saja merupakan alat penguasa untuk meligitimasikan tujuan-tujuan yang

tidak wajar. Penguasa dapat menciptakan hukum sendiri, sesuai dengan kepentingan-

13
A.P dEntreves,op.cit.,hlm.134
14
Lili Rasjidi,op.cit.,hlm.227-258
kepentingannya. Maka dibalik topeng legalitas, kesewenangan kekuasaan dapat

merajalela dengan bebas. 15

Kecuali itu hukum alam dengan ciri etikanya dapat mempengaruhi sikap tindak

penguasa dalam menggunakan kekuasaannya. Di dalam negara berdasarkan hukum,

tindakan pemerintah harus berdasarkan hukum, namun setiap tindakan yang berdasarkan

hukum yang berlaku baru merupakan syarat perlu (Necesarry condition), belum tentu

merupakan syarat yang mencukupi (sufficient condition). Karena itu, selain dituntut

tindakan yang sesuai dengan hukum, pemerintah dituntut pula yang menjalankan asas-

asas umum pemerintahan yang baik (principles of good administration) seperti: asas

kepastian hukum, asas keseimbangan, asas bertindak cermat, asas motivasi, asas tidak

boleh mempercampuradukkan kewenangan, asas kesamaan dalam mengambil keputusan,

asas permainan yang layak, asas keadilan atau kewajaran, asas menanggapi pengharapan

yang wajar, asas peniadaan akibat suatu keputusan yang batal, asas perlindungan atas

pandangan hidup, asas kebijaksanaan, dan asas penyelenggaraan kepentingan umum.

Semua asas ini adalah kontribusi dari hukum alam, bukan hukum positif.

Sebagai kesimpulan akhir, berdasarkan uraian-uraian tersebut diatas, dapatlah

disampaikan beberapa hal sebagai berikut:

(1) hukum alam, khususnya nilai etika yang menjadi jati dirinya, mampu menerobos

setiap rintangan mazhab hukum, dan tidak pernah gugur oleh rintangan-rintangan

tersebut,

(2) teori falsifikasi dan revolusi sains, yang meskipun berbeda dalam metode untuk

mencapai kebenaran, namun terhadap eksistensi hukum alam, kedua teori tersebut

menghasilkan kebenaran yang sama, yaitu hukum alam yang telah diklasifikasikan

nilai-nilai kelemahannya;

15
Franz Magnis-Suseno, Etika Politik Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern
(Jakarta:Gramedia,1991),hlm.300
(3) dalam konsepsi negara hukum, hukum alam tidak hanya berperan dalam membentuk

hukum positif yang baik dan adil, melainkan juga berperan dalam sikap tindakan

pemerintah agar sesuai dengan asas-asas umum pemerintahan yang baik;

(4) betapapun peranannya cukup handal dalam konsepsi negara hukum, hukum alam

enggan muncul sebagai mahzab sendiri yang menumbangkan kelemahan mahzab

hukum pembangunan yang kini tengah berkuasa; namun, ia juga tidak mau

tenggelam dan mati begitu saja karena peranannya tetap dibutuhkan.

Maka lengkaplah sudah sebuah tinjauan kritis terhadap jatuh bangunnya mahzab hukum

alam.