Anda di halaman 1dari 49

latar Belakang AMDAL

Analisis mengenai dampak lingkungan lahir dengan ditetapkannya NEPA (National Environmental Policy
Act), pada tahun 1969, yaitu undang-undang tentang lingkungan hidup di Amerika Serika. NEPA
merupakan suatu reaksi terhadap kerusakan lingkungan oleh aktivitas manusia yang semakin meningkat,
seperti tercemarnya lingkungan oleh pestisida, limbah industri dan transportasi, rusaknya habitat
tumbuhan dan hewan langka, serta menurunnya estetika alam. Salah satu contoh kerusakan lingkungan
:
1. Di Los Angeles, USA (1950), kesehatan masyarakatnya telah terganggu oleh smog (smoke and fog),
yang menyelubungi kota. Asap dan kabut berasal dari limbah kendaraan dan pabrik yang mengalami
fotooksidasi. Dengan adanya inversi termal di udara pada waktu-waktu tertentu, asap kabut
terperangkap di udara di atas kota
2. Di sekitar teluk Minamata, baratdaya pulau Kyushu, Jepang (1953), terjadi wabah neurologis yang
tidak menular diantara penduduk nelayan dan keluarganya. Penderita mengalami lemah otot, hilangnya
penglihatan, terganggunya fungsi otak dan kelumpuhan yang banyak berakhir dengan kematian. Pada
tahun 1959 diketahui bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh konsumsi ikan yang tercemar
metilmerkuri, yang berasal dari limbah yang mengandung Hg dari beberapa pabrik kimia yang
memproduksi plastik (PVC). Penyakit tersebut dikenal sebagai penyakit minamata.
3. Di sekitar Nigata, di utara Tokyo (1964-1965), terjadi ledakan kedua penyakit minamata. Di sini pun
ikan merupakan konsumsi harian para korban. Ikan yang berasal dari laut dan dari sungai Agano yang
mengandung limbah pabrik alat listrik.
4. Ledakan ketiga terjadi pada tahun 1973 di Goshonoura, pulau Amasuka yang berhadapan dengan
Minamata
Walaupun air raksa di dalam air laut semula rendah, organisme tertentu dapat menimbun air raksa yang
diserapnya dari lingkungan ke dalam tubuhnya. Peristiwa itu disebut sebagai bioakumulasi. Rantai
makanan berlanjut dengan dimakannya ikan oleh burung, kucing, dan manusia. Karena itu gejala
penyakit minamata tidak hanya terdapat pada manusia, melainkan juga pada burung dan kucing.
Peningkatan kadar suatu zat melalui rantai makanan disebut sebagai pelipatan biologik.
Inilah Bencana Lingkungan Terburuk Dalam Sejarah

Diterbitkan 5/26/2015

TAGS

RAGAM

Bencana lingkungan dapat terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari tumpahan minyak, kebocoran
bahan kimia, atau paparan radiasi yang menyebabkan kerusakan ekosistem. Bencana lingkungan juga
menimbulkan penyakit bahkan kematian pada populasi manusia di dunia.

Kita telah sering mendengar atau membaca tentang tumpahan minyak Exxon Valdes atau bencana nuklir
Chernobyl sebagai bencana lingkungan terburuk. Namun berbagai kecelakaan industri dan kegagalan
dalam menjaga lingkungan lainnya telah banyak menjadi penyebab kerusakan selama bertahun-tahun.

Semua bencana lingkungan tersebut kebanyakan terjadi akibat kelalaian manusia. Dan ironisnya,
bencana ini terjadi hanya dalam kurun waktu 80 tahun terakhir. Berikut adalah bencana-bencana
lingkungan terburuk yang pernah terjadi dalam sejarah.

Tragedi Chernobyl

Pada 26 April 1986 pukul 01.23 dini hari, terjadi kecelakaan nuklir paling mengerikan di dunia.
Kebocoran pada PLTN Chernobyl di utara Ukraina menyebabkan pelepasan radioaktif berbahaya ke
udara. Sekitar 6,6 juta penduduk yang tinggal di sekitar reaktor nuklir terpapar materi radioaktif ,
mengakibatkan berbagai kelainan mulai dari bayi yang lahir cacat hingga kanker ganas. Pemerintah Uni
Soviet terkesan menutup-nutupi tragedi itu. Chernobyl yang dulunya berpopulasi 50.000 jiwa, kini
berubah menjadi kota mati.

Pencemaran Minyak Exxon Valdez

Kapal supertanker Exxon Valdes yang mengangkut 12 juta galon minyak mentah karam pada 23 Maret
1989 di perairan Alaska. Dampak pada manusia tidak kentara, namun pada hewan dan biota laut sangat
parah. Lebih dari 250.000 ekor burung dan biota laut yang tak terhitung jumlahnya mati.
Lebih dari 11.000 relawan dikerahkan untuk membersihkan perairan Alaska dari tumpahan minyak
dengan menghabiskan dana sekitar 2,1 milyar dolar yang semua ditanggung Exxon. Perusahaan ini juga
diwajibkan membayar ganti rugi sebesar 125 juta dolas AS.

Tumpahan Lumpur Fly Ash Batubara Kingston Fossil Plant

Fly ash (abu terbang) adalah salah satu residu yang dihasilkan dalam pembakaran dan terdiri dari
partikel-partikel halus. Abu yang tidak naik disebut bottom ash. Dalam dunia industri, fly ash biasanya
mengacu pada abu yang dihasilkan selama pembakaran batubara.

Pada tanggal 22 Desember 2008 di Kingston Fossil Plant, Tennessee, tanggul yang menahan limbah
padat fly ash seluas 34 ha jebol. Lebih dari 3,8 juta meter kubik bubur abu batubara tumpah
menggenangi 300 hektar lahan sekitar dan merusak rumah-rumah hingga mengalir ke sungai
disekitarnya.

Tragedi Gas Bhopal

Pada Malam tanggal 3 Desember 1984, gas beracun bocor dari pabrik pestisida Union Carbide di Bhopal.
India. Tragedi ini menewaskan antara 25.000 hingga 35.000 orang dan sekitar 120.000 hingga 150.000
orang menderita penyakit kronis.

Kecelakaan tersebut dianggap sebagai kecelakaan industri terburuk di dunia, namun pihak yang
berwenang masih memperdebatkan penyebab pasti kebocoran.

Kecelakaan Three Mile Island


Bencana Three Mile Island adalah krisis nuklir parsial yang terjadi pada 28 Maret 1979 di Dauphin
Country, Pennsylvania. Kecelakaan itu mengakibatkan pelepasan sejumlah gas dan iodium radioaktif ke
lingkungan, dan mendorong dievakuasinya ratusan ribu orang dari daerah sekitar kecelakaan.

Ini merupakan kecelakaan terburuk dalam sejarah pembangkit listrik tenaga nuklir komersial di AS.
Akibatnya, sejak insiden itu sentimen publik terhadap bahaya pemanfaatan tenaga nuklir menjadi kian
negatif. Biaya pembersihan radioaktif diperkirakan mencapai 1 milyar dolar.

Lumpur Panas Sidoarjo

Banjir lumpur panas Sidoarjo terjadi pada Mei 2006 sebagai akibat dari 'meletusnya' gunung lumpur
yang dipicu oleh ledakan gas alam dari sumur minyak yang dibor oleh PT Lapindo Brantas di Jawa Timur,
Indonesia.

Semburan awal menghancurkan rumah dan properti serta menewaskan 13 orang akibat jebolnya
dinding tanggul penahan lumpur dan menyapu perumahan penduduk sekitarnya. Semburan lumpur
terus keluar hingga hari ini, dan diperkirakan akan terus berlanjut hingga 30 tahun kedepan.

Tumpahan Minyak Amoco Cadiz

Pada tanggal 16 Maret 1978, kapal tanker minyak Liberia, Amoco Cadiz kandas di dekat pelabuhan kecil
Portsall, pantai Breton, Perancis. Kapal tersebut mengangkut 227.000 metrik ton minyak mentah dengan
rute perjalanan Teluk Persia menuju Rotterdam. Dalam kurun waktu dua minggu, seluruh isi kargo
tumpah ke laut dan mencemari lebih dari 220 mil dari garis pantai Brest ke Saint-Brieuc. Ini merupakan
kecelakaan Kapal tanker minyak terburuk sepanjang sejarah.
Kontaminasi Kimia di Love Canal

Love Canal adalah sebuah lingkungan yang berdekatan dengan Air terjun Niagara, New York, yang
sebelumnya telah digunakan sebagai tempat mengubur 22.000 ton limbah beracun oleh perusahaan
Hooker Chemical Company. Perusahaan tersebut menjual lahan tersebut kepada Dewan Sekolah
Niagara Falls pada tahun 1953 dengan harga hanya 1 dolar AS saja.

Masa pembangunan konstruksi dan hujan lebat di sekitar area selama bertahun-tahun kemudian
ternyata menyebabkan kebocoran limbah beracun. Akibatnya terjadi banyak kasus cacat bawaan pada
bayi, keguguran dan berbagai penyakit yang melemahkan warga. Pada tahun 1976, keberadaan tempat
pembuangan limbah beracun tersebut diungkap ke publik oleh wartawan surat kabar, dan akhirnya
seluruh penduduk dievakuasi pada tahun 1978.

Sampai saat ini, kebanyakan area Love Canal masih tak berpenghuni. Perusahaan Hooker Chemical
dinilai lalai dalam mengelola limbah mereka. Kasus ini diakui sebagai salah satu skandal perencanaan
kota terburuk dalam sejarah AS.

The Great Smog

Bencana The Great Smog yang terjadi pada 1952 adalah peristiwa polusi udara terparah yang melanda
London selama bulan Desember 1952. Dimana fenomena polusi kabut dan asap ini terjadi akibat
penggunaan batubara yang berlebihan pada pabrik-pabrik industri di sekitar kota London.

Meskipun efeknya tidak terjadi dalam sekejap, dalam minggu-minggu berikutnya ditemukan bahwa
ribuan orang meninggal dan ratusan ribu lainnya sakit karena kabut asap. Disebutkan sebanyak 12.000
orang tewas akibat kabut asap. Peristiwa ini dikenal sebagai polusi udara terburuk dalam sejarah Inggris
dan melahirkan Undang-undang polusi udara, Clean Air Act pada tahun 1956.
Penyakit Minamata

Penyakit Minamata adalah sindrom neurologis yang disebabkan oleh keracunan merkuri parah. Pertama
kali ditemukan di Kota Minamata di prefektur Kumamoto, Jepang, pada tahun 1956, dan disebabkan
oleh pelepasan metil merkuri dalam air limbah industri dari pabrik kimia Chisso Corporation, yang terjadi
dari 1932 hingga 1968.

Akumulasi biologis merkuri dalam kerang sebagai salah satu rantai makanan mengakibatkan keracunan
merkuri pada manusia yang memakannya. Kucing, anjing, babi dan kematian pada manusia terus terjadi
selama kurun waktu 36 tahun sementara pemerintah dan perusahaan melakukan sangat sedikit
tindakan pencegahan polusi ini. Pada akhirnya, ribuan korban diakui terjangkit penyakit akibat paparan
merkuri dan kompensasi telah dibayarkan kepada keluarga yang terkena dampak.

Bencana Seveso

Bencana kebocoran bahan kimia dioksin di Seveso terjadi pada 10 Juli 1976, di sebuah pabrik
manufaktur kimia kecil dekat Milan, Italia. Ribuan kelinci dan unggas mati di peternakan terdekat dan
ribuan orang menderita penyakit akibat kebocoran bahan kimia ini.

Agen Oranye

Antara tahun 1961 hingga 1971, militer AS yang frustasi menyemprotkan hampir 20 juta galon Agen
Oranye dan herbisida lainnya di Vietnam dalam upaya untuk mematikan vegetasi hutan tempat
persembunyian Viet Cong selama perang Vietnam. Kebanyakan herbisida tersebut mengandung gas
saraf beracun yang disebut dioksin.
Studi telah mengungkapkan bahwa masalah kesehatan dan lingkungan akibat agen oranye telah
berdampak pada sekitar 3 juta penduduk Vietnam, termasuk 150.000 anak-anak. Akibatnya, banyak
anak Vietnam terlahir dalam keadaan cacat parah dan mengalami keterbelakangan mental sejak perang
berakhir pada 1975

Bencana Kabut Asap Paling Mematikan Sepanjang Sejarah

Diterbitkan 10/06/2015

TAGS

RAGAM

Tipsiana.com - Kabut asap yang menyelimuti sebagian wilayah Indonesia dan negara-negara tetangga
masih pekat melanda. Bahkan menurut seorang ilmuwan Goddart Institute for Space Studies NASA, Dr.
Robert Field, kabut asap akibat pembakaran lahan dan hutan di Indonesia sudah mencapai krisis polusi
udara terburuk sepanjang sejarah. Ia menilai berdasarkan luasan wilayah terkena dampak kabut asap
yang menyelimuti wilayah asia tenggara.

Kabut asap yang terjadi saat ini telah mendekati bencana yang sama yang terjadi pada 1997. Ketika itu,
asap kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera juga menyebar hingga negara Malaysia, Singapura,
Brunei hingga Thailand. Sementara pada bencana kabut asap 2015 ini, asap telah mencapai sebagian
Filipina.

Negara-negara tetangga mengkritik keras penanganan asap oleh pemerintah Indonesia yang dinilai
lamban. Bahkan wakil perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Dr Ahmad Zahid Hamid menilai Indonesia
tidak serius dalam menangani masalah kabut asap. Pernyataan ini merujuk target pemerintahan Jokowi
yang menyatakan permasalahan kabut asap perlu waktu hingga tiga tahun untuk diselesaikan. Menurut
hitungan ekonomi, kabut asap tahun ini telah membuat kerugian hingga 20 triliun rupiah.

Dari segi kesehatan tentu saja kondisi ini sangat berbahaya. Dibeberapa wilayah, kabut asap telah
melewati ambang batas bahaya hingga 3 kali lipat. ISPA dan berbagai penyakit pernafasan lainnya mulai
menyerang penduduk. Karbon monoksida yang terkandung dalam asap beresiko meracuni darah dan
berujung pada kematian. Bahkan untuk jangka panjang, resiko terserang kanker akibat paparan asap
menjadi ancaman nyata.
Sepanjang sejarah, telah beberapa kali bencana kabut asap melanda dan menyebabkan kematian. Yang
pasti penyebab timbulnya asap adalah karena ulah tangan-tangan serakah manusia. Berikut beberapa
bencana kabut asap yang paling banyak memakan korban jiwa dalam sejarah.

5. Kabut Asap Donora, Amerika Serikat, 1948

Mulai tanggal 27 hingga 31 Oktober 1948, kabut asap tebal akibat gas buangan pembakaran pabrik dan
tambang mulai menyelimuti kota Donora, Pennsylvania. Setelah 24 jam kabut asap memenuhi kota,
banyak penduduk Donora yang mengalami batuk-batuk dan kesulitan bernafas akibat kabut asap yang
semakin menebal. Hari-hari berikutnya, jumlah penduduk yang mengalami gangguan pernafasan makin
banyak hingga seluruh rumah sakit di kota tersebut penuh oleh pasien yang menderita pusing, mual,
muntah, sesak nafas, bahkan ada yang sekarat dan mati. Jumlah korban semakin meningkat dari hari ke
hari.

Aktifitas penduduk kota lumpuh total, disebabkan kabut asap tebal yang menghalangi pandangan.
Penduduk yang berusaha mengungsi keluar kota kesulitan mengendarai kendaraan akibat keterbatasan
jarak pandang. Penduduk seolah-olah terjebak di kota yang telah terkepung oleh kabut asap tebal.

Walau hanya berlangsung selama 5 hari, peristiwa ini menyebabkan 20 orang meninggal (laporan lain
menyebutkan korban tewas mencapai 50 orang), 6000 orang lainnya menderita mual, muntah, dan
sesak nafas, 800 ekor hewan ternak dan peliharaan mati, dan hampir seluruh tanaman yang ada di
wilayah tersebut layu dan mati. Penduduk yang meninggal rata-rata berusia 52-85 tahun. Kematian
disebabkan karena udara terpolusi oleh belerang oksida, asam sulfat, nitrogen oksida, flour dan gas
lainnya yang bersifat toksik.

Gas-gas tersebut ketika terhirup oleh manusia atau hewan melalui respirasi, akan mengganggu
pengikatan oksigen oleh hemoglobin, sehingga menyebabkan sesak nafas. Selain itu, korban meninggal
kebanyakan memiliki sejarah masalah kesehatan. Sehingga pada kondisi buruk seperti yang terjadi saat
itu, mereka tidak dapat bertahan.

4. Kabut Asap Lembah Meuse, Belgia, 1930


Sungai Meuse mengalir dari Perancis dan melalui Belgia serta Belanda sebelum memasuki Laut Utara.
Daerah sekitar lembah Meuse merupakan area padat penduduk serta memiliki banyak pabrik industri
berat. Kabut asap berasal dari sisa pembakaran pabrik yang menyebabkan ribuan korban sakit dalam
periode 2-3 hari sejak kejadian. Tercatat 60 orang tewas akibat kabut asap beracun tersebut, 56 orang
yang tewas berasal dari daerah sebelah timur Engis.

Gejala utama korban asap adalah sesak nafas yang diderita penduduk berusia antara 20 - 89 tahun.
Ternak para penduduk juga banyak yang mati. Gas fluorin yang dikeluarkan oleh cerobang asap pabrik-
pabrik di dekat pemukiman penduduk adalah penyebab utama kematian. Pada 2 Desember 2000,
sebuah patung dan plakat didirikan di Engis sebagai tugu peringatan peristiwa tersebut.

3. The Deadly Smog (Kabut Asap Mematikan), London, 1991

Saat itu hari Jum'at, 13 Desember 1991, kabut asap kotor yang membekukan menyelimuti kota London
yang sedang dilanda resesi. Jon Bower, seorang ilmuwan pemerintah, tak percaya pada hasil kualitas
udara yang dikeluarkan alat pemantau udaranya. Tiba-tiba udara kota London menjadi sangat buruk
yang membuat skala pembacaan kualitas udara pada alatnya melompat sangat tinggi.

Departemen Kesehatan Inggris tidak menyangka kualitas udara kota London bisa sangat buruk dan
menyebabkan gangguan kesehatan yang serius. Kabut asap beracun tersebut bertahan hingga 16
Desember 1991. Dalam empat hari, dilaporkan 160 orang tewas akibat mengalami kesulitan bernafas
akut.

Kebanyakan korban meninggal adalah penderita asma, gangguan paru-paru dan gangguan jantung.
Kandungan Nitrogen dioksida akibat gas buang kendaraan kota London ditengarai menjadi penyebab
utama peristiwa ini. Nitrogen dioksida dengan cepat terlarut kedalam butiran uap air di udara dan
membentuk kabut asam. Ketika terhirup, asam akan mengiritasi lapisan lembab jaringan pernapasan,
yang menyebabkan peradangan dan produksi lendir kental berlebih. Pada akhirnya, penderita
mengalami kesulitan bernapas.

2. Kabut Asap Batubara, London, 1880


Pada masa Revolusi Industri, warga London belum mengetahui bahaya polusi yang disebabkan
pembakaran batubara. Pabrik dan rumah telah membakar batubara selama bertahun-tahun untuk
kebutuhan pemanas ruangan dan listrik.

Pada 29 Januari 1880, kabut bergerak lamban menutupi kota London. Kabut asap di London saat itu
berwarna coklat, kuning kemerahan dan agak kehijauan. Lebih pekat dari kabut biasa dan berbau
belerang. Kabut tersebut terdiri dari campuran belerang dioksida dan gas sisa pembakaran batubara.

Kabut asap tersebut menyelimuti kota London selama tiga hari, namun korban jiwa yang ditimbulkannya
sangat tinggi; 2.200 orang tewas akibat gangguan pernafasan. Meskipun akibat yang ditimbulnya sangat
fatal, tidak ada tindakan pencegahan drastis yang dilakukan pemerintah. Akibatnya, kejadian ini terus
berulang pada Februari 1882, Desember 1891 dan November 1948 yang menewaskan ribuan orang.

1. The Great Smog (Kabut Asap Besar), London, 1952

Pada musim dingin 5 Desember 1952, peristiwa kabut asap mematikan melanda kota London. Cuaca
dingin yang dibarengi fenomena antisiklon dan cuaca berangin memicu terbentuknya kabut beracun.
Polusi udara berasal dari penggunaan batubara dari pabrik-pabrik disekitar kota London yang
membentuk lapisan kabut asap di langit kota dan berlangsung selama lima hari.

Meskipun menyebabkan gangguan besar pada jarak pandang , dan bahkan juga merambah ke area di
dalam ruangan, peristiwa ini tidak dianggap sebagai peristiwa penting pada saat itu, karena London
telah melalui berbagai peristiwa yang berhubungan dengan polusi udara pada masa lalu.

Efeknya memang tidak terjadi dalam sekejap, tetapi dalam minggu-minggu berikutnya ditemukan bahwa
ternyata ribuan orang meninggal dan ratusan ribu lainnya sakit karena kabut asap mematikan tersebut.
Sebanyak 12.000 orang tewas akibat kabut asap. Peristiwa ini dikenal sebagai polusi udara terburuk
dalam sejarah Inggris dan melahirkan Undang-undang polusi udara, Clean Air Act pada tahun 1956.

Nah, setelah menengok kebelakang beberapa peristiwa mematikan akibat polusi kabut asap, semoga
kita dapat lebih sadar akan potensi bahaya yang ditimbulkan kabut asap. Dan semoga pemerintah dapat
lebih tegas dan aktif dalam memberantas pelaku pembakaran hutan

Limbah minyak adalah buangan yang berasal dari hasil eksplorasi produksi minyak, pemeliharaan
fasilitas produksi, fasilitas penyimpanan, pemrosesan, dan tangki penyimpanan minyak pada kapal
laut.[1] Limbah minyak bersifat mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun,
menyebabkan infeksi, dan bersifat korosif.[1] Limbah minyak merupakan bahan berbahaya dan beracun
(B3), karena sifatnya, konsentrasi maupun jumlahnya dapat mencemarkan dan membahayakan
lingkungan hidup, serta kelangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lainnya.[2]

Daftar isi [sembunyikan]

1 Minyak bumi

1.1 Pengeboran di laut

1.2 Tumpahan minyak

1.2.1 Efek

1.2.2 Penanganan di laut

1.2.2.1 Pemantauan

1.2.2.2 Penanggulangan

1.2.2.3 Peralatan

1.3 Pengeboran di darat

1.3.1 Penanganan di darat

2 Referensi

3 Lihat Pula

4 Pranala luar

Minyak bumi[sunting | sunting sumber]


Pengeboran minyak bumi di laut menyebabkan terjadinya pencemaran laut.

Pengeboran di laut[sunting | sunting sumber]

Pada umumnya, pengeboran minyak bumi di laut menyebabkan terjadinya peledakan (blow aut) di
sumur minyak.[3] Ledakan ini mengakibatkan semburan minyak ke lokasi sekitar laut, sehingga
menimbulkan pencemaran.[3] Contohnya, ledakan anjungan minyak yang terjadi di teluk meksiko
sekitar 80 kilometer dari Pantai Louisiana pada 22 April 2010.[3] Pencemaran laut yang diakibatkan oleh
pengeboran minyak di lepas pantai itu dikelola perusahaan minyak British Petroleum (BP).[3] Ledakan
itu memompa minyak mentah 8.000 barel atau 336.000 galon minyak ke perairan di sekitarnya.[3]

Tumpahan minyak[sunting | sunting sumber]

Tumpahan minyak di laut berasal dari kecelakaan kapal tanker.[4] Contohnya tumpahan minyak terbesar
yang terjadi pada tahun 2006 di lepas pantai Libanon.[4] Selain itu, terjadi kecelakaan Prestige pada
tahun 2002 di lepas pantai Spanyol.[4] Bencana alam seperti badai atau banjir juga dapat menyebabkan
tumpahan minyak.[4] Sebagai contoh pada tahun 2007, banjir di Kansas menyebabkan lebih dari 40.000
galon minyak mentah dari kilang tumpah ke perairan itu.[4]

Efek[sunting | sunting sumber]

Surf scoter yang terendam dalam laut yang tercemar limbah minyak bumi.

Akibat yang ditimbulkan dari terjadinya pencemaran minyak bumi di laut adalah:[5]

Rusaknya estetika pantai akibat bau dari material minyak. Residu berwarna gelap yang terdampar di
pantai akan menutupi batuan, pasir, tumbuhan dan hewan. Gumpalan tar yang terbentuk dalam proses
pelapukan minyak akan hanyut dan terdampar di pantai.

Kerusakan biologis, bisa merupakan efek letal dan efek subletal. Efek letal yaitu reaksi yang terjadi saat
zat-zat fisika dan kimia mengganggu proses sel ataupun subsel pada makhluk hidup hingga kemungkinan
terjadinya kematian. Efek subletal yaitu mepengaruhi kerusakan fisiologis dan perilaku namun tidak
mengakibatkan kematian secara langsung. Terumbu karang akan mengalami efek letal dan subletal di
mana pemulihannya memakan waktu lama dikarenakan kompleksitas dari komunitasnya.

Pertumbuhan fitoplankton laut akan terhambat akibat keberadaan senyawa beracun dalam komponen
minyak bumi, juga senyawa beracun yang terbentuk dari proses biodegradasi. Jika jumlah pitoplankton
menurun, maka populasi ikan, udang, dan kerang juga akan menurun. Padahal hewan-hewan tersebut
dibutuhkan manusia karena memiliki nilai ekonomi dan kandungan protein yang tinggi.
Penurunan populasi alga dan protozoa akibat kontak dengan racun slick (lapisan minyak di permukaan
air). Selain itu, terjadi kematian burung-burung laut. Hal ini dikarenakan slick membuat permukaan laut
lebih tenang dan menarik burung untuk hinggap di atasnya ataupun menyelam mencari makanan. Saat
kontak dengan minyak, terjadi peresapan minyak ke dalam bulu dan merusak sistem kekedapan air dan
isolasi, sehingga burung akan kedinginan yang pada akhirnya mati.

Penanganan di laut[sunting | sunting sumber]

Pemantauan[sunting | sunting sumber]

Tindakan pertama yang dilakukan dalam mengatasi tumpahan minyak yaitu dengan melakukan
pemantauan banyaknya minyak yang mencemari laut dan kondisi tumpahan.[6] Ada 2 jenis pemantauan
yang dilakukan yaitu dengan pengamatan secara visual dan penginderaan jauh (remote sensing).[6]

Pengamatan secara visual

Pengamatan secara visual merupakan pengamatan yang menggunakan pesawat. Teknik ini melibatkan
banyak pengamat, sehingga laporan yang diberikan sangat bervariasi. Pada umumnya, pemantauan
dengan teknik ini kurang dapat dipercaya. Sebagai contoh, pada tumpahan jenis minyak yang ringan
akan mengalami penyebaran (spreading), sehingga menjadi lapisan sangat tipis di laut. Pada kondisi
pencahayaan ideal akan terlihat warna terang. Namun, penampakan lapisan ini sangat bervariasi
tergantung jumlah cahaya matahari, sudut pengamatan dan permukaan laut, sehingga laporannya tidak
dapat dipercaya.

Pengamatan penginderaan jauh

Metode penginderaan jarak jauh dilakukan dengan berbagai macam teknik, seperti Side-looking
Airborne Radar (SLAR). SLAR dapat dioperasikan setiap waktu dan cuaca, sehingga menjangkau wilayah
yang lebih luas dengan hasil penginderaan lebih detail. Namun,teknik ini hanya bisa mendeteksi lapisan
minyak yang tebal. Teknik ini tidak bisa mendeteksi minyak yang berada di bawah air dalam kondisi laut
yang tenang. Selain SLAR digunakan juga teknik Micowave Radiometer, Infrared-ultraviolet Line Scanner,
dan Landsat Satellite System. Berbagai teknik ini digunakan untuk menghasilkan informasi yang cepat
dan akurat.

Penanggulangan[sunting | sunting sumber]

Booms digunakan untuk menghambat perluasan limbah minyak di laut.


Beberapa teknik penanggulangan tumpahan minyak diantaranya in-situ burning, penyisihan secara
mekanis, bioremediasi, penggunaan sorbent, penggunaan bahan kimia dispersan, dan washing oil.[6]

In-situ burning adalah pembakaran minyak pada permukaan laut, sehingga mengatasi kesulitan
pemompaan minyak dari permukaan laut, penyimpanan dan pewadahan minyak serta air laut yang
terasosiasi. Teknik ini membutuhkan booms (pembatas untuk mencegah penyebaran minyak) atau
barrier yang tahan api. Namun, pada peristiwa tumpahan minyak dalam jumlah besar sulit untuk
mengumpulkan minyak yang dibakar. Selain itu, penyebaran api sering tidak terkontrol.

Penyisihan minyak secara mekanis melalui 2 tahap, yaitu melokalisir tumpahan dengan menggunakan
booms dan melakukan pemindahan minyak ke dalam wadah dengan menggunakan peralatan mekanis
yang disebut skimmer.

Bioremediasi yaitu proses pendaurulangan seluruh material organik. Bakteri pengurai spesifik dapat
diisolasi dengan menebarkannya pada daerah yang terkontaminasi. Selain itu, teknik bioremediasi dapat
menambahkan nutrisi dan oksigen, sehingga mempercepat penurunan polutan.

Penggunaan sorbent dilakukan dengan menyisihkan minyak melalui mekanisme adsorpsi (penempelan
minyak pad permukaan sorbent) dan absorpsi (penyerapan minyak ke dalam sorbent). Sorbent ini
berfungsi mengubah fase minyak dari cair menjadi padat, sehingga mudah dikumpulkan dan disisihkan.
Sorbent harus memiliki karakteristik hidrofobik, oleofobik, mudah disebarkan di permukaan minyak,
dapat diambil kembali dan digunakan ulang. Ada 3 jenis sorbent yaitu organik alami (kapas, jerami,
rumput kering, serbuk gergaji), anorganik alami (lempung, vermiculite, pasir) dan sintetis (busa
poliuretan, polietilen, polipropilen dan serat nilon).

Dispersan kimiawi merupakan teknik memecah lapisan minyak menjadi tetesan kecil (droplet), sehingga
mengurangi kemungkinan terperangkapnya hewan ke dalam tumpahan minyak. Dispersan kimiawi
adalah bahan kimia dengan zat aktif yang disebut surfaktan.

Washing oil yaitu kegiatan membersihkan minyak dari pantai.

Peralatan[sunting | sunting sumber]

Pembersihan limbah minyak di kawasan pantai.

Alat-alat yang digunakan untuk membersihkan tumpahan minyak:[6]

Booms merupakan alat untuk menghambat perluasan hambatan minyak.

Skimmers yaitu kapal yang mengangkat minyak dari permukaan air.


Sorbent merupakan spons besar yang digunakan untuk menyerap minyak.

Vacuums yang khusus untuk mengangkat minyak berlumpur dari pantai atau permukaan laut.

Sekop yang khusus digunakan untuk memindahkan pasir dan kerikil dari minyak di pantai.

Pengeboran di darat[sunting | sunting sumber]

Pencemaran tanah oleh kegiatan pengabaran minyak bumi di darat telah menimbulkan pencemaran
lngkungan. Tanah yang terkontaminasi minyak bumi dapat merusak lingkungan serta menurunkan
estetika.

Penanganan di darat[sunting | sunting sumber]

Pemulihan lahan tercemar oleh minyak bumi dapat dilakukan secara biologi dengan menggunakan
kapasitas kemampuan mikroorganisme. Fungsi dari mikroorganisme ini dapat mendegradasi struktur
hidrokarbon yang ada dalam tanah, sehingga minyak bumi menjadi mineral-mineral yang lebih
sederhana dan tidak membahayakan lingkungan. Teknik seperti ini disebut bioremediasi. Teknik
bioremediasi dapat dilaksanakan secara in-situ maupun cara ex-situ.

Pada umumnya, teknik bioremediasi in-situ diaplikasikan pada lokasi tercemar ringan, lokasi yang tidak
dapat dipindahkan, atau karakteristik kontaminan yang volatil.

Bioremediasi ex-situ merupakan teknik bioremediasi di mana lahan atau air yang terkontaminasi
diangkat, kemudian diolah dan diproses pada lahan khusus yang disiapkan untuk proses bioremediasi.

Penanganan lahan yang tercemar minyak bumi dilakukan dengan cara memanfatkan mikroorganisme
untuk menurunkan konsentrasi atau daya racun bahan pencemar. Penanganan semacam ini lebih aman
terhadap lingkungan karena agen pendegradasi yang dipergunakan adalah mikroorganisme yang dapat
terurai secara alami. Ruang lingkup pelaksanaan proses bioremediasi tanah yang terkontaminasi minyak
bumi meliputi beberapa tahap yaitu:

Treatibility study merupakan studi pendahuluan terhadap kemampuan jenis mikroorganisme


pendegradasi dalam menguraikan minyak bumi yang terdapat di lokasi tanah terkontaminasi.

Site characteristic merupakan studi untuk mengetahui kondisi lingkungan awal di lokasi tanah yang
terkontaminasi minyak bumi. Kondisi ini meliputi kualitas fisik, kimia, dan biologi.

Persiapan proses bioremediasi yang meliputi persiapan alat, bahan, administrasi serta tenaga manusia.
Proses bioremediasi yang meliputi serangkaian proses penggalian tanah tercemar, pencampuran dengan
tanah segar, penambahan bulking agent, penambahan inert material, penambahan bakteri, nutrisi, dan
proses pencampuran semua bahan.

Sampling dan monitoring meliputi pengambilan gambar tanah dan air selama proses bioremediasi.
Kemudian, gambar itu dibawa ke laboratorium independen untuk dianalisis konsentrasi TPH dan TCLP.

Revegetasi yaitu pemerataan, penutupan kembali drainase dan perapihan lahan sehingga lahan kembali
seperti semula.

Paper Ilmu Lingkungan Tragedi Minamata

30 Oct 2010

Tak Berkategori ilmatuhyaien 0 Comments

ilma ranita sari

05132072

Jurusan KIMIA Universitas Andalas

I. PENDAHULUAN
Latar Belakang

Lingkungan adalah tempat makhluk hidup tinggal, beraktifitas, dan tempat meneruskan kehidupannya.
Namun, ketika teknologi semakin canggih dan populasi manusia meningkat, kegiatan manusia sebagai
makhluk yang paling berpotensi untuk memegang peranan terhadap lingkungan, melakukan banyak
penyimpangan dan tanpa adanya kesadaran untuk tetap menjaga lingkungan karena mereka hanya
berfikir bagaimana cara berjuang untuk tetap hidup. Penyimpangan-penyimpangan dan manipulasi yang
dilakukan oleh manusia itu akan menyebabkan berbagai dampak negatif, contohnya kerusakan alam,
pencemaran lingkungan, dan punahnya populasi satwa dan fauna langka, dan yang lebih menakutkan
adalah akibat dari manipulasi-manipulasi manusia itu sendiri yaitu, menggangu kesehatan dan
menyebabkan kematian manusia itu sendiri dan orang lain. Dari sekian banyak kerusakan yang ada, yang
paling sering terjadi adalah pencemaran alam, baik pencemaran udara, pencemaran air, maupun
pencemaran tanah.

Pencemaran air atau laut yang paling besar pernah terjadi pada teluk Minamata (Jepang) yang sangat
banyak memakan korban. Pencemaran tersebut terjadi karena adanya logam berat merkuri yang
mencemari lingkungan yang berasal dari PT Chisso yang memproduksi berbagai jenis produk dari
pewarna kuku sampai peledak. Dengan dukungan militer, industri ini merajai industri kimia, dan dengan
leluasa membuang limbahnya ke teluk Minamata. Diperkirakan 200-600 ton Hg dibuang selama tahun
1932-1968. Selain merkuri limbah PT Chisso juga berupa mangan. Thalium, dan Selenium., sehingga
menyebabkan masalah yang sangat serius, terutama bagi masyarakat sekitar teluk tersebut. Penyakit
yang ditimbulkan oleh pencemaran oleh teluk Minamata ini dikenal dengan nama penyakit Minamata.
Penyakit minamata pertama ditemukan di Kumamoto tahun 1956, dan tahun 1968 Jepang menyatakan
penyakit ini disebabkan pencemaran pabrik Chisso Co. Ltd. Penyakit Minamata terjadi akibat banyak
mengkonsumsi ikan dan kerang dari Teluk Minamata yang tercemar Methyl-Hg atau disebut metil
merkuri (methylmercury). Metil merkuri yang masuk tubuh manusia akan menyerang sistem saraf pusat,
akibatnya terjadi degenerasi sel-sel syaraf pada otak kecil, sarung selaput syaraf dan bagian otak yang
mengatur penglihatan. Penderitanya mengalami kesemutan (paresthesia), gangguan bicara, hilang daya
ingat, ataxia dan kelainan syaraf lainnya. Gejala-gejala dapat berkembang lebih buruk menjadi seperti
kesulitan menelan, kelumpuhan, kerusakan otak, dan kematian. Penderita kronis penyakit ini mengalami
sakit kepala, sering lelah, hilang indera perasa dan penciuman, dan menjadi pelupa. Para penderita
penyakit Minamata, menunjukan kadar Merkuri antara 200 sampai 500 mikrogram per liter darahnya.
Sementara batasan aman menurut WHO antara lima sampai 10 mikrogram Merkuri per liter darah.
Penelitian dr. Masazumi Harada pada tahun 1968, menunjukan timbunan logam berat Merkuri ini,
diturunkan dari ibu kepada bayinya melalui plasenta. Yang juga menarik, kasus diturunkannya kadar
Merkuri dari ibu ke anak, ternyata hanya terjadi di kawasan Minamata.
Sangat tragis akibat yang terjadi karena pencemaran yang dilakukan oleh manusia itu sendiri, yang tak
lain digunakan untuk mempertahankan hidup sehingga mengesampingkan hal-hal yang pada akhirnya
akan berakibat sangat fatal. Dari kenyataan yang telah ada, apakah kita siap melihat saudara atau teman
kita terserang minamata? Atau apakah kita rela generasi yang akan datang banyak yang menderita
minamata? Apakah kita akan tetap membiarkan diri kita mengkonsumsi merkuri tiap hari? Apakah kita
akan tetap membiarkan air yang mengalir dan masuk kedalam tubuh kita membawa merkuri yang pada
akhirnya membuat anak cucu kita terlahir cacat?

Perumusan Masalah

Dari berbagai pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh aktifitas manusia, salah satu fakta yang
telah terjadi adalah pencemaran teluk Minamata yang berada di Jepang yang disebabkan adanya limbah
logam berat hasil produksi PT. Chiso berupa metal merkuri yang dibuang ke teluk Tersebut.
Mengakibatkan penyakit Minamata, yaitu penyakit yang menyerang system saraf, dan berakhir dengan
kematian. Mengingat besarnya dampak negative yang disebabkan oleh pencemaran tersebut maka
dapat dirumuskan suatu permasalahan penyebab terjadinya tragedi Minanata, dan akibat yang
dihasilkan.

Tujuan

Tujuan Umum

Tujuan umum dari pembuatan paper yang berjudul Logam berat penyebab tragedi Minamata adalah
untuk membahas pencemaran lingkungan di teluk Minamata yang diakibatkan oleh logam berat akibat
aktifitas manusia, yang menyebabkan dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat di sekitar teluk
tersebut.

Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari pembuatan paper ini adalah untuk memenuhi syarat ujian pada mata kuliah kimia
lingkungan.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Pencemaran laut, adalah masuknya atau dimasukannya zat atau energi oleh manusia baik secara
langsung maupun tak langsung ke dalam lingkungan laut yang menyebabkan efek merugikan karena
merusak sumberdaya hayati, membahayakan kesehatan manusia, menghalangi aktivitas di laut
termasuk perikanan, pariwisata, dll, serta menurunkan mutu air laut yang digunakan dan mengurangi
kenyamanan di laut (GESAMP, Group of Experts on Scientific Aspects on Marine Pollution, 2002).

Pencemaran umumnya berasal dari limbah rumah tangga, limbah pabrik, buangan termis, limbah pabrik
bahan makanan dan limbah industri organik lain atau sisa-sisa pengolahan bahan organik. Demikian
halnya dengan sampah-sampah yang non-biodegradable (tidak terurai) misalnya plastik, serat-serat
sintetik, pestisida, minyak bumi, senyawa-senyawa logam berat dan senyawa-senyawa lain yang
umumnya dihasilkan industri modern yang setiap saat bertambah banyak macamnya. Bahan pencemar
ini jika terkontaminasi ke perairan akan terakumulasi dalam tubuh organisme (biomagnifikasi) kemudian
akan terbawa ke dalam sistem rantai makanan yang dapat pula secara langsung mematikan organisme
yang tak bisa mentolerirnya. Pada faktanya pencemaran tetap akan merugikan manusia sebagai (top
predator) dalam sistem rantai makanan. Bahan pencemar yang masuk ke lingkungan perairan walaupun
melewati berbagai perlakuan tetaplah merupakan sampah. Hal ini terus menumpuk seiring dengan
berjalannya waktu, sampai pada suatu saat manusia menyadari dan merasakan dampak negatif yang
diakibatkannya.

a. Definisi Mercury

Mercury merupakan suatu bahan pencemar yang sangat berbahaya, walaupun Mercury merupakan
suatu nama yang bagus untuk didengar. Zat bernama Mercury (Hg) ini merupakan zat paling mudah
untuk larut di dalam air, namun senyawa yang dihasilkan yaitu metal merkuri merupakan senyawa non
polar yang tidak dapat larut dalam tubuh, sehingga menyebabkan pengendapan di dalam tubuh dan
menyebabkan keracunan. Merkuri banyak digunakan dalam industri seperti termometer, tambal gigi,
baterai, dan soda kaustik. Merkuri dapat pula bersenyawa dengan khlor, belerang, dan oksigen senyawa
untuk membentuk garam merkurium yang sering digunakan dalam industri krim pemutih kulit. Ada
tradisi beberapa masyarakat yang menggunakan karbon di dalam baterei untuk lantai rumahnya. Di
alam, logam merkuri dapat ditransformasikan menjadi bentuk senyawa metil merkuri. Konsentrasi
merkuri di udara biasanya rendah dan jarang menjadi sumber permasalahan, berbeda ketika memasuki
perairan. Pada perairan merkuri dengan mudah berikatan dengan unsur kimia khlor. Ikatan dengan ion
khlor akan membentuk merkuri anorganik yang mudah masuk ke dalam plankton dan dapat berpindah
ke biota laut lain, seperti plankton, karang, ikan, dan sebagainya.

b. Tragedi Minamata

Sebenarnya, ada kasus pencemaran Mercury yang gaungnya sangat menghentak. Kasus ini disebut
tragedi Minamata. Imbas dari industrialisasi di Jepang, membuat Teluk Minamata menjadi bak sampah
raksasa. Logam berat mencemari teluk cantik itu, termasuk di dalamnya tercemar pula oleh Methyl
Mercury. Tak kurang, penduduk dari dua wilayah di pesisir Minamata, yaitu propinsi Kumamoto dan
Kagoshima menjadi korban Mercury.

c. Geografis Teluk Minamata

Teluk Minamata merupakan teluk kecil dengan luas 2,092,000 m persegi yang terletak di Laut Shiranui
atau Laut Yatsushiro di pantai barat Pulau Kyushu. Lingkungan laut Shiranui (bagian utara) atau dikenal
juga dengan laut Yatsushiro (bagian selatan) merupakan tempat dimana penyakit Minamata ditemukan.
Laut Shiranui/Yatshusiro dengan area 1,200 km persegi adalah perairan semi tertutup yang dikelilingi
dan berhadapan langsung dengan kepulauan Amakusa yang memiliki 120 pulau dengan 3 pulau
terbesarnya yaitu Amakusa Shimosima, Amakusa Kamishima dan pulau Ohyano. Laut Shiranui ini
terhubung dengan Laut Amakusanada yang merupakan bagian dari Lautan Cina Timur hanya dengan
beberapa selat kecil dengan selat terbesarnya kurang lebih 1,5 km memisahkan antara pulau Amakusa
Shimoshima dan pulau Nagashima. Laut Shiranui/Yatshushiro dikenal juga sebagai Laut Mediteranian-
nya Jepang dan dahulunya melimpah dengan hasil laut seperti ikan, moluska. Usaha perikanan
merupakan industri kunci di daerah ini dan sekurang-kurangnya 200,000 orang bekerja dalam usaha
perikanan dan usaha yang terkait di sekitar laut tersebut. Bertahun-tahun lamanya penduduk disekitar
laut tersebut hidup dari hasil laut Shiranui yang sekurang-kurangnya memakan ikan 500 gram sehari.
Demikian halnya di sungai Agano, Niigata, (kasus kedua penyakit Minamata) penduduk setempat juga
memakan ikan air tawar disana dalam jumlah yang banyak.

Desa Minamata secara resmi dikenal pada tahun 1889, desa ini terletak di bagian selatan Kumamoto
prefecture dan berbatasan langsung dengan Kagoshima Prefecture. Seiring dengan perkembangan desa
dan pembangunannya, maka pada tahun 1949 Minamata telah berkembang menjadi sebuah kota.
Pertengahan tahun 1908, perusahaan Sogi Electric dan Nippon Carbide bergabung membentuk Nippon
Nitrogen Fertilizer (cikal bakal Chisso company) yang kemudian beroperasi pertama kali pada tahun
1932 dengan menggunakan acetaldehid (acetic acid facilities), dan di tahun 1941 memproduksi vinyl
chloride. Di tahun 1950, Nippon Nitrogen Fertilizer menganti nama menjadi Shin Nippon Chisso Fertilizer
Co., Ltd. Chisso berarti nitrogen, dan perusahaan ini merupakan perusahaan raksasa kimia terbesar di
Jepang dan menguasai pasaran dunia sampai hari ini.

d. Penyebab Tragedi Minamata

Penyakit Minamata pertama kali ditemukan di kota Minamata, Prefecture/Provinsi Kumamoto Japan di
tahun 1956 (Minamata Disease Research Group; 1968, Harada M; 1995), dan berikutnya di temukan di
Kota Niigata City, Niigata Prefecture, Japan, di tahun 1965 (Tsubaki T & Irukayama K; 1977). Kedua kasus
ini dihubungkan dengan Merkuri (Hydragyricum : Hg) sebagai katalis yang umumnya digunakan dalam
proses produksi asetaldehida (acetaldehyde). Asetaldehida (CH3COOH) digunakan sebagai bahan
mentah untuk pembuatan produk seperti plastik, obat-obatan, cuka, fiber dan produk lain. Walaupun
anorganik merkuri yang digunakan sebagai katalisator, namun sistemnya merubah bentuk anorganik
merkuri tersebut menjadi organik (metil) merkuri. Dengan kata lain merkuri anorganik dapat ter-metilasi
menjadi merkuri organik di sedimen perairan. Pada biota laut merkuri anorganik mengalami perubahan
menjadi merkuri organik (metil merkuri). selain itu kondisi asam dan kadar ozon pada perairan
mendorong aktivitas bakteri mengubah merkuri menjadi metil merkuri.

e. Dampak Pencemaran Teluk Minamata

Dengan demikian, organik (metil) merkuri telah terkontaminasi di perairan sekalipun yang dibuang
adalah anorganik merkuri (National Institute of Minamata Disease, 2001). Kasus ini merupakan kasus
pertama dimana Merkuri ditransfer masuk dalam rantai makanan dari lingkungan laut yang tercemar.
Metil merkuri dan substansi racun lainnya yang telah terakumulasi pada ikan dan moluska. Ikan-ikan
yang telah terkontaminasi menjadi ancaman kesehatan serius bagi manusia ketika rantai makanan itu
menyambung ke manusia. Sekali berada dalam tubuh, metal merkuri sangat lambat tercuci. Oleh sebab
itu, memakan ikan yang tercemar metil merkuri dengan dosis di bawah ambang pun, jika dilakukan
dalam jangka waktu lama, akan meningkatkan jumlah merkuri di dalam tubuh.

Pada tubuh manusia metil merkuri menyebar ke seluruh jaringan terutama darah dan otak. Sekitar 90
persen ditemukan dalam darah merah dan sisanya diekskresikan melalui empedu ke tinja juga urine.
Metil merkuri memasuki tubuh manusia melalui tiga cara, yaitu melalui kulit, inhalasi (pernafasan)
maupun lewat makanan. Bila masuk melalui kulit akan menyebabkan reaksi alergi kulit berupa iritasi
kulit. Reaksinya tidak terlalu lama, cukup mandi beberapa kali pada air yang tercemar merkuri, kulit pun
akan segera mengalami iritasi. Konsentrasi metil merkuri ditemukan pada ginjal, hati, dan otak. Selain
itu juga nephritis, efek-efek saraf dan jantung. Pada keracunan akut dapat menimbulkan gangguan
sistem saluran pencernaan dan pernafasan. Metil merkuri juga dapat menembus blood brain barrier dan
menimbulkan kerusakan di otak. (Jusak Ratundelang Pahlano DAUD, 2004)

Metil merkuri yang masuk tubuh manusia akan menyerang sistem saraf pusat, akibatnya terjadi
degenerasi sel-sel syaraf pada otak kecil, sarung selaput syaraf dan bagian otak yang mengatur
penglihatan. Penderitanya mengalami kesemutan (paresthesia), gangguan bicara, hilang daya ingat,
ataxia dan kelainan syaraf lainnya. Gejala-gejala dapat berkembang lebih buruk menjadi seperti
kesulitan menelan, kelumpuhan, kerusakan otak, dan kematian. Penderita kronis penyakit ini mengalami
sakit kepala, sering lelah, hilang indera perasa dan penciuman, dan menjadi pelupa. Penyakit Minamata
tidak menular atau menurun secara genetis. Selain itu, penyakit Minamata juga tidak dapat diobati,
usaha perawatan sebatas mengurangi gejala dan terapi rehabilitasi fisik. (Tri Wahyuni, 2008).

f. Penanggulangan

Mei 1956 secara resmi Direktur Rumah Sakit Chisso melaporkan ke pusat Kesehatan Masyarakat
Minamata banyaknya pasien dengan gejala kerusakan sistem saraf. Perempuan kakak beradik 5 dan 2
tahun yang tinggal di Minamata merupakan pasien pertama yang mengalami dyskinesia (kesulitan
bergerak) dan kejang-kejang. Enam bulan kemudian, Tim peneliti dari Universitas Kumamoto
membuktikan bahwa penyakit aneh tersebut disebabkan karena makan ikan dan moluska yang terdapat
di teluk Minamata, teluk kecil di laut Shiranui. Penelitian yang sama dengan didukung tim kementerian
kesehatan Jepang di tahun 1957 juga memperkuat hasil penelitian ini. Walau demikian tidak ada langkah
konkrit untuk mengatasi sumber masalah ini. 17 Januari 1957, Koperasi Perikanan Minamata meminta
perusahaan Chisso untuk menghentikan buangan limbahnya, dan pada bulan yang sama para nelayan
meminta pemerintah dalam hal ini Gubernur Kumamoto untuk segara mengambil langkah yang perlu
mencegah pencemaran yang telah terjadi. Pada saat itu 54 korban telah teridentifikasi mendapat
penyakit aneh karena pencemaran dan 17 diantaranya meninggal. Namun, pihak pemerintah Kumamoto
dan Kementrian Perdagangan dan Industri tetap mengizinkan Chisso beroperasi dan membuang
limbahnya dengan alasan penyakit aneh tersebut tidak ada hubungannya dengan pencemaran. Pada
saat bersamaan Kementrian Kesehatan menolak proposal untuk mengundang-undangkan peraturan
sanitasi makanan dimana dilarang menjual ikan dan moluska dari teluk Minamata. Hal ini beralasan,
karena terdapat keraguan yang mana ikan dan moluska di teluk Minamata telah tercemar atau tidak. Di
lain pihak pemerintah berusaha mengabaikan berita bencana tersebut agar tidak tersebar luas. Limbah
terus dibuang lewat kanal kecil yang bermuara ke teluk Minamata, tanpa larangan menangkap ikan
disitu dan nelayan tetap melanjutkan kehidupannya dengan ikan hasil tangkapan mereka. Padahal
limbah yang dibuang ke teluk itu telah terakumulasi di dalam tubuh ikan dan moluska. Karena sulitnya
membedakan yang mana ikan yang terkontaminasi dan yang tidak, masyarakat tetap memakan ikan
sampai gejala penyakit itu muncul. Sejak September 1958, Chisso mengalihkan saluran buangannya ke
laut Shiranui/Yatshusiro lewat kolam sedimentasi di delta sungai Minamata. Sejak April 1959,
masyarakat pesisir sepanjang laut Shiranui, bukan hanya di Minamata merasakan gejala sakit aneh.
Kondisi ini terlihat juga pada hewan, dimana banyak kucing mati di desa-desa nelayan sepanjang laut
Shiranui. Hal ini jelas merupakan kesalahan Chisso selanjutnya setelah mengalihkan buangannya melalui
sungai minamata, sehingga tersebar keseluruh perairan Shiranui / Yatsushiro.

Pada 22 Juli, 1959, tim peneliti dari Universitas Kumamoto melaporkan bahwa berdasarkan atas
penelitian yang telah dilakukan dan setelah memeriksa dan membandingkan laporan mengenai Hunter-
Russel syndrome, mereka menyimpulkan bahwa yang menyebabkan penyakit minamata adalah merkuri
organik. Berdasarkan hasil tersebut masyarakat pesisir meminta pembuangan limbah ke laut Shiranui
dihentikan dan perusahaan ditutup. Chisso dan kementrian Perdagangan dan Industri menggunakan
berbagai cara secara politik untuk mengaburkan hasil penelitian tersebut. Dari fakta tersebut ternyata
pencemaran sangat merugikan manusia dan telah mengancam berbagai Negara dunia. Hal ini terlihat
dengan banyaknya sample-sampel yang sementara diteliti di National Institut of Minamata Disease.
Biaya yang dikeluarkan untuk penelitian, restorasi dan kompensansi ternyata lebih besar dari biaya
pembangunan dan keuntungan yang didapat. Laut yang berfungsi sebagai sumberdaya perairan,
menjadi tidak berfungsi lagi sesuai peruntukkannya. Mencermati dan bercermin dari bencana Minamata
ini adalah merupakan pelajaran berharga bagi kita manusia. Negara Jepang yang pada saat itu bergerak
bangkit akibat kekalahannya di perang dunia II, mengadopsi teknologi dan berusaha sendiri untuk
mengeksploitasi sumberdaya alam dengan pengorbanan lingkungan serta manusia didalamnya. Kontras
dengan apa yang terjadi di Indonesia, dimana eksplorasi sumberdaya alam dilakukan pihak luar dengan
kemampuan teknologi yang dimilikinya namun mengorbankan lingkungan yang bukan miliknya. Ironis,
Kekayaan yang kita miliki bukan dieksploitasi oleh kita sendiri namun oleh orang luar.(Jusak Ratundelang
Pahlano DAUD, 2004). Sudah saatnya pemerintah ataupun wakil-wakil rakyat belajar mencermati dan
memantau lingkungan, tidak hanya sekedar duduk berpangku tangan, memikirkan keuntungan diri
sendiri serta mengejar kedudukan. Pemerintah seharusnya lebih aktif dan peka terhadap lingkungan
seperti halnya pengelolaan limbah dan sampah terutama limbah berbahaya dan beracun. Limbah-
limbah pabrik dan pusat pertokoan yang dewasa ini meningkat seiring dengan pembangunan perlu
diawasi secara ketat mengenai jenis limbah, prosedur keamanan dan lokasi pembuangannya. Demikian
pula sampah, tidak hanya dilakukan penegakan hukum namun pemerintah seharusnya memberi
alternatif dan fasilitas bagi penyalurannya. Pemisahan sampah sesuai jenisnya sejak awal dilakukan di
rumah-rumah, pasar, pusat-pusat pertokoan, sekolah dan di kantor. Selain hal tersebut mendidik,
masyarakat akan tahu mana jenis sampah yang bisa didaur (recycling) ataupun yang tidak bisa.
Pemantauan dan penanganan sampah di muara-muara sungai perlu diadakan untuk mencegah sampah
masuk ke laut dari aliran-aliran sungai. Selain untuk kebersihan hal-hal tersebut juga untuk keindahan
lingkungan yang kita diami. Bagaimanapun juga, memang berbagai aspek pembangunan yang
menghasilkan sampah memiliki andil yang sangat besar terhadap perubahan lingkungan. Bagaimana
cara manusia menghargai lingkungan ciptaan TUHAN, bagaimana cara dimana manusia menggunakan
sekaligus mengabaikannya, dan bagaimana cara dimana manusia berusaha melindunginya terus-
menerus senantiasa akan tetap mengalami perubahan ruang seiring berjalannya waktu. Hal ini terus
menumpuk seiring dengan berjalannya waktu, sampai pada suatu saat manusia menyadari dan
merasakan dampak negatif yang akan diakibatkannya. (Jusak Ratundelang Pahlano DAUD, 2004).

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, H. M. Nur 21. 2004. Teluk Buyat Menuju Teluk Minamata.

Suara merdeka,senin 4 april 2005 Sekelumit tentang Penyakit Minamata

Wahyuni, Tri. 16 mei 2008. Minamata. pantarhei filsafat UGM

Jusak Ratundelang Pahlano DAUD . Minahasa! belajarlah dari minamata .


http://pahlano.multiply.com/reviews/item/

http://www.chemlink.com.au/cyanide.htm, merkuri dan arsen di teluk buyat

http://www.unido.org/en/doc/4571 merkuri dan arsen di teluk buyat

http://www.geus.dk/program-areas/common/int_tz01-uk.html merkuri dan arsen di teluk buyat

http://tech.groups.yahoo.com/group/kimia_indonesia/post merkuri dan arsen di teluk buyat


TUGAS PAPER KIMIA LINGKUNGAN

TRAGEDI MINAMATA

oleh:

ILMA RANITA SARI

05132072

Dosen Pembimbing :

Drs. Zamzibar Zukri, MP

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

JURUSAN KIMIA

UNIVERSITAS ANDALAS

PADANG
2008

Empat bulan kemudian, pada 12 November 1959 Kementrian Kesehatan lewat komite investigasinya
mengakui kebenaran hasil penelitian pihak Universitas Kumamoto. Menurut Tokuomi Haruhiko (1960)
salah satu Professor dari Universitas Kumamoto yang melakukan penelitian, 100 persen pasien
mengalami gangguan saraf, gangguan sensorik seperti gangguan penglihatan, gejala lainnya seperti
gangguan koordinasi gerak tubuh 93,5 persen, dysarthria 88.2%, gangguan pendengaran 85.3% dan
kejang-kejang 75.8%, serta 82,4 % dari pasien berjalan secara abnormal. Penelitian Haruhiko juga
mendapati bahwa ibu hamil yang terkontaminasi merkuri akan merusak plasenta janin bayi dan
mengakibatkan kematian atau paling tidak cacat pada bayi yang dilahirkan. Berdasarkan laoran ini,
pemerintah lewat Gubernur Kumamoto telah mengatur ganti rugi bagi para korban. Ganti rugi ini
dibatasi hanya pada korban yang memiliki sertifikat yang disahkan oleh komite dokter pemerintah.
Hanya mereka yang memiliki sertifikat berhak menerima ganti rugi.

Setelah tahun 1960, walaupun isu penyakit ini telah meluas dengan adanya pembuktian, namun Ikeda
Hayato, menteri Perdagangan dan Industri Jepang mengatakan bahwa terlalu dini menyimpulkan bahwa
kasus tersebut adalah karena merkuri. Jadi jelas pihak Kementrian Perdagangan dan Industri tidak mau
proses produksi dari Chisso dihubungkan dengan penyebab penyakit di Minamata. Malahan, Chisso,
Kementrian Perdagangan dan Industri, serta Pemerintah Kumamoto mengatakan bahwa pembuangan
limbah mereka telah diganti dengan teknologi yang ramah lingkungan. Masyarakat diberitahu bahwa
pembuangan limbah telah melewati proses pembersihan (purifikasi) dengan apa yang dinamakan
Cyclator. Padahal, baik pemerintah dan pihak Chisso tahu bahwa Cyclator tidak mampu menangkap
merkuri yang terlarut dalam limbah acetaldehid. Limbah buangan ini terdiri dari metil merkuri yang
malahan tercampur dengan sedimen yang justru diambil Cyclator dan ditampung di kolam penampung
sedimen. Cairan yang ada pada kolam penampungan tersebut lepas akibat hujan ataupun absorbsi dan
masuk ke perairan Shiranui.

Sampel rambut dari penduduk yang tinggal sepanjang pesisir laut Shiranui sebanyak 2700 orang telah
diteliti oleh Institut Kesehatan Kumamoto. Hasil menunjukkan bahwa walaupun tingkat kandungan
mekuri rendah pada penduduk sekitar teluk Minamata, namun secara keseluruhan tingkat kandungan
mekuri tinggi pada penduduk sepanjang pesisir laut Shiranui. Penelitian berikutnya oleh Prof.Irukayama
Katsuro (1962) membuktikan bahwa metil merkuri klorida merupakan faktor utama penyebab penyakit
di Minamata.

Pada tahun 1965 Penyakit yang sama kedua muncul di Niigata prefecture. Pemerintah menuai kritik
akibat mengabaikan bukti-bukti terjadinya pencemaran. Di tahun 1968 Chisso menghentikan
produksinya karena tidak sesuai mode lagi. Asetaldehida telah diganti dengan teknologi petroleum
(minyak), namun limbah yang terdapat metil merkuri di dalamnya tetap dilepaskan ke lingkungan laut.
Berbagai debat seperti halnya di Minamata terjadi di Niigata dengan perusahaan Showa Denko yang
mencemari Sungai Agano lewat pabrik Kanose-nya. Pencemaran bertambah di Jepang seiring dengan
kebijakan pertumbuhan ekonomi intensif dari pemerintah. Di lain pihak kesadaran masyarakat dalam
menghargai lingkungannya juga meningkat.

Setelah debat berkepanjangan, pada 26 September 1968 Pemerintah melalui Kementrian Kesehatan
mengeluarkan statemen bahwa yang menyebabkan terjadinya penyakit di Minamata adalah metil
merkuri yang diproduksi selama proses produksi asetaldehida oleh perusahaan Chisso Minamata. Hal ini
kontras, dimana seharusnya statemen ini dikeluarkan di tahun 1963. Malahan dikeluarkan setelah
fasilitas Chisso telah ditutup 4 bulan sebelumnya. Hal inipun disebabkan kurangnya permintaan
asetaldehida yang telah diganti dengan teknologi petroleum. Hal ini berarti pemerintah Jepang
membiarkan industri menggunakan teknologi yang berdampak negatif terhadap lingkungan tanpa
menghormati kesehatan masyarakat dan lingkungan. Tidak hanya itu, pada bulan Februari 1969, setelah
produksi perusahaan telah ditutup, pemerintah menjadikan perairan di sekitar Minamata menjadi
Daerah Perlindungan Laut (Marine Protected Area). Dengan cara demikian tidak ada lagi limbah yang
mengandung metil merkuri yang dilepaskan ke laut, selain itu penelitian yang akan dilakukan dipersulit.

Sampai pada tahun 1960 korban yang memiliki sertifikat penyakit Minamata berjumlah 111 orang.
Setelah pemerintah mengeluarkan pernyataan pada 26 September 1968, sepertinya para korban akan
mendapatkan biaya kompensasi akan disetujui. Namun tidaklah demikian. Telah banyak korban yang tak
terkira jumlahnya bertambah akibat polusi merkuri di sekitar perairan Shiranui ; para pasien tersebut
diabaikan dan tidak ditolong sejak tahun 1960. Jumlah pasien bertambah banyak karena masyarakat
tidak tahu dan tidak diingatkan bahwa ikan yang ada di Laut Shiranui secara terus menerus
terkontaminasi, dan masyarakat terus menerus memakan ikan dari laut tersebut. Dan sejak saat itu
pasien bersertifikat penyakit minamata bertambah banyaknya. Pro-kontra terjadi sampai kasus tersebut
dibawa ke pengadilan.

Jauh Dari Akhir

Pada bulan Maret 1973 putusan pengadilan distrik Kumamoto menetapkan bahwa Chisso secara resmi
bertanggungjawab atas terjadinya penyakit Minamata. Ini kemudian diperkuat di tahun 1988, dimana
Presiden dan Direktur Chisso dihukum bersalah. Chisso tidak lagi mampu menangani beban biaya
kompensasi, dan meminta bantuan pemerintah Kumamoto dan Pemerintah Jepang. Walaupun demikian
pemerintah masih saja memperumit syarat untuk mendapatkan sertifikat sebagai bukti medik terkena
penyakit Minamata. Sehingga banyak pasien yang tidak memiliki dan sulit mendapat sertifikat
membawa kasus tersebut ke pengadilan. Chisso, pemerintah Kumamoto dan pemerintah Jepang
melawan masyarakat yang sedang sekarat.

Sebelumnya memang sudah banyak korban akibat pencemaran Merkuri (Hg) di Minamata, sampai pada
tahun 1995 telah tercatat 14.753 orang mengaku menjadi korban pencemaran di Minamata, namun
pemerintah Jepang berusaha menghilangkan fakta bahwa kasus Minamata telah berakhir dengan
memberikan solusi politik untuk mendapat biaya kompensasi dengan catatan : (1) korban tidak diberi
sertifikasi yang menyatakan korban terkena penyakit Minamata, (2) Pemerintah tidak memiliki tanggung
jawab kompensasi lagi pada korban, dan (3) Korban harus menarik tuntutannya dari Pengadilan. Banyak
korban akhirnya memutuskan untuk setuju pada kondisi yang ditawarkan pemerintah. Di bawah kondisi
ini, korban seterusnya yang datang dan ditemukan gejala gangguan sensorik yang parah menerima 2.6
juta yen dari Chisso (yang didanai oleh pemerintah pusat dan pemerintah Kumamoto). Sekitar 255 juta
dolar dikeluarkan untuk biaya kompensasi para korban. Solusi politik yang diambil pemerintah
merupakan penengah sebagai bentuk tanggungjawab, ini merupakan sifat tipikal orang jepang.

Masyarakat Jepang umumnya telah mengetahui bahwa telah banyak penderita penyakit Minamata atau
penyakit sejenis yang diakibatkan oleh pencemaran di Jepang. Walaupun demikian, bencana ini secara
politis dianggap telah berakhir, dan pemerintah telah berupaya banyak untuk hal tersebut. Para korban
lain yang menolak tawaran pemerintah di tahun 1995 telah pindah ke wilayah Jepang tengah seperti di
Kansai dan tetap menuntut penegakan hukum. Pada 27 April, 2001 Pengadilan Tinggi Osaka
memutuskan gugatan korban bahwa memang pemerintah tidak ada usaha untuk menolong dan
bertanggung jawab akibat limbah perusahaan Chisso sebagai biang pencemaran yang berujung pada
penyakit Minamata, dan pemerintah diharuskan bertanggungjawab dengan memberi kompensasi bagi
para korban. Pada 11 Mei 2001 kasus ini dibawa lagi ke Pengadilan Tinggi Jepang dan kasus ini berlanjut
tanpa kesimpulan. Seiring dengan meninggalnya para korban, pada faktanya penyakit Minamata sampai
saat ini belumlah berakhir.

Sebagai kelanjutan gugatan masyarakat yang terkena Penyakit Minamata kepada Pemerintah Jepang
sejak tahun 1995, telah digelar Persidangan di Pengadilan Tinggi Kansai di Osaka Jepang Jumat (15
Oktober 2004). Hasil sidang tersebut telah memutuskan memenangkan gugatan 37 orang masyarakat
yang terkena penyakit Minamata dan mengharuskan pemerintah Jepang dan perusahaan Chisso
memberi dana kompensasi sebagai bentuk tanggungjawab akibat pencemaran yang ditimbulkan sebesar
71.500.000 yen kepada korban. Selanjutnya Pengadilan Tinggi wilayah Kagoshima juga akan mengelar
gugatan yang sama dari 110 orang korban Minamata terhadap Pemerintah Jepang dan perusahaan
Chisso.
National Institute of Minamata Disease (2004) mencatat kurang lebih 3,000 pasien bersertifikat tersebar
di provinsi Kumamoto, Kagoshima dan Niigata. Secara resmi 2,955 korban terdapat di Kumamoto dan
Kagoshima diantaranya 1,924 telah meninggal akibat limbah buangan industri kimia Chisso di Teluk
Minamata sejak tahun 1930an. Pemerintah menetapkan batasan konsentrasi total merkuri dalam
rambut antara 50-125 g/g (ppm) pada kasus Minamata dan sebanyak kurang lebih 15,000 orang lainnya
terdaftar sebagai korban pencemaran, namun angka tersebut akan berlipat seiring dengan penelitian
terbaru. Menurut Prof. Shigeo Ekino dari Universitas Kumamoto (2001) lewat penelitiannya
mengindikasikan bahwa 10 ppm (part per million) merkuri pada rambut manusia dapat menghambat
cerebral cortex dari otak, organ yang bertanggungjawab untuk berbicara, berpikir dan pergerakan. Dan
jika demikian diestimasi 2 juta atau lebih orang dapat terancam penyakit tersebut. Kalkulasi tersebut
didasarkan atas jumlah orang yang potensial makan dari ikan yang ditangkap di Laut Shiranui, yang di
dalamnya terdapat teluk Minamata. Tidak mengherankan di hampir seluruh kota di Kumamoto
Prefecture dapat dijumpai banyaknya orang cacat sampai saat ini.

Usaha Restorasi dan Rehabilitasi Lingkungan

Untuk mencegah terus menyebarnya bahan berbahaya tersebut ke rantai makanan dan manusia,
berbagai usaha telah dilakukan sejak tahun 1970 untuk merehabilitasi lingkungan teluk Minamata dan
laut Shiranui pada umumnya. Usaha-usaha tersebut mencakup 5 kategori, yaitu : (1) Kegiatan penelitian,
(2) Peraturan-peraturan dan administrasi (3), Pengobatan bagi korban, (4) Pemantauan merkuri dan
bahan berbahaya lainnya serta (5) Usaha perbaikan lingkungan.

Selain larangan bagi masyarakat untuk menangkap ikan di teluk ini, program pembersihan sedimen
dengan teknik remediasi dilakukan dari tahun1974-1990. Limbah sedimen yang mengandung merkuri di
teluk Minamata diperkirakan sebanyak 70 150 ton. Sedimen yang ada di dasar teluk Minamata tersebut
di keruk dan ditaruh pada lokasi reklamasi menggunakan pompa yang didesain khusus untuk mencegah
kekeruhan di saat penggerukan. Kemudian sediment yang terkontaminasi tersebut ditimbun
lagi/ditutupi dengan menggunakan tanah yang tidak terkontaminasi secara hati-hati (diisolasi). Teknik
remediasi ini dilakukan aktif antara tahun 1983-1987 dan berakhir di tahun 1990, teknik ini teruji efektif
namun mahal dan memakan waktu serta dapat saja bocor dan mencemari lingkungan lagi. Lewat
program ini, merkuri yang terkontaminasi di sedimen sebanyak 25 ppm di tahun 1977 menurun menjadi
4,6 ppm (1990). Daerah yang direklamasi di teluk Minamata seluas 58 hektar dan menghabiskan
anggaran 48 Milyar Yen dihabiskan untuk program ini. Chisso menanggung lebih dari 30.5 Milyar yen
dan sisanya dari pemerintah. Hal yang sama juga dilakukan di Niigata lewat pengerukan sediment dalam
sungai yang terkontaminasi merkuri oleh perusahaan Showa Denko beserta Pemerintah (National
Institute of Minamata Disease, 2001).

Berbagai alternatif teknik selain remidiasi dan imobilisasi dikaji untuk digunakan seperti dengan
treatment tanah atau air yang terpolusi baik secara fisik atau kimia. Teknik ini lebih murah namun tidak
berlaku umum, hanya memindahkan dari polusi air ke polusi udara, dan tetap berpotensi menimbulkan
cemaran lain. Teknik lainnya seperti fitoremediasi, yakni dengan menggunakan tumbuhan penyerap
metilmerkuri relatif murah dan polutan yang telah terakumulasi dapat dikumpulkan dan digunakan bila
perlu. Namun proses ini relatif lambat dan belum cukup teruji serta kemungkinan adanya gangguan
pada ekosistem.

Lokasi restorasi dan rehabilitasi teluk Minamata

Area Treated area Volume of sludge disposed

Landfill area 582,000 m2 726,000 m2

Dredged area 1,510,000 m2 784,000 m2

Total 2,092,000 m2 1,510,000 m2

(Sumber : National Institute of Minamata Disease, 2001)

Usaha lainnya dilakukan dengan pemasangan jaring sebagai batas mengelilingi mulut teluk untuk
menangkap ikan yang terkontaminasi (imobilisasi). Teknik ini cukup efektif serta lebih murah, namun
gangguan efek ekologis pada ekosistem tempat batas dipasang dapat saja terjadi. Pemerintah telah
mengizinkan kembali penangkapan ikan di teluk Minamata di tahun 1997 dan menyatakan bahwa
tingkat merkuri di Laut Shiranui telah mencapai batas aman untuk dimakan. Bersama dengan
persetujuan nelayan setempat, jaring yang membatasi teluk Minamata diangkat dan teluk Minamata
dibuka kembali untuk umum. Penangkapan ikan dan promosi mengenai amannya ikan dari teluk
minamata dan Laut Shiranui pada umumnya dilakukan untuk pertamakalinya dalam 24 tahun. Namun
masyarakat sudah tidak mau lagi mengkonsumsi ikan yang terdapat di teluk Minamata.

Museum dan Memorial didirikan sebagai sarana pengalaman dan pendidikan untuk mengingatkan
manusia bagaimana bencana tersebut terjadi dan berharap agar bencana serupa dimanapun tidak
terjadi lagi. National Institute of Minamata Disease didirikan di tahun 1978 untuk penelitian dan
monitoring sekaligus meluruskan fakta akibat pencemaran dan bukan hanya akibat merkuri tetapi
bahan-bahan pencemar lainnya. Mengingat besarnya bencana yang ditimbulkan dan masih tersisanya
limbah pencemaran tersebut, maka berbagai penelitian dari dalam dan di luar negeri terus dilakukan
untuk memonitoring perairan dan biota laut yang ada didalamnya.. Berbagai kerjasama penelitian
monitoring setiap tahunnya dilakukan berbagai Universitas di Jepang terutama yang berada disekitar
laut Shiranui, seperti kerjasama penelitian yang dilakukan Amakusa Marine Biological Laboratory,
Universitas Kyushu yang disponsori Kementerian Lingkungan. Penelitian terakhir tahun lalu di tahun
2003, menemukan fakta bahwa memang masih terdapat merkuri dalam rantai makanan biota laut di
teluk Minamata, walaupun berada dibawah ambang batas namun masih mengkhawatirkan. Jadi,
ancaman Minamata memang belumlah berakhir
CONTOH KASUS AMDAL DI INDONESIA(TPA,bantargebang,Bekasi) DAN CONTOH KASUS AMDAL LUAR
NEGRI(TUMPAHAN MINYAK KAPAL SHOWA MARU DAN GULF WAR OIL SPILL)

CONTOH KASUS AMDAL DI INDONESIA(TPA,bantargebang,Bekasi)

I. Pendahuluan

Globalisasi ekonomi, politik dan sosial membawa hubungan antar negara semakin dekat dan erat serta
membawa dampak yang positif maupun negatif bagi suatu negara. Salah satu akibat yang paling nyata
dari globalisasi adalah berkembangnya perusahaan-perusahaan multinasional didunia.Indonesia
mempunyai jumlah penduduk yang sangat besar tidak lepas dari sasaran investasi perusahaan-
perusahaan tersebut. Tetapi dengan masuknya perusahaan-perusahaan tersebut membawa akibat yang
positif maupun negatif di indonesia.Salah satu akibat yang negatif hasil produksi dari perusahaan
tersebut adalah banyaknya hasil produksi yang diproduksi tanpa memikirkan kendala yang akan
dihadapi dikemudian hari.

Pada dasarnya semua usaha dan pembangunan menimbulkan dampak dikemudian hari. Perencananaan
awal suatu usaha atau kegiatan pembangunan sudah harus memuat perkiraan dampaknya yang penting
dikemudian hari, guna dijadikan pertimbangan apakah rencana tersebut perlu dibuat penanggulangan
dikemudian hari atau tidak.Pembangunan merupakan upaya sadar dan terencana dalam rangka
mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam, guna mencapai tujuan pembangunan yaitu
meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa indonesia. Pembangunan tersebut dari masa
kemasa terus berlanjut guna memenuhi kebutuhan penduduk yang semakin meningkat.

Alam mempunyai hukumnya sendiri, segala sesuatu akan kembali kepada siklus alam walaupun bahan
sintesis hasil rekayasa manusia seperti plastik, tetapi akan menimbulkan masalah yang sangat besar
terhadap bahan tersebut dikemudian hari jika sudah tidak dimanfaatkan lagi.Pertambahan jumlah
penduduk, perubahan pola hidup masyarakat, kecepatan teknologi dalam menyediakan barang secara
melimpah ternyata telah menimbulkan masalah-masalah baru yang sangat serius yaitu adanya barang
yang sudah terpakai dan sudah tidak digunakan dan mengakibatkan timbulnya sampah.

II. Pokok Permasalahan


1. Bagaimana Dampak Sampah terhadap Lingkungan dan masyarakat?

2. Bagaimana sistem pengelolaan dan kebijakan pemerintah terhadap sampah di daerah bekasi dan
sekitarnya?

III. Data dan Fakta

Bahwa,di kawasan Bantar Gebang Bekasi menyebutkan, akibat dijadikan kawasan tersebut sebagai TPA,
warga di sekitar menderita yang tiada berujung. Dampak, seperti Penyakit ISPA, Gastritis, Mialgia,
Anemia, Infeksi kulit, Kulit alergi, Asma, Rheumatik, Hipertensi, dan lain-lain merupakan hasil penelitian
selama kawasaan tersebut dijadikan TPA.

Hasil perhitungan berdasarkan jumlah penduduk,jumlah limbah domestik dari rumah tangga adalah
sebesar 2.915.263.800 ton/tahun atau 5900 6000 ton/hari; lumpur dari septic tank sebesar 60.363,41
ton/tahun dan yang bersumber dari industri pengolahan sebesar 8.206.824,03 ton/tahun.

penanganan kebersihan di wilayah DKI Jakarta dilaksanakan oleh Dinas Kebersihan DKI Jakarta, dengan
jumlah sarana dan prasarana yang terdiri dari tonk sebanyak 737 buah (efektif : 701 buah); alat-alat
besar : 128 buah (efektif : 121 buah); kendaraan penunjang : 107 buah (efektif : 94 buah), sarana
pengumpul/pengangkutan sampah dari rumah tangga : gerobak sampah : 5829 buah; gerobak celeng :
1930 buah, galvanis : 201 buah.

Sampah yang diangkut dari Lokasi Penampungan Sementara (LPS) akan diolah di Tempat Pemusnahan
Akhir (TPA). TPA yang sekarang adalah TPA Bantar Gebang, Bekasi dengan luas yang direncanakan 108
Ha. Status tanah adalah milik Pemda DKI Jakarta dan sistim pemusnahan yang dilaksanakan adalah
sanitary landfill. Luas tanah yang sudah dipergunakan sebesar 85 persen, sisanya 15 persen
diperkirakan dapat menampung sampah sampai tahun 2004, sehingga Pemda DKI Jakarta saat ini sudah
mencari alternatif-alternatif lain sistim penanganan sampah melalui kerjasama dengan pihak swasta.

Akibat operasional yang tidak sempurna, maka timbul pencemaran terhadap badan air di sekitar LPA
dan air tanah akibat limbah serta timbulnya kebakaran karena terbakarnya gas methan. Untuk
mengatasi hal ini Dinas Kebersihan telah melakukan kegiatan-kegiatan antara lain :

1. Menambah fasilitas Unit Pengolahan Limbah dan meningkatkan efisiensi pengolahan sehingga
kualitas limbah memenuhi persyaratan untuk dibuang.

2. Meningkatkan/memperbaiki penanganan sampah sesuai dengan prosedur sanitary landfill.

3. Membantu masyarakat sekitar LPA dengan menyediakan air bersih, Puskesmas dan ambulance.

4. Mengatur para pemulung agar tidak mengganggu operasional LPA.

Besarnya beban sampah tidak terlepas dari minimnya pengelolaan sampah dari sumber penghasil dan di
tempat pembuangan sementara (TPS) sampah. Baru sekitar 75 m3 yang didaur ulang atau dibuat
kompos. Sementara itu, sisanya sekitar 60% dibuang begitu saja tanpa pengolahan ke tempat
pembuangan akhir (TPA) sampah. Dan, 30% dibiarkan di TPS. Tak heran bila sampah akan menumpuk di
TPA. Akibatnya, daya tampung TPA akan menjadi cepat terpenuhi.

IV. Analisa

1. Dampak Sampah terhadap Lingkungan dan masyarakat

Setiap orang mempunyai hak untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat.Sesuai dengan
ketentuan tersebut bahwa setiap orang berhak menolak dengan adanya hal-hal yang dapat merugikan
kesehatan baginya. Dalam hal ini, Tidak ada teknologi yang dapat mengolah sampah tanpa
meninggalkan sisa. Oleh sebab itu, pengelolaan sampah selalu membutuhkan lahan sebagai tempat
pembuangan ahir.

Dengan adanya tempat pembuangan sampah di suatu daerah, biasanya akan mempengaruhi kesehatan
dan lingkungan bagi warga sekitarnya. Seperti contoh yang terjadi di TPA bantar gebang, dengan adanya
TPA maka warga sekitarnya TPA menuai derita yang tiada berujung. Dampak, seperti Penyakit ISPA,
Gastritis, Mialgia, Anemia, Infeksi kulit, Kulit alergi, Asma, Rheumatik, Hipertensi, dan lain-lain
merupakan hasil penelitian di Bantar Gebang selama kawasaan tersebut dijadikan TPA.

Dengan adanya TPA tersebut juga dapat merusak lingkungan dan ekologi disekitarnya. beberapa
kerusakan lingkungan yang hingga kini tidak bisa ditanggulangi akibat sebuah kawasan ekologi dijadikan
TPA antara lain: pencemaran tanah dimana Kegiatan penimbunan sampah akan berdampak terhadap
kualitas tanah (fisik dan kimia) yang berada di lokasi TPST dan sekitarnya. Tanah yang semula bersih dari
sampah akan menjadi tanah yang bercampur dengan limbah/sampah, baik organik maupun anorganik
baik sampah rumah tangga maupun limbah industri dan rumah sakit. Tidak ada solusi yang konkrit
dalam pengelolaannya, maka potensi pencemaran tanah secara fisik akan berlangsung dalam kurun
waktu sangat lama.

2. Sistem Pengelolaan Sampah Dan Kebijakan Pemerintah.

Alam secara fisik dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia dalam mengupayakan kehidupan
yang lebih baik dan sehat menjadi tidak baik dan tidak sehat dan dapat pula sebaliknya, apabila
pemanfaatanya tidak sesuai dengan kemampuan serta melihat situasinya.Begitu pula dengan sampah,
dapat membuat hidup jadi tidak sehat. Karena itu sampah harus dapat diolah dengan baik agar tidak
menimbulkan berbagai penyakit.

Faktor internal yang tidak kalah pentingnya adalah masalah minimnya kualitas SDM yang berakibat fatal
pada buruknya teknologi pengelolaan sampah yang saat ini terbukti sudah tidak lagi mampu
menampung kuantitas sampah yang semakin besar. Penyebab utamanya adalah selama ini pengelolaan
sampah cenderung menggunakan pendekatan end of pipe solution, bukan mengacu pada pendekatan
sumber.

Kedua, faktor penyebab secara EKSTERNAL. Faktor penyebab eksternal yang paling klasik terdengar
adalah minimnya lahan TPA yang hingga saat ini memang menjadi kendala umum bagi kota-kota besar.
Akibatnya, sampah dari kota-kota besar ini sering dialokasikan ke daerah-daerah satelitnya seperti TPA
Jakarta yang berada di daerah Bekasi, Depok, dan Tangerang serta TPA Bandung yang berada di Cimahi
atau di Kabupaten Bandung. Alasan eksternal lainnya yang kini santer terdengar di media massa adalah
aksi penolakan keras dari warga sekitar TPA yang merasa sangat dirugikan dengan keberadaan TPA di
wilayahnya.Salah satu kelemahan pengelolaan sampah di TPA adalah masalah minimnya kualitas SDM
yang berakibat fatal pada buruknya teknologi pengelolaan sampah yang saat ini terbukti sudah tidak lagi
mampu menampung kuantitas sampah yang semakin besar. Penyebab utamanya adalah selama ini
pengelolaan sampah cenderung menggunakan pendekatan end of pipe solution, bukan mengacu pada
pendekatan sumber.

Secara umum, pemerintah daerah dalam menanggulangi masalah sampah seharusnya mempunyai
rencana pengelolaan lingkungan hidup yang baik bagi warga sekitar. Dimana dalam menyusun
pengelolaan lingkungan ada 3 faktor yang perlu diperhatikan dan tidak dapat dipisahkam yaitu:

a. Siapa yang akan melakukan pengelolaan lingkungan dan pengelolaan lingkungan apa yang harus
dilakukan

b. Sesuai dengan dampak yang diduga akan terjadi, maka akan ditetapkan cara pengelolaan yang
bagaimana yang akan dilakukan atau teknologi apa yang akan digunakan agar hasilnya sesuai dengan
baku mutu yang telah ditetapkan pemerintah

c. Karena berbagai institusi termasuk pemilik proyek yang akan melakukan pengelolaan lingkungan
hidup secara terpadu, maka teknologi yang akan digunakan tergantung pada kemampuan biaya yang
akan dikeluarkan, terutama kemampuan dari pemilik proyek sebagai sumber pencemar.

Permasalahan umum yang terjadi pada pengelolaan sampah kota di TPA , khususnya kota-kota besar
adalah adanya keterbatasan lahan, polusi, masalah sosial dan lain-lain. Karena itu pengelolaan sampah
di TPA harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

Memanfaatkan lahan yang terbatas dengan efektif

Memilih teknologi yang mudah, dan aman terhadap lingkungan

Memilih teknologi yang memberikan produk yang bisa dijual dan memberikan manfaat sebesar-
besarnya bagi masyarakat

Produk harus dapat terjual habis.

Karena itu, untuk memenuhi kriteria tersebut diatas, teknologi yang layak dalam pengelolaan sampah di
TPA bantar gebang dan untuk diterapkan adalah kombinasi dari berbagai teknologi serta penunjang
lainya yaitu :

Teknologi landfill untuk produksi kompos dan gas metan

Teknologi anaerobik komposting dranco untuk produksi gas metan dan kompos

Incinerator untuk membakar bahan anorganik yang tidak bermanfaat serta pengeringan kompos
Unit produksi tenaga listrik dari gas metan

Unit drainase dan pengolah air limbah

Dalam menangani masalah sampah dikota jakarta, pemerintah dalam hal ini membuat kebijakan-
kebijakan, dimana masalah sampah tersebut juga merupakan masalah lingkungan hidup. Permasalahan
lingkungan hidup merupakan masalah pemerintah dan juga masyarakat, namun perlu disadari untuk
semua hal yang berkaitan dengan jenis pencemaran (sampah) atau perusakan lingkungan telah dijadikan
permasalahan, dimana faktor penyebabnya antara lain:

Kurangnya kesadaran masyarakat.

Kurangnya masyarakat dalam melakukan tindakan.

Kurangnya pengetahuan masyarakat untuk menangani masalah lingkungan.

Keterbatasan sarana dan prasarana dari pemerintah.

Dengan mencermati permasalahan yang terjadi maka pemerintah mencoba berbagai terobosan yang
efektif dan efisien (tepat guna dan tepat sasaran). Sejauh ini, berbagai solusi terus-menerus diupayakan
meskipun dalam perkembangannya berbagai kendala kerapkali dijumpai. Solusi-solusi yang sejauh ini
telah diupayakan melalui sejumlah program kerja antara lain dalah pelaksanaan regionalisasi
pengelolaan sampah melalui program GBWMC (Great Bandung Waste Management). Terdapat 4 poin
dalam nota kesepahaman itu, yaitu :

pengelolaan sampah bersama secara terpadu di kawasan Bandung metropolitan

membentuk wadah yang mandiri dalam pengelolaan sampah terpadu

percepatan pembentukan wadah mandiri dengan membentuk tim perumus yang terdiri dari 5 wilayah
tersebut

nota kesepahaman ini berlaku hingga terbentuknya wadah yang mandiri tersebut

V. KESIMPULAN

Dalam tulisan ini dari uraian yang disampaikan diatas, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Dengan adanya tempat pembuangan sampah di suatu daerah, biasanya akan mempengaruhi
kesehatan dan lingkungan bagi warga sekitarnya, disamping itu juga mempengaruhi atau merusak
ekologi disekitarnya yang diantaranya adalah terjadinya pencemaran air, udara, tanah. Dan akibat dari
pencemaran tersebut warga sekitar mudah terserang penyakit.

2. Sistem pengelolaan sampah yang digunakan ini sudah ketinggalan zaman yang salah satunya
menggunakan landfill system dimana dalam sistem tersebut membutuhkan lahan yang luas untuk
sampah. Disamping itu pemerintah harus dapat membuat kebijakan baik internal maupun eksternal.
Faktor Internal dimana minimnya kesadaran warga untuk bertanggung jawab terhadap permasalahan
sampah di lingkungan rumah tangganya sendiri, rendahnya SDM. Sedangkan yang mempengaruhi faktor
eksternal adalah minimnya lahan pembuangan sampah serta tidak ketatnya pemerintah baik pusat
maupun daerah membuat aturan masalah sampah.

CONTOH KASUS AMDAL LUAR NEGRI(TUMPAHAN MINYAK KAPAL SHOWA MARU DAN GULF WAR OIL
SPILL)

Tragedi minyak tumpah memanglah sebuah kecelakaan serius, akibat dari kecelakaan minyak tumpah ini
bisa mencemari lingkungan darat dan laut dan mengancam banyak biota yang hidup di dalamnya, selain
itu juga bisa mempengaruhi rantai ekosistem yang ada di perairan tersebut. Tumpahan minyak terburuk
dalam sejarah, tumpahan minyak selama Perang Teluk memuntahkan 8 juta barel ke Teluk Persia
setelah pasukan Irak membuka katup sumur minyak dan jalur pipa saat mereka mundur dari Kuwait
pada tahun 1991. Ketebalan minyak yang mencemari lautan bisa mencapai 5 inchi sebanyak 1.360.000
sampai 1.500.000 ton minyak.

Air laut adalah suatu komponen yang berinteraksi dengan lingkungan daratan, di mana buangan limbah
dari daratan akan bermuara ke laut. Selain ituair laut juga sebagai tempat penerimaan polutan (bahan
cemar) yang jatuh dariatmosfir. Limbah tersebut yang mengandung polutan kemudian masuk ke
dalamekosistem perairan pantai dan laut. Sebagian larut dalam air, sebagian tenggelamke dasar dan
terkonsentrasi ke sedimen, dan sebagian masuk ke dalam jaringantubuh organisme laut (termasuk
fitoplankton, ikan, udang, cumi-cumi, kerang,rumput laut dan lain-lain). Kemudian, polutan tersebut
yang masuk ke air diseraplangsung oleh fitoplankton.

I. Dasar Hukum Pencemaran di Laut

A.Convention on the Prevention of Marine Pollution by Dumping of Wastes and Other Matter

atau yang lebih dikenal dengan London Dumping, adalahkonvensi Internasional yang ditandatangani
pada tanggal 29 Desember 1972 danmulai berlaku pada 30 Agustus 1975 adalah konvensi internasional
yangmerupakan perpanjangan dari isi pada Konvensi Stockholm. Konvensi ini padadasarnya secara garis
besar membahas tentang larangan
dilakukannya pembuangan limbah di lingkungan laut secara sengaja. Tujuan dari konvensi iniadalah
melindungi dan melestarikan lingkungan laut dari segala
bentuk pencemaran yang menimbulkan kewajiban bagi peserta protokol untuk mengambil langkah-
langkah yang efektif, baik secara sendiri atau bersama-sama,sesuai dengan kemampuan keilmuan,
teknik dan ekonomi mereka gunamencegah, menekan dan apabila mungkin menghentikan pencemaran
yangdiakibatkan oleh pembuangan atau pembakaran limbah atau bahan berbahayalainnya di laut.
Peserta protokol juga berkewajiban untuk menyelaraskankebijakan mereka satu sama lain.

B.International Convention for the Prevention of Pollution from Ships 1973/1978

Marpol adalah sebuah peraturan internasional yang bertujuan untuk mencegah terjadinya pencemaran
di laut. Setiap sistem dan peralatan yang ada dikapal yang bersifat menunjang peraturan ini harus
mendapat sertifikasi dari klas.Isi dalam marpol bukan melarang pembuangan zat-zat pencemar ke laut,
tetapi

mengatur cara pembuangannya. Agar dengan pembuangan tersebut laut tidak tercemar (rusak), dan
ekosistim laut tetap terjaga.Marpol memuat 6 (enam) Annexes yang berisi regulasi-
regulasi mengenai pencegahan polusi dari kapal terhadap :

1. Oil (Minyak)

2. Nixious Liquid Substance Carried in Bulk (cairan Nox berbentuk curah)

3. Harmful Substance in Packages Form (barang-barang berbahaya dalam kemasan)

4. Sewage (air kotor/air pembuangan)

5. Garbage (sampah)

6. - Air Pollution (polusi udara)

C.The International Convention on Oil Pollution Preparedness Response and Cooperation

Konvensi Internasional yang baru dikeluarkan oleh IMO mengenaikerjasama internasional untuk
menanggulangi pencemaran yang terjadi akibattumpahan minyak dan barang beracun yang berbahaya
telah disetujui olehdelegasi negara anggota IMO pada bulan Nopember 1990 dan diberlakukan
mulaitanggal 13 Mei 1995 karena sudah diterima oleh kurang lebih 15 negara anggota

.D.International Conventions on Civil Liability for Oil Pollution Damage (Civil Liability Convention) tahun
1969.
The CLC Convention aplikasinya pada kerusakan pencemaran minyak mentah (persistent oil) yang
tertumpah dan muatan kapal tangki. Konvensitersebut mencakup kerusakan pencemaran lokasi,
termasuk perairan negaraanggota konvensi, sementara untuk negara bendera kapal dan kebangsaan
pemilik kapal tangki tidak tercakup dalam lingkup aplikasi dari CLC Convention

E.United Nation Convention on the Law of the Sea

UNCLOS 1982 merupakan salah satu ketentuan yang mengatur masalahlaut terlengkap dan berhasil
disepakati oleh negara-negara. Hal ini terbukti sejak tahun 1994 UNCLOS 1982 mulai berlaku, pada
tahun 1999 telah diratifikasi oleh130 negara dan piagam ratifikasi telah didepositkan ke sekretariat
Jenderal PBBtermasuk Indonesia.

UNCLOS 1982, terdiri dari 17 bab 320 Pasal, secara isi UNCLOS 1982tersebut mengatur hal-hal yang
berkenaan dengan penggunaan istilah dan ruanglingkup, laut territorial, dan zona tambahan, selat yang
digunakan untuk pelayaraninternasional, negara kepulauan, ZEE, landas kontinen, laut lepas, laut
lepas,rezim pulau, laut territorial setengah tertutup, hak negara tak berpantai untuk masuk dalam dan
ke luar laut serta kebebasan melakukan transit,
kawasan, perlindungan dan pelestarian laut, riset ilmiah kelautan, pengembangan alihteknologi
kelautan, penyelesaian sengketa, dan bab ketentuan umum dan penutup

II. KESIMPULAN

Penyebab kasus pencemaran laut tersebut secara umum adalah transportasiminyak, pengeboran
minyak lepas pantai, pengilangan minyak dan pemakaian
bahan bakar produk minyak bumi. Laut yang tercemar oleh tumpahan minyak akan membawa pengaruh
negatif bagi berbagai organisme laut. Pencemaran air laut oleh minyak juga berdampak terhadap beber
apa jenis burung. Air yang bercampur minyak itu juga akanmengganggu organisme aquatik pantai,
seperti berbagai jenis ikan, terumbu karang, hutanmangrove dan rusaknya wisata pantai. Dan tentu saja,
pada akhirnya nelayan dan petani juga akan mengalami kerugian secara ekonomisDemikian makalah
yang saya buat mengenai pencemaran laut dilihat dari sudut pandang hukum.

Referensi :

http://hukum.kompasiana.com/2011/03/15/pengelolaan-sampah-dan-kebijakan-pemerintah-dalam-
penanggulangan-kasus-sampah-dki-jakarta-347652.html
http://allaboutchems.blogspot.com/2010/12/kecelakaan-minyak-tumpah-terparah-di.html

http://www.energitoday.com/2012/11/08/inilah-negara-yang-paling-tercemar-di-dunia/

http://ciptakarya.pu.go.id/index.php

Diposkan oleh diman saputra di 06.40

Kirimkan Ini lewat Email

BlogThis!

Berbagi ke Twitter

Berbagi ke Facebook

Bagikan ke Pinterest

1 komentar:

IBU.FATMA WATI10 Februari 2016 19.22

KISAH NYATA..............

Ass.Saya Ibu.fatma wati Dari Kota bandung Ingin Berbagi Cerita

dulunya saya pengusaha sukses harta banyak dan kedudukan tinggi tapi semenjak

saya ditipu oleh teman hampir semua aset saya habis,

saya sempat putus asa hampir bunuh diri,tapi saya buka

internet dan menemukan nomor Ki Dimas,saya beranikan diri untuk menghubungi beliau,saya dikasi
solusi,

awalnya saya ragu dan tidak percaya,tapi saya coba ikut ritual dari Ki Dimas alhamdulillah sekarang saya
dapat modal dan mulai merintis kembali usaha saya,

sekarang saya bisa bayar hutang2 saya di bank Mandiri dan BNI,terimah kasih Ki,mau seperti saya
silahkan hub Ki

Dimas Taat Pribadi di nmr 081340887779 Kiyai Dimas Taat Peribadi,ini nyata demi Allah kalau saya
bohong,indahnya berbagi,assalamu alaikum.VIDIO PESUGIHAN DANA GAIP KY DIMAS KANJENG
Pencemaran Lingkungan : Pencemaran Air, Udara dan Tanah

Advertisement

Pencemaran lingkungan merupakan masuknya zat, makhluk hidup atau energi lain ke dalam air atau
udara. Pencemaran juga bisa diartikan sebagai adanya perubahan komposisi pada media yang dicemari
misalnya saja tanah atau air atau udara yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti oleh manusia,
proses alam, dan lainnya yang mengakibatkan adanya penurunan kualitas media yang dicemari tersebut
sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya. Saat ini pencemaran yang terjadi di
muka bumi ini semakin tak terkendalikan terutama setelah masa revolusi industri dimana banyak pabrik
yang dibangun dan menyebabkan berbagai jenis polusi.

Oleh karena itu adanya pengendalian alam ini sangatlah diperlukan terutama pada pencemaran
lingkungan dengan cara menetapkan baku mutu limbah yang harus dibuang dilingkungan dan sesuai
dengan kadar tertentu. Pencemaran saat ini terjadi dimana saja terutama dalam lingkungan yang
berbasis industri atau pabrik dengan penduduk yang cukup padat sehingga tidak terelakan lagi
terjadinya pencemaran baik itu karena limbah industri maupun logam berat.

Jenis-jenis Pencemaran Lingkungan

Ada beberapa jenis pencemaran lingkungan saat ini yang perlu anda ketahui supaya anda bisa
mengendalikan pencemaran lingkungan ini, selengkapnya simak berikut ini.
Pencemaran Air

Pencemaran air adalah perubahan zat atau kandungan di dalam air baik itu air yang ada di sungai, danau
maupun air di lautan luas bahkan saat ini juga sudah terdapat pencemaran pada air tanah. Penyebab
dari pencemaran air ini lebih banyak diakibatkan oleh ulah manusia. Hal ini tentunya sangat berbahaya
jika dibiarkan saja dan tidak mendapatkan pencegahan karena air baik itu di dalam sungai, danau, laut
dan air tanah merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Ada berbagai fungsi dari air yang sangat
membantu kehidupan manusia karena selain bisa menjadi sumber dari kehidupan juga mampu
membungan segala sedimen dan juga polutan.

Ada berbagai fungsi air di dunia ini diantaranya meliputi sebagai bahan baku air minum, untuk
digunakan sebagai irigasi pertanian dan perkebunan, saluran pembuangan air limbah dan juga fungsi air
hujan serta mampu menjadikan alternatif objek wisata. Air juga bisa mengalami perubahan zat di
dalamnya seperti halnya jika terjadinya fenomena alam seperti gunung meletus, penyebab banjir,
kekeringan dan lainnya namun ini tidaklah menjadikan sebagai penyebab dari pencemaran air karena
lebih difokuskan pada apa yang diperbuat oleh manusia sehingga menyebabkan pencemaran air ini.

Jumlah fenomena pencemaran air ini saat ini sudah terjadi dimana saja dan sudah dalam masa yang
kritis karena mungkin hampir separuh perairan di bumi mengalami pencemaran. Hal ini membuat
peraturan mengenai pencemaran ini memerlukan tindakan evaluasi kebijakan baik bagi korporasi besar,
maupun hingga tahap individu. Hal ini sangatlah penting mengingat bahwa banyak kasus penularan
penyakit terjadi melalui air dan sudah menyebabkan banyak korban jiwa.

Contoh Pencemaran air

Sebagai contoh adalah apa yang terjadi di india dimana negara ini memiliki tingkat kepadatan penduduk
tinggi dan sanitasi yang kurang memadai. Setidaknya terdapat 700.000 orang yang tidak memiliki akses
menuju toilet dan diperkirakan 1000 anak meninggal dunia karena diare setiap harinya. Begitu pula
dengan negara lainnya yang padat penduduk namun kesadaran akan kebersihannya masih kurang.
Tercatat setidaknya 14.000 orang meninggal dunia karena penyakit yang ditularkan melalui air di seluruh
dunia. jumlah ini tentunya sangatlah fantastis dan bisa jadi terus bertambah jika tidak segera dilakukan
pencegahan dari pencemaran air ini.
Air akan dikatakan mengalami pencemaran jika sudah tercemar oleh kontaminamin organic yang tidak
bisa mendukung apa yang menjadi sumber kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya terutama di
dalam air seperti ikan. Akibatnya ekologi air akan mengalami gangguan dan jika ini terjadi maka bisa
menyebabkan anomaly fenomena yang tidak biasanya terjadi.

Penyebab Pencemaran Air

Adanya pencemaran air ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah seperti yang berikut
ini:

Adanya peningkatan kandungan nutrient yang terjadi pada air sehingga mengarah pada adanya
esutrofikasi

Adanya pembuangan sampah organic yang biasanya dihasilkan oleh limbah rumah tangga seperti halnya
air comberan yang dibuang begitu saja ke air dapat membuat oksigen di dalam air menjadi berkurang
dan terganggu sehingga makhluk hidup air juga akan mengalami gangguan pada kehidupannya serta
ruang publik untuk kehidupan. Jika ini terus berlanjut maka akan dapat menyebabkan kerusakan
ekosistem air.

Industri yang membuang limbahnya secara sembarangan ke dalam air padahal di dalam limbah tersebut
terdapat berbagai zat kimia yang sangat berbahaya seperti logam berat, minyak, nutrein, limbah organic
dan juga padatan. Seperti halnya pada limbah rumah tangga, limbah industri ini juga memiliki efek
termal yaitu mampu menghilangkan oksigen di dalam air yang mampu merusak ekosistem air. Selain itu
jika air sudah bercampur dengan limbah zat kimia maka tidak bisa digunakan lagi oleh semua makhluk
hidup termasuk manusia karena sudah tidak aman lagi dan memiliki racun di dalamnya.

Sampah buangan baik dari rumah tangga atau industri yang menyebabkan terjadinya pencemaran air.

Adanya penggunaan bahan peledak seperti bom untuk membunuh ikan yang banyak dilakukan oleh
para nelayan juga mampu menimbulkan terjadinya pencemaran air.

Akibat Pencemaran Air

Akibat dari adanya pencemaran air ini diantaranya adalah sebagai berikut ini:

Pencemaran dapat menyebabkan banjir


Pencemaran air juga dapat menyebabkan erosi tanah serta media lainnya yang sangat berbahaya bagi
kehidupan manusia

Terjadinya kelangkaan air karena air sudah mengalami pencemaran dan tidak dapat digunakan lagi
nantinya

Merupakan salah satu sumber penyakit bagi kehidupan makhluk hidup

Pencemaran air juga dapat menyebabkan penyebab tanah longsor

Selain itu pencemaran air juga bisa menyebabkan rusaknya ekosistem sungai dan perairan lain terutama
jika terdapat kandungan logam berat dan bahan kimia yang terdapat di dalam perairan tersebut.

Menyebutkan kerugian untuk para nelayan dan berbagai profesi yang berhubungan dengan air.

Pencemaran Udara

sponsored links

Jenis pencemaran lingkungan lainnya adalah pencemara udara. Pencemaran udara merupakan suatu
kondisi dimaa terdapat berbagai substansi zat baik itu fisik, kimia dan juga biologi yang terdapat di
dalam lapisan atmosfer bumi. Jika jumlah substansi tersebut melebihi batas maka bisa menyebabkan
bahaya bagi para makhluk hidup di dalamnya serta dapat mengaggu estetika dan kenyamanan
kehidupan di muka bumi ini.

Penyebab pencemaran udara ini berbeda-beda baik oleh kegiatan manusia atau memang sebuah
fenomena alam. Berbagai jenis pencemaran udara misalnya adalah polusi cahaya, panas radiasi dan
polusi suara. Area terjadinya pencemaran udara ini bisa dalam kisaran regional lokal hingga pada global.
Pencemaran udara dapat terjadi dalam sebuah ruangan tertutup maupun dalam area yang terbuka.

Sumber Pencemaran Udara

Dalam pencemaran udara dapat dibedakan sumbernya menjadi pencemar primer dan juga pencemar
sekunder. Sesuatu akan dikatakan sebagai pencemar primer jika terjadi secara langsung mencemari
udara yang ada. Yang paling banyak dalam kasus ini adalah zat karbon monoksida yang merupakan hasil
dari proses pembakaran limbah yang tidak ramah lingkungan. Sedangkan untuk jenis pencemar
sekunder merupakan hasil dari turunan pencemar primer yang sudah ada di dalam atmosfer. Untuk hal
ini misalnya saja dalam pembentukan ozon karena smog fotokimia.
Adapun sumber pencemaran udara lainnya yang menjadi penyebab pencemaran udaa diantaranya
adalah sebagai berikut ini:

Aktivitas manusia hal ini meliputi transportasi, adanya berbagai pabrik dan industri yang membuang
gas buang atau asapnya secara sembarangan dan tidak melalui mekanisme yang seharusnya, karena
pembangit listrik, dari alat pembakaran baik dalam skala besar atau kecil seperti kompor, tungku,
frunance dan lainnya dan gas buang yang dimiliki oleh pabrik terutama yang menganudung CFC di
dalamnya.

Sumber alami pencemaran udara yang terjadi ini dikarenakan oleh sumber alami dari fenomena alam
seperti adanya letusan gunung berapi, rawa-rawa, terjadinya kebakaran hutan pada musim kemarau
dan juga denitrifikasi serta dalam kondisi tertentu pada tumbuhan mampu menghasilkan volatile
organic yang bisa menjadi polutan di dalam udara.

Sumber lain pencemaran udara juga bisa terjadi karena berbagai sumber lainnya diantaranya adalah
karena kebocoran tangki gas yang disebabkan karena kelalaian manusia, adanya transportasi yang
meningkat jumlanya, karena uap pelarut organic dan juga dari gas metana yang berasal dari tempat
pembuangan sampah akhir.

Jenis-jenis Polutan Penyebab Pencemaran Udara

Karbon monoksida dari hasil pembakaran sampah

Karena zat oksida sulfur

Gas CFC yang biasanya terdapat di dalam gas buangan akhir pabrik dan industri

Hidrokarbon

Adanya senyawa organic vaolatil di dalam tumbuhan yang mampu menjadi polutan pada atmosfer udara

Partikulat

Radikal bebas

Oksida nitrogen

Dampak Pencemaran Udara

1. Dampak pada kesehatan


Adanya berbagai kandungan zat di dalam udara yang tercemar dapat masuk ke dalam tubuh melalui
oksigen yang dihirup oleh saluran pernafasan. Besar atau kecilnya zat yang masuk ke dalam tubuh akan
tergantung pada ukuran polutan itu sendiri. Jadi untuk partikel polutan yang ukurannya cukup besar
kemungkinan hanya sampai pada bagian pernafasan atas sedangkan untuk partikel polutan yang
ukurannya cukup kecil bisa masuk sampai ke dalam sistem pernafasan paling bawah. Karena masuk ke
dalam sistem pernafasan maka nantinya juga akan masuk ke dalam peredaran darah dan terdistribusi ke
seluruh bagian tubuh.

Jenis penyakit yang paling umum dialami akibat dari adanya pencemaran udara ini adalah penyakit ISPA
(Infeksi saluran pernafasan akut) dan juga berbagai jenis penyakit yang mencangkup pernafasan
misalnya saja bronchitis, paru-paru basah, asma dan juga penyakit lainnya yang cukup serius. Di
Indonesia sendiri, daerah yang paling terkenal dengan adanya pencemaran udara adalah di ibukota
Jakarta karena merupakan sentra industri dan juga padatnya penduduk.

2. Dampak pada tanaman

Bukan hanya manusia saja yang akan mengalami dampak dari adanya pencemaran udara ini namun juga
bagi tanaman. Tanaman yang tumbuh pada daerah yang sangat rawan akan pencemaran udara dapat
mengalami mutasi gen dan menyebabkan tumbuh tidak efektif serta memiliki banyak penyakit dan
ganguan di dalamnya. berbagai gangguan di dalam tanaman misalnya terdapat bintik hitam, nekrosis,
klorosis. Adanya partikel polutan ini mampu membuat proses fotosintesis pada tanaman.

3. Hujan asam

Dampak lainnya yang disebabkan oleh pencemaran udara adalah proses terjadinya hujan asam atau acid
rain. Ph air hujan yang biasanya stabil dapat mengalami penurunan karena hasil reaksi dari air hujan dan
juga beberapa zat yang termasuk dalam penyebab pencemaran udara. Adapun dampak dari adanya
hujan asam ini adalah sebagai berikut:

Mempengaruhi kualitas air hujan dan mengkontaminasi air yang ada di permukaan bumi

Dapat merusak tanaman karena air yang sangat asam

Hujan asam ini juga mampu melarutkan logam berat yang ada di dalam tanah sehingga logam tersebut
akan larut pada air tanah dan ini akan sangat berbahaya.
Mampu merusak bangunan terutama yang terbuat dari tembaga, besi, alumunium karena memiliki sifat
yang korosif.

4. Efek rumah kaca

Dampak dari adanya pencemaran udara juga bisa menyebakan efek rumah kaca. Adanya proses
terjadinya efek rumah kaca ini karena banyaknya jumlah CO2, CFC, ozon, metana, dan N2O yang
terdapat di lapisan atmosfer troposfer dimana lapisan ini adalah yang menyerap sinar ultarvolet dan
memantulkan cahaya matahari kembali dari bumi dan jika lapisan ini rusak maka panas matahari akan
terperangkap di dalam bumi sehingga menjadi penyebab pemanasan global. Adapun dampak dari
adanya efek rumah kaca adalah sebagai berikut:

Terjadinya peningkatan suhu rata-rata di dalam bumi

Terjadinya pencairan es di daerah kutub baik selatan maupun utara

Adanya perubahan iklim global

Siklus kehidupan flora dan fauna juga mengalami perubahan

5. Kerusakan lapisan ozon

Lapisan ozon merupakan lapisan yang berada di atmosfer lapisan stratosfer. Lapisan ozon ini merupakan
pelindung alami di bumi karena mampu menyaring sinar ultraviolet yang berbahaya bagi tubuh. apabila
terjadi kerusakan pada lapisan ozon ini maka bisa menyebabkan bumi menjadi lebih panas dan
menyebabkan kehidupan di bumi menjadi terancam.

Sponsors Link

Pencemaran Tanah

Jenis pencemaran lingkungan yang ke tiga adalah pencemaran tanah, dimana pencemaran ini terjadi
karena adanya zat atau bahan kimia yang ada di dalam tanah dan biasanya terjadi karena hasil dari ulah
manusia sehingga mengubah struktur dan kandungan tanah yang masih alami. Ada banyak hal yang
membuat bahan kimia ini masuk ke dalam tanah misalnya saja kebocoran limbah kimia cair hasil dari
pabrik industri tertentu, adanya penggunaan pestisida pada tanaman yang masuk ke dalam lapisan
tanah, adanya kecelakaan pengendara yang mengangkut minyak sehingga bahan kimia yang ada di
dalam minyak tumpah ke dalam tanah, serta pembuangan sampah yang langsung ditimbun ke dalam
tanah tanpa dilakukan penguraian dulu sebelumnya.

Nah, saat zat kimia sudah masuk ke dalam tanah maka zat tersebut dapat masuk ke dalam tanah yang
lebih dalam dan mencemari air tanah, dapat menguap ke udara dan juga dapat tersapu oleh air hujan
sehingga mampu menimbulkan berbagai pencemaran lainnya. zat kimia ini tentunya sangat berbahaya
bagi makhluk hidup yang mengalami paparannya termasuk manusia, tumbuhan dan hewan. Adanya
paparan yang terjadi secara terus menerus dapat mengakibatkan berbagai jenis penykit termasuk
leukemia dan penyakit serius lainnya.

Dampak pencemaran tanah

dampak dari adanya pencemaran tanah terutama sangat dirasakan pada kesehatan. Dan dampak ini
akan tergantung pada seberapa kuat bahan kimia yang ada di dalam tanah sebagai penyebab
pencemaran tanah. Contoh bahan kimia yang mampu menganggu kesehatan antara lain adalah berikut
ini:

timbale sangat tidak baik dan sangat berbahaya bagi kesehatan otak bagi manusia dan juga masalah
pada ginjal.

Selain timbale ada juga bahan kuri yang juga sangat tidak baik bagi ksehetan tubuh serta bahan lainnya
yang bahkan tidak bisa diobati. Jadi pencemaran dalam tanah ini sangatlah berbahaya.

Kromium, merupakan salah satu zat kimia yang sangat berbahaya bagi semua populasi makhluk hidup
bukan hanya berbahaya bagi manusia saja.

Siklodenia dan PCB, mampu memicu terjadinya kerusakan pada organ hati

Organofostfat, zat ini mampu menyebabkan kerusakan pada saraf otot

Klroin, mampu menyebabkan gangguan pada hati, ginjal serta saraf pusat di dalam otak

Itulah beberapa bahan kimia yang mampu merusak berbagai fungsi organ di dalam tubuh baik bagian
luar maupun dalam tubuh. namun gangguan ini akan tergantung pada seberapa besar jumlah paparan
zat kimia dan seberapa lama paparan tersebut terjadi di dalam tubuh. semakin lama dan semakin besar
jumlah paparannya maka resiko untuk mendapatkan berbagai gangguan penyakit akan semakin banyak
dan sebaliknya.
Dampak pada ekosistem

Pencemaran tanah juga dapat menyebabkan kerusakan pada ekosistem yang ada. Hal ini disebabkan
tanah sangat mudah mengalami perubahan zat kimiawai di dalamnya walaupun hanya mengalami
pencemaran yang sedikit saja dan ini membuat terjadinya perubahan metabolisme di dalam makhluk
hidup di dalam ekosistem tersebut sehingga secara otomatis ekosistem juga akan mengalami perubahan
di dalam ekosistem tersebut. Akibat adanya perubahan dalam ekosistem ini juga bisa membuat
beberapa rantai makanan punah sehingga keberlangsungan ekosistem pun harus dipertanyakan.

Bahkan jika di dalam rantai makanan pada golongan piramida bawah sudah mengalami pencemaran di
dalam tubuhnya maka akan bisa menular pada golongan rantai makanan yang berada di atas sehingga
keseluruhan rantai makanan dapat rusak. Pada kasus ini sebagai contoh adalah cangkang telur yang
mudah retak serta terjadinya kematian masal pada anakan sehingga tidak muncul bibit pengganti lagi.

Dampak pada pertanian

Dampak pada pertanian mengenai pencemaran tanah ini biasanya akan langsung terlihat pada kualitas
tanaman. Biasanya metabolisme tanaman akan menurun dan menjadikan berbagai gangguan di
dalamnya sehingga menyebabkan gagal panen. Selain itu, di dalam tanaman juga sangat mungkin
terkena zat kimia sehingga tanaman tersebut sudah tidak layak konsumsi lagi.

Penanganan Pencemaran Tanah

Remidiasi Remidiasi merupakan cara untuk membersihkan permukaan tanah yang mengalami
pencemaran tanah. Ada dua jenis dari remidiasi ini yaitu in situ dan ex-situ. Pembersihan dengan cara in-
situ dilakukan dengan membersihkan lokasi secara langsung sedangkan untuk pembersihan ex-situ
dilakukan dengan cara penggalian pada tanah yang terkena cemaran dan memindahkannya ke tempat
lain yang lebih aman.

Bioremidiasi Cara lain yang dilakukan untuk melakukan penanganan pencemaran tanah adalah dengan
bioremidiasi. Cara ini dilakukan dengan cara memberikan mikroorganisme seperti jamur dan bakteri
untuk mengurai zat kimia yang ada di dalam tanah. Cara ini mungkin memang lebih lama namun cukup
efektif selama ini.
Itulah informasi mengenai pencemaran lingkungan. Melihat bahwa banyak sekali dampak negatif dari
pencemaran lingkungan ini maka lebih baik untuk tidak membuat hal yang menuju pada pencemaran
lingkingan karena sangat merugikan semua pihak. Terima kasih.