Anda di halaman 1dari 25

PENELITIAN KESEHATAN LAPORAN HASIL PENELITIAN KESEHATAN

STUDI PEMANFAATAN PELAYANAN POLIKLINIK MAHASISWA D-lll


KEBIDANAN PUSKESMAS KOTA TERNATE DI KELURAHAN STADION
KECAMATAN KOTA TERNATE TENGAH MALUKU UTARA

Oleh : MARLINDA

ABSTRAK
Upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan berupa
puskesmas yang sudah hampir merata diseluruh kecamatan dimana minimal terdapat satu
puskesmas disetiap kecamatan. Upaya pemeritah ini ternyata tidak dibarengi dengan
peningkatan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Berdasarkan laporan tahunan puskesmas pada
Dinas Kesehatan Kota Ternate bahwa angka kunjungan puskesmas perhari buka masih sangat
rendah yaitu 48,5 kunjungan bila dibandingkan dengan rata rata angka kunjungan puskesmas
perhari buka secara nasional yaitu 83 kunjungan. (Profil kesehatan Kota Ternate Tahun 2017).
Jenis penelitian yang digunakan adalah survey deskriptif yaitu penelitian yang diarahkan untuk
mendeskripsikan atau menguraikan suatu keadaan di dalam suatu komunitas atau masyarakat.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Tingkat pemanfaatan puskesmas ditinjau dari segi
pengetahuan responden di dapatkan bahwa dari 53 responden (55, 2 %) yang memanfaatkan
pelayanan puskesmas, terdapat 36 responden (37, 5 %) yang mempunyai pengetahuan cukup
dan sebanyak 17 responden (17, 70%) yang mempunyai pengetahuan kurang. Sedangkan dari
43 responden (44, 79 %) yang kurang memanfaatkan pelayanan puskesmas, terdapat 18
responden (18, 75 %) yang mempunyai pengetahuan cukup dan sebanyak 25 responden (26,
04) yang mempunyai pengetahuan kurang. Tingkat pemanfaatan puskesmas ditinjau dari sikap
petugas di dapatkan bahwa dari 53 responden (59, 37 %) yang memanfaatkan pelayanan
puskesmas, terdapat 24 responden (25 %) menyatakan setuju dengan sikap petugas dan
sebanyak 33 responden ( 34, 37 % ) menyatakan tidak setuju dengan sikap petugas. Sedangkan
dari 43 responden (40, 61 %) yang kurang memanfaatkan pelayanan puskesmas, terdapat 17
responden (17, 70 %) menyatakan setuju dengan sikap petugas dan sebanyak 22 responden (22,
91) menyatakan tidak setuju dengan sikap petugas. Tingkat pemanfaatan puskesmas ditinjau
dari jarak tempat tinggal responden di dapatkan bahwa dari 53 responden (55, 2 %) yang
memanfaatkan pelayanan puskesmas, terdapat 26 responden (27, 08 %) mempunyai jarak
tempat tinggal dekat dengan puskesmas dan sebanyak 27 responden ( 28, 12 % ) mempunyai
jarak tempat tinggal dekat dengan puskesmas. Sedangkan dari 43 responden (44, 79 %) yang
kurang memanfaatkan pelayanan puskesmas, terdapat 18 (18, 75 %) mempunyai jarak tempat
tinggal jauh sebanyak 25 responden ( 26, 04 % ) mempunyai jarak tempat tinggal jauh dengan
puskesmas. Tingkat pemanfaatan puskesmas ditinjau dari preferensi dengan puskesmas di
dapatkan bahwa dari 53 responden (55, 2 %) yang memanfaatkan pelayanan puskesmas,
terdapat 34 responden (35, 41 %) mempunyai preferensi cukup dan sebanyak 19 responden
(19, 79 %) mempunyai preverensi kurang. Sedangkan dari 43 responden (44, 79 %) yang
kurang memanfaatkan pelayanan puskesmas, terdapat 25 (26, 04 %) preferensi cukup dan
sebanyak 18 responden (18, 75 %) mempunyai preferensi kurang. Berdasarkan hasil penelitian
maka disarankan agar Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang puskesmas dan
mengetahui manfaat dari setiap kegiatan yang dilakukan di puskesmas pelayanan puskesmas
perlu ditingkatkan melalui penyuluhan / promosi kesehatan. Sebaiknya petugas dalam
memberikan pelayanan lebih perhatian dan komunikatif kepada pasien serta lebih
mendahulukan pelayanan terhadap pasien. Kepada penentu kebijakan di Dinkes Kota Ternate
diharapkan dapat memberikan pengarahan pada petugas agar lebih meningkatkan prestasi kerja
sehingga kepuasan terhadap pelayanan di poliklinik mahasiswa D-III KEBIDANAN lebih di
tingkatkan mutu pelayanannya.

Kata Kunci : Pemanfaatan Poliklinik Bagi Mahasiswa D-III Kebidanan

A. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Menurut Widodo bahwa puskesmas masih banyak menghadapi masalah
kinerja dan masalah dasar yang lain yaitu pada umumnya puskesmas mempunyai citra
yang kurang baik dimata masyarakat terutama berkaitan dengan penampilan fisik serta
disiplin dan keramahan tenaga dalam memberikan pelayanan. Meskipun jangkauan
pelayanan sudah hampir merata diseluruh pelosok, namun cakupan pelayanannya
masih rendah, dan ironisnya dengan tarif yang sangat rendahpun penduduk belum
mampu memanfaatkan puskesmas secara optimal (Widodo, 2001 ). Keluhan terhadap
pelayanan kesehatan sering terdengar secara lansung maupun melalui media massa.
Biasanya yang menjadi sasaran adalah sikap atau tindakan baik dokter maupun para
medis. Demikian pula keluhan pada sarana kelambanan pelayanan kesehatan,
persediaan obat dan lain lain. ( Azwar, 1999 ). Berdasarkan kenyataan kenyataan
diatas, tampak bahwa pencarian pengobatan oleh masyarakat sangat terkait atau
dipengaruhi oleh faktor pengetahuan, sikap dan persepsi masyarakat terhadap jenis jasa
pelayanan yang ada. Selain itu faktor jarak, kemampuan biaya dan kepuasan
masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan oleh pelayanan kesehatan tersebut
seperti pelayanan dari puskesmas.

I.2. RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan permasalahan pada latar belakang, maka rumusan masalah pada
penelitian ini adalah bagaimana gambaran pemanfaatan pelayanan poliklinik
mahasiswa D-III KEBIDANAN di Puskesmas kota di Kelurahan Stadion Kecamatan
Kota Ternate Tengah di Provinsi Maluku Utara tahun 2017, di lihat dari pengetahuan
responden, sikap petugas, jarak tempat tinggal, dan preferensi
B. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Umum Tentang Pemanfaatan Menurut Muhammad Ali dalam kamus
bahasa indonesia (1997) bahwa pemanfaatan berasal dari kata manfaat yang
berarti bahwa melakukan sesuatu pekerjaan yang memberikan pengaruh untuk
mendatangkan perubahan. World Health Organization (WHO) menyebutkan
bahwa faktor prilaku yang mempengaruhi masyarakat dalam penggunaan
pelayanan kesehatan adalah :
1) Pemikiran dan perasaan ( Thoughts and feeling ), yakni dalam bentuk
pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan dan penilaian penilaian seseorang
terhadap obyek (dalam hal ini obyek kesehatan )
2) Orang penting sebagai referensi ( personal reference ), yakni prilaku sesorang
itu lebih banyak dipengaruhi oleh seseorang yang dianggap
penting/berpengaruh besar terhadap dorongan penggunaan pelayanan
kesehatan.
3) Sumber sumber daya ( resuorces ), yakni mencakup fasilitas, uang, waktu,
tenaga dan sebagainya, semua itu berpengaruh terhadap prilaku seseorang
atau kelompok masyarakat baik positf maupun negatif.
4) Kebudayaan ( culture ) yakni norma norma yang ada dimasyarakat dalam
kaitannya dengan konsep sehat dan sakit.
2.2. Tinjauan Umum Tentang Pelayanan Secara Umum
Tentang Pelayanan Kesehatan Secara umum yang diamaksud dengan pelayanan
kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan secara bersama sama dalam
suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan, mencegah
dan mengobati penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, kelompok,
keluarga dan ataupun masyarakat (Azwar Azrul, 1996 ). Adapun syarat syarat
pokok dari pelayanan kesehatan adalah sebagai berikut ( Azwar Azrul, 1996 ) :
1) Tersedia dan berkesinambungan, artinya semua jenis pelayanan yang
dibutuhkan oleh masyarakat tidak sulit ditemukan, serta keberadaannya dalam
masyarakat adalah setiap saat dibutuhkan.
2) Dapat diterima dengan wajar, artinya pelayanan kesehatan tersebut tidak
bertentangan dengan keyakinan dan kepercayaan masyarakat.
3) Mudah dicapai yakni dipandang dari sudut lokasi, artinya pengaturan distribusi
sarana kesehatan tidak hanya terkonsentrasi di daerah perkotaan saja melainkan
juga di temukan di daerah pedesaan.
4) Mudah dijangkau yakni dipandang dari sudut biaya yang artinya biaya
pelayanan kesehatan tersebut sesuai dengan kemampuan ekonomi masyarakat.
5) Bermutu artinya yang menunjukan pada tingkat kesempurnaan pelayanan
kesehatan yang diselenggarakan, yang satu pihak dapat memuaskan para
pemakai jasa layanan dan pihak lain tata cara penyelenggaraan sesuatu dengan
kode etik serta standar yang telah ditetapkan

2.3. Tinjauan Umum Tentang Pengetahuan, Sikap Petugas, Jarak Tempat


Tinggal Dengan Puskesmas, Dan Preferensi.
1. Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek. Proses melihat, menyaksikan, mengalami atau
diajar sangat menentukan terjadinya pengetahuan pada seseorang.
Pengetahuan menurut bloom merupakan bagian dari cognitive domain yaitu
bagaimana terjadinya proses menjadi tahu, yang terdiri dari 6 ( enam ) tingkatan
penerimaan terhadap suatu inivasi, yaitu :
1) Tahu ( Know ) Seseorang hanya mampu menjelaskan garis besar apa yang telah
dipelajari
2) Memahami ( Comprehension ) Seseorang berada pada tingkat pengetahuan
dasar dan dapat menerangkan kembali secara mendasar ilmu pengetahuan yang
telah dipelajari.
3) Aplikasi ( Application ) Seseorang telah mempunyai pengetahuan untuk
menggunakan apa yang telah terjadi dari suatu situasi ke situasi yang lain.
4) Analisis ( Analisis ) Seseorang telah mampu menerangkan bagian bagian dan
dapat menyusun suatu bentuk pengetahuan tertentu serta dapat menganalisis
hubungan satu dengan lainnya.
5) Sintesis ( Synthesis ) Seseorang telah mampu menganalisa dan menyusun
kembali pengetahuan yang diperolehnya berbentuk semula atau bentuk lain.
6) Evaluasi ( Evaluation ) Merupakan bentuk pengetahuan tertinggi, telah ada
kemampuan untuk mengevaluasi sesuatu kriteria yang telah ditentukan (
Ngatimin, 1987 ).
2. Sikap Petugas
Sikap petugas berkaitan dengan interaksi antara petugas kesehatan dan pasien.
Hubungan antara manusia yang baik menanamkan kepercayaan dan kredibilitas
dengan cara menghargai yang dapt dilihat melalui penerimaan, kepercayaan,
empati, menjaga rahasia, menghormati dan responsife serta memberikan perhatian
terhadap pasien. (Wijono, 1999 ).
Mendengarkan keluhan dan berkomunikasi secara efektif juga penting. Dalam
berkomunikasi orang berusaha menyampaikan pandangan, perasaan dan
harapannya kepada orang lain. Hubungan antar manusia yang baik akan
mempunyai andil yang besar dalam konseling yang efektif. Hubungan antar
manusia yang kurang baik akan mengurangi efektifitas dan kompetensi teknis
pelayanan kesehatan. ( Wijono, 1999 ) jarak Tempat Tinggal Dengan Puskesmas.
Pelayanan kesehatan yang terlalu jauh lokasinya denga tempat tinggal baik jarak
secara fisik maupun secara psikologis tentu tidak mudah dicapai. Jarak dapat
mempengaruhi frekwensi kunjungan ditempat pelayanan kesehatan, makin dekat
tempat tinggal dengan pelayanan kesehatan makin besar jumlah kunjungan dipusat
pelayanan tersebut, begitu pula sebaliknya. Makin jauh jarak rumah dengan tempat
pelayanan kesehatan makin kecil pula jumlah kunjungan ke pusat pelayanan
kesehatan tersebut. ( Azwar , 1996 ).
Menurut Amran Razak ( 2000 ) bahwa jarak untuk memanfaatkan pelayanan
kesehatan dapat di bagi dalam tiga kelompok yaitu : jarak dekat bila di hitung
dalam radius kilometer sejauh kurang dari 1 km, sedang bila di hitung dalam radius
kilometer sejauh 1 4 km dan jaraknya jauh bila di hitung dalam radius kilometer
lebih dari 4 km. Terkadang karena faktor jarak yang jauh dengan tempat
pelayanan kesehatan yang sudah barang tentu membutuhkan biaya transport ( biaya
tambahan ) yang dapat mempengaruhi keputusan untuk memanfaatkan pelayanan
kesehatan tersebut. Keputusan untuk menggunakan pelayanan kesehatan
mencerminkan normatif dan kebutuhan yang dirasakan, karena untuk keputusan
konsumsi dalam sektor kesehatan, konsumen sering tergantung pada informasi
yang disediakan oleh pemasok ditambah preferensinya.

2.1 Tinjauan Umum Tentang Preferensi Preferensi masyarakat terhadap pelayanan


pengobatan
puskesmas adalah kecenderungan masyarakat untuk memilih puskesmas sebagai
sarana pelayanan pengobatan.

Menurut Lilien, Kotler dan Moriarthy (1995) dan Kother (2000), ada lima langka
yang harus dilalui sampai konsumen membentuk preferensi adalah:

1) Diasumsikan bahwa konsumen melihat produk sebagai sekumpulan atribut atau


multi atribut.
2) Tingkat kepentingan atribut produk, dimana costumer memiliki penekanan yang
berbeda-beda dalam menilai atribut apa yang paling penting.
3) Konsumen mengembangkan sejumlah kepercayaan tentang letak produk pada
setiap atribut.
4) Melakukan evaluasi atribut utama produk.
5) Konsumen akan sampai pada sikap terhadap mereka yang berbeda melalui
prosedur evaluasi terhadap produk atau disebut juga preferensi terhadap
mereka.

Informasi tentang preferensi konsumen sangat penting artinya, dan menurut Stanton
(1994), bahwa dewasa ini seiring dengan globalisasi dan perkembangan ilmu
pengetahuan dibidang consumer research, informasi bukan lagi sekedar input, tetapi
sudah menjadi aset dan alat pemasaran dari sebuah organisasi.

Ada empat faktor yang menyebabkan pentingnya informasi bagi sebuah organisasi
yaitu:

Tekanan persaingan, agar kompetitif sebuah organisasi harus mengembangkan dan


memasarkan produk baru lebih cepat dari para pesaingnya.
Pasar yang tumbuh, sehingga kegiatan pemasaran semakin kompleks dan luas
konteksnya karena semakin banyaknya pesaing yang beroperasi baik pada pasar
domestic maupun luar Negeri.
Harga sebuah kesalahan, dengan meluncurkan produk baru membutuhkan biaya
tinggi dan juga mempertaruhkan reputasi organisasi. Kegagalan produk yang
menyebabkan bencana.
Harapan konsumen yang meningkat, karena kebutuhan dan keinginan konsumen
selalu berubah dan semakin spesifik oleh karenanya kegagalan mempunyai
informsi konsumen dapat menyebabkan kegagalan menerapkan rencana pemasar
an. Menurut hasil Penelitian Razak (2000) pada masyarakat pesisir, bahwa
preferensi (selera) masyarakat pesisir dalam memilih pelayanan kesehatan yang
tersedia sangat bervariasi. Kesimpulan yang didapat adalah yang memilih
pengobatan sendiri sebanyak 23,7 %, dukun tradisional ada 9,7 %, para medis
sebesar 25,0 % dan pelayanan medis sebanyak 27,3 %. Preferensi pengobatan
sendiri ternyata hampir menyamai pelayanan medis dan non medis.

2.2.Tinjauan Umum Tentang Puskesmas


1) Batasan Puskesmas
Puskesmas adalah unit pelaksana pembangunan kesehatan di
wilayah kecamatan. Yang dimaksud dengan unit pelaksana adalah unit
pelaksana teknis Dinas yang selanjutnya disebut UPTD, yakni unit
organisasi dilingkungan Dinas Kabupaten / Kota yang melaksanakan tugas
teknis operasional.
Yang dimaksud dengan pembangunan kesehatan adalah
penyelenggaraan upaya kesehatan untuk meningkatkan kesehatan,
kesadaran dan kemauan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat
mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.

2). Azas Puskesmas Ada 4 azas Puskesmas yang harus diikuti oleh
Puskesmas:

Azas Pertanggung jawaban wilayah Puskesmas harus bertanggung


jawab atas pembangunan kesehatan diwilayah kerjanya.Artinya bila
terjadi permasalahan kesehatan diwilayah kerjanya maka puskesmas
harus bertanggung jawab untuk mengatasinya.
Azas Peran serta masyarakat Dalam melaksanakan tugasnya
puskesmas harus memandang masyarakat sebagai subyek
pembangunan kesehatan, sehingga puskesmas bekerja bukan hanya
untuk mereka tetapi bekerja bersama masyarakat.
Azas Keterpaduan Puskesmas dalam melaksanakan kegiatan
pembangunan kesehatan diwilayah kerjanya harus melakukan kerja
sama dengan berbagai pihak, bermitra dengan BPKM/BPP dan
organisasi masyarakat lainnya, berkoordinasi dengan lintas sektor, agar
terjadi perpaduan kegiatan dilapangan sehingga lebih berhasil guna dan
berdaya guna.
Azas rujukan Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan
tingkat pertama, yang bila tidak mampu mengatasi masalah karena
berbagai keterbatasan, bisa melakukan rujukan baik secara vertikal
ketingkat yang lebih tinggi atau secara horisontal ke puskesmas.
Fungsi Puskesmas Untuk membuat panduan implementasi manajemen,
lebih mudah bila uraiannya berdasarkan fungsi puskesmas. Puskesmas
di era desentralisasi mempunyai 3 fungsi :
Menggerakan pembangunan berwawasan kesehatan
Memberdayakan masyarakat dan memberdayakan keluarga
Memberikan pelayanan kesehatan di tingkat pertama.

3.1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran pemanfaatan pelayanan


poliklinik Mahasiswa Unhalu Puskesmas Pembantu Mokoau Kelurahan Kambu
Kecamatan Kambu kota Kendari tahun 2008 ditinjau dari pengetahuan, sikap
petugas, jarak tempat tinggal, dan preferensi.
3.2. Manfaat Penelitian
1. Sebagai bahan masukan dan informasi bagi Dinas kesehatan Kota Ternate dalam
rangka mengoptimalkan pemanfaatan puskesmas dan pihak penyelenggara
pelayanan kesehatan masyarakat (Puskesmas) agar dapat meningkatkan kualitas
dan kuantitas pelayanan kesehatan pada masyarakat
2. Sebagai bahan masukan yang diharapkan memperkaya khasanah ilmu
pengetahuan khususnya mengenai pemanfaatan pelayanan kesehatan serta dapat
menjadi bahan bacaan bagi peneliti selanjutnya.

3.3. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah survei deskriptif yaitu penelitian yang diarahkan untuk
mendeskripsikan atau menguraikan suatu keadaan di dalam komunitas atau
masyarakat. Pada penelitian ini akan dilihat gambaran pemanfaatan pelayanan
Puskesmas ditinjau dari pengetahuan, sikap petugas, jarak, dan preferensi

3.4. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan bulan oktober
bertempat di poliklinik mahasiswa Universitas Haluole Kampus Baru Kota
Kendari.

3.5. Populasi dan Sampel


1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah semua mahasiswa di Universitas
Haluoleo yang berjumlah 17.228 jiwa.
2. Sampel Sampel adalah populasi yang terpilih sebagai sampel .

Metode sampling yang di gunakan adalah Aksidental sampling .

Pengumpulan Data

1) Data primer : Data primer meliputi pengetahuan, sikap petugas, jarak


tempat tinggal, dan preferensi.yang diperoleh dengan wawancara langsung
terhadap responden dengan menggunakan kuesioner.
2) Data Sekunder : Data sekunder diperoleh dari instansi yang terkait seperti
lurah, puskesmas Kota, dinas kesehatan dan lain - lain Pengolahan dan
Penyajian Data
Pengolahan Data Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan
komputer dan kalkulator.
Penyajian Data Data disajikan dalam bentuk tabel distribusi dan
diinterpretasikan dalam bentuk narasi.
4.1. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Penelitian
Penelitian tentang pemanfaatan pelayanan poliklinik mahasiswa Puskesmas
Kota dilaksanakan pada bulan mei sampai dengan Bulan Oktober. Penelitian
ini dilakukan pada kelompok mahasiswa III yang datan berkunjung memanf
aatkan pelayanaa akesehatan
di poliklinik mahasiswaIII KEBIDANAN di PUSKESMAS Kota Adapun ha
sil penelitian disajikan dalam bentuk tabel dan penjelasan sebagai berikut :
1) Karakteristik Responden yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
jawaban responden yang menyangkut jenis kelamin dan umur.
a. Jenis Kelamin merupakan salah satu karakteristik responden dimana
hasil wawancara terhadap 96 responden dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di
Poliklinik Mahasiswa D-III Kebidanan Puskesmas Kota Ternate
Tahun 2017 Jenis Kelamin Jumlah Persen ( % )
Laki Laki Perempuan 61 35 64 36 Total 96 100

Responden berdasarkan jenis kelamin

35%
61%

Laki-laki perempuan

Sumber : Data Primer, tahun 2017 Pada tabel 1 menunjukan bahwa


dari 96 responden yang diwawancarai, responden laki laki
sebanyak 61 responden ( 64 % ) dan perempuan sebanyak 35
responden ( 35 % )
b. Umur adalah usia responden pada saat wawancara dilakukan dalam
hitungan tahun, yang dibagi menjadi empat pengelompokan umur
yakni 16 - 20 tahun, 21- 25 tahun, > 25 tahun, dapat dilihat pada tabel
berikut :
Tabel 2 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di
Poliklinik Mahasiswa D-III Kebidanan Puskesmas Kota Ternate
Tahun 2017 Kelompok Umur Jumlah Persen ( % ) 16 20 21 25
> 25 39 47 10 41 49 10 Total 96 100 Sumber : Data Primer, tahun
2017 Berdasarkan pada tabel 2 menunjukan bahwa distribusi
kelompok umur responden yang tertinggi berada pada kelompok
umur 21 25 tahun ( 49 % ) dan yang terkecil adalah kelompok umur
> 25 tahun ( 10 % ).

Responden pada saat wawancara dalam hitungan tahun


2017

50%
45%
40%
35%
30%
25%
20%
15%
10%
5%
0%
responden umur responden umur
21-25 tahun 21-25 tahun

Responden pada saat wawancara dalam hitungan tahun 2017

(tabel:2)
Karakteristik Variabel Yang Diteliti.
Pengetahuan adalah variabel independen penelitian yang merupakan
tanggapan responden terhadap kelima item pertanyaan yang diajukan
dalam kuesioner yang kemudian dikategorikan mejadi cukup dan
kurang, dapat dilihat pada tabel berikut :
a) Tabel 3 Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan di
Poliklinik Mahasiswa D-III Kebidanan Tahun 20107 Pengetahuan
Jumlah Persen ( % ) Cukup Kurang 54 42 56 44 Total 96 100
Sumber : Data Primer, tahun 2017 Dari tabel 3 diperoleh data
bahwa sebanyak 54 responden ( 56 % ) yang mempunyai
pengetahuan cukup dengan pelayanan Puskesmas dan 42
responden ( 44 % ) mempunyai pengetahuan kurang.

Chart Title

100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
responden yang responden yang
memiliki mempunyai
pengetahuan yang pengetahuan yang
cukup kurang

responden yang memiliki pengetahuan tentang pelayanan puskesmas Series 2 Serie

(tabel 3)
c. Sikap Petugas Sikap petugas adalah sikap yang diperlihatkan
petugas dalam memberikan pelayanan kesehatan, dan dapat dilihat
pada tabel berikut : Tabel 4 Distribusi Responden Berdasarkan
Sikap Petugas Puskesmas kota Poliklinik Mahasiswa D-III
Kebidanan Ternate Poltekkes kemenkes Ternate.
Sikap Petugas Jumlah Persen ( % ) Setuju Tidak Setuju 41 55 43
57 Total 96 100 Sumber : Data Primer, tahun 2017 Pada Tabel 5
menunjukan bahwa sebanyak 41 responden ( 43 % ) mengatakan
setuju dengan sikap petugas dan sebanyak 55 responden ( 57 % )
mengatakan tidak setuju dengan sikap petugas.
Chart Title

250%

200%

150%

100%

50%

0%
responden yang responden yang tidak
setuju dengan sikap setuju dengan sikap
petugas petugas kesehatan

sikap responden terhadap sikap npetugas ksehatan di puskesmas Kota Series 2 Series

d. Jarak Tempat Tinggal Jarak antara rumah tempat tinggal dengan


puskesmas adalah variabel independen penelitian yang merupakan
tanggapan responden terhadap ketiga item pertanyaan yang
diajukan yang kemudian dikategorikan menjadi dekat dan jauh,
dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 5 Distribusi Responden
Berdasarkan Jarak Tempat Tinggal di Poliklinik Mahasiswa
Unhalu Puskesmas pembantu Mokoau Kota Kendari Tahun 2008
Jarak Tempat Tinggal Jumlah Persen ( % ) Dekat Jauh 44 52 45 55
Total 96 100 Sumber : Data Primer, tahun
2008 Pada Tabel 5 menunjukan bahwa sebanyak 44
responden (45 % ) mengatakan jarak tempat tinggal dekat dengan
Puskesmas dan sebanyak 52 responden ( 55 % ) mengatakan jarak
tempat tinggal jauh dengan Puskesmas. d. Preferensi Tabel
6 Distribusi Responden Menurut Preferensi di Poliklinik
Mahasiswa Unhalu Puskesmas pembantu Mokoau Kota Kendari
Tahun 2008 Preferensi Mahasiswa Jumlah Persen (%) Cukup
Kurang 59 37 62 38 Total 96 100 Sumber : Data Primer,
tahun 2008 Tabel 6 menunjukkan bahwa pada
umumnya masyarakat mempunyai preferensi (selera) kurang untuk
berobat kepuskesmas yaitu dari 96 responden terdapat 59
responden (62 %) yang mempunyai preferensi cukup sedangkan 37
responden (38 %) yang mempunyai preferensi kurang. e.
Pemanfaatan Puskesmas Pemanfaatan pelayanan
puskesmas merupakan variabel dependen penelitian yang
merupakan tanggapan responden terhadap kuesioner penelitian
mengenai kesediaan responden untuk memanfaatkan pelayanan
puskesmas, dapat dilihat pada tabel berikut
: Tabel
7 Distribusi Responden Berdasarkan Pemanfaatan pelayanan
Puskesmas di Poliklinik Mahasiswa Unhalu Puskesmas pembantu
Mokoau Kota Kendari Tahun 2008 Pemanfaatan Jumlah Persen (
% ) Memanfaatkan Kurang memanfaatkan 53 43 55 45 Total 96
100 Sumber : Data Primer, tahun 2008 Pada Tabel
7 menunjukan bahwa sebanyak 53 responden (55
%) memanfaatkan pelayanan Puskesmas dan sebanyak 43
responden (45 %) kurang memanfaatkan Puskesmas. 3.
Karakteristik Antara Variabel a. Tabulasi Silang antara
Pemanfaatan Pelayanan Puskesmas dengan
Pengetahuan Pemanfaatan pelayanan puskesmas dengan
pengetahuan adalah tabulasi silang antara keinginan responden
untuk menggunakan pelayanan puskesmas dengan kategori
pengetahuan responden cukup dan kurang, dapat dilihat pada tabel
berikut : Tabel 8 Distribusi Pemanfaatan Pelayanan Puskesmas
ditinjau dari pengetahuan responden di Poliklinik Mahasiswa
Unhalu Puskesmas pembantu Mokoau Kota Kendari Tahun
2008 Pengetahuan Pemanfaatan Puskesmas Total
Memanfaatkan Kurang Memanfaatkan N % N % N % Cukup
Kurang 36 17 37, 5 17, 70 18 25 18, 75 26, 04 54 42 56, 25 43, 37
Total 53 55, 2 43 44, 79 96 100 Sumber : Data Primer, tahun
2008 Dari tabel 8 menunjukan bahwa dari 53
responden (55, 2 %) yang memanfaatkan pelayanan puskesmas,
terdapat 36 responden (37, 5 %) yang mempunyai pengetahuan
cukup dan sebanyak 17 responden ( 17, 70 % ) yang mempunyai
pengetahuan kurang. Sedangkan dari 43 responden (44, 79 %) yang
kurang memanfaatkan pelayanan puskesmas, terdapat 18
responden (18, 75 %) yang mempunyai pengetahuan cukup dan
sebanyak 25 responden (26, 04) yang mempunyai pengetahuan
kurang. b. Tabulasi Silang antara Pemanfaatan Pelayanan
Puskesmas dengan Sikap Petugas Pemanfaatan pelayanan
puskesmas dengan sikap petugas adalah tabulasi silang antara
keinginan responden untuk menggunakan pelayanan puskesmas
dengan sikap yang diperlihatkan petugas dengan kategori setuju
dan tidak setuju, dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel
9 Distribusi Pemanfaatan Pelayanan Puskesmas ditinjau dari sikap
petugas di Poliklinik Mahasiswa Unhalu Puskesmas pembantu
Mokoau Kota Kendari Tahun 2008 Sikap
Petugas Pemanfaatan Puskesmas Total Memanfaatkan
Kurang Memanfaatkan N % N % N % Setuju Tidak Setuju 24 33
25 34, 37 17 22 17, 70 22, 91 41 55 42, 7 57, 28 Total 53 59, 37 43
40, 61 96 100 Sumber : Data Primer Dari tabel 9
menunjukan bahwa dari 53 responden (59, 37 %) yang
memanfaatkan pelayanan puskesmas, terdapat 24 responden (25
%) menyatakan setuju dengan sikap petugas dan sebanyak 33
responden ( 34, 37 % ) menyatakan tidak setuju dengan sikap
petugas. Sedangkan dari 43 responden (40, 61 %) yang kurang
memanfaatkan pelayanan puskesmas, terdapat 17 responden (17,
70 %) menyatakan setuju dengan sikap petugas dan sebanyak 22
responden (22, 91) menyatakan tidak setuju dengan sikap
petugas. c. Tabulasi silang antara pemanfaatan puskesmas
dengan jarak tempat tinggal Pemanfaatan
pelayanan puskesmas dengan jarak tempat tinggal adalah tabulasi
silang antara keinginan responden untuk menggunakan pelayanan
puskesmas dengan jarak tempat tinggal yang dikategorikan atas
dekat dan jauh, dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel
10 Distribusi Pemanfaatan Pelayanan Puskesmas ditinjau dari
jarak tempat tinggal di poliklinik mahasiswa Unhalu Puskesmas
pembantu Mokoau kota Kendari Tahun 2008 Jarak
Tempat Tinggal Pemanfaatan Puskesmas Total
Memanfaatkan Kurang Memanfaatkan N % N % N % Dekat Jauh
26 27 27, 08 28, 12 18 25 18, 75 26, 04 44 52 45, 83 54, 16 Total
53 55, 2 43 44, 79 96 100 Sumber : Data
Primer Tabel 10 menunjukan bahwa dari 53 responden
(55, 2 %) yang memanfaatkan pelayanan puskesmas, terdapat 26
responden (27, 08 %) mempunyai jarak tempat tinggal dekat
dengan puskesmas dan sebanyak 27 responden ( 28, 12 % )
mempunyai jarak tempat tinggal dekat dengan puskesmas.
Sedangkan dari 43 responden (44, 79 %) yang kurang
memanfaatkan pelayanan puskesmas, terdapat 18 (18, 75 %)
mempunyai jarak tempat tinggal jauh sebanyak 25 responden ( 26,
04 % ) mempunyai jarak tempat tinggal jauh dengan puskesmas d.
Tabulasi silang antara pemanfaatan puskesmas dengan Preferensi
masyarakat Preferensi masyarakat terhadap pelayanan pengobatan
puskesmas adalah kecenderungan masyarakat untuk memilih
puskesmas sebagai sarana pelayanan pengobatan, dan dapat dilihat
pada tabel berikut : Tabel 11 Distribusi Pemanfaatan
Pelayanan Puskesmas ditinjau dari preferensi di poliklinik
mahasiswa Unhalu Puskesmas pembantu Mokoau kota Kendari
Tahun 2008 Preferensi Masyarakat Permintaan Pelayanan
Kesehatan Jumlah Tinggi Rendah N % N % N % Cukup Kurang
34 19 35, 41 19, 79 25 18 26, 04 18, 75 59 37 61, 45 38, 54 Total
53 55, 2 43 44, 79 96 100 Sumber : Data
Primer Dari tabel 11 terlihat bahwa dari 53 responden
(55, 2 %) yang memanfaatkan pelayanan puskesmas, terdapat 34
responden (35, 41 %) mempunyai preferensi cukup dan sebanyak
19 responden (19, 79 %) mempunyai preverensi kurang.
Sedangkan dari 43 responden (44, 79 %) yang kurang
memanfaatkan pelayanan puskesmas, terdapat 25 (26, 04 %)
preferensi cukup dan sebanyak 18 responden (18, 75 %)
mempunyai preferensi kurang. V.2. Pembahasan 1.
Karakteristik Responden Sampel pada penelitian ini
berjumlah 96 responden yang datang memanfaatkan Pelayanan
kesehatan di poliklinik mahasiswa Unhalu Puskesmas pembantu
Mokoau kota Kendari Tahun 2008. Dari keseluruhan responden
distribusi umur yang tertinggi berada pada kelompok umur 21 25
tahun sebanyak 47 responde ( 49 % ) dan yang terkecil adalah
kelompok umur > 25 tahun sebanyak 10 responden ( 10 % ). Dari
hasil penelitian terhadap 96 responden di dapatkan bahwa sebagian
besar responden berjenis kelamin laki laki sebanyak 61 responden
( 64 % ), sedangkan responden berjenis kelamin perempuan
sebanyak dan perempuan sebanyak 35 responden ( 36 % ) 2.
Karakteristik Variabel yang Diteliti a. Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi
setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek
tertentu. Proses melihat, menyaksikan, mengalami, atau diajar
sangat menentukan terjadinya pengetahuan pada
seseorang. Pengetahuan tentang puskesmas sedikit banyak akan
mempengaruhi prilaku didalam pemanfaatan pelayanan puskesmas
untuk memeriksakan kesehatannya. Pengetahuan sangat penting
peranannya dalam memberikan wawasan terhadap bentuk sikap,
yang selanjutnya akan diikuti oleh tindakan dalam memilih
pelayanan kesehatan yang diyakini kemampuannya. Tingkat
pengetahuan mempunyai pengaruh terhadap penggunaan
puskesmas (Solita Sarwono, 1993 ). Hasil penelitian menunjukan
bahwa pengetahuan responden tentang pemanfaatan pelayanan
puskesmas sudah tergolong cukup. Dari 96 responden, yang
mempunyai pengetahuan cukup sebanyak 54 responden ( 56 % ).
Tingginya pengetahuan responden tentang pemanfaatan pelayanan
puskesmas dipengaruhi oleh peran serta petugas yang secara terus
menerus memberikan informasi tentang pentingnya pemanfaatan
pelayanan puskesmas. Namun dalam penelitian ini juga nampak
ada responden yang pengetahuannya kurang yaitu sebanyak 42
responden (44 %). Hal ini dapat mempengaruhi pemanfaatan
pelayanan puskesmas, apalagi bagi mahasiswa yang kurang
pengetahuannya tentang pentingnya pelayanan Puskesmas.
Sementara itu hasil tabulasi silang pada tabel 8 menunjukan bahwa
dari 53 responden (55, 2 %) yang memanfaatkan pelayanan
puskesmas dengan tingkat pengetahuan cukup sebanyak 36
responden ( 37, 5 % ) dan responden yang memanfaatkan
pelayanan puskesmas dengan tingkat pengetahuan kurang
sebanyak 17 responden ( 17, 70 % ). Sedangkan dari 43 responden
yang kurang memanfaatkan pelayanan puskesmas dengan tingkat
pengetahuan cukup sebanyak 18 responden (18, 75 %) dan
responden yang kurang memanfaatkan pelayanan puskesmas
dengan pengetahuan kurang sebanyak 25 responden (26, 04
%). dan yang kurang memanfaatkan Puskesmas sebanyak 37
responden ( 90,2 % ). Hal ini menunjukan bahwa pengetahuan
responden memiliki andil yang cukup besar dalam kecenderungan
mahasiswa dalam pemanfaatan pelayanan Puskesmas di Poliklinik
Mahasiswa Unhalu Puskesmas pembantu Mokoau Kota Kendari.
Semakin baik pengetahuan yang dimiliki oleh mahasiswa tentang
pelayanan kesehatan, maka akan semakin pemanfaatan pelayanan
puskesmas. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang
dilakukan Hadijah di Kecamatan Mandonga Kota Kendari tentang
pemanfaatan pelayanan puskesmas Labibia, dimana tingkat
pemanfaatan puskesmas ditinjau dari segi pengetahuan responden
di dapatkan bahwa dari 253 responden dengan pengetahuan cukup
terdapat 94,1 % yang memanfaatkan pelayanan puskesmas, dan
dari 84 responden dengan pengetahuan kurang terdapat 13,1 %
responden yang memanfaatkan pelayanan puskesmas. Menurut
pengamatan peneliti, tahu dengan tidaknya mahasiswa tentang apa
dan bagaimana pelayanan yang diberikan di Puskesmas
disebabkan kurangnya informasi yang mereka terima akan fungsi
dan peran puskesmas serta prosedur pelayanan yang ada di
puskesmas dimana sebagian besar responden tidak mengetahui
jenis pelayanan serta prosedur pelayanan puskesmas serta adanya
persepsi mahasiswa bahwa puskesmas merupakan tempat
pengobatan terakhir bila sudah tidak dapat berobat sendiri .
Menurut Bloom yang dikutip oleh Rusli Ngatimin (1995),
Pengetahuan merupakan bagian dari knowledge, application,
analisis, Syntesis, dan evaluation. Pengetahuan sangat penting
dalm memberikan wawasan terhadap sikap atau perbuatan
seseorang. Sikap diartikan sebagai suatu bentuk kecenderungan
untuk bertingkah laku. Dapat juga diartikan sebagai suatu bentuk
respon evaluatif yaitu respon yang sudah dalam pertimbangan oleh
individu yang bersangkutan. Dibanding hasil penelitian yang
dilakukan oleh Andi Hartati di Desa Padaelo kecamatan Kajuara
Kabupaten Bone tahun 2003, menunjukan bahwa pengetahuan
sangat mempengaruhi pemanfaatan pelayanan Puskesmas yang
mempengaruhi prilaku seseorang dalam memanfaatkan pelayanan
Puskesmas. Pengetahuan yang kurang atau bahkan tidak ada
terhadap apa dan bagaimana pelayanan puskesmas yang
sebenarnya mengakibatkan masyarakat tidak mengenal dan
mengetahui manfaat pelayanan, sehingga masyarakat tidak
memanfaatkannya. b. Sikap Petugas Sikap petugas
berkaitan dengan interaksi antara petugas dan pasien. Hubungan
yang baik menanamkan kepercayaan dan kredibilitas dengan cara
menghargai yang dapat dilihat melalui penerimaan, kepercayaan,
empati, menjaga rahasia, menghormati dan responsife serta
memberikan perhatian terhadap pasien ( Wijono, 1999
). Dari hasil penelitian pada tabel 4 menunjukan
bahwa dari 96 responden, menyatakan setuju dengan sikap yang
diperlihatkan petugas sebanyak 41 responden ( 43 % ) dan yang
tidak setuju dengan sikap petugas sebanyak 55 responden ( 57 % ).
Hal ini menunjukan bahwa sebagian besar sikap yang diperlihatkan
oleh petugas masih dalam ketegori setuju, walaupun masih ada
sebagian yang menyatakan tidak setuju dengan sikap yang
diperlihatkan petugas. Sementara itu dari hasil
tabulasi silang pemanfaatan pelayanan puskesmas dengan sikap
petugas pada tabel 9 menunjukan bahwa dari 53 responden (59, 37
%) yang memanfaatkan pelayanan puskesmas dan setuju dengan
sikap petugas sebanyak 24 responden ( 25 % ), dan yang tidak
setuju dengan sikap petugas sebanyak 33 responden ( 34, 37 % ).
Sedangkan dari 43 responden (40, 61 %) yang kurang
memanfaatkan dan setuju dengan sikap petugas sebanyak 17
responde (17, 70 %), dan yang tidak setuju dengan sikap petugas
sebanyak 22 (40, 61 %). Hal ini menunjukan bahwa interaksi yang
baik antara petugas dan pasien sangat mempengaruhi pemanfaatan
pelayanan puskesmas Hubungan antar manusia yang
baik akan mempunyai andil yang besar dalam konseling yang
efektif. Hubungan antar manusia yang kurang baik akan
mengurangi efektifitas dan kompetensi teknis pelayanan kesehatan,
(Wijono, 1999) Berdasarkan hasil pengamatan peneliti
masih ada sebagian petugas yang memperlihatkan sikap sikap
yang kurang komunikatif terhadap pasien yang disebabkan oleh
kesibukan pekerjaan baik pekerjaan yang dijalankan di puskesmas
maupun pekerjaan untuk kehidupan rumah tangganya, selain itu
petugas sering terlambat dalam memberikan pelayanan sehingga
waktu konsultasi sangat singkat yang mengakibatkan kurangnya
kepuasan pasien atas pelayanan yang diberikan. Dengan
demikian responden merasa kurang diperhatikan sehingga terkesan
pelayanan yang diperoleh kurang sesuai dengan apa yang mereka
harapkan. Sikap dan prilaku petugas merupakan faktor pendorong
seseorang sehingga mau menggunakan jasa pelayanan puskesmas
tersebut. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan
oleh M. Ihsan di Puskesmas Bontoharu Kabupaten selayar ( 2000 )
bahwa semakin baik pelayanan yang diberikan oleh petugas maka
semakin meningkat pula keinginan masyarakat untuk
memanfaatkan pelayanan Puskesmas. c. Pemanfaatan
Pelayanan Puskesmas Ditinjau Dari Jarak Tempat
Tinggal Jarak dapat mempengaruhi frekwensi
kunjungan ditempat pelayanan kesehatan, makin dekat jarak
tempat tinggal dengan pusat pelayanan kesehatan makin besar
jumlah kunjungan di pusat pelayanan tersebut, begitu pula
sebaliknya, makin jauh jarak tempat tinggal dengan pusat
pelayanan kesehatan makin kecil pula jumlah kunjungan di pusat
pelayanan kesehatan tersebut ( Azwar Azrul, 1996 ). Dari hasil
penelitian pada tabel 10 menunjukan bahwa dari 53 responden (55,
2 %) yang memanfaatkan pelayanan puskesmas, terdapat 26
responden (27, 08 %) mempunyai jarak tempat tinggal dekat
dengan puskesmas dan sebanyak 27 responden ( 28, 12 % )
mempunyai jarak tempat tinggal dekat dengan puskesmas. Hal ini
menunjukan bahwa sebagian besar responden memanfaatkan
pelayanan puskesmas, pemanfaatan ini di karenakan biaya yang
dikeluarkan untuk pemanfaatan pelayanan puskesmas gratis,
sehingga mereka hanya membutuhkan biaya transport bagi mereka
yang mempunyai jarak yang jauh dengan puskesmas. Namun masih
ada responden yang kurang memanfaatkan pelayanan puskesmas,
yaitu dari 43 responden (44, 79 %) yang kurang memanfaatkan
pelayanan puskesmas, terdapat 18 (18, 75 %) mempunyai jarak
tempat tinggal jauh sebanyak 25 responden ( 26, 04 % ) mempunyai
jarak tempat tinggal jauh dengan puskesmas. Menurut
pengamatan peneliti bahwa kurangnya pemanfaatan pelayanan
puskesmas dikarenakan keuangan responden yang kurang sehingga
walaupun biaya pemanfaatan pelayanan puskesmas gratis namun
biaya untuk transportasi mereka juga terasa memberatkan, selain
itu mereka juga masih memegang pahaman bahwa pengobatan
dilakukan bila penyakit telah mengalami kondisi
parah. Dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan
terkadang faktor jarak yang jauh yang sudah barang tentu
membutuhkan biaya transport ( biaya tambahan ) sangat
mempengaruhi dalam mengambil keputusan untuk memanfaatkan
pelayanan kesehatan termasuk Puskesmas. d. Pemanfaatan
Pelayanan Puskesmas Ditinjau Dari Preferensi Dari tabel 11
terlihat bahwa dari 53 responden (55, 2 %) yang memanfaatkan
pelayanan puskesmas, terdapat 34 responden (35, 41 %)
mempunyai preferensi cukup dan sebanyak 19 responden (19, 79
%) mempunyai preverensi kurang. Sedangkan dari 43 responden
(44, 79 %) yang kurang memanfaatkan pelayanan puskesmas,
terdapat 25 (26, 04 %) preferensi cukup dan sebanyak 18 responden
(18, 75 %) mempunyai preferensi kurang. Dari persentase
tersebut dapat dilihat bahwa mahasiswa yang mempunyai
preferensi cukup mempunyai pemenfaatn pelayanan kesehatan
yang tinggi, Hal ini disebabkan karena mahasiswa lebih memiliki
pelayanan formal dari pada pelayanan informal (pengobatan
sendiri). Informasi tentang preferensi konsumen sangat penting
artinya, menurut Stanton (1994) dewasa ini seiring dengan
globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dibidang
consumer research, informasi bukan lagi sekedar input tetapi sudah
menjadi aset dan alat pemasaran dari sebuah
organisasi. Menurut hasil penelitian Amran razak
(2000) pada masyarakat pesisir, bahwa preferensi masyarakat
pesisir dalam memilih pelayanan kesehatan yang tersedia sangat
berfariasi. Kesimpulan yang didapat adalah yang memilih untuk
berobat sendiri sebanyak 23,7%, dukun tradisional 9,7%, para
medis 25% dan pelayanan medis sebanyak 27,3%, preferensi
pengobatan sendiri ternyata hampir menyamai pelayanan medis
dan non medis. Dalam hal ini bahwa preferensi mempunyai
pengaruh yang kuat terhadap terhadap demand pelayanan
kesehatan. e. Pemanfaatan Pelayanan
Puskesmas Dari hasil penelitian menunjukan
bahwa dari 96 responden yang diwawancarai tentang pemanfaatan
pelayanan puskesmas menunjukan bahwa 53 responden ( 55 % )
yaang memanfaatkan pelayanan puskesmas sedangkan 43
responden ( 45 % ) kurang memanfaatkan pelayanan
puskesmas Menurut pengamatan peneliti bahwa
masih banyak mahasiswa yang kurang memanfaatkan pelayanan
puskesmas secara optimal disebakan karena masih ada diantara
mereka yang lebih memilih melakukan pengobatan sendiri dengan
membeli obat ke apotik atau toko obat terdekat, kurangnya
informasi tentang pelayanan puskesmas, serta memilih jasa
pelayanan kesehatan lainnya seperti rumah sakit maupun dokter
praktek. Selain itu sebagian responden
mengatakan bahwa mereka tidak memanfaatkan jasa pelayanan
puskesmas karena memerlukan biaya tambahan untuk menjangkau
puskesmas. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh
Azrul Azwar ( 1999 ) bahwa syarat pokok pelayanan kesehatan
agar dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat adalah
tersedia dan berkesinambungan, dapat diterimah dan wajar dan
mudah dicapai. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN VI.
Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di di
poliklinik mahasiswa Unhalu Puskesmas pembantu Mokoau kota
Kendari Tahun 2008, maka dapat ditarik kesimpulan : 1. Tingkat
pemanfaatan puskesmas ditinjau dari segi pengetahuan responden
di dapatkan bahwa dari 53 responden (55, 2 %) yang memanfaatkan
pelayanan puskesmas, terdapat 36 responden (37, 5 %) yang
mempunyai pengetahuan cukup dan sebanyak 17 responden ( 17,
70 % ) yang mempunyai pengetahuan kurang. Sedangkan dari 43
responden (44, 79 %) yang kurang memanfaatkan pelayanan
puskesmas, terdapat 18 responden (18, 75 %) yang mempunyai
pengetahuan cukup dan sebanyak 25 responden (26, 04) yang
mempunyai pengetahuan kurang. 2. Tingkat pemanfaatan
puskesmas ditinjau dari sikap petugas di dapatkan bahwa dari 53
responden (59, 37 %) yang memanfaatkan pelayanan puskesmas,
terdapat 24 responden (25 %) menyatakan setuju dengan sikap
petugas dan sebanyak 33 responden ( 34, 37 % ) menyatakan tidak
setuju dengan sikap petugas. Sedangkan dari 43 responden (40, 61
%) yang kurang memanfaatkan pelayanan puskesmas, terdapat 17
responden (17, 70 %) menyatakan setuju dengan sikap petugas dan
sebanyak 22 responden (22, 91) menyatakan tidak setuju dengan
sikap petugas. 3. Tingkat pemanfaatan puskesmas ditinjau dari
jarak tempat tinggal responden di dapatkan bahwa dari 53
responden (55, 2 %) yang memanfaatkan pelayanan puskesmas,
terdapat 26 responden (27, 08 %) mempunyai jarak tempat tinggal
dekat dengan puskesmas dan sebanyak 27 responden ( 28, 12 % )
mempunyai jarak tempat tinggal dekat dengan puskesmas.
Sedangkan dari 43 responden (44, 79 %) yang kurang
memanfaatkan pelayanan puskesmas, terdapat 18 (18, 75 %)
mempunyai jarak tempat tinggal jauh sebanyak 25 responden ( 26,
04 % ) mempunyai jarak tempat tinggal jauh dengan puskesmas
4. Tingkat pemanfaatan puskesmas ditinjau dari preferensi
dengan puskesmas di dapatkan bahwa dari 53 responden (55, 2 %)
yang memanfaatkan pelayanan puskesmas, terdapat 34 responden
(35, 41 %) mempunyai preferensi cukup dan sebanyak 19
responden (19, 79 %) mempunyai preverensi kurang. Sedangkan
dari 43 responden (44, 79 %) yang kurang memanfaatkan
pelayanan puskesmas, terdapat 25 (26, 04 %) preferensi cukup dan
sebanyak 18 responden (18, 75 %) mempunyai preferensi kurang.
VI.2. Saran Untuk peningkatan pemanfaatan pelayanan puskesmas
di di poliklinik mahasiswa Unhalu Puskesmas pembantu
Mokoau kota Kendari Tahun 2008, maka disarankan beberapa hal
sebagai berikut : 1. Untuk meningkatkan pengetahuan
masyarakat tentang puskesmas dan mengetahui manfaat dari setiap
kegiatan yang dilakukan di puskesmas pelayanan puskesmas perlu
ditingkatkan melalui penyuluhan / promosi
kesehatan 2. Sebaiknya petugas dalam memberikan pelayanan
lebih perhatian dan komunikatif kepada pasien serta lebih
mendahulukan pelayanan terhadap pasien 3. Kepada penentu
kebijakan di Dinkes Kota Kendari diharapkan dapat memberikan
pengarahan pada petugas agar lebih meningkatkan prestasi kerja
sehingga kepuasan terhadap pelayanan di poliklinik mahasiswa
unhalu lebih di tingkatkan mutu pelayanannya. DAFTAR
PUSTAKA Anonim, 2001, Penyelenggaraan Puskesmas di Era
Desentralisasi. Depkes. Jakarta, 1999, Indonesia Sehat 2010-Visi
Baru, Misi, Kebijakan dan Strategi Pembangunan Kesehatan,
Jakarta, 2000, Profil Kesehatan Indonesia, Jakarta, 2000,
Paradigma Baru Puskesmas Di Era Desentralisasi,
Yogyakarta, Profil Kesehatan Kota Kendari. 2005, Sultra Azwar
Azrul, 1999, Pengantar Administrasi Kesehatan, Binarupa Aksara,
Jakarta BPS, 2008, Statistik Kesejahteraan Rakyat, Kota Kendari
Sulawesi Tenggara Depkes, 2003. Manajemen Puskesmas
Pendekatan ARRIME. Jakarta., 1996 Puskesmas dan Kegiatan
Pokonya. Jakarta,. Gani, Ascobat, 2005, Kesehatan Masyarakat
Petakan Kondisi Puskesmas . Ngatimin, M.Rusli, 1987, Upaya
meningkatkan kesehatan Masyarakat di Pedesaan, Ujung Pandang
Notoatmodjo, 1997. Ilmu Kesehatan Masyarakat. PT. Rineka
Cipta, Jakarta. 2005, Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka
Cipta Jakarta, 2007, Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Rineka
Cipta Jakarta Muninjaya,.A, 1999, Manajemen Kesehatan, Penerbit
Buku Kedokteran EGC Jakarta Musafin, La Ode, 2005, Analisis
Preferensi masyarakat terhadap pelayanan pengobatan di
Puskesmas Kota Bau Bau, Program Pasca Sarjana Unhas.
Pedoman Manajemen Puskesmas, 2002 Proyek Kesehatan
Keluarga Dan Gizi. Departemen Kesehatan Jakarta Razak, Amran,
Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Pesisir,
Kalammedia Pustaka, Makassar, 2000. Saifuddin F.D., 1995,
Pendekatan Sistim Dalam pengorganisasian Pelayanan Kesehatan,
Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia tahun XV, Nomor 9
Sugiyono. 1993. Metode Penelitian Administratif. Alfabeta,
Bandung. Sugiono, 2006. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif.
Alfabeta, Bandung. Wijono, Djoko, 1999., Manajemen Mutu
pelayanan Kesehatan Teori, Strategi dan Aplikasi, Airlangga
University Press, Surabaya.