Anda di halaman 1dari 16

Sakit Kepala Tipe Tension : Review

Abstrak
Latar Belakang: Sakit Kepala Tipe tension ( sakit kepala dengan jenis tegang)
adalah sakit kepala primer yang paling umum di seluruh dunia dan berhubungan
dengan tingkat disabilitas yang luas. Meskipun telah terdapat kemajuan dalam
memahami kompleksitas mekanisme yang menjurus kepada patogenesis Sakit
Kepala tipe tension, hingga saat ini tidak ada penanda yang jelas terhadap apa
yang membuat Sakit Kepala tipe tension tersebut unik. Karena riset yang relatif
minim (dibandingkan dengan migrain), patofisiologi sakit kepala tipe tension ini
tidak dapat dipahami dengan baik dan ada kesenjangan dalam data epidemiologi,
terutama dari Australasia.
Tujuan: Untuk memberikan review narasi terstruktur terhadap prevalensi dan
korelasi dari sakit kepala tipe tension, dengan berfokus pada kohort kelahiran
dewasa muda dari Studi Kesehatan dan Pembangunan Multidisiplin Dunedin
(DMHDS) di Selandia Baru.
Metode: review terhadap literatur dilakukan untuk mengidentifikasi faktor- faktor
epidemiologi, diagnostik, metodologi dan patofisiologi yang berkontribusi
terhadap sakit kepala tipe tension sebagai kejelasan yang lebih spesifik.
Hasil: Temuan menunjukkan bahwa tingkat prevalensi TTH bervariasi dari
berbagai wilayah secara global, Usia, jenis kelamin dan dari jenis metode
penilaian. Cakupan yang cukup luas terhdap berbagai faktor risiko TTH telah
diidentifikasi, dan kemajuan terbaru dalam penelitian genetik dan neurobiologi
telah meningkatkan pemahaman tentang etiologi TTH. Beberapa penelitian
longitudinal memiliki telah dilakukan pada TTH.
Kesimpulan: Penelitian epidemiologi longitudinal yang lebih lanjut diperlukan
untuk membantu membedakan sakit kepala tipe-tension dari migrain, terutama
pada orang muda. Mengidentifikasi penanda yang spesifik dari sakit kepala tipe
tension adalah langkah pertama menuju pengembangan strategi pencegahan dan
pengobatan yang efektif.
Kata Kunci: Sakit kepala/ headache; Epidemiologi; Longitudinal; Penelitian
Dunedin; Tipe- Tension; Migrain
Benturan Kepentingan: Tidak ada konflik kepentingan yang terkait dengan
penelitian ini.
Singkatan: CTTH: Sakit kepala tipe tension kronis; DMHDS: Dunedin Studi
Kesehatan dan Pembangunan Multidisipliner; ETTH: sakit kepa tipe- tension
episodik; ICHD: Klasifikasi Internasional tentang Gangguan Sakit Kepala;
IHS:International Headache Society; NZ: Selandia Baru; TTH: Sakit Kepala tipe
tegang.
Pengantar
Sakit kepala Tipe -Tension (TTH) adalah bentuk sakit kepala yang paling lazim
pada semua kelompok usia di seluruh dunia [1-3]. TTH mengarah tingkat
disabilitas yang cukup besar [4,5] mencapai 60% individu melaporkan penurunan
efektivitas kerja [6], peningkatan absensi [7], dan berkurangnya keterlibatan sosial
[6]. Penelitian yang terbatas tentang TTH, dibandingkan dengan jenis sakit kepala
lainnya [8], yang berarti bahwa beberapa temuan terbaru ini telah diterapkan
dalam pengobatan TTH [9]. Meskipun terdapat kesulitan dalam membedakan
sakit kepala tipe tension dari Migrain dalam hal ketersediann kriteria diagnostik
untuk TTH [10, 11], karena tampilan yang saking tumpang tindih [12]. Bukti
menunjukkan gambaran umum dari kedua jenis sakit kepala tersebut termasuk
rasa berdenyut, nyeri unilateral atau sesisi [13, 14], ketegangan otot [15, 16] dan
perburukan oleh aktivitas fisik [17]. Bukti lebih lanjut menunjukkan bahwa stres,
kelelahan, alkohol dan menstruasi adalah pemicu yang umum pada TTH dan
migrain [18]. TTH adalah jenis sakit kepala yang paling mahal untuk masyarakat,
karena prevalensinya yang cukup besar [19]. Dengan demikian, mengidentifikasi
prekursor dan ciri khas TTH merupakan prioritas penelitian.
Tujuan dari tinjauan ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang
menjadi ciri TTH sebagai kejelasan yang spesifik dan untuk mengatasi
kesenjangan data epidemiologi dari Australasia. Disini kami memberikan ikhtisar
tentang penelitian terbaru tentang TTH dan pokok temuan kami pada penderita
sakit kepala dari Dunedin Multidisiplin Kesehatan dan Studi Pembangunan
(DMHDS). DMHDS adalah perwakilan studi prospektif dan Studi kohort yang
telah mengumpulkan informasi secara lansung tentang gejala sakit kepala secara
longitudinal sejak usia 7 tahun sampai usia 38 tahun [20]. Mengingat kurangnya
penanda yang spesifik terhadap TTH dan transisi umum antara TTH, migrain, dan
subtipe sakit kepala lainnya, penelitian prospektif longitudinal/jangka panjang
diperlukan untuk mengatasi kesenjangan dalam pengetahuan tentang faktor risiko,
spesifisitas, kejadian/insidensi, dan perjalanan TTH pada orang dewasa [5, 21,
22]. Penelitian sedang berlangsung adalah salah satu dari sedikit penelitian
longitudinal yang dapat mengatasi kesenjangan pengetahuan ini.
Klasifikasi Sakit Kepala ( Headache)
Klasifikasi TTH didasarkan pada fenotipenya seperti yang didefinisikan oleh
Klasifikasi Internasional Gangguan Sakit Kepala (ICHD). Pada penelitian yang
masih ada, TTH diklasifikasikan menurut ICHD-II tersebut. ICHD-II
menggambarkan empat kategori untuk TTH: jarang terjadi episodik; Sering
episodik; kronis; dan mungkin/agak. Kriteria tersebut lebih lanjut
mengklasifikasikan TTH berdasarkan ada tidaknya koeksistensi gangguan otot
peri kranial.
Sakit kepala tipe tension biasanya ditandai dengan tekanan bilateral atau
nyeri yang terasa kencang yang terjadi di bagian depan/ frotntal atau oksipital,
intensitasnya ringan sampai sedang, dan tidak diperburuk dengan aktivitas fisik
[23]. Tidak ada mual atau muntah, tapi mungkin terdapat Fotofobia atau
phonofobia. Kemungkinan TTH didefinisikan sebagai sakit kepala yang
memenuhi semua kecuali salah satu kriteria diagnostik diatas. TTH terutama
didiagnosis dengan tidak adanya tampilan yang menjadi ciri sakit kepala primer
lainnya [21] dan dengan mengesampingkan kelainan organik lainnya [24]. Atas
dasar itu Diagnosis TTH dibuat dengan tidak adanya gejala yang terkait
diagnostik migrain, Monteith dan Sprenger (2010) menyarankan Bahwa
sensitivitas dan spesifisitas klasifikasi untuk TTH dapat diiperdebatkan [21].
Inisiatif untuk merangsang penelitian lebih lanjut mengenai mekanisme dan
tatalaksana TTH mendorong pengeluaran versi beta edisi ketiga dari Klasifikasi
Internasional Gangguan Sakit Kepala (ICHD-3 beta) pada tahun 2013 [25]. Versi
ini dulunya telah menunjukkan perbaikan atas ICHD-II, dan International
Headache Society (IHS) berpendapat bahwa hal itu "Tidak akan membantu
dengan terus menggunakan ICHD-II sebelumnya untuk pekerjaan ilmiah "
(hal.633; IHS 2013).
Ambiguitas diagnostik saat ini berkontribusi terhadap sejumlah orang yang
secara signifikan yang salah didiagnosis atau yang meilai diagnosis kemungkinan
TTH ( TTH Probable), atau yang tetap tidak dapat diklasifikasikan [26]. Temuan
menunjukkan bahwa, setelah diperiksa oleh dokter, 35,6% pasien tetap tidak
terklasifikasi [27], sepertiga dari Pasien TTH salah didiagnosis dengan sinusitis,
diikuti oleh lainnya yang salah diagnosa seperti sakit kepala hipertensi atau
cervicogenic, [28] dan sedikitnya 1,3% pasien mendapatkan diagnosis TTH yang
benar[28]. Kurangnya penanda yang spesifik sakit kepala tipe tension menyajikan
tantangan substansial dalam diagnosis banding IHS- mendefinisikan TTH dan
migrain karena gejalayang saling tumpang tindih dan percepatan masing masing
jenis sakit kepala [12,29,30]. Banyak pasien dengan sakit kepala tipe tension
kronis (CTTH) penggunaan obat berlebih [24,31], sehingga sulit untuk
membedakan CTTH dari pengobatan Sakit kepala yang berlebihan [32].
Selanjutnya, TTH dan migrain sudah terbukti sering saling berdampingan [33,34].
Misalnya, temuan dari Studi longitudinal kami menunjukkan bahwa sekitar 4%
orang dewasa mengalami TTH dan migrain [30].
Koeksistensi TTH dan migrain, bersamaan dengan Kesulitan dalam
pengaturan klinis untuk membedakan TTH dari migrain, Telah menyebabkan
beberapa peneliti berpendapat bahwa TTH dan migrain adalah Bukan entitas
klinis yang berbeda namun mewakili akhir yang berlawanan dari keparahan nyeeri
yang berekelanjutan (yaitu, teori kontinum-keparahan) [35,36]. Namun, sebagian
besar orang dengan TTH tidak pernah mencari pendapat medis [23, 31]. Oleh
karena kurang jelasnya perbedaan antara TTH dan migrain dalam pengaturan
klinis mungkin mencerminkan Bias [37]. Bukti berbasis populasi dari perbedaan
yang signifikan dalam karakteristik epidemiologi menunjukkan bahwa migrain
dan Sakit kepala tipe Tension adalah entitas yang berbeda [36, 38]. Kami
menemukan, Misalnya, migrain itu terkait dengan faktor keluarga, kecemasan,
Dan reaktivitas stres, sedangkan TTH dikaitkan dengan Cedera leher atau
punggung pada anak usia dini [30]. Penelitian lain telah menemukan bahwa
Prevalensi migrain lebih tinggi pada wanita dibanding pria sedangkan Sakit
kepala tipe Tension hanya sedikit lebih terpengaruh daripada laki-laki [37,38].
Faktor risiko TTH tampak berbeda dari migrain. Kesehatan diri yang buruk, tidur
yang sedikit dan Ketidakmampuan untuk bersantai setelah bekerja adalah prediksi
untuk TTH sedangkan Beban kerja yang tinggi, disposisi keluarga, rendahnya
taraf pendidikan dan TTH yang sering terjadi adalah faktor risiko migrain [39].
Apakah TTH Dan migrain mewakili entitas/kejelasan yang berbeda atau serupa
terus berlanjut diperdebatkan. Meskipun demikian, penelitian tersebut
mengemukakan bahwa yang membedakan TTH dari jenis-jenis sakit kepala
lainnya semata-mata hanya berdasarkan gejala saja sulit.

Epidemiologi
Menurut literatur epidemiologi tentang TTH, terdapat variasi yang luas dalam
memperkirakan prevalensi TTH. Meskipun ketidaksesuaian mungkin terjadi
karena banyak faktor, selama perbedaan metodologis masih masuk akal dapat
menjelaskan variabilitasnya dalam memperkirakan prevalensinya[24]. Ada bukti
bahwa Perkiraan populasi prevalensi TTH berbeda untuk Penilaian berbasis
kuesioner - versus wawancara [22, 40]. Terdapat ketidakkonsistenan Antara
laporan individu dan penilaian berbasis wawancara atau pengukuran objektif
tentang faktor-faktor yang memicu, memperparah, dan memperbaiki sakit kepala
mereka. Penelitian ini menunjukkan bahwa meski kuesioner Memberikan
informasi yang berguna tentang persepsi individu tentang Sakit kepala mereka,
mereka bersifat bias, dan mungkin tidak adekuat mengidentifikasi hubungan
aktual antara TTH dan faktor lainnya [41]. Selanjutnya, sebagian besar studi
epidemiologi TTH bersifat cross-sectional dan tidak memberikan informasi
tentang apa Terjadi pada tingkat prevalensi dari waktu ke waktu, atau urutan onset
dengan hubungannya dengan gangguan komorbid, atau bagaimana kronisitas
dapat terjadi [5, 22].
Bagi sebagian besar individu, onset pertama TTH adalah sebelum usia 20
tahun [7, 23], dengan prevalensi puncak antara usia 30 dan 39 tahun [31]. Data
dari penelitian kami menunjukkan bahwa 34,5% dari anak anak di Selandia Baru
(NZ) usia 7-13 tahun sering mengalami Sakit kepala. Hanya 9% dari anak-anak
yang berkembang menjadi TTH di masa dewasa. 11,1% anggota studi berusia 26
tahun diklasifikasikan memiliki TTH dan angka ini meningkat menjadi 17,5%
pada usia 32 tahun [42,43]. Dari mereka yang memiliki TTH pada usia 32, 10,3%
memiliki sakit kepala tipe tension episoodik jarang (ETTH), 87,2% sering terjadi
ETTH, dan 2,6% memiliki TTH kronis [43]. Prevalensi seumur hidup TTH di
populasi umum berkisar antara 30% dan 78% 24 dan ada sedikit penurunan
seiring bertambahnya usia [1].
Prevalensi TTH bervariasi menurut umur, jenis kelamin, wilayah geografis
[1,40] serta sesuai dengan tingkat pendidikan dan Status pekerjaan [43].
Prevalensi TTH pada wanita NZ dua kali laki-laki, konsisten dengan rasio
perempuan terhadap laki-laki yang dilaporkan Dalam berbagai penelitian (mulai
dari 1,16: 1 sampai 3: l [1]). Ada juga bukti bahwa prevalensi TTH meningkat
dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi [3]. Individu dengan TTH dalam
penelitian kami lebih banyak telah memperoleh gelar sarjana atau gelar kelulusan
dibandingkan dengan mereka yang tidak sakit kepala [44]. Untuk sakit kepala tipe
tension kronis (CTTH), bagaimanapun, mungkin ada hubungan terbalik Antara
tingkat sakit kepala dan pendidikan [45]. Data dari penelitian memeriksa
hubungan antara TTH dan status pekerjaan juga kurang jelas. TTH telah
dilaporkan terkait dengan pengangguran [46], sedangkan anggota dengan 32 tahun
DMHDS dengan TTH secara signifikan lebih banyak yang berkerja daripada
individu bebas sakit kepala. Peran pendidikan dan pekerjaan dalam
pengembangan episodik dan kronis - Sakit kepala tipe Tension jelas perlu
diselidiki lebih lanjut.
Tingkat prevalensi TTH sangat bervariasi di seluruh wilayah global [40].
Prevalensi TTH satu tahun yang telah diperkirakan mencapai 32% (30% untuk
TTH episodik, 2,4% untuk TTH kronis) [40]. Tingkat TTH Episodik berkisar
antara 10,8% [47] sampai 37,3% [40] dan Tingkat TTH kronis berkisar antara
0,6% sampai 3,3% [40]. Studi silang tingkat beratnya perburukan TTH adalah
13% [22], jauh lebih tinggi daripada itu untuk migrain dengan aura (4,4%) dan
migrain kronis (0,5%) [22]. Tingkat prevalensi rata-rata satu tahun lebih besar di
Negara-negara Eropa (53%) diikuti oleh Amerika Selatan (31,5%), Amerika Utara
(30%), Asia (18,5%), Timur Tengah (10,3%), dan Afrika (7%) [40]. Ada
kesenjangan dalam penelitian epidemiologi pada TTH Dari Australasia [40].
Dalam penelitian kami, prevalensi satu tahun TTH adalah 11,6% pada usia 38
tahun. Sebagian besar penelitian [22], termasuk penelitian kami, Melaporkan
prevalensi TTH yang lebih besar daripada migrain. Disajikan di Tabel 1 dipilih
epidemiologi jenis sakit kepala tipe Tensiom pada orang dewasa (Tabel 1).

TTH sebagai kondisi dinamis


Penelitian menunjukkan bahwa tingkat prevalensi TTH satu tahun berubah selama
masa dewasa dan bahwa TTH adalah kondisi yang dinamis [48, 49]. Misalnya,
tingkat TTH meningkat dari 79% menjadi 87% Selama 12 tahun di antara orang
dewasa muda di Denmark [7]. Tingkat prevalensi Kami juga berfluktuasi pada
peserta dewasa yang semakin menua: dari 11,1% pada usia 26; 16% pada usia 32;
Dan 11,6% pada usia 38 tahun. Di masa dewasa muda, individu sedang dalam
proses Membangun karir, jaringan sosial, dan praktik kesehatan mereka. Ada
kemungkinan bagi beberapa orang dewasa muda, mengatasi kehidupan pada masa
transisi berdampak pada proses fisik dan psikologis yang Meningkatkan
kerentanan mereka terhadap TTH. Ide ini didukung oleh Temuan menunjukkan
bahwa dibandingkan dengan kontrol kesehatan, individu Dengan TTH
menampilkan tingkat stres yang tinggi dan kekurangan Keterampilan pemecahan
masalah [46, 50]. Meskipun variasi yang teramati Antara tingkat prevalensi kita
dan mereka dalam Denmark studi epidemiologi oleh Lyngberg dkk (2005) [7]
mungkin Sampai batas tertentu mencerminkan perbedaan metodologis, penelitian
terbaru Menunjukkan bahwa tingkat prevalensi TTH dipengaruhi oleh budaya
Dan tingkat urbanisasi [40]. Penelitian di masa yang akan datang bisa
mengeksplorasi Gagasan ini.
Lyngberg dkk melaporkan lebih lanjut bahwa, dari individu Didiagnosis
dengan TTH episodik atau kronis, 45% mengalami remisi, 39% memiliki
frekuensi TTH episodik yang tidak berubah, dan 16% TTH kronis yang tidak
berubah atau baru didiagnosis TTH kronis [7]. Demikian pula, Sebuah penelitian
klinis follow-up 10 tahun menunjukkan bahwa 75% individu Awalnya didiagnosis
sakit kepala tipe tension episodik terus mengalami TTH episodik, dan 25% dari
populasi penelitian ini berkembang menjadi TTH kronis. Pada mereka yang
awalnya didiagnosis dengan Sakit kepala tipe Tension kronis, 31% tetap kronis,
21% berkembang pengobatan berlebihan, dan sisanya 48% Telah kembali ke
bentuk episodik [51]. Dalam penelitian kami, 9,2% dari Anggota penelitian
mengalami remisi dari usia 26 sampai 38 tahun, 6% Melaporkan TTH pada dua
dari tiga kelompok umur, dan 2,7% Mengalami onset lambat TTH pada usia 38
tahun.
Pada saat yang sama temuan kami menunjukkan bahwa, bagi banyak
individu, TTH adalah masalah yang persisten/menetap sepanjang masa dewasa
muda. Hingga 40% peserta kohort yang didiagnosis dengan TTH pada usia 26
tahun juga didiagnosis dengan TTH pada usia 32 dan 43,5% dari anggota studi
didiagnosis dengan TTH pada usia 32 tahun juga didiagnosis dengan TTH di
umur 38 [43].

Presipitan dan korelasi TTH


Para peneliti telah mengidentifikasi beberapa percepatan dan korelasi dari TTH
[48]. Yang paling sering dilaporkan mengenai percepatan TTH Adalah stres atau
ketegangan mental [5], diikuti oleh masalah tidur atau Kelelahan [52]. Ada juga
bukti bahwa faktor-faktor seperti Perubahan cuaca [18], menstruasi [53], dan
ketidakmampuan untuk bersantai setelah bekerja [5] semuanya dikaitkan dengan
TTH.
Meskipun banyak penelitian telah menemukan bahwa TTH terkait dengan
stres, Beberapa penelitian telah menyelidiki subkomponen dari stres atau waktu
dimana stres terjadi. Dalam penelitian kami, kami menemukan Bahwa tingkat
stres keseluruhan tidak berbeda antara orang dewasa dengan TTH dan mereka
yang bebas sakit kepala. Penderita TTH melakukannya, Namun, laporan tingkat
stres yang tinggi tentang perubahan tubuh [54]. Ada kemungkinan bahwa stres
bahwa perubahan tubuh selama Masa remaja meningkatkan kerentanan individu
untuk berkembang menjadi TTH. Individu dengan TTH mungkin juga memiliki
Mekanisme adaptasi terhadap stres yang berbeda yang melibatkan aktivasi
kardiovaskular dan sistem kontrol nyeri [55]. Menanggapi terhadap stres kognitif
yang sedang berlangsung, Individu dengan TTH mempertahankan peningkatan
denyut jantung dan darah Tekanan, sedangkan ini menurun untuk mereka yang
migrain dan kontrol. Selain itu, respons nyeri akibat stres secara abnormal cukup
besar sementara pemulihan rasa sakit tertunda bagi individu dengan TTH
dibandingkan dengan kontrol. Temuan ini melengkapi temuan lainnya bahwa
Sensitivitas terhadap nyeri/rasa sakit memediasi hubungan antara stres Dan
intensitas sakit kepala pada individu dengan CTTH [56]. Temuan kami juga
menambahkan bukti bahwa TTH sering komorbid Dengan kecemasan dan depresi
[57] dan dengan laporan dalam belenggu Amarah dan dendam [57-59]. Kami
juga menemukan orang dewasa Dengan TTH kurang antisosial di masa kanak-
kanak dan kurang agresif Selama masa remaja dan dewasa awal dibandingkan
individu tanpa sakit kepala [60]. Ini melengkapi bukti terbaru bahwa Individu
dengan TTH mengalami kesulitan dalam mengekspresikan amarah; Kemarahan
batin/inward/terpendam diperkirakan akan meningkatkan intensitas Sakit kepala
melalui somatisasi [61]. Temuan kami menggunakan Survei Kesehatan SF- 36
[62] juga menunjukkan bahwa orang dewasa dengan TTH dilaporkan Kurang
vitalitasnya, fungsi sosial yang buruk, dan Kesehatan fisik dan emosional yang
buruk dalam peran sehari-hari daripada individu Tanpa sakit kepala [30].
Disajikan pada Tabel 2 merupakan faktor-faktor yang Terkait dengan sakit kepala
tipe-Tension pada orang dewasa.

Sedangkan mekanisme biologis yang memprediksi perkembangan Dari


TTH episodik sampai TTH kronis belum diklarifikasi, Literatur epidemiologi
telah mengidentifikasi depresi dan Kecemasan, dan pengobatan berlebihan,
sebagai faktor utama yang meningkatkan Risiko perkembangan sakit kepala [1].
Dipersepsi bersamaan, penelitian yang dibahas di atas menunjukkan bahwa
klasifikasi TTH yang lebih tepat mungkin memerlukan analisis yang lebih teliti
tentang perburukan dan faktor penentu.

Genetika dan neurobiologi


Faktor genetik secara pasti terlibat dalam patogenesis TTH [63], dengan pengaruh
genetik yang lebih tinggi untuk ETTH yang sering daripada ETTH jarang [64].
Resiko Relatif Populasi pada keluarga individu dengan TTH kronis berisiko
meningkat tiga kali lipat dibandingkan dengan kontrol normal [65].
Mekanisme neurologis yang tepat dari TTH tidak diketahui. Meskipun
TTH sebelumnya dianggap terutama akibat Psikogenik, bukti terbaru
menunjukkan adanya Dasar Neurobiologis [66]. Dengan menyaring penelitian-
penelitian terbaru menunjukkan bahwa Mekanisme nyeri perifer sangat penting
dalam TTH episodik, sedangkan TTH kronis terkait dengan sensitisasi jalur nyeri
di Sistem saraf pusat akibat stimulus pemanjangan nociceptor dari jaringan
myofascial perikranial [25, 67].
Beberapa penelitian menunjukkan hubungan antara Cedera leher atau
Cedera kepala dan sakit kepala [68-70]. Temuan dari penelitian ini menunjukkan
bahwa hubungan antara cedera dan sakit kepala Tidak terlalu terkait dengan
kedekatan cedera temporal. Malahan, individu dengan cedera seumur hidup di
kepala atau leher Meningkatkan risiko sakit kepala, meskipun jika luka-luka
tersebut jauh dari onset sakit kepala. Dalam penelitian kami, hampir seperempat
dari Orang dewasa muda dengan TTH menderita cedera leher atau punggung
sejak masa kecil [30]. Hal ini masuk akal bahwa cedera leher atau punggung dapat
menyebabkan peningkatan kerapuhan pada otot rangka dan otot perikranial yang
meningkatkan kerentanan terhadap TTH. Ide ini didukung oleh Bukti bahwa
gangguan otot pada servikal bagian atas tulang belakang dan regio leher-bahu
berperan dalam patogenesis Sakit kepala tipe Tension [71, 72]. Penelitian
menunjukkan bahwa myogenic nyeri alih yang disebabkan oleh aktivasi titik
pemicu myofascial di Otot kepala, leher, dan bahu bisa memberi kontribusi pada
pola Sakit kepala pada individu dengan TTH [24].
Temuan terbaru dari penelitian epidemiologi yang meneliti hubungan sakit
kepala kronis dan rinosinusitis kronis pada Orang dewasa paruh baya
mengungkapkan bahwa CTTH terkait secara signifikan Dengan rinosinusitis
kronis [73]. Memang, individu dengan penyakit Rinosinusitis kronis memiliki
risiko peningkatan sembilan kali lipat Sakit kepala kronis dibandingkan dengan
populasi umum.
Beberapa peneliti telah mengusulkan bahwa hiperaktivasi saraf simpatik
Adalah mekanisme dimana faktor psikologis seperti stres Memicu perkembangan
TTH. Ada bukti bahwa Nociceptors otot dapat distimulasi oleh neurotransmiter
endogen dan / atau hormon seperti serotonin, norepinephrine, dan Bradikinin [74].
Hal ini meningkatkan kemungkinan bahwa aktivasi Sistem saraf simpatis dan
sumbu hipotalamus-pituitary-adrenal ( HPA Axis) dalam menanggapi stres
mungkin penting dalam patogenesis TTH. Hiperaktivitas simpatik telah dikaitkan
dengan Gangguan nyeri lainnya seperti fibromyalgia [61], dan sejumlah penelitian
menunjukkan perbedaan respons sistem saraf jangka pendek Antara pasien TTH
dan kontrol dalam menanggapi stres [75-77].
Jika terjadi pemanjangan hiperaktivitas sistem saraf simpatik di dalam
merespon terhadap stressor psikologis berpengaruh terhadap Pengolahan nyeri
yang abnormal yang diamati di TTH, ini mungkin disertai dengan Perubahan
jangka panjang fungsi kardiovaskular dan hemodinamik. Temuan dari penelitian
lain menunjukkan bahwa Sensitisasi Pusat terkait nitrat oksida mungkin
merupakan mediator penting dalam mekanisme nyeripada TTH [78, 79].
Ada bukti bahwa TTH kronis dikaitkan dengan perubahan struktur otak.
Penelitian menggunakan magnetic resonance imaging (MRI) voxel berbasis
morfometri menunjukkan bahwa pasien dengan CTTH memiliki kelainan grey
matter yang menurun yang signifikan di area otak yang terlibat dalam transmisi
nociceptive [73]. Berkurangnya Grey Matter ( area abu-abu) dihubungkan dengan
durasi sakit kepala selama ini. Ada Juga bukti kelainan White Matter ( Area Putih)
pada pasien lansia Dengan TTH (34% sampel dibandingkan dengan 7% kontron
bebas sakit kepala) [80, 81]. Selanjutnya, penelitian terbaru menunjukkan bahwa
CTTH dihubungkan dengan gangguan belajar motorik [82]. Pasien CTTH
memiliki defisit pada neuroplastisitas use-dependent (neuplastisitas yang berada
dibawah kendali) di dalam jaringan yang beperan atas pelaksanaan/kinerja tugas.
[82].
Singkatnya, kemajuan penelitian di bidang genetik dan neurobiologis
meningkatkan pemahaman kita tentang kompleksitas mekanisme yang menjurus
pada TTH. Seperti ilustrasi diskusi sebelumnya, terdapat bukti yang kuat untuk
faktor predisposisi genetik untuk ETTH yang sering/ frequent dan TTH kronis.
Apalagi, sensitisasi jalur nyeri di Sistem saraf pusat, dan gangguan pada tulang
belakang cervical atau Otot akibat cedera sebelumnya, berhubungan positif
dengan TTH. Penelitian ini telah mengembangkan pemahaman kami mengenai
hal yang terkait dengan faktor psikologis yang menyebabkan TTH, menunjukkan
hiperaktif simpatis sebagai mekanisme yang mungkin. Selanjutnya, beberapa
penelitian menunjukkan bahwa CTTH dihubungkan dengan Perubahan struktural
dan fungsional di otak. Dengan memanfaatkan Temuan ini, intervensi di masa
depan dapat memberikan Hasil pengobatan yang lebih baik pada pasien dengan
TTH.

Pengobatan
Terdapat beberapa kemajuan pengobatan terbaru dalam pilihan pengobatan Untuk
TTH. Pengobatan sakit kepala tipe Tension bisa Dibagi menjadi terapi
farmakologis dan non-farmakologis [32, 83]. Bagi sebagian besar pasien dengan
TTH, yang utama dalam farmakoterapi adalah analgesik sederhana dan obat anti
inflamasi Non-steroid (NSAIDs) [32]. Dalam kohort kami, lebih dari separuh
Orang dewasa dengan TTH mengambil setidaknya satu bentuk resep obat selama
12 bulan terakhir dibandingkan dengan 35% dari Kontrol. Selain itu, 45%
menggunakan obat analgesik selama 12 bulan terakhir (kebanyakan adalah
analgesik sederhana) dibandingkan dengan 25,6% kontrol. Meskipun analgesik
sederhana dan NSAID terbukti efektif dalam pengobatan TTH akut, efektivitasnya
menurun seiring dengan meningkatnya frekuensi dan kronisitas TTH [83].
Pada individu dengan TTH episodik yang sangat sering dan mereka yang
memiliki Profilaksis TTH kronis, farmakoterapi dalam bentuk antidepresan
banyak digunakan [32]. Antidepresan trisiklik Amitriptyline adalah obat pilihan
pertama yang telah terbukti memiliki efek signifikan dan relevan secara klinis
dalam pencegahan CTTH [84, 85]. Bukti lain menunjukkan bahwa Antidepresan
noradrenergik dan spesifik serotonergik Mirtazapine [86], dan penghambat
serotonin dan noradrenalin reuptake Venlafaxine [87] mungkin memiliki khasiat
yang sebanding dalam Pengobatan CTTH dengan Amitriptyline dan mungkin
dengan toleransi yang lebih baik. Efektivitas farmakoterapi lainnya yang telah
diuji pada TTH hasilnya bervariasi. Misalnya, temuan tentang efektivitas
Relaksan otot tampak tidak jelas [88, 89]. Penelitian menunjukkan bahwa Toksin
botulinum tidak efektif atau berpotensi membahayakan, sehingga tidak
direkomendasikan sebagai pengobatan untuk CTTH [90]. Secara keseluruhan,
penelitian Menunjukkan bahwa pilihan farmakoterapi saat ini jauh dari optimal.
Farmakoterapi mendatang yang tampak menjanjikan di pengobatan CTTH
+
termasuk antidepresan generasi ketiga, inhibitor nitric oksida, Na dan / atau
Ca2+, saluran modulator, dan Antikonvulsan [32].
Pengelolaan non-farmakologis TTH meliputi berbagai terapi fisik dan
psikologis. Terdapat bukti untuk penggunaan terapi seperti biofeedback
elektromiografi Sendiri atau dikombinasikan dengan relaksasi [91] dan fisioterapi
[92], dan meningkatkan bukti bahwa terapi perilaku kognitif mungkin efektif pada
TTH [93]. Namun, pada banyak terapi (misalnya, Akupunktur, terapi pembebasan
emosional) saat ini tidak ada bukti ilmiah yang kuat untuk keefektifannya [9]. Ada
beberapa bukti bahwa kombinasi terap antara non farmakologis dan farmakologis
mungkin efektif dalam pengobatan TTH [17]. Berhubungan dengan patofisiologi
dasar TTH yang rumit, penelitian di masa mendatang berfokus pada interaksi
pengobatan multi-modal telah dijamin [94].

Ringkasan dan Kesimpulan


TTH adalah jenis sakit kepala primer yang paling umum di seluruh dunia dan
dihubungkan dengan disabilitas/kecacatan yang signifikan. Prevalensi TTH
berbeda menurut wilayah geografis, dengan prevalensi TTH di NZ dibandingkan
dengan Asia dan Timur Tengah. Lebih lanjut, Prevalensi TTH pada orang muda di
NZ bersifat dinamis, dengan puncak Prevalensi pada usia 32 tahun. Untuk
sebagian besar penderita, bagaimanapun, TTH adalah masalah yang
persisten/menetap.
Meskipun diagnosis saat ini terutama bersifat klinis dan didasarkan pada
Asosiasi negatif dan dengan pengecualian, mayoritas individu dengan TTH tidak
mencari bantuan medis. Dengan demikian, identifikasi faktor yang menjadi ciri
TTH sebagai entitas tertentu telah terbukti sulit. Temuan dari penelitian kami
menunjukkan bahwa TTH dan migrain Dikaitkan dengan perkembangan
karakteristik yang berbeda. Orang dewasa NZ yang menderita cedera leher atau
punggung, dan mereka yang berpendidikan dan bekerja lebih cenderung memiliki
TTH. Stres tentang Perubahan tubuh pada masa remaja juga merupakan
perburukan yang signifikan pada TTH. Studi neurologis menunjukkan bahwa
TTH berhubungan dengan Hiperaktivitas simpatis dan perubahan struktural di
otak.
Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui dengan tepat apa
yang Khusus tentang sakit kepala tipe Tension. Penelitian menggunakan update
versi beta dari ICHD dapat memberi penerangan baru pada gambaran klinis Yang
lebih baik dalam mengkarakteristikkan TTH. Apalagi, sistem klasifikasi
berkembang dari penelitian yang diteliti lebih lanjut secara epidemiologi,
Neurobiologi, dan genetika pada TTH diperlukan.
Tinjauan ini juga menyoroti kebutuhan untuk penelitian longitudinal lebih
lanjut. Studi prospektif yang menjelaskan beberapa korelasi TTH sepanjang umur
dapat memberikan petunjuk mengenai Mekanisme etiologi dan faktor yang
menjadi karakteristik TTH sebagai penjelasan yang lebih spesifik.

Pengakuan
Studi Kesehatan dan Pengembangan Multidisiplin Dunedin Didukung oleh Health
Research Council di Selandia Baru. Data yang dikumpulkan sebagian didukung
oleh National Heart Foundation grant dari Selandia Baru dan US-NIMH grant
MH45070. Penulis Berhutang budi kepada Dr. Phil A Silva, direktur pendiri
penelitian ini, Air Selandia Baru, dan anggota Studi untuk partisipasinya dan
dukungannya.