Anda di halaman 1dari 73

11

Rangkaian Magnetik

11.1 PENDAHULUAN

Gejala magnet memainkan bagian yang melengkapi hampir setiap piranti listrik
yang digunakan pada saat ini di dalam industri, untuk penelitian, dan di rumah.
Generator, motor, transfonnator, pemutus rangkaian, televisi, komputer, tape
recorder, dan telepon semuanya menggunakan pengaruh magnetik untuk me-
lakukan bermacam-macam tugas penting.
Kompas, yang digunakan oleh para pelaut Cina pada abad kedua Masehi,
mengandalkan magnet tetap untuk menunjukkan arab. Magnet tetap dibuat dari
sebuah bahan, seperti baja atau besi, yang akan tetap termagnetisasi dalam waktu
yang lama tanpa memerlukan sumber energi dari luar.
Pada tahun 1820, seorang ahli fisika dari Denmark yang bemama Hans Chris-
tian Oersted rnenernukan bahwa jarum kompas akan berbelok jika dibawa ke
dekat penghantar yang membawa arus. Untuk yang pertama kali ditunjukkan
bahwa ada hubungan antara sifat kelistrikan dan kemagnetan, dan dalam tabun
yang sarna Andre Marie Ampere seorang ahli fisika dari Perancis melakukan
percobaan dalam bidang ini dan mengembangkan apa yang dikenal saat ini
sebagai hukum untai Amper. Dalam tahun berikutnya, ilmuwan seperti Michael
Faraday, Karl Friedrich Gauss, dan James Clerk Maxwell rneneruskan percobaan
dalam bidang ini dan mengembangkan banyak konsep dasar rnengenai pengaruh
magnet yang ditimbulkan oleh aliran muatan atau arus.
Ada kemiripan antara analisis rangkaian listrik dan rangkaian magnet. Hal ini
akan ditunjukkan kernudian dalam bab ini saat kita mernbandingkan persamaan
dasar dan metode yang digunakan untuk menyelesaikan rangkaian magnet de-
ngan persamaan yang digunakan untuk rangkaian listrik.
2 Teknik Rangkaian Listrik - Jilid 2

Kesulitandalam memaharni metode yang digunakan dalarn rangkaian magne


akan sering muneul dalarn pelajaran yang sederhana untuk menggunakan satu
yang benar, bukan karena persamaan itu sendiri. Pennasalahan tersebut muneu
karena adanya tiga buah sistem satuan yang masih digunakan dalam industri.
Untuk praktisnya sistem satuan SI akan digunakan dalarn bab ini. Untuk sistem
CGS dan sistem Inggris disediakan tabel penyesuaian dalam Lampiran G.

11.2 MEDAN MAGNET

Dalam daerah sekeliling magnet tetap ada medan magnet, yang dapat dinyatakan '
dengan garis fluks magnet yang mirip garis fluks listrik, akan tetapi tidak
memiliki titik awal dan titik akhir seperti garis fluks listrik tetapi berupa kalang
yang terus menerus, seperti diperlihatkan pada Gambar 11.1. Simbol untuk fluks
magnet adalah hurufYunani <I> (phi).
Garis fluks magnet memanear dari kutub utara menuju kutub selatan, kembali
ke kutub utara melalui batang metal. Perhatikan jarak yang sarna antara garis
fluks dalam inti dan penyebaran yang simetris di luar bahan magnetik. Ada sifat
tarnbahan gar is fluks magnet dalarn bahan yang homogen (yakni bahan yang
inemiliki struktur atau komposisi yang seragam). Hal ini juga penting untuk
memahami bahwa garis fluks magnet akan meneoba untuk menempati ruang yang
sekeeil mungkin. Hal ini akan menghasilkan garis fluks magnet yang panjangnya
minimum antara kutub yang sarna, seperti diperlihatkan pada Gambar 11.2.
Kekuatan medan magnet dalam daerah khusus berhubungan langsung dengan
rapat garis gaya dalam daerah tersebut. Contohnya pada Gambar 11.1 kuat medan
magnet di a dua kali lipat di b karena di sana ada dua kali lipat garis fluks magnet
yang berhubungan dengan bidang yang tegak lurus di a daripada di b. Ingat dari
pereobaan di masa kanak-kanak bagaimana kekuatan magnet tetap selalu lebih
kuat yang lebih dekat dengan kutub.

------+-------
~,-:=------.-------=='"
, </' - - - - - - - - .. - - - - - - - - ......'.". \

\/-~;';t.~...~~=~~~?
=;;;=~:=~~=sf-> ,
=-
I
\
= ~- -;::~=
" ----- ---.-------
I" --

', :--------.--------~
-----.---------:,~
--
=:: ~,tI ...,...
I \
)

GAMBAR 11.1 GAM BAR 11.2


Rangkaian Magnetik 3

Jika kutub yang tidak sarna pada dua magnet tetap didekatkan, maka magnet
tersebut akan saling tarik-menarik, dan penyebaran fluks akan seperti yang diper-
lihatkan pada Gambar 11.2. Jika kutub yang sarna didekatkan, maka magnet
tesebut akan saling tolak menolak, dan penyebaran fluks akan seperti yang diper-
lihatkan pada Garnbar 11.3.
Jika sebuah bahan yang bukan magnet, seperti kaca atau tembaga, ditempatkan
pada lintasan fluks di sekitar magnet tetap, maka hampir tidak ada perubahan
dalam penyebaran fluks (Gam bar 11.4). Akan tetapi jika sebuah bahan magnet,
seperti besi lunak ditempatkan pada lintasan fluks, maka lintasan fluks akan
melewati besi lunak tersebut dan bukan melewati udara yang berada di sekitarnya
karen a garis fluks akan jauh lebih mudah lewat bahan magnet daripada melalui
udara. Prinsip ini digunakan digunakan sebagai pelindung elemen listrik yang
peka dan alat yang dapat dipengaruhi oleh medan magnet menyimpang (Gambar
11.5)

, $0::::::"-
.A~-:'-.--:"
.-? Flux lines
, - - - : . c:<..
4 " ' '' ': : '
Sf' t "
'IJ
I \

'~~t'lO== ==;:;==-- = =
- I' - - - - - - -- - -
s-f/
-= _::::===:=====-
0 IfOn
..::-,,
I~~~-
------~~~

\,_-- - - - -S'~S!
-- -
- - - ->-;.:}
-
~

GAM BAR 11.3 GAMBAR 11.4

Seperti yang ditunjukkan dalam pendahuluan, sebuah medan magnet (yang


diwakili oleh garis fluks magnet yang konsentris, seperti pada Gambar 11.6) ada
di sekeliling setiap kawat yang membawa arus listrik. Arah garis fluks magnet
diperoleh dengan menempatkan ibu-jari tangan kanan ke arah aliran arus yang
biasa dan perhatikan arah jari-jari. (Metode ini biasanya disebut aturan tangan
kanan.) Jika penghantar berupa kumparan dengan belitan tunggal (Gambar 11.7),
maka fluks yang dihasilkan akan mengalir searah dengan arab bersama rnelalui
inti kumparan.
Sebuah kumparan yang memiliki lebih dari satu belitan akan menghasilkan
medan magnet yang ada dalam lintasan yang terus menerus melalui dan mengitari
kumparan terse but (Gambar 11.8).
Penyebaran fluks pad a kumparan mirip dengan magnet tetap. Garis fluks
meninggalkan kumparan dari sebelah kiri dan masuk melalui sebelah kanan
masing-masing meniru kutub utara dan selatan. Perbedaan utama di antara penye-
4 Teknik Rangkaian Listrik -Ji/id2

. f1 li
M agneuc ux nes
Conductor
r--..
/, ....".. ", ", I'''' ....'.
I ,...... \ I \ I ......'

GAMBAR 11.5 GAMBAR 11.6

baran dua fluks tersebut adalah bahwa garis fluks lebih terpusat untuk magnet'
tetap daripada untuk kumparan. Begitu juga karena kekuatan medan magnet'
ditentukan oleh rapat garis fluks, maka kumparan memiliki kuat medan yang,
lebih lemah. Kuat medan pada kumparan dapat secara efektif ditingkatkan dengan I
menempatkan bahan khusus, seperti besi, baja, atau cobalt, dalam kumparan i
untuk meningkatkan rapat fluks dalam kumparan tersebut. Dengan peningkatan '
kuat medan karena adanya penambahan inti, maka kita dapat menemukan elektro-
magnet (Gambar 11.9) yang mana sebagai tambahan terhadap sifat yang dimiliki
oleh magnet tetap yaitu juga memiliki kuat medan yang dapat diubah-ubah
dengan perubahan salah satu harga komponen (arus, belitan, dan lain sebagainya).
Tentu saja arus harus melewati kumparan elektromagnet agar dihasilkan fluks
magnet, sedangkan untuk magnet tetap tidak memerlukan kumparan atau arus.
Arab garis fluks dapat ditentukan untuk elektromagnet (atau dalam sembarang
inti yang dibelit kumparan) dengan menempatkan jari-jari tangan kanan searah
dengan aliran arus yang mengelilingi inti. Kemudian ibu jari akan menunjukkan

GAMBAR11.7 GAMBAR 11.8


Rangkaian Magnelik 5

------_....-----_

GAMBAR 11.9

arah kutub utara fluks magnet yang dihasilkan. Hal ini ditujukkan pada Gambar
11.10. Potongan melintang elektromagnet yang sama dicantumkan dalam dalam
gambar tersebut untuk memperkenalkan perjanjian bagi arah yang tegak lurus
dengan halaman buku. Tanda silang dan titik masing-masing menunjukkan ekor
dan kepala anak panah.
Bidang lain pemakaian pengaruh elektromagnet diperlihatkan pada Gambar
11.11. Lintasan fluks untuk masing-rnasing pemakaian ditunjukkan pada masing-
masing gambar.

(a)

(b)

GAMBAR 11.10
6 Teknik Rangkaian Listrik - Jilid 2

Laminated
sheets of stee I

T ransforrner Loudspeaker
Generator

f -------0 ..-Aio gap

.1 I
.L~~~?~}
Rday
Medical Applications: Magne c
Meter movement resonance imaging.

GAMBAR 11.11.

11.3 RAPAT FLUKS

Dalam sistem satuan SI, fluks magnet diukur dalam weber (Wb) yang memiliki
simbal <1>. Jumlah garis fluks per satuan luas disebut rapatfluks dan dinyatakan
dengan huruf besar B. Besamya ditentukan oleh persamaan berikut:

B = Tesla
<I> = weber (Wb) (11.1)
A =: meter persegi (m)

di mana <I> adalah jumlah garis fluks yang melewati luasan A (Gambar 11.2).
Rapat fluks pada pasisi a dalam Gambar 11.1 dua kaJi di b karena ada dua kali
lipat garis tluks yang melewati luasan yang sarna.
Rangkaian Magnetik 7
A

.._ J
-----' . . .. 1...,.:.,
""-{~~~+.\
_-,
---,- I
v :" I
--~/ ....

GAM BAR 11.12

Seperti yang terdapat pada Persamaan (11.1), satuan rapat tluks magnet dalam
sistem SI diukur dalam tesla, yang simbolnya T. Dengan ketentuan
2
i tesla (T):::::1 Wb/m

CONTOH 11.1. Untuk inti pada Gambar 11.13, tentukan rapat fluks B dalam
tesla.

IP = 6 x IO-~ Wb
A = 1.2 X 10-3 m2

GAMBAR 11.13

Penyelesaian:
<I> 6 x 10-5 Wb
8 =- = ----- = 5 X 10-2 T
A 1.2 X 10-3 m2

CONTOH 11.2. Pad a Gambar 11.13,jika rapat fluks sebesar 1.2 T dam luasnya
0.25 in?, maka tentukan fluks yang melalui inti.
Penyelesaian: Dengan Persamaan (11.1),

<I> =BA
2
Dengan mengubah 0.25 in. menjadi satuan metrik.

.4 = 0.25 jr...~. ( 1m )( 1 ) = 1.613 X 10-4 m2


. m
_ .
, 39. s l)ri. 39.3 I )If. I
8 Teknik Rangkaian Listrik - Jilid 2

dan

<P = (1.2 T)(1.613 x 10-4 m2)


= 1.936 x 10-4 Wb

Sebuah alat yang dirancang untuk rnengukur rapat fluks dalam Gauss (sistern4 \
CGS) tampak pada Gambar 11.14. Lampiran G rnengungkap bahwa 1 T = 10
gauss. Harga pembacaan tampak pada tarnpilan bagian depan meter pada Gambar i
11.14 adalah .

1.964~( } T ) = 1.964 X 10-4 T


10 .gatfSS

GAMBAR 11.14

11.4 PERMEABILITAS

Jika inti bahan yang berbeda dengan ukuran fisik yang sarna digunakan da]arn
elektromagnet yang diuraikan dalam Pasal 11.2, maka kuat magnet akan berubah-
ubah sesuai dengan inti yang digunakan. Perubahan kekuatan ini karen a semakin
besar atau semakin kurangjum]ah garis fluks yang lewat melalui inti. Bahan yang
mana garis fluks telah bisa ditetapkan dikatakan magnet dan memiliki permea-
bilitas yang tinggi. Permeabilitas (u) suatu bahan adalah ukuran mudahnya garis
Rangkaian Magnetik 9

fluks dapat ditetapkan dalam suatu bahan. Hal ini mirip dengan sifat hantaran
dalam rangkaian listrik. Penneabilitas ruang hampa 1.10 adalah

f.lo = 4 1t X 10-7 weber/ampere-meter


Sebagaimana ditunjukkan di atas, J..I. memiliki satuan weber/amper. Dalam
praktek, penneabilitas semua bahan yang bukan magnet, seperti tembaga, alumu-
nium, kayu, kaca, dan udara, adalah sama dengan penneabilitas ruang hampa.
Bahan yang memiliki permeabilitas sedikit lebih kecil dari penneabilitas ruang
hampa disebut diamagnetik dan bahan yang memiliki penneabilitas sedikit lebih
besar dari ruang hampa disebut paramagnetik. Bahan magnet seperti besi, nikel,
baja, cobalt, dan campuran dari bahan terse but memiliki permeabilitas ratusan
dan bahkan ribuan kali penneabilitas ruang hampa. Bahan ini memiliki perme-
abilitas yang sangat tinggi yang direferansikan sebagaife"omagnetik.
Perbandingan penneabilitas bahan terhadap permeabilitas ruang hampa dise-
but permeabilitas relatif, yaitu

(11.2)

Secara umum, untuk bahan ferromagnetik, J..I.r ~ 100, dan untuk bahan yang bukan
magnet, J..I.r = 1.
Karena J.1r merupakan variabel yang tergantung pada besaran lain pada
rangkaian magnet, maka harga-harga J..I.r tidak ditabelkan. Metode perhitungan J.1r
dari data yang diberikan oleh perusahaan akan diperhatikan dalam pasal berikut-
nya

11.5 RELUKTANSI

Hambatan bahan terhadap aliran muatan (arus) untuk rangkaian listrik ditentukan
oleh persamaan

I
R = P:A (ohm, 0)

Reluktansi bahan untuk menetapkan garis fluks magnet dalam bahan ditentukan
oleh persamaan berikut:

(rels, atau AtIWb) (11.3)


10 Teknik Rangkaian Listrik - Jilid 2

di mana m adalah reluktansi, I adalah panjang lintasan magnet, dan A adalah lu


potongan melintang. t dalam satuan AtIWb adalahjumlah belitan yang digunak
kumparan. Hal-hal mengenai belitan amper (ampere turn, At) akan dibahas dala
pasal berikutnya. Perlu dicatat bahwa hambatan dan reluktansi berbanding te
balik dengan luas, yang menunjukkan bahwa semakin luas permukaan ak
menghasilkan pengurangan masing-masing harga dan akan meningkatkan has
yang diinginkan yang berupa arus dan fluks. Untuk penambahan panjang m
kebalikan dari pernyataan tersebut benar, dan pengaruh yang diinginkan be '
kurang. Akan tetapi reluktansi berbanding terbalik dengan permeabilitas, s
dangkan hambatan berbanding langsung dengan hambatan-jenis. Semakin bes .
harga j.I. atau semakin kecil p, akan semakin kecil harga reluktansi dan hambata .
masing-masing. Oleh karena itu, bahan yang memiliki permeabilitas tinggi, s
perti ferromagnetik, memiliki reluktansi yang kecil dan akan menghasilkan p
ningkatan ukuran fluks yang melalui inti. Tidak ada satuan yang secara lu
diterima untuk reluktansi, meskipun biasanya digunakan satuan rei dan At/Wb.

11.6 HUKUM OHM UNTUK RANG KAlAN MAGNET


Ingat persamaan

penyebab
Pengaru h =
perlawanan
yang terdapat dalam Bab 4 untuk memperkenalkan hukum Ohm bagi rangkai
listrik. Untuk rangkaian magnet, pengaruh yang diinginkan adalah fluks 4>
Penyebab berupa gaya gerakmagnet (magnetikmotive force, mmf) dT, yan
berupa gaya luar (atau "tekanan") yang diperlukan untuk menetapkan garis fluk
magnet dalam bahan magnet. Perlawanan terhadap penetapan fluks 4> adal
reluktansi m.
Dengan penggantian harga persamaan di atas kita punya persamaan

(11.4)

Gaya gerak magnet F sebanding dengan perkalian jumlah belitan yang


mengi- tari inti (yang mana fluks ditetapkan) dan arus yang melalui kawat
belitan (Gam- bar 11.15). Dalam bentuk persamaan,
~=Nl (belitan-amper, At) (11.5)
Rangkaian Magnetik II

Persamaan tersebut mengungkap denganjelas bahwa peningkatanjumlah belitan


atau arus yang melalui kawat akan menghasilkan peningkatan "tekanan" pada
sistem tersebut untuk membuat garis fluks melalui inti.
Meskipun ada kesamaan yang banyak antara rangkaian listrik dan magnet,
orang harus menyadari bahwa fluks <t> bukan variabel "aliran" seperti arus dalam
rangkaian listrik. Fluks magnet dibuat dalam inti melalui perubahan struktur atom
inti karena adanya tekanan luar yang bukan ukuran aliran partikel muatan yang
melalui inti.

11.7 GAVA MAGNETISASI

Gaya gerak listrik per satuan panjang disebut gaya megnetisasi (H). Dalam
bentuk persamaan,

(At/m) (11.6)

Penggantian untuk gaya gerak magnet akan menghasilkan

(At/m) (11.7)

Untuk rangkaian magnet pada Gambar 11.16, jika NI = 40 At dan 1= 0.2 m,


maka
NI 40
H =- =- = 200 At/rn
l 0.2

Dengan kata lain, hasil tersebut menunjukkan bahwa ada tekanan sebesar 200
belitan amper per meter untuk menetapkan fluks dalam inti tersebut.
Perhatikan Gambar 11.16 bahwa arah fluks <t> dapat ditentukan dengan me-
nempatkan jari-jari tangan kanan searah dengan arus yang mengelilingi inti dan
perhatikan pula arah ibu jari. Penting untuk menyadari bahwa gaya magnetisasi
adak tergantung pada jenis bahan inti, ia hanya ditentukan oleh jumlah belitan,
arus, dan panjang inti.
Gaya magnetisasi yang digunakan mempunyai pengaruh pada permeabilitas
yang dihasilkan pada bahan magnet. Begitu gaya magnetisasi bertambah, maka
permeabilitas naik sampai harga maksimum dan kemudian turun ke harga mini-
12 Teknik Rangkaian Listrik - Jilid 2

Mean length I "" 0.2 m

GAMBAR 11.16

mum, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 11.17 untuk tiga macam bah
magnet yang umum digunakan.
Rapaf fluks dan gaya magnetisasi dihubungkan oleh persamaan berikut:

p. (permeability) x 10 -)

10

5
\
4

3
1\\
-,
2
~I~~r-
I/~'
iIiIiiiiiiiii Sheet steel

o 300 600 900 1200 1500 1800 2100 2400 2700 3000 3300 3600 3900 4200 4500 H (Allm)

GAMBAR 11.17
Rangkaian Magnetik 13

(11.8)

Persamaan ini menunjukkan bahwa untuk gaya magnetisasi khusus, semakin


besar penneabilitas, akan semakin besar rapat fluks yang dihasilkan.

11.8 HISTERESIS

Sebuah kurva antara rapat fluks B dan gaya magnetisasi H pada suatu bahan
merupakan sesuatu yang penting bagi insinyur. Kurvajenis ini biasanya diperoleh
dalam buku pegangan dan pamflet serta brosur yang diterbitkan oleh perusahaan
pernbuat bahan magnet. KurvaB-H untuk bahan magnet khusus seperti baja dapat
diturunkan dengan menggunakan Gambar 11.18.
Intinya pada mulanya dihilangkan magnetnya dan arus I = O. Jika arus I
ditingkatkan hingga suatu harga di atas nol, gaya magnetisasi H akan naik hingga
suatu harga yang ditentukan oleh

Ht;::: NIt
I

GAMBAR 11.18

Fluks ct> dan rap at fluks B (B ;::: <I>IA) juga akan bertambah dengan pertambahan
arus I (atau 11). Jika bahan tersebut tidak memiliki magnet sisa dan gaya magneti-
sasi dinaikkan dad nol sampai harga tertentu Ha, maka kurva B-H akan mengikuti
lintasan seperti yang diperlihatkan pada Gambar 11.19 antara 0 dan a. Jika gaya
magnetisasi H dinaikkan hingga jenuh (Hs), maka kurva akan berlanjut menuju
titik b seperti yang diperlihatkan pada gambar tersebut. Bila terjadi kejenuhan,
untuk semua maksud praktis, rapat fluks telah mencapai harga maksimumnya.
Kemudian sembarang peningkatan arus yang melalui kumparan tersebut akan
l4 Teknik Rangkaian Listrik -Jilid 2

b Saturation
..-------- '\

-'

- Hs

Saturation

GAMBAR 11.19

mengakibatkan peningkatan H = NIIl yang akan menghasilkan peningkatan rapa ,


fluks B yang sangat kecil. ;
Jika gaya magnetisasi dikurangi menuju nol dengan membuat I berkuran i
menuju n01, maka kurva akan mengikuti lintasan kurva antara b dan c. Rapat fluks
BR yang masih tetap ada meskipun gaya magnetisasi berharga nol disebut rapa
fluks sisa. Rapat fluks sisa inilah yang membuatnya memungkinkan untuk mem-
buat magnet tetap. Jika kumparan tersebut dilepas dari inti pada Garnbar 11.18,
maka inti tersebut masih akan memiliki sifat magnet yang ditentukan oleh rapat
fluks sisa, yang merupakan ukuran sifat menyimpannya. Jika arus dibalik, akan
menghasilkan gaya magnetisasi .tt, maka rapat fluks B akan berkurang dengan I
peningkatan arus I. Akhimya rapat fluks akan menjadi nol bila mencapai -Hd!
(bagian kurva dari c sampai d). Gaya magnetisasi -Hd yang diperlukan untuk I
"memaksa" rapat fluks untuk mengurangi harganya menuju nol disebut gaya I
paksaan, yang merupakan ukuran paksaan magnet tersebut. Begitu gaya -H di- I
naikkan sehingga terjadi lagi kejenuhan dan kemudian dibalik dan dibawa kern- !
baJi menuju noJ maka lintasan yang diperlihatkan dari d sampai e. Jika gaya
magnetisasi dinaikkan searah dengan arah positif (+H), kurva tersebut akan
melacak lintasan yang diperIihatkan dari e sampai b. Seluruh kurva yang diwakili
oleh bcded disebut kurva histeresis untuk bahan ferromagnetik, istilah tersebut
berasal dari bahasa Yunani yakni histerein yang berarti tertinggal di belakang.
Rapat fluks B ditinggal di belakang oleh gaya magnetisasi H selama penggam-
baran kurva tersebut. Bila H berharga nol di c, maka B tidak berharga nol tetapi
bam mulai turun. Lama setelah H melewati nol dan sarna dengan -Hs akhimya
rapat fluks B sarna dengan nol.
Rangkaian Magnetik 15

Jika seluruh siklus diulang, maka kurva yang diperoleh untuk inti yang sarna
akan ditentukan oleh H maksimum yang digunakan. Tiga kalang histeresis untuk
harga H maksimum kurang dari harga jenuh yang diperlihatkan pada Garnbar
11.20. Sebagai tambahan, kurva jenuh tersebut diulang-ulang untuk maksud
perbandingan.
B (T)

GAMBAR 11.20

Catatlah dari bermacam-macam kurva tersebut bahwa untuk harga H yang


khusus, misalnya Hx, harga B dapat berubah-ubah harganya dengan jangkauan
harga yang cukup luas, sebagaimana ditentukan oleh inti. Dalam usaha untuk
menandaiharga B untuk masing-masing harga H, kita peroleh dengan menghu-
bungkan ujung kalang histeresis. Kurva yang dihasilkan diperlihatkan dengan
garis tebal pada Gambar 11.20 dan untuk bermacam-macam bahan pada Gambar
11.21 disebut kurva magnetisasi normal. Kurva yang lebih luas pada salah satu
daerah tampak pada Gambar 11.22.
Perbandingan antara Gambar 11.17 dan 11.21 memperlihatkan bahwa untuk
harga H yang sama, harga B lebih besar pada Gambar 11.21 untuk bahan yang
memiliki J..l. lebih besar pada Gambar 11.17. Hal ini khususnya jelas untuk harga-
harga H yang rendah. Hubungan antara dua gam bar ini hams ada, karen a B = ~.
Kenyataannya, jika pada Gambar 11.21 kita peroleh J..l. untuk masing-masing
harga H dengan menggunakan persamaan J..l. = BIH, maka kita akan memperoleh
kurva pad a Gambar 11.21,
Sebuah alat yang akan memberikan gambar kurva B-H untuk bah an magnet
tertentu tampak pada Gambar 11.23.
Merupakan hal yang menarik bahwa kurva histeresis pada Gambar 11.20
memiliki titik simetris terhadap sumbu nol. Jadi pola terbalik yang berada di
Rangkaian Magnetik 17

Bm

1.4 1------.----.----.---..---,.--..,..----,

300 400 500 600 700 H(At/m)

GAMBAR 11.22
18 Teknik Rangkaion Lismk -Jjlid 2

GAMBAR 11.23
(Kebaikan LDJ Electronics, Inc.)

sebelah kiri sumbu tegak sarna dengan yang berada di sebelah kanan sumbu
tegak. Sebagai tambahan, anda akan memperoleh untuk aplikasi selanjutnya
bahwa gaya magnetisasi yang sama terhadap suatu bahan akan menghasilkan
gambar yang sama. Untuk arus I dalarn persamaan H:: NIIl akan bergerak antara
harga maksimum dengan pesat yang tetap, kurva B-H yang sama akan dihasilkan
selama masing-masing siklus. Hal seperti ini merupakan kasus bila kita menguji
jaringan ac (sinusoidal) dalam bab berikutnya. Pembalikan medan <Xl karena
adanya perubahan arah arus akan menghasilkan rugi energi yang dapat diuraikan
dengan memperkenalkan teori kawasan magnet terlebih dahulu. .
Dalam masing-masing atom, elektron orbit (diuraikan dalam Bab 2) juga'
berputar sementara mereka mengelilingi inti. Atom terse but, karena elektron
putamya, memiliki medan magnet yang berhubungan dengannya. Dalam bahan
yang bukan magnet, medan magnet total besamya DOl, karena medan magnet
yang disebabkan oleh atom dalam bahan tersebut berlawanan satu sarna lain.
Akan tetapi, dalam bahan magnet seperti besi dan baja, medan magnet kelompok
12
atom dalam jumlah 10 disejajarkan, yang membentuk magnet batang yang
sangat kecil. Kelompok atom yang disejajarkan secara magnet ini disebut sebuah
domain" Masing-masing domain merupakan sebuah kesatuan yang terpisah; jadi
masing-masing domain tidak tergantung pada domain di sekitamya. Untuk se-
buah bahan magnet yang tidak termagnetisasi, domain ini tampak acak seperti
diperlihatkan pada Garnbar 11.24(a). Medan magnet total dalarn sembarang salah
satu arah sarna dengan DOl.
Bila gaya magnetisasi luar dipakai, maka domain yang harnpir disejajarkan
dengan medan yang digunakan akan berkembang dengan akibat domain yang
kurang terorientasi dengan baik, seperti dipertihatkan pada Gambar 11.24(b).
Akhirnya, jika medan yang cukup kuat diterapkan, maka semua domain akan
memiliki orientasi gaya magnet yang diterapkan, dan sembarang peningkatan
medan luar berikutnya tidak akan meningkatkan kuat fluks magnet yang melalui
Rangkaian Magnetik 19

----- .....
I I
S N
(a) (b)

~"'Z-I GAM BAR 11.24


I--Z------
inti - suatu keadaan yang direferensikan sebagai keadaan jenuh. Elastisitas di
atas dibuktikan oleh kenyataan bahwa bila gaya magnetisasi dihilangkan, maka
penyejajaran akan hilang sampai harga tertentu dan rapat fluks akan turun sampai
Bv. Dengan kata lain, pengambilan gaya magnet akan menghasilkan kembalinya
sejumlah domain yang tidak sejajar dalam inti. Akan tetapi penyejajaran yang
berlanjut pada sejumlah domain mampu bagi kita untuk menciptakan magnet
tetap.
Pada suatu titik sebelum jenuh, domain tidak sejajar yang berlawanan disederha-
nakan menjadi silinder kecil dengan bennacam-macam bentuk yang direferensikan
sebagai gelembung-gelembung (bubbles). Gelembung ini dapat digerakkan dalam
bahan magnet melalui penggunaan pengaturan medan magnet. Gelembung magnet
inilah yang membentuk dasar sistem ingatan gelembung yang akhir-akhir ini diran-
cang untuk komputer.

11.9 HUKUM RANGKAIAN AMPER

Telah diperkenalkan dalam pendahuluhan bab ini bahwa ada kemiripan yang
banyak antara analisis rangkaian listrik dan rangkaian magnet. Hal ini telah
ditunjukkan untuk beberapa harga dalam Tabel 11.1.
Jika kita menggunakan analogi "sebab" pada hukum Kirchofftegangan (2: V
= 0), maka akan kita peroleh persamaan berikut:

(untuk rangkaian magnet) (11.9)

yang mana dengan kata lain menyatakan bahwa jumlah aljabar kenaikan dan
penurunan gaya gerak magnet yang mengitari sebuah kalang tertutup pada sebuah
20 Teknik Rangkaian Listrik - Jilid 2

Electric Circuits Magnetic Circuits


,'.. ..

~,:""."",;:":E.',; ..... ;.::.,,,,.,. "

, ,,'.', ,

Effect , ;, ,'.~-../\:. ,~~:;. 0"


'cf> ~"'"

~
Opposition ';', " R,; .. '':',"
',' "

_.,

TABEL 11.1

rangkaian magnet sarna dengan nol; jadi jumlah kenaikan gaya gerak magnet l

sarna dengan jumlah penurunan gaya gerak magnet yang mengitari sebuah kalang 1

tertutup.
Persamaan (11.9) direferensikan sebagai hukum rangkaian Amper. Bila ia
diterapkan pada rangkaian magnet, maka sumber-sumber gaya gerak magnet
dinyatakan dengan persamaan

QA=NI (At) (11.10)

Persamaan untuk penurunan gaya gerak magnet yang melintas sebagian


rangkaian magnet dapat diperoleh dengan menggunakan hubungan yang diberi-
kan dalam Tabel 11.1. Jadi untuk rangkaian listrik,

V=IR

yang akan menghasilkan persamaan berikut untuk rangkaian magnet:

(At) (11.11)

di mana <I> adalah tluks yang melalui bagian dari rangkaian magnet dan ~~ adalah
reluktansi bagian terse but. Akan tetapi reluktansi dihitung sendiri dalam analisis
rangkaian magnet. Persamaan yang lebih praktis untuk penurunan gaya gerak
magnet adalah

cifi= HI (At) (11.12)


Rangkaian Magnetik 21

seperti yang diturunkan dari Persamaan (11.6), di mana H adalah gaya magnet-
isasi pada sebagian rangkaian magnet dan I adalah panjang bagian tersebut.
Seperti contoh pada Persamaan (11.9), perhatikan rangkaian magnet yang tampak
pada Gambar 11.25 yang tersusun dari tiga bahan ferromagnetik yang berbeda.
Dengan menggunakan hukum rangkaian am per, kita punya persamaan

~o~ = 0
+NI - Hablab - Hbc1bc - Hca1ca =0
~ ~ '-..-' '-..-'
rise drop drop drop

atau
impressed mmfdrops
mmf

GAMBAR 11.25

Semua suku pada persamaan tersebut diketahui kecuali gaya rnagnetisasi untuk
masing-masing bagian rangkaian magnet yang dapat diperoleh dengan rnenggu-
nakan kurva B-H jika rapat fluks B diketahui.

11.10 FLUKS<t>

Jika kita melanjutkan untuk rnenggunakan hubungan-hubungan yang telah diurai-


kan dalarn pasal sebelumnya dengan hukum arus Kirchoff, maka kita akan mene-
mukan bahwa jumlah fluks yang memasuki sebuah sambungan sarna dengan
jumlah fluks yang rneninggalkan sebuah sambungan; jadi untuk rangkaian pada
Gambar 11.26,

(pada sambungan a)
22 Teknik Rangkaian Listrik -Jilid 2

GAMBAR 11.26
atau

<I>b + <I>c = <I>a (pada sambungan b)

keduanya sarna.

11.11 RANG KAlAN MAGNET SERI: PENENTUAN NI

Kini kita berada dalam posisi untuk menyelesaikan beberapa permasalahan I

rangkaian magnet yang pada dasamya ada dua jenis. Dalam jenis yang pertama,
harga fluks <I> diketahui, dan gaya gerak magnet yang digunakan harus dihitung.
Ini adalah jenis permasalahan yang dihadapi dalam perancangan motor, genera-
tor, dan transformator. Dalam jenis yang lain, harga NI diketahui, dan fluks <I>
rangkaian magnet harus ditentukan. Permasalahan jenis ini terutama dihadapi
dalam rancangan penguat magnet yang lebih sulit karena pendekatannya berupa
untung-untungan (hit or miss).
Sebagaimana telah ditunjukkan dalam pembahasan sebelumnya, harga J.l akan :
berubah dari titik ke titik sepanjang kurva magnetisasi. Hal ini akan menghi-
langkan kemungkinan untuk memperoleh reluktansi pada masing-masing cabang
atau reluktansi total jaringan seperti yang dikerjakan untuk rangkaian Iistrik di
mana p memiliki harga yang tetap untuk sembarang tegangan dan arus yang
digunakan. Jika reluktansi total dapat ditentukan, maka <I> dapat ditentukan de-
ngan menggunakan analogi hukum Ohm untuk rangkaian magnet.
Untuk rangkaian magnet, harga B dan H ditentukan dengan menggunakan
kurva B-Hyang lain, dan I.l dihitung sendiri kalau diminta.
Pendekatan yang sering digunakan dalam analisis rangkaian magnet adalah
metode label. Sebelum permasalahan dianalisis secara rinci, sebuah tabel daftar
yang tersedia pada kolom sebelah ujung kiri dari bermacam-macam bagian
rangkaian magnet. Kolom-kolom pada sebelah kanan disediakan untuk besaran
Rangkaian Magnetik 23

yang diperoleh untuk masing-masing bagian. Dengan cara ini maka pengerjaan
masalah secara individual dapat melacak apa yang diperlukan untuk menyempur-
nakan permasalahan dan juga langkah berikut apakah yang seharusnya dilakukan.
Setelah beberapa contoh, kegunaan metode ini akan menjadi jelas.
Pasal ini hanya akan memperhatikan rangkaian magnet seri yang mana fluks
<l> semuanya sarna. Dalam masing-masing contoh, besar gaya gerak magnet akan
ditentukan.

CONTOH 11.3. Untuk rangkaian magnet seri pada Gambar 11.27:

Cast-steel core

(mean length)

GAMBAR 11.27
a. Tentukan harga /yang diperlukan agar menghasilkan fluks magnet <l> sebesar 4
x 10-4 Wh.
b. Tentukan u dan J.l.r untuk bahan tersebut dalarn keadaan ini.
Penyelesalan: Rangkaian magnet dapat diwakili oleh sistem yang diperlihat-
kan pada Gambar 11.28(a). Analogi rangkaian listrik diperlihatkan pada Gambar
11.28(b). Analogi jenis ini dapat sangat berguna dalarn menyelesaikan rangkaian
magnet. Tabel 11.2 adalah untuk soal bagian (a). Tabel ini merupakan hal yang
sepele untuk contoh ini akan tetapi ia menentukan be saran yang akan diperoleh.

(a) (b)

GAMBAR 11.28
(a) Rangkaian magnet setara dan (b) analogi rangkaian listrik
24 Teknik Rangkaian Listrik - Jilid 2

Section cJ> (Wb) B (T) H (At/m) I (m) HI (At)


One continuous: section 4 X 10-4 2 X 10-3 0.16
TABEL 11.2
a. Rapat fluks B
adalah

ct> 4 X 10-4 Wb
B = - ;:; =2 X 10-1 T ::: 0.2 T
A 2 X 10-3 m2

Dengan menggunakan kurva B-H pada Gambar 11.22, kita dapat menentukan
gaya magnetisasi H:
H (baja cetak) = 110 Atlm
Dengan menggunakan hukum rangkaian Amper menghasilkan
NJ:;:: HI
dan

J = HI = (110 Atlm)(0.16 m) = 0.044 A = 44 mA


N 400t
(Ingat bahwa t menyatakan beJitan.)
b. Permeabilitas bahan dapat diperoJeh dengan menggunakan Persamaan (11.8):

B 0.2 T
IL = - :=:; :=:; 1.818 X 10-3 Wb/Am
H 110 Atlm

dan permeabilitas relatif adalah

IL
r" r :=:;-

ILo
1.818 X 10-3
41T X 10-7
1.818 X 10-3
12.57 X 10-7
= 1446.3
Rangkaian Magnetik 25

CONTOH 11.4. Elektromagnet pada Gambar 11.29 sebagian dibuat dari besi
cetak. Tentukan arus yang diperlukan untuk menetapkan fluks yang ditunjukkan
dalarn inti tersebut.
I N=50tums I
Sheet steel
/

f ~~-ItH+tt+I"Hf
I ~
: lII!fI~lJ..I..I.l."""

~
I
I
el ~/Cast iron

:1J~.~~.-.~~----l-\:-~-_~J'~
IG~ = led = iq = IfG = 4 in.
lbe = I", = 0.5 in.
Area (throughout) I in~ =
4> = 3.5 x 10-4 Wb

GAMBAR 11.29
Elektromagnet untuk Contoh 11.4

Penyelesaian: Agar dapat menggunakan Gambar 11.21 dan 11.22, pertama-


tama ukuran harus diubah menjadi sistem metrik. Akan tetapi karena luasan sarna
semuanya, maka kita dapat menentukan panjang untuk masing-masing bahan
daripada bekerja dengan bagian secara individual:

iefab = 4 in. + 4 in. + 4 in. = 12 in.


lbcd~ = 0.5 in. + 4 in. + 0.5 in. = 5 in.

12 jri.( 39.371 m;,no ) = 304.8 X 10-3 m

5 jri'.(. 39.371 m.. ) = 127 X 10-3 m

1 2( 1m )( 1m ) =6 452 X 10-4 m2
. 39.37 j.rf. 39.37}ri. .
26 Teknik Rangktnan Listrik - Jilid 2

Informasi yang tersedia dari spesifikasi pennasalahan tersebut telah disisipkan


dalam Tabel 11.3. Bila pennasalahan telah sempuma, maka masing-masing ruang
akan berisi beberapa informasi. Data yang cukup untuk melengkapi pennasalahan
! dapat diperoleh jika kita mengisi masing-masing kolom dari kiri ke arah kanan.
Begitu bennacam-macam besaran dihitung, maka mereka akan ditempatkan
dalam tabel yang mirip dengan tabel yang diperoleh pada akhir contoh tersebut.
Section I> (Wb) B(T) H (At/m) I (m) HI (At)

. ~fab.';'..:. ' 3.5 X 10- . 6.452 'x 10- 4

4
. 6.452 X:W4. ;
':bcd~.:': r , 'i)' 3.5 x 10-4

TABEL 11.3
Rapat fluks untuk masing-masing bagian adalah
4> 3.5 x 10-4 Wb
B =- = = 0.542 T
A 6.452 X 10-4 m2
dan gaya magnetisasi adalah
H (Iembaran baja, Gambar 11.22) == 60 Atfm
H (besi cetak, Gambar 11.21) == 1600 Atfm
Perhatikan perbedaan yang jauh antara gaya magnetisasi bagi rnasing-masing
bahan untuk rapat fluks yang diperlukan. Kenyataannya, bila kita menggunakan
hukum rangkaian Amper, maka kita akan memperoleh bahwa bagian lembaran
baja dapat diabaikan dengan kesalahan yang minimal dalam penyelesaian.
Penentuan Hl untuk masing-masing bagian menghasilkan

H~fablefab = (60 Atlm)(304.8 x 10-3 rn) = 18.29 At


Hbctklbcd~ = (1600 Atlm)(l27 x 10-3 m) = 203.2 At

Penyisipan data di atas ke dalam Tabel 11.3 akan menghasilkan Tabel 11.4.
!

- - - - ~---- - - - -------------- - - ------ - - ------ - -


S ec tio n <I> (W b ) 8 ( T) (At /m ) I (m )

------ - H I (At)

lABEL 11.4
Rangkaian Magnetik 27

Rangkaian magnet setara dan analogi rangkaian listrik untuk sistem pada Gambar
11.29 tampak pada Gambar 11.30.

-
fJi<fab
fIlbctk
(a)

R.fab

Rbcd
(b)

GAM BAR 11.30


Dengan menggunakan hukum rangkaian Amper,

NI = H"fabl"fab + HbC'd"lbcdt'
= 18.29 At + 203.2 At = 221.49 At

dan

(50 t)! = 221.49 At

atau

! = 221.49 At = 4.43 A
50 t
28 Teknik Rangkaian Listrik: - Jilid 2
----------------------------------------~I
!
CONTOH 11.5. Tentukan ~s sekunder h untuk transformator pada Gambar I
5
11.31 jika fluks dalam inti sebesar 1.5 x 10- Wh. '

)--_J~~:;~~~~==~~~~~=/~ = 30
~:r-<-I"

Area (throughout) = 0.15 x 10-3 m2


la!>t'dq '.= 0.16 m

GAMBAR 11.31
Transformator untuk Contoh 11.5.
Penye!esaian: Ini adalah contoh yang pertama dengan dua gaya magnetisasi .
yang harus diperhatikan. Dalam analogi pada Gambar 11.32 anda akan mencatat :
bahwa fluks yang dihasilkan masing-masing berlawanan, sebagaimana halnya
dua sumber tegangan yang berlawanan dalam analogi rangkaian listrik.
Data struktural tampak dalam Tabel 11.5
_r
RalKdl'J

y.;.,

I I 1
(a) (b)
E'1
J"
GAM BAR 11.32 (a) Rangkaian magnet setara dan (b) analogi rangkaian listrik
untuk transformator pada Gambar 11.31 .

Section ct> (Wb) Bm H (Atlm) I (rn) 11/ (Atl

obeda 0.15 X 10-3 0.16

TABEl11.S
Rangkaian Magnetik 29

Rapat fluks seJuruhnya adalah


<P I.S 10-5 Wb
B = -
A
:;::
0.15
X
X 10-3 m2
= 10 X 10-2 T = 0.10 T
dail
1
H(dari Gambar 11.22) == 7(100 At/rn) = 14.29 At/rn

Dengan menggunakan hukum rangkaian Amper,


NIl, - N2/2 = Habedaiabeda

(60 t)(2 A) - (30 t)(h) = (14.29 Atlm)(0.16 m)


120 At - (30 t)12 = 2.29 At
dan

atau (30 t)/2 = 120 At - 2.29 At

117.71 At
12 = = 3.924 A
30 t

Untuk analisis kebanyakan sistem transfonnator, digunakan persamaan NIh ::::


N2h Oengan menggunakan rumus ini akan menghasilkan arus sebesar 4 A
dibandingkan dengan cara di atas sebesar 3.924 A. Akan tetapi perbedaan ini
biasanya diabaikan, dan persamaan NIl! = N212 dianggap tepat.
Karena ketidak linearan kurva B-H, maka tidak memungkinkan untuk meng-
gunakan superposisi pada rangkaian magnet, jadi pada contoh yang sebelumnya
kita tidak dapat memperhatikan pengaruh masing-masing sumber secara terpisah
yang tidak saling tergantung satu sarna lain dan kemudian memperoleh pengaruh
total dengan menggunakan superposisi.

11.12 CELAH UDARA

Sebelum berlanjut dengan contoh yang berupa gambar, marilah kita perhatikan
pengaruh celah udara pada rangkaian magnet. Perhatikan bahwa dengan adanya
celah udara dalam rangkaian magnet pada motor dan meter yang terdapat pada
Gambar 11.11. Penyebaran garis fluks di luar daerah inti utama untuk celah udara
pada Gambar 11.33(a) dikenal sebagai fringing. Untuk maksud kita, akan kita
30 Teknik Rangkaian Listrik - Jilid 2

abaikan pengaruh ini dan menganggap bahwa penyebaran fluks seperti pada
Gambar 1133(b).
Rapat fluks pada celah air dalam Gambar 11.33(b) diberikan oleh persamaan:

di mana untuk maksud kita,


- .
.

<l>g = <l>inti
(11.13)

dan

Ag=Ainti

Untuk kebanyakana penggunaan praktis, permeabilitas udara dianggap sarna de-


ngan permeabilitas ruang hampa. Kemudian gaya magnetisasi pad a celah udara .
ditentukan oleh persamaan

(11.14)

dan penurunan gaya gerak magnet pada celah air tersebut sarna dengan Hglg.
Persamaan untuk Hg adalah sebagai berikut:

(~m++ ~
ir gap
,
L1 J
f
I
I
+
I I
c

I
<I>
,

_\
\
'. A

\
" :
~<I><
~
I

(a)

(b)

GAM BAR 11.33


Rangkaian Magnetik 31

dan

(Atlm) (11.15)

eONTOH 11.6. Tentukan besar arus I yang diperlukan untuk menetapkan fluks
magnet <l> = 0.75 X 10-4 Wb yang seri dengan rangkaian magnet pada Gambar
11.34.
All cast steel
/

t
r
I "

;:1
<I> '""
0.75 x 10-' Wb
I - I . .':4i~E;::~,:m,.~,.".:.,.".;:."".,,~_.-...-f' ! Ja
t ..~..-.-- <I>'--~d
~
3
leu/Gb = 100 X 10- m
II>< = 2 x 10- 3 m

GAMBAR 11.34 Rele untuk Contoh 11.6.


Penyelesaian: Sebuah rangkaian magnet yang setara dan analogi rangkaian
listrik diperlihatkan pada Gambar 11.35.

Rapat fluks untuk masing-rnasing bagian adalah


<I> 0.75 x 10-4 Wb
B = -:= = 0.5 T
A 1.5 X 10-4 m2

Dari kurva B-H pada Gambar 11.22,

H (baja cetak) == 280 Atlm


Dengan menggunakan Persamaan (11.15),
Hg = {7.96 x 105)Bg = (7.96 x 105)(0.5 T) = 3.98 X 105 At/rn

Penurunan gaya gerak magnet sebesar

Hcorc1core = (280 Atlm)(lOO x 10-3 m) := 28 At


Hglg = (3.98 x lOS Atlrn)(2 x 10-3 m) = 796 At
32 Teknik Rangkaian Listrik - Jilid 2

&corc:

I 3llap

(a)
RCdef<lb

r

R/x-

(b)

GAMBAR 11.35 (a) Rangkaian sirkuit yang setara (b) analogi rangkaian listrik untuk relai
Gambar 11.34.

Dengan menggunakan hukum rangkaian Amper,

N'I = H~ortlcore + Hgig


= 28 At + 796 At
(200 t)[ = 824 At
[= 4.12 A
Catat dari penyelesaian di atas bahwa celah udara memerlukan pemakaian NI
yang digunakan bersama yang paling besar (karenajauh) berdasarkan kenyataan
bahwa udara bukan merupakan bahan magnet.

11.13 RANGKAIAN MAGNET SERI-SEJAJAR

Seperti yang diharapkan, analogi yang dekat antara rangkaian listrik dan magnet
akhirnya akan menghantarkan kepada rangkaian magnet seri-sejajar yang mirip
dengan beberapa hal yang dihadapi dalam Bab 7. Kenyataannya, analogi
rangkaian listrik akan membantu dalam menentukan prosedur yang menuju ke
penyelesaian.
Rangkaian Magnetik 33

CONTOH 11.7. Tentukan arus I yang diperlukan untuk menetapkan fluks


sebesar 1.5 x 10-4 Wb pada bagian inti yang ditunjukkan pada Garnbar 11.36.

'bcd. = I./ob = 0.2 m

,~ = 0.05 m
Cross-sectional area = 6 x 10 - 4 m2 throughout

GAMBAR 11.36
Penyelessian: Rangkaian magnet setara dan analogi rangkaian listrik tampak
pada Gambar 11.37. Kita memiliki persamaan
4
B2 = <1>2 = 1.5 X 10- Wb = 0.25 T
A 6 X 10-4 m2
Dari Gambar 11.22
H bcde == 30 At/rn

Dengan menggunakan hukum rangkaian Amper pada ka1ang 2 Gambar 11.36 dan
11.37,
rJl.'ob

!~I ! ~2
9lbcM
r 9lb<f)

(a)
R./_b

It ~ /1
~'2
E
i) Rb< i) Rbcd

(b)

GAM BAR 11.37 Rangkaian magnet setara dan analogi rangkaian listrik untuk sistem
rangkaian seri-parslet pada Gambar 11.36.
34 Teknik Rangkaian Listrik - Jilid 2
~o fj =0
Hbe1be - Hbcd~lbcd~ = 0
Hbe(O.05 rn) - (30 Atlm)(0.2 m) = 0

6 At
Hbe = ::;:120 At/m
0.05 m

Dari Gambar 11.22,

BI == 0.8 T
dan
<1>1 = BIA = (0.8 T)(6 x 10-4 m2 ) ::;: 4.8 x 10-4 Wll

Kemudian hasil-hasilnya dimasukkan ke dalam Tabel 11.6.

Section olJ (Wb) A (m ') 8 (T)" H (At/m) , (m) HI (At)

beth 1.5 x 10- 6 X 10- 0.25 30 0.2 6


be 4.8 x 10- 6 x 10- 0.8 120 0.05 6
efab 6 X 10-4 0.2

TABEL 11.6
Tabel tersebut mengungkap bahwa kini kita harus mengalihkan perhatian
pada bagian efab:

~T ::;: <1>. + <1>2 = 4.8 X 10-


4 Wb + 1.5 X 10-4 Wb
4
= 6.3 X 10- Wb
<l>T 6.3 X 10-4 Wb
B=-=-----
A 6 X 10-4 rn2
= 1.05 T

Dari Garnbar I 1.21,

He/ob == 200 At

Dengan pemakaian hukum rangkaian Amper,


Rangkaian Magnetik 3S

+NJ - H~fal>l~fal>- HMII>~ = 0


NJ = (200 AVrn)(O.2 rn) + (120 AVrn)(0.05 m)
(50 t)J = 40 At + 6 At
46 At
J =--= 0.92 A
50 t

Untuk rnenunjukkan bahwa J.! peka terhadap gaya magnetisasi, maka perme-
abilitas pada masing-rnasing bagian ditentukan sebagai berikut. Untuk bagian
bcde,
B 0.25 T
/.L =- = = 0.0083
H 30 At/rn
dan
" =...!!:_ = 0.0083 = 6603
rrr /.La 12.57 X 10-7

U otuk bagian be,

B 0.8 T
/.L = - = = 0.0067
H 120 At/rn
dan

/.L =...!!:_ = 0.0067 = 5330


r /.Lo l2.57 X 10-7

Untuk bagian efab,


B 1.05 T
/.L =- = ;:::0.00525
H 200 AVm
dan

/.L =...!!:_ = 0.00525 = 4176.6


r /.Lo 12.57 X 10-7

11.14 PENENTUAN <I>

Contoh pada pasaJ ini mernpakan jenis yang kedua, di mana NI telah diberikan
dan fluks cI> yang harus diperoleh. Hal ini merupakan permasalahan langsungjika
hanya melibatkan salah satu bag ian magnet. Selanjutnya,
36 Teknik Rangkaian Listrik - Jilid 2
Nl
H=- H -+ B (kurva B-1!)
/

dan

<l>=BA

Untuk rangkaian magnet yang lebih dari satu bag ian, maka tidak ada urntan :
langkah yang akan menghantarkan kepada penyelesaian yang pasti untuk per- .
masalahan yang dicoba pertama kali. Akan tetapi secara umum kita lakukan
sebagai berikut. Kita harus memperoleh gaya gerak magnet (mmf) yang digu-
nakan sebagai perkiraan yang dihitung pada fluks <l> yang kemudian memban-
dingkannya dengan harga gaya gerak magnet khusus. Kemudian kita dapat
membuat taksiran agar lebih dekat kepada harga yang sebenamya. Untuk keba-
nyakan pemakaian, harga dalam batas 5% harga fluks <l> yang sebenarnya atau
harga NI tertentu dapat diterima.
Kini kita dapat membuat taksiran harga fluks <l> yang memenuhi syarat ber-
alasan jika kita menyadari bahwa penurunan harga gaya gerak magnet yang
paling besar tampak pada bahan yang memiliki permeabilitas yang paling kecil
jika panjang dan luas masing-masing bahan sarna. Sebagaimana diperlihatkan
pada Contoh 11.6, jika ada celah udara pada rangkaian magnet, maka akan ada
penurunan gaya gerak magnet pada celah udara tersebut yang harus diperhatikan.
Oleh karena itu sebagai titik awal untuk permasalahan jenis ini kita akan rneng-
anggap bahwa gaya gerak magnet total (N/) terdapat pada bagian yang memiliki
I..l yang paling rendah atau 97l yang paling besar (jika ukuran fisik yang lain relatif
sarna). Anggapan ini memberikan harga <l> yang akan menghasilkan NI yang
dihitung lebih besar daripada harga tertentu. Kemudian setelah memperhatikan
hasil dari anggapan kita yang semula dengan sangat hati-hati, maka kita akan
memangkas <l> dan NI dengan memperkenalkan pengaruh (reluktansi) bagian Jain
dari rangkaian magnet dan mencoba penyelesaian yang barn. Untuk alasan yang
jelas, pendekatan ini sering disebut metode cut and try.

CONTOH 11.8. Tentukan fluks magnet <l> untuk rangkaian magnet pada Gam-
bar 11.38.
Penyelesaian: Dengan menggunakan hukum rangkaian Amper,

NI == Habcdalabcdo

atau
Rangkaian Magnetik 37

A (throughout) = 2 x 10- m:
/

GAMBAR 11.38

H abcda = -- NI = ~(60 1)(5; A); :_


[abeda 0.3 m
300 At
= ;=: 1000 At/m
0.3 m
dan

Babcda (from Fig. 11.22) == 0.38 T


Karena B = <1>1A maka

cJ> = BA = (0.38 T)(2 x 10-4 m2) = 0.760 X 10-4 Wb

CONTOH 11.9. Tentukan fluks magnet <1> untuk rangkaian magnet seri pada
Gambar 11.39 untuk gaya gerak magnet tertentu yang telah ditentukan.
Penyelesaian: Dengan menganggap bahwa gaya gerak magnet total NI melin-
tas celah udara,

l_...Air gap
to.OOI m

N = 100 turns leOR = 0.16 m

GAMBAR 11.39
38 Teknik Rangkaian Listrik - Jilid 2

atau
NI 400 At
H =- =: = 4 X ]05 At/m
g III 0.001 m
dan

Bg = J.LoHg ;: (41T X 10-7)(4 x lOS At/rn)


= 50.265 x 10-
2
T

Fluks

<t>g = <t>core = BgA


= (50.265 x 10- T)(0.003 2
m1)
<t>core = 150.8 X ]0-5 Wb
Dengan menggunakan harga <I> ini kita dapat memperoleh NI. Data tersebut
dimasukkan dalam Tabell1.7.

Section ell (Wb) B (T) H (Atim) I (~) HI (AI)

11.7 TABEL
Hintilinti = (1500
Atlm)(O.l6 m) = 240 At
Dengan menggunakan hukum rangkaian Amper akan menghasilkan

NI = Hintilinti + Hglg
= 240
At + 400 At
NI = 640 At > 400 At
Karena kita mengabaikan reluktansi semua lintasan magnet akan tetapi hanya
eelah udara saja yang tidak, maka harga yang dihitung Iebih besar dari harga yang
telah ditentukan. Oleh karena itu kita harus mengurangi harga ini dengan mencan-
tumkan pengaruh reluktansi ini. Kira-kira sebesar (640 At - 400 At)/(640 At) =
(240 At)/(640 At) == 37.5 % dari harga yang kita hitung di atas harga yang
diinginkan, marilah kita kurangi <I> dengan 37% dan lihatlah bagaimana dekatnya
terhadap gaya gerak magnet yang digunakan sebesar 400 At:
Rangkaian Magnetik 39

CI> = (l - 0.375)(150.8 X 10-5 Wb)


5
= 94.25 X 10- Wb

Lihat Tabel 11.8

Section III (Wb) B (T) H (Atlm) I (m) HI (At)

lABEL 11.8

B ::::~ ::::94.2~.~~0~: Wb = 31.42 X 10-2 T == 0.31 T


H,i, ::::(7.96 X lOS)Bglg
= (7.96 X 10')(0.31 n(O.OOI m)
== 246.76 At

Dari kurva B-H,

Hinti == 730 At/m


Hintilinti::::(730 Atlm)(0.16 m) = 116.8 At
Dengan menggunakan hukum rangkaian Amper rnenghasilkan

NI = Hint/inti + HgIg
= 116.8 At + 297.45 At
NI:::: 414.25 At> 400 At (karena dalam toleransi
5% maka dapat diterima)

Oleh karena itu penyelesaiannya adalah

<t> == 94.25 X 10-' Wb


40 Teknik Rangkaian Listrik - Jilid 2

SOAL

PASAL 11.3 Rapat Fluks

1. Dengan menggunakan Lampiran F, isilah harga yang kosong dalam tabel .


berikut. Berikan satuan untuk masing-masing besaran.

I x
cJ> B

8 x 10-4 T
SI 5 10-4 Wb
CGS - -
English - -

2
2. Ulangi Soall untuk tabel berikutjika luas= 2 in. ;

B
SI CGS
English 60,000 maxwells

3. Untuk elektromagnet pada Gambar 11.40:


a. Tentukan rapat fluks dalam inti.
b. Sketsalah garis fluks dan tunjukkan arahnya.

'
c. Tandailah kutub utara dan selatan pada magnet tersebut.

V
Area .. 0.01 m
/'\/'\/'\/'\

VVV\
Ntums

GAM BAR 11.40


Rangkaian Magnetik 41

PASAL 11.5 Reluktansi


4. Bagian manakah pada Gambar 11.41 [(a), (b), atau (c)] yang memiliki
reluktansi yang paling besar untuk menetapkan garis fluks yang melalui
ukuran yang paling panjang?

O.oJ m
O.Olmt~
~
1-0.1 m-j
tin.
(a)
(b) (c)

GAMBAR 11.41

PASAL 11.6 Hukum Ohm untuk Rangkaian Magnet


5. Tentukan reluktansi sebuah rangkaian magnet jika fluks magnet <I> = 4.2 x
4
10- Wb ditetapkan dengan gaya gerak magnet yang digunakan sebesar 400
At.
6. Ulangi Soal 5 untuk <I> = 72,000 maxwell dan gaya gerak listrik yang
digunakan sebesar 120 gilbert.

PASAL 11.7 Gaya Magnetisasi


7. Tentukan gaya magnetisasi H untuk Soal 5 da1arn satuan SI jika rangkaian
magnet tersebut panjangnya 6 inci.
8. Jika gaya magnetisasi H sebesar 600 Atlm digunakan pada sebuah
4
rangkaian magnet, maka diperoleh rapat fluks B sebesar 1200x 10- Wb/m.
Tentukan penneabilitas ~ sebuah bahan yang akan menghasilkan dua kali
Iipat rapat fluks yang semula untuk gaya magnetisasi yang sarna.

PASAL 11.8 Histeresis


9. Untuk rangkaian magnet seri pada Gambar 11.42, tentukan arus I yang
diperlukan untuk menetapkan fluks seperti yang ditunjukkan.
42 Teknik Rangkaian Listrik - Jilid 2

<P = 10 X 10-4 Wb
Mean length = 0.2 m

GAM BAR 11.42

10. Tentukan arus yang diperlukan untuk menetapkan fluks <I> = 3 X 10-4 W
dalam rangkaian magnet seri pada Gambar 11.43.

Sheet steel

liron ecre = I" J


CQ<O = 0.3 m
Area (zhroughout) = 5 x 10-4 m2
N = 100 turns

GAM BAR 11.43

11. a. Tentukan jumlah belitan yang diperlukan untuk menetapkan fluks <I>
12 X 10-4 Wb dalam rangkaian magnet pada Gambar 11.44.
b. Tentukan permeabilitas Jl bahan tersebut.

1= I=IA
2A

'--
Area = 0.0012 m2
I", (mean length) = 0.2 m

GAMBAR 11.44
'Rangkaian Magnetik 45

16. Tentukan arus It yang diperlukan untuk menetapkan tluks <l> = 2 x 10-4 Wb
dalam rangkaian magnet pada Gambar I l.49.

N2 = 40 turns

Area (throughout) = 1.3 x 10 -4 m2

GAMBAR 11.49

4
*17. a. Fluks sebesar 0.2 x 10- Wb akan menetapkan gaya tarik yang cukup
bagi angker (armature) rele pada Gambar 11.50 untuk menutup kontak-
kontak. Tentukan arus yang diperlukan untuk menetapkan harga fluks
ini jika kita anggap bahwa gaya gerak magnet total terdapat pada celah
udara.
b. Gaya yang digunakan pada angker ditentukan oleh persamaan
I BjA
F (newton) = - '-
2 JJ.o

Contacts

N = 200 turns
Diameter of core = 0.01 m

-
GAM BAR 11.50 Rele.
46 Teknik Rangkaian Listrik - Jilid 2

di mana Bg adalah rapat fluks dalam celah udara dan A adalah luas
bersama celah udara. Tentukan gaya yang digunakan dalam newton biJ
fluks yang ditentukan pada bagian (a) dipenuhi.
*18. Untuk rangkaian magnet seri-sejajar pada Gambar 11.51, tentukan harga
yang diperlukan untuk menetapkan fluks dalam celah tersebut <I>g = 2 x 10-
Wh.

Sheet steel throughout

Area for sections other than bg = 5 x JO-' m2


14b = Ibg = I.h = IItD = 0.2 m
{be = &. = 0.1 m, I,d = 1'1 = 0.099 m

GAMBAR 11.51

PASAL 11.14 Penentuan <l>


19. Tentukan fluks magnet <I> yang ditetapkan dalam rangkaian magnet seri
pada Gambar 11.52.

GAM BAR 11.52

*20. Tentukan fluks magnet <I> yang ditetapkan dalam rangkaian magnet seri
pada Gambar 11.53
Rangkaian Magnetik 47

led = 8 x 10- m

la. = It><= 1,,= Ir = 0.2 m


Area (throughout) .. 2 x 10-4 m2
I",. = Id.

GAMBAR 11.53

*21. Perhatikan bagaimana dekat kurva B-H baja cetak pada Gambar 11.21
sesuai dengan kurva untuk tegangan yang melintas pada sebuah kapasitor
begitu ia mernuat dari nol volt sampai harga akhir.
a. Dengan rnenggunakan persamaan untuk tegangan pemuatan sebagai
pernandu, tulislah persamaan untuk Tsebagai fungsi H(T= j{H)) untuk
baja cetak.
b. Ujilah persamaan yang dihasilkan untuk H = 900 At/rn, ] 800 At/m, dan
2700 At/m.
c. Dengan menggunakan persamaan pada bagian (a) turunkan persamaan
untuk H dalam suku-suku B (H = j{1)).
d. Ujilah persarnaan yang dihasilkan untuk B = 1 T dan B = 1.4 T.
e. Dengan menggunakan hasil bagian (c), lakukan analisis Contoh 11.3
dan bandingkan hasil tersebut dengan Contoh 11.3 dan bandingkan
hasil tersebut untuk arus I.

SOAL KOMPUTER

PSPICE tidak dirancang untuk melakukan anal isis rangkaian magnet, akan tetapi
BASIC dapat digunakan jika kita menggunakan pemyataan matematis untuk
kurva B-H pada Gambar 11.21 yang dihasilkan dalarn Soa121.

*22. Dengan menggunakan hasil pada Soal 21 tulislah program BASIC untuk
melakukan anal isis pada sebuah inti seperti yang diperIihatkan dalam Con-
toh 1.3. Jadi buatlah ukuran inti dan belitan yang digunakan sebagai varia-
bel masukan yang diminta oleh program.
48 Teknik Rangkaian Listrik - Jilid 2

*22. Dengan menggunakan hasil pada Soal 21 kembangkan sebuah progra


BASIC untuk melakukan analisis yang tampak pada Contoh 11.9 untuk besi .
cetak. Sebuah pengujian rutin akan dikembangkan untuk menentuk
apakah hasil yang diperoleh cukup dekat dengan belitan-amper yang digu-
nakan.

DAFT AR ISTILAH

Ampere's circuital law: Hukum yang menetapkan kenyataan bahwa jumlah


aljabar kenaikan dan penurunan gaya gerak magnet (mmf) yang mengitari
kaJang tertutup pada sebuah rangkaian magnet sarna dengan DOl.
Diamagnetic materials: Bahan yang memiliki penneabilitas sedikit lebih kecil
bila dibandingkan dengan penneabilitas ruang harnpa.
Domain: Sekelompok atom yang disejajarkan oleh magnet.
Electromagnetism: Pengaruh magnet yang ditimbulkan oleh aliran muatan
atau arus.
Ferromagnetic materials: Bahan yang memiliki penneabilitas ratusan dan
ribuan kali lebih besar dari permeabilitas ruang hampa.
Flux density (B): Ukuran fluks per satuan luas yang tegak lurus dengan lintasan
fluks magnet. Ia diukur dalam satuan tesla (T) atau weber per meter persegi
(Wb/m).
Hysteresis: Pengaruh ketinggalan antara rapat fluks sebuah bahan dan gaya .
magnetisasi yang digunakan.
Magnetic flux lines: Garis malar alami yang mengungkap kekuatan dan arah
medan magnet.
Magnetizing force (11): Ukuran gaya gerak magnet per satuan panjang pada .
sebuah rangkaian magnet.
Magnetomotive force (F): "Tekanan" yang diperlukan untuk menetapkan
fluks magnet dalam sebuah bahan ferromagnetik. Ia diukur dalam belitan-am-
per (ampere-tum, At).
Paramagnetic materials: Bahan yang memiliki permeabilitas sedikit lebih
besar daripada permeabilitas ruang hampa.
Permanent magnet: Sebuah bah an seperti baja atau besi yang akan tetap
berupa termagnetisasi untuk jangka waktu yang lama tanpa bantuan alat dari
luar.
Permeability (u): Sebuah ukuran mudahnya fluks magnet dapat ditetapkan
pada sebuah bahan. Ia diukur dalam Wb/Am.
Relative permeability (J.Ir): Perbandingan permeabilitas bahan terhadap permea-
bilitas ruang hampa.
Rangkaian Magnetik 49

Reluctance (R): Sebuah besaran yang ditentukan oleh karakteristik bahan yang
akan memberikan tanda "reluctance" bahan tersebut untuk menetapkan garis
fluksmagnet dalam bahan tersebut. Ia diukur dalam "reI" atau At/Wb.