Anda di halaman 1dari 5

Apoteker atau ada yang menyebutnya dengan farmasis merupakan salah satu dari profesi

kesehatan. Untuk menjadi seorang apoteker, maka setelah menamatkan sekolah


menengahnya, seseorang harus melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi dengan memilih
jurusan FARMASI. Jurusan ini berlangsung selama 4 tahun atau 8 semester. Setelah studi ini
diselesaikan dan mendapatkan gelar Sarjana, maka langkah selanjutnya adalah mengambil
kuliah profesi selama 1 tahun atau 2 semester. Baru setelah kuliah profesi ini diselesaikan,
seseorang berhak menyandang profesi apoteker yang sebelumnya harus mengucapkan
sumpah profesi di hadapan pemuka agama yang didatangkan dari instansi berwenang.

Profesi merupakan kelompok lapangan kerja yang khusus melaksanakan kegiatan yang
memerlukan ketrampilan dan keahlian tinggi guna memenuhi kebutuhan yang rumit dari
manusia, di dalamnya pemakaian dengan cara yang benar akan ketrampilan dan keahlian
tinggi, hanya dapat dicapai dengan dimilikinya penguasaan pengetahuan dengan ruang
lingkup yang luas, mencakup sifat manusia, kecenderungan sejarah dan lingkungan hidupnya;
serta adanya disiplin etika yang dikembangkan dan diterapkan oleh kelompok anggota yang
menyandang profesi tersebut. Secara garis besar, suatu profesi mengandung :

1. Keterampilan yang berdasar pada pengetahuan teoretis: Profesional diasumsikan


mempunyai pengetahuan teoretis yang ekstensif dan memiliki keterampilan yang
berdasar pada pengetahuan tersebut dan bisa diterapkan dalam praktek.
2. Asosiasi profesional: Profesi biasanya memiliki badan yang diorganisasi oleh para
anggotanya, yang dimaksudkan untuk meningkatkan status para anggotanya.
Organisasi profesi tersebut biasanya memiliki persyaratan khusus untuk menjadi
anggotanya.
3. Pendidikan yang ekstensif: Profesi yang prestisius biasanya memerlukan pendidikan
yang lama dalam jenjang pendidikan tinggi.
4. Ujian kompetensi: Sebelum memasuki organisasi profesional, biasanya ada
persyaratan untuk lulus dari suatu tes yang menguji terutama pengetahuan teoretis.
5. Pelatihan institutional: Selain ujian, juga biasanya dipersyaratkan untuk mengikuti
pelatihan institusional dimana calon profesional mendapatkan pengalaman praktis
sebelum menjadi anggota penuh organisasi. Peningkatan keterampilan melalui
pengembangan profesional juga dipersyaratkan.
6. Lisensi: Profesi menetapkan syarat pendaftaran dan proses sertifikasi sehingga hanya
mereka yang memiliki lisensi bisa dianggap bisa dipercaya.
7. Otonomi kerja: Profesional cenderung mengendalikan kerja dan pengetahuan teoretis
mereka agar terhindar adanya intervensi dari luar.
8. Kode etik: Organisasi profesi biasanya memiliki kode etik bagi para anggotanya dan
prosedur pendisiplinan bagi mereka yang melanggar aturan.
9. Mengatur diri: Organisasi profesi harus bisa mengatur organisasinya sendiri tanpa
campur tangan pemerintah. Profesional diatur oleh mereka yang lebih senior, praktisi
yang dihormati, atau mereka yang berkualifikasi paling tinggi.
10. Layanan publik dan altruisme: Diperolehnya penghasilan dari kerja profesinya dapat
dipertahankan selama berkaitan dengan kebutuhan publik, seperti layanan dokter
berkontribusi terhadap kesehatan masyarakat.
11. Status dan imbalan yang tinggi: Profesi yang paling sukses akan meraih status yang
tinggi, prestise, dan imbalan yang layak bagi para anggotanya. Hal tersebut bisa
dianggap sebagai pengakuan terhadap layanan yang mereka berikan bagi masyarakat

(Wikipedia)
Dengan melihat nama profesi ini, maka apoteker sangat erat dikaitkan dengan apotek. Apotek
sebagai salah satu tempat pengabdiaan pekerjaan kefarmasian, tempat yang paling banyak
menampung apoteker. Sesuai dengan peraturan pemerintah, apotek harus dibawah tanggung
jawab seorang apoteker. Di Indonesia, satu apotek pada umumnya memiliki satu apoteker,
kecuali pada beberapa apotek besar. Apotek di Indonesia dalam menjalankan tugasnya,
apoteker dibantu oleh beberapa tenaga teknis seperti asisten apoteker, juru racik, kasir atau
tenaga lainnya. Apoteker dalam apotek mempunyai peluang 100% untuk dapat menjumpai
dan berkomunikasi dengan pasien, memberikan inforrmasi terkait dengan obat. Akan tetapi,
bagaimana dengan kenyataannnya? Pada masa sekarang ini, apoteker masih belum dapat
memenuhi tugasnya untuk berada di apotek. Alasan-alasan yang dikemukakan pun
bermacam-macam, seperti minimnya jumlah tenaga (hanya 1 apoteker), gaji yang kecil
sehingga double-job, atau ini hanya sebagai pekerjaan sampingan sehingga kurang memiliki
tanggung jawab terhadap keberadaannya di apotek. Keberadaan apoteker di apotek bukan
hanya sekedar keberadaannya, karena keberadaan apoteker terkait dengan obat yang berguna
untuk mencegah, mengobati, dan akhirnya menyembuhkan, dalam artiannya terkait dengan
hidup pasien. Hal ini menjadikan peranan apoteker di apotek sangatlah penting, terutama bila
dikaitkan dengan standar pelayanan kefarmasian di apotek. Standar pelayanan farmasi di
apotek disusun atas kerjasama ISFI dengan Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik
Direktorat Jenderal Pelayanan Farmasi Departemen Kesehatan pada tahun 2003. Standar
kompetensi apoteker di apotek ini dimaksudkan untuk melindungi masyarakat dari pelayanan
yang tidak profesional, melindungi profesi dari tuntutan masyarakat yang tidak wajar, sebagai
pedoman dalam pengawasan praktek apoteker dan untuk pembinaan serta meningkatkan
mutu pelayanan farmasi di apotek. Didalam standar tersebut pelaksanaan farmasi di apotek
terdiri dari pelayanan obat non resep (bidang I), pelayanan komunikasi informasi edukasi
(bidang II), pelayanan obat resep (bidang III) dan pengelolaan obat (bidang IV) (Direktorat
Jenderal Pelayanan Farmasi, 2003).

Pelayanan Obat Non Resep

Pelayanan Obat Non Resep merupakan pelayanan kepada pasien yang ingin melakukan
pengobatan sendiri, dikenal dengan swamedikasi. Obat untuk swamedikasi meliputi obat-obat
yang dapat digunakan tanpa resep yang meliputi obat wajib apotek (OWA), obat bebas
terbatas (OBT) dan obat bebas (OB). Obat wajib apotek terdiri dari kelas terapi oral
kontrasepsi, obat saluran cerna, obat mulut serta tenggorokan, obat saluran nafas, obat yang
mempengaruhi sistem neuromuskular, anti parasit dan obat kulit topikal (Dirjen POM, 1997).

Apoteker dalam melayani OWA diwajibkan memenuhi ketentuan dan batasan tiap jenis obat
per pasien yang tercantum dalam daftar OWA 1 dan OWA 2. Wajib pula membuat catatan
pasien serta obat yang diserahkan. Apoteker hendaknya memberikan informasi penting
tentang dosis, cara pakai, kontra indikasi, efek samping dan lain-lain yang perlu

diperhatikan oleh pasien (Permenkes No.347 tahun 1990; Permenkes No.924 tahun 1993).

Pelayanan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)

Apoteker hendaknya mampu menggalang komunikasi dengan tenaga kesehatan lain,


termasuk kepada dokter. Termasuk memberi informasi tentang obat baru atau tentang produk
obat yang sudah ditarik. Hendaknya aktif mencari masukan tentang keluhan pasien terhadap
obat-obat yang dikonsumsi. Apoteker mencatat reaksi atau keluhan pasien untuk dilaporkan
ke dokter, dengan cara demikian ikut berpartisipasi dalam pelaporan efek samping obat (ISFI,
2003). Konseling pasien merupakan bagian dari KIE. Kriteria pasien yang memerlukan
pelayanan konseling diantaranya penderita penyakit kronis seperti asma, diabetes,
kardiovaskular, penderita yang menerima obat dengan indeks terapi sempit, pasien lanjut
usia, anak-anak, penderita yang sering mengalami reaksi alergi pada penggunaan obat dan
penderita yang tidak patuh dalam meminum obat. Konseling hendaknya dilakukan di ruangan
tersendiri yang dapat terhindar dari macam interupsi (Rantucci, 1997; ASHP, 1993).
Pelayanan konseling dapat dipermudah dengan menyediakan leaflet atau booklet yang isinya
meliputi patofisiologi penyakit dan mekanisme kerja obat.

Pelayanan Obat Resep

Pelayanan resep sepenuhnya atas tanggung jawab apoteker pengelola apotek. Apoteker tidak
diizinkan untuk mengganti obat yang ditulis dalam resep dengan obat lain. Dalam hal pasien
tidak mampu menebus obat yang ditulis dalam resep, apoteker wajib berkonsultasi dengan
dokter untuk pemilihan obat yang lebih terjangkau (Permenkes No.24 tahun 1993). Pelayanan
resep didahului proses skrining resep yang meliputi pemeriksaan kelengkapan resep,
keabsahan dan tinjauan kerasionalan obat. Resep yang lengkap harus ada nama, alamat dan
nomor ijin praktek dokter, tempat dan tanggal resep, tanda R/ pada bagian kiri untuk tiap
penulisan resep, nama obat dan jumlahnya, kadang-kadang cara pembuatan atau keterangan
lain (iter, prn, cito) yang dibutuhkan, aturan pakai, nama pasien, serta tanda tangan atau paraf
dokter (Dewi, 1985). Tinjauan kerasionalan obat meliputi pemeriksaan dosis, frekuensi
penberian, adanya medikasi rangkap, interaksi obat, karakteristik penderita atau kondisi
penyakit yang menyebabkan pasien menjadi kontra indikasi dengan obat yang diberikan
(WHO, 1987).

Pengelolaan Obat

Kompetensi penting yang harus dimiliki apoteker dalam bidang pengelolaan obat meliputi
kemampuan merancang, membuat, melakukan pengelolaan obat di apotek yang efektif dan
efesien. Penjabaran dari kompetensi tersebut adalah dengan melakukan seleksi, perencanaan,
penganggaran, pengadaan, produksi, penyimpanan, pengamanan persediaan, perancangan dan
melakukan dispensing serta evaluasi penggunaan obat dalam rangka pelayanan kepada pasien
yang terintegrasi dalam asuhan kefarmasian dan jaminan mutu pelayanan (ISFI, 2003).

Masih pentingkah peran apoteker saat ini sering dipertanyakan mengingat jumlah dan jenis
obat obatan yang dapat diperoleh dalam perdagangan sekarang ini lebih banyak ditangani
oleh orang yang bukan tenaga kefarmasian, peracikan obat telah digantikan oleh pabrik
farmasi pada hampir semua formulasi, dan obat-obatan dapat pula diperoleh dengan order via
pos, telepon atau internet atau dijual oleh dokter praktek dan diracik secara mesin racikan
komputer. Namun peran apoteker tentu saja tidak hanya sebatas produk, seperti yang tertuang
pada dimensi baru pekerjaan kefarmasian berikut ini :

1. ASUHAN KEFARMASIAN ( Pharmaceutical care )


2. FARMASI BERDASARKAN BUKTI ( Evidence base pharmacy )
3. KEBUTUHAN MENJUMPAI PASIEN ( Meeting patients needs )
4. PENANGANAN PASIEN KHRONIS-HIV/AIDS ( Chronic patient care hiv/aids )
5. PENGOBATAN SENDIRI ( self-medications )
6. JAMINAN MUTU PELAYANAN KEFARMASIAN ( quality assurance of
pharmaceutical care )
7. FARMASI KLINIS ( clinical pharmacy )
8. KEWASPADAAN OBAT ( pharmacovigilance = MESO ).

Bila ditinjau oleh standar pelayanan kefarmasian apoteker di apotek dan dimensi baru
pekerjaan kefarmasian di atas, sangat terlihat peran apoteker yang sangat penting dan tidak
dapat digantikan oleh profesi kesehatan lain. Lalu bagaimana pelayanan tersebut dapat
diberikan apabila apoteker tidak berada di apotek? Bagaimana seharusnya apoteker terkait
dengan keberadaanya di apotek? Apakah peraturan pemerintah /undang-undang/kode etik
telah mendukung hal tersebut?

Analisis Kehadiran Apoteker di Apotek Dari Sisi Etika Profesi

Dalam kode etik farmasi, apoteker mempunyai kewajiban-kewajiban, baik secara umum,
kepada pasien, teman sejawat, atau petugas kesehatan yang lain. Kewajiban-kewajiban ini
akan terlaksana bila apoteker berada dalam tempat kerjanya. Peraturan pemerintah yang
terbaru, PP 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, pasal 25 ayat 2 juga mendukung
keberadaan apoteker dalam setiap fasilitas kefarmasian, seperti dalam apotek. Walaupun pada
sebagian besar dalam pendirian apotek, apoteker bekerjasama dengan pemodal, dikatakan
bahwa pekerjaan kefarmasian sepenuhnya tetap dipegang oleh apoteker. Hal ini berarti bahwa
izin apotek diberikan kepada apoteker, bukanlah kepada pemilik modal maka sudah
sepantasnya lah pekerjaan kefarmasian dilakukan dan merupakan tanggung jawab seorang
apoteker.

Secara umum, terkait kode etik farmasi maka kehadiran apoteker di apotek sangat penting.
Hal ini disebabkan karena setiap penyerahan dan pelayanan obat berdasarkan resep dokter
dilaksanakan oleh apoteker (PP 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian Pasal 21 ayat
2). Selain menyerahkan obat dari resep dokter (obat keras), apoteker juga dihadapkan oleh
kebutuhan pemberian obat lain seperti obat wajib apotek, obat bebas, dan obat bebas terbatas
dalam kaitannya dengan kebijakan self medication (pengobatan sendiri).

Kode etik apoteker Indonesia Pasal 3 : Setiap Apoteker harus senantiasa menjalankan
profesinya sesuai kompetensi Apoteker Indonesia serta selalu mengutamakan dan berpegang
teguh pada prinsip kemanusiaan dalam melaksanakan kewajibannya dan pasal 9 : Seorang
Apoteker dalam melakukan pekerjaan kefarmasian harus mengutamakan kepentingan
masyarakat dan menghormati hak asazi penderita dan melindungi makhluk hidup insani,
menerangkan peran apoteker dalam mengutamakan patient safety untuk mencegah
medication error. Apoteker harus selalu menjalankan profesi sesuai standar kompetensi
apoteker yang telah ditetapkan dan dilandasi prinsip kemanusiaan. Secara etis epistemologis,
apoteker harus menyadari bahwa dia tidak hanya bekerja untuk dirinya sendiri tetapi juga
untuk masyarakat.

Dalam kode etik perihal kewajiban terhadap pasien bahwa apoteker harus mengutamakan
kepentingan masyarakat dan menghormati hak asazi penderita dan melindungi makhluk
hidup insani. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebagai apoteker sebaiknya tidak hanya
berfokus untuk kepentingan pribadi namun lebih luas kepada kepentingan pasien untuk
mencegah medication error, menjaga keselamatan hidup pasien (patient safety) dan lebih
lanjut meningkatkan QoL (quality of life dari pasien). Hal ini dapat dilakukan dengan terus
meningkatkan kompetensi. Pemerintah pun telah menetapkan Keputusan Menteri Kesehatan
mengenai Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Adanya standar ini mengenai standar
apa saja yang harus dilakukan dalam pelaksanaan kompetensinya.

Apoteker juga berperan sebagai sumber informasi. Sesuai kode etik apoteker Indonesia pasal
7 : Menjadi sumber informasi sesuai dengan profesinya. Apoteker sebagai sumber
informasi terkait dengan obat, baik kepada penderita atau teman kerja (asisten apoteker). Bila
sumber informasi tidak ditemukan dalam apotek, maka pasien/asisten apoteker akan
menemukan kesulitan kepada siapa akan menanyakan berbagai hal terkait obat. Terlebih lagi
saat ini masyarakat telah menyadari pentingnya kesehatan sehingga masyarakat lebih kritis
terhadap kesehatannya, sehingga informasi obat sangat penting untuk disampaikan kepada
pasien.

Apoteker juga perlu mereview peraturan pemerintah tentang kewajiban adanya apoteker di
apotek selama apotek buka. Jika apotek buka selama 13 jam dari jam 8 pagi sampai jam 9
malam, maka minimal dalam 1 apotek diperlukan 2 apoteker. Ketika seorang apoteker tidak
dapat memenuhi kewajibannya di suatu tempat kerja, misalnya di apotek, dia dapat
mengangkat apoteker pendamping dan/atau apoteker pengganti maka syarat bahwa ada
apoteker di apotek menjadi terpenuhi. Adanya peraturan ini, secara jelas menjelaskan bahwa
keberadaan apoteker di apotek adalah mutlak. Bila dikaitkan dengan kode etik apoteker
Indonesia pasal 5 : Di dalam menjalankan tugasnya setiap Apoteker harus menjauhkan diri
dari usaha mencari keuntungan diri semata yang bertentangan dengan martabat dan tradisi
luhur jabatan kefarmasian. Bila apoteker tidak hadir di apotek, bisa dikatakan dia
melanggar kode etik yaitu mencari keuntungan diri semata dengan mendapat gaji buta. Hal
ini sangat bertentangan dengan martabat dan tradisi luhur jabatan kefarmasian.

Sebagai profesional yang memiliki kode etik keprofesian yang berperan sebagai ujung
tombak dalam rantai pelayanan kesehatan khususnya obat dengan tujuan untuk meningkatkan
kualitas hidup pasien, maka sudah seharusnya apoteker berada di apotek untuk melakukan
pelayanan kefarmasian.

Kesimpulan

Sebagai profesional yang memiliki kode etik keprofesian yang berperan sebagai ujung
tombak dalam rantai pelayanan kesehatan khususnya obat dengan tujuan untuk meningkatkan
kualitas hidup pasien, maka sudah seharusnya farmasis berada di apotek untuk melakukan
pekerjaan kefarmasiannya. Bila kompetensi apoteker digunakan sungguh-sungguh dalam
melaksanakan tugas dan kewajibannya dalam menjalankan pekerjaankefarmasiaan maka
berarti apoteker telah berperilaku sesuai kode etiknya, yang pada akhirnya kualitas hidup
pasienlah yang akan meningkat.