Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM KESEHATAN KESELAMATAN KERJA

PENERANGAN

DISUSUN OLEH:
GINA DWI SEPTIANI 10011181320052
IMELDA RIA NEGARA 10011181320059
DESI CITRA DEWI 10011181320063
MUKHAYATUN SOLEHAH 10011181320078
ADRA JAES ZAMARA 10011181320089
DIAH PERMATA SARI 10011181320090
AYU KARTIKA FEBRIANI 10011181320091
FEBRIANTI KOMALASARI 10011281320012
ANITA GUSTIRA 10011281320014
SEPTIA MILANDA 10011281320021

DOSEN PENGAMPU
DESHEILA ANDARINI, S.KM, M.Sc

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2016
1. Tujuan
1.1 Untuk mengetahui tingkat intensitas penerangan pada lingkungan kerja.
1.2 Untuk mengetahui alat pengukuran tingkat intensitas penerangan.
1.3 Untuk mengetahui usaha pengendalian terhadap penerangan di lingkungan kerja.

2. Teori
2.1.Sumber Pencahayaan
Berdasarkan sumber pencahayaan dibagi menjadi:
a. Pencahayaan Alami
Pencahayaan alami adalah pencahayaan yang memiliki sumber cahaya
yang berasal dari alam, seperti matahari, bintang, dll.Matahari adalah sumber
pencahayaan alami yang paling utama, namun sumber pencahayaan ini tergantung
kepada waktu (siang hari atau malam hari), musim, dan cuaca (cerah, mendung,
berawan, dll).
Pencahayaan alami memiliki beberapa keuntungan yaitu :
1) hemat energi listrik,
2) dapat membunuh kuman penyakit,
3) variasi intensitas cahaya matahari dapat membuat suasana ruangan memiliki
efek yang berbeda beda, seperti pada hari mendung, suasana di dalam
ruangan akan memiliki efek sejuk, dan hari cerah menyebabkan suasana
bersemangat, dan
Kelemahan dari pencahayaan alami yaitu :
1) tidak dapat mengatur intensitas terang cahaya matahari sehingga jika cuaca
terik akan menimbulkan kesilauan,
2) sumber pencahayaan alami yaitu matahari dapat menghasilkan panas, dan
3) distribusi cahaya yang dihasilkan tidak merata.

b. Pencahayaan Buatan
Pencahayaan buatan adalah pencahayaan yang berasal dari sumber cahaya
selain cahaya alami, contohnya lampu listrik, lampu minyak tanah, lampu gas, dll.
Pencahayaan buatan diperlukan ketika :
1) pencahayaan alami tidak tersedia di ruangan pada saat matahari terbenam,
2) pencahayaan alami tidak mencukupi kebutuhan cahaya seperti pada saat hari
mendung,
3) pencahayaan alami tidak dapat menjangkau tempat tertentu yang jauh dari
jendela dalam sebuah ruangan,
4) pencahayaan merata pada ruangan yang lebar diperlukan,
5) pencahayaan konstan diperlukan seperti pada ruangan operasi,
6) diperlukan pencahayaan yang arah dan warnanya dapat diatur, dan
7) diperlukan pencahayaan untuk fungsi tertentu seperti menyediakan
kehangatan bagi bayi yang baru lahir.
Pencahayaan buatan memiliki beberapa keuntungan seperti :
1) dapat menghasilkan pencahayaan yang merata,
2) dapat menghasilkan pencahayaan khusus sesuai yang diinginkan,
3) dapat menerangi semua daerah pada ruangan yang tidak terjangkau oleh sinar
matahari, dan
4) dapat menghasilkan pencahayaan yang konstan setiap waktu.
Pencahayaan buatan memiliki beberapa kelemahan seperti :
1) memerlukan energi listrik sehingga menambah biaya yang dikeluarkan, dan
2) tidak dapat digunakan selamanya karena lampu dapat rusak.

2.2.Standar Pencahayaan Ruangan


Setiap ruangan tentu memerlukan cahaya untuk menunjang kegiatan sehari-
hari.Untuk mendapatkan pencahayaan yang sesuai dengan fungsi ruangan tersebut,
maka diperlukan sistem pencahayaan yang tepat sesuai. Sistem pencahayaan di
ruangandapat dibedakan menjadi 5 jenis yaitu:
a. Pencahayaan Langsung (direct lighting)
Pada sistem pencahayaan ini 90-100% cahaya diarahkan secara langsung
ke benda yang perlu diterangi.pencahayaan ini sangat efektif dalam mengatur
pencahayaan. kelemahan dari sistem pencahayaan ini adalah jika lampu yang
digunakan tidak tepat, dapat menimbulkan kesilauan yang mengganggu.
Pencahayaan ini sangat bagus untuk objek dengan warna yang terang.
b. Pencahayaan Semi Langsung (semi direct lighting)
Pada sistem pencahayaan ini 60-90% cahaya diarahkan langsung pada
benda yang perlu diterangi, sisanya dipantulkan ke langit-langit dan
dinding.Dengan sistem ini kelemahan sistem pencahayaan langsung dapat
dikurangi.Diketahui bahwa langit-langit dan dinding yang diplester putih memiliki
effiesiean pemantulan 90%, sedangkan apabila dicat putih effisien pemantulan
antara 5-90%.
c. Sistem Pencahayaan Difus (general diffus lighting)
Pada sistem pencahayaan ini setengah cahaya 40-60% diarahkan pada
benda yang perlu disinari, sisanya dipantulka ke langit-langit dan dinding.Dalam
pencahayaan sistem ini termasuk sistem direct-indirect.
d. Sistem Pencahayaan Semi Tidak Langsung (semi indirect lighting)
Pada sistem pencahayaan ini 60-90% cahaya diarahkan ke langit-langit
dan dinding bagian atas, sisanya diarahkan ke bagian bawah.Untuk hasil yang
optimal disarankan langit-langit perlu diberikan perhatian serta dirawat dengan
baik.
e. Sistem Pencahayaan Tidak Langsung (indirect lighting)
Pada sistem pencahayan ini 90-100% cahaya diarahkan ke langit-langit
dan dinding bagian atas kemudian dipantulkan untuk menerangi seluruh
ruangan.Agar seluruh langit-langit dapat menjadi sumber cahaya. Keuntungannya
adalah tidak menimbulkan bayangan dan kesilauan sedangkan kerugiannya
mengurangi effisien cahaya total yang jatuh pada permukaan kerja.

Tabel 1. Persyaratan Intensitas Cahaya di Ruang Kerja Menurut Keputusan Menteri


Kesehatan Republik Indonesia No. 1405/MENKES/SK/XI/2012
Tingkat Pencahayaan
Jenis Kegiatan Keterangan
Minimal (LUX)
Ruang penyimpanan &
Pekerjaan kasar dan tidak ruang peralatan/instalasi
100
terus menerus yang memerlukan pekerjaan
yang kontinyu.
Pekerjaan kasar dan terus Pekerjaan dengan mesin dan
200
menerus perakitan kasar.
R. administrasi, ruang
Pekerjaan rutin 300 kontrol, pekerjaan mesin &
perakitan/penyusun.
Pembuatan gambar atau
bekerja dengan mesin
Pekerjaan agak halus 500 kantor, pekerja pemeriksaan
atau pekerjaan dengan
mesin.
Pemilihan warna,
pemrosesan tekstil pekerjaan
Pekerjaan halus 1000
mesin halus & perakitan
halus.
Mengukir dengan tangan,
1500
pemeriksaan pekerjaan
Pekerjaan amat halus Tidak menimbulkan
mesin dan perakitan yang
bayangan
sangat halus.
3000
Pemeriksaan pekerjaan,
Pekerjaan terinci Tidak menimbulkan
perakitan sangat halus.
bayangan

2.3.Lux Meter
Lux meter juga dikenal sebagai lightmeter. Ia adalah alat untuk mengukur
intensitas cahaya (selain fotometer). Peralatan ini terdiri dari sebuah sensor cahaya
dari bahan foto sel dan layar. Fungsi dari alat ini untuk mengukur tingkat
pencahayaan dalam dalam satuan candela pada suatu tempat. Intensitas cahaya diukur
untuk menentukan tingkat pencahayaan di suatu tempat. Semaiki jauh dari sumber
cahaya maka akan semakin kecil intensitasnya. Lux meter sekarang sudah ada versi
digital. Anda tinggal meletakkan sensornya dan otomatis ia akan menampilkan
besarnya intensitas cahaya pada layar digital yang ada.
Prinsip kerjanya, ia mengubah energi dari foton cahaya menjadi elektron.
Cahaya yang mengenai sel foto dioda akan ditangkap sebagai energi yang diubah sel
foto arus listrik. Semakin besar intensitas cahaya yang ditangkap akan semakin besar
arus listrik yang dihasilkan.

3. Alat Ukur
- Light Meter (LUX Meter)

4. Cara Kerja
4.1. Metode Pengukuran dan Perhitungan Penerangan
Langkah 1 : Identifikasi rencana lokasi pengukuran intensitas penerangan
1. Informasi lokasi pengukuran penerangan (lokasi pengukuran: penerangan lokal
atau penerangan umum).
2. Informasi jenis pekerjaan (tingkat pekerjaan atau ketelitian pekerjaan).
3. Informasi kondisi ruangan (jumlah meja/alat dan luas ruangan per m2).
4. Informasi waktu kerja (shift kerja, jam kerja, waktu istirahat).

Langkah 2 : Persiapan Pengukuran


1. Identifikasi kelengkapan peralatan dan bahan (Lux meter dan kondisi baterai).
2. Persiapan kamera untuk dokumentasi lingkungan sekitar lokasi praktek.
3. Persiapan pengukuran dan dokumentasi penerangan serta kondisi warna ruangan,
lantai dan atau peralatan pada lokasi pengukuran pekerja.
4. Penentuan lokasi dan waktu pengukuran yang proporsional.
Langkah 3 : Pengukuran Lapangan
1. Melakukan pengukuran sesuai dengan lokasi yang telah ditentukan dan
pengukuran penerangan.
2. Mencatat hasil pengukuran pada form sampel (hingga mendapat nilai angka yang
stabil) dan pengulangan hingga 5 kali pengukuran (rata-rata).
3. Melakukan dokumentasi kegiatan pengukuran.

Langkah 4 : Pembahasan
1. Melakukan perbandingan hasil perhitungan terhadap baku mutu.
2. Melakukan identifikasi lokasi perhitungan, sebagai upaya pengendalian atau
pengelolaan penerangan di ruang administrasi.

5. Hasil Pengukuran
Tabel 2. Data Pengukuran Penerangan Ruang Administrasi FKM Unsri
Pengukuran Hasil Pengukuran (Lux)
ke-n Titik I Titik II Titik III Titik IV Titik V
1 194.9 207.2 1.7 1.8 127.6
2 188.0 212.6 1.6 1.7 125.7
3 164.4 221.3 1.6 1.8 133.7
4 187.4 220.3 1.6 1.8 132.0
5 180.8 220.9 1.6 1.7 132.8
Rata-rata 183.1 216.46 1.62 1.76 130.36

Rata-rata = = = 106,66

6. Analisis
Berdasarkan hasil perhitungan pengukuran penerangan yang dilaksanakan di
dalam Ruang Administrasi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya,
didapatkan hasil dari penerangan 106,66 lux.
Sedangkan jika dibandingkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia No. 1405/MENKES/SK/XI/2012 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan
Kerja Perkantoran dan Industri yaitu untuk kategori pekerjaan rutin seperti di ruang
administrasi adalah sebesar 300 lux. Sehingga penerangan di ruang administrasi tidak
memenuhi batas kriteria yang telah ditentukan.

7. Kesimpulan
- Dari hasil yang didapat dari Ruang Administrasi Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sriwijaya adalah data pengukuran 106,66 lux, dari data tersebut diperoleh
kesimpulan bahwa untuk penerangan di ruang administrasi tidak memenuhi kriteria
baku mutu.
- Untuk pengukuran intensitas cahaya dilakukan dengan menggunakan LUX Meter.
- Untuk pengendalian intensitas cahaya dilakukan dengan menyesuaikan penerangan
dengan kegiatan yang akan dilakukan di ruangan tersebut.

8. Lampiran
Layout pengukuran (terlampir)
Gambar saat melakukan pengukuran penerangan (terlampir)
Daftar Pustaka

Anonym. 2016. Standar Pencahyaan Ruang. http://indalux.co.id/standar-pencahayaan-ruang/.


[online]. 28 Agustus 2016.

Esa, P. Dora. 2012. Hubungan Arah Pencahayaan Buatan Terhadap Kenyamanan dan Efisiensi
Kerja.http://repository.petra.ac.id/15807/1/publikasi1_11001_55.pdf. [online]. 28 Agustus
2016.

Menteri Kesehatan RI. 2002. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1405/MENKES/SK/XI/2012 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja
Perkantoran dan Industri. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
LAMPIRAN

Layout Pengukuran
Denah Ruang Administrasi
Gambar Saat Melakukan Pengukuran Penerangan