Anda di halaman 1dari 27

DEPIGMENTATION GINGIVAL WITH ABRASIVE TECHNIQUE PADA

KASUS PHYSIOLOGICAL HYPERPIGMENTATION GINGIVAL


GENERALIZED QUADRANT
(Laporan Kasus Bedah Periodontal)

I. INFORMASI KASUS

Identitas Pasien

Anamnesis
Pasien datang ke Poli Gigi dan Mulut RSUP Muhammad Hoesin Palembang dengan keluhan
gusi depan atas dan bawahnya berwarna hitam sejak 2 tahun yang lalu sehingga pasien merasa
terganggu penampilannya bila tertawa. Oleh karena itu, pasien meminta perawatan estetis untuk
gingivanya tersebut.

Riwayat Kesehatan Umum


Baik. Tidak ada kelainan sistemik yang menggangu dalam perawatan periodontal.

Riwayat Kesehatan Gigi


Pasien pernah menambal gigi belakang bawah kanan dan kirinya kurang lebih 3 bulan yang lalu
di poli gigi dan mulut RSMH, pernah pula dibuatkan jaket pada gigi depan atas 3 bulan yang lalu
dan pembersihan karang gigi sekitar 2 minggu lalu.

Pemeriksaan Radiografi
Pemeriksaan radiografik dengan foto Panoramik
Gambar 1. Foto rontgent

Gigi 18, 28, 38 dan 48 inerupsi.


Gigi 17 dan 16 akarnya masuk kedalam sinus.
Gigi 11 fraktur mahkota.
Gigi 21 telah mengalami perawatan syaraf dengan pin crown.
Gigi 26 dan 27 akarnya amsuk ke dalam sinus.
Gigi 36 terdapat tumpatan dengan perawatan syaraf.
Terdapat gigi desidui (gigi 73) antara gigi 33 dan 34
Gigi 46 terdapat tumpatan di oklusal
Terdapat vertikal bone loss pada gigi 36 dan 46

Pemeriksaan Klinis

Pada pemeriksaan kebersihan mulut pada awal kunjungan, kebersihan mulut pasien kurang baik
dimana pada pemeriksaan Interdental Hygiene Index (HYG) dengan disclosing solution
diperoleh hasil 35,7% (sebelum menyikat gigi) dan 75% (sesudah menyikat gigi). Selain itu pada
pemeriksaan Papilla Bleeding Index (PBI) diperoleh hasil 0,55. Pada pemeriksaan OHI-S
diperoleh hasil 0,67 dengan rincian indeks debris 0,33 dan indeks kalkulus 0,34. Data ini
menunjukkan bahwa kebersihan mulut pasien cukup baik.
Pemeriksaan Ekstra Oral
Muka : tidak ada kelainan
Pipi : tidak ada kelainan
Bibir : tidak ada kelainan
Pinggiran Rahang : tidak ada kelainan
Kelenjar Submandibular : kanan tidak ada kelainan ; kiri tidak ada kelainan

Pemeriksaan Intra Oral


Mukosa pipi : kanan tidak ada kelainan ; kiri tidak ada kelainan
Palatum : tidak ada kelainan
Dasar mulut : tidak ada kelainan
Lidah : besar
Oropharyngeal : tidak ada kelainan
Saliva : hipersalivasi
Kelenjar Limfe : tidak ada kelainan
Frenulum : normal
Gingiva RA : hiperpigmentasi regio a b c
Gingiva RB : hiperpigmentasi regio d e f
Poket : tidak ada kelainan
Karang gigi : tidak ada kelainan

Pemeriksaan Poket
Elemen Gigi Bukal/ Lingual/ Mesial Distal Keterangan
Labial Palatal
17 1 2 2 2 Merah
16 1 2 2 2 Merah
15 1 1 2 2 Merah
14 1 2 2 3 Merah
13 1 1 3 2 Merah
12 1 1 2 2 Merah
11 1 1 2 2 Merah
21 1 1 2 2 Merah
22 1 1 2 2 Merah
23 1 1 2 2 Merah
24 1 1 2 2 Merah
25 1 2 2 3 Merah
26 2 1 3 2 Merah
27 2 2 2 3 Merah
37 1 1 2 2 Merah
36 2 1 3 2 Merah
35 2 2 2 3 Merah
34 2 2 2 2 Merah
33 1 1 2 2 Merah
32 Merah
31 2 2 2 2 Merah
41 2 3 2 2 Merah
42 2 3 2 2 Merah
43 2 3 2 2 Merah
44 2 2 2 3 Merah
45 2 2 2 2 Merah
46 2 2 2 2 Merah
47 1 2 2 3 Merah

Pemeriksaan Gigi
Elemen Bukal/ Lingual/ Mesial Distal Oklusal Keterangan
Gigi Labial Palatal
18 Ineruption
17 Karies D3 Iritatio pulpa
11 Fraktur mahkota
21 Pin crown
28 Ineruption
38 Ineruption
37 Karies D3 Iritatio pulpa
36 Karies D6 Onlay
33 Karies D3 Iritatio pupla
32 Anodonsia
45 Karies D3 Iritatio pulpa
46 Karies D3 Amalgam klas 1
47 Karies D3 Iritatio pulpa
48 Ineruption

Pemeriksaan Hiperpigmentasi Gingiva


Terdapat hiperpigmentasi gingiva pada region a, b, c, d, e dan f di permukaan labial dan bukal.
Gambaran hiperpigmentasi diffuse tersebar merata di selurus permukaan gingiva dengan batas
yang kurang jelas, simetris, dan membentuk gambaran seperti pita di sepanjang attachment
gingiva. Batas hiperpigmentasi meluas didaerah margin gingiva. DOPI assasment RA 0,875
(mild) dan RB 1,3 (moderate)
Gambar 2. Foto klinis hiperpigmentasi

Etiologi
Deposisi melanin yang berlebihan pada stratum basalis dan suprabasal epithelium akibat aktifitas
melanosit yang berlebihan.

Diagnosis
Informasi yang didapat dari anamnesa menyebutkan bahwa pasien datang dengan keluhan gusi
depan atas dan bawahnya berwarna hitam sejak 2 tahun yang lalu sehingga pasien merasa
terganggu penampilannya bila tertawa. Ayah dan adik dari pasien tersebut juga mengalami hal
yang sama. Pemeriksaan klinis menunjukkan terdapat hiperpigmentasi gingiva pada region a, b,
c, d, e dan f di permukaan labial dan bukal. Gambaran hiperpigmentasi diffuse tersebar merata di
selurus permukaan gingiva dengan batas yang kurang jelas, simetris, dan membentuk gambaran
seperti pita di sepanjang attachment gingiva.
Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan klinis, diagnosa kasus tersebut adalah Physiological
Hyperpigmentation Gingival Generalized. Diagnosa bandingnya Addison disease dan
hiperpigmentasi karena logam.

Prognosis
1. Overall prognosis
a. Umur pasien
Pasien berumur 18 tahun mempunyai prognosis yang baik karena pada usia tersebut diperkirakan
proses penyembuhan dan reepitelisasi pasca perawatan akan berlangsung lebih cepat.
b. Kondisi Sistemik
Baik
c. Kooperatif Pasien
Pasien sangat kooperatif dalam mengikuti perawatan.
d. Lokasi Penyakit
Pada semua region a b c d e f.
e. Kerusakan Tulang
Terdapat gambaran vertical bone loss pada gigi 36 dan 46.
f. Kondisi Peradangan
Tidak terlihat adanya peradangan.
g. Maloklusi
Tidak terdapat maloklusi.

2. Prognosis individu
a. Mobilitas Gigi
Tidak ada gigi yang mobile pada kuadran III.
b. Malposisi
Terdapat malposisi pada gigi 22 dan 33.
c. Poket
Tidak terdapat poket yang dalam pada gigi-gigi di Kuadran III.
d. Resesi, abrasif, atrisi, dan erosi
Terdapat atrisi pada gigi 13 dan 43.
e. Morfologi gigi
Terdapat kelainan morfologi pada gigi 32 berupa anodensia.
f. Kondisi Mukogingiva
Terdapat hiperpigmentasi gingiva pada kuadran III.
g. Keterlibatan furkasi
Tidak terdapat kerusakan tulang pada kuadran III.

Kesimpulan yang didapat dari overall prognosis dan prognosis individu adalah baik.
II. RENCANA PERAWATAN

FASE I(Etiotropik)

1. Kontrol plak (Edukasi, Motivasi, Instruksi)

2. Scalling dan root planning


EVALUASI
(tidak berhasil) (berhasil)
Kontrol plak

RETREATMENT FASE I FASE II (BEDAH)


1. Kontrol Plak (Edukasi, Depigmentasi gingiva gigi dari 11-14, 21-
Motivasi, Instruksi) 24, 31-34 dan 41-44
2. Scalling dan root planning

Re-Evaluasi
Re-Evaluasi
Re-Evaluasi I ( 1 minggu post bedah)
Kontrol plak
1. Pelepasan periodontal pack
2. Pemeriksaan subjektifdan objektif

Re-Evaluasi II (2 minggu post bedah)


3. Pemeriksaan subjektif dan objektif
FASE III (RESTORASI)
Re-Evaluasi III (1 bulan post bedah)
1. Pro Konservasi : Restorasi GIC klas I 1. Pemeriksaan subjektif dan objektif
pada gigi 17,33 ,37, 45 ,46, 47 2. Ekstraksi gigi 73
2. Pro Orthodonti : Perawatan orthodonti
lepasan RA dan RB

Fase IV (Kontrol Berkala)

1. Recall at time
2. Maintenance
3. Kontrol Plak dan Scalling
4. Pemeriksaan klinis ulang,
radiologi dan casting

III. PROSEDUR DEPIGMENTASI GINGIVA DENGAN


TEKNIK ABRASIF

Pelaksanaan bedah periodontal berupa depigmentasi gingiva dengan teknik bur abrasi
dilaksanakan pada tanggal 5 April 2011 untuk kuadran I dan IV dan tanggal 28 April 2011
untuk kuadran II dan III.
1. Persiapan alat dan bahan
a. Alat
- Alat diagnosa ( sonde, kaca mulut, pinset, dan ekskavator)
- Bengkok
- Spuit injeksi 3 cc
- Poket marker
- Periodontal probe
- Round bur diamond no. 8 highspeed dengan diameter 2-2,5 mm
- Handpiece highspeed
- Kirkland
- Mouth retractor
- Kain steril
- Spatula semen
- Glass plate
- Saliva ejector
- Tensimeter
- Stetoskop

Gambar 1. Alat dan Bahan Depigmentasi Teknik Abrasif

b. Bahan
- Lidocain+Adrenalin (ExtracaineTM)
- Periodontal pack (Coe-PakTM)
- Klorheksidin gargle 0,12% (GarglinTM)
- Povidone Iodine 10% (BetadineTM)
- Alkohol 70%
- NaCl 0,9%
- Adrenalin
- Disclosing solution
- Kasa steril
- Tampon steril
- Catton pellet steril

2. Persiapan Pasien, Operator, dan Asisten


a. Pasien
- Instrusi kepada pasien untuk menjaga kondisi tubuh, mengatur diet yang seimbang, dan
istirahat yang cukup menjelang hari operasi.
- Mengatur jadwal operasi agar tidak bertepatan dengan waktu pasien menstruasi.
- Penjelasan prosedur bedah kepada pasien.
- Pasien membuat Informed Concent sebagai persetujuan dilakukannya tindakan bedah.
- Mengukur vital sign pasien (tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 80, dan repirasi 18).
- Mengukur PBI dan HYG sebagai persiapan operasi.
- Pasien berkumur dengan klorheksidin gargle 0,12% (GarglinTM) sebagai antiseptik mulut
preoperasi.
- Mengisolasi daerah kerja dengan kain steril.

Gambar 3. Pemeriksaan vital sign sebelum pelaksanaan bedah


b. Operator
- Menguasai teori dan tata laksana depigmentasi gingiva dengan metode abrasif.
- Melaporkan hasil berbagai pemeriksaan yang dilakukan pada pasien sebelum

pembedahan dan melakukan pembedahan setelah izin bekerja dari dosen diperoleh.

- Cuci tangan dengan menggosok seluruh permukaan tangan hingga siku dengan sabun.
- Memakai penutup kepala, kaca mata kerja, dan masker dan handschoen.

c. Asisten I bertanggung jawab pada penyiapan alat, pendistribusian alat, dan pengadukan
periodontal pack
- Mengetahui teori dan tata laksana dari tugas.
- Memakai penutup kepala dan masker
- Cuci tangan dengan menggosok seluruh permukaan tangan hingga siku dengan sabun.
- Memakai sarung tangan.
- Mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam tindakan depigmentasi gingiva.
d. Asisten II bertanggung jawab pada pengopersian saliva ejector, pengirigasian larutan
NaCl 0,9% dan mengontrol perdarahan
- Mengetahui teori dan tata laksana dari tugas.
- Memakai penutup kepala dan masker
- Cuci tangan dengan menggosok seluruh permukaan tangan hingga siku dengan sabun.
- Memakai sarung tangan.
e. Asisten III bertanggung jawab pada pendokumentasian setiap langkah kerja.
- Mengetahui teori dan tata laksana dari tugas.
- Mempersiapkan alat dokumentasi

3. Penatalaksanaan
a. Mengoleskan Povidone Iodine 10% pada lipatan mukogingiva.
Gambar 4. Pengolesan Povidone Iodine 10%

b. Menginfiltrasikan ExtracaineTM pada mukogingiva bagian labial pada apeks gigi


premolar satu dan ujung apeks gigi kaninus masing-masing 1cc untuk menganestesi mukosa
gingival bagian labial dari midline hingga gigi premolar satu.

Gambar 5. Anestesi infiltrasi pada lipatan mukogingiva

c. Memeriksa jalannya anestesi dengan menggunakan sonde.


d. Memasang mouth retractor untuk membantu dalam membuka daerah kerja.
e. Menentukan proyesi kerja dari tindakan depigmentasi gingiva dengan menggunakan
pocket marker.
Gambar 6. Penentuan proyesi kerja dari tindakan depigmentasi gingiva
dengan menggunakan pocket marker

f. Mengabrasifkan permukaan mukosa yang mengalami hiperpigmentasi dengan gerakan


menyapu hingga permukaan yang mengalami hiperpigmentasi hilang dan tampak permukaan
mukosa yang berwarna kemerahan. Apabila terjadi perdarahan dihentikan dengan menggunakan
adrenalin. Menghindari permukaan yang terlalu dekat dengan periosteum untuk menghindari
perforasi epitel yang akan mengakibatkan kerusakan tulang alveolar dan perlambatan
penyembuhan luka pascaoperasi. Menghindari depigmentasi pada free gingiva dan interdental
untuk menghindari kehilangan perlekatan antara gingiva dengan gigi.

Gambar 7. Tindakan Depigmentasi Dengan Teknik Abrasif


g. Mengirigasi permukaan yang diabrasif dengan larutan NaCl 0,9% untuk melicinkan
mukosa, membuang sisa-sisa epitel yang diabrasif, mencegah kekeringan jaringan, dan
membasuh luka yang terjadi pada saat prosedur abrasif dilakukan.
h. Melanjutkan depigmentasi hingga seluruh mukosa yang mengalami hiperpigmentasi dari
midline hingga gigi premolar satu.
i. Membesihkan daerah kerja dari saliva, darah, dan sisa-sisa epitel dengan Povidone Iodine
encer.
j. Menekan daerah luka dengan kasa steril yang dibasahi larutan NaCl 0,9% selama 2-3
menit untuk menghentikan perdarahan.

Gambar 8. Mengontrol Perdarahan Sebelum Pemasangan Pack

k. Memasang pack periodontal dengan membasahi terlebih dahulu tangan dengan alkohol
untuk mencegah pack melekat di tangan. Pack kemudian dibentuk membentuk silinder sepanjang
dari daerah operasi yang akan ditutup.
l. Menempatkan pack di daerah operasi kemudian dengan bantuan dari bibir pasien memijat
bibir untuk membentuk permukaan pack yang sesuai dengan kontur gigi.
m. Memasukkan ujung dari pack ke dalam interdental untuk menstabilkan pack periodontal.
n. Memotong kelebihan dari pack periodontal
o. Membentuk ujung-ujung pack periodontal.
p. Memeriksa kembali peletakan dan perlekatan pack periodontal.
Gambar 9. Pemasangan Pack Periodontal

IV MEDIKAMEN PASCA BEDAH

1. Amoxicillin 500mg 3x1 selama 5 hari


Merupakan antibiotik spectrum luas untuk membunuh bakteri dan pasien tidak memiliki riwayat
alergi terhadap antibiotic ini.
2. Asam Mefenamat 500mg 3x1 selama 5 hari bila sakit
Diberikan sebagai analgesik. Pasien tidak memiliki riwayat kelainan pencernaan.
3. Klorheksidin gargle (GarglinTM)
mencegah penimbunan debris dan plak di sekitar daerah operasi
4. Instruksi
a. Jangan menggangu pack atau membuka pack.
b. Jangan berkumur terlalu keras.
c. Menghindari makanan yang merangsang seperti makanan yang asam, pedas, dan keras.
d. Menghindari makanan atau minuman panas untuk mencegah perdarahan lanjut 2x24 jam
pasca operasi.
e. Pasien tetap menggosok gigi kecuali daerah yang ditutup pack periodontal.
f. Gunakan larutan kumur klorheksidin gargle di pagi dan malam hari sebelum tidur untuk
mencegah penimbunan debris dan plak di sekitar daerah operasi.
g. Pasien kontrol 3 hari kemudian.

V KONTROL

1. Kontrol 3x24 jam setelah penatalaksanan


a. Pemeriksaan Subjektif : tidak ada keluhan kurang nyaman ataupun nyeri.
b. Pemeriksaan objektif :
- Ektra Oral : tidak ada pembengkakan
- Intra Oral : tidak ada pembengkakan
- Pack periodontal masih terpasang dengan baik
c. Tidak ada peresepan lanjutan.
d. Instruksi pasien untuk tetap menjaga kebersihan mulut.
Gambar 10. Kontrol 3 Hari Setelah Penatalaksanaan

2. Kontrol 1 minggu setelah penatalaksanaan


a. Pembukaan pack periodontal
b. Meminta pasien untuk berkumur dengan Povidone Iodine encer
c. Membersihkan daerah operasi dengan menggunakan cotton pellet yang dibasahi
Povidone Iodine 10% dengan gerakan yang halus dan tanpa tekanan
d. Pemeriksaan Subjektif : tidak ada keluhan kurang nyaman ataupun nyeri.
e. Pemeriksaan Objektif :
- Ektra Oral : tidak ada pembengkakan
- Intra Oral : tidak terdapat perdarahan, warna gingiva telah menjadi merah, tidak ada
pembengkakan, proses reepitelisasi telah terjadi, kontur gingiva baik
f. Intruksi pasien untuk tetap menjada kebersihan mulut dan tidak terlalu keras menggosok
daerah operasi yang baru dibuka.
Gambar 11. Kontrol 1 Minggu Setelah Penatalaksanaan
Gambar 12. Kontrol 2 Minggu Setelah Penatalaksanaan

Gambar 13. Kontrol 1 Bulan Setelah Penatalaksanaan

Pemeriksaan HYG dan PBI setelah dialkukan pembedahan

HYG

No. Kontrol PBI Sebelum Menyikat Gigi Setelah Menyikat Gigi

1. Pertama
2. Kedua

3. Ketiga

4. Keempat

5. Kelima

6. Keenam

7. Ketujuh

VI PEMBAHASAN

Pigmentasi adalah perubahan warna mukosa rongga mulut karena berbagai macam lesi dan
kondisi tertentu1. Pigmentasi umumnya disebabkan oleh 5 pigmen utama yaitu: melanin,
melanoid, oxyhemoglobin, hemoglobin dan karoten, selain itu pigmen lainnya bilirubin dan besi.
Hiperpigmentasi gingiva disebabkan oleh deposit melanin yang berlebih pada lapisan basal dan
suprabasal dari epithelium tanpa peningkatan jumlah dan ukuran dari melanosit, melanin ini
diproduksi oleh melanosit2,3. Melanin adalah pigmen warna coklat pada kulit, gingiva dan
membran mukosa mulut1,4.
Pigmentasi dan diskolorisasi pada gingiva dapat disebabkan oleh berbagai faktor lokal dan

sistemik :

1. Localized Pigmentations: Amalgam tatoo, graphite or other tattoos, nevus, melanotic

macules, melanoacanthoma, malignant melanoma, Kaposis sarcoma, epithelioid oligomatosis,

verruciform xanthoma

2. Multiple or Generalized Pigmentations

Genetik: Idiopathic melanin pigmentation (racial atau physiologic pigmentation), Peutz-


Jeghers syndrome, Laugier-Hunziker syndrome, complex of myxozomas, spotty pigmentation,
endocrine overactivity, Carney syndrome, Leopard syndrome, dan lentiginosis profuse
Obat-obatan: Merokok, betel, anti-malarials, antimicrobials, minocycline, amiodarone,
clorpromazine, ACTH, zidovudine, ketoconazole, methyldopa, busulphan, menthol, pil
kontrasepsi, dan heavy metals exposure (emas, bismuth, merkuri, perak, tembaga)
Endokrin: Addisons disease, Albrights syndrome, Acanthosis nigricans, kehamilan,
hyperthyroidism
Post Inflamatori: Penyakit periodontal, postsurgical gingiva repigmentation
Lain-lain: Haemochromatosis, generalized neurofibromatosis, incontinenti pigmenti,
Whipples disease, Wilsons disease, Gauchers disease, HIV disease, thalassemia, pigmented
gingival cyst, dan defisiensi nutrisi.
Menurut Prasad dkk (2010) Lesi pigmentasi dibagi menjadi sebagai berikut5 :

Penilaian pigmentasi melanin berdasarkan Dummett-Gupta Oral Pigmentation Index (DOPI)6 :


Gingiva maxilla dan gingiva mandibulla dibagi menjadi 32 unit, yaitu 16 unit di permukaan
lingual dan 16 unit di permukaan bukan dan labial

Skala dasar penilaian pigmentasi gingiva yang diikuti adalah :


0 : tidak ada pigmentasi klinis (gingiva berwarna merah muda)
1 : Mild (gingiva berwarna coklat muda)
2 : Moderate (gingiva berwarne coklat atau gabungan merah muda dan coklat)
3 : Heavy (gingiva berwarna coklat tua atau biru kehitaman)

Maxilla/ Mandibulla Nilai komponen


=
Gingiva 32 unit

Penilaian DOPI sesuai skala pigmentasi gingiva :


0 : Tidak ada pigmentasi gingiva secara klinis
0,031 0,97 : Mild
1,0 1,9 : Moderate
2,0 3,0 : Heavy
Secara klinis pigmentasi melanin pada gusi tidak menggangu masalah kesehatan, tetapi keluhan
gusi berwarna hitam atau coklat mengganggu penampilan terutama jika pewarnaan gusi ini
terlihat ketika berbicara atau tersenyum. Perawatan hiperpigmentasi gusi terdiri dari berbagai
macam cara dan metode yaitu : gingivektomi, gingivektomi dengan free gingival autografting,
electrosurgery, cryosurgery, bahan kimia seperti fenol 90%, tehnik abrasi dengan bor diamond,
Nd: Yag Laser dan CO2 laser1,3,7.
Prinsip dasar dari perawatan hiperpigmentasi adalah pengambilan penimbunan pigmen melanin
yang terdapat pada stratum basal maupun stratum spinosum. Menghilangkan pigmentasi melanin
pada gingiva harus dilakukan dengan hati-hati dan jangan sampai merusak gigi geligi,
menyebabkan resesi gingiva, kerusakan periosteum dan tulang alveolar, penyembuhan luka yang
terganggu.
Literatur perawatan depigmentasi memang belum banyak meskipun demikian perawatan
umumnya dilakukan karena alasan estetik dan untuk memperbaiki penampilan. Menghilangkan
pewarnaan melanin dapat dilakukan dengan berbagai cara, dengan prosedur bedah dan non
bedah. Beberapa prosedur menghilangkan pigmentasi memerlukan peralatan yang rumit dan
tidak umum tersedia di tempat praktek. Pada laporan kasus ini, depigmentasi yang dilakukan
dengan menggunakan metode bur abrasi. Pemilihan metode ini dengan alasan yaitu mudah
dikerjakan, sederhana, pengerjaannya relatif singkat.
Pada pelaksaan perawatan gingival abrasive tersebut terdapat
VII KESIMPULAN

Pigmentasi adalah perubahan warna mukosa rongga mulut karena berbagai macam lesi dan
kondisi tertentu. Pada kasus depigmentasi pada pasien Surya digunakan teknik abrasif karena
petimbangan mudah, aman dan peralatan yang diperlukan sederhana. Hasil perawatan cukup
memuaskan ditandai dengan perubahan warna gingiva menjadi merah muda. Kendala dalam
pelaksanaan perawatan tersebut adalah kurang lengkapnya peralatan yang ada sehingga dalam
pengerjaannya cukup terbatas. Selain itu, ada kemungkinan keadaan hiperpigmentasi tersebut
rekuren karena kasus ini merupakan hiperpigmentasi fisiologis dan keluarga pasien mengalami
keadaan yang serupa.
DAFTAR PUSTAKA

1. Novaes AB, Pontes CC, Souza SLS, Grisi MFM, Taba M. The use of acellular dermal
Susanto, Agus. Tehnik Gingivo Abrasi pada Penanganan Pasien Hiperpigmentasi Gusi.
Universitas Padjajaran.
2. Brunch, Jean dan Treister, Nathaniel. Clinical Oral Medicine and Pathology. New York :
Springer 2009; 2: 17
3. Mokeem, Sameer A. Management of Gingival Hyperpigmentation By Sugical Abrasion
Report of Three Cases. Saudi Dental Journal 2006; 18(3)
4. Cicek, Yasin dan Umit, Ertas. The Normal and Pathological Pigmentation of Oral
Mucous Membrane : a Review. The Journal of Contemporary Dental Practice 2003; 4(3)
5. Kauzman A, dkk. Pigmented Lesion of Oral Cavity: Review, Different Diagnosis, and
Case Presentation. J Can Dent Assoc 2004; 70(10):682-3
6. Dummett, Clifton dan Gupta. Estimating the Epidemiology of Oral Pigmentation. Journal
of the National Medical Association 1964; 419-420
7. Humagain M, Nayak DG, Uppoor AS. Gingival Depigmentation: a Case Report with
Review of Literature. Kathmandu University Teaching Hospital