Anda di halaman 1dari 18

Adaptasi Psikologi Ibu Nifas

(Keperawatan Maternitas)
Makalah Ini Disusun Untuk Melengkapi Tugas di AKADEMIK KEPERAWATAN
PEMERINTAH KABUPATEN PONOROGO Tahun Ajaran 2017/2018

Disusun oleh:
Kelompok 4 (III B)

1. Adita windi (201501047)


2. Bella Rindiarista (201501055)
3. Dita Rizky Nanda (201501058)
4. Fitri Febriani (201501066)
5. Indah Puspita A (201501071)
6. Irmayana Putri (201501073)
7. Nike Puri M (201501080)
8. Rendani Hesty P (201501084)
9. Taufiq Mustakim (201501088)
10. Tri Puji Kurniawan (201501089)

AKADEMIK KEPERAWATAN
PEMERINTAH KABUPATEN PONOROGO
Jl. Ciptomangunkusumo No.82A Ponorogo, Telp: (0352) 461792, Fax:
(0352) 462819 Email:office@akperpemkabponorogo.ac.id, Website:
akperpemkabponorogo.ac.id
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat Rahmat, Taufik
serta Hidayah-Nya kami selaku penulis dapat menyelesaikan makalah yang bertema Adaptasi
Psikologis Ibu Nifas. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan
Maternitas.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, sehingga
makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun kami harapkan demi semakin baiknya sajian
makalah ini.
Semoga makalah ini memberi informasi dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan
meningkatkan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Ponorogo, 30 Juli 2017

Penyusun

DAFTAR ISI

2
COVER

KATA PENGANTAR..................................................................................... i

DAFTAR ISI................................................................................................. ii

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang............................................................................ 1

1.2 Rumusan Masalah....................................................................... 2

1.3 Tujuan Penulisan......................................................................... 2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Nifas.......................................................................... 6


2.2. Tahapan Masa Nifas. 6
2.3. Adaptasi Psikologis Masa Nifas 7
2.4. Pengertian menyusui. 8
2.5. Persiapan menyusui.. 8
2.6. Teknik dasar meyusui 9
2.7. Manfaat menyusui 11
BAB 3 PENUTUP

3.1. Kesimpulan.................................................................................. 17

3.2. Saran........................................................................................... 17

DAFTAR PUASTAKA................................................................................... 18

LAMPIRAN..................................................................................................

3
BAB I

Pendahuluan

A. Latar Belakang
Persalinan merupakan proses ilmiah yang dialami oleh setiap wanita. Berbagai
reaksi ibu setelah melahirkan akan mempengaruhi sikap, perilaku dan tingkat
emosional. Tekanan psikologis setalah persalinan merupakan geala emosional,
perasaan, dimana seseorang merasa mutung, tidak bisa tidur, pelelahan fisik yang
berlebihan, dan tidka mengetahui apa yang bisa dilakukan atas peranannya yang baru.
Tekanan psikologis setelah persalinan mempunyai beberapa gejala antara lain gejala
fisik seperti tidak dapat tidur, tidur berlebhian, tidak dapat berpikir jernih, merasa
dikekang oleh suatu keadaan dan tidak dapat keluar dirinya, serta merasa lelah dan
gerak geriknya menjadi lamban. Emosi yang positif dan hubungan kasih sayang
memperlihatkan pengaruh orang tua terhadap pemeliharaan anak. (gottlitb, 2007)
Pengkajian pada ibu dari aspek psikologis merupakan dasar persiapan ibu
dalam peran barunya untuk dilaksanakan. Secara teoritis seorang wanita setelah
persalinan (post partum) pasti mengalami gangguan psikologis, hal ini dipengaruhi
oleh perubahan hormonal ynag dihasilkan. (Bunarsa,2005)
Keluarga mempunyai peranan yang besar memberikan bantuan psikologis dan
dukungan psikologis pada ibu. Keluarga banyak memberikan pertolongan dan
bantuan pada ibu setelah persalinan. Semua yang diberikan lebih bersifat kebutuhan
fisiologis karena pengetahuan akan ilmu perilaku dan psikologis itu sendiri sedikit
atau mungkin tidak memiliki oleh ibu dan keluarga. Keluarga teman dari orang tua
berperan penting dalam sistem social pada ibu melahirkan. (Crawford, 2005)
Peran baru merupakan krisis yaitu gangguan internal yang ditimbulkan oleh
peristiwa yang menegangkan atau ancaman yag dirasakan pada diri seseorang. Krisis
mempunyai keterbatasan waktu dan konflik yang berat dan dapat merupakan periode
peningkatan kerentanan yang dapat menstimulasi pertumbuhan personal. Apa yang
dilakukan seseorang terhadap kritis akan menentukan pertumbuhan atau diorganisasi
bagi orang tersebut.
Proses persalinan adalah peristiwa besar dalam kehidupan individu yang akan
mempengaruhi perubahan peran. Peran dan ketegangan peran dikatakan
mempengaruhi perkembangan depresi teruatama wanita.(stuard and sundeen, 2001)
Transisi peran situasi terjadi dengan bertambah atau berkurangnya naggota
keluarga melalui kelahiran dan kematian. Trasnsisi peran sehat sakit sebagai akibat
pergeseran dari keadaan sehat ke keadaan sakit. Transisi ini mungkin dicetuskan oleh
perubahan ukuran tubuh, bentuk, penampilan fungsi tubuh dan perubahan fisik
berhubungan dengan pertumbuhan normal (prayetno,2008)
Berdasarkan uaraian diatas maka diketahui bahwa aka nada adaptasi social dan
psikologis pada ibu setelah melahirkan dan dirawat dirumah sakit

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah Bagaimanakah
perubahan dan adaptasi psikologi pada ibu nifas?

C. Tujuan Penulisan
Diharapkan mahasiswa mampu memahami tentang Perubahan Psikologis pada Ibu
Nifas.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Nifas
Masa nifas disebut juga masa postpartum adalah masa atau waktu sejak bayi
dilahirkan dan plasenta keluar lepas dalam rahim, sampai 6 minggu berikutnya, disertai
dengan pulihnya kembali organorgan yang berkaitan dengan kandungan, yang mengalami
perubahan seperti perlukaan dan lain sebagainya berkaitan saat melahirkan (Suherni,
2008, p.1)
Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan
kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6
minggu (Saifuddin, 2006, p.122). Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan fisiologi,
yaitu:
1. Perubahan fisik
2. Involusi uterus dan pengeluaran lokhea
3. Laktasi atau pengeluaran air susu ibu
4. Perubahan sistem tubuh lainnya
5. Perubahan psikologi
2.2 Tahapan masa nifas
Adapun tahapan masa nifas adalah :
1. Puerperium dini : Masa pemulihan, yakni saat-saat ibu diperbolehkan berdiri dan
berjalan-jalan.
2. Puerperium intermedial : Masa pemulihan menyeluruh dari organ - organ genital,
kira-kira antara 6-8 minggu.
3. Remote puerperium : Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna
terutama apabila ibu selama hamil atau bersalin mempunyai komplikasi.
Sebagai catatan, waktu untuk sehat sempurna bisa cepat bila kondisi sehat prima, atau
bisa juga berminggu-minggu, bulanan, bahkan tahunan, bila ada gangguan-gangguan
kesehatan lainnya (Suherni, 2008, p.2)
2.3 Adaptasi psikologi ibu masa nifas
Menurut Suherni, 2008 (p.85-90), proses adaptasi psikologi pada seorang ibu sudah
dimulai sejak hamil. Wanita hamil akan mengalami perubahan psikologis yang nyata
sehingga memerlukan adaptasi. Perubahan mood seperti sering menangis, lekas marah,
dan sering sedih atau cepat berubah menjadi senang merupakan manifestasi dari emosi
yang labil. Proses adaptasi berbeda-beda antara satu ibu dengan ibu yang lain. Perubahan
peran seorang ibu memerlukan adaptasi yang harus dijalani. Tanggung jawab bertambah
dengan hadirnya bayi yang baru lahir. Dorongan serta perhatian anggota keluarga lainnya
merupakan dukungan positif untuk ibu. Dalam menjalani adaptasi setelah melahirkan, ibu
akan mengalami fase-fase sebagai berikut :
1. Fase taking in
Fase taking in yaitu periode ketergantungan. Periode ini berlangsung dari hari
pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada fase ini, ibu sedang berfokus
terutama pada dirinya sendiri. Ibu akan berulang kali menceritakan proses
persalinan yang dialaminya dari awal sampai akhir. Ibu perlu bicara tentang
dirinya sendiri. Ketidaknyamanan fisik yang dialami ibu pada fase ini seperti rasa
mules, nyeri pada jahitan, kurang tidur dan kelelahan merupakan sesuatu yang
tidak dapat dihindari. Hal tersebut membuat ibu perlu cukup istirahat untuk
mencegah gangguan psikologis yang mungkin dialami, seperti mudah
tersinggung, menangis. Hal ini membuat ibu cenderung menjadi pasif. Pada fase
ini petugas kesehatan harus menggunakan pendekatan yang empatik agar ibu
dapat melewati fase ini dengan baik.
2. Fase taking hold
Fase taking hold yaitu periode yang berlangsung 3-10 hari setelah melahirkan.
Pada fase ini ibu timbul rasa khawatir akan ketidakmampuan dan rasa tanggung
jawabnya dalam merawat bayi. Ibu mempunyai perasaan sangat sensitif sehingga
mudah tersinggung dan gampang marah. Kita perlu berhati-hati menjaga
komunikasi dengan ibu. Dukungan moril sangat diperlukan untuk menumbuhkan
kepercayaan diri ibu. Bagi petugas kesehatan pada fase ini merupakan kesempatan
yang baik untuk memberikan berbagai penyuluhan dan pendidikan kesehatan yang
diperlukan ibu nifas. Tugas kita adalah mengajarkan cara merawat bayi, cara
menyusu yang benar, cara merawat luka jahitan, senam nifas, memberikan
pendidikan kesehatan yang dibutuhkan ibu seperti gizi, istirahat, kebersihan diri
dan lain-lain.
3. Fase letting go
Fase letting go yaitu periode menerima tanggung jawab akan peran barunya. Fase
ini berlangsung sepuluh hari setelah melahirkan. Ibu sudah mulai menyesuaikan
diri dengan ketergantungan bayinya. Ibu memahami bahwa bayi butuh disusui
sehingga siap terjaga untuk memenuhi kebutuhan bayinya. Keinginan untuk
merawat diri dan bayinya sudah meningkat pada fase ini. Ibu akan lebih percaya
diri dalam menjalani peran barunya. Pendidikan kesehatan yang kita berikan pada
fase sebelumnya akan sangat berguna bagi ibu. Ibu lebih mandiri dalam
memenuhi kebutuhan diri dan bayinya. Dukungan suami dan keluarga masih terus
diperlukan oleh ibu. Suami dan keluarga dapat membantu merawat bayi,
mengerjakan urusan rumah tangga sehingga ibu tidak telalu terbebani. Ibu
memerlukan istirahat yang cukup, sehingga mendapatkan kondisi fisik yang bagus
untuk dapat merawat bayinya.
2.4 Pengertian Menyusui
Menyusui adalah cara yang optimal dalam memberikan nutrisi dan mengasuh bayi,
dengan penambahan makanan pelengkap pada paruh kedua tahun pertama, kebutuhan
nutrisi, imunologi, dan psikososial dapat terpenuhi hingga tahun kedua dan tahun tahun
berikutnya (Varney, 2003, p.981). Banyak ibu yang beranggapan bahwa menyusui
merupakan aktivitas alami, sehingga tidak memerlukan persiapan atau perawatan khusus.
Hal ini tidak sepenuhnya benar, terutama bagi ibu yang menyadari bahwa air susu sangat
penting dan utama bagi bayi (Prasetyono, 2009, p.133).
2.5 Persiapan menyusui
Tubuh ibu bersiap untuk menyusui pada awal kehamilan, dan payudara pun mulai
berkembang. Tubuh ibu mengumpulkan persediaan energi dan nutrisi lainya untuk
membantu memproduksi ASI. Kapanpun bayi lahir, ASI tetap mengandung kolostrum
(Prasetyono, 2009, p.141)
Laktasi merupakan proses yang sangat efisien. Selama laktasi, metabolisme ibu
sedikit melambat untuk menghasilkan energi yang diperoleh dari makanan. Persediaan
ASI tergantung pada kebutuhan bayi. Ketika bayi tumbuh dan berkembang, maka ibu
akan memproduksi lebih banyak ASI. Terkait itu, ibu perlu menyadari bahwa bayi harus
disusui sesuai permintaanya, dan ibu memastikan bahwa ibu menyusu dengan posisi yang
tepat. Ibu tidak perlu mengkonsumsi makanan yang khusus dalam jumlah besar agar bisa
menyusui bayinya. Ibu hanya memerlukan beberapa kalori tambahan. Bila ibu tidak dapat
makan dengan baik, ia harus tetap memproduksi ASI. Ibu membutuhkan kalori kira kira
500 kalori tambahan setiap hari (Prasetyono, 2009, p.142)
Dalam menyusui, yang lebih penting daripada menyiapkan payudara adalah
menyiapkan hal-hal tentang menyusui. Tidak ada perawatan khusus untuk puting atau
payudara sebelum menyusui.
Puting sudah dirancang untuk menyusui. Dalam banyak kasus, mereka akan
menjalankan fungsinya dengan sukses tanpa persiapan. Jika memungkinkan,
periksakanlah payudara ke dokter kandungan untuk mengetahui apakah ada kelainan
anatomi, seperti puting terbalik atau kelenjar yang kurang berkembang dengan baik
(Danuatmadja, 2003,
p.41).
2.6 Teknik dasar menyusui
Menurut penelitian, hampir semua masalah mulai dari puting susu lecet sampai
berkurangnya ASI, disebabkan karena kesalahan pada saat menyusui. Mengingat hal itu
akan lebih baik bila mempelajari teknik dasar menyusui (Musbikin, 2007, p.334)
Bayi menghisap secara alamiah, akan tetapi pada awalnya mungkin dia mengalami
kesulitan menemukan puting susu ibunya. Cara menolong paling mudah adalah dengan
menempelkan pipinya ke payudara. Lalu masukkan puting ke mulut bayi. Ibu dapat
melancarkan aliran air susu dengan cara menekan nekan areola. Untuk menghentikan
hisapan, masukkan sebuah jari di sudut mulutnya atau dorong dagunya ke bawah perlahan
lahan dengan ibu jari dan jari telunjuk. Pindahkan bayi ke payudara yang satunya lagi
sampai selesai menyusui. Dengan demikian, bayi menerima air susu dengan volume yang
sama dari setiap payudara setiap hari. Ibu pun terhindar dari pembekakan payudara akibat
terlalu penuh dengan air susu (Kristiyansari, 2009, p. 40)
1. Posisi menyusui
Ada banyak cara untuk memposisikan diri dan bayi selama proses menyusui
berlangsung. Sebagian ibu memilih menyusui dalam keadaan berbaring miring,
sambil merangkul bayinya. Sebagian lagi melakukanya sambil duduk di kursi dengan
punggung diganjal bantal dan kaki di atas bangku kecil. Seorang ibu sebaiknya
memposisikan diri dan bayinya sedemikian rupa agar kenyamanan menyusui dapat
tercapai (Kristiyansari, 2009, p.40)
Posisi ibu duduk :
a. Ibu duduk tegak dengan punggung lurus dan pangkuan rata, serta kaki
dipijakkan ke tanah secara rata.
b. Ibu bisa menggunakan bantal atau kantong pangkuan untuk menyangga
berat badan bayi dan agar bayi sejajar dengan payudara ibu.
c. Ibu menggendong bayi menggunakan lengan kanan bila menyusui
dengan payudara kiri. Demikian pula sebaliknya. Pada posisi ini, kepala,
leher, dan punggung bayi dalam keadaan lurus dan dengan kepala agak
terangkat ke belakang.
d. Ibu membuat pangkal leher dan kepala bayi leluasa bergerak ke belakang
saat bayi menengadah.
e. Ibu mengangkat bayi agar hidungnya sejajar dengan puting payudara.
f. Ibu menyentuh mulut bayi pada payudara dengan lembut. Sebaliknya,
ibu menunggu bayi dalam beberapa waktu hingga ia membuka lebar
mulutnya, misalnya saat ia menguap.
g. Ketika mulut bayi membuka lebar, segera mengarahkan mulut bayi ke
payudara.
h. Bila bayi telah dapat menyusu dengan baik, ibu bisa memindahkan bayi
ke lengan sebelah (Prasetyono, 2009, p. 150-151).
Posisi ibu tidur miring:
Posisi ibu menyusui dengan tidur miring dinilai kurang tepat karena posisi
payudara diatas kepala bayi, sehingga mulut bayi sukar mencapai puting
payudara ibu. Jika ibu menyukai posisi miring, hendaknya ibu mengusahakan
agar puting payudaranya sejajar mulut bayi, sehingga mulut bayi dapat lebih
mudah mencapai puting payudaranya, dan ia pun lebih leluasa menghisapnya
(Prasetyono, 2009, p.152).
2. Cara menyusui yang benar
Sebelum menyusui ASI dikeluarkan sedikit, kemudian dioleskan pada puting dan
disekitar kelang payudara. Cara ini mempunyai mempunyai manfaat sebagai
disinfektan dan menjaga kelembaban puting susu.
a. Bayi diletakkan menghadap perut ibu atau payudara.
b. Ibu duduk dengan santai, bila duduk lebih baik gunakan kursi yang rendah agar
kaki ibu menggantung dan punggung ibu bersandar pada sandaran kursi.
c. Bayi dipegang pada belakang bahunya dengan satu lengan, kepala bayi terletak
pada lengkuk siku ibu.
d. Satu tangan bayi diletakkan di belakang badan ibu dan satunya di depan.
e. Perut bayi menempel pada badan ibu, kepala bayi menghadap payudara.
f. Telinga dan lengan bayi teletak pada satu garis lurus.
g. Ibu menatap bayi dengan penuh kasih sayang.
h. Payudara dipegang dengan ibu jari diatas dan jari yang lain menopang di bawah,
jangan menekan puting susu.
i. Bayi diberi rangsangan agar membuka mulut.
j. Setelah bayi membuka mulut, segera kepala bayi di dekatkan ke payudara ibu
serta areola payudara dimasukkan ke mulut bayi (Kristiyansari, 2009, p.44).
2.7 Manfaat menyusui
Menurut Saleha, 2009 (p.31-33), manfaat menyusui antara lain :
1. Bagi bayi:
a. Komposisi sesuai kebutuhan.
b. Kalori dari ASI memenuhi kebutuhan bayi sampai usia enam bulan.
c. ASI merupakan zat pelindung.
d. Perkembangan psikomotorik lebih cepat.
e. Menunjang perkembangan kognitif.
f. Memperkuat ikatan batin ibu dan anak
2. Bagi ibu:
a. Mencegah perdarahan pasca persalinan
b. Mencegah anemia defisiensi besi
c. Mempercepat ibu kembali ke berat badan sebelum hamil
d. Menunda kesuburan
e. Mengurangi kemungkinan kanker payudara
f. Bagi keluarga:
g. Mudah dalam proses pemberianya
h. Mengurangi biaya rumah tangga
i. Bayi yang mendapatkan ASI jarang sakit, sehingga dapat menghemat biaya untuk
berobat.
2.8 Masalah pada saat menyusui
Aktifitas menyusui bayi ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Saat menyusui, ibu
seringkali mengalami kendalakendala. Sebenarnya kendala tersebut tidak terjadi andaikan
ibu memperoleh informasi yang memadai. Faktor internal sangat mempengaruhi
keberhasilan menyusui bayi. Diantaranya adalah kurangnya pengetahuan yang terkait
dalam menyusui. Karena tidak mempunyai pengetahuan yang memadai, ibu tidak
mengerti tentang cara menyusui bayi yang tepat, manfaat ASI, berbagai dampak yang
akan ditemui bila ibu tidak menyusui dan lain sebagainya (Prasetyono, 2009, p.110).

Selain dari faktor internal diatas tedapat juga masalah masalah dalam menyusui
diantaranya :
1. Kurang atau salah informasi
Banyak ibu yang merasa bahwa susu formula itu sama baiknya atau malah lebih baik
dari ASI sehingga cepat menambah susu formula bila merasa bahwa ASI kurang.
2. Puting susu datar atau terbenam
Setelah bayi lahir, puting susu datar atau terbenam dapat dikeluarkan dengan cara:
a. Susuilah bayi secepatnya segera setelah lahir saat bayi aktif dan ingin menyusui.
b. Susuilah bayi sesering mungkin ( misalnya tiap 2-21/2 jam ), ini akan
menghindarkan payudara terisi terlalu penuh dan memudahkan bayi untuk
menyusu.
c. Massage payudara dan mengeluarkan ASI secara manual sebelum menyusui dapat
membantu bila terdapat bendungan payudara dan puting susu tertarik ke dalam.
d. Pompa ASI yang efektif bukan yang berbentuk terompet atau bentuk (Squeeze
dan bulb) dapat dipakai untuk mengeluarkan ASI.
3. Puting susu nyeri
Umumnya ibu akan merasa nyeri pada waktu awal menyusui. Perasaan sakit ini akan
berkurang setelah ASI keluar. Bila posisi mulut bayi dan puting susu ibu benar,
perasaan nyeri akan segera hilang.
Cara menangani :
a. Pastikan posisi menyusui sudah benar.
b. Mulailah menyusui pada payudara yang tidak sakit, guna membantu mengurangi
sakit pada puting susu yang sakit.
c. Segera setelah minum, keluarkan sedikit ASI, oleskan pada puting susu dan
biarkan payudara terbuka untuk beberapa waktu sampai puting susu kering.
Nyeri pada puting susu merupakan masalah yang umum terjadi pada wanita
menyusui. Dari hasil penelitian terhadap 100 ibu menyusui, 96 diantaranya
mengalami nyeri puting susu pada waktu tertentu, terutama hari ke 3 dan ke 7 bahkan
beberapa wanita nyeri puting susu dapat berlangsung selama 6 minggu (Wheeler,
2003, p.181).
4. Puting susu lecet
Puting susu akan terasa nyeri apabila tidak ditangani dengan benar akan menjadi
lecet. Puting susu lecet dapat disebabkan oleh posisi menyusui yang salah, tapi dapat
pula disebabkan oleh dermatitis.
Cara menangani :
a. Cari penyebab puting lecet.
b. Obati penyebab puting lecet terutama perhatikan posisi menyusui.
c. Kerjakan semua cara-cara menangani susu nyeri di atas tadi.
d. Ibu dapat terus memberikan ASInya pada keadaan luka tidak begitu sakit.
e. Olesi puting susu dengan ASI akhir (hind milk), jangan sekalikali memberikan
obat lain, seperti krim, salep, dan lain-lain.
f. Puting susu yang sakit dapat diistirahatkan untuk sementara waktu kurang lebih
1x24 jam, dan biasanya akan sembuh sendiri dalam waktu sekitar 2x24 jam.
g. Selama puting susu di istirahatkan, sebaiknya ASI tetap dikeluarkan dengan
tangan, dan tidak dianjurkan dengan alat pompa karena nyeri.
h. Cuci payudara sekali saja sehari dan tidak dibenarkan untuk menggunakan
dengan sabun.
i. Bila sangat menyakitkan, berhenti menyusui pada payudara yang sakit untuk
sementara, untuk memberi kesempatan lukanya sembuh.
j. Keluarkan ASI dari payudara yang sakit dengan tangan (janga dengan pompa ASI)
untuk tetap mempertahankan kelancaran pembentukan ASI.
k. Berikan ASI perah dengan sendok atau gelas, jangan menggunakan dot.
l. Setelah terasa membaik, mulai menyusui kembali mula-mula dengan waktu yang
lebih singkat.
m. Bila lecet tidak sembuh dalam 1 minggu, rujuk ke puskesmas.
5. Payudara bengkak
Pada hari-hari pertama, payudara sering terasa penuh dan nyeri, disebabkan
bertambahnya aliran darah ke payudara bersamaan dengan ASI mulai diproduksi
dalam jumlah banyak.
Penyebab bengkak :
a. Posisi mulut bayi dan puting susu ibu salah.
b. Produksi ASI berlebihan.
c. Terlambat menyusui.
d. Pengeluaran ASI yang jarang.
e. Waktu menyusui yang terbatas.

Cara mengatasinya :
a. Susui bayinya semaunya dia sesering mungkin tanpa jadwal dan tanpa batas
waktu.
b. Bila bayi sukar menghisap, keluarkan ASI dengan bantuan tangan atau pompa ASI
yang efektif.
c. Sebelum menyusui, untuk merangsang reflek oksitosin dapat dilakukan: kompres
hangat untuk mengurangi rasa sakit, massage leher dan punggung.
d. Setelah menyusui, kompres air dingin untuk mengurangi oedema.
6. Mastitis atau abses payudara
Mastitis adalah peradangan pada payudara. Payudara menjadi merah, bengkak,
kadangkala diikuti rasa nyeri dan panas, suhu tubuh meningkat. Kejadian ini terjadi
pada masa nifas 1-3 minggu setelah persalinan diakibatkan oleh sumbatan saluran ASI
yang berlanjut.
Tindakan yang dapat dilakukan :
a. Kompres hangat atau panas dan pemijatan.
b. Rangsang oksitosin, dimulai pada payudara yang tidak sakit yaitu stimulasi puting
susu, pijat leher punggung, dan lain-lain.
c. Pemberian antibiotik : Flucloxacilin atau erythromycin selama 7-10 hari.
d. Bila perlu bisa diberikan istirahat total dan obat untuk penghilang rasa nyeri.
e. Kalau terjadi abses sebaiknya tidak disusukan karena mungkin perlu tindakan
bedah.
7. Sindrom ASI kurang
Tanda bahwa ASI benar-benar kurang, antra lain :
a. Berat badan (BB) bayi meningkat kurang dari rata-rata 500 gram per bulan.
b. BB lahir dalam waktu 2 minggu belum kembali.
c. Ngompol rata-rata kurang dari 6 kali dalam 24 jam, cairan urin pekat, bau dan
warna kuning.
8. Ibu bekerja
Seringkali alasan pekerjaan membuat seseorang ibu berhenti menyusui. Sebenarnya
ada beberapa cara yang dapat dianjurkan pada ibu menyusui yang bekerja:
a. Susuilah bayi sebelum ibu bekerja
b. ASI dikeluarkan untuk persediaan di rumah sebelum berangkat bekerja.
c. Pengosongan payudara ditempat kerja setiap 3-4 jam.
d. ASI dapat disimpan di lemari pendingin dan dapat diberikan pada bayi saat ibu
bekerja dengan cangkir.
e. Pada saat ibu di rumah sesering mungkin bayi disusui dan ganti jadwal
menyusuinya sehingga banyak menyusui di malam hari.
f. Keterampilan mengeluarkan ASI dan merubah jadwal menyusui sebaiknya telah
mulai dipraktikkan sejak satu bulan sebelum kembali bekerja.
9. Ibu melahirkan dengan SC
Posisi menyusui yang dianjurkan adalah sebagai berikut :
a. Ibu dapat dalam posisi berbaring miring dengan bahu dan kepala yang ditopang
bantal, sementara bayi disusukan dengan kakinya ke arah ibu.
b. Apabila ibu sudah dapat duduk bayi dapat ditidurkan di bantal di atas pangkuan
ibu dengan posisi kaki bayi mengarah ke belakang ibu di bawah lengan ibu.
c. Dengan posisi memegang bola yaitu ibu terlentang dan bayi berada di ketiak ibu
dengan kaki ke arah atas dan tangan ibu memegang kepala bayi.
Masalah menyusui pada bayi:
1) Bayi sering menangis
Menangis untuk bayi adalah cara berkomunikasi dengan orang-orang
disekitarnya. Karena itu bila bayi sering menangis perlu dicari sebabnya, dan
sebabnya tidak selalu karena kurang ASI.
2) Bayi bingung puting
Bingung puting (nipple confusion) adalah suatu keadaan yang terjadi karena
bayi mendapat susu formula dalam botol berganti-ganti dengan menyusu pada
ibu. Peristiwa ini terjadi karena mekanisme pada puting ibu berbeda dengan
mekanisme menyusu pada botol.
3) BBLR
Bayi kecil, prematur atau dengan berat badan lahir rendah (BBLR)
mempunyai masalah menyusui karena refleks menghisapnya masih relatif
lemah. Oleh karenanya bayi kecil justru harus cepat dan lebih sering dilatih
menyusu. Berikan sesering mungkin walaupun waktu menyusunya pendek-
pendek.
4) Bayi kuning (ikterik)
Bayi kuning lebih sering terjadi dan lebih berat kasusnya pada bayibayi yang
tidak mendapat ASI cukup. Menyusui dini sangat penting, karena bayi akan
mendapat kolostrum atau susu jolong (susu awal). Kolostrum bersifat purgatif
ringan, sehingga membantu bayi untuk mengeluarkan mekonium (feses bayi
pertama yang berwarna kehitaman). Bilirubin dikeluarkan melalui feses, jadi
di sini kolostrum berfungsi mencegah dan menghilangkan bayi kuning.
5) Bayi kembar
Mula-mula ibu dapat menyusui seorang demi seorang, tetapi sebenarnya ibu
dapat menyusui sekaligus berdua. Salah satu posisi yang mudah untuk
menyusui adalah dengan posisi memegang bola (football position). Jika ibu
menyusui bersama-sama, bayi haruslah menyusu pada payudara secara
bergantian, jangan hanya menetap pada satu payudara saja.
6) Bayi sakit
Sebagian kecil sekali dari bayi yang sakit, dengan indikasi khusus tidak
diperbolehkan mendapatkan makanan per oral, tetapi apabila sudah
diperbolehkan, maka ASI harus tetap diberikan.
7) Bayi sumbing
Ibu harus tetap mencoba menyusui bayinya, karena bayi masih bisa menyusu
dengan kelainan seperti ini. Keuntungan khusus untuk
keadaan seperti ini adalah bahwa menyusu justru dapat melatih kekuatan otot
rahang dan lidah, sehingga memperbaiki perkembangan bicara anak.
8) Bayi dengan lidah pendek
Keadaan seperti ini jarang terjadi yaitu bayi mempunyai Lingual frenulum
(jaringan ikat penghubung lidah dan dasar mulut) yang pendek dan tebal serta
kaku tak elastis, sehingga membatasi gerak lidah dan bayi tidak dapat
menjulurkan lidahnya untuk mengurut puting dengan optimal.
9) Bayi yang memerlukan perawatan
Bila bayi sakit dan memerlukan perawatan padahal bayi masih menyusu pada
ibu, baiknya bila ada fasilitas, ibu ikut dirawat agar pemberian ASI tetap dapat
dilanjutkan. Seandainya hal ini tidak memungkinkan maka ibu dianjurkan
memerah ASI setiap 3 jam dan disimpan didalam lemari es untuk kemudian
sehari sekali diantar ke rumah sakit di dalam termos es. Perlu diperlukan tanda
pada botol penampung ASI, jam berapa ASI diperah dan yang lebih dahulu
diperah dapat diperlukan terlebih dahulu.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Setelah melahirkan, ibu mengalami perubahan fisik dan fisiologis yang juga
mengakibatkan adanya beberapa perubahan dari psikisnya. Tidak heran bila ibu mengalami
sedikit perubahan perilaku dan sesekali merasa kerepotan. Masa ini adalah masa rentan dan
terbuka untuk bimbingan dan pembelajaran.
Dalam teori Reva Rubin membagi peiode ini menjadi 3 bagian, yaitu : Periode taking
in, periode talking hold dan teori letting go. Adapun Factor-faktor yang
mempengaruhi suksesnya masa transisi ke masa menjadi orang tua pada saat post partum,
antara lain : respon dan dukungan keluarga dan teman, hubungan dari pengalaman
melahirkan terhadap harapan dan aspirsasi, pengalaman melahirkan dan membesarkan anak
yang lalu dan pengaruh budaya.

3.2 Saran
Masa nifas adalah masa yang sangat rentan bagi ibu, maka dari itu ibu harus sangat
diperhatikan, baik keluarga maupun tim kesehatan. Karena ibu pada masa ini akan banyak
mengalami perubahan baik fisik maupun pskologis.
Semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, begitu juga dengan penulis.
Bila dalam pembuatan Makalah ini ada kekurangan, penulis mengharapkan kritikan dan saran
dari pembaca guna penyempurnaan Makalah ini.

Daftar Pustaka
Depkes RI. 2011. Target Tujuan Pembangunan MDGs. Direktorat Jendral Kesehatan Ibu dan
Anak. Jakarta. Carpenito, Lynda Jual. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta:
EGC.

Green, Carol J dan Judith M. Wilkinson. 2012. Rencana Asuhan Keperawatan. Ahli Bahasa:
Monica Ester, S.Kep. Jakarta: EGC.

Koniak-Griffin D dkk. 2012. Keperawatan Maternitas. Volume 2. Edisi 18.


Jakarta: EGC.

Manuaba. 2009. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Edisi 2. Jakarta: EGC.

Mitayani. 2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: SalembaMedika.