Anda di halaman 1dari 144

LAPORAN HASIL RISET DAN PEMERINGKATAN

CORPORATE GOVERNANCE
PERCEPTION INDEX
2013
GOOD CORPORATE GOVERNANCE
DALAM
PERSPEKTIF ORGANISASI PEMBELAJAR

DESEMBER 2014
Laporan Hasil Riset dan Pemeringkatan
Corporate Governance Perception Index 2013
Good Corporate Governance dalam Perspektif Organisasi Pembelajar

G. Suprayitno, Sedarnawati Yasni, May Susandy, Aries Susanty, Lien H. Kusumah, Siti Olivia
Tito, Zaenal Abidin, Eddy Kusnawijaya, Titik Aryati, Zahroh Naimah, Henni Gusfa, Ratna
Januarita, Nurul Fajriya

Design & Layout: IICG

Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT)


Hak Cipta dilindungi oleh undang-undang

Cetakan I, Desember 2014


125 halaman: 21-29,7 cm

ISBN 978-602-7627-74-1

Penerbit:
The Indonesian Institute for Corporate Governance
Jl. Raya Pasar Jumat No.41B Lebak Bulus Jakarta Selatan
Phone: 62-21-7695898 Fax: 62-21-7695899
Email: secretary@iicg.org
www.iicg.org
KATA PENGANTAR
The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG) menyampaikan ucapan terima
kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah bersungguh-
sungguh memberikan dukungan atas terlaksananya kegiatan diseminasi dan penegakkan
Good Corporate Governance (GCG) melalui program riset dan pemeringkatan Corporate
Governance Perception Index (CGPI), IICG bekerjasama dengan Majalah SWA telah
menyelenggarakan program CGPI sejak tahun 2001 dan hingga penyelenggaraan tahun ke
empat belas pada 2014 ini telah memberikan apresiasi khusus kepada perusahaan-
perusahaan yang menunjukkan kesungguhannya dalam mengimplementasikan GCG berupa
penghargaan sebagai perusahaan yang terpercaya.
Berubah atau Punah, merupakan rangkaian kata yang menjelaskan teori Darwin
tentang evolusi mahluk hidup. Teori tersebut menggambarkan bahwa kelangsungan mahluk
hidup ditentukan oleh kemampuan beradaptasi menghadapi tantangan yang dihadapi.
Kemampuan beradaptasi sering dipahami sebagai suatu persaingan, dan kemampuan
beradaptasi organisasi atau perusahaan menjadi perhatian. Kim dan Mauborgne (2005),
mengemukakan paradigma strategi baru dalam bisnis dengan blue ocean strategy yaitu
persaingan sudah dianggap tidak relevan, namun daya adaptasi dilihat dari keunggulan dan
keunikan yang dimiliki organisasi serta kemampuan dalam menciptakan pasar baru dan
memanfaatkannya. Dari kedua ilustrasi di atas, kelangsungan organisasi atau perusahaan
tak lepas dari kemampuan beradaptasi dan menciptakan keunggulan. Kedua hal tersebut
membutuhkan kemampuan organisasi dalam memahami dirinya dan tantangan serta
pemasalahan yang dihadapi, dan bagaimana mendorong para pengelola perusahaan untuk
belajar dan terus belajar untuk memperoleh solusi dan jawabannya. Pembelajaran
organisasi bertujuan tidak sekedar mampu beradaptasi, namun juga kapasitas dan
kinerjanya. Senge (1990), menyatakan bahwa organisasi pembelajar merupakan organisasi
di mana orang-orangnya terus menerus memperluas kapasitas mereka untuk menciptakan
hasil yang diinginkan.
Sebagai bentuk pengaturan dan tata kelola, corporate governance (CG) merupakan
konsep yang menjelaskan serangkaian mekanisme yang mengarahkan dan mengendalikan
perusahaan sesuai dengan harapan stakeholders. Harapan stakeholders merupakan sebuah
tantangan dan tujuan yang perlu dicapai oleh perusahaan dalam rangka menjamin

i
keberlangsungan bisnisnya. Cadbury (1992) dalam laporannya merekomendasikan
penerapan CG menjadi penting khususnya terkait keterbukaan pelaporan dan akuntabilitas
laporan keuangan yang dapat digunakan oleh stakeholders dalam memantau
keberlangsungan perusahaan.
Berdasarkan kondisi yang dikemukakan di atas, pembelajaran dan tata kelola
(governance) memiliki keterkaitan dalam hal keberlanjutan perusahaan. Menurut survey
Corporate Knight (Global 100 Corporate Sustainability) perusahaan yang berkelanjutan
adalah perusahaan yang secara konsisten mampu menggunakan sumber daya secara
efisien, peduli pada kesehatan dan keselamatan kerja, mendorong meritokrasi, kesetaraan
gender, budaya inovasi, dan kepemimpinan yang bertanggung jawab. Sedangkan, IICG
beranggapan bahwa keberlanjutan perusahaan dapat ditentukan oleh corporate governance
dan organisasi pembelajar, karena mengarahkan perusahaan memenuhi harapan
stakeholders sekaligus tujuan perusahaan dalam jangka panjang. Berangkat dari anggapan
tersebut, IICG merancang CGPI 2013 dengan tema penilaian GCG dalam Perspektif
Organisasi Pembelajar.
GCG dalam Perspektif Organisasi Pembelajar dimaknakan sebagai sistem dan
mekanisme yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan melalui proses belajar
seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan kapasitas
sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara
etikal dan bermartabat. Organisasi pembelajar dapat membantu perusahaan memperbarui
dan memutakhirkan kebijakan dan proses bisnis, serta meningkatkan kualitas CG dalam
rangka penciptaan nilai dan daya saing sehingga mampu mewujudkan visi dan tujuan
perusahaan serta harapan stakeholders. Perusahaan sebagai organisasi pembelajar akan
menunjukan sikap adaptif dan responsif terhadap lingkungan eksternalnya sekaligus akan
memiliki integrasi internal yang sangat kuat. Dengan tema ini, CGPI 2013 memiliki harapan
dapat mendorong perusahaan untuk terus menerus meningkatkan kualitas tata kelolanya
seiring dengan peningkatan kapasitas dan kinerjanya agar mampu menjaga
keberlangsungan bisnisnya. Sedangkan hasil CGPI 2013 diharapkan tidak hanya memberikan
rekomendasi bagi perusahaan peserta CGPI tetapi juga memberikan masukan kepada
pengawas dan regulator dalam pembuatan kebijakan dan penciptaan suasana yang kondusif
bagi penegakan Good Corporate Governance.

ii
CGPI 2013 telah berhasil melakukan penilaian terhadap 31 perusahaan yang terdiri
dari perusahaan publik (Emiten), Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik
Daerah (BUMD), Badan Usaha Milik Swasta (BUMS), dan perusahaan keuangan syariah,
Berdasarkan 12 aspek yang ditetapkan sebagai acuan penilaian, CGPI 2013 menetapkan 11
perusahaan berhasil memperoleh peringkat sangat tepercaya, 19 perusahaan memperoleh
peringkat tepercaya, dan 1 perusahaan memperoleh peringkat cukup tepercaya, Dari hasil
penilaian tersebut dapat dikatakan bahwa perusahaan peserta CGPI 2013 telah memiliki
komitmen dan inisiatif strategis dalam pengembangan kompetensi dan pemanfaatan
pengetahuan sebagai modal dasar dan faktor kesuksesan organisasi, dan diharapkan
pengelolaan perusahaan kedepan akan semakin lebih baik dan mampu memberikan kinerja
yang tumbuh secara berkelanjutan.
Seluruh jajaran pengurus IICG menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan
setinggi-tingginya kepada semua organ perusahaan dan jajaran manajerial serta
stakeholders peserta CGPI 2013, meliputi Dewan Komisaris, Direksi dan penanggungjawab
unit serta pihak eksternal yang terlibat aktif dalam rangkaian keempat tahapan penilaian
CGPI 2013. Kepada mitra kami, redaksi dan manajemen Majalah SWA disampaikan pula
ucapan terima kasih dan penghargaan atas terjalinnya kerjasama yang baik. Khususnya
apresiasi kami sampaikan kepada Tim penilai CGPI, narasumber dan pihak lain yang
berkontribusi dalam menyukseskan penyelenggaraan CGPI 2013. Kontribusi dan dedikasi
yang diberikan merupakan salah satu wujud peran aktif dalam meningkatkan diseminasi
pentingnya implementasi GCG di kalangan dunia usaha di Indonesia.

Jakarta, Desember 2014


THE INDONESIAN INSTITUTE FOR CORPORATE GOVERNANCE

G. Suprayitno May Susandy


Ketua Dewan Pengurus Direktur Eksekutif

iii
RINGKASAN EKSEKUTIF
CORPORATE GOVERNANCE PERCEPTION INDEX 2013
GCG DALAM PERSPEKTIF ORGANISASI PEMBELAJAR

Riset dan pemeringkatan Corporate Governance Perception Index (CGPI) 2013 yang
diselenggarakan pada tahun 2014 menetapkan Good Corporate Governance dalam
Perspektif Organisasi Pembelajar sebagai tema, dan memusatkan penilaian terhadap
berbagai upaya perusahaan dalam membangun penerapan GCG dengan memperbarui dan
memutakhirkan proses bisnis, membangun keunggulan/daya saing serta mewujudkan
kerberlanjutan usaha (sustainable business) berlandaskan prinsip-prinsip GCG. Selanjutnya
juga mencermati berbagai upaya perusahaan membangun peningkatan kapasitas
perusahaan dalam mewujudkan masa depan perusahaan melalui proses belajar seluruh
anggota perusahaan secara berkesinambungan dalam rangka menciptakan nilai tambah
perusahaan secara etikal dan bermartabat. Perusahaan yang menyatakan diri bersedia
mengikuti CGPI 2013 dan hadir pada penjelasan (briefing) pelaksanaan CGPI 2013 berjumlah
31 perusahaan.
Masing-masing peserta CGPI 2013 harus mengikuti empat tahapan penilaian, yaitu self
assessment, sistem dokumentasi, penyusunan makalah, dan observasi. Kuesioner sebagai
alat ukur yang digunakan pada tahapan self assessment terdiri dari 12 aspek penilaian,
berupa pernyataan tentang hal-hal yang dipersepsikan oleh organ dan anggota perusahaan.
Kuesioner disusun berdasarkan variabel riset seputar permasalahan implementasi GCG
dalam perspektif organisasi pembelajar. Pengujian keandalan kuesioner menggunakan
koefisien keandalan minimal yang harus dipenuhi, sebesar 0,7. Selanjutnya, pada tahapan
sistem dokumentasi, peserta CGPI 2013 dipersyaratkan harus menyerahkan tidak kurang
dari 39 jenis dokumen atau disesuaikan dengan status perusahaan. Pada tahapan
penyusunan makalah, setiap peserta CGPI 2013 harus menyusun makalah yang
menggambarkan serangkaian proses implementasi GCG dalam perspektif organisasi
pembelajar sesuai dengan sistematika isi dan penulisan yang telah ditentukan, dan
dipaparkan pada saat observasi agar memudahkan penilaian. Uraian makalah dari masing-
masing peserta CGPI 2013 diharapkan mampu memberikan gambaran tentang serangkaian
proses dan program implementasi GCG di perusahaan dan upaya proses belajar seluruh

iv
anggota perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan kapasitas sebagai
organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat. Selanjutnya pada tahapan observasi, tim penilai melakukan klarifikasi atau
pemastian terhadap kualitas penerapan GCG dan proses belajar seluruh anggota
perusahaan secara berkesinambungan.
Hasil riset dan pemeringkatan CGPI 2013 berupa skor dan indeks persepsi penerapan
GCG pada perusahaan publik (Emiten), Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha
Milik Daerah (BUMD), Badan Usaha Milik Swasta (BUMS), dan perusahaan keuangan syariah
di Indonesia. Pemeringkatan CGPI 2013 disusun berdasarkan nilai yang diperoleh oleh
masing-masing peserta sesuai dengan rentang skor untuk masing-masing kategori tingkat
kepercayaan, yaitu kategori sangat tepercaya, tepercaya, dan cukup tepercaya, Selanjutnya
hasil riset dan pemeringkatan tersebut dipublikasikan oleh Majalah SWA dan IICG.
Peserta CGPI 2013 yang memenuhi seluruh tahapan penilaian berjumlah 31 peserta,
terdiri dari 17 perusahaan publik (Emiten), 5 Badan Usaha Milik Negara (BUMN), 8 Badan
Usaha Milik Swasta (BUMS) dan 1 perusahaan keuangan syariah. Pada tahapan self
assessment, diperoleh 2304 responden untuk 31 perusahaan yang diwakili oleh 30 pihak,
baik dari pihak internal maupun pihak eksternal perusahaan. Nilai keandalan kuesioner riset
CGPI 2013 dinyatakan oleh nilai alpha cronbach di atas 0,7. Nilai tersebut menunjukkan
tingkat konsistensi dan keandalan alat ukur yang direpresentasikan oleh butir-butir
pertanyaan dalam mengukur responden. Hasil pembobotan keempat tahapan penilaian
menurut panel ahli (expert panel) dengan menggunaan metode AHP (Analytical Hierarchy
Process) menghasilkan sebaran bobot untuk self assessment 27%, kelengkapan dokumen
41%, makalah 14%, dan observasi 18%. Hasil riset dan pemeringkatan CGPI 2013
menetapkan sebanyak 11 perusahaan dengan kategori sangat tepercaya, 9 perusahaan
dengan kategori tepercaya, dan 1 perusahaan dengan kategori cukup tepercaya. Hasil
pemeringkatan tersebut menunjukkan kesungguhan organ perusahaan peserta CGPI 2013
untuk senantiasa meningkatkan kualitas penerapan GCG dan proses belajar seluruh anggota
perusahaan secara berkesinambungan.

v
vi
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................................... i
RINGKASAN EKSEKUTIF ............................................................................................................. iv
DAFTAR ISI ................................................................................................................................ vii
DAFTAR TABEL........................................................................................................................... ix
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................................................... x
DAFTAR ISTILAH ...................................................................................................................... xiii
DAFTAR SINGKATAN ................................................................................................................ xv
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................... 1
I.1 LATAR BELAKANG ..................................................................................................... 1
I.2 SEKILAS TENTANG IICG DAN CGPI .......................................................................... 3
I.3 TUJUAN PROGRAM RISET DAN PEMERINGKATAN CGPI ...................................... 5
I.4 MANFAAT DAN DAMPAK PROGRAM RISET DAN PEMERINGKATAN CGPI......... 5
BAB II GCG DALAM PERSPEKTIF ORGANISASI PEMBELAJAR ............................................. 7
II.1 ORGANISASI PEMBELAJAR....................................................................................... 7
II.2 GCG DAN ORGANISASI PEMBELAJAR ..................................................................... 8
II.3 RUANG LINGKUP DAN FOKUS PENILAIAN ............................................................. 9
II.4 KEPESERTAAN CGPI ................................................................................................ 10
BAB III METODOLOGI PENILAIAN CGPI .......................................................................... 13
III.1 ASPEK PENILAIAN ................................................................................................... 13
III.2 TAHAPAN PENILAIAN ............................................................................................. 25
III.2.1 Self Assessment .......................................................................................... 26
III.2.2 Sistem Dokumentasi.................................................................................. 27
III.2.3 Penyusunan Makalah ................................................................................ 29
III.2.4 Observasi .................................................................................................... 32
III.3 NORMA PENILAIAN ................................................................................................ 32
III.4 PEMASTIAN MUTU ................................................................................................. 33
III.5 ALUR PROGRAM CGPI ............................................................................................ 33
BAB IV HASIL RISET DAN PEMERINGKATAN CORPORATE GOVERNANCE PERCEPTION
INDEX .............................................................................................................................. 35
IV.1 HASIL RISET.............................................................................................................. 35
IV.1.1 Pengujian Alat Ukur ................................................................................... 38

vii
IV.1.2 Pembobotan ............................................................................................... 38
IV.2 HASIL TAHAPAN PENILAIAN .................................................................................. 39
iv.2.1 Self Assessment .......................................................................................... 39
iv.2.2 Hasil Sistem Dokumentasi ........................................................................ 72
iv.2.3 Penyusunan Makalah ................................................................................ 77
IV.2.4 Observasi .................................................................................................... 80
IV.3 HASIL PEMERINGKATAN ...................................................................................... 113
BAB V PENUTUP ......................................................................................................... 117
V.1 KESIMPULAN ......................................................................................................... 117
V.2 IMPLIKASI............................................................................................................... 121
V.3 TINDAK LANJUT HASIL CGPI ................................................................................ 122
V.4 TINJAUAN CGPI 2014 ........................................................................................... 123
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................. 125

viii
DAFTAR TABEL
Tabel II.4.1 Data Kepesertaan CGPI 2013 ........................................................................ 11
Tabel III.2.1 Daftar Responden Self Assessment............................................................... 26
Tabel III.2.2 Daftar Kelengkapan Sistem Dokumentasi .................................................... 28
Tabel IV.1.1 Bidang Usaha Utama Perusahaan Publik Peserta CGPI 2013 ....................... 35
Tabel IV.1.2 Bidang Usaha Utama BUMN Peserta CGPI 2013 .......................................... 35
Tabel IV.1.3 Perusahaan Peserta CGPI 2013 ..................................................................... 36
Tabel IV.1.4 Hasil Pengujian Keandalan Alat Ukur ............................................................ 38
Tabel IV.1.5 Bobot Tahapan Penilaian CGPI ..................................................................... 39
Tabel IV.2.1 Rerata Aspek Komitmen dalam Tahapan Self Assessment ........................... 40
Tabel IV.2.2 Rerata Aspek Transparansi dalam Tahapan Self Assessment ....................... 42
Tabel IV.2.3 Rerata Aspek Akuntabilitas dalam Tahapan Self Assessment....................... 45
Tabel IV.2.4 Rerata Aspek Responsibilitas dalam Tahapan Self Assessment.................... 48
Tabel IV.2.5 Rerata Aspek Independensi dalam Tahapan Self Assessment ...................... 50
Tabel IV.2.6 Rerata Aspek Keadilan dalam Tahapan Self Assessment .............................. 53
Tabel IV.2.7 Rerata Aspek Kepemimpinan dalam Tahapan Self Assessment ................... 56
Tabel IV.2.8 Rerata Aspek Strategi dalam Tahapan Self Assessment ............................... 58
Tabel IV.2.9 Rerata Aspek Etika dalam Tahapan Self Assessment .................................... 61
Tabel IV.2.10 Rerata Aspek Visi, Misi, Nilai dan Makna dalam Tahapan Self Assessment . 63
Tabel IV.2.11 Rerata Aspek Budaya dalam Tahapan Self Assessment ................................ 66
Tabel IV.2.12 Rerata Aspek Organisasi Pembelajar dalam Tahapan Self Assessment........ 69
Tabel IV.2.13 Rerata Hasil Tahapan Sistem Dokumentasi .................................................. 73
Tabel IV.2.14 Rerata Hasil Tahapan Makalah ..................................................................... 77
Tabel IV.2.15 Rerata Aspek Komitmen dalam Tahapan Observasi..................................... 80
Tabel IV.2.16 Rerata Aspek Transparansi dalam Tahapan Observasi ................................. 83
Tabel IV.2.17 Rerata Aspek Akuntabilitas dalam Tahapan Observasi ................................ 85
Tabel IV.2.18 Rerata Aspek Responsibilitas dalam Tahapan Observasi ............................. 88
Tabel IV.2.19 Rerata Aspek Independensi dalam Tahapan Observasi ............................... 91
Tabel IV.2.20 Rerata Aspek Keadilan dalam Tahapan Observasi ........................................ 94
Tabel IV.2.21 Rerata Aspek Kepemimpinan dalam Tahapan Observasi ............................. 97
Tabel IV.2.22 Rerata Aspek Strategi dalam Tahapan Observasi ......................................... 99
Tabel IV.2.23 Rerata Aspek Etika dalam Tahapan Observasi ............................................ 102
Tabel IV.2.24 Rerata Aspek Visi, Misi, Nilai dan Makna dalam Tahapan Observasi ........ 105
Tabel IV.2.25 Rerata Aspek Budaya dalam Tahapan Observasi........................................ 107
Tabel IV.2.26 Rerata Aspek Organisasi Pembelajar dalam Tahapan Observasi ............... 110
Tabel IV.3.1 Perusahaan Sangat Tepercaya .................................................................... 114
Tabel IV.3.2 Perusahaan Tepercaya (1) .......................................................................... 115
Tabel IV.3.3 Perusahaan Tepercaya (2) .......................................................................... 116
Tabel IV.3.4 Perusahaan Cukup Tepercaya ..................................................................... 116

ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar I.2.1. Perjalanan Tema CGPI 2001 2012 ............................................................. 4
Gambar III.5.1. Alur Program CGPI ..................................................................................... 34
Gambar IV.1.1. Jumlah Responden Internal dan Eksternal Tahapan Self Assessment ....... 37
Gambar IV.1.2. Metode Survei Self Assessment yang Digunakan Responden ................... 37
Gambar IV.2.1. Rerata Self Assessment untuk Aspek Komitmen-1 .................................... 40
Gambar IV.2.2. Rerata Self Assessment untuk Aspek Komitmen-2 .................................... 41
Gambar IV.2.3. Rerata Self Assessment untuk Aspek Komitmen-3 .................................... 41
Gambar IV.2.4. Rerata Self Assessment untuk Aspek Komitmen-4 .................................... 42
Gambar IV.2.5. Rerata Self Assessment untuk Aspek Transparansi-1 ................................ 43
Gambar IV.2.6. Rerata Self Assessment untuk Aspek Transparansi-2 ................................ 43
Gambar IV.2.7. Rerata Self Assessment untuk Aspek Transparansi-3 ................................ 44
Gambar IV.2.8. Rerata Self Assessment untuk Aspek Transparansi-4 ................................ 44
Gambar IV.2.9. Rerata Self Assessment untuk Aspek Akuntabilitas-1 ................................ 46
Gambar IV.2.10. Rerata Self Assessment untuk Aspek Akuntabilitas-2 ................................ 46
Gambar IV.2.11. Rerata Self Assessment untuk Aspek Akuntbailitas-3 ................................ 47
Gambar IV.2.12. Rerata Self Assessment untuk Aspek Akuntabiilitas-4 ............................... 47
Gambar IV.2.13. Rerata Self Assessment untuk Aspek Responsibilitas-1 ............................. 48
Gambar IV.2.14. Rerata Self Assessment untuk Aspek Responsibilitas-2 ............................. 49
Gambar IV.2.15. Rerata Self Assessment untuk Aspek Responsibilitas-3 ............................. 49
Gambar IV.2.16. Rerata Self Assessment untuk Aspek Responsibilitas-4 ............................. 50
Gambar IV.2.17. Rerata Self Assessment untuk Aspek Independensi-1 ............................... 51
Gambar IV.2.18. Rerata Self Assessment untuk Aspek Independensi-2 ............................... 51
Gambar IV.2.19. Rerata Self Assessment untuk Aspek Independensi-3 ............................... 52
Gambar IV.2.20. Rerata Self Assessment untuk Aspek Independensi-4 ............................... 52
Gambar IV.2.21. Rerata Self Assessment untuk Aspek Keadilan-1 ....................................... 54
Gambar IV.2.22. Rerata Self Assessment untuk Aspek Keadilan-2 ....................................... 54
Gambar IV.2.23. Rerata Self Assessment untuk Aspek Keadilan-3 ....................................... 55
Gambar IV.2.24. Rerata Self Assessment untuk Aspek Keadilan-4 ....................................... 55
Gambar IV.2.25. Rerata Self Assessment untuk Aspek Kepemimpinan-1 ............................ 56
Gambar IV.2.26. Rerata Self Assessment untuk Aspek Kepemimpinan-2 ............................ 57
Gambar IV.2.27. Rerata Self Assessment untuk Aspek Kepemimpinan-3 ............................ 57
Gambar IV.2.28. Rerata Self Assessment untuk Aspek Kepemimpinan-4 ............................ 58
Gambar IV.2.29. Rerata Self Assessment untuk Aspek Strategi-1 ........................................ 59
Gambar IV.2.30. Rerata Self Assessment untuk Aspek Strategi-2 ........................................ 59
Gambar IV.2.31. Rerata Self Assessment untuk Aspek Strategi-3 ........................................ 60
Gambar IV.2.32. Rerata Self Assessment untuk Aspek Strategi-4 ........................................ 60
Gambar IV.2.33. Rerata Self Assessment untuk Aspek Etika-1 ............................................. 61
Gambar IV.2.34. Rerata Self Assessment untuk Aspek Etika-2 ............................................. 62
Gambar IV.2.35. Rerata Self Assessment untuk Aspek Etika-3 ............................................. 62
Gambar IV.2.36. Rerata Self Assessment untuk Aspek Etika-4 ............................................. 63
Gambar IV.2.37. Rerata Self Assessment untuk Aspek Visi, Misi, Nilai & Makna -1 ............. 64

x
Gambar IV.2.38. Rerata Self Assessment untuk Aspek Visi, Mis, Nilai & Makna -2 .............. 64
Gambar IV.2.39. Rerata Self Assessment untuk Aspek Visi, Misi, Nilai & Makna -3 ............. 65
Gambar IV.2.40. Rerata Self Assessment untuk Aspek Visi, Misi, Nilai & Makna-4 ............. 65
Gambar IV.2.41. Rerata Self Assessment untuk Aspek Budaya-1 ......................................... 67
Gambar IV.2.42. Rerata Self Assessment untuk Aspek Budaya-2 ......................................... 67
Gambar IV.2.43. Rerata Self Assessment untuk Aspek Budaya-3 ......................................... 68
Gambar IV.2.44. Rerata Self Assessment untuk Aspek Budaya-4 ......................................... 68
Gambar IV.2.45. Rerata Self Assessment untuk Aspek Organisasi Pembelajar-1 ................. 70
Gambar IV.2.46. Rerata Self Assessment untuk Aspek Organisasi Pembelajar-2 ................. 70
Gambar IV.2.47. Rerata Self Assessment untuk Aspek Organisasi Pembelajar-3 ................. 71
Gambar IV.2.48. Rerata Self Assessment untuk Aspek Organisasi Pembelajar-4 ................. 71
Gambar IV.2.49. Rerata Self Assessment untuk Aspek Organisasi Pembelajar-5 ................. 72
Gambar IV.2.50. Rerata Kelompok Dokumentasi Governance Structure............................. 73
Gambar IV.2.51. Rerata Kelompok Dokumentasi Governance System ................................ 74
Gambar IV.2.52. Rerata Kelompok Dokumentasi Governance Process ............................... 75
Gambar IV.2.53. Rerata Kelompok Dokumentasi Governance Mechanism ......................... 75
Gambar IV.2.54. Rerata Kelompok Dokumentasi Governance Output ................................ 76
Gambar IV.2.55. Rerata Kelompok Dokumentasi Governance Outcome ............................. 76
Gambar IV.2.56. Rerata Kelompok Dokumentasi Governance Impact ................................ 77
Gambar IV.2.57. Rerata Penilaian Makalah Bagian Abstrak ................................................. 78
Gambar IV.2.58. Rerata Penilaian Makalah Bagian Pendahuluan ........................................ 78
Gambar IV.2.59. Rerata Penilaian Makalah Bagian Proses Penerapan ................................ 79
Gambar IV.2.60. Rerata Penilaian Makalah Bagian Hasil yang Dicapai ................................ 79
Gambar IV.2.61. Rerata Penilaian Makalah Bagian Penutup ................................................ 80
Gambar IV.2.62. Rerata Observasi untuk Aspek Komitmen-1 .............................................. 81
Gambar IV.2.63. Rerata Observasi untuk Aspek Komitmen-2 .............................................. 81
Gambar IV.2.64. Rerata Observasi untuk Aspek Komitmen-3 .............................................. 82
Gambar IV.2.65. Rerata Observasi untuk Aspek Komitmen-4 .............................................. 82
Gambar IV.2.66. Rerata Observasi untuk Aspek Transparansi-1 .......................................... 83
Gambar IV.2.67. Rerata Observasi untuk Aspek Transparansi-2 .......................................... 84
Gambar IV.2.68. Rerata Observasi untuk Aspek Transparansi-3 .......................................... 84
Gambar IV.2.69. Rerata Observasi untuk Aspek Transparansi-4 .......................................... 85
Gambar IV.2.70. Rerata Observasi untuk Aspek Akuntabilitas-1.......................................... 86
Gambar IV.2.71. Rerata Observasi untuk Aspek Akuntabilitas-2.......................................... 87
Gambar IV.2.72. Rerata Observasi untuk Aspek Akuntabilitas-3.......................................... 87
Gambar IV.2.73. Rerata Observasi untuk Aspek Akuntabiilitas-4......................................... 88
Gambar IV.2.74. Rerata Observasi untuk Aspek Responsibilitas-1....................................... 89
Gambar IV.2.75. Rerata Observasi untuk Aspek Responsibilitas-2....................................... 89
Gambar IV.2.76. Rerata Observasi untuk Aspek Responsibilitas-3....................................... 90
Gambar IV.2.77. Rerata Observasi untuk Aspek Responsibilitas-4....................................... 91
Gambar IV.2.78. Rerata Observasi untuk Aspek Independensi-1 ......................................... 92
Gambar IV.2.79. Rerata Observasi untuk Aspek Independensi-2 ......................................... 92
Gambar IV.2.80. Rerata Observasi untuk Aspek Independensi-3 ......................................... 93
Gambar IV.2.81. Rerata Observasi untuk Aspek Independensi-4 ......................................... 93

xi
Gambar IV.2.82. Rerata Observasi untuk Aspek Keadilan-1 ................................................. 95
Gambar IV.2.83. Rerata Observasi untuk Aspek Keadilan-2 ................................................. 95
Gambar IV.2.84. Rerata Observasi untuk Aspek Keadilan-3 ................................................. 96
Gambar IV.2.85. Rerata Observasi untuk Aspek Keadilan-4 ................................................. 96
Gambar IV.2.86. Rerata Observasi untuk Aspek Kepemimpinan-1 ...................................... 97
Gambar IV.2.87. Rerata Observasi untuk Aspek Kepemimpinan-2 ...................................... 98
Gambar IV.2.88. Rerata Observasi untuk Aspek Kepemimpinan-3 ...................................... 98
Gambar IV.2.89. Rerata Observasi untuk Aspek Kepemimpinan-4 ...................................... 99
Gambar IV.2.90. Rerata Observasi untuk Aspek Strategi-1 ................................................ 100
Gambar IV.2.91. Rerata Observasi untuk Aspek Strategi-2 ................................................ 100
Gambar IV.2.92. Rerata Observasi untuk Aspek Strategi-3 ................................................ 101
Gambar IV.2.93. Rerata Observasi untuk Aspek Strategi-4 ................................................ 101
Gambar IV.2.94. Rerata Observasi untuk Aspek Etika-1 ..................................................... 103
Gambar IV.2.95. Rerata Observasi untuk Aspek Etika-2 ..................................................... 103
Gambar IV.2.96. Rerata Observasi untuk Aspek Etika-3 ..................................................... 104
Gambar IV.2.97. Rerata Observasi untuk Aspek Etika-4 ..................................................... 104
Gambar IV.2.98. Rerata Observasi untuk Aspek Visi, Misi, Nilai & Makna -1..................... 105
Gambar IV.2.99. Rerata Observasi untuk Aspek Visi, Mis, Nilai & Makna -2...................... 106
Gambar IV.2.100. Rerata Observasi untuk Aspek Visi, Misi, Nilai & Makna -3 ..................... 106
Gambar IV.2.101. Rerata Observasi untuk Aspek Visi, Misi, Nilai & Makna-4 ..................... 107
Gambar IV.2.102. Rerata Observasi untuk Aspek Budaya-1 ................................................. 108
Gambar IV.2.103. Rerata Observasi untuk Aspek Budaya-2 ................................................. 109
Gambar IV.2.104. Rerata Observasi untuk Aspek Budaya-3 ................................................. 109
Gambar IV.2.105. Rerata Observasi untuk Aspek Budaya-4 ................................................. 110
Gambar IV.2.106. Rerata Observasi untuk Aspek Organisasi Pembelajar-1 ......................... 111
Gambar IV.2.107. Rerata Observasi untuk Aspek Organisasi Pembelajar-2 ......................... 111
Gambar IV.2.108. Rerata Observasi untuk Aspek Organisasi Pembelajar-3 ......................... 112
Gambar IV.2.109. Rerata Observasi untuk Aspek Organisasi Pembelajar-4 ......................... 112
Gambar IV.2.110. Rerata Observasi untuk Aspek Organisasi Pembelajar-5 ......................... 113

xii
DAFTAR ISTILAH
BUDAYA BELAJAR adalah budaya organisasi dalam menghasilkan pola piker baru dalam
bentuk kreativitas, inovasi dan pemecahan masalah dengan risiko yang dapat
diperhitungkan secara berkesinambungan guna membangun kesadaran, kemauan dan
kemampuan bersama sebagai organisasi pembelajar

CORPORATE GOVERNANCE (CG) atau Konsep Tata Kelola Perusahaan dimaknakan sebagai
serangkaian mekanisme yang mengarahkan dan mengendalikan suatu perusahaan
sesuai dengan harapan para pemangku kepentingan.

DEWAN KOMISARIS adalah Organ Perseroan yang bertugas melakukan pengawasan secara
umum dan/atau khusus sesuai dengan anggaran dasar serta memberi nasihat kepada
Direksi.

DEWAN PENGAWAS SYARIAH adalah Organ perusahaan yang bertugas melakukan


pengawasan kegiatan usaha pada suatu lembaga keuangan syariah/lembaga bisnis
syariah agar sesuai dengan ketentuan dan prinsip syariah.

DIREKSI adalah Organ Perseroan yang berwenang dan bertanggung jawab penuh atas
pengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan, sesuai dengan maksud dan
tujuan Perseroan serta mewakili Perseroan, baik di dalam maupun di luar pengadilan
sesuai dengan ketentuan anggaran dasar.

ETIKA BISNIS mengacu pada standar perilaku usaha Perusahaan terdiri dari etika usaha dan
etika kerja.

GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG) atau Tata Kelola Perusahaan yang Baik didefinisikan
sebagai struktur, sistem dan proses yang digunakan oleh Dewan Komisaris dan Direksi
guna memberikan nilai tambah perusahaan yang berkesinambungan dalam jangka
panjang.

KEBIJAKAN PERUSAHAAN adalah ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Direksi sebagai


pegangan manajemen dalam melaksanakan kegiatan usaha.

KEPEMIMPINAN adalah kemampuan manajemen perusahaan dalam membuat visi yang jelas
yang dapat memberikan inspirasi dan mampu menggerakkan dan mendorong anggota
perusahaan dalam meraih visi tersebut, dan melengkapinya dengan informasi,
pengetahuan dan metode untuk merealisasikan visi yang telah ditetapkan serta
mampu melakukan koordinasi, membuat keputusan dan membuat keseimbangan
antar kepentingan seluruh anggota di perusahaan dengan pemangku kepentingan
lainnya.

KOMISARIS INDEPENDEN adalah anggota Komisaris yang tidak memiliki hubungan


keuangan, kepengurusan, kepemilikan saham dan/atau hubungan keluarga Dewan
Komisaris, Direksi dan atau pemegang saham pengendali atau hubungan lain yang
dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen.

PARTISIPAN adalah pihak-pihak yang terkait dengan perusahaan.


xiii
PEMANGKU KEPENTINGAN (stakeholders) adalah suatu kelompok atau individu yang akan
dipengaruhi secara langsung oleh keputusan dan strategi perusahaan dan merupakan
pihak yang menanggung suatu jenis risiko baik karena yang telah melakukan investasi
(material ataupun manusia) di perusahaan tersebut (stakeholder sukarela), ataupun
karena menghadapi risiko akibat kegiatan perusahaan tersebut (stakeholder non
sukarela)

PEMIMPIN adalah seseorang yang memiliki kemampuan lebih untuk memberikan inspirasi
mampu menggerakkan, mengarahkan, mendorong dan memfasilitasi anggota
perusahaan serta melakukan perubahan dengan berbasis pada integritas, partisipatif,
transformatif, dan berwawasan pengetahuan yang luas dalam rangka meraih visi dan
misi yang telah ditetapkan di Perseroan.

PENGELOLAAN PENGETAHUAN (KNOWLEDGE MANAGEMENT) merupakan proses


penerapan pendekatan sistematik untuk menangkap, menyusun, mengelola, dan
menyebarkan pengetahuan di seluruh organisasi dalam rangka menciptakan nilai
tambah perusahaan yang berkesinambungan dalam jangka panjang

PENGETAHUAN merupakan sumber artikulasi dan kreativitas dalam pengelolaan perusahaan


secara etikal dan bermartabat dengan cakupan perspektif yang sangat luas dan
dinamis.

PRINSIP-PRINSIP GCG yang secara umum dikenal antara lain Transparansi, Akuntabilitas,
Responsibilitas, Independensi, dan Keadilan (Fairness).

RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM (RUPS) adalah Organ Perseroan yang mempunyai
wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi atau Dewan Komisaris dalam batas
yang ditentukan dalam Undang-undang Perseroan Terbatas atau Anggaran Dasar.

STRATEGI PERUSAHAAN dinyatakan sebagai tindakan atau respon yang diambil perusahaan
terhadap perubahan dalam rangka mengantisipasi perubahan dalam lingkungan
internal dan eksternal.

TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN adalah komitmen perseroan untuk berperan
serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas
kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi Perseroan sendiri, komunitas
setempat, maupun masyarakat pada umumnya.

TATA NILAI adalah seperangkat nilai yang harus dijunjung tinggi oleh seluruh unsur
organisasi dalam menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing.

TUGAS POKOK DAN FUNGSI meliputi fungsi, kewajiban, kewenangan dan tanggung jawab.
Fungsi merupakan peranan dari jabatan tertentu sesuai dengan penugasannya. Tugas
pokok adalah uraian pekerjaan utama yang harus diselesaikan di suatu posisi jabatan
tertentu. Kewajiban merupakan hal-hal yang ditugaskan kepada pemegang/pemangku
fungsi. Kewenangan merupakan diskresi yang diberikan oleh UU dan ADP kepada
pemegang/pemangku fungsi.

xiv
DAFTAR SINGKATAN

AMDAL : Analisa Mengenai Dampak Lingkungan Hidup


BI : Bank Indonesia
BUMD : Badan Usaha Milik Daerah
BUMN : Badan Usaha Milik Negara
BUMS : Badan Usaha Milik Swasta
CG : Corporate Governance (Tata Kelola Perusahaan)
CGPI : Corporate Governance Perception Index
COSO : Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission
CSR : Corporate Social Responsibility
GCG : Good Corporate Governance (Tata Kelola Perusahan Yang Baik)
ISO : International Organization for Standarization
IT : Information Technology (Teknologi Informasi)
K3 : Kesehatan dan Keselamatan Kerja
KAP : Kantor Akuntan Publik
KPPU : Komisi Pengawas Persaingan Usaha
OHSAS : Occupational Health & Safety Assessment Services
OJK : Otoritas Jasa Keuangan
PKBL : Program Kemitraan dan Bina Lingkungan
RJPP : Rencana Jangka Panjang Perusahaan
RKAP : Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan
SDM : Sumber Daya Manusia
YLKI : Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia

xv
xvi
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG

Perubahan merupakan keniscayaan dan bagian dari perjalanan waktu yang tidak dapat kita
kendalikan. Kondisi eksternal bergerak dinamis sehingga menimbulkan perubahaan yang
menuntut perubahan selanjutnya, yaitu diri kita sendiri pun perlu berubah. Salah satu
perubahan besar dalam perjalanan manusia adalah revolusi industri yang mengubah pola
produksi, alokasi sumber daya, konsumsi massal, perdagangan internasional, kerjasama
antar negara, pemanfaatan teknologi, hingga perubahan yang tidak diinginkan seperti
kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial ekonomi, dan masalah hak asasi manusia. Suka
atau tidak suka, kualitas hidup manusia masa kini yang ditopang oleh kecanggihan teknologi,
pasar sumber daya global, produk dan jasa internasional, serta keterkaitan ekonomi global
merupakan hasil pertumbuhan ekonomi kapitalisme yang lahir pada revolusi industri
tersebut, walaupun dampak negatifnya tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Pemerintahan (government) sebagai legitimasi sebuah negara dihadapkan pada
perubahan besar yang nyata. Pertumbuhan ekonomi yang diarahkan oleh kekuatan pasar
tidak dapat menjamin pembangunan ekonomi yang berkualitas. Kegagalan pasar dan
asumsi-asumsi yang sulit diwujudkan pada akhirnya memerlukan peran pemerintah sebagai
tindakan korektif berlatar belakang kepentingan umum dan nasional. Intervensi pemerintah
adalah sebagai agen.
Perekonomian tidak hanya bersifat korektif tetapi dinamika yang berkembang adalah
munculnya problematika birokrasi dan politik yang memunculkan dampak negatif
(contohnya pemburu rente/rent seeking) yang akhirnya menciptakan kondisi yang lebih
buruk daripada kegagalan pasar. Kontroversi dan debat antara mekanisme pasar dan peran
pemerintah dalam perekonomian merupakan sebuah drama perubahan yang berimplikasi
pada perubahan selanjutnya bagi kehidupan manusia dari tingkat individu, rumah tangga,
masyarakat, negara, hingga tatanan ekonomi dunia. Perekonomian dihadapkan pada situasi
yang mendorong kompetisi atau pengaturan yang bersifat regulasi.
Perubahan tidak perlu dielakkan, tapi perlu dikelola agar memberikan manfaat dan
mendukung pencapaian tujuan. Pembangunan ekonomi nasional tidak dapat dikelola hanya

1
oleh pemerintah saja, tetapi memerlukan peran swasta dan internasional, serta peran dari
masyarakat/publik sebagai obyek dari pembangunan. Pihak swasta pun tidak dapat bebas
memanfaatkan dan mengelola perekonomian tanpa memperhatikan kepentingan para
pihak lainnya. Interaksi agen ekonomi dalam sistem perekonomian menuntut adanya
kejelasan dalam pengaturan dan pengelolaan sumber daya melalui sistem kelembagaan
agar tidak menimbulkan inefisiensi karena kehadiran biaya transaksi (Coase, 1937) sebagai
konsekuensi dari drama kompetisi-regulasi yang dibahas sebelumnya. Perkembangan ini
melatarbelakangi perlunya governance sebagai sistem kelembagaan. Masalah lain yaitu
masalah keagenan yang muncul di tingkatan mikro (perusahaan) dimana biaya transaksi di
level tersebut adalah terkait mekanisme governance antara pemilik modal (principle)
dengan pengelola perusahaan (agent) sehingga diperlukan sebuah pengawasan (Jensen &
Meckling, 1976; Williamson, 1985).
Indonesia sebagai bagian dari perekonomian global, tidak lepas dari dinamika dan
problema ekonomi dan kelembagaan yang diuraikan diatas. Amanat UUD 1945 yang
memberikan tempat bagi pemerintah sebagai agen ekonomi, merupakan sebuah sistem
kelembagaan yang telah mengakomodasi dan melihat jauh kedepan bahwa dikotomi antara
kompetisi dan regulasi diselesaikan secara pendekatan budaya dan jatidiri bangsa dengan
asas kekeluargaan. Hal ini merupakan kompromi nasional yang telah memperhatikan aspek
governance sebagai sistem kelembagaan ekonomi.
Praktik governance, baik di sektor publik dan swasta (korporasi), merupakan sebuah
perubahan hasil interaksi keduanya dalam menciptakan situasi pasar yang kondusif bagi
pertumbuhan ekonomi tanpa melupakan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Tata
kelola yang baik (good governance) sebagai sebuah konsep yang mengubah paradigma para
agen ekonomi untuk memperhatikan stakeholders dan keberlanjutan jangka panjang secara
seimbang dengan memperhatikan aspek kepatuhan terhadap peraturan perundang-
undangan (compliance), komitmen terhadap penciptaan bisnis yang sehat, beretika, dan
bermartabat (conformance), dan efisiensi alokasi serta pencapaian kinerja yang diharapkan
(performance).
Tata kelola (governance) secara konsep maupun praktik, merupakan sebuah
perubahan yang perlu dicermati oleh korporasi sebagai lingkungan eksternal yang harus
diadaptasi (internalisasi), dijadikan acuan dan pedoman (sistem), diperhatikan dan menjadi
arah perkembangan masa depan (strategi) serta menjadi bagian dari organisasi yang

2
mempengaruhi cara dan gaya organisasi (budaya) dalam mengambil keputusan dan
menempatkan diri di pasar dan industrinya.

I.2 SEKILAS TENTANG IICG DAN CGPI

The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG) berdiri pada tanggal 2 Juni 2000
atas prakarsa Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI), praktisi dan profesional, serta tokoh
masyarakat yang memiliki visi dan kepedulian terhadap masa depan Indonesia yang lebih
baik. Tujuan membentuk IICG adalah untuk memasyarakatkan konsep corporate governance
dan manfaat penerapan prinsi-prinsip GCG seluas-luasnya dalam rangka mendorong
terciptanya dunia usaha Indonesia yang beretika dan bermartabat. Wujud kontribusi IICG
tersebut dicanangkan dalam empat kegiatan utama, yaitu: (1) Penelitian dan
Pemeringkatan, (2) Pendidikan dan Pelatihan, (3) Publikasi dan Promosi, serta (4) Penilaian
dan Pengembangan.
Salah satu program yang terus menerus dilaksanakan IICG sejak tahun 2001 hingga
sekarang adalah Corporate Governance Perception Index (CGPI) yaitu program riset dan
pemeringkatan penerapan good corporate governance (GCG) pada perusahaan-perusahaan
di Indonesia melalui perancangan riset yang mendorong perusahaan meningkatkan kualitas
penerapan konsep corporate governance (CG) dengan melaksanakan evaluasi dan
benchmarking sebagai upaya perbaikan yang berkesinambungan (continuous improvement).
CGPI telah diselenggarakan oleh IICG bekerjasama dengan Majalah SWA sebagai program
rutin tahunan sejak tahun 2001 sebagai bentuk penghargaan terhadap inisiatif dan hasil
upaya perusahaan dalam mewujudkan bisnis yang beretika dan bermartabat. Kepesertaan
CGPI bersifat sukarela dan melibatkan peran aktif perusahaan bersama seluruh stakeholders
dalam memenuhi tahapan pelaksanaan program CGPI, dan hal tersebut menunjukkan
komitmen bersama dalam memasyarakatkan GCG, karena program CGPI berupaya
mendorong dan menuntut perusahaan peserta untuk melakukan perbaikan atau
peningkatan praktik GCG di lingkungannya.
Metodologi penilaian pada setiap kegiatan riset dan pemeringkatan CGPI
dikembangkan oleh para peneliti senior dengan acuan berbagai referensi dari Indonesia
maupun Internasional yang terkait dengan GCG berdasarkan perspektif stakeholders sebagai
alat ukur, dan disesuaikan dengan tema sentral yang ditetapkan. Penilaian yang dilakukan
terhadap implementasi GCG secara terbatas mencakup aspek komitmen dan aturan main

3
organ perusahaan, sedangkan implementasi GCG secara luas mencakup aspek komitmen
dan hubungan antara perusahaan dengan stakeholders. Cara pandang seperti ini akan
memperluas orientasi dan cakupan implementasi GCG yang memiliki konsekuensi pada
waktu dan upaya yang dibutuhkan dalam proses mewujudkan praktik terbaik.
Mencermati perkembangan dunia dan tuntutan terhadap pentingnya implementasi
GCG, CGPI menggunakan tema sentral yang berbeda pada setiap tahun penyelenggaraan
sebagai fokus perhatian guna mempermudah penilaian oleh IICG dan sekaligus menjadi
panduan bagi perusahaan untuk memberikan prioritas dan langkah-langkah terarah agar
implementasi GCG dapat dilakukan secara utuh menyeluruh, terintegrasi dan efektif. Sejak
penyelenggaraan CGPI 2003, IICG telah menetapkan tema pada rangkaian peta jalan
pelaksanaan CGPI. Pada dasawarsa pertama, periode tahun 2001-2009, tema CGPI diawali
dengan Membangun Komitmen terhadap GCG, dilengkapi dengan Internalisasi
Penerapan Prinsip-Prinsip GCG, Mewujudkan dan Aktualisasi GCG sebagai sebuah Sistem
dan diakhiri dengan tema GCG sebagai Budaya. Pada dasawarsa kedua, periode tahun
2010-2019 telah diawali dengan tema GCG dalam Perspektif Etika. Secara rinci peta jalan
tema CGPI dapat disimak pada Gambar I.2.1.

Gambar I.2.1 Perjalanan Tema CGPI 2001 2012

4
I.3 TUJUAN PROGRAM RISET DAN PEMERINGKATAN CGPI

Upaya partisipasi dan kontribusi IICG dalam mendorong penerapan prinsip-prinsip GCG di
Indonesia guna menciptakan praktik dunia bisnis yang etikal, sehat, bermartabat dan
berkelanjutan terus bergulir melalui penyelenggaraan Program riset dan pemeringkatan
CGPI. IICG melalui penyelenggaraan CGPI 2013 mengajak seluruh pemangku kepentingan
(Pemerintah, Pelaku Bisnis, Masyarakat Bisnis, Pihak Pendukung Bisnis) melakukan praktik
terbaik GCG dan berbagai kegiatan diseminasi konsep CG dalam dunia bisnis dan
perekonomian guna mendorong kesejahteraan ekonomi yang berkelanjutan khususnya
memperhatikan aspek pengelolaan pengetahuan. Selain itu program pemeringkatan CGPI
juga bertujuan untuk memotivasi dunia bisnis dalam melaksanakan konsep CG dan
menumbuhkan partisipasi masyarakat luas agar secara bersama-sama aktif dalam
mengembangkan dan menerapkan GCG. Riset dan pemeringkatan ini menjadi sarana yang
strategis dalam menyusun database, melakukan pemetaan (mapping) kondisi CG di
Indonesia, dan menjadi benchmark implementasi GCG pada Perusahaan Publik, BUMN dan
Perbankan serta Perusahaan Swasta di Indonesia.

I.4 MANFAAT DAN DAMPAK PROGRAM RISET DAN


PEMERINGKATAN CGPI

IICG melalui program CGPI 2013 berupaya membantu perusahaan melakukan tinjauan
terhadap pelaksanaan CG yang telah dilakukannya dan membandingkan dengan perusahaan
lainnya sebagai wujud kesungguhan perusahaan-perusahaan di Indonesia dalam
meningkatkan kualitas penerapan prinsip-prinsip GCG. Hasil tinjauan dan perbandingan
tersebut dapat memberikan beberapa manfaat berikut pada perusahaan:
1. Perbaikan terhadap faktor-faktor internal organisasi yang belum memadai
berdasarkan hasil temuan survei CGPI 2013 guna mewujudkan peningkatan kualitas
penerapan GCG;
2. Pemetaan masalah-masalah strategis yang terjadi di perusahaan khususnya
pengelolaan pengetahuan sebagai masukan dalam penyusunan kebijakan yang
diperlukan guna meningkatkan kualitas penerapan GCG;

5
3. Peningkatan kesadaran bersama di kalangan internal perusahaan dan stakeholder
lainnya terhadap pentingnya pengelolaan pengetahuan dalam penerapan GCG agar
terwujud pertumbuhan yang berkelanjutan;
4. Peningkatan kepercayaan investor dan publik terhadap perusahaan atas hasil publikasi
IICG tentang upaya peningkatan kapabilitas perusahaan dalam melaksanakan konsep
CG;
5. Perwujudan komitmen dan tanggung jawab bersama serta upaya yang mendorong
peningkatan kapasitas seluruh anggota organisasi perusahaan dalam menerapkan GCG
dan memperhatikan aspek risiko bisnis;
6. Penetapan indikator atau standar kualitas penerapan GCG yang ingin dicapai
perusahaan;
7. Pengakuan dari masyarakat terhadap upaya membangun daya saing dan keberlanjutan
usaha melalui peningkatan kualitas penerapan prinsip-prinsip GCG;
8. Penataan organisasi perusahaan secara berkesinambungan melalui proses
pembelajaran terhadap pencapaian kualitas yang mendukung penerapan governance,
risk and compliance secara terintegrasi;
9. Peningkatan kesadaran dan komitmen bersama dari internal perusahaan terhadap
pentingnya mewujudkan organisasi pembelajar.

6
BAB II
GCG DALAM PERSPEKTIF ORGANISASI PEMBELAJAR

II.1 ORGANISASI PEMBELAJAR

Perubahan di dunia bisnis yang terjadi sangat cepat membutuhkan kemampuan belajar bagi
pelaku bisnis dari situasi yang ada agar dapat menghadapi perubahan. Selain itu persaingan
yang semakin ketat juga menuntut perusahaan untuk belajar lebih cepat agar menjadi yang
terdepan dan mampu mengejar ketertinggalan. Era ekonomi pengetahuan juga menuntut
perusahaan-perusahaan untuk meningkatkan penguasaan, pengembangan dan
pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu organisasi pembelajar
diperlukan untuk mengantisipasi masa depan yang penuh ketidakpastian. Organisasi atau
perusahaan harus mampu meningkatkan kapasitas guna menciptakan keunggulan dan
keberlangsungan usahanya (sustainable business).
Secara definisi organisasi pembelajar diartikan sebagai sebuah organisasi yang terus
menerus meningkatkan kapasitasnya untuk menciptakan masa depan (Senge 1990).
Menurut Pedler et al (1991) organisasi pembelajar memfasilitasi pembelajaran bagi semua
anggotanya dan terus menerus melakukan pembenahan. Organisasi pembelajar dapat
diartikan pula sebagai organisasi yang terampil menciptakan, mengembangkan,
mengalihkan pengetahuan dan mengubah perilakunya yang mencerminkan pengetahuan
dan wawasan baru (Garvin 1993) atau menurut Marquardt (1996) organisasi pembelajar
merupakan organisasi yang mau belajar secara tekun dan kolektif serta secara terus-
menerus meningkatkan dirinya untuk memperoleh, mengatur, dan menggunakan
pengetahuan demi keberhasilan organisasi. Organisasi belajar juga memberdayakan orang
di dalam dan di sekitarnya untuk belajar seperti dalam bekerja, serta teknologi digunakan
untuk meningkatkan proses belajar dan produktivitas.
Selanjutnya Guidry (1996) mengungkapkan organisasi pembelajaran mengakui
perlunya terus belajar untuk membangun keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.
Kondisi ini merupakan penciptaaan suatu lingkungan di mana orang-orang terbuka untuk
ide-ide baru, responsif terhadap perubahan dan bersemangat untuk mengembangkan
keterampilan baru dan kemampuan organisasi untuk meningkatkan kinerja perusahaan.
Robbins (2002) mengemukakan bahwa organisasi belajar diperlukan bagi perusahaan untuk
mengembangkan kapasitas organisasi secara bersinambungan untuk menyesuaikan diri dan

7
melakukan perubahan. Dalam hal ini, organisasi belajar mendorong perusahaan terus
berupaya meningkatkan kemampuan baik individual maupun kelompok, untuk berpikir dan
berperilaku kreatif dan mengoptimalkan potensinya melalui pembelajaran. Dengan
terjadinya proses pembelajaran berarti perusahaan memotivasi dan memampukan para
karyawan untuk mengambil keputusan serta terus menerus guna meningkatkan efektifitas
kinerja organisasi.

II.2 GCG DAN ORGANISASI PEMBELAJAR

GCG dalam Perspektif Organisasi Pembelajar dimaknakan sebagai sistem dan mekanisme
yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan melalui proses belajar seluruh anggota
perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan kapasitas sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat. Hal ini diperlukan mengingat sangat cepatnya muncul teknologi baru, segmen
pasar yang baru, kompetitor baru di berbagai bidang yang menjadi tantangan bagi
organisasi. Oleh karena itu, organisasi perlu melakukan strategi perubahan dan langkah-
langkah pengembangan yang spesifik berdasarkan budaya organisasi agar perusahaan
mampu mewujudkan visi dan misi organisasi.
Dalam konteks hubungan antara organisasi pembelajar dengan GCG, pada
hakikatnya organisasi pembelajar merupakan pilar pendukung dari pelaksanaan GCG. Hal ini
dikarenakan penerapan GCG pada hakikatnya bertujuan untuk menjadikan perusahaan
bernilai tambah di mata stakeholders, dimana tujuan tersebut sejalan dengan tujuan
organisasi pembelajar adalah untuk merespon perubahan secara cepat. Dapat dikatakan
bahwa dengan konsep organisasi pembelajar, tercipta suatu dimensi baru yang
menghancurkan sekat-sekat organisasi tradisional yang membelenggu organisasi.
Organisasi pembelajar diperlukan untuk menggerakkan kelompok dalam penyusunan
kebijakan yang efektif di tengah kondisi yang kompleks dan perubahan yang terus
berlangsung. Dengan kata lain, organisasi pembelajar dapat membantu perusahaan
memperbarui dan memutakhirkan kebijakan dan proses bisnis, serta membangun
keunggulan/daya saing. Selain itu upaya menjadikan organisasi atau perusahaan lebih
berkualitas dengan membudayakan proses belajar di dalam perusahaan dan menjadikan
perusahaan sebagai organisasi pembelajar. Perusahaan sebagai organisasi pembelajar akan
menunjukan sikap adaptif dan responsif terhadap lingkungan eksternalnya sekaligus akan

8
memiliki integrasi internal yang sangat kuat (Yasni et al, 2006). Selanjutnya dilaporkan
bahwa dari pengalaman dalam penerapan GCG akan diperoleh suatu tata nilai yang dapat
menumbuhkan semangat belajar yang inovatif, diantaranya membawa kepada perubahan
untuk (1) menciptakan suasana bekerja yang antusiastik, sehingga bekerja bukanlah sebagai
beban, tetapi perangsang untuk bekerja lebih baik; (2) membangkitkan semangat agar
berkontribusi secara maksimal; dan (3) menunjukkan motivasi dan kepedulian terhadap
seluruh anggota organisasi.

II.3 RUANG LINGKUP DAN FOKUS PENILAIAN

Program CGPI menggunakan 3 (tiga) ruang lingkup penerapan GCG, yaitu aspek kepatuhan
(compliance), kesesuaian (conformance), dan aspek kinerja (performance). Secara rinci
uraian ketiga aspek tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Aspek kepatuhan (compliance) dalam implementasi GCG merupakan pemenuhan atas
berbagai tuntutan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh regulator.
Aspek ini memastikan bahwa seluruh operasional bisnis perusahaan sudah dilakukan
dengan baik dan tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku.
2. Aspek kesesuaian (conformance) dalam implementasi GCG merupakan keselarasan
berbagai kebijakan dan operasional perusahaan dengan norma, etika, dan tata nilai
yang dianut.
3. Aspek kinerja (performance) dalam implementasi GCG merupakan hasil-hasil capaian
perusahaan dalam memenuhi tuntutan operasional secara etikal dan bermartabat.

Arah penilaian CGPI 2013 dengan tema GCG dalam Perspektif Organisasi Pembelajar
dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Mencermati berbagai upaya perusahaan dalam membangun penerapan GCG dalam
memperbarui dan memutakhirkan proses bisnis, membangun daya saing serta
mewujudkan kerberlanjutan usaha (sustainable business) berlandaskan prinsip-prinsip
GCG.
2. Mencermati berbagai upaya perusahaan membangun peningkatan kapasitas
perusahaan dalam mewujudkan masa depan perusahaan melalui proses belajar
seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan dalam rangka menciptakan
nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat.

9
Fokus penilaian CGPI 2013 dengan tema GCG dalam Perspektif Organisasi Pembelajar
meliputi hal-hal berikut:
1. Membangun inisiatif peningkatan implementasi GCG melalui proses belajar yang
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas perusahaan sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat;
2. Merumuskan dan mengembangkan kebijakan dan program strategis perusahaan
dalam rangka meningkatkan implementasi GCG melalui proses belajar yang
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas perusahaan sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat;
3. Melakukan peningkatan pengawasan dan pengendalian organ perseroan dalam upaya
meningkatkan implementasi GCG melalui proses belajar yang berkesinambungan
guna meningkatkan kapabilitas perusahaan menjadi organisasi pembelajar dalam
rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat;
4. Melakukan evaluasi peningkatan sistem implementasi GCG melalui proses belajar
yang berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas perusahaan menjadi
organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara
etikal dan bermartabat.

II.4 KEPESERTAAN CGPI

Program CGPI yang diselenggarakan IICG setiap tahunnya merupakan program yang bersifat
sukarela (voluntary), selektif, dan elektif. Keikutsertaan perusahaan dalam CGPI merupakan
sebuah pilihan (elektif) secara sukarela (voluntary) tanpa didasari oleh dorongan memenuhi
aturan (mandatory) dan mempertimbangkan kesiapan internal perusahaan (selektif) dalam
memutuskan berpartisipasi mengikuti CGPI berdasarkan tema penilaian. IICG sebagai
lembaga masyarakat yang independen mengundang partisipasi perusahaan pada CGPI
dalam bentuk himbauan (voluntary) kepada beberapa perusahaan yang sudah diwajibkan
menerapkan GCG ataupun belum (selektif) melalui penetapan tema khusus penilaian CGPI
(elektif).
IICG mengundang sebanyak 752 perusahaan untuk mengikuti CGPI 2013 yang berasal
dari perusahaan publik (Emiten), Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik

10
Swasta (BUMS), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan Lembaga Bisnis Syariah. Rincian
Perusahaan yang diundang IICG untuk mengikuti CGPI 2013 disajikan pada Tabel II.4.1.

Tabel II.4.1 Data Kepesertaan CGPI 2013

Pernyataan Konfirmasi
Kategori Perusahaan Pengiriman Undangan Partisipasi
Ikut Menolak Mundur
Emiten Non Bank 456 9 5 2
Bank (Emiten, Non Emiten, BPD) 99 10 1 0
Bank Syariah 11 1 0 0
BUMN Non Bank 107 5 2 0
Swasta 79 6 2 1
Total 752 31 10 3

11
12
BAB III
METODOLOGI PENILAIAN CGPI

III.1 ASPEK PENILAIAN

Penilaian CGPI 2013 mencakup 12 aspek penerapan GCG dalam perspektif organisasi
pembelajar di perusahaan. Aspek-aspek tersebut merupakan hasil pengembangan dari CGPI
sebelumnya dan dimutakhirkan sesuai dengan relevansi tema CGPI 2013. Keterlibatan organ
perusahaan (Dewan Komisaris dan Direksi) memiliki peranan yang penting dalam setiap
aspek yang dikembangkan. Bagi peserta yang berasal dari lembaga keuangan syariah,
keterlibatan organ perusahaan juga mencakup peran dari Dewan Pengawas Syariah. Secara
rinci aspek dan indikator yang dinilai pada CGPI 2013 dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Komitmen
Sesuai dengan tema GCG dalam perspektif organisasi pembelajar, aspek komitmen
dimaknakan sebagai kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris
dalam mengimplementasikan GCG melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan
secara berkesinambungan dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara
etikal dan bermartabat.
Indikator aspek penilaian aspek komitmen meliputi:
a. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris membangun inisiatif
untuk mengimplementasikan GCG melalui proses belajar seluruh anggota
perusahaan secara berkesinambungan dalam rangka menciptakan nilai tambah
perusahaan secara etikal dan bermartabat.
b. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan
mengembangkan kebijakan dan program strategis untuk mengimplementasikan
GCG melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara
etikal dan bermartabat.
c. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan
pemantauan atas pelaksanaan program strategis untuk mengimplementasikan
GCG melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara
etikal dan bermartabat.

13
d. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan perbaikan
dan peningkatan implementasi GCG melalui proses belajar seluruh anggota
perusahaan secara berkesinambungan dalam rangka menciptakan nilai tambah
perusahaan secara etikal dan bermartabat.
2. Transparansi
Sesuai dengan tema GCG dalam perspektif organisasi pembelajar, aspek transparansi
dimaknakan sebagai kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris
dalam mengarahkan dan mengendalikan perusahaan dengan mengungkapkan dan
menyediakan informasi secara tepat waktu, memadai, jelas, akurat, dan dapat
diperbandingkan serta mudah diakses oleh pemangku kepentingan dan masyarakat
melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan guna
menjalankan bisnis secara objektif, profesional dan melindungi kepentingan
konsumen sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah
perusahaan secara etikal dan bermartabat.
Indikator aspek penilaian aspek transparansi meliputi:
a. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris membangun inisiatif
peningkatan implementasi GCG dengan mengungkapkan dan menyediakan
informasi secara tepat waktu, memadai, jelas, akurat, dan dapat diperbandingkan
serta mudah diakses oleh pemangku kepentingan dan masyarakat melalui proses
belajar yang berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat.
b. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan
mengembangkan arah, tujuan, kebijakan dan program strategis perusahaan
dengan sasarannya dalam rangka meningkatkan implementasi GCG dengan
mengungkapkan dan menyediakan informasi secara tepat waktu, memadai, jelas,
akurat, dan dapat diperbandingkan serta mudah diakses oleh pemangku
kepentingan dan masyarakat melalui proses belajar yang berkesinambungan guna
meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar dalam rangka
menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat.
c. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan
peningkatan pengawasan dan pengendalian perusahaan dalam pengungkapan

14
dan penyediaan informasi secara tepat waktu, memadai, jelas, akurat, dan dapat
diperbandingkan serta mudah diakses oleh pemangku kepentingan dan
masyarakat melalui proses belajar yang berkesinambungan guna meningkatkan
kapabilitas sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah
perusahaan secara etikal dan bermartabat.
d. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan evaluasi
peningkatan sistem penyelenggaraan bisnis dalam pengungkapan dan penyediaan
informasi secara tepat waktu, memadai, jelas, akurat, dan dapat diperbandingkan
serta mudah diakses oleh pemangku kepentingan dan masyarakat melalui proses
belajar yang berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat.
3. Akuntabilitas
Sesuai dengan tema GCG dalam perspektif organisasi pembelajar, aspek akuntabilitas
dimaknakan sebagai kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris
dalam mengelola perusahaan secara sehat, terukur dan professional dengan
menetapkan kejelasan tugas pokok dan fungsi dalam perusahaan juga mekanisme
pertanggungjawabannya melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat.
Indikator aspek penilaian aspek akuntabilitas meliputi:
a. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam membangun
inisiatif strategis mengelola perusahaan secara sehat, terukur dan profesional
dengan menetapkan kejelasan tugas pokok dan fungsi dalam perusahaan dan
mekanisme pertanggungjawabannya melalui proses belajar seluruh anggota
perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai
organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara
etikal dan bermartabat.
b. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan
mengembangkan kebijakan dan program strategis untuk mengelola perusahaan
secara sehat, terukur dan profesional melalui proses belajar seluruh anggota
perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai

15
organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara
etikal dan bermartabat.
c. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan
peningkatan pengawasan dan pengendalian pengelolaan perusahaan secara
sehat, terukur dan profesional melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan
secara berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat.
d. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan upaya
perbaikan dan peningkatan pengelolaan perusahaan secara sehat, terukur dan
profesional melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat.
4. Responsibilitas
Sesuai dengan tema GCG dalam perspektif organisasi pembelajar, aspek
responsibilitas dimaknakan sebagai kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan
Komisaris dalam mengarahkan dan mengendalikan perusahaan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan dan peraturan internal serta tanggung jawab
terhadap masyarakat dan lingkungan melalui proses belajar seluruh anggota
perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai
organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara
etikal dan bermartabat. Indikator aspek penilaian aspek responsibilitas meliputi:
a. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris membangun inisiatif
dalam mengarahkan dan mengendalikan perusahaan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan dan peraturan internal serta tanggung jawab terhadap
masyarakat dan lingkungan melalui proses pembelajaran seluruh anggota
perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai
organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara
etikal dan bermartabat.
b. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan
mengembangkan kebijakan dan program perusahaan sesuai dengan peraturan

16
perundang-undangan dan peraturan internal serta tanggung jawab terhadap
masyarakat dan lingkungan melalui proses pembelajaran seluruh anggota
perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai
organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara
etikal dan bermartabat.
c. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan
pengawasaan dan pengendalian kebijakan dan program perusahaan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan dan peraturan internal serta tanggung
jawab terhadap masyarakat dan lingkungan melalui proses pembelajaran seluruh
anggota perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas
sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah
perusahaan secara etikal dan bermartabat.
d. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan upaya
perbaikan dan peningkatan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan
dan peraturan internal serta tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan
melalui proses pembelajaran seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat.
5. Independensi
Sesuai dengan tema GCG dalam perspektif organisasi pembelajar, aspek independensi
dimaknakan sebagai kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris
dalam mengarahkan dan mengendalikan perusahaan secara independen dengan tidak
saling mendominasi dan bebas dari benturan kepentingan melalui proses belajar
seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan
kapabilitas, serta mewujudkan objektivitas, profesionalisme dan kemandirian
perusahaan sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah
perusahaan secara etikal dan bermartabat.
Indikator aspek penilaian aspek independensi meliputi:
a. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris membangun inisiatif
peningkatan implementasi GCG dengan mewujudkan objektivitas tugas dan
kewajibannya serta kemandirian dari dominasi pihak lain melalui proses belajar

17
yang berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat.
b. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan
mengembangkan kebijakan dan program strategis perusahaan dalam rangka
meningkatkan implementasi GCG dengan mewujudkan objektivitas tugas dan
kewajibannya serta kemandirian dari dominasi pihak lain melalui proses belajar
yang berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat.
c. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan
peningkatan pengawasan dan pengendalian perusahaan untuk mewujudkan
objektivitas tugas dan kewajibannya serta kemandirian dari dominasi pihak lain
melalui proses belajar yang berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas
menjadi organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah
perusahaan secara etikal dan bermartabat.
d. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan evaluasi
peningkatan sistem penyelenggaraan bisnis yang objektif dan mandiri melalui
proses belajar yang berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas
perusahaan menjadi organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai
tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat.
6. Keadilan
Sesuai dengan tema GCG dalam perspektif organisasi pembelajar, aspek keadilan
dimaknakan sebagai kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris
dalam membangun sistem untuk menjamin terpenuhinya hak dan kewajiban para
pemangku kepentingan perusahaan melalui proses belajar seluruh anggota
perusahaan secara berkesinambungan sebagai organisasi pembelajar dalam rangka
menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat.
Indikator aspek penilaian aspek keadilan meliputi:
a. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris membangun inisiatif
untuk menyusun dan mengembangkan sistem dan mekanisme internal yang
mencerminkan kesetaraan dan memberikan kesempatan yang sama bagi para

18
pemangku kepentingan perusahaan untuk memperoleh haknya dan melaksanakan
kewajibannya melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat.
b. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan
mengembangkan mekanisme implementasi yang mencerminkan kesetaraan dan
memberikan kesempatan yang sama bagi para pemangku kepentingan
perusahaan untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya melalui
proses belajar seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan guna
meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar dalam rangka
menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat.
c. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam mengevaluasi
mekanisme implementasi sistem yang mencerminkan kesetaraan dan
memberikan kesempatan yang sama bagi para pemangku kepentingan
perusahaan untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya melalui
proses belajar seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan guna
meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar dalam rangka
menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat.
d. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam memperbaiki
dan meningkatkan sistem dan mekanisme internal yang mencerminkan
kesetaraan dan memberikan kesempatan yang sama bagi para pemangku
kepentingan perusahaan untuk memperoleh haknya dan melaksanakan
kewajibannya melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat.
7. Kepemimpinan
Sesuai dengan tema GCG dalam perspektif organisasi pembelajar, aspek
kepemimpinan dimaknakan sebagai kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan
Komisaris dalam mewujudkan organisasi pembelajar melalui perannya sebagai
perancang, penata layanan dan panutan melalui proses belajar seluruh anggota

19
perusahaan secara berkesinambungan dalam rangka menciptakan nilai tambah
perusahaan secara etikal dan bermartabat.
Indikator aspek penilaian aspek kepemimpinan meliputi:
a. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris membangun inisiatif
peningkatan peran untuk mewujudkan organisasi pembelajar melalui proses
belajar seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan dalam rangka
menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat.
b. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan
mengembangkan model peningkatan peran untuk mewujudkan organisasi
pembelajar melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara
etikal dan bermartabat.
c. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan evaluasi
peran untuk mewujudkan organisasi pembelajar melalui proses belajar seluruh
anggota perusahaan secara berkesinambungan dalam rangka menciptakan nilai
tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat.
d. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan perbaikan
dan peningkatan peran untuk mewujudkan organisasi pembelajar melalui proses
belajar seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan dalam rangka
menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat.
8. Strategi
Sesuai dengan tema GCG dalam perspektif organisasi pembelajar, aspek strategi
dimaknakan sebagai kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris
dalam mengarahkan dan mengendalikan perusahaan dengan menetapkan tujuan,
kebijakan dan program strategis dengan sasarannya melalui proses belajar seluruh
anggota perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas, serta
mewujudkan obyektivitas dan kemandirian perusahaan sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat.
Indikator aspek penilaian aspek strategi meliputi:
a. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris membangun inisiatif
peningkatan implementasi GCG dengan menetapkan tujuan, kebijakan dan
program strategis perusahaan dengan sasarannya melalui proses belajar yang

20
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah secara etikal dan bermartabat.
b. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan
mengembangkan tujuan, kebijakan dan program strategis perusahaan dengan
sasarannya dalam rangka meningkatkan implementasi GCG melalui proses belajar
yang berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah secara etikal dan
bermartabat.
c. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan
peningkatan pengawasan dan pengendalian terhadap pencapaian tujuan,
kebijakan dan program strategis perusahaan dengan sasarannya dalam upaya
meningkatkan implementasi GCG melalui proses belajar yang berkesinambungan
guna meningkatkan kapabilitas menjadi organisasi pembelajar dalam rangka
menciptakan nilai tambah secara etikal dan bermartabat.
d. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan evaluasi
tujuan, kebijakan dan program strategis dengan sasarannya dalam upaya
meningkatkan implementasi GCG melalui proses belajar yang berkesinambungan
guna meningkatkan kapabilitas menjadi organisasi pembelajar dalam rangka
menciptakan nilai tambah secara etikal dan bermartabat.
9. Etika
Sesuai dengan tema GCG dalam perspektif organisasi pembelajar, aspek etika
dimaknakan sebagai kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris
dalam mengarahkan dan mengendalikan standar perilaku bisnis dan perilaku kerja
yang dilakukan perusahaan beserta anggota-anggotanya dalam berinteraksi dengan
para pemangku kepentingan melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan
secara berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah secara etika dan bermartabat.
Indikator aspek penilaian aspek etika meliputi:
a. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris membangun inisiatif
untuk mengarahkan dan mengendalikan standar perilaku bisnis dan perilaku kerja
yang dilakukan perusahaan beserta anggota-anggotanya dalam berinteraksi
dengan para pemangku kepentingan, melalui proses belajar yang

21
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah secara etikal dan bermartabat.
b. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan
mengembangkan standar perilaku bisnis dan perilaku kerja yang dilakukan
perusahaan beserta anggota-anggotanya dalam berinteraksi dengan para
pemangku kepentingan lain melalui proses belajar yang berkesinambungan guna
meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar dalam rangka
menciptakan nilai tambah secara etikal dan bermartabat.
c. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan
peningkatan pengawasan dan pengendalian implementasi standar perilaku bisnis
dan perilaku kerja yang dilakukan perusahaan beserta anggota-anggotanya dalam
berinteraksi dengan para pemangku kepentingan lain melalui proses belajar yang
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas menjadi organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah secara etikal dan bermartabat.
d. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan evaluasi
implementasi standar perilaku, baik perilaku bisnis dan perilaku kerja yang
dilakukan perusahaan beserta anggota-anggotanya dalam berinteraksi dengan
para pemangku kepentingan lain melalui proses belajar yang berkesinambungan
guna meningkatkan kapabilitas menjadi organisasi pembelajar dalam rangka
menciptakan nilai tambah secara etikal dan bermartabat.
10. Visi, Misi, Nilai & Makna
Sesuai dengan tema GCG dalam perspektif organisasi pembelajar, aspek visi, misi, nilai,
dan makna merupakan kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris
dalam menetapkankan arah, cita-cita, dan jati diri perusahaan melalui proses belajar
seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas
sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan
secara etikal dan bermartabat.
Indikator aspek penilaian aspek visi, misi, nilai, dan makna meliputi:
a. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam membangun
inisiatif merumuskan arah, cita-cita dan jati diri perusahaan melalui proses belajar
yang berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi

22
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat.
b. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris mengembangkan
kebijakan dan program strategis untuk mewujudkan arah, cita-cita dan jati diri
perusahaan melalui proses belajar yang berkesinambungan guna meningkatkan
kapabilitas sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah
perusahaan secara etikal dan bermartabat.
c. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan evaluasi
terhadap capaian arah, cita-cita dan jati diri perusahaan melalui proses belajar
yang berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat.
d. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan perbaikan
dan peningkatan arah, cita-cita dan jati diri perusahaan melalui proses belajar yang
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat.
11. Budaya
Sesuai dengan tema GCG dalam perspektif organisasi pembelajar, aspek budaya dapat
dimaknakan sebagai kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris
menciptakan budaya belajar untuk menghasilkan pola pikir baru dalam bentuk
kreativitas, inovasi dan pemecahan masalah dengan risiko yang dapat diperhitungkan
melalui integrasi berbagai partisipasi dan kontribusi yang diungkapkan oleh seluruh
anggota perusahaan secara berkesinambungan guna membangun kesadaran,
kemauan dan kemampuan bersama sebagai organisasi pembelajar dalam rangka
menciptakan nilai tambah secara etikal dan bermartabat.
Indikator aspek penilaian aspek budaya meliputi:
1. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris membangun inisiatif
menciptakan budaya belajar untuk menghasilkan pola pikir baru dalam bentuk
kreativitas, inovasi dan pemecahan masalah dengan risiko yang dapat
diperhitungkan melalui integrasi berbagai partisipasi dan kontribusi yang
diungkapkan oleh seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan guna

23
membangun kesadaran, kemauan dan kemampuan bersama sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah secara etikal dan bermartabat.
2. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan
mengembangkan kebijakan dan program untuk menciptakan budaya belajar guna
menghasilkan pola pikir baru dalam bentuk kreativitas, inovasi dan pemecahan
masalah dengan risiko yang dapat diperhitungkan melalui integrasi berbagai
partisipasi dan kontribusi yang diungkapkan oleh seluruh anggota perusahaan
secara berkesinambungan guna membangun kesadaran, kemauan dan
kemampuan bersama sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan
nilai tambah secara etikal dan bermartabat.
3. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam meningkatan
pengawasan dan pengendalian implementasi kebijakan dan program untuk
menciptakan budaya belajar guna menghasilkan pola pikir baru dalam bentuk
kreativitas, inovasi dan pemecahan masalah dengan risiko yang dapat
diperhitungkan melalui integrasi berbagai partisipasi dan kontribusi yang
diungkapkan oleh seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan guna
membangun kesadaran, kemauan dan kemampuan bersama sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah secara etikal dan bermartabat.
4. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan evaluasi
sistem budaya belajar yang diungkapkan oleh seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan guna membangun kesadaran, kemauan dan kemampuan
bersama sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah
secara etikal dan bermartabat.
12. Organisasi Pembelajar
Sesuai dengan tema GCG dalam perspektif organisasi pembelajar, aspek organisasi
pembelajar dimaknakan sebagai kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan
Komisaris dalam mewujudkan masa depan perusahaan dengan upaya membangun
peningkatan kapasitas melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal
dan bermartabat.
Indikator aspek penilaian aspek organisasi pembelajar meliputi:

24
a. Tim yang berkinerja tinggi, dimaknakan sebagai kesungguhan dari perusahaan
untuk membentuk sejumlah tim yang didalamnya terdiri dari sejumlah orang
dengan peran tertentu dan saling melengkapi satu sama lain dalam hal kepandaian
dan ketrampilan yang dimiliki; pembentukan tim tersebut diselaraskan dan
berkomitmen dengan dengan tujuan organisasi dan secara konsisten tim tersebut
menunjukkan tingkat kolaborasi dan inovasi yang tinggi dalam rangka mencapai
hasil yang superior yang terukur.
b. Berpikir Sistem dan Mekanisme Apresiasi, dimaknakan sebagai kesungguhan
perusahaan untuk membentuk lingkungan kerja yang terbuka yang memungkinkan
para anggotanya bereksperimen dengan ide-ide yang baru, berkomunikasi dan
berhubungan secara aktif satu sama lain, lingkungan kerja yang senantiasa
memberikan penghargaan dan pengakuan atas capaian yang diperoleh anggota
perusahaan, dan lingkungan kerja yang mendorong setiap anggota perusahaan
untuk memahami keterkaitan antara pekerjaan yang dilakukan dan performansi
yang dicapai dengan tujuan perusahaan.
c. Evaluasi Diri, dimaknakan sebagai kesungguhan perusahaan untuk membentuk
sistem evaluasi yang memungkinkan anggota perusahaan untuk meninjau ulang
dan melakukan perbaikan-perbaikan atas seluruh proses pekerjaan yang telah
dilakukan.
d. Transfer Pengetahuan dan Penciptaan Iklim Pembelajaran, dimaknakan sebagai
kesungguhan perusahaan untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi
penyebarluasan hasil pelatihan dan pembelajaran.
e. Sistem Pengelolaan Pengetahuan, dimaknakan sebagai kesungguhan perusahaan
untuk membangun dan mengembangkan sistem pengelolaan pengetahuan yang
mendukung terwujudnya organisasi pembelajar.

III.2 TAHAPAN PENILAIAN

Sistematika penilaian CGPI 2013 terdiri dari empat tahapan, yaitu self-assessment, sistem
dokumentasi, penilaian makalah, dan observasi. Uraian rinci dari masing-masing tahapan
dapat disimak pada penjelasan selanjutnya.

25
III.2.1 Self Assessment
Self-assessment adalah penilaian mandiri oleh seluruh organ, anggota, dan stakeholders
perusahaan mengenai kualitas pelaksanaan GCG di perusahaan yang dihubungkan dengan
upaya mengarahkan dan mengendalikan perusahaan melalui proses belajar seluruh anggota
perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan kapasitas sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat. Pada tahapan ini perusahaan mengisi kuesioner dengan mengajak responden
memberikan persepsinya secara jujur dan objektif guna memberikan umpan balik dan
evaluasi yang baik kepada perusahaan. Daftar para pemangku kepentingan perusahaan yang
dipersyaratkan untuk mengisi kuisioner pada tahapan self-assessment dapat disimak pada
Tabel III.2.1.
Tabel III.2.1 Daftar Responden Self Assessment

No Responden Jumlah
INTERNAL 43
1. Presiden Komisaris 1
2. Ketua Dewan Pengawas Syariah (khusus bank syariah) 1
3. Komisaris dan Komisaris Independen 2
4. Dewan Pengawas Syariah 2
5. Anggota Komite Komisaris 1 3
6. Presiden Direktur (Direktur Utama) 1
7. Direktur dan Direktur Tidak Terafiliasi 2
8. Sekretaris Perusahaan (Corporate Secretary) 1
9. Pegawai Manajerial 2 (diluar pegawai human resources/human capital) 8
10. Komite Eksekutif 3 3
11. Pegawai Tingkat Non Manajerial 8
12. Satuan Pengawasan Internal / Auditor Internal 5
13. Pimpinan Unit Fungsional Human Resources/Human Capital 5
14. Pimpinan Corporate University/Learning Centre/Training Centre/Diklat 2
15. Serikat Pekerja 2
EKSTERNAL 46
1 Investor Institusi 2
2 Investor Minoritas 2
3 Pemasok 2
4 Lembaga Pembiayaan 2
5 Asuransi 5
6 Perusahaan Anak 3
7 Pelanggan (Customer) 5
8 Auditor Eksternal 3
9 Regulator & Pengawas (OJK / Kementerian Negara BUMN / BI) 4 2
10 Regulator (Kementerian Perdagangan/Kementerian Perindustrian/ 2
Kementerian Perhubungan/Kementerian Lingkungan Hidup/ Direktorat
Pajak)
11 Pengawas (KPPU dan YLKI) 2

26
No Responden Jumlah
12 Notaris 2
13 Asosiasi yang diikuti oleh perusahaan 5
14 Mitra Kerja Perusahaan (partner / joint operation / perguruan tinggi) 4
15 Konsultan Mitra Kerja (appraisal, mitra fungsional dll) 5 5
Catatan:
1
Komite Komisaris adalah Komite yang ada di tingkat Dewan Komisaris seperti Komite Audit, Komite
Nominasi, Komite Remunerasi, Komite Pemantau Risiko, Komite Governance, dan lain-lain,
2
Disesuaikan dengan kondisi perusahaan (contoh: Vice President, Manager, Kepala Divisi/Departemen)
3
Komite Eksekutif adalah komite yang ada di tingkat Direksi yang disesuaikan dengan komite yang ada di
perusahaan (contoh: Komite Etika, Komite SDM, Komite Risiko, Komite Kredit, dll)
4
Otoritas Jasa Keuangan: bagi Emiten; Kementrian Negara BUMN: bagi BUMN; Bank Indonesia: bagi Bank
5
Konsultan Mitra Kerja meliputi konsultan untuk pemasaran, operasi, SDM, keuangan, IT, dll

III.2.2 Sistem Dokumentasi


Tahapan sistem dokumentasi adalah pemenuhan persyaratan penilaian berupa penyerahan
berbagai dokumen yang telah dimiliki perusahaan terkait dengan pelaksanaan GCG dan
proses belajar seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan
kapasitas sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah
perusahaan secara etikal dan bermartabat. Bagi perusahaan yang telah mengirimkan
dokumen yang dipersyaratkan pada penyelenggaraan CGPI 2012, maka pada CGPI 2013
tahun ini cukup hanya memberikan pernyataan konfirmasi bahwa dokumen sebelumnya
masih berlaku, dan jika terjadi perubahan, maka dokumen yang direvisi harus dilampirkan.
Dokumen-dokumen yang dipersyaratkan diserahkan ke sekretariat IICG setelah mendapat
pengesahan dari Presiden Direktur atau Direktur Utama dan atau yang dapat mewakili.
Dokumen tersebut akan dikaji dan dianalisa untuk kemudian dikelompokkan menjadi tujuh
aspek yang mewakili governance structure, governance system, governance process,
governance mechanism, governance output, governance outcome, dan governance impact.
Daftar dokumen untuk masing-masing kelompok tersebut disajikan pada Tabel III.2.2.

27
Tabel III.2.2 Daftar Kelengkapan Sistem Dokumentasi

No. Jenis Dokumen


Governance Structure
1 Anggaran Dasar Perseroan terakhir yang disahkan Kemenkumham 1
Panduan tertulis khusus yang mengatur tugas, kewajiban, wewenang dan berbagai hal yang
2
berkaitan dengan Dewan Komisaris (Board Charter) 2
Panduan tertulis khusus yang mengatur tugas, kewajiban, wewenang dan berbagai hal yang
3
berkaitan dengan Direksi (Board Charter) 2
4 Panduan tertulis khusus untuk Organ Pendukung Komisaris (Komite Audit/Nominasi/Risiko/dll) 2
Governance System
5 Panduan moral dan etika kerja dan/atau etika bisnis (code of conduct) 2
6 Dokumentasi proses perumusan visi, misi, tata nilai, tujuan organisasi periode terakhir 3
7 Panduan tertulis khusus mengenai pengelolaan benturan kepentingan
8 Panduan/pedoman pelaksanaan pengadaan barang dan jasa
Dokumen yang terkait dengan sistem perlindungan terhadap saksi pelapor/sistem pelaporan
9
pelanggaran (whistle blowing system)
10 Panduan tertulis mengenai Sistem Pengendalian Internal (Internal Audit Charter)
11 Kebijakan mengenai pembatasan perangkapan jabatan dan implementasinya
Dokumentasi sistem implementasi pengelolaan sumber daya manusia (kebijakan pengelolaan
12 SDM, Kamus Kompetensi, Pemetaan Bakat, Jenjang Karir, Sistem Nilai Pekerjaan, Human
Resource Information Systems/HRIS)
Governance Process
14 Pedoman Kebijakan Perusahaan (Policy Governance)
15 Dokumentasi sistem manajemen mutu (quality management system) 7
Dokumentasi proses perumusan Peraturan Perusahaan/Kesepakatan/Perjanjian Kerja Bersama
16
(PP/KKB/PKB) 3
17 Crisis Management Protocol (Pemutakhirannya)
18 Dokumentasi Business Continuity/Contingency Plan (Pemutakhirannya)
Governance Mechanism
18 Panduan/Pedoman/Manual tertulis Tata Kelola Perusahaan yang Baik,2 (Manual Governance)
Dokumentasi terkait dengan kinerja Direksi dan Komisaris / Kontrak Manajemen serta penilaian
20
atas pencapaian kinerja (realisasi)
21 Dokumentasi undangan/iklan Rapat Umum Pemegang Saham,
Dokumentasi program pelatihan kepemimpinan dan assessment kepemimpinan (termasuk
22
kurikulum)
Panduan/Pedoman tentang perumusan, pengembangan, pengawasan dan evaluasi Corporate
23
Plan/Business Plan/RKAP/RJPP 4
Governance Output
Hasil survei atau assessment atau review terhadap penerapan prinsip-prinsip GCG yang
24
dilakukan oleh internal dan atau eksternal perusahaan,
25 Rekapitulasi pelanggaran kode etik, fraud, kecelakaan kerja, kasus litigasi dan non liigasi
26 Dokumentasi Laporan Kinerja Manajemen
27 Dokumentasi penghargaan atas reputasi perusahaan
Governance Outcome
28 Laporan Tahunan 2013 (Annual Report 2013),
29 Prospektus tahun terakhir (Jika menerbitkan pada tahun yang bersangkutan) 5
30 Dokumentasi paparan publik (Public Expose),
31 Dokumentasi penilaian kinerja perusahaan oleh pihak eksternal (KAP) / Opini Auditor
32 Dokumentasi/program penilaian kepuasan pegawai

28
No. Jenis Dokumen
33 Dokumentasi/program penilaian kepuasan pemasok,
34 Dokumentasi/program penilaian kepuasan pelanggan
35 Dokumentasi program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR)
36 Dokumentasi program pengembangan/pemberdayaan komunitas (Community Development)
37 Dokumentasi program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL) 6
Governance Impact
38 Dokumentasi AMDAL
39 Dokumentasi resertifikasi Manajemen
40 Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report)
Catatan:
1
Dilampiri hasil pemetaaan regulasi yang mengikat perseroan
2
Dilengkapi hasil kajian/evaluasi
3
Dilengkapi perencanaan, proses pelaksanaan, tingkat pemahaman dan dampaknya
4
BUMN / BUMD ada RJPP / RKAP; Perusahaan publik ada Corporate Plan, Business Plan, Annual Plan
ataupun seperti Strategic Intent, Strategic Plan
5
Prospektus hanya diwajibkan untuk perusahaan yang melakukan penawaran pendanaan melalui saham
6
Hanya untuk BUMN
7
Meliputi Sistem Manajemen Mutu Proses (ISO 9000/MBNQA), Sistem Manajemen Lingkungan
(ISO14000), Sistem Manajemen Mutu K3/SMK3 (OHSAS 18000), Sistem Manajemen CSR (ISO 26000),
Sistem Manajemen IT (ISO 27000), Business Continuity Management/BCM (ISO 22301), Sistem
Manajemen Risiko (ISO 31000/COSO/BASEL), Sistem Manajemen Energi (ISO 50001)

III.2.3 Penyusunan Makalah


Penyusunan makalah merupakan salah satu pemenuhan persyaratan penilaian yang
menjelaskan serangkaian proses dan program implementasi GCG di perusahaan dan upaya
proses belajar seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan
kapasitas sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah
perusahaan secara etikal dan bermartabat. Makalah yang dibuat menggambarkan arah dan
fokus penilaian yang sesuai dengan pedoman sistematika penulisan yang ditetapkan sebagai
berikut:
1. Petunjuk Umum
a. Makalah disusun menurut sistematika penyusunan yang ditetapkan guna
mempermudah prosedur penilaian. Penyimpangan dari sistematika akan
mempengaruhi penilaian.
b. Kelengkapan informasi yang dimuat dalam makalah akan membantu penulisan
publikasi praktik GCG di perusahaan sebagai rangkaian kelanjutan pelaksanaan
program CGPI 2013.
2. Format Penulisan
Format penulisan ditetapkan sebagai berikut:

29
a. Dicetak pada kertas berukuran A4 (297x210 mm).
b. Diketik dengan spasi 1,5 dan font Times New Roman 12 point, margin kiri 3
cm;kanan 2,5 cm; atas 2,5 cm dan bawah 2,5 cm.
c. Peserta dianjurkan menggunakan Ms Word untuk menuliskan makalah, dan
tabulasi data dengan Ms Excel.
3. Sistematika Penulisan dapat dijelaskan sebagai berikut (lembar contoh dapat dilihat
pada Lampiran) :
a. Tema penulisan makalah adalahGCG dalam Perspektif Organisasi Pembelajar.
b. Lembar cover depan berisi Judul Makalah, Nama Perusahaan, Bidang Bisnis Utama,
dan Alamat Lengkap serta nomor telepon/faksimili yang dapat dihubungi.
c. Lembar Pengesahan merupakan lembar yang berisi nama penanggung jawab
makalah dan tim penyusun makalah, serta ditandatangani oleh penanggung jawab
makalah.
d. Isi makalah disusun dengan urutan sebagai berikut
I. ABSTRAK merupakan uraian ringkas yang menggambarkan rangkaian seluruh
proses penerapan GCG dan proses belajar seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan guna meningkatkan kapasitas sebagai organisasi
pembelajar, mencakup latar belakang, tujuan, sasaran, manfaat, pendekatan
dan penahapan, mekanisme pencapaian, serta hasil yang dicapai dan penutup.
Abstrak ditulis dalam satu halaman, maksimal memuat 350 kata, diketik 1 spasi
dengan font Tahoma 12 point.
II. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada bagian ini diuraikan hal-hal yang melatarbelakangi pentingnya
pelaksanaan GCG dan proses belajar seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan guna meningkatkan kapasitas sebagai organisasi
pembelajar.
B. Tujuan
Pada bagian ini diuraikan berbagai tujuan yang diharapkan perusahaan
dari pelaksanaan GCG dan proses belajar seluruh anggota perusahaan
secara berkesinambungan

30
C. Sasaran
Pada bagian ini diuraikan berbagai sasaran yang ditargetkan perusahaan
dari pelaksanaan GCG dan proses belajar seluruh anggota perusahaan
secara berkesinambungan
D. Manfaat
Pada bagian ini diuraikan manfaat yang dirasakan perusahaan dari
pelaksanaan GCG dan proses belajar seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan guna meningkatkan kapasitas sebagai organisasi
pembelajar
III. PROSES PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP GCG DALAM PERSPEKTIF ORGANISASI
PEMBELAJAR
A. Pendekatan dan penahapan
Pada bagian ini perusahaan dapat menjelaskan pendekatan yang
digunakan dalam implementasi GCG dan proses belajar seluruh anggota
perusahaan secara berkesinambungan. Penahapan menjelaskan tentang
berbagai upaya perusahaan dalam implementasi GCG dan proses belajar
seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan guna
meningkatkan kapasitas sebagai organisasi pembelajar.
B. Mekanisme Pencapaian
Pada bagian ini perusahaan dapat menjelaskan berbagai kegiatan dan
program setiap tahapan implementasi GCG dan proses belajar seluruh
anggota perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan
kapasitas sebagai organisasi pembelajar.
IV. HASIL YANG DICAPAI
Pada bagian ini perusahaan dapat menjelaskan keluaran (output), hasil
(outcome), dampak (impact) yang dicapai dan dirasakan dalam penerapan
GCG dan proses belajar seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan guna meningkatkan kapasitas sebagai organisasi
pembelajar,
V. PENUTUP
Pada bagian ini perusahaan dapat menjelaskan kesimpulan serta
keberlanjutan penerapan GCG dan proses belajar seluruh anggota perusahaan

31
secara berkesinambungan guna meningkatkan kapasitas sebagai organisasi
pembelajar.
4. Pengumpulan Makalah disampaikan dalam bentuk softcopy/file dan hardcopy
makalah.
5. Makalah dipresentasikan pada saat observasi dengan durasi maksimum 30 menit
dan menyerahkan materi presentasi tersebut (soft copy dan hard copy)

III.2.4 Observasi
Observasi adalah tahapan akhir penilaian sebagai salah satu bagian penting dari proses riset
dan pemeringkatan CGPI 2013 berupa peninjauan langsung ke perusahaan oleh tim penilai
CGPI 2013 untuk memastikan kualitas penerapan GCG dan proses belajar seluruh anggota
perusahaan secara berkesinambungan yang diperoleh dari data dan informasi pada ke tiga
tahapan sebelumnnya (self assessment, sistem dokumentasi dan makalah). Pelaksanaan
observasi di setiap perusahaan peserta CGPI 2013 dilakukan (setengah) hari kerja atau 3
jam efektif. Pelaksanaan observasi pada setiap perusahaan peserta CGPI 2013 dilakukan
dalam bentuk presentasi dan diskusi tanya jawab dengan Dewan Komisaris, Direksi dan
Manajemen serta pihak lain yang terkait perusahaan. Disamping itu dengan tahapan ini tim
peneliti riset dan pemeringkatan CGPI 2013 dapat langsung melakukan verifikasi data-data
dan dokumentasi perusahaan yang dibutuhkan untuk kepentingan penilaian CGPI 2013 yang
lebih akurat.

III.3 NORMA PENILAIAN

Hasil pemeringkatan program CGPI menggunakan norma penilaian berdasarkan rentang


skor yang dicapai oleh Peserta CGPI dengan kategorisasi atas tingkat kualitas implementasi
GCG yang menggunakan istilah Tepercaya. Norma penilaian CGPI dapat dijelaskan sebagai
berikut:
Skor 55,00 69,99 Kategori Cukup Tepercaya
Skor 70,00 84,99 Kategori Tepercaya
Skor 85,00 100 Kategori Sangat Tepercaya

32
III.4 PEMASTIAN MUTU

Dalam upaya mendapatkan hasil CGPI yang bermutu, dilakukan pemastian terhadap
pelaksanaan alur program, relevansi tema dengan proses penilaian dan pengujian alat ukur
yang digunakan. Penyusunan alat ukur penilaian didasarkan pada relevansi tema sentral
CGPI dan dikembangkan sesuai fokus penilaian. Alat ukur dipastikan meliputi seluruh aspek
penilaian yang ditetapkan.
Alat ukur yang ditetapkan dilengkapi dengan pengujian alat ukur sebagai uji kalibrasi
untuk mendapatkan tingkat konsistensi yang tinggi dan untuk mendapatkan tingkat
kesahihan (validitas). Metode Analysis Factor digunakan untuk pengujian alat ukur dan
merupakan bagian dari uji validitas (mengukur apa yang seharusnya diukur). Sedangkan
metode AHP (Analytical Hierarchy Process) digunakan untuk melihat, menilai dan mengukur
tingkat kepentingan dari tahapan penilaian CGPI.

III.5 ALUR PROGRAM CGPI

Alur penyelenggaraan program CGPI terdiri dari 3 tahapan yaitu tahapan perencanaan,
pelaksanaan dan tahapan hasil. Alur program CGPI dapat dijelaskan pada Gambar III.3.1.

33
Gambar III.5.1. Alur Program CGPI

34
BAB IV
HASIL RISET DAN PEMERINGKATAN
CORPORATE GOVERNANCE PERCEPTION INDEX
IV.1 HASIL RISET

Setelah membuka proses pendaftaran untuk menjadi peserta CGPI selama tiga bulan sejak
bulan Mei - Juli 2014 akhirnya terdapat 31 perusahaan yang terdaftar sebagai peserta CGPI
2013. Daftar bidang usaha utama perusahaan peserta CGPI 2013 dapat disimak pada Tabel
IV.1.1 dan IV.1.2 dan daftar perusahaan peserta CGPI 2013 pada Tabel IV.1.3.

Tabel IV.1.1 Bidang Usaha Utama Perusahaan Publik Peserta CGPI 2013
No Bidang Usaha Utama Populasi Sampel
1. Pertanian 20 0
2. Pertambangan 39 4
3. Industri Dasar dan Kimia 61 0
4. Aneka Industri 41 0
5. Industri Barang dan Konsumsi 38 0
6. Properti dan Real Estate 54 0
7. Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi 49 5
8. Keuangan 81 8
9. Perdagangan, Jasa dan Investasi 110 0
Total 493 17
Sumber : Data IDX April 2014

Tabel IV.1.2 Bidang Usaha Utama BUMN Peserta CGPI 2013


No Bidang Usaha Utama Populasi Sampel
1. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah dan Daur Ulang 2 0
2. Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 25 0
3. Perdagangan Besar dan Eceran 4 0
4. Pertambangan dan Penggalian 5 4
5. Industri Pengolahan 30 0
6. Jasa Profesional, Ilmiah dan Teknis 10 0
7. Pengadaan Listrik, Gas, Uap dan Udara Dingin 2 0
8. Informasi dan Telekomunikasi 3 1
9. Transportasi dan Pergudangan 24 5
10. Konstruksi 10 0
11. Jasa Keuangan dan Asuransi 20 5
12. Akomodasi Penyediaan Makanan dan Minuman 1 0
13. Real Estate 2 0
Total 138 15
Sumber : www.bumn.go.id

35
Tabel IV.1.3 Perusahaan Peserta CGPI 2013
KEUANGAN KEUANGAN
1. PT BANK CENTRAL ASIA Tbk 1. PT ASURANSI JASA INDONESIA
(PERSERO)
B
2. PT BANK DKI NON KEUANGAN
3. PT BANK MANDIRI (PERSERO) Tbk U 1. PT ANGKASA PURA II (PERSERO)
4. PT BANK NEGARA INDONESIA M 2. PT KERETA API INDONESIA
(PERSERO) Tbk (PERSERO)
5. PT BANK OCBC NISP Tbk
N 3. PT PELABUHAN INDONESIA III
(PERSERO)
6. PT BANK PERMATA Tbk 4. PT PERTAMINA (PERSERO)
E
7. PT BANK RAKYAT INDONESIA
KEUANGAN
M (PERSERO) Tbk
8. PT BANK TABUNGAN NEGARA 1. PT BANK PEMBANGUNAN
I
(PERSERO) Tbk DAERAH PAPUA
T NON KEUANGAN 2. PT BANK SINAR HARAPAN BALI
B
1. PT ADI SARANA ARMADA Tbk 3. PT MANDIRI TUNAS FINANCE
E
4. PT ANEKA TAMBANG (PERSERO) Tbk U NON KEUANGAN
N 5. PT BAKRIE TELECOM Tbk 1. PT PEMBANGKITAN JAWA BALI
M
6. PT BUKIT ASAM (PERSERO) Tbk 2. PT PETROKIMIA GRESIK
7. PT GARUDA INDONESIA (PERSERO)
S 3. PT KRAKATAU ENGINEERING
Tbk
8. PT INDO TAMBANGRAYA MEGAH Tbk 4. PT KRAKATAU INDUSTRIAL
ESTATE CILEGON
9. PT JASA MARGA (PERSERO) Tbk 5. PT KRAKATAU TIRTA INDUSTRI
10. PT TELEKOMUNIKASI INDOENSIA SYA
KEUANGAN
(PERSERO) Tbk RI
11. PT TIMAH (PERSERO) Tbk AH 1. PT BANK SYARIAH MANDIRI

* Emiten (Perusahaan Publik)


** BUMN (tidak termasuk BUMN yang sudah emiten)
***BUMS (tidak termasuk BUMS yang sudah emiten)

36
Data lain yang diperlukan pada riset dan pemeringkatan CGPI 2013 ini adalah data
perseptual yang digunakan untuk menilai setiap aspek cakupan penilaian yang
melatarbelakangi objek riset. Data perseptual dianggap memenuhi syarat jika setiap bagian
pertanyaan terjawab dengan lengkap. Dalam CGPI 2013 ini, jumlah responden pada tahapan
self assessment sebanyak 2304 yang berasal dari 31 perusahaan. Dari jumlah 2304
responden tersebut dapat dikelompokkan sebanyak 1350 responden mewakili pihak
eksternal dan sebanyak 954 responden mewakili pihak internal perusahaan peserta CGPI
2013 (Gambar IV.1.1.)

Gambar IV.1.1. Jumlah Responden Internal dan Eksternal Tahapan Self Assessment

Gambar IV.1.2. Metode Survei Self Assessment yang Digunakan Responden

37
Dari 2304 responden pada tahapan self assessment, 369 responden memilih untuk
menggunakan sistem survei online dan sisanya sebanyak 1935 responden mengisi berkas
kuesioner cetak secara langsung (Gambar IV.1.2).

IV.1.1 Pengujian Alat Ukur

Seluruh kuesioner yang digunakan untuk melakukan penilaian self assessment telah diuji
keandalannnya dan hasilnya menunjukkan nilai alpha cronbach di atas 0,7. Hasil pengujian
ini menunjukkan bahwa kuesioner-kuesioner yang digunakan untuk menilai pelaksanaan
good corporate governance (GCG) dalam perspektif organisasi pembelajar memiliki
keandalan yang cukup baik, dan dapat memberikan hasil yang konsisten jika kuesioner
tersebut digunakan untuk menilai pelaksanaan GCG dalam perspektif organisasi pembelajar
di masa yang akan datang. Data dari kesebelas cakupan penilaian diuji melalui analisis dan
metode statistik. Hasil pengujian statistik tersebut disajikan pada Tabel IV.1.4.
Tabel IV.1.4 Hasil Pengujian Keandalan Alat Ukur

Validitas Reliabilitas Keterangan


Aspek Skor
KMO KMO > 0,5 > 0,70
Komitmen 84,71 0,827 0,946 Sahih Andal
Transparansi 83,37 0,908 0,988 Sahih Andal
Akuntabilitas 85,51 0,944 0,981 Sahih Andal
Responsibilitas 84,24 0,907 0,983 Sahih Andal
Independensi 84,03 0,861 0,958 Sahih Andal
Fairness 84,98 0,905 0,985 Sahih Andal
Kepemimpinan 83,87 0,893 0,985 Sahih Andal
Strategi 84,78 0,922 0,991 Sahih Andal
Etika 83,86 0,882 0,979 Sahih Andal
Visi, Misi, Nilai dan Makna 85,29 0,899 0,976 Sahih Andal
Budaya 83,450 0,915 0,981 Sahih Andal
Organisasi Pembelajar 84,39 0,909 0,991 Sahih Andal

IV.1.2 Pembobotan

Pembobotan penilaian CGPI dilakukan untuk mendapatkan tingkat kepentingan dari aspek
yang terkait dengan implementasi GCG dan tahapan penilaian yang digunakan pada
kegiatan riset dan pemeringkatan CGPI. Pembobotan dilakukan agar didapatkan penilaian
tingkat kepentingan yang diberikan oleh panel ahli. Panel ahli merupakan pihak-pihak yang
dianggap memiliki kompetensi dan pengetahuan yang baik terhadap implementasi prinsip-

38
prinsip GCG dan tujuan CGPI. Panel ahli merupakan pihak eksternal IICG yang berasal dari
regulator, praktisi, KNKG, akademisi, dan lembaga pemerhati GCG serta perusahaan peserta
CGPI yang diwakili oleh Direksi dan pimpinan manajerial. Hasil penilaian diolah dan diuji
tingkat konsistensinya dengan menggunakan metode AHP. Pengujian konsistensi
menggunakan tingkat konsistensi yang tinggi di atas 90% atau memiliki tingkat inkonsistensi
yang rendah di bawah 0,1. Berdasarkan hasil penilaian panel ahli, pembobotan untuk
masing-masing tahapan tertera pada Tabel IV.1.5.

Tabel IV.1.5 Bobot Tahapan Penilaian CGPI

Tahapan Bobot

Self Assessment 27 %
Kelengkapan Dokumen 41 %
Penyusunan Makalah 14 %
Observasi 18 %
Total 100%
Overall Inconsistency 0,04

IV.2 HASIL TAHAPAN PENILAIAN

Pada bagian hasil CGPI 2013 berdasarkan tahapan penilaian, IICG menyajikan hasil temuan
dengan menggunakan pengelompokkan perusahaan berdasarkan kategori sebagai berikut:
1. Emiten - Sektor Keuangan
2. Emiten - Sektor Non Keuangan
3. BUMN - Sektor Keuangan
4. BUMN - Sektor Non Keuangan
5. BUMS - Sektor Keuangan
6. BUMS - Sektor Non Keuangan
7. Bisnis Syariah

IV.2.1 SELF ASSESSMENT

A. Komitmen
Aspek komitmen menunjukan tingkat pemenuhan terhadap kemampuan dan kesungguhan
Direksi dan Dewan Komisaris dalam mengimplementasikan GCG melalui proses belajar

39
seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan dalam rangka menciptakan nilai
tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat.

Tabel IV.2.1. Rerata Aspek Komitmen dalam Tahapan Self Assessment

Kelompok Perusahaan Komitmen-1 Komitmen-2 Komitmen-3 Komitmen-4


Emiten Keuangan 88,97 87,23 91,04 89,88

Emiten Non Keuangan 81,74 80,93 85,11 83,20

BUMN Keuangan 86,63 85,02 88,46 87,21

BUMN Non Keuangan 80,50 80,44 85,01 83,99

BUMS Keuangan 83,18 78,34 82,94 83,51

BUMS Non Keuangan 85,39 84,19 87,44 84,84

Bisnis Syariah 85,80 82,78 87,47 84,48

Aspek komitmen secara rinci mengungkapan hasil self assessment terhadap fokus
penilaian pada beberapa indikator seperti tertera pada Tabel IV.2.1.
1. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris membangun inisiatif
untuk mengimplementasikan GCG melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan
secara berkesinambungan dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara
etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.1).

Gambar IV.2.1. Rerata Self Assessment untuk Aspek Komitmen-1

2. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan


mengembangkan kebijakan dan program strategis untuk mengimplementasikan GCG
melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan dalam

40
rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermatabat (Gambar
IV.2.2).

Gambar IV.2.2. Rerata Self Assessment untuk Aspek Komitmen-2

3. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan pemantauan


atas pelaksanaan program strategis untuk mengimplementasikan GCG melalui proses
belajar seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan dalam rangka
menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.3).

Gambar IV.2.3. Rerata Self Assessment untuk Aspek Komitmen-3

4. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan perbaikan dan
peningkatan implementasi GCG melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan
secara berkesinambungan dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara
etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.4).

41
Gambar IV.2.4. Rerata Self Assessment untuk Aspek Komitmen-4

B. Transparansi
Aspek transparansi menunjukan tingkat pemenuhan terhadap kemampuan dan
kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam mengarahkan dan mengendalikan
perusahaan dengan mengungkapkan dan menyediakan informasi secara tepat waktu,
memadai, jelas, akurat, dan dapat diperbandingkan serta mudah diakses oleh pemangku
kepentingan dan masyarakat melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan guna menjalankan bisnis secara objektif, profesional dan melindungi
kepentingan konsumen sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai
tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat.

Tabel IV.2.2 Rerata Aspek Transparansi dalam Tahapan Self Assessment

Kelompok Perusahaan Transparansi-1 Transparansi-2 Transparansi-3 Transparansi-4


Emiten Keuangan 87,44 87,80 88,74 87,85
Emiten Non Keuangan 80,89 81,08 81,98 80,42
BUMN Keuangan 83,13 86,4 86,75 85,63
BUMN Non Keuangan 79,14 79,36 80,03 79,49
BUMS Keuangan 80,28 81,4 82,6 81,75
BUMS Non Keuangan 82,58 83,38 83,67 82,7
Bisnis Syariah 80,87 82,33 84,5 81,91

Aspek transparansi secara rinci mengungkapan hasil self assessment terhadap fokus
penilaian pada beberapa indikator, seperti tertera pada Tabel IV.2.2.

42
1. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris membangun inisiatif
peningkatan implementasi GCG dengan mengungkapkan dan menyediakan informasi
secara tepat waktu, memadai, jelas, akurat, dan dapat diperbandingkan serta mudah
diakses oleh pemangku kepentingan dan masyarakat melalui proses belajar yang
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat
(Gambar IV.2.5).

Gambar IV.2.5. Rerata Self Assessment untuk Aspek Transparansi-1

2. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan


mengembangkan arah, tujuan, kebijakan dan program strategis perusahaan dengan
sasarannya dalam rangka meningkatkan implementasi GCG dengan mengungkapkan
dan menyediakan informasi secara tepat waktu, memadai, jelas, akurat, dan dapat
diperbandingkan serta mudah diakses oleh pemangku kepentingan dan masyarakat
melalui proses belajar yang berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas
sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan
secara etikal dan bermartaat (Gambar IV.2.6).

Gambar IV.2.6. Rerata Self Assessment untuk Aspek Transparansi-2

43
3. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan peningkatan
pengawasan dan pengendalian perusahaan dalam pengungkapan dan penyediaan
informasi secara tepat waktu, memadai, jelas, akurat, dan dapat diperbandingkan
serta mudah diakses oleh pemangku kepentingan dan masyarakat melalui proses
belajar yang berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat (Gambar IV.2.7).

Gambar IV.2.7. Rerata Self Assessment untuk Aspek Transparansi-3

4. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan evaluasi


peningkatan sistem penyelenggaraan bisnis dalam pengungkapan dan penyediaan
informasi secara tepat waktu, memadai, jelas, akurat, dan dapat diperbandingkan
serta mudah diakses oleh pemangku kepentingan dan masyarakat melalui proses
belajar yang berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat (Gambar IV.2.8).

Gambar IV.2.8. Rerata Self Assessment untuk Aspek Transparansi-4

44
C. Akuntabilitas
Aspek akuntabilitas menunjukan tingkat pemenuhan terhadap kemampuan dan
kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam mengelola perusahaan secara sehat,
terukur dan professional dengan menetapkan kejelasan tugas pokok dan fungsi dalam
perusahaan juga mekanisme pertanggungjawabannya melalui proses belajar seluruh
anggota perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai
organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat.
Tabel IV.2.3 Rerata Aspek Akuntabilitas dalam Tahapan Self Assessment

Kelompok Perusahaan Akuntabilitas-1 Akuntabilitas-2 Akuntabilitas-3 Akuntabilitas-4


Emiten Keuangan 89,27 88,42 89,91 89,4
Emiten Non Keuangan 83,32 81,51 84,47 83,19
BUMN Keuangan 86,53 84,83 87,63 87,19
BUMN Non Keuangan 83,72 81,14 83,93 83,89
BUMS Keuangan 84,76 81,73 86,13 84,29
BUMS Non Keuangan 86,42 83,24 85,56 84,18
Bisnis Syariah 84,72 82,99 85,51 84,42

Aspek akuntabilitas secara rinci mengungkapan hasil self assessment terhadap fokus
penilaian pada beberapa indikator, seperti tertera pada Tabel IV.2.3.
1. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam membangun
inisiatif strategis mengelola perusahaan secara sehat, terukur dan profesional dengan
menetapkan kejelasan tugas pokok dan fungsi dalam perusahaan dan mekanisme
pertanggungjawabannya melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat
(Gambar IV.2.9).

45
Gambar IV.2.9. Rerata Self Assessment untuk Aspek Akuntabilitas-1

2. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan


mengembangkan kebijakan dan program strategis untuk mengelola perusahaan secara
sehat, terukur dan profesional melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan
secara berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat (Gambar IV.10).

Gambar IV.2.10. Rerata Self Assessment untuk Aspek Akuntabilitas-2

3. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan peningkatan


pengawasan dan pengendalian pengelolaan perusahaan secara sehat, terukur dan
profesional melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat
(Gambar IV.2.11).

46
Gambar IV.2.11. Rerata Self Assessment untuk Aspek Akuntbailitas-3

4. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan upaya


perbaikan dan peningkatan pengelolaan perusahaan secara sehat, terukur dan
profesional melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat
(Gambar IV.2.12).

Gambar IV.2.12. Rerata Self Assessment untuk Aspek Akuntabiilitas-4

D. Resposibilitas
Aspek responsibilitas menunjukkan tingkat pemenuhan terhadap kemampuan dan
kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam mengarahkan dan mengendalikan
perusahaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan peraturan internal serta
tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan melalui proses belajar seluruh
anggota perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai

47
organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat.
Tabel IV.2.4 Rerata Aspek Responsibilitas dalam Tahapan Self Assessment

Kelompok Responsibilitas- Responsibilitas- Responsibilitas- Responsibilitas-


Perusahaan 1 2 3 4
Emiten Keuangan 87,55 88,26 88,86 88,43
Emiten Non
81,17 83,01 83,21 83,07
Keuangan
BUMN Keuangan 84,29 86,8 86,06 86,1
BUMN Non
80,82 80,68 82,57 81,63
Keuangan
BUMS Keuangan 82,28 81,32 84,2 82,61
BUMS Non
83,77 83,88 84,44 84,36
Keuangan
Bisnis Syariah 82,37 81,57 83,83 82,75

Aspek responsibilitas secara rinci mengungkapan hasil self assessment terhadap fokus
penilaian pada beberapa indikator, seperti tertera pada Tabel IV.2.4.
1. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris membangun inisiatif
dalam mengarahkan dan mengendalikan perusahaan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan dan peraturan internal serta tanggung jawab terhadap
masyarakat dan lingkungan melalui proses pembelajaran seluruh anggota perusahaan
secara berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat (Gambar IV.2.13).

Gambar IV.2.13. Rerata Self Assessment untuk Aspek Responsibilitas-1

48
2. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan
mengembangkan kebijakan dan program perusahaan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan dan peraturan internal serta tanggung jawab terhadap
masyarakat dan lingkungan melalui proses pembelajaran seluruh anggota perusahaan
secara berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat (Gambar IV.2.14).

Gambar IV.2.14. Rerata Self Assessment untuk Aspek Responsibilitas-2

3. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan pengawasaan


dan pengendalian kebijakan dan program perusahaan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan dan peraturan internal serta tanggung jawab terhadap
masyarakat dan lingkungan melalui proses pembelajaran seluruh anggota perusahaan
secara berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat (Gambar IV.2.15).

Gambar IV.2.15. Rerata Self Assessment untuk Aspek Responsibilitas-3

49
4. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan upaya
perbaikan dan peningkatan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan
peraturan internal serta tanggungjawab terhadap masyarakat dan lingkungan melalui
proses pembelajaran seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan guna
meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan
nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.16).

Gambar IV.2.16. Rerata Self Assessment untuk Aspek Responsibilitas-4

E. Independensi
Aspek independensi menunjukan tingkat pemenuhan terhadap kemampuan dan
kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam mengarahkan dan mengendalikan
perusahaan secara independen dengan tidak saling mendominasi dan bebas dari benturan
kepentingan melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan
guna meningkatkan kapabilitas, serta mewujudkan objektivitas, profesionalisme dan
kemandirian perusahaan sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai
tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat.
Tabel IV.2.5 Rerata Aspek Independensi dalam Tahapan Self Assessment

Kelompok Perusahaan Independensi-1 Independensi-2 Independensi-3 Independensi-4


Emiten Keuangan 87,5 89,88 88,21 89,95
Emiten Non Keuangan 80,6 83,64 81,69 82,63
BUMN Keuangan 85,44 87,52 85,2 87,15
BUMN Non Keuangan 79,73 83,42 83,37 82,22
BUMS Keuangan 78,6 83,42 83,37 82,22
BUMS Non Keuangan 82,98 84,29 82,44 84,81
Bisnis Syariah 82,89 85,28 82,4 84,91

50
Aspek independensi secara rinci mengungkapan hasil self assessment terhadap fokus
penilaian pada beberapa indikator, seperti tertera pada Tabel IV.2.5.
1. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris membangun inisiatif
peningkatan implementasi GCG dengan mewujudkan objektivitas tugas dan
kewajibannya serta kemandirian dari dominasi pihak lain melalui proses belajar yang
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat
(Gambar IV.2.17).

Gambar IV.2.17. Rerata Self Assessment untuk Aspek Independensi-1

2. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan


mengembangkan kebijakan dan program strategis perusahaan dalam rangka
meningkatkan implementasi GCG dengan mewujudkan objektivitas tugas dan
kewajibannya serta kemandirian dari dominasi pihak lain melalui proses belajar yang
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat
(Gambar IV.2.18).

Gambar IV.2.18. Rerata Self Assessment untuk Aspek Independensi-2

51
3. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan peningkatan
pengawasan dan pengendalian perusahaan untuk mewujudkan objektivitas tugas dan
kewajibannya serta kemandirian dari dominasi pihak lain melalui proses belajar yang
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas menjadi organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat
(Gambar IV.2.19).

Gambar IV.2.19. Rerata Self Assessment untuk Aspek Independensi-3

4. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan evaluasi


peningkatan sistem penyelenggaraan bisnis yang objektif dan mandiri melalui proses
belajar yang berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas perusahaan menjadi
organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara
etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.20).

Gambar IV.2.20. Rerata Self Assessment untuk Aspek Independensi-4

52
F. Keadilan
Aspek keadilan menunjukan tingkat pemenuhan terhadap kemampuan dan kesungguhan
Direksi dan Dewan Komisaris dalam membangun sistem untuk menjamin terpenuhinya hak
dan kewajiban para pemangku kepentingan perusahaan melalui proses belajar seluruh
anggota perusahaan secara berkesinambungan sebagai organisasi pembelajar dalam rangka
menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat.
Tabel IV.2.6 Rerata Aspek Keadilan dalam Tahapan Self Assessment

Kelompok Perusahaan Keadilan-1 Keadilan-2 Keadilan-3 Keadilan-4


Emiten Keuangan 87,70 88,82 88,82 89,33
Emiten Non Keuangan 80,98 83,02 82,96 84,85
BUMN Keuangan 85,81 87,04 86,64 85,92
BUMN Non Keuangan 80,33 83,48 83,03 83,60
BUMS Keuangan 82,35 83,23 82,23 84,30
BUMS Non Keuangan 83,78 85,26 85,67 85,17
Bisnis Syariah 82,12 82,57 83,72 85,67

Aspek keadilan secara rinci mengungkapan hasil self assessment terhadap fokus
penilaian pada beberapa indikator, seperti tertera pada Tabel IV.2.6.
1. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris membangun inisiatif
untuk menyusun dan mengembangkan sistem dan mekanisme internal yang
mencerminkan kesetaraan dan memberikan kesempatan yang sama bagi para
pemangku kepentingan perusahaan untuk memperoleh haknya dan melaksanakan
kewajibannya melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat
(Gambar IV.2.21).

53
Gambar IV.2.21. Rerata Self Assessment untuk Aspek Keadilan-1

2. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan


mengembangkan mekanisme implementasi yang mencerminkan kesetaraan dan
memberikan kesempatan yang sama bagi para pemangku kepentingan perusahaan
untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya melalui proses belajar
seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan
kapabilitas sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah
perusahaan secara etikal dan bermartabat (Gambar 4.2.22).

Gambar IV.2.22. Rerata Self Assessment untuk Aspek Keadilan-2

3. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam mengevaluasi


mekanisme implementasi sistem yang mencerminkan kesetaraan dan memberikan
kesempatan yang sama bagi para pemangku kepentingan perusahaan
untukmemperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya melalui proses belajar
seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas

54
sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan
secara etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.23).

Gambar IV.2.23. Rerata Self Assessment untuk Aspek Keadilan-3

4. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam memperbaiki dan
meningkatkan sistem dan mekanisme internal yang mencerminkan kesetaraan dan
memberikan kesempatan yang sama bagi para pemangku kepentingan perusahaan
untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya melalui proses belajar
seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan
kapabilitas sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah
perusahaan secara etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.24).

Gambar IV.2.24. Rerata Self Assessment untuk Aspek Keadilan-4

G. Kepemimpinan
Aspek kepemimpinan menunjukan tingkat pemenuhan terhadap kemampuan dan
kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam mewujudkan organisasi pembelajar
melalui perannya sebagai perancang, penata layanan dan panutan melalui proses belajar

55
seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan dalam rangka menciptakan nilai
tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat.

Tabel IV.2.7 Rerata Aspek Kepemimpinan dalam Tahapan Self Assessment

Kelompok Kepemimpinan- Kepemimpinan- Kepemimpinan- Kepemimpinan-


Perusahaan 1 2 3 4
Emiten Keuangan 87,73 88,3 88,49 88,71
Emiten Non
80,02 81,34 80,83 81,33
Keuangan
BUMN Keuangan 84,34 85,54 85,8 86,09
BUMN Non
82,01 83,22 81,69 83,24
Keuangan
BUMS Keuangan 83,66 82,41 83,92 82,59
BUMS Non
83,20 83,25 83,19 83,10
Keuangan
Bisnis Syariah 85,58 84,69 83,43 84,83

Aspek kepemimpinan secara rinci mengungkapan hasil self assessment terhadap fokus
penilaian pada beberapa indikator, seperti tertera pada Tabel IV.2.7.
1. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris membangun inisiatif
peningkatan peran untuk mewujudkan organisasi pembelajar melalui proses belajar
seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan dalam rangka menciptakan
nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat (Gambar IV.2. 25).

Gambar IV.2.25. Rerata Self Assessment untuk Aspek Kepemimpinan-1

2. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan


mengembangkan model peningkatan peran untuk mewujudkan organisasi pembelajar

56
melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan dalam
rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat (Gambar
IV.2.26).

Gambar IV.2.26. Rerata Self Assessment untuk Aspek Kepemimpinan-2

3. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan evaluasi peran
untuk mewujudkan organisasi pembelajar melalui proses belajar seluruh anggota
perusahaan secara berkesinambungan dalam rangka menciptakan nilai tambah
perusahaan secara etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.27).

Gambar IV.2.27. Rerata Self Assessment untuk Aspek Kepemimpinan-3

4. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan perbaikan dan
peningkatan peran untuk mewujudkan organisasi pembelajar melalui proses belajar
seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan dalam rangka menciptakan
nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.28).

57
Gambar IV.2.28. Rerata Self Assessment untuk Aspek Kepemimpinan-4

H. Strategi
Aspek strategi menunjukan tingkat pemenuhan terhadap kemampuan dan kesungguhan
Direksi dan Dewan Komisaris dalam mengarahkan dan mengendalikan perusahaan dengan
menetapkan tujuan, kebijakan dan program strategis dengan sasarannya melalui proses
belajar seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan
kapabilitas, serta mewujudkan objektivitas dan kemandirian perusahaan sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat.
Tabel IV.2.8 Rerata Aspek Strategi dalam Tahapan Self Assessment

Kelompok Perusahaan Strategi-1 Strategi-2 Strategi-3 Strategi-4


Emiten Keuangan 88,73 88,90 88,71 88,83
Emiten Non Keuangan 81,93 82,60 83,08 82,31
BUMN Keuangan 86,96 86,59 87,23 87,49
BUMN Non Keuangan 82,64 81,54 82,59 82,25
BUMS Keuangan 83,60 82,72 83,26 83,87
BUMS Non Keuangan 85,08 85,16 84,46 84,80
Bisnis Syariah 86,79 83,37 85,37 84,75

Aspek strategi secara rinci mengungkapan hasil self assessment terhadap fokus
penilaian pada beberapa indikator, seperti tertera pada Tabel IV.2.8.
1. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris membangun inisiatif
peningkatan implementasi GCG dengan menetapkan tujuan, kebijakan dan program
strategis perusahaan dengan sasarannya melalui proses belajar yang

58
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah secara etikal dan bermartabat (Gambar
IV.2.29)

Gambar IV.2.29. Rerata Self Assessment untuk Aspek Strategi-1

2. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan


mengembangkan tujuan, kebijakan dan program strategis perusahaan dengan
sasarannya dalam rangka meningkatkan implementasi GCG melalui proses belajar
yang berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah secara etikal dan bermartabat
(Gambar IV.2.30).

Gambar IV.2.30. Rerata Self Assessment untuk Aspek Strategi-2

3. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan peningkatan


pengawasan dan pengendalian terhadap pencapaian tujuan, kebijakan dan program
strategis perusahaan dengan sasarannya dalam upaya meningkatkan implementasi

59
GCG melalui proses belajar yang berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas
menjadi organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah secara etikal
dan bermartabat (Gambar IV.2.31).

Gambar IV.2.31. Rerata Self Assessment untuk Aspek Strategi-3

4. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan evaluasi


tujuan, kebijakan dan program strategis dengan sasarannya dalam upaya
meningkatkan implementasi GCG melalui proses belajar yang berkesinambungan guna
meningkatkan kapabilitas menjadi organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan
nilai tambah secara etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.32).

Gambar IV.2.32. Rerata Self Assessment untuk Aspek Strategi-4

I. Etika
Aspek etika menunjukan tingkat pemenuhan terhadap kemampuan dan kesungguhan
Direksi dan Dewan Komisaris dalam mengarahkan dan mengendalikan standar perilaku
bisnis dan perilaku kerja yang dilakukan perusahaan beserta anggota-anggotanya dalam
berinteraksi dengan para pemangku kepentingan melalui proses belajar seluruh anggota

60
perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah secara etika dan bermartabat.

Tabel IV.2.9 Rerata Aspek Etika dalam Tahapan Self Assessment

Kelompok Perusahaan Etika-1 Etika-2 Etika-3 Etika-4


Emiten Keuangan 89,44 89,37 89,41 89,45
Emiten Non Keuangan 81,31 82,09 81,16 82,24
BUMN Keuangan 86,13 86,33 86,84 86,62
BUMN Non Keuangan 80,94 79,99 80,33 82,22
BUMS Keuangan 83,09 83,58 83,27 82,88
BUMS Non Keuangan 82,01 81,02 81,55 82,31
Bisnis Syariah 85,88 83,93 85,94 84,71

Aspek etika secara rinci mengungkapan hasil self assessment terhadap fokus penilaian
pada beberapa indikator, seperti tertera pada Tabel IV.2.9.
1. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris membangun inisiatif
untuk mengarahkan dan mengendalikan standar perilaku bisnis dan perilaku kerja
yang dilakukan perusahaan beserta anggota-anggotanya dalam berinteraksi dengan
para pemangku kepentingan, melalui proses belajar yang berkesinambungan guna
meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan
nilai tambah secara etikal dan bermartabat (Gambara IV.2.33).

Gambar IV.2.33. Rerata Self Assessment untuk Aspek Etika-1

2. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan


mengembangkan standar perilaku bisnis dan perilaku kerja yang dilakukan perusahaan
beserta anggota-anggotanya dalam berinteraksi dengan para pemangku kepentingan

61
lain melalui proses belajar yang berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas
sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah secara etikal
dan bermartabat (Gambar IV.2.34).

Gambar IV.2.34. Rerata Self Assessment untuk Aspek Etika-2

3. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan peningkatan


pengawasan dan pengendalian implementasi standar perilaku bisnis dan perilaku kerja
yang dilakukan perusahaan beserta anggota-anggotanya dalam berinteraksi dengan
para pemangku kepentingan lain melalui proses belajar yang berkesinambungan guna
meningkatkan kapabilitas menjadi organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan
nilai tambah secara etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.35).

Gambar IV.2.35. Rerata Self Assessment untuk Aspek Etika-3

4. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan evaluasi


implementasi standar perilaku, baik perilaku bisnis dan perilaku kerja yang dilakukan
perusahaan beserta anggota-anggotanya dalam berinteraksi dengan para pemangku
kepentingan lain melalui proses belajar yang berkesinambungan guna meningkatkan

62
kapabilitas menjadi organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah
secara etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.36)

Gambar IV.2.36. Rerata Self Assessment untuk Aspek Etika-4

J. Visi, Misi, Nilai dan Makna


Aspek visi, misi, nilai dan makna menunjukan tingkat pemenuhan terhadap kemampuan dan
kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam menetapkankan arah, cita-cita, dan jati
diri perusahaan melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar dalam
rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat.

Tabel IV.2.10 Rerata Aspek Visi, Misi, Nilai dan Makna dalam Tahapan Self Assessment

Kelompok Visi, Misi, Nilai & Visi, Misi, Nilai & Visi, Misi, Nilai & Visi, Misi, Nilai &
Perusahaan Makna -1 Makna -2 Makna -3 Makna -4
Emiten
88,65 91,01 88,16 88,36
Keuangan
Emiten Non
82,86 85,99 81,61 83,02
Keuangan
BUMN Keuangan 87,56 87,04 86,03 88,34
BUMN Non
83,11 84,29 80,46 82,46
Keuangan
BUMS Keuangan 85,8 85,86 83,14 84,52
BUMS Non
86,16 86,48 83,05 84,23
Keuangan
Bisnis Syariah 84,83 86,67 83,63 81,77

63
Aspek visi, misi, nilai dan makna secara rinci mengungkapan hasil self assessment
terhadap fokus penilaian pada beberapa indikator, seperti tertera .pada Tabel IV.2.10
1. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam membangun
inisiatif merumuskan arah, cita-cita dan jati diri perusahaan melalui proses belajar
yang berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat
(Gmabar IV.2.37).

Gambar IV.2.37. Rerata Self Assessment untuk Aspek Visi, Misi, Nilai & Makna -1

2. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris mengembangkan


kebijakan dan program strategis untuk mewujudkan arah, cita-cita dan jati diri
perusahaan melalui proses belajar yang berkesinambungan guna meningkatkan
kapabilitas sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah
perusahaan secara etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.38).

Gambar IV.2.38. Rerata Self Assessment untuk Aspek Visi, Mis, Nilai & Makna -2

64
3. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan evaluasi
terhadap capaian arah, cita-cita dan jati diri perusahaan melalui proses belajar yang
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat
(Gambar IV.2.39).

Gambar IV.2.39. Rerata Self Assessment untuk Aspek Visi, Misi, Nilai & Makna -3

4. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan perbaikan dan
peningkatan arah, cita-cita dan jati diri perusahaan melalui proses belajar yang
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat
(Gambar IV.2.40).

Gambar IV.2.40. Rerata Self Assessment untuk Aspek Visi, Misi, Nilai & Makna-4

65
K. Budaya
Aspek budaya menunjukan tingkat pemenuhan terhadap kemampuan dan kesungguhan
Direksi dan Dewan Komisaris menciptakan budaya belajar untuk menghasilkan pola pikir
baru dalam bentuk kreativitas, inovasi dan pemecahan masalah dengan risiko yang dapat
diperhitungkan melalui integrasi berbagai partisipasi dan kontribusi yang diungkapkan oleh
seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan guna membangun kesadaran,
kemauan dan kemampuan bersama sebagai organisasi pembelajar dalam rangka
menciptakan nilai tambah secara etikal dan bermartabat.

Tabel IV.2.11 Rerata Aspek Budaya dalam Tahapan Self Assessment

Kelompok Perusahaan Budaya-1 Budaya-2 Budaya-3 Budaya-4


Emiten Keuangan 87,56 89,43 88,45 89,40
Emiten Non Keuangan 80,03 81,95 81,15 82,64
BUMN Keuangan 82,97 86,88 85,88 86,71
BUMN Non Keuangan 79,85 81,55 80,80 81,79
BUMS Keuangan 79,87 83,28 82,47 84,07
BUMS Non Keuangan 83,35 83,79 82,65 83,58
Bisnis Syariah 82,87 85,03 83,45 85,10

Aspek budaya secara rinci mengungkapan hasil self assessment terhadap fokus
penilaian pada beberapa indikator, seperti tertera pada Tabel IV.2.11.
1. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris membangun inisiatif
menciptakan budaya belajar untuk menghasilkan pola pikir baru dalam bentuk
kreativitas, inovasi dan pemecahan masalah dengan risiko yang dapat diperhitungkan
melalui integrasi berbagai partisipasi dan kontribusi yang diungkapkan oleh seluruh
anggota perusahaan secara berkesinambungan guna membangun kesadaran,
kemauan dan kemampuan bersama sebagai organisasi pembelajar dalam rangka
menciptakan nilai tambah secara etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.41).

66
Gambar IV.2.41. Rerata Self Assessment untuk Aspek Budaya-1

2. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan


mengembangkan kebijakan dan program untuk menciptakan budaya belajar guna
menghasilkan pola pikir baru dalam bentuk kreativitas, inovasi dan pemecahan
masalah dengan risiko yang dapat diperhitungkan melalui integrasi berbagai partisipasi
dan kontribusi yang diungkapkan oleh seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan guna membangun kesadaran, kemauan dan kemampuan bersama
sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah secara etikal
dan bermartabat (Gambar IV.2.42).

Gambar IV.2.42. Rerata Self Assessment untuk Aspek Budaya-2

3. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam meningkatan


pengawasan dan pengendalian implementasi kebijakan dan program untuk
menciptakan budaya belajar guna menghasilkan pola pikir baru dalam bentuk
kreativitas, inovasi dan pemecahan masalah dengan risiko yang dapat diperhitungkan
melalui integrasi berbagai partisipasi dan kontribusi yang diungkapkan oleh seluruh

67
anggota perusahaan secara berkesinambungan guna membangun kesadaran,
kemauan dan kemampuan bersama sebagai organisasi pembelajar dalam rangka
menciptakan nilai tambah secara etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.43).

Gambar IV.2.43. Rerata Self Assessment untuk Aspek Budaya-3

4. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan evaluasi


sistem budaya belajar yang diungkapkan oleh seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan guna membangun kesadaran, kemauan dan kemampuan bersama
sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah secara etikal
dan bermartabat (Gambar IV.2.44).

Gambar IV.2.44. Rerata Self Assessment untuk Aspek Budaya-4

L. Organisasi Pembelajar
Aspek organisasi pembelajar menunjukan tingkat pemenuhan terhadap kemampuan dan
kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam mewujudkan masa depan perusahaan
dengan upaya membangun peningkatan kapasitas melalui proses belajar seluruh anggota

68
perusahaan secara berkesinambungan dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan
secara etikal dan bermartabat.

Tabel IV.2.12 Rerata Aspek Organisasi Pembelajar dalam Tahapan Self Assessment

Kelompok Organisasi Organisasi Organisasi Organisasi Organisasi


Perusahaan Pembelajar - Pembelajar - Pembelajar - Pembelajar - Pembelajar -
1 2 3 4 5
Emiten
88,13 89,93 86,29 88,75 86,85
Keuangan
Emiten Non
81,41 83,26 78,33 80,96 82,73
Keuangan
BUMN
91,11 91,52 89,49 90,97 92,37
Keuangan
BUMN Non
82,49 84,60 80,88 83,52 85,86
Keuangan
BUMS
78,82 79,54 76,91 78,82 78,33
Keuangan
BUMS Non
84,33 85,15 81,5 84,98 87,01
Keuangan
Bisnis Syariah 88,34 91,52 86,74 90,94 92,25

Aspek organisasi pembelajar secara rinci mengungkapan hasil self assessment


terhadap fokus penilaian pada beberapa indikator, seperti tertera pada Tabel IV.2.12.
1. Kesungguhan dari perusahaan untuk membentuk sejumlah tim yang didalamnya
terdiri dari sejumlah orang dengan peran tertentu dan saling melengkapi satu sama
lain dalam hal kepandaian dan ketrampilan yang dimiliki; pembentukan tim tersebut
diselaraskan dan berkomitmen dengan dengan tujuan organisasi dan secara konsisten
tim tersebut menunjukkan tingkat kolaborasi dan inovasi yang tinggi dalam rangka
mencapai hasil yang superior yang terukur (Gambar IV.2.45).

69
Gambar IV.2.45. Rerata Self Assessment untuk Aspek Organisasi Pembelajar-1

2. Kesungguhan perusahaan untuk membentuk lingkungan kerja yang terbuka yang


memungkinkan para anggotanya bereksperimen dengan ide-ide yang baru,
berkomunikasi dan berhubungan secara aktif satu sama lain, lingkungan kerja yang
senantiasa memberikan penghargaan dan pengakuan atas capaian yang diperoleh
anggota perusahaan, dan lingkungan kerja yang mendorong setiap anggota
perusahaan untuk memahami keterkaitan antara pekerjaan yang dilakukan dan
performansi yang dicapai dengan tujuan perusahaan (Gambar IV.2.46).

Gambar IV.2.46. Rerata Self Assessment untuk Aspek Organisasi Pembelajar-2

3. Kesungguhan perusahaan untuk membentuk sistem evaluasi yang memungkinkan


anggota perusahaan untuk meninjau ulang dan melakukan perbaikan-perbaikan atas
seluruh proses pekerjaan yang telah dilakukan (Gambar IV.2.47).

70
Gambar IV.2.47. Rerata Self Assessment untuk Aspek Organisasi Pembelajar-3

4. Kesungguhan perusahaan untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi penyebarluasan


hasil pelatihan dan pembelajaran (Gambar IV.2.48).

Gambar IV.2.48. Rerata Self Assessment untuk Aspek Organisasi Pembelajar-4

5. Kesungguhan perusahaan untuk membangun dan mengembangkan sistem


pengelolaan pengetahuan yang mendukung terwujudnya organisasi pembelajar
(Gambar IV.2.49).

71
Gambar IV.2.49. Rerata Self Assessment untuk Aspek Organisasi Pembelajar-5

IV.2.2 HASIL SISTEM DOKUMENTASI

Tahapan sistem dokumentasi mempersyaratkan sekurang-kurangnya 39 dokumen untuk


perusahaan publik (emiten), 37 dokumen untuk perusahaan BUMN, dan 36 dokumen untuk
perusahaan swasta. Dokumen tersebut kemudian dikaji dan dianalisa untuk kemudian
dikelompokkan menjadi tujuh kelompok besar yang mewakili governance structure,
governance system, governance process, governance mechanism, governance output,
governance outcome, dan governance impact.
Dari penilaian sistem dokumentasi dapat diambil kesimpulan bahwa seluruh peserta
CGPI 2013 memiliki skor yang baik dalam sistem dokumentasinya. Peserta CGPI 2013 juga
telah memiliki inisiatif dan kesungguhan dalam membangun sistem dan prosedur yang
terkait dengan dengan pelaksanaan GCG dan proses belajar seluruh anggota perusahaan
secara berkesinambungan. Dari sisi lain dapat dikatakan bahwa regulasi telah mewajibkan
perusahaan untuk melaksanakan GCG secara sistematis, terukur, dan terdokumentasi (Tabel
IV.2.13).

72
Tabel IV.2.13 Rerata Hasil Tahapan Sistem Dokumentasi

Kelompok Gov. Gov. Gov. Gov. Gov. Gov. Gov.


Perusahaan Structure System Process Mechanism Output Outcome Impact
Emiten
85,54 84,33 84,40 85,72 85,66 86,20 83,89
Keuangan
Emiten Non
83,53 82,21 81,77 82,68 82,06 82,73 81,67
Keuangan
BUMN 84,75 85,54 85,33
83,25 84,08 85,33 85,60
Keuangan
BUMN Non 77,76 74,92 77,71
80,36 77,94 76,97 76,42
Keuangan
BUMS 73,19 72,68 66,85
80,69 77,01 72,20 77,56
Keuangan
BUMS Non 77,83 78,72 78,00
78,73 77,64 77,60 78,50
Keuangan
Bisnis Syariah 88,75 88,33 87,13 88,00 87,92 87,52 85,78

A. Governance Structure

CGPI 2013 mempersyaratkan kelengkapan dokumen yang menunjukkan kejelasan


pembagian kewenangan dan tanggung jawab organ dan anggota perusahaan serta kejelasan
aturan dan prosedur dalam pengambilan keputusan berdasarkan asas pemisahan peran
secara berimbang (check and balances system) sesuai peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Hasil penilaian kelompok dokumen governance structure di perusahaan peserta
CGPI 2013 disajikan pada Gambar IV.2.50.

Gambar IV.2.50. Rerata Kelompok Dokumentasi Governance Structure

73
B. Governance System
CGPI 2013 mempersyaratkan kelengkapan dokumen yang menunjukkan kejelasan kerangka
yang digunakan pada penyelenggaraan berbagai aktivitas di dalam perusahaan yang
tercermin dari kemampuannya untuk melancarkan dan mengendalikan kegiatan eksekusi,
pengawasan, operasi, dan pengendalian agar dapat memberikan nilai tambah secara
berkesinambungan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hasil penilaian
kelompok dokumen governance system di perusahaan peserta CGPI 2013 disajikan pada
Gambar IV.2.51.

Gambar IV.2.51. Rerata Kelompok Dokumentasi Governance System

C. Governance Process
CGPI 2013 mempersyaratkan kelengkapan dokumen yang menunjukkan kejelasan
mekanisme yang dibutuhkan organ dan anggota perusahaan agar memiliki kesempatan
dalam pengambilan keputusan berdasarkan asas pemisahan peran secara berimbang (check
and balances system) agar aktivitas di dalam perusahaan dapat berjalan baik sesuai dengan
arah yang ditetapkan. Hasil penilaian kelompok dokumen governance process di perusahaan
peserta CGPI disajikan pada Gambar IV.2.52.

74
Gambar IV.2.52. Rerata Kelompok Dokumentasi Governance Process

D. Governance Mechanism
CGPI 2013 mempersyaratkan kelengkapan dokumen yang menunjukkan kejelasan aturan main,
prosedur, dan hubungan para pihak dalam pemgambilan keputusan berdasarkan asas pemisahan
peran secara berimbang (check and balances system) sesuai peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Hasil penilaian kelompok dokumen governance mechanism di perusahaan peserta CGPI
2013 disajikan pada Gambar IV.2.53..

Gambar IV.2.53. Rerata Kelompok Dokumentasi Governance Mechanism

E. Governance Output
CGPI 2013 mempersyaratkan kelengkapan dokumen yang menunjukkan kejelasan atas
pemenuhan kesesuaian hasil keputusan yang ditetapkan para pihak terhadap tujuan
perusahaan, etika bisnis, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hasil penilaian
kelompok dokumen governance output di perusahaan peserta CGPI 2013 disajikan pada
Gambar IV.2.54.

75
Gambar IV.2.54. Rerata Kelompok Dokumentasi Governance Output

F. Goverance Outcome
CGPI 2013 mempersyaratkan kelengkapan dokumen yang menunjukkan kejelasan atas
efektivitas hasil penyelenggaran berbagai aktivitas di dalam perusahaan dalam rangka
menciptakan nilai tambah sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hasil
penilaian kelompok dokumen governance outcome di perusahaan peserta CGPI 2013
disajikan pada Gambar IV.2.55.

Gambar IV.2.55. Rerata Kelompok Dokumentasi Governance Outcome

G. Governance Impact
CGPI 2013 mempersyaratkan kelengkapan dokumen yang menunjukkan kejelasan atas
manfaat dan akibat dari penyelenggaran berbagai aktivitas di dalam perusahaan kepada
seluruh pihak yang berkepentingan (stakeholders) sesuai peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Hasil penilaian kelompok dokumen governance impact di perusahaan peserta
CGPI 2013 disajikan pada Gambar IV.2.56.

76
Gambar IV.2.56. Rerata Kelompok Dokumentasi Governance Impact

IV.2.3 PENYUSUNAN MAKALAH

Penilaian makalah didasarkan pada sistematika penulisan yang dipersyaratkan yaitu


memperhatikan kualitas penyajian yang mencakup aspek relevansi, cakupan, kejelasan, dan
kedalaman dari isi makalah. Berikut hasil penilaian makalah berdasarkan bagian dari
sistematika makalah.
Tabel IV.2.14 Rerata Hasil Tahapan Makalah

Kelompok Bagian Bagian Bagian Proses Bagian Hasil Bagian


Perusahaan Abstrak Pendahuluan Pelaksanaan yang Dicapai Penutup
Emiten
82,92 83,13 84,70 84,86 82,13
Keuangan
Emiten Non
80,11 81,48 82,87 82,26 79,22
Keuangan
BUMN
80,42 82,08 81,83 85,83 83,00
Keuangan
BUMN Non
78,32 78,28 79,32 78,85 74,50
Keuangan
BUMS
74,86 77,92 78,72 76,25 74,44
Keuangan
BUMS Non
76,82 77,40 80,30 78,84 75,49
Keuangan
Bisnis
82,92 83,13 84,70 84,86 82,13
Syariah

A. Abstrak
Bagian abstrak adalah uraian atas ringkasan makalah yang menggambarkan rangkaian
penerapan GCG dalam perspektif organisasi pembelajar di peserta CGPI 2013, mencakup
pendahuluan, proses pencapaian, hasil yang dicapai, dan penutup. Hasil penilaian bagian
abstrak makalah peserta CGPI 2013 disajikan pada Gambar IV.2.57.

77
Gambar IV.2.57. Rerata Penilaian Makalah Bagian Abstrak

B. Pendahuluan
Bagian pendahuluan menggambarkan hasil dari uraian dalam makalah mengenai latar
belakang, sasaran dan manfaat dari penerapan GCG dalam perspektif organisasi pembelajar.
Hasil penilaian bagian pendahuluan dari makalah perusahaan peserta CGPI 2013 disajikan
pada Gambar IV.2.58.

Gambar IV.2.58. Rerata Penilaian Makalah Bagian Pendahuluan

C. Proses Penerapan GCG dalam Perspektif Organisasi Pembelajar


Bagian ini menggambarkan hasil dari uraian dalam makalah mengenai proses penerapan
GCG dalam perspektif organisasi pembelajar meliputi pendekatan dan penahapan serta
mekanisme pencapaiannya. Hasil penilaian bagian proses dari makalah perusahaan peserta
CGPI 2013 disajikan pada Gambar IV.2.59.

78
Gambar IV.2.59. Rerata Penilaian Makalah Bagian Proses Penerapan

D. Hasil yang Dicapai


Bagian hasil ini menggambarkan hasil dari uraian dalam makalah mengenai hasil yang
dicapai dari penerapan GCG dalam perspektif pengetahuan. Hasil penilaian bagian hasil
makalah peserta CGPI 2013 disajikan pada Gambar IV.2.60.

Gambar IV.2.60. Rerata Penilaian Makalah Bagian Hasil yang Dicapai

E. Penutup
Bagian penutup menggambarkan uraian makalah mengenai kesimpulan dan strategi yang
dipilih, kebijakan dan program dan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan serta
keberlanjutan penerapan GCG dalam perspektif pengetahuan. Hasil penilaian bagian
penutup makalah peserta CGPI 2013 disajikan pada Gambar IV.2.61.

79
Gambar IV.2.61. Rerata Penilaian Makalah Bagian Penutup

IV.2.4 Observasi

Hasil observasi menunjukkan rerata dua belas (12) aspek penilaian yang digunakan dalam
mengklarifikasi data dan informasi yang telah diperoleh pada 3 tahapan sebelumnya.

A. Komitmen
Aspek komitmen menunjukan tingkat pemenuhan terhadap kemampuan dan
kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam mengimplementasikan GCG melalui
proses belajar seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan dalam rangka
menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat.
Tabel IV.2.15 Rerata Aspek Komitmen dalam Tahapan Observasi

Kelompok Perusahaan Komitmen-1 Komitmen-2 Komitmen-3 Komitmen-4


Emiten Keuangan 86,25 87,29 86,52 87,51
Emiten Non Keuangan 83,54 82,66 82,75 82,94
BUMN Keuangan 85,00 85,00 85,00 85,00
BUMN Non Keuangan 79,06 80,31 78,54 78,54
BUMS Keuangan 80,00 78,89 77,78 77,78
BUMS Non Keuangan 79,55 79,63 78,30 78,77
Bisnis Syariah 90,00 90,00 90,00 90,00

Aspek komitmen secara rinci mengungkapan fokus penilaian pada beberapa indikator,
seperti tertera pada Tabel IV.2.15.
1. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris membangun inisiatif
untuk mengimplementasikan GCG melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan

80
secara berkesinambungan dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara
etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.62).

Gambar IV.2.62. Rerata Observasi untuk Aspek Komitmen-1

2. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan


mengembangkan kebijakan dan program strategis untuk mengimplementasikan GCG
melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan dalam
rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat (Gambar
IV.2.63).

Gambar IV.2.63. Rerata Observasi untuk Aspek Komitmen-2

3. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan pemantauan


atas pelaksanaan program strategis untuk mengimplementasikan GCG melalui proses
belajar seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan dalam rangka
menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat (Gambar
IV.2.64).

81
Gambar IV.2.64. Rerata Observasi untuk Aspek Komitmen-3

4. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan perbaikan dan
peningkatan implementasi GCG melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan
secara berkesinambungan dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara
etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.65).

Gambar IV.2.65. Rerata Observasi untuk Aspek Komitmen-4

B. Transparansi
Aspek transparansi menunjukan tingkat pemenuhan terhadap kemampuan dan
kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam mengarahkan dan mengendalikan
perusahaan dengan mengungkapkan dan menyediakan informasi secara tepat waktu,
memadai, jelas, akurat, dan dapat diperbandingkan serta mudah diakses oleh pemangku
kepentingan dan masyarakat melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan guna menjalankan bisnis secara objektif, profesional dan melindungi

82
kepentingan konsumen sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai
tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat.
Tabel IV.2.16 Rerata Aspek Transparansi dalam Tahapan Observasi

Kelompok Perusahaan Transparansi-1 Transparansi-2 Transparansi-3 Transparansi-4


Emiten Keuangan 86,30 86,33 85,44 84,34
Emiten Non Keuangan 82,96 82,20 81,06 80,26
BUMN Keuangan 88,33 85,00 85,00 85,00
BUMN Non Keuangan 77,81 77,08 76,77 75,73
BUMS Keuangan 78,33 77,22 75,56 75,00
BUMS Non Keuangan 78,30 77,72 77,67 76,33
Bisnis Syariah 90,00 90,00 90,00 90,00

Aspek transparansi secara rinci mengungkapan fokus penilaian pada beberapa


indikator seperti tertera pada Tabel IV.2.16.
1. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris membangun inisiatif
peningkatan implementasi GCG dengan mengungkapkan dan menyediakan informasi
secara tepat waktu, memadai, jelas, akurat, dan dapat diperbandingkan serta mudah
diakses oleh pemangku kepentingan dan masyarakat melalui proses belajar yang
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat
(Gambar IV.2.66).

Gambar IV.2.66. Rerata Observasi untuk Aspek Transparansi-1

2. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan


mengembangkan arah, tujuan, kebijakan dan program strategis perusahaan dengan
sasarannya dalam rangka meningkatkan implementasi GCG dengan mengungkapkan

83
dan menyediakan informasi secara tepat waktu, memadai, jelas, akurat, dan dapat
diperbandingkan serta mudah diakses oleh pemangku kepentingan dan masyarakat
melalui proses belajar yang berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas
sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan
secara etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.67).

Gambar IV.2.67. Rerata Observasi untuk Aspek Transparansi-2

3. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan peningkatan


pengawasan dan pengendalian perusahaan dalam pengungkapan dan penyediaan
informasi secara tepat waktu, memadai, jelas, akurat, dan dapat diperbandingkan
serta mudah diakses oleh pemangku kepentingan dan masyarakat melalui proses
belajar yang berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat (Gambar IV.2.68).

Gambar IV.2.68. Rerata Observasi untuk Aspek Transparansi-3

84
4. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan evaluasi
peningkatan sistem penyelenggaraan bisnis dalam pengungkapan dan penyediaan
informasi secara tepat waktu, memadai, jelas, akurat, dan dapat diperbandingkan
serta mudah diakses oleh pemangku kepentingan dan masyarakat melalui proses
belajar yang berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermatabat (Gambar IV.2.69).

Gambar IV.2.69. Rerata Observasi untuk Aspek Transparansi-4

C. Akuntabilitas
Aspek akuntabilitas menunjukan tingkat pemenuhan terhadap kemampuan dan
kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam mengelola perusahaan secara sehat,
terukur dan profesional dengan menetapkan kejelasan tugas pokok dan fungsi dalam
perusahaan juga mekanisme pertanggungjawabannya melalui proses belajar seluruh
anggota perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai
organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat.
Tabel IV.2.17 Rerata Aspek Akuntabilitas dalam Tahapan Observasi

Kelompok Perusahaan Akuntabilitas-1 Akuntabilitas-2 Akuntabilitas-3 Akuntabilitas-4


Emiten Keuangan 86,61 85,99 85,63 85,09
Emiten Non Keuangan 84,26 83,10 82,59 81,57
BUMN Keuangan 88,33 86,67 86,67 85,00
BUMN Non Keuangan 79,17 79,17 78,33 77,60
BUMS Keuangan 78,33 76,67 77,78 76,67
BUMS Non Keuangan 78,92 78,50 78,00 78,33
Bisnis Syariah 91,67 90,00 90,00 88,33

85
Aspek akuntabilitas secara rinci mengungkapan fokus penilaian pada beberapa
indicator, seperti tertera pada Tabel IV.2.17.
1. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam membangun
inisiatif strategis mengelola perusahaan secara sehat, terukur dan profesional dengan
menetapkan kejelasan tugas pokok dan fungsi dalam perusahaan dan mekanisme
pertanggungjawabannya melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat
(Gambar IV.2.70).

Gambar IV.2.70. Rerata Observasi untuk Aspek Akuntabilitas-1

2. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan


mengembangkan kebijakan dan program strategis untuk mengelola perusahaan secara
sehat, terukur dan profesional melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan
secara berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat (Gambar IV.2.71).

86
Gambar IV.2.71. Rerata Observasi untuk Aspek Akuntabilitas-2

3. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan peningkatan


pengawasan dan pengendalian pengelolaan perusahaan secara sehat, terukur dan
profesional melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat
(Gambar IV.2.72).

Gambar IV.2.72. Rerata Observasi untuk Aspek Akuntabilitas-3

4. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan upaya


perbaikan dan peningkatan pengelolaan perusahaan secara sehat, terukur dan
profesional melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat
(Gambar IV.2.73).

87
Gambar IV.2.73. Rerata Observasi untuk Aspek Akuntabiilitas-4

D. Resposibilitas
Aspek responsibilitas menunjukkan tingkat pemenuhan terhadap kemampuan dan
kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam mengarahkan dan mengendalikan
perusahaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan peraturan internal serta
tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan melalui proses belajar seluruh
anggota perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai
organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat.
Tabel IV.2.18 Rerata Aspek Responsibilitas dalam Tahapan Observasi

Kelompok Responsibilitas- Responsibilitas- Responsibilitas- Responsibilitas-


Perusahaan 1 2 3 4
Emiten Keuangan 84,78 85,41 85,04 84,36
Emiten Non
83,01 82,55 81,94 81,69
Keuangan
BUMN Keuangan 86,67 86,67 86,67 85,00
BUMN Non
78,50 77,35 77,17 76,75
Keuangan
BUMS Keuangan 77,22 76,67 76,67 76,67
BUMS Non
79,08 79,08 78,22 77,72
Keuangan
Bisnis Syariah 86,67 86,67 86,67 86,67

Aspek responsibilitas secara rinci mengungkapan fokus penilaian pada beberapa


indikator seperti tertera pada Tabel IV.2.18.

88
1. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris membangun inisiatif
dalam mengarahkan dan mengendalikan perusahaan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan dan peraturan internal serta tanggung jawab terhadap
masyarakat dan lingkungan melalui proses pembelajaran seluruh anggota perusahaan
secara berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat (Gambar IV.2.74).

Gambar IV.2.74. Rerata Observasi untuk Aspek Responsibilitas-1

2. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan


mengembangkan kebijakan dan program perusahaan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan dan peraturan internal serta tanggung jawab terhadap
masyarakat dan lingkungan melalui proses pembelajaran seluruh anggota perusahaan
secara berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat (Gambar IV.2.75).

Gambar IV.2.75. Rerata Observasi untuk Aspek Responsibilitas-2

89
3. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan pengawasaan
dan pengendalian kebijakan dan program perusahaan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan dan peraturan internal serta tanggung jawab terhadap
masyarakat dan lingkungan melalui proses pembelajaran seluruh anggota perusahaan
secara berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat (Gambar IV.2.76).

Gambar IV.2.76. Rerata Observasi untuk Aspek Responsibilitas-3

4. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan upaya


perbaikan dan peningkatan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan
dan peraturan internal serta tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan
melalui proses pembelajaran seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan
guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar dalam rangka
menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat (Gambar
IV.2.77).

90
Gambar IV.2.77. Rerata Observasi untuk Aspek Responsibilitas-4

E. Independensi
Aspek independensi menunjukan tingkat pemenuhan terhadap kemampuan dan
kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam mengarahkan dan mengendalikan
perusahaan secara independen dengan tidak saling mendominasi dan bebas dari benturan
kepentingan melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan
guna meningkatkan kapabilitas, serta mewujudkan objektivitas, profesionalisme dan
kemandirian perusahaan sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai
tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat.

Tabel IV.2.19 Rerata Aspek Independensi dalam Tahapan Observasi

Kelompok Perusahaan Independensi-1 Independensi-2 Independensi-3 Independensi-4


Emiten Keuangan 84.72 84.24 83.80 83.69
Emiten Non Keuangan 82.92 82.71 81.53 81.57
BUMN Keuangan 88.33 88.33 88.33 85.00
BUMN Non Keuangan 76.23 76.23 75.40 74.77
BUMS Keuangan 76.11 75.00 75.00 75.00
BUMS Non Keuangan 78.33 77.50 76.75 76.83
Bisnis Syariah 88.33 86.67 86.67 86.67

Aspek independensi secara rinci mengungkapan fokus penilaian pada beberapa


indikator seperti tertera pada Tabel IV.2.19.
1. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris membangun inisiatif
peningkatan implementasi GCG dengan mewujudkan objektivitas tugas dan
kewajibannya serta kemandirian dari dominasi pihak lain melalui proses belajar yang

91
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat
(Gambar IV.2.78).

Gambar IV.2.78. Rerata Observasi untuk Aspek Independensi-1

2. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan


mengembangkan kebijakan dan program strategis perusahaan dalam rangka
meningkatkan implementasi GCG dengan mewujudkan objektivitas tugas dan
kewajibannya serta kemandirian dari dominasi pihak lain melalui proses belajar yang
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat
(Gambar IV.2.79).

Gambar IV.2.79. Rerata Observasi untuk Aspek Independensi-2

3. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan peningkatan


pengawasan dan pengendalian perusahaan untuk mewujudkan objektivitas tugas dan

92
kewajibannya serta kemandirian dari dominasi pihak lain melalui proses belajar yang
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas menjadi organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat
(Gambar IV.2.80).

Gambar IV.2.80. Rerata Observasi untuk Aspek Independensi-3

4. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan evaluasi


peningkatan sistem penyelenggaraan bisnis yang objektif dan mandiri melalui proses
belajar yang berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas perusahaan menjadi
organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara
etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.81).

Gambar IV.2.81. Rerata Observasi untuk Aspek Independensi-4

93
F. Keadilan
Aspek keadilan menunjukan tingkat pemenuhan terhadap kemampuan dan
kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam membangun sistem untuk menjamin
terpenuhinya hak dan kewajiban para pemangku kepentingan perusahaan melalui proses
belajar seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat.

Tabel IV.2.20 Rerata Aspek Keadilan dalam Tahapan Observasi

Kelompok Perusahaan Keadilan-1 Keadilan-2 Keadilan-3 Keadilan-4


Emiten Keuangan 85,26 85,10 84,11 83,95
Emiten Non Keuangan 81,69 82,24 80,68 80,57
BUMN Keuangan 85,00 85,00 85,00 85,00
BUMN Non Keuangan 77,92 77,92 75,73 75,73
BUMS Keuangan 76,11 75,56 75,56 75,00
BUMS Non Keuangan 79,00 79,08 77,75 77,00
Bisnis Syariah 88,33 88,33 86,67 86,67

Aspek keadilan secara rinci mengungkapan fokus penilaian pada beberapa indikator
seperti tertera pada Tabel IV.2.20.
1. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris membangun inisiatif
untuk menyusun dan mengembangkan sistem dan mekanisme internal yang
mencerminkan kesetaraan dan memberikan kesempatan yang sama bagi para
pemangku kepentingan perusahaan untuk memperoleh haknya dan melaksanakan
kewajibannya melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat
(Gambar IV.2.82)

94
Gambar IV.2.82. Rerata Observasi untuk Aspek Keadilan-1

2. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan


mengembangkan mekanisme implementasi yang mencerminkan kesetaraan dan
memberikan kesempatan yang sama bagi para pemangku kepentingan perusahaan
untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya melalui proses belajar
seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan
kapabilitas sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah
perusahaan secara etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.83).

Gambar IV.2.83. Rerata Observasi untuk Aspek Keadilan-2

3. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam mengevaluasi


mekanisme implementasi sistem yang mencerminkan kesetaraan dan memberikan
kesempatan yang sama bagi para pemangku kepentingan perusahaan untuk
memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya melalui proses belajar seluruh
anggota perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai

95
organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara
etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.84).

Gambar IV.2.84. Rerata Observasi untuk Aspek Keadilan-3

4. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam memperbaiki dan
meningkatkan sistem dan mekanisme internal yang mencerminkan kesetaraan dan
memberikan kesempatan yang sama bagi para pemangku kepentingan perusahaan
untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya melalui proses belajar
seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan
kapabilitas sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah
perusahaan secara etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.85).

Gambar IV.2.85. Rerata Observasi untuk Aspek Keadilan-4

96
G. Kepemimpinan
Aspek kepemimpinan menunjukan tingkat pemenuhan terhadap kemampuan dan
kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam mewujudkan organisasi pembelajar
melalui perannya sebagai perancang, penata layanan dan panutan melalui proses belajar
seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan dalam rangka menciptakan nilai
tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat.
Tabel IV.2.21 Rerata Aspek Kepemimpinan dalam Tahapan Observasi

Kelompok Kepemimpinan- Kepemimpinan- Kepemimpinan- Kepemimpinan-


Perusahaan 1 2 3 4
Emiten Keuangan 85,72 85,72 85,17 84,71
Emiten Non
82,38 81,82 81,41 80,90
Keuangan
BUMN Keuangan 86,67 86,67 86,67 86,67
BUMN Non
78,75 78,46 77,50 77,50
Keuangan
BUMS Keuangan 76,11 75,00 73,89 73,89
BUMS Non
79,25 78,50 78,58 77,42
Keuangan
Bisnis Syariah 87,00 85,00 85,67 85,00

Aspek kepemimpinan secara rinci mengungkapan fokus penilaian pada beberapa


indikator seperti tertera pada Tabel IV.2.21.
1. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris membangun inisiatif
peningkatan peran untuk mewujudkan organisasi pembelajar melalui proses belajar
seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan dalam rangka menciptakan
nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.86)

Gambar IV.2.86. Rerata Observasi untuk Aspek Kepemimpinan-1

97
2. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan
mengembangkan model peningkatan peran untuk mewujudkan organisasi pembelajar
melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan dalam
rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat (Gambar
IV.2.87)

Gambar IV.2.87. Rerata Observasi untuk Aspek Kepemimpinan-2

3. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan evaluasi peran
untuk mewujudkan organisasi pembelajar melalui proses belajar seluruh anggota
perusahaan secara berkesinambungan dalam rangka menciptakan nilai tambah
perusahaan secara etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.88).

Gambar IV.2.88. Rerata Observasi untuk Aspek Kepemimpinan-3

4. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan perbaikan dan
peningkatan peran untuk mewujudkan organisasi pembelajar melalui proses belajar

98
seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan dalam rangka menciptakan
nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.89).

Gambar IV.2.89. Rerata Observasi untuk Aspek Kepemimpinan-4

H. Strategi
Aspek strategi menunjukan tingkat pemenuhan terhadap kemampuan dan kesungguhan
Direksi dan Dewan Komisaris dalam mengarahkan dan mengendalikan perusahaan dengan
menetapkan tujuan, kebijakan dan program strategis dengan sasarannya melalui proses
belajar seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan
kapabilitas, serta mewujudkan objektivitas dan kemandirian perusahaan sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan
bermartabat.
Tabel IV.2.22 Rerata Aspek Strategi dalam Tahapan Observasi

Kelompok Perusahaan Strategi-1 Strategi-2 Strategi-3 Strategi-4


Emiten Keuangan 86,38 86,06 85,54 84,81
Emiten Non Keuangan 82,64 82,18 81,94 81,02
BUMN Keuangan 86,67 86,67 86,67 86,67
BUMN Non Keuangan 78,33 78,33 77,92 77,50
BUMS Keuangan 75,56 75,56 75,56 73,89
BUMS Non Keuangan 79,92 79,13 78,83 78,00
Bisnis Syariah 88,33 86,67 85,00 85,00

Aspek strategi secara rinci mengungn fokus penilaian pada beberapa indikator seperti
tertera pada Tabel IV.2.22.

99
1. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris membangun inisiatif
peningkatan implementasi GCG dengan menetapkan tujuan, kebijakan dan program
strategis perusahaan dengan sasarannya melalui proses belajar yang
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah secara etikal dan bermartabat (Gambar
IV.2.90)

Gambar IV.2.90. Rerata Observasi untuk Aspek Strategi-1

2. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan


mengembangkan tujuan, kebijakan dan program strategis perusahaan dengan
sasarannya dalam rangka meningkatkan implementasi GCG melalui proses belajar
yang berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah secara etikal dan bermartabat
(Gambar IV.2.91).

Gambar IV.2.91. Rerata Observasi untuk Aspek Strategi-2

3. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan peningkatan


pengawasan dan pengendalian terhadap pencapaian tujuan, kebijakan dan program

100
strategis perusahaan dengan sasarannya dalam upaya meningkatkan implementasi
GCG melalui proses belajar yang berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas
menjadi organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah secara etikal
dan bermartabat (Gambar IV.2.92).

Gambar IV.2.92. Rerata Observasi untuk Aspek Strategi-3

4. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan evaluasi


tujuan, kebijakan dan program strategis dengan sasarannya dalam upaya
meningkatkan implementasi GCG melalui proses belajar yang berkesinambungan guna
meningkatkan kapabilitas menjadi organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan
nilai tambah secara etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.93).

Gambar IV.2.93. Rerata Observasi untuk Aspek Strategi-4

101
I. Etika
Aspek etika menunjukan tingkat pemenuhan terhadap kemampuan dan kesungguhan
Direksi dan Dewan Komisaris dalam mengarahkan dan mengendalikan standar perilaku
bisnis dan perilaku kerja yang dilakukan perusahaan beserta anggota-anggotanya dalam
berinteraksi dengan para pemangku kepentingan melalui proses belajar seluruh anggota
perusahaan secara berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi
pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah secara etika dan bermartabat.

Tabel IV.2.23 Rerata Aspek Etika dalam Tahapan Observasi

Kelompok Perusahaan Etika-1 Etika-2 Etika-3 Etika-4


Emiten Keuangan 85,56 85,41 84,83 84,83
Emiten Non Keuangan 82,27 81,90 81,06 80,83
BUMN Keuangan 85,00 85,00 85,00 85,00
BUMN Non Keuangan 77,17 77,17 76,73 76,31
BUMS Keuangan 76,11 76,11 75,00 75,00
BUMS Non Keuangan 79,30 79,17 78,17 77,92
Bisnis Syariah 85,00 85,00 83,33 83,33

Aspek etika secara rinci mengungkapan fokus penilaian pada beberapa indikator
seperti tertera pada Tabel IV.2.23.
1. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris membangun inisiatif
untuk mengarahkan dan mengendalikan standar perilaku bisnis dan perilaku kerja
yang dilakukan perusahaan beserta anggota-anggotanya dalam berinteraksi dengan
para pemangku kepentingan, melalui proses belajar yang berkesinambungan guna
meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan
nilai tambah secara etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.94).

102
Gambar IV.2.94. Rerata Observasi untuk Aspek Etika-1

2. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan


mengembangkan standar perilaku bisnis dan perilaku kerja yang dilakukan perusahaan
beserta anggota-anggotanya dalam berinteraksi dengan para pemangku kepentingan
lain melalui proses belajar yang berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas
sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah secara etikal
dan bermartabat (Gambar IV.2.95).

Gambar IV.2.95. Rerata Observasi untuk Aspek Etika-2

3. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan peningkatan


pengawasan dan pengendalian implementasi standar perilaku bisnis dan perilaku kerja
yang dilakukan perusahaan beserta anggota-anggotanya dalam berinteraksi dengan
para pemangku kepentingan lain melalui proses belajar yang berkesinambungan guna
meningkatkan kapabilitas menjadi organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan
nilai tambah secara etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.96).

103
Gambar IV.2.96. Rerata Observasi untuk Aspek Etika-3

4. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan evaluasi


implementasi standar perilaku, baik perilaku bisnis dan perilaku kerja yang dilakukan
perusahaan beserta anggota-anggotanya dalam berinteraksi dengan para pemangku
kepentingan lain melalui proses belajar yang berkesinambungan guna meningkatkan
kapabilitas menjadi organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah
secara etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.97).

Gambar IV.2.97. Rerata Observasi untuk Aspek Etika-4

J. Visi, Misi, Nilai dan Makna


Aspek visi, misi, nilai dan makna menunjukan tingkat pemenuhan terhadap
kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam menetapkankan arah,
cita-cita, dan jati diri perusahaan melalui proses belajar seluruh anggota perusahaan secara

104
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar dalam
rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat.

Tabel IV.2.24 Rerata Aspek Visi, Misi, Nilai dan Makna dalam Tahapan Observasi

Kelompok Visi, Misi, Nilai & Visi, Misi, Nilai & Visi, Misi, Nilai & Visi, Misi, Nilai &
Perusahaan Makna -1 Makna -2 Makna -3 Makna -4
Emiten
84,63 84,31 83,06 82,92
Keuangan
Emiten Non
82,64 82,64 79,91 80,09
Keuangan
BUMN Keuangan 85,00 85,00 85,00 85,00
BUMN Non
78,00 78,00 77,69 76,54
Keuangan
BUMS Keuangan 77,22 77,22 75,56 75,56
BUMS Non
78,33 78,17 76,33 76,00
Keuangan
Bisnis Syariah 90,00 88,33 85,67 85,67

Aspek visi, misi, nilai dan makna secara rinci mengungkapan hasil self assessment
terhadap fokus penilaian pada beberapa indikator seperti tertera pada Tabel IV.2.24.
1. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam membangun
inisiatif merumuskan arah, cita-cita dan jati diri perusahaan melalui proses belajar
yang berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat
(Gambar IV.2.98).

Gambar IV.2.98. Rerata Observasi untuk Aspek Visi, Misi, Nilai & Makna -1

105
2. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris mengembangkan
kebijakan dan program strategis untuk mewujudkan arah, cita-cita dan jati diri
perusahaan melalui proses belajar yang berkesinambungan guna meningkatkan
kapabilitas sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah
perusahaan secara etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.99).

Gambar IV.2.99. Rerata Observasi untuk Aspek Visi, Mis, Nilai & Makna -2

3. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan evaluasi


terhadap capaian arah, cita-cita dan jati diri perusahaan melalui proses belajar yang
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat
(Gambar IV.2.100).

Gambar IV.2.100. Rerata Observasi untuk Aspek Visi, Misi, Nilai & Makna -3

4. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan perbaikan dan
peningkatan arah, cita-cita dan jati diri perusahaan melalui proses belajar yang

106
berkesinambungan guna meningkatkan kapabilitas sebagai organisasi pembelajar
dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat
(Gambar IV.2.101).

Gambar IV.2.101. Rerata Observasi untuk Aspek Visi, Misi, Nilai & Makna-4

K. Budaya
Aspek budaya menunjukan tingkat pemenuhan terhadap kemampuan dan
kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris menciptakan budaya belajar untuk menghasilkan
pola pikir baru dalam bentuk kreativitas, inovasi dan pemecahan masalah dengan risiko
yang dapat diperhitungkan melalui integrasi berbagai partisipasi dan kontribusi yang
diungkapkan oleh seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan guna membangun
kesadaran, kemauan dan kemampuan bersama sebagai organisasi pembelajar dalam
rangka menciptakan nilai tambah secara etikal dan bermartabat.

Tabel IV.2.25 Rerata Aspek Budaya dalam Tahapan Observasi

Kelompok Perusahaan Budaya-1 Budaya-2 Budaya-3 Budaya-4


Emiten Keuangan 84,01 83,40 83,19 82,04
Emiten Non Keuangan 82,26 82,12 80,33 80,17
BUMN Keuangan 85,00 85,00 85,00 85,00
BUMN Non Keuangan 76,88 76,88 76,56 76,13
BUMS Keuangan 75,00 74,44 74,44 73,33
BUMS Non Keuangan 78,42 77,67 76,83 76,58
Bisnis Syariah 88,33 88,33 85,00 83,33

Aspek budaya secara rinci mengungkapan terhadap fokus penilaian pada beberapa
indikator seperti tertera pada Tabel IV.2.25.

107
1. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris membangun inisiatif
menciptakan budaya belajar untuk menghasilkan pola pikir baru dalam bentuk
kreativitas, inovasi dan pemecahan masalah dengan risiko yang dapat diperhitungkan
melalui integrasi berbagai partisipasi dan kontribusi yang diungkapkan oleh seluruh
anggota perusahaan secara berkesinambungan guna membangun kesadaran,
kemauan dan kemampuan bersama sebagai organisasi pembelajar dalam rangka
menciptakan nilai tambah secara etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.102).

Gambar IV.2.102. Rerata Observasi untuk Aspek Budaya-1

2. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris merumuskan dan


mengembangkan kebijakan dan program untuk menciptakan budaya belajar guna
menghasilkan pola pikir baru dalam bentuk kreativitas, inovasi dan pemecahan
masalah dengan risiko yang dapat diperhitungkan melalui integrasi berbagai partisipasi
dan kontribusi yang diungkapkan oleh seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan guna membangun kesadaran, kemauan dan kemampuan bersama
sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah secara etikal
dan bermartabat (Gambar IV.2.103).

108
Gambar IV.2.103. Rerata Observasi untuk Aspek Budaya-2

3. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam meningkatan


pengawasan dan pengendalian implementasi kebijakan dan program untuk
menciptakan budaya belajar guna menghasilkan pola pikir baru dalam bentuk
kreativitas, inovasi dan pemecahan masalah dengan risiko yang dapat diperhitungkan
melalui integrasi berbagai partisipasi dan kontribusi yang diungkapkan oleh seluruh
anggota perusahaan secara berkesinambungan guna membangun kesadaran,
kemauan dan kemampuan bersama sebagai organisasi pembelajar dalam rangka
menciptakan nilai tambah secara etikal dan bermartabat (Gambar IV.2.104).

Gambar IV.2.104. Rerata Observasi untuk Aspek Budaya-3

4. Kemampuan dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris melakukan evaluasi


sistem budaya belajar yang diungkapkan oleh seluruh anggota perusahaan secara
berkesinambungan guna membangun kesadaran, kemauan dan kemampuan bersama

109
sebagai organisasi pembelajar dalam rangka menciptakan nilai tambah secara etikal
dan bermartabat (Gambar IV.2.105).

Gambar IV.2.105. Rerata Observasi untuk Aspek Budaya-4

L. Organisasi Pembelajar
Aspek organisasi pembelajar menunjukan tingkat pemenuhan terhadap kemampuan
dan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam mewujudkan masa depan perusahaan
dengan upaya membangun peningkatan kapasitas melalui proses belajar seluruh anggota
perusahaan secara berkesinambungan dalam rangka menciptakan nilai tambah perusahaan
secara etikal dan bermartabat.

Tabel IV.2.26 Rerata Aspek Organisasi Pembelajar dalam Tahapan Observasi

Kelompok Organisasi Organisasi Organisasi Organisasi


Perusahaan Pembelajar -1 Pembelajar -2 Pembelajar -3 Pembelajar -4
Emiten
83,92 83,92 83,71 83,71
Keuangan
Emiten Non
79,72 80,42 79,26 79,07
Keuangan
BUMN
81,67 81,67 81,67 81,67
Keuangan
BUMN Non
75,60 75,60 74,25 73,83
Keuangan
BUMS Keuangan 72,22 72,22 71,67 71,67
BUMS Non
75,92 76,25 74,83 74,83
Keuangan
Bisnis Syariah 90,00 90,00 90,00 87,33

Aspek organisasi pembelajar secara rinci mengungkapan terhadap fokus penilaian pada
beberapa indikator seperti tertera pada Tabel IV.2.26.

110
1. Kesungguhan dari perusahaan untuk membentuk sejumlah tim yang didalamnya
terdiri dari sejumlah orang dengan peran tertentu dan saling melengkapi satu sama
lain dalam hal kepandaian dan ketrampilan yang dimiliki; pembentukan tim tersebut
diselaraskan dan berkomitmen dengan dengan tujuan organisasi dan secara konsisten
tim tersebut menunjukkan tingkat kolaborasi dan inovasi yang tinggi dalam rangka
mencapai hasil yang superior yang terukur (Gambar IV.2.106).

Gambar IV.2.106. Rerata Observasi untuk Aspek Organisasi Pembelajar-1

2. Kesungguhan perusahaan untuk membentuk lingkungan kerja yang terbuka yang


memungkinkan para anggotanya bereksperimen dengan ide-ide yang baru,
berkomunikasi dan berhubungan secara aktif satu sama lain, lingkungan kerja yang
senantiasa memberikan penghargaan dan pengakuan atas capaian yang diperoleh
anggota perusahaan, dan lingkungan kerja yang mendorong setiap anggota
perusahaan untuk memahami keterkaitan antara pekerjaan yang dilakukan dan
performansi yang dicapai dengan tujuan perusahaan (Gambar IV.2.107).

Gambar IV.2.107. Rerata Observasi untuk Aspek Organisasi Pembelajar-2

111
3. Kesungguhan perusahaan untuk membentuk sistem evaluasi yang memungkinkan
anggota perusahaan untuk meninjau ulang dan melakukan perbaikan-perbaikan atas
seluruh proses pekerjaan yang telah dilakukan (Gambar IV.2.108)

Gambar IV.2.108. Rerata Observasi untuk Aspek Organisasi Pembelajar-3

4. Kesungguhan perusahaan untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi penyebarluasan


hasil pelatihan dan pembelajaran. (Gambar IV.2.109).

Gambar IV.2.109. Rerata Observasi untuk Aspek Organisasi Pembelajar-4

5. Kesungguhan perusahaan untuk membangun dan mengembangkan sistem


pengelolaan pengetahuan yang mendukung tewujudnya organisasi pembelajar
(Gambar IV.2.110).

112
Gambar IV.2.110. Rerata Observasi untuk Aspek Organisasi Pembelajar-5

IV.3 HASIL PEMERINGKATAN

Hasil pemeringkatan CGPI 2013 adalah rekapitulasi skor penilaian dari 4 tahapan yang
dikalikan dengan hasil pembobotan nilai berdasarkan penilaian panel ahli dan dikalibrasi
berdasarkan norma penilaian CGPI. Hasil Pemeringkatan CGPI 2013 disajikan pada Gambar
IV.3.1, IV.3.2, dan IV.3.3 yang dikelompokkan berdasarkan 3 norma penilaian yaitu sangat
tepercaya, tepercaya, dan cukup tepercaya, dan penulisan sesuai dengan urutan abjad.

113
Tabel IV.3.1 Perusahaan Sangat Tepercaya

SANGAT TEPERCAYA
PT ANEKA TAMBANG PT ASURANSI JASA PT BANK CENTRAL ASIA Tbk.
(PERSERO) Tbk. INDONESIA (PERSERO)

88,92 85,04 86,06


Self Assessment : 22,12 Self Assessment : 23,29 Self Assessment : 24,08
Sistem Dokumentasi : 37,84 Sistem Dokumentasi : 34,79 Sistem Dokumentasi : 34,48
Makalah : 12,67 Makalah : 11,57 Makalah : 11,97
Observasi : 16,29 Observasi : 15,39 Observasi : 15,53

PT BANK MANDIRI PT BANK NEGARA PT BANK OCBC NISP Tbk.


(PERSERO) Tbk. INDONESIA (PERSERO) Tbk.

92,36 87,19 86,17


Self Assessment : 24,87 Self Assessment : 24,61 Self Assessment : 23,56
Sistem Dokumentasi : 38,08 Sistem Dokumentasi : 35,21 Sistem Dokumentasi : 35,21
Makalah : 12,72 Makalah :11,97 Makalah : 12,02
Observasi : 16,69 Observasi : 15,40 Observasi : 15,38

PT BANK RAKYAT PT BANK SYARIAH MANDIRI PT GARUDA INDONESIA


INDONESIA (PERSERO) Tbk. (PERSERO) Tbk.

86,43 86,55 85,40


Self Assessment : 25,40 Self Assessment : 22,69 Self Assessment : 22,25
Sistem Dokumentasi : 34,15 Sistem Dokumentasi : 35,93 Sistem Dokumentasi : 35,63
Makalah : 11,76 Makalah : 12,17 Makalah : 12,08
Observasi : 15,12 Observasi : 15,76 Observasi : 15,44

PT JASA MARGA (PERSERO) Tbk. PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA (PERSERO)


Tbk.

85,16 90,66
Self Assessment :21,63 Self Assessment : 23,53
Sistem Dokumentasi : 35,78 Sistem Dokumentasi : 37,99
Makalah : 12,25 Makalah : 12,65
Observasi : 15,50 Observasi : 16,49

114
Tabel IV.3.2 Perusahaan Tepercaya (1)

TEPERCAYA
PT ADI SARANA ARMADA PT ANGKASA PURA II PT BANK DKI
Tbk. (PERSERO)

77,03 80,51 81,93


Self Assessment : 22,07 Self Assessment : 20,93 Self Assessment : 21,61
Sistem Dokumentasi : 31,48 Sistem Dokumentasi : 33,43 Sistem Dokumentasi : 34,07
Makalah : 9,68 Makalah : 11,73 Makalah : 11,25
Observasi : 13,80 Observasi : 14,42 Observasi : 15.00

PT BANK PAPUA PT BANK PERMATA Tbk. PT BANK SINAR HARAPAN


BALI
79,45 81,71
Self Assessment : 22,34 Self Assessment : 23,86 76,27
Sistem Dokumentasi : 32,27 Sistem Dokumentasi : 33,11 Self Assessment : 21,94
Makalah : 10,80 Makalah : 10,49 Sistem Dokumentasi : 29,68
Observasi : 14,04 Observasi : 14,25 Makalah : 11,13
Observasi : 13,52

PT BANK TABUNGAN PT BUKIT ASAM (PERSERO) PT INDO TAMBANGRAYA


NEGARA (PERSERO) Tbk. Tbk. MEGAH Tbk.

84,94 84,09 80,13


Self Assessment : 23,50 Self Assessment : 22,31 Self Assessment : 22,45
Sistem Dokumentasi : 34,82 Sistem Dokumentasi : 34,83 Sistem Dokumentasi : 32,44
Makalah : 11.40 Makalah : 11,67 Makalah : 11,01
Observasi : 15.22 Observasi : 15.28 Observasi : 14,23

PT KRAKATAU PT KRAKATAU INDUSTRIAL PT KRAKATAU TIRTA


ENGINEERING ESTATE CILEGON INDUSTRI

79,41 78,67 76,26


Self Assessment : 24,91 Self Assessment : 22,64 Self Assessment : 22,32
Sistem Dokumentasi : 30,44 Sistem Dokumentasi : 31,34 Sistem Dokumentasi : 30,34
Makalah : 10,49 Makalah : 10,89 Makalah : 10,32
Observasi : 13,57 Observasi : 13,80 Observasi : 13,28

115
Tabel IV.3.3 Perusahaan Tepercaya (2)

TEPERCAYA
PT KERETA API PT MANDIRI TUNAS PT PELABUHAN INDONESIA
INDONESIA(PERSERO) FINANCE III (PERSERO)

78,59 75,62 74,28


Self Assessment : 22,36 Self Assessment : 22,72 Self Assessment : 22,92
Sistem Dokumentasi : 31,43 Sistem Dokumentasi : 29,46 Sistem Dokumentasi : 28,71
Makalah : 10,74 Makalah : 10,17 Makalah : 9,88
Observasi : 14,06 Observasi : 13,27 Observasi : 12,77

PT PEMBANGKITAN JAWA PT PERTAMINA (PERSERO) PT PETROKIMIA GRESIK


BALI
81,22 80,74
83,11 Self Assessment : 22,22 Self Assessment : 21,86
Self Assessment : 21,69 Sistem Dokumentasi : 33,43 Sistem Dokumentasi : 33,44
Sistem Dokumentasi : 34,63 Makalah : 11,25 Makalah : 10,94
Makalah : 11,80 Observasi : 14,32 Observasi : 14,50
Observasi : 14,99

PT TIMAH (PERSERO) Tbk.

80,10
Self Assessment : 21,95
Sistem Dokumentasi : 32,83
Makalah : 11,05
Observasi : 14,27

Tabel IV.3.4 Perusahaan Cukup Tepercaya

CUKUP TEPERCAYA
PT BAKRIE TELECOM TBk.

66,44
Self Assessment : 21,00
Sistem Dokumentasi : 25,15
Makalah : 9,23
Observasi : 11,06

116
BAB V
PENUTUP

V.1 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penyelesaian tahapan penilaian CGPI 2013 dan ditinjau dari tujuan
pelaksanaan riset dan pemeringkatan CGPI 2013 dapat diberikan kesimpulan umum sebagai
berikut:
1. Hasil riset dan pemeringkatan CGPI 2013 menjadi salah satu faktor yang memotivasi
dunia bisnis dalam melaksanakan konsep CG yang dibuktikan dengan beberapa
peningkatan hasil pemeringkatan peserta CGPI 2013 dibandingkan dengan
pelaksanaan CGPI sebelumnya.
2. Hasil riset dan pemeringkatan CGPI 2013 dapat menjadi salah satu indikator kinerja
yang ditetapkan oleh peserta CGPI 2013 dalam implementasi GCG di perusahaannya.
3. Hasil riset dan pemeringkatan CGPI 2013 menjadi salah satu media untuk
menumbuhkan partisipasi masyarakat luas agar secara bersama-sama aktif dalam
mengembangkan dan menerapkan GCG, dibuktikan dengan perspektif stakeholders
ditetapkan pada CGPI 2013 mampu mengajak dan melibatkan seluruh stakeholders
peserta CGPI 2013 dalam menilai dan memberikan masukan terhadap implementasi
GCG di perusahaan peserta CGPI 2013, yaitu melalui partisipasi stakeholders pada
tahapan self assessment.
4. Hasil riset dan pemeringkatan CGPI 2013 menjadi sarana yang strategis dalam
menyusun database, melakukan pemetaan (mapping) kondisi dan praktik GCG di
Indonesia, ditunjukkan oleh perusahaan peserta CGPI 2013 yang berasal dari
perusahaan publik (emiten), Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik
Daerah (BUMD), Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) dan Lembaga Keuangan Syariah,
serta berasal dari sektor keuangan dan non keuangan.
5. Status peserta CGPI 2013 yang bervariasi dan sektor yang diwakilinya juga bervariasi
dapat mendukung perolehan hasil pemetaan implementasi GCG di Indonesia yang
lengkap.
6. Hasil riset dan pemeringkatan CGPI 2013 menjadi benchmark praktik GCG pada
perusahaan publik, BUMN dan perbankan serta perusahaan swasta di Indonesia,
dibuktikan dengan diakuinya hasil CGPI 2013 sebagai salah satu pencapaian dan

117
evaluasi implementasi GCG oleh para peserta CGPI serta dicantumkan dalam Laporan
Tahunan (Annual Report) Perseroan.
7. Partisipasi perusahaan pada CGPI 2013 merupakan salah satu indikator
penyelenggaraan bisnis yang lebih beretika dan bermartabat melalui implementasi
corporate governance di Indonesia.
8. Pelaksanaan GCG dalam perspektif organisasi pembelajar;
a. Secara umum perusahaan peserta CGPI telah memiliki komitmen yang baik dan
berorientasi dalam pembentukan sejumlah tim dengan latar belakang kepandaian
dan ketrampilan yang dimiliki untuk mencapai target kinerja yang ditetapkan.
Dalam praktik hal ini terlihat dari implementasi sistem manajemen mutu proses,
penerapan balance scorecard, pelaksanaan manajemen pengetahuan (knowledge
management) serta sistem manajemen terintegrasi seperti manajemen risiko, TI,
supply chain dan lainnya. Industri keuangan cendrung menunjukan kinerja yang
lebih baik. Hal ini dilatar belakangi antara lain budaya kerja lintas fungsional terkait
pelaksanaan prinsip four eyes principles dalam mekanisme keputusan kredit,
pengembangan produk dan jasa keuangan, dan manajemen pengetahuan yang
terintegrasi dan menyeluruh pada berbagai kompetensi di industri keuangan.
b. Secara umum perusahaan peserta CGPI telah memiliki komitmen yang baik
membentuk lingkungan kerja yang terbuka yang memungkinkan para anggotanya
bereksperimen dengan ide-ide yang baru, berkmunikasi dan berhubungan secara
efektif satu sama lain, lingkungan kerja yang senantiasa memberikan penghargaan
dan pengakuan atas capaian yang diperoleh anggota perusahaan, dan lingkungan
kerja yang mendorong setiap anggota perusahaan untuk memahami keterkaitan
antara pekerjaan yang dilakukan dan performansi yang dicapai dengan tujuan
perusahaan. Berbagai kebijakan dan program peningkatan efisiensi dan efektivitas
kerja dan organisasi dicanangkan perusahaan peserta CGPI antara lain terkait
dengan budaya inovasi, pelayanan terbaik (service excellence), sistem manajemen
mutu, pengelolaan SDM berbasis kompetensi dan paradigm human capital.
c. Secara umum perusahaan peserta CGPI telah memiliki komitmen yang baik
membentuk sistem evaluasi yang memungkinkan anggota perusahaan untuk
meninjau ulang dan melakukan perbaikan-perbaikan atas seluruh proses pekerjaan
yang telah dilakukan. Berbagai inisiatif dan program yang diterapkan oleh

118
perusahaan peserta CGPI antara lain sistem monitoring berkala (Rapat Koordinasi
Bulanan Dewan Komisaris-Direksi), sistem koordinasi bulanan komite audit,
pelaksanaan sistem manajemen kinerja dengan monitoring beerkala, kontrak
manajemen, evaluasi strategis terhadap visi, misi, nilai, makna dan rencana bisnis
perusahaan, dan pelaksanaan evaluasi terhadap kepuasan karyawan, pelanggan,
pemasok dan stakeholders lainnya.
d. Secara umum perusahaan peserta CGPI telah memiliki komitmen yang baik dalam
menciptakan iklim yang kondusif bagi penyebarluasan hasil pelatihan dan
pembelajaran. Beberapa perusahaan peserta CGPI telah membangun sistem
knowledge management dan learning organization melalui penyiapan SDM, proses
dan teknologi yang memadai sehingga meningkatkan kualitas transfer dan
pemanfaatan pengetahuan.
e. Secara umum perusahaan peserta CGPI telah memiliki komtmen yang baik dalam
membangun dan mengembangkan sistem pengelolaan pengetahuan yang
mendukung terwujudnya organisasi pembelajar. Beberapa perusahaan peserta
CGPI telah melakukan evaluasi pelaksanaan knowledge management dan learning
organization dan telah mendapat pengakuan dari pihak independen sebagia
perusahaan membuktikan bahwa peningkatan kinerja keuangan dan non keuangan
diperoleh dari pemanfaatn pengetahuan dan budaya belajar yang dikembangkan
manajemen dalam rangka komitmen untuk mewujudkan organisasi pembelajar.

CGPI 2013 memberikan temuan-temuan sesuai dengan arahnya, antara lain:


1. Mencermati berbagai upaya perusahaan dalam memperbarui dan memutakhirkan
proses bisnis, membangun keunggulan/daya saing serta mewujudkan kerberlanjutan
usaha (sustainable business) berlandaskan prinsip-prinsip GCG.
CGPI 2013 menemukan beberapa inisiatif peserta CGPI dalam mewujudkan GCG
dalam perspektif organisasi pembelajar, antara lain:
a. Pemutakhiran model bisnis, niat stratejik, visi, misi, dan jati diri perusahaan
berdasarkan perkembangan tantangan dan kesempatan yang dihadapi
perusahaan di masa depan.

119
b. Pemutakhiran kebijakan tata kelola dan kebijakan perusahaan berdasarkan
perkembangan peraturan perundang-undangan, norma dan etika yang berlaku,
serta adaptasi dengan praktik terbaik penerapan GCG dan manajemen modern.
c. Pemutakhiran pedoman dan standar operasional pengelolaan SDM, TI,
Manajemen Risiko, Internal Audit.
2. Mencermati berbagai upaya perusahaan membangun peningkatan kapasitas
perusahaan dalam mewujudkan masa depan perusahaan melalui proses belajar
seluruh anggota perusahaan secara berkesinambungan dalam rangka menciptakan
nilai tambah perusahaan secara etikal dan bermartabat.
CGPI 2013 menemukan beberapa inisiatif peserta CGPI dalam peningkatan kapasitas
organisasi dan mewujudkan organisasi pembelajar, antara lain:
a. Pemutakhiran rencana induk dan peta jalan pengembangan kompetensi, standar
kompetensi, Tata Kelola TI, business continuity management.
b. Pengembangan kompetensi inti perusahaan dan penciptaan nilai perusahaan
serta budaya pembelajar melalui inovasi untuk pengembangan produk.
c. Pengembangan kapasitas SDM organisasi melalui peningkatan kompetensi dan
etika bisnis yang mendukung pengembangan kompetensi inti perusahaan dan
penciptaan nilai.

CGPI 2013 memberikan temuan-temuan sesuai dengan fokus, strategi dan implementasi,
antara lain:
1. Inisiatif strategis.
Organ perusahaan melakukan kajian dalam menyusun dan menetapkan Rencana Kerja
dan Anggaran Perusahaan dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
2. Perumusan strategi dan kebijakan.
Organ perusahaan merumuskan dan menetapkan strategi dan kebijakan yang selaras
dengan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan dalam jangka pendek maupun jangka
panjang yang berorientasi pada peningkatan tingkat kepatuhan, kualitas GCG, dan
peningkatan kinerja yang berkelanjutan.
3. Pemastian dan evaluasi.
Organ perusahaan menetapkan indikator kinerja dan melakukan evaluasi terhadap
pelaksanaan strategi dan kebijakan yang selaras Rencana Kerja dan Anggaran

120
Perusahaan dalam jangka pendek maupun jangka panjang yang berorientasi pada
peningkatan tingkat kepatuhan, kualitas GCG, dan peningkatan kinerja yang
berkelanjutan.
4. Penyempurnaan dan perbaikan.
Organ perusahaan menindaklanjuti upaya perbaikan atas hasil evaluasi dan temuan
lainnya dari pelaksanaan strategi dan kebijakan yang selaras dengan Rencana Kerja
dan Anggaran Perusahaan dalam jangka pendek maupun jangka panjang, yang
dilakukan oleh tim pelaksana khusus, tim pemantauan khusus, dan program khusus
terkait yang berorientasi pada peningkatan tingkat kepatuhan, kualitas GCG, dan
peningkatan kinerja yang berkelanjutan.

V.2 IMPLIKASI

Hasil CGPI 2013 memberikan beberapa implikasi bagi perusahaan peserta antara lain:
1. Implikasi Strategis.
a. Perusahaan memiliki dan memutakhirkan kelengkapan kebijakan dan struktural
yang memadai terkait dengan implementasi GCG dan peningkatan kapasitas
perusahaan secara berkelanjutan.
b. Perusahaan memiliki dan memutakhirkan perencanaan strategis yang memadai
terkait dengan dan peningkatan kapasitas perusahaan secara berkelanjutan.
2. Implikasi Operasional.
a. Perusahaan memiliki dan memutakhirkan kelengkapan kebijakan dan manual yang
terkait dengan implementasi GCG dan peningkatan kapasitas perusahaan secara
berkelanjutan.
b. Perusahaan memiliki kelengkapan alat pemantauan yang memadai terkait dengan
implementasi GCG dan peningkatan kapasitas perusahaan secara berkelanjutan.
3. Implikasi Konseptual.
a. Perusahaan dapat mengembangkan konsep organisasi pembelajar berdasarkan
acuan yang bersifat mandatory, yang berorientasi pada pemenuhan kepatuhan,
kualitas GCG, dan pencapaian kinerja.

121
b. Perusahaan dapat mengembangkan konsep organisasi pembelajar berdasarkan
acuan yang bersifat best practices yang dikembangkan oleh beberapa pakar
manajemen maupun perusahaan bertaraf internasional.
c. Dalam mengembangkan berbagai konsep tersebut, perusahaan harus senantiasa
memperhatikan kekhasan bisnisnya.
4. Implikasi Teknikal.
a. Perusahaan dapat melengkapi efektivitas pengelolaan pengetahuan dengan
menggunakan infrastruktur terkait dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi
(TIK).
b. Perusahaan dapat melengkapi efektivitas pengelolaan pengetahuan melalui
pemantauan tingkat maturity dan kesiapan (readiness) organisasi.

V.3 TINDAK LANJUT

Dari hasil program CGPI 2012, kesimpulan dan temuan CGPI dapat dijadikan tindak lanjut
bagi pihak-pihak yang terlibat dalam implementasi GCG dalam perspektif organisasi
pembelajar, antara lain:
1. Bagi perusahaan (sektor swasta).
a. Perusahaan memiliki dan memutakhirkan kelengkapan dokumentasi terkait
kebijakan, manual, pelaksanaan dan pemantauan atas GCG dan proses bisnis
perusahaan yang dapat meningkatkan kapasitas organisasi. Strategi dan kebijakan
peningkatan kapasitas organisasi diharapkan sebagai bagian tak terpisahkan dan
ada di setiap siklus bisnis mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan
penyempurnaan.
b. Perusahaan berupaya menciptakan budaya pembelajaran secara konsekuen,
menyeluruh, dan terintegrasi yang meliputi tingkatan korporasi, unit bisnis dan
fungsional perusahaan anak dan afiliasi.
c. Perusahaan mengembangkan divisi khusus yang focus pada pengembangan
kapasitas dan kompetensi inti perusahaan
2. Bagi pemerintah/pengawas (sektor publik).

122
a. Pemerintah menciptakan situasi yang kondusif bagi penegakan GCG dan
peningkatan daya saing bangsa melalui regulasi terhadap peningkatan kapasitas
industri dan sektor perekonomian serta GCG sehingga meningkatkan komitmen
para pemilik dan pengelola perusahaan terhadap GCG dan organisasi pembelajar.
b. Pemerintah konsekuen dan konsistensi dalam penegakan hukum demi terciptanya
dunia usaha yang beretika dan bermartabat.
3. Bagi Masyarakat (sipil).
a. Masyarakat memiliki kesadaran, kemauan, dan kepedulian, terhadap
implementasi GCG dan organisasi pembelajar sehingga turut berperan dalam
meningkatkan daya saing bangsa demi kesejahteraan ekonomi yang berkeadilan.
b. Masyarakat memiliki kepedulian dalam turut mendorong terciptanya dunia usaha
yang beretika dan bermartabat.

V.4 TINJAUAN CGPI 2014

Berdasarkan peta jalan tema CGPI pada dasawarsa (2010-2019), CGPI 2014 yang akan
diselenggarakan pada tahun 2015 akan mengusung tema GCG dalam perspektif
Penciptaaan Nilai. Tema ini merupakan kelanjutan dari tema sebelumnya dan diarahkan
pada perhatian IICG untuk mendorong perekonomian Indonesia yang berkualitas yaitu
tumbuh secara kompetitif melalui penciptaan daya saing, dan beretika dan bermartabat
melalui good corporate governance. Sampai ketemu pada Corporate Governance Perception
Index 2014 di tahun 2015.

123
124
DAFTAR PUSTAKA
Garvin, David A., 1993, Building a Learning Organization, HBR Juli-Agus 1993.
Marquardt, M.J. (2002). Building the learning organization. New York: McGraw-Hill
Senge, Peter, 1990, The Fifth Discipline: The Art in Practice the Learning Organization, USA
Suprayitno, G., 2005, Pengaruh perilaku kepemimpinan dan iklim kerja transformasional
terhadap keberhasilan perusahaan publik dalam situasi krisis di Indonesia, Disertasi
doktor tidak publikasi, Institut Teknologi Bandung, Bandung,
Suprayitno, G., S. Yasni, A. Susanty, L.H. Kusumah, Z. Abidin, M. Susandy, S. Olivia Tito, A.
Riyadi, E. Kusnawijaya, R. Poerwanto 2011, Laporan Hasil Riset & Pemeringkatan
Corporate Governance Perception Index 2010: GCG dalam Perspektif Etika, IICG,
Jakarta,
Suprayitno, G., S. Yasni, A. Susanty, L.H. Kusumah, Z. Abidin, M. Susandy, S. Olivia Tito, A.
Riyadi, E. Kusnawijaya, R. Poerwanto, T. Aryati, Z. Naimah, R. Januarita, 2012, Laporan
Hasil Riset & Pemeringkatan Corporate Governance Perception Index 2011: GCG dalam
Perspektif Risiko, IICG, Jakarta,
Suprayitno, G., S. Yasni, A. Susanty, L.H. Kusumah, Z. Abidin, M. Susandy, S. Olivia Tito, A.
Riyadi, E. Kusnawijaya, R. Poerwanto, T. Aryati, Z. Naimah, R. Januarita, Henni Gusfa,
2011, Laporan Hasil Riset & Pemeringkatan Corporate Governance Perception Index
2012: GCG dalam Perspektif Manajemen Pengetahuan, IICG, Jakarta,
Suprayitno, G., S. Yasni, A. Susanty, R.J. Arsjah, L.H. Kusumah, A. Wicaksono, Z. Abidin, M.
Susandy, S. Olivia Tito, A. Riyadi 2008, Laporan Hasil Riset & Pemeringkatan Corporate
Governance Perception Index 2007: Aktualisasi GCG sebagai Sebuah Sistem, IICG,
Jakarta,
Suprayitno, G., S. Yasni, A. Susanty, R.J. Arsjah, L.H. Kusumah, A. Wicaksono, Z. Abidin, M.
Susandy, S. Olivia Tito, A. Riyadi, 2009, Laporan Hasil Riset & Pemeringkatan Corporate
Governance Perception Index 2008: GCG dalam Perspektif Manajemen Stratejik, IICG,
Jakarta,
Suprayitno, G., S. Yasni, A. Susanty, R.J. Arsjah, L.H. Kusumah, A. Wicaksono, Z. Abidin, M.
Susandy, S. Olivia Tito, A. Riyadi, 2010, Laporan Hasil Riset & Pemeringkatan Corporate
Governance Perception Index 2009: GCG Sebagai Budaya, IICG, Jakarta,
Suprayitno, G.; S. Yasni; A. Susanty; S.R.A. Salim, 2007, Mewujudkan Good Corporate
Governance Sebagai Sebuah Sistem: Kajian dan Penyelarasannya pada BUMN, Buku
Seri Good Corporate Governance, IICG, Jakarta,
Susanty, Aries, 2008, Hubungan Antara Posisi Elemen Organisasi dengan Terwujudnya
Prinsip Good Corporate Governance, Disertasi doktor tidak publikasi, Institut Teknologi
Bandung, Bandung

125
TIM CGPI 2013

Ketua:
Dr. G. Suprayitno

Anggota: Anggota: Anggota: Anggota:


Eddy Kusnawijaya, Dr. Aries Susanty Dr. Lien H. Prof. Sedarnawati
MSi Kusumah Yasni, PhD

Anggota: Anggota: Anggota: Anggota:


Dr. Zaenal Abidin Dr. Titik Aryati Dr. Zahroh Naimah Dr. Henni Gusfa

Anggota: Anggota: Anggota: Anggota:


May Susandy, SE Siti Olivia Tito, SE, Nurul Fajriya, S.AP Putri Nur Fauziah,
MSi SE,Sy

126