Anda di halaman 1dari 14

Ketentuan Jam Kerja, Lembur Dan

Istrahat
Sugi Arto
Add Comment
Thursday, May 5, 2016

Ketentuan Jam Kerja, Lembur & Istrahat ~ Kerja merupakan sesuatu yang
dikeluarkan oleh seseorang sebagai profesi, sengaja dilakukan untuk mendapatkan
penghasilan. Kerja dapat juga di artikan sebagai pengeluaran energi untuk kegiatan
yang dibutuhkan oleh seseorang untuk mencapai tujuan tertentu. Menurut Dr. Franz
Von Magnis di dalamAnogara (2009 : 11), pekerjaan adalah kegiatan yang
direncanakan. SedangkanHegel di dalam Anogara (2009 : 12) menambahkan
bahwa inti pekerjaan adalah kesadaran manusia.

Dari pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa pekerjaan memungkinkan orang


untuk dapat menyatakan diri secara objektif kedunia ini, sehingga ia dan orang lain
dapat memandang dan memahami kebenaran dirinya. Menurut Camus di dalam
http://dhimaskasep.files.wordpress.com, tanpa bekerja hidup akan terasa tidak
enak, pekerjaan yang tidak berarti membuat hidup tidak bergairah dan kerja
merupakan sesuatu yang diinginkan oleh manusia. Henderson di dalam
http://dhimaskasep.files.wordpress.com menambahkan bahwa, manusia perlu
bekerja dan ingin bekerja serta pekerjaan yang berarti memberikan dampak fisik dan
emosi.

Ada beberapa jenis pekerja yaitu:

1. Workaholic yaitu orang yang kecanduan kerja, sangat terikat pada pekerjaan
dan tidak bisa berhenti bekerja,
2. Workshy yaitu orang yang malas bekerja, tidak mau melakukan pekerjaan,
dan pekerjaan sesuatu yang menjijikan,
3. Work Tolerant yaitu orang yang bekerja sesedikit mungkin untuk
mendapatkan hasil yang maksimum dan memandang pekerjaan sebagai
sesuatu yang tidak disenangi tetapi harus dilakukan.

Pekerjaan secara umum didefinisikan sebagai sebuah kegiatan aktif yang dilakukan
oleh manusia. Dalam arti sempit, istilah pekerjaan digunakan untuk suatu tugas atau
kerja yang menghasilkan sebuah karya bernilai imbalan dalam bentuk uang bagi
seseorang. Dalam pembicaraan sehari-hari istilah pekerjaan dianggap sama dengan
profesi.

Pekerjaan yang dijalani seseorang dalam kurun waktu yang lama disebut sebagai
karier.Seseorang mungkin bekerja pada beberapa perusahaan selama kariernya tapi
tetap dengan pekerjaan yang sama.

A. Jam Kerja

Jam Kerja, waktu Istirahat kerja, waktu lembur diatur dalam Pasal 77 sampai Pasal
85 Undang-Undang No.13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Di beberapa
perusahaan, jam kerja,waktu istirahat dan lembur dicantumkan dalam Perjanjian
Kerja Bersama (PKB).

Jam Kerja adalah waktu untuk melakukan pekerjaan, dapat dilaksanakan siang hari
dan/atau malam hari. Jam Kerja bagi para pekerja di sektor swasta diatur
dalam Undang-Undang No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, khususnya
Pasal 77 sampai dengan pasal 85. Pasal 77 ayat 1, UU No.13/2003 mewajibkan
setiap pengusaha untuk melaksanakan ketentuan jam kerja. Ketentuan jam kerja ini
telah diatur dalam 2 sistem, yaitu :

1. 7 jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu untuk 6 hari kerja
dalam 1 minggu; atau
2. 8 jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu untuk 5 hari kerja
dalam 1 minggu.

Pada kedua sistem jam kerja tersebut juga diberikan batasan jam kerja yaitu 40
(empat puluh) jam dalam 1 (satu) minggu. Apabila melebihi dari ketentuan waktu
kerja tersebut, maka waktu kerja biasa dianggap masuk sebagai waktu kerja lembur
sehingga pekerja/buruh berhak atas upah lembur.

Akan tetapi, ketentuan waktu kerja tersebut tidak berlaku bagi sektor usaha atau
pekerjaan tertentu seperti misalnya pekerjaan di pengeboran minyak lepas pantai,
sopir angkutan jarak jauh, penerbangan jarak jauh, pekerjaan di kapal (laut), atau
penebangan hutan.

Ada pula pekerjaan-pekerjaan tertentu yang harus dijalankan terus-menerus,


termasuk pada hari libur resmi (Pasal 85 ayat 2 UU No.13/2003). Pekerjaan yang
terus-menerus ini kemudian diatur dalam Kepmenakertrans No. Kep-233/Men/2003
Tahun 2003 tentang Jenis dan Sifat Pekerjaan yang Dijalankan Secara Terus
Menerus. Dan dalam penerapannya tentu pekerjaan yang dijalankan terus-menerus
ini dijalankan dengan pembagian waktu kerja ke dalam shift-shift.

Ketentuan mengenai pembagian jam kerja, saat ini mengacu pada UU No.13/2003.
Ketentuan waktu kerja diatas hanya mengatur batas waktu kerja untuk 7 atau 8
sehari dan 40 jam seminggu dan tidak mengatur kapan waktu atau jam kerja dimulai
dan berakhir.

Pengaturan mulai dan berakhirnya waktu atau jam kerja setiap hari dan selama
kurun waktu seminggu, harus diatur secara jelas sesuai dengan kebutuhan oleh
para pihak dalam Perjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan (PP) atau Perjanjian Kerja
Bersama (PKB).

Pada beberapa perusahaan, waktu kerja dicantumkan dalam Peraturan


Perusahaan (PP) atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB). Sebagaimana diatur dalam
Pasal 108 ayat 1 UU No.13/2003, PP dan PKB mulai berlaku setelah disahkan oleh
Menteri atau pejabat yang ditunjuk (biasanya Disnaker).

Pengertian pengukuran waktu kerja merupakan Usaha untuk menentukan lama kerja
yang dibutuhkan seorang Operator (terlatih dan qualified) dalam menyelesaikan
suatu pekerjaan yang spesifik pada tingkat kecepatan kerja yang NORMAL dalam
lingkungan kerja yang TERBAIK pada saat itu.

Managemen perusahaan dapat mengatur jam kerja dan kerja lembur dan
perhitungan upah lembur (baik melalui Peraturan Perusahaan maupun Perjanjian
Kerja Bersama) sepanjang masih sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

UU Tenaga Kerja No.13 Tahun 2003 tidak mengatur mengenai panggilan kerja
secara tiba-tiba. Peraturan Perusahaan ataupun Perjanjian Kerja Bersama-lah yang
mengatur mengenai ketentuan panggilan kerja secara tiba-tiba di hari libur. Syarat
dari pemanggilan kerja secara tiba-tiba ini adalah Ada persetujuan pekerja/buruh
yang bersangkutan Terdapat pekerjaan yang membahayakan keselamatan
perusahaan jika tidak cepat diselesaikan. Dalam penyelesaian pekerjaan yang
sangat penting bagi perusahaan dan tetap memperhatikan saran saran Serikat
Pekerja.
B. Jam Lembur (Overtime)

1. Ketentuan

Kerja lembur atau Overtime adalah pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan, atas
dasar perintah atasan, yang melebihi jam kerja biasa pada hari-hari kerja, atau
pekerjaan yang dilakukan pada hari istirahat mingguan karyawan atau hari libur
resmi.

Peraturan Ini berlaku untuk semua karyawan golongan I III. Prinsip kerja lembur
pada dasatnya bersifat sukarela, kecuali dalam kondisi tertentu pekerjaan harus
segera diselesaikan untuk kepentingan perusahaan.

Waktu kerja lembur adalah waktu kerja yang melebihi 7 jam sehari untuk 6 hari kerja
dan 40 jam dalam seminggu atau 8 jam sehari untuk 8 hari kerja dan 40 jam dalam
seminggu atau waktu kerja pada hari istirahat mingguan dan atau pada hari libur
resmi yang ditetapkan Pemerintah (Pasal 1 ayat 1 Peraturan Menteri
no.102/MEN/VI/2004).

Waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 jam/hari dan 14 jam
dalam 1 minggu diluar istirahat mingguan atau hari libur resmi.

Ketentuan kerja lembur (Pasal 6 Peraturan Menteri no.102/MEN/VI/2004) :

1. Untuk melakukan kerja lembur harus ada perintah tertulis dari pengusaha dan
persetujuan tertulis dari pekerja/buruh yang bersangkutan.
2. Perintah tertulis dan persetujuan tertulis dibuat dalam bentuk daftar
pekerja/buruh yang bersedia bekerja lembur yang ditandatangani oleh
pekerja/buruh yang bersangkutandan pengusaha.

Perusahaan yang mempekerjakan pekerja/buruh selama waktu kerja lembur


berkewajiban (Pasal 7 Peraturan Menteri no.102/MEN/VI/2004) :

1. membayar upah kerja lembur,


2. memberi kesempatan untuk istirahat secukupnya,
3. memberikan makanan dan minuman sekurang-kurangnya 1.400 kalori apabila
kerja lembur dilakukan selama 3 (tiga) jam atau lebih. (Pemberian makan dan
minum sebagaimana dimaksud tidak boleh diganti dengan uang).

2. Tarif Upah Lembur


Perhitungan Upah Lembur didasarkan upah bulanan dengan cara menghitung upah
sejam adalah 1/173 upah sebulan.

Tarif upah lembur : 1/173 x Gaji Pokok.


Perhitungan lembur dilakukan pada hari kerja biasa :

1. Untuk jam pertama adalah 1,5 kali TUL,


2. Untuk jam-jam berikutnya adalah sebesar 2 kali TUL,
3. Lebih dari jam 19.30 WIB akan mendapatkan 1 kali tunjangan makan, dan
4. Lebih dari jam 22.30 WIB akan mendapatkan 1 kali tunjangan transport.

Perhitungan lembur dilakukan pada hari istirahat mingguan atau hari raya
resmi :

1. Untuk setiap jam dalam batas waktu 7 (tujuh) jam pertama adalah sebesar
dua kali TUL,
2. Untuk jam ke 8 (delapan) sebesar 3 kali TUL, dan
3. Untuk jam ke 9 (sembilan) dan seterusnya adalah sebesar empat kali TUL.

Pekerjaan lembur kurang dari (setengah) jam sehari tidak diperhitungkan


dengan upah lembur.
Ketentuan upah lembur hanya berlaku untuk karyawan dengan golongan I-III
atau dinyatakan lain dalam perjanjian kerja.
Untuk karyawan shift, bilamana hari tugasnya jatuh pada hari libur resmi
(raya), maka jam kerja pada hari tersebut dihitung sebagai kerja lembur, dan
perhitungan upah lemburnya mempergunakan perhitungan jam lembur hari
raya.

Cara perhitungan upah kerja lembur sebagai berikut :

Apabila kerja lembur dilakukan pada hari kerja :

1. untuk jam kerja lembur pertama harus dibayar upah sebesar 1,5 (satu
setengah) kali upah sejam;
2. untuk setiap jam kerja lembur berikutnya harus dibayar upah sebesar 2(dua)
kali upah sejam.

Apabila kerja lembur dilakukan pada hari istirahat mingguan dan/atau hari
libur resmi untuk waktu kerja 6 (enam) hari kerja 40 (empat puluh) jam
seminggu maka :
1. perhitungan upah kerja lembur untuk 7 (tujuh) jam pertama dibayar 2 (dua)
kali upah sejam, dan jam kedelapan dibayar 3 (tiga) kali upah sejam dan jam
lembur kesembilan dan kesepuluh dibayar 4 (empat) kali upah sejam.
2. apabila hari libur resmi jatuh pada hari kerja terpendek perhitungan upah
lembur 5 (lima) jam pertama dibayar 2 (dua) kali upah sejam, jam keenam
3(tiga) kali upah sejam dan jam lembur ketujuh dan kedelapan 4 (empat) kali
upah sejam.

Apabila kerja lembur dilakukan pada hari istirahat mingguan dan/atau hari
libur resmi untuk waktu kerja 5 (lima) hari kerja dan 40 (empat puluh) jam
seminggu, maka perhitungan upah kerja lembur untuk 8 (delapan) jam
pertama dibayar 2 (dua) kali upah sejam, jam kesembilan dibayar 3(tiga) kali
upah sejam dan jam kesepuluh dan kesebelas 4 (empat) kali upah sejam.

3. Tunjangan Makan Dan Transport Untuk Kerja Lembur

1. Hari Kerja Biasa, Bila pekerjaan lembur dilakukan melewati jam 19.30 WIB,
bila tidak disediakan makan oleh Perusahaan akan diberikan tunjangan
makan yang besarnya ditetapkan oleh Perusahaan.
2. Hari Libur / Raya,Karyawan yang melakukan pekerjaan lembur pada hari
istirahat minguan atau hari libur resmi/hari raya akan mendapat tunjangan
transport sesuai dengan ketentuan hari kerja biasa ditambah tunjangan
makan jika lembur yang dijalani telah melewati 3 (tiga) jam kerja.

Tunjangan transport tidak berlaku bagi karyawan yang mendapat fasilitas


kendaraan, sebagai kebijakan Perusahaan dapat mempertimbangkan mengganti
biaya transport (mis: tol, uang parkir dll) sesuai dengan biaya sebenarnya yang
dikeluarkan oleh karyawan untuk keperluan lembur tersebut.

Bila pekerjaan lembur dilakukan melewati jam 19.30 WIB, bila tidak disediakan
makan oleh Perusahaan akan mendapat tunjangan makan sesuai dengan yang
telah ditetapkan oleh Perusahaan.

4. Perhitungan Upah Lembur Pada Hari Kerja

Jam Lembur Rumus Keterangan


Jam Pertama 1,5 X 1/173 x Upah Upah Sebulan adalah 100% Upah bila
Sebulan upah yang berlaku di perusahaan
terdiri dari upah pokok dan tunjangan
tetap.
Jam Ke-2 & 3 2 X 1/173 x Upah Atau 75% Upah bila Upah yang
Sebulan berlaku di perusahaan terdiri dari
upah pokok, tunjangan tetap dan
tunjangan tidak tetap. Dengan
ketentuan Upah sebulan tidak boleh
lebih rendah dari upah minimum

Contoh:

Jam kerja Manda adalah 8 jam sehari/40 jam seminggu. Ia harus melakukan kerja
lembur selama 2 jam/hari selama 2 hari. Gaji yang didapat Manda adalah Rp.
2.000.000/bulan termasuk gaji pokok dan tunjangan tetap. Berapa upah lembur yang
didapat Manda?

Manda hanya melakukan kerja lembur total adalah 4 jam. Take home pay Manda
berupa Gaji pokok dan tunjangan tetap berarti Upah sebulan = 100% upah

Sesuai dengan rumus maka Upah Lembur Manda :


4 jam x 1/173 x Rp. 2.000.000 = Rp.46.243

5. Administrasi

Karyawan yang akan melakukan kerja lembur harus atas permintaan atasan atau
mendapat persetujuan dari atasan karyawan yang bersangkutan, yang dinyatakan
dalam Surat Perintah Kerja Lembur.

SPKL yang sudah ditanda tangani oleh atasan yang bersangkutan diserahkan ke
bagian HRD, untuk dibuatkan perhitungan dan pembayarannya.
Pembayaran upah lembur dilakukan bersama sama dalam gaji bulan berikutnya.

C. Jam Istirahat Kerja

Jam istirahat kerja adalah waktu untuk pemulihan setelah melakukan pekerjaan
untuk waktu tertentu. Sudah merupakan kewajiban dari perusahaan untuk
memberikan waktu istirahat kepada pekerjanya.

Setiap pekerja berhak atas istirahat antara jam kerja dalam sehari, sekurang-
kurangnya 1/2 jam setelah bekerja 4 jam terus menerus dan waktu istirahat tersebut
tidak termasuk jam kerja (Pasal 79 UU 13/2003). Selain itu, pengusaha wajib
memberikan waktu secukupnya bagi pekerja untuk melaksanakan ibadah (Pasal 80
UU 13/2003).

Masa istirahat mingguan tidak boleh kurang dari 1 (satu) hari setelah 6 (enam) hari
kerja atau tidak boleh kurang dari 2 (dua) hari setelah 5 (lima) hari kerja dalam satu
minggu (Pasal 79 UU 13/2003).

Berdasarkan Pasal 85 UU no. 13 tahun 2003, pekerja tidak wajib bekerja pada hari
hari libur resmi ataupun hari libur yang ditetapkan oleh perusahaan. Karena waktu
istirahat itu merupakan hak kita, maka perusahaan wajib memberikan upah penuh.
Akan tetapi, ada kalanya perusahaan menuntut pekerja untuk tetap bekerja pada
hari hari libur karena sifat pekerjaan yang harus dilaksanakan terus menerus.
Perusahaan yang mempekerjakan pekerjanya di hari libur, wajib membayar upah
lembur.

Syarat-syarat kerja yang harus dicantumkan dalam Perjanjian Kerja Bersama (PKB)
salah satunya adalah Hari Kerja, Jam Kerja, Istirahat dan Waktu Lembur. Waktu
istirahat yang sesuai dengan UU No.13/2003, waktu istirahat antara jam kerja
sekurang-kurangnya setengah jam setelah bekerja selama 4 jam terus menerus dan
waktu istirahat tersebut tidak termasuk jam kerja (Pasal 79 UU 13/2003). Dan waktu
istirahat mingguan adalah 1 hari untuk 6 hari kerja/minggu atau 2 hari untuk 5 hari
kerja/minggu (Pasal 79 UU 13/2003).

Pada praktiknya, waktu istirahat ini diberikan oleh perusahaan pada jam makan
siang, ada yang 11.30-12.30, atau 12.00-13.00 ada pula yang memberikan waktu
istirahat 12.30-13.30. Ada yang memberi waktu istirahat hanya setengah jam,
namun sebagian besar perusahaan memberikan waktu istirahat satu jam. Dan
penentuan jam istirahat ini menjadi kebijakan dari masing-masing perusahaan yang
diatur dalam Peraturan Perusahaan (PP), atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB).

Dalam Perjanjian Kerja Bersama, diatur lebih merinci mengenai jam kerja, waktu
istirahat dan jam kerja bagi yang bekerja dengan sistem shift-shift. Dan biasanya
dalam PKB pun, dirinci jam kerja shift bagi setiap divisi (contoh divisi produksi,
keamanan, dll).

Ketentuan hari dan jam kerja dalam Perjanjian Kerja Bersama dapat dirubah
berdasarkan kesepakatan antara Pengusaha dengan Serikat Pekerja serta
pelaksanaannya dilakukan dengan menetapkan kalender kerja setiap tahunnya
dengan tentunya mengindahkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Setiap karyawan berhak atas istirahat antara jam kerja dalam sehari, sekurang
kurangnya 1/2 jam setelah bekerja 4 jam terus menerus dan waktu istirahat tersebut
tidak termasuk jam kerja. Selain itu, pengusaha wajib memberikan waktu
secukupnya bagi karyawannya untuk melaksanakan ibadah.

D. Pengaturan Jam Kerja Shift Pagi, Siang Dan Malam Hari

Pengaturan jam kerja dalam sistem shift diatur dalam UU No.13 Tahun 2003
Tentang Ketenagakerjaan yaitu diatur dalam pasal-pasal sebagai berikut :

Jika jam kerja di lingkungan suatu perusahaan atau badan hukum lainnya
(selanjutnya disebut perusahaan) ditentukan 3 (tiga) shift, pembagian setiap
shift adalah maksimum 8 jam per-hari, termasuk istirahat antar jam kerja
(Pasal 79 ayat 2 huruf a UU No.13/2003);
Jumlah jam kerja secara akumulatif masing-masing shift tidak boleh lebih dari
40 jam per minggu (Pasal 77 ayat 2 UU No.13/2003);
Setiap pekerja yang bekerja melebihi ketentuan waktu kerja 8 jam/hari per-
shift atau melebihi jumlah jam kerja akumulatif 40 jam per minggu, harus
sepengetahuan dan dengan surat perintah (tertulis) dari pimpinan
(management) perusahaan yang diperhitungkan sebagai waktu kerja lembur
(Pasal 78 ayat 2 UU No.13/2003).

Dalam penerapannya, terdapat pekerjaan yang dijalankan terus-menerus yang


dijalankan dengan pembagian waktu kerja ke dalam shift-shift. Menurut
Kepmenakertrans No.233/Men/2003, yang dimaksud dengan pekerjaan yang
diljalankan secara terus menerus disini adalah pekerjaan yang menurut jenis dan
sifatnya harus dilaksanakan atau dijalankan secara terus menerus atau dalam
keadaan lain berdasarkan kesepakatan antara pekerja dengan pengusaha. Contoh-
contoh pekerjaan yang jenis dan sifatnya harus dilakukan terus menerus adalah :
pekerjaan bidang jasa kesehatan, pariwisata, transportasi, pos dan telekomunikasi,
penyediaan listrik, pusat perbelanjaan, media massa, pengamanan dan lain lain
yang diatur dalam Kep.233/Men/2003 Pasal 2.

Ada pula peraturan khusus yang mengatur mengenai pembagian waktu kerja bagi
para Satpam yaitu SKB Menakertrans dan Kapolri Nomor Kep.275/Men/1989 dan
Nomor Pol.Kep/04/V/1989. Dan juga peraturan khusus mengenai waktu kerja bagi
pekerja di sektor usaha energi dan sumber daya mineral yaitu Keputusan Menteri
Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Nomor Kep.234//Men/2003 tentang Waktu Kerja
dan Waktu Istirahat Pada Sektor Usaha Energi Dan Sumber Daya Mineral pada
Daerah Tertentu.

Menurut Pasal 76 Undang-Undang No. 13 tahun 2003, pekerja perempuan yang


berumur kurang dari 18 (delapan belas) tahun dilarang dipekerjakan antara pukul
23.00 sampai dengan pukul 07.00, yang artinya pekerja perempuan diatas 18
(delapan belas) tahun diperbolehkan bekerja shift malam (23.00 sampai 07.00).
Perusahaan juga dilarang mempekerjakan pekerja perempuan hamil yang menurut
keterangan dokter berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan kandungannya
maupun dirinya apabila bekerja antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 07.00.

Bagaimana Perjanjian Kerja Bersama mengatur mengenai kerja shift pagi, siang dan
malam?
Karena tidak diatur secara spesifik mengenai pembagian jam kerja ke dalam shift-
shift dalam UU no.13/2003, berapa jam seharusnya 1 shift dilakukan, maka pihak
manajemen perusahaan dapat melakukan pengaturan jam kerja shift (baik
melalui Peraturan Perusahaan, Perjanjian Kerja maupun Perjanjian Kerja Bersama)
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Saat seorang karyawan bekerja sampai melewati jam kerja normal, bahwa
perusahaan wajib menyediakan transportasi untuk mengantar pulang karyawan
tersebut. Upah dibayar penuh oleh perushaan di hari waktu istirahat mingguan
(weekend/day off) dan hari libur nasional.

Sudah merupakan kewajiban dari perusahaan untuk memberikan waktu istirahat


kepada pekerjanya. Masa istirahat mingguan tidak boleh kurang dari 1 (satu) hari
setelah 6 (enam) hari kerja atau tidak boleh kurang dari 2 (dua) hari setelah 5 (lima)
hari kerja dalam satu minggu dan berdasarkan Undang Undang No. 13 Pasal 85
tahun 2003, pekerja tidak wajib bekerja pada hari hari libur resmi ataupun hari libur
yang ditetapkan oleh perusahaan. Karena waktu istirahat itu merupakan hak kita,
maka perusahaan wajib memberikan upah penuh. Akan tetapi, ada kalanya
perusahaan menuntut pekerja untuk tetap bekerja pada hari hari libur karena sifat
pekerjaan yang harus dilaksanakan terus menerus. Perusahaan yang
mempekerjakan pekerjanya di hari libur, wajib membayar upah lembur.
Jam kerja yang sesuai dengan Undang undang di Indonesia adalah 40 jam/minggu,
untuk jam kerja lebih dari itu, perusahaan wajib membayarkan upah lembur. Apabila
perusahaan tidak memberikan upah lembur, pekerja bisa menuntut via manajemen
sumber daya manusia di perusahaan tersebut ataupun berkonsultasi dengan serikat
buruh dan perusahaan pun bisa terkena sanksi pidana/administratif.

Akan tetapi, terkadang ada perusahaan di jenis pekerjaan tertentu yang memang
mengharuskan pekerjanya untuk bekerja lebih dari jam kerja standar. Pengusaha
yang mempekerjakan pekerja melebihi waktu harus memenuhi syarat :

1. ada persetujuan pekerja/buruh yang bersangkutan,


2. waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 (tiga) jam dalam 1
(satu) hari dan 14 (empat belas) jam dalam 1 (satu) minggu

Biasanya perusahaan akan memberi tahu jam kerja kita yang melebihi standar dan
sistem pengupahannya pada saat interview dan kita berhak melakukan negosiasi
mengenai hal ini. Kesepakatan jam kerja itu akan ditulis dalam Surat Perjanjian
Kerja. Jika telah terjadi kesepakatan mengenai hal ini, kita tidak bisa menuntut.

Menurut Undang-Undang no.13 tahun 2003, jam kerja yang berlaku adalah 7 jam
dalam 1 hari dan 40 jam dalam 1 minggu untuk karyawan dengan 6 hari kerja.
Sedangkan untuk karyawan dengan 5 hari kerja dalam 1 minggu, kewajiban bekerja
mereka 8 jam dalam 1 hari dan 40 jam dalam 1 minggu. Akan tetapi, ketentuan
waktu kerja diatas tidak berlaku bagi sektor usaha atau pekerjaan tertentu contohnya
: pekerjaan di sektor pertambangan, layanan jasa 24 jam seperti Rumah Sakit,
Pemadam Kebakaran, Call Center, dsb. Jam kerja pada pekerjaan ini mencapai 8
sampai 12 jam kerja dalam 1 hari.

Untuk jam kerja shift malam, pada prakteknya karyawan shift malam bekerja selama
7 jam dalam 1 hari selama 5 hari kerja dengan total 35 jam dalam 1 minggu,
berbeda 5 jam dalam seminggu dibanding jam kerja shift pagi/siang. Akan tetapi ada
juga perusahaan yang tetap mempekerjakan karyawan shift malam sama seperti
karyawan shift pagi/siang yaitu 8 jam/hari atau 40 jam seminggu dengan
memberikan tunjangan shift.

Perusahaan dilarang mempekerjakan buruh/pekerja 2 kali dalam 1 hari kerja bagi


para pekerja shift. Sebab, tidak ada Undang-Undang Ketenagakerjaan yang
mengatur bahwa pekerja shift diharuskan datang 2 kali dalam 1 hari kerja. UU baik
Peraturan Menteri Kep.234/MEN/2003 maupun Permen Menteri No.15 Tahun 2005
Tentang Waktu Kerja dan Istrahat Pada Sektor Usaha Pertambangan Umum Pada
Daerah Operasi Tertentu juga tidak mengatur shift seperti tersebut. Pasal 77 ayat
(3) UU No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan yang selengkapnya berbunyi
"Ketentuan waktu kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak berlaku
bagi sektor usaha atau pekerjaan tertentu".

Sementara itu penjelasan terkait pasal 77 ayat (3) adalah yang dimaksud sektor
usaha atau pekerjaan tertentu dalam ayat ini misalnya pekerjaan di pengeboran
minyak lepas pantai, sopir angkutan jarak jauh, penerbangan jarak jauh, pekerjaan
di kapal (laut), atau penebangan hutan.

Jadi, bila ada Peraturan Perusahaan (PP) di perusahaan tempat Anda bekerja
bertentangan dengan Peraturan yang ada maka Peraturan Perusahaan tempat anda
bekerja menjadi batal demi hukum.

Apabila perusahaan mengadakan kegiatan aktifitas diluar jam kerja yang tidak ada
hubungannya dengan pelayanan kerja seperti senam pagi. Hal tersebut tidak dapat
dikategorikan sebagai waktu kerja lembur bagi pekerja shift/pekerja yang sedang
libur.

Kebijakan senam pagi yang dibuat oleh perusahaan tersebut bila dipandang dari sisi
positif adalah untuk kepentingan untuk menjaga kesehatan dan kebugaran para
karyawan. Akan tetapi bila bertolak belakang dengan jam tugas dengan shift yang
tidak memungkinkan dilaksanakan, maka Anda dapat mennyampaikan keberatan
kepada manajemen perusahaan dengan alasan yang tepat.

Akan tetapi, apabila perusahaan Anda mengadakan kegiatan/pertemuan diluar jam


kerja berkaitan dengan tugas, maka Anda berhak atas upah lembur sesuai
ketentuan perundang-undangan. Perintah lembur harus atas persetujuan karyawan
yang bersangkutan berdasarkan ketentuan Pasal 78 ayat (1) dan ayat (2) yang
selengkapnya berbunyi sebagai berikut;

Ayat (1) Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh melebihi waktu kerja


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 ayat (2) harus memenuhi syarat :

ada persetujuan pekerja/buruh yang bersangkutan; dan


waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 (tiga) jam dalam 1
(satu) hari dan 14 (empat belas) jam dalam 1 (satu) minggu.
Ayat (2) Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh melebihi waktu kerja
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib membayar upah kerja lembur.

Jam kerja dan istirahat pada sektor usaha energi dan sumber daya mineral pada
daerah tertentu diatur dalam Pasal 5 ayat (2)Kepmenakertrans No.234/MEN/2003
Tentang Waktu Kerja dan Istirahat Pada Sektor Usaha Energi dan Sumber Daya
Mineral Pada Daerah Tertentu yang berbunyi "Perusahaan yang menggunakan
waktu kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf c sampai
dengan huruf n, harus menggunakan perbandingan waktu kerja dengan waktu
istirahat 2 (dua) banding 1 (satu) untuk 1 (satu) periode kerja dengan
ketentuan maksimum 14 (empat belas) hari terus menerus dan istirahat
minimum 5 (lima) hari dengan upah tetap dibayar".

Bila melihat ketentuan Pasal 5 ayat 2 No.234/MEN/2003 Kepmenakertrans tersebut


diatas, maka seharusnya apabila Anda bekerja selama 6 minggu seharusnya
mendapatkan 19 hari istrahat. Namun demikian bila mengacu pada Pasal 3 dan
Pasal 4 ayat (1), dan (2) Kepmennakertrans No.234/MEN/2003 yang berbunyi
sebagai berikut;
Pasal 3 "Pelaksanaan waktu istirahat diatur dalam Perjanjian Kerja, Peraturan
Perusahaan, atau Perjanjian Kerja Bersama sesuai dengan kebutuhan perusahaan".
Pasal 4 :

1. Perusahaan dapat melakukan pergantian dan atau perubahan waktu kerja


dengan memilih dan menetapkan kembali waktu kerja sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1).
2. Pergantian dan atau perubahan waktu kerja sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) wajib diberitahukan terlebih dahulu oleh Pengusaha kepada
pekerja/buruh sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) hari sebelum tanggal
perubahan dilaksanakan.

Pasal 3 diatas cukup jelas diatur Perjanjian Kerja, Peraturan


Perusahaan atau Perjanjian Kerja Bersama. Pasal 4 ayat (1) jelas perusahaan dapat
melalukan penggantian waktu kerja. Namun juga diikat pada ayat (2), bila anda
setuju tidak jadi masalah. Khusus untuk Perjanjian Kerja Bersama mekanismenya
harus menjadi Serikat Buruh.

Jika kita masuk kerja terlambat namun masih bekerja terhitung kerja 4 jam (kurang
dari 8 jam), hak upah makan tetap dapat uang makan, setiap Buruh/Pekerja telah
bekerja 4 jam secara terus menerus berhak untuk mendapat upah makan.
Sumber Hukum :

1. Undang-Undang No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan,


2. Kepmenakertrans No. Kep-233/Men/2003 Tahun 2003 tentang Jenis dan Sifat
Pekerjaan yang Dijalankan Secara Terus Menerus,
3. KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK
INDONESIA NOMOR KEP. 102/MEN/VI/2004 TENTANG WAKTU KERJA
LEMBUR DAN UPAH KERJA LEMBUR,
4. Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja dan Kepala Kepolisian RI Nomor
Kep.275/Men/1989 dan Nomor Pol.Kep /04/V/1989 tentang Pengaturan Jam
Kerja, Shift dan Jam Istirahat serta Pembinaan Tenaga Satuan Pengamanan
(SATPAM),
5. Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Nomor
Kep.234//Men/2003 tentang Waktu Kerja dan Waktu Istirahat Pada Sektor
Usaha Energi Dan Sumber Daya Mineral pada Daerah Tertentu

Referensi :

1. Abdul Khakim, Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia Berdasarkan


UU No. 13 Tahun 2003, Bandung, PT Citra Aditya Bhakti 2003.
2. Iman Soepomo, Pengantar Hukum Perburuhan, Djambatan, Jakarta, Cet. XI,
1995.
3. Sedjun H. Manulang, Pokokpokok Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia,
Jakarta, PT Rineka Cipta, Cet. II, 1995.
4. http://artonang.blogspot.co.id/2015/01/jam-kerja.htmll
5. http://artonang.blogspot.co.id/2014/12/teknis-memahami-perhitungan-upah-
lembur.html
6. http://artonang.blogspot.co.id/2014/12/peraturan-perusahaan.html
7. http://artonang.blogspot.co.id/2016/01/pengertian-fungsi-dan-tujuan-pembuatan.html