Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

DENGAN PENYAKIT DIABETES MELITUS DI BANJAR PASEKAN,


DESA KETEWEL, KECAMATAN SUKAWATI, KABUPATEN GIANYAR
DARI 26 SEPTEMBER S/D 15 OKTOBER 2016

Oleh:

I GUSTI AYU CINTYA ADIANTI


NIM. PO7120214012
D-IV KEPERAWATAN
TINGKAT III SEMESTER V

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2016
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUAHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN DIABETES
MELITUS

I. KONSEP KELUARGA
A. PENGERTIAN KELUARGA
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas
kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal
disuatu tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling
ketergantungan..
Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung
karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan
mereka hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain,
dan di dalam perannya masing-masing menciptakan serta
mempertahankan kebudayaan. (Salvicion G bailon dan Aracelis
Maglaya 1989).
Dari kedua definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
keluarga adalah :
1. Unit terkecil masyarakat
2. Terdiri dari dua orang atau lebih
3. Adanya ikatan perkawinan dan pertalian darah
4. Hidup dalam satu rumah tangga
5. Di bawah asuhan seorang kepala rumah tangga
6. Berinteraksi diantara sesame anggota keluarga
7. Setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing.
8. Menciptakan, mempertahankan suatu kebudayaan.

B. TYPE KELUARGA
1. Keluarga inti (Nuclear Family), adalah keluarga yang terdiri dari
ayah, ibu dan anak-anak.
2. Keluarga besar (Extended Family), adalah keluarga inti ditambah
dengan sanak saudara, misalnya nenek, kakek, keponakan, saudara
sepupu, paman, bibi dan sebagainya.
3. Keluarga berantai (Serial Family), adalah keluarga yang terdiri dari
wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan
satu keluarga inti.
4. Keluarga duda/janda (Single Family), adalah keluarga yang terjadi
karena perceraian atau kematian.
5. Keluarga berkomposisi (Composite), adalah keluarga yang
perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama.
6. Keluarga kabitas (Cahabitation), adalah dua orang menjadi satu
tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga.

C. STRUKTUR KELUARGA
Struktur keluarga terdiri dari bermacam-macam, diantaranya adalah :
1. Patrilineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah
dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui
jalur garis ayah.
2. Matrilineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah
dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui
jalur garis ibu.
3. Matrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
istri
4. Patrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
suami
5. Keluarga kawinan
Adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan
keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian
keluarga karena adanya hubungan suami atau istri

D. PERAN KELUARGA
Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku
interpersonal, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam
posisi dan situasi tertentu. Peranan individu dalam keluarga didasari
oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok dan
masyarakat.
Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai
berikut :
1. Peranan ayah
Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak, berperanan sebagai
pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai
kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta
sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.
2. Peranan ibu
Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan
untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik
anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari
peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari
lngkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai
pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.
3. Peranan anak
Anak-anak melaksanakan peranan psiko-sosial sesuai tingkat
perkembangannya baik fisik, mental, social dan spiritual

E. FUNGSI KELUARGA
Ada beberapa fungsi yang dapat dijalankan keluarga sebagai berikut :
1. Fungsi Biologis
a) Untuk meneruskan keturunan
b) Memelihara dan membesarkan anak
c) Memenuhi kebutuhan gizi keluarga
d) Memelihara dan merawat anggota keluarga
2. Fungsi Psikologis
a) Memberikan kasih saying dan rasa aman
b) Memberikan perhatian diantara anggota keluarga
c) Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga
d) Memberikan identitas keluarga
3. Fungsi sosialisasi
a) Membina sosialisasi pada anak
b) Membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat
perkembangan anak
c) Meneruskan nilai-nilai budaya keluarga
4. Fungsi ekonomi
a) Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi
kebutuhan keluarga
b) Pengaturan penggunaan pengahasilan keluarga untuk memnuhi
kebutuhan keluarga
c) Menabung untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga
dimasa yang akan datang misalnya pendidikan anak-anak,
jaminan hari tua dan sebagainya.
5. Fungsi pendidikan
a) Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan,
ketrampilan dan membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat
dan minat yang dimilkinya.
b) Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan dating
dalam memenuhi peranannya sebagai orang dewasa
c) Mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangannya.

F. CIRI-CIRI KELUARGA
1. Diikat dalam suatu tali perkawinan
2. Ada hubungan darah
3. Ada ikatan batin
4. Ada tanggung jawab masing-masing anggotanya
5. Ada pengambil keputusan
6. Kerjasama diantara anggota keluarga
7. Komunikasi interaksi antar anggota keluarga
8. Tinggal dalam suatu rumah.

G. TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA


Tahap-tahap kehidupan keluarga menurut Duvall adalah sebagai
berikut :
1. Tahap pembentukan keluarga
Tahap ini dimulai dari pernikahan, yang dilanjutkan dalam
membentuk rumah tangga
2. Tahap menjelang kelahiran anak
Tugas keluarga yang utama untuk mendapatkan keturunan sebagai
generasi penerus, melahirkan anak merupakan kebanggaan bagi
keluarga yang merupakan saat-saat yang sangat dinantikan.
3. Tahap menghadapi bayi
Dalam hal ini keluarga mengasuh, mendidik dan memberikan kasih
sayang kepada anak, karena pada tahap ini bayi kehidupannya
sangat tergantung kepada kedua orangtuanya. Dan kondisinya
masih sangat lemah.
4. Tahap menghadapi anak prasekolah
Pada tahap ini anak sudah mulai mengenal kehidupan sosialnya,
sudah mulai bergaul dengan teman sebaya, tetapi sangat rawan
dalam masalah kesehatan, karena tidak mengetahui mana yang
kotor dan mana yang bersih. Dalam fase ini anak sangat sensitive
terhadap pengaruh lingkungan dan tugas keluarga adalah mulai
menanamkan norma-norma kehidupan, norma-norma agama,
norma-norma social budaya dan sebagainya.
5. Tahap menghadapi anak sekolah
Dalam tahap ini tugas keluarga adalah bagaimana mendidik anak,
mengajari anak untuk mempersiapkan masa depannya,
membiasakan anak belajar secara teratur, mengontrol tugas-tugas
sekolah anak, dan meningkatkan pengetahuan umum anak.
6. Tahap menghadapi anak remaja
Tahap ini adalah tahap yan paling rawan, karena dalam tahap ini
anak akan mencari identitas diri dalam membentuk
kepribadiannya, oleh karena itu suri tauladan dari kedua orangtua
sangat diperlukan. Komunikasi dan saling pengerti antara kedua
orangtua dengan anak perlu dipelihara dan dikembangkan.
7. Tahap melepaskan anak ke masyarakat
Setelah melalui tahap remaja dan anak telah dapat menyelesaikan
pendidikannya, maka tahap selanjutnya adalah melepaskan anak ke
masyarakat dalam memulai kehidupannya yang sesungguhnya,
dalam tahap ini anak akan memulai kehidupan berumah tangga
8. Tahap berdua kembali
Setelah anak besar dan menempuh kehidupan keluarga sendiri-
sendiri, tinggallah suami istri berdua saja. Dalam tahap ini keluarga
akan merasa sepi dan bila tidak dapat menerima kenyataan akan
dapat menimbulkan depresi dan stress.
9. Tahap masa tua
Tahap ini masuk ke tahap lanjut usia, dan kedua orangtua
mempersiapkan diri untuk meninggalkan dunia yang fana ini.

H. TUGAS TUGAS KELUARGA


1. Tahap I : Keluarga Pemula
a) Definisi
Perkawinan dari sepasang insan menandai bermulanya
sebuah keluarga baru keluarga yang menikah atau prokreasi
dan perpindahan dari keluarga asal atau status lajang ke
hubungan baru yang intim. Tahap perkawinan atau pasangan
menikah saat ini berlangsung lebih lambat.

b) Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga


Menciptakan sebuah perkawinan yang saling memuaskan,
menghubungkan jaringan persaudaraan secara harmonis, dan
keluarga berencana merupakan tiga tugas perkembangan yang
penting dalam masa ini.
Membangun Perkawinan yang Saling Memuaskan
Ketika dua orang diikat dalam ikatan perkawinan,
perhatian awal mereka adalah menyiapkan suatu kehidupan
bersama yang baru. Sumber-sumber dari dua orang
digabungkan, peran-peran mereka berubah, dan fungsi-
fungsi barupun diterima. Belajar hidup bersama sambil
memenuhi kebutuhan kepribadian yang mendasar
merupakan sebuah tugas perkembangan yang penting.
Pasangan harus saling menyesuaikan diri terhadap banyak
hal kecil yang bersifat rutinitas. Misalnya mereka harus
mengembangkan rutinitas untuk makan, tidur, bangun pagi,
membersihkan rumah, menggunakan kamar mandi
bergantian, mencari rekreasi dan pergi ke tempat-tempat
yang menyenangkan bagi mereka berdua. Dalam proses
saling menyesuaikan diri ini, terbentuk satu kumpulan
transaksi berpola dan lalu dipelihara oleh pasangan
tersebut, dengan setiap pasangan memicu dan memantau
tingkah laku pasangannya.

Tahap Pertama Siklus Kehidupan Keluarga Inti dengan Dua Orang Tua,
dan Tugas-Tugas Perkembangan yang Bersamaan.
Tahap Siklus Kehidupan
Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga
Keluarga

Keluarga Pemula 1. Membangun perkawinan yang saling


memuaskan.
2. Menghubungkan jaringan
persaudaraan secara harmonis.
3. Keluarga berencana (keputusan
tentang kedudukan sebagai orangtua)

2. Tahap II : Keluarga Sedang Mengasuh Anak


a) Definisi
Tahap kedua dimulai dengan kelahiran anak pertama
sehingga bayi berusia 30 bulan. Biasanya orangtua tergetar
hatinya dengan kelahiran pertama anak mereka, tapi agak takut
juga. Kekuatiran terhadap bayi biasanya berkurang setelah
beberapa hari, karena ibu dan bayi tersebut mulai saling
mengenal. Akan tetapi kegembiraan yang tidak dibuat-buat ini
berakhir ketika seorang ibu baru tiba di rumah dengan bayinya
setelah tinggai di rumah sakit untuk beberapa waktu. Ibu dan
ayah tiba-tiba berselisih dengan semua peran-peran
mengasyikkan yang telah dipercayakan kepada mereka. Peran
tersebut pada mulanya sulit karena perasaan ketidakadekuatan
menjadi orangtua baru ; kurangnya bantuan dari keluarga dan
teman-teman, dan para profesional perawatan kesehatan yang
bersifat membantu dan sering terbangun tengah malam oleh
bayi yang berlangsung 3 hingga 4 minggu. Ibu juga letih secara
psikologis dan fisiologis. Ia sering merasakan beban tugas
sebagai ibu rumah tangga dan barangkali juga bekerja, selain
merawat bayi. Khususnya terasa sulit jika ibu menderita sakit
atau mengalami persalinan dan pelahiran yang lama dan sulit
atau seksio besar.
Kedatangan bayi dalam rumah tangga menciptakan
perubahan-perubahan bagi setiap anggota keluarga dan setiap
kumpulan hubungan. Orang asing telah masuk ke dalam
kelompok ikatan keluarga yang erat, dan tiba-tiba
keseimbangan keluarga berubah setiap anggota keluarga
memangku peran yang baru dan memulai hubungan yang baru.
Selain seorang bayi yang baru saja dilahirkan, seorang ibu,
seorang ayah, kakek nenekpun lahir. Istri sekarang harus
berhubungan dengan suami sebagai pasangan hidup dan juga
sebagai ayah dan sebaliknya. Dan dalam keluarga yang
memiliki anak sebelumnya, pengaruh kehadiran seorang bayi
sangat berarti bagi saudaranya sama seperti pada pasangan
yang menikah. Mengatakan pada seorang anak untuk
menyesuaikan diri dengan seorang adik laki-laki atau
perempuan yang baru mungkin sama dengan suami
mengatakan pada istrinya bahwa ia membawa ke rumah
seorang nyonya yang ia cintai dan ia terima sama derajatnya.
Ini merupakan suatu perkembangan kritis bagi semua yang
terlibat.
Tugas-Tugas Perkembangan KeluargaKeluarga sedang
mengasuh anak

1. Membentuk keluarga muda sebagai sebuah unit yang


mantap (mengintegrasikan bayi baru ke dalam keluarga).
2. Rekonsiliasi tugas-tugas perkembangan yang bertentangan
dan kebutuhan anggota keluarga.
3. Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan.
4. Memperluas persahabatan dengan keluarga besar dengan
menambahkan peran-peran orangtua dan kakek dan nenek.
3. Tahap III : Tahap Keluarga dengan anak usia Pra Sekolah
a) Definisi
Tahap ketiga siklus kehidupan keluarga dimulai ketika anak
pertama berusia 2 tahun dan berakhir ketika anak berusia 5
tahun. Sekarang, keluarga mungkin terdiri dari tiga hingga lima
orang, dengan posisi suami-ayah, istri-ibu, anak laki-laki-
saudara, anak perempuan-saudari. Keluarga lebih menjadi
majemuk dan berbeda.
Kehidupan keluarga selama tahap ini penting dan menuntut
bagi orangtua. Kedua orangtua banyak menggunakan waktu
mereka, karena kemungkinan besar ibu bekerja, baik bekerja
paruh waktu atau bekerja penuh. Namun, menyadari bahwa
orangtua adalah arsitek keluarga, merancang dan
mengarahkan perkembangan keluarga, adalah penting bagi
mereka untuk memperkokoh kemitraan mereka secara singkat,
agar perkawinan mereka tetap hidup dan lestari.
Anak-anak usia prasekolah harus banyak belajar pada tahap
ini, khususnya dalam hal kemadirian. Mereka harus mencapai
otonomi yang cukup dan mampu memenuhi kebutuhan sendiri
agar dapat menangani diri mereka sendiri tanpa campur tangan
orangtua mereka dimana saja. Pengalaman di kelompok
bermain, taman kanak-kanak, Project Head Start, pusat
perawatan sehari, atau program-program sama lainnya
merupakan cara yang baik untuk membantu perkembangan
semacam ini. Program-program prasekolah yang terstruktur
sangat bermanfaat dalam membantu orangtua dengan anak usia
prasekolah yang berasal dari dalam kota dan berpendapatan
rendah. Peningkatan yang tajam dalam IQ dan keterampilan
sosial telah dilaporkan terjadi setelah anak menyelesaikan
sekolah taman kanak-kanak selama 2 tahun.
Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga Keluarga dengan
anak usia Prasekolah.

1. Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti rumah,


ruang bermain, privasi, keamanan.
2. Mensosialisasikan anak.
3. Mengintegrasi anak yang baru sementara tetap memenuhi
kebutuhan anak-anak yang lain.
4. Mempertahankan hubungan yang sehat dalam keluarga
(hubungan perkawinan dan hubungan orangtua dan anak)
dan di luar keluarga (keluarga besar dan komunitas).
4. Tahap IV : Keluarga dengan Anak Usia Sekolah
a) Definisi
Tahap ini dimulai ketika anak pertama telah berusia 6 tahun
dan mulai masuk sekolah dasar dan berakhir pada usia 13
tahun, awal dari masa remaja. Keluarga biasanya mencapai
jumlah anggota maksimum, dan hubungan keluarga di akhir
tahap ini. Lagi-lagi tahun-tahun pada masa ini merupakan
tahun-tahun yang sibuk. Kini, anak-anak mempunyai keinginan
dan kegiatan-kegiatan masing-masing, disamping kegiatan-
kegiatan wajib dari sekolah dan dalam hidup, serta kegiatan-
kegiatan orangtua sendiri. Setiap orang menjalani tugas-tugas
perkembangannya sendiri-sendiri, sama seperti keluarga
berupaya memenuhi tugas-tugas perkembangannya sendiri.
Menurut Erikson (1950), orangtua berjuang dengan tuntutan
ganda yaitu berupaya mencari kepuasan dalam mengasuh
generasi berikutnya (tugas perkembangan generasivitas) dan
memperhatikan perkembangan mereka sendiri ; sementara
anak-anak usia sekolah bekerja untuk mengembangkan sense of
industry kapasitas untuk menikmati pekerjaan dan mencoba
mengurangi atau menangkis perasaan rendah diri.
Tugas-Tugas Perkembangan KeluargaKeluarga dengan
anak usia sekolah

1. Mensosialisasikan anak-anak, termasuk meningkatkan


prestasi sekolah dan mengembangkan hubungan dengan
teman sebaya yang sehat.
2. Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan.
3. Memenuhi kebutuhan kesehatan fisik anggota keluarga
5. Tahap V : Keluarga dengan Anak Remaja
Ketika anak pertama melewati umur 13 tahun, tahap kelima
dari siklus kehidupan keluarga dimulai. Tahap ini berlangsung
selama 6 hingga 7 tahun, meskipun tahap ini dapat lebih singkat
jika anak meninggalkan keluarga lebih awal atau lebih lama jika
anak masih tinggal di rumah hingga 19 atau 20 tahun. Anak-anak
lain dalam rumah biasanya masih dalam usia sekolah. Tujuan
keluarga yang terlalu enteng pada tahap ini yang melonggarkan
ikatan keluarga memungkinkan tanggungjawab dan kebebasan
yang lebih besar bagi remaja dalam persiapan menjadi dewasa
muda
Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga : Keluarga dengan anak
remaja
1. Menyeimbangkan kebebasan dan tanggungjawab ketika remaja
menjadi dewasa dan semakin mandiri.
2. Memfokuskan kembali hubungan perkawinan.
3. Berkomunikasi secara terbuka antara orangtua dan anak-anak.
6. Tahap VI : Keluarga yang Melepaskan Anak Usia Dewasa
Muda
Permulaan dari fase kehidupan keluarga ini ditandai oleh
anak pertama meninggalkan rumah orangtua dengan rumah
kosong, ketika anak-anak terakhir meninggalkan rumah. Tahap ini
dapat singkat atau agak panjang, tergantung pada berapa banyak
anak yang ada dalam rumah atau berapa banyak anak yang melum
menikah yang masih tinggal di rumah setelah tamat dari SMA dan
perguruan tinggi. Meskipun tahap ini biasanya 6 atau 7 tahun,
dalam tahun-tahun belakangan ini, tahap ini berlangsung lebih
lama dalam keluarga dengan dua orangtua, mengingat anak-anak
yang lebih tua baru meninggalkan orangtua setelah selesai sekolah
dan mulai bekerja. Motifnya adalah seringkali ekonomi-tingginya
biaya hidup bila hidup sendiri. Akan tetapi, trend yang meluas
dikalangan dewasa muda, yang umumnya menunda perkawinan,
hidup terpisah dan mandiri dalam tatanan hidup mereka sendiri.
Dari sebuah survey besar yang dilakukan terhadap orang Kanada
ditemukan bahwa anak-anak yang berkembangan dalam keluarga
dengan orangtua tiri dan keluarga dengan orangtua tunggal
meninggalkan rumah lebih dini dari pada mereka yang dibesarkan
dalam keluarga dengan dua orangtua. Perbedaan ini tidak
dipandang karena dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi,
melainkan karena perbedaan orangtua dan lingkungan keluarga
Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga
Keluarga melepas anak dewasa muda
1. Memperluas siklus keluarga dengan memasukkan anggota
keluarga baru yang didapatkan melalui perkawinan anak-anak.
2. Melanjutkan untuk memperbaharui dan menyesuaikan kembali
hubungan perkawinan.
3. Membantu orangtua lanjut usia dan sakit-sakitan dari suami
maupun istri.
7. Tahap VII : Orangtua Usia Pertengahan
Tahap ketujuh dari siklus kehidupan keluarga, tahap usia
pertengahan bagi orangtua, dimulai ketika anak terakhir
meninggalkan rumah dan berakhir pada saat pensiun atau kematian
salah satu pasangan. Tahap ini biasanya dimulai ketika orangtua
memasuki usia 45-55 tahun dan berakhir pada saat seorang
pasangan pensiun, biasanya 16-18 tahun kemudian. Biasanya
pasangan suami istri dalam usia pertengahannya merupakan sebuah
keluarga inti meskipun masih berinteraksi dengan orangtua mereka
yang lanjut usia dan anggota keluarga lain dari keluarga asal
mereka dan juga anggota keluarga dari hasil perkawinan
keturunannya. Pasangan postparental (pasangan yang anak-
anaknya telah meninggalkan rumah) biasanya tidak terisolasi lagi
saat ini ; semakin banyak pasangan usia pertengahan hidup hingga
menghabiskan sebagian masa hidupnya dalam fase postparental,
dengan hubungan ikatan keluarga hingga empat generasi, yang
merupakan hal yang biasa.
Tahun pertengahan meliputi perubahan-perubahan pada
penyesuaian perkawinan (seringkali lebih baik), pada distribusi
kekuasaan antara suami dan isteri (lebih merata), dan pada peran
(diferensiasi peran perkawinan meningkat)
Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga Orangtua usia
pertengahan
1. Menyediakan lingkungan yang meningkatkan kesehatan.
2. Mempertahankan hubungan-hubungan yang memuaskan dan
penuh arti dengan para orangtua lansia dan anak-anak.
3. Memperkokoh hubungan perkawinan.

8. Tahap VIII : Keluarga dalam Masa Pensiun dan Lansia


Tahap terakhir siklus kehidupan keluarga dimulai dengan
salah satu atau kedua pasangan memasuki masa pensiun, terus
berlangsung hingga salah satu pasangan meninggal, dan berakhir
dengan pasangan lain meninggal. Persepsi tahap siklus kehidupan
ini sangat berbeda dikalangan keluarga lanjut usia. Beberapa orang
merasa menyedihkan, sementara yang lain merasa hal ini
merupakan tahun-tahun terbaik dalam hidup mereka. Banyak dari
mereka tergantung pada sumber-sumber finansial yang adekuat,
kemampuan memelihara rumah yang memuaskan, dan status
kesehatan individu. Mereka yang tidak lagi mandiri karena sakit,
umumnya memiliki moral yang rendah dan keadaan fisik yang
buruk sering merupakan anteseden penyakit mental dikalangan
lansia.
Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga Keluarga Lansia
a. Mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan.
b. Menyesuaikan terhadap pendapatan yang menurun.
c. Mempertahankan hubungan perkawinan.
d. Menyesuaikan diri terhadap kehilangan pasangan.
e. Mempertahankan ikatan keluarga antar generasi.
f. Meneruskan untuk memahami eksistensi mereka (penelaahan
dan integrasi hidup).
I. TUGAS TUGAS KELUARGA DALAM BIDANG KESEHATAN
Untuk dapat mencapai tujuan asuhan keperawatan kesehatan
keluarga, keluarga mempunyai tugas dalam pemeliharaan kesehatan
para anggotanya dan saling memelihara. Freeman (1981) membagi5
tugas kesehatan yang harus dilakukan oleh keluarga, yaitu :
1. Mengenal gangguan perkembangan kesehatan setiap anggotanya
2. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat
3. Memberikan keperawatan kepada anggota keluarganya yang sakit
dan yang tidak dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau
usianya yang terlalu muda.
4. Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan
kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarga
5. Mempertahankan hubungan timbale balik antara keluarga dan
lembaga-lembaga kesehatan, yang menunjukkan pemanfaatan
dengan baik fasilitas-fasilitas kesehatan yang ada.