Anda di halaman 1dari 30

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Kementerian Agama R.I.

IMPLEMENTASI UNDANG-UNDANG
NOMOR 33 TAHUN 2014
TENTANG JAMINAN PRODUK HALAL
Disampaikan Oleh:

Drs. H. Muhammad Tambrin, M.M. Pd.


Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah
Ditjen Bimas Islam

Pada Acara Temu Wicara dengan Perkosmi


Muqadimah






Artinya:
Katakanlah, tidaklah kujumpai dalam wahyu yang diberikan kepadaku sesuatu
yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali bangkai, darah
yang mengalir, atau daging babi, karena semua itu adalah najis[QS al Anam:145].

:



) (


Sesungguhnya Allah dan rasul-Nya mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi
dan patung. Kemudian Nabi mengatakan, Semoga Allah melaknat orang-orang
Yahudi tatkala Allah mengharamkan lemak bangkai, mereka menjadikan lemak
bangkai sebagai minyak lantas menjualnya dan menikmati hasil penjualannya
[HR Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdillah].
2
Latar Belakang

Butir pertama dari Pancasila adalah Ketuhanan Yang


Maha Esa yang secara filosofis mencerminkan bahwa
Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin
kemerdekaan penduduk untuk memeluk agama dan
menjamin agar dapat beribadat menurut agama dan
kepercayaannya itu.
Syariah Islam, memerintahkan umatnya agar dari segi
makanan dan barang gunaan memakan atau
menggunakan bahan-bahan yang baik, suci, dan bersih.
Di negara-negara muslim industri halal memberikan
kontribusi untuk pengembangan masyarakat dan
pertumbuhan ekonomi.
3
Tim Penyusun Undang-Undang JPH

Sesuai dengan Surat Presiden Republik Indonesia Nomor


R.09/Pres/01/2012, tanggal 10 Januari 2012 tentang
Penunjukan Wakil untuk Membahas Rancangan
Undang-Undang JPH, Presiden menugaskan Menteri
Agama, Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian,
Menteri Pertanian, Menteri Negara Pemberdayaan
Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, dan Menteri
Hukum dan HAM untuk menjadi tim Panja Pemerintah
dalam pembahasan Undang-Undang JPH.
Dalam perkembangannya di tahun 2012 tim Panja
Pemerintah diperkuat oleh tim Kementerian Kesehatan
sampai dengan Rancangan Undang-Undang JPH di
paripurnakan. 4
5
6
Pengesahan Undang-Undang JPH

Rapat Paripurna DPR RI pada tanggal 25 September


2014 menyetujui Rancangan Undang-Undang
Jaminan Produk Halal (RUU JPH) menjadi Undang-
Undang.
Pada tanggal 17 Oktober 2014, Presiden RI Ke-6
Soesilo Bambang Yudhoyono mengesahkan RUU JPH
yang telah disetujui DPR RI tersebut menjadi
Undang-Undang.
Pada hari yang sama Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia (HAM) Kabinet Indonesia Bersatu II, Amir
Syamsudin mengundangkannya menjadi Undang-
Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan
Produk Halal.
7
Tujuan JPH

Penyelenggaraan JPH bertujuan:


1.memberikan kenyamanan, keamanan,
keselamatan, dan kepastian ketersediaan
produk halal bagi masyarakat dalam
mengonsumsi dan menggunakan produk; dan
2.meningkatkan nilai tambah bagi pelaku usaha
untuk memproduksi dan menjual produk halal.

8
Sifat Pengaturan

Sifat pengaturan sertifikasi halal adalah wajib


(mandatory) bertahap dalam waktu 5 (lima) tahun
terhitung sejak Undang-Undang JPH diundangkan (Pasal 4
Undang-Undang JPH).
Sebelum kewajiban bersertifikat halal diberlakukan, maka
jenis-jenis produk yang wajib bersertifikat halal diatur
secara bertahap melalui Peraturan Pemerintah (Pasal 67
Undang-Undang JPH).
Produk segar asal hewan yang wajib bersertifikat halal
sebagaimana telah diatur pada peraturan sebelumnya,
maka sifat pengaturan sertifikasi halalnya adalah tetap
wajib (mandatory).
9
Sertifikat Halal

1. Sertifikat Halal adalah pengakuan kehalalan suatu


Produk yang diterbitkan BPJPH berdasarkan Surat
Keputusan Penetapan Halal Produk yang
dikeluarkan oleh MUI;
2. Permohonan Sertifikat Halal diajukan Pelaku Usaha
secara tertulis kepada BPJPH;
3. Pelaku Usaha yang telah memperoleh Sertifikat Halal
wajib mencantumkan Label Halal pada produknya;
4. Sertifikat Halal berlaku selama 4 (empat) tahun sejak
diterbitkan oleh BPJPH, kecuali terdapat perubahan
komposisi Bahan;
10
Usulan Tahapan Proses Kewajiban Sertifikasi Halal

Menindaklanjuti amanat Pasal 67 ayat (2) Undang-Undang JPH, maka


sebelum kewajiban sertifikasi halal bagi seluruh produk yang beredar
dan diperdagangkan diberlakukan di Indonesia pada tahun 2019,
pemerintah menetapkan jenis produk wajib bersertifikat halal secara
bertahap sejak 1 November 2016, yaitu:
1. Tahun pertama: produk makanan dan minuman
2. Tahun kedua: produk kosmetik, produk kimiawi, produk rekayasa
genetik, dan barang gunaan
3. Tahun ketiga: produk obat dan biologi
Tahapan tersebut merupakan usulan Kementerian Agama dalam draf
Peraturan Pemerintah Pelaksana Undang-Undang JPH, yang nantinya
akan dibahas lebih lanjut dan diputuskan bersama oleh Tim Antar
Kementerian (Perdagangan, Perindustrian, Kesehatan, Pertanian,
Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, dan Hukum
dan HAM).

11
Ketentuan Sebelum BPJPH Dibentuk

1. Sebelum BPJPH dibentuk, pengajuan permohonan atau


perpanjangan Sertifikat Halal dilakukan sesuai dengan
tata cara memperoleh Sertifikat Halal yang berlaku
sebelum Undang-Undang JPH diundangkan (Pasal 59);
2. MUI tetap menjalankan tugasnya di bidang Sertifikasi
Halal sampai dengan BPJPH dibentuk (Pasal 60);
3. LPPOM MUI melaksanakan tugas pemeriksaan dan/atau
pengujian produk sampai terbentuknya LPH berdasarkan
Peraturan Pemerintah Pelaksana Undang-Undang JPH; dan
4. Produk yang telah disertifikasi halal MUI tetap berlaku
sertifikatnya sampai habis masa waktunya.

12
Pengaturan lebih lanjut atas Undang-Undang JPH

Peraturan Presiden tentang Organisasi dan Tata Kerja


BPJPH---Telah diatur dalam Peraturan Presiden Nomor
1 83 Tahun 2015 tentang Kementerian Agama

Peraturan Pemerintah tentang Peraturan Pelaksana JPH


dan Pembiayaan Sertifikasi Halal dan Pembiayaan
Sertifikasi Halal---Dalam tahap pembahasan dengan tim
2 antar kementerian

Peraturan Menteri mengenai hal-hal teknis terkait


penyelenggaraan JPH---Dalam tahap penyusunan di tim
3 internal Kementerian Agama

13
Pengaturan lebih lanjut atas Undang-Undang JPH

Peraturan Pemerintah
1. Kerja sama BPJPH dengan Kementerian
dan/atau lembaga terkait, LPH, dan MUI
2. Ketentuan lebih lanjut dari LPH
3. Lokasi, tempat, dan alat proses produk halal
(PPH)
4. Biaya sertifikasi halal
5. Kerja sama internasional di bidang JPH
6. Tata cara registrasi sertifikat halal
7. Pengawasan JPH
8. Tahapan jenis-jenis produk wajib bersertifikat
halal 14
Pengaturan lebih lanjut atas Undang-Undang JPH
Peraturan Menteri

1. Sanksi administratif atas pelanggaran ketentuan Proses Produk


Halal (PPH)
2. Sanksi administratif atas pelanggaran pengusaha pemilik
sertifikat halal
3. Penyelia halal
4. Tata cara pengajuan sertifikasi halal
5. Tata cara penetapan LPH
6. Ketentuan label halal
7. Sanksi administratif atas pelanggaran pencantuman label halal
8. Ketentuan pembaruan sertifikat halal
9. Pengelolaan keuangan BPJPH
10.Sanksi administratif atas pelanggaran registrasi sertifikat halal
11. Peran serta masyarakat dan pemberian penghargaan
15
Pasar Halal Dunia

Berdasarkan Laporan State of the Global Islamic Economy tahun 2013 yang
di publikasikan oleh Thomson Reuters dan bekerja sama dengan Dinar
Standard, diperoleh peringkat negara dengan konsumen produk halal
terbanyak sebagai berikut:
a. Konsumen produk pangan halal: Indonesia ($ 190 milyar), Turki ($168
milyar), Pakistan ($108 milyar), dan Iran ($97 milyar).
b. Konsumen produk pakaian dan fashion muslim: Turki ($39,3 milyar),
PEA ($22.5 milyar), Indonesia ($18,8 milyar), dan Iran ($17,1 milyar).
c. Konsumen produk pariwisata halal: Arab Saudi ($17,8 milyar), Iran
($14,3 milyar), PEA ($11,2 milyar), Qatar ($7,8 milyar), Kuwait ($7,7
milyar), dan Indonesia ($7,5 milyar).
d. Media halal dan rekreasi: Turki ($30,3 milyar), Indonesia ($9,4 milyar),
Amerika ($9,1 milyar), Iran ($9 milyar), dan Perancis ($8,4 milyar).
e. Konsumen produk farmasi: Turki ($8,9 milyar), Arab Saudi ($5,9 milyar),
Indonesia ($4,9 milyar), dan Iran ($3,7 milyar).
f. Konsumen produk kosmetik: PEA ($4,9 milyar), Turki ($4,4 milyar), dan
India ($3,5 milyar)

16
Pasar Halal Dunia

Negara dengan penghasil produk halal terbanyak sebagai


berikut:
a. Negara penghasil produk pangan halal: Malaysia, PEA, dan
Australia
b. Negara penghasil produk pakaian dan fashion muslim: PEA,
Cina, dan Italia
c. Negara penghasil produk pariwisata halal: Malaysia, PEA, dan
Singapura
d. Negara penghasil media halal dan rekreasi: Singapura, PEA, dan
Amerika
e. Negara penghasil produk farmasi dan kosmetik halal: Malaysia,
Mesir, dan Singapura.
Belanja kosmetik halal dunia mencapai $46 milyar di tahun
2013 dan diperkirakan mencapai $73 milyar di tahun 2019.

17
18
19
Peringkat Negara Penghasil Produk Halal Menurut Global Islamic Economy Indicator (GIEI)

No Negara Nilai GIEI Pangan Keuangan Travel Fashion Media & Farmasi &
Halal Syariah Rekreasi Kosmetik
1 Malaysia 111.5 81.4 162.2 101.4 20.5 52.7 57.4

2 PEA 71.6 70.5 80.9 65.0 29.7 80.4 46.9

3 Bahrain 64.8 46.0 94.7 47.8 11.0 43.9 37.2

4 Oman 50.0 56.0 55.6 31.8 12.6 36.6 38.2

5 Arab Saudi 46.6 54.3 48.7 36.3 13.4 33.9 40.6

6 Qatar 44.3 56.5 41.6 41.3 10.3 42.4 32.6

7 Kuwait 42.4 50.0 44.6 28.5 10.2 37.1 28.8

8 Jordan 41.3 54.6 36.1 43.3 15.1 26.8 43.9

9 Pakistan 36.8 43.5 37.7 22.3 19.8 10.4 50.9

10 Indonesia 33.8 36.3 36.1 35.5 19.4 9.1 41.3

11 Brunei 33.3 41.1 30.8 29.0 6.4 36.2 43.5

12 Sudan 32.3 40.4 32.8 19.8 12.3 11.0 30.4

13 Singapura 32.2 46.0 12.0 56.2 24.5 90.7 53.0

14 Turki 30.4 44.5 17.5 49.7 27.6 30.8 31.7

15 Australia 27.5 56.7 6.0 23.2 12.8 40.5 21.3


20
Pasar Halal Dunia

Populasi muslim dunia diperkirakan meningkat dari


1,7 milyar di tahun 2014 menjadi 2,2 milyar di tahun
2030. Sesuai dengan hasil riset Pew Research Center
yang menyatakan bahwa populasi muslim dunia
tumbuh dua kali lipat dari populasi non muslim dunia
lebih dari 2 dekade ke depan, dengan perbandingan
tingkat pertumbuhan rata-rata 1,5% muslim : 0,7%
non muslim.
Dengan tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata
sekitar 1,80% ( 117.000.000) per tahun, maka
prospek pengembangan pasar produk halal dunia
menjadi sangat potensial.
21
Perkembangan Pasar Halal Dunia

Seiring dengan perkembangan pasar halal dunia, maka tumbuh berbagai investasi halal dunia,
seperti:
a.Brasil Food Company (BFC) yang menjadi suplier produk halal Brasil ke pasar global
b.The Saudi Arabian Food Group Almunajem, produsen produk pangan beku asal unggas
c.MoU antara Brahims holdings Bhd dengan perusahaan pangan di Mekah Arab Saudi
d.Fundacion Agropolis de Cordoba Spanyol, penghasil produk pangan halal di Spanyol yang
bekerja sama dengan JAKIM Malaysia
e.Lulu Hypermarket, yang khusus menjual produk halal lebih dari 110 merk dari berbagai
negara
f. Jepang mulai masuk ke pasar halal dunia dengan mengekspor produk pangan dan pariwisata
halal, yang didukung oleh perusahaan-perusahaan besar seperti Ajinomoto, Asahi Beverage,
Kewpie, dan Umakane
g.Kellog membangun Perusahaan halal di Malaysia senilai RM425m
h.Meksiko mulai mengembangkan industri halal bekerja sama dengan JAKIM Malaysia
i. Burger King berencana mengekspor roti halal sari Afrika Selatan
j. The Halal Guys, New York bekerja sama dengan Fransmart untuk membuka outlet The Halal
Guys yang menyediakan pangan halal di jaringan Fransmart Los Angeles, Kanada, dan wilayah
pantai Timur
k.PrimaBaguz Sdn.Bhd, perusahaan Malaysia yang memproduksi produk halal berbahan baku
daging untuk disalurkan di supermarket, restoran, hotel, resort, dan perusahaan jasa pangan.
22
Regulasi Halal Dunia

Regulasi yang mengatur produk halal antara lain:


a.Perencanaan Dubai sebagai kota internasional yang menjadi pusat produk halal.
b.Label Halal Nasional oleh pemerintah PEA melalui ESMA (The Emirates
Standardisation and Metrology Authority), adanya label halal nasional ini
menyebabkan produk halal dari luar PEA wajib melakukan registrasi dan
memperoleh pengakuan halal ESMA sebelum dapat dijual dan diedarkan di
wilayah PEA
c.JAKIM Malaysia, membuka penelitian halal pusat yang bekerja sama dengan
Technology Park Malaysia
d.Regulasi Halal Kanada untuk labeling, pengepakan, dan periklanan
e.Pembiayaan sertifikasi halal gratis bagi UMKM yang bekerja sama dengan
Kementerian, Pemerintah Daerah, dan MUI/LPPOM MUI
f.Penyusunan standar halal Eropa
g.Tersertifikasi halalnya Starbucks Indonesia oleh MUI
h. Seluruh anggota parlemen di Inggris menyetujui untuk mengadakan penelitian
lebih lanjut atas penyembelihan hewan khususnya sapi dan domba yang sesuai
dengan syariah Islam
23
Regulasi Halal Dunia

The Standards and Metrology Institute Institute for Islamic Countries


(SMIIC) yang dibentuk pada Mei 2010 dengan tujuan menciptakan
mekanisme harmonisasi standar, skema akreditasi, dan skema sertifikasi
antar negara anggota OKI; mewujudkan kesetaraan kompetensi di
bidang metrologi dan penilaian kesesuaian antar negara OKI; dan
mengembangkan saling pengakuan sertifikat antar anggota SMIIC
untuk meningkatkan volume perdagangan intra OKI.
SMIIC memiliki 7 (tujuh) Technical Committees, yang meliputi bidang
Halal Food, Halal Cosmetic, Service Site, Renewable Energy, Tourism
and Related Services, Agriculture Process, Transportation, dengan 3
standar yang menjadi acuan yaitu: OIC/SMIIC I: General Guidelines on
Halal Food, OIC/SMIIC 2: Guidelines for Bodies Providing Halal
Certification, OIC/SMIIC 3: Guidelines for Halal Accreditation Body
Accreditating Halal Certification Bodies
24
Regulasi Halal Dunia

Halal dalam Perspektif TBT WTO


Sudut pandang Legitimate Objective dalam Perjanjian TBT, Standar Internasional Halal
menjamin perlindungan terhadap keamanan, kesehatan atau keselamatan manusia serta
pelestarian lingkungan hidup.
Perlindungan terhadap keselamatan dan kesehatan hewan karena menerapkan prinsip
animal welfare (dari sudut pemotongan hewan/slaughtering).
Mencegah praktek yang menyesatkan (deceptive practices) serta mendorong pelaku usaha
untuk memperdagangkan produk sesuai dengan ketentuan syariah serta trustworty yang
tinggi.
Perlindungan terhadap public moral bagi negara muslim di dunia (Indonesia termasuk dalam
negara dengan jumlah populasi muslim terbesar di dunia).
Standar Internasional Halal menjamin mutu suatu produk termasuk label dan pengemasan
(dari bahan baku sampai produk akhir).
Standar Internasional Halal dijadikan sebagai referensi yang kuat dalam penyusunan regulasi
teknis.
Standar Internasional Halal diadopsi menjadi standar nasional memberikan kontribusi dan
nilai tambah ekonomi bagi perdagangan barang dan Jasa (Jasa wisata dll).
Akses pasar lebih mudah dan terbuka (penetrate the mainstream market and gain access to
global consumers) karena sudah ada keseragaman standar.
25
Regulasi Halal Dunia

Standar halal yang sudah tersedia:


1. ESMA (5 standar nasional)
2. GSO (3 standar regional)
3. SMIIC (3 standar regional)
4. standar lainnya (DSM 10 standar nasional, IHIA 8 standar
asosiasi, Codex 1 standar internasional)

26
DATA SERTIFIKASI HALAL LPPOM MUI

Tahun JUMLAH JUMLAH SERTIFIKAT JUMLAH PRODUK


PERUSAHAAN HALAL

2010 692 750 27121

2011 623 650 26413

2012 626 653 19830

2013 913 1092 34634

2014 961 1313 40631

2015 6213 6850 77405

Total 10028 11308 226034

Sumber: Data Produk Tersertifikasi Halal LPPOM MUI

DIREKTORAT JENDERAL BIMBINGAN MASYARAKAT ISLAM


27
DATA PRODUK PANGAN, OBAT-OBATAN, DAN KOSMETIKA
YANG MEMPEROLEH IZIN EDAR BPOM

Tahun PRODUK PRODUK PRODUK SUPLEMEN PRODUK MAKANAN TOTAL


OBAT KOSMETIK MAKANAN & MINUMAN

2010 5899 9310 989 14412 30610

2011 4688 23563 808 16348 45407

2012 8269 19780 591 12891 41531

2013 8269 28661 987 15149 53066

2014 7068 36642 865 15396 59971

Sumber: Laporan Tahunan BPOM Tahun 2014

DIREKTORAT JENDERAL BIMBINGAN MASYARAKAT ISLAM


28
PERSENTASE PRODUK YANG MEMPEROLEH IZIN EDAR
DAN PRODUK BERSERTIFIKAT HALAL
Tahun JUMLAH PRODUK JUMLAH PRODUK PERSENTASE
YANG BEREDAR BERSERTIFIKAT HALAL
(DATA BPOM) (DATA LPPOM MUI)

2010 30610 27121 88,60%

2011 45407 26413 58,17%

2012 41531 19830 47,74%

2013 53066 34634 65,27%

2014 59971 40631 67,75%

Total 230585 148,629 64,46%

Total persentase produk bersertifikat halal sejak tahun 2010 s.d. 2014 adalah 64,46%
sehingga produk obat, kosmetika, suplemen makanan dan makanan minuman yang
beredar dan belum bersertifikat halal tahun 2011 s.d. 2014 sebesar 35,54% 29
DIREKTORAT JENDERAL BIMBINGAN MASYARAKAT ISLAM