Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Mesin pendingin atau refrigerasi adalah sebuah alat siklus yang prinsip
kerjanya hampir sama dengan mesin kalor yang menggunakan fluida kerja berupa
refrigeran. Siklus refrigerasi yang paling banyak dipakai adalah daur refrigerasi
kompresi uap yang melibatkan empat komponen dasar yaitu : kompresor,
kondensor, katup ekspansi dan evaporator. Tujuan dari mesin pendingin adalah
untuk menjaga ruangan tetap dingin dengan menyerap panas dari ruang
tersebut.Salah satu aplikasi yang menggunakan prinsip mesin pendingin adalah
AC.
Sehingga pengetahuan tentang prinsip kerja mesin pendingin dan
karakteristik yang dimiliki oleh mesin pendingin sangat penting untuk diketahui
oleh para mahasiswa karena penerapannya sangatlah luas dalam kehidupan sehari-
hari maupun dalam dunia industri
1.2. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui fungsi mesin pendingin.
2. Untuk mengetahui proses kerja mesin pendingin.
3. Untuk mengetahui jenis mesin pendingin.
4. Untuk mengetahui komponen mesin pendingin.
5. Untuk mengetahui penerapan dan perhitungan matematis mesin
pendingin.

1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Fungsi Mesin Pendingin
Mesin pendingin adalah suatu alat yang digunakan untuk memindahkan
panas dari dalam ruangan ke luar ruangan untuk menjadikan temperatur
benda/ruangan tersebut lebih rendah dari temperatur lingkungannya sehingga
menghasilkan suhu/temperatur dingin. Sesuai dengan konsep kekekalan energi,
panas tidak dapat dimusnahkan tetapi dapat dipindahkan. Sehingga proses kerja
mesin pendingin selalu berhubungan dengan proses-proses aliran panas dan
perpindahan panas.
Sebelum menentukan mesin pendingin, terlebih dahulu ditentukan
perhitungan beban pendinginan. Sebelum melakukan perhitungan beban
pendinginan pada suatu ruangan yang akan dikondisikan, data-data pendukung
harus dikumpulkan. Data yang harus dimiliki sebelum melakukan perhitungan
adalah lokasi bangunan dan arahnya, konstruksi dari bangunan, kondisi di luar
gedung, kondisi design di dalam gedung, jadwal penghuni di dalam gedung,
jumlah lampu dan peralatan listrik yang dipasang di dalam gedung, jadwal
masuknya/beroperasinya peralatan-peralatan di dalam gedung, serta kebocoran
udara (infiltrasi) dan penambahan udara (ventilasi). Informasi-informasi ini akan
digunakan sebagai parameter pada perhitungan dan atau untuk mencari parameter-
parameter tambahan yang akan digunakan dalam perhitungan beban pendingin.
2.2. Proses Kerja Mesin Pendingin
Proses kerjanya adalah penguapan dan pengembunan. Untuk mendapatkan
penguapan diperlukan gas (udara) yang mencapai temperatur tertentu (panas).
Setelah udara tersebut panas diubah agar kehilangan panas, sehingga terjadi
penguapan lalu terjadi pengembunan sehingga udara membentuk titik titik
embun dan akhirnya mencari, maka timbulah suhu di dalam temperatur rendah
(dingin).
Refrigerasi merupakan suatu proses penarikan kalor dari suatu benda /
ruangan ke lingkungan sehingga temperatur benda/ruangan tersebut lebih rendah
dari temperatur lingkungannya.

2
Proses kerja mesin pendingin memperlihatkan apa yang terjadi atas panas
setelah dikeluarkan dari udara oleh refrigeran di dalam koil (evaporator). Siklus
ini didasari oleh dua prinsip, yaitu saat refrigeran cair berubah menjadi uap, maka
refrigeran cair itu mengambil atau menyerap sejumlah panas dan saat titik didih
suatu cairan dapat diubah dengan jalan mengubah tekanan yang bekerja padanya.
Hal ini sama artinya bahwa temperatur suatu cairan dapat ditingkatkan dengan
jalan menaikan tekanannya, begitu juga sebaliknya.
Proses kerja mesin pendingin secara umum adalah sebagai berikut : kompressor
melepaskan refrigerant berbentuk gas bertemperatur tinggi dan bertekanan tinggi
karena hasil kompresi pada kompressor saat langkah pengeluaran (Discharge
stroke). Refrigerant ini mengalir ke kondensor. Di kondensor, uap refrigeran
bertekanan dan bersuhu tinggi diembunkan, Panas dilepas ke lingkungan, dan
terjadi perubahan fase refrigeran dari uap ke cair. Dari kondensor dihasilkan
refrigeran cair bertekanan tinggi dan bersuhu rendah. Tekanan tinggi refrigeran
cair diturunkan dengan menggunakan katup cekik (katup ekspansi) dan dihasilkan
refrigeran cair bertekanan dan bersuhu rendah dengan bentuk spray (kabut) yang
selanjutnya dialirkan ke evaporator. Di evaporator, refrigeran cair mengambil
panas dari lingkungan yang akan didinginkan dan menguap sehingga terjadi uap
refrigeran bertekanan rendah.

Refrigeration Cycle

3
2.3. Jenis Mesin Pendingin
Pada dasarnya mesin pendingin dibagi menjadi dua, yaitu mesin pendingin
dengan sistem refrigerasi mekanik dan non mekanik. Sistem refrigerasi mekanik
merupakan sistem refrigerasi yang menggunakan mesin-mesin penggerak atau dan
alat mekanik lain dalam menjalankan siklusnya, sedangkan sistem refigerasi non
mekanik adalah sistem refigerasi yang tidak memerlukan mesin-mesin penggerak
seperti kompresor dalam menjalankan siklusnya. Sistem refrigerasi non mekanik
digolongkan menjadi Siklus Kompresi Uap (SKU), refrigerasi siklus udara,
kriogenik/refrigerasi temperatur ultra rendah, dan siklus sterling. Sedangkan
sistem refrigerasi mekanik digolongkan menjadi refrigerasi termoelektrik,
refrigerasi siklus absorbsi, refrigerasi steam jet, refrigerasi magnetik, dan heat pip.
A. Sistem Kompresi Uap (Work Operated)
Dari sekian banyak jenis-jenis mesin pendingin, yang paling umum
digunakan adalah mesin pendingin dengan sistem kompresi uap. Komponen
utama dari sebuah siklus kompresi uap adalah kompresor, evaporator, kondensor
dan katup expansi(throttling device).

Alur Diagram

4
Temperatur-Entropi Diagram
1) Proses kompresi (1-2)
Proses ini dilakukan oleh kompresor dan berlangsung secara isentropik.
Kondisi awal refrigerant pada saat masuk ke dalam kompresor adalah uap
jenuh bertekanan rendah, setelah mengalami kompresi refrigerant akan
menjadi uap bertekanan tinggi. Karena proses ini berlangsung secara
isentropik, maka temperatur ke luar kompresor pun meningkat. Besarnya
kerja kompresi per satuan massa refrigeran dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan:
w = h1 h2 ..(2.1)
Dimana w = besarnya kerja kompresor (kJ/kg), h1 = entalpi refrigeran
saat masuk kompresor (kJ/kg), dan h2 = entalpi refrigeran saat keluar
kompresor (kJ/kg).
2) Proses kondensasi (2-3)
Proses ini berlangsung didalam kondensor. Refrigeran yang bertekanan
tinggi dan bertemperatur tinggi yang berasal dari kompresor akan

5
membuang kalor sehingga fasanya berubah menjadi cair. Hal ini berarti
bahwa di dalam kondensor terjadi pertukaran kalor antara refrigeran dengan
lingkungannya (udara), sehingga panas berpindah dari refrigeran ke udara
pendingin yang menyebabkan uap refrigeran mengembun menjadi cair.
Besar panas per satuan massa refrigeran yang dilepaskan di kondensor
dinyatakan sebagai:
QH = h2 h3 ..(2.2)
dimana QH = besarnya panas dilepas di kondensor (kJ/kg), h2 = entalpi
refrigeran saat masuk kondensor (kJ/kg), dan h3 = entalpi refrigeran saat
keluar kondensor (kJ/kg).
3) Proses expansi (3-4)
Proses expansi ini berlangsung secara isoentalpi. Hal ini berarti tidak
terjadi perubahan entalpi tetapi terjadi drop tekanan dan penurunan
temperatur, atau dapat dituliskan dengan:
h3 = h4 .(2.3)
Proses penurunan tekanan terjadi pada katup expansi yang berbentuk
pipa kapiler atau orifice yang berfungsi untuk mengatur laju aliran
refrigeran dan menurunkan tekanan.
4) Proses evaporasi (4-1)
Proses ini berlangsung secara isobar isothermal (tekanan konstan,
temperatur konstan) di dalam evaporator. Panas dari dalam ruangan akan
diserap oleh cairan refrigeran yang bertekanan rendah sehingga refrigeran
berubah fasa menjadi uap bertekanan rendah. Kondisi refrigeran saat masuk
evaporator sebenarnya adalah campuran cair dan uap, seperti pada titik 4
dari gambar di atas. Besarnya kalor yang diserap oleh evaporator adalah:
QL = h1 h4 (2.4)
dimana : QL = besarnya panas yang diserap di evaporator (kJ/kg), h1=
entalpi refrigeran saat keluar evaporator (kJ/kg), dan h4 = entalpi refrigeran
saat masuk evaporator (kJ/kg). QL juga sering disebut sebagai Refrigerator
Effect(RE).
Selanjutnya, refrigeran kembali masuk ke dalam kompresor dan bersirkulasi
lagi. Begitu seterusnya sampai kondisi yang diinginkan tercapai. Untuk

6
menentukan harga entalpi pada masing-masing titik dapat dilihat dari tabel sifat-
sifat refrigerant.
Efisiensi refrigerator disebut dengan istilah coefficient of performance
(COP), dinotasikan dengan COPr. Harga dari COPr dapat berharga lebih dari
satu, karena jumlah panas yang diserap dari ruang refrigerasi dapat lebih besar
dari jumlah input kerja. Hal tersebut kontras dengan efisiensi termal yang selalu
kurang dari satu. Salah satu alasan penggunaan istilah-coefficient of performance-
lebih disukai untuk menghindari kerancuan dengan istilah efisiensi , karena COP
dari mesin pendingin lebih besar dari satu.
Rumus untuk menghitung besar COPr :

=

Kapasitas pendinginan suatu mesin pendingin(refrigerator) selalu


dikaitkan dengan istilah A ton of refrigeration(TR),TR merupakan satuan
energy yang sering digunakan beberapa negara (terutama amerika utara) yang
didefinisikan sebagai energy panas rata-rata yang diserap 1 ton es agar dapat
mencair sempurna selama 24 jam. TR juga dapat di artikan sebagai energy yang
digunakan suatu system pendingin untuk menjaga es dalam kondisi padat murni
tiap satuan waktu. Jika dikatetahui kalor laten air adalah 144 Btu/lbm sehingga:

144 = 288000 ( ) = 12000 = 3.5

Ketika merencanakan kemudian membeli sebuah refrigerant/air conditioner salah
satu spesifikasi yang tertera di label produk adalah energy efficiency ratio(EER),
yakni rasio kapasitas pendinginan unit refrigerator yang terukur dengan Btu/ hour
dengan daya yang digunakan untuk mengoperasikannya dalam watt.

= 3,413 .

7
B. Sistem Absorbsi (Heat Operated)
Pada sistem mesin pendingin mekanik, yang sering digunakan adalah sistem
absorbsi. Sejarah mesin pendingin absorbsi dimulai pada abad ke-19 mendahului
jenis kompresi uap dan telah mengalami masa kejayaannya sendiri. Siklus
pendinginan absorbsi mirip dengan siklus pendinginan kompresi uap. Perbedaan
utama kedua siklus tersebut adalah gaya yang menyebabkan terjadinya perbedaan
tekanan antara tekanan penguapan dan tekanan kondensasi serta cara perpindahan
uap dari wilayah bertekanan rendah ke wilayah bertekanan tinggi.
Pada mesin pendingin kompresi uap digunakan kompresor, sedangkan
pada mesin pendingin absorbsi digunakan absorber dan generator. Uap
bertekanan rendah diserap di absorber, tekanan ditingkatkan dengan pompa dan
pemberian panas di generator sehingga absorber dan generator dapat
menggantikan fungsi kompresor secara mutlak.
Salah satu keunggulan sistem absorbsi adalah karena menggunakan panas
sebagai energi penggerak. Panas sering disebut sebagai energi tingkat rendah
(low level energy) karena panas merupakan hasil akhir dari perubahan energi dan
sering kali tidak didaur ulang. Pemberian panas dapat dilakukan dengan berbagai
cara, seperti menggunakan kolektor surya, biomassa, limbah, atau dengan boiler
yang menggunakan energi komersial.
Pada gambar ditunjukkan adanya dua tingkat tekanan yang bekerja pada
sistem, yaitu tekanan rendah yang meliputi proses penguapan (di evaporator) dan
penyerapan (di absorber), dan tekanan tinggi yang meliputi proses pembentukan
uap (di generator) dan pengembunan (di kondensor).
Siklus absorbsi juga menggunakan dua jenis zat yang umumnya berbeda,
zat pertama disebut penyerap sedangkan yang kedua disebut
refrigeran. Selanjutnya, efek pendinginan yang terjadi merupakan akibat dari
kombinasi proses pengembunan dan penguapan kedua zat pada kedua tingkat
tekanan tersebut. Proses yang terjadi di evaporator dan kondensor sama dengan
pada siklus kompresi uap

8
Kerja siklus secara keseluruhan adalah sebagai berikut :
Proses 1-2/1-3 : Larutan encer campuran zat penyerap dengan refrigeran
(konsentrasi zat penyerap rendah) masuk ke generator pada
tekanan tinggi. Di generator panas dari sumber bersuhu tinggi
ditambahkan untuk menguapkan dan memisahkan refrigeran
dari zat penyerap, sehingga terdapat uap refrigeran dan larutan
pekat zat penyerap. Larutan pekat campuran zat penyerap
mengalir ke absorber dan uap refrigeran mengalir ke
kondensor.
Proses 2-7 : Larutan pekat campuran zat penyerap dengan refrigeran
(konsentrasi zat penyerap tinggi) kembali ke absorber melalui
katup cekik. Penggunaan katup cekik bertujuan untuk
mempertahankan perbedaan tekanan antara generator dan
absorber.
Proses 3-4 : Di kondensor, uap refrigeran bertekanan dan bersuhu tinggi
diembunkan, panas dilepas ke lingkungan, dan terjadi
perubahan fase refrigeran dari uap ke cair. Dari kondensor
dihasilkan refrigeran cair bertekanan tinggi dan bersuhu
rendah.
Proses 4-5 : Tekanan tinggi refrigeran cair diturunkan dengan
menggunakan katup cekik (katup ekspansi) dan dihasilkan

9
refrigeran cair bertekanan dan bersuhu rendah yang
selanjutnya dialirkan ke evaporator.
Proses 5-6 : Di evaporator, refrigeran cair mengambil panas dari
lingkungan yang akan didinginkan dan menguap sehingga
terjadi uap refrigeran bertekanan rendah.
Proses 6-8/7-8 : Uap refrigeran dari evaporator diserap oleh larutan pekat zat
penyerap di absorber dan membentuk larutan encer zat
penyerap. Jika proses penyerapan tersebut terjadi secara
adiabatik, terjadi peningkatan suhu campuran larutan yang
pada gilirannya akan menyebabkan proses penyerapan uap
terhenti. Agar proses penyerapan berlangsung terus-menerus,
absorber didinginkan dengan air yang mengambil dan
melepaskan panas tersebut ke lingkungan.
Proses 8-1 : Pompa menerima larutan cair bertekanan rendah dari
absorber, meningkatkan tekanannya, dan mengalirkannya ke
generator sehingga proses berulang secara terus menerus
2.4. Komponen Mesin Pendingin
A. Komponen Utama
1) Kompressor
Fungsi kompresor pada sistem pendinginan uap (vapor compression
system) ada dua macam, yaitu untuk mengalirkan uap refrigeran yang
mengandung sejumlah panas dari evaporator, mengkompres, dan
mendorongnya ke kondensor serta untuk menaikan temperatur uap
refrigeran sampai mencapai titik saturasinya (jenuh), titik tersebut lebih
tinggi daripada temperatur medium pendinginnya.
Kompresor mengambil uap panas pada temperatur rendah di dalam
evaporator dan memompakannya ke tingkat temperatur yang lebih tinggi di
dalam kondensor, oleh karena itu biasa juga kompresor itu disebut heat
pump. Kompressor ini harus menjaga tekanan evaporator tetap rendah agar
refrigerant bisa menguap dan tekanan kondensor tetap. Untuk melakukan
tugas ini kepada kompressor kita berikan energi listrik yang akan diubahnya
menjadi mekanik untuk melakukan kompresi.

10
Berikut dijelaskan proses kerja compressor piston pada system
refrigerator sesuai dengan siklus kerjanya.

Pressure-Volume Diagram
Penjelasan Diagram:
a) 1-2, pada posisi ini kedua katub tertutup. Terjadi kompresi
volume maksimum silinder piston V1=Vc+Vd dari uap
refrigerant pada perbandingan tekanan p2/p1 menjadi volum
V2.
b) 2-3, katub pembuangan terbuka. Pembuangan uap
refrigerant pada tekanan kondensor sampai selisih volume
V3=Vc ketika posisi piston maju penuh.
c) 3-4, kedua katub tertutup. Terjadi proses ekspansi gas
dengan kedua katub tertutp V3 ke V4. Perlu diketahui bahwa

11
katub masukan tidak akan terbuka sampai tekanan turun
menjadi p4=p1(saklar tekanan rendah).
d) 4-1, katub masukan terbuka. Uap refrigerant mengalir dari
evaporator ke cylinder pada tekanan konstan p1 oleh
gerakan piston. Refrigerant pada posisi V1-V4 diproses tiap
siklus berulang.
Dapat diketahui volume/ siklus kompresi (V1-V4) dengan
rumus:
1 1
2 2
1 4 = + ( ) = [( ) 1]
1 1

Dapat diketahui effisiensi volumetric kompresor pada


perbandingan dari V1-V4 pada rumus:
1
1 4 2
= = 1 ( ) [( ) 1]
1

2) Kondensor
Kondensor adalah komponen penukar panas yang berfungsi untuk
mengkondensasikan gas refrigeran dari kompresor. Gas refrigeran yang
bertekanan dan bertemperatur tinggi dari kompresor dialirkan ke kondensor
selanjutnya phasa refrigeran berubah dari gas menjadi cair dengan cara
membuang panas yang di bawa oleh refrigeran ke media pendingin
kondensor.

12
3) Katup Expansi
Fungsi dari katup expansi ada dua, yaitu (1) menurunkan refrigeran
dari tekanan kondensor sampai tekanan evaporator dan (2) mengatur jumlah
aliran refrigeran yang mengalir masuk ke evaporator.
Jumlah aliran refrigerant yang melewati expansion valve ditentukan
oleh gerakan turun naik valve. Gerakan valve ini diatur oleh perbedaan
tekanan antara Pf (tekanan di dalam sensing tube) dan jumlah Ps (tekanan
spring) dan Pe (tekanan di dalam evaporator). Pada beban pendinginan
tinggi (suhu ruangan tinggi), tekanan gas keluaran evaporator tinggi,
akibatnya suhu dan tekanan pada sensing tube juga tinggi. Selanjutnya akan
menekan valve ke bawah sehingga valve terbuka lebar, jumlah aliran
refrigerant besar. Sebaliknya saat beban pendinginan rendah, valve akan
membuka sedikit sehingga aliran refrigerant akan kecil.
Pembukaan valve sangat bergantung dari besar kecilnya tekanan Pf
dari Heat sensitizing tube. Bila temperatur lubang keluar (out let) evaporator
dimana alat ini ditempelkan meningkat, maka tekanan Pf > Ps + Pe, maka
refrigerant yang disemprotkan akan lebih banyak. Sebaliknya bila
temperatur lubang keluar (out let) evaporator menurun maka tekanan Pf <
Ps + Pe, maka refrigerant yang disemprotkan akan lebih sedikit.
Pada kondisi pengaturan yang ideal, sangat dipantangkan jika cairan
referigeran dari evaporator sampai masuk ke kompressor. Hal ini bisa saja
terjadi, misalnya, karena beban pendinginan berkurang, refrigeran yang
menguap di evaporator akan berkurang. Jika pasokan refrigeran cair dari
kondensor tetap mengalir maka hal ini akan memaksa cairan refrigeran
masuk ke kompressor. Untuk menghindari hal inilah katup ekspansi
difungsikan. Jika beban berkurang, maka pasokan refrigeran akan

13
berkurang, sehingga menjamin hanya uap refrigeran yang masuk ke
kompressor.

4) Evaporator
Evaporator adalah penukar kalor yang di dalamnya mengalir cairan
refrigeran yang berfungsi sebagai penyerap panas dari produk yang
didinginkannya sambil berubah phasa. Setelah refrigeran turun dari
kondensor melalui katup expansi masuk ke evaporator dan diuapkan, dan
dikirim ke kompressor. Pada prinsipnya evaporator hampir sama dengan
kondensor, yaitu sama-sama APK yang fungsinya mengubah fasa
refrigeran. Bedanya, jika pada kondensor refrigerant berubah dari uap
menjadi cair, maka pada evaporator berubah dari cair menjadi uap.
Perbedaan berikutnya adalah, sebagai siklus refrigerasi, pada evaporatorlah
sebenarnya tujuan itu ingin dicapai. Artinya, jika kondensor fungsinya
hanya membuang panas ke lingkungan, maka pada evaporator panas harus
diserap untuk menyesuaikan dengan beban pendingin di
ruangan.Temperatur refrigerant di dalam evaporator selalu lebih rendah
daripada temperatur sekelilingnya, sehingga dengan demikian panas dapat
mengalir ke refrigeran.

14
5) Tangki penampung, fungsinya untuk menampung cairan bahan
pendingin bertekanan tinggi dari kondensor.

6) Saringan
Saringan untuk AC dibuat dari pipa tembaga berguna untuk
menyaring kotoran-kotoran di dalam sistem, seperti potongan timah,
lumpur, karat, dan kotoran lainnya agar tidak masuk ke dalam pipa kapiler
atau kran ekspansi. Saringan harus menyaring semua kotoran di dalam
sistem, tetapi tidak boleh menyebabkan penurunan tekanan atau membuat
sistem menjadi buntu.
7) Pipa Kapiler
Pipa kapiler berguna untuk (1) menurunkan tekanan bahan pendingin
cair yang mengalir di dalam pipa tersebut, dan (2) mengontrol atau

15
mengatur jumlah bahan pendingin cair yang mengalir dari sisi tekanan
tinggi ke sisi tekanan rendah.
8) Refrigeran
Refrigeran adalah bahan pendingin berupa fluida yang digunakan
untuk menyerap panas melalui perubahan phasa cair ke gas (menguap) dan
membuang panas melalui perubahan phasa gas ke cair (mengembun).
Refrigeran yang baik harus memenuhi syarat sebagai berikut :
a) Tidak beracun, tidak berwarna, tidak berbau dalam semua keadaan.
b) Tidak dapat terbakar atau meledak sendiri, juga bila bercampur dengan
udara, minyak pelumas dan sebagainya.
c) Tidak korosif terhadap logam yang banyak dipakai pada sistem
refrigerasi dan air conditiioning.
d) Dapat bercampur dengan minyak pelumas kompresor, tetapi tidak
mempengaruhi atau merusak minyak pelumas tersebut.
e) Mempunyai struktur kimia yang stabil, tidak boleh terurai setiap kali di
mampatkan, diembunkan dan diuapkan.
f) Mempunyai titik didih yang rendah. Harus lebih rendah daripada suhu
evaporator yang direncanakan.
g) Mempunyai tekanan kondensasi yang rendah. Tekanan kondensasi
yang tinggi memerlukan kompresor yang besar dan kuat, juga pipanya
harus kuat dan kemungkinan bocor besar.
h) Mempunyai tekanan penguapan yang sedikit lebih tinggi dari 1
atmosfir. Apabila terjadi kebocoran, udara luar tidak dapat masuk ke
dalam sistem.
i) Mempunyai kalor latyen uap yang besar, agar jumlah panas yang
diambil oleh evaporator dari ruangan jadi besar.
j) Apabila terjadi kebocoran mudah diketahui dengan alat-alat yang
sederhana.
k) Harganya murah
Kelebihan amoniak adalah (1) mempunyai sifat termodinamika yang
baik, (2) sangat efisien, (3) tidak korosif terhadap besi dan baja, (3)
harganya murah, (4) dapat digunakan dalam sistem absorbs maupun

16
kompresi. Sedangkan kerugiannya adalah (1) memerlukan tekanan sistem
(uap panas), (2) korosif terhadap macam logam paduan, (3) efisiensi
kurang karena adanya oferheating (kelebihan panas), (4) sangat berbahaya
(beracun), (5) memiliki efektif terhadap bahan makanan, air, dan
tumbuhan, serta (6) menyebabkan mual-mual bila tercium bau yang
ditimbulkan oleh amoniak.
Amoniak (NH3) dalam tabung awalnya bertekanan standar (19 Psi),
tekanan dalam tabung tidak boleh melebihi standar tekanannya karena
akan menyebabkan kompresor cepat rusak.
Amoniak dialirkan ke tangki yang berada pada mesin kompresor,
mengalir ke kondensor untuk diembunkan. Setelah membentuk cairan,
amoniak mengalir ke receiver, sehingga amoniak berubah wujud menjadi
cair di dalam receiver. Amoniak lalu mengalir ke piranti ekspansi,
amoniak mengalami ekspansi dan berubah wujud menjadi uap basah yang
bersuhu dan bertekanan rendah, dan mengalir ke evaporator yang
merupakan pusat terjadinya proses pendinginan. Dari proses yang terjadi
pada evaporator amoniak mengalami perubahan fase yakni dari cair
menjadi uap. Uap yang dihasilkan dalam proses evaporasi kemudian
dihisap oleh kompresor untuk dikompresi lagi menuju kondensor, akan
tetapi tidak semua amoniak di dalam kompresor mengalami ekspansi
karena di dalam kompresor sebagian kecil amoniak akan disalurkan ke
tangki penuangan karena mengalami proses yang tidak sempurna,
sehingga tidak dapat dipakai lagi oleh sistem.
Sedangkan untuk mengganti amoniak yang telah berkurang dalam
refrigerator, perlu dilakukan pengisian awal amoniak ke dalam kompresor,
dan cara pengisiannya sama seperti pada saat awal pengisian amoniak,
hanya saja perlu diperhatikan pada tekanan kompresor.
B. Komponen Bantu
1) Oil Separator
Yaitu alat yang digunakan untuk memisahkan minyak pelumas
dengan uap bahan pendingin bertekanan tinggi, alat ini ditempatkan pada

17
saluran uap bahan pendingin bertekanan tinggi atau pada saluran kompresor
sampai kondensor.

2) Filter drier
Yaitu alat yang digunakan untuk mengeringkan cairan bahan
pendingin dari kandungan air, alat ini dipasang pada saluran cairan bahan
pendingin bertekanan tinggi atau pada saluran antara tangki penampung
sampai katup ekspansi. Di dalam filter drier terdapat bahan pengering
dissicant, salah satu jenisnya adalah silica gel. Filter drier ini digunakan
khusus untuk mesin pendingin dengan bahan pendingin halogen.

3) Indikator
Yaitu alat yang digunakan untuk melihat ada tidaknya cairan bahan
pendingin bertekanan tinggi yang mengalir ke katup ekspansi. Alat ini
ditempatkan pada saluran cairan bahan pendingin bertekanan tinggi atau
antara tangki penampung sampai katup ekspansi dapat juga pada saluran
setelah filter drier, oleh karena itu alat ini juga dapat untuk mendeteksi
masih baik tidaknya filter drier.

18
4) Kran Selenoid
Yaitu alat yang digerakan dengan ada atau tidaknya aliran listrik.
Kran ini pada umumnya dipasang pada saluran cairan bahan pendingin
bertekanan tinggi atau sebelum katup ekspansi dan selain itu dapat pula
dipasang pada bagian mesin pendingin lainnya seperti saluran by pass,
saluran unload, dll.

5) Akumulator
Yaitu alat yang digunakan untuk memisahkan uap cairan bahan
pendingin bertekanan rendah. Alat ini dipasang pada saluran uap bahan
pendingin bertekanan randah atau pada saluran evaporator sampai
kompresor, terutama pada mesin pendingin sistem evaporator kering.

19
C. Komponen Pengontrol
1) Alat Ukur (manometer tekanan tinggi, manometer tekanan rendah,
manometer tekanan pelumasan, thermometer ruang pendingin,
thermometer media pendingin kondensor)
2) Alat Pengaman
a) Saklar tekanan rendah, merupakan saklar listrik yang kerjanya
dipengaruhi oleh keadaan refrigerant dalam mesin pendingin
bertekanan rendah. Saklar pada alat ini akan terbuka dan
memutuskan aliran arus listrik secara otomatis apabila tekanan
penghisapan kompresor lebih rendah dari batas tekanan yang
telah diatur pada alat tersebut.

b) Saklar tekanan tinggi, merupakan saklar listrik yang kerjanya


dipengaruhi oleh keadaan refrigerant dalam mesin pendingin
bertekanan tinggi. Saklar pada alat ini akan terbuka apabila
tekanan pengeluaran kompresor lebih tinggi dibandingkan

20
dengan tekanan yang telah diatur pada alat tersebut. Saklar ini
difungsikan secara manual dengan hand reset.

c) Saklar tekanan minyak pelumas, merupakan saklar listrik yang


kerjanya dipengaruhi oleh tekanan minyak pelumas kompresor.

d) Saklar temperature, (thermostat), kerjanya dipengaruhi oleh


temperature ruang pendingin. Saklar ini akan terbuka jika
temperature pada ruang pendingin telah mencapai batas
temperature yang telah diatur dan akan tertutup secara otomatis
apabila temperature ruang pendingin naik kembali.

21
BAB III
PERHITUNGAN MESIN PENDINGIN REFRIGERASI

3.1 Perhitungan Refrigerator Pada Kondisi Ideal

Dari perencanaan system refrigerator ideal tersebut diperoleh data-data


sebagai berikut:
Suhu kondensasi 450 C
Suhu evaporasi 320 C
Refrigerant yang digunakan R 134a
System digunakan untuk membekukan 5 ton air dalam 1
hari(24 jam)
Rata-rata pendinginan satu ton refrigerator 12000 Btu/hour =
3,51 kJ/s

a. Mencari Artibut Data


Pencarian atribut data dapat menggunakan table untuk
refrigerant tipe R-134a, dari pembacaan table dapat diperoleh
data sebagai berikut:

22
Table refrigerant R-134a

23
Condenser
Outlet (3) Inlet (2)
Pressure Temperature Enthalpy Entropy Pressure Temperature Enthalpy Entropy
kPa C kJ/kg kJ/kg-K kPa C kJ/kg kJ/kg-K
1159.9 45 263.94 1.2139 1159.9 57.65 435.98 1.7538

Expansion Device Compressor


Inlet (3) Outlet (4) Inlet (1) Outlet (2)
Pressure Temperature Enthalpy Entropy Pressure Density Temperature Enthalpy Entropy Pressure Temperature Enthalpy Entropy Pressure Temperature Enthalpy Entropy
kPa C kJ/kg kJ/kg-K kPa kg/m C kJ/kg kJ/kg-K kPa C kJ/kg kJ/kg-K kPa C kJ/kg kJ/kg-K

24
1159.9 45 263.94 1.2139 76.7 8.42 -32 263.94 1.2764 76.7 -32 379.06 1.7538 1159.9 57.65 435.98 1.7538

Tabel Atribut Data


Evaporator
Inlet (4) Outlet (1)
Pressure Temperature Enthalpy Entropy Pressure Temperature Enthalpy Entropy
kPa C kJ/kg kJ/kg-K kPa C kJ/kg kJ/kg-K
76.7 -32 263.94 1.2764 76.7 -32 379.06 1.7538
b. Menghitung Nilai Refrigeration Effect(RE):
(Literatur 1 hal 292)
= 1 4
= 1 4
= 379,06 263,94

= 115,12

c. Menghitung nilai energi kompresi (w):


(Literatur 1 hal 292)
= 2 1
= 2 1
= 435,98 379,06

= 56,92

d. Menghitung Coefficient of Performance(COPr):


(Literatur 1 hal 294)
115,12
= = = 2.023
56,92

e. Menghitung kapasitas pendinginan untuk 5 ton unit air:


(Literatur 1 hal 296)
= 5 x rata-rata pendinginan 1 ton
= 5 3,51
= 17,55 /

f. Menghitung Refrigerant Mass Flow Rate:


(Literatur 1 hal 296)

=

17,55
= 115,12

= 0,152
g. Menghitung Daya Kompresor:
(Literatur 1 hal 296)
= w (Literatur 1 hal 296)
= 0,152 56,92

= 8,651 = 8,651

25
3.2 Perhitungan Efisiensi Volumetrik Kompresor
Dari perencanan effisiensi volumetric kompresor diberikan data sebagai
berikut:
Vc/Vd (clearance volume of displacement volume) = 4%
Konstanta politropic = 1,2

a. Menghitung Efisiensi Volumetrik Kompresor


(Literatur 1 hal 298)
1

= 1 ( ) [(2 ) 1]
1
1
1159,9 1,2
= 1 (0,04) [( ) 1]
76,7

= 0,65

26
BAB IV
KESIMPULAN

A. Dari perencanaan sistem refrigerator yang diketahui data sebagai berikut:


Suhu kondensasi 450 C
Suhu evaporasi 320 C
Refrigerant yang digunakan R 134a
System digunakan untuk membekukan 5 ton air dalam 1 hari(24
jam)
Rata-rata pendinginan satu ton refrigerator 12000 Btu/hour = 3,51
kJ/s
Dapat diperoleh berbagai data sebagai berikut :
a. Tabel atribut data.
b. Nilai Refrigeration Effect(RE):

= 115,12

c. Nilai energy kompresi:

= 56,92

d. Nilai COPr:
115,12
= = = 2.023
56,92
e. Nilai kapasitas pendingian untuk 5 ton unit air:
= 17,55 /
f. Nilai Mass Flow Rate:

= 0,152

g. Daya Kompresor:

= 8,651 = 8,651

B. Dari perencanaan Perhitungan Efisiensi Volumetrik Kompresor diketahui
data sebagai berikut:
Vc/Vd (clearance volume of displacement volume) = 4%
Konstanta politropic = 1,2
Dapat diperoleh data sebagai berikut:
a. Efisiensi volumetric compressor:
= 0,65

27
DAFTAR PUSTAKA
Kenneth, C.W. 1992. Energy Conversion. Tulsa : University of Tulsa.

Berman, E.T. 2013. Modul PLPG : Teknik Pendingin. Jakarta : Konsorsium


Sertifikasi Guru.

Dirja. 2004. Dasar-Dasar Mesin Pendingin. Jakarta : Departemen Pendidikan


Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat
Pendidikan Menengah Kejuruan.

Martiningsih, A. 2013. Mesin Konversi Energi I. Malang : Universitas Negeri


Malang.

Youtube. 2014. Sistem Kerja AC. (www.youtube.com). Diakses 17 Maret 2014.

Youtube. 2014. Sistem Kerja Kulkas. (www.youtube.com). Diakses 17 Maret


2014

Youtube. 2014. Siklus Refrigerator. (www.youtube.com). Diakses 17 Maret 2014

28