Anda di halaman 1dari 4

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. HASIL PENELITIAN


4.1.1 KARAKTERISTIK SUBJEK PENELITIAN
Subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tikus Rattus novergicus
jantan galur wistar berjumlah 35 ekor. Adapun karakteristik subjek dalam penelitian ini
meliputi berat badan (BB) dan suhu yang di ukur sebelum dan sesudah latihan fisik aerobik
dan anaerobik. Selanjutnya untuk mengetahui apakah terdapat perubahan BB dan suhu
sebelum dan sesudah perlakuan dilakukan perhitungan perbedaan BB dan suhu ( BB dan
suhu). Adapun hasil perhitungan BB dan suhu ditampilkan pada tabel berikut:
Tabel 4.1. Karakter Subjek Penelitian Berdasarkan Berat Badan
No Kelompok n BB sebelum BB sesudah BB
SD (gram) SD (gram)
1. Kelompok Kontrol 5 77,32 10,29 175,48 22,06 98.1
2. Kelompok Aerobik 1x 5 103 20,64 175,28 11,98 72,2
3. Kelompok Aerobik 3x 5 97,2 8,81 179,54 24,48 82,3
4. Kelompok Aerobik 7x 5 80,20 11,51 171,02 19,39 90.8
5. Kelompok Anaerobik 1x 5 86,48 22,85 167,64 10,76 81,1
6. Kelompok Anareobik 3x 5 93,34 12,30 183,82 27,87 90,4
7. Kelompok Anaerobik 7x 5 82,10 12,84 168,54 25,59 86,4
Total 35

Tabel 4.1 menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol terjadi peningkatan berat
badan dan pada kelompok perlakuan terjadi penurunan berat badan.
Selain peninmbangan berat badan, dilakukan juga pengukuran suhu tubuh sebelum
dan sesudah perlakuan. Hasil pengukuran suhu tubuh sebelum dan sesudah latihan fisik
ditampilkan pada tabel 4.2 berikut:
Tabel 4.2. Karakteristik Subjek Penelitian Berdasarkan Suhu Tubuh
No Kelompok n Suhu sebelum Suhu sesudah Suhu
SD (gram) SD (gram)
1. Kelompok Kontrol 5 35,86 0,49 36,84 0,67 0,98
2. Kelompok Aerobik 1x 5 35,28 1,01 37,74 0,40 2,46
3. Kelompok Aerobik 3x 5 36,40 0,67 38,62 0,46 2,22
4. Kelompok Aerobik 7x 5 34,50 0,62 38,32 0,67 3,82
5. Kelompok Anaerobik 1x 5 36,48 0,69 38,20 0,55 1,72
6. Kelompok Anareobik 3x 5 36,46 0,63 38,50 0,54 2,04
7. Kelompok Anaerobik 7x 5 34,30 1,03 38,72 0,58 4.42
Total 35
Tabel 4.2. menunjukkan bahwa terjadi peningkatan suhu tubuh pada seluruh kelompok
perlakuan.

4.1.2. Kadar Endorphin Jaringan Otak Tikus Wistar


Kadar endorphin jaringan otak tikus wistar di ukur dengan metode ELISA
menggunakan ELISA kit for rat endorphin. Untuk memperoleh kadar endorphin dibuat kurva
standar dengan menggunakan sederetan konsentrasi kadar endorphin mulai dari konsentrasi
0.000 pg/mL, 15.630 pg/mL, 31.250 pg/mL, 62.500 pg/mL, 125.000 pg/mL, 250.000 pg/mL,
500.000 pg/mL. Hasilnya di peroleh hubungan linear antara absorbansi pada panjang
gelombang ????? dengan berbagai kadar endorphin. Adapun grafik standar kadar endorphin
dapat dilihat pada grafik berikut :

Standar Kurva Endorfin


600,000
500,000
400,000
300,000
con (pg/ml) 0.000
200,000
100,000
0
0 2 4 6 8

Kurva 4.1.
Kurva Standar Kadar Endorphin Jaringan Otak Tikus Wistar

Berdasarkan kurva 4.1 didapatkan persamaan garis. Persamaan ini menunjukkan


bahwa pada kadar endorphin yang digunakan untuk standar absorbansi pada panjang
gelombang??? Berbanding lurus dengan konsetransi.
Tabel 4.3. Kadar Endorphin Kelompok Kontrol, Aerobik, Dan Anaerobik
No Kelompok n Mean SD (pg/ml)
1. Kelompok Kontrol 5 33,34 3,54
2. Kelompok Aerobik 1x 5 54,45 1,41
3. Kelompok Aerobik 3x 5 47,25 6,27
4. Kelompok Aerobik 7x 5 32,33 6,02
5. Kelompok Anaerobik 1x 5 54,15 3,17
6. Kelompok Anareobik 3x 5 55,06 2,96
7. Kelompok Anaerobik 7x 5 64,16 12,16
Total 35
Tabel 4.3. menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kadar beta endorphin pada
kelompok perlakuan anaerobik dibandingkan dengan kelompok aerobik.

4.1.3. Uji Normalitas Rerata Kadar Endorphin Jaringan Otak Tikus Wistar Pada
Kelompok Kontrol dan Perlakuan
Untuk mengetahui apakah rerata kadar endorphin jaringan otak tikus wistar
berdistribusi normal atau tidak maka dilakukan uji normalitas oleh karena jumlah sampel
kurang dari 50 maka uji normalitas yang digunakan adalah uji shapirowilk. Adapun hasil uji
normalitas ditampilkan pada tabel 4.4. berikut:

Tabel 4.4. Hasil Uji Normalitas


No Kelompok n Mean SD (pg/ml) p*
1. Kelompok Kontrol 5 33,34 3,54 0,205
2. Kelompok Aerobik 1x 5 54,45 1,41 0,325
3. Kelompok Aerobik 3x 5 47,25 6,27 0,416
4. Kelompok Aerobik 7x 5 32,33 6,02 0,418
5. Kelompok Anaerobik 1x 5 54,15 3,17 0,593
6. Kelompok Anareobik 3x 5 55,06 2,96 0,138
7. Kelompok Anaerobik 7x 5 64,16 12,16 0,553
Total 35
p*uji normalitas dengan shapiro wilk p>0,005.

Berdasarkan tabel 4.4. didapat kan bahwa rerata kadar endorphin jaringan otak tikus
wistar pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan aerobik 1 kali semimggu, 3 kali
seminggu, 7 kali seminggu, dan kelompok perlakuan anaerobik 1 kali seminggu, 3 kali
seminggu, dan 7 kali seminggu berdistribusi normal (p>0,05). Berikutnya untuk mengetahui
apakah terdapat perbedaan antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan dilakukan
analisis data dengan menggunakan uji parametrik.

4.1.4. Perbandingan Rerata Kadar Endorphin Jaringan Otak Tikus Wistar Antara
Kelompok Kontrol, Kelompok Latihan Fisik Aerobik dan Anaerobik
Untuk mengetahui perbandingan rerata kadar endorphin jaringan otak tikus wistar
antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan dilakukan uji one-way anova. Hasil uji
analisis ditampilkan pada tabel 4.5 berikut.
Tabel 4.5. Hasil Uji Normalitas

No Kelompok n Mean SD (pg/ml) p*


1. Kelompok Kontrol 5 33,34 3,54 0,005
2. Kelompok Aerobik 1x 5 54,45 1,41 0,005
3. Kelompok Aerobik 3x 5 54,15 3,16 0,005
4. Kelompok Aerobik 7x 5 55,05 2,96 0,005
5. Kelompok Anaerobik 1x 5 54,45 1,41 0,005
6. Kelompok Anareobik 3x 5 47,24 6,26 0,005
7. Kelompok Anaerobik 7x 5 64,16 1,21 0,005
p* uji one-way p<0,005

Berdasarkan tabel 4.5 didapatkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna p<0,005
rerata kadar endorphin jaringan otak tikus wistar antarakelompok kontrol dan kelompok
perlakuan. Pada kelompok perlakuan yang diberikan latihan fisik??? Terjadi peningkatan
rerata kadar endorphin.
Untuk mengetahui kelompok mana yang lebih bermakna, selanjutnya dilakukan uji post- hoc.

Hasil uji post hoc ditampilkan pada tabel 4.6. berikut


KELOMPOK PERLAKUAN KONTROL AEROBIK ANAEROBIK
Kontrol 0,021 0,021
Aerobik 0,021 0.000
Anaerobik 0.000 0.000

Berdasarkan hasil uji posthoc didapatkan bahwa, terdapat perbedaan yang bermakna
(p< 0,05) rerata endorphin jaringan otak tikus wistar antara kelompok kontrol dengan
kelompok latihan fisik aerobik dan anaerobik.