Anda di halaman 1dari 4

Nama : Rizki Yuni Pratiwi

NPM : 1506674545
Metalurgi Fisik 2 01
Tugas 2

Spinodal Decomposition

Spinodal decomposition (dekomposisi spinodal) adalah suatu proses dimana suatu


paduan akan terdekomposisi ke dalam fasa kesetimbangan. Dekomposisi tersebut akan terjadi
apabila tidak terbatasi secara termodinamika. Maka dari itu, dekomposisi spinodal hanya
terjadi melalui proses difusi. Mikrostruktur dari suatu material paduan yang memiliki
dekomposisi spinodal akan mengalami perubahan-perubahan sifat material dari paduan
tersebut, seperti kekuatan, kekerasan, sifat kemagnetan, kelenturan, dan lain-lain. Perubahan
yang terjadi tersebut dapat menjadi masalah dalam pengaplikasian di dunia industri. Namun,
proses dekomposisi spinodal ini juga dapat digunakan untuk meningkatkan sifat-sifat suatu
paduan untuk pengaplikasian tertentu.
Spinodal merupakan suatu titik pada kurva energi bebas Gibbs terhadap konsentrasi
dimana pada titik tersebut bernilai 0.

d2G
=0(1)
dc 2

Kestabilan akan terjadi apabila kurva energi bebas Gibbs bernilai sama dengan atau
lebih besar daripada 0. Sementara itu, daerah ketidakstabilan berada pada lokus dari spinodal
atau di antara dua titik spinodal dimana paduan dapat berdekomposisi menjadi dua fasa 1
dan 2 yang koheren. Di atas daerah spinodal, atau ketika kurva energi bebas Gibbs bernilai
positif, daerah yang memiliki dua fasa akan terdekomposisi secara nukleasi dan
pertumbuhan, sedangkan di bawah daerah tersebut, daerah yang memiliki dua fasa akan
terdekomposisi dengan dekomposisi spinodal.
Misalkan, suatu diagram fasa dengan miscibility gap seperti pada gambar (a). Jika
suatu paduan dengan komposisi Xo dapat diolah pada suhu tinggi, T1, lalu didinginkan secara
cepat ke suhu rendah, T2, komposisi awalnya akan sama secara merata dan energi bebasnya
ditunjukkan oleh titik Go dalam kurva G pada gambar (b). Namun, paduan akan segera
menjadi tidak stabil karena terjadi fluktuasi pada komposisi yang akan menghasilkan daerah
kaya A dan daerah kaya B yang akan menyebabkan total energi bebas menurun. Oleh karena
itu, akan terjadi diffusi uphill sampai kesetimbangan antara komposisi X1 dan X2 tercapai.
Proses tersebut dapat terjadi untuk
semua komposisi paduan yang memiliki kurva
energi bebas negatif.

d2G
<0(2)
d X2

Maka dari itu,


paduan harus berada di
antara dua titik infleksi
pada kurva energi bebas.
Lokus dari titik tersebut
pada diagram fasa di atas
dikenal sebagai spinodal
kimia.
Jika paduan berada di luar spinodal, adanya perubahan pada
komposisi dapat menyebabkan meningkatnya energi bebas sehingga
paduan tersebut menjadi metastabil. Hal ini menyebabkan energi bebas
pada sistem hanya dapat diturunkan jika nuklei terbentuk dengan
komposisi yang sangat berbeda dari matriksnya. Oleh karena itu, di luar
spinodal tersebut, transformasi hanya dapat terjadi dengan proses nukleasi
dan pertumbuhan.
Kecepatan transformasi spinodal dikendalikan oleh koefisien interdifusi, D. Di dalam
spinodal, D < 0 dan fluktuasi komposisi yang ditunjukkan pada gambar di samping akan
meningkat secara eksponensial terhadap waktu sebagaimana persamaan berikut.

2
= (3)
4 2

Dimana, adalah panjang gelombang modulasi komposisi (diasumsikan satu


dimensi). Kecepatan transformasi kemudian dapat menjadi sangat tinggi dengan membuat
sekecil mungkin. Namun, terdapat nilai minimum dimana di bawah nilai tersebut,
dekomposisi spinodal tidak akan terjadi.
Untuk dapat menghitung besar panjang gelombang dari fluktuasi komposisi yang
berkembang dalam praktiknya, terdapat dua faktor penting yang perlu dipertimbangkan, yaitu
efek energi antarmuka dan efek strain energy yang koheren.
Jika suatu paduan homogen yang memiliki komposisi awal Xo terdekomposisi
menjadi dua bagian yang memiliki komposisi Xo + X dan Xo - X, dapat dikatakan bahwa
total energi bebas secara kimia akan berubah seiring dengan perubahan Gc berdasarkan
persamaan berikut.
2
1d G
Gc = 2
( X )2( 4)
2d X
Jika, ternyata, dua daerah tersebut terdispersi dan saling koheren, akan terdapat
perubahan energi tambahan karena efek energi antarmuka. Meskipun selama tahapan awal
dekomposisi spinodal antarmuka antara daerah kaya A dan daerah kaya B sangat menyebar,
masih ada pengaruh yang efektif dari energi antarmuka tersebut. Besarnya energi ini
tergantung pada komposisi gradian di antarmuka dan kemudian dikenal sebagai energi
gradien. Dalam solid solution yang cenderung berkelompok, energi dari pasangan atom yang
sama lebih kecil dibandingkan dengan energi dari pasangan atom yang berbeda. Dengan
demikian, energi gradien tersebut berasal dari meningkatnya jumlah atom yang berbeda
dibandingkan dengan larutan yang homogen yang mengandung komposisi gradien yang
sama.
Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi total perubahan energi bebas yang
mengikuti pembentukan komposisi yang fluktuatif, maka akan didapatkan persamaan sebagai
berikut.

G={ d2 G 2 K
+
d X 2 2
+2 2 '
E V m
2 }
( X )2
(5)

Keterangan:
K = konstanta perbedaan ikatan energi antar pasangan atom yang sama dan
pasangan atom yang berbeda
= perubahan fraksi pada parameter lattice per unit perubahan komposisi
E = E/(1-v)
v = Poissons ratio
Vm = volume molar

Dari persamaan tersebut, dapat dilihat bahwa keadaan untuk solid solution yang
homogen untuk menjadi tidak stabil dan terdekomposisi secara spinodal adalah sebagai
berikut.
d 2 G 2 K
2
> 2 +2 2 E' V m ( 6)
dX

Maka dari itu, batas suhu dan komposisi dimana dekomposisi spinodal tersebut dapat
terjadi apabila = dan
d2G
2
=2 2 E ' V m (7)
dX

Dalam diagram fase, kondisi tersebut didefinisikan sebagai spinodal koheren dan
berada seluruhnya di dalam spinodal kimia (d2G/dX2 = 0) seperti yang terlihat pada gambar di
samping. Berdasarkan persamaan (6), dapat dilihat bahwa panjang gelombang dari modulasi
komposisi yang dapat berkembang di dalam spinodal koheren harus memenuhi persamaan
berikut.
2
2 >2 K ( d G
dX
2 )
+2 2 E ' V m (8)
Dengan demikian, panjang gelombang minimum yang mungkin terjadi akan
menurunn seiring dengan meningkatnya undercooling di bawah daerah spinodal koheren.

Gambar di atas menunjukkan miscibility gap yang koheren yang menggambarkan


komposisi kesetimbangan fase koheren yang dihasilkan dari dekomposisi spinodal.
Miscibility gap yang biasa terdapat dalam diagram fase yang setimbang adalah miscibility
gap yang inkoheren. Perbedaan suhu antara miscibility gap yang koheren dan yang
inkoheren, atau antara spinodal kimia dan spinodal koheren bergantung pada besarnya | |.
Ketika terdapat perbedaan ukuran atom yang besar, nilai | | akan besar pula dan dibutuhkan
undercooling yang besar untuk melampaui efek dari strain energy tersebut.

Referensi :
R.J. Bishop, R.E. Smallman, Modern Physical Metallurgy & Materials Engineering,
Butterworth-Heinemann, 1999.
D.A. Porter, et al, Phase Transformations in Metals and Alloys 3rd Edition, CRC Press, 2009.
www.eng.utah.edu

Anda mungkin juga menyukai