Anda di halaman 1dari 21

BAB I

STATUS PENDERITA

I. Identifikasi
Nama : Tn. Ishak
Umur : 54 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Status : Menikah
Kebangsaan : Indonesia
Pekerjaan : PNS
Tanggal Pemeriksaan : 5 Desember 2012

II. Anamnesis
a) Keluhan Utama
Nyeri pada pinggang dan tungkai kiri menjalar ke pergelangan kaki
b) Riwayat Perjalanan Penyakit
Sejak 1 bulan yang lalu, Os mengeluh nyeri pada pinggang sebelah
kiri. Nyeri tersebut dirasakan Os setelah jatuh dari berkendaraan
motor. Nyeri bersifat ringan, nyeri terasa ditarik-tarik, dan tidak
disertai rasa kesemutan. Nyeri berkurang pada saat istirahat. Nyeri
ketika berpindah posisi (berbaring ke berdiri)
Os berobat kedokter diberi obat pengurang rasa nyeri, dan nyeri
berkurang.
Sejak 2 minggu yang lalu nyeri terasa semakin berat dan menjalar
sampai ke pergelangan kaki. Kemudian Os berobat ke RSMH.
c) Riwayat Penyakit Terdahulu
Riwayat penyakit terdahulu disangakal
d) Riwayat Penyakit ada Keluarga
Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga disangkal
e) Riwayat Pekerjaan
Sehari-hari pasien adalah PNS yang setiap harinya melakukan
seluruh pekerjaan rumah sendiri.
f) Riwayat Sosisl Ekonomi
Pasien hanya tinggal berdua bersama istrinya yang bekerja sebagai
ibu rumah tangga. Pasien tidak mengalami kesulitan untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

III. Pemeriksaan Fisik


A. Pemeriksaan Umum

1
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : GCS : 15
Tinggi Badan / Berat Badan : 130 cm/70 kg BMI : 21,33
Cara berjalan / Gait
Antalgik gait :+
Hemiparese gait :-
Steppage gait :-
Parkinson gait : -
Tredelenberg gait : -
Waddle gait : -
Lain lain : -
Bahasa / bicara
Komunikasi verbal : baik
Komunikasi nonverbal: baik
Tanda vital
Tekanan darah : 130/70 mmHg
Nadi : 80 x/menit
Pernafasan : 22 x/menit
Suhu : 37 0C
Kulit : Anemis (-), eritema (-), ulkus dekubitus (-)
Status Psikis
Sikap : kontak (+) Orientasi : baik
Ekspresi wajah : baik Perhatian : baik

B. Saraf saraf otak


Nervus Kanan Kiri
N.Olfaktorius normal normal
N.Opticus normal normal
N.Occulomotorius normal normal
N.Trochlearis normal normal

2
N.Trigeminus normal normal
N.Abducens normal normal
N.Fascialis normal normal
N.Vestibularis normal normal
N.Glossopharyngeus normal normal
N.Vagus normal normal
N.Accesorius normal normal
N.Hypoglosus normal normal

C. Kepala
Bentuk : normal
Ukuran : normocephali
Posisi :
- Mata : konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-)
- Hidung : deviasi septum (-)
- Telinga : serumen (-)
- Mulut : normal
- Wajah : simetris
- Gerakan abnormal : (-)

D. Leher
Inspeksi : dinamis, simetris, posisi trakea normal, pembesaran KGB (-),
kontrol terhadap kepala baik
Palpasi : JVP tidak meningkat, kaku kuduk (-)
Luas Gerak Sendi
Ante / retrofleksi (n 65/50) : 650/500
Laterofleksi (D/S) (n 40/40) : 400/400
Rotasi (D/S) (n 45/45) : 450/450
Test provokasi
Lhermitte test / Spurling : tidak dilakukan
Test Valsalva : negatif

3
Distraksi test : tidak dilakukan
Test Nafziger : tidak dilakukan

E. Thorak
Bentuk : normal
Pemeriksaan Ekspansi Thoraks : tidak dilakukan
Paru- paru
- Inspeksi : simetris statis dan dinamis
- Palpasi : stem fremitus sama kanan kiri
- Perkusi : sonor
- Auskultasi : vesikuler (+) normal, ronki (-), wheezing (-)
Jantung
- Inspeksi : iktus kordis tak terlihat
- Palpasi : iktus kordis tak teraba
- Perkusi : batas jantung dalam batas normal
- Auskultasi : suara jantung normal, murmur (-), gallop (-)

F. Abdomen
- Inspeksi : datar
- Palpasi : lemas, hepar dan lien tak teraba
- Perkusi : timpani
- Auskultasi : bising usus (+) normal

G. Trunkus
Inspeksi : Simetris
- Deformitas : (-)
- Lordosis : (-)
- Scoliosis : (-)
- Gibbus : (-)
- Hairy spot : (-)
- Pelvic Tilt : (-)

4
Palpasi :
- Spasme otot-otot para vertebrae : (-)
- Nyeri tekan (lokasi) : (+) pada otot-otot paralumbal
Luas gerak sendi lumbosakral
- Ante /retro fleksi (95/35) : 60/30
- Laterofleksi (D/S) (40/40) : 30/30
- Rotasi (D/S) (35/35) : 30/30
Test provokasi
- Valsava test :-
- Laseque : -/+
- Test Baragard dan Sicard : -/-
- Nafziger test : -
- Test SLR : -/-
- Test: OConnell : -/-
- FNST : -/-
- Test Patrick : -/+
- Test Kontra Patrick : -/+
- Test Gaenslen : -/+
- Test Thomas : tidak dilakukan
- Test Obers : tidak dilakukan
- Nachalas knee flexion test : tidak dilakukan
- Mc.Bride sitting test : tidak dilakukan
- Yeomans hyprextension : tidak dilakukan
- Mc.Bridge toe to mouth sitting test : tidak dilakukan
- Test Schober : tidak dilakukan

H. Anggota Gerak Atas


Inspeksi kanan kiri
Deformitas : (-) (-)
Edema : (-) (-)

5
Tremor : (-) (-)
Neurologi
Motorik Dextra Sinistra
Gerakan luas luas
Kekuatan
- Abduksi lengan 5 5
- Fleksi siku 5 5
- Ekstensi siku 5 5
- Ekstensi Wrist 5 5
- Fleksi jari- jari tangan 5 5
- Abduksi jari tangan 5 5
- Tonus normal normal
- Tropi (-) (-)
Refleks Fisiologis
- Refleks tendon biseps normal normal
- Refleks tendon triseps normal normal
Refleks Patologis
- Hoffman (-) (-)
- Tromner (-) (-)
- Sensorik
Protopatik : normal normal
Proprioseptik : normal normal
- Vegetatif : normal normal

Penilaian fungsi tangan kanan kiri


Anatomical normal normal
Grips normal normal
Spread normal normal
Palmar abduct normal normal
Pinch normal normal

6
Luas Gerak Sendi Aktif Aktif Pasif Pasif
Dextra Sinistra Dextra Sinistra
Abduksi bahu 180 180 180 180
Adduksi bahu 180 180 180 180
Fleksi bahu 18 18 18 18
Ekstensi bahu 60 60 60 60
Endorotasi bahu(f0) normal normal normal normal
Eksorotasi bahu (f0) normal normal normal normal
Endorotasi bahu(f90) normal normal normal normal
Eksorotasi bahu (f90) normal normal normal normal
Fleksi siku normal normal normal normal
Ekstensi siku normal normal normal normal
Ekstensi pergelangan normal normal normal normal
tangan
Fleksi pergelangan normal normal normal normal
tangan
Supinasi normal normal normal normal
Pronasi normal normal normal normal

Test Provokasi : tidak dilakukan

Anggota Gerak Bawah


Inspeksi kanan kiri
Deformitas : (-) (-)
Edema : (-) (-)
Tremor : (-) (-)
Palpasi
Nyeri tekan (lokasi) : (-) (-)
Diskrepansi : (-) (-)

7
Neurologi
Motorik Kanan Kiri
Gerakan luas luas
Kekuatan
Fleksi paha 5 5
Ekstensi paha 5 5
Ekstensi lutut 5 5
Fleksi lutut 5 5
Dorsofleksi pergelangan kaki 5 5
Dorsofleksi ibu jari kaki 5 5
Plantar fleksi pergelangan 5 5
Tonus normal normal
Tropi (-) (-)
Refleks Fisiologis
Refleks tendo patella normal normal
Refleks tendo achilles normal normal
Refleks patologi
Babinsky negatif negatif
Chaddock negatif negatif
Sensorik
Protopatik : tidak ada kelainan
Proprioseptik : tidak ada kelainan
Vegetatif : tidak ada kelainan

Luas gerak sendi


Luas gerak Aktif Aktif Pasif Pasif
Sendi Dextra Sinistra Dextra Sinistra
Fleksi paha normal normal normal
normal

8
Ekstensi paha normal normal normal
normal
Endorotasi paha normal normal normal
normal
Adduksi paha normal normal normal
normal
Abduksi paha normal normal normal
normal
Fleksi lutut 0-1200 0-1200 0-1200
0-1200
Ekstensi lutut 0-900 0-900 0-900
0-900
Dorsofleksi pergelangan kaki 0-200 0-200 0-200
0-200
Plantar fleksi pergelangan kaki 0-500 0-500 0-500
0-500
Inversi kaki normal normal normal
normal
Eversi kaki normal normal normal
normal

Test Provokasi sendi lutut kanan kiri


Stres test tidak dilakukan tidak dilakukan
Drawers test tidak dilakukan tidak dilakukan
Test Tunel pada sendi lutut tidak dilakukan tidak dilakukan
Test Homan tidak dilakukan tidak dilakukan

III. Pemeriksaan- pemeriksaan lainnya


Bowel test / Bladder test
- Sensorik peri anal : tidak dilakukan
- Motorik sphincter ani eksternus : tidak dilakukan

9
- BCR (Bulbocavernosis Refleks) : tidak dilakukan
Fungsi luhur
- Afasia : tidak ada
- Apraksia : tidak ada
- Agrafia : tidak ada
- Alexia : tidak ada

IV. Pemeriksaan Penunjang


1. Radiologi : MRI ekstrusio ringan diskus intervertebralis
L5-S1 disertai penekanan radiks kiri.
2. Lain-lain : tidak dilakukan

V. Resume
Anamnesis : Sejak 1 bulan yang lalu, Os mengeluh nyeri pada pinggang
sebelah kiri. Nyeri tersebut dirasakan Os setelah jatuh dari berkendaraan
motor. Nyeri bersifat ringan, nyeri terasa ditarik-tarik, dan tidak disertai
rasa kesemutan. Nyeri berkurang pada saat istirahat. Os berobat kedokter
diberi obat pengurang rasa nyeri, dan nyeri berkurang. Sejak 2 minggu
yang lalu nyeri terasa semakin berat dan menjalar sampai ke pergelangan
kaki. Kemudian Os berobat ke RSMH.

Pemeriksaan Fisik : Pada pemeriksaan fisik umum ditemukan tekanan


darah 130/70 mmHg. Pada pemeriksaan fisik trunkus ditemukan adanya
penurunan luas gerak sendi lumbosakral, ante/retrofleksi, laterofleksi dan
rotasi. Selain itu ditemukan juga hasil yang positif pada pemeriksaan
lasegue, patrick, kontrapatrick, dan gaenslen pada tungkai kiri.

VI. Evaluasi
No Level ICF Kondisi Saat Ini Sasaran
1. Struktur dan HNP L5-S1 sehingga Mengurangi nyeri
Fungsi mengalami Low back pinggang sehingga
pain dan keterbatasan pasien dapat
pada gerak sendi menggerakkan
pinggang pinggang tanpa rasa

10
nyeri dan dapat
memperbaiki fungsi
sendi pinggang
2. Aktivitas Sulit untuk melakukan
pekerjaan sehari-hari
seperti: berjalan,
sholat, naik tangga
dan naik motor
3. Partisipasi Tidak terjadi -
gangguan, pasien
masih bisa berperan
dalam kehidupan.

VII. Diagnosa Klinis


Low back pain ec. Hernia nukleus pulposus L5-S1

VIII. Program Rehabilitasi Medik


Fisioterapi
Terapi panas : SWD lumbal sakral 3 x 1 minggu sebanyak 5x,
IRR extremitas inferior sinistra
Terapi dingin : -
Stimulasi Listrik : -
Terapi Latihan : -
Traksi : + lumbal sakral

Okupasi terapi
ROM exercise : -
ADL exercise : -

Ortotik prostetik : Korset lumbal


Terapi wicara : Tidak diperlukan
Social medik : Pasien tetap melakukan kegiatan sehari-hari

Edukasi
Memberikan informasi agar pasien mengurangi beban pada sendi tulang
belakang, dengan cara berikut:

11
- Hindari aktivitas yang memperberat nyeri
- Hindari penggunaan sendi tulang belakang secara berlebihan atau
melakukan latihan yang keras

IX. Terapi Medika Mentosa


-

X. Prognosa
Medik : Dubia ad bonam
Fungsionam : Dubia ad bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Low Back Pain (LBP)


LBP (low back pain/nyeri punggung bawah) adalah suatu gejala dan bukan
suatu diagnosis, dimana pada beberapa kasus gejalanya sesuai dengan diagnosis
patologisnya dengan ketepatan yang tinggi, namun di sebagian besar kasus,
diagnosis tidak pasti dan berlangsung lama. Dengan demikian maka LBP yang
timbulnya sementara dan hilang timbul adalah sesuatu yang dianggap biasa.
Namun bila LBP terjadi mendadak dan berat maka akan membutuhkan

12
pengobatan, walaupun pada sebagian besar kasus akan sembuh dengan sendirinya.
LBP yang rekuren membutuhkan lebih banyak perhatian, karena harus merubah
pula cara hidup penderita dan bahkan juga perubahan pekerjaan.

1. Definisi Low Back Pain (LBP)


Low back pain (LBP) adalah nyeri di daerah punggung antara sudut bawah
kosta (tulang rusuk) sampai lumbosakral (sekitar tulang ekor). Nyeri juga bisa
menjalar ke daerah lain seperti punggung bagian atas dan pangkal paha (Rakel,
2002). LBP atau nyeri punggung bawah merupakan salah satu gangguan
muskuloskeletal yang disebabkan oleh aktivitas tubuh yang kurang baik
(Maher, Salmond & Pellino, 2002).

2. Klasifikasi Low Back Pain (LBP)


Menurut Bimariotejo (2009), berdasarkan perjalanan kliniknya LBP
terbagi menjadi dua jenis, yaitu:
a. Acute Low Back Pain
Acute low back pain ditandai dengan rasa nyeri yang menyerang
secara tiba-tiba dan rentang waktunya hanya sebentar, antara beberapa hari
sampai beberapa minggu. Rasa nyeri ini dapat hilang atau sembuh. Acute
low back pain dapat disebabkan karena luka traumatik seperti kecelakaan
mobil atau terjatuh, rasa nyeri dapat hilang sesaat kemudian. Kejadian
tersebut selain dapat merusak jaringan, juga dapat melukai otot, ligamen
dan tendon. Pada kecelakaan yang lebih serius, fraktur tulang pada daerah
lumbal dan spinal dapat masih sembuh sendiri. Sampai saat ini
penatalaksanan awal nyeri pinggang akut terfokus pada istirahat dan
pemakaian analgesik.
b. Chronic Low Back Pain
Rasa nyeri pada chronic low back pain bisa menyerang lebih dari 3
bulan. Rasa nyeri ini dapat berulang-ulang atau kambuh kembali. Fase ini
biasanya memiliki onset yang berbahaya dan sembuh pada waktu yang

13
lama. Chronic low back pain dapat terjadi karena osteoarthritis,
rheumatoidarthritis, proses degenerasi discus intervertebralis dan tumor.

3. Insiden
LBP sering dijumpai dalam praktek sehari-hari, terutama di negara-negara
industri. Diperkirakan 70-85% dari seluruh populasi pernah mengalami episode
ini selama hidupnya. Prevalensi tahunannya bervariasi dari 15-45%, dengan
point prevalence rata-rata 30%. Di AS nyeri ini merupakan penyebab yang
urutan paling sering dari pembatasan aktivitas pada penduduk dengan usia >45
tahun, urutan ke 2 untuk alasan paling sering berkunjung ke dokter, urutan ke 5
alasan perawatan di rumah sakit, dan alasan penyebab yang paling sering untuk
tindakan operasi. (Anderson, 1999)
Data epidemiologi mengenai LBP di Indonesia belum ada, namun
diperkirakan 40% penduduk pulau Jawa Tengah berusia diatas 65 tahun pernah
menderita nyeri pinggang, prevalensi pada laki-laki 18,2% dan pada wanita
13,6%. Insiden berdasarkan kunjungan pasien ke beberapa rumah sakit di
Indonesia berkisar antara 3-17%. (Sadeli & Tjahjono, 2001)

4. Penyebab Low Back Pain (LBP)


Penyebab LBP dapat dibagi menjadi:
- Diskogenik (sindroma spinal radikuler).
- Non-diskogenik

a. Diskogenik
Sindroma radikuler biasanya disebabkan oleh suatu hernia nukleus
pulposus yang merusak saraf-saraf disekitar radiks. Diskus hernia ini bisa
dalam bentuk suatu protrusio atau prolaps dari nukleus pulposus dan keduanya
dapat menyebabkan kompresi pada radiks. Lokalisasinya paling sering di
daerah lumbal atau servikal dan jarang sekali pada daerah torakal. Nukleus
terdiri dari megamolekul proteoglikan yang dapat menyerap air sampai sekitar
250% dari beratnya. Sampai dekade ke tiga, gel dari nukleus pulposus hanya

14
mengandung 90% air, dan akan menyusut terus sampai dekade ke empat
menjadi kira-kira 65%. Nutrisi dari anulus fibrosis bagian dalam tergantung
dari difusi air dan molekul-molekul kecil yang melintasi tepian vertebra. Hanya
bagian luar dari anulus yang menerima suplai darah dari ruang epidural. Pada
trauma yang berulang menyebabkan robekan serat-serat anulus baik secara
melingkar maupun radial. Beberapa robekan anular dapat menyebabkan
pemisahan lempengan, yang menyebabkan berkurangnya nutrisi dan hidrasi
nukleus. Perpaduan robekan secara melingkar dan radial menyebabkan massa
nukleus berpindah keluar dari anulus lingkaran ke ruang epidural dan
menyebabkan iritasi ataupun kompresi akar saraf. (Wheeler, 2004)
b. Non-diskogenik
Biasanya penyebab LBP yang non-diskogenik adalah iritasi pada
serabut sensorik saraf perifer, yang membentuk n. iskiadikus dan bisa
disebabkan oleh neoplasma, infeksi, proses toksik atau imunologis, yang
mengiritasi n.iskiadikus dalam perjalanannya dari pleksus lumbosakralis,
daerah pelvik, sendi sakro-iliaka, sendi pelvis sampai sepanjang jalannya
n. Iskiadikus (neuritis n. iskiadikus). (Sidharta, 1980)

Selain itu ada juga yang mengkatagorikan jenis penyebab LBP adalah
karena sikap yang salah, traumatik, proses degeneratif, penyakit inflamasi,
neoplasma, kelainan kongenital, referred pain, dan psikoneurotik.
a. Sikap yang salah
LBP diakibatkan oleh perubahan pada otot dan ligament daerah
lumbal karena kondisi fisik dan mental. Kurang bergerak, selalu duduk
dengan posisi tulang belakang lumbal yang melengkung (lordosis),
obesitas, konstipasi dan hidup sebagai pemalas merupakan faktor yang
lama-kelamaan mengganggu keseimbangan siatik dan kinetik yang
dipertahankan oleh sendi posterior, diskus intervertebralis dan ligament
tulang belakang lumbal.
b. Traumatik

15
Lesi traumatik yang dimaksud adalah lesi akibat trauma besar atu
akibat trauma kecil yang terjadi berkali-kali. Karena trauma besar yang
sekali dapat timbul insersio otot erector trinsi terbedol, rupture ligament
interspinosus, fraktur korpus vertebra lumbal. Sedangkan akibat trauma
kecil dapat dijumpai sacro iliac strain dan lumbo sacral strain.
c. Proses degeneratif, yaitu spondilosis, HNP, stenosis spinalis, dan
osteoporosis.
Spondilosis, spondilo artrosis deformans merupakan salah satu sebab
umum dari LBP, terutama pada lansia. Nyeri tersebut bertambah pada
gerakan pinggang, terutama pada saat melakukan gerakan pinggang
setelah berdiam dalam sikap duduk atau baring. HNP, penyebabnya adalah
degenerasi diskus dan ligamentum longitudinal akibat stress setiap kali
seseorang mengangkat benda berat, dan menegakkan badan secara
bertenaga sehingga anunulus fibrosus dapat sobek.
LBP pada osteoporosis biasanya diakibatkan kompresi fraktur. Tetapi
adakalanya osteoporosis tanpa fraktur ditemukan pada kasus LBP umum.
Fraktur kompresi sering timbul karena trauma yang tidak berarti dan tanpa
disadari. Batuk, bersin, atau duduk terguncang-guncang sudah dapat
menimbulkan fraktur kompresi pada tulang belakang yang osteoporotik.
Karena fraktur tersebut biasanya medula spinalis tidak mengalami
gangguan apapun, tetapi radiks dapat terjepit sehingga menimbulkan nyeri
radikular. Osteoporosis juga sering dijumpai pada wanita tua yang dikenal
dengan osteoporosis post menopause.
d. Penyakit inflamasi, disebabkan oleh penyakit arthritis dan spondililitis
ankilopoetika.
Arthritis sakroiliaka non tuberkuloksa nyerinya menjalar radikular
sepanjang nervus iskhiadikus. Pada setiap perubahan tubuh damana pelvis
ikut bergerak akan dirasakan nyeri, misalnya waktu berbalik ke salah satu
sisi, mengangkat badan sewaktu bangun dari sikap duduk dan sebagainya.
Biasanya sebelum menderita LBP itu, penderita pernah mendapatkan
artrhritis di persendian lain.

16
Spondilitis ankilopoetika jenis strumpell marie menyebabkan
keluhan LBP dini. Jenis nyerinya menetap, tidak bertambah karena
gerakan dan motilitas tulang belakang lumbah masih cukup baik. Sering
menurun dan lebih sering terjadi pada laki-laki.
e. Neoplasma
Jenis tumor ganas yang yang cenderung bermestatase ke tulang ialah
adenokarsinoma mamae, prostat, ginjal, paru, dan tiroid.
f. Kelainan kongenital
Kelainan kongenital pada tulang belakang yang dimaksud adalah
spondilolistesis, spondilolisis, spina bifida dan stenosis kanalis vertebralis
lumbal.
g. Referred pain/ nyeri acuan
LBP adakalanya timbul akibat referred pain dari proses patologik di
abdomen dan pelvis. Kadang-kadang nyeri tajam di pinggang juga
merupakan manifestasi referred pain tersebut. Daerah pinggang merupakan
proyeksi referred pain yang bersumber pada batu ginjal, pielonefritis dan
sistitis, ulkus ventrikuli, aneurisma aorta abdominalis, karsinoma kolon,
pancreatitis, tumor uteri, dan penyakit prostat.
h. Psikoneurotik,beban psikis yang dirasakan berat oleh penderita dapat pula
bermanifestasi sebagai LBP karena menegangnya otot-otot.

5. Faktor Risiko Low Back Pain (LBP)


Faktor risiko nyeri pinggang meliputi usia, jenis kelamin, berat badan
(obesitas), etnis, merokok, pekerjaan, paparan getaran, angkat beban yang berat
yang berulang-ulang, membungkuk, duduk lama, geometri kanal lumbal spinal
dan faktor psikososial (Bimariotejo, 2009). Sifat dan karakteristik nyeri yang
dirasakan pada penderita LBP bermacam-macam seperti nyeri terbakar, nyeri
tertusuk, nyeri tajam, hingga terjadi kelemahan pada tungkai (Idyan, 2008).
Nyeri ini terdapat pada daerah lumbal bawah, disertai penjalaran ke daerah-

17
daerah lain, antara lain sakroiliaka, koksigeus, bokong, kebawah lateral atau
posterior paha, tungkai, dan kaki (Bimariotejo, 2009).

6. Manifestasi klinis
Manifestasi klinis LBP tergantung dari jenis dan penyebabnya. Pasien
biasanya mengeluh nyeri punggung akut maupun kronik (berlangsung lebih
dari 3 bulan tanpa perbaikan), LBP memburuk saat berdiri atau duduk, kaku
pada pagi hari, nyeri sering merata dan menyebar. Kadang-kadang, dasar
organik LBP tak dapat ditemukan. Kecemasan dan stres dapat membangkitkan
spasme otot dan nyeri.

7. Penatalaksanaan LBP
a. Bedrest/ tirah baring
Pada saat LBP menyerang, hal pertama yang harus dilakukan adalah
mengurangi tekanan apapun pada tulang belakang. Apabila
memungkinkan membaringkan pasien ditempat tidur. Atur posisi yang
nyaman (Campbell, 2007). Penderita harus tetap berbaring di tempat tidur
selama beberapa hari dengan sikap tertentu. Tempat tidur tidak boleh
memakai pegas atau per, dengan demikian tempat tidur harus dari papan
lurus, dan kemudian ditutup dengan lembar busa tipis. Tirah baring ini
sangat bermanfaat untuk LBP mekanik akut, fraktur dan HNP. Pada HNP
sikap berbaring paling baik ialah dalam posisi setengah duduk dimana
tungkai dalam sikap fleksi pada sendi panggul dan lutut. Lama tirah baring
tergantung pada berat ringannya gangguan yang dirasakan penderita.
Trauma mekanik akut tidak perlu lama berbaring, HNP lebih lama, dan
kasus fraktur paling lama.
b. Kompres hangat atau dingin
Penggunaan kompres hangat meningkatkan aliran darah ke suatu area
dan kemungkinan dapat turut menurunkan nyeri. Kompres es dapat
menurunkan prostaglandin, yang memperkuat sensivitas reseptor nyeri dan
subkutan lain pada tempat cidera dengan menghambat proses inflamasi.

18
c. Medikamentosa
Obat-obatan mungkin perlu diberikan ntuk menangani nyeri akut.
Analgetik narkotik digunakan untuk memutus lingkaran nyeri, relaksan
otot dan penenang digunakan untuk membuat relaksasi pasien dan otot
yang mengalami spasme, sehingga dapat mengurangi nyeri. Obat anti
inflamasi seperti aspirin dan NSAID berguna untuk mengurangi nyeri.
Kortikosteroid jangka pendek dapat mengurangi respons inflamasi dan
mencegah timbulnya neurofibrosis, yang terjadi akibat gangguan iskemia.
Dokter dapat memberikan injeksi kortikosteroid epidural, suntikan
infiltrasi otot paraspinalis dengan anestesi local, atau menyuntik sendi
faset dengan steroid untuk menghilangkan nyeri.
d. Relaksasi otot
Relaksasi otot skeletal dipercaya dapat menurunkan nyeri dengan
merilekskan ketegangan otot yang menunjang nyeri. Teknik relaksasi yang
sederhana terdiri atas nafas abdomen dengan frekuensi lambat, berirama.
Pasien dapat memejamkan matanya dan bernafas dengan perlahan dan
nyaman.
e. Traksi
Untuk kasus seperti HNP dapat dilakukan pelvic traction. Alat- alat
untuk itu di rumah sakit sudah bekerja secara otomatis. Berat anak
timbangan yang diperlukan adalah 10-15 kg. Dengan traksi tersebut kedua
tungkai bebas bergerak, jadi tidak menjemukan penderita sehingga bisa
dilakukan pada masa yang cukup lama bahkan terus-menerus.
f. Korset lumbosakral
Korset digunakan sebagai tindakan jangka pendek. Korset membantu
otot relaks, dan mencegah pasien melakukan gerakan yang bisa
memperburuk LBP.
g. Latihan kekuatan dan kelentukan otot punggung / senam
Latihan fisik mencegah kontraktur dan atrofi tak terpakai (disused
atrophy) serta untuk melancarkan sirkulasi darah. Untuk golongan orang
tua anjuran untuk senam diberikan sebagai terapi pelengkap. Latihan

19
peregangan punggung bawah secara ringan bisa membantu meredakan
nyeri dan meningkatkan mobilitas. Anjurkan penderita melakukannya
dengan perlahan dan lembut, serta bernafas teratur selama latihan.

BAB III
ANALISA MASALAH

Tn. I, 54 tahun, sejak 1 bulan yang lalu, Os mengeluh nyeri pada pinggang
sebelah kiri. Nyeri tersebut dirasakan Os setelah jatuh dari berkendaraan motor.
Nyeri bersifat ringan, nyeri terasa ditarik-tarik, dan tidak disertai rasa kesemutan.
Nyeri berkurang pada saat istirahat. Os berobat kedokter diberi obat pengurang
rasa nyeri, dan nyeri berkurang. Sejak 2 minggu yang lalu nyeri terasa semakin
berat dan menjalar sampai ke pergelangan kaki. Kemudian Os berobat ke RSMH.
Pada pemeriksaan fisik umum ditemukan tekanan darah 130/70 mmHg.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan antalgik gait. Pada pemeriksaan fisik trunkus
ditemukan adanya penurunan luas gerak sendi lumbosakral, ante/retrofleksi,
laterofleksi dan rotasi. Selain itu ditemukan juga hasil yang positif pada
pemeriksaan lasegue, patrick, kontrapatrick, dan gaenslen pada tungkai kiri.

20
Dilihat dari faktor risiko pasien yaitu seorang laki-laki dengan usia 54 tahun
dan dari riwayat pekerjaannya yaitu seorang pegawai PNS yang setiap hari
mengendarai motor setiap berpergian. mengerjakan pekerjaan rumah, seperti
menyapu, mengepel, mengangkat air dan mencuci piring, hal ini bisa menjadi
fakor risiko terjadinya LBP pada pasien ini.
Low back pain (LBP) adalah nyeri di daerah punggung antara sudut bawah
kosta (tulang rusuk) sampai lumbosakral (sekitar tulang ekor). Nyeri juga bisa
menjalar ke daerah lain seperti punggung bagian atas dan pangkal paha. LBP atau
nyeri punggung bawah merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal yang
disebabkan oleh aktivitas tubuh yang kurang baik. Berdasarkan perjalanan
kliniknya LBP terbagi menjadi dua jenis, yaitu: Acute Low Back Pain dan Chronic
Low Back Pain.
Acute low back pain ditandai dengan rasa nyeri yang menyerang secara
tiba-tiba dan rentang waktunya hanya sebentar, antara beberapa hari sampai
beberapa minggu. Pada chronic low back pain rasa nyeri bisa menyerang lebih
dari 3 bulan. Rasa nyeri ini dapat berulang-ulang atau kambuh kembali. Fase ini
biasanya memiliki onset yang berbahaya dan sembuh pada waktu yang lama.
Chronic low back pain dapat terjadi karena osteoarthritis, rheumatoidarthritis,
proses degenerasi discus intervertebralis dan tumor. Beberapa faktor yang
menyebabkan LBP antara lain, kelainan tulang punggung bawaan lahir, trauma,
perubahan jaringan (osteoartritis, fibrositis, infeksi, dan lain-lain). Pada os, terjadi
chronic low back pain disebabkan oleh ekstrusio ringan diskus intervertebralis L5-
S1 disertai penekanan radiks kiri.
Tatalaksana pada os dilakukan fisioterapi yang bertujuan untuk
mengembalikan dan mengatasi gangguan, keterbatasan beraktivitas sehingga
pasien dapat beraktivitas kembali. Pada os dilakukan terapi panas dalam (SWD)
yang digunakan untuk memberikan efek analgetik, anti inflamasi, dan perbaikan
aliran darah. Selain itu, os juga disarankan untuk menggunakan korset lumbal
untuk memfiksasi tulang belakang sehingga tidak terjadi pergeseran.

21