Anda di halaman 1dari 753

PEMBAHASAN TO ONLINE 8

UKMPPD 2017

dr. Widya, dr. Alvin, dr. Yolina


dr. Cahyo, dr. Ayu, dr. Gregorius

OFFICE ADDRESS:
Jl padang no 5, manggarai, setiabudi, jakarta selatan Medan :
(belakang pasaraya manggarai) Jl. Setiabudi no. 65 G, medan
phone number : 021 8317064 Phone number : 061 8229229
pin BB D3506D3E / 5F35C3C2 Pin BB : 24BF7CD2
WA 081380385694 / 081314412212 Www.Optimaprep.Com
ILMU PENYAKIT DALAM
1. Mekanisme Diare
, 20 tahun
BAB 5x, demam, nyeri ketika BAB, lendir (+), darah +)
Lab : leukosit 15000, tropozoid (-)
Definisi diare:
Defekasi yang lebih sering, pengeluaran feses yang lembek atau berair
(Harrisons Principle of Internal Medicine)
Feses kehilangan konsistensi normal, biasanya berhubungan dengan
peningkatan berat feses (pada pria > 235; pada wanita > 175 g/d) dan
peningkatan frekuensi (> 2/ day) (Color Atlas of Pathophysiology)
Causes of diarrhea:
Osmotic
Malabsorption
Secretory
Resection of the ileum
Pathophysiology
of Different
Causes of
Diarrhea
Mekanisme Diare
Terdapat beberapa macam diare berdasarkan
mekanisme terjadinya. Secara umum dapat
dikelompokkan menjadi:
Sekretorik, contoh: Vibrio Cholera. Toksind ari vibrio
cholera memicu sekresi Na. Pasien akan mengeluhkan
diare yang profuse.
Osmotik, contoh: Penggunaan laksative. Konsumsi
makanan tertentu dapat meningkatkan tekanan
intraluminal dan menyebabkan diare.
Inflamatorik, contoh IBD, infeksi. Terjadi kerusakan
mukosa usus. Pasien dapat mengeluhkan diare yang
disertai darah.
2. Osteoporosis Primer
Osteoporosis primer dibagi lagi lebih lanjut menjadi:
Tipe I (pasca menopause)
Ini terjadi pada wanita pasca menopause. Dengan begitu,
dapat dikatakan bahwa osteoporosis terjadi karena
kekurangan estrogen (hormon utama pada wanita) yang
membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam
tulang pada wanita.
Tipe II (Senile)
Terjadi pada pria dan wanita usia. Hilangnya massa tulang
kortikal terbesar terjadi pada usia tersebut. Diakibatkan
oleh kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia
dan ketidakseimbangan antara kecepatan hancurnya
tulang dan pembentukan tulang baru. Penyakit ini
biasanya terjadi pada usia diatas 70 tahun dan dua kali
lebih sering menyerang wanita.
Vitamin D berperan penting dalam absorbsi
kalsium yang akhirnya berhubungan dengan
metabolisme kalsium tulang.
Pada kondisi kekurangan aktivasi vitamin D
seperti pada orang tua dan penyakit ginjal
kronik, maka akan terjadi pengeroposan
tulang sebagai akibat dari resorbsi tulang
untuk mengkompensasi kadar kalsium tulang.
7-dehydrocholesterol merupakan prekursor
vitamin D3 pada lapisan epidermis kulit.
Setelah mengalami reaksi elektrocyclic akibat
paparan terhadap UVB akan membentuk
cholecalciferol.
Cholecalciferol akan dihodroksilasi di hati
untuk membentuk calcifediol langkah
terakhir adalah hidroksilasi oleh ginjal menjadi
calcitriol (bentuk aktif dari vitamin D3)
3. Vena esofageal
4-5. Malaria
Profilaksis malaria
Profilaksis Mekanis Kemoprofilaksis
Tindakan yang dapat dilakukan Jenis Khemoprofilaksis malaria
untuk mencegah transmisi klorokuin (P. vivax) 300 mg
malaria di daerah yang endemis basa/minggu
adalah dengan tidur doksisiklin (P. falciparum) 100
menggunakan kelambu yang mg/hari
telah dicelup pestisida, meflokuin (P. falciparum, P. vivax
menggunakan obat pembunuh & P. malariae)250 mg/ minggu
nyamuk (mosquito repellants),
menggunakan proteksi saat Pemberian khemoprofilaksis:
keluar dari rumah (baju lengan Kelompok non-imun yang
panjang, kaus/stocking), dan bepergian ke daerah endemis
memproteksi kamar atau ruangan (pelancong, pegawai negri, TNI,
menggunakan kawat anti transmigran dll)
nyamuk. Wanita hamil di daerah endemi
6. DIC
Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)
adalah sebuah aktivasi kaskade koagulasi sebagai
akibat dari berbagai akibat. DIC dapat berujung
pada pembentukan bekuan darah didalam
pembuluh darah pada tubuh.
Trauma/infeksi-endotoksin tissue factor
kaskade koagulasi trombus iskemi jaringanF
Plasmin fibrinolisis pemecahan bekuan
darahFDP (D dimer)
Diagnosis
Gejala: Pasien dapat masuk ke dalam keadaan
shok, perdarahan, mudah luka (bruising)
Pada pemeriksaan lab dijumpai adanya
penurunan kadar trombosit, pemanjanagan
APTT dan PT dan peningkatan D dimer.
Penanganan Penanganan penyebab
(infeksi), dapat diberikan transfusi platelet,
FFP untuk memperbaiki parameter
pembekuan darah.
6.DIC
7. Koma Miksedema
Koma miksedema merupakan keadaan
dekompensasi dari hipotiroid.
Gejala koma miksedema meliputi: penurunan
kesadaran, hypothermia,hipotensi, bradikardia.
Miksedema adalah deposit jaringan konektif
(glycosaminoglycan, asam hyaluronic) pada kulit.
Tidak harus dijumpai pada keadaan koma
hypothyroid namun merupakan sebuah
fenomena yang dapat ditemui.
Terapi: salah satu terapi berupa pemberian
levothyroxine IV.
8. Gangguan Asam Basa
Disorder Problem Etiology Physical findings
Metabolic Gain of H+ or Diarrhea, RTA, KAD, lactic Kussmaul respiratory, dry
acidosis loss of HCO3- acidosis mucous membrane,
specific physical finding
to its cause
Metabolic Gain of HCO3- Loss of gastric secretion Tetany, Chvostek sign,
alkalosis or loss of H+ (vomiting), thiazide/loop specific physical finding
diuretics to its cause
Respiratory Hypoventilation COPD, asthma, CNS disease, Dyspnea, anxiety,
acidosis (CO2 retention) OSA cyanosis, specific physical
finding to its cause
Respiratory Hiperventilation Hypoxia tachypnea Hyperventilation, cardiac
alkalosis (CO2 loss), high pneumonia, pulm. rhythm disturbance
altitude Edema, PE, restrictive lung
disease
9.Endokarditis Bakterialis
Endokarditis merupakan infeksi mikroorganisme
pada permukaan endotel jantung atau
endokardium, paling banyak mengenai katup
jantung.
Endokarditis dapat pula terjadi pada lokasi defek
septal, korda tendinea, atau endokardium mural.
Lesi endokarditis yang khas berupa vegetasi, yaitu
massa yang terdiri dari platelet, fibrin,
mikroorganisme, dan sel-sel inflamasi dengan
ukuran yang bervariasi.
Organisme yang dapat menyebabkan endokarditis

Stafilokokus
S. aureus
Koagulase negatif
Streptokokus
S. viridans
Enterokokus
S. bovis
Streptokokus lainnya
Organisme lain (jamur, gram negatif)
Polimikrobial
MANIFESTASI KLINIS
Tampilan klinis endokarditis terdiri dari:
Demam
Murmur jantung
Pembesaran limpa
Gejala muskuloskeletal: artralgia dan mialgia
Kejang
Ensefalopati
Glomerulonefritis
Artritis
Tampilan Klinis Endokarditis
Kriteria Diagnosis
Kriteria mayor Kriteria minor

Kultur darah positif: 1. Predisposisi: pengguna narkoba suntik atau kondisi


a. Konsisten ditemukan mikoorganisme tipikal penyebab jantung sebelumnya
2. Demam: suhu >380 C
endokarditis infektif dari 2 kultur darah terpisah: (i)
3. Fenomena vaskular: emboli arterial mayor, infark
Streptococcus viridans, Streptococcus bovis, atau grup pulmoner septik, aneurisma mikotik, perdarahan
HACEK; atau (ii) Staphylococcus aureus atau intrakranial, perdarahan konjungtiva, dan lesi
enterokokus komunitas; atau Janeway
b. Konsisten ditemukan mikoorganisme endokarditis 4. Fenomena imunologis: glomerulonefritis, nodus Osler,
infektif dari kultur darah yang tetap positif: (i) > 2 bercak Roth, dan faktor reumatoid
5. Bukti mikrobiologis: kultur darah positif namun tidak
sampel kultur darah positif yang diambil dengan jarak
memenuhi kriteria mayor atau bukti serologis
>12 jam; (ii) ketiganya atau mayoritas > 4 kultur darah mengenai adanya infeksi aktif dengan organisme
terpisah (sampel pertama dan terakhir diambil dalam penyebab endokarditis infektif
jarak > 1 jam) 6. Temuan ekokardiografi: konsisten dengan endokarditis
infektif namun tidak memenuhi kriteria mayor
Bukti keterlibatan endokardial:
a. Ekokardiogram positif endokarditis infektif: (i) massa
intrakardiak osilasi pada katup atau struktur penunjang,
pola regurgitant jets, atau materi yang tampak tertanam
tanpa alternatif penjelasan anatomis lainnya, atau (ii)
abses, atau (iii) dehisensi parsial baru katup prostetik,
atau
a. Regurgitasi katup baru (perburukan atau perubahan
murmur yang sebelumnya sudah ada tidak cukup
dijadikan bukti)
Diagnosis Kriteria patologis Kriteria klinis

Pasti (definite) Mikroorganisme ditemukan 2 kriteria mayor atau 1 kriteria mayor + 3


endokarditis infektif dalam kultur atau kriteria minor atau 5 kriteria minor
histologi vegetasi/ emboli
vegetasi/ abses
intrakardiak
Atau
Lesi patologis: tampak
vegetasi atau abses
intrakardiak (konfirmasi
histologis terdapat
endokarditis aktif
Kemungkinan (possible) Temuan konsisten endokarditis infektif namun tidak memenuhi kriteria pasti
endokarditis infektif (definite) tetapi tidak rejected

Bukan (rejected) Ditemukan diagnosis lain untuk manifestasi endokarditis infektif yang ada,
endokarditis infektif atau
Resolusi manifestasi endokarditis infektif dengan terapi antibiotik selama < 4
hari, atau
Tidak ada bukti patologis endokarditis infektif pada operasi atau otopsi setelah
pemberian terapi < 4 hari
Tatalaksana
Tata laksana endokarditis terdiri dari terapi antimikroba
dan bedah (jika terdapat indikasi).
Terapi antimikroba dilakukan secara empiris atau tanpa
data kultur. Endokarditis akut pada pengguna narkoba
suntik biasanya disebabkan oleh S. aureus resisten
metisilin dan bakteri gram negatif, sehingga dapat
diberikan terapi vankomisin dan gentamisin.
Endokarditis katup asli subakut dapat diberikan
seftriakson dan gentamisin, sementara pada katup
prostetik dapat diberikan dua antibiotik tersebut
ditambah vankomisin.
Diagnosis Banding Keluhan
Penyakit jantung reumatik (PJR) biasanya didahului infeksi Streptokokus
beta hemolitikus grup A (biasanya berupa
faringitis). Kriteria mayor diagnosis PJR
meliputi poliartritis berpindah-pindah,
tanda karditis (takikardia, murmur, gallop,
kardiomegali), nodul subkutan, eritema
marginatum, dan korea Sydenham.
Kriteria minor PJR ialah demam bersuhu
tinggi, artralgia, riwayat demam reumatik
atau PJR, dan hasil laboratorium
menunjukkan reaksi akut.
Miokarditis umumnya disebabkan oleh virus, dan
secara objektif ditemukan peningkatan
enzim jantung. Dapat pula ditemukan
peningkatan CRP dan LED.
Perikarditis Nyeri dada tiba-tiba, tajam, pleuritik,
retrosternal atau prekordial kiri,
memberat pada inspirasi.
Stenosis katup mitral murni umumnya tidak disertai gejala
demam, batuk, dan nyeri dada seperti
pada soal
10. Pseudomembran Kolitis
10. Pseudomembranous Colitis
Clostridium difficile infection
(CDI) Normal ileum
Penyakit kolon yang
dihubungkan dengan
penggunaan antrimikrobial
dan gangguan flora normal
kolon.
AB yang terkait dengan CDI
Clindamycin, ampicillin, &
cephalosporins
The 2nd & 3rd cephalosporins,
(cefotaxime, ceftriaxone,
cefuroxime, and ceftazidime)
ciprofloxacin, levofloxacin, and
moxifloxacin (hospital
outbreak)

Harrisons principles of internal medicine. 18th ed. McGraw-Hill; 2011.


Pseudomembranous Colitis
Penelanan spora

bervegetasi

melepaskan toksin

diare &
pseudomembranous
colitis

Harrisons principles of internal medicine. 18th ed. McGraw-Hill; 2011.


Pseudomembranous Colitis
Kriteria diagnosis CDI:
Diare (3 feses cair per 24 jam selama 2 hari) with no other recognized
cause plus
toxin A atau B dideteksi pada feses, C. difficile yang dapat mendeteksi
toksin terdeteksi pada feses dengan PCR atau kultur, atau
pseudomembran terlihat dari pemerikksaan kolon.

Harrisons principles of internal medicine. 18th ed. McGraw-Hill; 2011.


Pseudomembranous Colitis
Ketika memungkinkan, penghentian antimikrobial
yang sedang digunakan merupakan langkah awal
dalam penanganan Clostridium difficile infection (CDI).
Walaupun demikian, dengan perburukan keadaam
pada sebagian pasien, pemberian antibiotik segera
direkomendasikan.
Pengobatan umum dari kolitis ini adalah dengan hidrasi
dan hindari pemberian antiperistaltik dan opiate, yang
dapat menutup gejala dan dapat memperburuk
keadaan.
Pengobatan untuk CDI adalah pemberian vancomicin
dan metronidazole untuk CDI ringan-sedang.

Harrisons principles of internal medicine. 18th ed. McGraw-Hill; 2011.


11. Differential Diagnosis Ikterus Obstruksi

Obstruksi dalam lumen saluran empedu


batu, askaris
Kelainan dinding saluran empedu
atresia kongenital, striktur traumatik,
tumor saluran empedu
Tekanan saluran empedu dari luar
tumor kaput pancreas, tumor ampula vater,
pancreatitis, metastase di lig hepatoduodenale
Sirosis hepatis
Abses
Carsinoma hepar

Striktur

Ca Caput
Batu

Ascaris

Berbagai macam kelainan penyebab ikterus


http://www.top5plus5.com http://www.charlestongi.com/cms/images/conditions/pancreatitis.jpg
Ikterus

Cek Urobilin & Bilirubin

Urobilin Urobilin + Urobilin ++


Bilirubin urin+ + Bilirubin urin + Bilirubin urin -
Bilirubin Direct > Bilirubin Direct + Bilirubin Direct N
Bilirubin Indirect + Bilirubin Indirect >

Parenkim
Obstruksi:
- Hepatitis Hemolitik
- Intra hepatic
-Cirrhosis
- Extra hepatic
-Hepatoma

USG:Bile duct dilatation CT scan


PTC Tumor
ERCP Batu
Intra hepatal : hepatitis Extra hepatal MRI

Flow chart pasien dengan ikterus


12. Pericardial Disease
Pericardial effusion may be caused by:
Acute pericarditis
Noninflammatory serous effusions:
Increased capillary permeability (e.g., severe
hypothyroidism);
Increased capillary hydrostatic pressure (e.g., congestive
heart failure); or
Decreased plasma oncotic pressure (e.g., cirrhosis or the
nephrotic syndrome).
Chylous effusions may occur in the presence of
lymphatic obstruction of pericardial drainage, most
commonly caused by neoplasms & tuberculosis.
12. Pericardial Disease
Three factors determine whether a pericardial effusion
remains clinically silent or whether symptoms of
cardiac compression ensue:
the volume of fluid,
the rate at which the fluid accumulates,
the compliance characteristics of the pericardium.

If the pericardial effusion accumulates slowly, over


weeks to months, the pericardium gradually stretches
accommodate larger volumes without marked
elevation of intrapericardial pressure.
12. Pericardial Disease
Clinical manifestations:
Range from asymptomatic to tamponade (hypotension without
pulmonary edema).

Physical examination:
Distant heart sound.
Heart border extended to both side.
Dullness over left posterior lung field due to compressive
atelectasis.

Diagnostic studies:
ECG: pericarditis (diffuse ST elevation), effusion low voltage.
CXR: large effusion (250 mL): cardiomegaly with waterbottle
heart & epicardial halo.
12. Pericardial Disease
Treatment
If the cause of the effusion is known, therapy is
directed toward the underlying disorder (e.g.,
intensive dialysis for uremic effusion).
If the cause is not evident, the clinical state of the
patient determines whether pericardiocentesis
(removal of pericardial fluid) should be undertaken.
An asymptomatic effusion observation
A precipitous rise in pericardial volume or if there is a
hemodynamic compression pericardiocentesis + analysis
of the fluid.
13. Arthritis
Ringkasan pasien:
Wanita, 55 tahun
Nyeri pada kedua lutut sejak 2 tahun lalu
Kaku selama 20 menit pada pagi hari saat bangun
tidur dan 5 menit pada saat bangun dari duduk
Krepitasi positif
IMT : 31,2 kg/m2 Obesitas
Radiologi: terdapat kista subkondral
13. Osteoarthritis
Cartilage serves as a cushion between the bones of joints,
allowing the bones to glide over one another & absorb the
shock from physical movements.
Osteoarthritis: degenerated joint
lost the cushioning function of the
cartilage the bones tend to grind
against one another.
13. Osteoarthritis
The two major
macromolecules in
cartilage:
type 2 collagen: provides
tensile strength,
Aggrecan: gives
compressive stiffness.

Stimulated chondrocytes in
OA synthesize enzymes
& new matrix molecules
gradual depletion of
aggrecan & loss of type 2
collagen increasing
vulnerability of cartilage
lost compressive stiffness.
13. Osteoarthritis
Osteoarthritis progresses in
stages:
joint space begins to narrow
and osteophytes form
joint space disappears as
cartilage wears away and
bone rubs on bone in the
joint
subchondral cysts appear
(fluid-filled sac that extrudes
from the joint, consisting of
mostly hyaluronic acid)
bone tries to repair itself and
there is bone remodeling
14. Typhoid Fever
, 22 th
Demam, pusing, tidak ada nafsu makan, perut
kembung, belum BAB selama 3 hari
PF : suhu 39 C, nadi 80x/menit, lidah kotor,
tepi hiperemis, tremor, hipoperistaltik
Patofisiologi
S. Typhi masuk
sampai usus halus
menembus sel epitel
ke lamina propria
difagosit makrofag
berkembang biak dalam
makrofag ke Plak
Peyeri KGB
mesenterika duktus
torasikus bakterimia
ke hepar& lien
bakterimia dan
diekskresikan bersama
cairan empedu ke lumen
usus
Gejala dan Tanda Klinis
demam persisten
nyeri kepala
gejala abdomen (biasanya berupa nyeri
epigastrium, diare atau konstipasi), mual, muntah
bradikardi relatif,
lidah yang tremor dan berselaput
meteorismus.
hepatomegali, splenomegali

53
Sensitivity of Typhoid Cultures

Blood cultures: often (+) in the 1st week.


Stools cultures: yield (+) from the 2nd or 3rd week on.
Urine cultures: may be (+) after the 2nd week.
(+) culture of duodenal drainage: presence of Salmonella in
carriers.
Pilihan Antimikroba
Kloramfenikol 4x500 mg PO atau IV diberikan
sampai 7 hari bebas demam
Kotrimoksazol 2x2 tabley (1 tablet :
Sulfametoksazol 400mg dan Trimetoprim 80 mg)
diberikan selama 2 minggu.
Ampisilin dan Amoksisilin 50-150mg/KgBB selama
2 minggu
Sefalosporin generasi ketiga IV 4 gr dalam
dekstrosa 100cc diberikan selama jam sekali
sehari selama 3-5 hari.
55
Golongan Fluorokionolon:
- Norfloksasin 2x400mg/hari selama 14 hari
- Siprofloksasin 2x500mg selama 6 hari
- Ofloksasin 2x400 mg/hari selama 7 hari
- Pefloksasin 400 mg/hari selama 7 hari
- Fleroksasin 400 mg/hari selama 7 hari

56
15. Peptic Ulcer

Keywords
, 41 thn
Nyeri ulu hati, mual
muntah sejak 1 hr yll
Riwayat
mengonsumsi obat
bebas penghilang
nyeri

Functional gastroduodenal disorders. N J Talleya ,et al. International Journal of Gastroenterology and Hepatology.
Pathophysiology of duodenal and gastric ulcer and gastric cancer. John Calam. British Medical Journal.
NSAID Mechanism
Longterm or high dose consumption
of NSAID effect
Inhibitory effect on cyclooxygenase

Blocking prostaglandin synthesis (from


arachidonic acid) systemically, also in gastric
and duodenal epithelial

Decreases HCO3 secretion (weakened mucosal


protection)

Damage the mucosa locally by nonionic


diffusion into the mucosal cells (pH of gastric
juice << pKa of the NSAIDs)
16. CHF
Sesak nafas
JVP (5+4)cm, sesak, BP 170/90 mmHg
Linear Pattern
A linear pattern is seen when there is
thickening of the interlobular septa,
producing Kerley lines.
Kerley A lines
Kerley B lines

Kerley A lines

The interlobular septa contain pulmonary


veins and lymphatics.

The most common cause of interlobular


septal thickening, producing Kerley A and B
lines, is pulmonary edema, as a result of
pulmonary venous hypertension and
Kerley B lines
distension of the lymphatics.
http://wwwappskc.lonestar.edu%2Fprograms%2Frespcare%2Frev_xray.ppt
17. Perdarahan Jantung
, 50 th
Nyeri dada kiri menjalar ke lengan kiri sampai
punggung kiri.
PF : sumbatan plaque di A. Koronaria dan
Infark di dinding anterior jantung
Left coronary artery
mensuplai area:
Anterior LV
The bulk of the
interventricular septum
(anterior two thirds)
The apex
Lateral and posterior LV
walls
Right coronary artery
mensuplai area:
Right ventricle (RV)
The posterior third of the
interventricular septum
The inferior wall
(diaphragmatic surface) of
the left ventricle (LV)
A portion of the posterior
wall of the LV (by means of
the posterior descending
branch)
18. Asma
Pasien asma sejak kecil
Saat ini sesak napas
PF : TD = 110/80 mmHg, FN = 100 kali/menit,
RR = 26kali/menit
EKG menunjukkan P pulmonal. Spirometri
FEV1 70%.
Effect of Pulmonary Hypertension
19. Hypothyroidism
Hypothyroid merupakan kekurangan sekresi
hormon tiroid akibat kegagalan tiroid
(hypothyroidisme primer), atau dalam keadaan
lebih jarang disebabkan oleh kelainan pituitary
atau hipothalamik (hypothyroidism sekunder).
Umumnya temuan laboratorium yang ditemukan
adalah peningkatan akdar TSH dengan kadar free
T4 mengalami penurunan atau normal
Gejala klinis
Gejala klinis hypothyroid:
Lethargy
Rambut kering dan rontok
Intoleransi dingin
Sulit berkonsentrasi
Memori yang buruk
Konstipasi
Nafsu makan yang buruk
19 Hipotiroidisme
Susp. Tiroiditis Hashimoto
Hashimoto thyroiditis
Merupakan salah satu penyebab hypothyroid
primer dimana kelenjar thyroid diserang oleh
respon imun seluler atau antibodi-mediated
(penyakit autoimun thyroid)
Faktor risiko:
genetik (anggota keluarga dengan riwayat
kelainan thyroid)
hormon (wanita lebih sering terkena)
Paparan radiasi
Hashimoto thyroiditis
Temuan klinis:
gejala hypothyroid (peningkatan berat badan, fatigue,
depresi, konstipasi)
Kelenjar thyroid dapat membesar dan berlobul atau dapat
juga tidak terpalpasi pembesaran
Diagnosis dapat dibuat dengan mendeteksi kadar anti-
thyroid peroxidase antibodies, TSH, fT3, fT4, anti
thyroglobulin antibodies
Penanganan: pemberian Thyroid replacement therapy (
levothyroxin), pembedahan (pada kasus tertentu
seperti pembesaran thyroid dengan gejala obstruksi,
nodul malignan, thyroid lymphoma)
20. Obstruksi ileum dengan
pneumoperitoneum
Ileus Obstruktif Ileus Paralitik
Etiologi Massa, volvulus, invaginasi abN elektrolit (K+, Mg2+)
Obat: opioid
Nyeri Kolik Tidak prominen
Distensi Letak tinggi: >> Tidak prominen
abdomen Letak rendah: > darm contour, darm
steifung
Bising usus (metallic sound) s.d. (-)
Radiologi Dilatasi single bubble, double
bubble, multiple bubble
Air-fluid level
Herring bone appearance
Udara colon (-) (+)
Pneumoperitoneum
Crescent sign: free
air beneath diaphragm
Riglers sign:
visualization of both
sides of the bowel wall
"Football sign" = large
pneumoperitoneum
outlining entire
abdominal cavity
21. Acute Limb Ischemia ec Emboli dari Jantung
Penurunan perfusi
ekstremitas secara
mendadak yang dapat
mengancam viabilitas
jaringan
Onset <2 minggu
6P Pain, pallor,
pulselessness, paresthesia,
poikilothermia, paralisis
Golden period: 6 jam
Dx: arteriografi Doppler

Inter-Society Consensus for the Management of PAD . TASC II Guidelines. 2009.


Chronic Limb
Ischemia
Insufisiensi arteri
perifer >2 minggu
Klaudikasio
intermitten
Dipicu aktivitas
& elevasi tungkai
Metabolisme
anaerob asam
laktat muscle
cramping
Nyeri atau
burning pada
plantar pedis
Dx: ABI
22. Takayasus Arteritis
Vaskulitis granulomatosa
sistemik aorta dan
percabangannya
Arteri besar & sedang A.
Subklavia & a.
brachiocephalica
Kriteria dx (3 dari 6, Se 90.5%,
Sp 97.8%
Usia 40 tahun
Klaudikasio ekstremitas
pulsasi a. Brakhialis
Perbedaan TD >10 mmHg
antara kedua lengan
Bruit a. subklavia atau aorta
Abnormalitas angiogram

American College of Rheumatology 1990 criteria for the diagnosis of Takayasus arteritis. Arth Rheum 1990;330:1129
Aneurisma aorta Dilatasi aorta true & pseudo
Root, thoraksik, thorako-abdominal, abdominal
Asimptomatik nyeri dada/punggung
Aorta thoraksik: ro thoraks
Aorta abdomen: pulsasi (+)
Tromboangitis obliterans Rx inflamasi non-ateromatosa (vasospasme) pada arteri & vena kecil
ulkus atau gangren digiti
Laki-laki muda, perokok
Giant cell arteritis Vaskulitis pada percabangan kranial arkus aorta, terutama a.
Temporalis (temporal arteritis) + demam, fatigue, BB turun,
anoreksia
Arteri-arteri wajah klaudikasio mandibula
Chronic limb ischemia Terutama arteri ekstremitas bawah setelah keluar dari percabangan
aortoiliaka (a. Iliaka, a. Femoralis, a. Tibialis, a. Dorsalis pedis)
Dx: ABI <0.9
23. Myoglobinuria
Trias klasik rhabdomyolisis: Etiologi:
myalgia, kelemahan otot, urin Trauma & kompresi (crush injury)
berwarna gelap
Exercise atlet lebih rentan
Faktor predisposisi: hipokalemia (myoglobin >>)
Viral myositis kausa
Pemeriksaan lab: rhabdomyolisis tersering pada
Myoglobin dalam 24 jam
anak influenza virus
CKMB >1000 U/L peak di hari-
Gangguan elektrolit: hipokalemia
3A Toksin, bisa ular
Enzim otot lain: aldolase, LDH, Obat zidovudine, statins
SGOT Alkohol, kokain, amfetamin.
Infeksi, sepsis: gas gangrene,
Myoglobinuria vs hematuria: tetanus, shigellosis, Coxsackie
Myoglobinuria: coklat, RBC Metabolik: KAD
dipstisk (-) Hipertermia malignan, demam
Hematuria: sedimen RBC (+), tinggi
red/brown coloration in serum Herediter: McArdle syndrome,
muscular dystrophy
Ha rri sons principles of internal medicine. 18th ed. McGra w-Hill; 2011.

24. Infeksi Saluran Kemih


Pielonefritis
Inflamasi pada ginjal & pelvis renalis
Demam, menggigil, mual, muntah, nyeri pinggang, diare,
Lab: silinder leukosit, hematuria, pyuria, bakteriuria, leukosit esterase +.

Sistitis:
Inflamasi pada kandung kemih
Disuria, frekuensi, urgensi, nyeri suprapubik, urin berbau,
Lab: pyuria, hematuria, leukosit esterase (+) nitrit +/-.
Urethritis:
Inflammation pada uretra
Disuria, frekuensi, pyuria, duh tubuh.
Lab: pyuria, hematuria, leukosit esterase (+), nitrit (-).
ISK complicated:
Terdapat faktor anatomi, fungsional, farmakologi yang menjadi
predisposisi infeksi persisten, rekuren, atau gagal pengobatan
Contoh: ISK pada pembesaran prostat atau obstruksi lain yang
memerlukan kateter, infeksi oleh bakteri multiresisten.
Infeksi Saluran Kemih
Pielonefritis ringan:
Demam ringan dengan/tanpa nyeri CVA.

Pielonefritis berat:
Demam tinggi,
rigors,
Mual, muntah,
Nyeri pinggang.

Gejala umumnya akut, gejala sistitis bisa ada/tidak.

Demam adalah tanda utama yang membedakan pielonefritis


dari sistitis.

Harrisons principles of internal medicine. 18th ed. McGraw-Hill; 2012.


Pielonefritis

Untuk pasien dengan respons yang cepat (demam & gejala hilang di
awal terapi), terapi dapat dibatasi selama 7 hari.
Pada beberapa penelitian pemberian golongan -lactam kurang dari
14 hari berkaitan dengan angka kegagalan yang tinggi.
Satu penelitian menunjukkan keunggulan siprofloksasin selama 7
hari dibandingkan TMP-SMX selama 14 hari.
Comprehensive cllinicall nephrology. 5th ed. 2015
25. Multiple myeloma
Malignansi sel B Ab monoklonal IgM
Gejala:
Proliferasi sel plasma di sumsum tulang anemia
Lesi litik tulang nyeri tulang, fraktur kompresi,
hiperCa2+
Infeksi berulang ec hipogammaglobulinemia
Ginjal protein light chain toksik thd ginjal
gagal ginjal, sindroma nefrotik
Elektroforesis Hb: Bence-Jones protein (light
chain)
Hapus darah tepi: rouleaux
Biopsi sumsum tulang: plasmasitosis >10%
Multiple punch-out lesions Osteopenia
Fraktur kompresi
26. HIV
26. Perjalanan Penyakit HIV
Pembagian Stadium Klinis HIV
berdasarkan WHO

WHO Case Definitions of HIV for Surveillance and Revised Clinical Staging and Immunological Classification of HIV -
Related Disease in Adults and Children 2007
26.
Konseling &
Tes HIV

Gejala dan tanda klinis


diduga terinfeksi HIV

PPE:
Pruritic papular eruption
A1, A2, A3 adalah pemeriksaan untuk mendeteksi
antibodi terhadap HIV menggunakan ELISA atau tes
cepat yang berbeda. A1 sensitivitas >99%, A2, A3,
spesifisitas 99%.
26. Konseling & Tes HIV
ILMU BEDAH, ANASTESIOLOGI DAN
RADIOLOGI
27. Hernia
HERNIA HIATALHERNIA DIAFRAGMATIKA

/VENTRAL HERNIA
Additional:
Spigellian hernia: very rare, a hernia through the spigelian fascia and in most cases, it has a small
size
Ventral hernia: hernia in the abdominal wall, for example: incisional, umbilical and paraumbilical
27. Hernia Ventral
Hernia merupakan protusi atau penonjolan isi
suatu rongga melalui defek atau bagian lemah
dari dinding rongga bersangkutan.
Hernia ventralis adalah nama umum untuk
semua hernia di dinding perut bagian
anterolatetal seperti hernia sikatriks. Hernia
sikatriks merupakan penonjolan peritoneum
melalui bekas luka operasi yang baru maupun
lama
#28 Anatomi
Apendiks
Suatu organ limfoid
Penonjolan bagian terminal
sekum
Terletak pada kuadran kanan
bawah abdomen
Rata-rata appendiks memiliki
panjang 9-10 cm dan diameter
0.5-1.0 cm.
Pasokan darah appendiks
arteri appendiceal, merupakan
cabang terminal arteri ileocolic
Epidemiologi Patofisiologi
Mekanisme utama Obstruksi lumen
Kelompok berusia dekade appendiks
ke-2 hingga dekade ke-4. Awal appendisitis nyeri ringan akibat
stimulasi dari nosiseptor visceral dan slow-
Rasio wanita banding pria transmitting C-fibers dalam nervus autonom.
1,3:1 Pada permukaan luar abdomen, appendiks
yang inflamasi menyebabkan nyeri pada titik
Prevalensi appendisitis akut McBurney (pada sepertiga garis yang
menghubungkan spina iliaca superior
dan appendektomi pada anterior ke umbilicus)
populasi umum ialah sekitar Obstruksi lumen terisi oleh mucus dan
distensi tekanan luminan dan intramural
12% (pada pria) sampai 25% meningkat thrombosis dan oklusi
(pada wanita) pembuluh darah kecil, dan statis aliran
limfatik appendiks menjadi iskemi
nekrotik.
Lanjutan Patfis Tahap appendisitis
Pada pasien muda hiperplasi Tahap awal apendisitis :
follicular lymphoid yang diinisiasi/dipicu Obstruksi lumen appendiks
infeksi virus atau bakteri Appendisitis suppuratif invasi
Overgrowth bakteri (Escherichia coli, bakteri dan cairan inflamasi
Peptostreptococcus, Bacteroides pada dinding appendiks.
fragilis, and Pseudomonas species)
Appendicitis gangrenous
Pada pasien yang lebih tua obstruksi Trombus pada arteri dan vena
lumen yang disebabkan oleh fibrosis, intramural
fecalith, atau neoplasia (carcinoid,
adenocarcinoma, atau mococele) Appendisitis perforata iskemi
jaringan yang persisten
Appendisitis phlegmonous
atau abses
Appendisitis infiltrat etiologi
proses radang apendiks yang Obstruksi lumen penyebab
penyebarannya dapat dibatasi utama apendisitis.
oleh omentum dan usus-usus Hipertrofi jaringan limfoid
dan peritoneum disekitarnya Sisa barium dari pemeriksaan
roentgen
sehingga membentuk massa
Diet rendah serat
(appendiceal mass)
Cacing usus termasuk ascaris
Umumnya massa apendiks Trauma tumpul atau trauma
terbentuk pada hari ke-4 sejak karena colonoscopy
peradangan mulai apabila Erosi mukosa apendiks
tidak terjadi peritonitis umum karena parasit seperti E.
Histolytica
gejala Pemeriksaan fisik
Berdasarkan lokasi dari appendiks Tanda klasik pada kuadran kanan bawah
Inflamasi appendiks yang terletak biasanya ditemukan bila appendiks
anterior / pelvic kuadran kanan terletak pada posisi anterior.
bawah Nyeri tekan sering maksimal pada atau
Appendiks yang terletak restrocecal dekat titik McBurney (Direct rebound
tidak menimbulkan tanda lokal tenderness) iritasi peritoneal
peritonitis dengan derajat yang sama terlokalisasi
Gangguan pencernaan, flatus, Tanda Rovsing-nyeri lokasi iritasi
terkadang hanya rasa tidak nyaman peritoneum
pada abdomen, diikuti oleh nyeri pada Hiperestesia kulit pada area yang
bagian epigastrium , dan tidak dipersarafi oleh saraf spinal kanan pada
terlokalisir, mual dan muntah. T10, T11, dan T12
Demam dan leukositosis umumnya Tanda Psoas ( nyeri pada kuadran kanan
terjadi pada tahap akhir dari nyeri ( bawah saat ekstensi pinggul kanan)
pada Perforasi appendiks mencapai Tanda Obturator (nyeri pada rotasi
suhu >39.4 Celcius) internal panggul)
Pemeriksaan lab Pemeriksaan radiologi
Leukositosis ringan, antara Foto polos abdomen
10,000 sampai 18,000/mm Pada pasien dengan nyeri perut,
ultrasonography (USG) memiliki
Urinalisis digunakan untuk sensitifitas 85% dan spesifisitas
menyingkirkan infeksi saluran lebih dari 90% untuk diagnosis
kencing appendisitis.
Kultur pelvic dapat dilakukan Computed tomography (CT)
umum digunakan pada pasien
pada wanita yang aktif sexual dewasa dengan kecurigaan
dan menstruasi. appendicitis akut memiliki
Beta-HCG wajib dilakukan sensitivitas 90% dan spesifisitas
80%-90% untuk diagnosis
untuk menyingkirkan appendicitis akut pada pasien
kemungkinan kehamilan dengan nyeri abdomen
ektopik
Diagnosis banding
Diagnosis
ditegakkan berdasarkan temuan klinis sedangkan pemeriksaan
penunjang, terutama CT scan bersifat menunjang diagnosis.
Skala Alvarado:
Skor 9-10 hampir pasti menderita appendisitis.
Skor 7-8 kemungkinan besar menderita appendisitis.
Skor 5-6 diperlukan pemeriksaan lain terutama CT scan.
Skor 0-4 kemungkinan kecil terjadi appendisitis
Skor Alvarado
Gejala Nyeri berpindah 1
Anorexia 1
Mual/muntah 1
Tanda Nyeri kanan bawah 2
Rebound 1
Peningkatan suhu 1
Lab Leukositosis 2
Hitung leukosit bergeser ke kiri 1

9-10 (almost certain) harus segera operasi Total poin


7-8 (high likehood) dipastikan dengan pencitraan 10
abdomen
5-6 (compatible) dipastikan dengan pencitraan
abdomen
0-4 (extremely unlikely, but not immposible) observasi
Blumberg Sign
Algoritma tatalaksana
Tatalaksana(2)
Periapendikular infiltrat tidak Terapi konservatif pada
dilakukan insisi abdomen, tindakan periapendikular infiltrat :
bedah apabila dilakukan akan lebih 1. Total bed rest posisi fawler agar pus
sulit dan perdarahan lebih banyak, terkumpul di cavum douglassi
lebih-lebih bila massa apendiks telah 2. Diet lunak bubur saring
terbentuk lebih dari satu minggu
sejak serangan sakit perut. 3. Antibiotika parenteral dalam dosis
Pembedahan dilakukan segera bila tinggi, antibiotik kombinasi yang aktif
dalam perawatan terjadi abses terhadap kuman aerob dan anaerob
dengan atau pun tanpa peritonitis setelah keadaan membaik, yaitu sekitar
umum 6-8 minggu kemudian, dilakukan
Terapi sementara untuk 8-12 minggu apendiktomi.
konservatif saja Jika terjadi abses drainase
Pada anak kecil, wanita hamil,
dan penderita usia lanjut, jika secara
konservatif tidak membaik atau
berkembang menjadi
abses,dianjurkan operasi secepatnya.
Penderita periapendikular infiltrat
diobservasi selama 6 minggu: Kebijakan untuk operasi
1. LED periapendikular infiltrat :
2. Jumlah leukosit Bila LED telah menurun kurang
dari 402
MassaPeriapendikular infiltrat dianggap
tenang apabila :
Tidak didapatkan leukositosis
1. Anamesa : penderita sudah tidak Tidak didapatkan massa atau
mengeluh sakit atau nyeri abdomen pada pemeriksaan berulang
2. Pemeriksaan fisik : massa sudah tidak mengecil lagi
o Keadaan umum penderita baik, Bila dalam 8-12 minggu masih
tidak terdapat kenaikan suhu tubuh
terdapat tanda-tanda infiltrat
o Tanda-tanda apendisitis sudah
tidak terdapat atau tidak ada perbaikan, operasi
o Massa sudah mengecil atau tetap dilakukan.
menghilang, atau massa tetap ada tetapi Bila ada massa periapendikular
lebih kecil
yang fixed, ini berarti sudah
o Laboratorium : LED kurang dari
20, Leukosit normal
terjadi abses dan terapi adalah
drainase
komplikasi
Paling sering ditemukanperforasi, baik berupa perforasi bebas
maupun perforasi pada apendiks yang telah mengalami pendindingan
berupa massa yang terdiri atas kumpulan apendiks, sekum, dan lekuk
usus halus
Tanda-tanda terjadinya suatu perforasi adalah :
1. Nyeri lokal pada fossa iliaka kanan berganti menjadi nyeri abdomen
menyeluruh
2. Suhu tubuh naik tinggi sekali
3. Nadi semakin cepat
4. Defance Muskular yang menyeluruh
5. Bising usus berkurang
6. Perut distensi
29. Tumor Medulla Spinalis
Tumor medula spinalis adalah tumor yang
berkembang dalam tulang belakang atau Tumor Spinal Cord
isinya dan biasanya menimbulkan gejala
akibat terlibatnya medula spinalis atau Ekstrameduler
radix saraf.
Tumor sarung saraf 40%
Lesi massa atau tumor yang mengganggu
medula spinalis dikelompokkan menjadi : Meningioma 40%
Ependimoma filum 15%
(1) Tumor intrameduler (yang berasal dari
dalam medula spinalis). Lain-lain 5%
Intrameduler
(2) Tumor intradural-ekstrameduler, dan
Ependimoma 45%
(3) Tumor ekstradural (yang tumbuh dari Astrositoma 40%
luar dura, dan kebanyakan melibatkan
kolum vertebrata).
Hemangioblastoma 5%
Lain-lain 10%
Tumor Medulla Spinalis

1 (A) Tumor intradural-intramedular, (B) Tumor


intradural-ekstramedular, dan (C) Tumor
Ekstradural
Ekstradural
Sebagian besar merupakan tumor metastase, yang
menyebabkan kompresi cepat pada medula spinalis
Nyeri radikuler diikuti dengan gejala mielopati
Nyeri lokal yang tajam
Nyeri biasanya lebih dari 1 radiksmulanya hilang dengan
istirahat,semakin lama semakin menetap/persisten
dapat terjadi spontan
sering bertambah dengan perkusi ringan pada vertebrae nyeri
vertebrae
Tanda awal kompresi
Kelemahan spastik
hilangnya sensasi getar dan posisi sendi dibawah tingkat lesi
merupakan
Intradural Ekstramedular
Nyeri radikuler kronik progresif
Nyeri diperberat oleh traksi :
gerakan, batuk, bersin atau mengedan
paling berat terjadi pada malam hari
Defisit sensorik awalnya tidak jelas
karena tumpah tindih dermaton
Tumor Ekstrameduler
Meningioma Neurinoma, Neurofibroma
Tumor spinal intradural yang paling Neurinoma (schwannoma) dan
sering dijumpai, 60-70% pada daerah neurofibroma merupakan tumor
toraks dan 10-20% di daerah servikal. intradural-ekstrameduler kedua
Gejala klinis klasik adalah gangguan terbanyak.
traktus saraf panjang, antara lain
seperti paraparesis dan tetraparesis; Sebanyak 80% kasus
untuk tumor yang berada di sebelah menampilkan keluhan nyeri
lateral dapat menampilkan sindroma radikuler dan disestesia.
Brown Seguard. Keluhan gejala lain Gangguan motorik dan disfungsi
adalah nyeri radikuler, terutama
menghebat pada malam atau waktu kandung kemih tampil pada
istirahat. kurang dari 50% kasus.
Tumor ini berada intradural- Sebanyak 2,5% tumor sarung
ekstrameduler (khas), dimana saraf spinal intradural adalah
separuhnya berlokasi dilateral dan ganas dan sedikitnya separuh dari
sisanya didorsal atau diventral. kasus-kasus ini dijumpai pada
penderita neurofibromatosis.
Intradural Intramedular
Hilangnya sensasi nyeri dan suhu bilateral
Nyeri tumpul sesuai dengan tinggi
lesibersifat difus
Tumor Intrameduler
Ependimoma
Astrositoma
Ependimoma merupakan tumor Astrositoma adalah tumor kedua
intrameduler yang paling banyak dijumpai. terbanyak di jumpai sebagai tumor
Pada umumnya dijumpai pada daerah intrameduler, yang kemudian
servikal dan serviko-torakal, namun sering diikuti oleh astrositoma maligna
kali ia juga mempunyai tempat predileksi dan glioblastoma multiforme.
khusus yakni di konus medularis dan filum Mirip dengan ependimoma,
terminalis (56%). astrositoma kebanyakan timbul di
Gejala awalnya adalah nyeri; gangguan daerah servikal dan servikotorakal,
sensorik dan kelemahan motorik (dapat sedangkan jarang tumbuh didaerah
mulai timbul 2-3 tahun sebelum diagnosa torakolumbar.
di tegakkan). Demikian pula gejala klinisnya,
Usia kasusnya adalah kelompok 30-40 mirip dengan ependimoma,
tahun dan kasus-kasus daerah kauda termasuk segala tampilan karena
ekuina didominasi oleh jenis kelamin laki- gangguan traktus kortiko-spinal dan
laki.
spino-talamikus, paresis, dan nyeri
disestetik.
Jenis ganas dari ependimoma ini sangat
jarang dijumpai, dan istilah bagi tumor ini
adalah ependimoblastoma.
Hemangioblastoma Oligodendroglioma
merupakan jenis tumor merupakan tumor
intrameduler yang jarang, intrameduler yang sangat
jarang.
sangat vaskuler dan angka
Ia sering kali mengandung
insidens terbanyak adalah kalsifikasi dan bercampur
pada kelompok usia dekade dengan elemen glia serta
empat serta rasio jenis kistik.
kelamin yang seimbang antara Kadang-kadang suatu
laki-laki dengan wanita. oligodendroglioma intrakranial
dikaitkan sebagai asal dari
Lokasi preferensinya adalah tumor intraspinal ini melalui
didaerah servikal dan serviko- proses metastasis lewat
torakal. rongga subarakhnoid spinal.
Lipoma, Dermoid, Epidermoid, dan
Teratoma
Lipoma spinal pada usia dewasa umumnya terjadi di daerah servikal dan toraks,
sedangkan pada anak-anak biasanya didaerah lumbo-sakral. Keberadaannya
mempunyai kaitan yang erat dengan abnormalitas kutaneus seperti nevi, dimpel,
hiperpigmentasi kulit, hipertrikosis, angima kapiler, dan lipoma subkutan.
Tumor dermoid kebanyakan disertai dengan adanya suatu traktus fistula sinus dan
disgrafisme spinal okulta, dan juga kelainan hiperpigmentasi kulit atau hipertrikosis
sebagian besar tumor jenis ini berlokasi di daerah lumbo-sakral, dan dapat
menampilkan gejala-gejala meningitis bila kista dermoid tersebut pecah dan
masuk ke dalam rongga subarakhnoid.
Tumor epidermoid juga sering menyertai kasus spina bifida okulta, terutama
dijumpai di daerah torako-lumbal. Tumor epidermid mengandung empat lapisan
kulit normal. Tumor ini dapat timbul akibat tindakan punksi lumbal yang berkurang
atau sebagai sisa dari reparasi meningomielokel.
Teratoma merupakan jenis tumor kongenital yang jarang dan ia mempunyai
predileksi daerah konus medularis. Tumor ini mengandung jaringan kulit dan
elemen dermal seperti rambut dan tulang rawan (komponen mesodermal dan
endodermal). Tumor jenis ini mempunyai kecenderungan mengalami degenerasi
keganasan dengan metastasis sistemik.
Myelitis a neurological disorder caused by an inflammatory process of the spinal cord, and can cause axonal
Sarkoidosis
Transversalis Tumor Ekstradural
demyelination. Transverse implies that the inflammation is across the thickness of the spinal cord.
Arises idiopathically following infections or vaccination,or due to multiple sclerosis. the onset is
Sarkoidosis adalah salah satu Tumor Metastasis
sudden and progresses rapidly in hours and days. The lesions can be present anywhere in the spinal
manifestasi dari penyakit
cord. Symptoms sistemik
include weakness and numbness of the limbs as well as motor, sensory, and
yang dicirikan sebagai proses Keganasan Ekstradural
sphincter deficits. The symptoms and signs depend upon the level of the spinal cord involved and
infiltrasi
thegranulomatosa
extent of the involvement of the various long tracts.
nonkaseosa.
Trauma Medulla
Lipomatosis
Disebabkan oleh berbagai proses patologis termasuk trauma seperti kecelakaan lalu lintas, terjatuh,
Spinalis Presentasi klinis
olahraga yang
(misalnya
trauma dapat
khas adalah
menyelam),
berupa yang
Angiolipoma,
kecelakaan industri, luka tembak dan luka bacok, ledakan bom. Efek
fraktur-dislokasi,
paraparesis progresif tidak dislokasi, fraktur. Kerusakan yang terjadi dapat melalui
menimbulkan keluhan sakit. Angiomiolipoma
proses:kompresi, regangan jaringan, edema medula spinalis, gangguan sirkulasi darah.
Lokasi ayang
Abses Medulla paling
collection of pussering terlibat
(neutrophils) that has accumulated within a tissue because of an inflammatory
Spinalis adalahprocess
daerah in response
toraks.to Terapi
either an infectious process (usually caused by bacteria or parasites) or
other foreign materials (e.g., splinters, bullet wounds, or injecting needles).
pembedahan pada kasus
sarkoidosis
Tumor Metastase adalah
Merupakan laminektomi,
penyebaran dari suatu keganasan di tempat lain. Gejala tergantung dari daerah lesi,
biopsi dapat
dan menyebabkan disfungsi gerak, kelumpuhan, dan hilang sensasi.
bila perlu dekompresi
granuloma
Spondilitis TB sertagranulomatosa
Peradangan pemberian yang bersifat kronis destruktif oleh Mycobacterium tuberculosis.
steroidDikenal
topikal.
pula dengan nama Potts disease of the spine atau tuberculousvertebral osteomyelitis.
Spondilitis ini paling sering ditemukan pada vertebraT8 L3dan paling jarang pada vertebraC1- 2.
Biasanya merupakan infeksi sekunder dari infeksi TBC di tempat lain dalam tubuh
Mielitis Istilah mielitis menunjukkan peradangan pada medulla
spinalis, trasversa menunjukkan posisi dari peradangan
sepanjang medulla spinalis.
Myelitis Transversa :kelainan neurologi yang disebabkan
oleh peradangan sepanjang medulla spinalis baik
melibatkan satu tingkat atau segmen dari medulla
spinalis.
4 gejala klasik myelitis transversa:kelemahan otot atau
paralisis kedua lengan atau kaki, kehilangan rasa pada kaki
dan jari jari kaki, Nyeri, Disfungsi kandung kemih dan
buang air besar

Trauma medula Trauma medula spinalis dapat disebabkan oleh berbagai


spinalis proses patologis termasuk trauma. Fokus pemeriksaan
yaitu pada gambaran klinis secara umum keterlibatan dari
susunan medula spinalis
Guailan barre GBS merupakan penyakit yang timbul ketika sistem imun
syndrome tubuh menyerang sistem saraf perifer. Gejala pertama yg
timbul bervariasi dari kelamahan ekstremitas inferior atau
rasa kesemutan, bersifat simetris kemudian menyebar ke
lengan dan bagian tubuh atas. Gejala bertambah hingga
otot-otot tubuh sulit digerakan bahkan paralisis.
soundnet.cs.princeton.edu
30. Posterior Hip
Dislocation
Gejala
Nyeri lutus
Nyeri pada sendi
panggul bag.
belakang
Sulit
menggerakkan
ekstremitas
bawah
Kaki terlihat
memendek dan
dalam posisi
fleksi, endorotasi
dan adduksi
Risk Factor
Kecelakaan
Improper seating
adjustment
sudden break in
the car
netterimages.com
soundnet.cs.princeton.edu

Anterior Hip Dislocation


Gejala
Nyeri pada sendi
panggul
Tidak dapat berjalan
atau melakukan
adduksi dari kaki.
The leg is externally
rotated, abducted,
and extended at the
hip

netterimages.com
Dislokasi Panggul
ANTERIOR POSTERIOR
JARANG TERJADI (10%) PALING SERING TERJADI AKIBAT
TRAUMA DASHBOARD SAAT
MENGEREM (90%)

DISLOKASI ANTERIOR ACETABULUM DISLOKASI POSTERIOR ACETABULUM

EKSTENSI PANGGUL, ABDUKSI, FLEKSI PANGGUL, INTERNAL ROTASI,


EKSTERNAL ROTASI ADDUKSI, EKSTREMITAS TERLIHAT
MEMENDEK
Tatalaksana Dislokasi Sendi Panggul:
Reposisi
Bila pasien tidak memiliki komplikasi lain:
Berikan Anestetic atau sedative dan manipulasi
tulang sehingga kembali pada posisi yang
seharusnya reduction/reposisi
Pada beberapa kasus, reduksi harus dilakukan
di OK dan diperlukan pembedahan
Setelah tindakan, harus dilakukan
pemeriksaan radiologis ulang atau CT-scan
untuk mengetahui posisi dari sendi.
31. Spondilitis Tuberkulosis
(Spondilitis TB)
Anamnesis
Spondilitis Tuberkulosis (Spondilitis Biasanya pasien memperlihatkan gejala-gejala
TB) adalah penyakit infeksi pada sakit kronik dan mudah lelah, demam yang
tulang belakang yang disebabkan subfebris terutama pada malam hari, anoreksia,
oleh bakteri Mycobacterium berat badan menurun, keringat pada malam
hari, takikardia dan anemia.
tuberculosis
Nyeri dan kekakuan punggung merupakan
ETIOLOGI keluhan yang pertama kali muncul.
Mycobacterium tuberculosis yang Nyeri dapat dirasakan terlokalisir di sekitar lesi
berasal dari lesi primer di jaringan atau nyeri menjalar sesuai saraf yang
lain, lewat melalui darah dan masuk terangsang.
ke tulang. Spasme otot punggung terjadi akibat
TANDA dan GEJALA mekanisme pertahanan menghindari
pergeseran dari vertebra.
Gambaran klinik hanya berupa nyeri
Saat pasien tidur spasme otot akan hilang dan
pinggang atau punggung. Nyeri ini memungkinkan terjadinya pergerakan tetapi
terjadi akibat reaksi inflamasi di muncul kembali nyeri tersebut sehingga
vertebra dan sukar dibedakan dengan membangunkan pasien.
nyeri akibat penyakit lain. Pada anak-anak ini disebut sebagai night cry.
http://desy.tandiyo.staff.uns.ac.id/files/2010/07/potts-disease.pdf; www.emedicine.com

Spondilitis TB
Potts disease atau Spondilitis tuberkulosis adalah infeksi tuberkulosis ekstrapulmonal yang
mengenai satu atau lebih tulang belakang.
Spondilitis tuberkulosa merupakan bentuk paling berbahaya dari tuberkulosis
muskuloskeletal karena dapat menyebabkan destruksi tulang, deformitas dan paraplegia.
Umumnya melibatkan vertebra thorakal dan lumbosakral. Vertebra thorakal bawah
merupakan daerah paling banyak terlibat (40-50%), vertebra lumbal (35-45%), vertebra
servikal (10%).
Infeksi Mycobacterium tuberculosis pada tulang selalu merupakan infeksi sekunder
tergantung pada keganasan kuman dan ketahanan tubuh
Reaksi tubuh setelah terserang kuman tuberkulosis dibagi menjadi lima stadium :
1. Stadium I (Implantasi): Stadium ini terjadi awal, bila keganasan kuman lebih kuat dari daya tahan tubuh. Pada
umumnya terjadi pada daerah torakal atau torakolumbal soliter atau beberapa level.
2. Stadium II (Destruksi awal): Terjadi 3 6 minggu setelah implantasi. Mengenai diskus intervertebralis.
3. Stadium III (Destruksi lanjut dan Kolaps) :Terjadi setelah 8-12 minggu dari stadium II. Bila stadium ini tidak diterapi
maka akan terjadi destruksi yang hebat dan kolaps dengan pembentukan bahan-bahan pengejuan dan pus (cold
abscess).
4. Stadium IV (Gangguan Neurologis) :Terjadinya komplikasi neurologis, dapat berupa gangguan motoris, sensoris dan
otonom.
5. Stadium V (Deformitas dan Akibat) :Biasanya terjadi 3-5 tahun setelah stadium I. Kiposis atau gibus tetap ada,
bahkan setelah terapi.
Tatalaksana:
Spondilitis TB 1.Terapi konservatif :
Medikamentosa :
Rifampisin 10-20 mg/kgBB, maksimum 600 mg/hari
DIAGNOSIS Etambutol 15 mg/kgBB, maksimum 1200 mg/hari
1. Riwayat penyakit dan gambaran klinis : Piridoksin 25 mg/kgBB
Onset penyakit biasanya beberapa bulan INH 5-10 mg/kgBB, maksimum 300 mg/hari
tahun berupa kelemahan umum, nafsu makan (Etambutol diberikan dalam 3 bulan, sedangkan yang
menurun, berat badan menurun, keringat lain diberikan dalam 1 tahun. Semua obat diberikan
malam hari, suhu tubuh meningkat sedikit sekali dalam sehari.)
pada sore dan malam hari.
Nyeri pada punggung merupakan gejala awal
Imobilisasi
dan sering ditemukan. Pencegahan komplikasi imobilisasi lama
Gibus. 2. Operasi
Cold abscess. Indikasi operasi :
Abnormalitas neurologis terjadi pada 50% adanya abses paravertebra
kasus dan meliputi kompresi spinal cord deformitas yang progresif
berupa gangguan motoris, sensoris maupun gejala penekanan pada sumsum tulang belakang
autonom sesuai dengan beratnya destruksi gangguan fungsi paru yang progresif
tulang belakang, kifosis dan abses yang kegagalan terapi konservatif dalam 3 bulan
terbentuk. terjadi paraplegia dan spastisitas hebat yang tidak dapat
2. Pemeriksaan penunjang dikontrol
Tuberkulin skin test : positif
Laju endap darah : meningkat
Mikrobiologi (dari jaringan tulang atau abses) :
basil tahan asam (+)
X-ray, CT scan, MRI
ABCESS

GIBBUS
32. Controlling External Bleeding
Pertolongan pertama yang harus segera
dilakukan untuk menghentikan perdarahan
Memberikan tekanan langsung
Menekan langsung sumber perdarahan dengan
kassa steril
Pressure Bandages
Apply over wound on
extremity to maintain
direct pressure
Use roller bandage to
completely cover
wound and maintain
pressure

Make sure it doesnt cut off circulation


Check victims fingers and toes for circulation
Pembidaian
Bila mengkuti langkah ABC maka yang dilakukan adalah pemberian
infus karena fraktur terbuka femur banyak mengeluarkan darah
sambil kita melakukan balut tekan pada daerah perdarahan.
Tujuan dari pembidaian adalah :
1. Mengurangi/menghilangkan nyeri dengan cara mencegah
pergerakkan fragmen tulang,sendi yang dislokasi dan jaringan lunak
yang rusak.
2. Mencegah kerusakan lebih lanjut jaringan lunak (otot,medula
spinalis,syaraf perifer,pembuluh darah) akibat pergerakan ujung
fragmen tulang.
3.Mencegah laserasi kulit oleh ujung fragmen tulang ( fraktur
tertutup jadi terbuka).
4.Mencegah gangguan aliran darah akibat penekanan ujung
fragmen tulang pada pembuluh darah.
5.Mengurangi/menghentikan perdarahan akibat kerusakan jaringan
lunak.
33. Wilms tumor
Wilms tumor Merupakan tumor solid pada renal
terbanyak pada masa kanak-
Tumor ganas ginjal yang terjadi kanak, 5% dari jumlah kanker
pada anak, yang terdiri dari sel pada anak. (smith urology)
spindel dan jaringan lain. Disebut Puncak usia adalah pada usia 3 tahun
juga Lebih sering unilateral ginjal
adenomyosarcoma , embryoma o
f kidney , nephroblastoma ,renal c Etiologi
arcinosarcoma . Non familial: 2 postzygotic
mutation pada single cell
Familial : 1 preygotic mutation
The American Heritage Stedman's Medical Dictionary dan subsequent post zygotic
Copyright 2002, 2001, 1995 by Houghton Mifflin Company.
Published by Houghton Mifflin Company. event
Mutasi ini terjadi pada lengan
pendek kromosom 11 (11p13)
Patogenesis & Karakteristik
Pathology tumor
Prekurson wilms tumor (nephrogenic Wilms tumor :
rest-NR) large, multi lobular, gray or tan in
Perilobar NR dan intralobar color, focal area of hemorrhage
NR and necrosis, biasanya terdapat
fibrous pseudocapsule
Penyebarannya :
NR dormant untuk beberapa tahun
1. Direct extension renal
capsule
Renal mengalami involusi dan 2. hematogenously renal vein
sclerosis atau vena cava
3. lymphatic
Wilms tumor Metastasis : 85-95% ke paru, 10-
Histopatology : Blastemal, epithelial, 15% ke liver, 25% ke limf node
dan stromal element, tanpa regional
anaplasia
Staging tumor
Menurut NWTS (National Stage II : Tumor sudah
Wilms Tumor Study) meluas dari ginjal tapi
Stage I : Tumor terbatas masih dapat diangkat
pada ginjal. Tidak ada sempurna. Terdapat
penetrasi ke kapsul penetrasi permukaan luar
renalis atau keterlibatan renal kapsul, invasi renal
renal sinus vessel. Tumor vessel sinus. Tidak ada
tidak rupture pada saat residual tumor, tidak ada
pengangkatan, tidak ada sisa pada batas
residual tumor di batas pengangkatan, tidak ada
pengangkatan tumor. keterlibatan kelenjar
getah bening regional
Stage III : Residual Stage IV : Terdapat
nonhematogenous metastasis
tumor ke abdomen. hematogenous ke paru,
Terdapat keterlibatan liver, tulang, dan otak
kelenjar getah bening,
kontaminasi peritoneal, Stage V: Keterlibatan
implan pada permukaan bilateral renal
peritoneal, tumor
meluar melebihi daerah
pengangkatan, terdapat
trombus tumor
Gejala Klinis Pemeriksaan penunjang
Massa dan rasa sakit pada Lab : Urinalisis : hematuria,
abdominal anemia, subcapsular
hemorrhage. Jika sudah
Macroscopic haematuria
metastasis ke liver terdapat
Hypertension peningkatan creatinin
Anorexia, nausea, vomit CT abdominal lihat
ekstensi tumor
Chest xray lihat
metastasis ke paru
Biopsi
CT scan in a patient Gross nephrectomy
with a right-sided specimen shows a
Wilms tumor with Wilms tumor pushing
favorable histology. the normal renal
parenchyma to the
side.
Manajemen
Surgical :
- Keterlibatan kidney unilateral
- Tumor tidak melibatkan organ visceral
Chemotherapy
Radiasi
disease Sign & symptoms
Renal cell In contrast to adults, renal cell carcinoma is rare in childhood. However,
carcinoma there appears to be a subset of affected adolescent males with a unique
chromosomal translocation at Xp11.2
The classic triad of RCC (flank pain, hematuria, and a palpable abdominal
renal mass)
neuroblastoma NB is the third most common pediatric cancer, accounting for about 8% of
childhood malignancies
The signs and symptoms of NB reflect the tumor site and extent of disease.
Most cases of NB arise in the abdomen, either in the adrenal gland or in
retroperitoneal sympathetic ganglia. Usually a firm, nodular mass that is
palpable in the flank or midline is causing abdominal discomfort
Wilms tumor Wilms tumor is the most common renal malignancy in children and the
fourth most common childhood cancer
Most children with Wilms tumor present with an abdominal mass or
swelling, without other signs or symptoms. Other symptoms can include
abdominal pain (30 %), hematuria (12 to 25 %), and hypertension (25 %)
PF reveals a firm, nontender, smooth mass that rarely crosses the midline
and generally does not move with respiration. In contrast, neuroblastoma
and splenomegaly often will extend across the midline and move with
respiration
disease Sign & symptoms
Burkit limfoma Patients with BL present with rapidly growing tumor masses and often have
evidence of tumor lysis with a very high serum lactate dehydrogenase (LDH)
concentration and elevated uric acid levels
The endemic (African) form usually presents as a jaw or facial bone tumor that
spreads to extranodal sites including the mesentery, ovary, testis, kidney, breast,
and especially to the bone marrow and meninges
The nonendemic (sporadic) form usually has an abdominal presentation
Immunodeficiency-related cases more often involve lymph nodes
BL tumor cells are monomorphic, medium-sized cells with round nuclei, multiple
nucleoli, and basophilic cytoplasm
A "starry-sky" pattern is usually present, imparted by numerous benign
macrophages that have ingested apoptotic tumor cells
hodgkin commonly present with painless, non-tender, firm, rubbery, cervical or
limfoma supraclavicular lymphadenopathy.
Most patients present with some degree of mediastinal involvement. patients may
present with symptoms and signs of airway obstruction (dyspnea, hypoxia, cough),
pleural or pericardial effusion, hepatocellular dysfunction, or bone marrow
infiltration (anemia, neutropenia, or thrombocytopenia).
Diagnostic Reed-Stemberg cells are large cells that have bilobed, double, or
multiple nuclei and prominent, eosinophilic, inclusion-like nucleoli in at least two
nuclei or nuclear lobes
34. Congenital vascular lesion
http://www.ijdvl.com/articles/2010
AVM
Medical Therapy
Sclerotherapy
the primary form of nonsurgical intervention
Larger lesions usually treated with 95% ethanol
cutaneous and smaller lesions treated with sodium tetradecyl
sulfate (1%)
Venous malformations of the GI tract sclerotherapy or
endoscopic banding
Adverse effect In injury to the zygomatic and temporal
branches of the facial nerve after ethanol sclerotherapy
Compression garments
treatment for extremity venous malformations, particularly the
lower extremity
Laser therapy
shown promise in selected situations
Argon and yttrium-aluminum-garnet (YAG) lasers intraoral
lesions
more appropriate for smaller lesions.
Surgery
Indication
isolated, symptomatic venous malformations
following sclerotherapy to improve form or function
Results depend on the size and location of the
malformation
Recurrence more common with diffuse malformations
and when excision is incomplete
In general, surgery or sclerotherapy is more successful
when dealing with pure venous malformations than
when dealing with combined malformations.
Early in the course, if no apparent symptoms,
observation often the treatment of choice
Risk-benefit should be considered for every treatment
of AVMs
Recurrency is common
35. Ewings Sarcoma
A distinctive small round cell sarcoma typically
found in patients from 5-25 years of age
second most common bone tumor in children
Location
~50% are found in the diaphysis of long bones
The most common locations
pelvis, distal femur, proximal tibia, femoral diaphysis,
and proximal humerus
uncommon in African Americans and Chinese
Presentation
pain often accompanied by fever
often mimics an infection
Physical exam
swelling and local tenderness
Radiographs large destructive lesion in the diaphysis or
metaphysis with a moth-eaten appearance
lesion may be purely lytic or have variable amounts of
reactive new bone formation
periosteal reaction may give "onion
skin" or "sunburst" appearance
pelvis

The Canadian Journal of Diagnosis / May 2001


Diagnosis Banding
Osteoblastoma:
Subchondral Cysts
Fluid-filled
sacs in
subchondral
bone

Osteoartritis
Joint Space Narrowing
Bone spur (arrow)
Subchondral Sclerosis
Increased bone density or
thickening in the subchondral layer
Osteomyelitis
abscesses radiolucency
Involucrum
Bone destruction sequestrum (arrow)

Chondroblastoma
radiolucent lesion with sclerotic margins
(white arrowheads) in epiphysis of distal
femur and with probable extension into
metaphysis (black arrowhead).
36. Triage
D. Triage Priorities
1. Red- highest priority patients
need immediate care (usually circulatory or respiratory)
2. Yellow- second highest priority
able to wait longer before transport (45 minutes)
3. Green- walking
able to wait several hours for transport
4. Black- dead
will die during emergency care (have lethal injuries)

*** mark triage priorities (tape, tag)


Triage Category: Red
Red (Highest) Priority: Airway and breathing
Patients who need difficulties
immediate care and Uncontrolled or severe
transport as soon as bleeding
possible Decreased level of
consciousness
Severe medical problems
Shock (hypoperfusion)
Severe burns
Yellow Green
Yellow (Second) Priority:
Minor fractures
Patients whose treatment
and transportation can be Minor soft-tissue
temporarily delayed injuries
Burns without airway Green (Low) Priority:
problems Patients whose
Major or multiple bone or treatment and
joint injuries transportation can be
Back injuries with or delayed until last
without spinal cord damage
37. Golongan Darah
38. Infeksi saluran kemih (ISK)
DEFINISI Insidensi ISK menurut Wisswell
Infeksi saluran kemih (ISK) dan Roscelli, lebih banyak pada
adalah istilah umum yang pria yang belum disirkumsisi
menunjukkan keberadaan dibandingkan dengan yang
mikroorganisme dalam urin, sudah disirkumsisi 1.12%
mulai dari yang tanpa gejala banding 0.11% pada enam
(asimptomatik) sampai bulan kehidupan setelah lahir.
mengarah ke infeksi berat.
Episode bakteriuria
signifikan (yaitu infeksi
dengan jumlah koloni
>100.000 mikroorganisme
tunggal per ml)
ETIOLOGI PATOGENESIS
Penyebab terjadinya ISK Proses ISK dari bakteriuria
disebabkan oleh mikroorganisme asimptomatik/ tanpa gejala
tunggal seperti: menjadi bakteriuri simptomatik
bakteri E. Coli sekitar 80% dari ISK presentasi klinis tergantung dari
yang asimptomatik sampai yang patogenisitas bakteri dan kondisi
beresiko tinggi seperti pasien. Saluran kemih dan urine
pyelonephritis. normalnya bebas dari
Mikroorganisme lainnya proteus mikroorganisme
spp, klebsiella spp, dan
stafilokokus dengan koagulase
negative.
Infeksi juga bisa disebabkan oleh
Pseudomonas spp, walau jarang
biasanya disebabkan paska
penggunaan kateter
Patogenesis Lanjutan
Peranan bakteri
infeksi ascending
penularan melalui jalur hematogen
penularan melalui jalur limfogen
penularan langsung dari organ sekitarnya yang telah terinfeksi

Peranan faktor tuan rumah (host)


Kemampuan dari tuan rumah untuk menahan mikroorganisme masuk ke saluran kemih
dipengaruhi: 1) pertahanan local, peranan dari sistem imun baik humoral maupun imunitas seluler.

Beberapa faktor pertahanan local dari tubuh terhadap suatu infeksi


Mekanisme pengosongan urine yang teratur dari vesika urinaria
Derajat keasamaan (ph) urin yang rendah
Adanya ureum dalam urine
Panjang uretra pada pria
Osmolalitas urine yang cukup tinggi
Estrogen pada wanita usia produktif
Adanmya zat antibakteria pada kelenjar prostat
TANDA dan GEJALA
PATOFISIOLOGI
ISK bagian atas (pielonefritis)
Pada pria dan wanita yang Demam (akut 39.5 40 C), menggigil
normal, kondisi urin selalu steril Nyeri pinggang
karena dipertahankan jumlah dan Malaise
frekuensi kencing. Hamper semua Anoreksia
ISK disebabkan invasi Nyeri tekan pada sudut kostovertebra dan
mikroorganisme asending dari abdomen
uretra ke dalam kandung kemih. ISK bagian bawah (Sistitis)
Pada beberapa pasien tertentu Disuria
dapat mencapai ginjal, proses ini Polakisuria
akan dipermudah refluks Nokturia
vesikoureter (lihat pada Frekuensi dan urgensi
komplikasi). Proses invasi Nyeri suprapubik
mikroorganisme hematogen Hematuria
Nyeri pada skrotum (epididimo-orkitis)
sangat jarang ditemukan diklinik,
mungkin akibat lanjut dari
bakteriemia.
Acute Pyelonephritis
rapid onset (hours to a day)
lethargic and unwell,
fever, tachycardia,
shaking, chills, nausea
and vomiting, myalgias
marked CVA or flank
tenderness; possible
abdominal pain on deep
palpation
symptoms of lower UTI
may be absent (urgency,
frequency, dysuria)
DIAGNOSIS
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Gram dan kultur pada specimen urin clean-catch sebelum
pemberian antibiotic. Organisme yang paling sering ditemukan adalah E.coli,
Enterobacter,Klebsiella, Proteus.
ISK bagian atas
o Pemeriksaan darah perifer lengkap (DPL)
o Tes fungsi ginjal : ureum, serum kreatinin
o Elektrolit
o Ultrasonografi (USG) ginjal : pembengkakan pada pielonefritis, batu, obstruksi/ hifdronefrosis,
abses sekunder.
o BNO IVP: batu, kelainan structural, obstruksi sistem pengumpul.
o CT Scan: abses/tumor
ISK bagian bawah
o Pemeriksaan darah perifer lengkap
o Sistokopi hanya jika terdapat hematuria, keganasan atau batu yang menjadi penyebab dasar.
o Jika terdapat obstruksi, scan ultrasonografi, BNO-IVP, dan sistokopi mungkin diperlukan.
DIAGNOSIS BANDING
Penyakit Pembeda
Appendisitis Terdapat peningkatan ALVARADO
SKOR
Nyeri yang bermigrasi, anoreksia,
mual/muntah, nyeri perut kanan
bawah, nyeri lepas, demam,
leukositosis

Benign Prostate Hiperplasia Teraba pembesaran prostat pada


pemeriksaan anus
TATALAKSANA
a. UMUM
- Prinsip tatalaksana: asupan cairan yang banyak, antibiotika yang
adekuat, dan kalau perlu terapi simtomatik untuk alkalinisasi urin
- Bila infeksi cukup parah perlu dibawa ke rumah sakit untuk tirah
baring
- Terapi ditujukan untuk menecegah kerusakan organ saluran kemih
lebih parah dan memperbaiki kondisi pasien
- Pencegahan terutama ditujukan pada pasien dengan resiko tinggi,
perempuan hamil, pasien DM terutama perempuan, dan paska
transplantasi ginjal perempuan dan laki laki, dan kateterisasi laki
laki dan perempuan.

KHUSUS
- Pielonefritis akut : golongan obat obatan antibiotic yang dianjurkan:
aminoglikosida yang dikombinasikan dengan ampisilin/amoksisilin,
amoksisilin dengan asam klavulanat, sefalosporin, florokuinolon
- Sistitis akut : antibiotic dosis tunggal atau jangka pendek golongan
cotrimoksazole, ampisilin, kadang diperlukan obat obatan golongan
antikolinergik (propantheline bromide) untuk mencegah hiperiritabilitas
vesika urinaria dan fenazopiridin hidroklorida sebagai antiseptic pada
saluran kemih.
- Konsultasi pada dr Spesialis Urologi diperlukan bila :
o Dicurigai penyebab ISK adalah gangguan anatomi
o Semua bentuk prostatitis
- Diperlukan konsul pada dokter ahli anak/ penyakit dalam/ urologi, bila
terjadi resistensi antibiotik
39. Abses mamae

Breast abcess
Ketika saluran lactiferous mengalami
epidermalisasi, produksi keratin mungkin
menyumbat saluran, menjadi produksi
abses
presentasi:
Edema mamae lokal, eritema, hangat,
nyeri
Riwayat abses sebelumnya
Demam, muntah, keluar cairan dari
massa atau nipple
Boleh menyusui
Treatment:
Jadi terapi abses mamae insisi,
pemberian antibiotic, dan lanjutkan
pemberian ASI
Needle aspiration may be considered for
abscesses less than 3 cm in size
The Breast
Tumors Onset Feature
Breast cancer 30-menopause Invasive Ductal Carcinoma , Pagets disease (Ca Insitu),
Peau dorange , hard, Painful, not clear border,
infiltrative, discharge/blood, Retraction of the
nipple,Axillary mass
Fibroadenoma < 30 years They are solid, round, rubbery lumps that move freely in
mammae the breast when pushed upon and are usually painless.
Fibrocystic 20 to 40 years lumps in both breasts that increase in size and
mammae tenderness just prior to menstrual bleeding.occasionally
have nipple discharge
Mastitis 18-50 years Localized breast erythema, warmth, and pain. May be
lactating and may have recently missed feedings.fever.
Philloides 30-55 years intralobular stroma . leaf-likeconfiguration.Firm,
Tumors smooth-sided, bumpy (not spiky). Breast skin over the
tumor may become reddish and warm to the touch.
Grow fast.
Duct Papilloma 45-50 years occurs mainly in large ducts, present with a serous or
bloody nipple discharge
Mastitis
Terjadi pada masa laktasi atau
puerperium (terbanyak) atau
tidak ada hubungannya dengan
masa puerperium.
Patofisiologi
Biasanya disebabkan oleh kuman
Staphilococccus aureus dengan
strain tahan penisilin yang
ditransmisi melalui isapan bayi.
Pada jenis non puerpueralis port
dentry adalah sistemik atau
lewat kerusakan epitel sekitar
nipel-areola complex.
Gejala Klinis Pencitraan
Payudara (terutama pada saat Pada USG atau mammografi akan
menyusui) terasa nyeri spontan dan tampak massa yang sedikit
nyeri tekan. hiperdense dengan batas
Kadang disertai panas badan atau yang undefined, tidak jarang di
malaise. diagnosis banding dengan proses
Usia produktif-muda. keganasan.
Diagnosis
Pemeriksaan dan Diagnosis
Pada pemeriksaan fisik, terdapat Diagnosis biasanya dengan mudah,
massa dengan batas tak tegas, yaitu nyeri pada payudara yang
kemerahan disertai rasa nyeri sedang menyusui. Benjolan di
payudara yang tak terlalu padat
spontan dan nyeri tekan. Kadang- disertai nyeri tekan, kadang-kadang
kadang sudah didapatkan massa yang dapat dirasakan adanya fluktuasi, ada
fluktuatif. kemerahan. Bila belum jelas dapat
Tidak didapatkan pembesaran KGB dilakukan pemeriksaan sitologi
aksila ipsilateral, atau bila ada dengan FNA.
pembesaran juga waktu diraba terasa
nyeri.
Penatalaksanaan Terapi
Bila belum jelas adanya fluktuasi (abses),
diberi antibiotik golongan amoxycilline 5-7
hari, analgetik dan antipiretik.
Bila telah terbentuk abses, maka dilakukan
insisi, yang jika sering terjadi kekambuhan
maka tindakan yang dikerjakan adalah eksisi.
40. Thyroid Cancer
History
Symptoms
The most common presentation of a thyroid
nodule, benign or malignant, is a painless mass in
the region of the thyroid gland (Goldman, 1996).
Symptoms consistent with malignancy
Pain
dysphagia
Stridor
hemoptysis
rapid enlargement
hoarseness

optimized by optima
Risk factors

Thyroid exposure to irradiation


Age and Sex
Benign nodules occur most frequently in women 20-40 years
(Campbell, 1989)
5%-10% of these are malignant (Campbell, 1989)
Men have a higher risk of a nodule being malignant
Family History
History of family member with medullary thyroid carcinoma
History of family member with other endocrine abnormalities
(parathyroid, adrenals)
History of familial polyposis (Gardners syndrome)

optimized by optima
Evaluation of the thyroid Nodule
(Physical Exam)
Examination of the thyroid nodule: Examine for ectopic thyroid
consistency - hard vs. soft tissue
Indirect or fiberoptic
size - < 4.0 cm laryngoscopy
Multinodular vs. solitary nodule vocal cord mobility
multi nodular - 3% chance of evaluate airway
malignancy (Goldman, 1996) Systematic palpation of the
solitary nodule - 5%-12% neck
chance of malignancy Metastatic adenopathy
(Goldman, 1996) commonly found:
Mobility with swallowing in the central
Mobility with respect to compartment (level VI)
surrounding tissues along middle and lower
portion of the jugular vein
Well circumscribed vs. ill defined (regions III and IV) and
borders
optimized by optima
Evaluation of the Thyroid Nodule
Blood Tests Radioactive iodine
Thyroid function tests is trapped and organified
thyroxine (T4) can determine functionality of a
triiodothyronin (T3) thyroid nodule
thyroid stimulating hormone (TSH) 17% of cold nodules, 13% of warm
Serum Calcium or cool nodules, and 4% of hot
Thyroglobulin (TG) nodules to be malignant
Calcitonin FNAB : Currently considered to be the
USG : best first-line diagnostic procedure in
the evaluation of the thyroid nodule
90% accuracy in categorizing
nodules as solid, cystic, or mixed
(Rojeski, 1985)
Best method of determining the
volume of a nodule (Rojeski, 1985)
Can detect the presence of lymph
node enlargement and
calcifications

optimized by optima
Classification of Malignant Thyroid
Neoplasms
Papillary carcinoma Medullary Carcinoma
Follicular variant Miscellaneous
Tall cell Sarcoma
Diffuse sclerosing Lymphoma
Encapsulated Squamous cell carcinoma
Follicular carcinoma Mucoepidermoid
Overtly invasive carcinoma
Minimally invasive Clear cell tumors
Pasma cell tumors
Hurthle cell carcinoma
Metastatic
Anaplastic carcinoma Direct extention
Giant cell Kidney
Small cell Colon
Melanoma
optimized by optima
Well-Differentiated Thyroid Carcinomas (WDTC) -
Papillary, Follicular, and Hurthle cell
Pathogenesis - unknown
Papillary has been associated with the RET proto-
oncogene but no definitive link has been proven
(Geopfert, 1998)
Certain clinical factors increase the likelihood of
developing thyroid cancer
Irradiation - papillary carcinomaoma (Goldman, 1996)
relationship not seen with papillary carcinoma
mechanism is not known

optimized by optima
WDTC - Papillary Carcinoma

60%-80% of all thyroid cancers Lymph node involvement is


(Geopfert, 1998, Merino, 1991) common
Histologic subtypes Major route of metastasis is
Follicular variant lymphatic
Tall cell Clinically undetectable lymph
Columnar cell node involvement does not
worsen prognosis (Harwood,
Diffuse sclerosing 1978)
Encapsulated
Prognosis is 80% survival at 10
years (Goldman, 1996)
Females > Males
Mean age of 35 years
(Mazzaferri, 1994)

optimized by optima
WDTC - Follicular Carcinoma

20% of all thyroid malignancies


Women > Men (2:1 - 4:1) (Davis, 1992, De Souza, 1993)
Mean age of 39 years (Mazzaferri, 1994)
Prognosis - 60% survive to 10 years (Geopfert, 1994)
Metastasis
angioinvasion and hematogenous spread
15% present with distant metastases to bone and lung
Lymphatic involvement is seen in 13% (Goldman, 1996)

optimized by optima
Medullary Thyroid Carcinoma

10% of all thyroid malignancies


1000 new cases in the U.S. each year
Arises from the parafollicular cell or C-cells of
the thyroid gland
derivatives of neural crest cells of the branchial arches
secrete calcitonin which plays a role in calcium metabolism

optimized by optima
Medullary Thyroid Carcinoma
Diagnosis
Labs: 1) basal and pentagastrin stimulated serum
calcitonin levels (>300 pg/ml)
2) serum calcium
3) 24 hour urinary catecholamines
(metanephrines, VMA, nor-metanephrines)
4) carcinoembryonic antigen (CEA)
Fine-needle aspiration
Genetic testing of all first degree relatives

optimized by optima
Anaplastic Carcinoma of the Thyroid

Highly lethal form of thyroid cancer


Median survival <8 months (Jereb, 1975, Junor, 1992)
1%-10% of all thyroid cancers (Leeper, 1985, LiVolsi, 1987)
Affects the elderly (30% of thyroid cancers in patients
>70 years) (Sou, 1996)
Mean age of 60 years (Junor, 1992)
53% have previous benign thyroid disease (Demeter, 1991)
47% have previous history of WDTC (Demeter, 1991)

optimized by optima
Management
Surgery is the definitive management of thyroid cancer, excluding
most cases of ATC and lymphoma
Types of operations:
lobectomy with isthmusectomy
minimal operation required for a potentially malignant thyroid
nodule
total thyroidectomy
removal of all thyroid tissue
preservation of the contralateral parathyroid glands
subtotal thyroidectomy
anything less than a total thyroidectomy

optimized by optima
41. Trauma Abdomen
injuries to the
abdomen, pelvis
and genitalia are
generally caused
by accidents
involving high
kinetic energy
and acceleration
or deceleration
forces
Open vs. Closed Injuries
abdominal injuries can be closed injuries are caused
either open or closed by compression trauma
open injuries are caused by associated with
sharp or high velocity deceleration forces and
objects that create an include:
opening between the contusions
peritoneal cavity and the ruptures
outside of the body
lacerations
shear injuries
Hollow and Solid Organs
The type of injury will depend on whether the organ injured is
solid or hollow.

hollow organs include: solid organs


stomach include:
liver
intestines
spleen
gallbladder
kidneys
bladder
Abdominal Injuries
Hollow Organ Injuries Solid Organ Injuries
when hollow organs damage to solid organs such
rupture, their highly as the liver can cause severe
irritating and infectious internal bleeding
contents spill into the blood in the peritoneal
peritoneal cavity, cavity causes peritonitis
producing a painful when patients injure solid
inflammatory reaction organs, the symptoms of
called peritonitis shock may overshadow
those from peritonitis
Abdominal Injuries
abdominal injuries can be suspect abdominal internal
obvious, such as an open injury in any patient who
wound, or subtle, such as a has a penetrating
blow to the flank that abdominal wound or has
initially causes little pain, suffered compression
but damages the liver or trauma to the abdomen
spleen
Liver
Largest organ in abdominal After injury, blood and bile
cavity leak into peritoneal cavity
Right upper quadrant Shock
Injured from trauma to: Peritoneal irritation
Eighth through twelfth ribs Management:
on right side of body Resuscitation
Upper central part of Laparotomy and repair or
abdomen resection.
Suspect liver injury when: Avulsion of pedicle is fatal
Steering wheel injury
Lap belt injury
Epigastric trauma
Spleen
Upper left quadrant Kehrs sign
Rich blood supply Left upper quadrant pain
Slightly protected by organs
surrounding it and by lower rib radiates to left shoulder
cage
Common complaint with
Most commonly injured organ
from blunt trauma splenic injury
Associated intraabdominal Management :
injuries common
Suspect splenic injury in: Resuscitation.
Motor vehicle crashes Laparotomy (repair, partial
Falls or sports injuries
involving was an impact to excision or splenectomy)
the lower left chest, flank, or Observation in hospital for
upper left abdomen
patients with sub-capsular
haematoma
Stomach/duodenum
Not commonly injured by blunt trauma
Protected location in abdomen
Penetrating trauma may cause gastric transection or
laceration
Signs of peritonitis from leakage of gastric contents
Diagnosis confirmed during surgery
Unless nasogastric drainage returns blood
Stomach/duodenum
Perforation Bleeding
Presentation : Presentation :
abdominal pain Haematemesis +/-
rigidity Melaena
peritonism, shock Severity
Air under diaphragm on X-ray Increased PR>90
Fall BP<100
Treatment
Antibiotics Treatment :
resuscitate transfusion
repair inject DU

optimized by optima
Colon and Small Intestine
Usually injured by penetrating trauma
May be injured by compression forces:
High-speed motor vehicle crashes
Deceleration injuries associated with wearing
personal restraints
Bacterial contamination common
42. Kelainan Vertebrata
Scoliosis: Penyakit terpuntir
Kelengkungan vertebra ke arah lateral yang abnormal
Sering pada akhir masa kanak-kanak, terutama perempuan.
Terjadi karena struktur vertebra abnormal, panjang ekstremitas bawah tidak sama, atau
kelemahan otot
Kasus yang berat harus diterapi dengan brace atau pembedahan sebelum pertumbuhan anak
selesai untuk mencegah deformitas yang permanen dan kesulitan bernapas
Kyphosis
bungkuk
Kelengkungan vertebra torakal yang berlebihan
Sering pada usia tua karena osteoporosis
Mungkin juga karena tuberculosis spinal, rickets, atau osteomalacia
Lordosis
mengayun ke belakang
Kelengkungan vertebra lumbal yang berlebihan
Dapat disebabkan TB spinal atau rickets
Dapat bersifat sementara: beer guts pada laki-laki, kehamilan pada wanita
http://urology.iupui.edu/papers/reconstructive_bph/s0094014305001163.pdf

43. Trauma Uretra


Curiga adanya trauma
pada traktus urinarius
bag.bawah, bila:
Terdapat trauma
disekitar traktus
urinarius terutama
fraktur pelvis
Retensi urin setelah
kecelakaan
Darah pada muara OUE
Ekimosis dan hematom
perineal
Uretra Anterior:
Anatomy:
Bulbous urethra
Uretra Posterior :
Pendulous urethra Anatomy
Fossa navicularis Prostatic urethra
Etiologi: Membranous urethra

Straddle type injuries Etiologi:


Intrumentasi Fraktur tulang Pelvis
Fractur penis Gejala klinis:
Gejala Klinis: Darah pada muara OUE
Disuria, hematuria Nyeri Pelvis/suprapubis
Hematom skrotal Perineal/scrotal hematom
Hematom perineal akan timbul bila terjadi robekan RT Prostat letak tinggi atau
pada fasia Bucks sampai ke dalam fasia melayang
Collesbutterfly hematoma in the perineum Radiologi:
will be present if the injury has disrupted Bucks Pelvic photo
fascia and tracks deep to Colles fascia, creating a
Urethrogram
characteristic butterfly hematoma in the
perineum Therapy:
Therapy: Cystostomi
Cystostomi Delayed Repair
Immediate Repair
Don't pass a diagnostic Retrograde
catheter up the patient's urethrography
urethra because: Modalitas pencitraan yang
The information it will give utama untuk mengevaluasi
will be unreliable. uretra pada kasus trauma
May contaminate the dan inflamasi pada uretra
haematoma round the
injury.
May damage the slender
bridge of tissue that joins
the two halves of his
injured urethra

Posterior urethral rupture above the


intact urogenital diaphragm
following blunt trauma

http://ps.cnis.ca/wiki/index.php/68._Urinary
44. KLASIFIKASI
BERDASARKAN
PATOFISIOLOGI BERDASARKAN GCS:

1. Komosio serebri : tidak ada 1. GCS 13-15 : Cedera kepala ringan


jaringan otak yang rusak tp CT scan dilakukan bl ada lucid
hanya kehilangan fungsi otak interval/ riw. kesdran menurun.
sesaat (pingsan < 10 mnt) atau
evaluasi kesadaran, pupil, gejala
amnesia pasca cedera kepala.
fokal serebral + tanda-tanda vital.

2. Kontusio serebri : kerusakan


2. GCS 9-12 : Cedera kepala sedang
jar. Otak + pingsan > 10 mnt
prks dan atasi gangg. Nafas,
atau terdapat lesi neurologik yg
jelas. pernafasan dan sirkulasi, pem.
Ksdran, pupil, td. Fokal serebral,
leher, cedera orga lain, CT scan
3. Laserasi serebri : kerusakan kepala, obsevasi.
otak yg luas + robekan
duramater + fraktur tl.
Tengkorak terbuka. 3. GCS 3-8 : Cedera kepala berat :
Cedera multipel. + perdarahan
intrakranial dg GCS ringan /sedang.
45. Osteomielitis
Peradangan pada tulang dan sumsum
tulang(bone marrow) disebabkan oleh kuman.
Walaupun tulang normalnya tahan terhadap
kolonisasi bakteri, trauma, operasi, adanya
benda asing atau prostese dapat
menyebabkan rusaknya integritas tulang
sehingga akan menyebabkan infeksi pada
tulang
Pathogenesis Symptoms
Waldvogel, 1971

Nonspecific symptoms
1. Hematogenous Demam
Menggigil
2. Contiguous Malaise
focus of Letargi
Iritabilitas
infection The classic signs of
inflammation, including local
3. Direct pain, swelling, or redness,
may also occur and normally
inoculation disappear within 5-7 days

http://emedicine.medscape.com/article/1348767-overview#a0112
S aureus Bakteri penyebab yang paling
sering ditemukan, diikuti dengan
Pseudomonas dan Enterobacteriaceae.
Bakteri yang lebih jarang adalah anaerobe
gram-negative bacilli.
Intravenous drug users may acquire
pseudomonal infections
Osteomielitis akut hematogenus memiliki
predileksi pada tulang panjang.
The ends of the bone near the growth plate
(the metaphysis) is made of a maze like bone
called cancellous bone.
It is here in the rapidly growing metaphysis
that osteomyelitis often develops

http://www.hawaii.edu/medicine/pediatrics/pedtext/s19c04.html
46. Apendisitis tuberkulosa
Dipikirkan kemungkinan terkena app tuberkulosa karena adanya sel datia langhans
Instruksi jelaskan definisi, patofisiologi dan diagnosis apendisitis
Pada apendisitis tuberkulosa, klinisnya antara lain keluhan nyeri yang tidak begitu
hebat disebelah kanan perut, dengan atau tanpa muntah dan waktu serangan
dapat timbul panas badan, leukositosis sedang, biasanya terdapat nyeri tekan dan
rigiditas pada kuadran lateral bawah kanan, kadang-kadang teraba massa. 3
Massa apendiks dengan proses radang yang masih aktif ditandai dengan:
a.keadaan umum pasien masih terlihat sakit, suhu tubuh masih tinggi;
b.pemeriksaan lokal pada abdomen kuadran kanan bawah masih jelas terdapat
tanda-tanda peritonitis;
c.laboratorium masih terdapat lekositosis dan pada hitung jenis terdapat
pergeseran ke kiri.
Massa apendiks dengan proses radang yang telah mereda dengan ditandai dengan
a.keadaan umum telah membaik dengan tidak terlihat sakit, suhu tubuh tidak
tinggi lagi;
b.pemeriksaan lokal abdomen tenang, tidak terdapat tanda-tanda peritonitis dan
hanya teraba massa dengan batas jelas dengan nyeri tekan ringan
c.laboratorium hitung lekosit dan hitung jenis normal.
47 Carcinoma Colorectal
Predileksi
Carcinoma colorectal
Letak Presentase
merupakan keganasan
yang paling sering pada Caecum dan 10 %
Colon
traktus gastrointestinal. Ascendens
Penyakit ini
Colon 10 %
berhubungan dengan transversum
usia dan terjadi lebih Colon 5%
sering pada usia diatas descendens
Rectosigmoid 75 %
50 tahun.
Colonic Carcinoma
Time Course Symptoms Findings
Early None None
Occult blood
in stool
Mid Rectal Rectal mass
bleeding Blood in stool
Change in
bowel habits
Late Fatigue Weight loss
Anemia Abdominal
Abdominal mass
pain Bowel
obstruction
Gejala Lokal
Perubahan Pola BAB, dapat berupa
konstipasi maupun diare.
Perasaan BAB yang tidak tuntas
(tenesmus) dan diameter feces
mengecil sering ditemukan pada
karsinoma colorectal.
Feces yang bercampur darah
Feces dengan mucus
Feces berwarna hitam seperti tar
(melena) dapat timbul, tetapi
biasanya lebih berhubungan dengan
kelainan pada traktus gastrointestinal
bagian atas seperti kelainan pada
lambung atau duodenum.
Obstruksi usus menyebabkan nyeri,
kembung, dan muntah yang seperti
feces.
Dapat teraba massa di abdomen
Site Distribution Staging
Gejala Klinis
Colon kanan Colon kiri Rectum
Aspek klinis Colitis Konstipasi Obstruksi Proktitis
Nyeri Ec. Penyusupan Ec. Obstruksi Tenesmus
Defekasi Diare Konstipasi progresif Tenesmus terus
menerus
Osbtruksi Jarang Hampir selalu Tidak jarang
Darah pada feses Samar Samar atau Makroskopis
makroskopis
Feses Normal atau diare Normal Perubahan bentuk
Dispepsia Sering Jarang Jarang
Memburuknya keadaan Hampir selalu Lambat Lambat
umum
Anemia Hampir selalu Lambat Lambat

Zieve, D. (2009) Colon cancer. Available from


www.nlm.nih.gov/medlineplus/colorectalcancer.html.
Gejala
Konstitusi Pemeriksaan Penunjang

Kehilangan berat badan mungkin Pemeriksaan rectal secara digital


adalah gejala yang paling umum, (rectal toucher) : Tindakan ini hanya
disebabkan karena hilangnya nafsu dapat mendeteksi tumor yang cukup
makan. besar pada bagian distal dari rektum,
Anemia, menyebabkan pusing, mual, tetapi berguna sebagai pemeriksaan
kelelahan, dan palpitasi. skrining awal.
Ikterus Fecal occult blood test (FOBT) :
Rasa nyeri di abdomen, lebih sering pemeriksaan terhadap darah dalam
pada bagian atas dari epigastrium feces. Ada 2 tipe pemeriksaan darah
atau dinding kanan abdomen. pada feces yaitu guaiac based
Pembesaran hepar (pemeriksaan kimiawi) dan
Bekuan darah pada arteri dan vena, immunochemical.
sindroma paraneoplastik yang Endoskopi
berhubungan dengan
hiperkoagulabilitas dari darah. Rectosigmoidoskopi
Fleksibel sigmoidoskopi dan
colonoskopi
Double contrast barium enema
(DCBE)
Pencitraan
1. X-ray foto polos dan colon in loop
2. CT scan
3. CT Colonografi (Virtual colonoscopy)
4. MRI
5. PET
6. Endorectal ultrasound
Laboratorium. Pemeriksaan darah samar pada faeces
Tumor marker. Tumor marker seperti CEA, CA 19-9, dan CA-50 digunakan
untuk pasien carcinoma colorectal.
Tes serum. Pemeriksaan fungsi hepar seperti alkali fosfatase, SGPT, SGOT,
SGGT, dan LDH dapat memprediksi kemungkinan metastasis ke hepar.
Biopsi.
Diagnosis
Diagnosis carcinoma colorectal ditegakan
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang. Kepastian diagnosis
ditentukan berdasarkan pemeriksaan patologi
anatomi.
Klasifikasi
American Joint Committee on Cancer memakai sistem TNM. Sistem ini
memisahkan dan mengidentifikasi berdasarkan kedalaman dari invasi
tumor (T), status nodus limfatikus regional (N) dan ada tidaknya metastase
(M).

Stadium 0 Tis N0 M0
Stadium 1 T1 N0 M0
T2 N0 M0
Stadium 2 T3 N0 M0
T4 N0 M0
Stadium 3 Semua T N1 M0
N2, N3 M0
Stadium 4 Semua T Semua N M1

Zinner, Schwartz, Ellis. 2001. Tumors of the colon. In Maingotss Abdominal operation. 10th edition. 2009.
Singapore: McGraw-Hill. P 1281-1300.
Tumor Primer Nodus limfatikus regional
TX : Tumor primer tidak bisa Nx : Nodus limfatikus regional tidak
ditemukan ditemukan
T0 : Tidak ada bukti tumor primer N0 : Tidak ada metastase nodus
Tis : Carcinoma insitu limfatikus regional
T1 : Tumor menginvasi submukosa N1 : Metastase pada 1-3 nodus
T2 : Tumor menginvasi muscularis limfatikus pericolica atau perirectal
propria N2 : Metastase pada 4 atau lebih
T3 : Tumor menginvasi muscularis nodus limfatikus pericolica atau
propria sampai subserosa atau perirectal
kedalam non peritonealisasi N3 : Metastase pada semua nodus
pericolic atau perirectal limfatikus sepanjang cabang
T4 : Tumor menyebabkan adanya pembuluh darah
perforasi ke peritoneum visceral
atau invasi ke organ atau struktur Metastase jauh
lain.

Mx : Adanya metastase jauh tidak


dapat dinilai
M1 : Tidak ada metastase
M2 : Metastase
Penatalaksanaan
Pembedahan
Tujuan utama tindakan bedah adalah
memperlancar saluran cerna, baik bersifat
kuratif maupun nonkuratif. Kemoterapi dan
radiasi bersifat paliatif dan tidak memberikan
manfaat kuratif. Bedah kuratif dilakukan bila
tidak ditemukan gejala penyebaran lokal
maupun jauh.
Kemoterapi
Kemoterapi berguna untuk mengurangi
kemungkinan metastasis, mengecilkan ukuran
tumor, atau memperlambat pertumbuhan tumor.
Biasanya diberikan setelah pembedahan
(adjuvant), atau sebelum pembedahan (neo-
adjuvant), atau sebagai terapi primer (palliative).
Kemoterapi sesudah pembedahan biasanya
diberikan setelah karsinoma menyebar ke lymph
node (stadium III).
Radioterapi
Radioterapi tidak digunakan secara rutin pada
karsinoma colon, karena dapat menyebabkan
radiation enteritis, dan sulit untuk membidik daerah
spesifik dari colon.

Immunoterapi
Bacillus Calmette-Gurin (BCG) sedang diteliti
sebagai campuran adjuvant untuk terapi colorectal.
To estimate scattered burns: patient's
palm surface = 1% total body surface 48. Total Body
area
Surface Area

Jumlah= kedua ekstremitas atas


(18%) + setengah kepala bagian
depan (4.5%) + thoraks (9%) + trnkus
bagian atas (9%) =40%
Parkland formula = baxter formula

http://www.traumaburn.org/referring/fluid.shtml
49. Inguinal Hernia
Most common
Most difficult to understand

Congenital ~ indirect
Acquired ~ direct or indirect

Indirect Hernia
has peritoneal sac
lateral to epigastric vessels

Direct Hernia
usually no peritoneal sac
through Hasselbach triangle,
medial to epigastric vessels
Gejala hernia
strangulata :
Nyeri amat sangat dan
kemerahan
Nyeri yang makin lama
makin berat
Demam
Takikardi
Mual dan muntah
Obstruksi
http://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx
?ContentTypeID=134&ContentID=35
Hernia Treatment
Dilakukan penelitian terhadap 720 laki-laki
dengan gejala hernia yang minimal, dan
dibandingkan antara yang dilakukan operasi
repair cito dengan watchful waiting (operasi
elektif), kemudian diikuti selama 2-5 tahun
Hasil: Hernia inkarserata akut jarang muncul
Dari penelitian tersebut, dapat disimpulkan
Menunda operasi sampai dilakukan operasi
elektif cukup aman

(JAMA 2006,295:285)
Methods of repair
Open primary closure of the defect with
sutures (Shouldice or "Canadian" Repair,
Bassini Repair);
Patch closure with prosthetic materials
(Polypropylene or Gortex) tension-free
(Lichtenstein-type)
Laparoscopic repair
soundnet.cs.princeton.edu
50. Posterior Hip
Dislocation
Gejala
Nyeri lutus
Nyeri pada sendi
panggul bag.
belakang
Sulit
menggerakkan
ekstremitas
bawah
Kaki terlihat
memendek dan
dalam posisi
fleksi, endorotasi
dan adduksi
Risk Factor
Kecelakaan
Improper seating
adjustment
sudden break in
the car
netterimages.com
soundnet.cs.princeton.edu

Anterior Hip Dislocation


Gejala
Nyeri pada sendi
panggul
Tidak dapat berjalan
atau melakukan
adduksi dari kaki.
The leg is externally
rotated, abducted,
and extended at the
hip

netterimages.com
Radiographs: AP Pelvis X-Ray

In primary survey of ATLS Protocol.


Should allow diagnosis and show direction of dislocation.
Femoral head not centered in acetabulum.
Femoral head appears larger (anterior) or smaller (posterior).
Usually provides enough information to proceed with
closed reduction.
Reasons to Obtain More
X-Rays Before Hip Reduction

View of femoral neck inadequate to rule out


fracture.

Patient requires CT scan of abdomen/pelvis for


hemodynamic instability
and additional time to obtain 2-3 mm cuts through
acetabulum + femoral head/neck would be minimal.
51. Kondrosarkoma
Tumor ganas dengan ciri khas pembentukan
jaringan tulang rawan oleh sel-sel tumor
>30-40 thn. Ditemukan pada daerah tulang
femur, humerus, kosta dan bagian permukaan
pelvis
Gejala : Nyeri, pembengkakan, massa yang
teraba, frekuensi miksi meingkat
Frontal radiograph of
the left fibula head
demonstrates a lucent
lesion that contains the
typical chondroid matrix
calcification. Low-grade
tumor
The Canadian Journal of Diagnosis / May 2001
Diagnosis Banding
Osteoblastoma:
Subchondral Cysts
Fluid-filled
sacs in
subchondral
bone

Osteoartritis
Joint Space Narrowing
Bone spur (arrow)
Subchondral Sclerosis
Increased bone density or
thickening in the subchondral layer
Osteomyelitis
abscesses radiolucency
Involucrum
Bone destruction sequestrum (arrow)

Chondroblastoma
radiolucent lesion with sclerotic margins
(white arrowheads) in epiphysis of distal
femur and with probable extension into
metaphysis (black arrowhead).
52. BNO IVP (blaas nier oversight) atau KUB (Kidney Ureter
Bladder) IVU (Intra Venous Urography)

Adalah suatu tindakan untuk memvisualisasikan


anatomi, dan fungsi ginjal ureter dan kandung kencing.
Termasuk didalamnya fungsi pengisian dan pengosongan
buli. Pemeriksaan ini diindikasikan untuk:
Kecurigaan adanya batu disaluran kencing.
Kecurigaan tumor/keganasan traktus urinarius.
Gross hematuria.
Infeksi traktus urinarius yang berulang setelah terapi
antibiotik yang adekuat.
Pasca trauma deselerasi dengan hematuria yang
bermakna.
Trauma dengan jejas di flank dengan riwayat shock, dan
shok telah stabil.
Menilai/evaluasi/follow up tindakan urologis
sebelumnya.
Untuk trauma traktus urinarius gold standard adalah CT
scan dengan kontras. Dilakukan BNO-IVP jika
tidak dapat dilaksanakan CT scan (biaya, tidak adanya
fasilitas). Untuk usia anak anak, jika terdapat hematuria
berapapun (any degree of hematuria) telah masuk
indikasi BNO IVP, meskipun tidak terdapat riwayat shock.
Tindakan ini dikontraindikasikan bagi:
Pasien yang alergi terhadap komponen kontras (iodine).
Mengkonsumsi metformin.
Kehamilan
Intravenous Pyelography (IVP),
menilai anatomi dan fungsi ginjal. Selain itu IVP dapat
mendeteksi adanya batu semi-opak ataupun batu non opak
yang tidak dapat terlihat oleh foto polos abdomen.
kontraindikasi IVP :
a). alergi terhadap bahan kontras,
b). faal ginjal yang menurun (kreatinin >2 mg/dl),
c).wanita hamil

USG
dikerjakan bila pasien yang kontraindikasi dilakukan IVP,
Pemeriksaan USG dapat menilai adanya batu di ginjal atau di
buli-buli (gambaran echoic shadow), hidronefrosis,
pionefrosis, atau pengkerutan ginjal
Sistografi a procedure used to visualise the urinary bladder. Using a urinary
catheter, radiocontrast is instilled in the bladder, and X-ray imaging
is performed. Used to evaluate bladder cancer, vesicoureteral
reflux, bladder polyps, and hydronephrosis.

Histerosalphingo a radiologic procedure to investigate the shape of the uterine


grafi cavity and the shape and patency of the fallopian tubes. It entails
the injection of a radio-opaque material into the cervical canal and
usually fluoroscopy with image intensification. A normal result
shows the filling of the uterine cavity and the bilateral filling of the
fallopian tube with the injection material.

Uretrografi a routine radiologic procedure (most typically in males) used to


image the integrity of the urethra. Essential for diagnosis of
urethral injury, or urethral stricture

BNO-IVP (Blaas Pemeriksaan radiografi dari traktus urinarius (Renal, Ureter, Vesica
Near Overzeigh Urinaria, dan Uretra) dengan penyuntikan kontras secara intra
Intravena vena. Tujuan : untuk menggambarkan anatomi dari pelvis renalis
Pyelografi) dan sistem calyses serta seluruh tractus urinarius. Pemeriksaan ini
dapat diketahui kemampuan ginjal mengkonsentrasikan bahan
kontras tersebut .(didapatkan foto awal,
5mnt,10mnt,15mnt,30mnt,dan post miksi)

Foto polos an imaging test to look at organs and structures in the belly area.
abdomen Organs include the spleen, stomach, and intestines.
ILMU PENYAKIT MATA
53.GLAUKOMA KONGENITAL
0,01% diantara 250.000 Klasifikasi lainnya:
penderita glaukoma Glaukoma kongenital primer
2/3 kasus pada Laki-laki dan anomali perkembangan yang
mempengaruhi trabecular
2/3 kasus terjadi bilateral meshwork.
50% manifestasi sejak lahir; Glaukoma kongenital
70% terdiagnosis dlm 6 bln sekunder: kelainan kongenital
pertama; 80% terdiagnosis mata dan sistemik lainnya,
dalam 1 tahun pertama kelainan sekunder akibat
trauma, inflamasi, dan tumor.
Klasifikasi menurut Schele:
Glaukoma infantum: tampak
waktu lahir/ pd usia 1-3 thn
Glaukoma juvenilis: terjadi
pada anak yang lebih besar

Buku ilmu penyakit mata Nana Wijaya & Oftalmologi umum Vaugahn & Asbury
Patogenesis
Abnormalitas anatomi trabeluar meshwork penumpukan
cairan aqueous humor peninggian tekanan intraokuler
bisa terkompensasi krn jaringan mata anak masih lembek
sehingga seluruh mata membesar (panjang bisa 32 mm,
kornea bisa 16 mm buftalmos & megalokornea) kornea
menipis sehingga kurvatura kornea berkurang

Ketika mata tidak dapat lagi meregang bisa terjadi


penggaungan dan atrofi papil saraf optik

Buku ilmu penyakit mata Nana Wijaya & Oftalmologi umum Vaugahn & Asbury
Gejala & Diagnosis
Tanda dini: fotofobia, Diagnosis glaukoma
epifora, dan blefarospasme kongenital tahap lanjut
Terjadi pengeruhan kornea dengan mendapati:
Penambahan diameter Megalokornea
kornea (megalokornea; Robekan membran
descement
diameter 13 mm)
Pengeruhan difus kornea
Penambahan diameter bola
mata (buphtalmos/ ox eye)
Peningkatan tekanan
intraokuler

Buku ilmu penyakit mata Nana Wijaya & Oftalmologi umum Vaugahn & Asbury
Glaukoma kongenital, perhatikan
Megalocornea adanya pengeruhan kornea dan
buftalmos

http://www.pediatricsconsultant360.com/content/buphthalmos
http://emedicine.medscape.com/article/1196299-overview
Tatalaksana
Medikamentosa hingga Operasi:
TIO normal Goniotomi (memotong
Acetazolamide jaringan yg menutup
pilokarpin trabekula atau memotong
iris yg berinsersi pada
trabekula
Goniopuncture: membuat
fistula antara bilik depan
dan jaringan
subkonjungtiva (dilakukan
bila goniotomi tidak
berhasil)

Buku ilmu penyakit mata Nana Wijaya & Oftalmologi umum Vaugahn & Asbury
http://en.wikipedia.org www.medscape.com

Congenital Glaucoma
Disorders Feature
Ambliopia Decrease of vision; disuse/inadequate foveal/peripheral retinal
stimulation and/or abnormal binocular interaction that cause different
visual input
Congenital abnormal eye development, congenital infection
glaucoma present at birth, epiphora, photophobia, and blepharospasm,
buphtalmus
Sindrom Marfan a genetic disorder of the connective tissue. A diagnosis of Marfan
syndrome is based on family history and a combination of major and
minor indicators of the disorder, rare in the general population, that
occur in one individual for example: four skeletal signs with one or
more signs in another body system such as ocular and cardiovascular in
one individual.
Katarak clouding of the lens of the eye that is present at birth, Leukocoria or
congenital white reflex, nfant doesn't seem to be able to see,nystagmus
Peters anomaly anterior segment dysgenesis , may have an inherited pattern, Central,
paracentral, or complete corneal opacity,no vascularization of this
opacity occurs
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0002582/
54. OKLUSI VENA SENTRALIS
OKLUSI VENA RETINA SENTRALIS (CENTRAL
RETINA VEIN OCCLUSION)
Kelainan retina akibat Predisposisi :
sumbatan akut vena Usia diatas 50 thn
retina sentral yang Hipertensi sistemik 61%
ditandai dengan DM 7% -Kolestrolemia
penglihatan hilang TIO meningkat
mendadak. Periphlebitis (Sarcouidosis,
Behset disease)
Sumbatan trombus vena
retina sentralis pada
daerah posterior lamina
cribrosa)
Gejala Klinis
1. Tipe Noniskemik : 2. Tipe Iskemik :
FFA (Fundus Fluorescein FFA area nonperfusi diatas
Angiography) area nonperfusi 10 disc
kecil 10 disc - Gejala lebih ringan.
Vena dilatasi ringan dan Vena dilatasi lebih nyata
sedikit berkelok Perdarahan masif pada ke 4
Perdarahan dot dan flame kuadran
shaped Cotton wool spot
dapat disertai dengan atau Rubeosis iridis
tanpa edama papil Marcus Gunn +
Perdarahan vitreous
Edama retina dan edama
makula
Pemeriksaan : Penatalaksanaan :
FFA (Fundus Fluorescein Memperbaiki
Angiography) underlying disease
ERG
(Electroretinogram)
Fotokoagulasi laser
Tonometri Vitrektomi
Kortikosteroid belum
terbuti efektivitasnya
Anti koagulasi sistemik
tidak direkomendasikan
Defini dan gejala

Oklusi arteri Penyumbataan arteri sentralis retina dapat disebabkan oleh radang arteri, thrombus dan
sentral emboli pada arteri, spsame pembuluh darah, akibat terlambatnya pengaliran darah, giant
retina cell arthritis, penyakit kolagen, kelainan hiperkoagulasi, sifilis dan trauma. Secara
oftalmoskopis, retina superficial mengalami pengeruhan kecuali di foveola yang
memperlihatkan bercak merah cherry (cherry red spot). Penglihatan kabur yang hilang
timbul tanpa disertai rasa sakit dan kemudian gelap menetap. Penurunan visus
mendadak biasanya disebabkan oleh emboli
Oklusi vena Kelainan retina akibat sumbatan akut vena retina sentral yang ditandai dengan
sentral penglihatan hilang mendadak.
retina Vena dilatasi dan berkelok, Perdarahan dot dan flame shaped , Perdarahan masif pada ke
4 kuadran , Cotton wool spot, dapat disertai dengan atau tanpa edema papil

Ablatio suatu keadaan lepasnya retina sensoris dari epitel pigmen retina (RIDE). Gejala:floaters,
retina photopsia/light flashes, penurunan tajam penglihatan, ada semacam tirai tipis berbentuk
parabola yang naik perlahan-lahan dari mulai bagian bawah hingga menutup

Retinopati suatu kondisi dengan karakteristik perubahan vaskularisasi retina pada populasi yang
hipertensi menderita hipertensi. Mata tenang visus turun perlahan dengan tanda AV crossing
cotton wol spot- hingga edema papil; copperwire; silverwire
Vaughn DG, Oftalmologi Umum, ed.14

55. Ablasio Retina


Ablasio retina adalah suatu Jenis:
keadaan terpisahnya sel Rhegmatogenosa (paling
kerucut dan batang retina sering) lubang / robekan
(retina sensorik) dari sel pada lapisan neuronal
epitel pigmen retina menyebabkan cairan vitreus
Mengakibatkan gangguan masuk ke antara retina
nutrisi retina pembuluh sensorik dengan epitel
darah yang bila berlangsung pigmen retina
lama akan mengakibatkan Traksi adhesi antara vitreus
gangguan fungsi / proliferasi jaringan
penglihatan fibrovaskular dengan retina
Serosa / hemoragik
eksudasi ke dalam ruang
subretina dari pembuluh
darah retina
Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology 17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007.
Etiologi Ablasio Retina
Rhegmatogenosa: Serosa / hemoragik:
Miopia Hipertensi
Trauma okular Oklusi vena retina
Afakia sentral
Degenerasi lattice Vaskulitis
Traksi: Papilledema
Retinopati DM Tumor intraokular
proliferatif
Vitreoretinopati
proliferatif
Retinopati prematuritas
Trauma okular
Ablasio
Rhegmatogenosa

Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology


17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007.
Ablasio Retina
Anamnesis: Funduskopi : adanya
Riwayat trauma robekan retina, retina yang
Riwayat operasi mata terangkat berwarna keabu-
Riwayat kondisi mata abuan, biasanya ada fibrosis
sebelumnya (cth: uveitis, vitreous atau fibrosis
perdarahan vitreus, miopia preretinal bila ada traksi.
berat) Bila tidak ditemukan
Durasi gejala visual & robekan kemungkinan suatu
penurunan penglihatan
ablasio nonregmatogen
Gejala & Tanda:
Fotopsia (kilatan cahaya)
gejala awal yang sering
Defek lapang pandang
bertambah seiring waktu
Floaters
Tatalaksana
Ablasio retina
kegawatdaruratan mata
Tatalaksana awal:
Puasakan pasien u/ persiapan
operasi
Hindari tekanan pada bola
mata
Batasi aktivitas pasien sampai
diperiksa spesialis mata
Segera konsultasi spesialis
retina konservatif (untuk
nonregmatogen), pneumatic
retinopexy, bakel sklera,
vitrektomi tertutup

Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology 17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007.
56. KONJUNGTIVITIS ATOPI
Konjungtivitis
Conjunctivitis is swelling (inflammation) or infection of
the membrane lining the eyelids (conjunctiva)

Pathology Etiology Feature Treatment


Bacterial staphylococci Acute onset of redness, grittiness, topical antibiotics
streptococci, burning sensation, usually bilateral Artificial tears
gonocci eyelids difficult to open on waking,
Corynebacter diffuse conjungtival injection,
ium strains mucopurulent discharge, Papillae
(+)
Viral Adenovirus Unilateral watery eye, redness, Days 3-5 of worst, clear
herpes discomfort, photophobia, eyelid up in 714 days without
simplex virus edema & pre-auricular treatment
or varicella- lymphadenopathy, follicular Artificial tears relieve
zoster virus conjungtivitis, pseudomembrane dryness and inflammation
(+/-) (swelling)
Antiviral herpes simplex
virus or varicella-zoster
http://www.cdc.gov/conjunctivitis/about/treatment.html virus
Pathology Etiology Feature Treatment
Fungal Candida spp. can Not common, mostly occur in Topical antifungal
cause immunocompromised patient,
conjunctivitis after topical corticosteroid and
Blastomyces antibacterial therapy to an
dermatitidis inflamed eye
Sporothrix
schenckii
Vernal Allergy Chronic conjungtival bilateral Removal allergen
inflammation, associated atopic Topical antihistamine
family history, itching, Vasoconstrictors
photophobia, foreign body
sensation, blepharospasm,
cobblestone pappilae, Horner-
trantas dots
Inclusion Chlamydia several weeks/months of red, Doxycycline 100 mg PO
trachomatis irritable eye with mucopurulent bid for 21 days OR
sticky discharge, acute or Erythromycin 250 mg
subacute onset, ocular irritation, PO qid for 21 days
foreign body sensation, watering, Topical antibiotics
unilateral ,swollen lids,chemosis
,Follicles
Conjunctivitis

Papillae Follicles Purulent discharge

Redness Chemosis
Konjungtivitis Alergi
Allergic conjunctivitis may be divided into 5
major subcategories.
Seasonal allergic conjunctivitis (SAC) and
perennial allergic conjunctivitis (PAC) are
commonly grouped together.
Vernal keratoconjunctivitis (VKC), atopic
keratoconjunctivitis (AKC), and giant papillary
conjunctivitis (GPC) constitute the remaining
subtypes of allergic conjunctivitis.
Konjungtivitis Atopi
Biasanya ada riwayat atopi Terapi topikal jangka
Gejala + Tanda: sensasi panjang: cell mast stabilizer
terbakar, sekret mukoid Antihistamin oral
mata merah, fotofobia Steroid topikal jangka
Terdapat papila-papila halus pendek dapat meredakan
yang terutama ada di tarsus gejala
inferior
Jarang ditemukan papila
raksasa
Karena eksaserbasi datang
berulanga kali
neovaskularisasi kornea,
sikatriks
KONJUNGTIVITIS VERNAL
Nama lain:
spring catarrh
seasonal conjunctivitis
warm weather conjunctivitis
Etiologi: reaksi hipersensitivitas bilateral (alergen sulit
diidentifikasi)
Epidemiologi:
Dimulai pada masa prepubertal, bertahan selama 5-10
tahun sejak awitan
Laki-laki > perempuan
Paling sering pada Afrika Sub-Sahara & Timur Tengah
Temperate climate > warm climate > cold climate (hampir
tidak ada)
Vaughan & Asbury General Ophtalmology 17th ed.
Gejala & tanda:
Rasa gatal yang hebat, dapat
disertai fotofobia
Sekret ropy
Riwayat alergi pada RPD/RPK
Tampilan seperti susu pada
konjungtiva
Gambaran cobblestone
(papila raksasa berpermukaan
rata pada konjungtiva tarsal)
Tanda Maxwell-Lyons (sekret
menyerupai benang &
pseudomembran fibrinosa Komplikasi:
halus pada tarsal atas, pada Blefaritis & konjungtivitis
pajanan thdp panas)
stafilokokus
Bercak Trantas (bercak
keputihan pada limbus saat
fase aktif penyakit)
Dapat terjadi ulkus kornea
superfisial
Vaughan & Asbury General Ophtalmology 17th ed.
Tatalaksana
Self-limiting Jangka panjang & prevensi
Akut: sekunder:
Antihistamin topikal
Steroid topikal (+sistemik Stabilisator sel mast Sodium
kromolin 4%: sebagai
bila perlu), jangka pengganti steroid bila gejala
pendek mengurangi sudah dapat dikontrol
gatal (waspada efek Tidur di ruangan yang sejuk
dengan AC
samping: glaukoma, Siklosporin 2% topikal (kasus
katarak, dll.) berat & tidak responsif)

Vasokonstriktor topikal Desensitisasi thdp antigen


(belum menunjukkan hasil
Kompres dingin & ice baik)
pack

Vaughan & Asbury General Ophtalmology 17th ed.


Table. Major Differentiating Factors Between VKC and AKC

Characteristics VKC AKC


Age at onset Generally presents at a younger age -
than AKC
Sex Males are affected preferentially. No sex predilection
Seasonal variation Typically occurs during spring months Generally perennial
Discharge Thick mucoid discharge Watery and clear discharge
Conjunctival - Higher incidence of
scarring conjunctival scarring
Horner-Trantas Horner-Trantas dots and shield ulcers Presence of Horner-Trantas
dots are commonly seen. dots is rare.
Corneal Not present Deep corneal
neovascularization neovascularization tends to
develop
Presence of Conjunctival scraping reveals Presence of eosinophils is
eosinophils in eosinophils to a greater degree in less likely
conjunctival VKC than in AKC
scraping
57. ABLASIO RETINA
Vaughn DG, Oftalmologi Umum, ed.14

Ablasio Retina
Ablasio retina adalah suatu Jenis:
keadaan terpisahnya sel Rhegmatogenosa (paling
kerucut dan batang retina sering) lubang / robekan
(retina sensorik) dari sel pada lapisan neuronal
epitel pigmen retina menyebabkan cairan vitreus
Mengakibatkan gangguan masuk ke antara retina
nutrisi retina pembuluh sensorik dengan epitel
darah yang bila berlangsung pigmen retina
lama akan mengakibatkan Traksi adhesi antara vitreus
gangguan fungsi / proliferasi jaringan
penglihatan fibrovaskular dengan retina
Serosa / hemoragik
eksudasi ke dalam ruang
subretina dari pembuluh
darah retina
Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology 17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007.
Etiologi Ablasio Retina
Rhegmatogenosa: Serosa / hemoragik:
Miopia Hipertensi
Trauma okular Oklusi vena retina
Afakia sentral
Degenerasi lattice Vaskulitis
Traksi: Papilledema
Retinopati DM Tumor intraokular
proliferatif
Vitreoretinopati
proliferatif
Retinopati prematuritas
Trauma okular
Ablasio
Rhegmatogenosa

Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology


17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007.
Ablasio Retina
Anamnesis: Funduskopi : adanya
Riwayat trauma robekan retina, retina yang
Riwayat operasi mata terangkat berwarna keabu-
Riwayat kondisi mata abuan, biasanya ada fibrosis
sebelumnya (cth: uveitis, vitreous atau fibrosis
perdarahan vitreus, miopia preretinal bila ada traksi.
berat) Bila tidak ditemukan
Durasi gejala visual & robekan kemungkinan suatu
penurunan penglihatan
ablasio nonregmatogen
Gejala & Tanda:
Fotopsia (kilatan cahaya)
gejala awal yang sering
Defek lapang pandang
bertambah seiring waktu
Floaters
Tatalaksana
Ablasio retina
kegawatdaruratan mata
Tatalaksana awal:
Puasakan pasien u/ persiapan
operasi
Hindari tekanan pada bola
mata
Batasi aktivitas pasien sampai
diperiksa spesialis mata
Segera konsultasi spesialis
retina konservatif (untuk
nonregmatogen), pneumatic
retinopexy, bakel sklera,
vitrektomi tertutup

Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology 17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007.
58. PTERIGIUM
Pterigium
PTERIGIUM
Pertumbuhan fibrovaskuler
konjungtiva,
Pertumbuhan bersifatkonjungtiva,
fibrovaskuler degeneratif
bersifat degeneratif dan invasif
dan invasif
Terletak pada celah kelopak bagian nasal
ataupun
Terletak padakonjungtiva
temporal celah kelopak bagian
yang meluas
ke daerah kornea
nasal ataupun temporal konjungtiva
Mudah meradang
yang meluas
Etiologi: kekarena
iritasi kronis daerah kornea
debu, cahaya
matahari,
Mudahudara panas
meradang
Keluhan : asimtomatik, mata iritatif, merah,
mungkin
Etiologi: iritasi
terjadi kronis
astigmat karena
(akibat korneadebu,
tertarik
cahaya olehmatahari,
pertumbuhan pterigium),
udara panas tajam
penglihatan menurun
Tes
Keluhan
sonde (+): mata
ujungiritatif, merah,
sonde tidak kelihatan
pterigium
mungkin terjadi astigmat
Pengobatan : konservatif; Pada pterigium
derajat
Pengobatan : konservatif;
1-2 yang mengalami operasi
inflamasi,
pasien dapat diberikan obat tetes mata
bila terjadi
kombinasi gangguan
antibiotik penglihatan
dan steroid 3 kali sehari
selama 5-7 hari. Pada pterigium derajat 3-4
dilakukan tindakan bedah
DERAJAT PTERIGIUM
Derajat 1: Jika pterigium hanya terbatas pada limbus kornea
Derajat 2: Jika pterigium sudah melewati limbus kornea tetapi tidak
lebih dari 2 mm melewati kornea
Derajat 3: Jika pterigium sudah melebihi derajat dua tetapi tidak
melebihi pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya normal
(diameter pupil sekitar 3-4 mm)
Derajat 4: Jika pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil
sehingga mengganggu penglihatan
59. Kelainan Konjungtiva
PTERIGIUM DIAGNOSIS BANDING
Pterigium a benign growth of the conjunctiva commonly grows from the nasal side
of the sclera, wedge shaped area of
fibrosis that appears to grow into the
cornea. Symptoms: foreign body
sensation, tearing, redness
Pinguecula a common type of conjunctival degeneration in the a yellow-white deposit on the
eye conjunctiva adjacent to the limbus
(the junction between the cornea
and sclera). Usually no symptoms
Episkleritis a benign, self-limiting inflammatory disease affecting characterized by the abrupt onset of
part of the eye called the episclera (is a thin layer of eye pain and redness
tissue that lies between the conjunctiva and the
connective tissue layer that forms the white of the
eye)
Pseudopterigium Adhesion of the conjunctiva to the peripheral cornea. May occur on any quadrant of the
may result from a peripheral corneal ulcer and ocular cornea, Lacks firm adhesion
surface inflammation such as cicatrizing throughout the underlying
conjunctivitis, chemical burns, or may also occur structures, and occasionally has a
secondary to chronic mechanical irritation from broad leading edge on the corneal
contact lens movement surface.
Konjungtivitis inflammation of the conjunctiva (the outermost layer Red eye, epiphora, chemosis, normal
of the eye and the inner surface of the eyelids) visual acuity
59. ESOTROPIA
Strabismus
A condition in which the eyes are not properly aligned with each other
A lack of coordination between the extraocular muscles

http://www.oculist.net/others/ebook/
Hirschberg method
The patient fixates a light at a distance of about 33 cm
(13 inches)
Decentering of the light reflection is noted in the
deviating eye. By allowing 18:for each millimeter of
decentration, an estimate of the angle of deviation can
be made

http://www.oculist.net/others/ebook/
Strabismus/ heterotropia
Definisi: deviasi mata yang bermanifestasi
Pembagian:
1. Paralitik (nonkonkomitan)
Sudut deviasi tidak sama ke semua arah
Disebabkan hilangnya fungsi dari salah satu /lebih dari otot
salah satu mata. Paralisis bisa bersifat parsial ataupun total
2. Non paralitik (konkomitan)
Seudut deviasi tetap untuk semua arah
Terdiri dari:
Akomodatif: berhubungan dengan kelainan refraksi
Nonakomodatif: tidak ada hubungan dengan kelainan refraksi
Klasifikasi strabismus berdasarkan
arah deviasi:
Esotropia/ strabismus konvergen/ crossed eye:
deviasi mata ke nasal
Eksotropia/ stabismus divergen/ wall eye:
deviasi mata ke temporal
Hipertropia: deviasi mata ke arah atas
Hipotropia: deviasi mata ke arah bawah
Esotropia
Esotropia is a type of strabismus
One or both eyes turned in toward the nose
inward deviation of the eyes
Can begin as early as infancy, later in childhood,
or even into adulthood.
Esotropia can be classified by age of onset
(congenital/infantile vs. acquired); by frequency
(intermittent vs. constant); or by whether it can
be treated with glasses (accommodative vs. non-
accommodative).
Esotropia nonakomodatif
Deviasi sudah timbul pada waktu lahir/ tahun-
tahun pertama kehidupan
Deviasi sama ke semua arah dan tidak
berhubungan dengan kelainan refraksi atau
kelumpuhan otot
Penyebab: insersi otot horisontal yang salah,
kelainan persarafan supranuklear
Accomodative Esotropia
Accommodative esotropia occurs when there is a normal
physiologic mechanism of accommodation with an
associated overactive convergence response but insufficient
relative fusional divergence to hold the eyes straight.
There are two pathophysiologic mechanisms at work, singly
or together:
(1) sufficiently high hyperopia, requiring so much accommodation
(and therefore convergence) to clarify the image that esotropia
results; and
(2) a high AC/A ratio, which is accompanied by mild to moderate
hyperopia
It is classically divided into three categories:
Refractive accommodative esotropia
Nonrefractive accommodative esotropia
Partially accommodative esotropia
Vaughan and Asburys General Ophthalmology
ACCOMMODATIVE ESOTROPIA DUE TO HYPEROPIA (Refractive)
Accommodative esotropia due to hyperopia typically begins at age 2-3
years but may occur earlier or later.
Deviation is variable prior to treatment.
Glasses with full cycloplegic refraction allow the eyes to become aligned.

ACCOMMODATIVE ESOTROPIA DUE TO HIGH AC/A RATIO (Non-Refractive)


In accommodative esotropia due to a high ratio of accommodative
convergence to accommodation (AC/A ratio)
The refractive error is hyperopic.
Pada esotropia akomodatif non refraktif, deviasi pada pengelihatan dekat
lebih besar jika dibandingkan penglihatan jauh.
Treatment is with glasses with full cycloplegic refraction plus bifocals or
miotics to relieve excess deviation at near.

Partially Accommodative Esotropia


A mixed mechanism part muscular imbalance and part
accommodative/convergence imbalance may exist. Although glasses,
bifocals, and miotics decrease the angle of deviation, the esotropia is not
eliminated.
Calculation of Accommodative
Convergence/Accommodation (AC/A) ratio by
the gradient method (measurements with and
without the additional lens are done at the
same distance):
60. ASTENOPIA
Astenopia
Astenopia, Eye Strain, Visual Terjadi akibat:
1. Cahaya masuk ke mata dari benda
Discomfort dan Ocular fatigue yang dilihat tidak cukup.
atau disebut juga mata lelah 2. Pemusatan cahaya pada retina mata
tidak sempurna.
Kondisi oftalmologis yang
3. Mekanisme penggabungan bayangan
bermanifestasi lewat gejala (fusi) oleh sistem penglihatan yang
nonspesifik seperti lelah dan lebih sentral (otak) dan upaya untuk
mempertahankannya tidak memadai.
nyeri sekitar atau pada mata, Gejala:
penglihatan buram, sakit kepala Pandangan kabur
dan kadang diplopia. Biasanya Distorsi bentuk dan ukuran objek
timbul setelah membaca, lama Inflamasi mata
melihat komputer atau aktivitas lakrimasi
Mata lelah, terasa panas
mata yang terus-menerus.
Rasa tidak nyaman di mata
Nyeri kepala
Abdi S, Asthenopia in Schoolchildren. 2007
Penyakit Khas

Astenopia akomodasi Kelelahan mata akibat aktivitas mata fokus pada benda
yang dekat dalam jangka waktu lama
Astenopia anisometropi Kondisi kedua mata memiliki perbedaan kekuatan refraksi
biasanya lebih dari 2 dioptri. Hal ini menyebabkan diplopia
dan astenopia
Astenopia anesikonia Perbedaan besar gambar pada retina masing-masing
mata. Ketika hal ini menjadi bermakna maka dapat terjadi
diplopia, disorientasi, astenopia, sakit kepala, pusing dan
kelainan keseimbangan.
Astenopia miopia Cahaya yg masuk ke mata difokuskan di depan retina
kesulitan melihat jauh membutuhkan kacamata
minus/konkaf
Astenopia hipermetropia Cahaya yg masuk ke mata difokuskan di belakang retina
kesulitan melihat dekat membutuhkan kacamata
plus/konveks
61.ATROPIN
Indication Contraindication
Atropin Untuk midriasis dan/atu siklopegia Jangan digunakan pada pasien dengan glaukoma
primer atau pada COA yg dangkal
Pilocarpin Tatalaksana glaukoma Obat parasimpatomimetik dikontraindikasikan pd
kasus dimana miosis tidak diinginkan cth pada iritis
akut atau glaukoma dengan pupillary block
Latanoprost Analog prostaglandin untuk menurunkan Hypersensitivitas terhadap latanoprost
tekanan intraokular pada glaukoma sudut
terbuka atau hipertensi okuli.
Physostigmine Sebagai antidotum untuk anticholinergic Jangan digunakan pada pasien asma, gangrene, DM,
syndrome (contoh obat antikolinergik penyakit kardiovaskular, pasien-pasien yang
yang bisa menyebabkan toksisitas: menerima obat cholineesterase dan obat yg
antihistamin, furosemide, nifedipine memblok depolarisasi neuromuskular
(decamethonium, succinylcholine)
Acetazolamide Dalam oftalmologi digunakan sebagai obat Hypersensitivitas thd Acetazolamid, kadar serum Na
glaukoma. dan K yg rendah; gangguan hepar dan ginjal,
kegagalan fungsi supraadrenal, asidosis
hiperkloremik.
Pada pasien sirosis berisiko menimbulkan
ensefalopati.
Pemberian jangka panjang dikontraindikasikan pada
pasien chronic noncongestive angle-closure
glaucoma karena dapat menyebabkan penutupan
organik pd sudut COA.
http://www.drugs.com/pro/acetazolamide.html
62. INJEKSI SILIAR
Injeksi Konjungtiva dan Silier
Injeksi silier menunjukkan adanya inflamasi pada
kornea, iris, atau badan siliar.
Injeksi Siliar biasanya berasal dari pembuluh
darah siliar bagian anterior
Injeksi konjungtiva biasanya berasal dari
pembuluh darah konjungtiva posterior.
Karena pembuluh darah konjungtiva lebih
superfisial daripada arteri siliar, maka injeksi
konjungtiva biasanya tampak lebih merah dan
bereaksi dengan pemberian vasokonstriktor
63. HIFEMA
Trauma Mekanik Bola Mata
Cedera langsung berupa ruda Pemeriksaan Rutin :
paksa yang mengenai jaringan Visus : dgn kartu Snellen/chart
mata. projector + pinhole
Beratnya kerusakan jaringan TIO : dgn tonometer
bergantung dari jenis trauma aplanasi/schiotz/palpasi
serta jaringan yang terkena Slit lamp : utk melihat segmen
anterior
Gejala : penurunan tajam USG : utk melihat segmen
penglihatan; tanda-tanda posterior (jika memungkinkan)
trauma pada bola mata Ro orbita : jika curiga fraktur
Komplikasi : dinding orbita/benda asing
Endoftalmitis Tatalaksana :
Uveitis Bergantung pada berat trauma,
Perdarahan vitreous mulai dari hanya pemberian
Hifema antibiotik sistemik dan atau
topikal, perban tekan, hingga
Retinal detachment operasi repair
Glaukoma
Oftalmia simpatetik

Panduan Tatalaksana Klinik RSCM Kirana, 2012


HIFEMA
Definisi:
Perdarahan pada bilik mata Tujuan terapi:
depan Mencegah rebleeding
Tampak seperti warna (biasanya dalam 5 hari
merah atau genangan pertama)
darah pada dasar iris atau Mencegah noda darah
pada kornea pada kornea
Halangan pandang parsial Mencegah atrofi saraf
/ komplet optik
Etiologi: pembedahan Komplikasi:
intraokular, trauma Perdarahan ulang
tumpul, trauma laserasi Sinekiae anterior perifer
Atrofi saraf optik
Glaukoma
Tatalaksana:
Kenali kasus hifema dengan risiko tinggi
bed rest & Elevasi kepala malam hari
Eye patch & eye shield
Mengendalikan peningkatan TIO
Pembedahan bila tak ada perbaikan / terdapat
peningkatan TIO
Hindari Aspirin, antiplatelet, NSAID, warfarin
Steroid topikal (dexamethasone 0.1% atau prednisolone
acetate 1% 4x/hari)
Pertimbangkan siklopegia (atropine 1% 2x/hari, tetapi
masih kontroversial).
64. RETINOBLASTOMA
Retinoblastoma
Retinoblastoma (Rb)
Tumor ganas intraokular masa Clinical features
kanak yg paling sering Leukocoria (60%): The pupil of the
Puncak insidens antara usia 1-2 eye appears white instead of red
tahun when light shines into it (known as
Berasal dari retinoblas yang "cat's eye reflex" or "white eye").
kehilangan fungsi gen supresor strabismus (20%)
tumor Rb. White, round retinal mass with
Lebih dari 90% kasus merupakan endophytic (towards vitreous),
sporadik. exophytic (toward RPE/choroid),
Gambaran histologis: pola mixed, or diffuse infiltrating growth
abnormal retinoblasts : Flexner pattern.
Wintersteiner rosettes, Homer- Pain or redness in the eye.
Wright rosettes, dan fleurettes. An enlarged or dilated pupil
Blurred vision or poor vision
Different colored irises
Treatment
Tujuan utamanya adalah untuk Kemoterapi (carboplatin,
menyelamatkan nyawa anak, etopside, and vincristine)
kemudian untuk menyelamatkan Consider for bilateral disease, large
penglihatan, dan kemudian untuk tumors (chemoreduction combined
meminimalisasi komplikasi/ efek with local treatment), extraocular
samping pengobatan. involvement, metastasis, or
recurrence.
Photocoagulation or Enucleation
transpupillary thermotherapy:
Untuk stadium lanjut
for small posterior tumors without
optic nerve involvement or
vitreous seeding.
Cryotherapy
for small tumors
Radiotherapy (radioactive
plaques, laser therapy, external
beam radiotherapy)
KOMPLIKASI PROGNOSIS
Glaukoma, buftalmos, edem Most untreated tumors proceed
kornea, metastasis, ptisis bulbi to local invasion and metastasis
PEMERIKSAAN to cause death within 2 years
Ultrasound: intralesional Most small to medium-sized
calcification with high internal tumors without vitreous seeding
reflectivity and acoustic shadow. can be successfully treated.
CT/MRI: CT is better for imaging Overall, there is a 95% survival
the retinoblastoma itself rate (in the developed world).
(calcification high density), but Poor prognostic factors include
MRI is preferred for assessing any size of tumor, optic nerve
intracranial involvement involvement, extraocular spread,
(extension or associated tumors). and older age of child.
Katarak Perubahan pada kebeningan struktur lensa mata yang muncul pada saat kelahiran
kongenital bayi atau segera setelah bayi lahir, dapat terjadi di kedua mata bayi (bilateral)
maupun sebelah mata bayi (unilateral). Keruh/buram di lensa terlihat sebagai bintik
putih jika dibandingkan dengan pupil hitam yang normal dan dapat dilihat dengan
mata telanjang. Etiologi: keturunan (genetik), infeksi, masalah metabolism, diabetes,
trauma (benturan), inflamasi atau reaksi obat, anti biotik tetracycline, ibu bayi
menderita infeksi seperti campak atau rubella (penyebab paling lazim), rubeola,
chicken pox, cytomegalovirus, herpes simplex, herpes zoster, poliomyelitis,
influensza, virus Epstein-Barr, sifilis, dan toxoplasmosis.

Macula kornea an autosomal recessive condition, which is the least common but the most severe of
distrofi the 3 major stromal corneal dystrophies. It is characterized by multiple, gray-white
opacities that are present in the corneal stroma and that extend out into the
peripheral cornea. Visible in the cornea during the first decade of life. Over time,
vision decreases, and patients develop photosensitivity, eye pain from recurrent
corneal erosions.
Korpus alienum Benda asing pada mata. Riwayat trauma.
Strabismus/ a condition in which the eyes are not properly aligned with each other
squint
65. BUTA WARNA
Retinal ConesNormal Color Vision

Red cones
Blue cones
Green cones
absent in Blue cones
central fovea
Brightness = R + G
Color = R G
Color = B (R+G)
Red cones
outnumber green
cones 2/1
Red + Green cones
outnumber blue
cones 10/1
331
What happens in hereditary
color deficiency?

Red or green cone peak


sensitivity is shifted.
Red or green cones absent.

332
Retinal ConesNormal Color Vision

Red, green and blue cone


sensitivity vs. wavelength
curves

333
Hereditary Color Deficiency
8-10% of males and 1/200 females (0.5%) are born with
red or green color deficiency.
Sex-linked recessive condition (X chromosome).
Protanomalyred cone peak shifted toward green (1%)
Protan Dichromatred cones absent (1%)
Deuteranomalygreen cone peak shifted toward red
(5%)
Deutan Dichromatgreen cones absent (1%)
Hereditary tritan defects are rare (0.008%)
Blue colour blindness affects both men and women
equally, because it is carried on a non-sex chromosome
Color Deficiency Males Females
Protanopia 1% 0.01%
Deuteranopia 1% 0.01%
Protanomaly 1% 0.01%
Deuteranomaly 5% 0.4%
Overall (red- 8% 0.5%
green)
Tritanopia 0.008% 0.008%
Tritanomaly Rare Rare
Rod Rare Rare
monochromatism
Cone Rare Rare
335
monochromatism
NEUROLOGI
66. Meningitis Bakterialis
Meningitis Bakterialis merupakan infeksi purulen akut dalam rongga subarakhnoid.
Reaksi inflamasi tidak hanya terbatas pada subarakhnoid, tapi juga mengenai meninges, dan jaringan
parenkim otak (meningoensefalitis)

Manifestasi Klinis dan Pemeriksaan Laboratorium


pada Meningitis Bakterialis
Klinis dan Laboratorium Sensitivitas (%)
-Adanya 2 gejala berikut : demam, kaku 95%
kuduk, perubahan kesadaran, nyeri
kepala
- Leukosit di CSF 100 per L 93%
- Nyeri kepala 87%
- Kaku Kuduk 83%
-Demam > 380C 77%
-Mual 74%
- Perubahan kesadaran (GCS <14) 69 %
-Kultur darah (+) 66%
-Trias demam, kaku kuduk, dan 44%
perubahan kesadaran
-Tanda neurologis fokal 33%
-Kejang 5%
-Papiledema 3%

Bamberger DM. Diagnosis, Initial Management, and Prevention of Meningitis. Am Fam Physician. 2010;82(12):1491-1498
Bamberger DM. Diagnosis, Initial Management, and Prevention of Meningitis. Am Fam Physician. 2010;82(12):1491-1498
67-68. Trauma Medulla Spinalis
Traumatic spinal cord injury (TSCI) sering mengenai bagian servikal (terutama C5, C4 dan
C6) dan segmen bawah (T12, L1, T10)

PRINSIP-PRINSIP UTAMA PENATALAKSANAAN TRAUMA SPINAL


1. Immobilisasi
2. Stabilisasi Medis
3. Mempertahankan posisi normal vertebra (Spinal Alignment)
4. Dekompresi dan Stabilisasi Spinal
5. Rehabilitasi

IMOBILISASI

-Dimulai dari tempat kejadian/kecelakaan sampai ke IGD


1. immobilisasi dan stabilkan leher dalam posisi normal cervical Collar
2. Baringkan penderita dalam posisi terlentang (supine) pada tempat/alas yang
keras. Pasien diangkat/dibawa dengan cara 4 men lift atau menggunakan Robinsons
orthopaedic stretcher.

Hafas Hanafiah Penatalaksanaan Trauma Spinal Majalah Kedokteran Nusantara Volume 40 .No. 2 Juni 2007
STABILISASI MEDIS
Terutama sekali pada penderita tetraparesis/ tetraplegia.
1. Periksa vital signs
2.Pasang nasogastric tube
3.Pasang kateter urin
4.Segera normalkan vital signs. Pertahankan tekanan darah yang normal dan
perfusi jaringan yang baik. Berikan oksigen, monitor produksi urin, bila perlu
monitor AGDA (analisa gas darah), dan periksa apa ada neurogenic shock.

Pemberian megadose Methyl Prednisolone Sodium Succinate dalam kurun waktu


6 jam setaleh kecelakaan dapat memperbaiki konntusio medula spinalis.
Bolus 30 mg/kg BB dalam 15 menit, diikuti infus 5.4-mg/kg dalam 23 jam

SPINAL ALIGNMENT

-Fraktur servikal traksi dengan Cruthfield tong atau Gardner-Wells tong dengan
beban 2.5 kg perdiskus.
- Bila terjadi dislokasi traksi diberikan dengan beban yang lebih ringan, beban
ditambah setiap 15 menit sampai terjadi reduksi.
DEKOMPRESI DAN STABILISASI SPINAL

Bila terjadi realignment dekompresi.


Bila realignment dengan cara tertutup ini
gagal maka dilakukan open reduction dan
stabilisasi dengan approach anterior atau
posterior

REHABILITASI
Rehabilitasi fisik harus dikerjakan sedini
mungkin.
Termasuk dalam program ini :
1. bladder training,
2. bowel training,
3. Latihan otot pernafasan,
4. Pencapaian optimal fungsi fungsi
neurologik dan program kursi roda bagi
penderita paraparesis/paraplegia

Rowland, Lewis P. Merritt's Neurology, 11th Edition . 2005 Lippincott Williams & Wilkins
Syok Neurogenik
Definisi Syok :Kumar and Parrillo (1995)
Suatu keadaan dimana terjadi penurunan perfusi
jaringan yang efektif, pada tahap awal dapat bersifat
reversible sedangkan jika terus berlanjut menyebabkan
cedera sel irreversible

ETIOLOGY EXAMPLE CVP CO SVR VO2 SAT


OF SHOCK
AFTERLOAD DISTRIBUTIVE

Hyperdynamic Septic Low/High High Low High

Hypodynamic Low/High Low High Low/High


Septic
Neurogenic Low Low Low Low

Anaphylactic Low Low Low Low


Neurogenic Shock
Mechanism: Loss of autonomic innervation of the
cardiovascular system (arterioles, venules, small
veins, including the heart)

Causes:
1. Spinal cord injury
2. Regional anesthesia
3. Drugs
4. Neurological disorders
Neurogenic Shock
Characterized by loss of vascular tone & reflexes.

Signs: Hypotension, Bradycardia, Accompanying Neurological


deficits.

Monitor/findings: hemodynamic instability, test bulbo-


carvernous reflex

Tx: IVF, vasoactive medications if refractory

optimized by optima
69. Status Epileptikus
kejang yang berlangsung lebih dari 5 menit atau kejang berulang dimana di antara
serangan yang pertama dan berikutnya kesadaran pasien tidak kembali normal
70. Neuralgia Trigeminal
71. Sistem Sirkulasi Otak
Motoric
System
Organiza
tion
Capsula
Interna
Motoric fibers converge
at the level of internal
capsule
Lesions on and below
this level tends to
manifest uniform
weakness
Lesions above this level
tends to manifest
different degrees of
paralysis due to diverge
motoric fibers
72. Dermatomal
73. Multiple Sklerosis
Multiple sclerosis (MS) merupakan suatu kondisi demielinisasi
sistem saraf pusat akibat suatu proses inflamasi yang diperantarai
oleh autoimun.
Pencetus autoimun belum diketahui, tapi target utamanya adalah
sel saraf di SSP yang bermielin
Etiologinya merupakan gabungan dari faktor genetik dan lingkungan
Epidemiologi :
Lebih sering pada wanita dibandingkan pria
Puncak serangan terutama pada usia 30 tahun
Lebih sering pada orang kulit putih
Faktor resiko
Infeksi virus seperti campak dan EpsteinBarr virus;
Iklim dan pajanan matahari
diet and trace elements.
74. Tatalaksana peningkatan TIK
Beberapa hal yang berperan besar dalam
menjaga agar TIK tidak meninggi antara lain:
Mengatur posisi kepala lebih tinggi 15 300, dengan
tujuan memperbaiki venous return.
Mengusahakan tekanan darah yang optimal.
Mengatasi kejang.
Menghilangkan rasa cemas.
Mengatasi rasa nyeri.
Menjaga suhu tubuh normal < 37,50 C
Mengatasi hipoksia
75. Pemeriksaan Radiologi CVA
Pemeriksaan radiologi untuk stroke :
- Stroke hemorargik
Ct- scan merupakan pemeriksaan yang dapat dipercaya
untuk menegakkan diagnosis perdarahan akut
(terutama dalam seminggu pertama serangan stroke)

- Stroke iskemik
dalam satu jam pertama serangan stroke iskemik,
hanya <50% infark yang dapat terlihat perlu
diffusion weighted MRI
CT Scan pada Stroke Iskemik
Stadium Hiperakut (<12 Acute : 12 24 jam
jam serangan) serangan
Normal 50-60% Low density basal
Arteri hiperdense (dense ganglia
MCA sign) Sulcal effacement
Obstruksi pada nukleus 1 3 hari setelah
lentiformis serangan
Insular ribbon sign Peningkatan massa
Transformasi hemorargik
MRI pada infark serebri
Immediate 12 24 jam
Hiperintens pada DWI Hiperintens pada T2
Penyangatan pada Penyangatan meningeal
kontras IV pada daerah dekat infark
Perubahan perfusi Efek massa

<12 jam 1- 3 hari


Sulcal effacement, Penyengatan meningeal
edema girus, hilangnya mulai berkurang
batas antara substansia
alba dan grisea pada T1
76. Mild Cognitive Impairment
merupakan gangguan kognitif ringan yang sudah terjadi pada kelompok lanjut usia
nondemensia

Ketika MCI berlanjut, gangguan memori makin terlihat. Lingkungan sekitar akan
mulai menyadari hal hal sebagai berikut:
bertanya secara berulang ulang
menceritakan cerita yang sama berulang ulang
kurangnya inisiatif untuk memulai atau menyelesaikan aktivitas
Kesulitan untuk melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan angka seperti
membayar tagihan
kurang fokus selama melakukan aktivitas atau percakapan
tidak mampu mengikuti perintah atau langkah langkah yang kompleks

Penegakkan diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan


tambahan berupa pemeriksaan MMSE

Sidhi P. Gambaran gangguan kognitif pada lanjut usia nondemensis di puskesmas tebet dan pasar minggu.
http://lontar.ui.ac.id/opac/ui/detail.jsp?id=107384&lokasi=lokal
Pedoman Skor Kognitif Global
-Nilai 24 30 normal
-Nilai 17 23 MCI
-0 16 gangguan kognitif

-Dalam membuat penilaian fungsi


kognitif harus diperhatikan
tingkat pendidikan dan usia
responden
77. Apraxia

KETERANGAN
Alexia Kehilangan kemampuan membaca yang sebelumnya dimiliki

Agnosia Kegagalan dalam mengenal suatu objek walaupun indranya berfungsi secara baik.
Agnosia dapat melibatkan seluruh jenis sensasi

Aphasia Merupakan gangguan dalam memproduksi dan atau memahami bahasa. Terjadi
defek pada pemrosesan bahasa ditingkat integratif yang lebih tinggi

Apraxia merupakan suatu gangguan yang didapat pada gerakan motorik yang dipelajari dan
berurutan, yang bukan disebabkan oleh gangguan elementer pada tenaga
koordinasi, sensorik atau kurangnya pemahaman atau atensi. Apraxia terdiri atas
apraxia ideomotor dan apraxia ideasional. Pada apraxia ideomotor, pasien tidak
mampu melakukan gerakan yang pernah dipelajari olehnya sebelumnya secara
akurat.

Agraphia Gangguan pada bahasa yang dinyatakan dalam penulisan. Bukan pada bentuk huruf
dan tulisan yang buruk
PSKIATRI
78. Ecopraxia
Ekopraksia = peniruan pergerakan yang patologis seseorang
pada orang lain.
Latah merupakan suatu fenomena yang menarik di
masyarakat, Latah terdiri dari empat bentuk, yaitu :
pengulangan kata (ekolalia),
peniruan gerakan (ekopraksia),
pengucapan kata-kata jorok (koprolalia),
melakukan gerakan sesuai perintah (automatic obedience).
Palilalia :pengulangan kata dari diri sendiri. gangguan
bicara, yang mana kata atau frase diulang secara cepat
Ekhomimia: peniruan mimic wajah. gangguan mental yang
mana ucapan atau tindakan tiruan dan berulang
79. Intoksikasi Alkohol
1. Baru mengkonsumsi alkohol
2. setalah konsumsi, mengalami gangguan fungsi
dan sikap menjadi maladaptive
3. setelah mengkonsumsi muncur satu atau
lebih gangguan neurologi (bicara ngawur,
inkoordinasi, tidak siap, nistagmus, ganguan
cognitive)
4. tidak sedang menderita penyakit atau
kelainan lainnya
80.Waham
Tanda dan gejala waham berdasarkan jenisnya meliputi :
Waham kebesaran: individu meyakini bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuasaan
khusus yang diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan. Misalnya, Saya ini
pejabat di separtemen kesehatan lho! atau, Saya punya tambang emas.
Waham curiga: individu meyakini bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha
merugikan/mencederai dirinya dan siucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai
kenyataan. Contoh, Saya tidak tahu seluruh saudara saya ingin menghancurkan hidup
saya karena mereka iri dengan kesuksesan saya.
Waham agama: individu memiliki keyakinan terhadap terhadap suatu agama secara
berlebihan dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan. Contoh, Kalau
saya mau masuk surga, saya harus menggunakan pakaian putih setiap hari.
Waham somatic: individu meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu atau
terserang penyakit dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai dengan
kenyataan. Misalnya, Saya sakit kanker. (Kenyataannya pada pemeriksaan laboratorium
tidak ditemukan tanda-tanda kanker, tetapi pasien terus mengatakan bahwa ia sakit
kanker).
Waham nihilistik: Individu meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia/meninggal
dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan. Misalnya, Ini kan alam kubur
ya, sewmua yang ada disini adalah roh-roh.
81. Bulimia Nervosa
Bulimia nervousa - Terdapat preokupasi yang menetap untuk makan
dan ketagihan terhadap makanan yang tidak bisa
dilawan
- Pasien berusaha melawan efek kegemukan dengan
merangsang muntah oleh diri sendiri atau
pencahar berlebihan, puasa berkala, memakai
obat2an penekan nafsu makan, seperti tiroid,
diuretik.
Anoreksia Nervosa - Mengurangi berat badan dengan sengaja, dipacu
dan atau dipertahankan oleh penderita.
- Berat badan dipertahankan 15% dibawah yang
seharusnya
Obesitas klasifikasi BMI menurut WHO 30,0 34,9
Kluver Bucy Syndrome Gejala yang disebabkan oleh lesi bilateral gejalanya
hyperphagia, hypersexuality, hyperorality, dan
kepatuhan
Kleine Levin Syndrome penyakit syaraf yang langka dimana penderita tidak
bisa mengontrol rasa kantuknya (tidur 20 jam), makan
berlebihan, kelainan dorongan seksual
82.Retardasi Mental
Menurut Rusdi Maslim (2001) retardasi
mental adalah suatu keadaan perkem-bangan
jiwa yang terhenti atau tidak lengkap, yang
terutama ditandai oleh terjadinya hendaya
ketrampilan selama masa perkembangan,
sehingga berpengaruh pada tingkat
kecerdasan secara menyeluruh, misalnya
kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan
sosial.
82. Retardasi Mental
MR ringan MR Sedang/ moderat
Range IQ 50-55 hingga 70 IQ kisaran 36 51
85% dari semua penderita Dapat bicara dan belajar
MR berkomunikasi
Umumnya tidak terdeteksi Kesadaran social
hingga setelah kelas 1 atau 2 kurangkoordinasi otot cukup
SD Dapat mempelajari beberapa
Saat late adolescence kemampuan social dan
kemampuan akademik setara pekerjaan pada usia 6 20
anak kelas 6 SD tahun
Kebanyakan dewasa dengan Dapat belajar bepergian
mild MR dapat hidup mandiri, sendiri ke tempat yang
dan dapat membangun dikenal pada jarak usia 6 20
keluarga sendiri Tahun
83. Gangguan disosiasi
Gejala utama adalah adanya kehilangan dari
integrasi normal, antara:
ingatan masa lalu,
kesadaran identitas dan penginderaan segera, &
kontrol terhadap gerakan tubuh
Terdapat bukti adanya penyebab psikologis,
kejadian yang stressful atau hubungan
interpersonal yang terganggu
Tidak ada bukti adanya gangguan fisik.
Konvulsi disosiatif Konvulsi disosiatif (pseudo seizures) dapat sangat mirip dengan
kejang epileptic dalam hal gerakan gerakannya, akan tetapi
sangat jarang disertai lidah tergigit, luka serius karena jatuh saat
serangan dan mengompol. Juga tidak dijumpai kehilangan
kesadaran atau hal tersebut diganti dengan keadaan seperti stupor
atau trans.

Tetanus Kontraksi otot yang bersifat nyeri, ditandai dengan tonus otot
meningkat, rigiditas muskuler dan spasme yang menyerupai kejang.
Spasme otot berupa (rigiditas abdomen, kontraksi otot wajah,
kontraksi otot rahang dan leher, trismus, disphagia)

Hipokalsemia Kadar kalsium total > 11 mg/dL gejala: hipertensi, cardiac ischemia,
arrythmia, bradikardi, koma, kejang, konstipasi, sudden death
Keadaan putus alcohol bicara ngaco, euphoria, gangguan keseimbangan, koordinasi buruk,
mata dan muka merah, perilaku sexual errotis, ataxia
Epilepsi adalah suatu keadaan yang ditandai oleh bangkitan (seizure)
berulang sebagai akibat dari adanya gangguan fungsi otak secara
intermiten yang disebabkan oleh pelepasan muatan listrik abnormal
dan berlebihan di neuron-neuron secara paroksismal, yang didasari
oleh berbagai faktor etiologi.

Terapi Cairan dan elektrolit, Dr. Ery Leksana


SpAn; Kegawatdaruratan Neurology RSHS -
FKUNPAD, PPDGJ
84.Intoksikasi Amfetamin
85. Demensia
Menurut WHO, demensia adalah sindrom neurodegeneratif yang
timbul karena adanyakelainan yang bersifat kronis dan progresif
disertai dengan gangguan fungsi luhur multipelseperti kalkulasi,
kapasitas belajar, bahasa, dan mengambil keputusan. Kesadaran
pada demensiatidak terganggu. Gangguan fungsi kognitif biasanya
disertai dengan perburukan kontrol emosi, perilaku dan motivasi.
Kriteria Demensia menurut DSM IV
1. Demensia Alzheimer
2. Demensia vaskular (terdapat bukti riwayat penyakit
serebrovaskular)
3. Demensia akibat kondisi medis umum lain
4. Demensia persisten terinduksi zat
5. Demensia akibat etiologi multiple
6. Demensia yang tidak tergolongkan di tempat lain
Kriteria Demensia Alzheimer menurut
DSM IV
Perkembangan defisit kognitif multipel yang
dimanifestasikan dengan baik Defisit kognitif dalam kriteria A1 dan A2 bukan
Gangguan daya ingat (gangguan kemampuan karena salah satu berikut :
untuk mempelajari informasi baru dan untuk Kondisi sistem saraf pusat lain yang
mengingat informasi yang telah dipelajari menyebabkan defisit progresif dalam daya
sebelumnya) ingat kognisi misalnya penyakit
Satu (atau lebih) gangguan kognitif berikut: serebrovaskuler, penyakit Parkinson,
Afasia (gangguan bahasa) penyakit Huntington, hematoma subdural,
hidrosefalus tekanan normal, tumor otak
Apraksia (gangguan kemampuan untuk
melakukan aktivitas motorik walaupun Kondisi sistemik yang diketahui
fungsi motorik utuh) menyebabkan demensia
misalnya,hipotiroidisme, defisiensi vitamin
Agnosia (kegagalan untuk mengenali atau
B12 atau asam folat, defisiensi
mengidentifikasikan benda walaupun
niasin,hiperkalsemia, neurosifilis, infeksi
fungsi sensorik utuh)
HIV
Gangguan dalam fungsi eksekutif (yaitu
Kondisi yang berhubungan dengan zat.
merencanakan, mengorganisasi,
Defisit tidak terjadi semata-mata selama
mengurutkan dan abstrak)
perjalanan suatu delirium
Defisit kognitif dalam kriteria A1 dan A2 masing-
Gangguan tidak lebih baik diterangkan oleh
masing menyebabkan gangguan yang bermakna dalam
gangguan aksis lainnya (misalnya,gangguan
fungsi sosial atau pekerjaan dan menunjukkan suatu
depresif berat,Skizofrenia)
penurunan bermakna dari tingkat fungsi sebelumnya.
Perjalanan penyakit ditandai oleh onset yang bertahap
dan penurunan kognitif yang terus menerus
86. Reaksi stress pasca trauma
F43. Reaksi stress berat dan gangguan penyesuaian
Karekteristik dari kategori ini adalah tidak hanya di atas identifikasi
dasar simtomalogi dan perjalanan penyakit, akan tetapi juga
didasari satu dari dua factor pencetus:
- Suatu stress kehidupan yang luar biasa yang menyebabkan
reaksi stress akut atau
- Suatu perubahan penting dalam kehidupan, yang
menimbulkan situasi tidak nyaman yang berkelanjutan, dengan
akibat terjadi suatu gangguan penyesuaian.
Gangguan ini dapat dianggap sebagai respon maladaptive terhadap
stress berat atau stress berkelanjutan, dimana mekanisme
penyesuaia(coping mechanism) tidak berhasil mengatasi sehingga
menimbulkan masalah dalam fungsi sosialnya.
Gangguan stres akut
Gangguan yang serupa dengan gangguan stres pascatrauma, yang muncul segera setelah kejadian, dalam satu bulan setelah
kejadian
Orang yang telah terpapar dari suatu kejadian traumatic apabila ditemukan:
Orang yang mengalami atau dihadapkan dengan suatu kejadian yang berupa ancaman kematian atau cedera yang
serius atau ancama kepada integritas fisik diri sendiri atau orang lain.
Respon orang tersebut berupa rasa takut yang kuat, rasa tidak berdaya atau horror.
Setelah mengalami kejadian yang menakutkan, individu mengalami salah satu dari gejala disosiatif berikut:
Perasaan subjektif kaku, terlepas atau tidak ada responsifitas emosi.
Penurunan kesadaran terhadap sekelilingnya.
Derealisasi.
Depersonalisasi.
Amnesia disosiatif, yaitu ketidakmampuan untuk mengingat aspek penting dari trauma.
Kejadian traumatik secara menetap dialami kembali dalam sekurangnya satu cara berikut
pikiran, mimpi, ilusi, episode kilas balik yang rekuran atau penderitaan saat terpapar dengan pengingat kejadian
traumatik.
Penghindaran jelas terhadap stimuli yang menyadarkan trauma, misalnya
pikiran, perasaan, percakapan, aktifitas, tempat, orang.
Gejala kecemasan yang nyata atau peningkatan kesadaran
Gangguan yang menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial,
pekerjaan, atau kondisi penting lain.
Gangguan berlangsung minimal 2 hari dan maksimal 4 minggu dan terjadi dalam 4 minggu setelah kejadian
traumatik.
Tidak karena efek fisiologis dari suatu zat atau kondisi medis umum.
Kriteria Diagnosis reaksi stres pasca
trauma
Individu terpajan situasi (melihat, mengalami, menghadapi)
yang melibatkan ancaman kematian atau cedera serius atau
ancaman lain yang serupa.
Diagnosis baru ditegakkan bilamana gangguan ini timbul dalam
kurun waktu 6 bulan setelah kejadian traumatic berat
Adanya bayang-bayang kejadian yang persisten, berupa
gambaran, pikiran, persepsi, atau mimpi buruk. Individu
mengalami gejala penderitaan bila terpajan pada ingatan akan
trauma aslinya.
perilaku menghindar dari bayang-bayang dan pikiran tentang
kejadian traumatis (termasuk orang, tempat, dan aktivitas), dan
dapat tidak ingat aspek tertentu dari kejadian.
Adanya gejala peningkatan kesiagaan yang berlebih seperti
insomnia, iritabililta, sulit konsentrasi, waspada berlebih.
Gejala menyababkan hendaya pada fungsi sosial atau pekerjaan
Pedoman diagnostik Gangguan Cemas
Menyeluruh PPDGJ
Penderita harus menunjukkan anxietas sebagai gejala primer
yang berlangsung hampir setiap hari untuk beberapa minggu
sampai beberapa bulan, yang tidak terbatas atau hanya menonjol
pada keadaan situasi khusus tertentu saja (sifatnya free floating
atau mengambang
Gejala-gejala tersebut biasanya mencakup unsur-unsur
berikut:
a) Kecemasan (khawatir akan nasib buruk, merasa seperti di
ujung tanduk, sulit konsentrasi, dsb)
b) Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak
dapat santai, dsb)
c) Overaktivitas otonomik (kepala terasa ringan, berkeringat,
jantung berdebar-debar, sesak napas, keluhan lambung, pusing
kepala, mulut kering, dsb.)
Gangguan Panik di ICD-10 (F41.0) Diagnosis definitif dari gangguan
termasuk dalam sub kategori panik bila serangan panik terjadi
gangguan cemas lainnya (F41) beberapa kali dalam waktu 1
dimana manifestasi cemas bulan:
merupakan gejala utama, dan Tanpa ada bukti bahaya di sekitar
kejadiannya tidak terbatas situasi Tidak terbatas pada situasi yang
tertentu. telah diketahui atau yang dapat
Gangguan panik sendiri diduga sebelumnya
didefinisikan sebagai serangan Dengan keadaan yang relatif
berulang dari kecemasan yang bebas dari gejala-gejala anxietas
berat (panik) yang tidak terbatas pada periode antara serangan-
situasi atau keadaan sekitar dan serangan panik
tidak dapat diprediksi. Dan
disertai dengan gejala somatik
seperti gejala serangan panik.
Fobia Sosial rasa takut yang kuat dan persisten terhadap
suatu objek atau situasi, antara lain: hewan,
bencana, ketinggian, penyakit, cedera, dan
kematian. Anxietasnya harus mendominasi
atau terbatas pada situasi sosial tertentu.
Fobia khas rasa takut yang kuat dan persisten yang
terbatas terhadap suatu objek atau situasi
tertentu
PTSD gangguan muncul dalam waktu 6 bulan
setelah kejadian traumatik berat (masa laten
yang berkisar antara beberapa minggu
sampai beberapa bulan, jarang sampai
melampaui 6 bulan)
Obsessive Compulsive Disorder (OCD) adalah gangguan kecemasan yang ditandai
dengan pikiran, impuls, gambaran atau
gagasan yang berulang dan mengganggu
(obsesi) disertai dengan upaya untuk
menekan pikiran-pikiran tersebut melalui
perilaku fisik atau mental tertentu yang
irasional dan ritualistik (kompulsi)
87. Insomnia
Diagnosis Sindrom Insomnia
Membutuhkan waktu lebih dari jam untuk tertidur
atau tidur kembali setelah terbangun sehingga siklus
tidur tidak utuh dan menimbulkan keluhan gangguan
kesehatan
Hendaya dalam fungsi kehidupan sehari hari,
bermanifestasi dalam gejala: penurunan kemampuan
bekerja, hubungan sosial dan melakukan kegiatan
rutin.
Lama tidur :
Long sleeper (7-8 jam/hari)
Short sleeper (3-4 jam/hari)

Panduan Klinis Obat Psikotropik, Maslim R


Obat anti insomnia
Benzodiazepin
Nitrazepam 5 10 mg/malam
Flurazepam 15 20 mg/malam
Estazolam 1 -2 mg/malam
Non-benzodiazepin
Zolpidem 10 20 mg/malamObat tidur jangka
pendek

Panduan Klinis Obat Psikotropik, Maslim R


88. Psikotik Akut
Pedoman diagnostic gangguan psikotik akut dan sementara menurut PPDGJ-III menggunakan
urutan diagnosis yang mencermikan urutan prioritas yang diberikan untuk ciri-ciri utama.
Urutan prioritas yang dipakai ialah :
onset yang akut (dalam masa 2 minggu atau kurang = jengka waktu gejala-gejala psikotik menjadi nyata dan
mengganggu sedikitnya beberapa aspek kehidupan dan pekerjaan sehari-hari, tidak termasuk periode prodormal yang
gejalanya sering tidak jelas) sebagai cirri khas yang menentukan seluruh kelompok
adanya sindrom yang khas ( berupa polimorfik = beraneka ragam dan berubah cepat, atau schizophrenia -like = gejala
skizofrenik yang khas)
adanya stress akut yang berkaitan ( tidak selalu ada). Kesulitan atau problem yang berkepanjangan tidak bboleh
dimasukkan sebagai sumber stress dalam konteks ini.
tanpa diketahui berapa lama gangguan akan berlangsung
Tidak ada gangguan dalam kelompok ini yang memenuhi criteria episode maik atau episode
depresif, walaupun perubahan emosional dan gejala-gejala afektif individual dapat menonjol
dari waktu ke waktu
Tidak ada penyebab organic, seperti trauma kapitis, delirium, atau demensia. Tidak
merupakan intoksikasi akibat penggunaan alcohol atau obat-obatan.

Maslim R, Buku Saku Diagnosis gangguan


Jiwa Rujukan ringkas dari PPDGJ - III
Obat yang digunakan Haloperidol (Dosis anjuran 5 typical antipsikotik golongan
adalah obat obatan 15 mg/h) Butyrophenone, ES gejala
anti psikotik. ekstrapiramidal ( hipertonus
otot, akatisia, rx distonia,
Anti psikotika akan
spasme otot, ggn koordinasi
mengurangi gejala mata, diskinesia tardive)
psikotik (misal:
haloperidol 2-5 mg Karbamazepin (dosis anjuran Untuk kasus jiwa (obat
sampai 3kali sehari 400 600 mg/h, 2 3 x per antimania), mania akut
atau chlorpromazine hari)
100-200 mg sampai 3 Alprazolam Anti anxietas
kali sehari).
Diazepam anti ansietas golongan
Dosis harus serendah
Benzodiazepin, ES gangguan
mungkin untuk penglihatan, retensi urin
menghilangkan
gejala, walaupun Sertralin Obat anti depresi golongan
beberapa pasien SSRI , efek samping minimal,
mungkin untuk pasien retarded
membutuhkan dosis depression, usia lanjut,
yang lebih tinggi. dengan ggn jantung atau
berat badan berlebih
Panduan Klinis Obat Psikotropik, Maslim R
Skizofrenia
Ditandai dengan penyimpangan dari pikiran dan persepsi, serta afek yang tidak wajar, atau tumpul.
Kesadaran yang jernih dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun ada
kemunduran kognitif tertentu.
Harus ada sedikitnya satu gejala berikut
A
Thought echo = isi pikirannya berulang dikepalanya
Thought insertion or withdrawal = isi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam pikirannya
Thought broadcasting = isi pikirannya keluar sehingga orang lain/ umum mengetahuinya.
B
Delusion of control=waham tentang dirinya dikendalikan oleh kekuatan dari luar dirinya
Delusion of influence= waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar
Delusion of passivity = waham tentang dirinya tak berdaya terhadap suatu kekuatan dari luar
Delusional perception = pengalaman inderawi yang tidak wajar
C halusinasi auditorik

Gejala tersebut berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih.
Pasien skizofrenia yaitu:
Halusinasi: mendengar, melihat, atau mencium sesuatu yang tidak ada
Waham (disebut juga delusi): keyakinan yang kuat dan tidak dapat
dipatahkan tentang sesuatu dengan alasan yang tidak dapat dipahami
orang sekitarnya. Waham yang sering ditemukan pada pasien skizofrenia
adalah waham kejar (ketakutan atau kecurigaan yang tidak beralasan) dan
waham bizzare (keyakinan yang sangat aneh)
Gangguan proses pikir: dapat berupa proses pikir yang cepat dan
melompat-lompat, tidak berhubungan, atau sangat lambat
Gangguan mood: biasanya berupa depresi, tapi dapat bervariasi
Gangguan afek: afek tidak sesuai (misalnya terlihat gembira saat
menceritakan kisah sedih), afek dapat berkurang atau tumpul
Gangguan kognitif: tidak dapat memusatkan perhatian atau memahami
ide abstrak
Gangguan perilaku dan interaksi sosial
Tipe Disorganisasi (hebefrenik) berpikir disorganisasi, senyum aneh, afek
dangkal dan tidak sesuai, perilaku dungu dan
regresif, manerisme, keluhan somatik yang
sering kadang ada delusi dan halusinasi yang
tidak terorganisasi dan transient. Hanya
ditegakkan pada usia muda 15 25 Tahun

Tipe Katatonik Subtipe Eksitasi : ditandai oleh aktivitas


motorik berlebih, kadang kala kuat.

Subtipe Withdrawn: ditandai oleh inhibisi


umum, stupor, mutisme, negativism,
fleksibilitas lilin, atau kadang kala status
vegetative.
Tipe Paranoid ditandai dengan delusi kadang kala hlusinasi
atau religiositas berlebih. Pasien sering
bersikap kasar dan agresif.
Tipe tidak tergolongkan perilaku disorganisasi dengan delusi dan
halusinasi yang menonjol.
Tipe Residual pasien dengan tanda skizofren, sesudah
suatu episod skizofren yang tidak lagi psikotik
89. Gangguan Neurotik

Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala


obsesif atau tindakan kompulsif, atau kedua-
duanya, harus ada hampir setiap hari selama
sedikitnya 2 minggu berturut-turut.

Merupakan sumber penderitaan atau


mengganggu aktivitas penderita
Gejala-gejala obsesif : Predominan Tindakan Kompulsif
1. Harus disadari sebagai (Obsessional Rituals)
pikiran atau impuls diri Tindakan kompulsif umumnya
sendiri; berkaitan dengan : kebersihan
2. Sedikitnya ada 1 (mencuci tangan), memeriksa
pikiran/tindakan yang
berulang untuk meyakinkan
tidak berhasil dilawan;
bahwa suatu situasi yang
3. Pikiran untuk melakukan
tindakan tsb bukan hal dianggap berpotensi bahaya
yang memberi kepuasan tidak terjadi, atau masalah
atau kesenangan kerapian & keteraturan.
4. Gagasan, pikiran, atau
impuls tsb harus
merupakan pengulangan Dilatarbelakangi perasaan
yang tidak menyenangkan takut terhadap bahaya yang
mengancam dirinya atau
bersumber dari dirinya
Pathophysiology OCD
Neurobiologic
Serotonin
inhibitory neurotransmitter emotion and
mood
Functions
regulation of mood
appetite, sleep
muscle contraction
some cognitive functions memory
and learning
Dopamine
inhibitory neurotransmitter that blocks
the functioning of neurons
functions
important roles in behavior and
cognition
Motivation
punishment and reward
sexual gratification, sleep
Neurotransmitter utama dalam mood, attention
working memory, and learning
tubuh dan fungsinya
Neurotransmitter yang berperan dalam OCD:
Serotoninaktivitas berkurang (Neurotransmitter utama yang berperan dalam OCD)
Dopaminaktivitas meningkat
Glutamatdipikirkan ikut berperan dalam proses OCD, terjadi peningkatan kadar
glutamat pada pasien OCD
http://www.cnsforum.com/educationalresources/imagebank/brain_struc_anxiety/neuro_biol_ocd_2
Terapi OCD:
Terapi dengan SSRI
menunjukkan
perbaikan dari
gejala OCD
Diperkirakan
neurotransitter
yang berperan
utama dalam OCD
adalah serotonin
Ansietas
Diagnosis Characteristic
Gangguan panik Serangan ansietas yang intens & akut disertai dengan
perasaan akan datangnya kejadian menakutkan.
Tanda utama: serangan panik yang tidak diduga tanpa
adanya provokasi dari stimulus apapun & ada keadaan yang
relatif bebas dari gejala di antara serangan panik.
Gangguan fobik Rasa takut yang kuat dan persisten terhadap suatu objek atau
situasi, antara lain: hewan, bencana, ketinggian, penyakit,
cedera, dan kematian.
Gangguan Gejala emosional (ansietas/afek depresif ) atau perilaku
penyesuaian dalam waktu <3 bulan dari awitan stresor. Tidak
berhubungan dengan duka cita akibat kematian orang lain.
Gangguan cemas Ansietas berlebih terus menerus disertai ketegangan motorik
menyeluruh (gemetar, sulit berdiam diri, dan sakit kepala), hiperaktivitas
otonomik (sesak napas, berkeringat, palpitasi, & gangguan
gastrointestinal), kewaspadaan mental (iritabilita).
Gangguan Fobik
Diagnosis Karakteristik
Fobia Khas Rasa takut yang kuat dan persisten terhadap suatu objek atau
situasi, antara lain: hewan, bencana, ketinggian, penyakit, cedera,
dan kematian.
Fobia sosial Rasa takut yang berlebihan akan dipermalukan atau melakukan
hal yang memalukan pada berbagai situasi sosial, seperti bicara
di depan umum, berkemih di toilet umum, atau makan di
tempat umum.
Agorafobia Kecemasan timbul di tempat atau situasi di mana menyelamatkan
diri sulit dilakukan atau tidak tersedia pertolongan pada saat
terjadi serangan panik. Situasi tersebut mencakup berada di luar
rumah seorang diri, di keramaian, atau bepergian dengan bus,
kereta, atau mobil.

PPDGJ
ILMU PENYAKIT KULIT DAN
KELAMIN
90. Erisipelas
Defenisi : Penyakit infeksi akut,
biasanya oleh
streptococcus
Etiologi : Streptococcus -
hemoliticus
Epidemiologi :Banyak pada anak-
anak & dewasa
Pria = wanita
Lokalisasi : Biasanya di tungkai
bawah
Gejala klinis : Gejala konstitusi (-);
Didahului trauma. Kelainan kulit
utama: eritema (merah cerah),
batas tegas & pinggirnya meninggi,
tanda-tanda radang akut (+), KGB
(+)
Faktor yang mempengaruhi :
Kebersihan / higiene
Predisposisi : DM, ISPA, Gizi kurang
Differensial Diagnosis :
Selulitis : Dijumpai infiltrat subkutan

Penatalaksanaan :
Istirahat, tungkai bawah & kaki yg
diserang ditinggikan ( elevasi )
Antibiotika : penisilin 0,6 1,5 juta IU
selama 5 -10 hari atau sefalosporin 4
x 400 mg selama 5 hari
kompres terbuka dgn antiseptik
91. Impetigo
Impetigo Krustosa Impetigo bulosa
Penyebab: streptococcus B Penyebab: Staphylococcus
hemolyticus aureus
Tempat predileksi di muka, Tempat predileksi di ketiak,
sekitar hidung dan mulut. dada, punggung.
Gejala Klinis: eritema dan Gejala klinis: eritema, bula,
vesikel yang cepat dan bula hipopion.
memecah, krusta tebal Pengobatan: vesikel baru
kekuningan seperti madu bisa dipecahkan lalu
Pengobatan: krusta diberikan salep antibiotik
dilepaskan dan diberi salep atau cairan antiseptik.
antibiotik

Buku ajar ilmu penyakit kulit dan kelamin FKUI edisi kelima
92. Pengobatan MH pada Anak
Pausibasilar Multibasilar
Lesi kulit 1-5 lesi >5 lesi
(makula datar, papul Hipopigmentasi/eritema Distribusi lebih simetris
meninggi, nodus) Distribusi tidak simetris Hilangnya sensasi kurang
Hilangnya sensasi yang jelas
jelas
Kerusakan saraf Hanya satu cabang saraf Banyak cabang saraf
(menyebabkan hilangnya
sensasi/kelemahan otot
yang dipersarafi)
Kriteria Diagnosis Lepra:
Lesi hipopigmentasi dengan gangguan sensibilitas
Penebalan saraf
BTA (+)
Pemeriksaan
Bakterioskopik: Ziehl-Neelsen
Histopatologik: sel datia Langhans, atau sel Virchow
Serologik: MLPA, ELISA, ML dipstick
93. Reaksi Kusta
Episode akut dari penyakit kusta dengan gejala konstitusi, aktivasi dan
atau timbul efloresensi baru di kulit
Reaksi Reversal Eritema Nodosum Leprosum
Umumnya pada lepra tipe BT, BB Terjadi pada tipe BL atau LL
dan BL. Imunitas humoral lebih berperan
Imunitas selular lebih berperan Gejala konstitusional berupa
Gejala konstitusi lebih ringan demam, menggigil, mual, nyeri
dibandingkan ENL sendi, sakit pada saraf dan otot.
Lesi lepra menjadi lebih banyak Timbul eritema, nodus pecah
dan aktif secara mendadak menjadi ulkus
Tidak terdapat nodus dan Predileksi di lengan, tungkai dan
terkadang ada jejak neuritis dinding perut
Terapi : Terapi :
Neuritis : kortikosteroid prednison Prednison 20 40 mg/hari dalam 4
30 60 mg/hari dosis
Teruskan obat kusta, ditambahkan Klofazimin 300 mg/hari
analgetik dan antipiretik bila perlu Obat kusta tetap diteruskan
94. Ulkus Mole
Suatu penyakit kelamin yang disebabkan oleh H.ducreyi ,
memberikan gambaran berupa ulkus yang nyeri di
kemaluan
Manifestasi Klinis
Inkubasi 3- 5 hari, timbul papul ulkus dangkal, tepi merah,
dasar kotor dan mudah berdarah. Nyeri saat penekanan,
indurasi (-)
Lokasi :
Pria : prepusium, frenulum, korpus penis dan skrotum
Wanita : klitoris, labia, anus dan perineum
Efloresensi
Ulkus berbentuk cawan, tepi tidak rata, dinding menggaung dan
eritema di sekitarnya
Terapi :
1 g azithromycin, single
dose oral
ceftriaxone 250 mg IM,
single dose
ciprofloxacin 2 x 500 mg
oral 3 hari
Erythromycin 3 x 500 mg
oral 7 hari
95. Hidradenitis Supurativa
Suatu Infeksi kelenjar apokrine oleh bakteri
Staphylococcus aureus
Lokalisasi : Ketiak, perineum & tempat-tempat
yg banyak kelenjar apokrine
Gejala klinis :
Sering didahului trauma/mikrotrauma (banyak
keringat, pemakaian deodoran, rambut ketiak
digunting); Demam & malaise (+)
Ruam: nodus dgn tanda radang melunak
abses pecah fistel. Bila menahun: dpt
terbentuk abses, fistel & sinus yg multipel
Terdapat leukositosis
Predisposisi :
Obesitas
Akne
96. Akne Vulgaris
Penyakit peradangan kronik folikel pilosebasea
Faktor: perubahan pola keratinisasi dalam folikel,
produksi sebum , terbentuknya fraksi asam lemak
bebas, peningkatan jumlah flora folikel
(Propionibacterium acnes), pembentukan circulating
antibodies, peningkatan kadar hormon androgen, stres
psikis, faktor lain (usia, ras, familial, makanan, cuaca)
Gejala klinis:
Predileksi: muka, bahu, dada atas, punggung atas
Erupsi kulit polimorfi:
Tak beradang: komedo, papula tidak beradang
Beradang: pustula, nodus, kista beradang

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Patogenesis Akne Vulgaris
Derajat Acne
Ringan Sedang Berat
5 10 lesi, tak meradang > 10 lesi tak meradang pada
pada 1 predileksi 1 predileksi
< 5 lesi tak meradang pada 5 10 lesi tak meradang > 10 lesi tak meradang pada
beberapa tempat predileksi pada lebih dari 1 predileksi lebih dari 1 predilksi
< 5 lesi meradang pada 1 5 10 lesi meradang pada 1 Lebih dari 10 lesi meradang
predileksi predileksi pada 1 atau lebih predileksi
< 5 lesi meradang pada lebih
dari 1 predileksi

Tak meradangkomedo
putih,lomedo hitam,papul
Meradangpustul,nodus,kista
Akne vulgaris
Pengobatan
Topikal:
Iritan: sulfur, asam salisilat, peroksida benzoil, asam retinoat
Antibiotik: oksitetrasiklin, eritromisin
Antiinflamasi: hidrokortison, triamsinolon intralesi
Sistemik
Antibiotik: tetrasiklin, eritromisin, doksisiklin, trimethoprim
Obat hormonal: estrogen, siproteron asetat
Vitamin A
Antiinflamasi
Terapi oral (Sistemik) diberikan pada acne sedang-berat
Kelainan Karakteristik
Erupsi akneiformis Erupsi papulopustula mendadak tanpa ada komedo
hampir di seluruh bagian tubuh. Disebabkan oleh induksi
obat
Akne venenata Akne akibat rangsangan kimia/fisis. Lesi monomorfik,
predileksi di tempat kontak
Akne rosasea (Rosasea) Penyakit radang kronik di daerah muka dengan gejala
eritema, pustula, talangiektasia dan hipertrofi kelenjar
sebasea. Tidak terdapat komedo.
97. Terapi Pityarisis versicolor
Topikal Sistemik
Salep whitfield`s Asam Digunakan pada pasien
benzoat 12%, asam salisilat 6%, dengan lesi yang luas,
tincture iodida 2,5%, tolnaftat
kesulitan untuk
Sodium tiosulfat 25% selama 7
hari, oleskan selama 10 menit lalu menggunakan terapi
cuci topikal, relaps berulang,
Salep klotrimazole, miconazole, atau pilihan pasien untuk
ketoconazole dll terapi oral
Resiko rekurensi setelah Ketoconazole 1 x 200 mg
penggunaan terapi topikal selama 10 hari
4 6 minggu 60-80% Itrakonazol 1 x 200 mg 7
Sebaiknya terapi digunakan hari
selama 6 8 minggu Flukonazole 1 x 300 mg

Gothamy z. Review of Pytiarisis Versicolor. Egyp wor dermato soc vol.1 2004
98. Sindrom Stevens-JohnsonTEN
Sindrom yang mengenai kulit, selaputlendir di orifisium,
dan mata dengan keadaan umum bervariasi dari ringan
sampai berat
Penyebab: alergi obat (>50%), infeksi, vaksinasi, graft vs
host disease, neoplasma, radiasi
Reaksi hipersensitivitas tipe 2
Trias kelainan
Kelainan kulit: eritema, vesikel, bula
Kelainan mukosa orifisium: vesikel/bula/pseudomembran pada
mukosa mulut (100%), genitalia (50%). Berkembang menjadi
krusta kehitaman
Kelainan mata: konjungtivitis
Komplikasi: bronkopneumonia, gangguan elektrolit, syok
Pengobatan: KS sistemik-oral, antibiotik, suportif

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
TEN Definitions
SJS/TEN:
Lesions: Small blisters on dusky purpuric macules or atypical
targets
Mucosal involvement common
Prodrome of fever and malaise common
Stevens-Johnson Syndrome:
Rare areas of confluence.
Detachment </= 10% BSA
Toxic Epidermal Necrolysis:
Confluent erythema is common.
Outer layer of epidermis separates easily from basal layer with
lateral pressure.
Large sheet of necrotic epidermis often present.
>30% BSA involved.
Presentation of TEN
Demam (sering kali >39) dan flu-like illness 1-3 hari
sebelum lesi mukokutaneus muncul
Eritema yang berkonfluensi
Facial edema or central facial involvement
Lesi terasa nyeri
Palpable Purpura
Nekrosis kulit, dan blisters and/or epidermal detachment
Krusta/erosis pada membran mukosa, sore throat
Gangguan penglihatankarena ada keterlibatan mata
Rash muncul 1-3 minggu setelah exposure, atau
beberapa hari pada 2nd exposure
Eritema multiforme Nekrolisis epidermal toksik
Erupsi mendadak dan rekuren Bentuk parah SSJ
pada kulit dan kadang-kadang
pada mukosa dengan gambaran Gejala:
bermacam-macam spektrum Mirip SSJ namun lebih berat
Penyebab pasti belum diketahui Hampir seluruh tubuh
Gejala:
Tipe makula-eritema
Epidermolisis: tanda Nikolsky
Mendadak, simetrik, predileksi di (+)
punggung tangan, telapak tangan,
ekstensor ekstremitas, mukosa. Obat:
Gejala khas: bentuk iris
KS sistemik dosis tinggi
Tipe vesikobulosa
Makula, papula, urtika yang Sulfadiazin perak topikal
kemudian timbul lesi vesikobulosa (sama seperti luka bakar)
di tengah
Obat: simtomatik, KS oral Suportif
99. Pitiriasis Rosea
Dermatitis eritroskuamosa yang disebabkan
oleh infeksi virus (self-limiting disease)
Bentuk klinis:
Dimulai dengan lesi inisial berbentuk eritema
berskuama halus dengan kolaret (herald patch)
Disusul dengan lesi yang lebih kecil di badan, paha
dan lengan atas, tersusun sesuai lipatan kulit
(inverted christmas tree appearance)
Pengobatan: simtomatik

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Treatment
Bagian yang terpnting saat mengobati pasien
dengan pityriasis rosea adalah reassurance
bahwa rash akan menghilang
Mengurangi pruritus akan membantu
Penggunaan topical steroids, oral antihistamines,
topical menthol-phenol lotions, dan oatmeal baths.
Steroids sistemik tidak direkomendasikan
Akan menekan rasa gatal, tapi tidak dapat
memperpendek durasi penyakit, justru akan
memperlama dan mengeksaserbasi penyakitnya
Ultraviolet B (UV-B) light therapy
starting at 80% of the minimum erythrogenic dose, may rapidly
relieve pruritus in resistant cases
Bila rasa gatal masih belum terkontrol, dosis dapat ditingkat
sampai 20% samapai gejala berkurang.
Namun, penelitian terkini, gagal membuktikan berkurangnya
pruritus pada penggunaan UV-B Light therapy, tapi terdapat
bukti adanya penurunan derajat keparahan dari lesi.
Harus dipertimbangkan timbulnya postinflammatory
pigmentation setelah light therapy.[8, 9]
For vesicular pityriasis rosea, a single case was considerably
improved with 20 mg of dapsone twice a day.
High-dose acyclovir (800 mg qid or 400 mg 5 times a day)
dapat memperpendek durasi penyakit, terutama bila
diberikan pada fase awal penyakit
Further trials are needed to help confirm this finding.

http://emedicine.medscape.com/article/11075
32-treatment
100. Urtikaria
Vascular reaction of the
skin (Anaphylactic)
Marked by the transient
appearance of smooth,
slightly elevated patches
(wheals) that are
erythematous
Severe pruritus
Loratadine
AH-1 : blok reseptor H1 pada otot dan dinding
pembuluh darah, bronchus dan git serta
kapiler dan ujung saraf.
Generasi I : prometazin, klorfeniramin,
difenhidramin, siproheptadin, hidroksizin, dll.
Generasi II : astemizol, terfenadin, loratadin,
setirizin, dll.
Generasi II sukar mencapai SSP sehingga
bersifat non sedatif.
101. Infeksi Enterobius Vermicularis
(Oxyuris vermicularis, Cacing Kremi)

Penyakit : Enterobiasis, oksiuriasis


Manusia adalah satu-satunya hospes
Parasit kosmopolit, lebih banyak ditemukan
didaerah dingin
Habitat cacing dewasa adalah di rongga
sekum, usus besar, dan di usus halus yang
berdekatan dengan rongga sekum
Cacing betina akan bermigrasi ke daerah
perianal untuk bertelur
Telur berbentuk lonjong dan lebih datar pada
satu sisi (asimetris). Dinding telur bening,
agak lebih tebal dari dinding telur cacing
tambang
Infeksi terjadi bila menelan telur matang atau
bila larva dari telur yang menetas bermigrasi
kembali ke usus besar
Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. FKUI
Daur Hidup ENTEROBIASIS

Wolfram W. Enterobiasis. http://emedicine.medscape.com/article/997814-overview


Gejala Klinis
Pruritus lokal akibat migrasi cacing betina, sering terjadi pada
waktu malam hari hingga mengganggu tidur
Iritasi dan luka garuk disekitar anus, perineum dan vagina
Kurang nafsu makan, berat badan turun, aktivitas meninggi,
enuresis, cepat marah, insomnia
Diagnosis
Menemukan telur dan cacing dewasa. Telur diambil dengan anal
swab yang ditempelkan di sekitar anus pada pagi hari sebelum
cebok
Pemeriksaan dilakukan 3 hari berturut-turut
Pengobatan
Seluruh anggota keluarga sebaiknya diberi pengobatan
Mebendazol, efektif untuk semua stadium perkembangan
enterobius, 100 mg PO, diulang 2 minggu kemudian
Pyrantel Pamoate 10-11 mg/kgBB single dose, diulang 2 minggu
kemudian

Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. FKUI


102. Dermatitis Atopik
DA infantil (2 bulan 2 tahun)
Lesi sering di muka (dahi dan pipi) berupa eritema, papulovesikel, yang
kemudian menjadi eksudat dan krusta akibat digaruk
Lesi juga meluas ke tempat lain seperti skalp, leher, pergelangan
tangan, lengan dan tungkai
DA anak (2 10 tahun)
Merupakan kelanjutan dari bentuk infantil atau de novo
Lesi lebih kering, papul, likenifikasi dengan sedikit skuama
Predileksi: lipat siku, lipat lutut, pergelangan tangan fleksor, kelopak
mata, leher
DA remaja dan dewasa
Lesi sama dengan lesi anak

Terapi: hidrasi kulit, KS topikal, imunomodulator, preparat ter,


antihistamin

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Kriteria mayor:
Pruritus
Dermatitis di muka/ekstensor pada bayi/anak
Dermatitis di fleksura pada dewasa
Dermatitis kronis atau residif
Riwayat atopi pada penderita/keluarga
Kriteria minor:
Xerosis, infeksi kulit, dermatitis nonspesifik, iktiosis, pitiriasis alba,
dermatitis di papila mammae, white dermographism, keilitis, lipatan
infraorbital, konjungtivitis berulang, keratokonus, katarak subskapular
anterior, orbita menjadi gelap, muka pucat/eritem, gatal bila berkeringat,
intolerans terhadap wol/pelarut lemak, aksentuasi perifolikular,
hipersensitif terhadap makanan, dipengaruhi lingkungan/emosi, tes kulit
alergi (+), IgE serum meningkat, awitan usia dini

Diagnosis: 3 mayor + 3 minor


Allergen Testing
Skin prick test
Placing a drop of a solution containing a possible allergen
on the skin, and a series of scratches or needle pricks
allows the solution to enter the skinResult read in 20
minutes
Positive reactionskin develops a red, raised itchy area
(called a wheal)
Antihistamin harus dihentikan selama 1 minggu dan
steroid topikal selama 2 minggu sebelum waktu test
Skin patch test
the allergen solution is placed on a pad that is taped to the
skin for 24 to 72 hours
Untuk mendeteksi dermatitis kontak

http://www.webmd.com/allergies/allergy-tests#hw198353
Treatment

http://www.aafp.org/afp/2007/0215/p523.html
103. Spesimen Luka / Abses
Cara :
Biopsijar. Luka diambil sedikitterbaik
aspirasi(disedot)bisul yg tertutup
swab
Anaerob : biopsi dan aspirasi
Aspirasi untuk :
Abses tertutup
Luka bergaung dengan cairan di dalamnya yang tertutup
debris superfisial
Swab :
Pus diluar dibersihkan terlebih dahulu dengan swab yang
telah dicelupkan dengan NaCl steril, dengan swab baru
buat usapan dari dasar ulkus
Tidak dianjurkan untuk mengambil pus yang berasal
dari drain
luka / abses
BIOPSI DAN ASPIRASI
Aspirasi untuk :
Abses tertutup
Luka bergaung dengan cairan di dalamnya yang tertutup debris
superfisial
luka / abses

SWAB
104. Bacterial Vaginosis
Disebabkan oleh Gardnerella vaginalis
Sebagian besar wanita asymptomatic
Signs/symptoms when present:
Reported malodorous (fishy smelling) vaginal
dischargeduh tubuh ringan-sedang keabuan
berbau tidak enak (amis)
bau lebih busuk setelah bersenggama dan setelah
gatal dan rasa terbakar
kemerahan dan edem pada vulva
Gejala dapat menghilang secara spontan

437
Wet Prep: Bacterial Vaginosis
Saline: 40X objective

NOT a clue cell

Clue cells

Pemeriksaan sediaan basah


sekret: clue cell (epitel vagina
diliputi kokobasil sehingga
batas sel tidak jelas, disebut
clue cell).
Pewarnaan gram ditemukan
batang kecil negatif gram
NOT a clue cell
438
Source: Seattle STD/HIV Prevention Training Center at the University of Washington
BV Diagnosis: Amsel Criteria
Vaginal pH >4.5

Presence of >20% per HPF


of "clue cells" on wet mount
examination
Amsel Criteria:
Positive amine or "whiff"
Setidaknya 3 dari test
tanda berikut ini Homogeneous, non-viscous,
milky-white discharge
adherent to the vaginal
walls
Absence of the normal
vaginal lactobacilli 439
Other Diagnostic Tools

Vaginal Gram stain


(Nugent or Speigel
criteria)
Culture
DNA probe
Newer diagnostic
modalities include:
PIP activity
Sialidase tests

440
Tatalaksana
Sebagian infeksi BV dapat sembuh secara spontan,
sebagian yang lain membutuhkan pengobatan
Pengobatan dibutuhkan pada pasien wanita
asimptomatik dengan:
Kehamilan
Persalinan Risiko Infeksi asenden ke
uterus
Operasi ginekologi
Infeksi rekuren
Metronidazole
Oralmenurunkan pregnancy-associated morbidity
Vagina Ovuladigunakan pada pasien yang tidak dapat
mentoleransi efek samping metronidazol oral dan sedang
menyusui
Pengobatan terhadap pasangan tidak diperlukan
ILMU KESEHATAN ANAK
105.HISTOPATOLOGI PENYAKIT
GLOMERULAR
The glomerular basement membrane (GBM) of the kidney is the basal lamina
layer of the glomerulus.
The GBM is a fusion of the endothelial cell and podocyte basal laminas

GLOMERULUS
NORMAL
Glomerulus normal di bawah mikroskop
cahaya
Contoh Glomerulonefritis berdasarkan
Morfologi:
Minimal change nephrotic syndrome (MCNS)
Rapidly progressive glomerulonephritis
(RPGN)
Focal segmental glomerulosclerosis (FSGS)
Membranous GN
Mesangial Proliferative GN
Membranoproliferative glomerulonephritis
Minimal-Change Glomerulonephritis
Nama lain Nil Lesions/Nil Disease (lipoid
nephrosis)
Minimal change nephrotic syndrome (MCNS)
merupakan penyebab tersering dari sindrom
nefrotik pada anak, mencakup 90% kasus di
bawah 10 tahun dan >50% pd anak yg lbh tua.

Nephrology (Carlton). 2007 Dec;12 Suppl 3:S11-4.


Pathophysiology of minimal change nephrotic syndrome and focal segmental glomerulosclerosis.
Cho MH, Hong EH, Lee TH, Ko CW.http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17995521
Minimal-change disease (MCD)/lipoid nephrosis/nil disease, hampir selalu
beruhubungan dengan sindrom nefrotik. Hampir tidak ditemukan perubahan pada
membran maupun sel mesangial
Glomerulonephritis, crescentic (RPGN). Compression of the glomerular tuft with a circumferential
cellular crescent that occupies most of the Bowman space. Rapidly progressive
glomerulonephritis (RPGN) is defined as any glomerular disease characterized by extensive
crescents (usually >50%) as the principal histologic finding and by a rapid loss of renal function
(usually a 50% decline in the glomerular filtration rate [GFR] within 3 mo) as the clinical
correlate.
Image courtesy of Madeleine Moussa, MD, FRCPC, Department of Pathology, London Health Sciences Centre, London, Ontario, Canada.
This is focal segmental glomerulosclerosis (FSGS). An area of
collagenous sclerosis runs across the middle of this glomerulus. As the
name implies, only some (focal) glomeruli are affected and just part of
the affected glomerulus is involved (segmental) with the sclerosis. In
contrast to minimal change disease, patients with FSGS are more likely
to have non-selective proteinuria, hematuria, progression to chronic
renal failure, and poor response to corticosteroid therapy
Here is the light microscopic appearance of membranous nephropathy in which the
capillary loops are thickened and prominent, but the cellularity is not increased.
Membranous GN is the most common cause for nephrotic syndrome in adults. In most
cases there is no underlying condition present (idiopathic). However, some cases of
membranous GN can be linked to a chronic infectious disease such as hepatitis B, a
carcinoma, or SLE.
Mesangial Proliferative GN
Mesangioproliferative pattern of glomerular
injury is characterized by the expansion of
mesangial matrix and the mesangial
hypercellularity.
Contoh: immune disease such as IgA
nephropathy or class II lupus nephritis or non-
immune diseases such as early diabetic
glomerulosclerosis
Membranoproliferative
glomerulonephritis (MPGN)
Membranoproliferative glomerulonephritis (MPGN) is
an uncommon cause of chronic nephritis that occurs
primarily in children and young adults.
This entity refers to a pattern of glomerular injury
based on characteristic histopathologic findings,
including:
(1) proliferation of mesangial and endothelial cells and
expansion of the mesangial matrix
(2) thickening of the peripheral capillary walls by
subendothelial immune deposits and/or intramembranous
dense deposits
(3) mesangial interposition into the capillary wall, giving
rise to a double-contour or tram-track appearance on
light microscopy
Membranoproliferative
glomerulonephritis (MPGN)
type I. Glomerulus with
mesangial interposition
producing a double contouring
of basement membranes,
which, in areas, appear to
surround subendothelial
deposits (Jones silver
methenaminestained section;
original magnification 400).
Courtesy of John A. Minielly,
MD.
Chronic GN. A Masson trichrome preparation shows complete replacement of virtually all glomeruli by blue-
staining collagen. (Courtesy of Dr. M. A. Venkatachalam, Department of Pathology, University of Texas Health
Sciences Center, San Antonio, Texas.)
106. Pertusis
Batuk rejan (pertusis) adalah penyakit akibat
infeksi Bordetella pertussis dan Bordetella
parapertussis (basil gram -)
Karakteristik : uncontrollable, violent coughing
which often makes it hard to breathe. After fits of
many coughs needs to take deep breathes which
result in a "whooping" sound.
Anak yang menderita pertusis bersifat infeksius
selama 2 minggu sampai 3 bulan setelah
terjadinya penyakit
Pertusis
Stadium:
Stadium katarrhal: hidung tersumbat, rinorrhea,
demam subfebris. Sulit dibedakan dari infeksi
biasa. Penularan terjadi dalam stadium ini.
Stadium paroksismal: batuk paroksismal yang
lama, bisa diikuti dengan whooping atau stadium
apnea. Bisa disertai muntah.
Stadium konvalesens: batuk kronik hingga
beberapa minggu
Guinto-Ocampo H. Pediatric pertussis. http://emedicine.medscape.com/article/967268-
overview
Diagnosis dan Tatalaksana Pertusis
Diagnosis :
Curiga pertusis jika anak batuk berat lebih dari 2 minggu, terutama jika
penyakit diketahui terjadi lokal.
Tanda diagnostik : Batuk paroksismal diikuti whoop saat inspirasi
disertai muntah, perdarahan subkonjungtiva, riwayat imunisasi (-),
bayi muda dapat mengalami henti napas sementara/sianosis
Penatalaksanaan :
Kasus ringan pada anak-anak umur 6 bulan dilakukan secara rawat
jalan
< 6 bulan, dengan pneumonia, kejang, dehidrasi, gizi buruk, henti
napas, atau sianosis dirawat di RS
Komplikasi : Pneumonia, Kejang, Gizi kurang, Perdarahan dan Hernia
Beri imunisasi DPT pada pasien pertusis dan setiap anak dalam keluarga

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO. 2008


Antibiotik dalam Penatalaksanaan Pertusis

Beri eritromisin oral (12.5 mg/kgBB/kali, 4 kali


sehari) selama 10 hari atau makrolid lainnya
Jika terdapat demam atau eritromisin tidak tersedia,
berikan kloramfenikol oral (25 mg/kg/kali, 3 kali
sehari) selama 5 hari sebagai penatalaksanaan
terhadap kemungkinan pneumonia sekunder
Tanda pneumonia sekunder : pernapasan cepat diantara
episode batuk, demam, dan gejala distres pernapasan
dengan onset akut
Jika kloramfenikol tidak tersedia, berikan
kotrimoksazol
Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO. 2008
107. Croup
Croup (laringotrakeobronkitis
viral) adalah infeksi virus di
saluran nafas atas yang
menyebabkan penyumbatan
Merupakan penyebab stridor
tersering pada anak
Gejala: batuk menggonggong
(barking cough), stridor,
demam, suara serak, nafas
cepat disertai tarikan dinding
dada bagian bawah ke dalam
Steeple sign
Pemeriksaan
Croup is primarily a clinical diagnosis
Laboratory test results rarely contribute to confirming this
diagnosis. The complete blood cell (CBC) count may suggest a viral
cause with lymphocytosis
Radiography : verify a presumptive diagnosis or exclude other
disorders causing stridor.
The anteroposterior (AP) radiograph of the soft tissues of the neck
classically reveals a steeple sign (also known as a pencil-point sign),
which signifies subglottic narrowing
Lateral neck view may reveal a distended hypopharynx (ballooning)
during inspiration
Laryngoscopy is indicated only in unusual circumstances (eg, the
course of illness is not typical, the child has symptoms that suggest
an underlying anatomic or congenital disorder)
Klasifikasi dan Penatalaksanaan
Ringan Berat
Gejala: Gejala:
Demam Stridor saat istirahat
Takipnea
Suara serak
Retraksi dinding dada bagian
Batuk menggonggong bawah
Stridor bila anak gelisah Terapi:
Terapi: Steroid (dexamethasone) dosis
tunggal (0,6 mg/kg IM/PO)
Rawat jalan dapat diulang dalam 6-24 jam
Pemberian cairan oral, Epinefrin 1:1000 2 mL dalam 2-
ASI/makanan yang sesuai 3 mL NS, nebulisasi selama 20
Simtomatik menit

WHO. Buku saku pelayanan kesehatan anak di rumah sakit. WHO; 2008.
Tekanan di dalam Jantung

108. Congenital Heart


Disease

Congenital HD

Acyanotic Cyanotic

With volume With With


load: With pressure pulmonary blood pulmonary blood
load: flow: flow:
- ASD
- Valve stenosis - ToF - Transposition of
- VSD - Coarctation of - Atresia the great vessels
- PDA aorta pulmonal - Truncus
- Valve - Atresia tricuspid arteriosus
regurgitation

1. Nelsons textbook of pediatrics. 18th ed.


2. Pathophysiology of heart disease. 5t ed.
Penyakit jantung kongenital
Asianotik: L-R shunt
ASD: fixed splitting S2,
murmur ejeksi sistolik
VSD: murmur pansistolik
PDA: continuous murmur
Sianotik: R-L shunt
TOF: AS, VSD, overriding
aorta, RVH. Boot like heart
pada radiografi
TGA

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0002103/
Ventricular Septal Defect
VSD:
Pathophysiology & Clinical Findings
Pansystolic murmur & thrill
Flow across VSD
over left lower sternum.

If defect is large 3rd heart sound


Over flow across mitral valve
& mid diastolic rumble at the apex.

ECG: Left ventricular hypertrophy or


biventricular hypertrophy,
LA, LV, RV volume overload peaked/notched P wave
Ro: gross cardiomegaly

Dyspnea, feeding difficulties, poor


High systolic pressure & high growth, profuse perspiration,
flow to the lungs pneumonia, heart failure.
pulmonary hypertension Duskiness during crying or infection
Ph/: increased of 2nd heart sound

1. Nelsons textbook of pediatrics. 18th ed.


VSD:
Pathophysiology & Clinical Findings
cardiomegaly with
prominence of
both ventricles,
the left atrium, &
the pulmonary artery.
pulmonary vascular
marking

1. Nelsons textbook of pediatrics. 18th ed.


109. Acquired Prothrombine Complex Deficiency
(APCD) dengan Perdarahan Intrakranial
Sebelumnya disebut sebagai Hemorrhagic Disease of
the Newborn (HDN) atau Vitamin K Deficiency Bleeding
Etiologinya adalah defisiensi vitamin K yang dialami
oleh bayi karena : (1) Rendahnya kadar vitamin K dalam
plasma dan cadangan di hati, (2) Rendahnya kadar
vitamin K dalam ASI, (3) Tidak mendapat injeksi vitamin
K1 pada saat baru lahir
Mulai terjadi 8 hari-6 bulan, insidensi tertinggi 3-8
minggu
80-90% bermanifestasi menjadi perdarahan
intrakranial

Pedoman Pelayanan Medis IDAI 2010


Hemorrhagic disease of newborn (HDN)
Acquired prothrombrin complex deficiency (APCD)
Stadium Characteristic
Early HDN Occurs within 2 days and not more than 5 days of life. Baby
born of mother who has been on certain drugs: anticonvulsant,
antituberculous drug, antibiotics, VK antagonist anticoagulant.
Classic HDN Occurs during 2 to 7 day of life when the prothrombin complex
is low. It was found in babies who do not received VKP or
VK supplemented.
Vit K deficiency Occurs within 2 days and not more than 5 days of life. Definite
etiology inducing VKP is found in association with bleeding:
malabsorption of VK ie gut resection, biliary atresia, severe liver
disease-induced intrahepatic biliary obstruction.
Late HDN / APCD Acquired bleeding disorder in the 2 week to 6 month age infant
caused by reduced vitamin K dependent clotting factor (II, VII,
IX, X) with a high incidence of intracranial hemorrhage and
responds to VK.
Diagnosis APCD
Diagnosis
Anamnesis : Bayi kecil yang sebelumnya sehat, tiba-tiba
tampak pucat, malas minum, lemah. Tidak mendapat
vitamin K saat lahir, konsumsi ASI, kejang fokal
PF : Pucat tanpa perdarahan yang nyata. Tanda
peningkatan tekanan intrakranial (UUB membonjol,
penurunan kesadaran, papil edema), defisit neurologis
fokal
Pemeriksaan Penunjang : Anemia dengan trombosit
normal, PT memanjang, APTT normal/memanjang. USG/CT
Scan kepala : perdarahan intrakranial
Pada bayi dengan kejang fokal, pucat, disertai UUB
membonjol harus difikirkan APCD sampai terbukti bukan

Buku PPM Anak IDAI


Tatalaksana APCD
Pada bayi dengan kejang fokal, pucat, dan UUB membonjol,
berikan tatalaksana APCD sampai terbukti bukan
Vitamin K1 1 mg IM selama 3 hari berturut-turut
Transfusi FFP 10-15 ml/kgBB selama 3 hari berturut-turut
Transfusi PRC sesuai Hb
Tatalaksana kejang dan peningkatan tekanan intrakranial
(Manitol 0,5-1 g/kgBB/kali atau furosemid 1 mg/kgBB/kali)
Konsultasi bedah syaraf
Pencegahan : Injeksi Vitamin KI 1 mg IM pada semua bayi
baru lahir

Buku PPM Anak IDAI


110. HEMOLYTIC ANEMIA: COLD
AGGLUTININ DISEASE
Patofisiologi
Cold Agglutinin Disease (CAD) Biasanya antibodi CAD
merupakan bagian dari anemia yang berupa IgM lebih
hemolitik autoimmun (13-25%
kasus AIHA)
teraktivasi pada
Adanya dekstruksi sel darah
temperatur rendah
merah intra dan ekstravaskular dibandingkan
Biasanya menyerang usia 60-70 temperatur yang hangat
Antibodi cold agglutinin dibuat suhu turun
di sumsum tulang, antibodi teraktivasi
mengaktifkan sistem
komplemen berujung
pada destruksi eritrosit
Klasifikasi CAD
CAD primer
10% idiopatik
90% berkaitan dengan low grade lymphoproliferative bone
marrow disorder
CAD sekunder
Dipicu oleh suatu penyebab
Penyakit infeksi: mycoplasma pneumonia, mumps,
mononucleosis, sifilis,rubella, varicella, HIV, Hep B
Limfoma, CLL
SLE
Menghilang jika penyakit yang mendasarinya membaik
Gejala Pemeriksaan Laboratorium

Demam Darah perifer lengkap


Nyeri abdomen Reticulocyte count
Dispnea Bilirubin
Takikardia Haptoglobin
Lactate Dehydrogenase
Angina
Hemoglobinuria (urinalysis)
Malaise
Direct antiglobulin test
Ikterik (Coombs Test)
Urine cokelat Pemeriksaan sumsum tulang
Splenomegali Foto rontgen (jika ada ke arah
acrocyanosis mycoplasma pneumonia)
111. ITP: Epidemiology
(ITP)/ primary immune Insidens tertinggi usia 2-5
thrombocytopenic purpura/ tahun dan dewasa usia 20-
autoimmune 50 thn.
thrombocytopenic purpura 40% diagnosis ditegakkan
merupakan kelainan pada pasien dibawah 10 th
trombositopenia murni Remisi spontan pada 80%
dengan sumsum tulang yg
kasus dan < 20% dewasa
normal dan tidak ada
penyebab trombositopenia Children Laki-laki dan
itu sendiri perempuan 1:1
ITP akut pd anak sebagian Adults Laki-laki:
besar bersifat ringan dan perempuan (1:3)
self limiting
ITP: Cardinal Features
Trombositopenia <100,000/mm3
Purpura dan perdarahan membran mukosa
Diagnosis of exclusion
2 jenis gambaran klinis
ITP akut
Biasanya didahului oleh infeksi virus dan menghilang dalam 3 bulan.
ITP kronik
Gejala biasanya mudah memar atau perdarahan ringan yang berlangsung
selama 6 bulan
>90% kasus anak merupakan bentuk akut
Most adults have the chronic form
Komplikasi yang paling serius: perdarahan. Perdarahan intrakranial
penyebab kematian akibat ITP yg paling sering (1-2% dr kasus ITP)
ITP
Patofisiologi Tatalaksana
Peningkatan destruksi Perdarahan yang mengancam
nyawa penanganan intensif
platelet di perifer, biasanya Glukokortikoid IV dosis tinggi & IV
pasien memiliki antibodi immunoglobulin (IVIg), dengan
atau tanpa transfusi trombosit
yang spesifik terhadap Transfusi Tc diindikasikan untuk
glikoprotein membran pengontrol perdarahan yg parah
platelet (IgG autoantibodi 6-8 U of platelet concentrate, or 1
U/10 kg
pada permukaanplatelet) 1 U of platelets to increase count
of a 70-kg adult by 5-10,000/mm3
and an 18-kg child by 20,000/mm3
Splenectomi untuk pasien yang
gagal terapi medikamentosa

http://emedicine.medscape.com/article/779545-clinical#a0218
TTP
Thrombotic Gejala dan tanda
Thrombocytopenic Purpura acute or subacute onset
(TTP) merupakan kelainan berkaitan dengan gejala
darah dengan karakteristik neurologis, anemia, dan
adanya trombosis sehingga trombositopenia
terjadi trombositopenia Kelainan neurologis:
Dalam bentuk lengkap, terdiri penurunan kesadaran, kejang,
dari pentad microangiopathic hemiplegia, parestesia,
hemolytic anemia, gangguan visual, afasia.
thrombocytopenic purpura, Mudah lelah akibat anemia
kelainan neurologis, demam,
dan kelainan ginjal. Perdarahan akibat
Etiologi belum diketahui trombositopenia jarang
terjadi; biasanya muncul
Therapy of choice : plasma petekie
exchange with fresh frozen
plasma.
112. Ikterus Neonatorum
Ikterus neonatorum: fisiologis vs non fisiologis.
Ikterus fisiologis:
Awitan terjadi setelah 24 jam
Memuncak dalam 3-5 hari, menurun dalam 7 hari (pada NCB)
Ikterus fisiologis berlebihan ketika bilirubin serum puncak adalah 7-
15 mg/dl pada NCB
Ikterus non fisiologis:
Awitan terjadi sebelum usia 24 jam
Tingkat kenaikan > 0,5 mg/dl/jam
Tingkat cutoff > 15 mg/dl pada NCB
Ikterus bertahan > 8 hari pada NCB, > 14 hari pada NKB
Tanda penyakit lain
Gangguan obstruktif menyebabkan hiperbilirubinemia direk.
Ditandai bilirubin direk > 2 mg/dl. Penyebab: kolestasis, atresia
bilier, kista duktus koledokus.

Indrasanto E. Hiperbilirubinemia pada neonatus.


Kolestatis

Bilirubin Bilirubin Direk Larut air: dibuang lewat ginjal


indirek

OBSTRUKSI

Urin warna
teh

Feses warna
Tidak ada bilirubin direk yg menuju usus
Dempul
Kolestasis (Cholestatic Liver Disease)
Definisi : Keadaan bilirubin direk > 1 mg/dl bila bilirubin total < 5
mg/dl, atau bilirubin direk >20% dari bilirubin total bila kadar
bil.total >5 mg/dl
Kolestasis : Hepatoselular (Sindrom hepatitis neonatal) vs Obstruktif
(Kolestasis ekstrahepatik)
Sign and Symptom : Jaundice, dark urine and pale stools,
nonspecific poor feeding and sleep disturbances, bleeding and
bruising, seizures
Atresia Bilier
Merupakan penyebab kolestasis tersering dan serius pada bayi yang terjadi
pada 1 per 10.000 kelahiran
Ditandai dengan adanya obstruksi total aliran empedu karena destruksi atau
hilangnya sebagian atau seluruh duktus biliaris. Merupakan proses yang
bertahap dengan inflamasi progresif dan obliterasi fibrotik saluran bilier
Etiologi masih belum diketahui
Gambaran klinis: biasanya terjadi pada bayi perempuan, lahir normal,
bertumbuh dengan baik pada awalnya, bayi tidak tampak sakit kecuali sedikit
ikterik. Tinja dempul/akolil terus menerus. Ikterik umumnya terjadi pada usia
3-6 minggu
Laboratorium : Peningkatan SGOT/SGPT ringan-sedang. Peningkatan GGT
(gamma glutamyl transpeptidase) dan fosfatase alkali progresif.
Diagnostik: USG dan Biopsi Hati
Terapi: Prosedur Kasai (Portoenterostomi)
Komplikasi: Progressive liver disease, portal hypertension, sepsis

Diagnosis dan Tatalaksana Penyakit Anak dengan Gejala Kuning. Dept IKA RSCM. 2007
113. Infeksi Saluran Kemih
UTI pada anak perempuan 3-5%, laki-laki 1% (terutama yang
tidak disirkumsisi)
Banyak disebabkan oleh bakteri usus: E. coli (75-90%),
Klebsiella, Proteus. Biasanya terjadi secara ascending.
Gejala dan tanda klinis, tergantung pada usia pasien:
Neonatus: Suhu tidak stabil, irritable, muntah dan diare, napas tidak
teratur, ikterus, urin berbau menyengat, gejala sepsis
Bayi dan anak kecil: Demam, rewel, nafsu makan berkurang, gangguan
pertumbuhan, diare dan muntah, kelainan genitalia, urin berbau
menyengat
Anak besar: Demam, nyeri pinggang atau perut bagian bawah,
mengedan waktu berkemih, disuria, enuresis, kelainan genitalia, urin
berbau menyengat
Fisher DJ. Pediatric urinary tract infection. http://emedicine.medscape.com/article/969643-overview
American Academic of Pediatrics. Urinary tract infection: clinical practice guideline for the diagnosis and
management of the initial UTI in febrile infants and children 2 to 24 months. Pediatrics 2011; 128(3).
Infeksi Saluran Kemih
3 bentuk gejala UTI:
Pyelonefritis: nyeri abdomen, demam, malaise, mual, muntah, kadang-
kadang diare
Sistitis: disuria, urgency, frequency, nyeri suprapubik, inkontinensia,
urin berbau
Bakteriuria asimtomatik: kultur urin (+) tetapi tidak disertai gejala
Pemeriksaan Penunjang :
Urinalisis : Proteinuria, leukosituria (>5/LPB), Hematuria
(Eritrosit>5/LPB)
Biakan urin dan uji sensitivitas
Kreatinin dan Ureum
Pencitraan ginjal dan saluran kemih untuk mencari kelainan anatomis
maupun fungsional
Diagnosa pasti : Bakteriuria bermakna pada biakan urin (>10 5 koloni
kuman per mm2)
Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO.
Risk Factor
In girls, UTIs often occur at the onset
of toilet training. The child is trying
to retain urine to stay dry, yet the
bladder may have uninhibited
contractions forcing urine out. The
result may be high-pressure,
turbulent urine flow or incomplete
bladder emptying, both of which
increase the likelihood of bacteriuria.
Constipation can increase the risk of
UTI because it may cause voiding
dysfunction
Babies who soil to diaper can also
sometimes get small particles
of stool into their urethra
Tatalaksana
Tujuan : Memberantas kuman penyebab, mencegah dan menangani komplikasi dini, mencari
kelainan yang mendasari
Umum (Suportif)
Masukan cairan yang cukup
Edukasi untuk tidak menahan berkemih
Menjaga kebersihan daerah perineum dan periurethra
Hindari konstipasi
Khusus
Sebelum ada hasil biakan urin dan uji kepekaan, antibiotik diberikan secara empirik
selama 7-10 hari
Obat rawat jalan : kotrimoksazol oral 24 mg/kgBB setiap 12 jam, alternatif ampisilin,
amoksisilin, kecuali jika :
Terdapat demam tinggi dan gangguan sistemik
Terdapat tanda pyelonefritis (nyeri pinggang/bengkak)
Pada bayi muda
Jika respon klinis kurang baik, atau kondisi anak memburuk berikan gentamisin (7.5
mg/kg IV sekali sehari) + ampisilin (50 mg/kg IV setiap 6 jam) atau sefalosporin gen-3
parenteral
Antibiotik profilaksis diberikan pada ISK simpleks berulang, pielonefritis akut, ISK pada
neonatus, atau ISK kompleks (disertai kelainan anatomis atau fungsional)
Pertimbangkan komplikasi pielonefritis atau sepsis
114. Glomerulonefritis akut (Sindrom
Nefritik Akut)
Glomerulonefritis akut ditandai dengan edema, hematuria,
hipertensi dan penurunan fungsi ginjal (sindrom nefritik) di mana
terjadi inflamasi pada glomerulus
Acute poststreptococcal glomerulonephritis is the archetype of
acute GN
GNA pasca streptokokus terjadi setelah infeksi GABHS nefritogenik
deposit kompleks imun di glomerulus
Diagnosis
Anamnesis: Riwayat ISPA atau infeksi kulit 1-2 minggu sebelumnya,
hematuri nyata, kejang atau penurunan kesadaran, oliguri/anuri
PF: Edema di kedua kelopak mata dan tungkai, hipertensi, lesi bekas
infeksi, gejala hipervolemia seperti gagal jantung atau edema paru
Penunjang: Fungsi ginjal, komplemen C3, urinalisis, ASTO
Terapi: Antibiotik (penisilin, eritromisin), antihipertensi, diuretik

Geetha D. Poststreptococcal glomerulonephritis.


http://emedicine.medscape.com/article/240337-overview
Sindrom Nefritik Akut
Pemeriksaan Penunjang
Urinalisis
Proteinuria, hematuria, dan adanya silinder eritrosit
Peningkatan ureum dan kreatinin
ASTO meningkat (ASTO: the antibody made
against streptolysin O, an immunogenic, oxygen-
labile hemolytic toxin produced by most strains of
group A)
Komplemen C3 menurun pada minggu pertama
Hiperkalemia, asidosis metabolik,
hiperfosfatemia, dan hipokalsemia pada
komplikasi gagal ginjal akut
Penatalaksanaan
The major goal is to control edema and blood pressure
During the acute phase of the disease, restrict salt and water. If significant edema
or hypertension develops, administer diuretics.
Loop diuretics (Furosemide 1 mg/kg/kali, 2-3 kali per hari)
For hypertension not controlled by diuretics, usually calcium channel blockers or angiotensin-
converting enzyme inhibitors are useful
Restricting physical activity is appropriate in the first few days of the illness but is
unnecessary once the patient feels well
Specific therapy:
Treat patients, family members, and any close personal contacts who are infected.
Throat cultures should be performed on all these individuals. Treat with oral penicillin G (250 mg qid
for 7-10 d) or with erythromycin (250 mg qid for 7-10 d) for patients allergic to penicillin
This helps prevent nephritis in carriers and helps prevent the spread of nephritogenic strains to
others
Indications for dialysis include life-threatening hyperkalemia and clinical
manifestations of uremia
Nefrotik vs Nefritik
115. Klasifikasi Asma pada Anak
PARAMETER KLINIS,
ASMA EPISODIK ASMA EPISODIK
KEBUTUHAN OBAT, ASMA PERSISTEN
JARANG SERING
FAAL PARU

Frekuensi serangan < 1x /bulan > 1x /bulan Sering


Hampir sepanjang tahun
Lama serangan < 1 minggu 1 minggu
tidak ada remisi
Diantara serangan Tanpa gejala Sering ada gejala Gejala siang & malam

Tidur dan aktivitas Tidak terganggu Sering terganggu Sangat terganggu

Pemeriksaan fisis
Normal Mungkin terganggu Tidak pernah normal
di luar serangan

Obat pengendali Tidak perlu Perlu, steroid Perlu, steroid

Uji Faal paru PEF/FEV1 <60%


PEF/FEV1 >80% PEF/FEV1 60-80%
(di luar serangan) Variabilitas 20-30%
Variabilitas faal paru
>15% < 30% < 50%
(bila ada serangan)
Derajat Serangan Asma
Alur
Penatalaksanaan
Serangan Asma
116-117. Meningitis & ensefalitis
Meningitis
Meningitis bakterial: E. coli, Streptococcus grup B (bulan
pertama kehidupan); Streptococcus pneumoniae, H. influenzae,
N. meningitidis (anak lebih besar)
Meningitis viral: paling sering pada anak usia < 1 tahun.
Penyebab tersering: enterovirus
Meningitis fungal: pada imunokompromais
Gejala klasik: demam, sakit kepala hebat, tanda rangsang
meningeal (+). Gejala tambahan: iritabel, letargi, muntah,
fotofobia, gejala neurologis fokal, kejang
Ensefalitis: inflamasi pada parenkim otak
Penyebab tersering: ensefalitis viral
Gejala: demam, sakit kepala, defisit neurologis (penurunan
kesadaran, gejala fokal, kejang)
Hom J. Pediatric meningitis and encephalitis.
http://emedicine.medscape.com/article/802760-overview
Meningitis bakterial: Patofisiologi
Pemeriksaan Penunjang
Darah perifer lengkap dan kultur darah
Gula darah dan elektrolit jika terdapat indikasi
Pungsi lumbal untuk menegakkan diagnosis dan menentukan
etiologi
Pada kasus berat sebaiknya ditunda
Kontraindikasi mutlak : Terdapat gejala peningkatan tekanan
intrakranial
Diindikasikan pada suspek meningitis, SAH, dan penyakit SSP yang lain
(eg. GBS)
Protokol pertama pada kasus kejang pada anak usia < 1 tahun
sangat dianjurkan; 12-18 bln dianjurkan; > 18 bln tidak rutin
dilakukan
CT Scan dengan kontras atau MRI pada kasus berat, atau dicurigai
adanya abses otal, hidrosefalus, atau empiema subdural
EEG jika ditemukan perlambatan umum
HAEMOPHILUS MENINGITIS
Haemophilus influenzae is a nonmotile, History: From 60-80% of children
Gram-negative, rod-shaped bacterium who develop Hib meningitis have
(coccobacilli; (0.5-1.5 micrometres). had otitis media or an upper
respiratory illness immediately
before the onset of meningitis
Symptoms
Altered cry
Lethargy
Nausea or vomiting
Fever
Headache
Photophobia
Meningismus
Irritability
Anorexia
Seizures
Haemophilus Meningitis
Treatment: Cefotaxime and ceftriaxone
Antimicrobial therapy
are the initial drugs of choice
for suspected Hib meningitis.
Dexamethasone may help
decrease the inflammatory
Do not use ampicillin
response & prevent hearing
empirically, since as many as
50% of the isolates are
loss.
resistant, usually because of
Increased intracranial plasmid-mediated beta-
pressure (ICP) can be treated lactamase production.
with mannitol.
Meropenem is considered an
Anticonvulsant alternative to cephalosporins;
as an option in patients who
are intolerant of
cephalosporins.

http://emedicine.medscape.com/article/218271-treatment
http://emedicine.medscape.com/article/1164916-medication#2
118. Akses Intraoseus
Akses intraoseus disarankan untuk
anak <6 thn.
Beberapa studi mengatakan jika
akses IO juga aman utk anak yg lbh
besar dan org dewasa
Menurut Emergency Cardiovascular
Care Guidelines (2000), akses IO
direkomendasikan pada semua
pasien anak yang gagal
mendapatkan akses IV setelah
mencoba 2x atau pada kasus syok/
circulatory collapse. Site of injection:
Pada tahun 2005, the American Proximal tibia
Heart Association sternum
merekomendasikan akses IO jika
akses vena tidak bisa didapatkan
dengan cepat.
Spesimen darang yg didapatkan melalui intraosesus
bisa digunakan untuk pemeriksaan lab, seperti
kadar pH, kadar PCO2, dan gol darah, tetapi
mungkin agak berbeda dengan standar hasil darah
vena.
Semua obat-obatan dan produk darah bisa
dimasukkan melalui akses IO
Jika jarum Intraosseous dibiarkan > 72 jam, akan
berisiko infeksi lokal, sehingga akses IO sebaiknya
diangkat segera setelah akses vena didapatkan
secara permanen
Indikasi Kontraindikasi
Sulit mendapatkan akses IV Infection at entry site
Burns Burn at entry site
Obesity
Edema Ipsilateral fracture of the extremity
Seizures Osteogenesis imperfecta
Memerlukan infus dengan kapasitas Osteopenia
volume yang tinggi dan cepat
Hypovolemic shock Osteopetrosis
Burns Previous attempt at the same site
Sebagai akses ke sirkulasi vena sistemik Previous attempt in different
Cardiopulmonary arrest location on same bone
Burns
Blood draws Previous sternotomy (sternum
Local anesthesia insertion)
Medication infusion Sternum fracture or vascular injury
near sternum (sternum insertion)
Unable to locate landmarks
119. Komplikasi Diare
Dehidrasi
Asidosis Metabolik
Hipoglikemia, terutama dengan predisposisi
undernutrition
Gangguan elektrolit
hipo/hipernatremia
Hipokalemia
(NB: Hiperkalemia bisa menstimulasi intestinal
motility menyebabkan watery diarrhea.)
Gangguan gizi
Gangguan sirkulasi (syok)
Hyponatremia
Hypovolemic states, such as hemorrhage or dehydration,
prompt increases in sodium absorption in the proximal
tubule. Increases in vascular volume suppress tubular sodium
reabsorption, resulting in natriuresis and helping to restore
normal vascular volume
Hyponatremia is physiologically significant when it indicates a
state of extracellular hyposmolarity and a tendency for free
water to shift from the vascular space to the intracellular
space.
Cellular edema is well tolerated by most tissues, it is not well
tolerated within the rigid confines of the bony calvarium.
Therefore, clinical manifestations of hyponatremia are related
primarily to cerebral edema
Electrolyte: hyponatremia
Many symptoms of hyponatremia
are associated with the hypotonic
hydration.

The most common symptoms:


Headache
Nausea
Disorientation
Tiredness
Muscle cramps

Johnson JY. Fluids and Electrolytes demystified. 2008


Electrolyte: hyponatremia
Natrium concentration is influenced by the balance of natrium
& water in the body.

Harrisons principles of internal medicine. 18th ed.


Electrolyte: hypernatremia
Hypernatremia can affect
Hypernatremia
brain cells and cause
neurologic damage,
resulting in
Fluid moves out of the cells
Confusion
Paralysis of the
muscles of the lungs
Cell dehydration with shrinkage
Coma
Even death
Dry tissues dry mucous membrane,
loss of turgor, & thirst

Johnson JY. Fluids and Electrolytes demystified. 2008


Electrolyte: hypernatremia

Burtis Ca et al. Tietz textbook of clinical chemistry & molecular


diagnostic. 4th ed.2008
Electrolyte: kalium
K has important role in resting membrane potential & action potentials.

The level of K influences cell depolarization


the movement of the resting potential closer to the threshold more
excitability & hyperpolarization
decreased resting membrane potential to a point far away from the threshold
less excitability.

The most critical aspect of K, it affects:


Cardiac rate, rhythm, and contractility
Muscle tissue function, including skeletal muscle and muscles of the diaphragm,
which are required for breathing
Nerve cells, which affect brain cells and tissue
Regulation of many other body organs (intestinal motility)

Johnson JY. Fluids and Electrolytes demystified. 2008


Electrolyte: kalium

Hypokalemia Hyperkalemia

Disorientation Rapid heart beat


Confusion (fibrillation)
Discomfort of muscles Skin tingling
Muscle weakness Numbness
Ileus paralytic Weakness
Paralysis of the Flaccid paralysis
muscles of the lung,
resulting in death
Johnson JY. Fluids and Electrolytes demystified. 2008
Tatalaksana Hipokalemia
Transient, asymptomatic, or mild hypokalemia may spontaneously resolve
or may be treated with enteral potassium supplements.
Symptomatic or severe hypokalemia should be corrected with a solution of
intravenous potassium.

PPM IDAI
http://emedicine.medscape.com/article/907757-treatment
Electrolye: kalium
Electrolyte: kalium
Summary
HIPER HIPO
Natremia (> 144 mEq/L) Natremia (<136 mEq/L)
Hiperrefleks, mental status Hiporeflexia, mental status
changes (lethargy, stupor, coma changes, seizures
etc), seizures Kalemia (<3.6 mEq/L)
Kalemia (>5.2 mEq/L) Muscle weakness, cramps,
Weakness, flaccid paralysis, tetany, polyuria, polydipsia,
decreased motor strength,
hyperactive tendon reflexes, ileus, orthostatic hypotension
decreased motor strength,
ventricular fibrillation risk Kalsemia (<8.4 mEq/L)
Hypertension, peripheral &
Kalsemia (> 10.2 mEq/L) perioral paresthesia, abdominal
Stones in UT, HTN, constipation, pain & cramps, lethargy,
hyporeflexia, polydipsia, polyuria, Trousseau sign (obstetrics
fatigue, anorexia, nausea hand), Chvostek sign,
generalized seizures, tetany
120. Etiologi
Rotavirus Astrovirus
Penyebab tersering gastroenteritis Winter outbreaks
virus pada anak Affects all ages
Outbreak pada musim gugur-dingin Typical duration 3 days
Puncak insidens: usia 6-24 bulan
Durasi 5-7 hari
Adenovirus
Summer outbreaks
Norovirus (Norwalk Virus) Typicall affects children
Most common cause of Gastroenteritis Typical duration 6-9 days
in adults
Winter outbreaks
Affects all ages
Typical duration 2-5 days
Common outbreaks via Foodborne
Illness in Nursing Home, dormitories,
cruise ships
121. Diare
Diare akut: berlangsung < 1 minggu,
umumnya karena infeksi (umumnya e.c
rotavirus)
Diare akut cair
Diare akut berdarah
Diare berlanjut: diare infeksi yang
berlanjut > 1 minggu
Diare Persisten: Bila diare melanjut tidak
sembuh dan melewati 14 hari atau lebih
Diare kronik: diare karena sebab apapun
yang berlangsung 14 hari atau lebih
Diare Persisten
Intoleransi laktosa
Alergi protein susu sapi
Malabsorpsi nutrien

Bakteri tumbuhlampau
Infeksi persisten
Antibiotic-Associated
Diarrhea
Symptoms of lactose intolerance
include the following:
GI symptoms
Bloating, abdominal discomfort, meteorism, and
flatulence that occur from 1 hour to a few hours after
ingestion of milk or dairy products may signify lactose
intolerance
Stool characteristics: Loose, watery, acidic stool
often with excessive flatus and associated with
urgency that occurs a few hours after the
ingestion of lactose-containing substances is
typical.
Pemeriksaan Intoleransi Laktosa
Stool analysis
Reducing substances in the stool indicate that
carbohydrates are not being absorbed.
Acidic stool is defined by a pH level of less than
5.5. This is an indication of likely carbohydrate
malabsorption, even in the absence of reducing
substances.
Uji Hidrogen Napas Gold Standard
Pemeriksaan yang didasarkan atas adanya
peningkatan kadar hidrogen dalam udara
ekspirasi
Gas hidrogen dalam udara ekspirasi berasal
dari hasil fermentasi bakteri di kolon maupun
di usus halus terhadap substrat yang tidak
tercerna akibat defisiensi laktase baik
122. Food Allergy
Hipersensitivitas terhadap protein di dalam makanan (cth kasein & whey dari
produk sapi)
Mekanisme pertahanan spesifik dan non-spesifik saluran cerna belum sempurna,
antigen masuk lewat saluran cerna hipersensitivitas
The prevalence of food allergies has been estimated to be 5-6% in infants and
children younger than 3 years and 3.7 % in adults
Gejala:
Anafilaktik
Kulit: dermatitis atopik, urtikaria, angioedema
Saluran nafas: asma, rinitis alergi
Saluran cerna: oral allergy syndrome, esofagitis eosinofilik, gastritis eosinofilik, gastroenteritis
eosinofilik, konstipasi kronik, dll.
Pemeriksaan: skin test, IgE serum, eliminasi diet, food challenge
Tata laksana:
Eliminasi makanan yang diduga mengandung alergen
Breastfeeding, ibu ikut eliminasi produk susu sapi dalam dietnya
Susu terhidrolisat sempurna bila susah untuk breastfeeding
Nocerino A. Protein intolerance. http://emedicine.medscape.com/article/931548 -overview
123. TATALAKSANA GIZI BURUK
10 Langkah Utama Penatalaksaan Gizi Buruk
No Tindakan Stabilisasi Transisi Rehabilitasi
Tindaklanjut H 1-2 H 3-7 H 8-14 mg
3-6 mg 7-26
1. Atasi/cegah hipoglikemia

2. Atasi/cegah hipotermia

3. Atasi/cegah dehidrasi

4. Perbaiki gangguan elektrolit

5. Obati infeksi
6. Perbaiki def. nutrien mikro tanpa Fe + Fe

7. Makanan stab & trans

8. Makanan Tumb.kejar
9. Stimulasi

10. Siapkan tindak lanjut


Mikronutrien
Asam folat (5 mg pada hari 1, dan selanjutnya 1 mg/hari)
Seng (2 mg Zn elemental/kgBB/hari)
Tembaga (0.3 mg Cu/kgBB/hari)
Ferosulfat 3 mg/kgBB/hari setelah berat badan naik (mulai fase
rehabilitasi)
Vitamin A diberikan secara oral pada hari ke 1 dengan:

Jika ada gejala defisiensi vitamin A, atau pernah sakit campak dalam 3
bulan terakhir, beri vitamin A dengan dosis sesuai umur pada hari ke 1,
2, dan 15.
124. IMUNISASI
Apa yang baru?

Hartono Gunardi. Jadwal Imunisasi rekomendasi IDAI tahun 2014. Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM
1. Hepatitis B

Jadwal vaksin hepatitis B1 tetap dianjurkan


umur 12 jam.
Diberikan setelah vitamin K1.Penting untuk
mencegah terjadinya perdarahan akibat
defisiensi vitamin K.
HBIg utk bayi dari ibu HBsAg positif, selain
imunisasi hepatitis B, utk cegah infeksi
perinatal yang berisiko tinggi untuk terjadinya
hepatitis B kronik.
Hartono Gunardi. Jadwal Imunisasi rekomendasi IDAI tahun 2014. Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM
2. Polio
Vaksin polio 0 : polio oral (saat lahir atau saat
bayi dipulangkan)
Untuk vaksin polio 1, 2, 3 dan booster : polio
oral (OPV) atau polio inaktivasi (IPV)
Rekomendasi: paling sedikit 1 dosis IPV yang
penting dalam masa transisi dalam menuju
eradikasi polio

Hartono Gunardi. Jadwal Imunisasi rekomendasi IDAI tahun 2014. Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM
3. BCG
BCG dapat diberikan : umur 0 - 3 bulan

Optimal pada umur 2 bulan.


Hartono Gunardi. Jadwal Imunisasi rekomendasi IDAI tahun 2014. Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM
4. DTP
Untuk vaksin Td ditambahkan perlu booster
tiap 10 tahun.

Hartono Gunardi. Jadwal Imunisasi rekomendasi IDAI tahun 2014. Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM
5. Campak

Imunisasi campak pada program nasional


diberikan 2 kali pada umur 9 dan 24 bulan
(Permenkes RI no 42/ 2013 tentang
penyelenggaran imunisasi)
Bila mendapat MMR umur15 bulan, imunisasi
campak umur 24 bulan tidak diperlukan.

Hartono Gunardi. Jadwal Imunisasi rekomendasi IDAI tahun 2014. Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM
125. TB Milier
TB milier terjadi akibat Untuk kasus TB tertentu
penyebaran kuman melalui yaitu TB milier, efusi pleura
hematogen ke organ-organ TB, pericarditis TB, TB
tubuh (dalam hal ini paru- endobronkial, meningitis
paru) TB, dan peritonitis TB,
Pada keadaan TB yang diberikan prednisone
berat, baik pulmonal Dosis prednisone 1-2
maupun ekstrapulmonal (TB mg/kgBB/ hari dibagi 3
milier, TB meningitis, TB dosis selama 2-4 minggu
tulang, dll): dosis penuh dilanjutkan
fase intensif diberikan minimal 4 tapering off dalam jangka
macam jenis obat selama 2 bulan waktu yang sama.
(rifampisin, INH, pirazinamid,
etambutol, atau streptomisin).
Fase lanjutan diberikan
rifampisin dan INH selama 10
bulan.
Tatalaksana TB
Jika menemukan salah satu tanda di bawah
ini, rujuk ke RS
Petunjuk Teknis Manajemen TB Anak. 2013. Depkes.
126. POLA PERTUMBUHAN KMS
PENILAIAN PERTUMBUHAN
Pertumbuhan disebut BAIK : bila BB bulan ini
bertambah dibandingkan BB bulan lalu dan grafik BB di
KMS
a. Tetap pada pita warna yang sama atau
b. Berpindah ke pita warna yang lebih tua
Pertumbuhan TIDAK BAIK : bila BB bulan ini bertambah
tetapi grafik BB berpindah ke pita yang lebih rendah
Pertumbuhan TIDAK BAIK : bila BB bulan ini
dibandingkan dengan BB bulan lalu;
a. Sama nilainya (tetap)
b. Lebih rendah (berkurang)
PENAFSIRAN GRAFIK BB DI KMS
Bila nilai (absolut) BB naik, dan grafik berpindah
ke pita yang lebih atas (N1): anak mengalami
tumbuh kejar, artinya terjadi pembentukan
jaringan baru yang lebih cepat dari pola yang
normal
Bila nilai (absolut) BB naik, dan grafik tetap
berada pada pita yang sama (N2): anak
mengalami tumbuh normal, artinya terjadi
pembentukan jaringan baru sesuai dengan pola
yang normal
PENAFSIRAN GRAFIK BB DI KMS
Bila nilai (absolut) BB naik, tetapi grafik berpindah ke
pita yang lebih bawah (T1): anak mengalami tumbuh
tidak memadai, artinya terjadi pembentukan
jaringan baru yang lebih lambat dari pola yang
normal
Bila nilai BB tetap, sehingga arah grafik mendatar (T2):
anak tidak tumbuh, artinya tidak terjadi
pembentukan jaringan baru
Bila nilai BB berkurang, sehingga arah grafik menurun
(T3): anak mengalami tumbuh negatif, artinya telah
terjadi penyusutan dari jaringan tubuh anak
127. Hipoglikemia pada Neonatus
Hipoglikemia adalah kondisi bayi dengan kadar glukosa
darah <45 mg/dl (2.6 mmol/L), baik bergejala atau
tidak
Hipoglikemia berat (<25 mg/dl) dapat menyebabkan
palsi serebral, retardasi mental, dan lain-lain
Etiologi
Peningkatan pemakaian glukosa (hiperinsulin): Neonatus
dari ibu DM, Besar masa kehamilan, eritroblastosis fetalis
Penurunan produksi/simpanan glukosa: Prematur, IUGR,
asupan tidak adekuat
Peningkatan pemakaian glukosa: stres perinatal (sepsis,
syok, asfiksia, hipotermia), defek metabolisme karbohidrat,
defisiensi endokrin, dsb

Pedoman Pelayanan Medis IDAI 2010


Hipoglikemia
Diagnosis
Anamnesis: tremor, iritabilitas, kejang/koma, letargi/apatis, sulit menyusui,
apneu, sianosis, menangis lemah/melengking
PF: BBL >4000 gram, lemas/letargi/kejang beberapa saat sesudah lahir
Penunjang: Pemeriksaan glukosa darah baik strip maupun darah vena, reduksi
urin, elektrolit darah
Penatalaksanaan
Bolus 200 mg/kg dengan dextrosa 10% IV selama 5 menit
Hitung Glucose Infusion Rate (GIR), 6-8 mg/kgBB/menit untuk mencapai GD
maksimal. Dapat dinaikkan sampai maksimal 12mg/kgBB/menit
Cek GD per 6 jam
Bila hasil GD 36-47 mg/dl 2 kali berturut-turut + Infus dextrosa 10%
Bila GD >47 mg/dl setelah 24 jam terapi, infus diturunkan bertahap
2mg/kgBB/menit setiap jam
Tingkatkan asupan oral
Pemantauan dan Skrining
Hipoglikemia
PPM IDAI jilid 1
128. Disentri
Disentri adalah diare yang disertai darah.
Sebagian besar kasus disebabkan oleh Shigella
dan hampir semuanya membutuhkan
pengobatan antibiotik
Peningkatan jumlah leukosit lebih dari 10 per
lapang pandang mendukung etiologi bakteri
invasif

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO. 2008


Disentri
Bakteri (Disentri basiler)
Shigella, penyebab disentri yang terpenting dan tersering ( 60%
kasus disentri yang dirujuk serta hampir semua kasus disentri
yang berat dan mengancam jiwa disebabkan oleh Shigella.
Escherichia coli enteroinvasif (EIEC)
Salmonella
Campylobacter jejuni, terutama pada bayi
Amoeba (Disentri amoeba), disebabkan Entamoeba
hystolitica, lebih sering pada anak usia > 5 tahun
Non Infeksi: intususepsi, gang. hematologi (misal def. vit. K
pada bayi baru lahir), kelainan imunologis misal purpura
Henoch-Schnlein serta colitis ulseratif atau penyakit
Chrons
Campylobacter Sp
Campylobacter species are Most cases of
gram-negative bacilli that campylobacteriosis are
have a curved or spiral associated with eating raw
shape or undercooked poultry
diarrhea, cramping, meat
abdominal pain, and fever The most important
within two to five days after postinfectious complication
exposure to the organism of C. jejuni infection is the
In most patients, the Guillain-Barr syndrome
diarrhea is either loose and (GBS) (probably preceding
watery or grossly bloody; 8 30% of GBS cases; <1 case
10 bowel movements per of GBS per 1000 C. jejuni
day occur at the peak of infections)
illness
http://www.cdc.gov/nczved/divisions/dfbmd/diseases/campylobacter/
http://cid.oxfordjournals.org/content/32/8/1201.full.pdf+html
Salmonella Sp
Salmonella are gram- The incubation period is
negative facultative from 8-48 hours after the
intracellular anaerobes ingestion of contaminated
Cause of gastroenteritis, food or water.
enteric fever (caused by Symptoms are acute onset
typhoid and paratyphoid of fever and chills, nausea
serotypes), bacteremia, and vomiting, abdominal
focal infections, a cramping, and diarrhea.
convalescent lifetime carrier If a fever is present, it
state. generally abides in 72
hours.
Diarrhea is usually self-
limited, lasting 3-7 days and
may be grossly bloody.
Gambar Bakteri & Parasit

C. Jejuni

Shigella

Entamoeba Hystolitica
Gejala klinis
Disentri basiler Disentri amoeba
Diare mendadak yang disertai darah
dan lendir dalam tinja. Pada disentri Diare disertai darah dan lendir
shigellosis, pada permulaan sakit, dalam tinja.
bisa terdapat diare encer tanpa darah
dalam 6-24 jam pertama, dan setelah Frekuensi BAB umumnya lebih
12-72 jam sesudah permulaan sakit, sedikit daripada disentri
didapatkan darah dan lendir dalam basiler (10x/hari)
tinja.
Panas tinggi (39,5 - 40,0 C), kelihatan Sakit perut hebat (kolik)
toksik. Gejala konstitusional biasanya
Muntah-muntah.
tidak ada (panas hanya
Anoreksia.
ditemukan pada 1/3 kasus).
Sakit kram di perut dan sakit di anus
saat BAB.
Kadang-kadang disertai dengan gejala
menyerupai ensefalitis dan sepsis
(kejang, sakit kepala, letargi, kaku
kuduk, halusinasi).
129. Demam Dengue (DF)
Disebabkan oleh virus flavivirus dengan 4 serotipe DE-1,
DEN-2, DEN-3, DEN-4 melalui nyamuk aedes aegypti atau
aedes albopictus
DEN-3 merupakan serotipe yang banyak berhubungan
dengan kasus berat, diikuti dengan serotipe DEN-2
Demam akut 2-7 hari dengan 2 atau lebih gejala berikut:
Nyeri kepala
Nyeri retroorbita
Myalgia/arthralgia
Ruam
Manifestasi perdarahan
Leukopenia
KLASIFIKASI DBD
Derajat (WHO 1997):
Derajat I : Demam dengan test rumple leed
positif.
Derajat II : Derajat I disertai dengan perdarahan
spontan dikulit atau perdarahan lain.
Derajat III : Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu
nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun/
hipotensi disertai dengan kulit dingin lembab dan
pasien menjadi gelisah.
Derajat IV : Syock berat dengan nadi yang tidak
teraba dan tekanan darah tidak dapat diukur.
WHO. SEARO. Guidelines for treatment of dengue fever/dengue hemorrhagic fever in
small hospitals. 1999.
Dengue Fever Immune Response

Fig. 1. DV-induced cytokine cascade. DV replicates in macrophage and is presented to recruit CD4 cells which produce hCF. hCF induces a cytokine
cascade that may lead to Th1-type response causing a mild illness, the DF or to a Th2-type response resulting in various grades of severe illness, the
DHF. Thin line, positive induction; Interrupted line, inhibition; Thick line, damaging effect.
molecular mechanisms that contribute
to dengue-induced thrombocytopenia
Pemeriksaan Penunjang
Rumple leede test
A tourniquet test used to determine the presence of
vitamin C deficiency or thrombocytopenia
A circle 2.5 cm in diameter, the upper edge of which is
4 cm below the crease of the elbow, is drawn on the
inner aspect of the forearm, pressure midway between
the systolic and diastolic blood pressure is applied
above the elbow for 15 minutes
Count petechiae within the circle is made:
10 normal
10-20 marginal
more than 20 abnormal.
Pemantauan Rawat
Alur
Perawatan
Pediatric Vital
Signs
Heart Rate
Age
(beats/min)

Premature 120-170 *
0-3 mo 100-150 *
3-6 mo 90-120 http://web.missouri.edu/~proste/lab/vitals-peds.pdf

6-12 mo 80-120
1-3 yr 70-110
3-6 yr 65-110
6-12 yr 60-95
12 > yr 55-85

Kleigman, R.M., et al. Nelson Textbook of Pediatrics. 19th ed. Philadelphia: Saunders, 2011. 1Soldin, S.J., Brugnara, C., & Hicks, J.M. (1999). Pediatric
* From Dieckmann R, Brownstein D, Gausche-Hill M (eds): Pediatric Education for Prehospital reference ranges (3rd ed.). Washington, DC: AACC Press.
Professionals. Sudbury, Mass, Jones & Bartlett, American Academy of Pediatrics, 2000, pp 43-45. http://wps.prenhall.com/wps/media/objects/354/36284
From American Heart Association ECC Guidelines, 2000. 6/London%20App.%20B.pdf
130. Lumpuh Layuh Akut
Merupakan hilangnya kekuatan otot yang disebabkan oleh
gangguan lower motor neuron atau unit motorik, yaitu badan sel di
kornu anterior medula spinalis, akson, sambungan saraf-otot, atau
pada otot itu sendiri
Manifestasi Klinis
Kelumpuhan tipe lower motor neuron berupa flaksid,
berkurangnya refleks fisiologis, atrofi, fasikulasi otot. Refleks
patologis (-)
Pemeriksaan Penunjang :
Elektrodiagnosis (Elektromiografi, nerve conduction studies)
Enzim kreatin kinase
Analisis CSF untuk diagnosis etiologi
CT-scan atau MRI untuk menyingkirkan lesi kompresi
Lumpuh Layuh Akut
Etiologi
Sel-sel kornu anterior
Infeksi virus : Poliomielitis
Penyakit pasca infeksi virus yang diperantarai sistem
imun : Mielitis transversa akut ( Weakness and
numbness of the limbs as well as motor, sensory, and
sphincter deficits. The onset is sudden and progresses
rapidly)
Trunkus saraf : Sindrom Guillain-Barre (Paralisis asendens,
simetris, dan nyeri), Toksin difteri
Sambungan neuromuskular : Toksin botulinum
Poliomyelitis
Poliomyelitis is an enteroviral Poliomyelitis:
infection 90-95% of all infection remain
asymptomatic
Poliovirus is an RNA virus that is 5-10% abortive type:
transmitted through the oral- Fever
fecal route or by ingestion of Headache, sore throat
contaminated water Limb pain, lethargy
The viral replicate in the GI disturbance
nasopharynx and GI tract 1-2% major poliomyelitis:
invade lymphoid tissues Meningitis syndrome
hematologic spread viremia Flaccid paresis with asymmetrical
neurotropic and produces proximal weakness & areflexia,
mainly in lower limbs
destruction of the motor neurons
Paresthesia without sensory loss or
in the anterior horn and autonomic dysfunction
brainstem Muscle atrophy
Infection of the Nervous system
Sign and Symptom:
Mild cases : Fever, Headache,
Nausea, Vomiting, Abdominal pain,
Oropharyngeal hyperemia
Nonparalytic poliomyelitis : Nuchal
rigidity, More severe headache, Back
and lower extremity pain, Meningitis
with lymphocytic pleocytosis
Paralytic : Asymmetric loss of
muscle function with involvement of
major muscle groups. Muscle
atrophy is generally observed several
weeks after the beginning of
symptoms

Color atlas of neurology


Poliomyelitis
Work Up :
viral cultures of specimens from the cerebrospinal
fluid (CSF), stool, and throat
Acute and convalescent serum for antibody
concentrations, 4-fold increase in the immunoglobulin
G (IgG) antibody titers or a positive anti-
immunoglobulin M (IgM) titer during the acute stage
is diagnostic
Treatment
No antivirals are effective against polioviruses. The
treatment of poliomyelitis is mainly supportive
Pediatric Poliomyelitis. Benjamin Estrada, MD. http://emedicine.medscape.com/article/967950
OBGYN
131. Hipertensi dalam Kehamilan
HIPERTENSI
TEKANAN DARAH KRONIK
MENINGKAT HAMIL
< 20 MG SUPERIMPOSED
( 140/90 mmHg) PREECLAMPSIA

KEJANG + EKLAMPSIA

HAMIL HIPERTENSI
> 20 MG
PREEKLAMPSIA
KEJANG
RINGAN

PREEKLAMPSIA
BERAT
MAGNESIUM SULFAT UNTUK PREEKLAMPSIA DAN
EKLAMPSIA
Alternatif I Dosis MgSO4 4 g IV sebagai larutan 40% selama
awal 5 menit
Segera dilanjutkan dengan 15 ml MgSO4
(40%) 6 g dalam larutan Ringer Asetat /
Ringer Laktat selama 6 jam
Jika kejang berulang setelah 15 menit,
berikan MgSO4 (40%) 2 g IV selama 5
menit
Dosis Pemeliharaan MgSO4 1 g / jam melalui infus Ringer
Asetat / Ringer Laktat yang diberikan
sampai 24 jam postpartum
MAGNESIUM SULFAT UNTUK PREEKLAMPSIA DAN
EKLAMPSIA
Alternatif II Dosis awal MgSO4 4 g IV sebagai larutan 40% selama 5 menit
Dosis pemeliharaan Diikuti dengan MgSO4 (40%) 5 g IM dengan 1 ml
Lignokain (dalam semprit yang sama)
Pasien akan merasa agak panas pada saat pemberian
MgSO4
Sebelum pemberian Frekuensi pernafasan minimal 16 kali/menit
MgSO4 ulangan, Refleks patella (+)
lakukan pemeriksaan: Urin minimal 30 ml/jam dalam 4 jam terakhir

Hentikan pemberian Frekuensi pernafasan < 16 kali/menit


MgSO4, jika: Refleks patella (-), bradipnea (<16 kali/menit)
Siapkan antidotum Urin < 30 ml/jam pada hari ke 2
Jika terjadi henti nafas:
Bantu pernafasan dengan ventilator
Berikan Kalsium glukonas 1 g (20 ml dalam larutan
10%) IV perlahan-lahan sampai pernafasan mulai lagi
132. Tanda-tanda Kehamilan
Tanda-tanda kehamilan tidak pasti :
Amenorrea
Mual muntah
Tanda Chadwick
Tanda Hegar
Montgomerys sign
Nyeri payudara
Sekresi kolustrum
Quickening
Sering berkemih, nokturia
Peningkatan suhu basal
Cloasma
Linea nigra
Striae
Tanda-tanda Kehamilan Tidak Pasti

Tanda Hegar

Linea Nigrae Pembesaran perut


133. Langkah Asuhan Persalinan Normal
1. Mendengar dan melihat adanya tanda persalinan kala dua
2. Memastikan kelengkapan alat pertolongan persalinan termasuk mematahkan ampul dan
memasukkan alat suntik sekali pakai 2 ml ke dalam wadah partus set
3. Memakai celemek plastik
4. Memastikan lengan tidak memakai perhiasan, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir
5. Menggunakan sarung tangan DTT pada tangan kanan yang akan digunakan untuk pemeriksaan
dalam
6. Mengambil alat suntik dengan tangan yang bersarung tangan, isi dengan oksitosin dan
letakkan kembali kedalam wadah partus set
7. Membersihkan vulva dan perineum dengan kapas basah dengan gerakan dari vulva ke
perineum
8. Melakukan pemeriksaan dalam, pastikan pembukaan sudah lengkap dan selaput ketuban
sudah pecah
9. Mencelupkan tangan kanan yang bersarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5% dan
membuka sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin
0,5%
10. Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi uterus selesai, pastikan DJJ dalam batas
normal (120-160 x/menit)
11. Memberitahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin
baik, meminta ibu untuk meneran saat ada his apabila ibu sudah
merasa ingin meneran
12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk
meneran
13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan kuat
untuk meneran
14. Menganjurkan ibu untuk berjalan, jongkok dan mengambil posisi
nyaman, jika ibu merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60
menit
15. Meletakkan handuk bersih di perut ibu, jika kepala bayi telah
membuka vulva dengan diameter 5-6 cm
16. Meletakkan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian bawah bokong ibu
17. Membuka partus set dan memperhatikan kembali kelengkapan
alat dan bahan
18. Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan
19. Saat kepala janin terlihat pada vulva dengan diameter 5-6 cm,
memasang handuk bersih untuk mengeringkan bayi
20. Memeriksa adanya lilitan tali pusat pada leher janin
21. Menunggu hingga kepala janin selesai melakukan putar paksi luar secara spontan
22. Setelah kepala melakukan putar paksi luar, pegang secara biparental. Menganjurkan kepada
ibu untuk meneran saat kontraksi, dengan lembut gerakan kepala ke arah bawah dan distal
hingga bahu depan muncul di bawah arkus pubis dan kemudian gerakan
23. Setelah bahu lahir, geser tangan bawah kearah perineum ibu untuk menyanggah kepala,
lengan dan siku sebelah bawah.
24. Setelah badan dan lengan lahir, tangan kiri menyusuri punggung ke arah bokong dandan
tungkai bawah janin untuk memegang tungkai bawah
25. Melakukan penilaian selintas :
Apakah bayi menangis kuat
Apakah bayi bernafas tanpa kesulitan?
Apakah bayi bergerak aktif?
26. Mengeringkan tubuh bayi mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya kecuali bagian
tangan
27. Memeriksa kembali uterus untuk memastikan t idak ada lagi bayi dalam uterus
28. Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitosin agar uterus berkontraksi baik
29. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikkan oksitosin 10 unit IM (intramuscular)
di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum menyuntikkan
oksitosin)
30. Setelah 2 menit pascapersalinan, jepit tali pusat dengan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi.
Mendorong isi tali pusat ke arah distal (ibu) dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm distal
dari klem pertama
31. Dengan satu tangan, pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut bayi) dan lakukan
pengguntingan tali pusat di antara dua klem tersebut
32. Mengikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi kemudian melingkarkan
kembali benang tersebut dan mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi lainnya
33. Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan memasang topi di kepala bayi
34. Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari vulva
35. Meletakkan satu tangan di atas kain pada perut ibu, di tepi simfisis, Tangan lain
meregangkan tali pusat
36. Setelah uterus berkontraksi, regangkan tali pusat dengan tangan kanan, sementara
tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati kearah dorsokranial. Jika plasenta t idak
lahir setelah 30-40 detik, hentikan peregangan tali pusat dan menunggu hingga timbul
kontraksi berikutnya dan mengulangi prosedur
37. Melakukan peregangan dan dorongan dorsokranial hingga plasenta terlepas, minta ibu
meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai dan kemudian ke
arah atas, mengikuti poros jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorsokranial)
38. Setelah plasenta tampak pada vulva, teruskan melahirkan plasenta dengan hati-hati. Bila
perlu (terasa ada tahanan), pegang plasenta dengan kedua tangan dan lakukan putaran
searah untuk membantu pengeluaran plasenta dan mencegah robeknya selaput ketuban
39. Segera setelah plasenta lahir, melakukan masase pada fundus uteri dengan
menggosok fundus uteri secara sirkuler menggunakan bagian palmar 4 jari tangan kiri
hingga kontraksi uterus baik (fundus teraba keras)
40. Periksa bagian maternal dan bagian fetal plasenta dengan tangan kanan untuk
memastikan bahwa seluruh kotiledon dan selaput ketuban sudah lahir lengkap
41. Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Lakukan penjahitan
bila laserasi menyebabkan perdarahan
42. Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan
pervaginam
43. Membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling sedikit
1 jam
44. Setelah 1 jam, lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes mata
antibiotik profilaksis dan vitamin K1 1 mg intramuskular di paha kiri anterolateral
45. Setelah 1 jam pemberian vitamin K1 berikan suntikan imunisasi Hepatitis B di
paha kanan anterolateral
46. Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam
47. Mengajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai kontraksi
48. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah
49. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah
50. Memeriksa nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam
pertama pascapersalinan dan setiap 30 menit selama 1 jam kedua
pascapersalinan
51. Memeriksa kembali untuk memastikan bahwa bayi bernafas
dengan baik
52. Menempatkan semua peralatan bekas pakai ke dalam larutan
klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas
peralatan setelah didekontaminasi
53. Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang
sesuai
54. Membersihkan ibu dengan menggunakan air DTT. Membersihkan
sisa cairan ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu memakai pakaian
bersih dan kering
55. Memastikan ibu merasa nyaman dan beritahu keluarga untuk
membantu apabila ibu ingin minum
56. Dekontaminasi tempat persalinan dengan larutan klorin 0,5%
57. Membersihkan sarung tangan di dalam larutan klorin 0,5%
melepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan
merendamnya dalam larutan klorin 0,5%
58. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir
59. Melengkapi partograf
134. Kontrasepsi
JENIS METODE KB PASCA PERSALINAN
NON HORMONAL
1.Metode Amenore Laktasi (MAL)
2.Kondom
3.Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
4.Kontrasepsi Mantap (Tubektomi dan Vasektomi)

HORMONAL
1.Progestin: pil, injeksi dan implan
2.Kombinasi: pil dan injeksi

Sumber:
Pedoman Pelayanan Keluarga Berencana Pasca Persalinan
di Fasilitas Kesehatan (BKKBN dan Kemenkes R.I., 2012)
ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM
(AKDR)
KEUNTUNGAN KETERBATASAN
Efektivitas tinggi, 99,2-99,4% ( 0,6 0,8 Tidak mencegah Infeksi Menular
kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun Seksual(IMS)
pertama) Tidak baik digunakan pada perempuan
Dapat efektif segera setelah pemasangan dengan IMS atau perempuan yang sering
Metode jangka panjang berganti pasangan
Sangat efektif karena tidak perlu lagi Diperlukan prosedur medis termasuk
mengingat-ingat pemeriksaan pelvis
Tidak mempengaruhi hubungan sosial Klien tidak dapat melepas AKDR sendiri
Meningkatkan kenyamanan seksual karena Klien harus memeriksa posisi benang AKDR
tidak perlu takut untuk hamil dari waktu ke waktu.
Tidak ada efek samping hormonal
Tidak mempengaruhi kualitas dan volume
ASI
Dapat dipasang segera setelah melahirkan
atau sesudah abortus (apabila tidak terjadi
infeksi)
Dapat digunakan sampai menopause
Tidak ada interaksi dengan obat-obat
KONTRASEPSI
MANTAP(TUBEKTOMI&VASEKTOMI)
TUBEKTOMI
Tubektomi (MetodeOperasiWanita/MOW) metode
kontrasepsi mantap lagi dengan cara mengoklusi tuba
falupii sehingga sperma tidak dapat bertemu dengan
ovum

WAKTUPENGGUNAAN
Idealnya dilakukan dalam 48 jam pasca persalinan
Dapat dilakukan segera setelah persalinan atau setelah
operasi caesar
Jika tidak dapat dikerjakan dalam 1 minggu setelah
persalinan, ditunda 4-6 minggu.
MANFAAT DAN KETERBATASAN
TUBEKTOMI
MANFAAT Tidak ada perubahan dalam
Kontrasepsi fungsi seksual
Efektivitasnya tinggi 99,5% (0,5 Non Kontrasepsi
kehamilan per 100 perempuan Berkurangnya risiko kanker
selama tahun pertama ovarium
penggunaan)
Tidak mempengaruhi proses KETERBATASAN
menyusui Harus dipertimbangkan sifat
Tidak bergantung pada faktor permanen kontrasepsi ini (tidak
sanggama dapat dipulihkan kembali,
Baik bagi klien apabila kecuali dengan operasi
kehamilan akan menjadi risiko rekanalisasi)
kesehatan yang serius. Dilakukan oleh dokter yang
Tidak ada efek samping dalam terlatih
jangka panjang
VASEKTOMI
Vasektomi(MetodeOperasiPria/MOP) prosedur klinik
untuk menghentikan reproduksi pria dengan cara
mengoklusi vasa deferensia sehingga alur transportasi
sperma terhambat dan proses fertilisasi tidak terjadi.

JENIS
1)Insisi
2)Vasektomi Tanpa Pisau (VTP)

WAKTU
Bisa dilakukan kapan saja
PIL PROGESTIN
KEUNTUNGAN KETERBATASAN
Efektif jika diminum setiap hari di Harus digunakan setiap hari dan
waktu yang sama (0,05-5 pada waktu yang sama
kehamilan / 100 perempuan dalam Bila lupa satu pil saja, kegagalan
1 tahun pertama) menjadi lebih besar
Tidak diperlukan pemeriksaan Risiko kehamilan ektopik, tetapi
panggul risiko ini lebih rendah jika
Tidak mempengaruhi ASI dibandingkan dengan perempuan
Tidak mengganggu hubungan yang tidak menggunakan minipil
seksual Efektifitas menjadi rendah bila
Kembalinya fertilitas segera jika digunakan bersamaan dengan obat
pemakaian dihentikan tuberkulosis atau obat epilepsi
Mudah digunakan dan nyaman Tidak mencegah IMS
Efek samping kecil
PIL KOMBINASI
KEUNTUNGAN hingga menopause
Efektivitas yang tinggi (1 Membantu mencegah kehamilan
kehamilan per 100 perempuan ektopik, kanker ovarium, kanker
dalam tahun pertama endometrium, kista ovarium,
penggunaan) penyakit radang panggul,
Risiko terhadap kesehatan sangat kelainan jinak pada payudara,
kecil dismenore atau akne
Tidak mengganggu hubungan
seksual KETERBATASAN
Mudah dihentikan setiap saat Membosankan karena harus
Kesuburan segera kembali menggunakannya setiap hari
setelah penggunaan pil Tidak boleh diberikan kepada
dihentikan perempuan menyusui
Dapat digunakan sebagai Tidak mencegah IMS
kontrasepsi darurat
Dpat digunakan sejak usia remaja
135. Anatomi Panggul
Gynecoid
Panggul gynecoid berbentuk bulat, sedikit ovoid
Merupakan bentuk panggul paling ideal untuk
persalinan
Android
Berbentuk seperti baji , dengan bagian depan
menyempit.
Segmen posterior mendatar, sakrum mengarah ke
depan.
Dinding samping konvergen
Anthropoid
Pintu atas berbentuk elips dengan jarak
anteroposterior lebih besar dibanding diameter
transversal
Dinding samping lurus
Jarak interspina dan intertuberous lebih sempit
dibandingkan ginekoid
Platypelloid
Pintu atas elips dengan jarak transversal lebih besar
dibandingkan jarak anteroposterior
Jarak interspina dan intertuberous lebar
136. Abortus Inkomplet
DIAGNOSIS PERDARAHAN SERVIKS UTERUS TATALAKSANA
IMMINENS Bercak, coklat TERTUTUP Sesuai usia Bed rest total,
gestasi didrogestron,
alilsterenol,
antibiotik
INSIPIEN Merah segar TERBUKA Sesuai usia Kuret/AVM
gestasi
INKOMPLIT Darah dengan TERBUKA, bisa Lebih keci, Kuret/AVM
jaringan tampak sisa lunak
konsepsi jaringan
KOMPLIT Seluruh massa TERTUTUP Lebih kecil, Kuret/AVM
kehamilan kenyal
MISSED Retensio Kuret/AVM
ABORTION Embrio mati
>8imnggu
137. BISHOP SCORE

Persalinan normal persalinan dengan usaha sendiri


tanpa bantuan alat pada janin tunggal hidup
presentasi belakang kepala, hamil cukup bulan.
138. HPP Atoni Uterus
Perdarahan pasca persalinan perdarahan yang
terjadi sesudah sesaat proses persalinan
berlangsung dengan volume perdarahan > 500
ml.
Perdarahan pasca persalinan dini (Early Post Partum
haemorrhage) terjadi dalam 24 jam pertama.
Penyebab utama perdarahan pasca persalinan primer
adalah atonia uteri, retensio plasenta, robekan jalan
lahir.
Perdarahan masa nifas (Late PPH terjadi setelah 24
jam pertama, sering diakibatkan oleh infeksi,
penyusutan rahim yang tidak baik, atau sisa plasenta
yang tertinggal.
Penyebab HPP
Gejala dan tanda Gejala dan tanda yang Diagnosis
yang selalu ada lain kemungkinan
Uterus tidak berkontraksi dan lembek Syok Atonia uteri
Tidak ada penonjolan uterus supra simfisis
Perdarahan setelah anak lahir (perdarahan
pascapersalinan dini)
Perdarahan segera setelah bayi lahir Pucat Robekan jalan
Darah segar Lemah lahir/Laserasi jalan
Uterus kontraksi baik Menggigil lahir
Plasenta lengkap Presyok
Teraba diskontinuitas portio atau dinding vagina
Kelelahan dan dehidrasi Hilang gerak dan DJJ Ruptur Uteri
Konstriksi bandl Syok/takikardi
Nyeri perut bawah hebat Bagian janin mudah teraba
Gejala tidak khas pada bekas SC Bentuk uterus abnormal
Sub-involusi uterus Anemia Sisa fragmen
Nyeri tekan perut bawah Demam (bila terinfeksi) plasenta
Perdarahan post partum lanjut
Perdarahan merah segar Perdarahan gusi Gangguan
Uji pembekuan darah tidak menunjukan adanya Memar di bawah kulit pembekuan darah
bekuan darah setelah 7 menit Perdarahan di tempat
Rendahnya faktor pembekuan darah infus/suntikan
ATONI UTERUS
Faktor resiko atonia uteri adalah:
Uterus membesar lebih dari normal selama
kehamilan.
Kala I atau II yang memanjang.
Persalinan cepat (partus presipitatus).
Persalinan yang diinduksi atau dipercepat dengan
oksitosin (augmentasi).
Infeksi intrapartum.
Multiparitas tinggi.
BAGAN PENANGANAN ATONIA UTERI

Masase fundus uteri


Segera ssdh plasenta lahir
(maksimal 15 detik)

ya
Uterus kontraksi? Evaluasi rutin
tidak
Evaluasi / bersihkan bekuan darah /sel.ketuban
KBI maksimal 5 menit

Uterus kontraksi? Pertahankan KBI 1 2 mnt


ya
tidak Keluarkan tangan secara hati2
Lakukan pengawasan kala IV
Ajarkan keluarga KBE
Keluarkan tangan secara hati2
Suntik ergometrin 0,2 im
Pasang infus + 20 IU oks , guyur
Lakukan KBI lagi
139. Toxoplasmosis pada Kehamilan
Ig G Ig M Interpretasi
+ - Infeksi masa lampau
- + Infeksi akut
Management of Toxoplasma gondii Infection during Pregnancy. Jose G. Montoya and Jack S. Remington
IgG Result IgM Result Report/interpretation for humans*

Negative Negative No serological evidence of infection with Toxoplasma.


Possible early acute infection or false-positive IgM reaction. Obtain a new
Negative Equivocal specimen for IgG and IgM testing. If results for the second specimen remain
the same, the patient is probably not infected with Toxoplasma.
Possible acute infection or false-positive IgM result. Obtain a new specimen
Negative Positive for IgG and IgM testing. If results for the second specimen remain the same,
the IgM reaction is probably a false-positive.
Indeterminate: obtain a new specimen for testing or retest this specimen for
Equivocal Negative
IgG in a different essay.
Equivocal Equivocal Indeterminate: obtain a new specimen for both IgG and IgM testing.
Possible acute infection with Toxoplasma. Obtain a new specimen for IgG and
IgM testing. If results for the second specimen remain the same or if the IgG
Equivocal Positive
becomes positive, both specimens should be sent to a reference laboratory
with experience in diagnosis of toxoplasmosis for further testing.
Positive Negative Infected with Toxoplasma for six months or more.
Infected with Toxoplasma for probably more than 1 year or false-positive IgM
reaction. Obtain a new specimen for IgM testing. If results with the second
Positive Equivocal specimen remain the same, both specimens should be sent to a reference
laboratory with experience in the diagnosis of toxoplasmosis for further
testing.
Possible recent infection within the last 12 months, or false-positive IgM
Positive Positive reaction. Send the specimen to a reference laboratory with experience in
the diagnosis of toxoplasmosis for further testing.
140. Ekstraksi Cunam
INDIKASI TINDAKAN EKSTRAKSI CUNAM
Indikasi Ibu:
Penyakit Jantung
Penyakit Pulmonar
Infeksi Intrauterin
Gangguan Neurologik
Kelelahan Ibu
Kala II memanjang
Mempersingkat kala II : pre eklampsia , eklampsia

Indikasi Anak:
Gawat janin
Prolapsus talipusat dengan kepala sudah didasar
panggul
After coming head
KONTRAINDIKASI TINDAKAN EKSTRAKSI CUNAM
Terdapat kontra-indikasi berlangsungnya persalinan pervaginam.
Pasien menolak tindakan ekstraksi cunam obstetrik.
Dilatasi servik belum lengkap.
Presentasi dan posisi kepala janin tidak dapat ditentukan dengan jelas.
Kegagalan ekstraksi vakum.
Fasilitas pemberian analgesia yang memadai tidak ada.
Fasilitas peralatan dan tenaga pendukung yang tidak memadai.
Operator tidak kompeten.

SYARAT TINDAKAN EKSTRAKSI CUNAM


Pasien dan keluarga sudah faham dan menyetujui tindakan ini serta bersedia
menandatangani "informed consent"
Tidak terdapat CPD-cephalo pelvic disproporsion sehingga janin diperkirakan dapat
lahir pervaginam.
Kepala sudah engage :
Presentasi belakang kepala , letak muka dengan dagu didepan atau after coming
head pada persalinan sungsang pervaginam.
Posisi kepala janin dalam jalan lahir dapat diketahui secara pasti oleh operator.
Dilatasi servik sudah lengkap.
Kepala janin dapat dicekap dengan baik oleh kedua daun cunam.
Selaput ketuban sudah pecah.
141. Diabetes Gestasional - Insulin
Tatalaksana DM Gestasional
Tatalaksana
Type of Insulin Used in Gestational
Diabetes
Use of insulin preparations of low antigenicity may minimize the
transplacental transport of insulin antibodies: human insulin is the
least immunogenic of the commercially available preparations.
The three rapid acting insulin analogs (lispro, aspart, glulisine) are
comparable in immunogenicity to human regular insulin , but only
lispro and aspart have been investigated in pregnancy and shown to
have acceptable safety profiles, minimal transfer across the
placenta, and no evidence of teratogenesis.
These two insulin analogs both improve postprandial excursions
compared to human regular insulin and are associated with lower
risk of delayed postprandial hypoglycemia.
Type of Insulin Used in Gestational
Diabetes
Long-acting insulin analogs (insulin glargine, insulin detemir) have not
been studied extensively in pregnancy.
In 2012, a multinational trial on the safety and efficacy of insulin detemir
for the treatment of women with type 1 diabetes reported reassuring
safety and efficacy results, which led the FDA to reclassify insulin detemir
from C to B .
In vitro perfusion studies have demonstrated that insulin glargine does not
cross the placenta; however, concern about transplacental transfer of
glargine in vivo remains.
Based on available data, we prefer use of human NPH insulin as part of a
multiple injection regimen in pregnant women with GDM.
There are good data supporting the safety and effectiveness of NPH in
pregnancy and doses can be adjusted frequently and quickly in response
to changing requirements in pregnant women.
142. Persalinan Preterm
Delivery occurring before 37 completed weeks gestation.

Assess for signs and symptoms of preterm labour :


Lower abdominal cramping
Pelvic pressure
Lower back pain
Vaginal spotting or show
Regular uterine activity
Cervical effacement / dilatation

Diagnosis
establish dates
history of contractions, risk factors
abdominal exam for uterine activity
cervical exam - serial if reasonable
sterile speculum exam alone should be done in PPROM
defer digital exam if there is undiagnosed vaginal bleeding until implantation
site of placenta is known
Corticosteroids
Antenatal corticosteroid therapy should be
initiated in women between 24 and 34 weeks
gestation.

Deksametason 6 mg IM setiap 12 jam sebanyak 4


kali, ATAU
Betametason 12 mg IM setiap 24 jam sebanyak 2
kali
143. Induksi Persalinan
Indikasi - Darurat Indikasi Segera (urgent) Indikasi Tidak segera
Hipertensi gestasional KPD saat aterm atau ( Non-Urgent )
yang berat dekat aterm Kehamilan post-term
Diduga komplikasi janin PJT tanpa bukti adanya DM terkontrol baik
yang akut komplikasi akut Kematian intrauterin
PJT (IUGR) yang berat DM yang tidak pada kehamilan
Penyakit maternal yang terkontrol sebelumnya
bermakna dan tidak Penyakit iso-imun saat Intrauterine fetal
respon dengan aterm atau dekat aterm demise
pengobatan Problem logistik
APH yang bermakna (persalinan cepat, jarak
Korioamnionitis ke rumah sakit)
INDUKSI - UNFAVORABLE CERVIX
Stripping of membranes
Pematangan serviks diikuti dengan oksitosin
Laminaria / artificial tents
Foley catheter
Prostaglandins (intraserviks atau vaginal)
Amniotomi atau oksitosin

INDUKSI FAVORABLE CERVIX


Stripping of membranes
Amniotomi
Oksitosin
Vaginal prostaglandin
Induksi dengan Oksitosin
Inisiasi aktivitas uterus dan perubahan serviks dengan obat-obatan atau
agen lain pada wanita yang belum masuk dalam fase persalinan.
Bila skor Bishop < 5, lakukan pematangan serviks sebelum memulai induksi/augmentasi.

5 IU oksitosin dalam 500 cc RL cairan intravena


Dosis awal oksitosin 4 - 8 mU / min
Interval dinaikkan setiap 30 min.
Dosis kenaikan 2 mU (4 tetes)
Dosis biasa untuk persalinan yang baik : 8 10 mU/min. (16 20
tetes)

Pastikan tidak ada CPD atau kontraindikasi lainnya sebelum memulai tindakan
augmentasi
Selalu pantau kemajuan persalinan dan djj
Gunakan partograf
Infus cairan dengan oksitosin diberi tanda & jam mulai pemberian
144. Cardinal Movements
Engagement and Descent Masuknya bagian terbawah janin
ke dalam rongga panggul

Fleksi

Rotasi Interna
(pada saat kepala memasuki panggul tengah, diameter
anteroposterior > diameter tranversa)

Ekstensi

Rotasi Eksterna
(Kepala janin kembali ke posisi semula menyesuaikan posisi
punggung janin)

Ekspulsi
145. KANKER LEHER
RAHIM (SERVIKS)

Kanker tertinggi nomor 1 pada wanita di


Indonesia
Angka Kejadian : 15.050 orang (2007)
7.566 orang meninggal setiap tahun
Penyebab : Human Pappiloma Virus (HPV)
Penularan : Kontak seksual
Pencegahan : Vaksinasi, Kondom
Screening Kanker Serviks
Inspeksi Visual dengan Asam Asetat
Klien dalam posisi litotomi
Dipasang spekulum cocor bebek dengan penerangan lampu
100W
Pemeriksa menampakkan serviks untuk mengenali curiga
kanker, curiga infeksi, serviks normal dengan daerah
transformasi yang dapat atau tidak dapat ditampakkan
Tunggu 1-2 menit sambil mengamati perubahan yang terjadi
pada serviks
Hasil negatif bila tidak didapatkan gambaran epitel putih pada
daerah transformasi
Hasil positif/atipik bila didapatkan gambaran epitel putih pada
daerah transformasi
Alur Penatalaksanan
Kasus dengan IVA Positif

IVA Positif

Kolposkopi

Lesi Negatif Lesi Positif

Pemeriksaan Biopsi terarah-


rutin PA
146. Infertilitas
Pasangan suami isteri bersanggama secara teratur tanpa memakai metode
pencegahan tidak / belum hamil setelah 1 (satu) tahun
Pada pria Normal seminal fluid analysis (World Health Organization, 2002)
Volume>2 mLm, Sperm concentration>20 million/mL, Sperm motility>50%
progressive or >25% rapidly progressive, Morphology (strict criteria)>15% normal
forms
Oligozoospermiareduced sperm numbers
Mild to moderate: 520 million/mL of semen, Severe: <5 million/mL of semen
Asthenozoospermiareduced sperm motility
Teratozoospermiaincreased abnormal forms of sperm
Oligoasthenoteratozoospermiasperm variables all subnormal
Azoospermiano sperm in semen
Aspermia (anejaculation)no ejaculate (ejaculation failure)
Etiologi pada wanita bisa disebabkan :
faktor vagina
faktor serviks
faktor uterus (endometrium)
faktor tuba
faktor ovarium
faktor peritoneum
147. Polikistik Ovarian Syndrome
(PCOS)
Sindrom ovarium polikistik gangguan
hormonal pada 10% perempuan usia
reproduksi.
Gejala dan kelainan yang mungkin terjadi :
Haid tidak teratur, menjadi jarang atau perdarahan banyak.
Sulit untuk hamil.
Gangguan pematangan sel telur / ovulasi sehingga sel telur
yang ada berukuran kecil-kecil.
Peningkatan berat badan dan jaringan lemak pada tubuh
bagian atas.
Pertumbuhan rambut berlebihan pada muka atau badan.
Timbul jerawat pada muka atau badan.
Gangguan metabolisme lemak.
Manajemen PCOS
Edukasi
Menjelaskan pentingnya perubahan gaya hidup untuk memperbaiki gangguan hormonal yang terjadi

Penurunan berat badan


Penurunan indeks massa tubuh sebesar 10% dapat memperbaiki pematangan sel telur

Manajemen resistensi insulin


Pengobatan resistensi insulin dengan metformin dapat memperbaiki pematangan sel telur

Manajemen gangguan haid


Pengaturan siklus haid sangat penting peranannya untuk mencegah penebalan lapisan dinding dalam
rahim. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian metformin, pil kontrasepsi kombinasi atau preparat
progestin

Manajemen infertilitas
Tata laksana lini pertama pada SOPK adalah penurunan berat badan dan perubahan gaya hidup.
Tindakan selanjutnya adalah induksi ovulasi yang dapat dilakukan dengan klomifen sitrat dan atau
metformin

Manajemen pertumbuhan rambut dan jerawat


Pemberian pil kontrasepsi atau anti androgen dapat mengobati pertumbuhan jerawat dan rambut yang
berlebihan pada pasien SOPK.
148. Inversio Uteri
keadaan dimana lapisan dalam uterus
(endometrium) turun dan keluar lewat
ostium uteri eksternum yang dapat
bersifat inkomplit sampai komplit

Diagnosis dan gejala klinis inversio uteri


1. Dijumpai pada kala III atau post
partum dengan gejala nyeri yang hebat,
perdarahan yang banyak sampai syok.
2. Pemeriksaan dalam
a. Bila masih inkomplit maka pada
daerah simfisis uterus teraba
fundus uteri cekung ke dalam.
b. Bila komplit, di atas simfisis
uterus teraba kosong dan dalam
vagina terabatumor lunak.
c. Kavum uteri sudah tidak ada
(terbalik).
Tatalaksana Inversi Uterus
1. Memanggil bantuan anestesi dan memasang infus untuk
cairan/darah penggantian dan pemberian obat
2. Beberapa senter memberikan tokolitik/ MgSO4 untuk
melemaskan uterus sebelum dilakukan reposisi manual
3. Didalam uterus plasenta dilepaskan secara manual dan bila
berhasil di keluarkan dari rahim dan sambil memberikan
uterotonika tangan tetap di pertahankan agar konfigurasi uterus
kembali normal dan tangan operator baru dilepaskan.
4. Pemberian antibiotika dan tranfusi darah sesuai dengan
keperluannya
5. Intervensi bedah dilakukan bila karena jepitan serviks yang keras
menyebabkan maneuver di atas tidak bisa dikerjakan
149. Pil Kontrasepsi Kombinasi

Bila lupa minum 1 butir pil hormonal


(berwarna kuning) maka harus minum 2 butir
pil hormonal segera setelah mengingatnya
Apabila lupa meminum 2 butir atau lebih pil
hormonal (berwarna kuning), maka dalam 7
hari gunakan kondom apabila melakukan
hubungan seksual atau hindari hubungan
seksual selama 7 hari
150. Ketuban Pecah Dini

Robeknya selaput korioamnion dalam kehamilan (sebelum onset


persalinan berlangsung)
PPROM (Preterm Premature Rupture of Membranes) : ketuban pecah saat
usia kehamilan < 37 minggu
PROM (Premature Rupture of Membranes) : usia kehamilan > 37 minggu
Kriteria diagnosis :
Usia kehamilan > 20 minggu
Keluar cairan ketuban dari vagina
Inspekulo : terlihat cairan keluar dari ostium uteri eksternum
Kertas nitrazin merah biru
Mikroskopis : terlihat lanugo dan verniks kaseosa
Pemeriksaan penunjang : USG (menilai jumlah cairan ketuban,
menetukan usia kehamilan, berat janin, letak janin, kesejahteraan
janin dan letak plasenta)
Managemen Ketuban Pecah Dini
Konservatif : dilakukan bila tidak ada penyulit, pada usia kehamilan 28-
36minggu, dirawat selama 2 hari
Selama perawatan dilakukan:
Observasi adanya amnionitis/tanda infeksi (demam, takikardia,lekositosis,nyeri pada
rahim,sekret vagina purulen, takikardi janin)
Pengawasan timbulnya tanda persalinan
Pemebrian antibiotika
USG menilai kesejahteraan janin
Bila ada indikasi melahirkan janin pematangan paru
Aktif :
Dengan umur kehamilan 20-28mg dan > 37mg
Ada tanda-tanda infeksi
Timbulnya tanda persalinan
Gawat janin
151. Hepatitis B dalam Kehamilan
Screening Tests
Screening for HBV infection by testing for HBsAg should
be performed in each pregnancy, regardless of previous
hepatitis B vaccination or previous negative HBsAg test
results
Interpretation of HBV serology
HBsAg Negative
Susceptible (consider
Anti-HBc Negative
vaccination)
Anti-HBs Negative

HBsAg Negative
Anti-HBc Positive Resolved HBV infection
Anti-HBs Positive

HBsAg Negative
Anti-HBc Negative Vaccinated
Anti-HBs Positive

HBsAg Positive
Anti-HBc Positive
Acute HBV infection*
IgM anti-HBc* (high titre) Positive
Anti-HBs Negative

HBsAg Positive
Anti-HBc Positive
Chronic HBV infection*
IgM anti-HBc* Negative
Anti-HBs Negative

HBsAg Negative
Various possibilities (see What if
Anti-HBc Positive
the result is inconclusive?)
Anti-HBs Negative

* Anti-HBc IgM can also be present (usually at a lower titre) in a flare of CHB
Perinatal HBV transmission can be prevented by identifying HBV-infected
pregnant women and providing Hepatitis B immune globulin and Hepatitis B
vaccine to their infants within 12 hours of birth.
152. Trikomoniasis Vagina

Infeksi oleh Trichomonas Vaginalis


Duh kuning kehijauan berbusa, bau tidak
enak, pada cervix wanita: strawberry
appearance
Terapi yang tepat: metronidazole 2 x
500mg selama 1 minggu.
153. Pemeriksaan USG
dalam Kehamilan
Pemeriksaan USG pada trimester I :
1. Memastikan apakah seorang wanita hamil atau tidak
2. Menentukan lokasi janin apakah di dalam atau di luar rahim
(kehamilan ektopik)
3. Menentukan usia kehamilan dan taksiran persalinan
4. Mengetahui tanda kehidupan janin misalnya mendeteksi apakah ada
denyut jantung atau pergerakan janin.
5. Mengetahui jumlah janin misalnya tunggal atau kembar Mengetahui
keadaan janin misalnya adakah kemungkinan kelainan bawaan,
adakah kelainan bentuk kepala karena ada juga janin yang tak
terbentuk tulang kepalanya.
6. Mengetahui adanya masalah kehamilan yang tak berkembang, atau
kehamilan dengan mola (hamil anggur)
7. Mengetahui keadaan rahim dan organ sekitarnya.
Pemeriksaan USG dalam Kehamilan
Pemeriksaan USG pada trimester II-III :
1. Pemeriksaan terhadap Janin
- Tanda kehidupan janin
- jumlah janin
- presentasi janin
- aktivitas janin
2. Pemeriksaan terhadap volume cairan amnion
3. Pemeriksaan terhadap plasenta dan tali pusat
- lokasi plasenta
- gambaran plasenta
- hubungannya dengan ostium uteri internum
154. Otot Dasar Panggul
Otot dasar panggul atau diafragma
pelvis terdiri dari otot-otot levator
ani dan otot koksigeus.
Otot-otot levator ani tersusun dari 3
macam otot yaitu pubococcygeus,
puborectalis, dan iliococcygeus.
Otot-otot ini penting untuk
menyokong organ visera pelvis
(vesika urinaria, intestin, dan uterus
pada wanita). Susunan otot ini juga
berperang dalam mempertahankan
fungsi sphincter uretra dan
sphincter anal.
155. Fetal Head Measurement
1. Situs/letak : Hub antara sumbu pjg janin dgn
sumbu panjag ibu.
Situs memanjang atau membujur
Situs melintang
Situs miring/oblique
2. Habitus/sikap : Hubungan antara letak bagian-bagian
janin satu thd yg lainnya. Sikap anak yang fisiologis ialah
badan anak dalam kyphose.
3. Presentasi : presentasi ialah apa yang menjadi bagian
yang terendah. Macam presentasi :
- Presentasi kepala, muka, bahu, bokong
4. Posisi adalah kedudukan salah satu bagian anak yang
tertentu yang terendah terhadap dinding perut ibu atau
jalan lahir.

156. Kehamilan Ektopik Terganggu


Kehamilan Ektopik Kehamilan yang terjadi di luar kavum uteri,
paling sering di tuba (90-95%)
Kehamilan ektopik terganggu telah terjadi ruptur tuba dan
memberikan gejala-gejala, antara lain :
Nyeri perut
Amenorrhea
Perdarahan per vaginam (dapat juga tidak)
Syok karena hipovolemia perdarahan (tergantung beratnya perdarahan)
Pemeriksaan :
Nyeri pada palpasi perut, perut tegang
Nyeri goyang portio
Urine b-hCG (+)
Kuldosentesis (+) : darah pada kavum douglas (warna merah
tua, tidak membeku setelah diambil
USG : tampak kehamilan di luar rahim
Diagnosis pasti : laparotomi/laparoskopi
Perdarahan pada Kehamilan Muda
Abortus Perdarahan dari uterus yang disertai dengan keluarnya sebagian atau
seluruh hasil konsepsi pada usia kehamilan < 20-24 minggu dan atau
Berat < 500gr.
Dapat disertai dengan mules, dapat/tidak disertai dengan pembukaan
serviks, dapat/tidak disertai dengan keluarnya jaringan

Mola Hidatidosa Kelainan dalam proses fertilisasi,hamil anggur, Gejala: amenorrhea,


perdarahan banyak, hyperemesis, tinggi fundus lebih besar dari usia
kehamilan, keluar jaringan berbentuk gelembung (seperti telur ikan)

KET Kehamilan di luar rahim, Gejala :amenorrhea, perdarahan (dapat juga


tidak), nyeri perut, biasanya disertai syok, nyeri goyang portio, darah
pada kavum douglas
ETIK, IKK DAN FORENSIK
157. Kriteria Justice
Kriteria
Memberlakukan sesuatu secara universal
Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan
Memberi kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama
Menghargai hak sehat pasien
Menghargai hak hukum pasien
Menghargai hak orang lain
Menjaga kelompok yang rentan
Tidak melakukan penyalahgunaan
Bijak dalam makro alokasi
Memberikan kontribusi yang relatif sama dengan kebutuhan pasien
Meminta partisipasi pasien sesuai kemampuannya
Kewajiban mendistribusikan keuntungan dan kerugian (biaya, beban, sanksi) secara adil
Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan kompeten
Tidak memberi beban berat secara tidak merata tanpa alasan tepat/sah
Menghormati hak populasi yang sama-sama rentan penyakit/gangguan kesehatan
Tidak membedakan pelayanan pasien atas dasar SARA, status social, dsb
158. KODEKI Pasal 4
Kewajiban dokter secara umum (KODEKI)
pasal 4 setiap dokter harus menghindarkan
diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri.
159. KODEKI Pasal 7
160. Calgary Cambridge
161. Calgary Cambridge
162. KODEKI Pasal 3
Pasal 3 Kode Etik Penjelasan
Kedokteran Perbuatan berikut dipandang bertentangan
Indonesia
dengan etik:
Dalam melakukan
pekerjaan Membuat ikatan atau menerima imbalan
kedokterannya, dari perusahaan farmasi/obat,
seorang dokter tidak perusahaan alat kesehatan/kedokteran
boleh dipengaruhi atau badan lain yang dapat
oleh sesuatu yang mempengaruhi pekerjaan dokter
mengakibatkan
Melibatkan diri secara langsung atau tidak
hilangnya kebebasan
dan kemandirian langsung untuk mempromosikan obat,
profesi alat, atau bahan lain guna kepentingan
dan keuntungan pribadi dokter

Sumpah Dokter
163. Rahasia pasien
Pasal 12 Kode Etik Kedokteran Indonesia
Setiap dokter wajib merahasiakan segala
sesuatu yang diketahuinya tentang seorang
pasien, bahkan juga setelah pasien itu
meninggal dunia

Undang-undang Praktik Kedokteran


No. 29 Tahun 2004
Undang-undang Praktik Kedokteran
No. 29 Tahun 2004
164. Rekam Medis
Dalam Pasal 47 ayat (1) UU Praktek Kedokteran bahwa
dokumen rekam medis milik dokter, doktek gigi, atau
sarana pelayanan kesehatan, sedangkan isi rekam
medis milik pasien.

Dalam Pasal 48 UU Praktek Kedokteran.


Ayat (1) setiap dokter atau dokter gigi dalam
melaksanakan praktek kedokteran wajib menyimpan
rahasia kedokteran;
Ayat (2) rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk
kepentingan kesehatan pasien, memenuhi permintaan
aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan
hukum, permintaan pasien sendiri, atau berdasarkan
ketentuan perundang undangan.
Peraturan Menteri Kesehatan no 36 th
2012 ttg Rahasia Kedokteran
165. Metode pengambilan kesimpulan
Logika: suatu dasar untuk memperoleh pengetahuan yang benar, sebab
tanpa logika penalaran tidak mungkin dilakukan, dan tanpa penalaran
pengetahuan tidak akan dibenarkan. Kegiatan penalaran tidak akan lepas
dari logika. Logika tidak bisa dihindarkan dalam proses hidup mencari
kebenaran. Dasar penalaran logika ada dua yaitu, penalaran logika deduktif
dan penalaran logika induktif.
Deduksi: kegiatan berpikir dengan kerangka pikir dari pernyataan yang
bersifat umum ditarik kearah kesimpulan yang lebih bersifat khusus, atau
penarikan kesimpulan dari dalil atau hukum menuju contoh-contoh.
Induksi: cara berpikir untuk menarik kesimpulan dari kasus khusus atau
contoh menuju kasus umum atau dalil atau hukum atau kesimpulan umum.
Verifikasi: salah satu cara pengujian hipotesis yang tujuan utamanya adalah
untuk menemukan teori-teori, prinsip-prinsip, generalisasi, dan hukum-
hukum
Empiris: salah satu aliran yang menekankan peranan pengalaman dalam
memperoleh pengetahuan serta pengalaman itu sendiri, dan mengecilkan
peranan akal.
166. Metode pengambilan sampel
Probability sampling Non-probability
Simple random sampling sampling
Systematic random Consecutive sampling
sampling Convenient sampling
Stratified random Pusposive sampling
sampling
Cluster ampling
Sampel probabilitas (random)
Each member of the population has a known non-
zero probability of being selected.

Multistage Sampling Complex form of cluster sampling. Instead of using all the
elements contained in the selected clusters, the researcher
randomly selects elements from each cluster. The technique is
used frequently when a complete list of all members of the
population does not exist and is inappropriate.
When population is small,
homogeneous & readily
available. All subsets of the
frame are given an equal
probability.

The frame organized into


separate "strata." Each stratum
is then sampled as an
independent sub-population,
out of which individual
elements can be randomly
selected
In this technique, the total
population is divided into these
groups (or clusters) and
a simple random sample of the
groups is selected (two stage)
Ex. Area
sampling or geographical
cluster sampling
167. Surveilans
Definisi:
Kegiatan pengamatan sistematis, aktif, terus menerus
terhadap timbulnya dan penyebaran penyakit
Tujuan:
Memperkirakan besarnya masalah
Memahami kejadian penyakit
Mendeteksi KLB atau epidemi
Mendokumentasikan distribusi dan penyebaran
penyakit
Menguji hipotesis tentang etiologi/penyebab
Jenis surveilans
Berdasarkan cara pelaksanaan
Surveilans aktif
Pengamatan kasus secara langsung ke lapangan
Hasil yang diperoleh lengkap dan jauh lebih baik
Dibutuhkan dana dan tenaga khusus
Surveilans pasif
Pengamatan kasus secara tida langsung, yaitu melalui laporan
Hasil yang diperoleh kurang engkap
Berdasarkan waktu pelaksanaan
Berkala
Per bagian yang dilaksaan terus menerus
Pada saat tertentu
Kegiatan surveilans
Langkah:
1. Merumuskan kejadian yang akan diamati
2. Mengumpulkan data secara sistematis
3. Menghitung data agar bermakna
4. Menganalisa data dan menarik kesimpulan
5. Menyebarluaskan informasi kepada pihak
yang memerlukan
6. Melakukan kegiatan pengendalian
168. Ukuran Epidemiologi
Rasio: nilai relatif yang dihasilkan dari perbandingan dua nilai
kuantitif yang pembilangnya bukan bagian dari penyebut
Contoh: Kejadian Luar Biasa(KLB) diare sebanyak 30 orang di
suatu daerah. 10 diantaranya adalah jenis kelamin pria. Maka
rasio pria terhadap wanita
adalah R=10/20=1/2
Proporsi: perbandingan dua nilai kuantitatif yang pembilangnya
merupakan bagian dari penyebut. Penyebaran proporsi adalah
suatu penyebaran persentasi yang meliputi proporsi dari jumlah
peristiwa-peristiwa dalam kelompok data yang mengenai
masing-masing kategori atau subkelompok dari kelompok itu.
Pada contoh di atas, proporsi pria terhadap perempuan adalah
P= 10/30=1/3
Rate: Rate atau angka merupakan proporsi dalam bentuk khusus
perbandingan antara pembilang dengan penyebut atau kejadian
dalam suatu populasi teterntu dengan jumlah penduduk dalam
populasi tersebut dalam batas waktu tertentu
169. Odds Ratio
Kasus Kontrol Jumlah
Faktor Ya a b a+b
Risiko Tidak c d c+d
a+c b+d a+b+c+d

Odds Ratio:
ad/bc
Case Control
Menganalisa faktor risiko
dengan menentukan dua
kelompok yang memiliki
perbedaan outcome
(penyakit), kemudian
dihubungkan dengan causal
attribute- nya
Keuntungan :
Membutuhkan sumber
daya, dana yang lebih
sedikit, serta waktu yang
lebih singkat. Good for rare
cases, long latent period,
ethical related cases
Kelemahan : provide less
evidence for causal
inference
Fletcher RH, Fletcher SW, Wagner EH. Clinical epidemiologythe essentials. 3rd ed. Baltimore: Williams & Wilkins, 1996
Perbandingan OR dan RR
Outcome

Exposure Cases Controls

Exposed 70 300 370

Not Exposed 30 700 730

100 1000 1100

OR = AD/BC = 5.44 RR= A/(A+B)


C/(C+D)
= 4.41 683
Perbedaan pernyataan hasil OR dan RR

OR = 5.44
Those with the disease are 5.44 times as likely to
have had the exposure compared to those without
the disease

RR = 4.41
Those with the exposure are 4.41 times as likely to
develop the disease compared to those without the
exposure
684
170. Ukuran dalam Epidemiologi
Insidens Rate (IR)
Insidens : jumlah kasus baru yang timbul pada suatu
periode waktu dalam populasi tertentu gambaran
tentang frekuensi penderita baru suatu penyakit yang
ditemukan pada suatu waktu tertentu di suatu kelompok
masyarakat
Contoh : Pada suatu daerah dengan jumlah penduduk tgl 1
Juli 2005 sebanyak 100.000 orang semua rentan terhadap
penyakit diare ditemukan laporan penderita baru sebagai
berikut bulan januari 50 orang, Maret 1000 rang, Juni
150 orang, September 10 orang dan Desember 90 orang

IR = ( 50+ 100+150+10 +90) /100.000 X 100 % = 0,4 %


Insidensi

optimized by optima
Budiarto, Eko.2003. Pengantar Epidemiologi.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Attack rate (AR)
Jumlah penderita baru suatu penyakit yang ditemukan
pada suatu saat dibandingkan dengan jumlah penduduk
yang mungkin terkena penyakit tersebut pada saat yang
sama dalam % atau permil.
Contoh: Dari 500 orang murid yang tercatat pada SD X
ternyata 100 orang tiba-tiba menderita muntaber
setelah makan nasi bungkus di kantin sekolah
AR = 100 / 500 X 100% = 20 %
AR hanya dignkan pada kelompok masyarakat terbatas
dan periode terbatas,misalnya KLB.
Prevalens rate
Gambaran tentang frekuensi penderita lama dan baru yang
ditemukan pada jangka waktu tertentu disekelompok masyarakat
tertentu.
Ada dua Prevalen:
Period Prevalence
Contoh : Pada suatu daerah penduduk pada 1 juli 2005 100.000
orang, dilaporkan keadaan penyakit A sbb: Januari 50 kasus lama dan
100 kasus baru, Maret 75 kasus lama dan 75 kasus baru, Juli 25 kasus
lama dan 75 kasus baru; September 50 kasus lama dan 50 kasus
baru, dan Desember 200 kasus lama dan 200 kasus baru.
Period Prevalens rate :
(50+100)+(75+75)+(25+75)+(50+50)+(200+200) /100.000 X 100 % =
0,9 %
Point Prevalence Rate
Jumlah penderita lama dan baru pada satu
saat, dibagi dengan jumlah penduduk saat
itu dalam persen atau permil.
Contoh: Satu sekolah dengan murid 100
orang, kemarin 5 orang menderita penyakit
campak, dan hari ini 5 orang lainnya
menderita penyakit campak
Point Prevalence rate = 10/100 x 1000 =
100
171. Fungsi Puskesmas
Pusat pembangunan kesehatan
Pusat pemberdayaan masyarakat
Membina peran serta masyarakat di wilayah
kerjanya dalam meningkatkan kemampuan
untuk hidup sehat.
Pusat pembangunanberwawasan kesehatan
Pusat pelayanan kesehatan strata pertama
Pelayanan kesehatan perorangan
Pelayanan kesehatan masyarakat
172. Mean
Nilai yang biasa digunakan untuk mewakili suatu
distribusi data adalah mean dan modus (disebut
nilai tengah/ central tendency)
Nilai mean: nilai yang baik dalam mewakili data
dan paling banyak dikenal dalam menyimpulkan
sekelompok data
Mean sangat dipengaruhi nilai ekstrim baik
ekstrim kecil maupun ekstrim besar
173. Nilai Varians
Nilai-nilai variasi adalah nilai yang menunjukkan
bagaimana bervariasinya data di dalam kelompok
data itu terhadap nilai rata-ratanya. Semakin
besar nilai variasi maka semakin bervariasi pula
data tersebut. Ada bermacam-macam nilai
variasi, yaitu:
Range
Rata-rata deviasi
Varians
Standar deviasi
Varians
Rata-rata perbedaan antara mean dengan nilai
masing-masing observasi
Untuk ragam data berkelompok, nilai ragam
dapat ditentukan dengan rumus :
Dengan :
S2 = ragam atau varians
n = banyaknya data
k = banyaknya kelas ke-i
fi = frekuensi kelas ke-i
xi = data ke-i
=rataan hitung
174. Kriteria KLB
175. Uji Klinis
Efficacy: adalah respon maksimal yang dihasilkan suatu obat.
Efikasi tergantung pada jumlah kompleks obat-reseptor yang
terbentuk dan efisiensi reseptor yang diaktifkan dalam
menghasilkan suatu kerja seluler
Efektivitas: untuk menilai efektivitas perlu diperhatikan
seberapa baik intervensi tersebut, kemampuannya untuk
menyaring dan mendiagnosis penyakit secara akurat,
intervensi tersebut memberi keuntungan bagi masyarakat
Efisiensi: suatu ukuran yang menunjukkan hubungan antara
hasil-hasil yang dicapai oleh suatu intervensi atau program
terhadap sumber-sumber yang dikeluarkan
Reliabilitas: dapat diandalkan, dalam proses pengukuran
berarti hasil pengukuran akan sama atau hampir sama
apabila dilakukan berulang kali
Regulasi Perijinan Obat Baru
Perijinan obat baru harus melewati uji praklinis (hewan coba) dan uji
klinis sebagai berikut :

Fase I. Uji fase I dilakukan terhadap probandus sehat, kecuali untuk


sitotoksik. Uji ini bertujuan untuk menentukan metabolisme obat,
mencari rentang dosis aman, mengidentifikasi reaksi toksik.
Fase II. Uji fase II dilakukan terhadap sejumlah kecil pasien. Uji ini
bertujuan untuk mendapatkan lebih banyak informasi
farmakokinetika, efek samping relatif, informasi efikasi obat,
penentuan dosis harian dan regimen.
Fase III. Uji fase III dilakukan terhadap sejumlah besar pasien, 500-
3000. Uji ini bertujuan untuk evaluasi efikasi dan toksisitas obat,
umumnya desain penelitian yang digunakan adalah randomized
clinical trial.
176. Kasus kontrol- OR

DESAIN STUDI

Prof. dr. Bhisma Murti, MPH, MSc, PhD


Institute of Health Economic and Policy
Studies (IHEPS),
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat,
Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas optimized by optima
Maret
Odd Ratio

optimized by optima
177. Kasus-kontrol
Desain Penelitian Deskripsi
Cross sectional Peneliti melakukan observasi atau pengukuran
variabel pada satu saat tertentu; tiap subjek hanya
diobservasi satu kali saja dan pengukuran variabel
subjek dilakukan pada saat pemeriksaan tersebut.
Case-control Pengukuran variabel bebas dan tergantung tidak
dilakukan pada satu saat yang sama
Dilakukan identifikasi subyek yang telah terkena
penyakit (efek), kemudian ditelusuri secara
retrospektif ada atau tidaknya faktor risiko yang
diduga berperan
Subjek dibagi menjadi dua kelompok, yaitu
kelompok kasus (yang terkena penyakit) dan
kelompok kontrol (yang tidak menderita
penyakit)
Desain Penelitian Deskripsi
Cohort Dilakukan identifikasi terlebih dahulu adanya
kausa, kemudian subjek diikuti secara prospektif
selama periode tertentu untuk mencari ada atau
tidaknya efek
Clinical trial Merupakan studi intervensi, yaitu suatu penelitian
eksperimental terencana yang dilakukan pada
manusia. Peneliti memberikan perlakukan pada
subyek penelitian, kemudian efek perlakuan
diukur dan dianalisis.
Deskriptif Penelitian yang bertujuan melakukan deskripsi
mengenai fenomena yang ditemukan. Hasil
penelitian disajikan apa adanya, peneliti tidak
menganalisis mengapa fenomena tersebut dapat
terjadi
178. Odds Ratio
Kasus Kontrol Jumlah
Faktor Ya a b a+b
Risiko Tidak c d c+d
a+c b+d a+b+c+d

Odds Ratio:
ad/bc
179. Teknik pengumpulan data
Teknik Keterangan
Wawancara proses komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan informasi dengan cara
tanya jawab antara peneliti dengan informan atau subjek penelitian

Teknik Keterangan
Observasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data
partisipasi penelitian melalui pengamatan dan penginderaan di mana peneliti terlibat
dalam keseharian informan
observasi yaitu peneliti melakukan penelitian dengan cara tidak melibatkan dirinya dalam
nonpartisipan interaksi dengan objek penelitian. Sehingga, peneliti tidak memposisikan
dirinya sebagai anggota kelompok yang diteliti
Observasi tidak ialah pengamatan yang dilakukan tanpa menggunakan pedoman observasi,
terstruktur sehingga peneliti mengembangkan pengamatannya berdasarkan
perkembangan yang terjadi di lapangan
Observasi ialah pengamatan yang dilakukan oleh sekelompok tim peneliti terhadap
kelompok sebuah isu yang diangkat menjadi objek penelitian

Teknik Keterangan
Focus Group yaitu upaya menemukan makna sebuah isu oleh sekelompok orang yang
Discussion dianggap mewakili sejumlah publik yang berbeda lewat diskusi untuk
menghindari diri pemaknaan yang salah oleh seorang peneliti
optimized
Hariwijaya, M, Metodologi dan teknik penulisan skripsi, tesis,bydan
optima
disertasi, elMatera Publishing, Yogyakarta, 2007
Observasi terbuka vs Tertutup
Observasi terbuka yaitu melakukan observasi
sistematik dengan memberitahu dan meminta
izin terlebih dahulu pada subyek yang diamati.
Sedangkan observasi tertutup dilakukan tanpa
meminta izin dan memberitahu terlebih dahulu.
Observasi tertutup atau terselubung akan
memungkinkan peneliti menangkap kejadian
yang sesungguhnya karena pada umumnya
individu yang tidak menyadari bahwa ia diamati
akan bertingkah laku biasa.
180. Parameter mortalitas
crude death rate = kematian dalam suatu periode
cause-specific death rate
= kematian akibat kejadian tertentu (dalam suatu periode)
case fatality rate
= [kematian akibat penyakit / populasi penderita penyakit] x100%
proportional mortality rate
= kematian akibat kejadian tertentu dalam suatu periode /
kematian (apapun penyebabnya) pada periode tersebut
standardized death rate = rerata kematian pada populasi sesuai
distribusi usia standar (di suatu kelompok usia)

Referensi: Centers for Disease Control and Prevention. Principles of epidemiology in public health practice, 3 rd ed.
181. Jenis Autopsi
Otopsi Anatomi, dilakukan untuk keperluan pendidikan
mahasiswa fakultas kedokteran. Bahan yang dipakai adalah
mayat yang dikirim ke rumah sakit yang setelah disimpan 2 x 24
jam di laboratorium ilmu kedokteran kehakiman tidak ada ahli
waris yang mengakuinya. Setelah diawetkan di laboratorium
anatomi, mayat disimpan sekurang-kurangnya satu tahun
sebelum digunakan untuk praktikum anatomi.
Otopsi Klinik, dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga
terjadi akibat suatu penyakit. Tujuannya untuk menentukan
penyebab kematian yang pasti, menganalisa kesesuaian antara
diagnosis klinis dan diagnosis postmortem, pathogenesis
penyakit, dan sebagainya. Otopsi klinis dilakukan dengan
persetujuan tertulis ahli waris, ada kalanya ahli waris sendiri
yang memintanya.
Otopsi Forensik/Medikolegal, dilakukan terhadap mayat seseorang
yang diduga meninggal akibat suatu sebab yang tidak wajar seperti
pada kasus kecelakaan, pembunuhan, maupun bunuh diri. Otopsi
ini dilakukan atas permintaan penyidik sehubungan dengan adanya
penyidikan suatu perkara. Tujuan dari otopsi medikolegal adalah :
Untuk memastikan identitas seseorang yang tidak diketahui atau
belum jelas.
Untuk menentukan sebab pasti kematian, mekanisme kematian,
dan saat kematian.
Untuk mengumpulkan dan memeriksa tanda bukti untuk
penentuan identitas benda penyebab dan pelaku kejahatan.
Membuat laporan tertulis yang objektif berdasarkan fakta dalam
bentuk visum et repertum.
182. Sifat Saksi
Saksi menurut sifatnya dapat dibagi atas:
Saksi A Charge (memberatkan terdakwa): saksi
dalam perkara pidana yang dipilih dan diajukan
oleh penuntut umum, dikarenakan kesaksiannya
yang memberatkan terdakwa
Saksi A De Charge (menguntungkan terdakwa):
saksi yang dipilih atau diajukan oleh penuntut
umum atau terdakwa atau penasihat hukum,
yang sifatnya meringankan terdakwa
183. Permintaan Visum et Repertum
VeR : keterangan yang dibuat oleh dokter atas permintaan
penyidik yang berwenang, mengenai hasil pemeriksaan
medik, berdasarkan keilmuannya dan dibawah sumpah, untuk
kepentingan peradilan
Pasal 133 KUHAP:
Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang
korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena
peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan
permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau
dokter dan atau ahli lainnya
Permintaan bantuan kepada dokter sebagai ahli hanya dapat
diajukan secara tertulis dengan menyebutkan secara jelas
jenis pemeriksaan yang dikehendaki
Pasal 7(1) butir h dan pasal 11 KUHAP : yang berwenang
meminta keterangan ahli penyidik & penyidik pembantu
Visum et Repertum
Pada korban yang diduga korban tindak pidana, dilakukan
tindakan perawatan/pengobatan dan dibuatkan catatan
medik lengkap
Penegak hukum yang menangani tindak pidana yang
korbannya masih hidup segera mengajukan permintaan
VeR atau korban tindak pidana harus segera melaporkan
tindak pidana yang dialami ke penegak hukum
Jika permintaan pembuatan Visum et Repertum diajukan
ditengah masa perawatan atau setelah sembuh, maka
substansi keterangan yang boleh dituangkan ke dalam
Visum et Repertum hanyalah mengenai fakta fakta sejak
diterimanya surat tersebut. Fakta-fakta sebelumnya akan
menjadi rahasia kedokteran yang hanya boleh
diungkapkan kepada hakim di sidang pengadilan
Visum et Repertum untuk Perlukaan
Tujuan pemeriksaan forensik pada korban hidup :
Untuk mengetahui penyebab luka dan derajat parahnya
luka
Dalam pemberitaan disebutkan : Keadaan umum
korban, luka-luka dengan uraian letak, jenis, sifat,
ukuran, serta tindakan medik yang dilakukan, riwayat
perjalanan penyakit, dan keadaan akhir saat perawatan
selesai.
Dalam kesimpulan disebutkan : luka-luka atau cedera
yang ditemukan, jenis benda penyebab, serta derajat
perlukaan. Tidak dituliskan pendapat bagaimana
terjadinya luka dan oleh siapa.
184. Penyebab kematian
Autopsi lebam mayat merah gelap, paru & hati
merah gelap, ada massa putih di jantung 2x3
cm.
Penyebab kematian: trombus putih di jantung.
Mekanisme kematian: asfiksia akibat
sumbatan di jantung.
Cara kematian: wajar.
184.
185. Keracunan
Mekanisme keracunan ada tiga:
Accidental poisoning: terjadi karena kesalahan, kecerobohan, atau situasi
yang tidak diduga pada suatu lingkungan. Oleh karena itu, jenis keracunan ini
harus dicegah, terutama di tempat kerja. Keracunan karena penanganan
medis atau paramedis, atau keracunan iatrogenik, juga termasuk dalam
kategori ini.
Experimental poisoning: sebagai contoh, self-medication atau percobaan
dengan obat yang dijual sebagai pil pesta seperti ekstasi (MDMA).
Termasuk dalam kategori ini adalah juvenile poisoning, pada sebagian besar
kasus. Sebagai contoh, kejadian keracunan yang terjadi karena balita atau
bayi bermain-main dengan lingkungan dengan meletakkan benda-benda
tertentu di mulut mereka. Remaja juga sering bereksperimen dengan racun
berbahaya seperti nikotin, alkohol, mariyuana, dan pil.
Intentional poisoning: keracunan terjadi karena disengaja. Keracunan
tersebut dapat terjadi karena kemauan orang yang diracuni atau karena
permintaan pribadi, seperti pada bunuh diri atau euthanasia. Sering juga
keracunan menjatuhkan korban, seperti yang terjadi pada pembunuhan atau
sindrom munchhausen.
186. Tanda Pasti Kematian
Lebam mayat (livo mortis)
Eritrosit menempati tempat terbawah akibat gravitasi
Kaku mayat (rigor mortis)
ATP untuk menggerakkan otot habis
Penurunan suhu tubuh (algor mortis)
Panas tubuh berpindah ke benda yang lebih dingin
Pembusukan (dekomposisi)
Kerja digestif enzim pascamati (autolisis) & bakteri masuk ke jaringan
Lilin mayat (adiposera)
Hidrolisis lemak & hidrogenisasi asam lemak jenuh pascamati
bercampur dengan sisa-sisa otot & jaringan ikat.
Mumifikasi
Pengeringan jaringan akibat dehidrasi/penguapan air yang cepat
Lebam mayat
Mulai tampak 20-30 menit pascamati. Well developed within the
next 3 to 4 hours
Lengkap & menetap setelah 8-12 jam, sebelumnya masih dapat
memucat pada penekanan dan berpindah
Kaku mayat:
Mulai tampak 2 jam pascamati, dimulai dari bagian luar
tubuh/otot-otot kecil (sentripetal)
Lengkap setelah 12 jam & dipertahankan selama 12 jam, lalu
menghilang dalam urutan yang sama
Pembusukan:
Tampak kehijauan di perut kanan bawah 24 jam pasca mati
Larva lalat dijumpai 36-48 jam pascamati
187. Waktu pembusukan
Pembusukan akan timbul lebih cepat bila suhu
keliling optimal, kelembaban dan udara yang
cukup, banyak bakteri pembusuk, tubuh gemuk
atau menderita penyakit infeksi dan sepsis.
Media tempat mayat juga berperan. Mayat yang
terdapat di udara akan lebih cepat membusuk
dibandingkan dengan yang terdapat dalam air atau
dalam tanah.
Perbandingan kecepatan pembusukan mayat yang
berada dalam tanah : air : udara adalah 1: 2 : 8.
188. Asfiksia Mekanik
Asfiksia mekanik : Mati lemas yang terjadi bila
udara pernapasan terhalang oleh berbagai
kekerasan (yang bersifat mekanik)
Meliputi : Pembekapan, penyumbatan,
pencekikan, penjeratan, gantung diri, serta
penekanan pada dada
Tanda Kematian akibat Asfiksia
Sianosis pada bibir, ujung-ujung jari dan kuku
Lebam mayat yang gelap dan luas
Perbendungan pada bola mata
Busa halus pada lubang hidung, mulut, dan saluran
pernapasan, perbendungan pada alat-alat dalam
Bintik perdarahan (Tardieus spot) pada mukosa usu
halus, epikardium, subpleura visceralis
Perbendungan sistemik maupun pulmoner dan dilatasi
jantung kanan (lorgan lebih berat, gelap, pada
pengirisan banyak mengeluarkan darah)
Kasus Gantung (Hanging)
Bila jerat kecil dan keras : Hambatan total arteri, muka
tampak pucat, tidak terdapat peteki
Bila jerat lebar dan lunak : Hambatan terjadi pada saluran
pernapasan dan pada aliran vena, sehingga tampak
perbendungan pada daerah sebelah atas ikatan
Jejas Jerat :
Relatif lebih tinggi pada leher, lebih meninggi di bagian simpul,
kulit mencekung ke dalam sesuai dengan bahan penjerat
Pada tepi jejas, terdapat perdarahan (resapan darah), pada
jaringan bawah kulit dan otot terdapat memar jaringan (Tanda
Intravital)
Distribusi lebam mayat mengarah ke bawah yaitu pada kaki,
tangan, dan genitalia eksterna.
Tanda Intravital
Reaksi tubuh yang masih hidup terhadap
trauma (Jika ditemukan menyatakan bahwa
korban masih hidup saat terjadinya trauma)
Tanda Intravital :
Perdarahan berupa ekimosis, peteki;
Emboli lemak atau udara (pada patah tulang dan
trauma tumpul jaringan lemak)
Kadar laktat darah (Cerminan reaksi adrenergik)
Reaksi radang (Edema, Ekstravasasi cairan)
THT
189. Vocal Cord Anatomy

Supraglotis: Ruang
laryngeal diatas
plika ventricularis.
Glotis: antara
plika ventricularis
& plika vocalis
Subglotis: ruang
laryngeal dibawah
plica vocalis
Grays anatomy for students. 2nd ed. Saunders.
189. Nodul Pita Suara/Vocal nodule
Kelainan ini biasanya disebabkan oleh
penggunaan suara dalam waktu lama, seperti
pada seorang guru, penyanyi dan sebagainaya.
Keluhan: suara parau, batuk.
Pada pemeriksaan fisik: nodul pita suara, sebesar
akcang hijau berwarna keputihan. Predileksi di
sepertiga anterior pita suara dan sepertiga
medial. Nodul biasanya bilateral.
Pengobatan: istirahat bicara dan voice therapy.
Tindakan bedah mikro dilakukan bida dicurigai
adanya keganansan atau lesi fibrotik.
Polip pita suara: lesi bertangkai apda seprtiga
anterior, sepertiga tengah atau seluruh pita suara.
Pasien biasa mengeluhkan suara parau.
Kista pita suara: kista retensi kelenjar minor
laring, terbentuk akibat tersumbatnya kelenjar
tersebut Faktor risiko: iritasi kronis, GERD dan
infeksi.
Keganasan laring: Keganasan pada daerah laring,
faktor risiko berupa perokok, peminum alkohol
dan terpajan sinar radioaktif.
Berbagai Kelainan Laryngeal
Diagnosis Characteristic
Polip pita suara Penyebab: inflamasi kronik. Polip bertangkai, unilateral. Di
sepertiga anterior/medial/seluruhnya. Dapat terjadi di segala
usia, umumnya dewasa. Gejala: parau. Jenis: polip mukoid
(keabu-abuan & jernih) & polip angiomatosa (merah tua).
Papilloma laring Tumbuh pada pita suara anterior atau subglottik. Seperti buah
murbei, putih kelabu/kemerahan. Sangat rapuh, tidak
berdarah, & sering rekuren.
Gejala: parau, kadang batuk, sesak napas. Terapi: ekstirpasi.
Carcinoma Faktor risiko: merokok.
Gejala: serak, dispnea, stridor, batuk (jarang pada tumor
glotik), hemoptisis (tumor glotik & supraglotik), pembesaran
KGB leher. Laringoskopi: tampak rapuh, nodular, ulseratif atau
perubahan warna mukosa.
Nodul pita suara Penyebab: penyalahgunaan suara dalam waktu lama. Suara
parau. Laringoskopi: nodul kecil berwarna keputihan,
umumnya bilateral, di sepertiga anterior/medial.
Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
Papillomatosis

Vocal nodules
Vocal cord polyp

Diagnostic handbook of otorhinolaryngology.


190. Benda Asing Yang Tersedak
(Swallowed Foreign bodies)
Gejala: Seperti tercekik, batuk, disfagia,
odinofagia dan hypersalivasi.
Pada jangka waktu yang panjang, benda
asing dapat menyebabkan perkembangan
jaringan granulasi atau peradangan
periesofageal.
Radiologis: PA & lateral cervical esophagus
& CXR.
Radioluscent FB may be known from
inflammation signs

Terapi: esophagoscopi dengan forceps. Jika


gagal: cervicotomy atau thoracotomy.

Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.


Grays anatomy for students. 1st ed. Saunders; 2005.
191. Mastoiditis
Postauricular abscess merupakan
salah satu komplikasi dari
mastoiditis
Infeksi menjalar dari mastoid ke
ruang subperiosteal.
Pada keadaan tahap akhir, infeksi
jaringan lunak berakhir kepada
nekrosis jaringan dan
pembentukan abses. Sekitar
jaringan lunak akan menebal,
peradangan, eritema, dan
fluktuasi.
Ketika mastoditis telah menjadi
abses, eksisi dan drainase dengan
mastoidektomi diindikasikan.

1) Cummings otolaryngology head & neck surgery.


192. Rhinitis alergi
Rhinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang
disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi
yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan
alergen yang sama serta dilepaskannya suatu
mediator kimia ketika terjadi paparan berulang.
Klasifikasi rhinitis alergi:
Rhinitis alergi musiman (seasonal): hanya dikenal di
negara dengan 4 musim, alergennya tepungsari dan
spora jamur
Rhinitis sepanjang tahun(perenial): terjadi sepanjang
tahun baik intermitten atau terus menerus.
Penyebabnya adalah alergen inhalan.

Buku ajar ilmu THTK&L FKUI edisi keenam


Keluhan: serangan bersin berulang, rinore,
hidung tersumbat, mata lakrimasi.
Pemeriksaan fisik:
Pada rhinoskopi anterior: mukosa edema, basah,
pucat/livid
Allergic shiner: bayangan gelap dibawah mata akibat
stasis vena
Allergic salute: anak menggosok-gosok hidung dengan
punggung tangan karena gatal
Allergic crease: penggosokan hidung berulang akan
menyebabkan timbulnya garis di dorsum nasi
sepertiga bawah.
Pengobatan rhinitis alergi terdiri dari:
Hindari faktor pencetus
Medikamentosa (antihistamin H1, oral dekongestan,
kortikosteroid topikal, sodium kromoglikat)
Operatif konkotomi (pemotongan sebagian konka
inferior) bila konka inferior hipertrofi berat.
Imunoterapi dilakukan pada kasus alergi inhalan
yang sudah tidak responsif dengan terapi lain. Tujuan
imunoterapi adalah pembentukan IgG blocking
antibody dan penurunan IgE.
Rhinitis vasomotor: Suatu keadaan idiopatik yang
didiagnosis tanpa adanya infeksi, alergi, eosinofilia,
perubahan hormonal, dan pajanan obat. Pencetus: asap
rokok, bau menyengat, parfum. Hidung tersumbat
bergantian kiri dan kanan.
Rhinitis medikamentosa: kelainan hidung yang disebabkan
oleh penggunaan vasokonstriktor topikal dalam waktu lama
dan berlebihan (drug abuse)
Rhinitis atrofi: infeksi hidung kronik yang ditandai adanya
atrofi progresif mukosa dan tulang konka.
Rhinitis akut: umumnya disebabkan oleh rhinovirus, sekret
srosa, demam, sakit kepala, mukosa bengkak dan merah.
193. Head & Facial Trauma
193. Le Fort

Le Fort 1 (horizontal): maxila


Le Fort 2 (piramidal): masila, os nasal, dan aspek
medial orbita
Le Fort 3: disosiasi craniofasial yang melibatkan
arkus zigomatik
Head & Facial Trauma
Maxillary (Le Fort) fractures
194. Otosklerosis
Otosclerosis: spongiosis dari tulang stapes tulang stapes kaku
tidak dapat menghantarkan suara ke labirin
Dalam praktik, otosklerosis lebih sering etrjadi apda wanita
daripada pria, dengan ratio 2:1. Kebanyakan pasien bergejala pada
umur 20 dan 45.
Tanda dan gejala:
Penurunan pendengaran bilateral namun asimetrik
Tinnitus
Paracusis Willisii: mendengar lebih baik pada keadaan berisik
Schwarte sign: Membran timpani merah karena vasodilatasi dari
pembuluh darah promontium.
Eustachius tube intak, tidak ada riwayat trauma atau penyakit telinga.

Penanganan: Stapedectomy atau stapedomy; mengganti stapes


dengan prosthesis.
195.Vertigo perifer VS Sentral
Gejala Perifer Sentral
Vertigo Onset Mendadak Insidious
Kualitas Berputar Disequilibrium
intensitas Berat Ringan sampai sedang
Munculnya Episodik Konstan
Durasi Detik, menit, jam atau hari Minggu atau lebih
Eksaserbasi Sedang sampai berat Ringan
dengan pergerakan kepala
Mual dan muntah Berat Ringan
Imbalance Ringan Sedang
Tekanan atau nyeri kepala Kadang-kadang Tidak ada
Hilang pendengaran Sering Jarang
Tinitus Sering Jarang
Gejala neurologis Jarang Sering
Vertigo perifer
196. Prebiaskusis
Prebiaskusis adalah tuli sensorineural frekuensi
tinggi, umumnya dimulai pada usia 65 tahun.
Etiologi: prebiaskusis merupakan penyakit
degeneratif dan diduga memiliki hubungan
dengan faktor herediter, pola makan dan
metabolisme.
Pada pemeriksaan dapat dijumpai:
atrofi dan degenerasi sel-sel rambut penunjang organ
corti.
Berkurangnya jumlah dan ukuran sel ganglion dan
saraf

Buku ajar ilmu THTK&L FKUI edisi keenam


Gejala klinis: berkurangnya pendengaran secara
perlahan dan progresif, simetris, tinnitus, sulit
mendengar percakapan di tempat bising (cocktail
party deafness)
Diagnosis: pemeriksaan otoskopi terlihat
membran timpani suram, mobilitas berkurang,
tes penala terlihat tuli sensorineural.
Tatalaksana: rehabilitasi berupa pemasangan alat
bantu dengar, latihan membaca ujaran (speech
reading), latihan mendengar (auditory training)
197. Serumen
Serumen adalah produksi kelenjar sebasea,
kelenjar seruminosa, epitel kulit yang terlepas
dan partikel debu. Biasanya ditemukan pada
sepertiga liang telinga bagian depan.
Konsistensi serumen bisa lunak dan keras,
dipengaruhi oleh faktor keturunan, iklim, usia dan
keadaan lingkungan.
Gumpalan serumen (sermen plug) dapat
menyebabkan gangguan berupa tuli konduktif.
Serumen plug dapat terjadi ketika telinga masuk
air (mandi, berenang) dan menyebabkan
serumen mengembang sehingga menimbulkan
gangguan pendengaran dan rasa tertekan pada
telinga.
Pengobatan:
Serumen yang lembek: dapat langsung dibersihkan
dengan kapas
Serumen yang keras dapat dikeluarkan dengan
pengait atau kuret. Namun apabila kondisinya keras
dapat dicairkan dengan tetes karbogliserin 10%
selama tiga hari.
198-199. Otomikosis
Otomikosis adalah infeksi jamur di telinga
tengah dipermudah oleh kelembaban yang
tinggi di daerah tersebut
Etiologi: Pitysporum, Aspergillus, Candida
albicans
Gejala klinis: rasa gatal dan rasa penuh di telinga,
kadang tanpa keluhan.
Pengobatan: membersihkan liang telinga, asam
asetat 2% & dalam alkohol, povidon iodin 5%.
Antijamur topikal yang mengandung nistatin dan
klotrimazol
200. Fistel preaurikular
Merupakan sebuah kelainan herediter dimana
ditemukan sebuah fistula dapat ditemukan di depan
tragus. Ukurannya biasanya seujung pensil.
Gejala klinis: keluar cairan dari fistula (sekret kelenjar
sebasea), akibat komplikasi berupa obstruksi dari
fistula (pioderma dan selulitis)
Penatalaksanaan: Jika tidak ada keluhan tidak
diperlukan tindakan operasi. Operasi dapat dilakukan
bila terdapat infeksi atau keluar sekret berkepanjangan.
Salah satu komplikasi kista preaurikular adalah abses.