Anda di halaman 1dari 3

KAJIAN SINEMA: LATAR, PERWATAKAN, DAN ALUR FILM SANG PEMIMPI

KARYA ANDREA HIRATA

Oleh: Alexander Wijaksana XI IA7/2

1. Latar Peristiwa

a. Latar tempat:
1) Jalan raya di Belitong. Penggambaran Belitong sebagai kota yang masih sederhana
dikatakan dengan baik oleh latar ini. Di samping kiri dan kanan jalan yang beraspal hanya
ada tanaman sehingga kesan kehidupan desa ala imersi dapat kita hayati lewat film ini.
2) Pertambangan timah. Pembuat film ini sengaja memasukkan betapa kerasnya hidup buruh
tambang yang digaji tidak seberapa, tetapi harus bekerja banting tulang. Di sinilah hebatnya
pelukisan film yang menggugah moral dan menumbuhkan kesadaran audiens bahwa
Indonesia masih belum adil dan kebanyakan yang kecil masih dieksploitasi.
3) Sungai dan laut: Sungai dan laut menunjukkan hidup orang Melayu yang sedari dulu lekat
dengan air. Misalnya, kisah pelayaran Hang Tuah yang berasal dari Melayu. Hal ini
menunjukkan bahwa air sangat berperan dalam membentuk sifat orang Melayu, yaitu tingkat
bertahan hidup yang tinggi dan pekerja keras ala pelaut.
4) Jembatan: Jembatan yang muncul di saat mengharukan seperti Ikal yang membonceng
ayahnya dan di saat keputusasaan seperti Ikal yang membuang mimpi-mimpinya
merupakan elemen yang menegaskan bahwa air adalah kehidupan orang Melayu.
5) Toko kelontong: Pemilik toko kelontong merupakan orang Cina yang mengindikasikan
bahwa di Belitong masyarakatnya multikultur.
6) Pasar Ikan Manggar: Pasar ikan yang bau menstimulasi imajinasi audiens untuk merasakan
susahnya kehidupan rakyat kecil yang setiap hari harus bekerja menjual ikan.
7) SMA Manggar: SMA sederhana ini merepresentasikan sekolah di pedesaan yang masih
belum maju. Hal ini ditandai dengan tidak adanya karyawan sekolah sehingga toilet sekolah
sangat kotor.

b. Latar waktu
1) Pagi hari: Pagi hari yang melambangkan semangat dapat dilihat dari betapa semangatnya
anak-anak Melayu belajar bersama pak Balia.
2) Siang hari: Siang hari yang melambangkan kerja keras ditampilkan dengan baik lewat
pekerjaan-pekerjaan yang dijalani Ikal, Arai, dan Jimbron, mulai dari tukang angkat barang
hingga bekerja di pelabuhan.
3) Sore hari: Latar yang berkesan reflektif ini dengan hebatnya dimunculkan saat Ikal
membonceng ayahnya. Sore melambangkan perenungan batin sehingga menggugah emosi
audiens.

c. Latar Suasana
1) Mengharukan: Momen ketika Ikal membonceng ayahnya di sepeda dan ketika Arai
menolong Cik Maryamah
2) Menegangkan: Saat pak Mustar mengejar Ikal, Arai, dan Jimbron dan saat ia memergoki
mereka menonton film panas di bioskop.
3) Romantis: Saat Arai bermain gitar dan merayu Zakiah Nurmala di malam hari.
4) Humoris: Saat Tiga Sekawan kita menonton film koboi.
5) Menyenangkan: Saat Ikal dan Arai diterima di perguruan Sorbonne, Prancis

d. Latar Sosial: Masyarakat sederhana di Belitong, kebanyakan bekerja sebagai buruh dan
pelaut karena tidak diperlihatkan adanya sawah di film itu.

2. Perwatakan

a. Ikal: labil, pekerja keras, dan emosional. Kelabilan Ikal ditujukkan saat ia mulai merasa
bahwa mimpinya terlalu tinggi dan putus sekolah selama 1 bulan. Pekerja keras karena selain
belajar ia juga bekerja untuk menabung. Dirinya yang emosional (perasa) ditunjukkan ketika
ia bertobat karena telah mengecewakan ayahnya.
b. Arai: Imajinatif, karena ia yang pertama kali mengajukan gagasan bersekolah di Paris.
Optimis, karena sesulit apapun masalahnya ia tetap yakin bahwa mimpinya akan tercapai.
Pekerja keras, karena ia dan Ikal bekerja banting tulang demi membiayai perjalanan mereka.
Dermawan, karena ia rela memecahkan celengannya dan Ikal untuk membantu Cik
Maryamah. Yang terakhir, cerdas karena masalah dapat diselesaikan olehnya secara
mengejutkan.
c. Jimbron: Gagap, pekerja keras, setia kawan. Jimbron yang mengalami kesulitan bicara
merupakan teman yang solider dan pekerja keras yang dibuktikan lewat adegan ketika ia
memberikan celengannya kepada Ikal dan Arai.
d. Ayah Ikal: Pendiam, tabah, dan pekerja keras. Ia jarang bercakap-cakap dengan Ikal dan
ketika Ikal mengecewakannya pun, ia tidak serta merta memarahi Ikal, melainkan
memaafkannya. Jiwa pejuangnya nampak dari perjuangannya pulang pergi kerja menjadi
buruh tambang dengan sepeda.
e. Pak Mustar: Keras dan cermat. Kerasnya pak Mustar tampak dari ajarannya yang mengajak
siswanya untuk tidak sekadar bermimpi dan kecermatannya nampak dari kelihaiannya
menemukan Ikal dkk. di bioskop film panas.
f. Zakiah Nurmala: Rajin dan punya standar tinggi (jual mahal). Ketika digoda Arai, ia tetap
membaca buku dan menjauhi Arai. Hatinya baru bisa ditaklukkan ketika Arai bermain gitar
dan bernyanyi untuknya.

3. Alur, secara keseluruhan menggunakan alur kombinasi, alur maju dan alur mundur.
a. Eksposisi: Awal film menampakkan kondisi pulau Belitong yang masih hijau serta
menampakkan ayah Ikal bersepeda untuk berangkat kerja di pagi hari. Alur mundur disini
memberi gambaran sedikit bagaimana nasib Ikal di masa depan.
b. Rangsangan masalah: Ikal, Arai, dan Jimbron mengganggu acara upacara sehingga larut
dalam pengejaran seru dengan pak Mustar. Masalah kecil lainnya mulai muncul disini, seperti
menjemput Arai yang yatim piatu dan pergolakan hati Ikal ketika celengannya dipecahkan
Arai untuk disumbangkan.
c. Konflik: Muncul saat Arai, Ikal, dan Jimbron berkomitmen untuk pergi ke Paris dan
keliling dunia. Di saat inilah, mereka mulai belajar dan bekerja keras untuk memenuhi mimpi
mereka.
d. Komplikasi: Ikal, Arai, dan Jimbron tepergok menonton film panas di bioskop oleh pak
Mustar sehingga mereka dihukum membersihkan toilet sekolah yang joroknya minta ampun.
Ikal yang merasa lelah memutuskan untuk berhenti sekolah dan mencari jalan lain untuk
keliling Eropa, salah satunya dengan ikut berlayar.
e. Klimaks: Mulai dari pertobatan Ikal, berlanjut pada keberhasilan Arai menaklukkan
Zakiah, hingga kehidupan keras di perkotaan. Akhir dari klimaks ini ketika Arai
meninggalkan Ikal tanpa kabar setelah wisuda. Hal inilah yang membuat Ikal merasa jengkel,
merasa dibohongi sehingga ia membuang semua mimpinya di jembatan.
f. Antiklimaks: Pertemuan antara Ikal dan Arai di lembaga pemberi beasiswa menjelaskan
alasan kepergian Arai meninggalkan Ikal. Ditambah lagi, mereka berdua berhasil mengajukan
proposal yang memberikan mereka beasiswa ke universitas Sorbonne di Paris. Kabar tersebut
segera disampaikan pada ayah ibu Ikal yang menangis terharu membaca surat dari mereka.
g. Ending: Ikal dan Arai tiba di Paris, mereka akhirnya tahu bahwa jika kita berani bermimpi
maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita.