Anda di halaman 1dari 243

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur pada Tuhan yang Mahakuasa karena atas ridho-Nya, Komite Standar
Akuntansi Pemerintahan (KSAP) dapat menyelesaikan modul-modul pelatihan Standar
Akuntansi Pemerintahan dilengkapi dengan slide.
Undang Undang Nomor 17 Tahun 2003 telah menegaskan bahwa pertanggungjawaban
pelaksanaan APBN/APBD disajikan dalam bentuk laporan keuangan. Laporan keuangan
berupa Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas
Laporan Keuangan disajikan sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan. Sehubungan
dengan hal tersebut, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar
Akuntansi Pemerintahan telah terbit pada tanggal 13 Juni 2005. Standar akuntansi
pemerintahan (SAP) sebagaimana diatur dalam PP tersebut menjadi pedoman dalam
penyajian laporan keuangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Standar akuntansi pemerintahan (SAP) merupakan hal yang baru dalam penyajian
pertanggung jawaban keuangan pemerintahan di Indonesia. Penyajian laporan
pertanggungjawaban keuangan tidak lagi hanya sekedar pelaksanaaan anggaran dan
realisasi tetapi lebih daripada itu. Dalam pertanggung jawaban pelaksanaan APBN/APBD
pemerintah harus menyajikan satu set laporan keuangan yang terdiri dari empat
komponen yang salaing berhubungan.

Penerapan SAP tidaklah mudah. Penerapan SAP memerlukan pemahaman yang


mendalam mengenai standar akuntansi dan proses penyusunan laporan keuangan. Untuk
itu perlu adanya orang-orang yang memahami Sap kemudian dapat
mengimplementasikan dan juga dapat menyebarkan pemahaman kepada pihak lain.
Modul ini dirancang untuk dapat memberikan pemehaman sekaligus dapat menularkan
kepada pihak lain mengenai materi yang tercakup dalam SAP.
Dengan ToT ini diharapkan akan timbul pemahaman yang lebih mendalam dan perhatian
yang berkesinambungan terhadap penerapan standar akuntansi.
Perlu ditekankan bahwa modul-modul ini tidak bersifat otoritatif. Modul-modul ini
disusun untuk mempermudah pemahaman atas substansi yang tertuang dalam SAP. Isi
modul yang mungkin berbeda dengan SAP harus dipahami dalam konteks SAP. Uraian-
uraian dalam modul-modul yang dipahami berbeda dengan SAP harus dikonfirmasikan
ke SAP. Dengan demikian otoritas SAP tidak terpengaruh oleh kemungkinan pemahaman
yang berbeda dengan adanya modul ini.

Semoga modul ini menjadi sumbangan yang berharga dalam membangun pemahaman
bersama untuk perbaikan pengelolaan keuangan negara menuju pada tata pengelolaan
yang baik (good governance).

Dengan ini juga diucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berusaha keras
untuk menghasilkan modul ini.
Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Modul Penyajian Laporan Keuangan ini disusun untuk memudahkan
pemahaman terhadap Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan Nomor 01
tentang Penyajian Laporan Keuangan. Modul ini disusun sebagai bahan
pelatihan untuk pelatih Standar Akuntansi Pemerintahan, sehingga dengan
mempelajari modul ini peserta diharapkan dapat belajar mandiri (self study)
atas materi Penyajian Laporan Keuangan pada pemerintah pusat maupun
daerah. Modul ini menguraikan kembali paragraf-paragraf SAP maupun
penjelasan disertai dengan contoh-contoh yang aplikatif sehingga diharapkan
dapat dijadikan rujukan dalam implementasi SAP yang berkaitan dengan
penyajian laporan keuangan.
Tujuan Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP) Nomor 01
adalah mengatur penyajian laporan keuangan untuk tujuan umum (general
purpose financial statements) dalam rangka meningkatkan keterbandingan
laporan keuangan baik terhadap anggaran, antar periode, maupun antar
entitas. Laporan keuangan untuk tujuan umum adalah laporan keuangan yang
ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pengguna
laporan. Untuk mencapai tujuan tersebut, standar ini menetapkan seluruh
pertimbangan dalam rangka penyajian laporan keuangan, pedoman struktur
laporan keuangan, dan persyaratan minimum isi laporan keuangan. PSAP
Nomor 01 ini berlaku untuk entitas pelaporan dalam menyusun laporan
keuangan suatu entitas pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan laporan
keuangan konsolidasian, tidak termasuk perusahaan negara/daerah.

B. Tujuan Pembelajaran
Tujuan Pembelajaran Umum:
Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta mampu:
1. Memahami Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)
2. Mengimplementasikan SAP dalam menyusun dan menyajikan laporan
keuangan.

Tujuan Pembelajaran Khusus:


Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta mampu:
1. Peserta memahami tujuan penyajian laporan keuangan;
2. Peserta memahami pengertian dan unsur-unsur laporan keuangan;
3. Peserta memahami pengertian dan pos-pos dalam neraca;
4. Peserta memahami pengakuan aset dan kewajiban;
5. Peserta memahami pengukuran aset dan kewajiban;
6. Peserta memahami penyajian dan pengungkapan aset dan kewajiban
dalam laporan keuangan;
7. Setelah memahami sebagaimana dimaksud pada angka 1 s.d 6 di
atas, peserta diharapkan mampu menerapkannya dalam penyusunan
dan penyajian laporan keuangan pemerintah.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 1


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

C. Deskripsi Ringkas
Materi Modul Penyajian Laporan Keuangan disusun sesuai dengan PSAP
01 dengan susunan tujuan laporan keuangan, basis akuntansi, jenis laporan
keuangan, periode pelaporan, hubungan antar komponen laporan keuangan,
unsur-unsur neraca, yaitu aset, kewajiban, dan ekuitas dana, serta soal
latihan.

D. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran dalam pelatihan ini dilakukan dengan cara
pemaparan teori oleh fasilitator yang diikuti dengan tanya jawab serta diskusi
soal-soal latihan dan contoh kasus yang berkaitan dengan Penyajian Laporan
Keuangan. Keberhasilan pembelajaran ini juga sangat tergantung pada
partisipasi aktif dari para peserta pelatihan dalam aktivitas diskusi, latihan,
dan tanya jawab.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 2


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB II
TUJUAN PELAPORAN KEUANGAN DAN BASIS AKUNTANSI

A. Tujuan Pelaporan Keuangan


Tujuan umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi mengenai
posisi keuangan, realisasi anggaran, arus kas, dan kinerja keuangan suatu
entitas pelaporan yang bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan
mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya. Secara spesifik,
tujuan pelaporan keuangan pemerintah adalah untuk menyajikan informasi
yang berguna untuk pengambilan keputusan dan untuk menunjukkan
akuntabilitas entitas pelaporan atas sumber daya yang dipercayakan
kepadanya, dengan:
a) menyediakan informasi mengenai posisi sumber daya ekonomi,
kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah;
b) menyediakan informasi mengenai perubahan posisi sumber daya
ekonomi, kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah;
c) menyediakan informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan
sumber daya ekonomi;
d) menyediakan informasi mengenai ketaatan realisasi terhadap
anggarannya;
e) menyediakan informasi mengenai cara entitas pelaporan mendanai
aktivitasnya dan memenuhi kebutuhan kasnya;
f) menyediakan informasi mengenai potensi pemerintah untuk membiayai
penyelenggaraan kegiatan pemerintahan;
g) menyediakan informasi yang berguna untuk mengevaluasi kemampuan
entitas pelaporan dalam mendanai aktivitasnya.
Laporan keuangan untuk tujuan umum juga mempunyai peranan
prediktif dan prospektif, menyediakan informasi yang berguna untuk
memprediksi besarnya sumber daya yang dibutuhkan untuk operasi yang
berkelanjutan, sumber daya yang dihasilkan dari operasi yang berkelanjutan,
serta risiko dan ketidakpastian yang terkait. Pelaporan keuangan juga
menyajikan informasi bagi pengguna mengenai:
a) indikasi apakah sumber daya telah diperoleh dan digunakan sesuai
dengan anggaran;
b) indikasi apakah sumber daya diperoleh dan digunakan sesuai dengan
ketentuan, termasuk batas anggaran yang ditetapkan oleh DPR/DPRD.
Untuk memenuhi tujuan umum ini, laporan keuangan menyediakan informasi
mengenai entitas pelaporan dalam hal: aset; kewajiban; ekuitas dana;
pendapatan; belanja; transfer; pembiayaan; dan arus kas.
Menurut PSAP 01 Paragraf 13, tanggung jawab penyusunan dan
penyajian laporan keuangan berada pada pimpinan entitas. Dalam lingkup
pemerintah daerah yang dimaksud dengan pimpinan entitas adalah setiap
kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) pada sebagai entitas akuntansi
dan setiap gubernur/bupati/walikota sebagai entitas pelaporan. Kewajiban dan
tanggung jawab penyusunan dan penyajian laporan keuangan untuk setiap
kepala SKPD juga dinyatakan dalam Pasal 56 ayat (2) huruf a Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, yang berbunyi:

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 3


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Kepala satuan kerja perangkat daerah selaku Pengguna


Anggaran/Pengguna Barang menyusun dan menyampaikan laporan
keuangan yang meliputi laporan realisasi anggaran, neraca, dan catatan
atas laporan keuangan

B. Basis Akuntansi
Basis akuntansi merupakan prinsip-prinsip akuntansi yang menentukan
kapan pengaruh atas transaksi atau kejadian harus diakui untuk tujuan
pelaporan keuangan. Basis akuntansi pada umumnya ada dua yaitu basis kas
(cash basis of accounting) dan basis akrual (accrual basis of accounting).
Dalam akuntansi berbasis kas, transaksi ekonomi dan kejadian lain
diakui ketika kas diterima oleh kas pemerintah (Kas Umum Negara/Kas Umum
Daerah) atau dibayarkan dari kas pemerintah (Kas Umum Negara/Kas Umum
Daerah). Sedangkan dalam akuntansi berbasis akrual berarti suatu basis
akuntansi di mana transaksi ekonomi dan peristiwa-peristiwa lain diakui dan
dicatat dalam catatan akuntansi dan dilaporkan dalam periode laporan
keuangan pada saat terjadinya transaksi tersebut, bukan pada saat kas atau
ekuivalen kas diterima atau dibayarkan. Contoh transaksi yang membedakan
basis kas dan basis akrual adalah dalam peristiwa pada saat pemerintah
menerbitkan Surat Keputusan Penetapan Pajak (SKPP). Dalam basis kas, saat
terbitnya SKPP tersebut belum diakui sebagai pendapatan, karena pemerintah
belum menerima kas. Namun, dalam basis akrual, terbitnya SKPP tersebut
oleh pemerintah sudah diakui sebagai pendapatan, walaupun pemerintah
belum menerima kas atas pendapatan pajak tersebut.
Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara, pemerintah diwajibkan menerapkan basis akuntansi
akrual secara penuh atas pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja
negara paling lambat tahun anggaran 2008. Sedangkan basis akuntansi yang
digunakan dalam penyusunan laporan keuangan pemerintah pada saat ini
menurut PSAP Nomor 01 adalah basis kas untuk pengakuan pendapatan,
belanja, transfer, dan pembiayaan dan basis akrual untuk pengakuan aset,
kewajiban, dan ekuitas dana. Basis kas adalah basis akuntansi yang mengakui
pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya pada saat kas atau setara kas
diterima atau dibayar. Sedangkan basis akrual adalah basis akuntansi yang
mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya pada saat transaksi dan
peristiwa itu terjadi, tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima
atau dibayar.
Entitas pelaporan diperkenankan untuk menyelenggarakan akuntansi
dan penyajian laporan keuangan dengan menggunakan sepenuhnya basis
akrual (fully accrual basis), baik dalam pengakuan pendapatan, belanja,
transfer, dan pembiayaan, maupun dalam pengakuan aset, kewajiban, dan
ekuitas dana. Namun, entitas pelaporan tersebut tetap menyajikan Laporan
Realisasi Anggaran (LRA) berdasarkan basis kas. Rekonsiliasi dari LRA
berbasis akrual ke LRA berbasis kas wajib disajikan dalam Catatan atas
Laporan Keuangan (CaLK).

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 4


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB III
STRUKTUR DAN ISI LAPORAN KEUANGAN

A. Jenis Laporan Keuangan


Dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD setiap entitas baik pemerintah
pusat, kementerian negara/lembaga, pemerintah daerah, dan satuan kerja di
tingkat pemerintah pusat/daerah wajib menyampaikan laporan
pertanggungjawaban berupa laporan keuangan. Sesuai dengan Undang-
Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, laporan keuangan
pemerintah pokok setidak-tidaknya terdiri atas:
a) Laporan Realisasi Anggaran (LRA),
b) Neraca,
c) Laporan Arus Kas (LAK),
d) Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).
Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan
atas Laporan Keuangan disajikan oleh setiap entitas pelaporan. Hal ini berarti
setiap gubernur/bupati/walikota wajib menyusun dan menyajikan keempat
laporan keuangan di atas. Sedangkan Laporan Arus Kas hanya disajikan oleh
unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan (Bendahara Umum
Negara/Kuasa Bendahara Umum Negara dan Bendahara Umum Daerah/Kuasa
Bendahara Umum Daerah. Dengan demikian kepala SKPD sebagai entitas
akuntansi tidak menyusun dan menyajikan Laporan Arus Kas.
Di samping menyajikan laporan keuangan pokok, suatu entitas
pelaporan diperkenankan menyajikan Laporan Kinerja Keuangan berbasis
akrual dan Laporan Perubahan Ekuitas. Laporan Kinerja Keuangan adalah
laporan yang menyajikan pendapatan dan beban serta surplus/defisit selama
suatu periode yang disusun berdasarkan basis akrual. Laporan Perubahan
Ekuitas adalah laporan yang menyajikan mutasi atau perubahan saldo ekuitas
dana pemerintah selama suatu periode.

1. Laporan Realisasi Anggaran


Laporan Realisasi Anggaran menggambarkan realisasi pendapatan,
belanja, dan pembiayaan selama suatu periode.
Laporan Realisasi Anggaran (LRA) mengungkapkan kegiatan
keuangan pemerintah pusat/daerah yang menunjukkan ketaatan terhadap
APBN/APBD dengan menyajikan ikhtisar sumber, alokasi dan penggunaan
sumber daya ekonomi yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah dalam
satu periode pelaporan. LRA menggambarkan perbandingan antara
anggaran dengan realisasinya dalam satu periode pelaporan.
LRA menyajikan sekurang-kurangnya unsur-unsur sebagai berikut:
a. Pendapatan
Pendapatan adalah semua penerimaan Rekening Kas Umum
Negara/Daerah yang menambah ekuitas dana lancar dalam periode
tahun anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah, dan
tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 5


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

b. Belanja
Belanja adalah semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum
Negara/Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode
tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh
pembayarannya kembali oleh pemerintah.
c. Transfer
Transfer adalah penerimaan/pengeluaran uang dari suatu entitas
pelaporan dari/kepada entitas pelaporan lain, termasuk dana
perimbangan dan dana bagi hasil.
d. Surplus/defisit
Surplus/defisit adalah selisih lebih/kurang antara pendapatan dan
belanja selama satu periode pelaporan.
e. Pembiayaan
Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali
dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun
anggaran bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya,
yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk
menutup defisit atau memanfaatkan surplus anggaran.
f. Sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran
Sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran (SiLPA/SiKPA) adalah selisih
lebih/kurang antara realisasi penerimaan dan pengeluaran APBN/APBD
selama satu periode pelaporan.
Unsur-unsur dari LRA dapat digambar dalam tabel di bawah ini:

a. Pendapatan Rp xxx
b. Belanja Rp xxx
c. Transfer Rp xxx
d. Surpus (Defisit) = (a (b+c)) Rp xxx
e. Pembiayaan (Neto) Rp xxx
f. Sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran = (d f) Rp xxx

Akuntansi LRA ini lebih detail diatur dalam PSAP Nomor 02 tentang
Laporan Realisasi Anggaran.

2. Neraca
Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan
mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas dana pada tanggal tertentu.
Mengenai neraca lebih detail dibahas dalam Bab III modul ini.

3. Laporan Arus Kas


Laporan Arus Kas (LAK) adalah laporan yang menyajikan informasi
mengenai sumber, penggunaaan, perubahan kas dan setara kas selama
satu periode akuntansi, dan saldo kas dan setara kas pada tanggal
pelaporan. Arus masuk dan keluar kas diklasifikasikan berdasarkan
aktivitas operasi, investasi aset nonkeuangan, pembiayaan, dan

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 6


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

nonanggaran. Penyajian LAK dan pengungkapan yang berhubungan


dengan arus kas diatur dalam PSAP Nomor 03 tentang Laporan Arus Kas.

4. Catatan atas Laporan Keuangan


Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) adalah bagian yang tak
terpisahkan dari laporan keuangan yang menyajikan informasi tentang
penjelasan pos-pos laporan keuangan dalam rangka pengungkapan yang
memadai. CaLK ditujukan agar laporan keuangan dapat dipahami dan
dibandingkan dengan laporan keuangan entitas lainnya. CaLK sekurang-
kurangnya disajikan dengan susunan sebagai berikut:
1). informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan, ekonomi makro,
pencapaian target Undang-Undang APBN/Perda APBD, berikut kendala
dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target;
2). ikhtisar pencapaian kinerja keuangan selama tahun pelaporan;
3). informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan-
kebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksi-
transaksi dan kejadian-kejadian penting lainnya;
4). pengungkapan informasi yang diharuskan oleh PSAP yang belum
disajikan dalam lembar muka laporan keuangan;
5). pengungkapan informasi untuk pos-pos aset dan kewajiban yang
timbul sehubungan dengan penerapan basis akrual atas pendapatan
dan belanja dan rekonsiliasinya dengan penerapan basis kas;
6). informasi tambahan yang diperlukan untuk penyajian yang wajar,
yang tidak disajikan dalam lembar muka laporan keuangan.

CaLK meliputi penjelasan atau daftar terinci atau analisis atas nilai
suatu pos yang disajikan dalam LRA, Neraca, dan LAK. Termasuk pula
dalam CaLK adalah penyajian informasi yang diharuskan dan dianjurkan
oleh SAP serta pengungkapan-pengungkapan lainnya yang diperlukan
untuk penyajian yang wajar atas laporan keuangan, seperti kewajiban
kontinjensi dan komitmen-komitmen lainnya.
Bagian kebijakan akuntansi pada CaLK setidak-tidaknya
menjelaskan hal-hal sebagai berikut:
1). basis pengukuran yang digunakan dalam penyusunan laporan
keuangan;
2). sampai sejauh mana kebijakan-kebijakan akuntansi yang berkaitan
dengan ketentuan-ketentuan masa transisi SAP diterapkan oleh suatu
entitas pelaporan; dan
3). setiap kebijakan akuntansi tertentu yang diperlukan untuk memahami
laporan keuangan.
Untuk menentukan apakah suatu kebijakan akuntansi perlu
diungkapkan, manajemen harus mempertimbangkan apakah
pengungkapan tersebut dapat membantu pengguna untuk memahami
setiap transaksi yang tercermin dalam laporan keuangan. Kebijakan-
kebijakan akuntansi yang perlu dipertimbangkan untuk disajikan meliputi,
tetapi tidak terbatas pada, hal-hal sebagai berikut:
1). Pengakuan pendapatan;

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 7


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

2). Pengakuan belanja;


3). Prinsip-prinsip penyusunan laporan konsolidasian;
4). Investasi;
5). Pengakuan dan penghentian/penghapusan aset berwujud dan tidak
berwujud;
6). Kontrak-kontrak konstruksi;
7). Kebijakan kapitalisasi pengeluaran;
8). Kemitraan dengan fihak ketiga;
9). Biaya penelitian dan pengembangan;
10). Persediaan, baik yang untuk dijual maupun untuk dipakai sendiri;
11). Dana cadangan;
12). Penjabaran mata uang asing dan lindung nilai.

Suatu entitas pelaporan juga dapat mengungkapkan hal-hal berikut


ini apabila belum diinformasikan dalam bagian manapun dari laporan
keuangan, yaitu:
1). domisili dan bentuk hukum suatu entitas serta jurisdiksi dimana
entitas tersebut beroperasi;
2). penjelasan mengenai sifat operasi entitas dan kegiatan pokoknya;
3). ketentuan perundang-undangan yang menjadi landasan kegiatan
operasionalnya.
Catatan atas Laporan Keuangan diatur secara detail dalam PSAP Nomor 04
tentang Catatan atas Laporan Keuangan.

B. Periode Pelaporan
Laporan keuangan disajikan sekurang-kurangnya sekali dalam setahun.
Penyajian laporan keuangan sebagai laporan pertanggungjawaban
pelaksanaan APBN/APBD diwajibkan untuk setiap periode tahun anggaran
APBN/APBD, di mana dalam masa 1 (satu) tahun anggaran terhitung mulai 1
Januari sampai dengan tanggal 31 Desember. Dengan demikian, periode
pelaporan keuangan tahunan adalah per tanggal 31 Desember untuk Neraca,
dan untuk tahun yang berakhir 31 Desember untuk LRA dan LAK.
Dalam situasi tertentu, tanggal laporan suatu entitas berubah dan
laporan keuangan tahunan disajikan dengan suatu periode yang lebih panjang
atau lebih pendek dari satu tahun, misalnya sehubungan dengan adanya
perubahan tahun anggaran. Contoh selanjutnya adalah dalam masa transisi
dari akuntansi berbasis kas ke akrual, suatu entitas pelaporan mengubah
tanggal pelaporan entitas-entitas akuntansi yang berada dalam entitas
pelaporan untuk memungkinkan penyusunan laporan keuangan konsolidasian.
Dalam kondisi seperti itu entitas pelaporan harus mengungkapkan informasi
mengenai alasan penggunaan periode pelaporan tidak satu tahun, dan fakta
bahwa jumlah-jumlah komparatif untuk laporan tertentu seperti arus kas dan
catatan-catatan terkait tidak dapat diperbandingkan.
Sesuai dengan UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara,
batas waktu penyampaian laporan keuangan sebagai laporan
pertanggungjawaban pelaksanaan APBN/APBD selambat-lambatnya 6 (enam)
bulan setelah berakhirnya tahun anggaran. Dengan demikian, kegunaan
laporan keuangan tersebut berkurang bilamana laporan tidak tersedia bagi

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 8


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

pengguna dalam suatu periode tertentu setelah tanggal pelaporan. Faktor-


faktor yang dihadapi seperti kompleksitas operasi suatu entitas pelaporan
bukan merupakan alasan yang cukup atas kegagalan pelaporan yang tepat
waktu.
Selain laporan keuangan tahunan, setiap entitas pelaporan juga
diwajibkan menyusun laporan keuangan interim, yaitu setidak-tidaknya setiap
semester sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 20
Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian
Negara/Lembaga dan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang
Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah.

C. Hubungan antar Komponen Laporan Keuangan


Pos-pos yang terdapat dalam masing-masing laporan keuangan adalah
saling terkait satu sama lain.
1. Laporan Realisasi Anggaran dengan Laporan Arus Kas.
Pos-pos pendapatan, belanja, dan pembiayaan yang disajikan dalam
Laporan Realisasi Anggaran (LRA) pada dasarnya sama dengan pos-pos
yang disajikan dalam Laporan Arus Kas (LAK), karena Laporan Realisasi
Anggaran disusun berdasarkan basis kas. Perbedaan utama antara LRA
dan LAK adalah disajikannya transaksi nonanggaran di LAK tetapi tidak
disajikan di LRA. Disamping itu juga terdapat perbedaan klasifikasi
anggaran karena perbedaan tujuan pelaporannya.

2. Laporan Realisasi Anggaran dengan Neraca


Keterkaitan antara Laporan Realisasi Anggaran dengan Neraca
adalah dalam penghitungan Saldo Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan
Anggaran (SiLPA/SiKPA). SiLPA /SiKPA dalam Laporan Realisasi Anggaran
yang merupakan selisih antara surplus/defisit dan total pembiayaan akan
dimasukkan pada perkiraan Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran
dalam Neraca sebagai Ekuitas Dana Lancar. Perkiraan Sisa Lebih/Kurang
Pembiayaan Anggaran dalam Neraca tersebut merupakan akumulasi
SiLPA/SiKPA dalam LRA dari tahun-tahun sebelumnya.

3. Neraca dengan Laporan Arus Kas


Keterkaitan antara Neraca dan LAK adalah dalam penyajian saldo
kas. Selisih antara saldo awal dan akhir Kas di Bendahara Umum
Negara/Kas di Kas Daerah dalam Neraca merupakan kenaikan/penurunan
kas sebagaimana yang disajikan dalam LAK. Dengan kata lain selisih saldo
awal dan akhir kas di Kas Daerah dalam Neraca harus sama dengan
kenaikan/penurunan kas dalam Laporan Arus Kas. Selain itu saldo akhir
kas di Kas Daerah dalam Neraca harus sama dengan saldo akhir kas di Kas
Umum Negara/Daerah dalam Laporan Arus Kas.

4. Catatan atas Laporan Keuangan dengan Laporan Realisasi


Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas
Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) merupakan bagian yang tak
terpisahkan dari LRA, Neraca, dan LAK, karena CaLK menjelaskan/
mengungkapkan lebih rinci atas pos-pos dalam LRA, Neraca, dan LAK
tersebut.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 9


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB IV
NERACA

Neraca merupakan laporan yang menggambarkan posisi keuangan


suatu entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas dana pada
tanggal pelaporan. Neraca terdiri dari aset, kewajiban, dan ekuitas dana (net
asset). Ekuitas dana merupakan selisih dari aset setelah dikurangi kewajiban,
atau dalam persamaan akuntansi dapat dirumuskan:
Aset = Kewajiban + Ekuitas Dana
Hubungan aset, kewajiban, dan ekuitas dana dapat digambarkan dalam
bentuk diagram sebagai berikut:
Neraca
Aset Rp XXX Kewajiban Rp XXX
Ekuitas Dana Rp XXX
Total Rp XXX Total Rp XXX

A. Aset
Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh
pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat
ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh
pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang,
termasuk sumber daya nonkeuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa
bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena
alasan sejarah dan budaya.
Aset diakui pada saat potensi manfaat ekonomi masa depan diperoleh
oleh pemerintah dan mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan
andal. Aset diakui pada saat diterima atau kepemilikannya dan/atau
kepenguasaannya berpindah. Jika suatu entitas memiliki aset moneter dalam
mata uang asing maka harus dijabarkan dan dinyatakan dalam mata uang
rupiah. Penjabaran mata uang asing tersebut menggunakan kurs tengah bank
sentral pada tanggal neraca. Aset diklasifikasikan menjadi aset lancar dan
aset nonlancar.

1. Aset Lancar
Suatu aset diklasifikasikan sebagai aset lancar jika:
1. diharapkan segera untuk direalisasikan, dipakai, atau dimiliki untuk
dijual dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan,
atau
2. berupa kas dan setara kas.
Aset lancar disajikan dalam neraca meliputi kas dan setara kas, investasi
jangka pendek, piutang, dan persediaan.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 10


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

a). Kas dan Setara Kas


Kas diakui pada saat diterima atau pada saat kepemilikannya
dan/atau kepenguasaannya berpindah. Kas dicatat sebesar nilai
nominal artinya disajikan sebesar nilai rupiah tersebut. Apabila terdapat
kas dalam valuta asing, maka kas tersebut dikonversi menjadi rupiah
dengan menggunakan kurs tengah BI pada tanggal laporan. Termasuk
dalam klasifikasi kas adalah kas di bank, kas yang dipegang bendahara,
dan deposito berjangka kurang dari 3 (tiga) bulan. Dalam neraca
pemerintah daerah, kas biasanya disajikan meliputi kas di kas daerah,
kas di bendahara penerimaan, dan kas di bendahara pengeluaran.
Perkiraan pasangan (balancing account) Kas di Kas Daerah dalam
neraca adalah Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA), yang dapat
digambarkan dalam diagram sebagai berikut:

Debet Kredit
Aset Lancar Ekuitas Dana Lancar
Kas di Kas Daerah Rp XXX SILPA Rp XXX

* SILPA disajikan di Neraca sebagai


Ekuitas Dana Lancar.

Perkiraan pasangan (balancing account) Kas di Bendahara


Pengeluaran dalam neraca adalah Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran
(SILPA), yang dapat digambarkan dalam diagram sebagai berikut:

Debet Kredit
Aset Lancar Ekuitas Dana Lancar
Kas di Bendahara
Pengeluaran Rp XXX SILPA Rp XXX

Perkiraan pasangan (balancing account) Kas di Bendahara


Penerimaan dalam neraca adalah Pendapatan yang Ditangguhkan, yang
dapat digambarkan dalam diagram sebagai berikut:
Debet Kredit
Aset Lancar Ekuitas Dana Lancar
Kas di Bendahara Pendapatan yang
Pengeluaran Rp XXX Ditangguhkan Rp XXX

* Pendapatan yang Ditangguhkan


disajikan di Neraca sebagai
Ekuitas Dana Lancar.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 11


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Pada neraca, kas disajikan sebagai berikut:


Kas dan Setara Kas
Kas di Kas Daerah Rp XXX
Kas di Bendahara Pengeluaran* Rp XXX
Kas di Bendahara Penerimaan* Rp XXX
Deposito (2 bulan)** Rp XXX
Total Kas dan setara kas Rp XXX
*) Rincian kas di bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran
pada beberapa SKPD dapat diungkapkan dalam catatan atas laporan
keuangan.
**) Apabila pemerintah daerah memiliki deposito berjangka kurang dari
3 bulan pada beberapa bank, maka rincian atau daftar dari deposito
tersebut dapat diungkap dalam catatan atas laporan keuangan.

b). Investasi Jangka Pendek


Investasi jangka pendek diakui pada saat terjadinya pemindahan
kepemilikan, yaitu pada saat pemerintah menerima bukti investasi. Pos-
pos investasi jangka pendek antara lain deposito berjangka 3 (tiga)
sampai 12 (dua belas) bulan dan surat berharga yang mudah
diperjualbelikan. Investasi jangka pendek dicatat sebesar nilai
perolehan. Jenis-jenis deposito beserta jangka waktunya perlu diungkap
dalam catatan atas laporan keuangan. Akuntansi investasi jangka
pendek diatur lebih detail dalam PSAP Nomor 06 tentang Akuntansi
Investasi.
Perkiraan pasangan (balancing account) Investasi Jangka Pendek
dalam neraca adalah Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA), yang
dapat digambarkan dalam diagram sebagai berikut:

Debet Kredit
Aset Lancar Ekuitas Dana Lancar
Investasi Jangka Pendek Rp XXX SILPA Rp XXX

c). Piutang
Pos-pos piutang antara lain terdiri dari piutang pajak, piutang
retribusi, bagian lancar tagihan penjualan angsuran, bagian lancar
tuntutan ganti rugi, dan piutang lainnya yang diharapkan diterima
dalam waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan. Piutang
dicatat sebesar nilai nominalnya.
Penjualan aset, seperti rumah dinas kepada pegawai negeri sipil
biasanya diangsur lebih dari 12 bulan. Penjualan tersebut oleh
pemerintah disebut sebagai Tagihan Penjualan Angsuran (TPA). Dalam
neraca, TPA akan disajikan sebagai aset lainnya, sedangkan TPA yang
akan jatuh tempo dalam jangka waktu 12 bulan setelah tanggal
pelaporan, akan direklasifikasi dan disajikan tersendiri dalam aset

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 12


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

lancar sebagai Bagian Lancar TPA. Reklasifikasi TPA ini dilakukan hanya
untuk tujuan penyusunan neraca karena pembayaran atas tagihan
penjualan angsuran akan mengurangi perkiraan Tagihan Penjualan
Angsuran bukan Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran.
Bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, atau pejabat lain
yang karena perbuatannya melanggar hukum atau melalaikan
kewajiban yang dibebankan kepadanya secara langsung merugikan
keuangan Negara, wajib mengganti kerugian tersebut. Sejumlah
kewajiban untuk mengganti kerugian tersebut dikenal dengan istilah
Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi (TP/TGR). Dalam
neraca, TP/TGR disajikan sebagai aset lainnya, sedangkan TP/TGR yang
akan jatuh tempo dalam jangka waktu 12 bulan setelah tanggal
pelaporan, akan direklasifikasi dan disajikan tersendiri dalam aset
lancar sebagai Bagian Lancar TP/TGR. Reklasifikasi TP/TGR ini
dilakukan hanya untuk tujuan penyusunan neraca. Pada awal tahun
berikutnya bagian lancar piutang ini dikembalikan pada TP/TGR dalam
kelompok aset lainnya karena penerimaan kembali dari Tuntutan Ganti
Rugi akan mengurangi perkiraan Tuntutan Ganti Rugi bukan Bagian
Lancar Tuntutan Ganti Rugi.
Perkiraan pasangan (balancing account) Piutang Pajak, Piutang
Retribusi, Bagian Lancar TPA, dan Bagian Lancar TP/TGR dalam neraca
adalah Cadangan Piutang, yang dapat digambarkan dalam diagram
sebagai berikut:
Debet Kredit
Aset Lancar Ekuitas Dana Lancar
Piutang Pajak Rp XXX Cadangan Piutang* Rp XXX
Piutang Retribusi Rp XXX
Bagian Lancar TPA Rp XXX
Bagian Lancar TP/TGR Rp XXX

* Cadangan Piutang yang


disajikan di Neraca sebagai
Ekuitas Dana Lancar.

Rincian jenis piutang pajak, retribusi, bagian lancar TPA dan TP/TGR
dapat diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.

d). Persediaan
Persediaan mencakup barang atau perlengkapan yang dibeli dan
disimpan untuk digunakan, misalnya barang pakai habis seperti alat
tulis kantor, barang tak habis pakai seperti komponen peralatan dan
pipa, dan barang bekas pakai seperti komponen bekas. Jenis-jenis
persediaan beserta nilainya perlu diungkap dalam catatan atas laporan
keuangan.
Pada umumnya metode pencatatan persediaan ada 2 metode,
yaitu metode periodik dan metode perpetual. Dalam metode periodik,
persediaan dicatat berdasarkan penghitungan/ inventarisasi fisik
persediaan yang dilakukan pada akhir periode pelaporan. Sedangkan
dalam metode perpetual, persediaan dicatat setiap terjadi transaksi

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 13


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

yang mengakibatkan penambahan atau pengurangan persediaan.


Metode periodik biasanya digunakan untuk persediaan yang berjumlah
banyak dengan harga relatif rendah, sedangkan metode perpetual
biasanya digunakan untuk persediaan yang berjumlah relatif sedikit
dengan harga relatif tinggi.
Sesuai dengan PSAP 01, Persediaan dicatat sebesar:
- biaya perolehan apabila diperoleh dengan pembelian;
- biaya standar apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri;
- nilai wajar apabila diperoleh dengan cara lainnya seperti
donasi/rampasan.
Biaya perolehan atas persediaan sebagaimana dimaksud di atas
meliputi harga pembelian, biaya pengangkutan, biaya penanganan dan
biaya lainnya yang secara langsung dapat dibebankan pada perolehan
persediaan. Sedangkan potongan harga, rabat, dan lainnya yang serupa
mengurangi biaya perolehan. Dalam rangka penyajian nilai wajar, nilai
pembelian yang digunakan adalah biaya perolehan persediaan yang
terakhir diperoleh.
Biaya standar persediaan meliputi biaya langsung yang terkait
dengan persediaan yang diproduksi dan biaya tidak langsung yang
dialokasikan secara sistematis berdasarkan ukuran-ukuran yang
digunakan pada saat penyusunan rencana kerja dan anggaran.
Perkiraan pasangan (balancing account) Persediaan dalam neraca
adalah Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA), yang dapat
digambarkan dalam diagram sebagai berikut:

Debet Kredit
Aset Lancar Ekuitas Dana Lancar
Persediaan Rp XXX Cadangan Persediaan* Rp XXX

* Cadangan Persediaan yang


disajikan di Neraca sebagai
Ekuitas Dana Lancar.

Akuntansi mengenai persediaan diatur secara rinci dalam PSAP Nomor


05 tentang Akuntansi Persediaan.
Secara keseluruhan, penyajian aset lancar dalam neraca adalah:
Aset Lancar
Kas Rp XXX
Investasi Jangka Pendek Rp XXX
Piutang Pajak Rp XXX
Piutang Retribusi Rp XXX
Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran Rp XXX
Bagian Lancar Tagihan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rp XXX
Rugi
Persediaan Rp XXX
Total Aset Lancar Rp XXX

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 14


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

2. Aset Nonlancar
Aset nonlancar mencakup aset yang bersifat jangka panjang dan aset
tak berwujud, yang digunakan secara langsung atau tidak langsung untuk
kegiatan pemerintah atau yang digunakan masyarakat umum. Yang termasuk
dalam aset nonlancar adalah aset yang tidak memenuhi kriteria sebagai aset
lancar sebagaimana diuraikan terdahulu.
Aset nonlancar diklasifikasikan menjadi investasi jangka panjang, aset
tetap, dana cadangan, dan aset lainnya.
a). Investasi Jangka Panjang
Investasi jangka panjang adalah investasi yang dimaksudkan
untuk dimiliki selama lebih dari 12 (dua belas) bulan. Investasi jangka
panjang dicatat sebesar biaya perolehan termasuk biaya tambahan
lainnya yang terjadi untuk memperoleh kepemilikan yang sah atas
investasi tersebut. Investasi jangka panjang terdiri dari investasi
nonpermanen dan investasi permanen. Investasi nonpermanen adalah
investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara tidak
berkelanjutan. Investasi nonpermanen terdiri dari:
1. Pinjaman kepada perusahaan negara/daerah;
2. Pembelian Obligasi Daerah atau Surat Utang Negara;
3. Penanaman modal dalam proyek pembangunan yang dapat
dialihkan kepada pihak ketiga; dan
4. Investasi nonpermanen lainnya.
Investasi permanen adalah investasi jangka panjang yang
dimaksudkan untuk dimiliki secara berkelanjutan. Investasi permanen
terdiri dari:
1. Penyertaan Modal Pemerintah pada perusahaan negara/
perusahaan daerah, lembaga keuangan negara, badan hukum
milik negara, badan internasional dan badan hukum lainnya
bukan milik negara.
2. Investasi permanen lainnya.
Perkiraan pasangan (balancing account) Investasi Jangka
Panjang dalam neraca adalah Diinvestasikan dalam Investasi Jangka
Panjang, yang dapat digambarkan dalam diagram sebagai berikut:

Debet Kredit
Investasi Jangka Panjang Ekuitas Dana Investasi
Pinjaman kepada Perusahaan Negara Rp XXX Diinvestasikan dalam
Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Rp XXX Investasi Jangka Panjang* Rp XXX
Investasi Obligasi Rp XXX
Investasi Nonpermanen Lainnya Rp XXX
Penanaman Modal Pemerintah Rp XXX
Investasi Permanen Lainnya Rp XXX

* Diinvestasikan dalam Investasi


Jangka Panjang disajikan di
Neraca sebagai Ekuitas Dana
Investasi.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 15


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Penyajian Investasi Jangka Panjang dalam neraca adalah:


Investasi Jangka Panjang
Investasi Nonpermanen Rp XXX
Pinjaman kepada Perusahaan Negara Rp XXX
Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Rp XXX
Investasi Obligasi Rp XXX
Investasi Nonpermanen Lainnya Rp XXX
Total Investasi Nonpermanen Rp XXX
Investasi Permanen Rp XXX
Penanaman Modal Pemerintah Rp XXX
Investasi Permanen Lainnya Rp XXX
Total Investasi Permanen Rp XXX
Total Investasi Jangka Panjang Rp XXX

Rincian atas masing-masing jenis investasi jangka panjang dapat


diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.
Akuntansi Investasi Jangka Panjang diatur secara rinci dalam PSAP
Nomor 06 tentang Akuntansi Investasi.

b). Aset Tetap


Aset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat
lebih dari dua belas bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah
atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Aset tetap dicatat sebesar
biaya perolehan. Apabila penilaian aset tetap dengan menggunakan
biaya perolehan tidak memungkinkan, maka nilai aset tetap didasarkan
pada nilai wajar pada saat perolehan. Selain tanah dan konstruksi
dalam pengerjaan, seluruh aset tetap dapat disusutkan sesuai dengan
sifat dan karakteristik aset tersebut. Biaya perolehan aset tetap yang
dibangun dengan cara swakelola meliputi biaya langsung untuk tenaga
kerja, bahan baku, dan biaya tidak langsung termasuk biaya
perencanaan dan pengawasan, perlengkapan, tenaga listrik, sewa
peralatan, dan semua biaya lainnya yang terjadi berkenaan dengan
pembangunan aset tetap tersebut.
Aset tetap terdiri dari:
1. Tanah
2. Peralatan dan Mesin
3. Gedung dan Bangunan
4. Jalan, Irigasi, dan Jaringan
5. Aset Tetap Lainnya
6. Konstruksi dalam Pengerjaan.

Perkiraan pasangan (balancing account) Aset Tetap dalam neraca


adalah Diinvestasikan dalam Investasi Aset Tetap, yang dapat
digambarkan dalam diagram sebagai berikut:

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 16


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Debet Kredit
Aset Tetap Ekuitas Dana Investasi
Tanah Rp XXX Diinvestasikan dalam
Peralatan dan Mesin Rp XXX Aset tetap* Rp XXX
Gedung dan Bangunan Rp XXX
Jalan, irigasi, dan Jaringan Rp XXX
Aset Tetap Lainnya Rp XXX
Konstruksi dalam Pengerjaan Rp XXX

* Diinvestasikan dalam Aset


Tetap disajikan di Neraca
sebagai Ekuitas Dana
Investasi.

Penyajian aset tetap dalam neraca adalah:


Aset Tetap
Tanah Rp XXX
Peralatan dan Mesin Rp XXX
Gedung dan Bangunan Rp XXX
Jalan, Irigasi, dan Jaringan Rp XXX
Aset Tetap Lainnya Rp XXX
Konstruksi dalam Pengerjaan Rp XXX
Total Rp XXX
Dikurangi:
Akumulasi Penyusutan (Rp XXX)
Total Aset Tetap Rp XXX

Jenis, umur, dan kondisi dari masing-masing aset tetap dapat


diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.
Akuntansi Aset Tetap diatur lebih rinci dalam PSAP Nomor 07
tentang Akuntansi Aset Tetap.

c). Dana Cadangan


Dana Cadangan adalah dana yang disisihkan untuk menampung
kebutuhan yang memerlukan dana relatif besar yang tidak dapat
dipenuhi dalam satu tahun anggaran. Pembentukan dana cadangan
diakui pada saat dilakukan penyisihan uang untuk tujuan pencadangan
dimaksud.
Dana cadangan dirinci menurut tujuan pembentukannya.
Peruntukan dana cadangan harus diatur dengan peraturan perundang-
undangan dan tidak dapat digunakan untuk peruntukan yang lain.
Pembentukan dana cadangan dapat dilakukan jika keadaan keuangan
pemerintah mengalami surplus anggaran. Pembentukan dana cadangan
dilakukan dengan persetujuan DPRD, demikian juga pada waktu
pencairan dana tersebut. Pemerintah dapat membentuk lebih dari satu
Dana Cadangan. Apabila terdapat lebih dari satu dana cadangan, maka
dana cadangan harus diungkapkan dan dirinci sesuai dengan tujuannya.
Sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 58
Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, dana cadangan

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 17


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

yang dibentuk pemerintah daerah dapat bersumber dari penyisihan atas


penerimaan daerah kecuali DAK, pinjaman daerah, dan penerimaan lain
yang penggunaannya dibatasi untuk pengeluaran tertentu berdasarkan
peraturan perundang-undangan. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor
58 Tahun 2005 juga menyatakan bahwa penggunaan dana cadangan
dalam satu tahun anggaran menjadi penerimaan pembiayaan APBD
dalam tahun anggaran yang bersangkutan, kemudian seluruh hasil
yang diperoleh dari pengelolaan dana cadangan akan menambah dana
cadangan yang bersangkutan dan dicatat sebagai pendapatan.
Perkiraan pasangan (balancing account) Dana Cadangan dalam
neraca adalah Diinvestasikan dalam Dana Cadangan, yang dapat
digambarkan dalam diagram sebagai berikut:

Debet Kredit
Dana Cadangan Ekuitas Dana Cadangan
Dana Cadangan Rp XXX Diinvestasikan dalam
Dana Cadangan Rp XXX

Penyajian Dana Cadangan di neraca adalah:


Dana Cadangan
Dana Cadangan Rp XXX
Total Dana Cadangan Rp XXX
Informasi mengenai jenis dana cadangan dapat diungkapkan
dalam catatan atas laporan keuangan.

d). Aset Lainnya


Yang termasuk dalam aset lainnya adalah:
1. Aset Tak Berwujud
2. Tagihan Penjualan Angsuran yang jatuh tempo lebih dari 12
(dua belas) bulan
3. Tuntutan perbendaharaan/tuntutan ganti rugi yang jatuh
tempo lebih dari 12 (dua belas) bulan
4. Aset Kerjasama dengan Fihak Ketiga (Kemitraan).
Aset tak berwujud (intangible asset) adalah aset nonkeuangan
yang dapat diidentifikasi dan tidak mempunyai wujud fisik serta dimiliki
untuk digunakan dalam menghasilkan barang atau jasa atau digunakan
untuk tujuan lainnya termasuk hak atas kekayaan intelektual. Aset tak
berwujud meliputi :
1. Software komputer
2. Lisensi dan franchise
3. Hak cipta (copyright), paten, goodwill dan hak lainnya
4. Hak jasa dan operasi
5. Aset tak berwujud dalam pengembangan.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 18


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Tagihan Penjualan Angsuran menggambarkan jumlah yang dapat


diterima dari penjualan aset pemerintah secara angsuran kepada
pegawai pemerintah. Tagihan penjualan angsuran dinilai sebesar nilai
nominal dari kontrak penjualan aset yang bersangkutan. Contoh
tagihan penjualan angsuran antara lain adalah penjualan rumah dinas
dan penjualan kendaraan dinas.
Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi menggambarkan
tagihan kepada pegawai pemerintah yang terbukti menyalahgunakan
uang negara atau menghilangkan aset pemerintah. Tuntutan
perbendaharaan/tuntutan ganti rugi dinilai sebesar nilai nominal dalam
Surat Ketetapan Tanggung jawab Mutlak atau Surat Keputusan
Pembebanan dari pejabat yang berwenang.
Kemitraan dengan Pihak Ketiga menggambarkan nilai hak yang
akan diperoleh atas suatu aset yang dibangun dengan cara kemitraan
pemerintah dan swasta berdasarkan perjanjian. Kemitraan dengan
pihak ketiga dinilai sebesar nilai kontrak kerjasama antara pemerintah
dengan pihak ketiga. Bentuk kemitraan tersebut antara lain berupa
penyaluran kredit, pemberian modal usaha, pemberian modal kerja,
Bangun Guna Serah (BOT) Bangun Guna Terima (BOO), Bangun Guna
Sewa (BOR) dan bentuk kemitraan lainnya.
Perkiraan pasangan (balancing account) Aset Lainnya dalam
neraca adalah Diinvestasikan dalam Aset Lainnya, yang dapat
digambarkan dalam diagram sebagai berikut:

Debet Kredit
Aset Lainnya Ekuitas Dana Investasi
Aset Tak Berwujud Rp XXX Diinvestasikan dalam
Tagihan Penjualan Angsuran Rp XXX Aset Lainnya* Rp XXX
Tuntutan Perbendaraan/Tuntutan Ganti Rugi Rp XXX
Kemitraan dengan Pihak Ketiga Rp XXX

* Diinvestasikan dalam Aset


Lainnya disajikan di Neraca
sebagai Ekuitas Dana Investasi.
Penyajian aset lainnya dalam neraca adalah:
Aset Lainnya
Tagihan Penjualan Angsuran Rp XXX
Tuntutan Perbendaraan/Tuntutan Ganti Rugi Rp XXX
Kemitraan dengan Pihak Ketiga Rp XXX
Aset Tak Berwujud Rp XXX
Aset Lain-lain Rp XXX
Total Aset Lainnya Rp XXX
Informasi mengenai jenis dari masing-masing komponen aset
lainnya dapat diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.

B. Kewajiban
Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang
penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 19


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

pemerintah. Kewajiban diakui jika besar kemungkinan bahwa pengeluaran


sumber daya ekonomi akan dilakukan atau telah dilakukan untuk
menyelesaikan kewajiban yang ada sekarang, dan perubahan atas kewajiban
tersebut mempunyai nilai penyelesaian yang dapat diukur dengan andal.
Kewajiban diakui pada saat dana pinjaman diterima atau pada saat kewajiban
timbul.
Kewajiban dicatat sebesar nilai nominal. Kewajiban dalam mata uang
asing dijabarkan dan dinyatakan dalam mata uang rupiah. Penjabaran mata
uang asing menggunakan kurs tengah bank sentral (Bank Indonesia) pada
tanggal neraca.
Kewajiban diklasifikasikan menjadi kewajiban jangka pendek dan
kewajiban jangka panjang.
1. Kewajiban Jangka Pendek
Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek jika
diharapkan dibayar dalam waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal
pelaporan. Kewajiban jangka pendek dapat dikategorikan dengan cara yang
sama seperti aset lancar. Beberapa kewajiban jangka pendek, seperti utang
transfer pemerintah atau utang kepada pegawai merupakan suatu bagian
yang akan menyerap aset lancar dalam tahun pelaporan berikutnya.
Kewajiban jangka pendek lainnya adalah kewajiban yang jatuh tempo dalam
waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan. Misalnya bunga
pinjaman, utang jangka pendek kepada pihak ketiga, utang perhitungan fihak
ketiga (PFK), dan bagian lancar utang jangka panjang.
Kewajiban jangka pendek antara lain terdiri atas:
a. Bagian lancar utang jangka panjang
Bagian lancar utang jangka panjang merupakan bagian utang jangka
panjang yang diharapkan akan dibayar dua belas bulan sesudah
tanggal pelaporan. Contohnya Pemerintah daerah XYZ meminjam
uang kepada Pemerintah Pusat sebesar Rp20 miliar pada tanggal 1
Oktober 2005. Pinjaman tersebut dibayar mulai tahun 2006 sampai
2015 (selama 10 Tahun). Pemda XYZ akan melaporkan Bagian
Lancar Utang kepada Pemerintah Pusat sebesar yang akan dibayar
pada tahun 2006 yaitu Rp2 miliar.
b. Utang Bunga
Utang bunga merupakan utang yang timbul pada akhir periode
pelaporan sehubungan dengan adanya bunga terutang akibat dari
adanya pinjaman yang diambil pemerintah.
c. Utang PFK
Utang PFK merupakan utang yang timbul akibat pemerintah kurang
menyetor kepada pihak lain atas pungutan Penerimaan Perhitungan
Pihak Ketiga (PFK) yang dilakukannya. Dengan kata lain Utang PFK
adalah Penerimaan PFK dikurangi Pengeluaran PFK. Sebagai contoh,
Pemerintah daerah ABC melakukan pemotongan dari gaji untuk
iuran Tabungan Asuransi Pensiun (Taspen) Rp10 juta selama tahun
2005. Tetapi Pemerintah daerah tersebut baru menyetor ke rekening
PT Taspen sebesar Rp8 juta selama tahun 2005. Utang PFK yang
dilaporkan adalah sebesar Rp2 juta.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 20


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Perkiraan pasangan (balancing account) Kewajiban Jangka Pendek


(kecuali Utang PFK) dalam neraca adalah Dana yang Harus Disediakan untuk
Pembayaran Utang Jangka Pendek, yang dapat digambarkan dalam diagram
sebagai berikut:

Debet Kredit
Kewajiban Jangka Pendek
Bagian Lancar Utang Jangka Pendek Rp XXX
Utang Bunga Rp XXX
Utang Jangka Pendek Lainnya Rp XXX

Ekuitas Dana Lancar


Dana yang Harus Disediakan untuk
Pembayaran Utang Jangka Pendek * (Rp XXX)

* Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran


Utang Jangka Pendek disajikan di Neraca sebagai
pengurang Ekuitas Dana Lancar.

Apabila terdapat pungutan PFK yang belum disetor berarti saldo uang
tersebut masih berada di Kas Daerah. Oleh karena itu, perkiraan pasangan
(balancing account) Utang PFK dalam neraca adalah Kas di Kas Daerah, yang
dapat digambarkan dalam diagram sebagai berikut:

Debet Kredit
Aset Lancar Kewajiban Jangka Pendek
Kas di Kas Daerah Rp XXX Utang PFK Rp XXX

Penyajian Kewajiban Jangka Pendek dalam neraca adalah:


Kewajiban Jangka Pendek
Bagian Lancar Utang Jangka Panjang Rp XXX
Utang Bunga Rp XXX
Utang PFK Rp XXX
Utang Jangka Pendek Lainnya Rp XXX
Total Kewajiban Jangka Pendek Rp XXX

Informasi lebih rinci mengenai jenis dari kewajiban jangka pendek dapat
diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.

2. Kewajiban Jangka Panjang


Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang jika
diharapkan dibayar dalam waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan. Suatu entitas
pelaporan tetap mengklasifikasikan kewajiban jangka panjangnya, meskipun

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 21


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

kewajiban tersebut jatuh tempo dan untuk diselesaikan dalam waktu 12 (dua
belas) bulan setelah tanggal pelaporan jika:
1. jangka waktu aslinya adalah untuk periode lebih dari 12 (dua belas)
bulan;
2. entitas bermaksud mendanai kembali (refinance) kewajiban tersebut
atas dasar jangka panjang; dan
3. maksud tersebut didukung dengan adanya suatu perjanjian
pendanaan kembali (refinancing), atau adanya penjadwalan kembali
terhadap pembayaran, yang diselesaikan sebelum laporan keuangan
disetujui.
Beberapa kewajiban yang jatuh tempo untuk dilunasi pada tahun
berikutnya mungkin diharapkan dapat didanai kembali (refinancing) atau
digulirkan (roll over) berdasarkan kebijakan entitas pelaporan dan diharapkan
tidak akan segera menyerap dana entitas. Kewajiban yang demikian
dipertimbangkan untuk menjadi suatu bagian dari pembiayaan jangka
panjang dan diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang. Namun dalam
situasi di mana kebijakan pendanaan kembali tidak berada pada entitas
(seperti dalam kasus tidak adanya persetujuan pendanaan kembali),
pendanaan kembali ini tidak dapat dipertimbangkan secara otomatis dan
kewajiban ini diklasifikasikan sebagai pos jangka pendek kecuali penyelesaian
atas perjanjian pendanaan kembali sebelum persetujuan laporan keuangan
membuktikan bahwa substansi kewajiban pada tanggal pelaporan adalah
jangka panjang.
Beberapa perjanjian pinjaman menyertakan persyaratan tertentu
(covenant) yang menyebabkan kewajiban jangka panjang menjadi kewajiban
jangka pendek (payable on demand) jika persyaratan tertentu yang terkait
dengan posisi keuangan peminjam dilanggar. Dalam keadaan demikian,
kewajiban dapat diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang hanya
jika:
1. pemberi pinjaman telah menyetujui untuk tidak meminta pelunasan
sebagai konsekuensi adanya pelanggaran, dan
2. tidak mungkin terjadi pelanggaran berikutnya dalam waktu 12 (dua
belas) bulan setelah tanggal pelaporan.
Kewajiban jangka panjang dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Utang Dalam Negeri-Sektor Perbankan
Merupakan utang jangka panjang yang timbul akibat pemerintah
melakukan pinjaman kepada perbankan dalam negeri
b. Utang Dalam Negeri- Obligasi
Merupakan utang jangka panjang yang timbul akibat pemerintah
melakukan penarikan dana dari masyarakat melalui pengeluaran surat
utang/obligasi.
c. Utang Luar Negeri
Merupakan utang jangka panjang yang timbul akibat pemerintah
melakukan pinjaman kepada negara/lembaga asing. Penarikan
pinjaman luar negeri ini dapat dilakukan melalui penerbitan obligasi
yang diperuntukkan bagi pihak asing.
d. Utang Jangka Panjang Lainnya

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 22


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Merupakan utang jangka panjang yang tidak dapat dikelompokkan ke


dalam Utang Dalam Negeri- sektor Perbankan, Utang Dalam Negeri-
Obligasi, Utang Luar Negeri. Misalnya Utang Kepada Pemerintah
Pusat/Daerah Otonom Lainnya.
Perkiraan pasangan (balancing account) Kewajiban Jangka Panjang
dalam neraca adalah Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang
Jangka Panjang, yang dapat digambarkan dalam diagram sebagai berikut:

Debet Kredit
Kewajiban Jangka Panjang
Utang Dalam Negeri-Perbankan Rp XXX
Utang Dalam Negeri-Obligasi Rp XXX
Utang Luar Negeri Rp XXX
Utang Jangka Panjang Lainnya Rp XXX

Ekuitas Dana Investasi


Dana yang Harus Disediakan untuk
Pembayaran Utang Jangka Panjang * Rp XXX

* Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran


Utang Jangka Panjang disajikan di Neraca sebagai
pengurang Ekuitas Dana Investasi.

Penyajian Kewajiban Jangka Panjang di neraca adalah:


Kewajiban Jangka Panjang
Utang Dalam Negeri-Perbankan Rp XXX
Utang Dalam Negeri-Obligasi Rp XXX
Utang Luar Negeri Rp XXX
Utang Jangka Panjang Lainnya Rp XXX
Total Kewajiban Jangka Panjang Rp XXX

Informasi lebih rinci mengenai jenis dari masing-masing kewajiban


jangka panjang dapat diungkapkan dalam catatan atas laporan
keuangan.
Akuntansi kewajiban lebih rinci diatur dalam PSAP Nomor 09 tentang
Akuntansi Kewajiban.

C. Ekuitas Dana
Ekuitas Dana adalah kekayaan bersih pemerintah yang merupakan
selisih antara aset dan kewajiban pemerintah. Ekuitas Dana diklasifikasikan
menjadi Ekuitas Dana Lancar, Ekuitas Dana Investasi, dan Ekuitas Dana
Cadangan.

1. Ekuitas Dana Lancar


Ekuitas Dana Lancar adalah selisih antara aset lancar dan kewajiban
jangka pendek. Ekuitas Dana Lancar terdiri dari:

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 23


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

- Sisa lebih pembiayaan anggaran (SiLPA), yang merupakan akun


pasangan yang menampung kas dan setara kas serta investasi jangka
pendek.
- Pendapatan yang Ditangguhkan, yang merupakan akun pasangan untuk
menampung Kas di Bendahara Penerimaan.
- Cadangan Piutang, yang merupakan akun pasangan yang dimaksudkan
untuk menampung piutang lancar.
- Cadangan Persediaan, yang merupakan akun pasangan dari persediaan.
- Dana yang Disediakan Untuk Pembayaran Utang Jangka Pendek,
merupakan akun pasangan dari kewajiban jangka pendek lainnya.

Penyajian Ekuitas Dana Lancar di neraca adalah:


Ekuitas Dana Lancar
SiLPA Rp XXX
Pendapatan yang Ditangguhkan Rp XXX
Cadangan Piutang Rp XXX
Cadangan Persediaan Rp XXX
Dana yang Disediakan Untuk Pembayaran Utang Rp XXX
Jangka Pendek
Total Ekuitas Dana Lancar Rp XXX

2. Ekuitas Dana Investasi


Ekuitas Dana Investasi mencerminkan kekayaan pemerintah yang
tertanam dalam investasi jangka panjang, aset tetap, dan aset lainnya,
dikurangi dengan kewajiban jangka panjang. Ekuitas Dana Investasi terdiri
dari:
- Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang, yang merupakan akun
pasangan dari Investasi Jangka Panjang.
- Diinvestasikan dalam Aset Tetap merupakan akun pasangan dari Aset
Tetap,
- Diinvestasikan dalam Aset Lainnya, yang merupakan akun pasangan
Aset Lainnya.
- Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka Panjang
(contra account), yang merupakan akun pasangan dari seluruh Utang
Jangka Panjang.
Penyajian Ekuitas Dana Investasi di neraca adalah:
Ekuitas Dana Investasi
Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang Rp XXX
Diinvestasikan dalam Aset Tetap Rp XXX
Diinvestasikan dalam Aset Lainnya Rp XXX
Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang
Jangka Panjang Rp XXX
Total Ekuitas Dana Lancar Rp XXX

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 24


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

3. Ekuitas Dana Cadangan


Ekuitas Dana Cadangan mencerminkan kekayaan pemerintah yang
dicadangkan untuk tujuan tertentu sesuai dengan peraturan perundang-
undangan. Ekuitas Dana Cadangan terdiri dari:
Penyajian Ekuitas Dana Investasi dalam neraca adalah:
Ekuitas Dana Cadangan
Ekuitas Dana Cadangan Rp XXX
Total Ekuitas Dana Cadangan Rp XXX

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 25


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

SOAL LATIHAN

1. Soal Pilihan Ganda


Soal untuk nomor 1-3 :
Pada Neraca Pemda B per 31 Desember 2005 diketahui bahwa:
Kas Daerah Rp 50 juta
Persediaan Rp 45 juta
Piutang Pajak Rp 60 juta
Investasi Jangka Panjang Rp100 juta
Aset Tetap Rp200 juta
Aset Lainnya Rp 85 juta
Dana Cadangan Rp300 juta
Utang Jangka Pendek Rp 30 juta (termasuk PFK Rp5
juta)
Utang Jangka Panjang Rp150 juta

1. Berapakah jumlah yang dilaporkan sebagai Ekuitas Dana Lancar per 31


Desember 2005?
a. 155 juta
b. 120 juta
c. 125 juta
d. 255 juta

2. Berapakah jumlah yang dilaporkan sebagai Ekuitas Dana Investasi per


31 Desember 2005?
a. 255 juta
b. 235 juta
c. 385 juta
d. 285 juta

3. Berapakah jumlah yang dilaporkan sebagai Ekuitas Dana Cadangan per


31 Desember 2005?
a. 300 juta
b. 150 juta
c. 270 juta
d. 385 juta

4. Dalam neraca Pemda A akun Kas di Kas disajikan sebesar Rp600 juta,
akun Kas di Bendahara Pengeluaran sebesar Rp35 juta, dan akun SILPA
sebesar Rp585 juta. Selisih sebesar Rp50 juta merupakan:
a. Utang PFK
b. Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka
Pendek
c. Utang Bunga
d. Cadangan Piutang

5. Pasangan akun Kas di Bendahara Penerimaan adalah:


a. SILPA
b. Utang PFK
c. Pendapatan yang Ditangguhkan

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 26


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

d. Dana Cadangan

2. Soal Essay

Dari data pembukuan Pemda A ditemukan Saldo Kas di Kas Daerah per 31
Desember 2005 adalah Rp1.000 juta, setelah ditelusuri ternyata terdapat kas
sebesar Rp 45 juta yang belum disetor oleh Bendahara Penerimaan ke Kas
Daerah sampai dengan 31 Desember 2005. Jumlah kas sebesar Rp 45 juta
tersebut diketahui baru disetor ke Kas Daerah pada tanggal 6 Januari 2006.
Selain itu dari laporan bendahara pengeluaran statu SKPD ditemukan adanya
sisa uang persediaan sebesar Rp50 juta yang belum disetor ke Kas Daerah
sampai dengan 31 Desember 2005. Jumlah tersebut baru disetor pada tanggal
5 Januari 2006. Laporan Keuangan Pemda A untuk TA 2005 baru diselesaikan
dan diterbitkan pada tanggal 31 Maret 2006.
Bagaimana penyajian kas Pemda A di neraca per 31 Desember 2005?

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 27


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

DAFTAR BACAAN

1. UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara;


2. UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara;
3. UU No. 15/2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara;
4. UU No. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
5. UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah;
6. UU No. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah
Pusat dan Pemerintahan Daerah;
7. PP No. 23/2005 tentang Pengelolaan Keuangan BLU;
8. PP No. 24/2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan;
9. PP No. 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
10. PP No. 8/2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi
Pemerintah.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 28


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

CONTOH FORMAT NERACA


NERACA
PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN /KOTA
PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0

(Dalam Rupiah)
No. Uraian 20X1 20X0
1 ASET
2
3 ASET LANCAR
4 Kas di Kas Daerah xxx xxx
5 Kas di Bendahara Pengeluaran xxx xxx
6 Kas di Bendahara Penerimaan xxx xxx
7 Investasi Jangka Pendek xxx xxx
8 Piutang Pajak xxx xxx
9 Piutang Retribusi xxx xxx
10 Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Negara xxx xxx
11 Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Daerah xxx xxx
12 Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Pusat xxx xxx
13 Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya xxx xxx
14 Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran xxx xxx
15 Bagian lancar Tuntutan Ganti Rugi xxx xxx
16 Piutang Lainnya xxx xxx
17 Persediaan xxx xxx
18 Jumlah Aset Lancar (4 s/d 17) xxx xxx
19
20 INVESTASI JANGKA PANJANG
21 Investasi Nonpermanen
22 Pinjaman Jangka Panjang xxx xxx
23 Investasi dalam Surat Utang Negara xxx xxx
24 Investasi dalam Proyek Pembangunan xxx xxx
25 Investasi Nonpermanen Lainnya xxx xxx
26 Jumlah Investasi Nonpermanen (22 s/d 25) xxx xxx
27 Investasi Permanen
28 Penyertaan Modal Pemerintah Daerah xxx xxx
29 Investasi Permanen Lainnya xxx xxx
30 Jumlah Investasi Permanen (28 s/d 29) xxx xxx
31 Jumlah Investasi Jangka Panjang (26 + 30) xxx xxx
32
33 ASET TETAP
34 Tanah xxx xxx
35 Peralatan dan Mesin xxx xxx
36 Gedung dan Bangunan xxx xxx
37 Jalan, Irigasi, dan Jaringan xxx xxx
38 Aset Tetap Lainnya xxx xxx
39 Konstruksi dalam Pengerjaan xxx xxx
40 Akumulasi Penyusutan (xxx) (xxx)
41 Jumlah Aset Tetap (34 s/d 40) xxx xxx
42
43 DANA CADANGAN
44 Dana Cadangan xxx xxx
45 Jumlah Dana Cadangan (44) xxx xxx
46
47 ASET LAINNYA
48 Tagihan Penjualan Angsuran xxx xxx
49 Tuntutan Ganti Rugi xxx xxx
50 Kemitraan dengan Pihak Ketiga xxx xxx
51 Aset Tak Berwujud xxx xxx
52 Aset Lain-Lain xxx xxx
53 Jumlah Aset Lainnya (48 s/d 52) xxx xxx
54
55 JUMLAH ASET (18+31+41+45+53) xxxx xxxx

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 01 29


Modul PSAP No. 01 Penyajian Laporan Keuangan

56
57 KEWAJIBAN
58
59 KEWAJIBAN JANGKA PENDEK
60 Utang Perhitungan Pihak Ketiga (PFK) xxx xxx
61 Utang Bunga xxx xxx
62 Bagian Lancar Utang Jangka Panjang xxx xxx
63 Utang Jangka Pendek Lainnya xxx xxx
64 Jumlah Kewajiban Jangka Pendek (60 s/d 63) xxx xxx
65
66 KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
67 Utang Dalam Negeri - Sektor Perbankan xxx xxx
68 Utang Dalam Negeri - Obligasi xxx xxx
69 Utang Jangka Panjang Lainnya xxx xxx
70 Jumlah Kewajiban Jangka Panjang (67 s/d 69) xxx xxx
71 JUMLAH KEWAJIBAN (64+70) xxx xxx
72
73 EKUITAS DANA
74
75 EKUITAS DANA LANCAR
76 Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) xxx xxx
77 Pendapatan yang Ditangguhkan xxx xxx
78 Cadangan Piutang xxx xxx
79 Cadangan Persediaan xxx xxx
80 Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka Pendek (xxx) (xxx)
81 Jumlah Ekuitas Dana Lancar (76 s/d 80) xxx xxx
82
83 EKUITAS DANA INVESTASI
84 Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang xxx xxx
85 Diinvestasikan dalam Aset Tetap xxx xxx
86 Diinvestasikan dalam Aset Lainnya xxx xxx
87 Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka Panjang (xxx) (xxx)
88 Jumlah Ekuitas Dana Investasi (84 s/d 87) xxx xxx
89
90 EKUITAS DANA CADANGAN
91 Diinvestasikan dalam Dana Cadangan xxx xxx
92 Jumlah Ekuitas Dana Cadangan (91) xxx xxx
93 JUMLAH EKUITAS DANA (81+88+92) xxx xxx
94
95 JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA (71+93) xxxx xxxx

Modul PSAP Nomor 01 tentang Penyajian Laporan Keuangan 30


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Modul LRA ini disusun untuk memudahkan dalam memahami
Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan Nomor 02 tentang Laporan
Realisasi Anggaran. Modul ini disusun sebagai bahan Pelatihan untuk Pelatih
standar Akuntansi Pemerintahan. Dengan mempelajari modul ini diharapkan
peserta dapat belajar mandiri (self study) atas materi LRA pada pemerintah
daerah.

Modul ini menguraikan pelaksanaan anggaran, khususnya sistem


penerimaan dan sistem pembayaran, serta perlakuan akuntansi untuk setiap
jenis transaksi anggaran. Materi pelatihan ini dilengkapi dengan contoh-
contoh yang terjadi dalam kegiatan operasional pemerintahan, sehingga
diharapkan dapat digunakan sebagai rujukan bagi pemerintah daerah dalam
implementasi Standar Akuntansi Pemerintahan, khususnya untuk menyusun
dan menyajikan LRA.

B. Tujuan Pembelajaran
Tujuan Pembelajaran Umum:
Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta mampu:
1. Memahami Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)
2. Mampu mengimplementasikan SAP dalam menyusun dan menyajikan
Laporan Kauangan

Tujuan Pembelajaran Khusus:


Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta mampu:
1. Memahami struktur anggaran;
2. memahami pengertian pendapatan, belanja, dan pembiayaan;
3. memahami pengakuan pendapatan, belanja, dan pembiayaan;
4. memahami mekanisme penerimaan dan pembayaran;
5. mampu melaksanakan akuntansi pendapatan, belanja, dan pembiayaan;
6. Memahami perlakuan pengembalian pendapatan dan belanja; dan
7. Memahami penyusunan dan penyajian LRA.

C. Deskripsi Ringkas
Modul LRA menyajikan materi tentang pengertian dan ruang lingkup
LRA, basis akuntansi untuk anggaran pendapatan, belanja, serta pembiayaan,
struktur anggaran, klasifikasi anggaran, akuntansi pendapatan, belanja, dan
pembiayaan, akuntansi transaksi PFK, akuntansi hibah yang diterima dalam
bentuk nonkas, dan penutupan pos-pos anggaran.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 02 1


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

D. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran dalam pelatihan ini dilakukan dengan cara
pemaparan teori oleh fasilitator yang diikuti dengan tanya jawab serta diskusi,
latihan soal dan contoh kasus yang bertalian dengan transaksi pendapatan,
belanja, dan pembiayaan. Keberhasilan pembelajaran ini juga sangat
tergantung pada partisipasi aktif dari para peserta pelatihan dalam aktivitas
diskusi dan tanya jawab, serta latihan soal.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 02 2


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB II
PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP
LAPORAN REALISASI ANGGARAN

A. Pengertian
Laporan Realisasi Anggaran (LRA) merupakan salah satu komponen
laporan keuangan pemerintah yang menyajikan informasi tentang realisasi
dan anggaran entitas pelaporan secara tersanding untuk suatu periode
tertentu.
Penyandingan antara anggaran dan realisasi menunjukkan tingkat
capaian target-target yang telah disepakati antara legislatif dan eksekutif
sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Informasi tersebut berguna
bagi para pengguna laporan dalam mengevaluasi keputusan mengenai alokasi
sumber-sumber daya ekonomi, akuntabilitas dan ketaatan entitas pelaporan
terhadap anggaran. Berhubung anggaran akan disandingkan dengan
realisasinya maka dalam penyusunan APBD seharusnya digunakan struktur,
definisi, dan basis yang sama dengan yang digunakan dalam pelaporannya.

B. Ruang Lingkup
APBD terdiri dari anggaran pendapatan, belanja, dan pembiayaan.
Pendapatan adalah semua penerimaan kas umum daerah yang menambah
ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang
menjadi hak pemerintah dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah.
Belanja adalah semua pengeluaran kas umum kas daerah yang mengurangi
ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak
akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah. Pembiayaan
(financing) adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau
pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran
bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya, yang dalam
penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit atau
memanfaatkan surplus anggaran
Pendapatan dipungut berdasarkan Undang-Undang. Oleh karena itu
jenis pendapatan yang dipungut dan/atau diterima oleh pemerintah daerah
harus sesuai dengan Undang-Undang. Belanja mencakup seluruh jenis
belanja sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan.
Pembiayaan mencakup seluruh transaksi penerimaan pembiayaan dan
pengeluaran pembiayaan. Disamping itu terdapat transfer antar pemerintahan
sehubungan dengan adanya desentralisasi fiskal dan perimbangan keuangan.
Bagi yang menerima dikelompokkan dalam pendapatan transfer, sedangkan
bagi yang memberikan ditampung dalam belanja transfer.
Anggaran pemerintah daerah dituangkan dalam bentuk APBD, yang
merupakan pedoman tindakan yang akan dilaksanakan pemerintah, meliputi
rencana pendapatan, belanja, transfer, dan pembiayaan selama suatu periode
terntentu. Anggaran diukur dengan satuan rupiah. Anggaran diklasifikasikan
secara sistematis sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Anggaran
belanja yang dituangkan dalam Perda APBD disebut sebagai apropriasi, yaitu
merupakan anggaran yang disetujui DPRD yang merupakan mandat yang
diberikan kepada Gubernur/Bupati/Walikota untuk melakukan pengeluaran-

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 02 3


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

pengeluaran sesuai tujuan yang ditetapkan. Sedangkan anggaran pendapatan


dalam Perda APBD disebut Estimasi Pendapatan.
Berdasarkan APBD selanjutnya disiapkan peraturan kepala daerah
tentang Penjabaran APBD. Anggaran yang dialokasikan kepada setiap satuan
kerja perangkat daerah (SKPD) sebagai pengguna anggaran dituangkan dalam
Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA). Anggaran pendapatan SKPD pada
DPA disebut Estimasi Pendapatan yang Dialokasikan. Anggaran belanja pada
DPA disebut Allotment. Dengan demikian LRA SKPD, membandingkan antara
realisasi terhadap alokasi anggaran dalam DPA SKPD yang bersangkutan,
sedangkan untuk LRA di tingkat pemerintah daerah realisasi anggaran
dibandingkan dengan estimasi pendapatan dan apropriasi yang tertuang
dalam APBD.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 02 4


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB III
BASIS AKUNTANSI

A. Basis Anggaran dan Basis Akuntansi


Anggaran pemerintah disusun dengan basis kas. Akuntansi pemerintah
pada dasarnya merupakan akuntansi anggaran, maka basis akuntansi yang
digunakan seharusnya sama dengan basis anggaran. Pada saat ini Pemerintah
Indonesia masih menggunakan basis kas, baik untuk anggaran maupun
akuntansinya.
Apabila ada pemerintah daerah yang menerapkan basis akrual penuh
dalam sistem akuntansinya, termasuk untuk pendapatan dan belanja, maka
dalam penyusunan LRA, laporan yang dihasilkan dari basis akrual tersebut
harus dikonversi ke LRA berbasis kas. Konversi dari LRA berbasis akrual ke
LRA wajib disajikan dan diungkapkan dalam Catatan atas Laporan keuangan
sebagaimana diatur dalam PSAP No. 04 tentang Catatan atas Laporan
Keuangan.

B. Pengakuan Pendapatan
Sistem penerimaan pendapatan pemerintah daerah diatur dalam
Peraturan Daerah. Pada umumnya terdapat dua sistem penerimaan:
Wajib bayar/masyarakat langsung menyetor ke rekening Kas Umum
Daerah
Wajib bayar/masyarakat menyetor ke juru pungut/Bendahara Penerimaan,
selanjutnya Bendahara Penerimaan tersebut menyetor ke rekening Kas
Umum Daerah.
Dengan menggunakan basis kas, pendapatan diakui pada saat diterima
pada rekening Kas Umum Negara/Kas Umum Daerah. Oleh karena itu pada
saat uang diterima juru pungut/Bendahara Penerimaan, jumlah tersebut
belum diakui sebagai pendapatan daerah, pengakuannya baru dilakukan
setelah uang tersebut disetor ke rekening Kas Umum Daerah.

C. Pengakuan Belanja
Sistem pembayaran dalam pelaksanaan anggaran ada dua, yaitu:
Pembayaran langsung kepada yang berhak
Pembayaran dengan dana kas kecil melalui Bendahara Pengeluaran.
Berdasarkan Basis Kas sebagaimana diatur dalam PSAP No. 2, belanja diakui
pada saat terjadinya pengeluaran dari rekening Kas Umum Negara/Kas Umum
Daerah. Khusus pengeluaran melalui Bendahara Pengeluaran/Pemegang Kas
pengakuannya terjadi pada saat pertanggungjawaban atas pengeluaran
tersebut disahkan oleh unit yang menjalankan fungsi perbendaharaan
(SKPKD).

Dengan demikian untuk pembayaran langsung kepada pihak


ketiga/vendor pengakuan belanjanya dilakukan pada saat uang dikeluarkan,
yaitu pada saat diterbitkannya Surat Perintah Pencairan Dana Langsung (SP2D
LS). Sedangkan untuk pembayaran dengan dana kas kecil, pada saat
diterbitkannya SP2D untuk pemberian uang persediaan kepada Bendahara
Pengeluaran (SP2D UP) ataupun untuk penambahan uang persediaan (SP2D

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 02 5


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

TU) belum diakui sebagai belanja. Pengeluaran tersebut merupakan transaksi


transito yang belum membebani anggaran. Pengakuan belanja baru dilakukan
setelah pengeluaran yang dilakukan dipertanggungjawabkan olah Bendahara
Pengeluaran dan telah diverifikasi serta disetujui oleh pejabat yang
berwenang, ditandai dengan diberikannya pengganti uang persediaan dengan
diterbitkannya SP2D GU.

D. Pengakuan Pembiayaan
Pelaksanaan anggaran pembiayaan merupakan kewenangan Bendahara
Umum Daerah. Penerimaan pembiayaan diakui pada saat diterima kas pada
rekening Kas Umum Negara/Kas Umum Daerah. Dengan demikian maka
perlakuan pengakuan penerimaan pembiayaan ini sama dengan pengakuan
pendapatan sebagaimana diuraikan pada bagian terdahulu.
Pengeluaran pembiayaan diakui pada saat dikeluarkan kas dari rekening
Kas Umum Negara/Kas Umum Daerah. Pengeluaran pembiayaan antara lain
untuk pemberian pinjaman, penyertaan modal, dan pembentukan dana
cadangan. Pembayarannya dapat dilakukan melalui pembayaran langsung
atau melalui Bendahara Pengeluaran dengan uang persediaan. Pengakuannya
sama dengan pengakuan belanja, yaitu untuk pembayaran langsung diakui
pada saat diterbitkannya SP2D LS sedangkan untuk pembayaran melalui uang
persediaan dilakukan setelah pertanggungjawaban atas pengeluaran ini
diverifikasi dan disetujui oleh SKPKD.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 02 6


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB IV
STRUKTUR LAPORAN REALISASI ANGGARAN
DAN KLASIFIKASI ANGGARAN

A. Struktur Anggaran
Anggaran terdiri dari anggaran pendapatan, anggaran belanja, dan
anggaran pembiayaan. Struktur anggaran tersebut secara garis besar adalah
sebagai berikut:

a. Pendapatan .....................
b. Belanja .....................

c. Surplus/Defisit (a b) .....................

d. Pembiayaan: .....................

Penerimaan Pembiayaan (d1) .....................

Pengeluaran Pembiayaan (d2) .....................

Pembiayaan Neto (d1 d2) .....................

e. Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran


(SILPA/SIKPA) (c d) .....................

B. Pendapatan
Pendapatan daerah berasal dari Pendapatan Asli Daerah, Pendapatan
Transfer, dan Lain-lain pendapatan yang Sah.
1. Pendapatan Asli daerah
Pendapatan Asli Daerah merupajkan pajak yang dihasilkan dari
daerah itu sendiri, terdiri dari:
- Pendapatan Pajak Daerah
- Pendapatan Retribusi Daerah
- Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
- Lain-lain PAD

2. Pendapatan transfer
Pendapatan Transfer merupakan pendapatan yang berasal dari
entitas pelaporan lain, seperti Pemerintah Pusat atau daerah otonom lain
dalam rangka perimbangan keuangan. Transfer dari Pemerintah Pusat
terdiri dari Dana Perimbangan sesuai dengan UU No. 33/2004 dan transfer
lainnya sebagaimana diatur dalam UU Otonomi Khusus bagi Papua dan
Nanggroe Aceh Darussalam, atau dalam UU APBN. Transfer dari Daerah
Otonom lainnya antara lain seperti Bagi Hasil dari Pemerintah Provinsi ke
Kabupaten/Kota untuk Pajak Bahan Bakar, Pajak Pajak Kendaraan
Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, dan Pajak Air Bawah
Tanah dan Air Permukaan.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 02 7


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

3. Lain-lain Pendapatan yang sah


Lain-lain Pendapatan yang Sah adalah pendapatan lainnya selain
yang disebutkan di atas, yang diperkenankan menurut peraturan
perundang-undangan. misalnya Hibah dan Dana Darurat.

C. Belanja
Belanja diklasifikasikan menurut organisasi, fungsi, dan ekonomi.
Klasifikasi belanja menurut organisasi artinya anggaran dialokasikan ke
organisasi sesuai dengan struktur organisasi pemerintah daerah yang
bersangkutan. Klasifikasi menurut organisasi ini tidak disajikan di lembar
muka laporan keuangan, tetapi disajikan di Catatan atas Laporan Keuangan.

1. Klasifikasi Fungsi
Klasifikasi belanja menurut fungsi pemerintahan adalah sebagai
berikut:
- Pelayanan Umum
- Pertahanan
- Ketertiban dan Keamanan
- Ekonomi
- Lingkungan Hidup
- Perumahan dan fasilitas umum
- Kesehatan
- Pariwisata dan budaya
- Agama
- Pendidikan
- Perlindungan sosial

Klasifikasi fungsi ini diisi sesuai dengan urusan (affair)


pemerintahan. Dengan demikian klasifikasi fungsi ini perlu dilihat
hubungannya dengan program dan kegiatan suatu entitas atau satuan
kerja. Klasifikasi fungsi ini disajikan dalam Catatan atas Laporan
Keuangan. Berdasarkan UU No. 17/2003 fungsi Pertahanan hanya berlaku
untuk Pemerintah Pusat.

2. Belanja Operasi, Belanja Modal, dan Belanja Tak Terduga


Berdasarkan karakternya belanja dikelompokkan menjadi Belanja
operasi, Belanja Modal, dan Belanja tak Terduga. Belanja operasi adalah
pengeluaran anggaran untuk kegiatan sehari-hari pemerintah
pusat/daerah yang memberi manfaat jangka pendek. Belanja operasi
antara lain meliputi belanja pegawai, belanja barang non investasi,
pembayaran bunga hutang, subsidi, hibah, bantuan sosial, dan belanja
operasional lainnya.

Belanja modal adalah pengeluaran anggaran untuk perolehan aset


tetap dan aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode
akuntansi. Belanja modal antara lain belanja modal untuk perolehan tanah,

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 02 8


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

gedung dan bangunan, peralatan dan mesin, jalan, irigasi, dan jaringan,
aset tetap lainnya, dan aset tak berwujud.
Belanja tak terduga adalah pengeluaran anggaran untuk kegiatan
yang sifatnya tidak biasa dan tidak diharapkan berulang seperti
penanggulangan bencana alam, bencana sosial, dan pengeluaran tidak
terduga lainnya yang sangat diperlukan dalam rangka penyelenggaraan
kewenangan pemerintah daerah.

3. Klasifikasi Ekonomi
Klasifikasi ekonomi adalah klasifikasi belanja berdasarkan jenis
belanjanya, terdiri dari:.
Belanja Operasi:
- Belanja Pegawai xxx
- Belanja Barang xxx
- Bunga xxx
- Subsidi xxx
- Hibah xxx
- Bantuan Sosial xxx
- Belanja Operasi-lainnya xxx
Belanja Modal:
- Belanja Modal - Tanah xxx
- Belanja Modal Peralatan dan mesin xxx
- Belanja Modal Gedung dan Bangunan xxx
- Belanja Modal Jalan, Irigasi, dan Jaringan xxx
- Belanja Modal Aset Tetap Lainnya xxx
- Belanja Modal - Aset lainnya xxx
- Belanja Tak Terduga xxx

D. Transfer
Transfer yang dimaksud di sini adalah transfer keluar, yaitu
pengeluaran uang dari suatu entitas pelaporan ke entitas pelaporan lain,
seperti pengeluaran dana perimbangan dan dana bagi hasil. Contoh: bagi
pemerintah provinsi terdapat bagi hasil ke kabupaten/kota, bagi pemerintah
kabupaten terdapat bagi hasil ke desa

E. Surplus/Defisit
Surplus/Defisit timbul sehubungan dengan kebijakan pemerintah untuk
mengganti anggaran berimbang dengan anggaran defisit. Surplus adalah
selisih lebih antara pendapatan dan belanja selama satu periode pelaporan.
Defisit adalah selisih kurang antara pendapatan dan belanja selama satu
periode pelaporan.

F. Pembiayaan
Pembiayaan (financing) adalah seluruh transaksi keuangan pemerintah,
baik penerimaan maupun pengeluaran, yang perlu dibayar atau akan diterima
kembali, yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk
menutup defisit dan/atau memanfaatkan surplus anggaran. Penerimaan

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 02 9


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

pembiayaan antara lain dapat berasal dari pinjaman, dan hasil divestasi.
Sementara, pengeluaran pembiayaan antara lain digunakan untuk
pembayaran kembali pokok pinjaman, pemberian pinjaman kepada entitas
lain, dan penyertaan modal oleh pemerintah.

G. Pembiayaan Neto
Pembiayaan Neto adalah selisih antara penerimaan pembiayaan dengan
pengeluaran pembiayaan. Apabila manajemen keuangan pemerintah
dilakukan dengan baik maka jumlah pembiayaan netto ini seharusnya
mendekati jumlah surplus/defisit anggaran karena pembiayaan dimaksudkan
untuk memanfaatkan surplus atau menutup defisit anggaran.

H. Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran


Dalam penyusunan APBD, SILPA/SIKPA akan selalu nihil karena jumlah
surplus atau defisit harus ditetapkan rencana pemanfaatannya atau
penutupannya. Namun dalam realisasi anggaran pada umumnya SILPA akan
muncul. Jumlah ini merupakan selisih antara penerimaan anggaran dikurangi
dengan pengeluaran anggaran. Dengan kata lain jumlah ini diperoleh dengan
menjumlahkan surplus/defisit dengan pembiayaan neto.

LRA dijelaskan lebih lanjut dalam Catatan atas Laporan Keuangan yang
memuat hal-hal yang mempengaruhi pelaksanaan anggaran seperti kebijakan
keuangan, sebab-sebab terjadinya perbedaan yang material antara anggaran
dan realisasinya, serta daftar-daftar yang merinci lebih lanjut angka-angka
yang dianggap perlu untuk dijelaskan.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 02 10


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB V
AKUNTANSI PENDAPATAN, BELANJA, DAN PEMBIAYAAN

A. Akuntansi Anggaran
Akuntansi anggaran merupakan teknik pertanggungjawaban dan
pengendalian manajemen yang digunakan untuk membantu pengelolaan
pendapatan, belanja, transfer, dana cadangan, dan pembiayaan.
Akuntansi anggaran diselenggarakan sesuai dengan struktur anggaran
yang terdiri dari anggaran pendapatan, belanja, dan pembiayaan. Anggaran
pendapatan meliputi estimasi pendapatan yang dijabarkan menjadi alokasi
estimasi pendapatan. Anggaran belanja terdiri dari apropriasi yang dijabarkan
menjadi otorisasi kredit anggaran (allotment). Anggaran pembiayaan terdiri
dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan.
Akuntansi anggaran diselenggarakan pada saat anggaran disahkan dan
anggaran dialokasikan. Ilustrasi akuntansi untuk anggaran yang disahkan
dengan Perda APBD adalah:

Tanggal Uraian Ref Debet Kredit


Estimasi Pendapatan xxx
Apropriasi Belanja xxx
Surplus/Defisit xxx
Estimasi Penerimaan Pembiayaan xxx
Pembiayaan Neto xxx
Apropriasi Pengeluaran xxx
Pembiayaan

Pada saat anggaran dituangkan dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran maka


akan dilakukan pencatatan Estimasi pendapatan yang dialokasikan dan
Allotment. Ilustrasi jurnalnya adalah sebagai berikut:

Tanggal Uraian Ref Debet Kredit


Estimasi Pendapatan yg Dialokasikan xxx
Alokasi Estimasi Pendapatan xxx
Alokasi Apropriasi xxx
Allotment xxx

Apabila pemerintah belum siap melaksanakan akuntansi anggaran maka,


anggaran yang disahkan dan anggaran yang dialokasikan dapat dicatat secara
tata buku tunggal (single entry accounting).

B. Akuntansi Pendapatan
Pendapatan diakui pada saat diterima pada kas umum daerah. Dengan
demikian apabila terdapat pendapatan yang dipungut oleh/disetor kepada
Bendahara Penerimaan/Pemegang Kas belum diakui sebagai pendapatan.
Uang tersebut diperlakukan sebagai pendapatan yang ditangguhkan.
Dokumen sumber untuk pengakuan pendapatan antara lain berupa surat
tanda setoran, nota kredit, dan bukti penerimaan lannya yang dianggap sah.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 02 11


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Berikut ini ilustrasi akuntansi untuk penerimaan pendapatan pajak:


Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Kas di Kas Daerah xxx
Pendapatan Pajak xxx
(Buku Pembantu: sesuai dengan jenis
pajak)

Akuntansi pendapatan dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan


membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah
dikompensasikan dengan pengeluaran).
Sebagai contoh:
Pemerintah Provinsi X memberikan kuasa kepada PT Y untuk melakukan
pemungutan Pajak Bahan Bakar dengan memberikan upah pungut sebesar
2% dari jumlah penerimaan. Dalam bulan Mei 2006 jumlah penerimaan
Pajak Bahan Bakar Rp100 juta, dengan upah pungut yang dipotong
langsung Rp2 juta.
Jurnal untuk contoh tersebut adalah:

Tanggal Uraian Ref Debet Kredit


Kas di Kas Daerah 100 juta
Pendapatan Pajak 100 juta
(Buku Pembantu: Pajak Bahan Bakar)
Belanja Barang 2 juta
Kas di Kas Daerah 2 juta
(Untuk mencatat upah pungut)

Terhadap pendapatan yang berasal dari penjualan aset tetap/lainnya


perlu ada jurnal pendamping untuk mengakui penurunan aset yang
bersangkutan. Jurnal pendamping ini sering disebut Jurnal Korolari.

Sebagai contoh:
Diterima hasil penjualan kendaraan bermotor sebesar Rp10 juta. Harga
perolehan kendaraan tersebut Rp20 juta.
Jurnal untuk contoh tersebut adalah:

Tanggal Uraian Ref Debet Kredit


Kas di Kas Daerah 10 juta
Pendapatan Lain-lain PAD 10 juta
(Untuk mencatat hasil penjualan
kendaraan)
Diinvestasikan dalam Aset Tetap 20 juta
Peralatan dan Mesin 20 juta
(Untuk mencatat mesin yang dijual)

Apabila terdapat pengembalian pendapatan maka harus dianalisis


terlebih dahulu sifat pengembalian tersebut. Pengembalian yang sifatnya
normal dan berulang (recurring) atas penerimaan pendapatan pada periode

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 02 12


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

penerimaan maupun pada periode sebelumnya dibukukan sebagai pengurang


pendapatan. Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang (non-
recurring) atas penerimaan pendapatan yang terjadi pada periode
penerimaan pendapatan dibukukan sebagai pengurang pendapatan pada
periode yang sama.

Sebagai contoh:
Berdasarkan peraturan perundang-undangan pembayaran Pajak X dibayar
secara cicilan setiap bulan berdasarkan jumlah pajak yang dibayar pada
tahun sebelumnya. Dalam tahun 2005 jumlah pajak yang sudah dibayar
setap bulan sebesar Rp1.200.000,00. Ternyata setelah diperhitungkan
pada akhir tahun, pajak yang menjadi beban perusahaan tersebut pada
tahun hanya Rp1.000.000,00. Pengembalian kelebihan pajak
Rp200.000,00 ini dibayarkan pada bulan Maret 2006.

Jurnal untuk pengembalian pendapatan pada tahun 2006 tersebut adalah:


Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Pendapatan Pajak 200 juta
Kas di Kas Daerah 200 juta
(Buku Pembantu: Pajak X)

Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang (non-recurring)


atas penerimaan pendapatan yang terjadi pada periode penerimaan
pendapatan dibukukan sebagai pengurang pendapatan pada periode yang
sama.

Sebagai contoh:
Pada periode Januari sampai dengan November 2005 terdapat penerimaan
pendapatan retribusi ijin mendirikan bangunan sebesar Rp 100 juta. Pada
bulan Desember 2005 diketemukan adanya kesalahan dan kelebihan
penerimaan sebesar Rp5 juta. Kelebihan ini dikembalikan kepada yang
berhak pada bulan Desember 2005.

Jurnal untuk pengembalian pendapatan pada tahun 2005 tersebut adalah:


Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Pendapatan Ratribusi 5 juta
Kas di Kas Daerah 5 juta

Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang (non-recurring)


atas penerimaan pendapatan yang terjadi pada periode sebelumnya
dibukukan sebagai pengurang ekuitas dana lancar pada periode ditemukannya
koreksi dan pengembalian tersebut.

Sebagai contoh:
Pada tahun 2005 terdapat penjualan tanah pemda seluas 1050 m2 dengan
harga Rp1.000,00 per m2. Pada tahun 2005 telah diterima seluruhnya.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 02 13


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Pada tahun 2006 oleh pembeli dilakukan pengukuran ulang, ternyata


luasnya hanya 1.000 m2, sehingga Pemerintah daerah harus
mengembalikan 50 x Rp 1.000,00 = Rp50.000,00. Pada tahun 2006 tidak
terjadi lagi penjualan tanah oleh pemda.

Jurnal untuk pengembalian pendapatan pada tahun 2006 tersebut adalah:


Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Pengembalian Pendapatan/ SILPA 200 juta
Kas di Kas Daerah 200juta

C. Akuntansi Belanja
Dalam manajemen anggaran, pada prinsipnya belanja baru dapat
dibayarkan setelah barang/jasa yang dibeli diterima Pemerintah. Pembayaran
belanja dapat dilakukan secara langsung (LS) atau melalui dana kas kecil
yang diberikan kepada para bendahara pengeluaran/pemegang kas.

1. Pembayaran langsung
Pembayaran diberikan secara langsung kepada yang berhak jika
jumlah, peruntukan, dan penerimanya sudah pasti. Dokumen sumber
untuk merekam pembayaran ini adalah Surat Perintah Membayar dan
Surat Perintah Pencairan Dana Langsung (SP2D LS).

Sebagai contoh:
pembayaran gaji pegawai bulan Juni 2006 dengan SP2D LS sebesar
Rp50 juta. Dari jumlah tersebut terdapat potongan PPh, Askes, Taspen,
dan Taperum sebesar Rp3 juta.
Jurnal untuk pembayaran gaji pegawai tersebut adalah:

Tanggal Uraian Ref Debet Kredit


Belanja Pegawai 50 juta
Kas di Kas Daerah 50 juta
(Untuk mencatat belanja pegawai)
Kas di Kas Daerah 3 juta
Penerimaan PFK 3 juta

Potongan atas pembayaran yang dilakukan pemerintah untuk


kepentingan pihak lain dicatat sebagai penerimaan PFK, sebaliknya pada
saat disetorkan kepada pihak lain yang berhak dicatat sebagai Penyetoran
PFK. Penerimaan dan penyetoran PFK ini bukan transaksi anggaran tetapi
dalam istilah keuangan dikenal sebagai transaksi transito. Oleh karena itu
penerimaan/pengeluaran PFK tidak disajikan dalam LRA tetapi disajikan
dalam Laporan Arus Kas.
Sebagai contoh:
Apabila potongan sebesar Rp3 juta di atas disetor ke Kas Negara akan
dijurnal:

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 02 14


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Tanggal Uraian Ref Debet Kredit


Pengeluaran PFK 3 juta
Kas di Kas Daerah 3 juta
(Untuk mencatat penyetoran PFK)

Apabila terdapat belanja untuk perolehan aset tetap atau aset


lainnya, maka pada saat terjadi pembayaran tidak hanya dilakukan
pencatatan belanja tetapi sekaligus perolehan asetnya. Pencatatan aset
tetap yang diperoleh dapat dilakukan dengan menggunakan jurnal
pendamping yang seringkali dikenal sebagai jurnal korolari.

Sebagai contoh:
Dibeli mesin fotocopy seharga Rp60 juta dari PT Tritanu dan sudah
dibayar secara langsung dengan SP2D LS pada tanggal 30 Mei 2006.
Jurnal untuk pembelian mesin fotocopy tersebut adalah:

Tanggal Uraian Ref Debet Kredit


Belanja Modal Peralatan dan 60 juta
Mesin
Kas di Kas Daerah 60 juta
(Untuk mencatat realisasi belanja
modal)
Peralatan dan Mesin 60 juta
Diinvestasikan dalam Aset 60 juta
Tetap
(Untuk mencatat perolehan mesin
fotocopy)

2. Pembayaran melalui Dana Kas Kecil


Pada saat dana kas kecil diberikan kepada para Bendahara
Pengeluaran/Pemegang Kas, di pemerintahan disebut uang persediaan
(UP), belum membebani belanja.

Sebagai contoh:
Diberikan uang persediaan sebesar Rp10 juta kepada Sdr. Zulfikar,
Bendahara pengeluaran di Dinas Perindustrian.
Jurnal untuk pemberian uang persediaan tersebut adalah:

No. Uraian Ref Debet Kredit


Kas di Bendahara Pengeluaran 10 juta
Kas di Kas Daerah 10
juta
(Untuk mencatat pemberian uang
muka kerja)

Pada saat dibelanjakan oleh Bendahara Pengeluaran belum diakui sebagai


belanja. Pada saat dipertanggungjawabkan barulah diakui sebagai belanja.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 02 15


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Sebagai Contoh:
Dari UP telah dibelanjakan Rp8 juta untuk biaya perjalanan dinas.
Pengeluaran tersebut dipertanggungjawabkan ke SKPKD dan setelah
diverifikasi pengeluaran tersebut disetujui. Selanjutnya diberikan
pengganti dengan menerbitkan SP2D-GU sebesar Rp8 juta.

Jurnal untuk pertanggungjawaban UP tersebut adalah:

Tanggal Uraian Ref Debet Kredit


Belanja Barang 8 juta
Kas di Kas Daerah 8 juta
(Untuk mencatat belanja perjalanan
dinas)

Pengeluaran yang dilakukan mendekati tutup tahun anggaran pada


umumnya tidak diberikan penggantian UP. Sebagai pengesahan
pertanggungjawaban, akan diterbitkan SPM dan SP2D GU Nihil.

Sebagai contoh:
Dari UP sejumlah Rp10 juta telah dibelanjakan Rp9 juta untuk belanja
barang dan jasa. Pengeluaran ini dipertanggungjawabkan pada tanggal
27 Desember 2005. Terhadap pengeluaran ini tidak diberikan
penggantian UP, tetapi diterbitkan SPM dan SP2D GU Nihil.

Jurnal SPM dan SP2D GU Nihil, adalah:

Tanggal Uraian Ref Debet Kredit


Belanja Barang 9 juta
Kas di Kas Daerah 9 juta
(Untuk mencatat belanja barang dan
jasa)
Kas di Kas Daerah 9 juta
Kas di Bendahara Pengeluaran 9 juta
(Untuk mencatat pengembalian UP)

Terhadap sisa UP akan disetor kembali ke rekening Kas Umum Daerah.

Sebagai contoh:
Sisa UP untuk contoh di atas adalah Rp 1 juta. Jumlah tersebut disetor
ke Kas Daerah pada tanggal 2 Januari 2006.
Jurnal untuk setoran sisa UP adalah:

Tanggal Uraian Ref Debet Kredit


Kas di Kas Daerah 1 juta
Kas di Bendahara Pengeluaran 1 juta
(Untuk mencatat setoran sisa UP)

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 02 16


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

3. Penerimaan Kembali Belanja


Walaupun pembayaran belanja telah dilakukan secara hati-hati,
namun kadang-kadang terjadi kesalahan/kelebihan sehingga ada koreksi
atau penerimaan kembali belanja di kemudian hari. Koreksi atas
pengeluaran belanja (penerimaan kembali belanja) yang terjadi pada
periode pengeluaran belanja dibukukan sebagai pengurang belanja pada
periode yang sama. Apabila diterima pada periode berikutnya, koreksi atas
pengeluaran belanja dibukukan dalam Pendapatan lain-lain.

Sebagai contoh:
Pada bulan Juni 2006 diterima kembali belanja pegawai bulan Maret 2006
sejumlah Rp2 juta.

Jurnal untuk penerimaan kembali belanja tersebut adalah:

Tanggal Uraian Ref Debet Kredit


Kas di Kas Daerah 2 juta
Belanja Pegawai 2 juta
(Untuk mencatat penerimaan kembali
belanja pegawai)

Sebagai contoh:
Pada bulan Juni 2006 diterima pengembalian belanja perjalanan dinas
sejumlah Rp5 juta dari seorang pegawai yang dibayarkan pada tahun
2005.

Jurnal untuk penerimaan kembali belanja tersebut adalah:

Tanggal Uraian Ref Debet Kredit


Kas di Kas Daerah 5 juta
Pendapatan lain-lain PAD 5 juta
(Untuk mencatat penerimaan kembali
perjalanan dinas tahun lalu)

D. Akuntansi Surplus/Defisit
Surplus adalah selisih lebih antara pendapatan dan belanja selama satu
periode pelaporan. Defisit adalah selisih kurang antara pendapatan dan
belanja selama satu periode pelaporan. Selisih lebih/kurang antara
pendapatan dan belanja selama satu periode pelaporan dicatat dalam pos
Surplus/Defisit. Surplus/defisit diperoleh melalui jurnal penutup pendapatan
dan belanja.

Sebagai contoh:
Pendapatan berjumlah Rp1.000 juta dan belanja berjumlah Rp900 juta.

Jurnal penutupnya adalah:

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 02 17


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Tanggal Uraian Ref Debet Kredit


Pendapatan.... 1000 juta
Belanja..... 900 juta
Surplus/defisit 100 juta
(Untuk menutup pendapatan dan
belanja)

E. Akuntansi Pembiayaan
Pembiayaan (financing) adalah seluruh transaksi keuangan pemerintah,
baik penerimaan maupun pengeluaran, yang perlu dibayar atau akan diterima
kembali, yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk
menutup defisit dan/atau memanfaatkan surplus anggaran. Transaksi
pembiayaan dapat berupa transaksi penerimaan pembiayaan dan pengeluaran
pembiayaan.

1. Akuntansi Penerimaan Pembiayaan


Penerimaan pembiayaan adalah semua penerimaan kas daerah
antara lain berasal dari penerimaan pinjaman, penjualan obligasi
pemerintah, hasil privatisasi perusahaan perusahaan daerah, penerimaan
kembali pinjaman yang diberikan kepada fihak ketiga, dan penjualan
investasi permanen lainnya. Penerimaan pembiayaan diakui pada saat
diterima di Kas Daerah.
Terhadap setiap penerimaan pembiayaan dibuat 2 (dua) jurnal.
Pertama, untuk mengakui realisasi penerimaan anggaran, kedua,j urnal
korolari untuk mengakui akun neraca terkait yang dipengaruhi transaksi
tersebut.

Sebagai contoh:
Pada tahun 2006 diterima pinjaman dari Pemerintah Pusat sejumlah
Rp500 juta. Pinjaman ini merupakan pinjaman jangka panjang, yang
akan diangsur selama 5 tahun mulai tahun 2008.

Jurnal untuk penerimaan pinjaman tersebut adalah:

Tanggal Uraian Ref Debet Kredit


Kas di Kas Daerah 500 juta
Penerimaan Pinjaman 500 juta
(Untuk mencatat penerimaan
pinjaman dari Pemerintah Pusat)
Dana yg harus disediakan untuk 500 juta
pembayaran utang jk panjang
Utang kepada Pemerintah 500 juta
Pusat
(Untuk mencatat utang jangka
panjang dari Pemerintah Pusat)

2. Akuntansi Pengeluaran Pembiayaan


Pengeluaran pembiayaan adalah semua pengeluaran kas daerah
karena memberikan pinjaman kepada pihak ketiga, pembentukan dana

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 02 18


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

cadangan, penyertaan modal pemerintah, dan pembayaran kembali pokok


pinjaman dalam periode tahun anggaran tertentu. Pengeluaran
pembiayaan diakui pada saat dikeluarkannya kas dari Kas Daerah.
Sebagai contoh:
Dikeluarkan uang sejumlah Rp100 juta sebagai penyertaan modal
pada PDAM.

Jurnal untuk pengeluaran penyertaan modal pada PDAM tersebut


adalah:

Tanggal Uraian Ref Debet Kredit


Pengeluaran Penyertaan Modal 100 juta
Pemda
Kas di Kas Daerah 100 juta
(Untuk mencatat penyertaan modal
pada PDAM)
Penyertaan Modal Pemda 100 juta
Diinvestasikan dalam 100 juta
Investasi Jk Panjang
(Untuk mencatat penyertaan modal
pada PDAM)

3. Akuntansi Pembiayaan Neto


Pembiayaan neto adalah selisih antara penerimaan pembiayaan
setelah dikurangi pengeluaran pembiayaan dalam periode tahun anggaran
tertentu. Selisih lebih/kurang antara penerimaan dan pengeluaran
pembiayaan selama satu periode pelaporan dicatat dalam pos Pembiayaan
Neto.

Sebagai contoh:
Selama satu tahun anggaran, penerimaan pembiayaan berasal dari
penerimaan pinjaman sejumlah Rp200 juta, dan pengeluaran
pembiayaan hanya untuk penyertaan modal sejumlah Rp250 juta.

Jurnal penutupnya adalah:

Tanggal Uraian Ref Debet Kredit


Penerimaan Pinjaman 200 juta
Pembiayaan Neto 50 juta
Pengeluaran Penyertaan 250 juta
Modal
(Untuk menutup penerimaan dan
pengeluaran pembiayaan)

F. Akuntansi Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran


Selisih lebih/kurang pembiayaan anggaran (SILPA/SIKPA) adalah selisih
lebih/kurang antara realisasi penerimaan dan pengeluaran selama satu
periode pelaporan. Selisih lebih/kurang antara realisasi penerimaan dan
pengeluaran selama satu periode pelaporan dicatat dalam pos SILPA/SIKPA.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 02 19


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

SILPA/SIKPA diperoleh dari penutupan akun Surplus/Defisit dan


Pembiayaan Neto pada akhir tahun anggaran.
Sebagai contoh:
Surplus/defisit pada contoh di atas bersaldo kredit Rp100 juta sedangkan
Pembiayaan Neto bersaldo debet Rp50 juta.

Jurnal penutupnya adalah:


Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Surplus/Defisit 100 juta
Pembiayaan Neto 50 juta
SILPA 50 juta
(Untuk menutup Surplus/defisit
dan Pembiayaan neto)

G. Transaksi Pendapatan, Belanja, dan Pembiayaan Berbentuk Barang


Transaksi pendapatan, belanja, dan pembiayaan dalam bentuk
barang/aset harus dilaporkan dalam LRA dengan cara menaksir nilai aset
tersebut pada tanggal transaksi. Berhubung transaksi ini harus dicatat sebagai
pendapatan dan belanja atau pembiayaan, maka perlu dibuatkan dokumen
anggaran sebagai pendapatan, belanja, atau pembiayaan sebagai dokumen
pengesahan anggaran. Berdasarkan dokumen pengesahan inilah dibuat jurnal
untuk mencatat transaksi ini. Berhubung transaksi ini tidak melibatkan arus
kas maka transaksi ini tidak dilaporkan dalam Laporan Arus Kas.
Di samping itu, transaksi semacam ini juga harus diungkapkan
sedemikian rupa pada Catatan atas Laporan Keuangan sehingga dapat
memberikan semua informasi yang relevan mengenai bentuk dari
pendapatan, belanja, dan pembiayaan yang diterima. Contoh transaksi
berwujud barang adalah hibah dalam wujud barang dan barang rampasan.

Sebagai contoh:
Diterima hibah dari UNICEF sebuah mobil ambulance seharga Rp200 juta.

Jurnal penerimaan hibah berupa barang ini adalah:

Tanggal Uraian Ref Debet Kredit


Kas di Kas Daerah 200 juta
Pendapatan Hibah 200 juta
(Untuk mencatat pendapatan hibah
berupa kendaraan dari UNICEF)
Belanja Modal Peralatan dan 200 juta
Mesin
Kas di Kas Daerah 200 juta
(Untuk mencatat perolehan kendaraan
dari hibah UNICEF)
Peralatan dan Mesin 200 juta
Diinvestasikan dalam Aset 200 juta
Tetap
(Untuk mencatat hibah berupa
kendaraan dari UNICEF)

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 02 20


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

SOAL LATIHAN

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat


1. Penyajian antara anggaran dan realisasi dalam Laporan Realisasi
Anggaran:
a. harus disajikan secara tersanding
b. penyajian realisasi tidak harus mengikuti anggaran
c. anggaran dilaporkan terpisah untuk legislatif saja
d. jawaban a dan b benar.

2. Laporan Realisasi Anggaran adalah laporan yang memuat informasi


mengenai:
a. pendapatan
b. belanja
c. pembiayaan
d. jawaban a, b, dan benar.

3. Basis akuntansi yang dianut dalam penyajian Laporan Realisasi


Anggaran:
a. kas
b. akrual
c. kas menuju akrual
d. kas dan akrual.

4. Pendapatan yang dipungut oleh Bendahara Penerimaan yang belum


disetorkan ke Kas Daerah:
a. diakui sebagai pendapatan
b. belum diakui sebagai pendapatan
c. diakui sebagai transfer
d. diakui sebagai kiriman uang.

5. Pembayaran belanja misalnya untuk pembelian barang yang dilakukan


oleh satuan kerja perangkat daerah diakui sebagai pengeluaran belanja
pada saat:
a. telah dibayarkan oleh Bendahara Pengeluaran SKPD ybs.
b. kwitansi diterima dari rekanan
c. pengeluaran tersebut diverifikasi oleh Kas Daerah
d. di-SPJ-kan oleh Bendahara Pengeluaran.

6. Jenis penerimaan di bawah ini diakui sebagai pendapatan pemerintah


daerah kabupaten, kecuali:
a. retribusi pasar
b. dana Alokasi Umum
c. transfer dana pembantuan dari provinsi untuk desa
d. bagian pajak penghasilan dari Pemerintah Pusat.

7. Belanja dalam lembar muka Laporan Realisasi Anggaran diklasifikasikan


berdasarkan:
a. jenis belanja
b. organisasi
c. fungsi
d. jawaban a, b, dan c. benar.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 02 21


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

8. Transaksi dana cadangan dalam Laporan Realisasi Anggaran disajikan


dalam:
a. kelompok belanja
b. kelompok pendapatan
c. kelompok pembiayaan
d. kelompok tersendiri bukan jawaban a, b, dan c.

9. Penerimaan pemerintah daerah yang berasal dari potongan Pajak


Penghasilan dalam Laporan Realisasi Anggaran disajikan sebagai:
a. transfer
b. penerimaan pembiayaan
c. tidak disajikan
d. disajikan sebagai SiLPA.

10. Akuntansi anggaran mencatat transaksi keuangan pemerintahan:


a. pada saat realisasi
b. sejak pengesahan anggaran
c. sejak otorisasi anggaran
d. setelah ada bukti penerimaan dan pengeluaran kas.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 02 22


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

DAFTAR BACAAN

1. UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara;


2. UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara;
3. UU No. 15/2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara;
4. UU No. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
5. UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah;
6. UU No. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah
Pusat dan Pemerintahan Daerah;
7. PP No. 23/2005 tentang Pengelolaan Keuangan BLU;
8. PP No. 24/2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan;
9. PP No. 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
10. PP No. 8/2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi
Pemerintah.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 02 23


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Komponen laporan keuangan yang dipersyaratkan Standar Akuntansi


Pemerintahan (SAP) terdiri dari Neraca, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan
Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Penyajian keempat komponen
secara umum diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP)
01. Pos-pos neraca diatur dalam PSAP 05, PSAP 06, PSAP 07, PSAP 08, PSAP 09.
Laporan Realisasi Anggaran diatur secara khusus dalam PSAP 02, Laporan Arus
Kas diatur secara khusus dalam PSAP 03, dan Catatan atas Laporan Keuangan
diatur secara khusus dalam PSAP 04.

Modul ini membahas mengenai Laporan Arus Kas sesuai dengan PSAP 03.
Laporan Arus Kas merupakan laporan keuangan yang memberikan informasi
historis mengenai perubahan kas dan setara kas suatu entitas pelaporan dengan
mengklasifikasikan arus kas berdasarkan aktivitas operasi, investasi aset
nonkeuangan, pembiayaan, dan nonanggaran selama satu periode akuntansi.

Laporan Arus Kas mempunyai kekhususan. Laporan tersebut


menggambarkan saldo awal kas, perubahan selama periode tertentu, dan saldo
akhir. Dalam Laporan Arus Kas disajikan seluruh arus masuk dan keluar kas
serta saldo baik yang berasal dari transaski yang berhubungan dengan anggaran
maupun yang tidak. Laporan ini juga hanya disajikan oleh unit yang mempunyai
fungsi perbendaharaan

Tujuan pelaporan arus kas adalah memberikan informasi mengenai


sumber, penggunaan, perubahan kas dan setara kas selama suatu periode
akuntansi dan saldo kas dan setara kas pada tanggal pelaporan. Informasi ini
disajikan untuk pertanggungjawaban dan pengambilan keputusan.

B. Tujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran Umum


Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta mampu:
1. Memahami Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)
2. Mampu mengimplementasikan SAP dalam menyusun dan menyajikan
Laporan Keuangan

Tujuan Pembelajaran Khusus


Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta mampu:
1. Memahami pengertian Kas dan Setara Kas serta manfaat informasi
Laporan Arus Kas;
2. Mengetahui bentuk dan struktur Laporan Arus Kas;
3. Memahami dasar pengklasifikasian penyajian Laporan Arus Kas;
4. Mengetahui entitas pelaporan arus kas;

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 03 1


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

5. Memahami metode penyajian Laporan Arus Kas;


6. Menyajikan Laporan Arus Kas.

C. Deskripsi Singkat

Laporan Arus Kas merupakan salah satu komponen laporan keuangan


pemerintah. Laporan ini menggambarkan arus masuk dan arus keluar kas
selama satu periode kemudian dihubungkan dengan saldo kas awal dan akhir
periode. Arus kas diklasifikasikan berdasarkan aktivitas-aktivitas. Laporan Arus
Kas berhubungan dengan Laporan Realisasi Anggaran dan Neraca.

D. Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran dalam pelatihan ini dilakukan dengan cara


pemaparan teori yang diikuti dengan tanya jawab serta diskusi soal-soal latihan
dan contoh kasus yang bertalian dengan penyusunan Laporan Arus Kas.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 03 2


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB II

PENGERTIAN DAN MANFAAT LAPORAN ARUS KAS

A. Pengertian

Laporan Arus Kas merupakan laporan yang menyajikan informasi


mengenai penerimaan dan pengeluaran kas melalui kas umum negara/kas
daerah selama periode tertentu. Pada dasarnya aktivitas keuangan pemerintah
sebagian besar merupakan penerimaan dan pengeluaran kas negara/daerah
dalam rangka pencapaian sasaran-sasaran yang ditetapkan. Bahkan penentuan
adanya hak dan kewajiban pemerintah diakui pada saat kas diterima atau
dikeluarkan dari kas umum negara/kas daerah. Hal ini sesuai dengan basis yang
dianut yaitu basis kas menuju akrual.

Laporan Arus Kas menggambarkan arus masuk dan arus keluar kas dan
setara kas. Arus kas masuk dapat berasal dari penerimaan tunai pendapatan,
penjualan aset tetap, pencairan dana cadangan, penjualan kekayaan daerah
yang dipisahkan, pinjaman bahkan penerimaan atas potongan pembayaran yang
dilakukan pemerintah (PFK). Arus kas keluar misalnya pembayaran tunai belanja
pegawai, belanja modal, pembayaran cicilan hutang, pemberian pinjaman,
pembentukan dana cadangan, penyertaan modal pemerintah, dan penyetoran
kepada pihak ketiga (PFK) atas pemotongan yang telah dilakukan.

Penerimaan dan pengeluaran kas dalam Laporan Arus Kas disajikan


berdasarkan aktivitas-aktivitas keuangan pemerintahan. Penerimaan dan
pengeluaran dikelompokkan berdasarkan aktivitas tersebut. Aktivitas tersebut
terdiri dari aktivitas operasi, investasi aset nonkeuangan, aktivitas pembiayaan,
dan aktivitas nonanggaran. Hal ini berbeda dengan penyajian yang ada dalam
Laporan Realisasi Anggaran.

Pada dasarnya penerimaan dan pengeluaran yang tercantum dalam


Laporan Arus Kas sama dengan penerimaan dan pengeluaran yang ada dalam
Laporan Realisasi Anggaran. Pendapatan dan belanja juga penerimaan dan
pengeluaran pembiayaan seperti yang tercantum dalam Laporan Realisasi
Anggaran diakui berdasarkan penerimaan dan pengeluaran kas di kas
negara/daerah. Hal ini disebabkan basis yang dianut dalam penyajian Laporan
Realisasi Anggaran yaitu basis kas.

Akan tetapi ada transaksi keuangan pemerintah yang menimbulkan


penerimaan dan pengeluaran kas tetapi tidak dianggarkan. Artinya transaksi
tersebut tidak tercantum dalam Laporan Realisasi Anggaran. Transaksi atau
aktivitas ini disebut transaksi nonanggaran. Transaksi ini sebenarnya merupakan
penerimaan kas untuk dan atas nama pihak lain yang harus diserahkan kepada
pihak tersebut. Oleh karena itu transaksi ini disebut transaksi perhitungan pihak
ketiga (PFK). Misalnya, pemerintah daerah diwajibkan memungut pajak
penghasilan atas pembayaran gaji atau honor yang dilakukan. Pemungutan
tersebut untuk dan atas nama Pemerintah Pusat (Ditjen Pajak) dan harus disetor
kepada Pemerintah Pusat (Ditjen Pajak). Transaksi ini merupakan arus masuk

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 03 3


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

dan keluar kas dan mempengaruhi posisi kas tetapi tidak masuk dalam Laporan
Realisasi Anggaran.

Transaksi nonanggaran menjadi faktor yang membedakan substansi


Laporan Realisasi Anggaran dan Laporan Arus Kas. Hal lain yang membedakan
adalah penyajian. Penerimaan dan pengeluaran kas dalam Laporan Realisasi
Anggaran diklasifikasikan berdasarkan jenis belanja sedangkan penyajian dalam
Laporan Arus Kas diklasifikasikan berdasarkan aktivitas keuangan pemerintahan.

Pengertian kas dan setara kas yang ada dalam Laporan Realisasi
Anggaran sama dengan pengertian kas dan setara kas dalam neraca. Dalam
Laporan Arus Kas terdapat tiga jenis kas yang mempunyai nama dan jenis yang
sama dalam neraca. Jenis kas dan setara kas yang dimaksud untuk Pemda
adalah Kas di Kas Daerah, Kas di Bendahara Pengeluaran, dan Kas di Bendahara
Penerimaan. Saldo-saldo yang ditunjukkan dalam Laporan Arus Kas harus
menunjukkan jumlah yang sama dalam neraca.

B. Manfaat Laporan Arus Kas

Laporan Arus Kas bermanfaat untuk berbagai kepentingan. Informasi arus


masuk dan keluar kas dalam Laporan Arus Kas berguna untuk melihat transaksi
kas di masa lalu dan memprediksi arus kas di masa yang akan datang. Dalam
paragraf 5, 6, dan 7 PSAP 03 mengungkapkan bahwa Laporan Arus Kas
berguna:

- sebagai indikator jumlah arus kas di masa yang akan datang, serta berguna
untuk menilai kecermatan atas taksiran arus kas yang telah dibuat
sebelumnya;

- sebagai alat pertanggung-jawaban arus kas masuk dan arus kas keluar
selama periode pelaporan;

- memberikan informasi yang bermanfaat bagi para pengguna laporan dalam


mengevaluasi perubahan kekayaan bersih/ekuitas dana suatu entitas
pelaporan dan struktur keuangan pemerintah (termasuk likuiditas dan
solvabilitas).

Realisasi arus kas dapat dijadikan sebagai indikator arus kas di masa yang
akan datang. Kejadian yang akan datang dapat diperkirakan dari realisasi yang
terjadi saat ini. Perkiraan atau prediksi ini akan lebih baik kalau didasarkan pada
data masa lalu lebih dari satu. Data lebih dari satu ini dapat disusun dalam
bentuk analisis kecenderungan (trend) untuk mendapatkan perkiraan yang lebih
tepat. Arus kas dapat digunakan dalam analisis trend untuk memperkirakan arus
kas di masa yang akan datang.

Arus kas merupakan transaksi penting dalam pemerintahan. Arus kas


keluar dan masuk merupakan prediksi sebelum terjadi. Sebuah Laporan Arus
Kas menunjukkan realisasi arus kas yang diprediksi sebelumnya. Oleh karena
itu, Laporan Arus Kas yang disusun dapat dijadikan untuk menilai kecermatan
taksiran yang telah dibuat sebelumnya.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 03 4


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Penerimaan dan penggunaan kas sebenarnya direncanakan dan disepakati


dari awal. Jenis-janis penerimaan dan pengeluaran yang ada dalam Laporan
Realisasi Anggaran juga merupakan kesepakatan adanya penerimaan dan
pengeluaran kas untuk berbagai aktivitas. Oleh karena itu penyajian laporan
Arus Kas juga merupakan bentuk pertanggungjawaban.

Laporan Arus Kas sebagai pertanggungjawaban terkait juga dengan fungsi


yang menyajikannya. Laporan Arus Kas dibuat oleh unit yang memegang fungsi
perbendaharaan. Fungsi perbendaharaan yang dimaksud adalah Bendahara
Umum Negara/Bendahara Umum Daerah sehingga merupakan bentuk
pertanggungjawaban Bendahara Umum Negara/Bendahara Umum Daerah.

Informasi mengenai arus kas juga dapat dijadikan bahan evaluasi aktiva
bersih atau ekuitas. Peningkatan jumlah kas akan meningkatkan juga ekuitas.
Kas di Kas Daerah dan Kas di Bendahara Pengeluaran dalam konteks Pemda
akan dapat dilihat dalam rekening kelompok ekuitas yaitu SiLPA. Sementara itu,
Kas di Bendahara Penerimaan juga dapat dilihat dalam kelompok ekuitas tetapi
dengan nama akun Pendapatan Ditangguhkan. Hal ini merupakan pencerminan
konsep rekening yang saling menyeimbangkan (self balancing account).

Klasifikasi arus kas menurut aktivitas operasi, investasi aset


nonkeuangan, pembiayaan, dan non anggaran memberikan informasi yang
memungkinkan para pengguna laporan untuk menilai pengaruh dari aktivitas
tersebut terhadap posisi kas dan setara kas pemerintah. Informasi tersebut juga
dapat digunakan untuk mengevaluasi hubungan antar aktivitas operasi, investasi
aset nonkeuangan, pembiayaan, dan nonanggaran.

Satu transaksi tertentu dapat mempengaruhi arus kas dari beberapa


aktivitas, misalnya transaksi pelunasan utang yang terdiri dari pelunasan pokok
utang dan bunga utang. Pembayaran pokok utang akan diklasifikasikan ke
dalam aktivitas pembiayaan sedangkan pembayaran bunga utang akan
diklasifikasikan ke dalam aktivitas operasi.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 03 5


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB III

BENTUK DAN STRUKTUR LAPORAN ARUS KAS

Bentuk dan struktur Laporan Arus Kas merupakan kerangka atau acuan
dalam penyajian Laporan Arus Kas. Bentuknya terdiri dari uraian berbagai
aktivitas yang disajikan secara stafel diurutkan dari atas ke bawah. Penyajian
didahului dengan arus kas masuk dan keluar berbagai aktivitas. Kemudian
disajikan saldo awal dan saldo akhir kas.

Struktur Laporan Arus Kas terdiri dari arus masuk dan keluar kas
berbagai aktivitas. Dari arus masuk dan arus masuk setiap aktivitas akan
diperoleh arus kas bersih dari setiap aktivitas. Arus kas bersih setiap aktivitas
dijumlahkan sehingga diperoleh kenaikan atau penurunan kas. Jika arus
penjumlahan arus kas bersih setiap aktivitas positif berarti ada kenaikan kas.
Sebaliknya jika penjumlahan arus kas bersih setiap aktivitas negatif maka
terjadi penurunan kas. Kenaikan atau penurunan kas akan ditambahkan dengan
saldo akhir sehingga diperoleh saldo akhir. Saldo akhir yang dihasilkan dari
penjumlahan ini harus sama dengan yang tercatat di neraca untuk masing-
masing akun yang berkaitan.

Aktivitas yang dijadikan dasar dalam penyajian Laporan Arus Kas terdiri
dari aktivitas operasi, aset nonkeuangan, pembiayaan, dan nonanggaran.
Aktivitas operasi adalah aktivitas penerimaan dan pengeluaran kas yang
ditujukan untuk kegiatan operasional pemerintah selama satu periode akuntansi.

Aktivitas investasi aset nonkeuangan adalah aktivitas penerimaan dan


pengeluaran kas yang ditujukan untuk perolehan dan pelepasan aset tetap dan
aset nonkeuangan lainnya. Aktivitas pembiayaan adalah aktivitas penerimaan
kas yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran kas yang akan diterima
kembali yang mengakibatkan perubahan dalam jumlah dan komposisi investasi
jangka panjang, piutang jangka panjang, dan utang pemerintah sehubungan
dengan pendanaan defisit atau penggunaan surplus anggaran. Aktivitas
nonanggaran adalah aktivitas penerimaan dan pengeluaran kas yang tidak
mempengaruhi anggaran pendapatan, belanja, transfer, dan pembiayaan
pemerintah.

Aktivitas-aktivitas dalam penyajian Laporan Arus Kas diuraikan lebih rinci


sebagai berikut:

A. Aktivitas Operasi

Arus kas bersih aktivitas operasi merupakan indikator yang menunjukkan


kemampuan operasi pemerintah dalam menghasilkan kas yang cukup untuk
membiayai aktivitas operasionalnya di masa yang akan datang tanpa
mengandalkan sumber pendanaan dari luar.

Arus masuk kas dari aktivitas operasi terutama diperoleh dari:


1. Penerimaan Perpajakan;
2. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP);

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 03 6


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

3. Penerimaan Hibah;
4. Penerimaan Bagian Laba perusahaan negara/daerah dan Investasi
Lainnya; dan
5. Transfer masuk.

Arus keluar kas untuk aktivitas operasi terutama digunakan untuk pengeluaran:
1. Belanja Pegawai;
2. Belanja Barang;
3. Bunga;
4. Subsidi;
5. Bantuan Sosial;
6. Hibah;
7. Belanja Lain-lain; dan
8. Transfer keluar.

Jika suatu entitas pelaporan mempunyai surat berharga yang sifatnya


sama dengan persediaan, yang dibeli untuk dijual, maka perolehan dan
penjualan surat berharga tersebut diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi.

Jika entitas pelaporan mengotorisasikan dana untuk kegiatan suatu


entitas lain, yang peruntukannya belum jelas apakah sebagai modal kerja,
penyertaan modal, atau untuk membiayai aktivitas periode berjalan, maka
pemberian dana tersebut harus diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi.
Kejadian ini dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan.

B. Aktivitas Investasi Aset Nonkeuangan

Arus kas dari aktivitas investasi aset nonkeuangan mencerminkan


penerimaan dan pengeluaran kas bruto dalam rangka perolehan dan pelepasan
sumber daya ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan dan mendukung
pelayanan pemerintah kepada masyarakat di masa yang akan datang.
Arus masuk kas dari aktivitas investasi aset nonkeuangan terdiri dari:
1. Penjualan Aset Tetap;
2. Penjualan Aset Lainnya.

Arus keluar kas dari aktivitas investasi aset nonkeuangan terdiri dari :
1. Perolehan Aset Tetap;
2. Perolehan Aset Lainnya.

C. Aktivitas Pembiayaan

Arus kas dari aktivitas pembiayaan mencerminkan penerimaan dan


pengeluaran kas bruto sehubungan dengan pendanaan defisit atau penggunaan
surplus anggaran, yang bertujuan untuk memprediksi klaim pihak lain terhadap
arus kas pemerintah dan klaim pemerintah terhadap pihak lain di masa yang
akan datang.
Arus masuk kas dari aktivitas pembiayaan antara lain:
1. Penerimaan Pinjaman;
2. Penjualan Surat Utang Negara Pemerintah;

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 03 7


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

3. Hasil Privatisasi Perusahaan Negara/Daerah;


4. Penjualan Investasi Jangka Panjang Lainnya; dan
5. Pencairan Dana Cadangan.

Arus keluar kas dari aktivitas pembiayaan antara lain:


1. Pembayaran Cicilan Pokok Utang;
2. Pembayaran Obligasi Pemerintah;
3. Penyertaan Modal Pemerintah;
4. Pemberian Pinjaman Jangka Panjang; dan
5. Pembentukan Dana Cadangan.

D. Aktivitas Nonanggaran

Arus kas dari aktivitas nonanggaran mencerminkan penerimaan dan


pengeluaran kas bruto yang tidak mempengaruhi anggaran pendapatan, belanja
dan pembiayaan pemerintah. Arus kas dari aktivitas nonanggaran antara lain
Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) dan kiriman uang. PFK menggambarkan kas
yang berasal dari jumlah dana yang dipotong dari Surat Perintah Membayar atau
diterima secara tunai untuk pihak ketiga misalnya potongan Taspen dan Askes.
Kiriman uang menggambarkan mutasi kas antar rekening kas umum
negara/daerah.

Arus masuk kas dari aktivitas nonanggaran meliputi penerimaan PFK dan
kiriman uang masuk. Sedangkan, arus keluar kas dari aktivitas nonanggaran
meliputi pengeluaran PFK dan kiriman uang keluar.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 03 8


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB IV

PENYAJIAN LAPORAN ARUS KAS

A. Entitas Penyaji Laporan Arus Kas

Laporan Arus Kas mempunyai ciri khas dalam penyajiannya. Tidak seluruh
entitas menyajikan Laporan Arus Kas. Laporan ini hanya disajikan oleh unit
yang mempunyai fungsi perbendaharaan. Hal ini diatur dalam paragraf 12 PSAP
03 yang berbunyi sebagai berikut: Entitas pelaporan yang wajib menyusun dan
menyajikan laporan arus kas adalah unit organisasi yang mempunyai fungsi
perbendaharaan. Selanjutnya dalam paragraf 13 disebutkan: unit organisasi
yang mempunyai fungsi perbendaharaan adalah unit yang ditetapkan sebagai
bendaharawan umum negara/daerah dan/atau kuasa bendaharawan umum
negara/daerah.

Di pemerintah pusat unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan adalah


bendaharawan umum negara. Di pemerintah daerah unit yang mempunyai
fungsi perbendaharaan adalah Bendahara Umum Daerah (BUD). Dengan
demikian yang membuat Laporan Arus Kas di pemerintah pusat adalah
Bendahara Umum Negara dan di pemerintah daerah Bendahara Umum Daerah.

Pada pemerintah daerah, entitas pelaporan yaitu entitas yang menyajikan


laporan keuangan yang dimaksudkan untuk tujuan umum hanya satu. Satuan
kerja perangkat daerah (SKPD) bukan merupakan entitas pelaporan. Dengan
demikian SKPD bukan tidak membuat Laporan Arus Kas.

Lain halnya di pemerintah pusat. Kementerian/Lembaga merupakan


entitas pelaporan tetapi tidak membuat Laporan Arus Kas. Laporan Arus Kas
hanya dibuat oleh Bendaharawan Umum Negara yaitu Menteri Keuangan.

B. Metode Penyajian Laporan Arus Kas

Laporan Arus Kas dapat disajikan dalam dua metode. Entitas pelaporan
dapat menyajikan arus kas dari aktivitas operasi dengan cara:

1. Metode Langsung

Metode ini mengungkapkan pengelompokan utama penerimaan dan pengeluaran


kas bruto.

2. Metode Tidak Langsung

Dalam metode ini, surplus atau defisit disesuaikan dengan transaksi-


transaksi operasional nonkas, penangguhan (deferral) atau pengakuan (accrual)
penerimaan kas atau pembayaran yang lalu/yang akan datang, serta unsur
pendapatan dan belanja dalam bentuk kas yang berkaitan dengan aktivitas
investasi aset nonkeuangan dan pembiayaan.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 03 9


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Entitas pelaporan pemerintah pusat/daerah sebaiknya menggunakan


metode langsung dalam melaporkan arus kas dari aktivitas operasi. Keuntungan
penggunaan metode langsung adalah sebagai berikut:

1. Menyediakan informasi yang lebih baik untuk mengestimasikan arus kas


di masa yang akan datang;

2. Lebih mudah dipahami oleh pengguna laporan; dan

3. Data tentang kelompok penerimaan dan pengeluaran kas bruto dapat


langsung diperoleh dari catatan akuntansi.

Disamping itu, dengan basis yang dianut saat ini belum memungkinkan
digunakannya metode tidak langsung. Transaksi-transaksi nonkas tidak secara
langsung mempengaruhi posisi kas dan penangguhan-penangguhan tidak dapat
disajikan. Oleh karena itu sangat beralasan jika metode yang disarankan untuk
digunakan adalah metode langsung.

C. Hubungan Laporan Arus Kas Dan Neraca

Paragraf 52 PSAP 03 menyebutkan Entitas pelaporan mengungkapkan


komponen kas dan setara kas dalam Laporan Arus Kas yang jumlahnya sama
dengan pos terkait di Neraca. Artinya, ada hubungan atau kesesuaian antara
jumlah-jumlah yang ada dalam Laporan Arus Kas dan Neraca.

Untuk menjelaskan hubungan Neraca dan Laporan Realisasi Anggaran tersebut


diambil contoh di bawah ini. Misalkan di awal tahun 2005 sebuah entitas pemda
memiliki struktur kas sebagai berikut:

- Kas di Kas Daerah Rp 60.000,00

- Kas di Bendahara Pengeluaran Rp 8.000,00

- Kas di Bendahara Penerimaan Rp 3.000,00

Pada tanggal 10 Januari 2005 saldo kas yang ada di Bendahara Pengeluaran
disetorkan ke Kas Daerah. Selama tahun 2005 Pemda tersebut menerima
pendapatan sebesar Rp740.000,00 dan mengeluarkan belanja sebesar
Rp700.000,00. Dalam realisasi pendapatan termasuk yang berasal dari
pendapatan yang telah diterima oleh Bendahara Penerimaan. Belanja tersebut
termasuk pengeluaran dari Bendahara Pengeluaran yang sudah di-SPJ-kan dan
telah terbit SPM-UYHD Nihil sebesar Rp250.000,00. Nilai SPM UYHD awal yang
diterima oleh Bendahara Pengeluaran dari Kas Daerah adalah sebesar
Rp259.000,00. Dengan demikian jumlah belanja yang dibayar langsung oleh Kas
Daerah hanya sebesar Rp450.000,00. Dengan transaksi di atas maka dalam
Neraca per 31 Desember 2005, saldo Kas di Kas Daerah pada akhir tahun
sebesar Rp99.000,00, dan saldo Kas di Bendahara Pengeluaran sebesar
Rp9.000,00. Hal ini dapat dilihat dalam bentuk saldo buku besar sebagai
berikut:

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 03 10


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Kas di Kas Daerah

Uraian Debet Kredit Saldo

Saldo Awal 60.000

Setoran dari Bend Pengeluaran 8.000 68.000

Pendapatan 740.000 808.000

Pengeluaran ke Bend Pengel 259.000 549.000

Pengeluaran Belanja 450.000 99.000

Kas di Bendahara Pengeluaran

Uraian Debet Kredit Saldo

Saldo Awal 8.000

Setoran ke Kas Daerah 8.000 -

Penerimaan dari Kas Daerah 259.000 259.000

Pengeluaran Belanja 250.000 9.000

Dengan pendekatan UUDP, transaksi selama satu tahun di atas


mengakibatkan kenaikan kas sebesar Rp40.000,00 yaitu selisih dari pendapatan
sebesar Rp740.000,00 dan belanja sebesar Rp700.000,00. Diasumsikan bahwa
pada akhir tahun terdapat Kas di Bendahara Penerimaan sebesar Rp4.500,00
bagaimana melaporkan posisi kas awal dan akhir serta kenaikan kas dalam
Laporan Arus Kas? Mengikuti Ilustrasi yang ada di PSAP 03 maka kenaikan kas
serta posisi awal dan posisi akhir akan dilaporkan sebagai berikut:

- Kenaikan Kas Rp 40.000,00

- Saldo Awal Kas di BUD Rp 68.000,00

- Saldo Akhir Kas di BUD Rp 108.000,00

- Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan Rp 4.500,00

- Saldo Akhir Kas Rp 112.500,00

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 03 11


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Saldo Kas yang ada di Neraca adalah sebesar Rp112.500,00 yang


berasala dari: saldo Kas di Kas Daerah dan Kas di Bendahara Pengeluaran
sebesar Rp108.000,00 dan Kas di Bendahara Penerimaan sbesar Rp4.500,00.

Dengan pendekatan UP sama dengan UYHD, transaksi selama satu tahun


di atas mengakibatkan kenaikan kas sebesar Rp40.000,00 yang terdiri dari
kenaikan Kas di Kas Daerah sebesar Rp39.000,00 dan kenaikan Kas di
Bendahara Pengeluaran sebesar Rp1.000,00. Kenaikan Kas di Kas Daerah adalah
selisih antara pendapatan sebesar Rp740.000,00 dengan belanja sebesar
Rp700.000,00 serta selisih antara pembentukan UP dan penerimaan
pengembalian UP (Rp259.000,00-258.000,00). Diasumsikan bahwa pada akhir
tahun terdapat Kas di Bendahara Penerimaan sebesar Rp4.500,00 bagaimana
melaporkan posisi kas awal dan akhir serta kenaikan kas dalam Laporan Arus
Kas? Mengikuti Ilustrasi yang ada di PSAP 03 maka kenaikan kas serta posisi
awal dan posisi akhir akan dilaporkan sebagai berikut:

- Kenaikan Kas Rp 39.000,00

- Saldo Awal Kas di BUD Rp 60.000,00

- Saldo Akhir Kas di Kas Daerah Rp 99.000,00

- Saldo Akhir Kas di Bendahara Pengeluaran Rp 9.000,00

- Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan Rp 4.500,00

- Saldo Akhir Kas Rp 112.500,00

Saldo akhir kas menurut pendekatan UYHD dan UP menghasilkan saldo akhir
yang sama sebesar Rp112.500,00.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 03 12


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

SOAL LATIHAN

Pilihan Ganda:
1. Aktivitas-aktivitas yang dijadikan dasar dalam penyajian Laporan Arus Kas,
kecuali:
a. operasi
b. investasi nonkeuangan
c. dana cadangan
d. pembiayaan.

2. Jenis-jenis akun yang terkait antara Laporan Arus Kas dan di Neraca
pemerintah daerah adalah sebagai berikut kecuali:
a. Kas di BUD
b. Kas di Kas Daerah
c. Kas di Bendahara Penerimaan
d. Kas di Bendahara Pengeluaran.

3. Saldo dana cadangan Pemda dalam bentuk rekening tertentu di sebuah bank,
pelaporannya dalam Laporan Arus Kas adalah:
a. dilaporkan dalam aktivitas pembiayaan
b. dilaporkan dalam saldo akhir kas di BUD
c. tidak dilaporkan dalam Laporan Arus Kas
d. dilaporkan dalam aktivitas operasi.

4. Basis yang dianut dalam penyajian Laporan Realisasi Anggaran (LRA) adalah
basis kas, akan tetapi Laporan Arus Kas (LAK) berbeda dengan LRA dalam
hal:
a. penyajian transaksi non anggaran
b. penyajian belanja
c. penyajian pendapatan
d. penyajian pembiayaan.

5. Metode langsung disarankan dalam penyajian Laporan Arus Kas karena:


a. Metode lain tidak dikenal di SAP
b. lebih mudah
c. Tidak perlu jurnal
d. Metode langsung dan tidak langsung sebenarnya sama saja penyajiannya.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 03 13


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

DAFTAR BACAAN

1. UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara;


2. UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara;
3. UU No. 15/2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara;
4. UU No. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
5. UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah;
6. UU No. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat
dan Pemerintahan Daerah;
7. PP No. 23/2005 tentang Pengelolaan Keuangan BLU;
8. PP No. 24/2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan;
9. PP No. 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
10. PP No. 8/2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi
Pemerintah;
11. Modul Sistem Akuntansi Keuangan Daerah, Revisi 2, Badan Pengawasan
Keuangan dan Pembangunan, 2005.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 03 14


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Laporan keuangan pemerintah disusun untuk tujuan umum dan tujuan


khusus. Laporan bertujuan umum karena laporan tersebut dimaksudkan untuk
memenuhi kebutuhan pengguna akan informasi akuntansi keuangan yang lazim.
Dalam hal ini, yang dimaksud dengan pengguna adalah masyarakat, legislatif,
lembaga pengawas, pemeriksa, pihak yang memberi atau berperan dalam
proses donasi, investasi, dan pinjaman, serta pemerintah. Adapun laporan
keuangan pemerintah sendiri meliputi laporan keuangan yang disajikan terpisah
atau bagian dari laporan keuangan yang disajikan dalam dokumen publik lainnya
seperti laporan tahunan.

Laporan Keuangan mungkin mengandung informasi yang dapat


mempunyai potensi kesalahpahaman di antara pembacanya. Kesalahpahaman
ini dapat saja disebabkan oleh persepsi dari pembaca laporan keuangan.
Pembaca yang terbiasa dengan orientasi anggaran mempunyai potensi
kesalahpahaman dalam memahami konsep akuntansi akrual. Pembaca yang
terbiasa dengan laporan keuangan sektor komersial cenderung melihat laporan
keuangan pemerintah seperti laporan keuangan perusahaan. Untuk itu,
diperlukan pembahasan umum dan referensi ke pos-pos laporan keuangan
menjadi penting bagi pembaca laporan keuangan. Untuk menghindari
kesalahpahaman, laporan keuangan harus disertai dengan Catatan atas Laporan
Keuangan yang berisi informasi untuk memudahkan pengguna dalam
memahami Laporan Keuangan.

Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan atau daftar terinci


atau analisis atas nilai suatu pos yang disajikan dalam Laporan Realisasi
Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas. Termasuk pula dalam Catatan atas
Laporan Keuangan adalah penyajian informasi yang diharuskan dan dianjurkan
oleh Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP) 04.

B. Tujuan Pembelajaran

Dengan mempelajari modul ini, diharapkan peserta pendidikan dan


pelatihan akan dapat memperoleh pemahaman umum dan pemahaman khusus
sekaitan dengan Catatan atas Laporan Keuangan.

1. Tujuan Pembelajaran Umum

Tujuan umum dari pembelajaran ini adalah memberi peserta pendidikan dan
pelatihan pemahaman akan:

1) Arti penting pelaporan yang memadai bagi pengambilan keputusan


2) Relevansi Catatan atas Laporan Keuangan sebagai sumber informasi yang
menjelaskan Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas
dalam kerangka pelaporan yang memadai

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 1


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

2. Tujuan Pembelajaran Khusus

Tujuan khusus dari pembelajaran ini adalah memberi peserta pendidikan dan
pelatihan pemahaman tentang penyusunan Catatan atas Laporan Keuangan
dengan memuat informasi yang berkaitan dengan:

1) kebijakan fiskal/keuangan, ekonomi makro, pencapaian target Undang-


undang APBN/Perda APBD, berikut kendala dan hambatan yang dihadapi
dalam pencapaian target;
2) ikhtisar pencapaian kinerja keuangan selama tahun pelaporan;
3) ikhtisar pencapaian kinerja program selama tahun pelaporan
4) dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan-kebijakan akuntansi
yang dipilih untuk diterapkan atas transaksi-transaksi dan kejadian-
kejadian penting lainnya;
5) informasi yang diharuskan oleh Pernyataan Standar Akuntansi
Pemerintahan yang belum disajikan dalam lembar muka laporan
keuangan;
6) pos-pos aset dan kewajiban yang timbul sehubungan dengan penerapan
basis akrual atas pendapatan dan belanja dan rekonsiliasinya dengan
penerapan basis kas; dan
7) informasi tambahan yang diperlukan untuk penyajian yang wajar, yang
tidak disajikan dalam lembar muka laporan keuangan.

C. Deskripsi Singkat

Catatan atas Laporan Keuangan merupakan salah satu dari komponen


Laporan Keuangan di samping Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan
Arus Kas. Catatan ini merupakan bentuk Laporan yang paling tidak terstruktur,
namun harus disajikan secara baik, terutama pada penjelasan per pos laporan
keuangan harus sesuai dengan tata urutan pos-pos tersebut dalam penyajian
laporan keuangan. Agar mudah dipahami Catatan atas Laporan Keuangan
diharapkan memuat informasi penting secara lengkap, sehingga dapat menjadi
sumber informasi yang sangat relevan dalam pengambilan keputusan.

Sistem akuntansi pemerintah pada prinsipnya mencatat transaksi


keuangan pemerintah, oleh karena itu informasi yang disajikan, termasuk
Catatan atas Laporan Keuangan, adalah informasi yang berhubungan dengan
anggaran dan realisasi anggaran. Pada intinya, Catatan atas Laporan Keuangan
ini menguraikan berbagai hal yang dianggap penting yang telah memengaruhi
penyajian Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas, yang
apabila tidak dijelaskan akan dapat menyesatkan pembaca laporan keuangan
pemerintah. Akan tetapi, mengingat formatnya yang tidak terstruktur karena
boleh diisi dengan informasi berbentuk narasi, grafik dan tabel, pendekatan
pengisiannya menjadi sangat subjektif dan terkendala oleh ketidakjelasan
batasan tentang seberapa banyak informasi yang dapat dianggap memadai.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 2


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

D. Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran dalam pelatihan ini dilakukan dengan cara


pembelajaran andragogi. Oleh karena itu, suatu sesi interaktif antara instruktur
dengan peserta pendidikan dan pelatihan akan sangat membantu dalam
mencapai tujuan pembelajaran.

Untuk itu, pada tahap awal, instruktur akan memberi pemaparan teori
yang terutama dikaitkan dengan PSAP 04 beserta ilustrasi yang terkait.
Pemaparan teori dan ilustrasi ini diharapkan dapat membuka pembahasan aktif
atas berbagai permasalahan aktual baik yang berasal dari instruktur maupun
yang berasal dari pengalaman peserta pelatihan.

Diskusi topik Catatan atas Laporan Keuangan diupayakan tetap terfokus


pada pengertian berbagai aspek, cara penyajian, dan berbagai permasalahan
teoretis maupun praktis yang dihadapi guna mendapatkan pemecahan secara
bersama-sama.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 3


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB II
PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN YANG MEMADAI

A. Asimetri Informasi Keuangan Negara

Pemerintah pusat dan daerah adalah entitas yang mempunyai aset yang
signifikan dibandingkan dengan entitas ekonomi lain dalam suatu negara. Oleh
karena itu, dinamika ekonomi dalam suatu negara pasti sangat dipengaruhi oleh
dinamika perubahan dalam posisi keuangan, operasi, dan arus kas suatu entitas
pemerintahan. Seluruh perubahan ini digambarkan dalam Laporan Realisasi
Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas. Keberadaan standar akuntansi
pemerintah yang mengatur pengakuan, penilaian, pencatatan, dan
pengungkapan seluruh transaksi yang memengaruhi Laporan Realisasi
Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas diharapkan dapat menjembatani
antara persepsi para penyaji laporan keuangan dengan para pengguna, yang
berada dalam suatu asimetri informassi. Artinya, kompleksitas permasalahan,
kompleksitas semantika, dan kompleksitas struktur informasi yang dicoba
dikomunikasikan oleh pemerintah kepada para investor, kreditor, dan
masyarakat pada umumnya diharapkan sudah dapat dijabarkan dalam standar
akuntansi mengenai penyajian Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan
Arus Kas.

Akan tetapi, bagaimanapun komprehensifnya standar ini, kenyataan


bahwa para pengguna bervariasi dalam hal kemampuan memaknai berbagai hal
yang disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas
tetap membuka kemungkinan adanya kesalahpahaman. Struktur laporan dan
semantika yang ada di dalam laporan ini mungkin tidak sepenuhnya mampu
ditanggapi secara pragmatis oleh para pengguna yang tingkat pengetahuannya
Sangay bervariasi.

Asimetri informasi yang terjadi antara penyaji dan pengguna dapat


menimbulkan dampak negatif. Pertama, kesempatan bagi sebagian pihak yang
menguasai informasi untuk mengambil keuntungan dari pihak lain yang kurang
memperoleh informasi. Kedua, sebagian pihak yang menguasai informasi akan
mengupayakan adanya informasi yang akan bermanfaat bagi pencapaian
tujuannya sendiri, sementara pihak lain yang tidak menguasai informasi tidak
memiliki peluang yang sama untuk melakukannya Scott (2006).

Dengan adanya estndar diharapkan dapat mengurangi asimetri


informasi, penggunaan standar sebagai perangkat insentif akan sangat relevan
bagi pemerintah untuk memberi sinyal yang tentang pengelolaan keuangan.
Dengan demikian, masyarakat sebagai pengguna dapat memperoleh keyakinan
tentang informasi yang mereka perlukan untuk pengambilan keputusan. Hal ini
sekaligus dapat digunakan oleh pemerintah untuk pengambilan keputusan dalam
rangka pengelolaan keuangan negara/daerah.

Salah satu praktik pemberian sinyal (signalling) yang baik ini adalah
dengan memberikan pengungkapan yang memadai (full disclosure). Catatan
atas Laporan Keuangan menemui arti pentingnya di sini, karena seperti pada
pelaporan keuangan sektor komersial, ia adalah tak ubahnya seperti
Management Discussion Analysis. Pada bagian MDA inilah manajemen dapat

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 4


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

memaparkan segala hal menyangkut manajemennya yang akan memengaruhi


apresiasi pengguna laporan keuangan terhadap informasi keuangan yang
diberikan. Diharapkan, dengan pemaparan ini, manajemen akan mendapat
apresiasi yang lebih baik dari pengguna laporan keuangan sebagai insentifnya.

B. Insentif bagi Penyajian Laporan Keuangan yang Memadai

Penganggaran pemerintah dewasa ini tidak lagi dapat dipisahkan dari


sistem kapitalisme yang bertumpu pada pasar modal dan pasar uang. Dalam
kasus Indonesia, tekanan defisit anggaran demi pembangunan telah membuat
skema pembaiayaan anggaran harus ditempuh dengan berbagai cara, yang
didominasi oleh penjualan berbagai surat berharga kepada publik dalam bentuk
berbagai macam obligasi dan surat utang negara. Bagi investor, kelayakan
harga pasar semua surat berharga ini pasti sangat terkait dengan risiko dari
ketidakpastian. Ketidakpastian ini bisa timbul dari ketidakjelasan informsional
mengenai berbagai hal yang menyangkut manajemen keuangan negara.

Dalam pengambilan keputusan ekonomi, para investor/kreditor/


masyarakat membutuhkan informasi yang lengkap. Tanpa informasi tersebut,
dikhawatirkan investor akan menghargai surat berharga negara secara tidak
efisien dalam artian harga yang ditetapkan jauh menyimpang daripada harga
pasar wajarnya. Informasi yang memadai diharapkan akan dapat memasok
bahan pertimbangan bagi investor dalam mengambil keputusannya.

Harga yang wajar yang diperoleh dari hasil pertimbangan informasional


oleh investor inilah yang menjadi insentif ekonomis utama yang dapat diperoleh
dari pemberian Catatan atas Laporan Keuangan. Bagaimanapun, ketika
fundamental ekonomi, baik fiskal mupun moneter tidak dapat diungkap dengan
memadai hanya oleh Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus
Kas, adalah logis jika pemerintah mengeliarkan Catatan atas Laporan Keuangan.
Manfaat yang diperoleh terlalu besar untuk tidak diupayakan melalui pemberian
informasi yang memadai.

Di samping itu, Catatan atas Laporan Keuangan pun pasti lebih


bersesuaian dengan prinsip keterbukaan, akuntabilitas, dan partisipasi sebagai
bagian dari good governance. Berbagai informasi kualitatif akan lebih mungkin
mengungkapkan kebijakan pemerintah dalam penganggaran, pengelolaan aset
dan kewajiban, dan bahkan penggunaan ekuitas dana yang tersedia secara
terbuka. Selain itu, di dalam bagian inilah juga kinerja dari realisasi kebijakan
tersebut dapat dilaporkan sebagai bagian dari akuntabilitas keuangan dalam
bahasa yang lebih mudah dicerna oleh lebih banyak pengguna laporan
keuangan. Tentu, dengan pemahaman yang semakin meluas ini, diharapkan
masyarakat dapat lebih berpartisipasi dalam menyikapi kondisi keuangan neagra
yang dilaporkan secara lebih pragmatis.

C. Catatan atas Laporan Keuangan sebagai Wujud Penyajian Laporan


Keuangan yang Memadai

Apapun hasil dari realisasi anggaran, apapun kondisi posisi keuangan


negara, dan bagaimanapun pola penerimaan dan pengeluaran kas negara yang

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 5


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

dilaporkan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam Laporan Realisasi


Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas, diharapkan semua itu merupakan
hasil dari suatu sistem akuntansi pemerintah. Jika sistem akuntansi pemerintah
adalah black box, maka ada banyak hal di dalam sistem tersebut dan di sekitar
sistem tersebut yang masih memerlukan klarifikasi. Klarifikasi inilah yang
diupayakan untuk diungkapkan secara memadai di dalam Catatan atas Laporan
Keuangan.

Beberapa hal pokok yang seyogyanya dimuat dalam Catatan atas Laporan
Keuangan secara memadai adalah mencakup tetapi tidak terbatas pada hal-hal
berikut:

1) Perubahan anggaran yang penting selama periode berjalan dibandingkan


dengan anggaran yang pertama kali disahkan oleh DPR/DPRD, hambatan
dan kendala yang ada dalam pencapaian target yang telah ditetapkan,
serta masalah lainnya yang dianggap perlu oleh manajemen entitas
pelaporan untuk diketahui pembaca laporan keuangan.
2) Kinerja keuangan entitas pelaporan dalam Laporan Realisasi Anggaran
dan ikhtisar indikator dan pencapaian kinerja kegiatan operasional yang
berdimensi keuangan dalam suatu periode pelaporan
3) Dasar penyajian laporan keuangan dan kebijakan akuntansi.
4) Pertimbangan dan/atau pemilihan kebijakan akuntansi yang disesuaikan
dengan kondisi entitas pelaporan yang dimaksudkan untuk
menggambarkan realitas ekonomi entitas pelaporan secara tepat dalam
bentuk keadaan keuangan dan kegiatan.
5) Informasi yang diharuskan dan dianjurkan oleh Pernyataan Standar
Akuntansi Pemerintahan lainnya serta pengungkapan-pengungkapan lain
yang diperlukan untuk penyajian wajar atas laporan keuangan, seperti
kewajiban kontinjensi dan komitmen-komitmen lain.
6) Informasi lain yang belum disajikan dalam bagian lain laporan keuangan.
7) Informasi yang bila tidak diungkapkan akan menyesatkan bagi pembaca
laporan.

Untuk memudahkan pembaca laporan, pengungkapan pada Catatan atas


Laporan Keuangan dapat disajikan secara naratif, dilengkapi dengan bagan,
grafik, daftar dan skedul atau bentuk lain yang lazim yang mengikhtisarkan
secara ringkas dan padat kondisi dan posisi keuangan entitas pelaporan. Apapun
caranya, Catatan atas Laporan Keuangan harus dapat membantu pembacanya
untuk dapat memahami kondisi dan posisi keuangan entitas pelaporan secara
keseluruhan.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 6


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB III
LANGKAH-LANGKAH PENYAJIAN
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

A. Ketentuan Umum

7. Setiap entitas pelaporan diharuskan untuk menyajikan Catatan atas


Laporan Keuangan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari laporan
keuangan untuk tujuan umum.

8. Catatan atas Laporan Keuangan dimaksudkan agar laporan keuangan dapat


dipahami oleh pembaca secara luas, tidak terbatas hanya untuk pembaca
tertentu ataupun manajemen entitas pelaporan. Oleh karena itu, Laporan
Keuangan mungkin mengandung informasi yang dapat mempunyai potensi
kesalahpahaman di antara pembacanya. Untuk menghindari kesalahpahaman,
laporan keuangan harus dibuat Catatan atas Laporan Keuangan yang berisi
informasi untuk memudahkan pengguna dalam memahami Laporan Keuangan.

Pembaca tertentu seperti akademisi, praktisi bisnis, atau ahli keuangan


apalagi akuntan dalam wacana akuntansi kerap diasosiasikan sebagai
pengguna yang canggih (sophisticated user). Mereka boleh dianggap
kalangan yang melek akuntansi sehingga dapat diyakini mampu memahami
secara pragmatik, semantik dan bahkan logik, seluruh makna yang
disampaikan lewat bahasa akuntansi dalam bentuknya yang terstruktur
seperti dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas
baik secara sendiri-sendiri maupun dalam kaitan satu sama lain.

Calon investor, misalnya, akan dapat diharapkan memahami bahwa ketika


Laporan Arus Kas suatu tahun menunjukkan penurunan karena pengeluaran
pembiayaan membesar sementara porsi kewajiban jangka panjang yang
jatuh tempo pada tahun berikutnya juga membesar sedangkan pihutang
pajak tidak bertambah secara material, kondisi fiskal tahun berikutnya akan
cenderung tertekan oleh defisit. Maka ia akan segera dapat memahami posisi
kewajiban, entah itu yang ditampilkan dalam Surat Utang Negara atau Hedge
Bonds sebagai suatu sinyal yang menunjukkan kapasitas fiskal negara.
Kapasitas inilah yang akan menuntunnya untuk memutuskan apakah akan
menambah investasinya dalam SUN atau Bonds atau malah menjual
investasinya yang sudah ada.

Akan tetapi, ketika seorang ibu rumah tangga, atau insinyur perkapalan yang
bekerja di pertambangan offshore, atau seorang dokter yang membaca
Laporan Realisasi Anggaran, atau Neraca, atau Laporan Arus Kas, maka
jangankan berharap bahwa mereka memahami ketiga Laporan secara
komprehensif, bahkan memahami satu elemen Neraca saja mungkin mereka
tidak mampu. Seandainya mereka ingin menjalankan haknya untuk menilai
akuntabilitas pemerintah atas penggunaan pajak yang mereka bayar, dan
ingin mengetahui kekayaan negara, maka mereka mungkin akan tidak
memahami apa yang dimaksud dengan investasi permanen atau mengapa
nilai aset tetap harus berkurang oleh karena adanya penyusutan yang
mungkin juga tidak diketahui apa esensinya. Ketika ia melihat realisasi
anggaran menunjukkan pertambahan penghasilan pajak tetapi ia melihat

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 7


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

kontradiksi penurunan nilai aset tetap, maka kesalahan pemahaman yang


mungkin timbul dari pengguna awam seperti ini adalah bahwa ia menilai
pemerintah tidak bijaksana dalam mengunakan penghasilan pajak.

9. Kesalahpahaman dapat saja disebabkan oleh persepsi dari pembaca laporan


keuangan. Pembaca yang terbiasa dengan orientasi anggaran mempunyai
potensi kesalahpahaman dalam memahami konsep akuntansi akrual. Pembaca
yang terbiasa dengan laporan keuangan sektor komersial cenderung melihat
laporan keuangan pemerintah seperti laporan keuangan perusahaan.

Sumber kesalahpahaman utama yang berkaitan dengan orientasi basis


akuntansi ini mungkin dapat dilihat pada pemaknaan pendapatan atau
belanja. Pengguna yang berorientasi anggaran dan mengetahui bahwa
anggaran sekarang adalah berbasis kas mungkin akan tidak mengerti
mengapa di Neraca bisa timbul pihutang pajak atau hutang belanja. Ia
mungkin tidak akan mengerti bahwa asas akuntansi pemerintah berupa asas
kas menuju akrual memang diwujudkan dalam suatu penyesuaian periodikal,
tepatnya di akhir tahun, yang berusaha mengakrualkan transaksi yang
seharusnya hanya diakui, dicatat, dan dilaporkan ketika transaksi itu
langsung memengaruhi kas negara atau kas daerah. Lebih jauh lagi, bisa jadi
ia akan mengartikan pencatatan hutang belanja sebagai suatu justifikasi
akuntansi secara diam-diam atas adanya Sisa Lebih Perhitungan Anggaran
yang boleh diluncurkan penggunaannya pada tahun setelah tahun pelaporan.

Sebaliknya pihak yang berorientasi akrual akan merasakan bahwa Laporan


Realisasi Anggaran kurang membukukan pendapatan atau belanja ketika
mereka melihat bahwa pertambahan pihutang dan hutang yang tercatat di
Neraca tidak diimbangi dengan pertambahan pendapatan dan belanja
melainkan dengan pendapatan yang ditangguhkan dan Kas di Bendahara
Pengeluaran. Mereka tidak dapat mengerti bahwa asas kas dalam akuntansi
pemerintahan mengharuskan bahwa pendapatan dan belanja hanya dapat
diakui jika sudah ada kas yang masuk ke atau keluar dari Kas
Negara/Daerah.

10. Oleh karena itu, penjelasan pos-pos laporan keuangan menjadi penting bagi
pembaca laporan keuangan. Selain itu, pengungkapan basis akuntansi dan
kebijakan akuntansi yang diterapkan akan membantu pembaca untuk dapat
menghindari kesalahpahaman dalam membaca laporan keuangan.

B. Struktur CaLK Alternatif

11. Catatan atas Laporan Keuangan harus disajikan secara sistematis.


Setiap pos dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus
Kas harus mempunyai referensi silang dengan informasi terkait dalam
Catatan atas Laporan Keuangan.

12. Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan atau daftar terinci atau
analisis atas nilai suatu pos yang disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran,
Neraca, dan Laporan Arus Kas. Termasuk pula dalam Catatan atas Laporan
Keuangan adalah penyajian informasi yang diharuskan dan dianjurkan oleh

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 8


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan serta pengungkapan-


pengungkapan lainnya yang diperlukan untuk penyajian yang wajar atas laporan
keuangan, seperti kewajiban kontinjensi dan komitmen- komitmen lainnya.

Penjelasan paragraf 11 dan 12 di atas lebih merupakan penekanan tentang


isi pokok dari CaLK. Oleh karena informasi yang dimuat dalam CaLK banyak
yang bersifat kualitatif dan berkaitan dengan kejadian yang insidental, tentu
subjektivitas dalam menentukan seberapa banyak informasi yang dianggap
cukup atau memadai dan bagaimana pembabakan penyajiannya menjadi
subjektif pula. Oleh karena itu, suatu penetapan kebijakan tentang struktur
penyajian CaLK secara unik bagi suatu entitas pelaporan menjadi diperlukan.

Sejauh ini, Susunan CaLK sudah ditawarkan oleh PSAP 04 sebagaimana


diatur dalam Paragraf 66. Meskipun demikian, saat ini, struktur penyajian
CaLK di lingkungan entitas pelaporan Pemerintah Daerah sudah ditetapkan
dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah yang tidak persis sama dengan
Paragraf 66. Di Pemerintah Pusat sendiri, walaupun tidak dituangkan dalam
suatu ketetapan, praktik penyajian CaLK pada tahun 2004 dan 2005 juga
tidak persis sama dengan Pragraf 66.

Permendagri 13/2006 menetapkan bahwa daftar isi dari CaLK adalah sebagai
berikut:

Bab I Pendahuluan
1.1. Maksud dan Tujuan Penyusunan Laporan Keuangan
1.2. Landasan Hukum Penyusunan Laporan Keuangan
1.3. Sistematika Penyajian Catatan atas Laporan Keuangan

Bab II Ekonomi Makro


2.1. Ekonomi Makro
2.2. Kebijakan Keuangan
2.3. Indikator Pencapaian Kinerja Fiskal dan Moneter
2.4. Indikator Pencapaian Kinerja Program Entitas Pelapor

Bab III Ikhtisar Pencapaian Kinerja Fiskal dan Moneter


3.1. Ikhtisar Realisasi Pencapaian Sasaran Kinerja Fiskal dan Moneter
3.2. Faktor Pendukung dan Penghambat Pencapaian Kinerja

Bab IV Ikhtisar Pencapaian Kinerja Program Entitas Pelapor


4.1. Ikhtisar realisasi pencapaian sasaran kinerja program entitas
pelapor
4.2. Faktor pendukung dan penghambat pencapaian kinerja

Bab V Kebijakan Akuntansi


5.1. Entitas pelaporan
5.2. Basis Akuntansi yang Mendasari Penyusunan Laporan Keuangan
5.3 Basis Pengukuran yang Mendasari Penyusunan Laporan Keuangan
5.4. Kebijakan Akuntansi yang Berkaitan dengan Rekening-rekening
Akuntansi

Bab VI. Penjelasan Rekening-rekening Laporan Keuangan

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 9


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

6.1 Rincian dan Penjelasan masing-masing Rekening Laporan Keuangan


6.1.1 Pendapatan
6.1.2 Belanja
6.1.3 Pembiayaan
6.1.4 Aset
6.1.5 Kewajiban
6.1.6 Ekuitas Dana
6.1.7 Komponen-komponen Arus kas

6.2. Pengungkapan atas Pos-pos Aset dan Kewajiban yang Timbul


Sehubungan dengan Penerapan Basis Akrual atas Pendapatan dan
Belanja dan Rekonsiliasinya dengan Penerapan Basis Kas, untuk Entitas
Pelaporan yang Menggunakan Akuntansi Berbasis Akrual Penuh.

Bab VII Penjelasan atas informasi non Keuangan

Bab VIII Penutup

Berbeda dari struktur penyajian di atas, pada tahun 2005, misalnya,


Pemerintah Pusat telah menyusun CaLK dengan struktur penyajian sebagai
mana dituangkan dalam Daftar Isi sebagai berikut:

I. Pendahuluan
1.1 Dasar Hukum
1.2 Kebijakan Fiskal/Keuangan dan Ekonomi Makro
1.3 Pendekatan Penyusunan Laporan Keuangan
1.4 Kebijakan Akuntansi

II. Penjelasan atas Pos-pos Laporan Realisasi Anggaran


2.1 Penjelasan Umum Laporan Realisasi Anggaran
2.2 Penjelasan Per Pos Laporan Realisasi Anggaran

III. Penjelasan atas Pos-pos Neraca


3.1 Posisi Keuangan Secara Umum
3.2 Penjelasan Per Pos Neraca
3.3 Kejadian Penting setelah Tanggal Neraca
3.4 Catatan Penting Lainnya

IV. Informasi Tambahan dan Pengungkapan Lainnya


4.1 Ikhtisar Laporan Arus kas
4.2 Penjelasan Per Pos Laporan Arus Kas

V. Lampiran

Tampak bahwa dari segi jumlah Bab saja kedua struktur CaLK di atas sudah
berbeda. Perbedaan utamanya adalah bahwa pada CaLK versi Permendagri
13/2006, terdapat bab IV yang memuat ikhtisar pencapaian kinerja program
entitas pelapor, yang sejalan dengan Peraturan Pemerintah 8/2006 yang
tidak terdapat dalam struktur CaLK versi Laporan Keuangan Pemerintah
Pusat tahun 2005. selain perbedaan antarBab di atas, pada masing-masing

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 10


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Bab yang bersesuaian pun pada tataran rincinya terdapat perbedaan.


Misalnya, Bab I tentang Pendahuluan. Di dalam Bab ini Pemerintah Pusat
memasukkan Pendekatan Penyusunan Laporan Keuangan sedangkan di
Permendagri 13/2006 hal ini tidak dimasukkan. Dalam kekinian
perkembangan Sistem Akuntansi Pemerintah, yang ditandai oleh
kekurangmampuan para pelaksana penyusunan Laporan Keuangan,
pendekatan tersebut akan sangat menolong memberi pengertian kepada
pembaca laporan tentang arus data dan kaitan antarlembaga pemerintahan
yang ada untuk menjadi suatu laporan pemerintah secara menyeluruh.

Perbedaan-perbedaan lain juga terlihat dari kedua versi CaLK di atas. Oleh
karena itu, suatu struktur CaLK minimal mestinya dapat ditetapkan dengan
mengkombinasikan kelebihan-kelebihan masing-masing versi. Sebagai
contoh, struktur CalK yang memakai Struktur versi Permendagri 13/2006
sebagai dasar yang ditambahi dengan aspek-aspek tertentu dari versi
Laporan Keuangan Pemerintah Pusat tahun 2005 kiranya dapat dijadikan
alternatif. Dengan alternatif ini, di samping memuat bab tentang uraian atas
Ikhtisar Pencapaian Kinerja program entitas pelapor, CaLK pun tetap
mempertahankan perlunya penjelasan tentang pendekatan penyusunan
laporan keuangan. Penjelasan atas Pos-pos Laporan Realisasi Anggaran,
Neraca, dan Laporan Arus kas yang disajikan dalam Bab tersendiri (II, III,
dan IV) di dalam CaLK versi Pemerintah Pusat, tetap diakomodasi meskipun
dipadatkan dalam satu bab, yaitu bab VI. Di samping itu, kemungkinan
banyaknya hal-hal insidental yang tidak menyangkut keuangan juga
diakomodasi dalam bab sebelum bab penutup. Untuk mengatasi penyajian
yang panjang lebar dalam tubuh CaLK, maka pemuatan lampiran dalam CaLK
versi Pemerintah Pusat perlu ditambahkan juga ke dalam versi Permendagri
13/2006. Dengan demikian, pengungkapan memadai yang ingin dicapai
dengan CaLK ini dapat lebih terjamin.

Dengan struktur alternatif di atas, maka uraian rinci atas masing masing bab
dalam CaLK dapat didekati dengan memperhatikan standar berikut.

Bab I Pendahuluan
1.1Maksud dan Tujuan Penyusunan Laporan Keuangan
1.2Landasan Hukum Penyusunan Laporan Keuangan
1.3Pendekatan Penyusunan Laporan Keuangan
1.4. Sistematika penyajian Catatan atas Laporan Keuangan

Bab II Ekonomi Makro


2.1. Ekonomi Makro
2.2. Kebijakan Keuangan
2.3. Indikator Pencapaian Kinerja Fiskal dan Moneter
2.4. Indikator Pencapaian Kinerja Program Entitas Pelapor

Bab III Ikhtisar Pencapaian Kinerja Fiskal dan Moneter


3.1. Ikhtisar Realisasi Pencapaian Sasaran Kinerja Fiskal dan Moneter
3.2. Faktor Pendukung dan Penghambat Pencapaian Kinerja

Bab IV Ikhtisar pencapaian kinerja program entitas pelapor


4.1. Ikhtisar realisasi pencapaian sasaran kinerja program entitas pelapor
4.2. Faktor Pendukung dan Penghambat Pencapaian Kinerja

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 11


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Bab V Kebijakan Akuntansi


5.1. Entitas pelaporan
5.2. Basis Akuntansi yang Mendasari Penyusunan Laporan Keuangan
5.3 Basis pengukuran yang Mendasari Penyusunan Laporan Keuangan
5.4. Kebijakan Akuntansi yang Berkaitan dengan Rekening-rekening
Akuntansi

Bab VI. Penjelasan Rekening-rekening Laporan Keuangan


6.1 Rincian dan Penjelasan Masing-masing Rekening Laporan Keuangan
6.1.1 Pendapatan
6.1.2 Belanja
6.1.3 Pembiayaan
6.1.4 Aset
6.1.5 Kewajiban
6.1.6 Ekuitas Dana
6.1.7 Komponen-komponen Arus kas

6.2. Pengungkapan atas Pos-pos Aset dan Kewajiban yang Timbul


Sehubungan dengan Penerapan Basis Akrual atas Pendapatan dan Belanja
dan Rekonsiliasinya dengan Penerapan Basis Kas, untuk Entitas Pelaporan
yang Menggunakan Akuntansi Berbasis Akrual Penuh.

Bab VII Penjelasan atas Informasi non Keuangan


Bab VIII Penutup
Lampiran

C. Penyusunan CaLK sesuai Paragraf-paragraf PSAP 04

13. Catatan atas Laporan Keuangan menyajikan informasi tentang


penjelasan pos-pos laporan keuangan dalam rangka pengungkapan
yang memadai, antara lain:

(a) Menyajikan informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan, ekonomi


makro, pencapaian target Undang-undang APBN/Perda APBD,
berikut kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian
target;

Informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan, ekonomi makro ini, misalnya,


dapat diisi dengan berbagai penjelasan mengenai faktor-faktor yang
memengaruhi penyusunan APBN/APBD seperti asumsi makro yang meliputi
pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar rupiah dan suku bunga Sertifikat
Bank Indonesia (SBI) 3 bulan dan hal yang paling memengaruhi anggaran
pendapatan dan belanja secara material. Bagian ini juga dapat mencakup
penjelasan mengenai perubahan-perubahan pada indikator ekonomi yang
kemudian memengaruhi penyusunan APBN/APBD perubahan.

Bagian kebijakan fiskal/keuangan dan ekonomi makro ini dapat dituangkan


dalam Bab II Bagian 2.1. Pencapaian Target Undang-undang APBN/Perda
APBD, berikut kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian
target dapat disajikan sebagai bagian 3.1 dan 3.2 dari Bab III

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 12


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

(b) Menyajikan ikhtisar pencapaian kinerja keuangan selama tahun


pelaporan;

Ikhtisar keuangan selama setahun adalah ringkasan terpenting dan material


dari realisasi APBN/D. Bagian ini bisa memakan halaman yang cukup
banyak, mengingat berbagai pengungkapan berupa angka absolut atau
grafik perkembangan pos-pos anggaran seperti penerimanan negara,
belanja, defisit anggaran, pembiayaan yang mencakup penerimaan
pembiayaan luar negeri atau pembayaran cicilan pokok utang Luar Negeri
akan memerlukan pejelasan yang cukup panjang.

Seluruh penjelasan rinci tentang ini dapat dimuat dalam Bab III juga.

(c) Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan


dan kebijakan-kebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan
atas transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian penting lainnya;

Dasar penyusunan laporan keuangan diisi dengan berbagai rujukan berupa


pasal-pasal dari atau seluruh peraturan perundang-undangan yang terkait
dengan pengelolaan keuangan negara pada umumnya dan akuntansi
pemerintahan pada khususnya. Dengan demikian pembaca mengetahui
bahwa secara formal Entitas Pelapor memang terikat pada peraturan
perundangan tertentu yang berkaitan dengan penerapan sistem keuangan
negara, terutama yang berkaitan dengan sistem akuntansi pemerintahan
dan pelaporan akuntabilitas kinerja program pemerintah.

Penjelasan ini dituangkan dalam Bab I Bagian 1.2

Selain memuat dasar hukum, standar ini juga dapat menjadi dasar bagi
pemuatan uraian mengenai pendekatan penyusunan Laporan Keuangan.
Bagaimanapun, prosedur dan arus data akuntansi di dalam lingkungan
pemerintah pusat yang memiliki banyak entitas akuntansi dan entitas
pelaporan seperti kementerian dan lembaga-lembaga pemerintah
nondepartemen memang memerlukan penjelasan. Uraian mengenai
pendekatan ini dapat dimuat dalam bagian pendahuluan Bab I sebagai
Bagian 1.3.

Adapun mengenai kebijakan akuntansi harus disajikan secara lebih rinci


agar setiap kebijakan pada suatu elemen pelaporan tertentu dapat memberi
konteks penerapannya masing-masing dalam ruang teoretis dan praktisnya.
Kebijakan ini nantinya akan dirinci dalam Bab V.

(d) Mengungkapkan informasi yang diharuskan oleh Pernyataan


Standar Akuntansi Pemerintahan yang belum disajikan dalam
lembar muka laporan keuangan;

Banyak hal tidak dapat diungkapkan dalam lembar muka laporan keuangan.
Pertama, hal ini disebabkan lembar muka merupakan media bahasa
akuntansi yang sangat terstruktur dengan simbol-simbol yang sangat

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 13


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

kuantitatif. Akan tetapi, sebagian besar informasi keuangan lainnya yang


relevan seringkali hanya bisa mengungkapkan makna pragmatis, semantik
dan logiknya jika disimbolkan dalam bahasa yang naratif. Sebagai contoh,
hutang obligasi secara kuantitatif mungkin sudah dimuat dalam Neraca
tetapi bagaimana seluk-beluk jenis dan persyaratan hutang obligasi ini
hanya mungkin diuraikan secara naratif.

Penjelasan naratif serupa hal-hal di atas dijabarkan dalam penjelasan yang


dapat dimuat dalam Bab V, VI, atau VII, tergantung pada aspek yang
hendak diijelaskan.

(e) Mengungkapkan informasi untuk pos-pos aset dan kewajiban yang


timbul sehubungan dengan penerapan basis akrual atas pendapatan
dan belanja dan rekonsiliasinya dengan penerapan basis kas;

Mengingat kerangka konseptual memperbolehkan entitas pelaporan yang


mampu untuk menerapkan akuntansi berbasis akrual penuh, maka terdapat
kemungkinan adanya pos-pos aset dan kewajiban yang diakui, dicatat dan
dilaporkan secara akrual terkait dengan pengakuan dan pencatatan
pendapatan dan belanja tertentu. Misalnya, suatu Pemda yang telah
menerapkan pendapatan berbasis akrual penuh akan mungkin mencatat
sejumlah pihutang atas ketetapan pajak yang belum menghasilkan kas bagi
kas daerah pada tahun berjalan. Praktik ini jelas tidak serupa dengan
praktik yang mungkin akan dianut sebagian besar pengguna akuntansi
pemerintah ini, yang hanya mencatat pendapatan pajak saat Surat
Ketetapan Pajak sudah disertai dengan Surat Setoran Pajak ke Kas Daerah.
Dengan demikian penyimpangan ini sebisa mungkin diungkapkan.
Pengungkapan ini dapat dilakukan dalam Bab VI Bagian 6.2.

(f) Menyediakan informasi tambahan yang diperlukan untuk penyajian


yang wajar, yang tidak disajikan dalam lembar muka laporan
keuangan.

14. Pengungkapan untuk masing-masing pos pada laporan keuangan mengikuti


standar berlaku yang mengatur tentang pengungkapan untuk pos-pos yang
berhubungan. Misalnya, Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan tentang
Persediaan mengharuskan pengungkapan kebijakan akuntansi yang digunakan
dalam pengukuran persediaan.

Paragraf ini sejalan dengan paragraf 13 c. Jadi, uraian mengani paragraf (f)
dan 14 ini pun harus dirinci dalam BabV bagian 5.4.

15. Untuk memudahkan pembaca laporan, pengungkapan pada Catatan atas


Laporan Keuangan dapat disajikan secara narasi, bagan, grafik, daftar dan
skedul atau bentuk lain yang lazim yang mengikhtisarkan secara ringkas dan
padat kondisi dan posisi keuangan entitas pelaporan.

Contoh-contoh narasi dapat disajikan untuk menguraikan hal-hal yang


dipandang perlu sepanjang tetap mengingat proporsi panjangnya narasi

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 14


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

dengan keseluruhan CaLK. Grafik dapat disajikan dalam berbagai bentuk,


untuk memperingkas perbandingan dan uraian data serial sehingga Laporan
Keuangan dapat tampil lebih menarik.

Selain menggantungkan kemudahan ini pada format penyajian, CaLK pun


harus dapat secara sistematis menginformasikan kepada pengguna tentang
pendekatan penyusunan Laporan Keuangan dan Sistematika penyajian CaLK
sendiri. Penjelasan mengenai pendekatan penyusunan Laporan Keuangan
dimuat dalam Bab I bagian 1.3 dan penjelasan mengenai Sistematika pada
Bab I bagian 1.4.

Pada Bagian 1.3, Penjelasan mengenai pendekatan penyusunan Laporan


Keuangan diawali dengan memperkenalkan Entitas Pelapor yang sedikitnya
mengungkapkan kedudukan entitas secara legal disertai dengan lingkup
kegiatan dan pencatatan yang menjadi lingkup pelaporan. Di daerah, ini
berarti mengungkapkan kedudukan suatu Pemerintah Provinsi, Kabupaten
atau Kota disertai dengan berbagai Satuan Kerja Perangkat Daerah yang
menjadi entitas akuntansinya. Penjelasan entitas ini di pusat, dapat
diungkapkan dalam contoh berikut:

Pemerintah Pusat merupakan gabungan seluruh kementerian negara/


lembaga beserta jenjang struktural di bawahnya seperti eselon I, kantor
wilayah, serta satuan kerja yang bertanggung jawab atas otorisasi kredit
anggaran yang diberikan kepadanya. Laporan Keuangan Pemerintah Pusat
(LKPP), karenanya adalah laporan yang mencakup seluruh aspek keuangan
yang dikelola oleh seluruh entitas terkait. Penjelasan ini dimuat dalam Bab I
bagian 1.3 sebagai pengantar bagi penjelasan tentang Pendekatan
Penyusunan Laporan Keuangan

Selanjutnya Bagian 1.3 menjelaskan Pendekatan Penyusunan Laporan


Keuangan. Pada pemerintah pusat, penjelasan ini mungkin dapat mengambil
contoh berikut.

LKPP disusun berdasarkan kompilasi dari laporan keuangan entitas pelaporan


tingkat kementerian negara/lembaga, laporan keuangan Bendahara Umum
Negara dan data lainnya dari unit-unit yang terkait. Unit-unit terkait ini
sedapatnya dirinci secara lengkap.

Setelah memperjelas entitas pelaporan terkait, bagian 1.3 ini kemudian


dapat dilanjutkan dengan menjelaskan teknis penyusunan, misalnya tentang
cara pengkompilasian data keuangan hingga menghasilkan laporan keuangan
pemerintah pusat atau pemerintah daerah.

Apabila secara teknis penyusunan laporan keuangan ini menggunakan


berbagai sistem akuntansi maka bagian ini pun menguraikan kaitan antar
sub-sub sistem akuntansi yang dipakai. Akhirnya dari sistem akuntansi yang
dipakai, bagian ini menguraikan ringkasan pengertian akan komponen-
komponen Laporan Keuangan yang mencakup Laporan Realisasi Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara/ Daerah, Neraca, Laporan Arus Kas, dan
Catatan atas Laporan Keuangan

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 15


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Sebagai contoh, bagian ini mungkin berisi keterangan bahwa Laporan


Keuangan Pemerintah Pusat dihasilkan melalui Sistem Akuntansi Pemerintah
Pusat (SAPP), yang terdiri dari Sistem Akuntansi Pusat (SiAP) dan Sistem
Akuntansi Instansi (SAI). Kementerian negara/lembaga membukukan melalui
SAI baik transaksi anggaran (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran/DIPA),
pendapatan maupun belanja. Sedangkan Kantor Pelayanan Perbendaharaan
Negara membukukan transaksi melalui SIAP.

Mengenai Neraca, pendekatan yang dijelaskan, bisa jadi bahwa Neraca


Pemerintah Pusat disusun berdasarkan data yang dikelola oleh Departemen
Keuangan, Kementerian Negara BUMN dan unit register. Data mengenai Kas
Umum Negara dan Non Anggaran, investasi jangka panjang, dan kewajiban
didasarkan pada data Departemen Keuangan, sedangkan data Penyertaan
Modal Pemerintah berasal dari Kementerian Negara BUMN. Selain itu, Neraca
pemerintah juga disusun berdasarkan Neraca kementerian negara/lembaga
terutama untuk kas di Bendahara Penerimaan, Kas di Bendahara
Pengeluaran, Piutang, Persediaan, Aset tetap, dan Aset lainnya. Neraca
kementerian negara/lembaga disusun melalui Sistem Akuntansi Instansi.

Beralih ke Bagian 1.4 tentang penjelasan mengenai Sistematika penyusunan


CaLK, uraian akan lebih banyak menyoroti pembabakan seluruh CaLK.
Berbeda dari Daftar Isi, bagian ini akan meringkas isi terpenting dari tiap-tiap
bab sehingga dapat mengarahkan pengguna untuk menemukan di mana
tempatnya dalam CaLK ini informasi tertentu yang paling dibutuhkannya.

Penyajian Informasi tentang Kebijakan Fiskal/ Keuangan, Ekonomi


Makro, Pencapaian Target Undang- Undang APBN/Peraturan Daerah
APBD, Berikut Kendala dan Hambatan yang Dihadapi dalam Pencapaian
Target

16. Catatan atas Laporan Keuangan harus dapat membantu pembacanya


untuk dapat memahami kondisi dan posisi keuangan entitas pelaporan
secara keseluruhan.

Kondisi dan posisi keuangan entitas pelaporan secara keseluruhan sangat


bergantung pada efektivitas pengelolaan anggaran dan pencatatannya.
Kondisi keuangan akan menunjukkan kualitas dalam bentuk surplus atau
defisit anggaran, likuiditas, solvabilitas, atau kelancaran arus kas. Adapun
posisi keuangan lebih merupakan keadaan aset, hutang dan ekuitas dana
suatu entitas pelaporan pada suatu titik waktu, yang lazim ditunjukkan dalam
Neraca. Jadi, semua ini, walaupun secara implisit sudah dapat dianalisis dari
dalam data Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas,
untuk lebih membantu pengguna umum sebaiknya dijelaskan lagi dalam
CaLK dalam bahasa yang lebih naratif dan ilustratif.

17. Untuk membantu pembaca Laporan Keuangan, Catatan atas Laporan


Keuangan harus menyajikan informasi yang dapat menjawab pertanyaan-
pertanyaan seperti bagaimana perkembangan posisi dan kondisi keuangan/fiskal
entitas pelaporan serta bagaimana hal tersebut tercapai.

Penjelasan naratif dan ilustratif yang dimaksud dalam Paragraf 16 di atas,


sebisanya mengeksplisitkan bagaimana perkembangan posisi dan kondisi

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 16


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

keuangan/fiskal entitas pelaporan serta bagaimana hal tersebut tercapai.


Sebagai contoh, jika surplus anggaran dalam Laporan Realisasi Anggaran
cukup besar, CaLK diharapkan dapat memberi penjelasan tentang apa yang
membuat pendapatan menjadi jauh lebih besar daripada anggaran atau
sebaliknya yang membuat belanja jauh lebih kecil daripada anggaran.

18. Untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, entitas pelaporan


harus menyajikan informasi mengenai perbedaan yang penting posisi dan
kondisi keuangan/fiskal periode berjalan bila dibandingkan dengan periode
sebelumnya, dibandingkan dengan anggaran, dan dengan rencana lainnya
sehubungan dengan realisasi anggaran. Termasuk dalam penjelasan perbedaan
adalah perbedaan asumsi ekonomi makro yang digunakan dalam penyusunan
anggaran dibandingkan dengan realisasinya.

Jadi, jelaslah bahwa untuk dapat mengungkapkan perkembangan keadaan


ekonomi makro dan keuangan pemerintah, diperlukan suatu kriteria. Kriteria
ini dituangkan sebagai data mengenai kebijakan ekonomi makro dan
kebijakan keuangan. Sebagai kriteria, kebijakan-kebijakan ini dituangkan
dalam Bab II Bagian 2.1. dan Bagian 2.2.

Bagian 2.1 yang memuat kriteria ekonomi makro, misalnya dapat


ditunjukkan dengan uraian naratif mengenai kebijakan fiskal dan moneter
serta prognosa kondisi ekonomi makro yang diharapkan. Dalam lingkungan
Pemda, hal ini bisa disamakan dengan Kebijakan Umum Anggaran (KUA).

Uraian berikut ini kiranya dapat menjadi contoh kebijakan ekonomi makro
yang diuraikan dalam Bagian 2.2.

APBN/D 2005 disusun dengan tujuan menjaga kelangsungan fiskal, namun


tetap memberikan fleksibilitas yang cukup bagi pemerintahan baru untuk
membuat kebijakan moneter dan prioritas anggaran dan fiskal yang baru.
Adapun penyusunan APBN /D 2005 diarahkan sejalan dengan agenda
pembangunan, yaitu untuk mempercepat reformasi, meningkatkan
kesejahteraan rakyat dan memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa
dalam kerangka NKRI. Semua ini dilakukan dengan prinsip kehati-hatian
yang mencegah gerak ekonomi yang terlampau cepat memanas yang
berakibat pada kenaikan tingkat inflasi yang amat tinggi. Diupayakan tingkat
inflasi ditekan hingga tidak mencapai dua digit sedangkan untuk
menggalakkan investasi pelonggaran tingkat bunga SBI akan diupayakan
pada saat yang tepat. Tekanan terhadap kurs rupiah akan dicoba diatasi
dengan memanfaatkan segenap dana yang masih terparkir dalam berbagai
rekening pemerintah di Bank Indonesia.

19. Kebijakan fiskal yang perlu diungkapkan dalam Catatan atas Laporan
Keuangan adalah kebijakan-kebijakan pemerintah dalam peningkatan
pendapatan, efisiensi belanja dan penentuan sumber atau penggunaan
pembiayaan. Misalnya penjabaran rencana strategis dalam kebijakan
penyusunan APBN/APBD, sasaran, program dan prioritas anggaran, kebijakan
intensifikasi/ekstensifikasi perpajakan, pengembangan pasar surat utang
negara.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 17


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Bagian 2.2 misalnya dapat menguraikan kriteria peningkatan pendapatan


seperti tercapainya rasio pajak tertentu. Efisiensi belanja misalnya dapat
diuraikan dengan kriteria berupa tekad meminimalkan kebocoran sedangkan
penentuan sumber dan penggunaan pembiayaan misalnya dapat dijabarkan
dalam bentuk sasaran penjualan aset negara atau perolehan pinjaman luar
dan dalam negeri. Contoh di bawah ini bisa dipertimbangkan sebagai uraian
mengenai kebijakan keuangan yang menjadi isi Bagian 2.2.

Untuk tahun 2005, upaya kesinambungan fiskal dimaksud antara lain


meliputi langkah-langkah penurunan defisit APBN secara bertahap dan
administrasi manajemen pembiayaan anggaran yang optimal, efisien dan
efektif. Untuk menghadapi beban kewajiban pembayaran pokok utang yang
besar, baik utang dalam negeri maupun utang dalam negeri, diperlukan
strategi kebijakan fiskal yang konsisten dalam upaya mendorong peningkatan
penerimaan negara, pengendalian dan efisiensi belanja negara, serta
optimaslisasi pemanfaatan sumber-sumber pembiayaan anggaran.

Sedangkan penjabaran rencana strategis dalam kebijakan penyusunan


APBN/APBD, sasaran, program yang dipersyaratkan oleh paragraf ini dapat
diungkapkan dalam bentuk komitmen untuk mengikuti anggaran berbasis
kinerja. Adapun indikator kinerja programnya sendiri dapat dituangkan dalam
Bagian tersendiri, yang dalam alternatif struktur CaLK ini adalah pada Bagian
2.4.

20. Kondisi ekonomi makro yang perlu diungkapkan dalam Catatan atas Laporan
Keuangan adalah asumsi-asumsi indikator ekonomi makro yang digunakan
dalam penyusunan APBN/APBD berikut tingkat capaiannya. Indikator ekonomi
makro tersebut antara lain Produk Domestik Bruto/Produk Domestik Regional
Bruto, pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, nilai tukar, harga minyak, tingkat
suku bunga dan neraca pembayaran.

Paragraf ini mengharuskan CaLK memuat indikator kebijakan ekonomi makro


baik dalam tataran fiskal maupun moneter yang perlu dituangkan dalam Bab
II Bagian 2.3. Untuk itu, dua tabel di bawah ini diharapkan dapat menjadi
contoh bagi pengungkapan masing-masing indikator kinerja ekonomi makro
dari sudut kebijakan moneter dan indikator kinerja ekonomi dari sudut
kebijakan fiskal.

Indikator Kebijakan Ekonomi Makro (Moneter)


(dalam jutaan rupiah)
Uraian APBN/D
(UU No/ tahun
Perda No/ tahun)
Pertumbuhan Ekonomi (Persen) 5,4
Tingkat Inflasi (persen) 5,5
Nilai Tukar rupiah (Rp/US$) 8.600
Suku Bunga SBI-3 Bulan (Persen) 6,5
Harga Minyak (US$ / barel) 24,0
Produksi Minyak (juta barel/hari) 1.125

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 18


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Adapun Kriteria kebijakan keuangan dari sudut fiskal yang akan dimasukkan
ke dalam Bagian 2.3, tabel data dengan berbagai variabel terkait sebagai
berikut dapat dipertimbangkan.

Indikator Kebijakan Keuangan (Fiskal)


(dalam jutaan rupiah)
Uraian APBN/D
(UU No/ tahun
Perda No/ tahun)
Penerimaan Perpajakan 297,844,130
Penerimaan Negara Bukan Pajak 81,783,001
Penerimaan Hibah 750,000
Jumlah Anggaran Pendapatan Negara/Daerah dan 380,377,131
Hibah
Belanja Pemerintah Pusat/Daerah 266,220,255
Belanja untuk Daerah 131,549,055
Jumah Anggaran Belanja Negara/Daerah 397,769,310
Defisit Anggaran 17,392,179

Dengan adanya data pada tabel kebijakan keuangan di atas, pada saatnya,
jika APBN/D berubah, perubahan tersebut dapat segera dibandingkan.

Selanjutnya pada Bagian 2.4, CaLK sebisanya memuat ringkasan indikator


kinerja program hingga ke sasarannya. Format seperti dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Laporan Keuangan dan Kinerja
Instansi Pemerintah (LKKIP) dapat dipertimbangkan sebagai format yang
komprehensif tetapi cukup ringkas dalam mengakomodasi rencana stratejik
suatu entitas pelaporan.

Sebagai contoh, Bagian 2.4 dapat ditampilkan sebagai berikut:

Instansi: Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan


Fungsi: Pelayanan Umum

No Program Indikator Hasil Satuan Sasaran


- Kegiatan - Keluaran
1 Peningkatan Peningkatan nilai temuan % 2%
Pengawasan dari tahun lalu
Aparatur Negara Jumlah Instansi yang
Laporan Keuangannya Instansi 10
sesuai SAP

- Audit - Laporan Hasil Audit Laporan 312


Keuangan - Laporan Hasil Audit Laporan 3.119
- Audit
Operasional - Laporan Hasil Audit Laporan 112
- Audit Kinerja - Jumlah Asistensi Kejadian 27
- Asistensi SAP - Jumlah Inventarisasi Kejadian 5
- Inventarisasi
BMKN

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 19


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

21. Catatan atas Laporan Keuangan harus dapat menjelaskan perubahan


anggaran yang penting selama periode berjalan dibandingkan dengan
anggaran yang pertama kali disahkan oleh DPR/DPRD, hambatan dan
kendala yang ada dalam pencapaian target yang telah ditetapkan, serta
masalah lainnya yang dianggap perlu oleh manajemen entitas pelaporan
untuk diketahui pembaca laporan keuangan.

22. Dalam satu periode pelaporan, dikarenakan alasan dan kondisi tertentu,
entitas pelaporan mungkin melakukan perubahan anggaran dengan persetujuan
DPR/DPRD. Agar pembaca laporan keuangan dapat mengikuti kondisi dan
perkembangan anggaran, penjelasan atas perubahan-perubahan yang ada, yang
disahkan oleh DPR/DPRD, dibandingkan dengan anggaran pertama kali disahkan
akan membantu pembaca dalam memahami kondisi anggaran dan keuangan
entitas pelaporan.

Paragraf 21 dan 22 mempersyaratkan agar CaLK memuat penjelasan


mengenai perubahan anggaran. Perubahan anggaran dimaksud dapat
disajikan dalam CaLK pada Bab III Bagian 3.1 dengan contoh sebagaimana
tertera dalam tabel berikut ini.

Asumsi Penyusunan Perubahan Anggaran


(dalam jutaan rupiah)
Uraian APBN/D APBN/D - P Beda
(UU No/tahun (UU No/ tahun (%)
Perda No/ Perda No/
tahun) tahun)
Penerimaan Perpajakan 297,844,130 351,973,630 18.17%
Penerimaan Negara Bukan 81,783,001 180,697,391 120.95%
Pajak
Penerimaan Hibah 750,000 7,455,088 894.01%
Jumlah Anggaran Pendapatan 380,377,131 540,126,109 42.00%
Negara/ Daerah dan Hibah
Belanja Pemerintah 266,220,255 411,667,571 54.63%
Pusat/Daerah
Belanja untuk Daerah 131,549,055 153,402,251 16.61%
Jumah Angagran Belanja 397,769,310 565,069,822 42.06%
Negara/Daerah
Defisit Anggaran 17,392,179 24,943,713 43.42%

23. Dalam kondisi tertentu, entitas pelaporan belum dapat mencapai target yang
telah ditetapkan, misalnya jumlah unit pembangunan bangunan sekolah dasar.
Penjelasan mengenai hambatan dan kendala yang ada, misalnya kurangnya
ketersediaan lahan, perlu dijelaskan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

Paragraf 23 di atas pada intinya menuntut penjelasan tentang kinerja


pemerintah dalam merealisasi anggarannya. Dalam hal ini, yang disoroti
untuk dijelaskan adalah varians realisasi jumlah uang sebagai input program
yang dikeluarkan. Dalam contoh Paragraf 21 dan 22 sebelumnya,walaupun

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 20


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Bagian 3.1 sudah menunjukkan tabel perubahan APBN, tetapi contoh


tersebut belum menjelaskan alasan perubahan tersebut.

Untuk menguraikan alasan perubahan anggaran, Bab III bagian 3.2 dapat
menguraikan faktor pendukung dan penghambat sebagai contoh berikut ini:

Perubahan pada perkiraan pendapatan negara dan hibah didasarkan oleh


adanya perubahan pada harga rata-rata minyak mentah Indonesia di pasar
dunia yang membaik dan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat
yang melemah. Kedua faktor perubahan in diperkirakan akan meningkatkan
penerimaan migas dalam jumlah yang signifikan. Namun pada saat yang
sama, beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) akan membengkak

Perubahan harga minyak dan nilai tukar juga akan memengaruhi penerimaan
pajak. Di samping itu, adanya penetapan kebijakan perpajakan yang lebih
baik serta perbaikan sistem dan prosedur administrasi perpajakan,
kepabeanan dan cukai akan mendorong peningkatan pada penerimaan
perpajakan.

24. Untuk membantu pembaca laporan keuangan, manajemen entitas pelaporan


mungkin merasa perlu untuk memberikan informasi keuangan lainnya yang
dianggap perlu untuk diketahui pembaca, misalnya kewajiban yang memerlukan
ketersediaan dana dalam anggaran periode mendatang.

Keadaan darurat seperti bencana di Aceh dan Nias, dapat menjadi contoh
bagi penjelasan paragraf 24 ini. Uraian selengkapnya tentang hal ini misalnya
adalah:

Bencana alam yang melanda Aceh dan Nias juga memengaruhi pos
pembiayaan dengan cukup signifikan dengan diperolehnya tawaran
penundaan pembayaran hutang luar negeri Indonesia yang jatuh tempo
dalam tahun 2005 (debt moratorium) dari negara-negara yang bergabung
dalam Paris Club, dan diberikannya pinjaman proyek dalam rangka
rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh dan Nias.

Penyajian Ikhtisar Pencapaian Kinerja Keuangan Selama Tahun


Pelaporan

25. Kinerja keuangan entitas pelaporan dalam Laporan Realisasi


Anggaran harus mengikhtisarkan indikator dan pencapaian kinerja
kegiatan operasional yang berdimensi keuangan dalam suatu periode
pelaporan.

26. Kebutuhan pengguna laporan keuangan pemerintah berbeda dengan


pengguna laporan keuangan nonpemerintah. Kebutuhan pengguna laporan
keuangan pemerintah tidak hanya melihat entitas pelaporan dari sisi perubahan
aset bersih saja, namun lebih dari itu, pengguna laporan keuangan pemerintah
sangat tertarik dengan kinerja pemerintah bila dibandingkan dengan target yang
telah ditetapkan.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 21


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

27. Pencapaian kinerja keuangan yang telah ditetapkan dijelaskan secara


obyektif dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Keberhasilan pencapaian kinerja
dapat diketahui berdasarkan tingkat efisiensi dan efektivitas suatu program.
Efisiensi dapat diukur dengan membandingkan keluaran (output) dengan
masukan (input). Sedangkan efektivitas diukur dengan membandingkan hasil
(outcome) dengan target yang ditetapkan.

28. Pembahasan mengenai kinerja keuangan harus dihubungkan dengan


tujuan dan sasaran dari rencana strategis pemerintah dan indikator
sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku. Ikhtisar
pembahasan kinerja keuangan dalam Catatan atas Laporan Keuangan
harus:
(a) Menguraikan strategi dan sumber daya yang digunakan untuk
mencapai tujuan;
(b) Memberikan gambaran yang jelas atas realisasi dan rencana kinerja
keuangan dalam satu entitas pelaporan; dan
(c) Menguraikan prosedur yang telah disusun dan dijalankan oleh
manajemen untuk dapat memberikan keyakinan yang beralasan
bahwa informasi kinerja keuangan yang dilaporkan adalah relevan
dan andal;

Seluruh paragraf 25 sampai dengan 28 adalah penjelasan yang sangat terkait


dengan sistem akuntabilitas kinerja sebagaimana dulu dikenal dalam
pelaporan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) yang
dikenal dalam Inpres Nomor 7 Tahun 1999. Hal ini terutama ditafsirkan dari
kenyataan bahwa pada paragraf 27, CaLK dituntut untuk mengukur efisiensi
dengan membandingkan keluaran (output) dengan masukan (input).
Sedangkan efektivitas diukur dengan membandingkan hasil (outcome)
dengan target yang ditetapkan. Jelas output dan outcome yang dimaksud di
sini adalah keluaran dan hasil yang dimuat dalam Rencana Strategis.
Keterkaitan pelaporan CaLK ini dengan Renstra pun tegas terlihat pada
paragraf 28 yang menyatakan bahwa pembahasan mengenai kinerja
keuangan harus dihubungkan dengan tujuan dan sasaran dari rencana
strategis pemerintah dan indikator.

Dengan demikian, uraian mengenai pencapaian kinerja ouput dan outcome


program ini, menurut Struktur CaLK alternatif ini, dapat dituangkan dalam
Bab IV, Bagian 4.1. Lalu, dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah
Nomor 8 tahun 2006 tentang Laporan Keuangan dan Kinerja Instansi
Pemerintah, seluruh uraian yang diminta oleh paragaraf 25 sampai dengan
28 dapat dituangkan dalam tabel yang dipersyaratkan oleh PP 8/2006 ini.
Intinya tabel ini harus dapat memuat secara ringkas Program dan kegiatan
serta indikator output dan outcome yang diminta dikaitkan dengan realisasi
belanjanya. Ilustrasi laporan kinerja adalah sebagai berikut.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 22


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Instansi: Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan


Fungsi: Pelayanan Umum

Belanja
Program Indikator Hasil/Keluaran
No (Rp juta) Ket.
- Kegiatan Hasil/ Keluaran
Anggaran Realisasi Rencana Realisasi Satuan
1 Peningkatan Peningkatan nilai 2% 3% %
Pengawasan temuan dari
Aparatur Negara tahun lalu
Jumlah Instansi 10 2 Instansi
yang Laporan
Keuangannya
sesuai SAP

- Audit - Laporan Hasil


Keuangan Audit 2.876 1.887 312 221 Laporan
- Audit - Laporan Hasil
Operasional Audit 1.992 2.221 3.119 3.200 Laporan
- Audit Kinerja - Laporan Hasil
Audit 900 877 112 112 Laporan
- Asistensi SAP - Jumlah
Asistensi 450 435 27 40 Kejadian
- Inventarisasi - Jumlah
BMKN Inventarisasi 3.122 2.998 5 3 Kejadian

Selain tabel, seluruh perbedaaan signifikan dari capaian per program dapat
diuraikan secara naratif untuk menjelaskan faktor pendukung dan
penghambat. Uraian ini dimuat dalam Bab IV Bagian 4.2. Sebagai contoh,
atas pencapaian kinerja di atas, dapat diuraikan penjelasan sebagai berikut.

Pada tahun 2005 BPKP dapat menghasilkan temuan dari pemeriksaan


sebesar 3% dari nilai temuan tahun lalu tetapi dari 10 instansi yang disasar
untuk menyajikan Laporan Keuangan sesuai Standar Akuntansi Pemerintah,
hanya dua yang sudah berhasil. Pencapaian 3% nilai temuan disebabkan
bahwa adanya asumsi bahwa risiko salah urus dalam manajemen keuangan
pemerintahan masih cukup besar sedangkan jumlah instansi yang mampu
menyusun Laporan Keuangan sesuai SAP karena sebagian besar asistensi
masih berlangsung dan hasilnya baru terukur pada tahun-tahun berikutnya.

Output dari lima kegiatan sebagian tercapai sebagian lagi tidak. Demikian
pula realisasi belanja ada yang melebihi anggaran ada yang kurang.
Perbedaan ini hampir berlangsung linear dalam artian bahwa ketika output
yang dicapai rendah maka realisasi belanjanya pun rendah.

29. Pembahasan mengenai kinerja keuangan harus:


(a) Meliputi baik hasil yang positif maupun negatif;
(b) Menyajikan data historis yang relevan;
(c) Membandingkan hasil yang dicapai dengan tujuan dan rencana yang
telah ditetapkan;
(d) Menyajikan informasi penjelasan lainnya yang diyakini oleh
manajemen akan dibutuhkan oleh pembaca laporan keuangan untuk
dapat memahami indikator, hasil, dan perbedaan yang ada dengan
tujuan atau rencana.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 23


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

30. Untuk lebih meningkatkan kegunaan informasi, penjelasan entitas pelaporan


harus juga meliputi penjelasan mengenai apa yang semestinya dilakukan dan
rencana untuk meningkatkan kinerja program.

31. Keterbatasan dan kesulitan yang penting sehubungan dengan pengukuran


dan pelaporan kinerja keuangan harus diungkapkan sesuai dengan relevansinya
atas indikator kinerja yang diuraikan pada Catatan atas Laporan Keuangan.
Keterbatasan yang relevan akan beragam dari satu program ke program lainnya,
namun biasanya faktor yang dibahas termasuk, antara lain:
(a) Kinerja biasanya tidak dapat diungkapkan secara utuh dengan hanya
menggunakan satu indikator saja;
(b) Indikator kinerja tidak dapat memperlihatkan alasan mengapa kinerja
berada pada tingkat yang dilaporkan; dan
(c) Melihat indikator kuantitatif secara eksklusif sering kali menghasilkan
konsekuensi yang tidak diinginkan.

32. Oleh karena itu, indikator kinerja harus dilengkapi dengan informasi
penjelasan yang sesuai. Informasi penjelasan ini akan membantu pengguna
memahami indikator yang dilaporkan, mendapat gambaran mengenai kinerja
keuangan entitas pelaporan, dan mengevaluasi pentingnya faktor yang
mendasari yang mungkin mempengaruhi kinerja keuangan yang dilaporkan.

33. Informasi penjelasan mungkin termasuk, sebagai contoh, informasi


mengenai faktor yang substansial yang berada di luar kendali entitas, dan
informasi mengenai faktor-faktor yang membuat entitas mempunyai pengaruh
penting.

Kinerja keuangan yang dimaksud dalam paragraf 29 sampai dengan 33 di


atas, selain berupa posisi aset, kewajiban dan ekuitas dana juga berupa
berbagai kinerja lain yang berdimensi keuangan seperti realisasi penerimaan
dan belanja. Dalam struktur CaLK alternatif, penjelasan kinerja keuangan
seperti ini dimasukkan dalam tambahan Bab III, Bagian 3.1.

Sebagai contoh, penerimaan dapat dijelaskan dalam grafik di bawah ini.

Grafik 1: Perkembangan Realisasi


Penerimaan Perpajakan dan PNBP TA
2001-2005

600.0
500.0
Triliun Rupiah

400.0 146.2
122.5
300.0 98.9
115.1 88.4
200.0 347.0
242.0 280.6
100.0 185.5 210.3
0.0
2001 2002 2003 2004 2005
Tahun

Perpajakan PNBP

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 24


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Selain penerimaan, ikhtisar kinerja keuangan dapat pula menguraikan


realisasi belanja negara/daerah. Penjelasan ini dapat berupa uraian varians
realisasi per jenis belanja pegawai, barang, modal dan lain-lain dibandingkan
dengan anggaran atau porsi penggunaan anggaran terbesar oleh berbagai
Pengguna Anggaran seperti Satuan Kerja Pemerintah Daerah atau
Kementerian/Lembaga. Uraian realisasi belanja juga dapat menyoroti
realisasi belanja per fungsi atau jenis belanja dalam bentuk grafik berikut.

Realisasi Belanja per Jenis Belanja

140
120
TriliunRupiah

100
80
60
40
20
0

ia

in
g

ga

di
ai

al

os
an

-la
aw

od

si
un

S
ub

in
ar

M
eg

an
B

La
S
P

lj.

lj.

tu
lj.

lj.
B

lj.
lj.

an
B

B
B

B
lj.
B

Jenis Belanja
.
Untuk melengkapi ikhtisar yang disajikan dalam Bab III bagian 3.1. ini,
analisis atas pencapaian kinerja dituangkan dalam Bagian 3.2. Analisis ini
dapat diisi dengan uraian mengenai faktor pendukung dan penghambat
pencapaian kinerja.

Atas realisasi belanja, misalnya, Bagian 3.2 CaLK dapat menguraikan faktor
penghambat yang menyebabkan pencairan anggaran lambat. Sebagai
contoh, dapat diuraikan di sini bahwa pada tahun anggaran 2005 merupakan
tahun anggaran pertama pelaksanaan sistem anggaran terpadu (unified
budget), di mana belanja pemerintah pusat tidak dibedakan lagi menjadi
belanhja rutin dan belanja pembangunan. Pelaksanaan sistem baru ini
memerlukan penyesuaian-penyesuaian, dan salah satu akibatnya adalah
terlambatnya pengesahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA).
Terlambatnya pengesahan DIPA ini mengakibatkan realisasi belanja negara
jauh di bawah yang dianggarkan dalam APBN TA 2005.

Contoh lain dari pengungkapan kendala adalah sebagai berikut.

Dari target yang telah ditentukan disebabkan, antara lain: (berikut adalah
contoh penyebab tidak tercapainya target penerimaan perpajakan)
- tertundanya implementasi dari beberapa kebijakan perpajakan
- musibah banjir dan bencana alam lainnya di beberapa wilayah
- rendahnya tingkat transaksi perekonomian pada periode ini

Tidak tercapainya sasaran Pendapatan Negara Bukan Pajak pada periode ini
antara lain disebabkan:

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 25


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

terdapat beberapa pihak yang belum/tidak menyetor angsuran tuntutan


ganti rugi sebagaimana seharusnya,
realisasi pada jenis pendapatan penjualan, sewa, jasa dan bunga pada
periode ini tidak sesuai dengan target pada anggarannya.

Dari contoh yang sudah diberikan di atas, misalnya belum tampak uraian
mengenai kebijakan-kebijakan pemerintah dalam peningkatan pendapatan,
efisiensi belanja dan penentuan sumber atau penggunaan pembiayaan.
Misalnya penjabaran rencana strategis dalam kebijakan penyusunan
APBN/APBD, sasaran, program dan prioritas anggaran, kebijakan
intensifikasi/ekstensifikasi perpajakan, pengembangan pasar surat utang
negara.

Hambatan dan Kendala mengenai realiasi belanja misalnya dapat diuraikan


dengan menjelaskan dan menguraikan penyebab realisasi belanja
melebihi/jauh dibawah anggaran dan hambatan-hambatan yang terjadi
dalam pelaksanaan realisasi belanja baik berupa hambatan dari internal
maupun dari eksternal. Misalnya, terlambatnya pelaksanaan kegiatan
pembangunan gedung disebabkan proses lelang yang lama dan baru mulai
dilaksanakan pada akhir tahun anggaran sehingga dana yang terserap baru
Rp. xxx.xxx.xxx atau xx% dari anggaran.

Dasar Penyajian Laporan Keuangan dan Pengungkapan Kebijakan


Akuntansi Keuangan

34. Dalam menyajikan Catatan atas Laporan Keuangan, entitas


pelaporan harus mengungkapkan dasar penyajian laporan keuangan
dan kebijakan akuntansi.

Beberapa rujukan yang paling umum dan karenanya paling mengikat sebagai
dasar hukum penyajian laporan keuangan adalah, antara lain tetapi tidak
terbatas pada:
1) Pasal 23 ayat (1) UUD 1945
2) Pasal 30 ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun
2003 tentang Keuangan Negara
3) Pasal yang mengangkut pertanggungjawaban dari Undang-undang
tentang APBN dan Perda APBD
4) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan
5) Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 59/PMK.06/2005
tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat
6) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2003 tentang
7) Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2006 tentang Laporan Keuangan
dan Kinerja Instansi Pemerintah

Penjelasan ini dimuat dalam Bab I bagian 1.2 dari struktur CaLK alternatif.

Asumsi Dasar Akuntansi


35. Asumsi dasar atau konsep dasar akuntansi tertentu mendasari
penyusunan laporan keuangan, biasanya tidak diungkapkan secara

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 26


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

spesifik. Pengungkapan diperlukan jika tidak mengikuti asumsi atau


konsep tersebut disertai alasan dan penjelasan.

Seluruh paragraf 35 hingga 54 adalah penjelasan yang perlu dimuat dalam


CaLK Bab V

36. Sesuai dengan Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan, asumsi dasar


dalam pelaporan keuangan di lingkungan pemerintah adalah anggapan yang
diterima sebagai suatu kebenaran tanpa perlu dibuktikan agar standar akuntansi
dapat diterapkan, yang terdiri dari:
(a) Asumsi kemandirian entitas;
(b) Asumsi kesinambungan entitas; dan
(c) Asumsi keterukuran dalam satuan uang (monetary measurement).

37. Asumsi kemandirian entitas berarti bahwa setiap unit organisasi dianggap
sebagai unit yang mandiri dan mempunyai kewajiban untuk menyajikan laporan
keuangan sehingga tidak terjadi kekacauan antar unit instansi pemerintah dalam
pelaporan keuangan. Salah satu indikasi terpenuhinya asumsi ini adalah adanya
kewenangan entitas untuk menyusun anggaran dan melaksanakannya dengan
tanggung jawab penuh. Entitas bertanggung jawab atas pengelolaan aset dan
sumber daya di luar neraca untuk kepentingan yurisdiksi tugas pokoknya,
termasuk atas kehilangan atau kerusakan aset dan sumber daya dimaksud,
utang-piutang yang terjadi akibat keputusan entitas, serta terlaksana tidaknya
program yang telah ditetapkan.

38. Laporan keuangan disusun dengan asumsi bahwa entitas pelaporan akan
berlanjut keberadaannya. Dengan demikian, pemerintah diasumsikan tidak
bermaksud melakukan likuidasi atas entitas pelaporan dalam jangka pendek.

39. Laporan keuangan entitas pelaporan harus menyajikan setiap kegiatan yang
diasumsikan dapat dinilai dengan satuan uang. Hal ini diperlukan agar
memungkinkan dilakukannya analisis dan pengukuran dalam akuntansi.

Dengan mencantumkan secara eksplisit ketiga asumsi dalam paragaraf 36


sebagaimana dijelaskan dalam paragraf 37 sampai dengan 39 maka
diharapkan para pembaca akan dapat melihat seluruh informasi keuangan
dalam bingkai konseptual yang mendasarinya.

Pengguna Laporan Keuangan

40. Laporan keuangan mengandung informasi bagi pemakai yang berbeda-beda,


seperti anggota legislatif, kreditor dan masyarakat. Pemakai penting lain
meliputi pemasok, pelanggan, organisasi perdagangan, analis keuangan, calon
investor, penjamin, ahli statistik, ahli ekonomi, dan pihak yang berwenang
membuat peraturan.

41. Terkait pada paragraf 34 di atas, para pemakai laporan keuangan


membutuhkan keterangan kebijakan akuntansi terpilih sebagai bagian dari
informasi yang dibutuhkan, untuk membuat penilaian, dan keputusan keuangan
dan keperluan lain. Mereka tidak dapat membuat penilaian secara andal jika

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 27


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

laporan keuangan tidak mengungkapkan dengan jelas kebijakan akuntansi


terpilih yang penting dalam penyusunan laporan keuangan.

42. Pengungkapan kebijakan akuntansi dalam laporan keuangan dimaksudkan


agar laporan keuangan tersebut dapat dimengerti. Pengungkapan kebijakan
tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan yang
sangat membantu pemakai laporan keuangan, karena kadang-kadang perlakuan
yang tidak tepat atau salah digunakan untuk suatu komponen laporan realisasi
anggaran, neraca, laporan arus kas, atau laporan lainnya terbias dari
pengungkapan kebijakan terpilih.

Kebijakan Akuntansi

43. Pertimbangan dan/atau pemilihan kebijakan akuntansi perlu


disesuaikan dengan kondisi entitas pelaporan. Sasaran pilihan kebijakan
yang paling tepat akan menggambarkan realitas ekonomi entitas
pelaporan secara tepat dalam bentuk keadaan keuangan dan kegiatan.

Tidak mesti ada suatu kebijakan akuntansi yang seragam di antara entitas
pelaporan. Hal ini memang bukan suatu keadaan yang konsekuen dengan
maksud utama pelaporan yang terstandarkan, yaitu adanya laporan
keuangan yang memunyai daya banding yang kuat. Akan tetapi, bahwa
realitas ekonomi dan kondisi entitas pelaporan berbeda satu sama lain
sedangkan standar akuntansi sendiri memang tidak mampu memecahkan
berbagai konsep yang dikotomis seperti antara relevan dengan terpercaya,
nilai pasar dengan nilai historis, pengungkapan yang dapat dimengerti
dengan yang hemat, pemilihan kebijakan menjadi tak terhindarkan.
Kegunaan standar lebih merupakan suatu kerangka acuan yang mewajibkan
entitas untuk mengungkapkan pilihan kebijakannya secara transparan dan
menerapkannya sekonsisten mungkin.

44. Tiga pertimbangan pemilihan untuk penerapan kebijakan akuntansi yang


paling tepat dan penyiapan laporan keuangan oleh manajemen:

(a) Pertimbangan Sehat


Ketidakpastian melingkupi banyak transaksi. Hal tersebut seharusnya diakui
dalam penyusunan laporan keuangan. Sikap hati-hati tidak membenarkan
penciptaan cadangan rahasia atau disembunyikan.
(b) Substansi Mengungguli Bentuk Formal
Transaksi dan kejadian lain harus dipertanggungjawabkan dan disajikan
sesuai dengan hakekat transaksi dan realita kejadian, tidak semata-mata
mengacu bentuk hukum transaksi atau kejadian.
(c) Materialitas
Laporan keuangan harus mengungkapkan semua komponen yang cukup
material yang mempengaruhi evaluasi atau keputusan- keputusan.

Kondisi dan realitas ekonomi entitas pelaporan seperti Departemen


Perhubungan, misalnya, tentu berbeda dari entitas seperti Kabupaten
Serdang Bedagei. Yang pertama sebagai regulator pusat memiliki aset teap
berupa kendaraan yang mungkin lebih banyak daripada entitas kedua. Selain

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 28


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

itu, entitas pertama mungkin lebih mengorientasikan penggunaan


kendaraannya sebagai alat eksploitasi guna menghasilkan pendapatan
sedangkan yang kedua lebih sebagai fasilitas transportasi operasional.
Akibatnya, dengan mempertimbangkan materialitas penurunan nilai
kendaraan sebagai akibat pengeksploitasian, Departemen Perhubungan
mungkin akan memilih kebijakan penyusutan berdasarkan metode unit
produksi dengan anggapan jika jam kerja alat transportasi dipakai lebih
banyak pada awal masa awal manfaat alat transportasi, hal itu akan sesuai
dengan kemungkinan penurunan kapasitas teknis alat transportasi. Akan
tetapi, jika Pemda menggunakan kendaraan alat transportasi operasional
secara merata selama masa manfaatnya, Pemda mungkin akan memilih
kebijakan penyusutan berdasarkan metode penyusutan garis lurus yang
dianggap secara proporsional dan material menunjukkan penurunan nilai
bersama berlalunya waktu.

Isi Kebijakan Akuntansi

45. Pengungkapan kebijakan akuntansi harus mengidentifikasikan dan


menjelaskan prinsip-prinsip akuntansi yang digunakan oleh entitas
pelaporan dan metode-metode penerapannya yang secara material
mempengaruhi penyajian Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan
Laporan Arus Kas. Pengungkapan juga harus meliputi pertimbangan-
pertimbangan penting yang diambil dalam memilih prinsip-prinsip yang
sesuai.

Isi kebijakan akuntansi ini merupakan hal-hal yang harus dimuat dalam Bab
V Struktur CaLK alternatif ini.

46. Secara umum, kebijakan akuntansi pada Catatan atas Laporan


Keuangan menjelaskan hal-hal berikut ini:
(a) Entitas pelaporan;
(b) Basis akuntansi yang mendasari penyusunan laporan keuangan;
(c) Basis pengukuran yang digunakan dalam penyusunan laporan
keuangan;
(d) sampai sejauh mana kebijakan-kebijakan akuntansi yang berkaitan
dengan ketentuan-ketentuan masa transisi Pernyataan Standar
Akuntansi Pemerintahan diterapkan oleh suatu entitas pelaporan;
(e) setiap kebijakan akuntansi tertentu yang diperlukan untuk
memahami laporan keuangan.

47. Pengungkapan entitas pelaporan yang membentuk suatu laporan keuangan


untuk tujuan umum akan sangat membantu pembaca laporan untuk dapat
memahami informasi keuangan yang disajikan pada laporan keuangan. Pembaca
laporan akan mempunyai kerangka dalam menganalisis informasi yang ada.
Ketiadaan informasi mengenai entitas pelaporan dan komponennya mempunyai
potensi kesalahpahaman pembaca dalam mengidentifikasi permasalahan yang
ada.

Walaupun sudah disinggung dalam Bagian 1.3, uraian ringkas mengenai


entitas pelaporan dapat diulang pada Bagian awal dari Bab V ini. Dengan
demikian bagian 5.1 akan lebih memperjelas domisili dan bentuk hukum

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 29


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

suatu entitas dan jurisdiksi tempat entitas tersebut berada serta seluruh unit
kerja yang terkait dalam penyajian laporan keuangan yang diuraikan dalam
CaLK ini.

48. Walaupun Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan telah


menyarankan penggunaan basis akuntansi tertentu untuk penyusunan
laporan keuangan pemerintah, pernyataan penggunaan basis akuntansi
yang mendasari laporan keuangan pemerintah semestinya diungkapkan
pada Catatan atas Laporan Keuangan. Pernyataan tersebut juga
termasuk pernyataan kesesuaiannya dengan Kerangka Konseptual
Akuntansi Pemerintahan. Hal ini akan memudahkan pembaca laporan
tanpa harus melihat kembali basis akuntansi yang tertera pada
Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan.

Khusus mengenai basis akuntansi, Struktur CaLK alternatif ini memberi ruang
bagi penjelasannya di dalam Bab V bagian 5.2. Mengingat secara umum PP
24 tahun 2005 menganjurkan pemakaian basis akuntansi kas menuju akrual
maka bagian ini akan berisi uraian mengenai penerapan basis kas dan basis
akrual. Akan tetapi, bagian ini pun akan menjadi tempat bagi penjelasan
tentang pemakaian basis akrual penuh, jika memang hal itu sudah
diterapkan.

Sebagai contoh, penjelasan mengenai basis akuntansi ini adalah sebagai


berikut.

a) Basis akuntansi dalam pencatatan realisasi APBN/D yaitu basis kas,


b) Basis akuntansi dalam pencatatan dan penyajian Neraca, dalam hal ini
aset, kewajiban, dan ekuitas dana, yaitu basis akrual.

49. Pengguna laporan keuangan perlu mengetahui basisbasis pengukuran yang


digunakan sebagai landasan dalam penyajian laporan keuangan. Apabila lebih
dari satu basis pengukuran digunakan dalam penyusunan laporan keuangan,
maka informasi yang disajikan harus cukup memadai untuk dapat
mengindikasikan aset dan kewajiban yang menggunakan basis pengukuran
tersebut.

Mengenai basis pengukuran ini dijelaskan dalam Bagian 5.3 dari Bab V
Struktur CaLK alternatif ini. Isinya lebih merupakan sorotan-sorotan tertentu
atas berbagai pengukuran yang mungkin tidak lazim karena berbagai
keadaan yang terkait atas elemen Laporan Akuntansi.

Sebagai contoh, kenyataan bahwa pemerintah Indonesia baru memulai


penertiban sistem akuntansinya sementara aset yang dikuasai pemerintah
ada yang sudah diperoleh sejak zaman penjajahan memungkinkan hilangnya
referensi mengenai nilai aset. Oleh karena itu, akan terdapat kemungkinan
pada bab ini penjelasan mengenai berbagai metode pengukuran nilai aset
yang dilaporkan. Penjelasan berikut ini mungkin akan dapat dijadikan contoh
tentang basis pengukuran:

Aset tetap yang sudah tidak terdapat bukti pendukung perolehannya diukur
dengan nilai wajar sedangkan aset tetap yang masih terdapat bukti

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 30


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

pendukung perolehannya diukur dengan nilai perolehannya. Sementara


penetapan nilai ini masih berlangsung, terhadap aset-aset yang sudah
teridentifikasi tetapi belum selesai dinilai, untuk kepentingan pelaporan
keberadaan aset tersebut, nilainya ditetapkan sebesar Rp1.

50. Dalam menentukan perlu tidaknya suatu kebijakan akuntansi diungkapkan,


manajemen harus mempertimbangkan manfaat pengungkapan tersebut dalam
membantu pengguna untuk memahami setiap transaksi yang tercermin dalam
laporan keuangan. Pertimbangan dalam paragraf 44 dapat dijadikan pedoman
dalam mempertimbangkan kebijakan akuntasi yang perlu diungkapkan.
Kebijakan-kebijakan akuntansi yang perlu dipertimbangkan untuk disajikan
meliputi, tetapi tidak terbatas pada, hal-hal sebagai berikut:

(a) Pengakuan pendapatan;


(b) Pengakuan belanja;
(c) Prinsip-prinsip penyusunan laporan konsolidasian;
(d) investasi;
(e) Pengakuan dan penghentian/penghapusan aset berwujud dan tidak
berwujud; 21
(f) Kontrak-kontrak konstruksi;
(g) Kebijakan kapitalisasi pengeluaran;
(h) Kemitraan dengan pihak ketiga;
(i) Biaya penelitian dan pengembangan;
(j) Persediaan, baik yang untuk dijual maupun untuk dipakai sendiri;

Dalam hal menguraikan kebijakan akuntansi tentang aset lancar,


khususnya Pesediaan, misalnya, bagian ini dapat berisikan uraian sebagai
berikut:

Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan


yang dimaksudkan untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah,
dan barang-barang dimaksdukan untuk dijual dan/atau diserahkan dalam
rangka pelayanan kepada masyarakat.

Persediaan dicatat di neraca berdasarkan:


- harga pembelian terakhir, apabila diperoleh dengan pembelian,
- harga standar apabila diperoleh dengan memprodukdsi sendiri,
- harga wajar atau estimasi nilai penjualannya apabila diperoleh dengan
cara lain seperti donasi/rampasan.

(k) Pembentukan dana cadangan;


(l) Pembentukan dana kesejahteraan pegawai;
(m) Penjabaran mata uang asing dan lindung nilai.

Pada dasarnya seluruh kebijakan akuntansi dijelaskan dalam bagian 5.2 dari
Bab V Struktur CaLK alternatif ini. Penjelasannya pun tidak dapat dipisahkan
dari persyaratan yang diatur dalam paragraf 51 dan 52 di bawah ini.

51. Setiap entitas perlu mempertimbangkan jenis kegiatan- kegiatan dan


kebijakan-kebijakan yang perlu diungkapkan dalam Catatan atas Laporan
Keuangan. Sebagai contoh, pengungkapan informasi untuk pengakuan
pendapatan pajak, retribusi dan bentuk-bentuk lainnya dari iuran wajib,

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 31


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Kurs.

52. Kebijakan akuntansi dapat menjadi signifikan walaupun nilai pos-


pos yang disajikan dalam periode berjalan dan sebelumnya tidak
material. Selain itu, perlu pula diungkapkan kebijakan akuntansi yang
dipilih dan diterapkan yang tidak diatur dalam Pernyataan Standar ini.

Uraian mengenai kebijakan akuntansi yang penting, sedapat mungkin


menjelaskan berbagai kebijakan akuntansi atas elemen-elemen utama
laporan keuangan seperti pendapatan, belanja, aset, kewajiban, dan ekuitas
dana. Dimuat dalam bagian 5.4 dari CaLK alternatif, kebijakan akuntansi
yang hendak dijelaskan pada intinya adalah penjelasan mengenai basis dan
kebijakan akuntansi yang mendasari pelaksanaan akuntansi pemerintahan
yang menghasilkan Laporan Keuangan. Kebijakan akuntansi yang perlu
dijelaskan adalah kebijakan-kebijakan yang diterapkan dalam mengakui,
mencatat dan melaporkan seluruh hal yang terkait dalam Laporan Keuangan.

Contoh penjelasan mengenai kebijakan akuntansi yang mencakup


pendapatan, belanja, pembiayaan, aset, kewajiban dan ekuitas dana adalah
sebagai berikut:
a) Pengakuan Pendapatan pada saat kas diterima pada Kas Umum
Negara/Daerah
b) Pengakuan Belanja pada saat kas dikeluarkan dari Kas Umum
Negara/Daerah
c) Pengakuan Pembiayaan pada saat kas diterima pada/ keluar dari Kas
Umum Negara/Daerah
d) Jenis-jenis sumber daya/kekayaan yang dapat dikelompokkan sebagai
aset secara umum dan aset secara khusus yang terdiri dari aset lancar,
investasi, aset tetap, dana cadangan. Selain itu, dalam bagian ini pun
diuraikan cara penilaiannya.

Tentang Aset Tetap misalnya, bagian ini menguraikan bahwa Aset tetap
mencakup seluruh aset yang dimanfaatkan oleh pemerintah maupun
untuk kepentingan publik yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu
tahun. Aset tetap dilaporkan berdasarkan neraca kementerian
negara/lembaga per 31 Desember tahun 200x pada harga perolehan.

Pengakuan aset tetap yang perolehannya setelah tanggal 1 Januari tahun


200x didasarkan pada nilai satuan minimum kapitalisasi, yaitu:
(a) Pengeluaran untuk per satuan peralatan dan mesin dan peralatan olah
raga yang nilainya sama dengan atau lebih dari Rp300.000 (tiga ratus
rupiah), dan
(b) Pengeluaran untuk gedung dan bangunan yang nilainya sama dengan
atau lebih dari Rp10.000.000 (sepuluh juta rupiah)

Pengeluaran yang tidak tercakup dalam batasan nilai minimum kapitalisasi


tersebut di atas, diperlakukan sebagai biaya kecuali pengeluaran untuk
tanah, jalan/irigasi/jaringan, dan aset tetap lainnya. Seluruh aset tidak
didepresiasi.

e) Jenis-jenis kewajiban yang dapat dikelompokkan kewajiban jangka


pendek dan kewajiban jangka panjang. Mengingat instrumen keuangan

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 32


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

yang berkaitan dengan kewajiban jangka panjang mengandung


kompleksitas yang masih belum banyak diketahui awam, bagian ini perlu
ditambahi dengan penjelasan mengenai aspek-aspek khusus yang
berkaitan dengan berbagai instrumen hutang jangka panjang seperti
obligasi dan lain-lain.

Penjelasan mengenai Kewajiban jangka panjang , misalnya, dapat


mengulas tentang Fixed Rate Bonds-FR, atau Hedge Bonds-HB, atau surat
utang.

Fixed Rate bonds-FR adalah obligasi yang memiliki tingkat kupon yang
ditetapkan pada saat penerbitan, dan dibayarkan secara periodik setiap
enam bulan. Tingkat kupon obligasi jenis FR berkisar antara 10 persen
sampai 16,5 persen, yang terdiri dari 23 seri, dengan masa jatuh tempo
berkisar antara tahun 2005 sampai 2014 (posisi per akhir tahun 200x).

Hedge bonds-HB adalah obligasi lindung nilai yang berbunga


mengambang, dan terdiri dari enam seri. Tingkat bunga per tahun obligasi
jenis ini adalah sebesar SIBOR (Singapore Interbank Offered Rate)
ditambah dua persen, dihitung atas jumlah nominal yang telah
disesuaikan terhadap perubahan kurs rupiah terhadap USD, dan
dibayarkan empat kali dalam setahun (quarterly). Pada saat jatuh tempo,
sebagaimana terms and condition-nya, HB dapat diganti dengan obligasi
lain.

SRB-1/MK/2003 adalah surat utang yang diterbitkan pemerintah pada


tanggal 7 Agustus 200x sebagai pengganti SU-001 dan SU-003, dalam
rangka penyelesaian likuiditas BI (BLBI).

f) Penjelasan mengenai Ekuitas Dana harus meyakinkan bahwa ekuitas dana


merupakan kekayaan bersih pemerintah, yaitu selisih antara aset dengan
utang pemerintah. Selanjutnya dijelaskan bahwa Ekuitas Dana Lancar,
Ekuitas Dana Investasi, dan Ekuitas Dana Cadangan.

53. Laporan keuangan seharusnya menunjukkan hubungan angka-angka dengan


periode sebelumnya. Jika perubahan kebijakan akuntansi berpengaruh material,
perubahan kebijakan dan dampak perubahan secara kuantitatif harus
diungkapkan.

Penjelasan yang dituntut oleh paragraf 53 ini harus dipenuhi jika misalnya
entitas pelaporan mengubah metode penyusutan dari garis lurus ke menurun
berganda. Jelas, dalam metode garis lurus, jumlah akumulasi penyusutan
sampai pada suatu tahun akan lebih sedikit daripada jika menggunakan
metode menurun berganda. Selisih perhitungan ini, jika cukup material harus
diungkapkan sehingga diharapkan pengguna akan tahun alasan mengapa
saldo pos Diinvestasikan dalam Aset Tetap dikurangi secara material
sebagai akibat pengubahan metode penyusutan ini dan sebaliknya pos
Akumulasi Penyusutan ditambah sejumlah yang sama.

54. Perubahan kebijakan akuntansi yang tidak mempunyai pengaruh


material dalam tahun perubahan juga harus diungkapkan jika

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 33


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

berpengaruh secara material terhadap tahun-tahun yang akan datang.


Pengungkapan Informasi yang diharuskan oleh pernyataan Standar
Akuntansi Pemerintahan yang belum disajikan dalam lembar muka
laporan keuangan

Sekiranya entitas pelapor yakin bahwa pada akhir suatu tahun seluruh
penilaian aset tetap yang tidak disertai dengan bukti pendukung akan selesai,
maka CaLK dapat mengingatkan pengguna bahwa ketika revaluasi
dilaksanakan maka nilai aset pemerintah akan bertambah secara material
dari sekedar sejumlah aset yang bernilai Rp1 menjadi aset yang cukup
bernilai. Dalam tahun-tahun berikutnya, hal ini akan membawa akibat
adanya perhitungan penyusutan dalam jumlah material pula.

55. Catatan atas Laporan Keuangan harus menyajikan informasi yang


diharuskan dan dianjurkan oleh Pernyataan Standar Akuntansi
Pemerintahan lainnya serta pengungkapan-pengungkapan lain yang
diperlukan untuk penyajian wajar atas laporan keuangan, seperti
kewajiban kontinjensi dan komitmen-komitmen lain. Pengungkapan
informasi dalam Catatan atas Laporan Keuangan harus dapat
memberikan informasi lain yang belum disajikan dalam bagian lain
laporan keuangan.

Pengungkapan-pengungkapan lain yang paling perlu diuraikan dalam CaLK


adalah penjelasan mengenai rekening-rekening atau pos-pos akuntansi.
Penjelasan ini bisa jadi merupakan bagian yang paling panjang dibandingkan
dengan yang lain. Dalam Struktur CaLK alternatif, pengungkapan penjelasan-
penjelasan per pos atau rekening akuntansi ini dimuat dalam Bab VI.

Selengkapnya, contoh pengungkapan penjelasan per pos tersebut adalah


sebagai berikut:

I. PENJELASAN ATAS POS-POS LAPORAN REALISASI


ANGGARAN

A. PENDAPATAN
A.1. Realisasi Pendapatan

(Pada bagian ini diuraikan jenis pendapatan yang masuk ke kas


negara melalui satke-satker Kementerian Negara/Lembaga, berikut
penyebab terlampuinya anggaran atau tidak tercapainya target, jika
ada. Berikut adalah contoh pengungkapan pendapatan pada
Kementerian yang menerima pendapatan perpajakan dan
pendapatan nonpajak).

Pendapatan terdiri dari penerimaan perpajakan dan penerimaan


negara bukan pajak.
- Penerimaan pajak selama periode ini adalah sebesar Rp <total
capaian penerimaan perpajakan selama periode pelaporan> atau
<persentase capaian>% dari anggarannya. Realisasi penerimaan
pajak yang berada <di atas/di bawah>(pilih salah satu sesuai

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 34


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

dengan kondisi yang ada).

- Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) juga memberikan


kontribusi bagi pendapatan negara. Realisasi PNBP pada
<semester/tahun> (periode laporan) sebesar Rp<total capaian
PNBP> atau <persentase capaian>% dari anggarannya. (Berikut
adalah contoh penyebab tidak tercapainya target PNBP yang
dianggarkan).

- Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) juga berasal dari


pengembalian belanja atas belanja-yang-terjadi-pada-tahun-
anggaran-yang-lalu sebesar Rp<nilai pengembalian atas belanja-
yang-terjadi-pada-tahun-anggaran-yang-lalu> dibukukan sebagai
pendapatan lain-lain.

Selain pendapatan pajak dan PNBP, juga terdapat pendapatan yang


berasal dari hibah, dengan realisasi sebesar Rp<total nilai capaian
penerimaan hibah selama periode pelaporan> atau <persentase
capaian>% dari anggarannya yang berjumlah Rp <total pagu
penerimaan hibah untuk periode pelaporan>.

Dari total pendapatan yang telah dijelaskan di atas, terdapat


pengembalian pendapatan sebesar Rp<total nilai pengembalian
pendapatan> dimana sebesar Rp<total nilai pengembalian atas
pendapatan-tahun-anggaran-sebelumnya> merupakan pengembalian
atas pendapatan tahun anggaran tahun anggaran yang lalu, dan
sisanya sebesar Rp<total nilai pengembalian atas pendapatan-tahun-
anggaran-berjalan> merupakan pengembalian atas pendapatan-
yang-diterima-pada-tahun-anggaran berjalan. Karena kedua jenis
pengembalian pendapatan ini bersifat normal dan berulang
(recurring), maka dibukukan sebagai pengurang pendapatan pada
periode terjadinya pengembalian.

B. BELANJA
B.1. Pelaksanan Realisasi Belanja

Belanja dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip


penghematan dan efisiensi, namun tetap menjamin terlaksananya
kegiatan-kegiatan sebagaimana yang telah ditetapkan dalam
Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga. Belanja <Nama
Kementerian Negara/Lembaga> meliputi belanja pegawai, belanja
barang, belanja modal dan belanja bantuan sosial (disebutkan sesuai
dengan jenis belanja yang ada di satuan kerja yang ada dalam
lingkup Kementerian Negara/Lembaga). Perincian Anggaran dan
realisasi belanja dapat dilihat dari tabel-tabel berikut ini :

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 35


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Tabel.1
Rincian Anggaran dan Realisasi Belanja per Jenis Satuan Kerja
<Nama Kementerian Negara/Lembaga>
<Tahun Anggaran>

Anggaran Anggaran Realisasi


Uraian Persentase
Semula Setelah Revisi Belanja
2 3 4 5=(4/3)x10
1
0%
Satuan Kerja Rp. Rp. Rp. .%
Pusat dan Daerah
Dekonsentrasi Rp. Rp. Rp. .%
Tugas Rp. Rp. Rp. .%
Pembantuan
Jumlah Rp Rp Rp .%

Tabel.2
Rincian Anggaran dan Realisasi Belanja per Jenis Belanja

Kode Anggaran
Realisasi
Jenis Uraian Jenis Belanja Setelah Persentase
Belanja
Bel. Revisi
2 3 4 5=(4/3)x100
1
%
51 Belanja Pegawai Rp. Rp. .%
52 Belanja Barang Rp. Rp. .%
53 Belanja Modal Rp. Rp. .%
57 Belanja Bantuan Rp. Rp. .%
Sosial
Dst Dst Rp. Rp. .%
Jumlah Rp Rp .%

<Format seperti di atas disesuaikan dengan jenis belanja yang


terdapat pada kementerian negara/lembaga>

Dari realisasi anggaran tersebut di atas, untuk realisasi DIPA


Luncuran adalah sebagai berikut :

Tabel.3
Rincian Anggaran dan Realisasi Belanja per Jenis Belanja DIPA
Luncuran

Anggaran
Kode Realisasi
Uraian Jenis Belanja Setelah Persen-tase
Jenis Bel. Belanja
Revisi
2 3 4 5=(4/3)x100
1
%
XX <Isi dengan uraian Rp. Rp. .%
jenis bel.>

Jumlah Rp Rp .%

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 36


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Realisasi tersebut berasal dari......<angka jumlah> satuan kerja


dalam lingkup UAPA yang tersebar di .......Eselon 1.

Tabel.4
Rincian Realisasi Belanja Modal

Anggaran
Kode Uraian Belanja Realisasi
Setelah Persentase
MAK. Modal(BM) Belanja
Revisi
2 3 4 5=(4/3)x10
1
0%
531111 BM Tanah Rp. Rp. .%
532111 BM Peralatan dan Rp. Rp. .%
Mesin
533111 BM Gedung dan Rp. Rp. .%
Bangunan
534111 BM Jalan dan Rp. Rp. .%
Jembatan
534112 BM Irigasi Rp. Rp. .%
534113 BM Jaringan Rp. Rp. .%
535111 BM Fisik Lainnya Rp. Rp. .%
Jumlah Rp Rp .%

Pengembalian belanja (penerimaan kembali belanja) atas belanja-yang-


terjadi-pada-tahun-anggaran-berjalan sebesar Rp<nilai pengembalian atas
belanja-yang-terjadi-pada-tahun-anggaran-berjalan>dibukukan sebagai
kontra pos belanja pada periode pelaporan. Sedangkan pengembalian
belanja atas belanja-yang-terjadi-pada-tahun-anggaran-yang-lalu sebesar
Rp<nilai pengembalian atas belanja-yang-terjadi-pada-tahun-anggaran-
yang-lalu> dibukukan sebagai pendapatan lain-lain.

Tabel.5
Rincian Realisasi Pengembalian Belanja per Jenis Belanja

Kode Jenis Realisasi Pengembalian


Uraian Jenis Belanja
Bel. Belanja
1 2 4
51 Belanja Pegawai Rp.
52 Belanja Barang Rp.
53 Belanja Modal Rp.
57 Belanja Bantuan Sosial Rp.
Dst Dst Rp.
Jumlah Rp

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 37


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

II. PENJELASAN ATAS POS-POS NERACA

A. KAS DI BENDAHARA PENGELUARAN

Saldo Kas di Bendahara Pengeluaran pada <Nama Kementerian


Negara/Lembaga> per <tanggal neraca> sebesar Rp<nilai kas di
bendaharawan pembayar> merupakan saldo kas pada
bendahara pengeluaran. Jumlah di atas merupakan saldo
kas/bank dari penerimaan uang persediaan yang belum
dipertanggungjawabkan secara definitif kepada Kas Negara pada
tanggal neraca. Terdiri dari :

Tabel. 6
Daftar Kas Bendahara Pengeluaran

No. Uraian Eselon I Jumlah

1 Rp.
2
Rp.
Jumlah

(rincian seperti di atas diuraikan secara lengkap terutama untuk


periode akhir tahun anggaran, jika setelah tanggal 31 Desember
200x saldo kas di bendaharawan telah disetorkan, diungkapkan
Eselon I yang telah melakukan penyetoran).

B. KAS DI BENDAHARA PENERIMAAN

Saldo Kas di Bendahara Penerimaan pada <Nama Kementerian


Negara/Lembaga>per <tanggal neraca> sebesar Rp<nilai kas di
bendaharawan penerimaan> merupakan saldo kas pada bendahara
penerimaan.
Kas di Bendahara Penerimaan adalah penerimaan Pendapatan
Negara Bukan Pajak (PNBP) yang belum disetor ke Kas Negara
pada tanggal neraca. Terdiri dari :

Tabel. 7
Daftar Kas Bendahara Penerimaan

No. Uraian Eselon I Jumlah

1 2 3
1 Rp
2
3
Rp.
Jumlah

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 38


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Tabel.8
Rincian Saldo Kas di Bendahara Penerimaan

No.
Kode MAP Uraian Jumlah Rupiah
1 2 3 4
Rp.

Jumlah Rp.
*) kode MAP diisi berdasarkan kode akun pendapatan yang belum
disetorkan ke kas negara. Diungkapkan juga alasan mengapa
pendapatan tersebut belum disetor.

C. PIUTANG

Piutang adalah semua hak atau klaim terhadap pihak lain atas uang,
barang atau jasa yang dapat dijadikan kas dan belum diselesaikan
pada tanggal neraca, yang diharapkan dapat diterima dalam jangka
waktu tidak lebih dari 12 bulan setelah tanggal neraca.

(data-data piutang di bawah ini merupakan hasil rekapitulasi dari


eselon I).

C.1. Piutang Pajak

Piutang Pajak sebesar Rp.<jumlah rupiah> merupakan tagihan pajak


yang telah telah mempunyai surat ketetapan yang dapat dijadikan
kas dan belum diselesaikan pada tanggal neraca yang diharapkan
dapat diterima dalam jangka waktu tidak lebih dari satu tahun.
Berikut ini contoh rincian pada Pemerintah Pusat:

Tabel.9
Rincian Piutang Pajak menurut Wilayah

Kode
No. Uraian Wilayah Jumlah Rupiah
Wilayah
1 2 3 4
Rp.

Jumlah Rp.
(Diisi untuk kanwil yang mempunyai Piutang Pajak beserta
jumlahnya).

C.2. Piutang PNBP

Piutang Bukan Pajak sebesar Rp.<jumlah rupiah> merupakan


piutang penerimaan negara bukan pajak, yaitu semua hak atau klaim
terhadap pihak lain atas uang, barang atau jasa yang dapat dijadikan

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 39


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

kas dan belum diselesaikan pada tanggal neraca yang diharapkan


dapat diterima dalam jangka waktu tidak lebih dari satu tahun.

Sebagai ilustrasi piutang tersebut terdiri dari :

Tabel.10
Rincian Piutang PNBP menurut Eselon I

Kode
No. Uraian Eselon I Jumlah Rupiah
Eselon I
1 2 3 4
Rp.

Jumlah Rp.

Tabel.11
Rincian Piutang PNBP

Kode
No. Perkiraan Uraian Piutang Jumlah Rupiah
Piutang
1 2 3 4
Rp.

Jumlah Rp.
(Kode perkiraan piutang dapat dilihat dari PMK No.13/PML.06/2005
yang diisi berdasarkan perkiraan pendapatan)

C.3. Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran


Jumlah Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran (TPA) sebesar
Rp.<jumlah rupiah> merupakan saldo TPA yang akan jatuh tempo
dalam tahun anggaran 2007 yang berasal dari penjualan <uraikan jenis
penjualan angsuran>.

C.4. Bagian Lancar Tagihan Tuntutan Ganti Rugi


Jumlah Bagian Lancar Tagihan Tuntutan Ganti Rugi (TGR) sebesar
Rp<jumlah rupiah> merupakan saldo Tagihan TGR yang akan jatuh
tempo dalam tahun anggaran 2007.

C.5. Piutang Bukan Pajak Lainnya


Piutang Lain-lain sebesar Rp<jumlah rupiah> merupakan piutang
yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam salah satu kategori
piutang sebagaimana telah dijelaskan di atas yang diharapkan
diterima pada tahun 2007.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 40


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

D. PERSEDIAAN

Persediaan merupakan jenis aset dalam bentuk barang atau


perlengkapan (supplies) pada tanggal neraca, yang diperoleh dengan
maksud untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah dan
barang-barang yang dimaksudkan untuk dijual dan/atau diserahkan
dalam rangka pelayanan kepada masyarakat.

Terdapat Persediaan pada tanggal <tanggal neraca> sebesar Rp


<nilai persediaan pada tanggal neraca> yang diperoleh dari hasil
inventarisasi, yang terdiri dari <uraian jenis persediaan sesui dengan
klasifikasi pada bagan perkiraan standar dan nilai rupiah masing-
masing>.

E. ASET TETAP

Aset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat


lebih dari 12 bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan
atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum.
Nilai aset tetap per <tanggal neraca> sebesar Rp <nilai total aset
tetap> dengan perincian sebagai berikut:

Tabel.12
Daftar Aset Tetap

Mutasi Saldo
Saldo
Nama Aset Tetap Akhir
Awal Tambah Kurang

2 3 4 5
Tanah
Peralatan dan Mesin
Gedung dan Bangunan
Jalan, Irigasi dan Jaringan
Aset Tetap Lainnya
Jumlah

Mutasi tambah aset tetap terdiri dari:


Pembelian Rp.
Penyelesaian Pembangunan Rp.
Transfer dari unit lain Rp.
Hibah (masuk) Rp.
dst
< ungkapkan penyebab mutasi tambah lainnya beserta jumlahnya>

Mutasi kurang aset tetap terdiri dari :


Penghapusan Rp.
Transfer ke unit lain Rp
Koreksi Pencatatan Rp
Hibah (keluar) Rp.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 41


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

dst
< ungkapkan penyebab mutasi kurang lainnya beserta jumlahnya>

Pada periode semester/tahunan 200x (pilih salah satu sesuai


cakupan laporan keuangan yang disajikan), realisasi belanja untuk
pengadaan aset tetap melalui pembangunan yang belum selesai
pengerjaannya pada <tanggal neraca> adalah sebesar
Rp........................ Konstruksi dalam Pengerjaan tersebut terdiri
dari:
Tanah Rp.
Peralatan dan Mesin Rp.
Gedung dan Bangunan Rp.
Jalan Rp.
Irigasi dan Jaringan Rp.
Aset Tetap Lainnya Rp.
< ungkapkan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan KDP>

(Pada sesi ini diungkapkan pula aset-aset pada satuan kerja yang
masih mengalami permasalahan sehingga belum bisa dimasukkan
dalam Neraca. Contoh aset seperti ini adalah tanah-tanah yang
dikuasai Kementerian Negara/Lembaga tetapi dalam status sengketa,
aset-aset yang secara faktual diperoleh dari hibah namun belum
dapat dibukukan karena belum ada berita acara serah terimanya,
penambahan nilai gedung tempat kerja bukan milik sendiri yang
nilainya memenuhi syarat kapitalisasi dsb.)

F. ASET BERSEJARAH (HERITAGE ASSETS)


(Hanya diungkapkan jika Kementerian Negara/Lembaga menguasai
aset bersejarah)
Aset bersejarah (heritage assets) tidak disajikan di neraca namun
aset tersebut harus diungkapkan dalam Catatan atas Laporan
Keuangan. Aset bersejarah diharapkan untuk dipertahankan dalam
waktu yang tak terbatas. Aset bersejarah dibuktikan dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pada semester/tahun 200x realisasi belanja untuk Aset Bersejerah
berupa belanja untuk < jelaskan penggunaan belanja tersebut
misalnya untuk perolehan/ konstruksi/ peningkatan/ rekonstruksi>
yang berasal dari belanja <barang/modal> adalah sebesar
Rp.<jumlah total belanja>.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 42


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Tabel.13
DAFTAR ASET BERSEJARAH

Saldo Awal Mutasi Mutasi Saldo Akhir


Periode Bertambah Berkurang Periode
Nama Aset (dalam (dalam (dalam (dalam
satuan satuan satuan satuan
kuantitas) kuantitas) kuantitas) kuantitas)

G. ASET LAINNYA

(Diungkapkan jika Kementerian Negara/Lembaga memiliki aset


dengan jenis ini)
Aset Lainnya adalah aset yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam
aset lancar, investasi permanen dan aset tetap pada tanggal neraca.
Aset Lainnya terdiri atas:

- Tagihan Penjualan Angsuran Rp<nilai TPA yang jatuh temponya


lebih dari 12 bulan setelah tanggal
neraca>

- Tagihan Tuntutan Ganti Rugi Rp<nilai TGR yang jatuh temponya


lebih dari 12 bulan setelah tanggal
neraca>

Kemitraan dengan Pihak Ketiga Rp. <nilai kemitraan dgn pihak


ketiga>
Kemitraan dengan Pihak Ketiga berupa <uraian bentuk kemitraan
tersebut>

H. UANG MUKA DARI KPPN

Uang muka dari KPPN merupakan akun penyeimbang dari akun Kas
di Bendahara Pengeluaran. Nilai rupiah pada akun ini
merepresentasikan uang persediaan yang belum dipergunakan
dan/atau yang belum dipertanggungjawabkan sebagai pengeluaran
definitif.
(Dapat diungkapkan nilai Uang Muka dari KPPN untuk setiap wilayah
dan diakhir tahun diungkapkan alasan mengapa uang persediaan ini
masih ada nilainya).

I. PENDAPATAN YANG DITANGGUHKAN

Pendapatan yang Ditangguhkan merupakan akun penyeimbang dari


akun Kas di Bendahara Penerimaan. Nilai rupiah pada akun ini

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 43


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

merepresentasikan pendapatan negara bukan pajak yang sudah


dipungut tetapi belum disetor ke kas negara pada tanggal pelaporan.

J. EKUITAS DANA LANCAR

Ekuitas Dana Lancar adalah kekayaan bersih pemerintah yang


merupakan selisih antara nilai aset lancar dengan kewajiban lancar /
jangka pendek, yang terdiri atas:
- Cadangan Piutang Rp<nilai rupiah akun Piutang>
- Cadangan Persediaan Rp<nilai rupiah akun Persediaan>

(Cadangan Piutang merupakan akun penyeimbang dari akun Piutang,


sedangkan Cadangan Persediaan adalah akun penyeimbang dari akun
Persediaan).

K. EKUITAS DANA INVESTASI

Ekuitas dana investasi adalah dana yang diinvestasikan dalam aset


tetap dan aset lainnya. Ekuitas dana investasi pada tanggal <tanggal
neraca>, terdiri atas:
- Diinvestasikan dalam Aset Tetap Rp<jumlah nilai rupiah total
pos Aset Tetap>
- Diinvestasikan dalam Aset Lainnya Rp<jumlah nilai rupiah total
pos Aset Lainnya>
(Diinvestasikan Dalam Aset Tetap merupakan akun penyeimbang
dari pos Aset Tetap, sedangkan Diinvestasikan Dalam Aset Lainnya
adalah akun penyeimbang dari pos Aset Tetap Lainnya)

III. INFORMASI TAMBAHAN DAN PENGUNGKAPAN LAINNYA

A. Informasi Tambahan
(Sesi ini digunakan untuk mengungkapkan hal-hal lain yang terkait
dengan laporan keuangan tetapi belum terungkapkan pada sesi-sesi
sebelumnya, misalnya bila kementerian negara/lembaga memiliki
Badan Layanan Umum agar dijelaskan pada sesi ini. Berikut adalah
contohnya:)
Bersama ini kami lampirkan laporan keuangan Badan Layanan Umum
yang berada lingkup <Nama Kementerian Negara/Lembaga> :
Badan X
Unit Y
Rumah Sakit Z
Dst.

B. Pengungkapan Lainnya
(Sesi ini digunakan untuk mengungkapkan hal-hal lain yang terkait
dengan laporan keuangan tetapi belum terungkapkan pada sesi-sesi
sebelumnya, contoh yaitu :)

1. Domisili tempat satuan kerja tersebut berada;

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 44


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

2. Penjelasan mengenai sifat operasi entitas dan kegiatan


pokoknya;
3. Ketentuan perundang-undangan yang menjadi landasan
kegiatan operasionalnya.
4. Catatan atas Laporan Keuangan harus mengungkapkan
kejadian-kejadian penting selama periode pelaporan, seperti:
a. Penggantian manajemen pemerintahan selama tahun
berjalan;
b. Kesalahan manajemen terdahulu yang telah dikoreksi oleh
manajemen baru;
c. Piutang yang tidak dapat tertagih,
d. Peristiwa yang sedang terjadi yang akan dapat
berpengaruhi terhadap Neraca pada masa yang akan
datang yang tidak dapat disajikan pada Neraca, contohnya
adanya proses pengadilan yang akan dapat mempengaruhi
nilai neraca;
e. Penggabungan/pemecahan entitas tahun berjalan.
f. Satuan Kerja/wilayah yang realisasi anggarannya belum
diterima.
5. Hambatan dan kendala lainnya dalam penyusunan laporan
Keuangan Tahun Anggaran 200x termasuk dalam penyusunan
Laporan Barang baik yang disebabkan oleh masalah intern
maupun ekstern.

56. Karena keterbatasan asumsi dan metode pengukuran yang digunakan,


beberapa transaksi atas peristiwa yang diyakini akan mempunyai dampak
penting bagi entitas pelaporan tidak dapat disajikan dalam lembar muka laporan
keuangan, seperti kewajiban kontinjensi. Untuk dapat memberikan gambaran
yang lebih lengkap, pembaca laporan perlu diingatkan kemungkinan akan
terjadinya suatu peritiwa yang dapat mempengaruhi kondisi keuangan entitas
pelaporan pada periode yang akan datang.

57. Pengungkapan informasi dalam catatan atas laporan keuangan harus


menyajikan informasi yang tidak mengulang rincian (misalnya rincian
persediaan, rincian aset tetap, atau rincian pengeluaran belanja) dari seperti
yang telah ditampilkan pada lembar muka laporan keuangan. Dalam beberapa
kasus, pengungkapan kebijakan akuntansi, untuk dapat meningkatkan
pemahaman pembaca, harus merujuk ke rincian yang disajikan pada tempat lain
di laporan keuangan.

Pengungkapan Informasi untuk Pos-pos aset dan kewajiban yang timbul


sehubungan dengan penerapan basis akrual atas pendapatan dan
belanja dan rekonsiliasinya dengan penerapan basis kas

Seluruh penjelasan yang dituntut oleh Paragraf 58 sampai dengan 61 ini


dituangkan dalam Struktur CaLK alternatif dalam Bab VI bagian 6.2.

58. Entitas pelaporan yang menyusun laporan keuangan berbasis akrual


atas pendapatan dan belanja harus mengungkapkan pos-pos aset dan

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 45


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

kewajiban yang timbul sehubungan dengan penerapan basis akrual dan


menyajikan rekonsiliasinya dengan penerapan basis kas.

Pada entitas pelaporan yang sudah menggunakan basis akrual, piutang


pendapatan dan hutang belanja akan dicatat secara berbeda dari pencatatan
oleh entitas yang menggunakan asas kas dalam mencatat pendapatan dan
belanja. Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut

Transaksi Catatan dengan Basis Akrual Catatan dengan Basis Kas


Menuju Akrual
Tanggal 31 Des 31 Des 200x: 31 Des 200x:
200x:
Surat Ketetapan (Db) Pihutang Pajak 412 (Db) Pihutang Pajak 412 jt
Pajak menetapkan juta (Kr) Pndptn Ditgghkan
Pajak Penghasilan (Kr) Pendapatan Pajak 412 jt
yang dapat ditagih: 412jt
Rp 300 Milyar

SPM Langsung atas (Db) Belanja Modal 300 jt (Db) Dana yg hrs
pembelian Mobil (Kr) Hutang 300 jt Disediakan 300 jt
yang belum (Kr)Hutang 300jt
dkeluarkan SP2D (Db) Aset tetap 300 jt
oleh KPPN Rp300 (Kr) Diinvst dl Aset Ttp
juta 300 jt

Dari contoh di atas tampak bahwa baik Laporan Realisasi Anggaran dan
Neraca catatan menurut kedua basis berbeda. LRA akan berbeda karena
adanya perbedaan pengakuan pendapatan dan belanja. Neraca juga berbeda
karena ada perbedaan pencatatan aset dan ekuitas dana atau aset bersih.

59. Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan pada paragraf 26 dan 76


memungkinkan entitas pelaporan menyusun laporan keuangannya dengan basis
akrual untuk pendapatan dan belanja. Entitas pelaporan tersebut harus
menyediakan informasi tambahan termasuk rincian mengenai output entitas dan
outcome dalam bentuk indikator kinerja keuangan, laporan kinerja keuangan,
tinjauan program dan laporan lain mengenai pencapaian kinerja keuangan
entitas selama periode pelaporan. Hal ini dimaksudkan agar pembaca laporan
dapat memahami pos-pos aset dan kewajiban yang timbul dikarenakan
penerapan basis akrual pada pos-pos pendapatan dan belanja, seperti
pendapatan yang diterima di muka, biaya dibayar di muka, dan biaya
penyusutan/depresiasi. Pos-pos aset dan kewajiban tersebut merupakan akibat
dari penerapan basis akrual atas pos-pos pendapatan dan belanja.

Dengan kasus yang diuraikan dalam paragraf 58 maka jika kebijakan


akuntansi mengijinkan untuk mencatat penyusutan pada tahun yang sama
dengan pembelian aset maka perbedaan akan kembali muncul dalam bentuk:
Laporan Kinerja Keuangan Basis akrual akan memperoleh tambahan beban
penyusutan sebesar penyusutan setahun sementara LRA basis Kas menuju
Akrual tidak dipengaruhi penyusutan.Jika menggunakan metode garis lurus
dengan masa manfaat 10 tahun, maka beban penyusutan adalah Rp30 juta.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 46


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Neraca basis akrual mengalami kekurangan ekuuitas dana akibat adanya


tambahan beban penyusutan sedangkan Neraca basis Kas menuju Akrual
tidak terpengaruh karena tidak ada beban penyusutan disebabkan belum
adanya pencatatan aset tetap. Kembali, hal ini pun perlu direkonsiliasi.

60. Tujuan dari rekonsiliasi adalah untuk menyajikan hubungan antara Laporan
Kinerja Keuangan dengan Laporan Realisasi Anggaran. Laporan rekonsiliasi
dimulai dari penambahan/penurunan ekuitas yang berasal dari Laporan Kinerja
Keuangan yang disusun berdasarkan basis akrual. Nilai tersebut selanjutnya
disesuaikan dengan transaksi penambahan dan pengurangan aset bersih
dikarenakan penggunaan basis akrual yang kemudian menghasilkan nilai yang
sama dengan nilai akhir pada Laporan Realisasi Anggaran.

Dengan semua contoh kasus dalam paragraf 58 dan 59, contoh rekonsiliasi
yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:

Transaksi Rekonsiliasi
Kinerja keuangan basis kas menurut LKK Biaya Netto Laporan
basis Kas Kinerja Keuangan
Basis Kas: Rp xx
Penambahan
Belanja Modal yang belum Belanja Modal 300 juta
Boleh dicatat karena belum
Ada pengeluaran kas dari Kas
negara

Beban penyusutan yang tidak Beban Penyusutan 30 juta


boleh dicatat mengingat aset
tetap belum dicatat

Pengurangan
Pendapatan pajak yang belum Pendapatan pajak ( 412
Boleh dicatat karena belum ada juta)
Penerimaan di Kas Negara
SILPA menurut is Rpxx - 82
juta
Basis Kas
menuju Akrual

Rekonsiliasi Laporan Kinerja Keuangan di atas disertai dengan penyesuain


Neraca melalui jurnal penyesuaian sebagai berikut:

Pendapatan Pajak Rp412 juta


Dana yang Harus Disediakan 300 juta
Diinvestasikan dalam Aset Tetap 300 juta
Akumulasi Penyusutan 30 juta
Pendapatan yang Ditangguhkan Rp412 juta
Belanja Modal 300 juta
Aset Tetap 300 juta
Beban Penyusutan 30 juta

Dengan jurnal di atas, Neraca berdasarkan basis kas menuju Akrual akan
dikurangi sebesar Aset teap yang seharusnya belum dicatat. Selain itu, seluruh

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 47


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

koreksi ats pendapatan, belanja, dan beban penyusutan akan memengaruhi nilai
Ekuitas Dana.

61. Untuk memudahkan pengguna daftar rekonsiliasi dan penjelasan atas


kondisi yang ada pada paragraf 59 dan 60, harus disajikan sebagai bagian dari
Catatan atas Laporan Keuangan.

Pengungkapan-Pengungkapan Lainnya

Seluruh pengungkapan yang dituntut oleh paragraf 62 sampai dengan 65 ini


dimuat dalam Struktur CaLK alternatif ini dalam Bab VII.

62. Catatan atas Laporan Keuangan juga harus mengungkapkan


informasi yang bila tidak diungkapkan akan menyesatkan bagi pembaca
laporan.
63. Suatu entitas pelaporan mengungkapkan hal-hal berikut ini apabila belum
diinformasikan dalam bagian manapun dari laporan keuangan, yaitu:
(a) domisili dan bentuk hukum suatu entitas serta jurisdiksi tempat entitas
tersebut berada;
(b) penjelasan mengenai sifat operasi entitas dan kegiatan pokoknya;
(c) ketentuan perundang-undangan yang menjadi landasan kegiatan
operasionalnya.

64. Catatan atas Laporan Keuangan harus mengungkapkan kejadian-kejadian


penting selama tahun pelaporan, seperti:
(a) Penggantian manajemen pemerintahan selama tahun berjalan;
(b) Kesalahan manajemen terdahulu yang telah dikoreksi oleh manajemen baru;
(c) Komitmen atau kontinjensi yang tidak dapat disajikan pada Neraca; dan
(d) Penggabungan atau pemekaran entitas tahun berjalan.
(e) Kejadian yang mempunyai dampak sosial, misalnya adanya pemogokan yang
harus ditanggulangi pemerintah.

Komitmen atau kejadian kontinjensi yang perlu disajikan adalah berbagai


kejadian, yang umumnya berkaitan dengan litigasi atau penuntutan atau
penggugatan yang menjadikan pemerintah sebagai pihak tergugat.
Keberatan atas ketetapan pajak, tuntutan restitusi pajak, atau aksi masal
untuk menuntut ganti rugi, adalah contoh-contoh populer untuk kejadian
kontinjensi. Sepanjang tuntutan ini belum mampu menghasilkan
kemungkinan nilai restitusi atau ganti rugi yang harus dibayar oleh negara
secara meyakinkan maka kejadian ini cukup diungkapkan secara naratif
dengan atau tanpa menyebut potensi kerugian yang ditimbulkan.

65. Pengungkapan yang diwajibkan dalam tiap standar berlaku sebagai


pelengkap standar ini.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 48


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

SUSUNAN
66. Agar dapat digunakan oleh pengguna dalam memahami dan
membandingkannya dengan laporan keuangan entitas lainnya, Catatan atas
Laporan Keuangan biasanya disajikan dengan susunan sebagai berikut:
(a) Kebijakan fiskal/keuangan, ekonomi makro, pencapaian target Undang-
Undang APBN/Perda APBD;
(b) khtisar pencapaian kinerja keuangan;
(c) Kebijakan akuntansi yang penting:
i. Entitas pelaporan;
ii. Basis akuntansi yang mendasari penyusunan laporan keuangan;
iii. Basis pengukuran yang digunakan dalam penyusunan laporan
keuangan;
iv. Kesesuaian kebijakan-kebijakan akuntansi yang diterapkan dengan
ketentuan-ketentuan Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan oleh
suatu entitas pelaporan;
v. Setiap kebijakan akuntansi tertentu yang diperlukan untuk memahami
laporan keuangan.
(d) Penjelasan pos-pos Laporan Keuangan:
i. Rincian dan penjelasan masing-masing pos Laporan Keuangan;
ii. Pengungkapan informasi yang diharuskan oleh Pernyataan Standar
Akuntansi Pemerintahan yang belum disajikan dalam lembar muka
Laporan Keuangan.
(e) Pengungkapan pos-pos aset dan kewajiban yang timbul sehubungan
dengan penerapan basis akrual atas pendapatan dan belanja dan
rekonsiliasinya dengan penerapan basis kas, untuk entitas pelaporan yang
menggunakan basis akrual;
(f) Informasi tambahan lainnya, yang diperlukan seperti gambaran umum
daerah.

Sebagaimana sudah diuraikan pada bagian awal, Susunan atau Struktur CaLK
yang dimaksud dalam Bagian Susunan ini sudah dicoba dilengkapi secara
lebih rinci dengan memakai Struktur atau Susunan alternatif. Selain untuk
mencoba lebih menyesuaikannya dengan aturan Permendagri Nomor 13
Tahun 2006, Struktur alternatif ini juga diharapkan akan dapat lebih lengkap
dan sistematis.

Apabila masih ada informasi yang dianggap perlu dikemukakan demi


memenuhi suatu prinsip pengungkapan yang memadai, tetapi belum termuat
dalam Bab I sampai dengan VI, maka informasi tersebut dapat dimuat dalam
Lampiran

Sebagai contoh, Lampiran dapat memuat antara lain hal-hal sebagai berikut:
1) Laporan realisasi anggaran pendapatan negara dan hibah menurut unit
kerja dan kode rekening serta belanja pemerintah menurut unit kerja
dan kode program
2) Laporan realisasi belanja pemerintah menurut fungsi dan subfungsi
3) Laporan realisasi belanja pemerintah menurut jenis belanja
4) DIPA/DPA Luncuran tahun anggaran per bagian anggaran
5) Laporan realisasi dana perimbangan
6) Laporan realisasi dana otonomi khusus dan penyesuaian
7) Laporan realisasi pengembalian belanja
8) Saldo kas di KPPN per daerah

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 49


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

9) Saldo rekening pemerintah di bank-bank


10) Saldo kas di bendahara pengeluaran
11) Dan lain lain

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 50


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

SOAL LATIHAN

Kasus 1

Laporan Realisasi Anggaran menunjukkan adanya penerimaan pembiayaan dari


penjualan aset pemerintah sebesar Rp1,3 Triliun. Laporan Arus Kas
menunjukkan bahwa penerimaan pembiayaan tersebut berasal dari penjualan
Gedung sebagaimana juga ditunjukkan oleh berkurangnya nilai aset tetap pada
pos Gedung dalam Neraca.

Pertanyaan:

a) Sejauh mana kira-kira seorang Investor Property dan seorang Ibu Rumah
Tangga yang baru mengalami kenyataan bahwa dua anaknya, masing-
masing tidak lulus Ujian Nasional SLTP dan SLTA memaknai informasi
tentang gedung sekolah itu?
b) Faktor apa yang paling berperan dalam membentuk perbedaan apresiasi
tersebut?

Kasus 2

Jika dari kasus 1 terdapat tambahan informasi yang diperoleh dari Catatan atas
Laporan Keuangan bahwa gedung yang dijual adalah gedung-gedung sekolah
termasuk gedung SLTP dan SLTA, dengan bunyi catatan dari Bab VII CaLK
tentang Penjelasan atas Informasi Non Keuangan sebagai berikut:

Untuk menutupi defisit anggaran, sementara kapasitas berhutang


pemerintah sudah semakin kecil dan pendapatan dari investasi tidak dapat
diandalkan, pemerintah mengambil kebijakan untuk mengefisienkan
pemakain gedung-gedung sekolah SD, SLTP dan SLTA sehingga ruangan
kelas diupayakan diisi murid semaksimal mungkin, setidaknya rata-rata 50
orang per kelas ukuran 8 x 6 meter persegi.

Hasil kebijakan ini diharapkan memungkinkan pemerintah untuk meruilslag


gedung-gedung sekolah, terutama yang terdapat di pusat-pusat perkotaan.
Hasil ruilslag inilah yang dijadikan salah satu sumber penerimaan
pembiayaan.

Pertanyaan:
1. Apakah Investor Property dan seorang Ibu Rumah Tangga yang baru
mengalami kenyataan bahwa dua anaknya, masing-masing tidak lulus Ujian
Nasional SLTP dan SLTA masih mempunyai penafsiran yang sama atas
laporan keuangan pemerintah sebagaimana halnya saat mereka hanya
mendapat informasi pada kasus 1?
2. Tindakan apa yang paling mungkin diambil oleh kedua pihak sebagai
penanda utama perbedaan penafsiran laporan keuangan setelah mendapat
informasi dari Catatan atas Laporan Keuangan?
3. Menurut anda, praktik pelaporan mana di antara kasus 1 dengan 2 yang lebih
bersesuaian dengan penciptaan good governance?

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 51


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Pertanyaan

1. Berikan dua contoh transaksi atau kejadian yang masing-masing berkaitan


dengan enerimaan pendapatan dan pengeluaran belanja yang harus dimuat
dalam Catatan atas Laporan Keuangan sebagai akibat dari keharusan untuk
memenuhi aturan paragraf 58 PSAP 04 tentang Catatan atas Laporan
Keuangan yang berbunyi:

Entitas pelaporan yang menyusun laporan keuangan berbasis akrual atas


pendapatan dan belanja harus mengungkapkan pos-pos aset dan kewajiban
yang timbul sehubungan dengan penerapan basis akrual dan menyajikan
rekonsiliasinya dengan penerapan basis kas.

2. Apa yang mungkin menjadi kendala utama bagi suatu entitas pelapor dalam
menyusun Catatan atas Laporan Keuangan jika kompetensi sumber daya
manusia dalam memahami akuntansi pemerintah dan penerapan standarnya
tidak merupakan masalah?

3. Suatu entitas pelaporan yang memunyai fungsi dalam bidang keamanan dan
ketertiban memunyai visi Melindungi, melayani, dan mengayomi
masyarakat. Pada suatu tahun salah satu unit kerjanya melaksanakan
program Pengawasan Akuntabilitas Aparatur Negara dengan indikator kinerja
outcome dan output serta anggaran sebagai berikut

Fungsi: Keamanan dan Ketertiban

Program Indikator Sasaran Anggaran Belanja


- Kegiatan Hasil / Pegawai Barang Modal
Keluaran
Peningkatan Jumlah 1500
Pengawasan dan kasus kasus
Akuntabilitas berindikasi
Aparatur Negara KKN yang
selesai
- Pemberkasan proses 250
kasus penuntutan 80% juta

- Studi Persen kasus


Banding yang 400 OH 3,5
diberkaskan mlyr
4,1
- Pengadaan Orang hari 12 item mlyr
Peralatan Item

Realisasi kinerja program Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas Aparatur


Negara di atas adalah sebagai berikut:

Sasaran Indikator hasil

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 52


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Jumlah kasus berindikasi KKN yang selesai proses penuntutan = 224


kasus

Sasaran Indikator keluaran


- Pemberkasan kasus = 31%
- Studi Banding = 552 hari
- Pengadaan Peralatan = 10 item

Realisasi anggaran per jenis Belanja adalah sebagai berikut


- Belanja Pegawai = Rp 239 juta
- Balanja Barang = Rp 3. 489 juta
- Belanja Modal = Rp4.005 juta

Pertanyaan

1) Susunlah catatan atas laporan keuangan untuk mengisi Bab IV Struktur CaLK
alternatif sebagai pemenuhan dari ketentuan PSAP 04 paragraf 27 dan 28
yang masing-masing berbunyi sebagai berikut.

27. Pencapaian kinerja keuangan yang telah ditetapkan dijelaskan


secara obyektif dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Keberhasilan
pencapaian kinerja dapat diketahui berdasarkan tingkat efisiensi dan
efektivitas suatu program. Efisiensi dapat diukur dengan
membandingkan keluaran (output) dengan masukan (input).
Sedangkan efektivitas diukur dengan membandingkan hasil (outcome)
dengan target yang ditetapkan.

28. Pembahasan mengenai kinerja keuangan harus


dihubungkan dengan tujuan dan sasaran dari rencana strategis
pemerintah dan indikator sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku. Ikhtisar pembahasan kinerja
keuangan dalam Catatan atas Laporan Keuangan harus:
(a) Menguraikan strategi dan sumber daya yang digunakan
untuk mencapai tujuan;
(b) Memberikan gambaran yang jelas atas realisasi dan
rencana kinerja keuangan dalam satu entitas pelaporan;
dan
(c) Menguraikan prosedur yang telah disusun dan dijalankan
oleh manajemen untuk dapat memberikan keyakinan yang
beralasan bahwa informasi kinerja keuangan yang
dilaporkan adalah relevan dan andal;

2) Apa kendala, jika ada, bagi penyusunan bagian CaLK ini?


3) Bagaimana kendala ini seharusnya diatasi?

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 04 53


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mengingat hampir setiap aktivitas instansi pemerintah untuk mencapai


tujuan yang telah ditetapkan banyak membutuhkan persediaan. Oleh karena itu
sebagai lembaga publik, yang berkewajiban menyediakan barang dan jasa
publik, instansi pemerintah harus mengelola persediaannya secara baik. Sebagai
asset lancar, persediaan sulit untuk dipertanggungjawabkan pada akhir tahun
anggaran karena dianggap sebagai bahan habis pakai. Oleh karena itu,
pengelolaan persediaan perlu dilakukan dengan baik mengacu kepada PSAP
nomor 5 dengan dipandu oleh modul akuntansi persediaan ini. Modul akuntansi
persediaan ini diharapkan dapat dijadikan acuan bagi instansi pemerintah untuk
mengelola persediaan secara akuntabel dan transparan.

B. Tujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran Umum


Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta mampu:
1. Memahami Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)
2. Mampu mengimplementasikan SAP dalam mengukur, mengakui, mencatat
dan menyajikan persediaan dalam Laporan Keuangan

Tujuan Pembelajaran Khusus


Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta mampu:
1. Memahami definisi dan ruang lingkup persediaan
2. Menguasai teknis pengakuan, pengukuran dan penilaian persediaan
3. Memahami pengungkapan dan penyajian persediaan dalam laporan
keuangan.

C. Deskripsi Ringkas

Persediaan dalam kegiatan operasional pemerintah pada umumnya


merupakan barang habis pakai, sehingga pengelolaan dan
pertanggungjawabannya masih kurang mendapat perhatian. Pengelolaan dan
pencatatan persediaan selama ini diberbagai instansi pemerintah belum
mempunyai acuan yang baku, sehingga masih beragam antar metode dan cara
pencatatan yang digunakan. Sejalan dengan itu diharapkan modul persediaan ini
dapat menjadi acuan yang baku dalam penyajian persediaan.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 05 1


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

D. Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran dalam pelatihan ini dilakukan dengan cara


pemaparan teori yang diikuti dengan tanya jawab serta diskusi soal-soal latihan
dan contoh kasus yang berkaitan dengan penilaian, pengukuran, pengakuan dan
penyajian persediaan dalam laporan keuangan.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 05 2


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB II

PERSEDIAAN

A. Tujuan

Dalam upaya menghasilkan laporan keuangan yang akuntabel dan


transparan, maka seluruh transaksi keuangan yang dilakukan oleh instansi
pemerintah harus dicatat dan dilaporkan sesuai dengan akun dari masing-
masing transaksi. Pengeluaran terhadap kebutuhan sehari-hari perkantoran
dicatat sebagai belanja barang dan belum dilaporkan sebagai persediaan
didalam laporan keuangan. Sehubungan dengan itu untuk memberikan
pemahaman tentang transaksi dimaksud dan pengaruhnya terhadap suatu akun,
dan sejalan dengan tujuan standar akuntansi pemerintahan untuk mengatur
perlakuan akuntansi terhadap persediaan maka disusun modul akuntansi
persediaan ini.

B. Ruang Lingkup Persediaan

PSAP 05 tentang persediaan diterapkan dalam penyajian seluruh


persediaan dalam laporan keuangan yang disusun dan disajikan dengan basis
cash towards accrual, di mana menggunakan basis kas untuk pengakuan pos-
pos pendapatan, belanja, transfer, dan pembiayaan, serta basis akrual untuk
pengakuan pos-pos aset, kewajiban, dan ekuitas. Standar ini diterapkan untuk
seluruh entitas pemerintah pusat dan daerah serta tidak termasuk perusahaan
negara/daerah.

Akuntansi persediaan bagi pemerintah pusat dan daerah yang diatur


meliputi :`
a. Definisi,
b. Pengakuan,
c. Pengukuran, dan
d. Pengungkapan.

C. Definisi

Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan


yang dimaksudkan untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah, dan
barang-barang yang dimaksudkan untuk dijual dan/atau diserahkan dalam
rangka pelayanan kepada masyarakat.

Dalam upaya memberikan pemahaman yang mendalam terhadap


persediaan, maka perlu diberikan batasan yang dapat dipedomani untuk dapat
mengklasifikasikan suatu aset kedalam kelompok persediaan. PSAP nomor 5
menyatakan bahwa suatu aset digolongkan kedalam persediaan apabila:

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 05 3


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Barang atau perlengkapan (supplies) yang digunakan dalam rangka kegiatan


operasional pemerintah;

Bahan atau perlengkapan (supplies) yang digunakan dalam proses produksi;

Barang dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau


diserahkan kepada masyarakat.

Barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat


dalam rangka kegiatan pemerintahan;

Dari uraian tersebut diatas persediaan dapat meliputi:


Barang Konsumsi;
Amunisi;
Bahan untuk pemeliharaan;
Suku cadang;
Persediaan untuk tujuan strategis/tujuan berjaga-jaga;
Pita cukai dan leges;
Bahan baku;
Barang dalam proses/setengahjadi;
Tanah/bangunan untuk dijual/diserahkan kpd masyarakat;
Hewan dan tanaman untuk dijual/diserahkan kpd masyarakat.

Secara ringkas, persediaan dapat digambarkan sebagai berikut:

Barang atau perlengkapan Barang habis pakai


(supplies) yang digunakan sendiri
A dalam rangka kegiatan
operasional pemerintah Barang tak habis pakai

Barang bekas pakai

Barang yang diperoleh untuk


B dijual atau diserahkan kepada
masyarakat

Bahan baku atau supplies


Barang yang digunakan dalam
C proses produksi jika pemerintah
Barang dalam proses (setengah jadi)
memproduksi sendiri (swakelola))

Barang jadi

Dalam suatu transaksi keuangan dimana pengeluaran yang dilakukan


pemerintah ditujukan untuk tujuan cadangan strategis/ berjaga-jaga, barang-
barang yang diperoleh diakui sebagai persediaan. Sebagai contoh pemerintah
membeli bahan bakar minyak sebagai cadangan energi dan membeli beras
untuk cadangan pangan.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 05 4


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Apabila pemerintah membeli hewan dan tanaman untuk dijual atau


diserahkan kepada masyarakat antara lain berupa sapi, kuda, ikan, benih padi,
dan bibit tanaman, juga diakui sebagai persediaan.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 05 5


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB III

PENGAKUAN DAN PENGUKURAN PERSEDIAAN

A. Pengakuan Persediaan

Persediaan diakui pada saat :

a. Potensi manfaat ekonomi masa depan diperoleh pemerintah dan


mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal.

b. Diterima atau hak kepemilikannya dan/atau kepenguasaannya berpindah.

Persediaan dicatat berdasarkan hasil inventarisasi fisik pada akhir periode


akuntansi. Untuk persediaan bahan baku dan perlengkapan yang dimiliki proyek
swakelola dan dibebankan ke akun konstruksi dalam pengerjaan, tidak diakui
sebagai persediaan.

Inventarisasi fisik terhadap persediaan dapat berupa penghitungan,


pengukuran atau penimbangan barang pada akhir masa pembukuan untuk
menghitung jumlah (kuantitas) suatu persediaan. Kemudian berdasarkan
jumlah(kuantitas) tersebut diperoleh suatu nilai rupiah persediaan yang
bersangkutan untuk dimasukkan ke dalam pembukuan. Inventarisasi fisik
dilakukan pada setiap akhir periode akuntansi.

Berikut ini adalah jurnal yang harus dibuat apabila suatu entitas menggunakan
metode pencatatan persediaan dengan sistem periodik

o Untuk mencatat terjadinya belanja barang di SKPD


Belanja Barang Rp xxx
Kas di Kas Daerah Rp xxx

Selanjutnya pembelian barang tersebut dicatat dalam buku persediaan


untuk dapat dilakukan pengadministrasian dan penatausahaan dari barang
persediaan dimaksud, sehingga apabila pada akhir periode dilakukan opname
fisik persediaan dapat diketahui nilainya.

Pengurangan dan penggunaan suatu persediaan harus dicatat didalam


buku persediaan sesuai dengan tanggal terjadinya.

o Hasil opname fisik terhadap persediaan akan dijurnal sebagai berikut:


Persediaan Rp xxx
Cadangan Persediaan Rp xxx

(Pencatatan saldo persediaan akhir periode akuntansi di SKPD)

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 05 6


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

B. Pengukuran Persediaan

Nilai persediaan meliputi seluruh belanja yang dikeluarkan sampai suatu


barang persediaan tersebut dapat dipergunakan. Dalam PSAP 5 dalam paragraf
18 dikatakan bahwa persediaan disajikan sebesar:

(a) Biaya perolehan apabila diperoleh dengan pembelian;

(b) Biaya standar apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri;

(c) Nilai wajar, apabila diperoleh dengan cara lainnya seperti


donasi/rampasan;

Dari uraian diatas, pengukuran persediaan dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Persediaan Harga pembelian + biaya


Biaya
diperoleh dengan = pengangkutan + biaya penanganan
perolehan pembelian potongan harga rabat

Persediaan Biaya Langsung + biaya tidak


Biaya diperoleh dengan = langsung
standar memproduksi
sendiri

Nilai wajar Persediaan Nilai aset secara wajar


diperoleh dengan =
cara lain, misalnya
donasi/rampasan

Persediaan disajikan sebesar:

Biaya perolehan, apabila diperoleh dengan pembelian;

Biaya perolehan persediaan meliputi harga pembelian, biaya


pengangkutan, biaya penanganan dan biaya lainnya yang secara langsung
dapat dibebankan pada perolehan persediaan. Potongan harga, rabat, dan
sejenis lainnya akan mengurangi biaya perolehan. Nilai pembelian yang
digunakan adalah biaya perolehan persediaan yang terakhir diperoleh.

Untuk persediaan yang memiliki nilai nominal yang dimaksudkan untuk


dijual, seperti pita cukai, dinilai dengan biaya perolehan terakhir.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 05 7


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Contoh:

Dibeli suatu persediaan kertas HVS sebanyak 100 rim dengan harga Rp.
10.000 /rim, dimana untuk pembeliannya dikenakan biaya angkut sebesar
Rp. 10.000 dan diberikan potongan harga sebesar Rp. 500/rim. Maka nilai
persediaan yang akan dimasukkan kedalam buku persediaan adalah sebesar:

Harga beli (100 rim x Rp. 10.000) Rp. 1.000.000,-

Biaya angkut Rp. 10.000,-

Total harga Rp. 1.010.000,-

Dikurangi potongan harga (Rp. 500 x 100) Rp. 50.000,-

Nilai persediaan sebesar Rp. 960.000,-

Biaya standar, apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri;

Biaya standar persediaan meliputi biaya langsung yang terkait dengan


persediaan yang diproduksi dan biaya tidak langsung yang dialokasikan
secara sistematis berdasarkan ukuran-ukuran yang digunakan pada saat
penyusunan rencana kerja dan anggaran.

Nilai wajar, apabila diperoleh dengan cara lainnya seperti


donasi/rampasan;

Persediaan hewan dan tanaman yang dikembangbiakkan dinilai dengan


menggunakan nilai wajar. Harga/nilai wajar persediaan meliputi nilai tukar
aset atau penyelesaian kewajiban antar pihak yang memahami dan
berkeinginan melakukan transaksi wajar.

Perhitungan biaya persediaan

Biaya persediaan berdasarkan PSAP No.5 harus meliputi semua biaya pembelian,
biaya konversi dan biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam
kondisi dan tempat yang siap untuk dijual atau dipakai (present location and
condition).

Biaya pembelian persediaan meliputi harga pembelian, bea masuk dan pajak
lainnya (kecuali yang kemudian dapat ditagih kembali oleh organisasi kepada
kantor pajak) dan biaya pengangkutan, penanganan dan biaya lainnya yang
secara langsung dapat diatribusikan pada perolehan barang jadi, bahan dan
jasa. Diskon dagang (trade discount), rabat dan pos lain yang serupa dapat
dikurangkan dalam menentukan biaya pembelian.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 05 8


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Biaya konversi Persediaan

Biaya konversi persediaan meliputi biaya yang secara langsung terkait dengan
unit yang diproduksi dan biaya overhead produksi tetap dan biaya overhead
variabel yang dialokasikan secara sistematis, yang terjadi dalam proses konversi
bahan menjadi barang jadi. Biaya overhead produksi tetap adalah biaya produksi
tak langsung yang relatif konstan, tanpa memperhatikan volume produksi yang
dihasilkan, seperti penyusutan dan pemeliharaan bangunan dan peralatan pabrik
serta biaya manajemen dan administrasi pabrik. Biaya overhead produksi
variabel adalah biaya yang berubah secara langsung atau hampir secara
langsung mengikuti perubahan volume produksi, seperti bahan tak langsung dan
upah tak langsung.

Biaya lain hanya dibebankan sebagai biaya persediaan sepanjang biaya tersebut
timbul agar persediaan berada dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dijual
atau dipakai.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 05 9


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB IV

PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN PERSEDIAAN

Persediaan disajikan dalam kelompok aset lancar pada neraca


pemerintah berdasarkan harga perolehan terakhir jika persediaan diperoleh
dengan pembelian, sebesar biaya standar yang dikeluarkan jika persediaan
diproduksi sendiri dan sebesar nilai wajar jika diperoleh dengan cara lain seperti
donasi/rampasan.

Persediaan disajikan didalam neraca dengan akun lawan cadangan


persedian yang merupakan bagian dari ekuitas dana lancar. Kedua akun
tersebut harus disajikan dengan jumlah yang sama (self balancing).

Disamping penyajian diatas hal-hal lain yang dipandang perlu untuk


diungkapkan dalam laporan keuangan sehubungan dengan persediaan meliputi:

Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan;

Penjelasan lebih lanjut persediaan seperti barang atau perlengkapan yang


digunakan dalam pelayanan masyarakat, barang atau perlengkapan yang
digunakan dalam proses produksi, barang yang disimpan untuk dijual atau
diserahkan kepada masyarakat, dan barang yang masih dalam proses
produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau diserahkan kepada
masyarakat;

Kondisi persediaan;

Persediaan dengan kondisi rusak atau usang tidak dilaporkan dalam


neraca, tetapi diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

Hal-hal tersebut di atas tidak dilaporkan dalam neraca tetapi diungkapkan dalam
Catatan atas Laporan keuangan.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 05 10


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

SOAL LATIHAN

Pilihan Ganda:
1. Berikut ini termasuk kelompok persediaan dalam akuntansi pemerintahan,
kecuali:
a. Perlengkapan kantor
b. Bibit tanaman pada dinas perkebunan
c. Peralatan kantor pada dinas tata kota
d. Leges pada dinas pendapatan daerah.

2. Pemkab Tratau membeli Alat tulis kantor kepada CV Usaha Mandiri sebesar
Rp 7.000.000 berupa Kertas A4 100 rim @ 35.000, kertas F4 50 rim @
40.000 dan toner printer 4 buah @ 375.000. Atas belanja tersebut maka
akan dicatat pada:
a. buku persediaan
b. jurnal persediaan
c. jurnal pengeluaran kas
d. jurnal penerimaan kas

3. Apabila persediaan diperoleh dengan cara memproduksi sendiri, maka nilai


persediaan dihutung dingan menggunakan:
a. biaya perolehan
b. biaya standar
c. nilai taksiran
d. nilai appraisal

4. Akun Cadangan Persediaan pada neraca disajikan pada pos:


a. aset lancar
b. aset tetap
c. kewajiban
d. ekuitas

5. Hal-hal yang harus diungkapkan pada Catatan atas Laporan Keuangan


terhadap Persediaan meliputi:
a. kebijakan akuntansi persediaan
b. kondisi barang
c. penjelasan lebih lanjut atas persediaan
d. semua jawaban benar

KASUS
SOAL 1
Bendaharawan kantor Dinas Perkebunan membeli alat tulis kantor sebagai
berikut:
a. kertas fotocopy 70 gram ukuran A4 sebanyak 30 rim @ Rp 26.000,-
b. kertas fotocopy 70 gram ukuran F4 sebanyak 30 rim @ Rp 28.000,-
c. kertas fotocopy 70 gram ukuran A3 sebanyak 20 rim @ Rp 55.000,-
d. ordner folio 40 buah @ Rp 8.000,-
e. map diamond 100 lembar @ Rp 1.250,-
f. disket Sony 3,5 HD 5 dos @ Rp 40.000,-

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 05 11


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

g. ongkos angkut dibayarkan sebesar Rp 75.000,-


h. potongan harga yang diterima sebesar Rp 50.000,-

Diminta:
a) Hitunglah nilai persediaan untuk pembelian tersebut.
b) Buatlah jurnal untuk mencatat belanja

SOAL 2
Disamping pengadaan alat tulis kantor tersebut, selama beberapa tahun
belakangan ini, dinas perkebunan melakukan budidaya bibit unggul untuk
disebarkan kepada masyarakat luas. Jumlah tanaman yang dibudidayakan
sebanyak 15.000 bibit. Tanaman tersebut dibeli oleh dinas perkebunan dengan
harga Rp.5.000,- per bibit. Sampai dengan saat ini bibit tersebut telah
berkembang menjadi bibit siap sebar. Biaya yang telah dikeluarkan untuk
pembudidayaan bibit tersebut adalah sebagai berikut:
- biaya pupuk sebesar Rp 2.000.000,-
- biaya tenaga kerja Rp 10.000.000,-
- biaya lainnya Rp 5.000.000,-

Diminta:
Hitunglah nilai persediaan untuk pembelian tersebut.

SOAL 3
Selama tahun 200X telah terjadi pembelian dan penggunaan alat tulis kantor.
Berdasarkan hasil stock opname diketahui bahwa terdapat sisa persediaan alat
tulis kantor sebagai berikut:
a. kertas fotocopy 70 gram ukuran A4 sebanyak 5 rim
b. kertas fotocopy 70 gram ukuran F4 sebanyak 2 rim
c. kertas fotocopy 70 gram ukuran A3 sebanyak 1 rim
d. ordner folio sebanyak 10 buah
e. stof maf diamond 25 lembar
Berdasarkan data pembukuan diketahui bahwa harga pembelian terakhir adalah
sebagai berikut:
kertas fotocopy 70 gram ukuran A4 @ Rp 28.000/ rim
kertas fotocopy 70 gram ukuran F4 @ Rp 30.000/ rim
kertas fotocopy 70 gram ukuran A3 @ Rp 60.000/ rim
ordner folio sebanyak @ Rp 1.000,-/ buah
stof maf diamond @ Rp 1.500,-/ lembar
Tidak terdapat perbedaan antara hasil stock opname dengan pencatatan
persediaan

Diminta:
a) Hitunglah nilai Persediaan per 31 Desember 200x
b) Buatlah jurnal untuk pencatatan nilai persediaan yang harus disajikan di
neraca per 31 Desember 200X

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 05 12


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

DAFTAR BACAAN

1. UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara;


2. UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara;
3. UU No. 15/2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara;
4. UU No. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
5. UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah;
6. UU No. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat
dan Pemerintahan Daerah;
7. PP No. 23/2005 tentang Pengelolaan Keuangan BLU;
8. PP No. 24/2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan;
9. PP No. 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
10. PP No. 8/2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi
Pemerintah.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 05 13


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Modul Akuntansi Investasi ini disusun untuk memudahkan pemahaman


terhadap Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan Nomor 06 Akuntansi
Investasi. Modul ini disusun sebagai bahan Pelatihan untuk Pelatih standar
Akuntansi Pemerintahan, sehingga dengan mempelajari modul ini diharapkan
peserta dapat belajar mandiri (self study) atas materi Akuntansi Investasi
pada Pemerintah Pusat maupun daerah. Modul ini menguraikan kembali
paragraf-paragraf standar maupun penjelasan disertai dengan contoh-contoh
yang aplikatif sehingga diharapkan dapat dijadikan rujukan dalam
implementasi Standar Akuntansi Pemerintahan yang berkaitan dengan
Investasi pemerintah pada BUMD/BUMD dan badan usaha lainnya.

B. Tujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran Umum:

Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta mampu:

1. Memahami Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP);


2. Mampu mengimplementasikan SAP dalam menyusun dan menyajikan
Laporan Keuangan.

Tujuan Pembelajaran Khusus:

Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta mampu:


1. Memahami pengertian investasi, bentuk dan klasifikasi Investasi;
2. memahami pengakuan, penilaian, penyajian dan pengungkapan
investasi;
3. Menguasai teknis pencatatan investasi dalam penyajian laporan keuangan.

C. Deskripsi Ringkas

Materi Modul PSAP 06 disusun sesuai dengan urutan paragraf standar


yang antara lain meliputi: pengertian investasi, bentuk-bentuk investasi,
klasifikasi investasi, pengakuan investasi, metode penilaian dengan metode
biaya maupun metode ekuitas, dan pengukuran investasi. Pengakuan hasil
investasi, pelepasan Investasi (divestasi) juga diilustrasikan dalam modul ini.
Pada bagian akhir dijelaskan penyajian investasi pada laporan keuangan dan
pengungkapan pada catatan atas laporan keuangan.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 06 1


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

D. Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran dalam pelatihan ini dilakukan dengan cara


pemaparan teori oleh fasilitator yang diikuti dengan tanya jawab serta diskusi
soal-soal latihan dan contoh kasus yang bertalian dengan Akuntasi Investasi.
Keberhasilan pembelajaran ini juga sangat tergantung pada partisipasi aktif
dari para peserta pelatihan di dalam aktivitas diskusi, latihan dan tanya
jawab.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 06 2


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB II
BENTUK DAN KLASIFIKASI INVESTASI

APBN/APBD terdiri dari anggaran pendapatan, anggaran belanja, dan


anggaran pembiayaan. Hal ini mencerminkan bahwa pemerintah
menggunakan struktur anggaran defisit (I account). Dengan pendekatan ini
berarti pendapatan tidak harus sama dengan belanja. Selisih antara
pendapatan dan belanja disebut sebagai surplus/defisit. Surplus/defisit
tersebut selanjutnya ditutup dengan transaksi pembiayaan. Dalam kondisi
defisit akan digali sumber-sumber pembiayaan untuk menutupinya, antara
lain dengan penarikan pinjaman, maupun divestasi penyertaan modal yang
dimiliki pemerintah. Sebaliknya dalam kondisi surplus pemerintah dapat
memanfaatkannya untuk membayar utang, membentuk dana cadangan, atau
melakukan investasi yang bertujuan untuk menambah pemasukan kas di
masa mendatang atau untuk mendapatkan manfaat sosial seperti penciptaan
lapangan kerja.
Investasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya memberikan
pinjaman kepada pihak lain atau mendirikan badan usaha. Investasi dapat
dilakukan dengan mendirikan badan usaha (penyertaan) atau memberikan
pinjaman digolongkan sebagai pengeluaran pembiayaan (investasi).

A. Pengertian Investasi

Investasi adalah kegiatan pemerintah menanamkan uangnya dalam


bentuk penyertaan modal atau pembelian surat utang dalam rangka
memperoleh manfaat ekonomi atau sosial. Aset Investasi adalah aset yang
dimaksudkan untuk memperoleh manfaat ekonomi seperti bunga, dividen dan
royalti, atau manfaat sosial, sehingga dapat meningkatkan kemampuan
pemerintah dalam rangka pelayanan kepada masyarakat.
Manfaat ekonomi dapat diperoleh dalam rangka meningkatkan
pendapatan pemerintah. Apabila berinvestasi dalam bentuk saham diharapkan
akan diperoleh pendapatan dividen, sedangkan apabila dalam bentuk surat
utang diharapkan terdapat pendapatan bunga.
Manfaat sosial yang dimaksud dalam standar ini adalah manfaat yang
tidak dapat diukur langsung dengan satuan uang namun berpengaruh pada
peningkatan pelayanan pemerintah pada masyarakat luas maupun golongan
masyarakat tertentu, seperti tersedianya lapangan kerja bagi masyarakat atau
untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.

B. Bentuk Investasi

Fungsi pemerintah dalam rangka peningkatan kesejahteraan


masyarakat perlu didukung dengan tersedianya dana yang mencukupi. Oleh
karena itu pemerintah memungut pajak dan pungutan lainnya dari
masyarakat. Selain mengandalkan dana dari masyarakat pemerintah dapat
mengupayakan sendiri sumber penerimaan lain dengan dana yang
dikelolanya.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 06 3


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Dana yang dikelola pemerintah apabila terlalu sedikit akan


mengalami kesulitan keuangan, sebaliknya apabila terlalu banyak akan
terdapat kas menganggur (idle cash). Oleh karena itu, perlu dilakukan
manajemen kas yang baik agar tidak terjadi kekurangan kas dan apabila
terdapat kas yang menganggur dapat dimanfaatkan secara optimal. Dalam
jangka panjang kelebihan dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk
berinvestasi baik melalui instrumen utang (pemberian pinjaman) atau melalui
instrumen saham (penyertaan) baik dengan cara membeli saham maupun
mendirikan badan usaha milik negara/daerah.
Pemerintah melakukan investasi dengan beberapa alasan antara lain
memanfaatkan surplus anggaran untuk memperoleh pendapatan dalam
jangka panjang dan memanfaatkan dana yang belum digunakan untuk
investasi jangka pendek dalam rangka manajemen kas. Dalam melakukan
investasi pemerintah tidak seperti perusahaan swasta. Investasi pemerintah
dibatasi oleh peraturan perundang-undangan, mengenai bentuk, sifat dan
jenis-jenisnya.
Investasi dapat dilakukan untuk jangka pendek maupun jangka
panjang. Investasi jangka pendek dilakukan pada pasar uang sedangkan
investasi jangka panjang dilakukan pada pasar modal. Investasi pemerintah
biasanya dilakukan dalam bentuk deposito, Sertifikat Bank Indonesia, surat
utang dan obligasi BUMN/BUMD, penyertaan pada BUMN/BUMD, atau
penyertaan pada badan usaha lainnya.
Terdapat beberapa jenis investasi yang dapat dibuktikan dengan
sertifikat atau dokumen lain yang serupa. Hakikat suatu investasi dapat
berupa pembelian surat utang baik jangka pendek maupun jangka panjang
(obligasi), serta instrumen ekuitas (saham).

C. Klasifikasi Investasi

Dalam rangka akuntansi dan pelaporan aset investasi pemerintah


secara garis besar diklasifikasikan menjadi dua, yaitu investasi jangka pendek
dan investasi jangka panjang. Investasi jangka pendek merupakan kelompok
aset lancar sedangkan investasi jangka panjang merupakan kelompok aset
nonlancar.
Investasi jangka pendek adalah investasi yang dapat segera dicairkan
dan dimaksudkan untuk dimiliki selama 12 (dua belas) bulan atau kurang.
Investasi jangka panjang adalah investasi yang dimaksudkan untuk dimiliki
lebih dari 12 (dua belas) bulan.
Menurut sifat kepemilikannya investasi jangka panjang dibedakan
menjadi investasi nonpermanen dan investasi permanen. Investasi
nonpermanen adalah investasi jangka panjang yang tidak dimaksudkan untuk
dimiliki secara berkelanjutan. Investasi permanen adalah investasi jangka
panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara berkelanjutan atau tidak
direncanakan untuk dijual kembali.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 06 4


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

1. Investasi Jangka Pendek


Investasi jangka pendek harus memenuhi karakteristik sebagai
berikut:
(a) Dapat segera diperjualbelikan/dicairkan;
(b) Investasi tersebut ditujukan dalam rangka manajemen kas, artinya
pemerintah dapat menjual investasi tersebut apabila timbul
kebutuhan kas;
(c) Berisiko rendah.

Dengan memperhatikan kriteria tersebut, maka surat berharga


yang berisiko tinggi karena dipengaruhi oleh fluktuasi harga pasar, tidak
termasuk dalam investasi jangka pendek yang dapat dibeli pemerintah
(contoh saham pada pasar modal.) Jenis investasi yang tidak termasuk
dalam kelompok investasi jangka pendek antara lain adalah:
(a) Surat berharga yang dibeli pemerintah dalam rangka mengendalikan
suatu badan usaha, misalnya pembelian surat berharga untuk
menambah kepemilikan modal saham pada suatu badan usaha;
(b) Surat berharga yang dibeli pemerintah untuk tujuan menjaga
hubungan kelembagaan yang baik dengan pihak lain, misalnya
pembelian surat berharga yang dikeluarkan oleh suatu lembaga baik
dalam negeri maupun luar negeri untuk menunjukkan partisipasi
pemerintah; atau
(c) Surat berharga yang tidak dimaksudkan untuk dicairkan dalam
memenuhi kebutuhan kas jangka pendek.

Investasi yang dapat digolongkan sebagai investasi jangka pendek,


antara lain terdiri atas :
(1) Deposito berjangka waktu tiga sampai dua belas bulan dan atau yang
dapat diperpanjang secara otomatis (revolving deposits);
(2) Pembelian Surat Utang Negara (SUN) pemerintah jangka pendek oleh
pemerintah pusat maupun daerah dan pembelian Sertifikat Bank
Indonesia (SBI).

2. Investasi Jangka Panjang


Investasi jangka panjang adalah investasi yang dimaksudkan untuk
dimiliki lebih dari 12 (dua belas) bulan. Investasi jangka panjang dibagi
menurut sifat penanamannya, yaitu permanen dan nonpermanen.
Investasi Permanen adalah investasi jangka panjang yang dimaksudkan
untuk dimiliki secara berkelanjutan, sedangkan Investasi Nonpermanen
adalah investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara
tidak berkelanjutan. Yang dimaksud dengan berkelanjutan adalah
investasi yang dimaksudkan untuk dimiliki terus menerus tanpa ada niat
untuk memperjualbelikan atau menarik kembali. Sedangkan pengertian
tidak berkelanjutan adalah kepemilikan investasi yang berjangka waktu

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 06 5


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

lebih dari 12 (dua belas) bulan, dimaksudkan untuk tidak dimiliki terus
menerus atau ada niat untuk memperjualbelikan atau menarik kembali.
(a) Investasi Permanen
Investasi permanen yang dilakukan oleh pemerintah adalah investasi
yang tidak dimaksudkan untuk diperjualbelikan, tetapi untuk
mendapatkan dividen dan/atau pengaruh yang signifikan dalam jangka
panjang dan/atau menjaga hubungan kelembagaan.
Investasi permanen ini dapat berupa :
a. Penyertaan Modal Pemerintah pada perusahaan negara/ daerah,
badan internasional, dan badan usaha lainnya yang bukan milik
negara;
b. Investasi permanen lainnya yang dimiliki oleh pemerintah untuk
menghasilkan pendapatan atau meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat.

(b) Investasi Nonpermanen


Investasi nonpermanen yang dilakukan oleh pemerintah adalah
investasi yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu yang biasanya
terdapat jangka waktu tertentu. Investasi nonpermanen pada suatu
saat akan jatuh tempo atau selesai. Pada saat jatuh tempo akan
ditarik atau diperbaharui kembali.
Investasi nonpermanen yang dilakukan oleh pemerintah, antara lain
dapat berupa:
a. Pembelian obligasi atau surat utang jangka panjang yang
dimaksudkan untuk dimiliki oleh pemerintah sampai dengan tanggal
jatuh tempo;
b. Penanaman modal dalam proyek pembangunan yang dapat dialihkan
kepada pihak ketiga;
c. Dana yang disisihkan pemerintah dalam rangka pelayanan
masyarakat seperti bantuan modal kerja secara bergulir kepada
kelompok masyarakat;
d. Investasi nonpermanen lainnya, yang sifatnya tidak dimaksudkan
untuk dimiliki pemerintah secara berkelanjutan, seperti penyertaan
modal yang dimaksudkan untuk penyehatan/penyelamatan
perekonomian.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 06 6


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB III
PENGAKUAN, PENGUKURAN,
DAN METODE PENILAIAN INVESTASI

A. Pengakuan Investasi

Suatu pengeluaran kas atau aset dapat diakui sebagai investasi apabila
memenuhi salah satu kriteria berikut:
(a) Kemungkinan manfaat ekonomik dan manfaat sosial atau jasa pontensial
di masa yang akan datang atas suatu investasi tersebut dapat diperoleh
pemerintah;
(b) Nilai perolehan atau nilai wajar investasi dapat diukur secara memadai
(reliable).
Pengeluaran untuk perolehan investasi jangka pendek diakui sebagai
pengeluaran kas pemerintah dan tidak dilaporkan sebagai belanja dalam
laporan realisasi anggaran, sedangkan pengeluaran untuk memperoleh
investasi jangka panjang diakui sebagai pengeluaran pembiayaan.
Dalam menentukan apakah suatu pengeluaran kas atau aset memenuhi
kriteria pengakuan investasi yang pertama, entitas perlu mengkaji tingkat
kepastian mengalirnya manfaat ekonomik dan manfaat sosial atau jasa
potensial di masa yang akan datang berdasarkan bukti-bukti yang tersedia
pada saat pengakuan yang pertama kali. Eksistensi dari kepastian yang cukup
bahwa manfaat ekonomi yang akan datang atau jasa potensial yang akan
diperoleh memerlukan suatu jaminan bahwa suatu entitas akan memperoleh
manfaat dari aset tersebut dan akan menanggung risiko yang mungkin timbul.
Nilai perolehan atau nilai wajar investasi dapat diukur secara memadai
(reliable), biasanya dapat dipenuhi karena adanya transaksi pertukaran atau
pembelian yang didukung dengan bukti yang menyatakan/
mengidentifikasikan biaya perolehannya. Dalam hal tertentu, suatu investasi
mungkin diperoleh bukan berdasarkan biaya perolehan atau berdasarkan nilai
wajar pada tanggal perolehan. Dalam kasus yang demikian, penggunaan nilai
estimasi yang layak dapat digunakan.

B. Pengukuran Investasi

Untuk beberapa jenis investasi, terdapat pasar aktif yang dapat


membentuk nilai pasar, dalam hal investasi yang demikian nilai pasar
digunakan sebagai dasar penerapan nilai wajar. Sedangkan untuk investasi
yang tidak memiliki pasar yang aktif dapat dipergunakan nilai nominal, nilai
tercatat atau nilai wajar lainnya.
Investasi jangka pendek dalam bentuk surat berharga, misalnya
obligasi jangka pendek, dicatat sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan
investasi meliputi harga transaksi investasi itu sendiri ditambah komisi
perantara jual beli, jasa bank dan biaya lainnya yang timbul dalam rangka
perolehan tersebut.
Apabila investasi dalam bentuk surat berharga diperoleh tanpa biaya
perolehan, maka investasi dinilai berdasar nilai wajar investasi pada tanggal

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 06 7


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

perolehannya yaitu sebesar harga pasar. Apabila tidak ada nilai wajar, biaya
perolehan setara kas yang diserahkan atau nilai wajar aset lain yang
diserahkan untuk memperoleh investasi tersebut.
Investasi jangka pendek dalam bentuk bukan surat berharga, misalnya
dalam bentuk deposito jangka pendek, dicatat sebesar nilai nominal deposito
tersebut.
Investasi jangka panjang yang bersifat permanen misalnya penyertaan
modal pemerintah, dicatat sebesar biaya perolehannya meliputi harga
transaksi investasi itu sendiri ditambah biaya lain yang timbul dalam rangka
perolehan investasi tersebut.
Sebagai contoh, Pemda Gresik membeli saham PT semen Gresik
sebanyak 30.000 lembar saham, nominal @ Rp10.000 dengan harga pari.
Biaya Komisi dan administrasi 5% dari nilai nominal. Pemda Gresik mencatat
investasinya sebesar Rp315 juta dengan Perhitungan:
30.000 lembar X Rp 10.000 = Rp 300.000.000
Biaya komisi dan administrasi
5% X Rp 300.000.000 = Rp 15.000.000
Jumlah Rp 315.000.000
============

Investasi nonpermanen misalnya dalam bentuk pembelian obligasi


jangka panjang dan investasi yang dimaksudkan tidak untuk dimiliki secara
berkelanjutan, dinilai sebesar nilai perolehannya. Sedangkan investasi dalam
bentuk dana talangan untuk penyehatan perbankan yang akan segera
dicairkan dinilai sebesar nilai bersih yang dapat direalisasikan.
Sebagai contoh, Pemkot Surabaya membeli obligasi Lapindo Brantas sebanyak
50.000 lembar obligasi dengan suku bunga 9%, tanggal kupon 1 April dan 1
oktober. nominal @ Rp 10.000 dengan harga beli @ Rp.9.500. Obligasi
tersebut akan jatuh tempo tahun 2015. Biaya Komisi dan administrasi 5% dari
nilai nominal. Pemkot Surabaya mencatat investasinya dalam obligasi sebesar
Rp475 juta dengan Perhitungan:
50.000 lembar X @ Rp 9.500 = Rp 450.000.000
Biaya komisi dan administrasi
5% X 50.000 X Rp 10.000 = Rp 25.000.000
Jumlah Rp 475.000.000
============

Investasi nonpermanen dalam bentuk penanaman modal di proyek-


proyek pembangunan pemerintah (seperti Proyek PIR) dinilai sebesar biaya
pembangunan termasuk biaya yang dikeluarkan untuk perencanaan dan biaya
lain yang dikeluarkan dalam rangka penyelesaian proyek sampai proyek
tersebut diserahkan ke pihak ketiga.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 06 8


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Apabila investasi jangka panjang diperoleh dari pertukaran aset


pemerintah, maka nilai investasi yang diperoleh pemerintah adalah sebesar
biaya perolehan, atau nilai wajar investasi tersebut jika harga perolehannya
tidak ada.
Harga perolehan investasi dalam valuta asing harus dinyatakan dalam
rupiah dengan menggunakan nilai tukar (kurs tengah bank sentral) yang
berlaku pada tanggal transaksi.

C. Metode Penilaian Investasi

Penilaian investasi pemerintah dilakukan dengan tiga metode yaitu:


(a) Metode biaya;
Metode biaya adalah suatu metode penilaian yang mencatat nilai investasi
berdasarkan harga perolehan.
Dengan menggunakan metode biaya, investasi dicatat sebesar biaya
perolehan. Penghasilan atas investasi tersebut diakui sebesar bagian hasil
yang diterima dan tidak mempengaruhi besarnya nilai investasi pada
badan usaha/badan hukum yang terkait.
(b) Metode ekuitas;
Metode ekuitas adalah suatu metode penilaian yang mengakui penurunan
atau kenaikan nilai investasi sehubungan dengan adanya rugi/laba badan
usaha yang menerima investasi (investee), proporsional terhadap
besarnya saham atau pengendalian yang dimiliki pemerintah.
Dengan menggunakan metode ekuitas, pemerintah mencatat investasi
awal sebesar biaya perolehan dan ditambah atau dikurangi sebesar
bagian laba atau rugi pemerintah setelah tanggal perolehan. Bagian laba
yang diterima pemerintah akan mengurangi nilai investasi pemerintah.
Sedangkan dividen yang dibayarkan dalam bentuk saham, tidak
mempengaruhi nilai investasi pemerintah karena pengakuan kenaikan
nilai investasinya sudah dilakukan pada saat laba dilaporkan. Penyesuaian
terhadap nilai investasi juga diperlukan untuk mengubah porsi
kepemilikan investasi pemerintah, misalnya adanya perubahan yang
timbul akibat pengaruh valuta asing serta revaluasi aset tetap.
(c) Metode nilai bersih yang dapat direalisasikan;
Metode nilai bersih yang dapat direalisasikan digunakan terutama untuk
kepemilikan yang akan dilepas/dijual dalam jangka waktu dekat.

Penggunaan metode tersebut di atas didasarkan pada kriteria sebagai


berikut:
(a) Kepemilikan kurang dari 20% menggunakan metode biaya;
(b) Kepemilikan 20% sampai 50%, atau kepemilikan kurang dari 20%
tetapi memiliki pengaruh yang signifikan menggunakan metode
ekuitas;
(c) Kepemilikan lebih dari 50% menggunakan metode ekuitas;
(d) Kepemilikan bersifat nonpermanen menggunakan metode nilai bersih
yang direalisasikan.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 06 9


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Metode biaya dan metode ekuitas digunakan untuk pengukuran nilai


investasi atas investasi permanen, sedangkan metode nilai bersih yang dapat
direalisasikan digunakan untuk pengukuran nilai investasi nonpermanen.
Dalam kondisi tertentu, kriteria besarnya prosentase kepemilikan
saham bukan merupakan faktor yang menentukan dalam pemilihan metode
penilaian investasi, tetapi yang lebih menentukan adalah tingkat pengaruh
(the degree of influence) atau pengendalian terhadap perusahaan investee.
Ciri-ciri adanya pengaruh atau pengendalian pada perusahaan investee,
antara lain:
(a) Kemampuan mempengaruhi komposisi dewan komisaris;
(b) Kemampuan untuk menunjuk atau menggantikan direksi;
(c) Kemampuan untuk menetapkan dan mengganti dewan direksi
perusahaan investee;
(d) Kemampuan untuk mengendalikan mayoritas suara dalam
rapat/pertemuan dewan direksi.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 06 10


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB IV
PENGAKUAN HASIL INVESTASI

Hasil investasi yang diperoleh dari investasi jangka pendek, antara lain
berupa bunga deposito, bunga obligasi dan dividen tunai (cash dividend)
dicatat sebagai pendapatan. Sebagai contoh, jika Obligasi PT Semen Cibinong
yang dimiliki pemerintah Daerah X dengan nilai nominal Rp1 Milyar dengan
suku bunga tetap 8%, kupon dibayarkan tiap 1 April dan 1 Oktober. Akan
dilakukan pencatatan pendapatan sebagai berikut:

Tanggal Keterangan Debet Kredit


1 April 06 Kas di Kas Daerah Rp 40 juta
Pendapatan Bunga Rp 40 juta
1 Okt 06 Kas di Kas Daerah Rp 40 juta
Pendapatan Bunga Rp 40 juta

Hasil investasi berupa dividen tunai yang diperoleh dari penyertaan


modal pemerintah yang pencatatannya menggunakan metode biaya, dicatat
sebagai pendapatan hasil investasi. Sedangkan apabila menggunakan metode
ekuitas, bagian laba yang diperoleh pemerintah akan dicatat sebagai
pendapatan dan sekaligus pengurang nilai investasi pemerintah.
Dividen yang diterima dalam bentuk saham (stock dividend) tidak
mempengaruhi nilai investasi pemerintah sehingga pada saat pembagian stock
dividend tidak dilakukan pencatatan. Informasi tentang hal tersebut cukup
diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).
Pada penilaian investasi dengan mempergunakan metode biaya,
terdapat dua hal yang harus diperhatikan pada saat mengakui hasil investasi:
a. Apabila hasil investasi yang dibagikan berupa cash dividend, maka
besarnya kas yang diterima tidak berpengaruh terhadap besarnya jumlah
investasi. Penerimaan hasil investasi dicatat sebagai penambah kas dan
pendapatan hasil investasi.
b. Apabila hasil investasi yang dibagikan berupa saham, maka besarnya
bagian laba berupa deviden akan menambah besarnya jumlah investasi,
dengan demikian secara otomatis jumlah yang diinvestasikan dalam
investasi permanen juga akan bertambah.
Ilustrasi lebih lanjut kedua bentuk pembagian laba ini dapat dilihat pada
contoh soal dibawah.
Dalam hal investasi dicatat dengan menggunakan metode ekuitas:
a. Apabila hasil investasi berupa cash dividend, maka besarnya kas yang
diterima akan mengurangi nilai investasi pemerintah.
Dalam hal pemerintah telah memakai basis akrual, maka pada saat
pengumuman laba, entitas akan mengakui adanya piutang dividen,
sehingga tidak ada pencatatan pendapatan. Hal ini disebabkan karena

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 06 11


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

pada saat realisasi pembagian laba pemerintah akan mencatat sebagai


penerimaan kas dan pengurangan atas piutang dividen.
Namun dalam hal pemerintah belum menerapkan basis akrual, cash
dividend harus dicatat sebagai pendapatan hasil investasi.
b. Apabila hasil investasi yang dibagikan berupa dividen saham, maka
pemerintah tidak perlu menambahkan nilai investasinya, karena
penambahan atas kepemilikan pemerintah sudah dicatat atau bertambah
pada saat diumumkannya laba oleh perusahaan. Perubahan nilai investasi
pemerintah dengan metode ekuitas, terjadi pada saat perusahaan
mengumumkan adanya laba.
Sebagai contoh, pada tanggal 1 Februari 2005 Pemda X membeli 5.000
lembar Saham PT Maju Bersama sebesar harga nominal (par) senilai 50 juta
untuk kepemilikan 5%. Pada tanggal 20 Februari 2006 manajemen PT Maju
Bersama mengumumkan laba tahun 2005 sebesar Rp100 juta pada tanggal 3
Juni 2006 PT Maju bersama membagikan deviden tunai sebesar Rp500 per
lembar saham. Karena penyertaannya hanya 5% maka Pemda X melakukan
pencatatan investasinya dengan metode biaya dan deviden yang diterima
akan dicatat sebagai berikut:

Tanggal Keterangan Debet Kredit


1 Febr 05 Pengeluaran Pembiayaan- Rp 50 juta
Penyertaan
Kas Rp 50 juta
Penyertaan Modal Pemda Rp 50 juta
Diinvestasikan dalam Rp 50 juta
Investasi Jangka Panjang
20 Feb 06 Tidak ada jurnal (memorial)
3 Juni 06 Kas di Kas Daerah Rp 2,5 juta
Pendapatan Dividen/ Rp 2,5 juta
Bagian Laba

Dalam kondisi yang sama misalnya pada tanggal 1 Februari 2005


Pemda Y membeli 50.000 lembar saham seharga nilai nominal Rp500 juta
untuk kepemilikan perusahaan 50%, sehingga pemda tersebut melakukan
pencatatan dengan metode ekuitas. Pada tanggal 20 Februari 2006
manajemen PT Maju Bersama mengumumkan laba tahun 2005 sebesar Rp100
juta. pada tanggal 3 Juni 2006 PT Maju bersama membagikan deviden tunai
sebesar Rp500 per lembar saham, sehingga Pemda Y akan melakukan
pencatatan sehubungan dengan investasinya pada PT Maju Bersama sebagai
berikut:

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 06 12


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Tanggal Keterangan Debet Kredit


1 Febr 05 Pengeluaran Pembiayaan- Rp 500 juta
Penyertaan
Kas di Kas daerah Rp 500 juta
Penyertaan Modal Pemda Rp 500 juta
Diinvestasikan dalam Rp 500 juta
Investasi Jangka
Panjang
20 Feb 06 Penyertaan Modal Pemda Rp 50 juta
Diinvestasikan dalam Rp 50 juta
Investasi Jangka
Panjang
(Untuk mencatatpengumunan
laba)
3 Juni 06 Kas di Kas Daerah Rp 25 juta
Pendapatan Rp 25 juta
Dividen/Bagian Laba
(Untuk mencatat dividen
tunai 50%)
Diinvestasikan dalam Rp 25 juta
Investasi Jangka Panjang
Penyertaan Modal Rp 25 juta
Pemda
(Untuk mencatat
pengurangan nilai investasi
atas penerimaan dividen
tunai)

Hasil investasi yang diterima dalam bentuk kas selain dilaporkan pada
Laporan Realisasi Anggaran juga dilaporkan pada Laporan Arus Kas pada
kelompok Arus Masuk Kas dari Aktivitas Operasi.

Seandainya tanggal 10 Juni 2006 laba tahun 2005 sebanyak 25% dari
laba tersebut di atas dibagikan dalam bentuk saham sebanyak 2.500 lembar
saham, maka Pemda X dan Pemda Y akan mencatat penerimaan deviden
saham tersebut sebagai berikut:

Pemda X

Tanggal Keterangan Debet Kredit


10 Juni 06 Penyertaan Modal Pemda Rp 1,25 juta
Diinvestasikan dalam Rp 1,25 juta
Investasi Jangka
Panjang

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 06 13


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Pemda X mengakui bagian laba 5% dari 2500 lembar saham = 125 lembar,
atau 25% X 100 juta X 5% = Rp 1,25 juta

Pemda Y

Tanggal Keterangan Debet Kredit


10 Juni 06 Tidak ada jurnal
(memorial)

Pemda Y tidak mencatat pembagian dividen saham tersebut, sebab Pemda Y


telah mengakui bagian laba pada tanggal 20 Februari 2006 pada saat
pengumuman laba, sehingga nilai investasi Pemda Y tidak dipengaruhi oleh
pembagian laba dalam bentuk dividen saham tersebut.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 06 14


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB V
PELEPASAN DAN PEMINDAHAN INVESTASI

Pelepasan investasi pemerintah dapat terjadi karena penjualan, atau


pelepasan hak karena peraturan pemerintah, dan sebab-sebab lainnya.

Penerimaan dari penjualan investasi jangka pendek yang berasal dari


manajemen kas diakui sebagai penerimaan kas pemerintah. Penerimaan dari
pelepasan investasi ini dan tidak dilaporkan sebagai pendapatan atau
pembiayaan dalam laporan realisasi anggaran. Penerimaan ini dilaporkan
dalam Laporan Arus Kas dari Aktivitas Operasi. Sedangkan penerimaan dari
pelepasan investasi jangka panjang diakui sebagai penerimaan pembiayaan.
Pelepasan investasi pemerintah dapat dilakukan hanya terhadap sebagian
investasi. Apabila pelepasan hanya dilakukan untuk sebagian investasi maka
nilai investasi yang dilepas dihitung dengan menggunakan nilai rata-rata dari
investasi tersebut.
Nilai rata-rata diperoleh dengan cara membagi total nilai investasi
terhadap total jumlah saham yang dimiliki oleh pemerintah.
Pemindahan pos investasi dapat berupa reklasifikasi investasi jangka
panjang menjadi investasi jangka pendek, Aset Tetap, Aset Lain-lain, atau
sebaliknya.
Dalam hal terdapat perbedaan nilai buku dengan hasil divestasi selisih
tersebut tidak diakui sebagai keuntungan atau kerugian, hasil divestasi dicatat
sebesar kas atau aset yang diterima sebagai penerimaan pembiayaan, dan
investasi dikurangi sebesar nilai buku.
Contoh:
Pemda A mempunyai investasi dalam bentuk saham pada BPD X sebanyak
1.000 lembar dengan nilai tercatat Rp1 miliar. Pada tanggal 10 Januari 2006,
500 lembar saham BPD X dijual kepada Pemda B dengan harga Rp700 juta.
Jurnal untuk pelepasan saham tersebut adalah sebagai berikut:

Tanggal Keterangan Debet Kredit


10 Jan 06 Kas di Kas Daerah Rp 700 juta
Penerimaan Rp 700 juta
Divestasi/Pembiayaan
Diinvestasikan dalam Rp 500 juta
Investasi Jangka Panjang
Penyertaan Modal Rp 500 juta
Pemda

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 06 15


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB VI
PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN INVESTASI

A. Penyajian Investasi dalam Laporan Keuangan

Investasi disajikan sesuai dengan klasifikasi Investasi. Investasi jangka


pendek disajikan pada pos aset lancar di neraca sedangkan investasi jangka
panjang disajikan pada pos investasi jangka panjang sesuai dengan sifatnya,
baik yang bersifat permanen maupun yang nonpermanen.
Dalam akuntansi pemerintah digunakan pendekatan self balancing
group of account sehingga setiap akun di neraca mempunyai akun pasangan
masing-masing. Investasi Jangka Pendek yang berasal dari manajemen kas
mempunyai pasangan akun SILPA dan Investasi Jangka Panjang mempunyai
pasangan Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang. Investasi jangka
pendek yang disajikan pada aset lancar disajikan pula dengan jumlah yang
sama pada pos ekuitas dana lancar pada akun SILPA. Investasi jangka
panjang yang disajikan pada pos Investasi jangka panjang disajikan pula
dengan jumlah yang sama pada pada akun Diinvestasikan dalam Investasi
Jangka Panjang pada kelompok Ekuitas Dana Investasi.

PEMDA ABC
NECARA
Per 31 Desember 2005

ASET KEWAJIBAN
ASET LANCAR ....
....
Investasi Jangka Pendek Rp XXX EKUITAS
.... Ekuitas Dana Lancar
INVESTASI JANGKA PANJANG SILPA Rp ZZZZ
Investasi Nonpermanen Rp YYY EKUITAS DANA INVESTASI
Investasi Permanen Rp YYY Diinvestasikan dalam
Investasi Jangka Panjang Rp YYYY
Jumlah Investasi Permanen Rp YYYY
.......

B. Pengungkapan

Hal-hal lain yang harus diungkapkan dalam laporan keuangan


pemerintah berkaitan dengan investasi, antara lain:
(a) Kebijakan akuntansi untuk penentuan nilai investasi;

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 06 16


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

(b) Jenis-jenis investasi, investasi permanen dan nonpermanen;


(c) Perubahan harga pasar baik investasi jangka pendek maupun investasi
jangka panjang;
(d) Penurunan nilai investasi yang signifikan dan penyebab penurunan
tersebut;
(e) Investasi yang dinilai dengan nilai wajar dan alasan penerapannya;
(f) Perubahan pos investasi.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 06 17


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

SOAL LATIHAN
Pilihan Ganda:
1. Pemda FGH membeli obligasi PT Semen Gresik dengan nilai nominal Rp 50
juta, obligasi tersebut akan jatuh tempo pada tahun 2010, obligasi
tersebut dicatat sebagai:
a. investasi jangka pendek
b. investasi menengah
c. investasi nonpermanen
d. investasi permanen

2. Dibeli saham PT Agro Industri Makmur 50.000 lembar saham nilai nominal
saham @ Rp 10.000 harga pasar @ Rp 11.000, biaya komisi dan
administrasi sebesar Rp 5.000.000. Nilai Perolehan aset tersebut adalah:
a. Rp 500.000.000
b. Rp 550.000.000
c. Rp 505.000.000
d. Rp 555.000.000

3. Pemkab Semaule menerima pendapatan bunga atas obligasi dari PT Karya


Negeri sebesar Rp 25.000.000. Atas transaksi tersebut akan dicatat:
a. Menambah kas di kas daerah
b. menambah pendapatan bunga
c. menambah penerimaan pembiayaan
d. mengurangi nilai investasi

4. Dalam rangka peningkatan kinerja PDAM, Pemkab Milihe selaku pemilik


tunggal Saham PDAM berencana menerbitkan saham PDAM yang akan
dijual kepada Investor Dalam Negeri sebanyak 1.000.000 yang akan
mengakibatkan kepemilikan pada PDAM menjadi 50 %. Atas penjualan
saham tersebut PDAM memperoleh dana segar (cash) Rp 10 Milyard. Atas
transaksi tersebut mengakibatkan:
a. Kas di Kas Daerah bertambah
b. Penerimaan pembiayaan bertambah
c. Nilai Investasi Pemerintah pada PDAM berkurang
d. Tidak mempengaruhi kas di daerah

5. Menurut Laporan keuangan tahun 2005 nilai Investasi Pemkab Bukit Hijau
pada BPD Jawa Tengah sebesar 10 % atau senilai 10 milyar. Setengah
dari Penyertaan tersebut dijual kepada Pemkab Bukit Merah senilai 6
Milyar. Atas transaksi tersebut:
a. dicatat sebagai pendapatan 6 milyar
b. dicatat sebagai penerimaan pembiayaan Rp 5 Milyar
c. dicatat sebagai penerimaan pembiayaan Rp 6 milyar
d. dicatat sebagai pendapatan Rp 1 milyar

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 06 18


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

DAFTAR BACAAN

1. UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara;


2. UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara;
3. UU No. 15/2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara;
4. UU No. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
5. UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah;
6. UU No. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah
Pusat dan Pemerintahan Daerah;
7. PP No. 23/2005 tentang Pengelolaan Keuangan BLU;
8. PP No. 24/2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan;
9. PP No. 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
10. PP No. 8/2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi
Pemerintah.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 06 19


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP 11) tentang


Laporan Keuangan Konsolidasian merupakan acuan bagi Pemerintah
Pusat/Daerah dalam menyusun dan menghasilkan Laporan Keuangan
Konsolidasian dimasing-masing tingkatan entitas pelaporan. Pengertian
Laporan Keuangan Konsolidasian dalam PSAP 11 berbeda dengan Laporan
Konsolidasian sektor swasta, karena konsolidasian yang dilaksanakan bukan
merupakan konsolidasian antara induk dan cabang. Untuk memudahkan
pemahaman lebih lanjut tentang PSAP 11 dirasa perlu untuk menyusun modul
pembelajaran ini.

B. Tujuan Pembelajaran
Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta mampu:
1. Memahami Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)
2. Mampu mengimplementasikan SAP dalam menyusun dan menyajikan
Laporan Keuangan

Tujuan Pembelajaran Khusus


Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta mampu:
1. Memahami pengertian Entitas Akuntansi, Entitas Pelaporan dalam
penyajian Laporan Keuangan
2. Menguasai teknis penggabungan dan pengkonsolidasian dalam
penyajian laporan keuangan konsolidasian.
3. Memahami posisi laporan keuangan BLU/BLUD dan Laporan Keuangan
BUMN/BUMD dalam Laporan keuangan Pemerintah.

C. Deskripsi Singkat
Laporan keuangan konsolidasian disusun dengan menggabungkan
laporan antar entitas pelaporan dan ditambah laporan keuangan Badan
Layanan Umum. Laporan keuangan entitas akuntansi yang digabungkan pada
tingkat entitas akuntansi diatasnya bukan merupakan laporan keuangan
konsolidasian, tetapi hanya merupakan laporan keuangan gabungan antar
entitas akuntansi. Untuk laporan keuangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
hanya dilampirkan dalam laporan keuangan konsolidasian.

D. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran dalam pelatihan ini dilakukan dengan cara
pemaparan teori yang diikuti dengan tanya jawab serta diskusi soal-soal
latihan dan contoh kasus yang bertalian dengan penyusunan Laporan
Keuangan Konsolidasian.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 11 1


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB II
LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN

A.Tujuan

Tujuan PSAP 11 tentang Laporan Keuangan Konsolidasian adalah


memberikan acuan dan aturan dalam penyusunan laporan keuangan
konsolidasian pada unit-unit pemerintahan dalam rangka menyajikan laporan
keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statements) demi
meningkatkan kualitas dan kelengkapan laporan keuangan dimaksud. Yang
dimaksud dengan laporan keuangan untuk tujuan umum adalah laporan
keuangan yang dapat memenuhi kebutuhan dan memberikan informasi
sebagian besar pengguna laporan termasuk lembaga legislatif sebagaimana
ditetapkan dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. Disamping itu
diharapkan PSAP 11 dapat menjadi acuan akan pentingnya penyusunan
laporan keuangan konsolidasian yang selama ini belum dilaksanakan secara
menyeluruh oleh entitas pelaporan.

B. Ruang Lingkup

Laporan Keuangan Konsolidasian akan dilaksanakan oleh masing-


masing tingkatan entitas pelaporan pemerintah pusat dan daerah. Didalam
Sistem Akuntansi Pemerintah dikenal adanya entitas yang melakukan tugas
dan fungsinya sesuai dengan perannya dalam menghasilkan laporan
keuangan. Entitas dimaksud adalah:

1. Entitas Akuntansi, yang terdiri dari:


1) Setiap kuasa pengguna anggaran di lingkungan suatu Kementerian
Negara/Lembaga yang mempunyai dokumen pelaksanaan anggaran
tersendiri, termasuk pengguna dana Anggaran Pembiayaan dan
Perhitungan
2) Bendahara Umum Daerah (BUD).
3) Kuasa pengguna anggaran di lingkungan Pemerintah Daerah bila
mempunyai dokumen pelaksanaan anggaran yang terpisah, jumlah
anggarannya relatif besar, dan pengelolaan kegiatannya dilakukan
secara mandiri.

2. Entitas Pelaporan, yang terdiri dari:


1) Pemerintah Pusat.
2) Pemerintah Daerah.
3) Kementerian negara/lembaga (KL).
4) Bendahara Umum Negara (BUN).

Dalam PSAP 11 paragrap 2. disebutkan bahwa Laporan keuangan


untuk tujuan umum dari unit pemerintahan yang ditetapkan sebagai entitas
pelaporan disajikan secara terkonsolidasi menurut standar ini agar
mencerminkan satu kesatuan entitas. Maksud terkonsolidasi adalah Laporan
yang dihasilkan oleh entitas pelaporan merupakan penggabungan dari entitas-
entitas akuntansi yang ada dibawah satu entitas pelaporan dengan proses
berjenjang dalam wadah Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat/Daerah. Dalam

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 11 2


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat pengelolaan transaksi keuangan


Pemerintah Pusat dapat dibagi menjadi 2 kategori utama yaitu:
1. Pengelola Transaksi Keuangan di lingkup Bendaharawan Umum Negara
yang sering disebut Sistem Akuntansi Pusat (SiAP).
2. Pengelola Transaksi Keuangan di lingkup Kementerian Negara/
Lembaga yang sering disebut Sistem Akuntansi Instansi (SAI).

Dalam Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah pengelolaan transaksi


keuangan Pemerintah Daerah dapat dibagi menjadi 2 kategori utama yaitu:
1. Pengelola Transaksi Keuangan di lingkup Bendaharawan Umum Daerah.
2. Pengelola Transaksi Keuangan di lingkup Satuan Kerja Perangkat
Daerah.

Disamping hal tersebut diatas dilingkup pemerintah pusat diwajibkan


untuk menyusun laporan keuangan konsolidasian tingkat pemerintah pusat
sesuai dengan PSAP 11 paragrap 3 yang mengatakan Laporan keuangan
konsolidasian pada pemerintah pusat sebagai entitas pelaporan mencakup
laporan keuangan semua entitas akuntansi, termasuk laporan keuangan
badan layanan umum. Laporan Keuangan Konsolidasian Pemerintah Pusat
yang sering disebut Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) merupakan
laporan gabungan seluruh entitas pelaporan ditingkat Kementerian
Negara/Lembaga dan laporan yang berasal dari entitas pelaporan
Bendaharawan Umum Negara.

Laporan Keuangan Konsolidasian ini tidak mengatur:


1. Laporan keuangan konsolidasian perusahaan negara/ daerah;
2. Akuntansi untuk investasi dalam perusahaan asosiasi;
3. Akuntansi untuk investasi dalam usaha patungan (joint venture); dan
4. Laporan statistik gabungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

C. Definisi
Berikut adalah istilah-istilah yang digunakan dalam Modul Laporan
Keuangan Konsolidasian:

1. Badan Layanan Umum (BLU) adalah badan yang dibentuk


pemerintah untuk menyelenggarakan pelayanan umum, mengelola
dana masyarakat yang diterima berkaitan dengan pelayanan yang
diberikan, dan tidak termasuk kekayaan negara yang dipisahkan.
2. Entitas akuntansi adalah unit pemerintahan pengguna
anggaran/pengguna barang dan oleh karenanya wajib
menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan untuk
digabungkan pada entitas pelaporan.
3. Entitas pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri dari satu
atau lebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan wajib menyampaikan laporan
pertanggungjawaban berupa laporan keuangan.
4. Konsolidasi adalah proses penggabungan antara akun-akun yang
diselenggarakan oleh suatu entitas pelaporan dengan entitas pelaporan
lainnya, dengan mengeliminasi akun-akun timbal balik agar dapat
disajikan sebagai satu entitas pelaporan konsolidasian.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 11 3


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

5. Laporan keuangan konsolidasian adalah suatu laporan keuangan


yang merupakan gabungan keseluruhan laporan keuangan entitas
pelaporan sehingga tersaji sebagai satu entitas tunggal.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 11 4


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB III
ENTITAS PELAPORAN DAN ENTITAS AKUNTANSI DALAM
PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN

A. Entitas Pelaporan

Entitas pelaporan merupakan unit pemerintahan yang terdiri dari satu


atau lebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan peraturan perundang-
undangan wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan
keuangan. Suatu entitas pelaporan ditetapkan di dalam peraturan perundang-
undangan, yang umumnya bercirikan:

1. Entitas tersebut dibiayai oleh APBN atau dibiayai oleh APBD atau
mendapat pemisahan kekayaan dari anggaran,
2. Entitas tersebut dibentuk dengan peraturan perundang-undangan,
3. Pimpinan entitas tersebut adalah pejabat pemerintah yang diangkat
atau pejabat negara yang ditunjuk atau yang dipilih oleh rakyat, dan
4. Entitas tersebut membuat pertanggungjawaban baik langsung
maupun tidak langsung kepada wakil rakyat sebagai pihak yang
menyetujui anggaran.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka Entitas pelaporan ditetapkan


berdasarkan pertimbangan:

1. kemandirian pelaksanaan anggaran,


2. pengelolaan kegiatan, dan
3. besarnya anggaran.

Entitas pelaporan tingkat kementerian Negara/lembaga mempunyai


tanggungjawab dalam penyusunan Laporan keuangan gabungan. Dalam
penyusunan laporan keuangan dimaksud selanjutnya Entitas Pelaporan
dibantu oleh Entitas akuntansi yang merupakan unit vertikal dibawah, seperti
Eselon I, Kanwil dan Satuan Kerja selaku Kuasa Pengguna Anggaran.

Entitas pelaporan pemerintah pusat mempunyai tanggungjawab untuk


menyusun laporan keuangan konsolidasian dari seluruh laporan keuangan
gabungan kementerian Negara/lembaga yang selanjutnya ditambah dengan
laporan yang berasal dari penyelenggara fungsi perbendaharaan.

Entitas pelaporan pemerintah daerah menyusun laporan keuangan


konsolidasian dari gabungan seluruh laporan keuangan gabungan satuan kerja
perangkat daerah yang selanjutnya ditambah laporan yang berasal dari
penyelenggara fungsi perbendaharaan. Entitas pelaporan satuan kerja
perangkat daerah menyusun laporan keuangan dari gabungan seluruh laporan
keuangan entitas akuntansi seperti Satuan Kerja selaku Kuasa Pengguna
Anggaran.

B. Entitas Akuntansi

Setiap unit pemerintahan yang menerima anggaran belanja atau


mengelola barang adalah entitas akuntansi yang wajib menyelenggarakan

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 11 5


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

akuntansi atas transaksi keuangan, dan secara periodik menyiapkan laporan


keuangan menurut Standar Akuntansi Pemerintahan. Laporan keuangan
tersebut disampaikan secara intern dan berjenjang kepada unit yang lebih
tinggi dalam rangka penggabungan laporan keuangan oleh entitas pelaporan.
Perusahaan negara/daerah pada dasarnya adalah suatu entitas akuntansi,
namun akuntansi dan penyajian laporannya tidak menggunakan standar
akuntansi pemerintahan, tetapi menggunakan standar akuntansi keuangan
yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.

Setiap unit pemerintah dapat ditetapkan menjadi suatu entitas


akuntansi apabila unit yang dimaksud mengelola anggaran sebagaimana yang
dimaksud dalam PSAP 11 paragrap 12 yang mengatakan Pengguna
anggaran/pengguna barang sebagai entitas akuntansi menyelenggarakan
akuntansi dan menyampaikan laporan keuangan sehubungan dengan
anggaran/barang yang dikelolanya yang ditujukan kepada entitas pelaporan.
Selain itu apabila suatu entitas akuntansi yang karena penetapan menurut
peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka suatu entitas akuntansi
tertentu yang dianggap mempunyai pengaruh signifikan dalam pencapaian
program pemerintah dapat ditetapkan sebagai entitas pelaporan dan bukan
sebagai entitas akuntansi seperti pengertian diatas sebagai contoh BLU.

Badan Layanan Umum (BLU) adalah badan yang dibentuk pemerintah


untuk menyelenggarakan pelayanan umum, memungut dan menerima serta
membelanjakan dana masyarakat yang diterima berkaitan dengan pelayanan
yang diberikan, tetapi tidak berbentuk badan hukum sebagaimana kekayaan
negara yang dipisahkan. Termasuk dalam BLU antara lain adalah rumah sakit,
universitas negeri, dan otorita. Laporan keuangan BLU akan disampaikan ke
entitas pelaporan yang membawahi BLU dimaksud dan akan digabungkan
dalam Laporan Keuangan entitas pelaporan.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 11 6


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB IV
PROSEDUR DAN PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN
KONSOLIDASIAN

A. Komponen Laporan Keuangan Konsolidasian

Laporan keuangan pemerintah pusat/daerah untuk masing-masing


entitas pelaporan dan entitas akuntansi setidak-tidaknya terdiri dari:

1. Laporan Realisasi Anggaran (LRA),


2. Neraca,
3. Laporan Arus Kas (LAK), dan
4. Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).

Khusus untuk Laporan Arus Kas hanya dihasilkan dan disusun oleh entitas
pelaporan yang menjalankan fungsi perbendaharaan. Laporan keuangan
tersebut diatas menurut PSAP 11 paragrap 6 menyebutkan bahwa Laporan
keuangan konsolidasian terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan
Catatan atas Laporan Keuangan, dimana laporan arus kas tidak dimasukkan
dalam laporan keuangan konsolidasian tetapi hanya merupakan laporan yang
disusun oleh BUN/BUD. Dari uraian tersebut yang termasuk dalam Laporan
keuangan konsolidasian adalah:
1. Laporan Realisasi Anggaran (LRA),
2. Neraca,
3. Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).

B. Prosedur Konsolidasi

Konsolidasian yang dilakukan oleh entitas pelaporan pada instansi


pemerintah pusat/daerah berbeda dengan konsolidasian yang dilakukan oleh
perusahaan swasta, karena konsoliasian pada instansi pemerintah bukan
merupakan konsolidasi antara induk dan cabang. Konsolidasi sebagaimana
dimaksud oleh PSAP 11 paragrap 17 dilaksanakan dengan cara
menggabungkan dan menjumlahkan akun yang diselenggarakan oleh entitas
pelaporan dengan entitas pelaporan lainnya dengan atau tanpa
mengeliminasi akun timbal balik.

1. Penggabungan ditingkat Kementerian Negara/Lembaga

Entitas pelaporan menyusun laporan keuangan dengan menggabungkan


laporan keuangan seluruh entitas akuntansi yang secara organisatoris berada
di bawahnya.

1. Satuan kerja
Satuan Kerja selaku Kuasa Pengguna Anggaran yang mengelola
anggaran adalah entitas akuntansi yang harus menyelenggarakan
akuntansi atas transaksi keuangan, aset, utang, dan ekuitas dana,
termasuk transaksi pendapatan dan belanja, yang berada dalam
tanggung jawabnya. Penyelenggaran akuntansi bertujuan untuk

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 11 7


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

menghasilkan laporan keuangan yang akan disampaikan kepada entitas


pelaporan. Penyelenggaran akuntansi mengacu kepada Sistem
Akuntansi Pemerintah yang sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintah.
2. Wilayah
Wilayah selaku unit vertikal di Propinsi melakukan penggabungan
laporan keuangan yang berasal dari satuan kerja (entitas akuntansi)
yang ada dibawah tanggungjawab wilayah yang bersangkutan. Kantor
wilayah dalam tatanan Sistem Akuntansi Pemerintaha diperlakukan
sebagai entitas akuntansi untuk melakukan penggabungan ditingkat
wilayah yang berkewajiban menyampaikan laporan keuangan ke unit
vertikal diatasnya. Penggabungan dilakukan dengan menjumlahkan
akun-akun yang sama antar entitas akuntansi.

3. Eselon I
Eselon I dalam hal ini Direktorat Jenderal selaku unit vertikal
Kementerian Negara/lembaga melakukan penggabungan laporan
keuangan yang berasal dari wilayah-wilayah (selaku entitas akuntansi)
yang ada dibawah tanggungjawab Eselon I yang bersangkutan. Eselon I
dalam tatanan Sistem Akuntansi Pemerintaha diperlakukan sebagai
entitas akuntansi untuk melakukan penggabungan laporan keuangan
ditingkat Direktorat Jenderal yang selanjutnya disampaikan ke
Kementerian Negara/lembaga yang membawahinya. Penggabungan
dilakukan dengan menjumlahkan akun-akun yang sama antar entitas
akuntansi pada tingkat wilayah.

4. Kementerian Negara/Lembaga
Kementerian Negara/lembaga sebagai entitas pelaporan melakukan
proses penggabungan laporan keuangan yang berasal dari entitas
akuntansi yang ada dibawah tanggungjawab kementerian
negara/lembaga yang bersangkutan. Kementerian Negara/lembaga
akan menyampaikan laporan keuangan gabungan ke Menteri Keuangan
untuk dilakukan proses konsolidasian ditingkat pemerintah pusat.
Disamping itu kementerian negara/lembaga berkewajiban
menyampaikan laporan keuangan konsolidasian ke BPK untuk diaudit.

2. Laporan Keuangan ditingkat Bendaharawan Umum Negara (BUN)


Menteri Keuangan selaku BUN menyusun Laporan Keuangan
menyangkut realisasi penerimaan dan pengeluaran anggaran yang
berpengaruh terhadap kas. Laporan keuangan yang di hasilkan oleh BUN
berupa Laporan Arus Kas dan Neraca. Laporan ini akan digabungkan dengan
laporan kementerian negara/lembaga. BUN dalam tatanan Sistem Akuntansi
Pemerintah adalah entitas pelaporan yang berkewajiban melakukan
penggabungan laporan keuangan yang berasal dari Kuasa Bendaharawan
Umum Negara. Laporan tersebut akan disampaikan ke Menteri Keuangan
untuk dilakukan proses penggabungan ditingkat pemerintah pusat.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 11 8


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

3. Konsolidasi ditingkat LKPP


Menteri Keuangan selain sebagai BUN juga berfungsi sebagai penyusun
Laporan Keuangan Konsolidasian untuk disampaikan ke Presiden. Proses
penyusunan laporan keuangan konsolidasian dilakukan dengan
mengkonsolidasikan laporan keuangan gabungan yang berasl dari masing-
masing Entitas Pelaporan di tambah dengan laporan keuangan yang berasal
dari Entitas Pelaporan yang menjalankan fungsi Perbendaharaan. Menteri
Keuangan selaku entitas pelaporan akan menyampaikan Laporan Keuangan
Konsolidasian ke Presiden untuk diteruskan ke BPK dan DPR. Laporan
Keuangan Konsolidasian yang disusun pada tingkat Pemerintah Pusat sudah
termasuk laporan keuangan BLU.

4. Konsolidasi ditingkat Pemerintah Daerah.


Satuan Kerja selaku Kuasa Pengguna Anggaran yang mengelola
anggaran adalah entitas akuntansi yang harus menyelenggarakan akuntansi
atas transaksi keuangan, aset, utang, dan ekuitas dana, termasuk transaksi
pendapatan dan belanja, yang berada dalam tanggung jawabnya.
Penyelenggaran akuntansi bertujuan untuk menghasilkan laporan keuangan
yang akan disampaikan kepada entitas pelaporan. Penyelenggaran akuntansi
mengacu kepada Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah yang sesuai dengan
Standar Akuntansi Pemerintah.
Kepala SKPD selaku pengguna anggaran menyusun laporan keuangan
gabungan dari satuan kerja yang berada dilingkup SKPD dan
menyampaikannya kepada gubernur/bupati/walikota melalui Pejabat
Pengelola Keuangan Daerah selaku entitas pelporan untuk dilakukan proses
konsolidasian.
Pejabat Pengelola Keuangan Daerah selaku BUD menyusun laporan
keuangan sebagai pertanggungjawaban pengelolaan perbendaharaan daerah
yang selanjutnya akan digabungkan dengan laporan keuangan yang berasal
dari SKPD.
Pejabat Pengelola Keuangan Daerah selaku entitas pelaporan
melakukan proses konsolidasian dan menyusun laporan keuangan PEMDA
berdasarkan laporan keuangan SKPD serta laporan pertanggungjawaban
pengelolaan perbendaharaan daerah dan disampaikan kepada
gubernur/bupati/walikota untuk selanjutnya disampaikan ke BPK dan DPRD.
Proses Konsolidasi diatas dapat dilaksanakan baik dengan
mengeliminasi akun-akun yang timbal balik (reciprocal) maupun tanpa
mengeliminasinya. Dalam hal konsolidasi dilakukan tanpa mengeliminasi
akun-akun yang timbal-balik, maka nama-nama akun yang timbal balik, dan
estimasi besaran jumlah dalam akun yang timbal balik dicantumkan dalam
Catatan atas Laporan Keuangan.

Selanjutnya perlu diketahui bahwa menurut PSAP 11 paragrap 21


dikatakan bahwa Laporan keuangan Badan Layanan Umum (BLU)
digabungkan pada kementerian negara/lembaga teknis pemerintah
pusat/daerah yang secara organisatoris membawahinya dengan ketentuan
sebagai berikut:

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 11 9


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

(a) Laporan Realisasi Anggaran BLU digabungkan secara bruto kepada


Laporan Realisasi Anggaran kementerian negara/ lembaga teknis
pemerintah pusat/daerah yang secara organisatoris membawahinya.
(b) Neraca BLU digabungkan kepada neraca kementerian negara/
lembaga teknis pemerintah pusat/daerah yang secara organisatoris
membawahinya.

Dengan kata lain bahwa laporan keuangan BLU merupakan laporan


keuangan yang sudah tergabungkan didalam laporan keuangan kosolidasian
Kementerian Negara/Lembaga dan Pemerintah Daerah yang membawahi BLU
dimaksud. Disamping BLU Pemerintah Pusat/Daerah juga memiliki Badan
Usaha Milik Negara/Daerah (BUMN/BUMD) dimana laporan keuangannya tidak
dikonsolidasikan dalam laporan keuangan Pemerintah Pusat/Daerah. Laporan
Keuangan BUMN/BUMD hanya dilampirkan dalam Laporan Keuangan
Konsolidasin Pemerintah Pusat dan Daerah.

C. Penyajian Laporan Keuangan Konsolidasian

Pemerintah pusat/daerah menyampaikan laporan keuangan


konsolidasian dari gabungan semua laporan entitas pelaporan kepada
lembaga legislatif. Laporan keuangan konsolidasian tersebut disusun sesuai
dengan periode pelaporan masing-masing entitas pelaporan sebagaimana
disebutkan dalam PSAP 11 paragrap 7 bahwa Laporan keuangan
konsolidasian disajikan untuk periode pelaporan yang sama dengan periode
pelaporan keuangan entitas pelaporan dan berisi jumlah komparatif dengan
periode sebelumnya. Laporan keuangan konsolidasian disusun sesuai dengan
anggaran yang telah ditetapkan dan dirinci menurut organisasi, fungsi,
subfungsi, program dan jenis belanja sehingga dapat diperbandingkan dengan
anggaran dan realisasi tahun sebelumnya. Laporan keuangan konsolidasian
disusun dan disajikan secara komparatif sehingga dapat dilakukan analisis
trend perubahan kenaikan dan penurunan penggunaan anggaran.

Disamping itu dalam penyusunan laporan keuangan konsolidasian harus


diikuti dengan proses eliminasi akun-akun yang saling timbal balik atau saling
menghapus (resiprocal accounts) sebagaimana disebutkan dalam PSAP 11
paragrap 8 yang berbunyi Proses konsolidasi diikuti dengan eliminasi akun-
akun timbal balik (reciprocal accounts). Namun demikian, apabila eliminasi
dimaksud belum dimungkinkan, maka hal tersebut diungkapkan dalam
Catatan atas Laporan Keuangan. Contoh akun timbal balik (reciprocal
accounts) antara lain sisa Uang Yang Harus Dipertanggungjawabkan yang
belum dipertanggungjawabkan oleh Bendaharawan Pembayar sampai dengan
akhir periode akuntansi. Perkiraan ini harus dieliminasi dengan perkiraan yang
sama di entitas pelaporan yang menyelengggarakan fungsi perbendaharaan.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 11 10


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

SOAL LATIHAN

1. Pengertian Laporan keuangan konsolidasian menurut PSAP 11 adalah:


a. Proses penggabungan antara akun-akun yang diselenggarakan
oleh suatu entitas pelaporan dengan entitas pelaporan lainnya,
dengan mengeliminasi akun-akun timbal balik agar dapat
disajikan sebagai satu entitas pelaporan konsolidasian.
b. Suatu laporan keuangan yang merupakan gabungan keseluruhan
laporan keuangan entitas pelaporan sehingga tersaji sebagai satu
entitas tunggal.
c. suatu laporan keuangan yang merupakan gabungan keseluruhan
laporan keuangan entitas akuntansi sehingga tersaji sebagai satu
entitas tunggal.
d. Jawaban b dan c benar.

2. Komponen Laporan Keuangan Konsolidasian terdiri dari:


a. Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Catatan atas Laporan
Keuangan.
b. Neraca dan Catatan atas Laporan Keuangan.
c. Laporan Arus Kas, Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan
Catatan atas Laporan Keuangan.
d. Neraca BLU, Neraca BUMN, Laparan Realisai Anggaran BLU dan
Catatan atas Laporan Keuangan.

3. Penyajian Laporan Keuangan Badan Layanan Umum dalam Laporan


Keuangan Konsolidasian dilakukan dengan cara:
a. Disajikan untuk periode pelaporan yang sama dengan periode
pelaporan keuangan entitas pelaporan dan berisi jumlah
komparatif dengan periode sebelumnya.
b. Disajikan secara terpisah dari laporan keuangan entitas
pelaporan dan berisi jumlah komparatif dengan periode
sebelumnya.
c. Disajikan untuk periode pelaporan yang sama dengan periode
pelaporan keuangan entitas pelaporan dan sudah tergabung
dalam laporan keuangan konsolidasian yang berisi jumlah
komparatif dengan periode sebelumnya.
d. Jawaban a dan c salah.

4. Laporan Keuangan Konsolidasian dilakukan oleh:


a. Entitas Akuntansi
b. Entitas Pelaporan
c. Entitas Akuntansi dan Pelaporan
d. Entitas Badan Layanan Umum

5. Dalam upaya menyusun laporan keuangan konsolidasian prosedur


yang dilakukan oleh entitas pelaporan adalah:
a. Dilaksanakan dengan cara menggabungkan dan menjumlahkan
akun yang diselenggarakan oleh entitas akuntansi dengan entitas
pelaporan lainnya dengan atau tanpa mengeliminasi akun
timbal balik.
b. Dilaksanakan dengan cara menggabungkan dan menjumlahkan
akun yang diselenggarakan oleh entitas akuntansi dengan entitas

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 11 11


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

akuntansi lainnya dengan atau tanpa mengeliminasi akun timbal


balik.
c. Dilaksanakan dengan cara menggabungkan dan menjumlahkan
akun yang diselenggarakan oleh entitas akuntansi dengan entitas
BLU dengan atau tanpa mengeliminasi akun timbal balik.
d. Dilaksanakan dengan cara menggabungkan dan menjumlahkan
akun yang diselenggarakan oleh entitas pelaporan dengan entitas
pelaporan lainnya dengan atau tanpa mengeliminasi akun
timbal balik.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 11 12


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

DAFTAR BACAAN

1. UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara;


2. UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara;
3. UU No. 15/2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara;
4. UU No. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
5. UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah;
6. UU No. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah
Pusat dan Pemerintahan Daerah;
7. PP No. 23/2005 tentang Pengelolaan Keuangan BLU;
8. PP No. 24/2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan;
9. PP No. 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
10. PP No. 8/2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi
Pemerintah.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 11 13


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan adakalanya terjadi
kesalahan dalam pencatatan transaksi keuangan atau perubahan kebijakan
akuntansi yang diterapkan oleh suatu entitas, serta adanya peristiwa luar biasa
yang secara signifikan akan berpengaruh pada kondisi kinerja keuangan suatu
entitas.

Suatu kesalahan yang terjadi dalam pencatatan akuntansi mengakibatkan


informasi yang disajikan dalam laporan keuangan menjadi bias. Oleh karena itu
perlu adanya mekanisme untuk membetulkan kesalahan tersebut.

Apabila ada perubahan kebijakan akuntansi dari periode sebelumnya


maka kemungkinan akan mempengaruhi posisi keuangan secara material.
Pengaruh yang material terhadap laporan keuangan tersebut harus diungkapkan
dalam laporan keuangan.

Disamping itu, kemungkinan terjadi peristiwa luar biasa yang


mempengaruhi kondisi kinerja keuangan suatu entitas secara signifikan. Dalam
rangka full disclosure maka dalam laporan keuangan harus diungkapkan
dampak peristiwa luarbiasa tersebut terhadap kondisi kinerja keuangan.

B. Tujuan Pembelajaran
Tujuan Pembelajaran Umum:Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta
mampu:
1. Memahami Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)
2. Mampu mengimplementasikan SAP dalam menyusun dan menyajikan
Laporan Keuangan

Tujuan Pembelajaran Khusus:


Setelah mempelajari materi ini peserta mampu:
1. Memahami pengertian kesalahan, koreksi kesalahan, perubahan kebijakan
akuntansi dan peritiwa luar biasa.
2. memahami dan menguasai teknis dalam melakukan koreksi kesalahan,
pengungkapan perubahan kebijakan akuntansi dan mengungkapkan peristiwa
luar biasa dalam laporan keuangan dalam penyajian laporan keuangan.

C. Deskripsi Ringkas

Materi Modul PSAP 10 disusun sesuai pokok-pokok paragraf koreksi


kesalahan, perubahan kebijakan akuntansi dan peristiwa luar biasa. Bahasan
dimulai dengan latar belakang yang memuat koreksi kesalahan pengungkapan
perubahan kebijakan akuntansi dan pengaruh peristiwa luar biasa terhadap

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 10 - 1


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

laporan keuangan. Pada Bab II akan dibahas secara khusus kesalahan dan
koreksi yang dilakukan apabila terdapat kesalahan-kesalahan tersebut. Pada Bab
III diungkapkan mengenai Perubahan kebijakan akuntansi dan pengungkapan
pada laporan keuangan.

Pada bab IV diuraikan mengenai peristiwa luar biasa yang mempengaruhi


kinerja keuangan pemerintah dan kaitannya dengan pengungkapan peristiwa
luar biasa pada Catatan Atas Laporan keuangan

D. Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran dalam pelatihan ini dilakukan dengan cara


pemaparan materi PSAP 10 dan penerapannya dalam akuntansi pemerintahan
yang dilanjutkan dengan tanya jawab serta diskusi soal-soal latihan dan contoh
kasus yang bertalian dengan Koreksi Kesalahan, Perubahan Kebijakan akuntansi
dan Peristiwa Luar Biasa. Keberhasilan pembelajaran ini juga sangat tergantung
pada partisipasi aktif dari para peserta pelatihan di dalam aktivitas diskusi,
latihan dan tanya jawab.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 10 - 2


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB II
KOREKSI KESALAHAN

Laporan keuangan disusun dan disajikan untuk menyediakan informasi


yang relevan mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan
oleh entitas pelaporan. Untuk menjaga integritas data dan agar informasi
laporan keuangan tidak menyesatkan maka laporan keuangan harus bebas dari
kesalahan.

Laporan keuangan disusun pada pisah tanggal tertentu; terhadap laporan


keuangan pemerintah, mengikuti periode tahun anggaran yaitu meliputi masa
satu tahun mulai tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember. Menurut
ketentuan UU Bidang Keuangan laporan keuangan pemerintah harus
disampaikan kepada DPR paling lambat 6 bulan setelah tutup tahun buku,
setelah dilakukan audit oleh BPK. Terdapat tahapan atau periode waktu dalam
menyusun dan menyajikan laporan keuangan sampai dengan penyampaian
laporan keuangan ke DPR, yaitu :

a. periode waktu sebelum laporan keuangan disusun dan disajikan, atau tahun
berjalan
b. periode waktu setelah laporan keuangan sudah diterbitkan tetapi belum
diaudit oleh BPK
c. periode waktu setelah laporan diaudit oleh BPK disampaikan ke DPR/DPRD
dan telah ditetapkan dengan UU atau Peraturan daerah.

Adapun kesalahan dalam penyusunan laporan keuangan bisa terjadi pada


satu atau beberapa periode sebelumnya dan mungkin baru ditemukan pada
periode berjalan atau pada periode setelah Laporan Keuangan disahkan dan
telah diterbitkan Undang-undang dan/atau Peraturan Daerah. Kesalahan-
kesalahan tersebut kemungkinan disebabkan antara lain keterlambatan
penyampaian bukti transaksi keuangan oleh Pengguna Anggaran, kesalahan
perhitungan matematis, kesalahan pencatatan, kesalahan dalam interprestasi
fakta, kecurangan atau kelalaian dan kemungkinan kesalahan dalam penerapan
standar dan kebijakan akuntansi.

Dalam situasi tertentu suatu kesalahan mungkin mempunyai pengaruh


signifikan bagi satu atau lebih laporan keuangan periode sebelumnya sehingga
laporan-laporan keuangan tersebut tidak dapat diandalkan. Agar informasi
laporan keuangan bebas dari unsur kesalahan, maka PSAP No 10 mengatur
perlakuan tentang koreksi kesalahan.

A. Kesalahan dan Koreksinya

Kesalahan adalah penyajian pos-pos yang secara signifikan tidak sesuai


dengan yang seharusnya yang mempengaruhi laporan keuangan periode
berjalan atau periode sebelumnya. Periode berjalan adalah periode sebelum
laporan keuangan belum ditetapkan dengan Perda.

Periode sebelumnya adalah periode akuntansi dimana laporan keuangan


telah diterbitkan. Paragrap 16 PSAP 10 menjelaskan bahwa laporan keuangan
dianggap sudah diterbitkan apabila sudah ditetapkan dengan undang-undang
atau peraturan daerah.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 10 - 3


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Ditinjau dari sifat kejadiannya, kesalahan dapat dikelompokkan menjadi


kesalahan yang tidak berulang dan kesalahan yang berulang dan sistemik.

1. Menurut paragraf 11, menetapkan bahwa koreksi kesalahan yang tidak


berulang yang terjadi pada periode berjalan, baik yang mempengaruhi kas
maupun yang tidak, dilakukan dengan pembetulan pada akun yang
bersangkutan dalam periode yang berjalan.

Kesalahan dalam jenis belanja dan pendapatan akan dilakukan koreksi


terhadap jenis belanja dan pendapatan yang bersangkutan dengan
memperhatikan pengaruh kesalahan tersebut terhadap kas.

a. Contoh kesalahan yang mempengaruhi Kas dalam periode berjalan :


Pada tanggal 15 Mei 2006, dibayar gaji pegawai dengan menerbikan
SPMU-BT dengan nilai Rp 513.000.000. Pada hari dan tanggal yang sama
SPMU-BT tersebut dibukukan oleh bagian keuangan sebesar Rp
531.000.000,-. Pada waktu dilakukan kas opname, ditemukan perbedaan
antara saldo kas menurut bank dan saldo menurut buku dan setelah
diteliti perbedaanya adalah pada SPMU-BT yang diterbitkan tanggal 15
Mei 2006.,

Transaksi tersebut dicatat pada tanggal 15 Mei 2006 :


(jurnal yang salah) :
Belanja Pegawai Rp 531.000.000
Kas di Kas Daerah Rp 531.000.000

Koreksi karena kelebihan pencatatan pada akun belanja pegawai sebesar


Rp 18. 000.000, (Rp 531.000.000 - Rp 513.000.000) dilakukan koreksi
sebagai berikut:

Kas di Kas Daerah Rp 18.000.000


Belanja Pegawai Rp 18.000.000

b. Tidak Mempengaruhi Kas pada periode berjalan.


Pada Tanggal 15 Mei 2006, dibayar gaji pegawai dengan menerbikan
SPMU-BT dengan nilai Rp 531.000.000. Pada hari dan tanggal yang sama
SPMU-BT tersebut dibukukan oleh bagian keuangan sebesar Rp
531.000.000 sebagai belanja barang. Pada waktu menyusun laporan
diketahui ada kekeliruan pembukuan belanja atas SPMU pada tanggal 15
Mei 2006, maka transaksi tersebut akan dikoreksi seperti berikut:

Jurnal tanggal 15 Mei 2006 (Jurnal yang salah) :


Belanja Barang Rp 531.000.000
Kas di Kas Daerah Rp 531.000.000

Karena kesalahan pada akun belanja, maka koreksi dilakukan sebagai


berikut:
Belanja Pegawai Rp 531.000.000

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 10 - 4


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Belanja Barang Rp 531.000.000

2. Menurut paragraf 12 PSAP 10, menetapkan bahwa koreksi kesalahan yang


tidak berulang yang terjadi pada periode-periode sebelumnya dan
mempengaruhi posisi kas apabila laporan keuangan periode tersebut belum
diterbitkan, dilakukan dengan pembetulan pada akun pendapatan atau akun
belanja dari periode yang bersangkutan

Contoh 1:
Pada tanggal 20 April 2005, diterima setoran atas pendapatan Retribusi
Parkir dengan STS No. 123 sebesar Rp 13.000.000. Pada hari dan tanggal
yang sama STS tersebut dibukukan oleh bagian keuangan sebesar Rp
31.000.000,-. Pada bulan Januari 2006 waktu menyusun laporan, diketahui
kesalahan tersebut, ditemukan perbedaan antara saldo kas menurut bank
dan saldo menurut buku sebesar Rp 18.000.000 (Rp 31.000.000 Rp
13.000.000). Transaksi tersebut telah dibukukan pada tanggal 15 Mei 2005
sebagai berikut:

Kas di Kas daerah Rp 31.000.000


Pendapatan Retribusi Rp 31.000.000

Dengan ditemukannya kesalahan pencatatan tersebut pembetulan dilakukan


dengan jurnal koreksi sebagai berikut:

Pendapatan retribusi Rp 18.000.000


Kas di kas daerah Rp 18.000.000

Contoh 2:

Pada Tanggal 15 Mei 2005, dibayar gaji pegawai dengan menerbikan SPMU-
BT dengan nilai Rp 513.000.000. Pada hari dan tanggal yang sama SPMU-BT
tersebut dibukukan oleh bagian keuangan sebesar Rp531.000.000,-.
Pada bulan Januari 2006 waktu menyusun laporan, diketahui kesalahan
tersebut, ditemukan perbedaan antara saldo kas menurut bank dan saldo
menurut buku sebesar Rp18.000.000 (Rp531.000.000Rp513.000.000).

Transaksi tersebut telah dibukukan seperti berikut:

Belanja Pegawai Rp 531.000.000


Kas di kas daerah Rp 531.000.000

Atas kesalahan tersebut belanja pegawai harus dikurangi sebesar


Rp18.000.000 (Rp531.000.000-Rp513.000.000) dan dikoreksi dengan jurnal
sebagai berikut:

Kas di kas daerah Rp 18.000.000


Belanja Pegawai Rp 18.000.000

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 10 - 5


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

3. Menurut paragraf 13 PSAP 10 Koreksi kesalahan atas pengeluaran belanja


(sehingga mengakibatkan penerimaan kembali belanja) yang tidak berulang
yang terjadi pada periode-periode sebelumnya dan mempengaruhi posisi kas
serta mempengaruhi secara material posisi aset selain kas, apabila laporan
keuangan periode tersebut sudah diterbitkan, dilakukan dengan pembetulan
pada akun pendapatan lain-lain, akun aset, serta akun ekuitas dana yang
terkait.

Pada Tanggal 20 Oktober 2005, dibayar belanja modal atas pengadaan 2


mobil dinas @ Rp 255.000.000,- pembayaran dilakukan dengan SPMU-BT
sebesar Rp 550.000.000,-. Pada hari dan tanggal yang sama SPMU-BT
tersebut dibukukan oleh bagian keuangan sebesar Rp 550.000.000,-. Pada
Bulan Juni 2006 laporan keuangan Tahun Anggaran 2005 telah diterbitkan
dan telah disampaikan ke DPRD, kemudian diketahui bahwa ada kesalahan
dalam penerbitan dan pembayaran SPMU-BT atas pengadaan mobil dinas
pada tanggal 20 April 2005 yang seharusnya berjumlah Rp 510.000.000
sehingga harus dilakukan pengembalian belanja tersebut oleh pemasok
sebesar Rp 40.000.000,-. Penagihan kepada pemasok sudah berhasil
dilakukan dan disetorkan pada tanggal 25 Juni 2006 sebesar Rp 40.000.000,-
Pengaruh pengembalian tersebut adalah bertambahnya kas dan pendapatan
yang diikuti penurunan aset. Transaksi tersebut akan dibukukan seperti
berikut:
Jurnal Tanggal 20 Oktober 2005
Belanja Modal Peralatan dan Rp 550.000.000
Mesin
Kas di kas daerah Rp 550.000.000
Peralatan dan Mesin Rp 550.000.000
Diinvestasikan dalam Aset Rp 550.000.000
Tetap

Jurnal Koreksi tangal 25 Juni 2006


Kas di Kas Daerah Rp 40.000.000
Pendapatan lain-lain Rp 40.000.000
Diinvestasikan dalam Aset Tetap Rp 40.000.000
Peralatan dan Mesin Rp 40.000.000

4. Paragraf 14, menetapkan bahwa koreksi kesalahan atas pengeluaran


belanja (sehingga mengakibatkan penerimaan kembali belanja) yang tidak
berulang yang tejadi pada periode-periode sebelumnya dan mempengaruhi
posisi kas dan tidak mempengaruhi secara material posisi aset selain kas,
apabila laporan keuangan periode tersebut sudah diterbitkan, dilakukan
dengan pembetulan pada akun pendapatan lain-lain.

Contoh:
Pada tanggal 12 Maret 2005, disahkan SPJ belanja modal atas pengadaan
Air Condition (AC) seharga Rp 2.250.000.,-. Pada hari dan tanggal yang
sama SPJ tersebut dibukukan oleh bagian keuangan sebesar Rp 2.250.000,-.
Pada bulan Agustus 2006, pada saat itu laporan keuangan tahun 2005 sudah
disampaikan ke DPRD, diketahui ada kesalahan dalam pengesahan SPJ
pengadaan AC tanggal 12 Maret 2005, dimana harga beli AC menurut faktur
sebesar Rp 2.225.000,- Akibatnya aset tetap yang terlalu rendah Rp 25.000

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 10 - 6


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

(pengaruhnya tidak material) dan disarankan oleh Bawasda agar dilakukan


tuntutan perbendaharaan kepada Bendahara Pengeluaran, dan telah
dilakukan pembayaran kembali oleh Bendahara Pengeluaran. Transaksi
tersebut dibukukan seperti berikut:

Jurnal Tanggal 15 Mei 2005


Belanja Modal Peralatan dan Rp 2.250.000
Mesin
Kas di kas daerah Rp 2.250.000
Peralatan dan Mesin Rp 2.250.000
Diinvestasikan dalam Aset Rp 2.250.000
Tetap

Jurnal Koreksi
Kas Rp 25.000
Pendapatan lain-lain Rp 25.000

5. Menurut paragraf 15 PSAP 10, Koreksi kesalahan atas penerimaan


pendapatan yang tidak berulang yang terjadi pada periode-periode
sebelumnya dan mempengaruhi posisi kas, apabila laporan keuangan
tersebut sudah diterbitkan, dilakukan dengan pembetulan pada akun ekuitas
dana lancar.

Kesalahan atas penerimaan pendapatan yang tidak berulang yang terjadi


pada periode sebelumnya dan mengakibatkan kas bertambah dimana laporan
keuangan periode tersebut sudah diterbitkan, koreksi kesalahan pendapatan
tersebut dilakukan dengan menambah kas dan menambah akun ekuitas dana
lancar. Sedangkan apabila kesalahan mengakibatkan saldo kas berkurang,
maka koreksi dilakukan dengan mengurangi ekuitas dana lancar dan kas.

Contoh
Pada Tanggal 9 Pebruari 2005, diterima pendapatan sewa gedung pertemuan
dengan bukti STS sejumlah Rp 3.575.000. dan salah dibukukan sebesar Rp
3.275.000. Kesalahan atas pencatatan tersebut ditemukan pada tahun 2006
dimana laporan keuangan Tahun Anggaran 2005 telah diterbitkan. Pengaruh
dari pencatatan pendapatan yang demikian adalah penyajian saldo Kas dan
SiLPA menurut buku terlalu kecil sehingga akun Kas dan SiLPA harus
ditambah. Transaksi transaksi tersebut akan dibukukan seperti berikut:

Jurnal Tanggal 9 Februari 2005


Kas di kas daerah Rp 3.275.000
Lain-lain PAD yang sah- Rp 3.275.000
Pendapatan sewa

Jurnal Koreksi
Kas di kas daerah Rp 300.000
SiLPA/SiKPA Rp 300.000

6. Paragraf 20 PSAP 10 menyatakan : Koreksi kesalahan yang tidak berulang


yang terjadi pada periode-periode sebelumnya dan tidak mempengaruhi

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 10 - 7


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

posisi kas, baik sebelum maupun setelah laporan keuangan periode tersebut
diterbitkan, dilakukan dengan pembetulan pos-pos neraca terkait pada
periode ditemukannya kesalahan.

Contoh:
Belanja modal atas Peralatan Mesin sebesar Rp 5.000.000 pada waktu
mencatat aset tetap salah dibukukan sebagai aset tetap Jalan, irigasi dan
jaringan.

Jurnal yang salah


Belanja Modal Peralatan Mesin Rp 5.000.000
Kas di Kas Daerah Rp 5.000.000
Jalan, Irigasi dan Jaringan Rp 5.000.000
Diinvestasikan dalam Aset Tetap Rp 5.000.000

Jurnal koreksi
Peralatan Mesin Rp 5.000.000
Jalan, Irigasi dan Jaringan Rp 5.000.000

7. Paragraf 22 menyatakan : kesalahan berulang dan sistemik seperti yang


dimaksud pada paragraf 9, tidak memerlukan koreksi, melainkan dicatat
pada saat terjadi.

Paragraf 9 menjelaskan bahwa kesalahan yang berulang dan sistemik adalah


kesalahan yang disebabkan oleh sifat alamiah (normal) dari jenis-jenis
transaksi tertentu yang diperkirakan akan terjadi berulang. Contohnya adalah
penerimaan pajak dari wajib pajak yang memerlukan koreksi sehingga perlu
dilakukan restitusi atau tambahan pembayaran dari wajib pajak.

Apabila seorang wajib pajak kurang bayar, maka pada saat dibayar dicatat
sebagai pendapatan pajak pada saat diterimanya pendapatan tersebut, dan
sebaliknya apabila lebih bayar maka pembayaran restitusi kepada wajib
pajak, maka dicatat sebagai pengurang pendapatan pajak pada saat terjadi.

Contoh:
Pada bulan Maret 2006, Wajib pajak A menerima SKPT kurang bayar pajak
untuk tahun 2005 sebesar Rp 5.000.000,-. Terhadap tagihan tersebut wajib
pajak telah membayar pada bulan April 2006.

Transaksi tersebut dijurnal:


Kas di kas daerah Rp 5.000.000
Pendapatan pajak Rp 5.000.000

B. Pengungkapan Dalam Catatan atas Laporan Keuangan

Apabila terdapat kesalahan yang terjadi pada periode sebelumnya atau


periode berjalan yang bersifat material terhadap posisi aset, kewajiban dan
ekuitas, maupun pendapatan, belanja dan pembiayaan harus diungkapkan

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 10 - 8


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

dalam catatan atas laporan keuangan secara memadai sehingga pengguna


laporan dapat memahami kejadian tersebut.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 10 - 9


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB III
PERUBAHAN KEBIJAKAN AKUNTANSI

Dalam menyusun dan menyajian laporan keuangan perlu memperhatikan


Peraturan Kepala Daerah tentang Kebijakan Akuntansi yang merupakan dasar
pengakuan, pengukuran dan pelaporan atas aset, kewajiban, ekuitas,
pendapatan, belanja, dan pembiayaan serta laporan keuangan. Kebijakan
tersebut akan berdampak pada keandalan laporan keuangan yang akan
dihasilkan, sehingga kebijakan akuntansi harus diterapkan secara konsisten dari
waktu ke waktu.

Dalam penyusunan laporan keuangan kebijakan akuntansi harus


diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan sebelum menjelaskan pos-
pos laporan keuangan agar laporan keuangan dapat dipahami oleh para
pengguna laporan keuangan.

A. Perubahan Kebijakan Akuntansi

Adakalanya kebijakan akuntansi yang diterapkan dalam suatu periode


akuntansi berbeda dengan periode sebelumnya. Paragraf 26 PSAP 10
menyatakan: Suatu perubahan kebijakan akuntansi harus dilakukan hanya
apabila penerapan suatu kebijakan akuntansi yang berbeda diwajibkan oleh
peraturan perundang-undangan atau standar akuntansi pemerintahan yang
berlaku, atau apabila diperkirakan bahwa perubahan tersebut akan
menghasilkan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, atau arus
kas yang lebih relevan dan lebih andal dalam penyajian laporan keuangan
entitas.

Perubahan kebijakan akuntansi misalnya antara lain adalah perubahan


metode penyusutan dan metode penilaian persediaan. Penyusutan adalah
penyesuaian nilai sehubungan dengan penurunan kapasitas dan manfaat dari
suatu aset sehingga diperoleh nilai wajar. Jadi penyusutan bukan merupakan
metode alokasi biaya untuk memupuk dana dalam rangka penggantian aset
tetap. Dengan demikian, apabila dilakukan penyusutan terhadap aset tetap,
maka tidak berhubungan dengan beban belanja, dan oleh karena itu perubahan
kebijakan terhadap penyusutan tersebut tidak mempengaruhi laporan ralisasi
anggaran.

Contoh:
Pemkot Madiun membeli Komputer dan pheriperalnya pada bulan Desember
2003 senilai Rp 200 juta. Pada tahun 2003 Pemkot Madiun menetapkan
kebijakan akuntansi dengan menerapkan penyusutan untuk peralatan dan mesin
menggunakan metode garis lurus. Estimasi masa manfaat komputer tersebut 5
tahun. Dalam perjalanan waktu, pada tahun 2006 Pemkot Madiun memutuskan
untuk mengubah Kebijakan Akuntansi Penyusutan Peralan dan Mesin (termasuk
komputer) dari metode garis lurus (straight line method) menjadi metode
penyusutan saldo menurun. (double declining method)

Terhadap perubahan kebijakan akuntansi tersebut, disusun perhitungan


penyusutan sebagai berikut:

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 10 - 10


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Perhitungan menurut metode garis lurus


Tahun Perhitungan Nilai Disusutkan Nilai Buku
2003 - 0 200.000.000
2004 20 % X Rp 200.000.000 40.000.000 160.000.000
2005 20 % X Rp 200.000.000 40.000.000 120.000.000
2006 20 % X Rp 200.000.000 40.000.000 80.000.000
2007 20 % X Rp 200.000.000 40.000.000 40.000.000
2008 20 % X Rp 200.000.000 40.000.000 0

Perhitungan menurut metode saldo menurun :


Tahun Perhitungan Nilai Disusutkan Nilai Buku
2003 - 0 200.000.000
2004 40 % X Rp 200.000.000 80.000.000 120.000.000
2005 40 % X Rp 120.000.000 48.000.000 72.000.000
2006 40 % X Rp 72.000.000 28.800.000 43.200.000
2007 40 % X Rp 43.200.000 17.280.000 25.920.000
2008 40 % X Rp 24.720.000 10.368.000 15.552.000

Pada akhir tahun 2006, akumulasi penyusutan komputer berdasarkan metode


garis lurus sebesar Rp 120.000.000, (penjumlahan penyusutan tahun
2004,2005,2006) berdasarkan metode saldo menurun sebesar Rp 156.800.000
(penjumlahan penyusutan tahun 2004, 2005, 2006), terdapat selisih sebesar Rp
36.800.000,.

Dengan perhitungan tersebut di atas, pada akhir tahun 2006 terdapat perbedaan
jumlah akumulasi penyusutan sebesar Rp 36.800.000, sehingga nilai wajar aset
tetap dengan metode saldo menurun terlalu tinggi sebesar nilai tersebut,
sehingga harus dibuat jurnal penyesuaian sebagai berikut:

Diinvestasikan dalam Aset tetap Rp 36.800.000


Akumulasi Penyusutan-Peralatan Rp 36.800.000.
dan Mesin

B. Pengungkapan

Paragraf 29 menyatakan bahwa perubahan kebijakan akuntansi dan


pengaruhnya harus diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

Contoh pengungkapan berdasarkan ilustrasi perubahan kebijakan


akuntansi penyusutan seperti tersebut diatas, dari metode garis lurus, menjadi
metode saldo menurun, adalah sebagai berikut :

Pada tahun anggaran 2006, pemerintah Kota Madiun, telah menetapkan


perubahan kebijakan akuntansi khusus mengenai metode penyusutan Aset
Tetap- Peralatan dan Mesin, dari metode garis lurus menajdi metode saldo
menurun, dengan alasan agar diperoleh nilai wajar yang mendekati sebenarnya,
karena komputer dan pheriperalnya lebih cepat obsolet.
Adapun pengaruh perubahan kebijakan akuntansi metode penyusutan tersebut,
terdapat perbedaan nilai wajar sebagai berikut :

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 10 - 11


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

URAIAN METODE GARIS METODE SALDO


LURUS MENURUN
Nilai perolehan awal 200.000.000,00 200.000.000,00
Akumulasi penyusutan sd
Desember 2006 120.000.000,00 156.800.000,00
Nilai wajar pada 31 Des. 2006 80.000.000,00 43.200.000,00

Jadi nilai wajar Aset Tetap berupa komputer dan pheriperalnya pada 31
Desember 2006 adalah sebesar Rp 43.200.000,00. Perbedaan sebesar telah
dikoreksikan pada akun yang bersangkutan.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 10 - 12


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB IV
PERISTIWA LUAR BIASA

Peristiwa Luar Biasa adalah kejadian atau transaksi yang secara jelas
berbeda dari aktivitas biasa atau normal suatu entitas dan karenanya tidak
diharapkan terjadi dan berada di luar kendali atau pengaruh entitas sehingga
memiliki dampak yang signifikan terhadap realisasi anggaran atau posisi
aset/kewajiban.
Di lingkungan entitas pemerintahan, penanggulangan bencana alam dan
sosial termasuk aktivitas biasa.
Peristiwa yang berada di luar kendali atau pengaruh entitas adalah kejadian
yang sukar diantisipasi dan oleh karena itu tidak dicerminkan di dalam
anggaran.
Dampak yang signifikan terhadap realisasi anggaran karena peristiwa luar
biasa terpenuhi apabila kejadian dimaksud secara tunggal menyebabkan
penyerapan sebagian besar belanja tak tersangka atau dana darurat sehingga
memerlukan perubahan/pergeseran anggaran secara mendasar.

Pada paragraf 35, menyatakan bahwa peristiwa luar biasa harus


memenuhi seluruh persyaratan berikut:
(a) Tidak merupakan kegiatan normal dari entitas
(b) Tidak diharapkan terjadi dan tidak diharapkan terjadi berulang
(c) Berada di luar kendali atau pengaruh entitas
(d) Memiliki dampak yang signifikan terhadap realisasi anggaran atau posisi
aset/kewajiban

Selanjutnya pada paragraf 36 dinyatakan bahwa hakikat, jumlah dan


pengaruh yang diakibatkan oleh peristiwa luar biasa harus diungkapkan secara
terpisah dalam Catatan atas laporan keuangan.

Contoh :
Pada bulan Mei 2006 tekah terjadi gempa dengan skala 5,9 Richter di wilayah
propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan propinsi Jawa Tengah, dimana wilayah
Kabupaten Bantul mengalami kerusakan yang paling parah, yang
mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan infra struktur dan sentra-sentra
industri dan perekonomian masyarakat. Kondisi tersebut mengakibatkan
kerugian yang sangat besar pada infra struktur pemerintah (jalan, jembatan,
irigasi, perumahan, gedung kantor dsb). Oleh karena itu akan menimbulkan
disatu sisi menurunnya potensi Pendapatan Asli daerah (PAD) dan dilain sisi
meningkatnya kebutuhan dana untuk bantuan sosial kepada masyarakat dan
dana untuk rehabilitasi dan rekonstruksi infra struktur di wilayah kabupaten
Bantul.
Peristiwa tersebut telah memenuhi kriteria paragraf 35 PSAP no 10 tentang
Koreksi Kesalahan, perubahan Kebijakan Akuntansi dan peristiwa Luar Biasa,
sehingga layak dianggap sebagai Peristiwa Luar Biasa.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 10 - 13


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

SOAL LATIHAN

Pilihan ganda:
1. Terdapat kesalahan pencatatan belanja yang terlalu besar pada periode
berjalan, akibat kesalahan tersebut akan dicatat:
a. menambah pendapatan
b. menambah belanja
c. mengurangi pendapatan
d. mengurangi belanja

2. Pemda A mencatat penerimaan pengembalian utang dari PDAM sebesar Rp


10 milyar sebagai Pendapatan Asli Daerah. Atas kejadian tersebut maka:
a. dikoreksi dengan menambah pendapatan
b. dikoreksi dengan mengurangi pendapatan
c. dikoreksi dengan menambah penerimaan pembiayaan
d. tidak ada koreksi, karena sudah benar

3. Pemkot Makassar lebih membayar honor seorang pegawai terlalu besar pada
bulan Desember tahun 2005 sebesar Rp 500.000. Kepada yang bersangkutan
diminta mengembalikan pada bulan Januari 2006, tetapi sampai laporan
keuangan tahun 2005 selesai disusun belum ada dikembalikan tersebut,
karena pegawai yang bersangkutan sedang tugas belajar.
a. Dicatat sebagai pengurang belanja
b. Dicatat sebagai pendapatan lain-lain
c. Dicatat sebagai piutang lain-lain
d. Tidak dicatat, karena belum dibayar

4. Pemprov DKI memberikan restitusi pajak daerah kepada Hotel Aryaduta


sebesar Rp 26.000.000, terhadap kejadian tersebut akan dicatat dengan:
a. Menambah belanja barang
b. Mengurangi piutang pajak
c. pengurang pendapatan pajak daerah
d. menambah subsidi

5. Berikut ini merupakan peristiwa yang memerlukan koreksi kecuali:


a. kesalahan pencatatan aset
b. kelebihan pembayaran belanja
c. kesalahan pencatatan utang jangka panjang
d. kesalahan berulang

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 10 - 14


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

DAFTAR BACAAN

1. UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara;


2. UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara;
3. UU No. 15/2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara;
4. UU No. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
5. UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah;
6. UU No. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat
dan Pemerintahan Daerah;
7. PP No. 23/2005 tentang Pengelolaan Keuangan BLU;
8. PP No. 24/2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan;
9. PP No. 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
10. PP No. 8/2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi
Pemerintah.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 10 - 15


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Modul Akuntansi Kewajiban ini dibuat untuk memudahkan pemahaman
terhadap Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan Nomor 09 Akuntansi
Kewajiban. Modul ini disusun sebagai bahan Pelatihan untuk Pelatih standar
Akuntansi Pemerintahan, sehingga dengan mempelajari modul ini peserta
diharapkan dapat belajar mandiri (self study) atas materi Akuntansi Kewajiban
pada Pemerintah Pusat maupun daerah. Modul ini menguraikan kembali
paragraf-paragraf standar maupun penjelasan disertai dengan contoh-contoh
yang aplikatif sehingga diharapkan dapat dijadikan rujukan dalam implementasi
Standar Akuntansi Pemerintahan yang berkaitan dengan kewajiban.

B. Tujuan Pembelajaran
Tujuan Pembelajaran Umum:
Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta mampu:
1. Memahami Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)
2. Mampu mengimplementasikan SAP dalam menyusun dan menyajikan
Laporan Keuangan

Tujuan Pembelajaran Khusus:


Setelah mempelajari materi ini peserta mampu:
1. Memahami pengertian kewajiban
2. Memahami klasifikasi kewajiban
3. Memahami pengakuan kewajiban
4. Menjelaskan pengukuran kewajiban
5. Memahami perlakuan akuntansi untuk penyelesaian kewajiban sebelum jatuh
tempo
6. Memahami restrukturisasi kewajiban
7. Memahami perlakuan akuntansi untuk biaya pinjaman
8. Memahami penyajian dan pengungkapan kewajiban

C. Deskripsi Ringkas
Materi Modul PSAP 09 disusun sesuai dengan urutan paragraf standar
yang antara lain meliputi: pengertian kewajiban, klasifikasi kewajiban,
pengakuan kewajiban, pengukuran kewajiban, dan penyajian dan pengungkapan
kewajiban. Modul ini juga memuat contoh-contoh untuk memperjelas

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 09 1


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

uraian/pragraf yang ada dalam SAP. Pada bagian akhir disajikan kasus yang
terkait dengan akuntansi kewajiban.

D. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran dalam pelatihan ini dilakukan dengan cara
pemaparan teori oleh fasilitator dengan menggunakan media transparansi yang
diikuti dengan tanya jawab serta diskusi soal-soal latihan dan contoh kasus yang
bertalian dengan Akuntasi kewajiban. Keberhasilan pembelajaran ini juga sangat
tergantung pada partisipasi aktif dari para peserta pelatihan di dalam aktivitas
diskusi, latihan dan tanya jawab.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 09 2


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB II
DEFINISI DAN KLASIFIKASI

A. Pengertian Kewajiban
Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang
penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi
pemerintah. Dalam konteks pemerintahan, kewajiban muncul antara lain karena
penggunaan sumber pembiayaan yang berasal dari pinjaman. Pinjaman tersebut
dapat berasal dari masyarakat, lembaga keuangan, pemerintah lain, atau
lembaga internasional. Kewajiban pemerintah juga terjadi karena perikatan
dengan pegawai yang bekerja pada pemerintah, kewajiban kepada masyarakat
luas yaitu kewajiban tunjangan, kompensasi, ganti rugi, alokasi/realokasi
pendapatan ke entitas lainnya, atau kewajiban dengan pemberi jasa lain.
Kewajiban pemerintah dapat juga timbul dari pengadaan barang dan jasa dari
pihak ketiga yang belum dibayar pemerintah pada akhir tahun anggaran.
Sebagai contoh Pemerintah daerah membangun gedung untuk kantor
yang dikerjakan oleh PT ABC. Pembangunan tersebut telah selesai. Sampai
akhir akhir tahun anggaran pemerintah daerah tersebut belum melakukan
pembayaran. Pemerintah daerah harus mencatat kewajiban tersebut di neraca
sebesar utang yang belum dibayar.
Disamping kewajiban-kewajiban di atas, ada juga kewajiban-kewajiban
yang jumlah dan waktu pembayarannya belum pastiyang disebut kewajiban
kontinjensi. Kewajiban kontinjensi adalah kewajiban potensial yang timbul dari
peristiwa masa lalu dan keberadaannya menjadi pasti dengan terjadinya atau
tidak terjadinya suatu peristiwa atau lebih pada masa datang yang tidak
sepenuhnya berada dalam kendali suatu entitas. Misalnya Pemerintah
memberikan penjaminan atas tabungan masyarakat di lembaga perbankan,
informasi ini diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.

Untuk memahami akuntansi kewajiban, perlu diketahui beberapa definisi di


bawah ini:
Perhitungan Fihak Ketiga, selanjutnya disebut PFK, merupakan utang
pemerintah kepada pihak lain yang disebabkan kedudukan pemerintah sebagai
pemotong pajak atau pungutan lainnya, seperti Pajak Penghasilan (PPh), Pajak
Pertambahan Nilai (PPN), iuran Askes, Taspen, dan Taperum.
Premium adalah jumlah selisih lebih antara nilai kini kewajiban (present value)
dengan nilai jatuh tempo kewajiban (maturity value) karena tingkat bunga
nominal lebih tinggi dari tingkat bunga efektif.
Restrukturisasi Utang adalah kesepakatan antara kreditur dan debitur untuk
memodifikasi syarat-syarat perjanjian utang dengan atau tanpa pengurangan
jumlah utang, dalam bentuk:
Pembiayaan kembali yaitu mengganti utang lama termasuk tunggakan
dengan utang baru; atau

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 09 3


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Penjadwalan ulang atau modifikasi persyaratan utang yaitu mengubah


persyaratan dan kondisi kontrak perjanjian yang ada. Penjadwalan utang dapat
berbentuk Perubahan jadwal pembayaran, Penambahan masa tenggang, atau
menjadwalkan kembali rencana pembayaran pokok dan bunga yang jatuh tempo
dan/atau tertunggak.
Sekuritas utang pemerintah adalah surat berharga berupa surat pengakuan
utang oleh pemerintah yang dapat diperjualbelikan dan mempunyai nilai jatuh
tempo atau nilai pelunasan pada saat diterbitkan, misalnya Surat Utang Negara
(SUN).
Surat Perbendaharaan Negara adalah Surat Utang Negara yang berjangka
waktu sampai dengan 12 (dua belas) bulan dengan pembayaran bunga secara
diskonto.
Surat Utang Negara adalah surat berharga yang berupa surat pengakuan
utang dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran
pokok utang dan bunganya oleh Negara Republik Indonesia, sesuai dengan
masa berlakunya.

B. Klasifikasi Kewajiban
Kewajiban pemerintah diklasifikasikan menjadi dua, yaitu kewajiban
jangka pendek dan kewajiban jangka panjang.

1. Kewajiban Jangka Pendek


Kewajiban jangka pendek merupakan kewajiban yang diharapkan dibayar dalam
waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan. Beberapa kewajiban
jangka pendek, seperti utang transfer pemerintah atau utang kepada pegawai
merupakan suatu bagian yang akan menyerap aset lancar dalam tahun
pelaporan berikutnya. Kewajiban jangka pendek lainnya. Misalnya bunga
pinjaman, utang jangka pendek dari pihak ketiga, utang Perhitungan Fihak
Ketiga (PFK), dan bagian lancar utang jangka panjang.

2. Kewajiban Jangka Panjang


Kewajiban jangka panjang merupakan kewajiban yang jatuh tempo lebih dari 12
bulan. Jika pada akhir periode akuntansi, pemerintah mempunyai utang jangka
panjang, maka pemerintah harus melakukan reklasifikasi kewajiban tersebut ke
kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang.
Contoh: pada 1 Juli 2005, Pemerintah Kota Pandang Tak Jemu mempunyai
utang jangka panjang sebesar Rp 10.000.000 yang harus diangsur setiap tahun
sebesar 1.000.000, Pemerintah Kota Pandang Tak Jemu harus melakukan
reklasifikasi atas kewajiban tersebut menjadi Kewajiban Jangka Pendek pada
akhir tahun 2005 sebesar Rp 1.000.000, sehingga Kewajiban Jangka panjang
akan disajikan di neraca sebesar Rp 9.000.000.
Dalam hal terjadi kesulitan likuiditas pemerintah dapat melakukan
restrukturisasi atau pendanaan kembali terhadap utang-utangnya yang akan
jatuh tempo. Apabila hal ini terjadi, entitas pelaporan dapat memasukkan

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 09 4


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

kewajiban jatuh temponya dalam waktu 12 bulan setelah tanggal pelaporan ke


dalam klasifikasi kewajiban jangka panjang, jika:
(a) jangka waktu aslinya adalah untuk periode lebih dari 12 (dua belas) bulan;
dan
(b) entitas bermaksud untuk mendanai kembali (refinance) kewajiban tersebut
atas dasar jangka panjang; dan
(c) maksud tersebut didukung dengan adanya suatu perjanjian pendanaan
kembali (refinancing), atau adanya penjadwalan kembali terhadap
pembayaran, yang diselesaikan sebelum laporan keuangan disetujui.
Jumlah kewajiban yang dikeluarkan dari kewajiban jangka pendek menjadi
kewajiban jangka panjang seperti yang disebutkan di atas diungkapkan dalam
Catatan atas Laporan Keuangan.
Beberapa kewajiban yang jatuh tempo untuk dilunasi pada tahun
berikutnya mungkin diharapkan dapat didanai kembali (refinancing) atau
digulirkan (roll over) oleh entitas pelaporan. Kewajiban yang demikian
dipertimbangkan untuk menjadi suatu bagian dari pembiayaan jangka panjang
dan diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang. Namun dalam situasi di
mana kebijakan pendanaan kembali tidak berada pada otoritas entitas, maka
kewajiban ini diklasifikasikan sebagai pos jangka pendek, kecuali penyelesaian
atas perjanjian pendanaan kembali sebelum persetujuan laporan keuangan
membuktikan bahwa substansi kewajiban pada tanggal pelaporan adalah jangka
panjang.
Beberapa perjanjian pinjaman menyertakan persyaratan tertentu
(covenant) yang menyebabkan kewajiban jangka panjang menjadi kewajiban
jangka pendek (payable on demand) jika persyaratan tertentu yang terkait
dengan posisi keuangan peminjam dilanggar. Dalam keadaan demikian,
kewajiban dapat diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang hanya jika:
(a) pemberi pinjaman telah menyetujui untuk tidak meminta pelunasan
sebagai konsekuensi adanya pelanggaran, dan
(b) terdapat jaminan bahwa tidak akan terjadi pelanggaran berikutnya dalam
waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan.
Sebagai contoh, Pemkot XYZ meminjam uang dari lembaga asing, sebesar Rp
500 milyar untuk program pembangunan listrik daerah, dengan ketentuan
bahwa pinjaman ini tidak dapat digunakan untuk membiayai program lain. Kalau
pinjaman ini tidak dapat digunakan untuk program tersebut harus dikembalikan.
Pinjaman ini telah ditarik pada tahun 2003. Pinjaman ini akan dibayar secara
angsuran selama 20 tahun mulai tahun 2008. Sampai dengan tahun 2006
ternyata program tersebut macet, dan tidak dapat dilanjutkan. Oleh karena
pinjaman ini harus disajikan sebagai kewajiban jangka pendek.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 09 5


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB III
PENGAKUAN DAN PENGUKURAN KEWAJIBAN

A. Pengakuan
Kewajiban pemerintah diakui jika besar kemungkinan pengeluaran sumber
daya ekonomi akan dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban yang ada sampai
saat ini, dan kewajiban tersebut dapat diukur dengan andal.
Prasyarat peristiwa masa lalu sangat penting dalam pengakuan
kewajiban. Peristiwa tersebut menimbulkan suatu konsekuensi keuangan
terhadap suatu entitas. Peristiwa yang dimaksud mungkin dapat berupa suatu
kejadian internal dalam entitas seperti timbul kewajiban kepada pegawai
organisasi pemerintah akibat pemerintah belum membayar tunjangan pegawai,
ataupun dapat berupa kejadian eksternal yang melibatkan interaksi antara suatu
entitas dengan lingkungannya seperti adanya transaksi dengan entitas lain.
Kewajiban diakui pada saat dana pinjaman diterima dan/atau pada saat
kewajiban timbul. Kewajiban dapat timbul dari:
(a) transaksi pertukaran (exchange transactions);
(b) transaksi tanpa pertukaran (non-exchange transactions), dimana
pemerintah belum melaksanakan kewajibannya sampai akhir periode
akuntansi;
(c) kejadian yang berkaitan dengan pemerintah (government-related events);
dan
(d) kejadian yang diakui pemerintah (government-acknowledged events).
Suatu transaksi dengan pertukaran timbul ketika masing-masing pihak
dalam transaksi tersebut mengorbankan dan menerima suatu nilai sebagai
gantinya. Terdapat dua arus timbal balik atas sumber daya atau janji untuk
menyediakan sumber daya. Dalam transaksi dengan pertukaran, kewajiban
diakui ketika satu pihak menerima barang atau jasa sebagai gantinya
pemerintah berjanji untuk memberikan uang atau sumber daya lain di masa
depan.

Contoh kewajiban yang timbul dari transaksi dengan pertukaran.


Pada tanggal 10 Oktober 2005, Pemkot Bandung melakukan pengadaan
personal computer (PC) dengan PT Smart Teknik dengan nilai Rp 60.000.000.
Pemkot Bandung dan PT Smart Teknik sepakat untuk pembayaran komputer
tersebut dilakukan pada 1 Matret 2006.
Atas transaksi tersebut, Pemkot Bandung akan mencatat dan melaporkan di
neracanya kewajiban jangka pendek sebesar Rp 60.000.000 pada tanggal 10
Oktober 2005, ketika komputer tersebut diterima.

Suatu transaksi tanpa pertukaran timbul ketika satu pihak dalam suatu
transaksi menerima nilai tanpa secara langsung memberikan atau menjanjikan

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 09 6


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

nilai sebagai gantinya. Hanya ada satu arah arus sumber daya atau janji. Untuk
transaksi tanpa pertukaran, kewajiban harus diakui atas jumlah terutang yang
belum dibayar pada tanggal pelaporan.
Beberapa jenis hibah dan program bantuan umum dan khusus kepada
entitas pelaporan lainnya merupakan transaksi tanpa pertukaran. Ketika
pemerintah pusat membuat program pemindahan kepemilikan atau memberikan
hibah atau mengalokasikan dananya ke pemerintah daerah, persyaratan
pembayaran ditentukan oleh peraturan dan hukum yang ada dan bukan melalui
transaksi dengan pertukaran.
Terdapat kewajiban pemerintah yang timbul bukan didasarkan pada
transaksi namun berdasarkan adanya interaksi antara pemerintah dan
lingkungannya. Kejadian tersebut mungkin berada di luar kendali pemerintah.
Pengakuan kewajiban yang timbul dari kejadian tersebut sama dengan
kewajiban yang timbul dari transaksi dengan pertukaran.

Contoh:
Pada saat pemerintah melaksanakan suatu kegiatan secara tidak sengaja
menyebabkan kerusakan pada kepemilikan pribadi maka kejadian tersebut
menciptakan kewajiban. Kewajiban tersebut dapat dilaporkan di neraca
sepanjang hukum yang berlaku memungkinkan bahwa pemerintah akan
membayar kerusakan dan sepanjang jumlah pembayarannya dapat diestimasi
dengan andal.

Kejadian-kejadian tertentu dapat mengakibatkan timbulnya kewajiban


pemerintah. Hal ini terjadi karena pemerintah memutuskan untuk bertanggung
jawab terhadap suatu kejadian bencana alam. Biaya-biaya tersebut dapat
memenuhi definisi kewajiban jika pemerintah secara formal mengakuinya
sebagai tanggung jawab keuangan pemerintah, baik biaya yang timbul dari
transaksi dengan pertukaran atau tanpa pertukaran.
Sebagai contoh dalam kasus bencana alam di DIY, bagi setiap keluarga yang
rumahnya roboh akan diberikan ganti rugi Rp 30 juta. Apabila sudah
dicantumkan dalam peraturan (surat ketetapan) yang sah, tetapi belum dibayar
Pemerintah dapat mengakui kewajiban dan biaya untuk kondisi di atas jika
memenuhi dua kriteria berikut: (1) DPR/DPRD telah menyetujui atau
mengotorisasi sumber daya yang akan digunakan, (2) transaksi dengan
pertukaran timbul (misalnya saat kontraktor melakukan perbaikan) atau jumlah
transaksi tanpa pertukaran belum dibayar pada tanggal pelaporan (misalnya
pembayaran langsung ke korban bencana).

B.Pengukuran Kewajiban
Kewajiban dicatat sebesar nilai nominal. Kewajiban dalam mata uang
asing dijabarkan dan dinyatakan dalam mata uang rupiah. Penjabaran mata
uang asing menggunakan kurs tengah bank sentral pada tanggal neraca.
Nilai nominal atas kewajiban mencerminkan nilai kewajiban pemerintah
pada saat pertama kali transaksi berlangsung seperti nilai yang tertera pada
lembar surat utang pemerintah. Aliran ekonomi setelahnya, seperti transaksi

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 09 7


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

pembayaran, perubahan penilaian dikarenakan perubahan kurs valuta asing, dan


perubahan lainnya selain perubahan nilai pasar, diperhitungkan dengan
menyesuaikan nilai tercatat kewajiban tersebut.
Penggunaan nilai nominal dalam menilai kewajiban mengikuti karakteristik
dari masing-masing pos.

Utang kepada Pihak Ketiga (Account Payable)


Terhadap barang/jasa yang telah diterima pemerintah dan belum dibayar,
termasuk barang dalam perjalanan yang telah menjadi haknya, pemerintah
mengakui kewajiban tersebut sebagai utang di neraca.

Contoh: Kontraktor membangun fasilitas atau peralatan sesuai dengan


spesifikasi yang ada pada kontrak perjanjian dengan pemerintah. Kontraktor
tersebut sudah menyelesaikan porsi pekerjaan tahap I dan telah menyerahkan
kepada pemerintah. Jumlah tagihan termin I tersebut sampai akhir tahun belum
dibayar. Oleh karena itu, jumlah tersebut merupakan utang yang harus disajikan
di neraca.

Apabila dalam jumlah kewajiban terdapat utang yang disebabkan adanya


transaksi antar unit pemerintahan, penyajiannya harus dipisahkan dari
kewajiban kepada unit nonpemerintahan.

Utang Bunga (Accrued Interest)


Utang bunga pinjaman pemerintah dicatat sebesar biaya bunga yang telah
terjadi dan belum dibayar. Bunga dimaksud dapat berasal dari utang pemerintah
baik dari dalam maupun luar negeri. Utang bunga pinjaman pemerintah yang
belum dibayar harus diakui pada setiap akhir periode pelaporan sebagai bagian
dari kewajiban jangka pendek.
Pengukuran dan penyajian utang bunga di atas juga berlaku untuk sekuritas
pemerintah yang diterbitkan pemerintah pusat dalam bentuk Surat Utang
Negara (SUN) dan yang diterbitkan oleh pemerintah daerah (provinsi, kota, dan
kabupaten) dalam bentuk dan substansi yang sama dengan SUN.
Utang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK)
Pada akhir periode pelaporan, saldo pungutan/potongan untuk PFK yang belum
disetorkan kepada yang berhak harus disajikan sebagai utang di neraca sebesar
jumlah yang masih harus disetorkan.
Jumlah pungutan/potongan PFK yang dilakukan pemerintah harus diserahkan
kepada pihak lain sejumlah yang sama dengan jumlah yang dipungut/dipotong.
Pada akhir periode pelaporan biasanya masih terdapat saldo pungutan/potongan
yang belum disetorkan kepada pihak lain. Jumlah saldo pungutan/potongan
tersebut harus disajikan di neraca sebesar jumlah yang masih harus disetorkan
sebagai utang PFK.
Contoh: Pada Tahun 2006, Pemprov Maluku memungut iuran Askes, tabungan
perumahan, Pajak Penghasilan atas Gaji dari pegawai pemerintah provinsi
tersebut sebesar Rp 10 juta. Pada 31 Desember 2006, diketahui jumlah
Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 09 8
Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

pungutan yang telah disetor ke PT Askes, Perum Perumnas dan Kantor


Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) adalah sebesar Rp 8 juta.

Atas transaksi tersebut, Pemprov Maluku seharusnya menyetor jumlah PFK


(iuran Askes, Tabungan Perumahan dan Pajak Penghasilan) sebesar yang
dipungut yaitu Rp 10 Juta. Tetapi pemda tersebut baru menyetor hanya sebesar
Rp 8 juta, oleh sebab itu Pemprov Maluku harus mencatat Hutang PFK di Neraca
Per 31 Desember 2006 sebesar Rp 2 Juta.

Bagian Lancar Utang Jangka Panjang


Nilai yang dicantumkan dalam laporan keuangan untuk bagian lancar utang
jangka panjang adalah jumlah yang akan jatuh tempo dalam waktu 12 (dua
belas) bulan setelah tanggal pelaporan. Contohnya Pinjaman obligasi yang jatuh
tempo tahun yang akan datang sebesar Rp 1 Milyar disajikan sebesar nilai
nominal.

Kewajiban Lancar Lainnya (Other Current Liabilities)


Kewajiban lancar lainnya merupakan kewajiban lancar yang tidak termasuk
dalam kategori utang jangka pendek di atas. Termasuk dalam kewajiban lancar
lainnya tersebut adalah biaya yang masih harus dibayar pada saat laporan
keuangan disusun. Pengukuran untuk masing-masing item disesuaikan dengan
karakteristik masing-masing pos tersebut, misalnya utang gaji kepada pegawai
dinilai berdasarkan jumlah gaji yang masih harus dibayar atas jasa yang telah
diserahkan oleh pegawai tersebut.

Utang Pemerintah yang tidak Diperjualbelikan dan yang


Diperjualbelikan
Penilaian utang pemerintah disesuaikan dengan karakteristik utang tersebut
yang dapat berbentuk:
Utang Pemerintah yang tidak diperjualbelikan (Non-traded Debt)
Utang Pemerintah yang diperjualbelikan (Traded Debt)

Utang Pemerintah yang tidak Diperjualbelikan (Non-Traded Debt)


Nilai nominal atas utang pemerintah yang tidak diperjualbelikan (non-traded
debt) merupakan kewajiban entitas kepada pemberi utang sebesar pokok utang
dan bunga sesuai yang diatur dalam kontrak perjanjian dan belum diselesaikan
pada tanggal pelaporan.
Contoh dari utang pemerintah yang tidak dapat diperjualbelikan adalah
pinjaman bilateral, multilateral, dan lembaga keuangan international seperti IMF,
World Bank, ADB dan lainnya. Bentuk hukum dari pinjaman ini biasanya dalam
bentuk perjanjian pinjaman (loan agreement).
Untuk utang pemerintah dengan tarif bunga tetap, penilaian dapat
menggunakan skedul pembayaran (payment schedule) menggunakan tarif
bunga tetap. Untuk utang pemerintah dengan tarif bunga variabel, misalnya tarif
bunga dihubungkan dengan satu instrumen keuangan atau dengan satu indeks
lainnya, penilaian utang pemerintah menggunakan prinsip yang sama dengan

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 09 9


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

tarif bunga tetap, kecuali tarif bunganya diestimasikan secara wajar berdasarkan
data sebelumnya dan observasi atas instrumen keuangan yang ada.

Utang Pemerintah yang Diperjualbelikan (Traded Debt)


Akuntansi untuk utang pemerintah dalam bentuk yang dapat diperjualbelikan,
misalnya obligasi atau Surat Utang Negara seharusnya dapat mengidentifikasi
jumlah sisa kewajiban dari pemerintah pada suatu waktu tertentu beserta
bunganya untuk suatu periode akuntansi. Untuk penilaian surat utang ini perlu
data hasil penjualan, dan nilai pada saat jatuh tempo atas jumlah yang akan
dibayarkan kepada pemegangnya.
Utang pemerintah yang dapat diperjualbelikan biasanya dalam bentuk sekuritas
utang pemerintah (government debt securities) yang dapat memuat ketentuan
mengenai nilai utang pada saat jatuh tempo.
Jenis surat utang pemerintah ini dinilai sebesar nilai pari (original face value)
dengan memperhitungkan diskonto atau premium yang belum diamortisasi.
Surat utang pemerintah yang dijual sebesar nilai pari (face) tanpa diskonto
ataupun premium harus dinilai sebesar nilai pari (face). Surat utang yang dijual
dengan diskonto akan bertambah nilainya selama periode penjualan dan jatuh
tempo; sedangkan surat utang yang dijual dengan harga premium nilainya akan
berkurang.
Amortisasi atas diskonto atau premium dapat menggunakan metode garis lurus.
Sebagai contoh : Pemerintah menerbitkan obligasi retail seri 001 sebanyak
1.000.000 lembar dengan nilai nominal Rp 1.000.000 per lembar. Pada tanggal
2 Januari 2006 hasil penjualan bersih obligasi ini adalah Rp 1.100.000.000.000
Obligasi ini jatuh tempo 2 Januari 2011. Metode amortisasi yang digunakan
adalah garis lurus.
Nilai obligasi yang disajikan di neraca per 31 Desember 2006 adalah:
Nilai Nominal Rp 1.000.000.000.000
Premium
Rp 100.000.000.000-(1/5X100.000.000000) = Rp (20.000.000.000)
= Rp 1.080.000.000.000

Perubahan Valuta Asing


Utang pemerintah dalam mata uang asing dicatat dengan menggunakan kurs
tengah bank sentral saat terjadinya transaksi. Kurs tunai yang berlaku pada
tanggal transaksi sering disebut kurs spot (spot rate). Untuk alasan praktis,
suatu kurs yang mendekati kurs tanggal transaksi sering digunakan, misalnya
rata-rata kurs tengah bank sentral selama seminggu atau sebulan digunakan
untuk seluruh transaksi pada periode tersebut. Namun, jika kurs berfluktuasi
secara signifikan, penggunaan kurs rata-rata untuk suatu periode tidak dapat
diandalkan.
Pada setiap tanggal neraca pos kewajiban moneter dalam mata uang asing
dilaporkan ke dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tengah bank
sentral pada tanggal neraca. Selisih penjabaran pos kewajiban moneter dalam
Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 09 10
Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

mata uang asing antara tanggal transaksi dan tanggal neraca dicatat sebagai
kenaikan atau penurunan ekuitas dana periode berjalan.
Konsekuensi atas pencatatan dan pelaporan kewajiban dalam mata uang asing
akan mempengaruhi pos pada Neraca untuk kewajiban yang berhubungan dan
ekuitas dana pada entitas pelaporan.
Apabila suatu transaksi dalam mata uang asing timbul dan diselesaikan dalam
periode yang sama, maka seluruh selisih kurs tersebut diakui pada periode
tersebut. Namun jika timbul dan diselesaikannya suatu transaksi berada dalam
beberapa periode akuntansi yang berbeda, maka selisih kurs harus diakui untuk
setiap periode akuntansi dengan memperhitungkan perubahan kurs untuk
masing-masing periode.
Contoh:
Utang dalam US $ 1.000 equivalen dengan Rp 10.000.000 tercatat di buku
besar. Pada tanggal 31 Desember 2005 kurs tengah BI untuk US $ 1 adalah Rp
9.200,- Penyajian di neraca adalah Rp 9.200.000. ( US $ 1.000 X Rp 9.200)

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 09 11


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB III
PENYELESAIAN KEWAJIBAN SEBELUM JATUH TEMPO

Untuk sekuritas utang pemerintah yang diselesaikan sebelum jatuh tempo


karena adanya fitur untuk ditarik oleh penerbit dari sekuritas tersebut atau
karena memenuhi persyaratan untuk penyelesaian oleh permintaan
pemegangnya maka perbedaan antara harga perolehan kembali dan nilai
tercatat netonya harus diungkapkan pada Catatan atas Laporan Keuangan
sebagai bagian dari pos kewajiban yang berkaitan.
Apabila harga perolehan kembali adalah sama dengan nilai tercatat
(carrying value) maka penyelesaian kewajiban sebelum jatuh tempo dianggap
sebagai penyelesaian utang secara normal, yaitu dengan menyesuaikan jumlah
kewajiban dan ekuitas dana yang berhubungan. Apabila harga perolehan
kembali tidak sama dengan nilai tercatat (carrying value) maka, selain
penyesuaian jumlah kewajiban dan ekuitas dana yang terkait, jumlah perbedaan
yang ada juga diungkapkan pada Catatan atas Laporan Keuangan.

A. Tunggakan
Jumlah tunggakan atas pinjaman pemerintah harus disajikan dalam
bentuk Daftar Umur (aging schedule) Kreditur pada Catatan atas Laporan
Keuangan sebagai bagian pengungkapan kewajiban.
Tunggakan didefinisikan sebagai jumlah tagihan yang telah jatuh tempo
namun pemerintah tidak mampu untuk membayar jumlah pokok dan/atau
bunganya sesuai jadwal. Beberapa jenis utang pemerintah mungkin jatuh tempo
sesuai jadwal pada satu tanggal yang mengharuskan debitur untuk melakukan
pembayaran kewajiban kepada kreditur.
Praktik akuntansi biasanya tidak memisahkan jumlah tunggakan dari
jumlah utang yang terkait dalam lembar muka (face) laporan keuangan. Namun
informasi tunggakan pemerintah menjadi salah satu informasi yang menarik
perhatian pembaca laporan keuangan sebagai bahan analisis kebijakan dan
solvabilitas satu entitas.
Untuk keperluan tersebut, informasi tunggakan harus diungkapkan dalam
Catatan atas Laporan Keuangan dalam bentuk Daftar Umur Utang.

B. Restrukturisasi Utang
Dalam restrukturisasi utang melalui modifikasi persyaratan utang, debitur
harus mencatat dampak restrukturisasi secara prospektif sejak saat
restrukturisasi dilaksanakan dan tidak boleh mengubah nilai tercatat utang pada
saat restrukturisasi kecuali jika nilai tercatat tersebut melebihi jumlah
pembayaran kas masa depan yang ditetapkan dengan persyaratan baru.
Informasi restrukturisasi ini harus diungkapkan pada Catatan atas Laporan
Keuangan sebagai bagian pengungkapan dari pos kewajiban yang terkait.
Jumlah bunga harus dihitung dengan menggunakan tingkat bunga efektif
konstan dikalikan dengan nilai tercatat utang pada awal setiap periode antara
Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 09 12
Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

saat restrukturisasi sampai dengan saat jatuh tempo. Tingkat bunga efektif yang
baru adalah sebesar tingkat diskonto yang dapat menyamakan nilai tunai jumlah
pembayaran kas masa depan sebagaimana ditetapkan dalam persyaratan baru
(tidak temasuk utang kontinjen) dengan nilai tercatat. Berdasarkan tingkat
bunga efektif yang baru akan dapat menghasilkan jadwal pembayaran yang
baru dimulai dari saat restrukturisasi sampai dengan jatuh tempo.
Informasi mengenai tingkat bunga efektif yang lama dan yang baru harus
disajikan pada Catatan atas Laporan Keuangan .
Jika jumlah pembayaran kas masa depan sebagaimana ditetapkan dalam
persyaratan baru utang termasuk pembayaran untuk bunga maupun untuk
pokok utang lebih rendah dari nilai tercatat, maka debitur harus mengurangi
nilai tercatat utang ke jumlah yang sama dengan jumlah pembayaran kas masa
depan sebagaimana yang ditentukan dalam persyaratan baru. Hal tersebut
harus diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan sebagai bagian
pengungkapan dari pos kewajiban yang berkaitan.
Suatu entitas tidak boleh mengubah nilai tercatat utang sebagai akibat
dari restrukturisasi utang yang menyangkut pembayaran kas masa depan yang
tidak dapat ditentukan, selama pembayaran kas masa depan maksimum tidak
melebihi nilai tercatat utang.
Jumlah bunga atau pokok utang menurut persyaratan baru dapat
merupakan kontinjen, tergantung peristiwa atau keadaan tertentu. Sebagai
contoh, debitur mungkin dituntut untuk membayar jumlah tertentu jika kondisi
keuangannya membaik sampai tingkat tertentu dalam periode tertentu. Untuk
menentukan jumlah tersebut maka harus mengikuti prinsip-prinsip yang diatur
pada akuntansi kontinjensi yang tidak diatur dalam pernyataan ini. Prinsip yang
sama berlaku untuk pembayaran kas masa depan yang seringkali harus
diestimasi.

C.Penghapusan Utang
Penghapusan utang adalah pembatalan secara sukarela tagihan oleh
kreditur kepada debitur, baik sebagian maupun seluruhnya, jumlah utang
debitur dalam bentuk perjanjian formal diantara keduanya. Atas penghapusan
utang mungkin diselesaikan oleh debitur ke kreditur melalui penyerahan aset
kas maupun nonkas dengan nilai utang di bawah nilai tercatatnya.
Jika penyelesaian satu utang yang nilai penyelesaiannya di bawah nilai
tercatatnya dilakukan dengan aset kas, maka ketentuan pada restrukturisasi
utang di pragaraf sebelumnya berlaku.
Jika penyelesaian suatu utang yang nilai penyelesaiannya di bawah nilai
tercatatnya dilakukan dengan aset nonkas maka entitas sebagai debitur harus
melakukan penilaian kembali atas aset nonkas dahulu ke nilai wajarnya dan
kemudian menerapkan ketentuan pada resktrusturisasi paragraf sebelumnya,
serta mengungkapkan pada Catatan atas Laporan Keuangan sebagai bagian
dari pos kewajiban dan aset nonkas yang berhubungan.
Informasi dalam Catatan atas Laporan Keuangan harus mengungkapkan
jumlah perbedaan yang timbul sebagai akibat restrukturisasi kewajiban tersebut
yang merupakan selisih lebih antara:
Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 09 13
Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Nilai tercatat utang yang diselesaikan (jumlah nominal dikurangi atau


ditambah dengan bunga terutang dan premi, diskonto, biaya keuangan atau
biaya penerbitan yang belum diamortisasi), dengan Nilai wajar aset yang
dialihkan ke kreditur.

D. Biaya-Biaya Yang Berhubungan Dengan Utang Pemerintah


Biaya-biaya yang berhubungan dengan utang pemerintah adalah biaya
bunga dan biaya lainnya yang timbul dalam kaitan dengan peminjaman dana.
Biaya-biaya dimaksud meliputi:
(a) Bunga atas penggunaan dana pinjaman, baik pinjaman jangka pendek
maupun jangka panjang;
(b) Amortisasi diskonto atau premium yang terkait dengan pinjaman,
(c) Amortisasi biaya yang terkait dengan perolehan pinjaman seperti biaya
konsultan, ahli hukum, commitment fee, dan sebagainya .
(d) Perbedaan nilai tukar pada pinjaman dengan mata uang asing sejauh hal
tersebut diperlakukan sebagai penyesuaian atas biaya bunga.
Biaya pinjaman yang secara langsung dapat diatribusikan dengan
perolehan atau produksi suatu aset tertentu (qualifying asset) harus
dikapitalisasi sebagai bagian dari biaya perolehan aset tertentu tersebut.
Apabila bunga pinjaman dapat diatribusikan secara langsung dengan aset
tertentu, maka biaya pinjaman tersebut harus dikapitalisasi terhadap aset
tertentu tersebut. Apabila biaya pinjaman terebut tidak dapat diatribusikan
secara langsung dengan aset tertentu, maka kapitalisasi biaya pinjaman
ditentukan berdasarkan penjelasan pada paragraf dibawah ini.
Dalam keadaan tertentu sulit untuk mengidentifikasikan adanya hubungan
langsung antara pinjaman tertentu dengan perolehan suatu aset tertentu dan
untuk menentukan bahwa pinjaman tertentu tidak perlu ada apabila perolehan
aset tertentu tidak terjadi. Misalnya, apabila terjadi sentralisasi pendanaan lebih
dari satu kegiatan/proyek pemerintah. Kesulitan juga dapat terjadi bila suatu
entitas menggunakan beberapa jenis sumber pembiayaan dengan tingkat bunga
yang berbeda-beda. Dalam hal ini, sulit untuk menentukan jumlah biaya
pinjaman yang dapat secara langsung diatribusikan, sehingga diperlukan
pertimbangan profesional (professional judgement) untuk menentukan hal
tersebut.
Apabila suatu dana dari pinjaman yang tidak secara khusus digunakan
untuk perolehan aset maka biaya pinjaman yang harus dikapitalisasi ke aset
tertentu harus dihitung berdasarkan rata-rata tertimbang (weighted average)
atas akumulasi biaya seluruh aset tertentu yang berkaitan selama periode
pelaporan.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 09 14


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB IV
PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN

Utang pemerintah harus diungkapkan secara rinci dalam bentuk daftar


skedul utang untuk memberikan informasi yang lebih baik kepada pemakainya.
Untuk meningkatkan kegunaan analisis, informasi-informasi yang harus
disajikan dalam Catatan atas Laporan Keuangan adalah:
(a) Jumlah saldo kewajiban jangka pendek dan jangka panjang yang
diklasifikasikan berdasarkan pemberi pinjaman;
(b) Jumlah saldo kewajiban berupa utang pemerintah berdasarkan jenis
sekuritas utang pemerintah dan jatuh temponya;
(c) Bunga pinjaman yang terutang pada periode berjalan dan tingkat bunga
yang berlaku;
(d) Konsekuensi dilakukannya penyelesaian kewajiban sebelum jatuh tempo;
(e) Perjanjian restrukturisasi utang meliputi:
(1). Pengurangan pinjaman;
(2). Modifikasi persyaratan utang;
(3). Pengurangan tingkat bunga pinjaman;
(4). Pengunduran jatuh tempo pinjaman;
(5). Pengurangan nilai jatuh tempo pinjaman; dan
(6). Pengurangan jumlah bunga terutang sampai dengan periode
pelaporan.
(f) Jumlah tunggakan pinjaman yang disajikan dalam bentuk daftar umur
utang berdasarkan kreditur.
(g) Biaya pinjaman:
(1). Perlakuan biaya pinjaman;
(2). Jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi pada periode yang
bersangkutan; dan
(3). Tingkat kapitalisasi yang dipergunakan.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 09 15


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

SOAL LATIHAN

Pemerintah Kabupaten Tak Jera Berutang mengadakan suatu kontrak konstruksi


dengan PT Pembangunan Cakrawala pada tahun 2005 dengan nilai kontrak
Rp1.000.000.000,00 dan diperkirakan akan diselesaikan pembangunannya pada
31 November 2005 dengan melalui 5 termijn pembayaran. Pada tanggal 31
November 2005 ternyata pembangunan telah selesai dan aset tetap telah
diserahterimakan, tetapi dikarenakan sesuatu hal, pemerintah Kabupaten Tak
Jera Berhutang tidak bisa membayar tagihan PT Pembangunan Cakrawala. Pada
31 Desember 2005 dicapai kesepakatan antara Pemerintah Kabupaten Tak Jera
Berutang dengan PT Pembangunan Cakrawala, dimana Pemda dapat mencicil
pembayaran hutang tersebut selama 5 tahun mulai tahun 2006.
(1). Dari transaksi diatas, Apakah pemda mengakui adanya kewajiban, jika ya,
kapan diakui kewajiban tersebut?
(2). Bagaimana Perlakuan Akuntansi kewajiban pada akhir periode akuntansi
(31 Desember 2005) termasuk jurnalnya.
(3). Bagaimana Perlakuan Akuntansi Kewajiban pada awal Periode Akuntansi (1
Januari 2006) termasuk jurnalnya.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 09 16


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

DAFTAR BACAAN

1. UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara;


2. UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara;
3. UU No. 15/2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara;
4. UU No. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
5. UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah;
6. UU No. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat
dan Pemerintahan Daerah;
7. PP No. 23/2005 tentang Pengelolaan Keuangan BLU;
8. PP No. 24/2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan;
9. PP No. 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
10. PP No. 8/2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi
Pemerintah.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 09 17


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Modul Akuntansi Konstruksi dalam Pengerjaan ini disusun untuk


memudahkan pemahaman terhadap Pernyataan Standar Akuntansi
Pemerintahan Nomor 08 Akuntansi Konstruksi dalam Pengerjaan. Modul ini
disusun sebagai bahan Pelatihan untuk Pelatih Standar Akuntansi Pemerintahan,
sehingga dengan mempelajari modul ini diharapkan dapat belajar mandiri (self
study) atas materi Akuntansi Konstruksi dalam Pengerjaan pada pemerintah
pusat maupun daerah. Modul ini menguraikan kembali paragraf-paragraf standar
maupun penjelasan disertai dengan contoh-contoh yang aplikatif sehingga
diharapkan dapat dijadikan rujukan dalam implementasi Standar Akuntansi
Pemerintahan yang berkaitan dengan Konstruksi dalam Pengerjaan.

B. Tujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran Umum:


Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta mampu:
1. Memahami Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)
2. Mampu mengimplementasikan SAP dalam menyusun dan menyajikan
Laporan Keuangan

Tujuan Pembelajaran Khusus:


Setelah mempelajari materi ini peserta mampu:
1. Memahami pengertian Konstruksi dalam Pengerjaan
2. Memahami pengakuan, penilaian, penyajian dan pengungkapan Konstruksi
dalam Pengerjaan
3. Menguasai teknis pencatatan aset tetap dalam penyajian laporan keuangan

C. Deskripsi Ringkas

Materi Modul PSAP 08 disusun sesuai dengan urutan paragraf standar


antara lain meliputi: pengertian Konstruksi dalam Pengerjaan, pengakuan
Konstruksi dalam Pengerjaan, dan pengukuran Konstruksi dalam Pengerjaan.
Kontrak konstruksi serta penyatuan dan segmentasi kontrak konstruksi juga
diilustrasikan dalam modul ini. Pada bagian akhir dijelaskan penyajian aset tetap
pada laporan keuangan dan pengungkapan pada catatan atas laporan keuangan.

D. Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran dalam pelatihan ini dilakukan dengan cara


pemaparan teori oleh fasilitator yang diikuti dengan tanya jawab serta diskusi
soal-soal latihan dan contoh kasus yang bertalian dengan akuntasi aset tetap.
Keberhasilan pembelajaran ini juga sangat tergantung pada partisipasi aktif dari
para peserta pelatihan di dalam aktivitas diskusi, latihan dan tanya jawab.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 08 - 1


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB II

DEFINISI KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN

A. Definisi Konstruksi Dalam Pengerjaan

Aset tetap pemerintah yang berupa gedung, bangunan, dan infrastruktur


pada umumnya diperoleh dengan cara pembangunan. Pembangunan ini dapat
dikerjakan oleh pihak ketiga (kontraktor) atau secara swakelola. Pembangunan
aset tetap ini pada umumnya dilakukan selama jangka waktu tertentu. Suatu
entitas akuntansi yang melaksanakan pembangunan aset tetap, baik untuk
dipakai dalam penyelenggaraan kegiatan pemerintahan dan/atau masyarakat,
baik pelaksanaan pembangunannya dilakukan secara swakelola atau oleh pihak
ketiga wajib menerapkan standar ini.

Konstruksi dalam pengerjaan adalah aset-aset yang sedang dalam proses


pembangunan. Pembangunan aset tersebut dapat dikerjakan sendiri (swakelola)
maupun dengan menggunakan jasa pihak ketiga melalui kontrak konstruksi.
Kontrak konstruksi adalah perikatan yang dilakukan secara khusus untuk
konstruksi suatu aset atau suatu kombinasi yang berhubungan erat satu sama
lain atau saling tergantung dalam hal rancangan, teknologi, dan fungsi atau
tujuan atau penggunaan utama.

Pihak ketiga yang melaksanakan pembangunan aset biasa disebut dengan


kontraktor. Kontraktor adalah suatu entitas yang mengadakan kontrak untuk
membangun aset atau memberikan jasa konstruksi untuk kepentingan entitas
lain sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan dalam kontrak konstruksi.

Konstruksi Dalam Pengerjaan mencakup tanah, peralatan dan mesin,


gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan, dan aset tetap lainnya yang
proses perolehannya dan/atau pembangunannya membutuhkan suatu periode
waktu tertentu dan belum selesai. Perolehan melalui kontrak konstruksi pada
umumnya memerlukan suatu periode waktu tertentu. Periode waktu perolehan
tersebut bisa kurang atau lebih dari satu periode akuntansi.

Perolehan aset dapat dilakukan dengan membangun sendiri (swakelola)


atau melalui pihak ketiga dengan kontrak konstruksi.

B. Kontrak Konstruksi

Kontrak konstruksi adalah perikatan yang dilakukan secara khusus untuk


konstruksi suatu aset atau suatu kombinasi aset yang berhubungan erat atau
saling tergantung satu sama lain dalam hal rancangan, teknologi, fungsi atau
tujuan, dan penggunaan utama. Kontrak seperti ini misalnya konstruksi jaringan
irigasi.
Kontrak konstruksi dapat meliputi:
(a) kontrak untuk perolehan jasa yang berhubungan langsung dengan
perencanaan konstruksi aset, seperti jasa arsitektur;
(b) kontrak untuk perolehan atau konstruksi aset;

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 08 - 2


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

(c) kontrak untuk perolehan jasa yang berhubungan langsung dengan


pengawasan konstruksi aset yang meliputi manajemen konstruksi dan
value engineering;
(d) kontrak untuk membongkar atau merestorasi aset dan restorasi
lingkungan.

C. Penyatuan Dan Segmentasi Kontrak Konstruksi

Suatu kontrak konstruksi dapat saja untuk perolehan satu jenis aset atau
mencakup sejumlah aset. Apabila suatu kontrak konstruksi mencakup perolehan
sejumlah aset, dimana komponen-komponen aset tersebut dapat
diidentifikasikan secara terpisah atau suatu kelompok aset secara bersama maka
untuk setiap komponen atau suatu kelompok aset tersebut dapat diperlakukan
sebagai suatu kontrak konstruksi.

Jika suatu kontrak konstruksi mencakup sejumlah aset, konstruksi dari


setiap aset diperlakukan sebagai suatu kontrak konstruksi yang terpisah apabila
semua syarat di bawah ini terpenuhi:
(a) Proposal terpisah telah diajukan untuk setiap aset;
(b) Setiap aset telah dinegosiasikan secara terpisah dan kontraktor serta
pemberi kerja dapat menerima atau menolak bagian kontrak yang
berhubungan dengan masing-masing aset tersebut;
(c) Biaya masing-masing aset dapat diidentifikasikan.

Suatu kontrak dapat berisi klausul yang memungkinkan konstruksi aset


tambahan atas permintaan pemberi kerja atau dapat diubah sehingga konstruksi
aset tambahan dapat dimasukkan ke dalam kontrak tersebut. Konstruksi
tambahan diperlakukan sebagai suatu kontrak konstruksi terpisah jika:
(a) aset tambahan tersebut berbeda secara signifikan dalam rancangan,
teknologi, atau fungsi dengan aset yang tercakup dalam kontrak semula;
atau
(b) harga aset tambahan tersebut ditetapkan tanpa memperhatikan harga
kontrak semula.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 08 - 3


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB III

PENGAKUAN KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN

Suatu benda berwujud harus diakui sebagai Konstruksi Dalam Pengerjaan


jika:
(a) besar kemungkinan bahwa manfaat ekonomi masa yang akan datang
berkaitan dengan aset tersebut akan diperoleh;
(b) biaya perolehan tersebut dapat diukur secara andal; dan
(c) aset tersebut masih dalam proses pengerjaan.

Konstruksi Dalam Pengerjaan diklasifikasikan sebagai aset tetap karena


biasanya merupakan aset yang dimaksudkan untuk digunakan dalam
operasional pemerintahan atau dimanfaatkan oleh masyarakat dalam jangka
panjang.

Penyelesaian suatu konstruksi pada umumnya membutuhkan waktu yang


relatif panjang dan menyerap dana yang relatif besar. Oleh karena itu
pembayaran untuk kontrak konstruksi biasanya dilakukan melalui
termin.Tagihan suatu termin dapat dilakukan jika suatu tahapan pekerjaan
sebagaimana diatur dalam kontrak konstruksi sudah selesai dikerjakan. Porsi
pekerjaan yang telah diselesaikan ini akan diserahkan kepada pemberi kerja (
pemerintah ) dan disiapkan dokumen berita acara serah terima pekerjaan.
Berdasarkan berita acara tersebut akan dilakukan pembayaran. Demikian
mekanisme yang akan terjadi pada termin-termin berikutnya sampai kontruksi
ini selesai dikerjakan. Setiap terjadi pembayaran akan diakui adanya
penambahan aset tetap berupa Konstruksi Dalam Pekerjaan. Pengakuan aset ini
dapat dilakukan melalui jurnal korolari.

Konstruksi Dalam Pengerjaan dipindahkan ke pos aset tetap yang


bersangkutan jika kriteria berikut ini terpenuhi:
(a) Konstruksi secara substansi telah selesai dikerjakan; dan
(b) Dapat memberikan manfaat/jasa sesuai dengan tujuan perolehan;

Suatu Konstruksi Dalam Pengerjaan dipindahkan ke aset tetap yang


bersangkutan setelah pekerjaan konstruksi tersebut dinyatakan selesai dan siap
digunakan sesuai dengan tujuan perolehannya.

Contoh:
Pada tanggal 10 Maret 2005 dilakukan pembayaran termin I pembangunan
Gedung dengan nilai Rp300.000.000. Jurnal untuk mencatat transaksi ini
adalah:

Uraian Debet Kredit

Belanja Modal Gedung dan Rp300.000.000


Bangunan
Kas di Kas Daerah Rp300.000.000
Konstruksi dalam Pengerjaan Rp300.000.000
Diinvestasikan dalam Aset Tetap Rp300.000.000

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 08 - 4


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Pada tanggal 30 Mei 2006 Gedung tersebut telah selesai dibangun dan telah
diserahterimakan. Total biaya yang telah dikeluarkan yang dapat dikapitalisasi
adalah Rp1.000.000.000. Transaksi ini dicatat dengan jurnal sebagai berikut:

Uraian Debet Kredit

Diinvestasikan dalam Aset Tetap Rp1.000.000.000


Konstruksi dalam Pengerjaan Rp1.000.000.000
Gedung dan Bangunan Rp1.000.000.000
Diinvestasikan dalam Aset Tetap Rp1.000.000.000

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 08 - 5


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB IV

PENGUKURAN KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN

Konstruksi Dalam Pengerjaan dicatat dengan biaya perolehan yang


meliputi biaya konstruksi dan biaya-biaya lain yang dapat diatribusikan langsung
ke dalam konstruksi sehubungan dengan pengerjaan pembangunan aset
dimaksud.

Biaya-biaya yang berhubungan langsung dengan suatu kegiatan


konstruksi antara lain meliputi:
(a) Biaya pekerja lapangan termasuk penyelia;
(b) Biaya bahan yang digunakan dalam konstruksi;
(c) Biaya pemindahan sarana, peralatan, dan bahan-bahan dari dan ke lokasi
pelaksanaan konstruksi;
(d) Biaya penyewaan sarana dan peralatan;
(e) Biaya rancangan dan bantuan teknis yang secara langsung berhubungan
dengan konstruksi.

Biaya-biaya yang dapat diatribusikan ke kegiatan konstruksi pada


umumnya dan dapat dialokasikan ke konstruksi tertentu meliputi:
(a) Asuransi;
(b) Biaya rancangan dan bantuan teknis yang tidak secara langsung
berhubungan dengan konstruksi tertentu;
(c) Biaya-biaya lain yang dapat diidentifikasikan untuk kegiatan konstruksi
yang bersangkutan seperti biaya inspeksi.

Biaya semacam itu dialokasikan dengan menggunakan metode yang


sistematis dan rasional dan diterapkan secara konsisten pada semua biaya yang
mempunyai karakteristik yang sama. Metode alokasi biaya yang dianjurkan
adalah metode rata-rata tertimbang atas dasar proporsi biaya langsung.

Apabila pembangunan dilaksanakan sendiri (swakelola) maka nilai


konstruksi antara lain meliputi:
(a) biaya yang berhubungan langsung dengan kegiatan konstruksi;
(b) biaya yang dapat diatribusikan pada kegiatan pada umumnya dan dapat
dialokasikan ke konstruksi tersebut; dan
(c) biaya lain yang secara khusus dibayarkan sehubungan konstruksi yang
bersangkutan.

Nilai konstruksi yang dikerjakan oleh kontraktor melalui kontrak


konstruksi meliputi:
(a) Termin yang telah dibayarkan kepada kontraktor sehubungan dengan
tingkat penyelesaian pekerjaan;
(b) Kewajiban yang masih harus dibayar kepada kontraktor berhubung dengan
pekerjaan yang telah diterima tetapi belum dibayar pada tanggal
pelaporan;
(c) Pembayaran klaim kepada kontraktor atau pihak ketiga sehubungan dengan
pelaksanaan kontrak konstruksi.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 08 - 6


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Dalam hal pelaksanaan pembangunan suatu aset yang besar atau sulit,
seringkali pekerjaan tersebut dilaksanakan oleh beberapa kontraktor. Dalam hal
ini pada umumnya ada yang bertindak sebagai kontraktor utama dan ada yang
menjadi subkontraktor. Oleh karena itu yang dimaksud dengan pembayaran
kepada kontraktor sebagaimana diuraikan terdahulu adalah mencakup
keduanya.
Pembayaran atas kontrak konstruksi pada umumnya dilakukan secara bertahap
(termin) berdasarkan tingkat penyelesaian yang ditetapkan dalam kontrak
konstruksi. Setiap pembayaran yang dilakukan dicatat sebagai penambah nilai
Konstruksi Dalam Pengerjaan.

Klaim dapat timbul, umpamanya, dari keterlambatan yang disebabkan


oleh pemberi kerja, kesalahan dalam spesifikasi atau rancangan dan perselisihan
penyimpangan dalam pengerjaan kontrak.

Jika konstruksi dibiayai dari pinjaman maka biaya pinjaman yang timbul
selama masa konstruksi dikapitalisasi dan menambah biaya konstruksi,
sepanjang biaya tersebut dapat diidentifikasikan dan ditetapkan secara andal.
Biaya pinjaman mencakup biaya bunga dan biaya lainnya yang timbul
sehubungan dengan pinjaman yang digunakan untuk membiayai konstruksi.
Jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi tidak boleh melebihi jumlah biaya
bunga yang dibayarkan pada periode yang bersangkutan.

Apabila pinjaman digunakan untuk membiayai beberapa jenis aset yang


diperoleh dalam suatu periode tertentu, biaya pinjaman periode yang
bersangkutan dialokasikan ke masing-masing konstruksi dengan metode rata-
rata tertimbang atas total pengeluaran biaya konstruksi. Apabila kegiatan
pembangunan konstruksi dihentikan sementara tidak disebabkan oleh hal-hal
yang bersifat force majeur maka biaya pinjaman yang dibayarkan selama masa
pemberhentian sementara pembangunan konstruksi dikapitalisasi.

Pemberhentian sementara`pekerjaan kontrak konstruksi dapat terjadi


karena beberapa hal, seperti kondisi force majeur atau adanya campur tangan
dari pemberi kerja atau pihak yang berwenang karena berbagai hal. Jika
pemberhentian tarsebut dikarenakan adanya campur tangan dari pemberi kerja
atau pihak yang berwenang, biaya pinjaman selama pemberhentian sementara
dikapitalisasi. Sebaliknya jika pemberhentian sementara karena kondisi force
majeur, biaya pinjaman tidak dikapitalisasi tetapi dicatat sebagai biaya bunga
pada periode yang bersangkutan.
Kontrak konstruksi yang mencakup beberapa jenis pekerjaan yang
penyelesaiannya jatuh pada waktu yang berbeda-beda, maka jenis pekerjaan
yang sudah selesai tidak diperhitungkan biaya pinjaman. Biaya pinjaman hanya
dikapitalisasi untuk jenis pekerjaan yang masih dalam proses pengerjaan.

Suatu kontrak konstruksi dapat mencakup beberapa jenis aset yang


masing-masing dapat diidentifikasi sebagaimana dimaksud dalam paragraf 12.
Jika jenis-jenis pekerjaan tersebut diselesaikan pada titik waktu yang berlainan
maka biaya pinjaman yang dikapitalisasi hanya biaya pinjaman untuk bagian
kontrak konstruksi atau jenis pekerjaan yang belum selesai. Bagian pekerjaan
yang telah diselesaikan tidak diperhitungkan lagi biaya pinjaman.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 08 - 7


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Contoh:
a. Biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan suatu mesin meliputi:
1. Biaya bahan baku Rp 35 jt
2. Biaya tenaga kerja Rp 25 jt
3. Honorarium tim Rp 10 jt
4. Biaya perencanaan Rp 2 jt
Biaya yang dapat dikapitalisasi untuk menilai Konstruksi dalam Pengerjaan
adalah sebesar Rp 62 jt yang terdiri dari biaya bahan baku, tenaga kerja,
dan perencanaan.

b. Pemda A membangun sebuah gedung secara swakelola. Pada tanggal 3


Maret 2006 dibeli bahan baku senilai Rp 300 jt dengan menggunakan SP2D
LS dan membayar upah tenaga kerja sebesar Rp 100 jt dengan
menggunakan uang persediaan. Kemudian pada tanggal 10 Maret 2006
terbit SP2D GU untuk mengganti uang persediaan yang telah digunakan
tersebut.
Atas transaksi ini, jurnal yang harus dibuat oleh Pemda A meliputi jurnal
pengakuan belanja modal dan KDP untuk pembelian bahan baku pada
tanggal 3 Maret 2006 dan jurnal pengakuan belanja modal dan KDP atas
pembayaran upah pada tanggal 10 Maret 2006.
Penggunaan UP tidak dijurnal sampai dengan pertanggung-jawabannya
terbit berupa SP2D GU. Jurnal-jurnal tersebut adalah sebagai berikut:

03 Maret 2006

Uraian Debet Kredit


Belanja Modal Gedung dan Rp300.000.000
Bangunan
Kas di Kas Daerah Rp300.000.000
Konstruksi dalam Pengerjaan Rp300.000.000
Diinvestasikan dalam Aset Rp300.000.000
Tetap
10 Maret 2006

Uraian Debet Kredit


Belanja Modal Gedung dan Rp100.000.000
Bangunan
Kas di Kas Daerah Rp100.000.000
Konstruksi dalam Pengerjaan Rp100.000.000
Diinvestasikan dalam Aset Rp100.000.000
Tetap

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 08 - 8


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB V
PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN
KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN

Konstruksi dalam pengerjaan disajikan di neraca pada kelompok Aset


Tetap. Penyajian konstruksi dalam pengerjaan dilakukan secara gabungan,
dengan cara menjumlahkan seluruh kontruksi dalam pengerjaan, dari seluruh
aset tetap. Selanjutnya kontruksi dalam pengerjaan ini diungkapkan dalam
Catatan atas laporan Keuangan. Informasi mengenai Konstruksi Dalam
Pengerjaan yang harus diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan
pada akhir periode akuntansi adalah :
1. Rincian kontrak konstruksi dalam pengerjaan berikut tingkat penyelesaian
dan jangka waktu penyelesaiannya;
2. Nilai kontrak konstruksi dan sumber pembiayaanya;
3. Jumlah biaya yang telah dikeluarkan;
4. Uang muka kerja yang diberikan;
5. Retensi.

Kontrak konstruksi pada umumnya memuat ketentuan tentang retensi.


Misalnya, termin yang masih ditahan oleh pemberi kerja selama masa
pemeliharaan. Jumlah retensi diungkapkan dalam Catatan atas Laporan
Keuangan.

Contoh:
Pemerintah Daerah ABC pada tahun 2005 membangun sebuah gedung dan
sebuah mesin yang masing-masing telah mengeluarkan biaya yang dapat
dikapitalisasi sebesar Rp 2 M dan 800 jt. Penyajian Konstruksi dalam pengerjaan
di neraca adalah sbb:

PADA SISI ASET:

Aset Tetap
- Konstruksi dalam Pengerjaan 2.800.000.000

PADA SISI EKUITAS:

Ekuitas Dana Investasi


- Diinvestasikan dalam Aset 2.800.000.000
Tetap

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 08 - 9


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

SOAL LATIHAN

Pada tanggal 2 April 20X1 Pemda ABC menetapkan PT XYZ sebagai pelaksana
pengerjaan Gedung Kantor DPRD dan pada hari tersebut ditandatangani
kontrak kerja pengerjaan gedung dan bangunan senilai Rp 10 M, dengan
pembayaran dalam 4 termin. Tanggal 13 Juli 200X terjadi Pembayaran
termin I sebesar Rp 2 M. 29 Nop 20X1 terjadi Pembayaran termin II Rp 3 M.
Pada 31 Des 20XI berdasarkan berita acara penyelesaian fisik gedung telah
diselesaikan 60%. Pada tanggal 28 Feb 20X2 terjadi Pembayaran termin III
Rp 3 M. Pada bulan Agustus 20x0 PT XYZ telah menyelesaikan pengerjaan
Gedung dan telah menyerahkannya kepada Pemda ABC. tanggal 30 Agustus
20X2 terjadi Pembayaran termin IV Rp 2 M.

Diminta :
(a) Jurnal untuk pembayaran setiap termin dan pada saat selesainya
pekejaan pembangunan gedung kantor DPRD tersebut.
(b) Penyajian Kontruksi dlam pengerjaan di neraca dan Catatan atas
Laporan Keuangan per 31 Desember 20X1.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 08 - 10


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

DAFTAR BACAAN

1. UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara;


2. UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara;
3. UU No. 15/2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara;
4. UU No. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
5. UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah;
6. UU No. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat
dan Pemerintahan Daerah;
7. PP No. 23/2005 tentang Pengelolaan Keuangan BLU;
8. PP No. 24/2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan;
9. PP No. 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
10. PP No. 8/2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi
Pemerintah.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 08 - 11


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Modul Akuntansi Aset Tetap ini disusun untuk memudahkan pemahaman


terhadap Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan Nomor 07 Akuntansi Aset
Tetap. Modul ini disusun sebagai bahan Pelatihan untuk Pelatih Standar
Akuntansi Pemerintahan, sehingga dengan mempelajari modul ini peserta
diharapkan dapat belajar mandiri (self study) atas materi Akuntansi Aset Tetap
pada pemerintah pusat maupun daerah. Modul ini menguraikan kembali
paragraf-paragraf standar maupun penjelasan disertai dengan contoh-contoh
yang aplikatif sehingga diharapkan dapat dijadikan rujukan dalam implementasi
Standar Akuntansi Pemerintahan yang berkaitan dengan aset tetap pemerintah.

B. Tujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran Umum:


Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta mampu:
1. Memahami Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)
2. Mampu mengimplementasikan SAP dalam menyusun dan menyajikan
Laporan Keuangan

Tujuan Pembelajaran Khusus:


Setelah mempelajari materi ini peserta mampu:
1. Memahami pengertian aset tetap;
2. Memahami klasifikasi aset tetap;
3. memahami pengakuan aset tetap;
4. Memahami penilaian aset tetap;
5. Memahami pencatatan aset tetap; dan
6. Memahami penyajian dan pengungkapan aset tetap.

C. Deskripsi Ringkas

Materi Modul PSAP 07 disusun sesuai dengan urutan paragraf standar


yang antara lain meliputi: pengertian aset tetap, klasifikasi aset tetap,
pengakuan aset tetap, dan pengukuran aset tetap. Perlakuan aset tetap setelah
perolehan yang meliputi pengeluaran setelah perolehan, penyusutan, revaluasi,
aset bersejarah, serta pelepasan dan penghentian aset tetap juga diilustrasikan
dalam modul ini. Pada bagian akhir dijelaskan penyajian aset tetap di neraca
dan pengungkapan pada catatan atas laporan keuangan.

E. Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran dalam pelatihan ini dilakukan dengan cara


pemaparan teori oleh fasilitator yang diikuti dengan tanya jawab serta diskusi
soal-soal latihan dan contoh kasus yang bertalian dengan Akuntasi Aset Tetap.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 07 1


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Keberhasilan pembelajaran ini juga sangat tergantung pada partisipasi aktif dari
para peserta pelatihan di dalam aktivitas diskusi, latihan dan tanya jawab.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 07 2


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB II

DEFINISI DAN KLASIFIKASI ASET TETAP

A. Definisi Aset Tetap

Aset tetap merupakan salah satu pos di neraca di samping aset lancar,
investasi jangka panjang, dana cadangan, dan aset lainnya. Aset tetap
mempunyai peranan yang sangat penting karena mempunyai nilai yang cukup
signifikan bila dibandingkan dengan komponen neraca lainnya.

Pengertian Aset Tetap dalam Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan


(PSAP) adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua
belas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan
oleh masyarakat umum. Dengan batasan pengertian tersebut maka pemerintah
harus mencatat suatu aset tetap yang dimilikinya meskipun aset tetap tersebut
digunakan oleh pihak lain. Pemerintah juga harus mencatat hak atas tanah
sebagai aset tetap. Dalam kasus lain, aset tetap yang dikuasai oleh pemerintah
tetapi tujuan penggunaannya untuk dikonsumsi dalam operasi pemerintah tidak
termasuk dalam pengertian aset tetap karena tidak memenuhi definisi aset tetap
di atas, misalnya aset tetap yang dibeli pemerintah untuk diserahkan kepada
masyarakat.

B. Klasifikasi Aset Tetap

Dalam PSAP 07, aset tetap di neraca diklasifikasikan menjadi enam akun
sebagaimana dirinci dalam penjelasan berikut ini:

a. Tanah

Tanah yang dikelompokkan dalam aset tetap adalah tanah yang dimiliki
atau dikuasai oleh pemerintah untuk digunakan dalam kegiatan
pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum dan dalam kondisi
siap digunakan. Tanah yang digunakan untuk bangunan, jalan, irigasi, dan
jaringan tetap dicatat sebagai tanah yang terpisah dari aset tetap yang
dibangun di atas tanah tersebut.

b. Peralatan dan Mesin

Peralatan dan mesin yang dikelompokkan dalam aset tetap adalah


peralatan dan mesin yang dimiliki atau dikuasai oleh pemerintah untuk
digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh
masyarakat umum dan dalam kondisi siap digunakan. Aset tetap yang
dapat diklasifikasikan dalam Peralatan dan Mesin ini mencakup antara
lain: alat berat; alat angkutan; alat bengkel dan alat ukur; alat pertanian;
alat kantor dan rumah tangga; alat studio, komunikasi, dan pemancar;
alat kedokteran dan kesehatan; alat laboratorium; alat persenjataan;

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 07 3


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

komputer; alat eksplorasi; alat pemboran; alat produksi, pengolahan, dan


pemurnian; alat bantu eksplorasi; alat keselamatan kerja; alat peraga;
dan unit peralatan proses produksi.

c. Gedung dan Bangunan

Gedung dan bangunan yang dikelompokkan dalam aset tetap adalah


gedung dan bangunan yang dimiliki atau dikuasai oleh pemerintah untuk
digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh
masyarakat umum dan dalam kondisi siap digunakan. Termasuk dalam
jenis gedung dan bangunan ini antara lain: bangunan gedung, monumen,
bangunan menara, dan rambu-rambu.

d. Jalan, Irigasi, dan Jaringan

Jalan, irigasi, dan jaringan yang dikelompokkan dalam aset tetap adalah
jalan, irigasi, dan jaringan yang dimiliki atau dikuasai oleh pemerintah
untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh
masyarakat umum dan dalam kondisi siap digunakan. Contoh aset tetap
yang termasuk dalam klasifikasi ini mencakup antara lain: jalan dan
jembatan, bangunan air, instalasi, dan jaringan.

e. Aset Tetap Lainnya

Aset tetap lainnya mencakup aset tetap yang tidak dapat dikelompokkan
ke dalam kelompok aset tetap di atas, tetapi memenuhi definisi aset
tetap. Aset tetap lainnya ini dapat meliputi koleksi perpustakaan/buku dan
barang bercorak seni/budaya/olah raga.

f. Konstruksi dalam Pengerjaan

Konstruksi dalam pengerjaan mencakup aset tetap yang sedang dalam


proses pembangunan, yang pada tanggal neraca belum selesai dibangun
seluruhnya. Konstruksi dalam pengerjaan ini akan dibahas lebih lanjut
dalam modul Akuntansi Konstruksi dalam Pengerjaan, sehingga dalam
modul ini tidak akan dibahas secara khusus.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 07 4


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB III

PENGAKUAN DAN PENGUKURAN ASET TETAP

A. Pengakuan Aset Tetap

Sesuai dengan klasifikasi Aset Tetap, suatu aset dapat diakui sebagai aset
tetap apabila berwujud dan memenuhi kriteria :
Mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan;
Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal;
Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasi normal entitas;
Diperoleh/dibangun dengan maksud untuk digunakan.

Pemerintah mengakui suatu aset tetap apabila aset tetap tersebut telah
diterima atau diserahkan hak kepemilikannya, dan atau pada saat
penguasaannya berpindah. Oleh karena itu, apabila belum ada bukti bahwa
suatu aset dimiliki atau dikuasai oleh suatu entitas maka aset tetap tersebut
belum dapat dicantumkan di neraca. Prinsip pengakuan aset tetap pada saat
aset tetap ini dimiliki atau dikuasai berlaku untuk seluruh jenis aset tetap, baik
yang diperoleh secara individual atau gabungan, maupun yang diperoleh melalui
pembelian, pembangunan swakelola, pertukaran, rampasan, atau dari hibah.

Perolehan aset tetap melalui pembelian atau pembangunan pada


umumnya didahului dengan pengakuan belanja modal yang akan mengurangi
Kas Umum Negara/Daerah. Jurnal pengakuan belanja modal tersebut adalah:

Uraian Debet Kredit


Belanja Modal Tanah Rp XXX
Kas di Kas Daerah Rp XXX

Atas belanja modal tersebut, pemerintah akan memperoleh aset tetap


yang harus disajikan di neraca. Untuk memunculkan aset tetap di neraca dapat
dilakukan dengan cara membuat jurnal pendamping (korolari). Jurnal korolari ini
merupakan jurnal ikutan untuk setiap transaksi pendapatan, belanja, atau
pembiayaan yang mempengaruhi pos-pos neraca. Jurnal korolari untuk
pengakuan perolehan aset tetap adalah sebagai berikut:

Tanah Rp xxx
Peralatan dan Mesin Rp xxx
Gedung dan Bangunan Rp xxx
Jalan, Irigasi dan Jaringan Rp xxx
Aset Tetap Lainnya Rp xxx
Konstruksi dalam Pengerjaan Rp xxx
Diinvestasikan dalam aset tetap Rp xxx

Jurnal ini merupakan jurnal korolari atau ikutan pada saat mengakui belanja
modal untuk mengakui penambahan aset tetap yang bersangkutan.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 07 5


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

B. Pengukuran Aset Tetap

Aset tetap yang dimiliki atau dikuasai oleh pemerintah harus dinilai atau
diukur untuk dapat dilaporkan dalam neraca. Menurut SAP, aset tetap yang
diperoleh atau dibangun secara swakelola dinilai dengan biaya perolehan. Secara
umum, yang dimaksud dengan biaya perolehan adalah jumlah biaya yang
dikeluarkan untuk memperoleh aset tetap sampai dengan aset tetap tersebut
dalam kondisi dan tempat yang siap untuk digunakan. Hal ini dapat
diimplementasikan pada aset tetap yang dibeli atau dibangun secara swakelola.

Aset tetap yang tidak diketahui harga perolehannya disajikan dengan nilai
wajar. Nilai wajar adalah nilai tukar aset tetap dengan kondisi yang sejenis di
pasaran pada saat penilaian. Aset tetap yang berasal dari hibah, yang tidak
diketahui harga perolehannya, pemerintah dapat menggunakan nilai wajar pada
saat perolehan.

Komponen biaya yang dapat dimasukkan sebagai biaya perolehan suatu


aset tetap terdiri dari:
harga beli,
bea impor,
biaya persiapan tempat,
biaya pengiriman awal (initial delivery) dan biaya simpan dan bongkar muat
(handling cost),
biaya pemasangan (instalation cost),
biaya profesional seperti arsitek dan insinyur, serta
biaya konstruksi (biaya langsung untuk tenaga kerja, bahan baku, dan biaya
tidak langsung termasuk biaya perencanaan dan pengawasan, perlengkapan,
tenaga listrik, sewa peralatan, dan semua biaya lainnya yang terjadi
berkenaan dengan pembangunan aset tetap tersebut).

Yang tidak termasuk komponen biaya aset tetap adalah:


Biaya administrasi dan biaya umum lainnya sepanjang biaya tersebut tidak
dapat diatribusikan secara langsung pada biaya perolehan aset atau
membawa aset ke kondisi kerjanya.
Biaya permulaan (start-up cost) dan pra-produksi serupa kecuali biaya
tersebut perlu untuk membawa aset ke kondisi kerjanya.

Untuk pemerintah yang baru pertama kali akan menyusun neraca, perlu
ada pendekatan yang sedikit berbeda untuk mencantumkan nilai aset tetapnya
di neraca. Pendekatan tersebut adalah menggunakan nilai wajar aset tetap pada
saat neraca tersebut disusun. Misalnya nilai tanah pada saat perolehannya tahun
1985 adalah Rp200.000.000,00. Pada waktu akan menyusun neraca awal tahun
2005, tanah tersebut dinilai dengan nilai wajarnya, misalkan dengan NJOP (Nilai
Jual Obyek Pajak), ternyata nilainya adalah Rp350.000.000,00. Dengan
demikian nilai tanah yang akan dicantumkan di neraca adalah
Rp350.000.000,00. Penjelasan tentang bagaimana cara penyusunan neraca awal
ini dapat dilihat lebih lanjut dalam Buletin Teknis SAP No. 1 tentang Penyusunan
Neraca Awal Pemerintah Pusat dan Buletin Teknis SAP No. 2 tentang
Penyusunan Neraca Awal Pemerintah Daerah. Penilaian dengan menggunakan
nilai wajar ini dapat dibatasi untuk nilai perolehan aset tetap yang secara
material berbeda dengan nilai wajarnya atau yang diperoleh lebih dari satu
tahun sebelum tanggal penyusunan neraca awal.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 07 6


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Aset tetap yang diperoleh setelah neraca awal disajikan dinilai dengan
harga perolehannya. Dengan demikian transaksi perolehan aset setelah
disusunnya neraca yang pertama kali dicatat berdasarkan harga perolehannya.

Contoh Kasus Perolehan Tanah

Pemerintah Daerah X membeli tanah dengan harga Rp 30.000.000.000,00,


dimana di atasnya berdiri bangunan senilai Rp 10.000.000.000,00 m. Untuk
membuat tanah tersebut siap digunakan maka harus dikeluarkan lagi biaya
untuk pembongkaran bangunan sebesar Rp 2.000.000.000,00, pematangan
tanah Rp 1.000.000.000,00, dan balik nama Rp 1.000.000.000,00.
Harga perolehan tanah ini adalah sebesar Rp 34.000.000.000 (30.000.000.000
+ 2.000.000.000 + 1.000.000.000 + 1.000.000.000).

Jurnal untuk mengakui tanah tersebut adalah:


Uraian Debet Kredit

Tanah Rp34.000.000.000
Diinvestasikan dalam Rp 34.000.000.000
Aset Tetap

Perolehan Secara Gabungan

Ada kalanya aset tetap diperoleh secara gabungan. Yang dimaksud


dengan gabungan di sini adalah perolehan beberapa aset tetap namun harga
yang tercantum dalam faktur adalah harga total seluruh aset tetap tersebut.
Cara penilaian masing-masing aset tetap yang diperoleh secara gabungan ini
adalah dengan menghitung berapa alokasi nilai total tersebut untuk masing-
masing aset tetap dengan membandingkannya sesuai dengan nilai wajar
masing-masing aset tetap tersebut di pasaran.

Contoh Kasus Perolehan Secara Gabungan

Pemerintah Daerah X membeli 1 buah meja rapat dan 10 buah kursi dengan
harga Rp 15.000.000,00. Harga pasar meja Rp 10.000.000,00, sedangkan 1
buah kursi Rp 1.000.000. Atas transaksi ini harga perolehan meja dicatat
dengan nilai sebesar Rp 7.500.000,00 (10/20 x 15), sedangkan kursi masing-
masing dicatat dengan nilai Rp 750.000 (1/20 x 15). Jurnal untuk mencatat
transaksi ini adalah sbb:

Uraian Debet Kredit

Peralatan dan Mesin Rp 15.000.000


Diinvestasikan dalam Aset Tetap Rp 15.000.000

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 07 7


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Pertukaran Aset Tetap

Pemerintah dimungkinkan untuk saling bertukar aset tetap baik yang


serupa maupun yang tidak. Permasalahan utama apabila suatu aset
dipertukarkan adalah bagaimana cara penilaiannya.

Apabila aset tetap ditukar dengan aset tetap yang yang tidak serupa atau
aset lainnya, maka aset tetap yang baru diperoleh tersebut dinilai berdasarkan
nilai wajarnya, yang terdiri atas nilai aset tetap yang lama ditambah jumlah
uang yang harus diserahkan untuk mendapatkan aset tetap baru tersebut.

Misal aset tetap Pemda A berupa sepeda motor senilai Rp10.000.000,00


ditukar dengan aset tetap Pemda B berupa mesin fotocopy dengan nilai
Rp7.500.000,00 dan memperoleh tambahan kas sebesar Rp2.000.000,00. Atas
pertukaran tersebut, Pemda A mencatat penghapusan motor senilai
Rp10.000.000,00, penambahan kas karena pendapatan lain-lain senilai
Rp2.000.000,00, dan perolehan mesin foto copy senilai Rp7.500.000,00.
Sedangkan Pemda B mencatat penghapusan aset tetap mesin fotocopy senilai
Rp7.500.000,00, pengurangan kas karena belanja modal senilai Rp2.000.000,00
dan perolehan aset tetap berupa sepeda motor dengan nilai Rp9.500.000,00.

Apabila suatu aset tetap ditukar dengan aset yang serupa, yang memiliki
manfaat yang serupa dan memiliki nilai wajar yang serupa, atau kepemilikan
aset yang serupa, maka tidak ada keuntungan dan kerugian yang diakui dalam
transaksi ini. Biaya aset yang baru diperoleh dicatat sebesar nilai tercatat
(carrying amount) atas aset yang dilepas.

Contoh transaksi untuk kasus ini adalah komputer senilai Rp7.000.000,00


ditukar dengan komputer yang sama dan senilai, maka pencatatan yang harus
dilakukan adalah menghapus komputer yang lama senilai Rp7.000.000,00 dan
mencatat perolehan komputer yang baru senilai Rp7.000.000,00.

Aset Donasi

Donasi merupakan sumbangan kepada pemerintah tanpa persyaratan.


Aset Tetap yang diperoleh dari donasi (sumbangan) harus dicatat sebesar nilai
wajar pada saat perolehan. Donasi/hibah baik dalam bentuk uang maupun
barang dicatat sebagai pendapatan hibah dan harus dilaporkan dalam laporan
realisasi anggaran. Jika donasi/hibah ini dalam bentuk uang tidak akan terjadi
permasalahan. Lain halnya dengan hibah dalam bentuk barang. Perlakuan untuk
hibah dalam bentuk barang ini adalah dengan menganggap seolah-olah ada
uang kas masuk sebagai pendapatan hibah, kemudian uang tersebut
dibelanjakan aset tetap yang bersangkutan. Untuk keperluan administrasi
anggaran akan diterbitkan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) pengesahan
sebesar nilai barang yang diterima. Dengan demikian, jurnal yang harus dibuat
meliputi 3 jurnal yaitu pengakuan pendapatan, belanja modal, dan jurnal
pengakuan aset tetap. Jurnal pengakuan pendapatan dan belanja modal akan
mempengaruhi laporan realisasi anggaran, sedangkan jurnal pengakuan aset
mempengaruhi neraca.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 07 8


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Contoh Kasus Hibah Dalam Bentuk Barang

Pemerintah Daerah X mendapat hibah dari perusahaan Y berupa 1 buah mobil


dengan nilai wajar sebesar Rp100.000.000,00. Oleh Pemda X transaksi ini diakui
sebagai pendapatan hibah di LRA sebesar Rp100.000.000,00, belanja modal di
LRA sebesar Rp100.000.000, dan penambahan aset tetap di neraca sebesar
Rp100.000.000,00. Jurnal untuk transaksi ini adalah:

Uraian Debet Kredit

Kas di Kas Daerah Rp 100.000.000


Pendapatan Hibah Rp 100.000.000
Belanja Modal Peralatan dan Mesin Rp 100.000.000
Kas di Kas Daerah Rp 100.000.000
Peralatan dan Mesin Rp 100.000.000
Diinvestasikan dalam Aset Tetap Rp 100.000.000

Aset Bersejarah

Aset bersejarah merupakan aset tetap yang dimiliki atau dikuasai oleh
pemerintah yang karena umur dan kondisinya aset tetap tersebut harus
dilindungi oleh peraturan yang berlaku dari segala macam tindakan yang dapat
merusak aset tetap tersebut. Lazimnya, suatu aset tetap dikategorikan sebagai
aset bersejarah jika mempunyai bukti tertulis sebagai barang/bangunan
bersejarah.

Barang/bangunan peninggalan sejarah tersebut sulit ditaksir nilai


wajarnya. Oleh karena itu dalam SAP diatur bahwa aset bersejarah tidak
disajikan di neraca tetapi cukup diungkapkan dalam Catatan atas Laporan
Keuangan (CaLK). Pengungkapan ini pun hanya mencantumkan kuantitas
fisiknya saja tanpa nilai perolehannya.

Apabila aset bersejarah tersebut masih dimanfaatkan untuk operasional


pemerintah, misalnya untuk ruang perkantoran, maka perlakuannya sama
seperti aset tetap lainnya, yaitu dicantumkan di neraca dengan nilai wajarnya.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 07 9


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB IV
PERLAKUAN ASET TETAP SETELAH PEROLEHAN

A. Pengeluaran Setelah Perolehan

Aset tetap diperoleh pemerintah dengan maksud untuk digunakan dalam


kegiatan operasional pemerintahan. Aset tetap bagi pemerintah, di satu sisi
merupakan sumberdaya ekonomi, di sisi lain merupakan suatu komitmen,
artinya di kemudian hari pemerintah wajib memelihara atau merehabilitasi aset
tetap yang bersangkutan. Pengeluaran belanja untuk aset tetap setelah
perolehan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu belanja untuk pemeliharaan dan
belanja untuk peningkatan.

Belanja pemeliharaan dimaksudkan untuk mempertahankan kondisi aset


tetap tersebut sesuai dengan kondisi awal. Sedangkan belanja untuk
peningkatan adalah belanja yang memberi manfaat ekonomik di masa yang
akan datang dalam bentuk peningkatan kapasitas, masa manfaat, mutu
produksi, atau peningkatan standar kinerja. Pengeluaran yang dikategorikan
sebagai pemeliharaan tidak berpengaruh pada nilai aset tetap yang
bersangkutan. Sedangkan pengeluaran yang memberi manfaat ekonomik di
masa yang akan datang dalam bentuk peningkatan kapasitas, mutu produksi,
atau peningkatan standar kinerja merupakan belanja modal, harus dikapitalisasi
untuk menambah nilai aset tetap tersebut.

Misalnya Pemda A mempunyai sebuah komputer yang dibeli tahun 2004


dengan nilai perolehan Rp5.000.000,00. Setiap tahun dikeluarkan biaya
pemeliharaan sebesar Rp200.000,00. Setelah biaya pemeliharaan tersebut
dikeluarkan, nilai komputer tetap Rp5.000.000,00. Pada tahun 2005 komputer
tersebut di upgrade dengan biaya Rp500.000,00. Atas biaya upgrade yang dapat
meningkatkan kapasitas komputer tersebut, maka nilai komputer menjadi
Rp5.500.000,00.

B. Pengukuran Berikutnya Terhadap Pengakuan Awal

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, seiring dengan semakin lamanya


digunakan, aset tetap selain tanah akan mengalami penurunan manfaat karena
aus atau rusak karena pemakaian. Dalam rangka penyajian nilai wajar terhadap
aset-aset tersebut dapat dilakukan penyusutan. Selain itu aset tetap juga dapat
direvaluasi, dihentikan penggunaannya, atau dilepaskan.

B.1. Penyusutan

Penyusutan adalah penyesuaian nilai sehubungan dengan penurunan


kapasitas dan manfaat dari suatu aset. Selain tanah dan konstruksi dalam
pengerjaan, seluruh aset tetap dapat disusutkan sesuai dengan sifat dan
karakteristik aset tersebut.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 07 10


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Penyusutan ini bukan untuk alokasi biaya sebagaimana penyusutan di


sektor komersial, tetapi untuk menyesuaikan nilai sehingga dapat disajikan
secara wajar. Pengertian ini berdampak pada jurnal yang harus dibuat pada saat
mengakui penyusutan, dimana tidak ada pengakuan beban penyusutan
melainkan hanya penurunan nilai aset. Nilai penyusutan untuk masing-masing
periode dicatat dengan cara mengurangi nilai tercatat aset tetap dan akun
Diinvestasikan dalam Aset Tetap. Jurnal standar untuk penyusutan adalah
sebagai berikut:

Uraian Debet Kredit

Diinvestasikan dalam Aset Tetap Rp xxx


Akumulasi Penyusutan Rp xxx

Penyesuaian nilai aset tetap dilakukan dengan berbagai metode yang


sistematis sesuai dengan masa manfaat. Metode penyusutan yang digunakan
harus dapat menggambarkan manfaat ekonomik atau kemungkinan jasa
(service potential) yang akan mengalir ke pemerintah. Metode Penyusutan yang
dapat diterapkan sesuai dengan PSAP 07 adalah:
a. Metode garis lurus (straight line method); atau
b. Metode saldo menurun ganda (double declining method); atau
c. Metode unit produksi (unit of production method)

Penerapan dari masing-masing metode ini dapat digambarkan melalui


contoh berikut:
Sebuah mesin fotocopy yang dibeli dengan harga Rp10.000.000,00 dan
diperkirakan mempunyai masa manfaat selama 4 tahun dan kapasitasnya
mampu memfotocopy sebanyak 100.000 lembar. Penyusutan yang dapat
dihitung setiap tahun dari mesin ini adalah sebagai berikut:

a. Metode garis lurus


Tahun I : Rp10.000.000,00 : 4 = Rp2.500.000,00

Jurnal:

Uraian Debet Kredit

Diinvestasikan dalam Aset Tetap Rp 2.500.000


Akumulasi Penyusutan Rp 2.500.000

Penghitungan dan jurnal yang sama harus dilakukan untuk 3 tahun


berikutnya sehingga nilai dari mesin tersebut pada akhir tahun ke 4 adalah
Rp1,00

b. Metode saldo menurun ganda


Persentase penyusutan per tahun = 2 x (100/4) = 50%

Tahun I : Rp10.000.000,00 x 50% = Rp5.000.000,00

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 07 11


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Jurnal:
Diinvestasikan dalam Aset Tetap Rp 5.000.000
Akumulasi Penyusutan Rp 5.000.000

Tahun II : (Rp10.000.000,00 - 5.000.000,00) x 50% = Rp2.500.000,00

Jurnal:
Diinvestasikan dalam Aset Tetap Rp 2.500.000
Akumulasi Penyusutan Rp 2.500.000

Tahun III : (Rp5.000.000,00 2.500.000,00) x 50% = Rp1.250.000,00

Jurnal:
Diinvestasikan dalam Aset Tetap Rp 1.250.000
Akumulasi Penyusutan Rp 1.250.000

Tahun IV : (Rp2.500.000,00 1.250.000,00) = Rp1.250.000,00


(pembulatan)

Jurnal:
Diinvestasikan dalam Aset Tetap Rp 1.250.000
Akumulasi Penyusutan Rp 1.250.000

c. Metode unit produksi

Persentase penyusutan per tahun tergantung dari jumlah produksi pada


tahun tersebut

Tahun I : Produksi 30.000 lembar


Penyusutan = (30.000/100.000) x Rp10.000.000,00
= Rp3.000.000,00

Jurnal:
Diinvestasikan dalam Aset Tetap Rp 3.000.000
Akumulasi Penyusutan Rp 3.000.000

Tahun II dan seterusnya penyusutan dihitung berdasarkan produksi pada


tahun tersebut, dan penyusutan tersebut harus terus dilakukan meskipun
telah melewati umur teknisnya.

B.2. Penilaian Kembali (Revaluation)

Dalam hal terjadi perubahan harga secara signifikan, pemerintah dapat


melakukan penilaian kembali atas aset tetap yang dimiliki. Hal ini diperlukan
agar nilai aset tetap pemerintah yang ada saat ini mencerminkan nilai wajar
sekarang. SAP mengatur bahwa pemerintah dapat melakukan penilaian kembali
(revaluasi) sepanjang revaluasi tersebut dilakukan berdasarkan ketentuan
pemerintah yang berlaku secara nasional misalkan undang-undang, peraturan
pemerintah, atau peraturan presiden.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 07 12


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Apabila revaluasi telah dilakukan maka nilai aset tetap yang ada di neraca
harus disesuaikan dengan cara menambah/mengurangi nilai tercatat dari setiap
aset tetap yang bersangkutan dan akun Diinvestasikan dalam Aset Tetap sesuai
dengan selisih antara nilai hasil revaluasi dengan nilai tercatat.

Jurnal standar untuk mencatat hasil revaluasi adalah:

a. Bila nilai revaluasi lebih kecil daripada nilai tercatat, misalnya untuk tanah

Diinvestasikan dalam Aset Tetap Rp xxx


Tanah Rp xxx

b. Bila nilai revaluasi lebih besar daripada nilai tercatat, misalnya:

Tanah Rp xxx
Diinvestasikan dalam Aset Tetap Rp xxx

C. Penghentian Dan Pelepasan

Bila aset tetap sudah rusak berat dan tidak dapat digunakan lagi maka
aset tetap tersebut akan dihapuskan dari pembukuan. Proses penghapusan
seringkali memerlukan waktu yang lama, maka sementara menunggu surat
keputusan penghapusan terbit aset yang rusak atau tidak dapat digunakan lagi
dipindahkan dari kelompok aset tetap menjadi akun Aset Lain-lain dalam
kelompok aset lainnya di neraca dan diungkapkan dalam CaLK. Hal yang sama
diterapkan untuk aset tetap yang karena alasan lain juga tidak digunakan secara
aktif lagi dalam operasional pemerintah meskipun tidak dalam kondisi rusak
berat.

Jurnal standar untuk penghentian aset tetap dari penggunaannya adalah sebagai
berikut:

Uraian Debet Kredit

Diinvestasikan dalam Aset Tetap Rp xxx


Peralatan dan Mesin Rp xxx
Aset Lain-Lain Rp xxx
Diinvestasikan dalam Aset Rp xxx
Lainnya

Apabila suatu aset tetap telah dilepaskan atau secara permanen


dihentikan penggunaannya dan tidak ada manfaat ekonomik masa yang akan
datang, berarti aset tetap tersebut tidak lagi memenuhi definisi aset tertap
sehingga harus dihapuskan. Jika aset tetap tersebut telah dihapuskan melalui
surat keputusan penghapusan, maka aset tetap tersebut harus dieliminasi dari
neraca dan diungkapkan dalam CaLK.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 07 13


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Jurnal standar untuk mencatat transaksi tersebut adalah sbb:

Uraian Debet Kredit

Diinvestasikan dalam Aset Tetap Rp xxx


Peralatan dan Mesin Rp xxx

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 07 14


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB V

PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN ASET TETAP

A. Penyajian

Penyajian aset tetap dalam lembar muka neraca adalah sebagai berikut:

Aset
Aset Tetap
Tanah xxx
Peralatan dan Mesin xxx
Gedung dan Bangunan xxx
Jalan, Irigasi dan Jaringan xxx
Aset Tetap Lainnya xxx
Konstruksi dalam Pengerjaan xxx
Akumulasi Penyusutan (xxx)
Total Aset Tetap xxx

Ekuitas Dana
Ekuitas Dana Investasi
Diinvestasikan dalam Aset Tetap xxx
Total Ekuitas Dana Investasi xxx

Akumulasi Penyusutan disajikan dalam angka negatif untuk mengurangi total


nilai aset tetap. Jumlah total aset tetap harus sama dengan nilai akun
Diinvestasikan dalam Aset Tetap.

B. Pengungkapan

Selain disajikan pada lembar muka neraca, aset tetap juga harus
diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK). Pengungkapan ini
sangat penting sebagai penjelasan tentang hal-hal penting yang tercantum
dalam neraca. Tujuan pengungkapan ini adalah untuk meminimalisasi kesalahan
persepsi bagi pembaca laporan keuangan.

Dalam CaLK harus diungkapkan untuk masing-masing jenis aset tetap sbb:
Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai tercatat;
Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan:
penambahan, pelepasan, akumulasi penyusutan dan perubahan nilai jika ada,
dan mutasi aset tetap lainnya.
Informasi penyusutan meliputi: nilai penyusutan, metode penyusutan yang
digunakan, masa manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan, serta nilai
tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode.

Selain itu, dalam CaLK juga harus diungkapkan:


Eksistensi dan batasan hak milik atas aset tetap
Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan aset tetap
Jumlah pengeluaran pada pos aset tetap dalam konstruksi

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 07 15


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Jumlah komitmen untuk akuisisi aset tetap

C. Lampiran

Nilai aset tetap yang ada dalam neraca merupakan gabungan dari seluruh
aset tetap yang dimiliki atau dikuasai oleh suatu pemerintah. Apabila pembaca
laporan keuangan ingin mengetahui rincian aset tetap tersebut, maka laporan
keuangan perlu lampiran tentang Daftar Aset yang terdiri dari nomor kode aset
tetap, nama aset tetap, kuantitas aset tetap, dan nilai aset tetap.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 07 16


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

SOAL LATIHAN

LATIHAN SOAL

1. Termasuk aset tetap Pemda A adalah:


a. Sapi yang dibeli untuk diternakkan oleh Dinas Peternakan
b. Sapi yang dibeli untuk diserahkan kepada masyarakat
c. Kedua jawaban di atas benar
d. Kedua jawaban di atas salah

2. Pemda B mempunyai gedung tua peninggalan jaman Belanda yang


selama ini masih digunakan sebagai ruang kantor. Atas aset tetap
tersebut Pemda B :
a. Mengungkapkannya di CaLK saja karena merupakan aset bersejarah
b. Menyajikannya di neraca sebagai gedung dan bangunan
c. Menyajikannya di neraca sebagai aset lainnya
d. Tidak perlu menyajikannya di neraca dan CaLK

3. Penyusutan pada aset tetap milik pemerintah merupakan:


a. Pendapatan
b. Belanja modal
c. Alokasi biaya
d. Penyesuaian nilai

4. Apabila suatu aset tetap telah dihentikan secara permanen dari


penggunaannya karena sudah rusak berat. Perlakuan atas aset tetap ini
adalah:
a. Memindahkannya ke akun aset lainnya
b. Dicatat di aset tetap hingga dihapuskan
c. Dinilai kembali
d. Disusutkan

5. Jurnal yang harus dibuat untuk menghapus mobil yang telah terbit SK
Penghapusannya adalah:
a. Peralatan dan Mesin xxx
Diinvestasikan dalam Aset Lainnya xxx
b. Diinvestasikan dalam Aset Tetap xxx
Peralatan dan Mesin xxx
c. Diinvestasikan dalam Aset Tetap xxx
Peralatan dan Mesin xxx
d. Peralatan dan Mesin xxx
Diinvestasikan dalam Aset Lainnya xxx

KASUS

Pemda B pada tanggal 2 November 2003 membeli tanah seluas 600 m2 berikut
bangunan tua seluas 400 m2 dengan harga perolehan Rp1.000.000.000,00.
NJOP tanah dan bangunan tersebut per m2 adalah Rp1.000.000,00 dan
Rp500.000,00. Buatlah jurnal yang harus dicatat atas transaksi tersebut.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 07 17


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

DAFTAR BACAAN

1. UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara;


2. UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara;
3. UU No. 15/2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara;
4. UU No. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
5. UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah;
6. UU No. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat
dan Pemerintahan Daerah;
7. PP No. 23/2005 tentang Pengelolaan Keuangan BLU;
8. PP No. 24/2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan;
9. PP No. 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
10. PP No. 8/2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi
Pemerintah.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan PSAP 07 18


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tata kelola penyelenggaraan pemerintahan yang baik dalam suatu negara


merupakan suatu kebutuhan. Pemerintah wajib menerapkan kaidah-kaidah yang
baik dalam menjalankan operasional pemerintahan, termasuk kaidah-kaidah di
bidang pengelolaan keuangan negara sebagai salah satu bentuk penerapan
prinsip good governance. Dalam rangka mewujudkan tata kelola pemerintahan
yang baik, pemerintah Republik Indonesia telah melakukan reformasi di bidang
pengelolaan keuangan negara.

Reformasi pengelolaan keuangan ini antara lain dilatarbelakangi peraturan


perundang-undangan di bidang keuangan yang masih berlandaskan pada
ketentuan perundang-undangan peninggalan pemerintah kolonial, pertimbangan
lain yang tidak kalah penting dalam melakukan reformasi adalah perubahan
sistem pemerintahan. Era otonomi daerah yang dimulai tahun 2001 berdampak
pada perubahan hubungan keuangan antara pusat dan daerah. Jika sebelumnya
pengelolaan keuangan negara didominasi oleh peran Pemerintah Pusat, sistem
otonomi daerah dengan prinsip money follows function mengharuskan peran
daerah yang lebih besar. Sebagian besar urusan fungsi pemerintahan yang
menyangkut pelayanan dasar diserahkan penanganannya kepada pemerintah
daerah. Sebagai akibatnya, anggaran yang digunakan untuk belanja atas
pelayanan-pelayanan dasar wajib diserahkan pengelolaannya kepada
pemerintah daerah. Dengan demikian, makin besar belanja negara yang dikelola
oleh pemerintah daerah sehingga diperlukan suatu metode pengawasan yang
memadai. Salah satu bentuknya adalah keterlibatan masyarakat/stakeholder.

Keterlibatan masyarakat ini juga seiring dengan makin besarnya porsi


pajak dalam mendanai operasional pemerintahan. Sumber daya alam yang
selama ini besar porsinya dalam penerimaan negara makin lama makin
berkurang oleh karena jumlah sumber yang terbatas. Pada satu pihak, biaya
penyelenggaraan pemerintahan semakin besar. Satu-satunya sumber adalah
pajak dari masyarakat. Agar masyarakat tidak merasa dirugikan, maka
diperlukan suatu pertanggungjawaban penggunaan pajak dari masyarakat oleh
pemerintah dengan transparan.

Berkenaan dengan perubahan paradigma sistem pemerintahan dan


tuntutan masyarakat, maka perlu dilakukan reformasi di bidang keuangan
sebagai perangkat pendukung terlaksananya penerapan good governance dan
otonomi daerah. Reformasi pengelolaan keuangan dilakukan dengan cara:
Penataan peraturan perundang-undangan sebagai landasan hukum;
Penataan kelembagaan;
Penataan sistem pengelolaan keuangan negara; dan
Pengembangan sumber daya manusia di bidang keuangan.
Dengan demikian reformasi manajemen keuangan ini tidak hanya melibatkan
Pemerintah Pusat dalam pelaksanaannya, tetapi sekaligus berlaku bagi
Pemerintah Daerah.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan Overview - 1


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

B. Tujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran Umum


Setelah mempelajari materi ini, peserta mampu memahami pengelolaan
keuangan negara, termasuk keuangan daerah secara umum dan mampu
menjadi instruktur pelatihan akuntansi pemerintahan.

Tujuan Pembelajaran Khusus


Setelah mempelajari modul ini diharapkan peserta:
a. Memahami garis besar lingkup pengelolaan keuangan negara/daerah;
b. Memahami siklus keuangan negara/daerah;
c. Memahami jenis-jenis laporan keuangan negara/daerah; dan
d. Memahami proses pertanggungjawaban keuangan negara/daerah.

C. Deskripsi Ringkas

Materi Modul Pandangan Umum Pengelolaan Keuangan Negara/Daerah


dan Laporan Pertanggungjawaban Keungan ini disusun dalam rangka
memberikan pemahaman umum mengenai keuangan negara/daerah. Materi
dimulai dengan dasr hukum pengelolaan keuangan negara/daerah, Pengertian
dan ruang lingkup Keuangan negara/daerah yang meliputi azas-azas umum
pengelolaan keuangan negara, dan kekuasaan pengelolaan keuangan
negara/daerah. Selanjutnya diuraikan siklus keuangan daerah, yang meliputi
perencanaan/penganggaran, perbendaharaan (pelaksanaan anggaran),
Akuntansi, Pemeriksaan, dan Pertanggungjawaban.

D. Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran dalam pelatihan ini dilakukan dengan cara


pemaparan konsep-konsep pokok undang-undang di bidang keuangan negara
(UU 17/2003, UU 1/2004, UU 15/2004) sebagaimana diatur pula untuk
keuangan daerah dalam UU 32/2004 dan UU 33/2004. Keberhasilan
pembelajaran ini juga sangat tergantung pada partisipasi aktif dari para peserta
pelatihan di dalam aktivitas diskusi dan tanya jawab.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan Overview - 2


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB II

DASAR HUKUM PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA/DAERAH

Dalam rangka penataan pengelolaan keuangan negara/daerah telah


diterbitkan berbagai produk peraturan perundang-undangan. Dalam kurun
waktu enam tahun terakhir sejak dimulainya reformasi pemerintahan yang
diikuti dengan penataan pengelolaan keuangan negara/daerah, telah dilakukan
dua kali perubahan dalam bidang penataan pengelolaan keuangan, terutama
yang terkait dengan keuangan daerah. Perubahan pertama dilakukan dengan
diterbitkannya UU 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah yang menjadi dasar
dilaksanakan otonomi daerah. Pelaksanaan otonomi daerah itu diikuti dengan
pengaturan hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah yang
diatur dalam UU 25/1999. Selanjutnya sebagai dasar implementasi UU dimaksud
dalam bidang pengelolaan keuangan daerah, dikeluarkan PP 105/2000 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah.

Pada akhirnya, dengan terbitnya paket undang-undang keuangan negara,


juga dilakukan revisi atas dua undang-undang di atas. Setelah perubahan
dimaksud, produk hukum yang mendasari pengelolaan keuangan negara/daerah
selengkapnya sebagai berikut:
a. UU No.17/2003 tentang Keuangan Negara;
b. UU No.1/2004 tentang Perbendaharaan Negara;
c. UU No.15/2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara;
d. UU No.25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
e. UU No.32/2004 tentang Pemerintahan Daerah;
f. UU No.33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat
dan Pemerintahan Daerah;
g. PP No.23/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum;
h. PP No.24/2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan;
i. PP No.58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
j. PP No.8/2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi
Pemerintah.
Tiga undang-undang pertama dikenal sebagai paket undang-undang di bidang
keuangan negara menggantikan peraturan peninggalan jaman kolonial yang
masih digunakan sebelumnya.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan Overview - 3


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB III

LINGKUP PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA

A. Pengertian dan Ruang Lingkup

Keuangan negara dapat didefinisikan dalam arti sempit dan dalam arti
yang luas. Keuangan negara dalam arti sempit diartikan hanya mencakup
penerimaan dan pengeluaran uang melalui Kas Umum Negara selama satu tahun
anggaran. Pendekatan yang digunakan dalam Undang-undang Keuangan
Negara adalah dari arti luas, baik dari sisi obyek, subyek, proses, maupun
tujuan.

Keuangan negara dilihat dari sisi obyek, mencakup semua hak dan
kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kebijakan dan
kegiatan dalam bidang fiskal, moneter, dan pengelolaan kekayaan negara yang
dipisahkan, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang
dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban
tersebut.

Dengan memperhatikan cakupan tersebut maka yang menjadi subyek


keuangan negara meliputi seluruh obyek sebagaimana disebutkan di atas yang
dimiliki dan/atau dikuasai Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Perusahaan
Negara/Daerah, dan badan lain yang ada kaitannya dengan keuangan negara.

Dari sisi proses, keuangan negara mencakup seluruh rangkaian kegiatan


yang berkaitan dengan pengelolaan obyek sebagaimana tersebut di atas, mulai
dari perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan sampai dengan
pertanggungjawaban.

Dari sisi tujuan, Keuangan Negara meliputi seluruh kebijakan, kegiatan,


dan hubungan hukum yang berkaitan dengan pemilikan dan/atau penguasaan
obyek sebagaimana tersebut di atas dalam rangka penyelenggaraan
pemerintahan negara. Bidang pengelolaan keuangan negara yang demikian luas
dapat dikelompokkan dalam sub bidang pengelolaan fiskal, sub bidang
pengelolaan moneter, dan sub bidang pengelolaan kekayaan negara yang
dipisahkan.

Pendekatan tersebut pada umumnya sejalan dengan


perkembangan pendekatan manajemen keuangan negara. Apabila suatu negara
mendefinisikan keuangan negara dalam arti sempit maka fokus pengelolaan
keuangan negara hanya pada APBN/APBD. Dengan demikian fokus pengelolaan
keuangan negara hanya menggunakan perspektif waktu jangka pendek yaitu
satu tahun. Kepentingan-kepentingan jangka panjang kurang mendapat
perhatian, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, akuntansi dan
pertanggungjawaban, maupun pengawasannya.

Dengan memperhatikan definisi Keuangan Negara di atas maka Undang-


undang Keuangan Negara mendefinisikan keuangan negara/daerah dalam arti
luas. Dengan dipilihnya pendekatan ini maka fokus pengelolaan keuangan

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan Overview - 4


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

negara/daerah tidak hanya pada arus kas, tetapi juga utang, piutang, dan aset
jangka panjang. Dalam melakukan pengelolaan keuangan tidak hanya
memperhatikan kepentingan satu tahun anggaran tetapi menggunakan
perspektif waktu jangka panjang.

Pada tingkat daerah, pengertian di atas diadopsi dalam PP 58/2005


tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Pasal 1 butir (5) PP dimaksud
mengartikan Keuangan Daerah sebagai semua hak dan kewajiban daerah
dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan
uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan
hak dan kewajiban daerah tersebut. Pengertian ini sejalan dengan pendekatan
keuangan daerah dalam arti luas yang dianut dalam UU KN. Selanjutnya pada
Pasal (2) yang mengatur lingkup disebutkan bahwa pengelolaan keuangan
daerah mencakup:

a. hak daerah memungut pajak-retribusi daerah & melakukan pinjaman;


b. kewajiban daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah dan
membayar tagihan;
c. penerimaan daerah;
d. pengeluaran daerah;
e. kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain: uang, surat
berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain; dan
f. kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah daerah.

B. Azas Umum

Dalam rangka pengelolaan keuangan negara dikenal adanya beberapa


azas yang sudah lazim digunakan selama ini yaitu azas tahunan, universalitas,
spesialitas, dan kesatuan. Azas tahunan artinya membatasi masa berlakunya
anggaran untuk suatu tahun tertentu. Azas universalitas mengharuskan agar
setiap transaksi keuangan ditampilkan utuh dalam dokumen anggaran. Azas
spesialitas mewajibkan agar kredit anggaran yang disediakan terunci secara
jelas peruntukannya. Azas kesatuan menghendaki agar semua pendapatan dan
belanja negara/daerah disajikan dalam satu dokumen anggaran.

Selanjutnya pengelolaan keuangan negara/daerah juga mengadopsi azas-


azas baru yang berasal dari best practises yang telah diterapkan di berbagai
negara untuk menjamin terselenggaranya pengelolaan keuangan negara/ daerah
secara akuntabel dan transparan. Azas-azas dimaksud terdiri dari:

1. Akuntabilitas berorientasi pada hasil


Pemerintah wajib mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan
negara, baik pertanggungjawaban keuangan (financial accountability)
maupun pertanggungjawaban kinerja (performance accountability).
2. Profesionalitas
Keuangan negara harus dikelola secara profesional. Oleh karena itu
sumber daya manusia di bidang keuangan harus profesional, baik di
lingkungan Bendahara Umum Negara/Daerah maupun di lingkungan
Pengguna Anggaran/Barang.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan Overview - 5


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

3. Proporsionalitas
Sumber daya yang tersedia dialokasikan secara proporsional terhadap
hasil yang akan dicapai. Hal ini diakomodasi dengan diterapkannya prinsip
penganggaran berbasis kinerja.
4. Keterbukaan
Pengelolaan keuangan dilaksanakan secara transparan, baik dalam
perencanaan dan penganggaran, pelaksanaan anggaran,
pertanggungjawaban, maupun hasil pemeriksaan.
5. Pemeriksaan keuangan oleh badan pemeriksa yang bebas dan mandiri

Pemeriksaan atas tanggung jawab dan pengelolaan keuangan


negara/daerah dilakukan oleh badan pemeriksa yang independen, dalam hal ini
adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Pemeriksaan oleh BPK dilaksanakan
sesuai dengan amanat undang-undang dan hasil pemeriksaan disampaikan
langsung kepada parlemen. Kedudukan BPK terhadap pemerintah adalah
independen, dengan kata lain BPK merupakan external auditor pemerintah.

C. Kekuasaan Atas Pengelolaan Negara

Berdasarkan Pasal 6 UU No 17/2003 tentang Keuangan Negara, Presiden


selaku kepala pemerintahan adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan
negara. Untuk membantu Presiden dalam pelaksanaan kewenangan tersebut
maka sebagian kewenangan:
a. Dikuasakan kepada Menteri Keuangan selaku pengelola fiskal dan
wakil pemerintah dalam kepemilikan kekayaan negara yang
dipisahkan.
b. Dikuasakan kepada menteri/pimpinan lembaga selaku
Pengguna Anggaran/Pengguna Barang kementerian/lembaga yang
dipimpinnya.
c. Diserahkan kepada gubernur/bupati/walikota selaku kepala
pemerintahan daerah untuk mengelola keuangan daerah dan
mewakili pemerintah daerah dalam kepemilikan kekayaan daerah
yang dipisahkan.
Berdasarkan poin c di atas, maka UU Bidang Keuangan Negara tersebut telah
memperkokoh pelaksanaan otonomi daerah.

Menteri Keuangan sebagai pembantu Presiden dalam bidang keuangan


pada hakekatnya adalah Chief Financial Officer (CFO) Pemerintah Republik
Indonesia, sementara setiap menteri/pimpinan lembaga pada hakekatnya adalah
Chief Operasional Officer (COO) untuk suatu fungsi pemerintah tertentu.

Pada pemerintah daerah, kewenangan untuk mengelola keuangan daerah


yang diterima oleh gubernur/bupati/walikota dilaksanakan oleh:
1. Satuan kerja pengelola keuangan daerah selaku pejabat pengelola
APBD sebagai CFO,
2. Kepala satuan kerja perangkat daerah selaku pejabat pengguna
anggaran/barang daerah sebagai COO.

Prinsip tersebut harus dijalankan secara konsisten agar terdapat kejelasan


dalam pembagian wewenang dan tanggung jawab, terlaksananya mekanisme

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan Overview - 6


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

check and balances, serta untuk mendorong upaya peningkatan profesionalisme


dalam penyelenggaraan tugas pemerintahan.

Lebih lanjut, pada PP 58/2005 diatur tentang peran Sekretaris Daerah


sebagai koordinator dalam pengelolaan keuangan daerah. Sekretaris Daerah
bertugas dalam mengkoordinasikan pengelolaan keuangan daerah. Disamping
itu Sekretaris Daerah adalah sebagai pimpinan tim anggaran Pemerintah Daerah
dan memberikan persetujuan pengesahan Dokumen Pelaksanaan
Anggaran/DPA-SKPD.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan Overview - 7


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

BAB IV

SIKLUS PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

Pengelolaan keuangan daerah mengikuti ketentuan undang-undang di


bidang Keuangan Negara. Siklus pengelolaan ini tidak terlepas pada siklus
manajemen yang dikenal selama ini. Perencanaan merupakan awal dari siklus
yang diikuti dengan pelaksanaan dan pengawasan. Pada pengelolaan keuangan
negara, siklus tersebut terdiri dari perencanaan dan penganggaran, pelaksanaan
anggaran/ perbendaharaan, akuntansi dan pertanggungjawaban, dan
pemeriksaan.

A. Penganggaran

Reformasi bidang keuangan negara dimulai dengan penyempurnaan


proses penganggaran. Sesuai dengan UU 17/2003 tentang Keuangan Negara,
penyempurnaan penganggaran dilakukan melalui pendekatan berikut:

1. Pengintegrasian antara rencana kerja dan anggaran


Dalam penyusunan anggaran dewasa ini digunakan pendekatan budget is a plan,
a plan is budget, oleh karena itu antara rencana kerja dan anggaran merupakan
satu kesatuan, disusun secara terintegrasi. Untuk melaksanakan konsep ini
Pemerintah Daerah harus memiliki rencana kerja dengan indikator kinerja yang
terukur sebagai prasyarat.

2. Penyatuan anggaran (unified budget)


Pendekatan yang digunakan dalam penganggaran ini adalah satu Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD) mempunyai satu dokumen anggaran. Kepala satuan
kerja perangkat daerah bertanggung jawab secara formil dan materiil atas
penggunaan anggaran di kantornya. Tidak ada lagi pemisahan antara anggaran
rutin dan pembangunan. Dengan pendekatan ini diharapkan tidak terjadi
duplikasi anggaran, sehingga anggaran dapat dimanfaatkan secara lebih efisien
dan efektif.

3. Anggaran Berbasis Kinerja


Konsep yang digunakan dalam anggaran ini adalah alokasi anggaran sesuai
dengan hasil yang akan dicapai, terutama berfokus pada output atau keluaran
dari kegiatan yang dilaksanakan. Oleh karena itu untuk keperluan ini diperlukan
adanya program/kegiatan yang jelas, yang akan dilaksanakan pada suatu tahun
anggaran. Dalam penerapan anggaran berbasis kinerja ini diperlukan adanya:
indikator kinerja, khususnya output (keluaran) dan outcome (hasil), standar
pelayanan minimal yang harus dipenuhi oleh pemerintah daerah, standar analisa
biaya, dan biaya standar keluaran yang dihasilkan.

4. Penggunaan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah


Pemerintah dituntut untuk menjaga kesinambungan penyelenggaraan
pemerintahan. Oleh karena itu Pemerintah wajib menyusun Rencana Kerja
Jangka Panjang, Rencana Kerja Jangka Menengah/Rencana Strategis, dan
Rencana Kerja Tahunan. Dalam rangka menjaga kesinambungan
program/kegiatannya, pemerintah daerah dituntut menyusun anggaran dengan

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan Overview - 8


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

perspektif waktu jangka menengah. Selain menyajikan anggaran yang


dibutuhkan selama tahun berjalan, pemerintah daerah juga dituntut
memperhitungkan implikasi biaya yang akan menjadi beban APBD Pemerintah
daerah pada tahun anggaran berikutnya sehubungan dengan adanya
program/kegiatan tersebut.

5. Klasifikasi anggaran
Dalam rangka meningkatkan kualitas informasi keuangan, Pemerintah
menggunakan klasifikasi anggaran yang dikembangkan mengacu pada
Government Finance Statistic (GFS) sebagaimana yang dudah diterapkan di
berbagai negara. Klasifikasi anggaran dimaksud terdiri dari klasifikasi menurut
fungsi, menurut organisasi, dan menurut jenis belanja.

Dalam rangka penyusunan anggaran, proses dipecah menjadi dua


tahapan, yaitu tahapan perencanaan dan tahap penganggaran. Tahapan
perencanaan pada pemerintah pusat dikoordinir oleh Bappenas sedang pada
pemerintah daerah dikoordinir oleh satuan kerja perencanaan daerah. Tahapan
penganggaran dipimpin oleh Kementerian Keuangan pada Pemerintah Pusat dan
dikelolan oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah di Pemerintah Daerah.

Penyusunan rencana kerja dimulai pada bulan Januari dengan menyiapkan


rancangan kebijakan umum, program indikatif, dan pagu indikatif, yang
diperlukan oleh Kementrian/Lembaga/SKPD untuk menyusun RKA-KL/RKA-
SKPD. Rancangan RKP/RKPD ini selesai bulan Juni untuk selanjutnya
disampaikan ke DPR/DPRD untuk dibahas dalam pembicaraan pendahuluan.
Setelah disepakati bersama dengan DPR/DPRD, maka kebijakan umum, program
prioritas, dan plafon anggaran sementara, akan menjadi dasar bagi
Kementrian/Lembaga/SKPD untuk menyusun RKA. RKA ini selanjutnya
digunakan untuk menyusun RAPBN/RAPBD yang wajib disampaikan ke legislatif
untuk dibahas dan diperbaiki sebelum disetujui untuk ditetapkan menjadi
APBN/APBD.

Proses pengesahan RAPBN dilakukan setelah ada persetujuan oleh DPR,


pada RAPBD ada tambahan proses evaluasi. Evaluasi atas RAPBD yang telah
disetujui oleh DPRD dilakukan oleh gubernur untuk RAPBD kabupaten/kota dan
Mendagri untuk RAPBD provinsi. Proses evaluasi yang diatur dalam UU 32/2004
dan diatur lebih lanjut dalam PP 58/2005 bertujuan untuk melindungi
kepentingan umum, menyelaraskan dan menyesuaikan dengan peraturan
perundang-undangan yang lebih tinggi dan/atau peraturan daerah lainnya,
terutama peraturan daerah mengenai pajak daerah dan retribusi daerah.

B. Pelaksanaan Anggaran/Perbendaharaan

Pada pemerintah pusat, pelaksanaan APBN dimulai dengan diterbitkannya


Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran/DIPA. Segera setelah suatu tahun anggaran
dimulai, maka DIPA harus segera diterbitkan untuk dibagikan kepada satuan-
satuan kerja sebagai pengguna anggaran pada kementrian/lembaga. Setelah
masa transisi pada TA 2005, maka pada TA 2006, DIPA sudah dapat serentak
dibagikan pada awal sekali TA 2006 dimulai, tepatnya tanggal 2 Januari 2006
yang lalu. Seperti pada pemerintah pusat, pada pemerintah daerah pun
ditempuh cara yang sama dengan sedikit tambahan prosedur. (dijelaskan pada
paaragraph berikut ini).

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan Overview - 9


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Setelah terbit Peraturan Daerah tentang APBD, SKPD wajib menyusun


Dokumen Pelaksanaan Anggaran/DPA. Dengan demikian maka fleksibilitas
penggunaan anggaran diberikan kepada Pengguna Anggaran. DPA disusun
secara rinci sampai dengan organisasi, fungsi, program, kegiatan, dan jenis
belanja disertai indikator kinerja. Dokumen ini disertai dengan rencana
penarikan dana untuk mendanai kegiatan dan apabila dari kegiatan tersebut
menghasilkan pendapatan maka rencana penerimaan kas juga dilampirkan. DPA
disampaikan kepada kepala SKPKD untuk dimintakan pengesahan.

Jika DIPA bagi kementerian/lembaga sudah dapat dijadikan dokumen


untuk segera melaksanakan anggaran Pemerintah Pusat, pada pemerintah
daerah masih diperlukan Surat Penyediaan Dana (SPD). SPD merupakan suatu
dokumen yang menyatakan tersedianya dana untuk melaksanakan kegiatan.
SPD ini diperlukan untuk memastikan bahwa dana yang diperlukan
melaksanakan kegiatan sudah tersedia pada saat kegiatan berlangsung. Setelah
DPA dan SPD terbit, maka masing-masing satuan kerja wajib melaksanakan
kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya.

Selanjutnya atas pelaksanaan kegiatan oleh satuan kerja, ada dua sistem
yang terkait dengan pelaksanaan anggaran, yaitu sistem penerimaan dan sistem
pembayaran.

1. Sistem Penerimaan
Seluruh penerimaan negara/daerah harus disetor ke Rekening Kas Umum
Negara/Daerah dan tidak diperkenankan digunakan secara langsung oleh satuan
kerja yang melakukan pemungutan (Azas Bruto). Pendapatan diakui setelah
uang disetor ke rekening Kas Umum Negara/Daerah (basis kas). Oleh karena itu
penerimaan wajib disetor ke Rekening Kas Umum selambat-lambatnya pada hari
berikutnya.
Dalam rangka mempercepat penerimaan pendapatan, Bendahara Umum
Negara/Daerah dapat membuka rekening penerimaan pada bank. Bank yang
bersangkutan wajib menyetorkan penerimaan pendapatan setiap sore hari ke
Rekening Kas Umum Negara/Daerah.

2. Sistem Pembayaran
Belanja membebani anggaran daerah setelah barang/jasa diterima. Oleh karena
itu terdapat pengaturan yang ketat tentang sistem pembayaran. Dalam sistem
pembayaran terdapat dua pihak yang terkait, yaitu Pengguna Anggaran/Barang
dan Bendahara Umum Daerah.

Terdapat dua cara pembayaran, yaitu pembayaran yang dilakukan secara


langsung oleh BUD kepada yang berhak menerima pembayaran atau lebih
dikenal dengan sistem LS. Pembayaran dengan sistem LS dilakukan untuk
belanja dengan nilai yang cukup besar atau di atas jumlah tertentu. Cara lainnya
adalah dengan menggunakan Uang Persediaan melalui Bendahara Pengeluaran.
Pengeluaran dengan UP dilakukan untuk belanja yang nilainya kecil di bawah
jumlah tertentu untuk membiayai keperluan sehari-hari perkantoran.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan Overview - 10


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

C. Akuntansi

Pelaksanaan anggaran dilakukan dengan mengikuti suatu sistem dan


prosedur akuntansi. Sistem ini diperlukan untuk tujuan tiga hal. Pertama adalah
untuk menetapkan prosedur yang harus diikuti oleh pihak-pihak yang terkait
sehingga jelas pembagian kerja dan tanggung jawab diantara mereka. Kedua
adalah untuk terselenggarakannya pengendalian intern untuk menghindari
terjadinya penyelewengan. Terakhir adalah untuk menghasilkan laporan
keuangan sebagai bentuk pertanggungjawaban pengelolaan keuangan dimana
jenis dan isi diatur oleh PP 24/2005 tentang SAP. Pertanggungjawaban atas
pengelolaan keuangan tersebut, secara umum tata cara dan tanggung jawab
pelaporan diatur dalam PP 8/2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja
Instansi Pemerintah.

Sejalan dengan PP 8/2006, tanggung jawab atas pelaksanaan APBN/APBD


ada pada entitas pelaporan. Setiap entitas pelaporan terdiri dari dua bagian
entitas akuntansi, yaitu sebagai bendahara umum dan sebagai pengguna
annggaran. Terkait dengan hal itu, sistem akuntansi pemerintah pun terdiri dari
dua bagian bagian utama, baik itu untuk pemerintah pusat maupun pemerintah
daerah. Pertama adalah sistem yang berlaku untuk instansi yang bertindak
sebagai pengguna anggaran yang diterapkan pada satuan kerja. Sesuai dengan
perannya sebagai pengguna anggaran, bagian sistem ini terutama untuk
mencatat pendapatan, belanja dan aset yang menjadi kewenangannya.
Pendapatan yang dikelola oleh pengguna anggaran adalah bukan pajak atau
retribusi untuk daerah. Pendapatan jenis ini pada umumnya terkait dengan jasa
yang diberikan oleh instansi yang mengelola. Selanjutnya adalah proses
akuntansi yang terkait dengan belanja, baik itu yang dilakukan dengan
menggunakan uang persediaan maupun dengan sistem langsung yang
pembayarannya langsung dari kas umum. Akuntansi atas belanja akan
merupakan kegiatan yang paling banyak dan rumit dibanding akuntansi atas
transaksi-transaksi lainnya karena itu merupakan bagian utama dalam
pengelolaan keuangan pemerintah. Sebagai pengguna anggaran, satuan kerja
juga wajib melakukan pencatatan atas aset yang dikelola dan digunakan. Hal ini
penting dilakukan karena satuan kerja wajib mempertanggungjawabkan aset
yang digunakan. Dari kegiatan akuntansi oleh satuan kerja sebagai pengguna
anggaran, pada akhir periode akan menghasilkan tiga laporan, yaitu Laporan
Realisasi Anggaran (LRA), Neraca dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).

Bagian kedua adalah sistem yang berlaku untuk bendahara umum. Bagian
ini terutama mengelola pendapatan pajak dan pendapatan lain yang tidak
diserahkan pengelolaannya kepada satuan kerja pengguna anggaran, misalnya
pendapatan bunga dan hasil investasi. Dalam pencatatan atas belanja pun ada
belanja-belanja yang tidak diserahkan kepada satuan kerja pengguna anggaran,
misalnya belanja bunga, hibah dan dana perimbangan. Selain itu, transaksi
pembiayaan juga dilaksanakan oleh bendahara umum. Termasuk dalam jenis
transaksi ini antara lain investasi dalam bentuk penyertaan modal, obligasi dan
pemberian pinjaman jangka kepada pihak lain. Dari pelaksanaan akuntansi ini
oleh bendahara umum ini, ada 4 jenis laporan yang dihasilkan, yaitu LRA,
Neraca, LAK dan CaLK.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan Overview - 11


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

SKPD LRA
LRA
Sistem

Kepala Daerah
Akuntansi Neraca
Satker
CaLK Neraca di
se

BUD/SKPKD
LRA PPKD rah
kan
LAK
Sistem Neraca
Akuntansi
BUD LAK CaLK

CaLK

Gambar-1

Selanjutnya, dari dua bagian sistem tadi, pada akhir periode laporan-
laporan yang dihasilkan akan digabungkan untuk menjadi laporan entitas yang
terdiri dari LRA, Neraca, LAK dan CaLK. Empat laporan itu akan menjadi laporan
pertanggungjawaban keuangan kepada lembaga legislatif mewakili rakyat.
Hubungan dua bagian sistem itu dapat digambarkan dalam Gambar-1 di atas.

D. Pemeriksaan

Pemerintah, baik pusat maupun daerah mengemban amanat untuk


menjalankan tugas pemerintahan melalui peraturan perundangan. Untuk
penyelenggaraan pemerintahan dimaksud, pemerintah memungut berbagai
macam jenis pendapatan dari rakyat, kemudian membelanjakannya untuk
penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan kepada rakyat. Dalam
hal ini kedudukan pemerintah adalah sebagai agen dari rakyat, sedangkan
rakyat sebagai prinsipalnya. Sebagai agen, pemerintah wajib
mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangannya kepada rakyat yang
diwakili oleh DPR/DPRD.

Dalam pola hubungan antara Pemda sebagai agen dan DPRD sebagai
wakil dari prinsipal, terdapat ketidakseimbangan pemilikan informasi. Lembaga
perwakilan tidak mempunyai informasi secara penuh apakah laporan
pertanggungjawaban atas pengelolaan keuangan daerah dari eksekutif telah
mencerminkan kondisi yang sesungguhnya, apakah telah sesuai semua
peraturan perundang-undangan, menerapkan sistem pengendalian intern secara
memadai dan pengungkapan secara paripurna. Oleh karena itu diperlukan pihak
yang kompeten dan independen untuk menguji laporan pertanggungjawaban
tersebut. Lembaga yang berwenang untuk melakukan pemeriksaan atas laporan
pertanggungjawan tersebut adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Ketentuan tentang pemeriksaan oleh BPK diatur dalam UU No. 15/2004 tentang

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan Overview - 12


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

Pemeriksaan Tanggung Jawab dan Pengelolaan Keuangan Negara. Pola


hubungan dimaksud dapat dilihat pada Gambar-2 berikut ini.

HUBUNGAN KONTRAK PRINSIPAL


PRINSIPALAGEN

L Ketentuan Undang-Undang
E
M P
R B E
P A
Rencana Anggaran / Kerja
R A G
A
M
E
I K P R A
N E I G
S Y R
N E
W
I
P
A A
K
Akuntansi Pelaporan T N
A
A T I
L H
L A
N
Auditing

AKUNTABILITAS

Gambar 2

Dalam rangka pelaksanaan anggaran diperlukan pemeriksaan atas laporan


keuangan yang disajikan baik oleh pemerintah pusat maupun oleh pemerintah
daerah. Pemeriksaan ini dilakukan oleh BPK dalam rangka pemberian
pernyataan pendapat (opini) tentang tingkat kewajaran informasi yang disajikan
dalam laporan keuangan.

Hasil setiap pemeriksaan yang dilaksanakan oleh BPK disusun dan


disajikan dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP). Selanjutnya LHP dimaksud
disampaikan kepada DPR/DPRD/DPD sesuai dengan kewenangannya, kecuali
yang memuat rahasia negara dan kepada kepada pemerintah. LHP atas laporan
keuangan selambat-lambatnya disampaikan kepada legislatif 2 (dua) bulan
setelah diterimanya laporan keuangan dari pemerintah. Dalam rangka
transparansi dan partisipasi publik, LHP yang telah disampaikan kepada legislatif
dinyatakan terbuka untuk umum. Dengan demikian masyarakat dapat
memperoleh kesempatan untuk mengetahui hasil pemeriksaan.

Hasil pemeriksaan keuangan oleh BPK akan menghasilkan opini yang


merupakan pernyataan profesional pemeriksa mengenai kewajaran informasi
keuangan yang disajikan. Kriteria untuk pemberian opini adalah sebagai berikut:
a. Kesesuaian dengan Standar Akuntansi Pemerintahan;
b. Kecukupan pengungkapan;
c. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan; dan
d. Efektivitas sistem pengendalian intern.

Penilaian atas empat hal di atas akan menentukan suatu opini. Ada empat
macam opini yang diberikan pemeriksa, yaitu:
a. Wajar tanpa pengecualian;

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan Overview - 13


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

b. Wajar dengan pengecualian;


c. Tidak wajar;
d. Menolak memberikan opini.

E. Pertanggungjawaban

Pemerintah daerah wajib mempertanggungjawabkan pelaksanaan APBD,


baik dalam bentuk laporan keuangan (financial accountability) maupun laporan
kinerja (performance accountability). Laporan keuangan disusun dan disajikan
sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 24/2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan dan Laporan Kinerja disusun sesuai dengan Peraturan Pemerintah
yang mengatur tentang Laporan Keuangan dan Kinerja instansi pemerintah.

Pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBN/APBD berupa laporan


keuangan. Laporan keuangan yang disampaikan ke DPR/DPRD adalah laporan
keuangan yang telah diperiksa oleh BPK. Laporan keuangan yang telah diaudit
ini selambat-lambatnya disampaikan kepada lembaga legislatif selambat-
lambatnya 6 bulan setelah tahun anggaran berakhir.

Laporan keuangan setidak-tidaknya terdiri dari :


o Laporan Realisasi Anggaran,
o Neraca,
o Laporan Arus Kas, dan
o Catatan atas Laporan Keuangan.

Laporan keuangan sebagaimana di atas disampaikan ke legislatif dalam


rangka pertanggungjawaban pelaksanaan pengelolaan keuangan selama satu
tahun anggaran. Selain laporan keuangan tersebut, juga dilampirkan ikhtisar
laporan keuangan perusahaan daerah dan satuan kerja lainnya yang
pengelolaanya diatur secara khusus seperti misalnya Badan Layanan Umum.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan Overview - 14


Modul Pelatihan Standar Akuntansi Pemerintahan

DAFTAR BACAAN

1. UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara;


2. UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara;
3. UU No. 15/2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara;
4. UU No. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
5. UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah;
6. UU No. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat
dan Pemerintahan Daerah;
7. PP No. 23/2005 tentang Pengelolaan Keuangan BLU;
8. PP No. 24/2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan;
9. PP No. 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
10. PP No. 8/2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi
Pemerintah.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan Overview - 15