Anda di halaman 1dari 19

PETUNJUK DAN BUKTI EVOLUSI BERDASARKAN FOSIL

Makalah
Disusun untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Evolusi
yang dibina oleh Dr. Abdul Ghofur, M.Si

Disusun oleh :
Kelompok 3
Vita Ayu Lambang Sari (110341421505)
Pramisya Indah Cahyahesti (110341421517)
Krisnaini Haneum Permata (110341421529)
Offering A-S1 Pendidikan Biologi

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Januari 2014
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah penulis ucapkan kepada Allah SWT, karena atas ridho-Nya


Makalah dengan judul Petunjuk Dan Bukti Evolusi Berdasarkan Fosil dapat
diselesaikan tepat waktu. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas matakuliah
Evolusi yang diampu oleh Bapak Dr. Abdul Ghofur, M.Si
Selanjutnya, penulis mengucapkan terima kasih kepada.
1. Bapak Dr. Abdul Ghofur, M.Si. selaku dosen pengampu matakuliah
sekaligus pembimbing dalam pembuatan makalah ini.
2. Teman-teman biologi offering A angkatan 2011.
3. Semua pihak yang telah membantu didalam proses penyusunan makalah
ini.
Terlepas dari semua kekurangan penulisan makalah ini, baik dalam susunan
dan penulisannya yang salah, penulis mohon maaf dan berharap semoga penulisan
makalah ini bermanfaat khususnya untuk penulis dan kepada pembaca yang
budiman.
Dengan tangan terbuka penulis menerima kritik dan saran yang membangun
untuk perbaikan dalam penyusunan makalah selanjutnya.
Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada
siapa saja yang mencintai ilmu dan pendidikan. Amin Ya Robbal Alamin.

Malang, 22 Januari 2014

Penulis,
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan ilmu pengetahuan telah melahirkan banyak pemikiran
manusia mengenai suatu proses perubahan yang terjadi pada alam semesta ini.
Perubahan tersebut mencangkup perubahan pada mahkluk hidup maupun
habitatnya.Proses- proses perubahan tersebut dapat terjadi secara berangsur-
angsur menuju ke arah yang sesuai dengan masa dan tempat. Menurut Minkoff
(1983) evolusi merupakan proses perubahan pada populasi kehidupan.Pemikiran-
pemikiran mengenai teori evolusi selalu berubah dalam kurun waktu tiga abad
lebih. Untuk itu,perlu adanya suatu petunjuk evolusi yang dapat mendukung teori-
teori yang ada tersebut.
Petunjuk tentang adanya evolusi dapat dipelajari dari struktur organ
berbagai mahluk hidup yang memiliki kesamaan. Fosil merupakan mahluk hidup
yang tertimbun oleh tanah, pasir, lumpur, dan akhirnya membatu. Pada umumnya
fosil yang ditemukan terdapat dalam keadaan tidak utuh, yaitu hanya merupakan
bagian atau beberapa bagian dari tubuh mahluk hidup. Dari data fosil diperoleh
juga data tentang homologi anatar fosil disuatu daerah tertentu selain itu
ditemukan pula bahwa mahluk hidup yang ada pada kehidupan paling awal
bersifat lebih primitif dari mahluk hidup sekarang.
Rudimentasi organ merupakan petunjuk adanya evolusi. Data fosil untuk
kelompok kuda dan primata cukup lengkap untuk mendeskripsikan evolusi terjadi
pada kelompok hewan. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis mengkaji lebih
dalam pada makalah yang berjudul Petunjuk Dan Bukti Evolusi Berdasarkan
Fosil
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat ditarik beberapa rumusan masalah
yaitu:
1. Bagaimana pengertian fosil?
2. Bagaimana tipe dan jenis fosil?
3. Bagaimana cara menentukan umur fosil?
4. Bagaimana hukum suksesi?
5. Bagaimana apa yang dimaksud fosil dan batuan?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah, tujuan dari pembuatan makalah yaitu :
1. Untuk menjelaskan pengertian fosil
2. Untuk menjelaskan tipe dan jenis fosil
3. Untuk menjelaskan cara menentukan umur fosil
4. Untuk menjelaskan hukum suksesi
5. Untuk menjelaskan yang dimaksud fosil dan batuan

1.4 Batasan Masalah


Dalam makalah ini tidak dibahas secara rinci fosil apa saja yang ada dalam
evolusi, hanya tipe dan jenisnya.

1.5 Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan makalah ini sebagai berikut:
1. Bagi penulis dapat menambah wawasan mengenai petunjuk dan bukti
evolusi berdasarkan fosil.
2. Bagi pembaca dapat memberikan informasi lebih lengkap mengenai
petunjuk dan bukti evolusi berdasarkan fosil.
BAB II
PEMBAHASAN

Evolusi adalah suatu proses perubahan makhluk hidup secara bertahap dan
membutuhkan waktu yang lama dari bentuk yang sederhana, menjadi bentuk yang
lebih kompleks. Diperlukan waktu jutaan tahun agar perubahan tersebut nampak
lebih jelas. Petunjuk tentang adanya evolusi dapat dipelajari dari struktur organ
berbagai mahluk hidup yang memiliki kesamaan (Widodo, dkk. 2003).

1. Pengertian Fosil
Berdasarkan asal katanya, fosil berasal dari bahasa latin yaitu fossa yang
berarti galian, adalah sisa-sisa atau bekas-bekas makhluk hidup yang menjadi
batu atau mineral. Untuk menjadi fosil, sisa-sisa hewan atau tanaman ini harus
segera tertutup sedimen. Oleh para pakar dibedakan beberapa macam fosil. Ada
fosil batu biasa, fosil yang terbentuk dalam batu ambar, fosil ter, seperti yang
terbentuk di sumur ter La Brea di California. Hewan atau tumbuhan yang dikira
sudah punah tetapi ternyata masih ada disebut fosil hidup dan ilmu yang
mempelajari fosil adalah paleontologi.
Secara singkat definisi dari fosil harus memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut:
1. Sisa-sisa organisme.
2. Terawetkan secara alamiah.
3. Pada umumnya padat /kompak/keras.
4. Berumur lebih dari 11.000 tahun.
Istilah fosil hidup adalah istilah yang digunakan suatu spesies hidup yang
menyerupai sebuah spesies yang hanya diketahui dari fosil. Beberapa fosil hidup
antara lain ikan coelacanth dan pohon ginkgo. Fosil hidup juga dapat mengacu
kepada sebuah spesies hidup yang tidak memiliki spesies dekat lainnya atau
sebuah kelompok kecil spesies dekat yang tidak memiliki spesies dekat lainnya.
Contoh dari kriteria terakhir ini adalah nautilus. Mempelajari evolusi tidak bisa
meninggalkan fosil. Dahulu teori evolusi banyak diuji dengan melihat fosil-fosil
yang merupakan peninggalan makhluk hidup pada masa lalu. Tetapi perlu
diketahui juga bahwa Charles Darwin ketika membuat buku the origin of
species tidak diawali dengan fosil namun lebih banyak memanfaatkan fenomena
burung-burung di Galapagos. Perkembangan teori evolusi saat ini sudah
menggunakan bermacam-macam metode mutahir, tetapi jelas tidak hanya kearah
masa kini dengan menafaatkan DNA saja.
Fosil masih merupakan alat terbaik dalam mempelajari, mengkaji, dan
menguji teori evolusi. Apa sih sebenarnya fosil itu ? Apa saja jenisnya, bagaimana
terbentuknya? Paleontologi adalah cabang ilmu geologi yang mempelajari fosil.
Seluk beluk fosil dipelajari oleh seorang paleontologist. Fosil sendiri adalah jejak
kehidupan masa lalu. Banyak yang mengira kalau ketemu fosil Dinosaurus itu
berupa tulang yang utuh, namun sebenarnya yang sering ditemukan itu hanyalah
bagian dari tulang, atau tulang-tulang yang berserakan. Dalam ilmu geologi,
tujuan mempelajari fosil adalah:
1. untuk mempelajari perkembangan kehidupan yang pernah ada di muka
bumi sepanjang sejarah bumi;
2. mengetahui kondisi geografi dan iklim pada zaman saat fosil tersebut
hidup;
3. menentukan umur relatif batuan yang terdapat di alam didasarkan atas
kandungan fosilnya;
4. untuk menentukan lingkungan pengendapan batuan didasarkan atas sifat
dan ekologi kehidupan fosil yang dikandung dalam batuan tersebut ;
5. untuk korelasi antar batuan batuan yang terdapat di alam (biostratigrafi)
yaitu dengan dasar kandungan fosil yang sejenis/seumur (Widodo, dkk.
2003).

2. Tipe Dan Jenis Fosil


Menurut ahli paleontologi ada beberapa jenis fosil tetapi secara umum ada
dua macam jenis fosil yang perlu diketahui, yaitu: fosil yang merupakan bagian
dari organisme itu sendiri dan fosil yang merupakan sisa-sisa aktifitasnya
(Campbell, N. A., Reece, J. B. 2005).

2.1. Tipe fosil yang berasal dari organismenya sendiri


Tipe pertama ini adalah binatangnya itu sendiri yang terawetkan/tersimpan,
dapat berupa tulangnya, daun-nya, cangkangnya, dan hampir semua yang
tersimpan ini adalah bagian dari tubuhnya yang keras. Dapat juga berupa
binatangnya yang secara lengkap (utuh) tersipan. misalnya fosil Mammoth yang
terawetkan karena es, ataupun serangga yang terjebak dalam amber (getah
tumbuhan).
2.2. Tipe fosil yang merupakan sisa-sisa aktifitasnya
Fosil jenis ini sering juga disebut sebagai trace fosil (fosil jejak), karena
yang terlihat hanyalah sisa-sisa aktifitasnya. Jadi ada kemungkinan fosil itu bukan
bagian dari tubuh binatang atau tumbuhan itu sendiri. Gambar 10.1 diperlihatkan
bagaimana fosil jejak terbentuk sebagai hasil dari aktivitasnya. Adapun jenis fosil
jejak antara lain coprolite (fosil bekas kotoran binatang) dan trail and tracks
(fosil bekas jejak langkah binatang). Penyimpanan atau pengawetan fosil
cangkang dapat berbentuk cetakan, berupa cetakan bagian dalam (internal mould)
dicirikan bentuk permukaan yang halus, atau external mould dengan ciri
permukaan yang kasar. Keduanya bukan binatangnya yang tersiman, tetapi
hanyalah cetakan dari binatang atau organisme itu.
Rudimentasi organ merupakan petunjuk adanya evolusi. Organ yang
berguna pada suatu makhluk hidup, pada makhluk hidup lain dapat kurang
berfungsi. Contohnya: tulang ekor pada manusia kurang berfungsi, namun pada
kelompok mamalia lain sangat berkembang dan berfungsi sebagai ekor.
Contoh tipe dan jenis petunjuk evolusi sebagai berikut :

Gambar 1.Fosil Bintang laut Gambar 2. Fosil Capung


Gambar 3.Fosil Lebah madu Gambar 4. Fosil Ikan (Coelacan410 tahun lalu)

Gambar 5. Fosil Reptilia 70 juta tahun lalu

Fosil fosil tersebut ditemukan pada era yang berbeda-beda.Pada


Precambrian atau Cryptozoic Eon hampir sedimen batunya telah dikonversi oleh
suhu dan tekanan tinggi kedalam batuan metamorfic, yang mana hanya jarang
sekali berisi fosil (Minkoff, 1983).Prekambrian ini terjadi sekitar 540 juta tahun
yang lalu.Paleozoikum adalah masa perubahan drastis geologi ,iklim, dan evolusi.
Periode Kambrium menyaksikan diversifikasi paling cepat dan luas hidup dalam
sejarah bumi, dikenal dengan ledakan kambria.Dimana filum yang paling modern
pertama muncul.Ikan, arthropoda, amfibi dan reptil semua berevolusi selama
Paleozoikum.Hidup dimulai pada laut tetapi berakhirnya beralih ke darat. Akhir
Paleozoikum, didominasi oleh berbagai bentuk organisme. Era Mesozoikum
merupakan selang waktu geologi sekitar 250 juta tahun yang lalu sampai sekitar
65 juta tahun yang lalu. Era tersebut sering dirujuk sebagai jaman reptl karena
reptil, Non unggas, dinosaurus,vertebrata darat dan laut yang dominan. Zaman
Cenozoikum terjadi sekitar 65 juta tahun yang lalu, dari akhir periode kapur dan
kepunahan dinosaurus non-unggas hingga sekarang.Zaman Cenozoikum kadang-
kadang disebut zaman mamalia, karena hewan terbesar adalah mamalia selama
waktu itu.Ini adalah kekeliruan besar dengan beberapa alasan.Pertama, sejarah
mamalia jauh dimulai sebelum jaman Cenozoikum dimulai. Kedua, keragaman
hidup zaman Cenozoikum jauh lebih luas daripada mamalia( Dafid,P ,et al, 2008).

3. Cara Menentukan Umur Fosil


Ada dua cara untuk menentukan/menghitung umur fosil, yaitu
a. secara relatif (relative dating technique)
b. secara mutlak (absolute dating technique)
3.1 Teknik pertanggalan relative
Pada masa lalu metode penanggalan relatif sering menjadi satu-satunya
teknik yang digunakan oleh para ahli paleoantropologi. Akibatnya, secara
kronologis sulit membandingkan fosil dari berbagai tempat di dunia. Namun,
metode relatif masih sangat bermanfaat untuk menghubungkan temuan-temuan
dari situs-situs yang sama atau berdekatan dengan sejarah geologi yang serupa.
a. Stratigrafi (lapisan bebatuan)
Metode relatif yang paling sederhana dan paling tua adalah stratigrafi atau
penanggalan stratigrafi. Metode ini didasarkan pada prinsip superposisi yang
menyatakan bahwa jika ada lapisan endapan, maka yang lebih tua berada di
bawah dan yang lebih muda berada di atas. Prinsip ini sangat logis dan tidak
berbelit-belit (straightforward). Namun demikian, lapiran geologis tidak selalu
ditemukan dalam susunan kronologis yang rapi (ideal). Angin dan air melapukkan
lapisan dan beberapa area terangkat atau bahkan tumpang tindih (tilted). Proses ini
berakibat pada terjadinya geological conformities atau terputusnya sekuen
stratigrafi original. Selain itu, banyak lubang yang digali oleh manusia maupun
hewan yang berakibat pada tercampur-aduknya material dari berbagai lapisan
(lihat gambar di bawah).
Semua proses tersebut mengacaukan catatan stratigrafis. Namun, dalam
banyak kasus, mungkin saja merekonstruksi sekuen original strata sehingga
hasilnya dapat digunakan untuk melakukan penanggalan relatif. Misalnya, jika
kita menemukan fosil tulang di bawah strata 3 lapisan batuan yang digambarkan
di atas, maka kita berasumsi bahwa hewan tersebut kemungkinan besar hidup
pada masa sebelum terbentuknya lapisan tersebut. Namun, kita harus hati-hati dan
memperhatikan apakah fosil tersebut berasal dari zona strata yang bercampur
aduk tersebut ataukah tidak.
Jika ada dua objek ditemukan dalam strata yang sama dalam satu situs,
maka biasanya diasumsikan bahwa kedua objek tersebut berasal dari periode yang
sama. Ini merupakan penerapan prinsip asosiasi. Namun, asumsi kesezamanan
(contemporaneity) kemungkinan tidak selalu benar. Sebabnya adalah kenyataan
bahwa salah satu atau kedua objek tersebut bisa saja telah berpindah atau
terendapkan kembali di lokasi yang berbeda. Dengan kata lain, kedua-duanya
kemungkinan tidak lagi berada dalam konteks primernya.
b. Biostratigrafi
Ketika tulang-belulang leluhur kita ditemukan dalam strata geologi yang
sama sebagaimana halnya dengan tulang-belulang binatang yang diketahui pernah
hidup hanya dalam kurun waktu tertentu di masa lalu, maka diasumsikan bahwa
leluhur kita itu pasti juga berasal dari waktu yang sama (hidup dalam waktu yang
bersamaan). Cara ini disebut penanggalan dengan asosiasi fosil indeks, atau
biostratigrafi. Gajah, kuda, babi, tikus, dan beberapa spesies monyet digunakan
sebagai fosil indeks karena binatang-binatang tersebut mengalami perubahan-
perubahan evolusioner relatif cepat yang dapat diidentifikasi pada gigi-geligi dan
bagian-bagian rangka lainnya. Tulang-belulang binatang-binatang itu juga sering
ditemukan berasosiasi dengan leluhur kita baik manusia ataupun primata.
c. Analisis fluorin
Jika yang ditemukan adalah tulang, gigi, atau tanduk, maka dapat digunakan
analisis fluorin untuk mengetahui apakah binatang-binatang tersebut benar-benar
hidup pada waktu yang kurang lebih sama. Metode relatif ini didasarkan pada
kenyataan bahwa ada perubahan-prubahan kimiawi progresif yang spesifik dalam
sisa rangka akibat terkuburnya individu di dalam tanah. Seiring dengan
berjalannya waktu, komponen-komponen organik tulang ini (sebagian besar
lemak dan protein) hilang terutama karena peran bakteri. Karena komponen-
komponen ini terdiri dari nitrogen, maka unsur-unsur tersebut hilang secara
progresif. Pada saat yang bersamaan, air tanah yang meresap mengendapkan trace
amounts fluorin dan unsur-unsur lainnya (seperti uranium) ke dalam tulang.
Akibatnya, jumlah fluorin dan trace elements lainnya berkurang secara progresif.
Jika tulang-belulang kedua binatang di atas terkubur pada waktu yang bersamaan
di situs yang sama, maka keduanya pasti memiliki jumlah nitrogen dan fluorin
yang relatif sama. Jika tidak, maka kemungkinan besar kedua binatang tersebut
berasal dari area yang berbeda meskipun keduanya ditemukan berasosiasi satu
sama lain.

Analisis fluorin hanya dapat digunakan hanya sebagai metode penanggalan


relatif karena derajat peluruhan dan jumlah mineral yang larus dalam air tanah
bervariasi dari situs satu ke situs lainnya. Dengan kata lain, jam biokimiawi yang
dijadikan landasan bagi metode ini bekerja pada derajat yang berbeda di
lingkungan yang berbeda. Analisis fluorin terutama digunakan untuk melakukan
verifikasi apakah dua fosil yang berada dalam satu strata di situs yang sama
tersebut sezaman (seumur) ataukah tidak. Jika tidak, maka setidaknya salah
satunya pasti secara fisik berada di luar konteks.

3.2 Teknik Absolute atau Teknik Pertanggalan Radioaktif


Carbon 14 sering pula disebut dengan radio carbon dating. Carbon 14
bereaksi dengan Oksigen membentuk CO (gas asam arang). Gas asam arang ini
sangat dibutuhkan oleh tumbuh-tumbuhan dalam pertumbuhan, yang setelah
diisap dan digunakan dilepas kembali. Karena itu jumlah C 14 di dalam tubuh
tumbuh-tumbuhan dianggap tetap selama tumbuhan tersebut masih hidup. Pada
saat organisme itu mati, terjadilah pengurangan C-14 dalam organisme itu karena
tidak ada lagi tambahan C-14 yang masuk ke dalam organisme tersebut. Dengan
mengukur kadar karbon-14 yang masih ada didalam fosil kayu yang diketemukan
pada lapisan batuan tertentu, dapat dihitung sejak kapan organisme itu mati dan
sekaligus menunjukkan umur dari lapisan batuan dimana fosil kayu itu ada.
Unsur C-14 merupakan bahan radioaktif beta negatif dan memiliki waktu
paruh yang panjang yaitu 5.730. setiap mahluk hidup mengandung unsur C-14
oleh karena itu unsur ini dapat degunakan untuk mengidentifikasi fosil. Cara
mengidentifikasi fosil tersebut ialah dengan mengambil sempel dari mahluk
tersebut kemudian dilakukan pencacahan untuk mengetahui jumlah atom yang ada
di mahluk tersebut yaitu dengan mengetahui jumlah atomnya maka dapat
menentukan waktu paruh dari unsur itu Rumus untuk menghitung berapa tua
sebuah sampel dengan penanggalan carbon-14 adalah :
t = [ ln (Nf/No) / (-0.693) ] x t1/2
dimana: ln = logaritma natural
Nf/No = % carbon-14 dalam sampel dibanding dengan jumlahnya dalam
jaringan hidup
t1/2 = waktu paruh carbon-14 (5.700 tahun).

Jadi, bila anda menemukan fosil dengan 10 persen carbon-14 dibandingkan


sampel hidup, maka fosil itu akan berusia
t = [ ln (0.10) / (-0.693) ] x 5,700 tahun
t = [ (-2.303) / (-0.693) ] x 5,700 tahun
t = [ 3.323 ] x 5,700 tahun
t = 18,940 tahun
Karena waktu paruh carbon-14 5.700 tahun, ia hanya sah untuk penentuan
usia benda hingga 60.000 tahun. Walau demikian, prinsip carbon-14 berlaku pada
isotop lainnya pula. Potassium-40 adalah unsur radioaktif lainnya yang alami
ditemukan dalam tubuh anda dan memiliki waktu paruh 1,3 miliar tahun.
Radioisotop lainnya yang berguna untuk penanggalan radioaktif termasuk
Uranium-235 (waktu paruh = 704 juta tahun), Uranium-238 (Waktu paruh = 4,5
miliar tahun), Thorium-232 (waktu paruh = 14 miliar tahun) dan Rubidium-87
(waktu paruh = 49 miliar tahun).

4. Hukum Suksesi
Ada tiga prinsip utama yang perlu diketahui dalam mempelajari fosil, yaitu:
a. Fosil mewakili sisa-sisa kehidupan dari suatu organisme,
b. Hampir semua fosil yang ditemukan dalam batuan merupakan sisa-sisa
organisme yang sudah punah dan umumnya merupakan spesies yang masa
hidupnya tidak begitu lama,
c. Perbedaan spesies fosil akan dijumpai pada batuan yang berbeda umurnya
dan hal ini disebabkan karena kondisi lingkungan bumi mengalami
perubahan.
Apabila kita telusuri fosil-fosil yang terkandung dalam lapisan batuan,
mulai dari lapisan yang termuda hingga ke lapisan yang tertua, maka kita akan
sampai pada suatu lapisan dimana salah satu spesies fosil tidak ditemukan lagi.
Hal ini menandakan bahwa spesies fosil tersebut belum muncul (lahir) atau
spesies fosil tersebut merupakan hasil evolusi dari spesies yang lebih tua atau
yang ada pada saat itu. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa kemunculan
suatu spesies merupakan hasil evolusi dari spesies sebelumnya dan hal ini dapat
kita ketahui melalui pengamatan fosil-fosil yang terekam di dalam lapisan-lapisan
batuan sepanjang sejarah bumi. Apabila penelusuran kita lanjutkan hingga ke
lapisan batuan yang paling tua, maka kita akan sampai pada suatu keadaan dimana
tidak satupun fosil ditemukan, apakah itu fosil yang berasal dari reptil, burung,
mamalia, vertebrata berkaki empat, tumbuhan darat, ikan, cangkang, dan atau
binatang lainnya (Wahyu, 2012).
Berdasarkan hal tersebut, maka ketiga prinsip utama diatas dapat kita
sintesakan menjadi satu prinsip yang berlaku secara umum yang disebut sebagai
Hukum Suksesi Fosil (Hukum Suksesi Fauna). Kemunculan dari beberapa
spesies dari kelompok binatang dan tumbuh-tumbuhan dalam rentang umur bumi,
yaitu sejak zaman Kambrium hingga zaman Kuarter (Wahyu, 2012).
Berbagai jenis binatang dan tumbuhan yang ditemukan sebagai fosil telah
mengalami perubahan selama kurun waktu dari sejarah bumi. Ketika kita
menemukan fosil yang sama dalam batuan yang lokasinya berbeda, maka kita
tahu bahwa batuan tersebut berumur sama. Para ilmuwan awalnya menjelaskan
adanya perubahan dan pergantian berbagai jenis spesies yang hidup dimuka bumi
dasarkan atas pemikiran tentang suksesi bencana-alam atau katatrofisme yang
secara periodik merusak dan memusnahkan lingkungan hidup suatu organisme.
Setelah peristiwa katatrofisme maka akan muncul kehidupan yang baru lagi
(Wahyu, 2012).
Hukum suksesi fauna (fosil) sangat penting bagi para ahli geologi yang
ingin mengetahui umur batuan saat melakukan penelitian. Kehadiran fosil pada
suatu singkapan batuan atau batuan yang berasal dari inti bor dapat dipakai untuk
menentukan umur batuan secara akurat. Kajian yang rinci dari berbagai macam
jenis batuan yang diambil di berbagai lokasi akan menghasilkan beberapa jenis
fosil yang mempunyai kisaran hidup yang relatif pendek dan fosil jenis ini disebut
sebagai fosil indek (Wahyu, 2012).
Batuan yang mengandung fosil dipelajari baik di lapangan maupun di
laboratorium. Pekerjaan lapangan dapat dilakukan dimana saja di dunia ini. Di
laboratorium, sampel batuan yang akan di analisa harus terlebih dahulu disiapkan
melalui suatu prosedur baku. Persiapan sampel batuan yang akan di analisa bisa
memakan waktu 1 hari, 1 minggu atau 1 bulan. Sekali fosil diambil dari batuan,
maka fosil tersebut dapat dipelajari atau ditafsirkan. Sebagai tambahan, bahwa
batuan sendiri sebenarnya menyediakan banyak informasi yang berguna tentang
lingkungan dimana fosil tersebut terbentuk. Fosil dapat dipakai untuk mengenal
batuan yang berbeda umurnya (Wahyu, 2012).

5. Fosil dan Batuan


Pada hakekatnya untuk mempelajari sejarah bumi kita secara tidak
langsung mempelajari rekaman dari peristiwa-peristiwa masa lalu yang tersimpan
dan terawetkan di dalam batuan. Perlapisan batuan disini dapat diumpamakan
sebagai halaman-halaman dari suatu buku. Hampir semua singkapan batuan yang
ada dipermukaan bumi adalah batuan sedimen. Sebagaimana diketahui bahwa
batuan sedimen terbentuk dari partikel-partikel batuan yang lebih tua yang hancur
akibat gerusan air atau angin. Partikel-partikel yang berukuran kerikil, pasir, dan
lempung ini melalui media air atau angin diangkut dan kemudian diendapkan di
dasar-dasar sungai, danau, atau lautan (Yuflih, 2013).

Endapan sedimen kemungkinan dapat mengubur binatang atau tanaman


yang masih hidup atau yang sudah mati di dasar danau atau lautan. Dengan
berjalannya waktu serta sering terjadinya perubahan lingkungan kimiawinya,
maka endapan sedimen ini kemudian akan berubah menjadi batuan sedimen dan
rangka binatang dan tumbuhan akan menjadi fosil (Yuflih, 2013).
Pada awal pertengahan tahun 1600-an, seorang ilmuwan bangsa Denmark
yang bernama Nicholas Steno mempelajari posisi relatif pada batuan-batuan
sedimen. Dia mendapatkan bahwa partikel-partikel yang mempunyai berat jenis
yang besar yang berada dalam suatu larutan fluida akan mengendap terlebih
dahulu ke bagian bawah sesuai dengan urutan berat jenisnya yang lebih besar.
Partikel yang besar dan memiliki berat jenis yang besar akan diendapkan pertama
kali sedangkan partikel yang berukuran lebih kecil dan lebih ringan akan
terendapkan belakangan. Adanya perpedaan ukuran butir (partikel) atau komposisi
mineral akan membentuk suatu perlapisan (Yuflih, 2013).
Perlapisan pada batuan sedimen pada umumnya dapat dilihat dengan jelas,
karena batuan sedimen dibangun dari susunan partikel-partikel yang membentuk
pola laminasi dan selanjutnya membentuk perlapisan yang cukup tebal. Setiap
urutan (sekuen) lapisan batuan mempunyai arti bahwa lapisan bagian bawah akan
selalu lebih tua dibandingkan dengan lapisan diatasnya. Hal ini dikenal sebagai
Hukum Superposisi. Hukum superposisi merupakan dasar untuk penafsiran
sejarah bumi, karena disetiap lokasi akan dicirikan oleh umur relatif dari lapisan-
lapisan batuan dan fosil yang ada didalamnya (Yuflih, 2013).
Perlapisan batuan terbentuk ketika partikel partikel yang diangkut oleh
media air atau angin melepaskan diri dan mengendap di dasar cekungan. Hukum
Steno Original Horizontality menyatakan bahwa hampir semua sedimen, pada
saat diendapkan untuk pertama kalinya dalam posisi yang horisontal. Meskipun
demikian, banyak perlapisan batuan sedimen yang kita jumpai di alam tidak lagi
dalam posisi horisontal atau telah mengalami perubahan dari kondisi aslinya.
Perubahan posisi lapisan yang sudah tidak horisontal lagi pada umumnya terjadi
selama periode pembentukan pegunungan. Perlapisan batuan disebut juga sebagai
strata (berasal dari bahasa Latin) dan stratigrafi adalah suatu ilmu yang
mempelajari tentang strata. Oleh karena itu foskus pelajaran stratigrafi pada
mempelajari karakteristik dari perlapisan batuan, termasuk di dalamnya
mempelajari bagaimana hubungan antara batuan dengan waktu (Yuflih, 2013).
Untuk dapat menyatakan umur suatu lapisan batuan, maka kita harus
mempelajari fosil-fosil yang ada pada batuan tersebut. Pada hakekatnya, fosil
menyediakan bukti-bukti dan peristiwa-peristiwa penting yang pernah terjadi di
bumi serta kapan peristiwa tersebut berlangsung. Istilah fosil seringkali
mengingatkan orang pada Dinosaurus. Dinosaurus yang kita kenal saat ini
sebenarnya adalah gambar-gambar yang hanya ada di dalam buku, film dan
program televisi, serta tulang belulang yang dipajang di banyak Musium. Reptil
Dinosaurus merupakan binatang yang mendominasi lebih dari 100 juta tahun
diatas bumi, mulai dari zaman Trias hingga Akhir zaman Kapur. Banyak diantara
Dinosaurus berukuran relatif lebih kecil, namun demikian pada pertengahan Masa
Mesozoikum, beberapa spesies Dinosaurus memiliki bobot hingga mencapai 80
ton. Sekitar 65 juta tahun yang lalu (zaman Kapur), seluruh Dinosaurus yang ada
di bumi punah. Alasan yang mendasari kepunahan Dinosaurus secara cepat masih
menjadi perdebatan di kalangan para ahli (Yuflih, 2013).
Meskipun semua orang tertarik pada Dinosaurus, ternyata Dinosaurus
hanya merupakan bagian terkecil saja dari jutaan spesies yang hidup atau pernah
hidup di muka bumi. Dalam kenyataannya bahwa fosil yang tercatat paling
melimpah jumlahnya dan mendominasi di muka bumi adalah fosil binatang yang
memiliki cangkang (shell) serta fosil dari sisa-sisa tumbuhan dan binatang yang
berukuran sangat kecil. Sisa-sisa binatang atau tumbuhan tersebut tersebar luas
didalam batuan sedimen dan merupakan fosil yang paling banyak dipelajari oleh
para ahli paleontology (Yuflih, 2013).
Pada abad ke 18 dan 19, seorang ahli geologi berkebangsaan Inggris
William Smith dan ahli paleontologi Georges Cuvier dan Alexandre Brongniart
dari Perancis, menemukan batuan-batuan yang berumur sama serta mengandung
fosil yang sama pula, walaupun batuan-batuan tersebut letaknya terpisah cukup
jauh. Mereka kemudian menerbitkan peta geologi berskala regional dari daerah
yang batuannya mengandung fosil yang sama. Melalui pengamatan yang teliti
pada batuan serta fosil yang dikandungnya, mereka juga mampu mengenali
batuan-batuan yang umurnya sama pada lokasi yang berlawanan di selat Inggris
(Yuflih, 2013).
William Smith juga mampu menerapkan pengetahuannya tentang fosil
dalam setiap pekerjaan secara praktis di lapangan. Sebagai seorang teknisi,
William Smith adalah orang yang berhasil membangun sebuah kanal di Inggris
yang kondisi medannya tertutup oleh vegetasi yang cukup lebat serta singkapan
batuan yang sangat sedikit. Untuk itu ia harus mengetahui batuan batuan apa saja
yang ada di dalam dan diatas bukit, karena melalui bukit inilah kanal akan
dibangun. William Smith dapat mengetahui berbagai jenis batuan yang akan
dijumpai dibawah permukaan dengan cara mengkaji fosil-fosil yang diperoleh
dari batuan-batuan yang tersingkap di lereng lereng bukit dengan cara menggali
lubang kecil untuk mengambil fosil. Dengan mengetahui jenis batuan yang ada,
maka dia mampu memperkirakan biaya dan alat apa yang akan dipakai untuk
pekerjaan tersebut. Seperti halnya dengan William Smith dan lainnya,
pengetahuan suksesi dari bentuk kehidupan yang terawetkan sebagai fosil sangat
berguna untuk memahami bagaimana dan kapan suatu batuan terbentuk (Yuflih,
2013).

BAB III
PENUTUP
3.3 Kesimpulan
Berdasarkan pemeparan rumusan makalah yang telah disampaikan, dapat
disimpulkan bahwa
1. Fosil merupakan sisa-sisa atau bekas-bekas makhluk hidup yang menjadi
batu atau mineral
2. Tipe dan jenis fosil ada dua , yaitu fosil yang merupakan bagian dari
organisme itu sendiri dan fosil yang merupakan sisa-sisa aktifitasnya
3. Cara menentukan umur fosil yakni dengan dua cara, yaitu menggunakan
teknik secara relatif (relative dating technique), dan teknik secara mutlak
(absolute dating technique)
4. Hukum suksesi fosil merupakan perpaduan dari tiga prinsip utama dalam
mempelajari fosil, yakni mengenai bahwa fosil merupakan sisa dari
makhluk hidup, fosil berasal dari kehidupan yang lama, dan perbedaan
penemuan fosil juga disebabkan oleh perubahan lingkungan
5. Endapan sedimen kemungkinan dapat mengubur binatang atau tanaman
yang masih hidup atau yang sudah mati di dasar danau atau lautan.
Dengan berjalannya waktu serta sering terjadinya perubahan lingkungan
kimiawinya, maka endapan sedimen ini kemudian akan berubah menjadi
batuan sedimen dan rangka binatang dan tumbuhan akan menjadi fosil.

3.4 Saran
1. Bagi mahasiswa Biologi seharusnya penekanan pembelajarannya yaitu
mengenai hukum suksesi yang menyebabkan adanya evolusi sedangkan
pengetahuan mengenai fosil merupakan pengetahuan pendukung.
2. Bagi masyarakat pada umumnya seharusnya dapat menjaga fosil-fosil maupun
jenis batuan yang sudah ditemukan dengan cara merawat dan tidak merusak
serta memanfaatkan secara berlebih-lebihan mengingat pembentukannya yang
membutuhkan waktu sangat lama.
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N. A., Reece, J. B. 2005. Biology 7th Edition. San Francisco: Benjamin
Cummings Publishion Inc.
Dafid,P. et al. 2008. The Cenozoic Era. (online),
(http://www.ucmp.berkeley.edu/cenozoic/cenozoic.php), diakses pada 21
Januari 2014.
Jumilar. 2012. Bagaimana menghitung umur fosil. (Artikel), (online),
(http://museumgeologiku.blogspot.com/2012/02/bagaimana-menghitung-
umur-fosil-bag-1.html), diakses 21 Januari 2014.
Minkoff, E. 1983. Evolutionary Biology. USA: Addison- Wesley Publising
Company Inc
Wahyu, Rahma. 2012. Hukum Suksesi Fauna. (online),
(http://theotherofmyself.wordpress.com/2012/04/22/fosil-hukum-suksesi-
fauna/), diakses tanggal 18 Januari 2014
Widodo, dkk. 2003. Bahan Ajar Evolusi. Program Semi-que IV. Jurusan Biologi
FMIPA. Universitas Negeri Malang. Malang.
Yuflih, S. 2013. Fosil-fosil dan Batuan, (Online),
(http://www.academia.edu/4439123/fosil-fosildanbatuan), diakses 22
Januari 2013.