Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

TRANSAKSI BISNIS INTERNASIONAL

INTEGRASI REGIONAL PASAR TUNGGAL ASEAN SEBAGAI


UNIFIKASI DAN KODIFIKASI HUKUM PERDAGANGAN
INTERNASIONAL ASIA TENGGARA

Disusun oleh:
Daniel Kuntjoro (120114110)

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SURABAYA
2017

1
DAFTAR ISI

JUDUL................................................................................1
DAFTAR ISI ..........................................................................2
BAB I PENDAHULUAN..............................................................3
A. LATAR BELAKANG .........................................................3
B. TUJUAN .....................................................................6
BAB II PEMBAHASAN...............................................................6
BAB III PENUTUP..................................................................17
DAFTAR PUSTAKA................................................................18

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Keterbukaan dalam globalisasi, masyarakat internasional dapat
merasakan dampak globalisasi, yang bisa negatif maupun positif. Dampak
positif adalah dari sudut pandang konsumen, karena konsumen akan
semakin mudah mendapatkan akses atau komoditas dengan berbagai
variasi jenis, kualitas, dan harga. Maka terjadi peningkatan produksi
global, pertukaran komoditas, dan perluasan internasional pasar. Dampak
negatif juga ada walaupun secara teori sederhana globalisasi diharapkan
dapat mempersempit kesenjangan antara negara maju dan negara
berkembang dengan terbukanya kesempatan bagi negara berkembang
untuk turut serta dalam perdagangan dunia, pada kenyataannya ada
anggapan Globalisasi tidak membawa kesempatan dan justru
mengakibatkan suatu ketidaksetaraan(inequality). Globalisasi
menyebabkan munculnya tantangan-tantangan yang cukup berat sebab
globalisasi menuntut kerja sama internasional yang sangat erat di antara
negara-negara di dunia.
Perkembangan perdagangan internasional semakin berkembang
pesat dimana pengusaha dari berbagai negara saling melakukan transaksi
perdagangan yang melintasi batas-batas negara. Mengingat bahwa dalam
setiap transaksi perdagangan internasional selalu berkait lebih dari satu
sistem hukum nasional, maka hukum mana yang akan berlaku bagi
transaksi tersebut apabila timbul sengketa atau pelanggaran kontrak. Jadi
permasalahan ini termasuk ke dalam bidang Hukum Perdata Internasional.
Konsekuensinya adalah bahwa terhadap transaksi perdagangan yang sama
kemungkinan berlaku hukum yang berbeda-beda.
Dengan demikian hukum perdagangan interansional memerlukan
suatu Uniform Rules yang otonom yang diterima oleh semua negara

3
(bersifat universal). Ketentuan yang universal ini oleh Schmitthoff disebut
sebagai New Lex Mercatoria.
Untuk menghadapi masalah ini, sebenarnya ada tiga teknik yang
dapat dilakukan. Pertama, negara-negara sepakat untuk tidak
menerapkan hukum nasionalnya. Sebaliknya, mereka menerapkan hukum
perdagangan internasional untuk mengatur hubungan-hubungan hukum
perdagangan mereka. Kedua, apabila aturan hukum perdagangan
internasional tidak ada dan atau tidak disepakati oleh salah satu pihak,
hukum nasional suatu negara tertentu dapat digunakan. Cara penentuan
hukum nasional yang akan berlaku dapat digunakan melalui penerapan
prinsip choice of laws. Choice of Laws adalah klausul pilihan hukum yang
disepakati oleh para pihakyang dituangkan dalam kontrak (internasional)
yang mereka buat. Ketiga, teknik yang dapat ditempuh adalah dengan
melakukan unifikasi dan harmoniasasi hukum aturan-aturan substantif
hukum perdagangan intenarnasional.
Cara yang ketiga ini yang melatarbelakangi terbentuknya integrasi
regional. Menurut John H. Willes dan John A Willes Q.C dalam
Internasional Business Law mendefinisikan integrasi regional sebagai
penyatuan atau setidaknya proses penyatuan diantara negara-negara pada
suatu kawasan berdekatan tertentu di dunia ... akibat motivasi ekonomi,
pengaruh politik dan keamanan regional ... demi mewujudkan dan
menjaga perdamaian dunia.1
Lembaga PBB membentuk United Nations Commisions on
Internasional Trade Law (UNCITRAL). Usaha-usaha untuk menyatakan
hukum dan kebiasaan yang berlaku dalam transaksi perdagangan
internasional telah dilakukan dalam tiga bentuk, yaitu:

1 John H. Willes dan John A. Willes, Q.C., 2005, International Business


Law, New York: The McGraw-Hill Companies Inc, hlm. 158.

4
a. Konvensi-konvensi internasional yang ditandatangani oleh negara-
negara
b. Model hukum (Model Laws) yang dibuat oleh organisasi-organisasi
internasional
c. Kebiasaan-kebiasaan atau praktik negara-negara yang digunakan
dalam perjanjian dagang.
Dalam konteks ini kemudian lahir berbagai organisasi internasional
seperti UNIDROIT, CMEA, ICC dan UNCITRAL juga ASEAN dimana salah satu
tugasnya adalah membuat unifikasi hukum perdagangan internasional.
Hukum yang dipersiapkan didesain untuk mengurangi atau bahkan
menghilangkan hambatan hambatan perdagangan, baik tarif maupun
non-tarif, diantara sesama negara anggota perjanjian, dilanjutkan
harmonisasi tarif, serta perwujudan pergerakan bebas barang, jasa,
tenaga kerja dan modal.2
Sebagai bentuk dari Integrasi Regional, Pasar Tunggal memiliki
kebijakan bersama tentang regulasi produk, arus bebas barang, jasa,
modal, dan pekerja (common policies on product regulation, free
movement of goods, services, capital and labour). Merupakan bentuk
unifikasi dan harmonisasi hukum yang cukup kuat dalam hubungan
kerjasama regional antar negara.
ASEAN adalah bentuk dari Pasar Tunggal yang ada di Asia Tenggara
dengan perkembangan yang cukup pesat hingga sekarang membentuk
Pasar Tunggal ASEAN, yang disebut dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN.
Mengacu pada cetak biru (blueprint), ASEAN berusaha dan berharap akan
dapat mewujudkan pergerakan bebas arus barang, jasa, tenaga kerja,
modal, dan investasi.

2 Ibid.

5
Dalam makalah ini akan membahas mengenai integrasi Regional
Pasar Tunggal ASEAN dan bagaimana arah perkembangan hukum
perdagangan internasional di Asia Tenggara. Juga peluang dan tantangan
seiring dengan semakin berkembangnya pasar tunggal ASEAN yang semakin
digalakkan.

B. TUJUAN
1. Mengetahui lebih mendalam mengenai Integrasi Regional Pasar
Tunggal ASEAN yang disebut Masyarakat Ekonomi ASEAN dan
produk- produk hukumnya
2. Mengetahui bagaimana arah perkembangan hukum perdagangan
internasional di Asia Tenggara

BAB II
PEMBAHASAN

Dalam melakukan Unifikasi dan Harmonisasi hukum aturan-aturan


substantif hukum perdagangan internasional, memiliki makna bahwa baik
kata Unifikasi dan Harmonisasi memiliki perbedaan yang perlu dicatat.
Kedua kata sama-sama berarti upaya atau proses menyeragamkan
substansi pengaturan sistem-sistem hukum yang ada. Penyeragaman
mencangkup pengintegerasian sistem hukum yang sebelumnya berbeda.
Perbedaan kedua kata tersebut terletak pada derajat
penyeragaman tersebut. Dalam unifikasi hukum, penyeragaman mencakup
penghapusan dan penggantian suatu sistem hukum dengan sistem hukum
yang baru. Contohnya adalah TRIPS TRIPS/WTO yang mencakup ketentuan
mengenai hak cipta, merek dagang, indikasi geografis, desain industri,
paten dan lain-lain, meletakkan kewajiban kepada negara anggota untuk
membuat aturan-aturan HAKI nasionalnya yang sesuai dengan substansi
perjanjian TRIPS/WTO. Sedangkan Harmonisasi Hukum tidak sedalam

6
unifikasi hukum. Tujuan utama harmonisasi hukum hanya berupaya
mencari keseragaman atau titik temu dari prinsip-prinsip yang bersifat
fundamental dari berbagai sistem hukum yang ada (yang akan
diharmonisasikan).
Integrasi Regional didasarkan pada perjanjian perdagangan
diantara negara-negara yang terletak di kawasan tertentu yang
berdekatan. Perjanjian - perjanjian tersebut didesain untuk mengurangi
atau bahkan menghilangkan hambatan perdagangan. Lebih jauh lagi,
integrasi regional kemudian bisa berarti penghapusan segala batasan
negara di kawasan tersebut di segala bidang: ekonomi, sosial, militer dan
politik serta penyatuan kebijakan yang menjadikan suatu organisasi
bersifat supranasional.
Terdapat 6 tahapan dalam Integrasi Regional yang umumnya
dilakukan negara-negara di dunia, yaitu Area Perdagangan Preferensi
(Preferential Trading Areas/selanjutnya disebut PTA), Area
Perdagangan Bebas (Free Trade Areas/selanjutnya disebut FTA),
Penyatuan Kebijakan Kepabeanan (Customs Union/selanjutnya disebut
CU), Pasar Tunggal (Single Market), Penyatuan Ekonomi dan Moneter
(Economic and Monetary Union), dan Integrasi Ekonomi Menyeluruh
(Complete Economic Integration atau disebut juga Political Union). 3
PTA memberikan akses preferensi keringanan atau kemudahan bagi
negara-negara anggota atas suatu jenis produk tertentu, berupa upaya
penurunan tarif tetapi bukan penghilangan tarif. Contoh PTA adalah Uni
Eropa dengan 71 negara ACP (African, Caribbean and Pacific Group of

3 Philip Boulton, 2007 Economic Integration-Economics: A Course


Companion, Handout Materi Mata Kuliah Ekonomi, Escuela Campo
Alegre, American Internasional School Caracas Karakas: Venezuela,
hlm.3

7
States. Adapun suatu perjanjian FTA adalah perjanjian beberapa negara
untuk menjadi kawasan teritori mereka suatu area transaksi bebas
diantara mereka, juga berupa keringanan bagi anggota dengan penurunan
tarif dan bahkan lebih dari itu. Contoh FTA adalah China-ASEAN Free trade
AREA (CAFTA) antara Cina dan ASEAN. Tahapan selanjutnya yaitu CU. CU
merupakan suatu perjanjian internasional dimana sepakat berdagang
secara bebas, para negara anggota juga sepakat mengadopsi serangkaian
aturan hambatan eksternal bersama (common external barriers) terhadap
negara non-anggota yang hendak bertransaksi dengan negara anggota
tersebut, misalnya dengan memberlakukan tarif bersama (common tariff).
Contoh CU yaitu CU Swiss-Liechtenstein, Komunitas Afrika Timur (Africa
Community) antara Kenya, Uganda dan Tanzania.
Tahapan integrasi selanjutnya yang dapat ditempuh adalah Pasar
Tunggal. Perbedaan Pasar Tunggal dengan CU terletak terutama pada
kebijakan bersama tentang regulasi produk, arus bebas barang, jasa,
modal, dan pekerja (common policies on product regulation, free
movement of goods, services, capital and labour). Para anggota dalam
suatu kawasan telah berupaya menghilangkan hambatan tarif dan nontarif.
Memberlakukan tarif yang sama bagi negara ketiga, telah mempercepat
liberalisasi aliran modal dan perdagangan, serta meningkatkan informasi
teknologi. Contoh Pasar Tunggal utama yang ada di dunia yaitu Uni Eropa
juga berkembang ASEAN. Tahapan Penyatuan Ekonomi dan Moneter
merupakan suatu pasar tunggal dengan pemberlakuan mata uang yang
sama diantara negara-negara pelaksana perjanjian. Contoh Penyatuan
Ekonomid an Moneter dan Eurozone. Tahapan akhir integrasi regional
(ultimate stage of regional integration) yaitu Integrasi Ekonomi
Menyeluruh atau Political Union. Dalam tahapan ini negara anggota secara
sendiri-sendiri tidak lagi memiliki kontrol terhadap kebijakan ekonomi
nasionalnya. Memiliki pemerintah bersama, yaitu pemerintah political

8
union yang bersangkutan, pemerintah masing-masing negara tidak lagi
memiliki wewenang (dissolving national governments).4
ASEAN sendiri telah melalui berbagai tahapan integrasi internasinal
hingga sekarang sampai pada tahap Pasar Tunggal. Tahapan integrasi
Internasional yang telah dilaksanakan ASEAN adalah ASEAN PTA
dilanjutkan dengan ASEAN FTA, hingga yang berlaku sekarang adalah Pasar
Tunggal ASEAN.
ASEAN PTA merupakan langkah awal integrasi ekonomi ASEAN. PTA
ASEAN dilaksanakan secara bertahap melalui Preferential Trading
Arrangement (1977), ASEAN Industrial Complementation Scheme (1981),
ASEAN Industrial Joint-Ventures Scheme (1983), dan Enhanced
Preferential Trading Arrangement (1987). PTA dilakukan demi meraih
manfaat dari kerja sama perdagangan yang lebih besar dari sebelumnya
melalui instrumen kontrak kuantitas jangka panjang, dukungan finansial
(kredit ekspor impor dengan tingkat suku bunga preferensial), preferensi
pengadaan barang (tender diantara negara anggota dengan margin
preferensi rendah), preferensi tarif, dan liberalisasi hambatan non-tarif
dalam basis preferensi.
ASEAN menyepakati Asean Free Trade Area (AFTA) pada Januari
1992. AFTA menyediakan provisi-provisi liberalisasi perdagangan dengan
penurunan bea impor intra-ASEAN hingga 0-5% dalam lima belas tahun
mulai 1 Januari 1993 dengan skema utama Tarif Preferensi Efektif Bersama.
Juga menurunkan dan bahkan menghapuskan hambatan-hambatan
nontarif, serta perbaikan kebijakan fasilitas perdagangan. ASEAN terus
berkembang dengan mitra wicara seperti China-ASEAN FTA, ASRAN -EU

4 Bertharia Noor Indah Sari, 2015, Personalitas Hukum Internasional


dalam Pasar Tunggal ASEAN, Jakarta: Predanamedia Group, hlm. 48.

9
FTA, ASEAN-Japan FTA. 5 PTA dan FTA telah dilaksanakan oleh ASEAN.
ASEAN belum melalui tahap intergrasi regional CU, tetapi kini telah
mewujudkan Pasar tunggal.
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah bentuk integrasi ekonomi
regional yang direncanakan untuk dicapai pada tahun 2015. Tujuan utama
MEA 2015 adalah menjadikan ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis
produksi, yang mana terjadi arus barang, jasa, investasi dan tenaga
terampil yang bebas serta aliran modal yang lebih bebas. Keterlibatan
semua pihak di seluruh negara anggota ASEAN mutlak diperlukan agar
dapat mewujudkan ASEAN sebagai kawasan yang kompetitif bagi kegiatan
investasi dan perdagangan bebas yang pada gilirannya dapat memberikan
manfaat bagi seluruh negara ASEAN. 6
Para pemimpin anggota ASEAN telah membentuk cetak biru
(blueprint) pelaksanakan Komunitas Ekonomis ASEAN 2015. ASEAN
berusaha dan berharap dapat mewujudkan pergerakan bebas arus barang,
jasa, tenaga kerja, modal dan investasi. Komunitas Ekonomi ASEAN terdiri
dari 12 sektor prioritas, yaitu produk-produk pertanian, otomotif,
elektronik, perikanan, karet, tekstil, kayu, perjalanan udara, e-ASEAN,
kesehatan, pariwisata dan logistik. Berdasarkan Pasal 1 angka 5 Piaga
ASEAN 2008, liberalisasi kedua belas sektor ini diharapkan terwujud

5 Ludo Cuyvers dan Wisarn Pupphavesa, 2015, From ASEAN to AFTA, A


Centre of ASEAN Studies (CAS), Discussion Paper No.6, CAS in coop.
with Centre for Internasional Management and Development Antwerp,
hlm. 6.

6
http://aeccenter.kemendag.go.id/media/177687/peluang-dan-
tantangan-indonesia-pasar-bebas-asean.pdf

10
dengan menjunjung lima elemen utama pasar tunggal, yaitu pergerakan
bebas barang, pergerakan bebas jasa, pergerakan bebas tenaga kerja
terampil, pergerakan bebas investasi, dan pergerakan bebas modal. 7
1. Pergerakan bebas barang (free movement of goods)
Dilakukan dengan penghapusan hambatan tarif. Melalui AFTA, ASEAN
telah berupaya melakukan hal tersebut. Pergerakan bebas barang
berarti bahwa barang dair berbagai negara Asia Tengagara dan dari
negara mitra ASEAN dapat masuk ke negara anggota ASEAN manapun.
Dalam cetak biru, ada 3 hal yang harus dilaksanakan:
a. Penghapusan hambatan tarif, melalui penerapan skema AFTA-
CEPT dan sektor prioritas.
b. Penghapusan hambatan nontarif, melalui penyesuaian kebijakan
dan peningkatan transparansi.
c. Fasilitasi perdagangan, dilakukan melalui penyetaraan standar
kualitas dan kerja sama kepabeanan.
2. Pergerakan bebas jasa (free movement of services)
Berarti tidak akan ada larangan-larangan bagi penyedia jasa negara-
negara anggota ASEAN untuk melakukan aktivitas usahanya dan
mengembangkan perusahaannya melampaui batas-batas negara
dalam regional ASEAN, tentunya tunduk pada hukum nasional negara
tempat perusahaan tersebut berdiri (subject to domestik
regulations). 8 Contohnya masuknya berbagai bank asing untuk
mengambil alih bank nasional.

7
ASEAN Economic Community Blueprint, hlm. 12.

8
ibid.

11
3. Pergerakan bebas tenaga kerja terampil (free trade movement of
skilled-labour/worker)
ASEAN menekankan pada pergerakan bebas tenaga kerja terampil
yang diharapkan dapat diwujudkan dengan fasilitasi pergerakan
natural persons di bidang perdagangan barang, jasa dan investasi.
Dilakukan melalui permudahan memperoleh visa dan izin bekerja
untuk pekerja profesional dan tenaga kerja terampil yang bekerja di
bidang perdangan dan investasi lintas batas negara (cross-border
trade and investment).9
4. Pergerakan bebas investasi dan modal (free movement of capitan
and investment)
Upaya perwujudan pergerakan bebas modal (free movement of
capital antara lain dengan memperbesar mobilitas modal melaliu
liberalisasi akun kapital (capital account liberalisation) secara
sistematis di antara negara-negara anggota, melalui usaha
perlindungan yang memadai (adequate safeguard), sehingga dapat
menjadmin kemanfaatan bagi negara-negara anggota ASEAN.
kemudian pergerakan bebas investasi (free movement of investment)
diharapkan dapat diwujudkan dengan investasi yang bebas dan
terbuka.10

Dalam upaya unifikasi dan harmoniasasi hukum ada metode yang


diterapkan. Menurut Schitthoff, dalam metode komparatif, dikenal tiga
metode, yaitu metode dengan memberlakukan:
a. Perjanjian atau Konvensi Internasional (International Convention)
Penerapan pemberalkuan perjanjian atau konvensi internasional
adalah cara yang paling banyak digunakan dalam mencapai unifikasi

9
Ibid.

10
Ibid, hlm. 15.

12
hukum. Cara ini dipandang tepat untuk memandang ketentuan
hukum yang bersifat memaksa ke dalam sistem hukum nasional.
b. Hukum Seragam (Uniform Laws)
Hukum seragam tidak lain adalah model hukum yang memberikan
keleluasaan ke pada negara-negara yang hendak menerapkannya ke
dalam hukum nasionalnya. Keleluasaan tersebut mencakup
keleluasaan kepada negara yang bersangkutan, apakah akan
menerapkan secara penuh aturan substantif. Kemungkinan lain,
adalah negara memutuskan untuk menerapkan dengan melakukan
beberapa revisi atau menrapkan berbagai pengecualian terhadap
aturan-aturan di dalamnya.
Sifat hukum seragam tidak mengikat. Ia hanya bersifat
persuasif. Oleh karena itu, derajat pengadopsian atau
penerapannya sangat bergantung kepada masing-masing negara.
Dengan demikan model hukum ini berbeda dengan perjanjian atau
konvensi internasional.
c. Aturan Seragam (Uniform Rules)
Aturan-aturan seragam memiliki tingkatan yang lebih rendah
daripada hukum seragam (Uniform Laws). Bentuk aturan seragam
tampak antara lain dalam model-model kontrak standar atau
kontrak baku.

MEA merupakan inisiatif negara-negara ASEAN untuk mewujudkan


ASEAN menjadi kawasan perekonomian yang solid dan diperhitungkan
dalam percaturan perekonomian Internasional. Para Pemimpin ASEAN
telah sepakat untuk mewujudkan MEA tahun 2015 dengan 4 pilar, yaitu (1)
pasar tunggal dan basis produksi, (2) kawasan ekonomi berdaya saing
tinggi, (3) kawasan dengan pembangunan ekonomi yang setara, dan (4)
kawasan yang terintegrasi penuh dengan ekonomi global.

13
Dengan adanya MEA, tujuan yang ingin dicapai adalah adanya aliran
bebas barang, jasa, dan tenaga kerja terlatih (skilled labour), serta aliran
investasi yang lebih bebas.

Kebijakan Unifikasi dan Harmonisasi ASEAN


ASEAN dimana unifikasi aturan-aturan atau hukumnya dapat dilihat
dalam Piagam ASEAN menyatakan:
DIPERSATUKAN oleh hasrat dan keinginan bersama untuk hidup di
kawasan yang memiliki perdamaian abadi, keamanan dan stabilitas,
pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, kesejahteraan bersama dan
kemajuan sosial, serta untuk memajukan kepentingan, cita-cita, dan
aspirasi bersama yang utama
Maka ditegaskan sebagai kewajiban anggota-anggota ASEAN
Pasal 5 Piagam ASEAN
Negara-Negara Anggota wajib mengambil langkah-langkah
yang diperlukan, termasuk pembuatan legislasi dalam negeri yang
sesuai, guna melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam Piagam ini
secara efektif, dan mematuhi kewajiban-kewajiban keanggotaan.
Bahwa ASEAN didirikan dengan meyakini kebutuhan untuk
memperkuat ikatan solidaritas kawasan yang telah ada guna
mewujudkan Komunitas ASEAN yang terpadu secara politis,
terintegrasi secara ekonomi dan dapat bertanggungjawab secara
sosial dalam rangka menjawab tantangan dan peluang sekarang dan
mendatang secara efektif.
Pasar Tunggal telah dicita-citakan sejak pendirian ASEAN itu
sendiri. Dalam Pasal 1 Piagam ASEAN angka 5:
Menciptakan pasar tunggal dan basis produksi yang stabil, makmur,
sangat kompetitif, dan terintegrasi secara ekonomis melalui fasilitasi
yang efektif untuk perdagangan dan investasi, yang di dalamnya
terdapat arus lalu lintas barang, jasa-jasa dan investasi yang bebas;

14
terfasilitasinya pergerakan pelaku usaha, pekerja profesional,
pekerja berbakat dan buruh; dan arus modal yang lebih bebas.
Hal ini berarti secara tegas sejak ASEAN didirikan untuk
mewujudkan Pasar Tunggal yang diwujudkan sejak 2015 lalu. Telah
memiliki beberapa produk hukum yang telah diwujudkan yaitu
1. The AEC Blueprint
2. The ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA)
3. The ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS)
4. The ASEAN Comprehensive Investment Agreement (ACIA)
Memungkinkan masih ada beberapa produk hukum yang akan
muncul.
Negara-negara tentu diwajibkan dalam melaksanakan perjanjian
yang telah disepakati bersama ini, sehingga berlaku secara penuh bagi
seluruh negara-negara anggota ASEAN. Telah dibuatnya aturan-aturan
hukum ini menjadikan adanya unifikasi dan kodifikasi hukum perdagangan
internasional yang ada di ASEAN sebagai terwujudnya terciptanya Pasar
Tunggal di Asia Tenggara sesuai yang telah dicita-citakan dalam Piagam
ASEAN.
Bagi Indonesia, pembentukan MEA 2015 akan
memberikan beberapa tantangan yang tidak hanya bersifat internal di
dalam negeri, tapi terlebih lagi persaingan dengan sesama negara ASEAN
dan negara lain di luar ASEAN, seperti China dan India. Persaingan yang
ketat ini akan berdampak pada harga yang kompetitif pula, bukan hanya
komoditi/produk/jasa unggulan industri besar, tapi juga sektor UKM
karena kesamaan karakteristik produk.
Pemerintah telah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 11
Tahun 2011 tentang Pelaksanaan Komitmen Cetak Biru MEA dalam upaya
persiapan menghadapi pasar bebas ASEAN. Dalam cetak biru MEA,
terdapat 12 sektor prioritas yang akan diintegrasikan oleh pemerintah.
Sektor tersebut terdiri dari tujuh sektor barang, yaitu industri agro,
otomotif, elektronik, perikanan, industri berbasis karet, industri berbasis

15
kayu, dan tekstil. Kemudian, sisanya berasal dari lima sektor jasa, yaitu
transportasi udara, kesehatan, pariwisata, logistik, dan teknologi
informasi. Sektor-sektor tersebut pada era MEA akan terimplementasi
dalam bentuk pembebasan arus barang, jasa, investasi, dan tenaga kerja.
Sejauh ini, langkah - langkah yang telah dilakukan oleh Indonesia
berdasarkan rencana strategis pemerintah untuk menghadapi MEA / AEC,
antara lain:
1. Penguatan daya saing ekonomi. Tanggal 27 Mei 2011, Pemerintah
meluncurkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan
Ekonomi Indonesia (MP3IE).
2. Program ACI (Aku Cinta Indonesia), yang merupakan salah satu
gerakan Nation Branding bagian dari pengembangan ekonomi
kreatif.
3. Penguatan Sektor UMKM.
4. Perbaikan Infrastruktur. Dalam rangka mendukung peningkatan
daya saing sektor riil, selama tahun 2010 telah berhasil dicapai
peningkatan kapasitas dan kualitas infrastruktur seperti prasarana
jalan, perkeretaapian, transportasi darat, transportasi laut,
transportasi udara, komunikasi dan informatika, serta
ketenagalistrikan.
5. Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
6. Reformasi kelembagaan dan pemerintahan. Dalam rangka
mendorong percepatan pencegahan dan pemberantasan korupsi,
telah ditetapkan strategi nasional pencegahan dan pemberantasan
korupsi jangka panjang 2012-2025 dan menengah 2012-2014 sebagai
acuan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk pelaksanaan aksi
setiap tahunnya. S11

http://aeccenter.kemendag.go.id/media/177687/peluang-dan-
11

tantangan-indonesia-pasar-bebas-asean.pdf

16
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Integrasi Regional merupakan upaya unifikasi dan harmonisasi hukum yang
dilakukan ASEAN sebagai organisasi antar-pemerintah, sampai sekarang
telah mencapai tahap sebagai Pasar Tunggal ASEAN yang juga disebut
Masyarakat Ekonomi ASEAN. Baik aturan yang sudah dikeluarkan maupun
yang akan datang tentu merupakan instrumen hukum yang harus ditaati
oleh seluruh anggota ASEAN. Pasar Tunggal ASEAN yang masih baru tentu
belum matang sehingga dibutuhkan beberapa perubahan-perubahan. Hal
ini terbukti dengan banyaknya protokol-protokol yang belum final pada
produk legislasinya yang masih memerlukan penyesuaian-penyesuaian.
Maka Masyarakat Ekonomi ASEAN masih terus berjuang mewujudkan
unifikasi dan harmonisasi hukum perdagangan internasional yaitu Pasar
Tunggal yang sedang dibangun.

SARAN
Agar seluruh negara anggota ASEAN secara aktif turut serta dalam
pengembangan dalam mewujudkan Pasar Tunggal ASEAN agar tujuan dari
Unifikasi dan Harmonisasi Hukum Perdagangan Internasional di Asia
Tenggara terwujud.
Bagi Indonesia agar terus mempersiapkan diri dengan berbenah dan fokus
pada bidang-bidang kerjasama Pasar Tunggal ASEAN agar tidak kalah
bersaing dengan negara-negara lain.

17
DAFTAR PUSTAKA

Boulton, Philip, 2007 Economic Integration-Economics: A Course


Companion, Handout Materi Mata Kuliah Ekonomi, Escuela Campo
Alegre, American Internasional School Caracas Karakas: Venezuela.

Willes, John H. dan John A. Willes, Q.C., 2005, International Business


Law, New York: The McGraw-Hill Companies Inc.

Noor, Bertharia, 2015, Personalitas Hukum Internasional dalam Pasar


Tunggal ASEAN, Jakarta: Predanamedia Group.

Cuyvers, Ludo dan Wisarn Pupphavesa, 2015, From ASEAN to AFTA, A


Centre of ASEAN Studies (CAS), Discussion Paper No.6, CAS in coop,
Centre for Internasional Management and Development Antwerp.

ASEAN Economic Community Blueprint.

http://aeccenter.kemendag.go.id/media/177687/peluang-dan-
tantangan-indonesia-pasar-bebas-asean.pdf.

18