Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

PERTUMBUHAN MIKROBA

Oleh
Aisyah Pangestuti Dichril 165080100111001
Nikmatul Ilmi 165080100111003
Bimo Aji Nugroho 165080100111005
Arif Rifaldi 165080100111007
Maftukah 165080100111009
Devi Cahyani 165080100111011
Denny Alamsyah 165080100111013
Mentari Ramadhanti 165080100111015
Agung Dwi Handoko 165080100111017
Kahfi Wiratama 165080100111019

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran atau subtansi atau masa
zat suatu organisme, misalnya kita makhluk makro ini dikatakan tumbuh ketika
bertambah tinggi, bertambah besar atau bertambah berat. Pada organisme bersel
satu pertumbuhan lebih diartikan sebagai pertumbuhan koloni, yaitu pertambahan
jumlah koloni, ukuran koloni yang semakin besar atau subtansi atau massa mikroba
dalam koloni tersebut semakin banyak, pertumbuhan pada mikroba diartikan
sebagai pertambahan jumlah sel mikroba itu sendiri.
Dalam pertumbuhannya setiap makhluk hidup membutuhkan nutrisi yang
mencukupi serta kondisi lingkungan yang mendukung demi proses pertumbuhan
tersebut, termasuk juga bakteri. Menurut Darkuni (2001) dalam Jumaing (2012),
pertumbuhan bakteri pada umumnya akan dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Pengaruh faktor ini akan memberikan gambaran yang memperlihatkan peningkatan
jumlah sel yang berbeda dan pada akhirnya memberikan gambaran pula terhadap
kurva pertumbuhannya.
Sedangkan menururt Tarigan (1988), kebutuhan mikroorganisme untuk
pertumbuhan dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu: kebutuhan fisik dan
kebutuhan kimiawi atau kemis. Aspek-aspek fisik dapat mencakup suhu, pH dan
tekanan osmotik. Sedangkan kebutuhan kemis meliputi air, sumber karbon,
nitrogen oksigen, mineral-mineral dan faktor penumbuh.
Menurut Hastuti (2007), bahwa terdapat beberapa faktor abiotik yang dapat
mempengaruhi pertumbuhan bakteri, antara lain: suhu, kelembapan, cahaya, pH,
AW dan nutrisi. Apabila faktor-faktor abiotik tersebut memenuhi syarat, sehingga
optimum untuk pertumbuhan bakteri, maka bakteri dapat tumbuh dan berkembang
biak. Pertumbuhan bakteri juga dapat terganggu apabila kondisi fisiko kimia tidak
memenuhi syarat.Selain dari faktor fisiko kimia, pertumbuhan bakteri juga dapat
terganggu dengan kehadiran mikroba lainnya yang bersifat inhibitor, contohnya
adalah jamur.Jamur antagonis akan menghambat pertumbuhan koloni bakteri
dengan membentuk zona antibiotis atau mematikan secara langsung dengan cara
menyelimuti pertumbuhan koloni pathogen.

1.1 Rumusan Masalah


1. Pengertian pertumbuhan dan perkembangan Mikroba?
2. Jelaskan reproduksi mikroba!
3. Jelaskan fase-fase pertumbuhan mikroba!
4. Bagaimana cara pengukuran pertumbuhan Mikroba?
5. Sebut dan jelaskan faktor-faktor pertumbuhan mikroba!
6. Bagaimana cara mengendalikan pertumbuhan mikroba?

1.2 Tujuan
1. Mengetahui pengertian dari pertumbuhan dan perkembangan mikroba.
2. Mengetahui bagaimana reproduksi mikroba.
3. Mengetahui fase-fase dalam pertumbuhan mikroba.
4. Mengetahui cara pengukuran pertumbuhan mikroba.
5. Mengetahui faktor-faktor pertumbuhan mikroba.
6. Mengetahui cara mengendalikan pertumbuhan mikroba.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian pertumbuhan mikroba


a) Pengertian tumbuh dan berkembang
Tumbuh dalam pengertian umum diartikan sebagai bertambahnya
ukuran, sedangkan berkembang diartikan sebagai bertambahnya kuantitas.
Oleh karena itu pertumbuhan dapat ditunjukkan dengan adanya
pertambahan panjang, luas, volume, berat maupun kandungan tertentu,
sedangkan berkembang ditunjukan dengan bertambahnya jumlah individu
dan terbentuknya alat reproduksi. Dengan demikian dari segi ukuran, maka
tumbuh merupakan proses dari pendek menjadi panjang, dari sempit
menjadi luas, dari kosong menjadi berisi, dari ringan menjadi berat,
sedangkan berkembang adalah dari sedikit menjadi banyak.
Kuantitas atau ukuran pertumbuhan mikroorganisme dapat diukur,
Pertama dari segi pertambahan dimensi satu, misalnya : panjang,diameter,
jari-jari, dan jumlah sel, Kedua dari segi pertambahan dimensi dua,
misalnya :luas, Ketiga dari segi pertambahan dimensi tiga, misalnya :
volume, berat segar, berat kering. Selain tiga segi tersebut, pertumbuhan
juga dapat diukur dari segi komponen seluler, misalnya : RNA, DNA, dan
protein dan dari segi kegiatan metabolisme secara langsung, misalnya :
kebutuhan oksigen, karbon dioksida, dan lain-lain (Winarsih,2011).
Pertumbuhan mikroorganisme dapat ditinjau dari dua sudut, yaitu :
pertumbuhan individu dan pertumbuhan koloni atau pertumbuhan populasi.
Pertumbuhan individu diartikan sebagai bertambahnya ukuran tubuh,
sedangkan pertumbuhan populasi diartikan sebagai bertambahnya kuantitas
individu dalam suatu populasi atau bertambahnya ukuran koloni. Namun
demikian pertumbuhan mikroorganisme unisel (bersel tunggal) sulit diukur
dari segi pertambahan panjang, luas, volume, maupun berat, karena
pertambahannya sangat sedikit dan berlangsung sangat cepat (lebih cepat
dari satuan waktu mengukurnya), sehingga untuk mikroorganisme yang
demikian satuan pertumbuhan sama dengan satuan perkembangan.
Pertumbuhan bakteri dan mikroorganisme unisel lainnya dapat ditunjukan
dengan cara menghitung jumlah sel setiap koloninya maupun mengukur
kandungan senyawa tertentu yang dihasilkan (Winarsih,2011).
b) Pertumbuhan sel
Pertumbuhan Sel berarti penambahan jumlah sel melalui proses
pembelahan sel. Pembelahan sel ini membutuhkan transformasi energi lebih
dari 2000 reaksi kimia. Pertumbuhan sel diawali dengan molekul-molekul
kecil yang saling berikatan membentuk molekul yang lebih besar atau
makromolekul kemudian menjadi struktur sel yang lebih kompleks dan
akhirnya menjadi satun sel atau individu baru. Pertumbuhan sel dapat
berbentuk linear, Tetra, sarcinae dan Grapelike atau Staphylo.

2.2 Reproduksi Mikroba


A. Reproduksi Bakteri
a) Reproduksi Aseksual
Pembelahan Biner
Pembelahan biner yang terjadi pada bakteri adalah pembelahan
biner melintang yaitu suatu proses reproduksi aseksual, setelah
pembentukan dinding sel melintang, maka satu sel tunggal membelah
menjadi dua sel yang disebut dengan sel anak. Pembelahan Biner dapat
dibagi atas tiga fase, yaitu sebagai berikut.
1. Fase pertama, sitoplasma terbelah oleh sekat yang tumbuh tegak
lurus.
2. Fase kedua, tumbuhnya sekat akan diikuti oleh dinding melintang.
3. Fase ketiga, terpisahnya kedua sel anak yang identik.
Ada bakteri yang segera berpisah dan terlepas sama sekali.
Sebaliknya, ada pula bakteri yang tetap bergandengan setelah
pembelahan, bakteri demikian merupakan bentuk koloni. Pada keadaan
normal bakteri dapat mengadakan pembelahan setiap 20 menit sekali.
Jika pembelahan berlangsung satu jam, maka akan dihasilkan delapan
anakan sel (winarsih,2011).
Gambar Fase Pembelahan Biner
Penjelasan gambar :
1. Replikasi DNA dan elongasi
2. Dinding sel membran plasma membelah
3. Septum terbentuk dan DNA terpisah
4. Sel terpisah menjadi 2 (pemisahan sel menjadi dua) dan setiap sel
mengulangi proses tersebut.
b) Reproduksi Para Seksual yaitu dengan Trasformasi dan Transduksi.
c) Reproduksi Seksual (generatif) yaitu dengan Konjugasi.

2.3 Fase dan kurva pertumbuhan mikroba


Pertumbuhan mikroorganisme dimulai dari awal pertumbuhan sampai
dengan berakhirnya aktivitas merupakan proses bertahap yang dapat
digambarkan sebagai kurva pertumbuhan. Kurva pertumbuhan mikroba terdiri
dari 4 fase utama yaitu : lag, eksponensial, stasioner, dan kematian. Kurva
pertumbuhan yang lengkap merupakan gambaran pertumbuhan secara bertahap
(fase) sejak awal pertumbuhan sampai dengan terhenti mengadakan kegiatan.
Kurva pertumbuhan mikroba

Menurut Hamdiyati (2014), Empat fase kurva pertumbuhan mikroorganisme,


yaitu :
1. Fase Lag atau Adaptasi
Jika mikroba dipindahkan ke dalam suatu medium, mula-mula akan
mengalami fase adaptasi untuk menyesuaikan dengan kondisi lingkungan di
sekitarnya. Lamanya fase adaptasi ini dipengaruhi oleh beberapa factor,
diantaranya:
1. Medium dan lingkungan pertumbuhan Jika medium dan lingkungan
pertumbuhan sama seperti medium dan lingkungan sebelumnya, mungkin
tidak diperlukan waktu adaptasi. Tetapi jika nutrient yang tersedia dan
kondisi lingkungan yang baru berbeda dengan sebelumnya, diperlukan
waktu penyesuaian untuk mensintesa enzim-enzim.
2. Jumlah inokulum Jumlah awal sel yang semakin tinggi akan
mempercepat fase adaptasi. Fase adaptasi mungkin berjalan lambat karena
beberapa sebab, misalnya:
(1) kultur dipindahkan dari medium yang kaya nutrien ke medium yang
kandungan nuriennya terbatas,
(2) mutan yang baru dipindahkan dari fase statis ke medium baru dengan
komposisi sama seperti sebelumnya.
2. Fase Log atau Pertumbuhan Eksponensial
Pada fase ini mikroba membelah dengan cepat dan konstan
mengikuti kurva logaritmik. Pada fase ini kecepatan pertumbuhan sangat
dipengaruhi oleh medium tempat tumbuhnya seperti pH dan kandungan
nutrient, juga kondisi lingkungan termasuk suhu dan kelembaban udara.
Pada fase ini mikroba membutuhkan energi lebih banyak dari pada fase
lainnya. Pada fase ini kultur paling sensitif terhadap keadaan lingkungan.
Dalam hal ini terdapat keragaman kecepatan pertumbuhan berbagai
mikroorganisme. Waktu lipat dua untuk E. coli dalam kultur kaldu pada
suhu 370 C, sekitar 20 menit, sedangkan waktu lipat dua minimal sel
mamalia sekitar 10 jam pada temperatur yang sama. Akhir fase log,
kecepatan pertumbuhan populasi menurun dikarenakan :
1 Nutrien di dalam medium sudah berkurang.
2 Adanya hasil metabolisme yang mungkin beracun atau dapat menghambat
pertumbuhan mikroba.
3. Fase Stasioner
Pada fase ini jumlah populasi sel tetap karena jumlah sel yang
tumbuh sama dengan jumlah sel yang mati. Ukuran sel pada fase ini menjadi
lebih kecil karena sel tetap membelah meskipun zat-zat nutrisi sudah habis.
Karena kekurangan zat nutrisi, sel kemungkinan mempunyai komposisi
yang berbeda dengan sel yang tumbuh pada fase logaritmik. Pada fase ini
sel-sel lebih tahan terhadap keadaan ekstrim seperti panas, dingin, radiasi,
dan bahan-bahan kimia.
4. Fase Kematian
Pada fase ini sebagian populasi mikroba mulai mengalami kematian
karena beberapa sebab yaitu:
1 Nutrien di dalam medium sudah habis.
2 Energi cadangan di dalam sel habis.
Kecepatan kematian bergantung pada kondisi nutrien, lingkungan, dan jenis
mikroba.
Pada kenyataannya bahwa gambaran kurva pertumbuhan
mikroorganisme tidak linear seperti yang dijelaskan di atas jika faktor-
faktor lingkungan yang menyertainya tidak memenuhi persyaratan.
Beberapa penyimpangan yang sering terjadi, misalnya : fase lag yang terlalu
lama karena faktor lingkungan kurang mendukung, tanpa fase lag karena
pemindahan ke lingkungan yang identik, fase eksponensial berulang-ulang
karena medium kultur kontinyu, dan lain sebagainya.

Kecepatan atau laju pertumbuhan Eksponesial


Pertumbuhan eksponensial adalah Pertumbuhan mikroorganisme
pada fase log atau fase dimana pertumbuhan mikroorganisme sangat cepat
dan dalam waktu yang singkat. Pertumbuhan yang cepat pada
miroorganisme, disebabkan karena jumlah nutrisi yang banyak. Fase ini
adalah fase yang dapat dijadikan acuan dalam menentukan laju atau
kecepatan pertumbuhan dari mikroorganisme.
Rumus perhitungan Pertumbuhan eksponensial yaitu:
Nt = N0 x 2n
Keterangan:
Nt = Jumlah sel pada waktu t
N0 = Jumlah awal sel
n = Jumlah generasi selama waktu (t), dapat dihitung dengan rumus:
n = 3,3 ( log Nt log N0 )

Waktu generasi (waktu pertumbuhan)


Waktu yang dibutuhkan dari mulai tumbuh sampai berkembang dan
menghasilkan individu baru disebut waktu generasi. Contoh : waktu generasi
bakteri E. Coli sekitar 17 menit, artinya dalam 17 menit satu E. Coli menjadi
dua atau lebih E. Coli. Untuk mikroorganisme yang membelah, misalnya
bakteri, maka waktu generasi diartikan sebagai selang waktu yang dibutuhkan
untuk membelah diri menjadi dua kali lipat.
Beberapa faktor yang mempengaruhi waktu generasi yaitu :
(1) Tahapan pertumbuhan mikroorganisme, misalnya seperti tersebut di atas
yang menyatakan bahwa satu sel bakteri menjadi 2 sel bakteri
memerlukan rentang waktu yang berbeda ketika128 sel bakteri menjadi
256 sel ;
(2) Takson mikroorganisme (jenis, spesies, dll), misalnya bakteri Escherichia
coli dalam saluran pencernakan manusia maupun binatang umumnya
mempunyai waktu generasi 15 - 20 menit sedangkan bakteri lain
(misalnya Salmonella typhi) mempunyai waktu generasi berjam-jam.
Jika jumlah generasi selama selang waktu pengamatan diketahui, Waktu
Generasi mikroba dapat dihitung dengan rumus:
g=t/n
Keterangan:
g = waktu generasi
t = waktu pertumbuhan bakteri atau selisih antara waktu akhir dengan waktu
awal pengamatan pertumbuhan bakteri.
n = jumlah generasi selama waktu (t )
Namun, jika jumlah generasi belum diketahui Waktu generasi mikroba dapat
dihitung dengan rumus:
Mengetahui jumlah Generasi terlebih dahulu dengan rumus:
N = ( log10 Nf - log10 N0 )/0,301
Keterangan:
N = Jumlah generasi
Nf = Konsentrasi akhir sel ( cell/ml)
N0 = Konsentrasi awal sel (cell/ml)
0,301 = Faktor Konversi, konversi dari log2 sampai log10.
Setelah itu mencari Waktu generasi dengan rumus:
g = t / n seperti rumus diatas.

2.4 Pengukuran pertumbuhan


Metode pengukuran pertumbuhan mikroorganisme dapat dibedakan
menjadi metode langsung dan tidak langsung.
A. Metode Langsung
Contoh metode langsung yaitu dengan hitungan mikroskopik
(menggunakan hemositometer), digunakan untuk mengukur
pertumbuhan bakteri pada susu / vaksin dan hitungan cawan digunakan
untuk mengukur pertumbuhan bakteri susu, air, makanan, tanah, dan
lain-lain (Winarsih,2011).
Hitungan mikroskopik menggunakan ruang penghitung
hemositometer mempunyai kelebihan cepat dalam pengerjaannya, tetapi
mempunyai beberapa kekurangannya, yaitu : tingkat kesalahan tinggi,
sel mati bisa terhitung, sel ukuran kecil sulit teramati. Metode ini tidak
sesuai untuk sel yang densitasnya rendah.
Hitungan cawan dapat dilakukan dengan metode :
1. Cawan sebar (spread plate method)
2. Cawan tuang (pour plate method) Penerapan metode cawan tuang,
terlebih dahulu dilakukan :
1. Satu seri pengenceran terhadap sampel
2. Ambil pengenceran tertentu
Menghitung sel hidup dengan cara ditanam pada media padat
Perhitungan melalui pengenceran dan diteruskan dengan
menumbuhkan pada media kultur. Ada dua cara menumbuhkan pada
media kultur, yakni : bentang rata (spread-plate) dan tabur tuang rata
(pour-plate). Cara spread-plate dilaksanakan dengan meneteskan 100 l
suspensi sampel di atas medium kultur padat kemudian dibentang
ratakan menggunakan batang gelas bentuk huruf L. Cara pour-plate
dilaksanakan dengan meneteskan 100 l suspensi sampel di dalam
cawan petri kemudian dituangi dengan medium cair dan digoyang-
goyang supaya sampel bercampur homogen dengan medium kultur
bakteri (Winarsih,2011).

Menghitung dengan ruang hitung.


Perhitungan sel menggunakan ruang hitung dilakukan dengan
menggunakan suspensi hasil pengenceran diteteskan ke dalam ruang
hitung kemudian ditutup menggunakan gelas penutup preparat. Hindari
terjadinya gelembung udara pada waktu menutup ruang hitung. Ruang
hitung yang digunakan biasanya berupa hemasitometer atau ruang
penghitung sel-sel darah merah. Pemeriksaan selanjutnya dilakukan di
bawah mikroskop dengan cara menghitung jumlah sel yang ada di dalam
ruang hitung. Ada tiga macam ruang hitung yang dapat digunakan
dengan ukuran ruang yang saling berbeda. Perhitungan akan lebih
mewakili dari jumlah sel yang sebenarnya jika menggunakan semua
macam ruang hitung dan sistem pengencerannya yang benar-benar
homogen, sehingga hasil rata-rata menjadi lebih akurat.
B. Metode Tidak Langsung
Contoh metode tidak langsung adalah sebagai berikut:
1. Berdasarkan kekeruhan, bila suspensi biakan cair & homogen
2. Berdasarkan berat kering sel, bila suspensi biakan kental & tidak
homogen
3. Berdasarkan kadar nitrogen, bila suspensi biakan kental & tidak
homogen
4. Berdasarkan aktivitas biokimia, menggunakan uji mikrobiologis
Metode tidak langsung melalui kekeruhan/turbiditas dengan
melihat massa sel. Metode ini menggunakan alat : spektrofotometer.
Dengan alat ini dapat ditentukan nilai absorbansi (a) atau kerapatan
optik (od=optikal density). Sebelumnya perlu dibuat kurva baku untuk
mengetahui jumlah sel. Kelebihan : cepat, mudah, tidak merusak
sample. Kekurangan : sel hidup dan sel mati tidak terukur. Metode tidak
langsung melalui berat kering sel, dilakukan dengan tahapan sebagai
berikut :
1. Menyaring atau sentrifugasi massa sel
2. Mencuci dengan aquadest atau buffer
3.Dikeringkan dalam oven, bila suhu 800 C memerlukan waktu 24 jam
atau 1100 C selama 8 jam
4. Kemudian ditimbang sehingga diperoleh berat kering sel.
Turbiditas dapat diukur menggunakan alat photometer (penerusan
cahaya), semakin pekat atau semakin banyak populasi mikrobia maka
cahaya yang diteruskan semakin sedikit. Turbiditas juga dapat diukur
menggunakan spektrofotometer (optical density/ OD), yang sebelumnya
dibuat kurva standart berdasarkan pengukuran jumlah sel baik secara
total maupun yang hidup saja atau berdasarkan berat kering sel. Unit
photometer atau OD proporsional dengan massa sel dan juga jumlah sel,
sehingga cara ini dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah atau
massa sel secara tidak langsung.

2.5 Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba


Dalam pertumbuhan bakteri, semua substansi esensial harus tersedia untuk
sintesis dan pemeliharaan protoplasma, dengan sumber energi, dan kondisi
lingkungan yang sesuai. Bakteri merupakan organisme yang sangat pintar.
Mereka memperlihatkan kemampuan yang sangat besar dalam menggunakan
bahan makanan yang tersebar, menyusun bahan anorganik menjadi senyawa
organik yang sangat kompleks. Beberapa spesies juga belajar tumbuh pada
berbagai relung ekologik dengan temperatur, keasaman, dan tekanan oksigen
yang ekstrim. Kemampuan bakteri untuk bertahan di bawah keadaan sekitar
yang demikian merupakan perlindungan dari adaptabilitas tinggi dan refleks
kapasitasnya dalam keberhasilan merespon suatu stimulus yang dianggap asing
atau tidak pernah ditemui sebelumnya ( Hamdiyati,2014).

Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri:


1. Faktor nutrisi
Karbon, Bakteri Autotrofik (litotrof), untuk pertumbuhannya hanya
membutuhkan air, garam anorganik dan karbon dioksida. Kelompok ini
mensintesis karbon dioksida menjadi sebagian besar metabolit organik
esensial. Bakteri heterotrofik (organotrof) membutuhkan karbon
organik untuk pertumbuhannya. Dalam praktek laboratorium, glukosa
secara luas digunakan sebagai sumber karbon organik, tetapi berbagai
senyawa lain juga dapat digunakan secara khusus atau sumber karbon
tertentu oleh bakteri yang berbeda. Di antara bakteri yang pintar,
Pseudomonas menggunakan lebih dari 100 senyawa organik yang
berbeda sebagai satu-satunya sumber karbon dan energi.
Ion anorganik, Sejumlah kecil ion anorganik dibutuhkan oleh semua
bakteri. Selain nitrogen, sulfur dan fosfor yang terdapat sebagai unsur
dalam senyawa biologik , kalium, magnesium dan kalsium pada bakteri
fungsinya berhubungan dengan polimer anionik tertentu. Magnesium
berfungsi menstabilkan ribosom, membran sel, asam nukleat, dan
dibutuhkan untuk aktivitas sejumlah enzim. Kalium juga dibutuhkan
untuk aktivitas sejumlah enzim, dan konsentrasi kalium dalam sel
bakteri Gram-positif dipengaruhi oleh kandungan asam teikoat pada
dinding sel. Sebagian besar bakteri membutuhkan besi, magnesium,
seng, kupri, dan kobalt, dan untuk bakteri lain kebutuhan molibdenum
dan selenium dianggap esensial. Kebutuhan unsur tersebut untuk bakteri
lain lebih sulit untuk diperkirakan, karena kadang-kadang diperlukan
atau kehadirannya dianggap sebagai unsur kontaminan dalam medium
(Hamdiyati,2014).
Unsur dalam jumlah yang sedikit (trace element) berperan penting
dalam inetraksi inang-parasit. Pada inang hewan, kekuatan protein
pengikat-besi dalam cairan tubuh berfungsi untuk menahan besi
terhadap serangan mikroorganisme yang masuk. Keberhasilan
mikroorganisme memasuki inang, akan dapat meningkatkan
kemampuannya untuk mengambil besi, dan dengan giat mengekstrak
besi dari berbagai lingkungannya. Sejumlah senyawa besi (siderophore)
sudah dikenal pada beberapa spesies bakteri. Kehadirannya sangat
penting untuk pengambilan besi, dan signifikan secara evolusiner untuk
keberhasilan kompetisi dengan inangnya dalam hal nutrisi esensial yang
jumlahnya terbatas (Hamdiyati,2014).
Karbon dioksida. Bakteri pengguna CO2 sebagai sumber karbon
seluler utama, ialah bakteri kemolitotrof dan fotolitotrof . Selain itu,
kemoorganotrof juga membutuhkan suplai CO2 yang memadai untuk
fiksasi CO2 heterotrofik dan untuk sintesis asam lemak. Karbon
dioksida secara normal dihasilkan selama katabolisme senyawa organik,
oleh karena itu tidak dianggap sebagai faktor pembatas. Beberapa
bakteri, seperti Neisseria dan Brucella, memiliki satu atau banyak enzim
yang berafinitas rendah terhadap CO2 dan membutuhkan CO2 pada
konsentrasi yang lebih tinggi (10%) dibanding CO2 yang terdapat di
atmosfir (0,03%). Keadaan ini harus dipertimbangkan untuk
kepentingan isolasi dan biakan bakteri tersebut (Kusnadi,2014).
2. Lingkungan
Setiap mikroorganisme mempunyai respons yang berbeda terhadap
faktor lingkungan (suhu, pH, O, salinitas, dsb.)
1. Suhu
Tinggi rendahnya suhu mempengaruhi pertumbuhan
mikroorganisme. Bakteri dapat tumbuh dalam rentang suhu minus
50C sampai 800C, tetapi bagaimanapun juga setiap species
mempunyai rentang suhu yang pendek yang ditentukan oleh
sensitifitas sistem enzimnya terhadap panas.
Bakteri dapat dikelompokkan berdasarkan pada kisaran suhu
pertumbuhannya, yaitu :
1. Psikrofil adalah bakteri yang dapat tumbuh pada suhu 00C sampai
200C. Suhu optimumnya sekitar 150C. Karakteristik istimewa dari
semua bakteri psikrofil adalah akan tumbuh pada suhu 0 50 C.
2. Mesofil adalah bakteri yang dapat tumbuh pada suhu 200C sampai
450 C. karakteristik istimewa dari semua bakteri mesofil adalah
kemampuannya untuk tumbuh pada suhu tubuh (370 C) dan tidak
dapat tumbuh pada suhu di atas 450 C.

Bakteri mesofil dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu:


a. Yang mempunyai suhu pertumbuhan optimum 20 300 C,
termasuk tumbuhan saprofit.
b. Yang mempunyai suhu pertumbuhan optimum 35 400 C,
termasuk organisme yang tumbuh baik pada tubuh inang
berdarah panas.
3. Termofil adalah bakteri yang dapat tumbuh pada suhu 450 C atau
lebih. Bakteri termofil dapat dibedakan menjadi dua kelompok :
a. Fakultatif termofil adalah organisme yang dapat tumbuh pada
suhu 470 C, dengan suhu pertumbuhan optimum 45 600 C.
b. Obligat termofil adalah organisme yang dapat tumbuh pada
suhu di atas suhu 500 C, dengan suhu pertumbuhan optimum
di atas 600 C.
Perubahan suhu dapat mempengaruhi :
1. Pertumbuhan : miskin, banyak, atau mati
2. Perubahan karakteristik : pembentukan pigmen, misalnya Serratia
marcescens, pada suhu kamar merah, suhu lebih tinggi atau
rendah dari suhu kamar, pigmen merah hilang. Produksi selulosa
Acetobacter xylinum pada suhu lebih tinggi dari suhu kamar akan
menurun.
2. Derajat keasaman (pH)
Pengaruh pH terhadap pertumbuhan tidak kalah pentingnya dari
pengaruh temperatur. Ada pH minimum, pH optimum, dan pH
maksimum. Rentang pH bagi pertumbuhan bakteri antara 4 9
dengan pH optimum 6,5 7,5. Jamur lebih menyukai pH asam,
rentang pH pertumbuhan jamur dari 1 9 dan pH optimumnya 4
6. Selama pertumbuhan pH dapat berubah, naik atau turun,
bergantung kepada komposisi medium yang diuraikan. Bila ingin
pH konstan selama pertumbuhan harus diberikan larutan penyangga
atau buffer yang sesuai dengan media dan jenis mikroorganisme
(Hamdiyati,2014).
3. Kebutuhan Oksigen
oksigen tidak mutlak diperlukan mikroorganisme karena ada juga
kelompok yang tidak memerlukan oksigen bahkan oksigen
merupakan racun bagi pertumbuhan. Mikroorganisme terbagi atas
empat kelompok berdasarkan kebutuhan akan organisme, yaitu
mikroorganisme aerob yang memerlukan oksigen sebagai akseptor
elektron dalam proses respirasi. Mikroorganisme anaerob adalah
mikroorganisme yang tidak memerlukan O2 karena oksigen akan
membentuk H2O2 yang bersifat toksik dan meyebabkan kematian.
Mikroorganisme anaerob tidak memiliki enzim katalase yang dapat
menguraikan H2O2 menjadi air dan oksigen. Mikroorganisme
fakultatif anaerob adalah mikroorganisme yang tetap tumbuh dalam
lingkungan kelompok fakultatif anaerob. Mikroorganisme
mikroaerofilik adalah mikroorganisme yang memerlukan oksigen
dalam jumlah terbatas karena jumlah oksigen yang berlebih akan
menghambat kerja enzim oksidatif dan menimbulkan kematian
mikroba (Kusnadi,2014).
4. Kondisi Osmotik.
Konsentrasi larutan yang aktif secara osmotik di dalam sel
bakteri, umumnya lebih tinggi dari konsentrasi di luar sel. Sebagian
besar bakteri, kecuali pada Mycoplasma dan bakteri yang
mengalami kerusakan dinging selnya, tidak toleran terhadap
perubahan osmotik dan akan mengembangkan sistem transpor
kompleks dan alat pengatur sensor-osmotik untuk memelihara
keadaan osmotik konstat dalam sel.

5. Salinitas
Berdasarkan kebutuhan garam (NaCl) mikroorganisme dapat
dikelompokkan menjadi :
1. Non halofil
2. Halotoleran
3. Halofil (NaCl 10-15%)
4. Halofil ekstrim

2.6 Pengendalian pertumbuhan mikroba


Pengendalian atau Kontrol terhadap pertumbuhan mikroorganisme dapat
dilakukan dengan cara membunuh mikroorganisme, atau menghambat
pertumbuhannya. Kontrol terhadap pertumbuhan dapat dilakukan secara :
1. Fisika
Secara fisika, menggunakan uap air panas dan tekanan tinggi,
diperoleh panas lembab, efektif dengan menggunakan autoklaf.
Sterilisasi dengan otoklaf memerlukan suhu 1210 C, tekanan 15 psi/1,5
kg/cm2, selama 15 menit. Sterilisasi fisik dapat juga dengan panas
kering menggunakan oven1600 C, selam 2 jam. Sterilisasi dengan oven
untuk alat-alat gelas dan bahan yang tidak tembus air.
2. Kimia
Secara kimia, menggunakan senyawa kimia untuk mengendalikan
pertumbuhan mikroorganisme , contoh :
HgCl (0,1%), menyebabkan koagulasi protein
NaOCl Cl2 + H2 O = HCl + HOCl (asam hipoklorit, menyebabkan
klorinasi protein sel)
HOCl = HCl+ + O n (daya oksidasi kuat)
Senyawa kimia yang dapat mengendalikan pertumbuhan
mikroorganisme, dapat dibedakan memjadi antiseptic, desinfektan, dan
bahan kemoterapetik/antibiotic. Antiseptik : substansi kimia yang
digunakan pada jaringan hidup yang dapat menghambat pertumbuhan
mikroorganisma. Desinfektan:substansi kimia yang dapat menghambat
pertumbuhan sel vegetatif pada materi yang tidak hidup. Bahan
kemoterapetik :substansi kimia yang dapat merusak/menghambat
pertumbuhan mikroorganisme dalam jaringan hidup, dihasilkan oleh
mikroorganisme (Hamdiyati,2014).
Tidak ada bahan kimia yang ideal atau dapat digunakan untuk segala
macam keperluan, maka diperlukan beberapa hal dalam memilih dan
menggunakan senyawa kimia untuk tujuan tertentu, yaitu sebagai
berikut:
a. Aktivitas antimikroba, yaitu memiliki kemampuan untuk
mematikan mikroorganisme, dalam konsentrasi yang rendah pada
spektrum yang luas, artinya dapat membunuh berbagai macam
mikroorganisme.
b. Kelarutan, artinya senyawa ini bisa larut dalam air atau pelarut
lain, sampai pada taraf yang diperlukan secara efektif.
c. Stabilitas, artinya memiliki stabilitas yang tinggi bila dibiarkan
dalam waktu yang relatif lama dan tidak boleh kehilangan sifat
antimikrobanya.
d. Tidak bersifat toksik bagi manusia maupun hewan lain, artinya
senyawa ini bersifat letal bagi mikroorganisme dan tidak
berbahaya bagi manusia maupun hewan lain.
e. Homogenitas, komposisinya harus selalu sama, sehingga bahan
aktifnya terdapat pada setiap aplikasi.
f. Ketersediaan dan biaya, senyawa itu harus tersedia dalam jumlah
besar dengan harga yang pantas.
g. Sifat bahan harus serasi , yaitu zat kimia yang digunakan untuk
disinfeksi alat-alat yang terkontaminasi tidak baik digunakan
untuk kulit karena dapat merusak sel kulit.
h. Tipe mikroorganisme, artinya tidak semua mikroorganisme
rentan terhadap mikrobiostatik atau mikrobiosida, oleh karena itu
harus dipilih tipe mikroorganisme yang akan dibasmi.
3. Mekanik
Secara mekanik, untuk bahan yang mudah rusak karena pemanasan,
misalnya vitamin, enzim, serum, antibiotik. Sebagai Contoh : filtrasi,
menggunakan filter berupa membran dengan tebal tertentu, terbuat dari
asbes, diatom, porselen, kaca berpori, selulosa. membran selulosa :
diameter pori 0,01-10 m. Bahan/zat yang tidak dapat dipanaskan pada
suhu lebih dari 1000 C, dapat dilakukan pasteurisasi dan tindalisasi.
Pasteurisasi memerlukan pemanasan 63-730 C, digunakan untuk
pengawetan air, susu, bir, anggur. Pasteurisasi dapat membunuh
mikroorganisme pathogen (Mycobacterium, Salmonella, Coxiella) dan
beberapa mikroorganisme normal. Pelaksanaan pasteurisasi dapat
dilakukan dengan cara :
LTH = low temperatur holding, menggunakan suhu 630 C , selama
30 menit
HTST = high temperatur short time, menggunakan suhu 720 C,
selama 15 detik
Tindalisasi adalah pemanasan dengan suhu 80-1000 C, selama 30
menit, 3 hari berturut-turut. Pelaksanaan tindalisasi melalui tahapan
sebagai berikut :
1. Tindalisasi 1: sel vegetatif mati, kemudian diinkubasi, spora
berkecambah menjadi sel vegetatif.
2. Tindalisasi 2: sel vegetatif mati, spora yang tersisa berkecambah
menjadi sel vegetatif.
3. Tindalisasi 3: semua sel mati.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pertumbuhan dapat diartikan sebagai pertambahan jumlah atau volume serta
ukuran sel. Pada organism prokariot seperti bakteri, pertumbuhan merupakan
pertambahan volume dan ukuran sel dan juga sebagai pertambahan jumlah sel. Pola
pertumbuhan bakteri yaitu dengan pembelahan diri atau divisio.Pola pertumbuhan virus
terjadi melalui dua tipe replikasi yaitu siklus litik dan siklus lisogenik yang terdiri dari
tahapan-tahapan secara umun yaitu adsorpsi (penempelan), penetrasi (injeksi), tahap
awal replikasi, replikasi, sintesis, perakitan, dan lisis. Pola pertumbuhan jamur yaitu
bereproduksi secara aseksual dan seksual, reproduksi aseksual yaitu melalui proses
pembelahan, pertunasan, fragmentasi, dan spora aseksual (konidiospora,
sporangiospora, oidiospora, klamidospora); reproduksi seksual diawali dengan
plasmogami kemudian kariogami dan spora seksual (askospora, basidiospora, zigospora,
oospora). Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan meliputi, nutrisi, suhu, pH,
konsentrasi osmotik, air, kebutuhan oksigen. Faktor penghambat pertumbuhan mikrobia
dipengaruhi faktor abiotik dan biotik. Faktor biotik meliputi, faktor-faktor biotik ialah
faktor-faktor yang disebabkan jasad (mikrobia) atau kegiatannya yang dapat
mempengaruhi kegiatan (pertumbuhan) jasad atau mikrobia lain. Faktor abiotik meliputi,
temperatur, konsentrasi bahan, konsentrasi ion hidrogen, logam berat, radiasi

3.2 Saran

Saran yang dapat kami ajukan dalam makalah ini gunakanlah makalah ini
sebagai sumber bacaan untuk menambah wawasan/pemahaman dan bisa menjadi
bahan pelajaran bagi mahasiswa mengenai hal-hal yang menyangkut tentang
masalah pertumbuhan mikroba.
Daftar Pustaka

Hamdiyati, Yanti.2014. Pertumbuhan dan Pengendalian Mikroorganisme II.


http://file.upi.edu. Diakses pada tanggal 3 April 2017
Hastuti, Utami Sri. 2008. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi. Malang: Universitas
Negeri Malang.
Jumaing. 2012. Laporan mikrobiologi umum: pengaruh lingkungan terhadap
pertumbuhan mikroba. Universitas halouleo,
http://mainkanakbugis.blogspot.com/2012/12/faktor-faktor-lingkungan-
yang.html diakses pada 3 April 2017
Tarigan, Jeneng. 1988. Pengantar Mikrobiologi. Jakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek
Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Winarsih,S. 2011. Reproduksi dan Pertumbuhan Mikroorganisme.
http://staff.unila.ac.id. Diakses pada tanggal 3 April 2017 pada pukul 11.30
WIB.