Anda di halaman 1dari 5

2.

1 Analisis Erosi Tanah

Erosi adalah peristiwa terangkutnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat ke
tempat lain oleh media alami. Pada peristiwa erosi, tanah atau bagian-bagian tanah pada suatu tempat
terkikis dan terangkut yang kemudian diendapkan di tempat lain. Menurut Asdak (2004), proses erosi
terdiri atas tiga bagian yang berurutan: pengelupasan (detachment), pengangkutan (transportation), dan
pengendapan (sedimentation). Hakim et al. (1986) mengemukakan empat faktor yang mempengaruhi
erosi, yaitu faktor iklim, faktor topografi, faktor vegetasi dan faktor tanah. Erosi juga berakibat pada
kerusakan lahan pertanian, karena tanahnya mengalami kemunduran sifat-sifat kimia dan fisika tanah
seperti kehilangan unsur hara dan bahan organik, menurunnya kapasitas infiltrasi tanah serta
kemampuan tanah menahan air.

Dalam survey yang telah dilakukan pada Desa Junrejo Kecamatan Junrejo kota Batu mempumyai
tingkat erosi kecil karena daerah tersebut termasuk daerah datar yang memiliki kelerengan yang kecil.
Menurut Wiradisastra (1999), lereng mempengaruhi erosi dalam hubungannya dengan kecuraman dan
panjang lereng. Lahan dengan kemiringan lereng yang curam (30-45%) memiliki pengaruh gaya berat
(gravity) yang lebih besar dibandingkan lahan dengan kemiringan lereng agak curam (15-30%) dan landai
(8-15%). Hal ini disebabkan gaya berat semakin besar sejalan dengan semakin miringnya permukaan
tanah dari bidang horizontal. Gaya berat ini merupakan persyaratan mutlak terjadinya proses pengikisan
(detachment), pengangkutan (transportation), dan pengendapan (sedimentation). Serta jumlah vegetasi
berupa tanaman padi , jagung serta pohon pisang,karena hal tersebut mampu menahan tanah untuk
tidak mengalami erosi. Menurut Morgan (1979), keefektifan vegetasi dalam menekan aliran permukaan
dan erosi dipengaruhi oleh tinggi tajuk, luas tajuk, kerapatan vegetasi, dan kerapatan perakaran.

2.2 Analisis Kesesuaian Lahan

Pada Survei dilakukan di Desa junrejo kecamatan junrejo kota batu. Survei dilakukan dengan
mewawancarai petani. Pada lahan sawah didominasi tanaman padi, dan jagung. Sistem tanam yang
digunakan adalah monokultur. Tanaman padi yang ditanam berupa varietas Gogo dengan jarak tanam
23cm x 23cm, dengan sistem tanam konvensional. Untuk jumlah benih /ha sebesar 60kg. jenis pupuk
yang digunakan berupa Urea dan Za. Untuk
2.3 Analisis Pendapatan

Biaya sarana Produksi merupakan biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi padi sawah
antara lain adalah biaya benih, biaya pupuk, biaya peptisida, dan biaya tenga kerja.

No Biaya /hektar Nilai


1 Benih Rp 350.000

2 Pupuk : Rp 1.200.000
Sp36
UREA
ZA
3 Pestisida Rp 900.000
4 Tenaga Kerja Rp 1.800.000

Jumlah Rp 4.250.000

Benih Benih yang digunakan adalah varietas superwin biaya yang dikeluarkan untuk Pembelihan
benih adalah sebesar Rp 350.000,00 per 1 ha. Pupuk Pupuk yang digunakan petani adalah Pupuk Urea,SP
36, ZA. Biaya yang di keluarkan untuk pembelihan pupuk adalah Rp 1.200.000/ ha Rincian : Urea 6 bantal
X 120.000 = 720.000 ZA 6 bantal X 80.000 = 480.000 Peptisida yang digunakan petani padi sawah antara
lain decis. .biaya yang dikeluarkan petani adalah Rp.500,000/ha. Tenaga kerja Biaya tenaga kerja dihitung
berdasarkan lamanya bekerja.biaya tenaga kerja dihitung dari Pengolahan Tanah,
penanaman,pemupukan,pengendalian hama dan penyakit dan pemanenan. Biaya yang di keluarkan
Petani sawah adalah sebesar Rp 1.800.000.

Harga Produksi Rata-rata Rp 400.000 per kuintal ,dimana dengan hasil panen 6 ton jadi terdapat
60 kuintal dalam 1 ha dengan nilai produksi ada sebesar Rp.24.000.000 per ha dikurangi biaya produksi
sebesar Rp.4.250.000 sehingga mampu menghasilkan rata-rata Pendapatan Bersih Petani Rp. 19.750.000
per hektar.

BEP ( unit) = Biaya Produksi / Harga jual = Rp. 4.250.000 / Rp. 400.000/kuintal = 10 kuintal
Artinya : Jika Produksi sebesar 10 kuintal maka keadaan tidak untung Tidak rugi pada kenyataanya
produksi mencapai 60 Kuintal per hektar. hal ini berarti produksi sudah berada di titik produksi impas.
Jika Harga Rp 420.000 per kuintal maka keadaan tidak Untung tidak rugi, pada kenyataanya harga per 1
kuintal Mencapai Rp. 400.000/kuintal. Hal ini berarti harga jual sudah berada di atas titik impas.
Dalam pengambilan contoh kerja untuk kemurnian benih ada dua metode
yang dapat dilakukan, yaitu:
a) Secara duplo, adalah pengambilan contoh kerja yang dilakukan dua kali.
b) Secara simplo, adalah pengambilan contoh kerja yang dilakukan satu kali.

Skema pengujian analisis kemurnian benih


Dari skema diatas dapat diketuhi bahwa pengambilan contoh benih dapat
dilakukan secara simplo yaitu dengan melakukan pengambilan contoh kerja
hanya satu kali, tetapi jika secara duplo maka pengambilan contoh kerja
dilakukan 2 kali setengah berat contoh kerja.
Setelah dilakukan pengabilan contoh kerja maka dilakukan penimbangan
untuk mengetahui berat awal benih sebelum dilakukan pengujian
kemurnian. Tahap selanjutnya adalah analisis kemurnian, setiap benih
diidentifikasi satu persatu secara visual bedasarkan penampakan morfologi.
Semua benih tanaman lain dan kotoran benih dipisahkan. Setelah dilakukan
analisis kemudian dilakukan penimbangan pada setiap komponen tersebut.
Hasil dari penimbangan dilakukan perhitungan faktor kehilangan.

Faktor kehilangan =
Ket. ck = contoh kerja
k1 = benih murni
k2 = benih tanaman lain
k3 = kotoran benih
Faktor kehilangan yang diperbolehkan 5%, jika terdapat kehilangan
berat > 5% dari berat contoh kerja awal, maka analisis diulang dengan
menggunakan contoh kerja baru. Jika faktor kehilangan 5% maka analisis
kemurnian tersebut diteruskan dengan menghitung presentase ketiga
komponen tersebut.

% benih murni =

% benih lain =

% kotoran =
Ket. k1 = benih murni
k2 = benih tanaman lain
k3 = kotoran benih
Dari hasil perhitungan tersebut kemudian dilakukan penulisan hasil
analisis. Adapun ketentuan dalam penulisan hasil analisis kemurnian, yaitu:
a) Hasil analisis ditulis dalam presentase dengan 1 desimal, jumlah presentase
berat dari semua komponen harus 100%.
b) Komponen yang beratnya 0,05% ditulis 0,0% dan diberi keterangan trace.
Bagi komponen yang hasilnya nihil, hendaknya ditulis presentase beratnya
dengan 0,00%, sehingga tidak terdapat kolom yang kosong.
c) Bila komponen tidak 100%, maka tambahkan atau kurangi pada komponen
yang nialinya terbesar.
d) Nama ilmiah dari benih murni, benih tanaman lain, kotoran benih harus
dicantumkan.
Contoh tabel hasil perhitungan kemurnian fisik benih