Anda di halaman 1dari 6

FATWA

DEWAN SYARI'AH NASIONAL


NO: 28/DSN-MUI/III/2002
Tentang
JUAL BELI MATA UANG (AL-SHARF)

Menimbang:
Mengingat:
Memperhatikan:
Memutuskan:
Menetapkan: FATWA TENTANG JUAL BELI MATA UANG (AL-SHARF)

Pertama:
Ketentuan Umum:
Transaksi jual beli mata uang pada prinsipnya boleh dengan ketentuan
sebagai berikut:
a. Tidak untuk spekulasi (untung-untungan)
b. Ada kebutuhan transaksi atau untuk berjaga-jaga (simpanan)
c. Apabila transaksi dilakukan terhadap mata uang sejenis maka nilainya
harus sama dan secara tunai (at-taqabudh).
d. Apabila berlainan jenis maka harus dilakukan dengan nilai tukar (kurs)
yang berlaku pada saat transaksi dilakukan dan secara tunai.

Kedua: Jenis-jenis Transaksi Valuta Asing

a. Transaksi Spot, yaitu transaksi pembelian dan penjualan valuta asing


(valas) untuk penyerahan pada saat itu (over the counter) atau
penyelesaiannya paling lambat dalam jangka waktu dua hari. Hukumnya
adalah boleh, karena dianggap tunai, sedangkan waktu dua hari dianggap
sebagai proses penyelesaian yang tidak bisa dihindari ( ) dan
merupakan transaksi internasional.

b. Transaksi Forward, yaitu transaksi pembelian dan penjualan valas yang


nilainya ditetapkan pada saat sekarang dan diberlakukan untuk waktu yang
akan datang, antara 2 x 24 jam sampai dengan satu tahun. Hukumnya adalah
haram, karena harga yang digunakan adalah harga yang diperjanjikan
(muwa'adah) dan penyerahannya dilakukan di kemudian hari, padahal harga
pada waktu penyerahan tersebut belum tentu sama dengan nilai yang
disepakati, kecuali dilakukan dalam bentuk forward agreement untuk
kebutuhan yang tidak dapat dihindari (lil hajah).

c. Transaksi Swap, yaitu suatu kontrak pembelian atau penjualan valas


dengan harga spot yang dikombinasikan dengan pembelian antara penjualan
valas yang sama dengan harga forward. Hukumnya haram, karena
mengandung unsur maisir (spekulasi).

d. Transaksi Option, yaitu kontrak untuk memperoleh hak dalam rangka


membeli atau hak untuk menjual yang tidak harus dilakukan atas sejumlah
unit valuta asing pada harga dan jangka waktu atau tanggal akhir tertentu.
Hukumnya haram, karena mengandung unsur maisir (spekulasi).

Ketiga:
Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di
kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan
sebagaimana mestinya.

...

Jazakumullah khairan

Tim PengusahaMuslim.com

Jawaban:

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi


Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Amiin.

Langsung saja, berhubungan dengan fatwa MUI yang membolehkan transaksi


spot dengan alasan bahwa itu dianggap sebagai proses penyelesaian yang
tidak dapat dihindari dan merupakan transaksi internasional, maka sebatas
ilmu yang saya miliki itu tidak dapat diterima dengan beberapa alasan
berikut:

1. Telah jelas dalil-dalil yang menunjukkaan bahwa jual-beli mata uang yang
dalam hal ini dihukumi dengan hukum emas dan perak (dinar dan dirham)
harus dilakukan dengan kontan, tanpa ada yang terhutang sedikitpun.
Diantara dalil yang menunjukkan akan hukum ini ialah sabda Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam:









.

"Emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan
gandum, sya'ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya'ir, korma dijual
dengan korma, dan garam dijual dengan garam, (takaran/timbangannya)
harus sama dan kontan. Barang siapa yang menambah atau meminta
tambahan maka ia telah berbuat riba, pemberi dan penerima dalam hal ini
sama." (HRS Muslim)

Sahabat Abu Sa'id Al Khudri radhiallahu 'anhu menuturkan bahwasannya


Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:







.

"Janganlah engkau menjual emas ditukar dengan emas melainkan sama


dengan sama, dan janganlah engkau melebihkan salah satunya dibanding
lainnya. Janganlah engkau menjual perak ditukar dengan perak melainkan
sama dengan sama, dan janganlah engkau melebihkan salah satunya
dibanding lainnya. Dan janganlah engkau menjual salah satunya diserahkan
secara kontan ditukar dengan lainnya yang tidak diserahkan secara kontan."
(Riwayat Al Bukhary dan Muslim)

Demikianlah Syari'at Islam mengajarkan kita dalam jual beli emas, perak dan
yang serupa dengannya, yaitu mata uang yang ada pada zaman kita sekarang
ini. Pembayaran harus dilakukan dengan cara kontan alias tunai dan lunas
tanpa ada yang terhutang sedikitpun.
Hukum ini merupakan hukum yang telah disepakati oleh seluruh ulama'
dalam setiap mazhab fiqih.

Kisah berikut dapat menjadi dalil yang memperjelas maksud dari


pembayaran kontan yang dimaksudkan oleh hadits-hadits di atas.
































. .
.
Ibnu Syihab mengisahkan bahwa Malik bin Aus bin Al Hadatsan menceritakan
kepadanya bahwa pada suatu hari ia memerlukan untuk menukarkan uang
seratus dinar (emas), maka Thalhah bin Ubaidillah pun memanggilku.
Selanjutnya kamipun bernegoisasi dan akhirnya ia menyetuji untuk menukar
uangku, dan iapun segera mengambil uangku dan dengan tangannya ia
menimbang-nimbang uang dinarku. Selanjutnya Thalhah bin Ubaidillah
berkata: Aku akan berikan uang tukarnya ketika bendaharaku telah datang
dari daerah Al Ghabah (satu tempat di luar Madinah sejauh + 30 KM), dan
ucapannya itu didengar oleh sahabat Umar (bin Al Khatthab), maka iapun
spontan berkata kepadaku: Janganlah engkau meninggalkannya (Thalhah bin
Ubaidillah) hingga engkau benar-benar telah menerima pembayarannya.
Karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: "Emas
ditukar dengan emas adalah riba kecuali bila dilakukan secara ini dan ini
alias tunai, gandum ditukar dengan gandum adalah riba, kecuali bila
dilakukan dengan ini dan ini alias tunai, sya'ir (satu verietas gandum yang
mutunya kurang bagus -pen) ditukar dengan sya'ir adalah riba kecuali bila
dilakukan dengan ini dan ini alias tunai, korma ditukar dengan korma adalah
riba, kecuali bila dilakukan dengan ini dan ini alias tunai." (Riwayat Bukhari)

Pada riwayat lain sahabat Umar bin Al Khattab radhiallahu 'anhu lebih tegas
lagi menjelaskan makna tunai yang dimaksudkan pada hadits-hadits di atas:















"Janganlah engkau menjual emas ditukar dengan emas melainkan sama


dengan sama, dan janganlah engkau melebihkan salah satunya dibanding
lainnya. Janganlah engkau menjual perak ditukar dengan perak melainkan
sama dengan sama, dan janganlah engkau melebihkan salah satunya
dibanding lainnya. Dan janganlah engkau menjual salah satunya diserahkan
secara kontan ditukar dengan lainnya yang tidak diserahkan secara kontan.
Janganlah engkau menjual perak ditukar dengan emas, salah satunya tidak
diserahkan secara kontan sedangkan yang lainnya diserahkan secara
kontan. Dan bila ia meminta agar engkau menantinya sejenak hingga ia
masuk terlebih dahulu ke dalam rumahnya sebelum ia menyerah barangnya,
maka jangan sudi untuk menantinya. Sesungguhnya aku khawatir kalian
melampaui batas kehalalan, dan yang dimaksud dengan melampaui batas
kehalalan ialah riba." (Riwayat Imam Malik dan Al Baihaqi)

2. Apa yang dijadikan alasan dalam fatwa MUI bahwa tempo 2 hari sebagai
batas waktu paling minimal untuk proses penyelesaian yang tidak dapat
dihindari, tidak dapat diterima. Yang demikian itu, dikarenakan proses
pembayaran pada zaman sekarang jauh lebih mudah dibanding zaman
dahulu. Bila pada keterangan Khalifah Umar bin Al Khattab radhiallahu 'anhu
tidak dibenarkan untuk menunda walau hanya sekejap, yaitu sekedar anda
masuk ke dalam rumah lalu keluar lagi, maka tempo dua hari lebih layak
untuk dilarang. Terlebih-lebih proses pemindahan uang pada zaman sekarang
jauh lebih mudah bila dibanding zaman dahulu. Anda hanya membutuhkan
kepada beberapa detik saja untuk mentransfer dana walau dalam jumlah
besar, yaitu melalui jasa internet banking atau yang semisal. Atau transfer
biasa dengan cara mendatangi kantor cabang salah satu bank yang ada di
masyarakat.

Sebagai seorang muslim yang benar-benar taat kepada Allah anda pasti akan
senantiasa berusaha untuk menundukkan hukum pasar di bawah hukum
Allah, dan bukan sebaliknya. Iman anda pasti memanggil anda untuk
merubah pola dan peraturan pasar agar sesuai dengan hukum Allah dan tidak
sebaliknya merubah hukum Allah agar sesuai dengan hukum pasar. Terlebih-
lebih bila pola dan hukum pasar yang ada adalah hasil dari rekayasa musuh-
musuh anda, yang sudah dapat dipastikan tidak perduli dengan halal dan
haram.

3. Memberi kelonggaran kepada kedua belah pihak untuk menunda


pembayaran hingga dua hari berarti memberi peluang kepada para pemakan
riba, para spekulator yang telah menjual dananya dengan skema spot untuk
melangsungkan kejahatannya. Misalnya melalui penjualan dalam skema
short selling, sebagaimana yang banyak terjadi pada pasar valas. Seorang
broker yang bernama A pada awal pembukaan pasar valas di pagi hari,
menjual uang dolar Amerika sebesar 10.000 US dolar kepada seorang
pedagang valas bernama B, dengan harga Rp 100 juta.

Dengan demikian secara teori setelah akad ini A memiliki dana 100 juta
rupiah, sedangkan B memiliki dana 10.000 US dolar. Akan tetapi pada
kenyataanya B hanya mentransfer sebesar 10 % yaitu sebesar Rp 10 juta,
dari dana yang wajib ia bayarkan ke A.

Pada penutupan pasar di sore hari, B berkewajiban menjual kembali uang


dolarnya kepada sang broker dengan kurs yang berlaku pada sore hari. Bila
pada sore hari kurs dolar terhadap rupiah melemah sehingga menjadi 1 :
9.900 maka B beruntung, karena dari setiap 1 US dolar ia mendapatkan
keuntungan Rp 100. Dan sebaliknya bila dolar menguat terhadap rupiah,
sehingga menjadi 1 : 10.100, maka B merugi tiap 1 US dolar sebesar Rp 100.
Transaksi semacam inilah salah satu penyebab terjadinya gonjang-ganjing
pada kurs suatu mata uang, oleh karena itu berbagai negara membatasinya
sedemikian rupa, bahkan melarangnya.

4. Apa yang disebutkan pada fatwa MUI bahwa transaksi valas hanya
dibolehkan bila ada keperluan misalnya untuk berjaga-jaga dan tidak untuk
spekulasi (untung-untungan) sebatas ilmu saya- adalah persyaratan yang
tidak memiliki dasar hukum, alias tanpa dalil. Karena transaksi valas (As
Sharf) adalah salah satu bentuk transaksi mukayasah yang didasari oleh
keinginan mendapatkan keuntungan, dan tidak termasuk transaksi yang
bertujuan memberikan jasa atau uluran tangan. Dengan demikian, transaksi
ini semestinya dibolehkan kapan saja, walau dengan tujuan mencari
keuntungan, asalkan dilakukan dengan cara tunai tanpa ada yang terhutang
sedikitpun dan bila penukaran uang dilakukan antara mata uang yang sama
maka nilainya harus sama tanpa ada kelebihan sedikitpun.

5. Apa yang saya tulis di sini adalah sebatas ilmu yang saya miliki, bila ada
kebenaran, maka itu datangnya hanya dari Allah dan bila terdapat kesalahan
maka itu adalah dari setan dan kebodohan diri saya, sehingga sayapun
mohon ampunan kepada Allah Ta'ala. Wallahu alam.

Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A.