Anda di halaman 1dari 2

CSR, Kesadaran

Koorporasi atau
Pencitraan?

D alam membangun dan mengembangkan teori akuntansi, terdapat enam teori Accounting
Perspective yang mendasari sebuah teori akuntansi dibangun dan dari sudut pandang siapa
Laporan Keuangan disusun, salah satu dari keenam teori
tersebut adalah Enterprise Theory. Teori ini dikenalkan oleh Waino W.
Suojanen (1954) dalam tulisannya yang berjudul Accounting Theory and the
Large Corporation. Berdasarkan tulisan dari Ducker yang mengamati
tentang perusahaan besar sebagai entitas yang memiliki tanggung jawab
sosial, Suojanen merumuskan Enterprise Theory (Godfrey, 2006). Yang
menjadi ciri khas dari teori ini adalah perusahaan dipandang sebagai
entitas sosial dimana setiap keputusan yang dibuat akan mempengaruhi
beberapa pihak yang berkepentingan, yang mana pihak-pihak tersebut
dapat digambarkan dalam triple bottom-line konsep yaitu people, planet, dan
profit (3P). Dimana dalam konsep tersebut yang disebut people adalah Triple Bottom-Line
employee, masyarakat dan pemerintah (dalam sudut pandang orang-orang yang menjalankan pemerintah), profit
adalah dividen, interest, entrepise for expansion, dan planet adalah pemerintah (dilihat dari sudut pandang
pemerintah sebagai sebuah lingkup negara) dan lingkungan. Dan Coorporate Social Responsibility (CSR) yang
tersaji dalam Sustainability Report adalah pengejawantahan dari teori ini. Sustainability Report atau yang biasa
disebut sebagai Laporan keberlanjutan adalah laporan yang diterbitkan oleh perusahaan untuk
mengungkapkan kinerja perusahaan pada aspek ekonomi, lingkungan dan sosial serta upaya perusahaan untuk
menjadi perusahaan yang akuntabel bagi seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) dan untuk tujuan kinerja
perusahaan menuju pembangunan yang kelanjutan.
Mengutip pernyataan Pak Yudi Irmawan (Dosen Teori Akuntansi,
2016) prinsip going concern dalam dunia akuntansi saat ini bukan hanya
masalah ketersediaan dana yang dimiliki perusahan untuk terus melakukan
usahanya, namun juga keberlangsungan alam dan lingkungan masyarakat
yang menjaga perusahaan tetap berjalan sehingga perusahaan tidak hanya
melulu memikirkan profit saja namun juga memikirkan tanggung
jawabnya pada seluruh pemangku kepentingan. Beliau juga menyampaikan
bahwa pemerintah yang merupakan people dan planet dalam konsep
Enterprise Theory merupakan pihak yang dianggap sebagai stakeholder oleh
perusahaan salah satunya karena perusahaan memiliki kewajiban untuk
membayar pajak kepada pemerintah. Uang pajak yang dibayarkan oleh
perusahaan kepada pemerintah akan mendukung keberlanjutan dari aspek ekonomi, lingkungan dan sosial
masyarakat yang mana hal tersebut merupakan tujuan dari CSR. Sehingga sejatinya ketika perusahaan telah
menerapkan sepenuhnya prinsip Enterprise Theory maka perusahaan tersebut tentunya akan taat dalam
memenuhi kewajiban perpajakannya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Roman Lanis dan Grant
Richardson yang berjudul Corporate Social Responsibility and Tax Aggressiveness : An Empirical Analysis (2000)
dan Is Corporate Social Responsibility Performance Associated with Tax Avoidance? (2015) bahwa makin tinggi
CSR perfomance sebuah perusahaan maka semakin kecil kemungkinan perusahaan tersebut melakukan tax
avoidance atau tax aggressiveness.
Tapi apakah benar ketika sebuah perusahaan dinilai telah mumpuni dalam melakukan CSR dengan baik
maka perusahaan tersebut akan cenderang taat pajak? Sepertinya fakta menunjukkan hal yang berbeda karena
skandal penggelapan pajak yang cukup besar dilakukan oleh Asian Agri Group yang mana pada tahun 2014
perusahaan ini memenangkan Indonesia CSR Award atas program Pemberdayaan Ekonomi mereka. Dan tidak
tanggung-tanggung tagihan pajak kurang bayar dan denda yang ditetapkan oleh otoritas perpajakan
Indonesia atas perusahaan ini adalah sebesar 3,079 trilliun rupiah. Mengapa hal ini bisa terjadi? Indonesia CSR
Award merupakan sebuah event yang diselenggarakan oleh lembaga nirlaba Corporate Forum for Community
Development (CFCD). Dan penilaian yang digunakan dalam pemberian penghargaan ini mengacu pada
penerapan ISO 26000 SR. ISO 26000 SR adalah Guidance on social responsibility yang ditetapkan pada 1
November 2010 dan memiliki tujuh subjek inti yaitu Tata kelola organisasi, Hak asasi manusia, Praktik
ketenagakerjaan, Lingkungan, Prosedur operasi yang wajar, Isu konsumen, dan Pelibatan dan pengembangan
masyarakat. Jika dibandingkan dengan konsep 3P pada Enterprise Theory maka ISO 26000 SR baru mengatur
mengenai employee, masyarakat, lingkungan dan profit namun belum menyentuh aspek kewajiban perusahaan
kepada pemerintah.
Maka berdasarkan uraian diatas kondisi Asian Agri Group tidak sepenuhnya bertolak belakang dengan
hasil penelitian yang ada karena apabila dilihat dari perspektif ISO 26000 SR maka Asian Agri Group layak
untuk menerima penghargaan tersebut karena cukup banyak hal yang dilakukan oleh perusahaan dalam
mengejawantahkan CSR ini. Sebut saja kegiataan pembinaan petani swadaya di Labuhanbatu pada 22
November 2013, pemberian bantuan pada korban Gunung Sinabung pada September 2013, peraihan sertifikasi
RSPO oleh petani binaan Asian Agri Group, koperasi binaan perusahaan ini juga mendapatkan penghargaan
nasional dan lain sebagainya. Namun karena ISO tersebut tidak menyentuh aspek kewajiban perusahaan
kepada pemerintah (dalam hal ini kewajiban perpajakan) maka pemberian penghargaan ini bukan berarti
membuktikan bahwa perusahaan akan taat pajak. Sehingga cukup wajar apabila Asian Agri Group terbukti
melakukan penggelapan pajak meskipun perusahaan ini pernah mendapatkan penghargaan Indonesia CSR
Award.
Apabila dilihat dari filosofi enterprise theory, perusahaan diibaratkan tidak berbeda dengan manusia
sebagai makhluk sosial yang memiliki kewajiban kepada banyak pihak. Perusahaan tidak hanya memiliki
tanggung jawab kepada investor atau kreditor tetapi kepada masyarakat dan lingkungan. Lalu apa implikasi
dari filosofi teori tersebut? Implikasinya adalah seharusnya perusahaan tidak lagi menghitung accounting profit
tetapi value added yang dapat diberikan perusahaan kepada society. Apabila perusahaan memberikan fasilitas
berupa bonus atau hal lainnya kepada karyawan dalam rangka meningkatkan produktifitas mereka hal ini
bukan merupakan prinsip dari enterprise theory karena tindakan tersebut dilakukan oleh perusahaan hanya
dalam rangka men-generate profit bagi perusahaan. Karena dalam tindakan tersebut yang dipikirkan
perusahaan adalah wealth perusahaan bukan karyawan yang bersangkutan. Seharusnya yang dipikirkan
perusahaan apakah gaji dan bonus atau fasilitas yang diberikan perusahaan pada karyawan telah sesuai dengan
pengorbanan yang diberikan karyawan pada perusahaan bukan hanya sekedar melakukan kewajiban legal
formal saja (seperti pemberian gaji hanya berdasarkan UMR saja). Demikian juga apabila dianalogikan pada
pelaksanaan CSR, apabila CSR dilakukan hanya sebagai bentuk pencitraan perusahaan yang berujung pada
pen-generate-an laba maka perusahaan tidak sedang melakukan prinsip enterprise theory. Karena prinsip
enterprise theory hanya dapat dilakukan karena kesadaran penuh koorporasi untuk mendistribusikan
keuntungan yang diperoleh (value added) kepada semua pihak.
Jadi apabila saya ditanya apakah perusahaan dapat dinilai baik jika telah melakukan CSR dengan baik?
Tentu saja tidak, karena bisa saja itu hanya pencitraan yang berujung pada peningkatan laba semata. Dan jika
ada pertanyaan lagi mana yang lebih dipilih perusahaan yang baik (dalam kategori hanya melakukan CSR)
tapi tidak taat pajak atau perusahaan taat pajak tetapi tidak melakukan CSR dengan baik? Bukan karena ingin
idealis namun saya tidak bisa memilih secara tegas dari kedua pilihan tersebut karena masih ada pilihan yang
ketiga yaitu perusahaan seharusnya bisa menerapkan prinsip enterprise theory. Karena dengan menerapkan
prinsip dari enterprise theory maka kedua hal positif dari kedua pilihan tersebut dapat dilakukan. Dan bagi saya
pribadi ukuran perusahaan baik bukan dari masalah penerapan CSR apalagi jika secara nyata-nyata hal ini
dilakukan hanya untuk pencitraan perusahaan semata.

- In terms of power and influence you can forget about the church, forget politics. There is no more powerful institution in society than business. The
business of business should not be about money, it should be about responsibility. It should be about public good, not private greed.
by Anita Roddick, Business as Usual