Anda di halaman 1dari 3

BAB III

ANALISA KASUS

Ny. SZ, 63 tahun, lebih kurang 19 hari sebelum masuk rumah sakit,
saat penderita sedang beraktivitas tiba-tiba penderita mengalami penurunan
kesadaran selama 1 jam. Saat serangan, penderita mengalami sakit kepala
(+), tidak disertai mual dan muntah, kejang (-). Penderita mengalami
kelemahan pada lengan dan tungkai kanan (tidak bisa digerakkan) tanpa
disertai gangguan rasa pada sisi yang lemah. Saat berbicara, mulut penderita
mengot ke kiri dan dengan bicara pelo. Penderita baru pertama kali menderita
penyakit seperti ini. Riwayat hipertensi (+) sejak 3 tahun yang lalu, berobat
tidak teratur.
Pada pemeriksaan fisik umum ditemukan tekanan darah 150/90 mmHg
(hipertensi). Pada pemeriksaan fisik neurologi, ditemukan plica nasolabialis
kanan datar dan sudut mulut kanan tertinggal pada pemeriksaan nervus
craniales VII, serta didapatkan juga adanya disartria pada pemeriksaan nervus
craniales XII. Selain itu, pada pemeriksaan motorik, terdapatnya gerakan
kurang, kekuatan 4+, tonus meningkat, dan refleks fisiologis pada lengan dan
tungkai kanan, serta refleks patologis babinsky (+) pada tungkai kanan.
Dilihat dari faktor risiko yaitu seorang perempuan dengan usia 50
tahun dengan riwayat hipertensi sejak 3 tahun yang lalu dan penderita tidak
berobat teratur hal ini bisa menjadi fakor risiko terjadinya stroke pada pasien
ini. Pada hasil CT Scan kepala (12 Desember 2012) tampak gambaran intra
cerebral hemorhagik dengan ukuran 2,8cm x 1,7 cm di basal ganglia sinistra.
Penderita didiagnosis Hemiparese dextra spastik + parese n.VII dan XII tipe
sentral e.c ICH

31
Stroke menurut WHO didefiniskan sebagai tanda-tanda klinis yang
berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal maupun global dengan
gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih ataupun
menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain
vaskuler. Stoke terbagi dua yaitu stroke hemoragik dan stroke non hemoragik.
Stroke non hemoragik biasanya bermanifestasi sebagai :
Kelumpuhan wajah dan anggota gerak.
Terjadi pada saat santai atau terjadi pada pagi hari.
Gangguan sensibilitas daerah yang lumpuh
Disartria.
Adanya riwayat TIA sebelumnya.
Tidak biasanya ditemukan nyeri kepala, muntah, kejang dan kesadaran
yang menurun.
Stroke hemoragik sendiri khas sehingga dapat dibedakan dari stroke non
hemoragik. Gejala klinis yang biasanya ditemui :
Kelumpuhan wajah dan anggota gerak yang mendadak.
Serangan pada saat aktif disertai nyeri kepala yang hebat.
Gangguan sensibilitas daerah yang mengalami kelumpuhan.
Ataksia, disartria.
Mual, muntah yang nyata.
Gangguan penglihatan.
Gangguan kesadaran, kejang.
Kaku kuduk dan tanda-tanda rangsangan meningeal.

Faktor risiko adalah kelainan atau kondisi yang membuat seseorang


rentan terhadap serangan stroke. Faktor resiko umumnya dibagi menjadi 2
golongan besar yaitu yang tidak dapat dikontrol seperti umur, ras atau bangsa,
jenis kelamin, riwayat keluarga. dan yang dapat dikontrol seperti hipertensi,
Diabetes Melitus, perokok, peminum alcohol, obesitas / kegemukan, dll.

32
Tatalaksana pada os dilakukan fisioterapi yang bertujuan untuk
mengembalikan dan mengatasi gangguan, keterbatasan beraktivitas sehingga
pasien dapat beraktivitas kembali. Pada os dilakukan terapi menggunkan infra
red (IRR) yang digunakan untuk memperbaiki sirkulasi darah ke perifer,
menghilangkan rasa nyeri, meningkatkan kelenturan jaringan dan
meningkatkan metabolisme. Selain itu, os juga disarankan untuk terapi wicara
yang ditekankan ke artikulasi mengucapkan kata-kata.

33