Anda di halaman 1dari 6

Pemanfaatan Cangkang Kerang Sebagai Bahan Baku Pembuatan

Membran Untuk Desalinasi


Wini Hidayanti* dan Alia Damayanti**
*
Jurusan Teknik Lingkungan ITS, wini.hidayanti@yahoo.co.id
**
Jurusan Teknik Lingkungan ITS, aliadamayanti@yahoo.com

Abstrak

Sumber daya air yang terdapat di daerah pesisir pantai umumnya berkualitas buruk
karena mengandung kadar garam dan Total Dissolved Solid (TDS) yang tinggi. Oleh karena
itu diperlukan teknologi yang mampu mengubah air laut menjadi air tawar yang dikenal
sebagai proses desalinasi dengan teknologi membran. Teknologi membran relatif mahal
karena berasal dari luar negeri, sehingga perlu dibuat membran yang bahan dasarnya murah
dan keberadaannya melimpah di Indonesia. Cangkang kerang dapat digunakan sebagai
bahan baku pembuatan membran karena mengandung silika. Silika dapat digunakan untuk
meningkatkan stabilitas koloid dari berbagai partikel. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui massa silika optimal dari cangkang kerang yang dapat menghasilkan membran
untuk desalinasi.
Tahapan penelitian dimulai dari sintesis silika dari cangkang kerang, proses
pemurnian sampel, dan preparasi membran. Dari proses tersebut menghasilkan membran
lembaran yang diuji kualitasnya menggunakan reaktor dead-end. Variasi massa silika yang
digunakan sebanyak 10, 15, 20, dan 25 gram. Parameter yang dianalisa adalah kandungan
klorida dan Total Dissolved Solid (TDS). Pengujian struktur membran dilakukan secara
spektrofotometri Fourier Transform Infra Red (FTIR) dan analisa morfologi membran
dilakukan dengan menggunakan peralatan Scanning Electron Microscopy (SEM).
Dari hasil penelitian terlihat bahwa massa silika 15 gram dengan kecepatan 600 rpm
menghasilkan rata-rata rejeksi klorida yang optimum sebesar 51,11% dan prosentase
removal TDS sebesar 65,55%.
Kata kunci : klorida, membran, silika, TDS
1. Pendahuluan

Air minum adalah kebutuhan dasar yang paling penting bagi kelangsungan hidup dan
kualitas hidup manusia, namun tidak semua daerah mempunyai sumberdaya air yang baik.
Wilayah pesisir pantai dan pulau-pulau kecil di tengah lautan lepas merupakan daerah-
daerah yang sangat miskin akan sumber air bersih, sehingga timbul masalah pemenuhan
kebutuhan air minum. Sumber daya air yang terdapat di daerah tersebut umumnya
berkualitas buruk, misalnya air tanahnya yang payau atau asin. Sumber air yang secara
kuantitas tidak terbatas air laut, walaupun kualitasnya sangat buruk karena banyak air laut
menjadi air tawar tersebut dikenal mengandung kadar garam atau TDS (Total Dissolved
Solid) sangat tinggi (Said, 2003). Oleh karena itu, diperlukan teknologi yang mampu
mengubah air laut menjadi air tawar yang dikenal sebagai proses desalinasi.

Salah satu teknologi desalinasi air laut adalah dengan menggunakan teknologi membran.
Pada umumnya membran dapat dibuat dari bahan polimer organik dan senyawa anorganik.
Namun, sebagian besar bahan yang sering digunakan untuk membuat membran adalah
bahan polimer organik karena proses pembuatannya yang relatif lebih sederhana (Mulder,
1996). Bagi masyarakat pesisir, pembuatan membran silika nanopori dari kulit kerang dapat
menjadi solusi terbaik karena mampu mengubah air laut menjadi air tawar yang kadar
garamnya tinggi dan mengurangi konsentrasi zat padat terlarut (TDS).

Keunggulan penggunaan membran adalah juga pada operasi-operasi pengolahan limbah


yang tidak membutuhkan energi yang terlalu besar karena tidak melibatkan perubahan fase
dan tidak terlalu menggunakan energi dalam bentuk panas sehingga komponen di dalamnya
dapat dipertahankan. Pada penelitian ini, digunakan cangkang kerang sebagai sumber silika.
Silika adalah salah satu bahan fungsional penting dengan aplikasi luas dalam berbagai
cabang. Sampai sekarang, sebagian besar teknologi memanfaatkan silika untuk
meningkatkan stabilitas koloid dari berbagai partikel (Tsiourtis, 2001). Salah satu tahap
pembuatan membran adalah dengan cara disentrifuse untuk mendapatkan endapan silika.
Kecepatan centrifuge sangat berpengaruh pada kepadatan endapan silika (Chowdury dkk.,
2006). SiO2 merupakan bahan dasar membran 0,001 m dan mampu menahan partikel
berukuran 50-1000 Da (Mallia dan Till, 2003).

2. Penelitian
2.1 Sintesis Silika Dari Cangkang Kerang
Sintesis silika dari cangkang kerang dilakukan dengan menggunakan teknik pengabuan.
Cangkang kerang sebanyak 5 kg dicuci dan dibersihkan dengan air dari impuritas akibat
kotoran. Proses pengeringan dengan oven pada suhu 120oC selama 24 jam. Proses
pengabuan dilakukan untuk mengetahui kandungan abu. Pengabuan dilakukan dengan
cara difurnace pada suhu 600oC selama 30 jam.

2.2 Proses Pemurnian Sampel


Metode yang dipakai untuk pemurnian ini adalah metode pengasaman dengan
menggunakan larutan HCl pekat. Proses pemurnian dilakukan dengan cara
memasukkan sampel berupa abu cangkang kerang ke dalam wadah dan dibasahi
dengan aquades panas. Selanjutnya ke dalam campuran ditambahkan 50 mL HCl pekat
dan diuapkan sampai kering. Pengerjaan ini diulangi sebanyak tiga kali. Selanjutnya,
dituangkan 100 mL aquades dan 50 mL HCl pekat ke wadah tadi dan biarkan di atas
penangas air selama 0,5 jam. Campuran tersebut kemudian disaring dengan kertas
saring bebas abu dan dicuci 20 sampai 25 kali dengan aquades panas. Hasil dari
penyaringan berupa residu padat beserta kertas saringnya dipanaskan mula-mula pada
suhu 300oC selama 3 jam hingga kertas saring menjadi arang. Kemudian dilanjutkan
dengan memanaskan pada suhu 600 oC hingga yang tersisa hanya endapan silika (SiO2)
berwarna putih.
2.3 Preparasi Membran
Preparasi membran dalam metode ini sebanyak 10, 15, 20, dan 25 gram silika
dicampurkan dengan 35 mL 2-propanol, campuran tersebut dimasukan dalam botol 100
mL kemudian disentrifuse dengan kecepatan 500, 600, dan 700 rpm selama 10 menit.
Langkah selanjutnya, tambahkan 3,5 gram NH4Cl (ammonium klorida) sebagai
surfaktan kationik yang telah dilarutkan dalam 300 mL air deionisasi. Larutan tersebut
kemudian diaduk dengan suasana ultrasonik selama 1 jam. Tujuan dari penggunaan
NH4Cl dan pengadukan dengan magnetic stirrer adalah supaya terbentuk pori membran
yang berukuran nano (Chowdhury dkk., 2006). Proses pencetakan membran dilakukan
dengan cara menuangkan campuran ke dalam cawan petridish kemudian dikeringkan di
bawah sinar matahari. Setelah campuran benar-benar kering, akan terbentuk lembaran
membran silika yang padat. Lembaran membran silika kemudian dioven pada suhu 105 o
C selama 1 jam untuk memperkuat struktur membran dan tidak mudah sobek.

2.4 Pengujian Kinerja Membran


Pengujian membran dilakukan dalam rektor dead-end untuk mengetahui kandungan klorida
dan Total Dissolve Solid (TDS) dalam permeat yang lolos dari membran. Membran yang
akan diuji dipotong bentuk lingkaran dengan diameter 5 cm, kemudian membran diletakkan
di alat penguji. Setelah itu, air laut dialirkan ke dalam reaktor dan diberikan tekanan sebesar
2 atm. Permeate diambil setiap 15 menit pada 30 detik pertama selama 1,5 jam.

3. Hasil dan Pembahasan


Permeat yang dihasilkan setelah pengujian membran dengan variasi massa silika 10, 15, 20,
dan 25 gram kecepatan putaran centrifuge 600 dihitung konsentrasi kloridanya
menggunakan persamaan (1) sebagai berikut:

Dimana A adalah volume titrasi sampel, B adalah volume titrasi blanko, dan N adalah
normalitas AgNO3.
Setelah diketahui konsentrasi klorida dalam permeat, selanjutnya dihitung koefisien rejeksi
pada setiap variasi massa kecepatan centrifuge 600 rpm dengan persamaan (2):

Dimana R adalah koefisien rejeksi, Cp adalah konsentrasi permeat, dan Cf adalah


konsentrasi umpan.
Koefisien rejeksi klorida dengan variasi massa klorida 10, 15, 20, dan 25 gram kecepatan
putaran centrifuge 600 rpm pada menit ke-0 secara berurutan adalah 41,86%, 47,44%,
41,86%, dan 41,86%. Koefisien rejeksi pada menit ke-15 mengalami peningkatan menjadi
45,35%, 48,61%, 42,64%, 42,64%. Kemudian seluruh variasi massa silika mengalami
peningkatan koefisien rejeksi sampai waktu operasi berakhir. Koefisien rejeksi merupakan
parameter yang digunakan untuk menggambarkan selektivitas membran. Hal ini
menunjukkan bahwa selektivitas membran sangat baik karena selektivitas merupakan
ukuran kemampuan suatu membran untuk menahan suatu spesi atau melewati suatu spesi
tertentu. Menurut (Notodarmojo dan Deniva, 2004), pada permukaan membran akan terjadi
polarisasi konsentrasi dan pembentukan cake. Kedua fenomena tersebut akan menurunkan
fluks tetapi akan meningkatkan daya saring membran terhadap konstituen. Apabila daya
saring meningkat, koefisien rejeksi juga semakin besar. Koefisien rejeksi pada setiap variasi
massa silika dengan kecepatan centrifuge 600 rpm dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1 Grafik Koefisien Rejeksi Pada Setiap Variasi Massa
Silika Dengan Kecepatan Centrifuge 600 rpm

Permeat yang dihasilkan dihitung konsentrasi Total Dissolve Solid (TDS) menggunakan
persamaan (3) berikut ini:

Dimana k adalah cawan dan residu setelah dioven 105oC, i adalah cawan kosong setelah di
furnace 550oC dan dioven, dan j adalah volume sampel.
Prosentase penyisihan TDS variasi massa klorida 10, 15, 20, dan 25 gram kecepatan
putaran centrifuge 600 rpm pada menit ke-0 secara berurutan adalah 65,69%; 72,53%;
34,31%, dan 57,35%.Secara berurutan membran dengan massa silika 10, 15, 20, dan 25
gram pada menit ke-15 mengalami kenaikan prosentase penyisihan TDS menjadi 66,18%;
74,19%; 45,59%. dan 64,22%. Pada menit ke-45, massa silika 10, 15, 20, dan 25 gram
mengalami penurunan menjadi 64,71; 66,29%; 33,82%, dan 62,75%. Prosentase
penyisihan TDS yang menurun disebabkan oleh adanya deformasi pada permukan
membran akibat tekanan yang menyebabkan ukuran pori membran melebar dan
terbentuknya lubang pori baru pada membran, sehingga sebagian TDS lolos dalam permeat
(Notodarmojo dan Deniva, 2004). Penyisihan konsentrasi TDS yang fluktuatif disebabkan
karena terbentuknya lapisan cake pada permukaan membran. Prosentase penyisihan TDS
pada setiap variasi massa silika dengan kecepatan centrifuge 600 rpm dapat dilihat pada
Gambar 2.

Gambar 2 Grafik Prosentase Penyisihan TDS Pada Setiap


Variasi Massa Silika Dengan Kecepatan 600 rpm

Nilai fluks dihitung menggunakan persamaan:


........................................................................................ (4)

Dimana J adalah nilai fluks membran (mL/ cm2. menit), V adalah volume permeat (mL), A
adalah luas penampang membran (cm2), dan t adalah lama waktu operasi (menit). Nilai fluks
pada setiap variasi massa silika dengan kecepatan putaran centrifuge 600 rpm dapat dilihat
pada Gambar 3.
Gambar 3 Grafik Nilai Fluks Pada Setiap Variasi
Massa Silika Dengan Kecepatan 600 rpm

Fluks yang terukur untuk setiap variasi massa silika 10, 15, 20, dan 25 gram dengan
kecepatan centrifuge 600 rpm pada menit ke-0 masing-masing adalah 0,448 mL/cm2.menit;
0,438 mL/cm2.menit; 0,469 mL/cm2.menit; 0,459 mL/cm2.menit. Setelah pengoperasian
selama 90 menit nilai fluks semakin menurun. Kecenderungan terjadinya penurunan fluks
sepanjang waktu pengoperasian akibat pengendapan atau pelekatan dikenal dengan istilah
fouling (Reutenbach dalam Notodarmojo, 2004). Fouling pada membran dapat didefinisikan
sebagai deposisi (ir) reversible dari partikel, koloid, emulsi, suspense, makromolekul, garam,
dan sebagainya yang tertahan pada permukaan atau di dalam membran (Mulder dalam
Notodarmojo, 2004). Deposisi partikel-partikel pada membran akan membentuk suatu
lapisan baru yang harus dilalui oleh umpan sehingga fluks menjadi turun (Notodarmojo dkk.,
2004).

Gambar 4 Data Peak Hasil Analisa FTIR

Hasil analisis dengan FTIR Thermo Scientific Nicolet iS10 pada Gambar 4 menunjukkan
puncak vibrasi pada masing-masing gugus fungsi. Socrates (1994) menyatakan bahwa pita
serapan pada daerah kisaran 845 800 cm1 merupakan serapan Si-H. Peak serapan gugus
Si-O-Si terjadi panjang gelombang 1247,35 cm1. Gelombang 2876,26 cm-1 menunjukkan
pita serapan uluran gugus -CH3 dan -CH2-. Gugus OH terletak pada panjang gelombang
3377,61 cm-1. Peak gugus fungsi C=C pada bilangan 944,98 cm-1. Pita serapan dengan peak
1349,62 merupakan gugus C-H. Pita serapan dengan peak 1412,74 adalah ciri khas adanya
gugus C=C aromatik. Panjang gelombang dengan peak 1735,38 merupakan gugus fungsi
C=O. Hasil karakterisasi dengan FTIR setelah membran digunakan menunjukkan puncak
vibrasi pada bilangan gelombang 871,29 cm1, 1018,51 cm1, 1234,28 cm1, 1373,76 cm1,
1423,14 cm1, 1635,88 cm1, 1734,36 cm1, 3312,03 cm1.
Analisa SEM menggunakan SEM FEI Inspect S50, hasil SEM menunjukkan ukuran pori yang
teridentifikasi sebelum membran digunakan adalah 58,28 nm. Ukuran membran ultrafiltrasi
menurut (Li dkk., 2008) antara 1 nm 100 nm. Oleh karena itu, membran ini dikategorikan
sebagai membran ultrafiltrasi. Pada Gambar 5 terlihat bahwa struktur membran masih
bersih. Analisa struktur pori pada permukaan penampang membran menunjukkan bahwa
membran termasuk dalam kategori membran asimetrik. Pada Gambar 6 terlihat bahwa
fouling tidak hanya terjadi pada bagian permukaan atas atau lapisan luar membran saja.
Pengotor yang masuk ke dalam lapisan tersebut terjadi akibat adanya tekanan yang
diberikan selama proses pengoperasian membran. Hal ini berpengaruh pada ukuran
membran yang semula 58,28 nm, berubah menjadi 29,14 nm. Hasil analisa SEM sebelum
membran diuji dan setelah membran digunakan untuk menyaring sampel dapat dilihat pada
Gambar 5 dan Gambar 6.

29.14 nm
29.14 nm

29.14 nm

29.14 nm

Gambar 5 Foto SEM Sebelum Gambar 6 Foto SEM Sesudah


Membran Dipakai Membran Dipakai

4. Kesimpulan
Massa silika optimal yang dapat menghasilkan membran untuk mengubah air laut
menjadi air tawar adalah 15 gram. Rejeksi klorida terbesar adalah 53,87% dan
penyisihan TDS terbesar adalah 80,02%.

5. Daftar Pustaka
Chowdhury Sankhanilay Roy., Peters Alisia M., Blank Dave H.A., Elshof Johan E. ten. 2006.
Influence of porous substrate on mesopore structure and water permeability of
surfactant templated mesoporous silica membranes. Inorganic Materials
Science, MESA+ Institute for Nanotechnology and Faculty of Science and
Technology,University of Twente, xxx: xxxxxx.
Mallia dan Till. 2003. Membrane Bioreactors: Waste Water Application Treatment to
Achieve High Quality Effluent. Water Industry Group.
Mulder M. 1996. Basic Principles of Membrane Technology, 2nd ed. Kluwer Academic
Publisher,Dordrecht.
Notodarmojo S dan Deniva A. 2004. Penurunan Zat Organik Dan Kekeruhan Menggunakan
Teknologi Membran Ultrafiltrasi Dengan Sistem Aliran Dead- End.PROC. ITB
Sains & Tek, 63-82.Departemen Teknik Lingkungan ITB,Fakultas Teknik Sipil dan
Perencanaan.
Notodarmojo S., Zulkarnain T., Mayashanty D., dan Irsyad M. 2004. Efek Pretreatment
Terhadap Pembentukan Lapisan Cake dan Struktur Membrane pada Membran
Ultrafiltrasi Aliran Cross-flow dalam Pengolahan Limbah Cair Emulsi
Minyak.PROC. ITB Sains & Tek, 127-144.Departemen Teknik Lingkungan
Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Bandung.
Pinem A J., dan Angela R.22 Februari 2011. Sintesis dan Karakterisasi Membran Hybrid
PMMA/TEOT: Pengaruh Konsentrasi Polimer. Prosiding Seminar Nasional
Teknik Kimia Kejuangan Pengembangan Teknologi Kimia untuk
Pengolahan Sumber Daya Alam Indonesia. Fakultas Teknik Universitas Riau.
Said I N. 2003. Aplikasi Teknologi Osmosis Balik Untuk Memenuhi Kebutuhan Air Mnum Di
Kawasan Pesisir Atau Pulau Terpencil.Kelompok Teknologi Pengelolaan Air
Bersih Dan Limbah Cair, Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi
Lingkungan, BPPT.
Tsiourtis, Nicos X. 2001.Desalination and The Environment.Water Development
Department, Ministry of Agriculture, Natural Resources and Environment
141:223-236.