Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN H5N1

OLEH :

NAMA : NI KOMANG SARI ARIYANTI

NIM : C1113050

KELAS : 4B.KEPERAWATAN

PROGRAM STUDI SI KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

BINA USADA BALI

2015

1
BAB I
KONSEP DASAR PENYAKIT

A. Difinisi
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di segala bidang semakin meningkat,
termasuk bidang kesehatan secara umum dalam bidang kesehatan masyarakat adanya
kejadian penyakit menular jenis baru salah satunya penyakit flu burung. Penyakit flu burung
saat ini telah menjadi isu global yang sangat menakutkan dan mengancam populasi baik
populasi unggas maupun populasi manusia di dunia.
Menurut Dirjen P2PL Depkes RI (2005) Avian influenza merupakan penyakit menular
pada hewan (unggas, babi, dan lain-lain) yang disebabkan oleh virus influenza tipe A
dengan manifestasi beragam, mulai dari sakit ringan hingga kematian. Avian influenza
(penyakit flu burung), yang ditularkan oleh unggas ternyata dapat menyerang manusia
(Dirjen P2PL Depkes RI 2006). Dalam operasionalisasi penentuan definisi kasus penyakit
flu burung di kelompokan menjadi tiga jenis yaitu:
1) Kasus Suspekya itu adalah seseorang yang menderita ISPA dengan gejala demam
(temperatur > 38C), batuk dan atau sakit tenggorokan dan atau ber-ingus serta dengan salah
satu keadaan: (a) seminggu terakhir mengunjungi peternakan yang sedang berjangkit KLB
flu burung, (b) kontak dengan kasus konfirmasi flu burung dalam masa penularan, (c)
bekerja pada suatu laboratorium yang sedang memproses spesimen manusia atau binatang
yang dicurigai menderita flu burung
2) Kasus Probable yaitu kasus suspek disertai salah satu keadaan: (a) bukti
laboratorium terbatas yang mengarah kepada virus influenza A (H5N1), misalnya: Test HI
yang menggunakan antigen H5N1, (b) dalam waktu singkat berlanjut menjadi pneumonia
gagal pernafasan/meninggal, (c) terbukti tidak terdapat penyebab lain
3) Kasus Konfirmasi yaitu kasus suspek atau "probable" didukung oleh salah satu hasil
pemeriksaan laboratorium; (a) kultur virus influenza H5N1 positif, (b) PCR influenza (H5)
positif, (c) peningkatan titer antibodi H5 sebesar 4 kali.
Penyakit flu burung atau flu unggas (Bird Flu, Avian influenza) adalah suatu penyakit
menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dan ditularkan oleh unggas. Penyakit
flu burung yang disebabkan oleh virus avian infuenza jenis H5N1 pada unggas di

2
konfirmasikan telah terjadi di Republik Korea, Vietnam, Jepang, Thailand, Kamboja,
Taiwan, Laos, China, Indonesia dan Pakistan. Sumber virus diduga berasal dari migrasi
burung dan transportasi unggas yang terinfeksi.

B. Epidemologi
Sampai akhir tahun 2003, HPAI dianggap sebagai penyakit yang jarang terjadi pada
unggas ternak. Sejak 1959, hanya ada 24 wabah primer di seluruh dunia yang pernah
dilaporkan. Sebagian besar terjadi di Eropa dan benua Amerika. Kebanyakan wabah tersebut
terbatas secara geografis pada daerah tertentu, dengan hanya lima kejadian yang menyebar ke
sejumlah peternakan, dan hanya satu yang dikpaorkan menyebar secara internasional. Tidak
satupun dari wabah-wabah tersebut yang mendekati ukuran wabah H5N1 di asia yang terjadi
di tahun 2004 (WHO 2004/03/02). Sampai hari ini semua wabah dalam bentuk yang sangat
patogen disebabkan oleh virus influensa A dari subtipe H5 dan H7.
Di masa lalu, perdagangan ilegal atau perpindahan unggas hidup yang terinfeksi atau
produk-produk darinya yang belum diolah, serta penyebaran virus secara mekanikal melalui
mobiltas manusia (pelancong, pengungsi, dsb) telah menjadi faktor utama dalam penyebaran
HPAIV. Dimensi baru wabah HPAI mencuat di akhir tahun 2003. Dari pertengahan
desember 2003 sampai ke awal Februari 2004, wabah yang disebabkan oleh H5N1 HPAI
garis Asia dilaporkan telah menyerang unggas di Korea Selatan, Vietnam, Jepang, Thailandf,
Kamboja, Republik Demokratik Rakyat Lao, Indonesia dan China. Kejadian wabah yang
serentak di banyak negara oleh virus influensa H5N1 yang sangat patogen pada unggas ini
belum pernah terjkadi sebelumnya. Segala upaya yang dilakukan untuk membendung wabah
ini sebegitu jauh telah gagal. Meskipun pemisahan dan pemusnahan secara pre-emptive
sudah dilakukan terhadap sekitar 150 juta unggas, H5N1 sekarang dianggap menjadi
endemik di beberapa bagian dari Indonesia (sampai akhir Maret 2006 sudah menjangkau 26
dari 31 provinsi) dan Vietnam, sebagian kamboja, China, Thailand dan mungkin juga di
Republik Demokratik Rakyat Lao. Virus awal, dijumpai untuk pertama kalinya di tahun
1997, adalah hasil proses re-assortant termasuk paling tidak sebuah virus H5N1 yang berasal
dari angsa domestik (A/goose/Guangdong/1/96, yang menumbangkan unsur HA) dan virus
H6N1 yang diduga berasal dari bebek (A/teal/Hong Kong/W312/97) yang menumbangkan
NA dan segmen-segmen untuk protein internal), yang kemudian mengalami banyak siklus re-

3
asortasi dengan virus influensa unggas lain yang tidak dikenal (Xu 1999, Hoffmann 2000,
Guan 2002b). Beberapa genotip garis H5N1 yang berbeda juga pernah dilaporkan (Cauthen
2000, Guan 2002a+2003). Apa yang disebut sebagai genotip Z telah mendominasi wabah
yang terjadi sejak desember 2003 (Li 2004). Dalam bulan April 2005, tingkat epidemi baru
terjadi ketika untuk pertama kalinya strain H5N1 dapat menulari populasi ungas-unggas liar
dalam skala besar (Chen 2005, Liu 2005). Di danau Qinghai di Barat Laut China beberapa
ribu angsa berkepala bergaris, sebuah spesies unggas berpindah, sakit dan mati terkena
infeksi virus tersebut. Beberapa spesies burung camar dan juga burung laut lain (cormorants)
juga terserang di tempat ini. Ketika di musim panas dan awal musim gugur tahun 2005,
wabah H5N1 dilaporkan untuk pertama kalinya di
wilayah yang secara geografis berdekatan dengan Mongloia, Kazakhstan dan Siberia
Selatan, timbul dugaan bahwa virus tersebut telah disebarkan oleh kawanan unggas
berpindah. Penyebaran wabah ini kemudian meluas di sepanjang jalur perpindahan unggas
dari Asia Dalam ke Timur Tengah dan Afrika, mengenai Turki, Romania, Kroasia, dan
semenanjung Krimea di akhir tahun 2005. Dalam semua kejadian (kecuali di Mongolia dan
Kroasia) wabah ini mengenai baik unggas ternak maupun unggas liar. Banyak kasus yang
dilaporkan yang mengenai unggas ternak terjadi di daerah yang berdekatan dengan danau dan
rawa-rawa yang menjadi tempat singgah unggas air liar. Meskipun hal ini memperkuat
dugaan bahwa unggas berpindah menjadi penyebar virus, patuta dicatat bahwa sejauh ini
virus HPAI H5N1 garis Asia hanya ditemukan di unggas air liar yang sakit berat atau mati.
Status H5N1 yang sebenarnya dalam populasi unggas air liar dan peranannya dalam
menyebarkan infeksi masih menjadi tanda tanya besar. Pada saat ini yang dapat diperkirakan
hanyalah bahwa unggas air liar tersebut dapat membawa virus sampai jauh selama dalam
masa inkubasi (masa tunas), atau agaknya beberapa spesies masih dapat mempertahankan
mobilitasnya meskipun sudah terinfeksi H5N1.Tetapi sementara itu, berbagai penelitian di
China telah mengungkapkan lebih banyak lagi genotip baru dari virus H5N1 garis Asia pada
burung gereja (Kou 2005). Tidak satupun burung gereja tempat virus tersebut diambil untuk
diisolasi, ataupun bebek-bebek yang dicoba diinfeksi dengan virusvirus
tersebut yang menunjukkan gejala-gejala sakit. Tetapi ketika dilakukan percobaan
penularan ke ayam, gejala infeksi H5N1 muncul sepenuhnya. Karena beberapa burung gereja
dari kawanan yang sama membawa beberapa genotipe yang berbeda, yang mungkin tumbuh

4
dari proses re-asortasi dengan virus influenza unggas lain yang tidak diketahui asalnya, maka
diperkirakan bahwa virus serupa H5N1 telah menular ke burung-burung tersebut sejak
beberapa waktu (bulan?) yang lalu. Data ini menandai adanya langkah penyebaran baru:
burung gereja, karena cara hidupnya, telah menjadi mediator ideal antara unggas liar dengan
unggas ternak dan mungkin juga secara dua arah membawa virus ke populasi unggasunggas
tersebut. Infeksi H5N1 ganas yang terjadi pada burung gereja secara individual (sakit atau
mati) di lokasi yang terbatas pernah dilaporkan dari Thailand dan Hong Kong. Endemisitas
HPAIV pada burung-burung seperti burung gereja, walet dan murai yang hidup dekat dengan
hunian manusia bukan saja dapat mendekatkan bahaya pada industri ternak unggas tetapi
juga meningkatkan risiko penularan kepada manusia (Nestorowicz 1987).

C. Etiologi
Penyebab flu burung adalah virus influenza tipe A. Virus influenza termasuk famili
Orthomyxoviridae. Virus inflenza tipe A dapat berubah-rubah bentuk (drif shift).
Berdasarkan sub tipe virus terdiri atas hemaglutinin (H) dan neuramidase (N). Kedua huruf
ini digunakan sebagai identifikasi kode sub tipe flu burung yang banyak jenisnya.
Pada manusia hanya terdapat jenis H1N1, H2N2, H3N3, H5N1, H9N2, H1N2, H7N7.
Di binatang H1- H5 dan N1-N9. Strain yang sangat virulen/ganas dan menyebabkan flu
burung adalah dari subtipe A yaitu H5N1. Dalam perkembangan virus influenza A pada
manusia mengalami evolusi (Siegel, 2006).

D. Patofisiologi dan Patway


Flu burung bisa menulari manusia bila manusia bersinggungan langsung dengan
ayam atau unggas yang terinfeksi flu burung. Virus flu burung hidup di saluran
pencernaan unggas. Unggas yang terinfeksi dapat pula mengeluarkan virus ini melalui
tinja, yang kemudian mengering dan hancur menjadi semacam bubuk. Bubuk inilah yang
dihirup oleh manusia atau binatang lainnya. Menurut WHO, flu burung lebih mudah
menular dari unggas ke manusia dibanding dari manusia ke manusia. Belum ada bukti
penyebaran dari manusia ke manusia, dan juga belum terbukti penularan pada manusia
lewat daging yang dikonsumsi.

5
Satu- satunya cara virus flu burung dapat menyebar dengan mudah dari manusia
ke manusia adalah jika virus flu burung tersebut bermutasi dan bercampur dengan virus
flu manusia. Virus ditularkan melalui saliva dan feses unggas. Penularan pada manusia
karena kontak langsung,misalnya karena menyentuh unggas secara langsung, juga dapat
terjadi melalui kendaraan yang mengangkut binatang itu, di kandangnya dan alat-alat
peternakan (termasuk melalui pakan ternak).
Penularan dapat juga terjadi melalui pakaian, termasuk sepatu para peternak yang
langsung menangani kasus unggas yang sakit dan pada
saat jual beli ayam hidup di pasar serta berbagai mekanisme lain. Secara umum, ada 3
kemungkinan mekanisme penularan dari unggas kemanusia.Dalam hal penularan dari
unggas ke manusia, perlu ditegaskan bahwa penularan pada dasarnya berasal dari unggas
sakit yang masih hidup dan menular. Unggas yang telah dimasak, digoreng dan lain-
lain,tidak menularkan flu burung ke orang yang memakannya. Virus flu burung akan mati
dengan pemanasan 80C selama 1 menit.
Penyebaran virus Avian Influenza (AI) terjadi melalui udara droplet infection di
mana virus dapat tertanam pada membran mukosa yang melapisi saluran nafas atau
langsung memasuki alveoli (tergantung dari ukuran droplet). Virus yang tertanam pada
membran mukosa akan terpajan mukoprotein yang mengandung asam sialat yang dapat
mengikat virus. Reseptor spesifik yang dapat berikatan dengan virus influenza berkaitan
dengan spesies darimana virus berasal. Virus avian influenza manusia (Human influenza
viruses) dapat berikatan dengan alpha 2,6 sialiloligosakarida yang berasal dari membran
sel di mana didapatkan residu asam sialat yang dapat berikatan dengan residu galaktosa
melaluiikatan 2,6 linkage.
Cara Penularan :
Flu burung menular dari unggas ke unggas, dan dari unggas kemanusia, melalui
air liur, lendir dari hidung dan feces. Penyakit ini juga dapat menular melalui udara yang
tercemar virus H5N1 yang berasal dari kotoran atau sekreta burung/unggas yang
menderita flu burung. Penularan dari unggas ke manusia juga dapat terjadi jika
bersinggungan langsung dengan unggas yang terinfeksi flu burung. Contohnya: pekerja
di peternakan ayam, pemotong ayam dan penjamah produk unggas lainnya.

6
Unggas yang sakit oleh Influenza A atau virus H5N1 dapat mengeluarkan virus
dengan jumlah besar dalam kotorannya. Virus itu dapat bertahan hidup di air sampai
empat hari pada suhu 22 derajad celcius dan lebih dari 30 hari pada nol derajad celcius.
Di dalam kotoran dan tubuh unggas yang sakit, virus dapat bertahan lebih lama. Virus ini
mati pada pemanasan 56 derajat Celcius dalam 3 jam atau 60 derajad celcius selama 30
menit. Bahan disinfektan fomalin dan iodine dapat membunuh virus menakutrkan ini.

Virus flu burung hidup di dalam saluran pencernaan unggas. Burung yang
terinfeksi virus akan mengeluarkan virus ini melalui saliva (air liur), cairan hidung, dan
kotoran. Avian Virus influenza avian dapat ditularkan terhadap manusia dengan 2 jalan.
Pertama kontaminasi langsung dari lingkungan burung terinfeksi yang mengandung virus
kepada manusia. Cara lain adalah lewat perantara binatang babi. Penularan diduga terjadi
dari kotoran secara oral atau melalui saluran pernapasan.

7
E. Klasifikasi
Penderita Konfirm H5N1 dapat dibagi dalam 4 kategori sesuai beratnya penyakit (MOPH
Thailand, 2005)
Derajat I : Penderita tanpa Pneumonia
Derajat II : Penderita dengan Pneumonia Derajat Sedang dan tanpa Gagal Nafas
Derajat III : Penderita dengan Pneumonia Berat dan dengan Gagal Nafas
Derajat IV :Pasien dengan Pneumonia Berat dan Acute Respiratory Distress Syndrome
(ARDS) atau dengan Multiple Organ Failure (MOF).

Ada banyak sub tipe dari virus flu ini :


a. Tipe H1N1. Sub tipe ini lebih banyak ditemukan di babi sebagai vektor utamanya.
Di kemudian hari, virus tipe ini lebih dikenal sebagai penyebab flu babi. Berbeda
dengan penyebab flu unggas, sub tipe ini justru lebih efektif ditularkan lewat
manusia. Dalam setiap bersin pasien flu babi, setidaknya terkandung 100.000 virus
H1N1. Untungnya, daya bunuh H1N1 hanya seperduabelas dari flu burung. Flu
babi hanya memiliki kemungkinan fatal sebesar 6 persen, jauh di bawah angka 80
persen mili flu unggas.
b. H1N2 adalah sub tipe berikutnya. Sub tipe ini merupakan subtipe dari virus influenza
A yang juga disebut virus flu burung. Oleh para ahli, virus ini dinyatakan sebagai
virus pandemik pada manusia dan hewan, khususnya babi.
c. H2N2 adalah sub tipe yang lainnya. Virus H2N2 ini sudah termutasi menjadi
banyak sekali variasi virus flu ini. Salah satu bentuk mutasi dari H2N2 adalah
H3N2 dan banyak lagi subtipe virus flu lainnya yang sering ditemukan pada
unggas. Virus model ini dicurigai sebagai penyebab pandemik pada manusia di
tahun 1889.
d. H2N3. Berdasarkan struktur penyusunnya, H2N3 terdiri atas proteins sebagai
casingnya, hemagglutinin (H) dan neuraminidase (N). Pada umumnya, virus ini
dapat menginfeksi manusia dan unggas.
e. Sub tipe virus Avian Influenza yang paling berbahaya. Dikenal sebagai penyebab
utama flu unggas. H5N1 adalah virus yang sangat berbahaya. Berdasarkan
penelitian para ahli, pasien yang terjangkiti virus H5N1 hanya memiliki

8
kemungkinan sembuh kurang dari 20 persen. Meskipun hanya ditularkan lewat
unggas, H5N1 merupakan pembunuh yang efektif. Daya bunuhnya 12 kali lebih
dahsyat dibanding sub tipe virus avian influenza yang lain. Virus ini merupakan
jenis virus yang bersifat epizootik atau bersifat epidemik untuk golongan di luar
manusia dan juga bersifat panzootik yang mampu mempengaruhi beragam spesies
hewan. Hasil penelitian menyebutkan bahwa virus ini sudah sukses membunuh
setidaknya 10 juta unggas di seluruh dunia serta menginfeksi ratusan juta lainnya.
Pada bulan Desember tahun 2009, badan kesehatan dunia, WHO mengumumkan
bahwa setidaknya terjadi 447 kasus flu yang terjadi pada manusia dan tingkat
kematian pada periode ini sangat tinggi, lebih dari 50 persen dengan angka
kematian mencapai 267 orang.
f. Sub tipe lain yang dianggap patogenik untuk manusia adalah H7N3, H7N7 dan
H9N2. Ketiga jenis ini dianggap sebagai virus avian influenza yang memiliki daya
rusak tingga hingga dapat membunuh pengidapnya. Menurut update terbaru dari
FAO, virus-virus ini secara perlahan tapi pasti memperkuat kemampuan merusak
mereka. Untuk virus H7N7 sendiri bisa menginfeksi manusia, burung, babi, anjing
laut serta kuda. Pada uji laboratorium, virus ini bisa mengifeksi tikus yang
digunakan dalan percobaan. Virus H9N2 merupakan jenis virus yang menginfeksi
bebek. Pada perkembangannya, virus ini juga menginfeksi manusia. Pada
Desember 2009, ditemukan kasus anak-anak terinfeksi H9N2 di Hongkong.

F. Gejala Klinis
1. Pada Manusia :
a. demam (suhu badan diatas 380 C)
b. batuk dan nyeri tenggorokan
c. radang saluran pernafasan atas

d. pneumonia
e. infeksi mata
f. nyeri dada
g. muntah, diare
h. anoreksia

9
2. Pada Unggas :
a. jenggernya berwarna biru
b. borok di kaki
c. kematian mendadak dan sangat tinggi jumlahnya mendekati 100% dalam waktu 2
hari, maksimal 1 minggu
d. adanya cairan pada mata dan hidung
e. keluar cairan jernih sampai kental dari rongga mulut
f. diare
g. haus berlebihan dan cangkang telur lembek
h. masa inkubasi sekitar seminggu

G. Manifestasi Klinis
1. Tanda dan Gejala pada manusia
Gejala flu burung pada dasarnya adalah sama dengan flu biasa lainnya, hanya
cenderung lebih sering dan cepat menjadi parah. Masa inkubasi antara mulai tertular dan
timbul gejala adalah sekitar 3 hari; sementara itu masa infeksius pada manusia adalah 1
hari sebelum, sampai 3-5 hari sesudah gejala timbul pada anak dapat sampai 21 hari.
Gejalanya suhu > 38oC, demam, batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, nyeri otot dan
sendi, sampai infeksi selaput mata ( conjunctivitis ). Bila keadaan memburuk, dapat
terjadi severe respiratory distress yang ditandai dengan sesak nafas hebat, rendahnya
kadar oksigen darah serta meningkatnya kadar CO.

2. Tanda dan Gejala pada unggas


Gejala pada unggas yang sakit cukup bervariasi, mulai dari gejala ringan (nyaris
tanpa gejala), sampai sangat berat. Hal ini tergantung dari keganasan virus,
lingkungan, dan keadaan unggas sendiri. Gejala yang timbul seperti jengger
berwarna biru, kepala bengkak, sekitar mata bengkak, demam, diare, dan tidak mau
makan. Dapat terjadi gangguan pernafasan berupa batuk dan bersin. Gejala awal
dapat berupa gangguan reproduksi berupa penurunan produksi telur. Gangguan
sistem saraf dalam bentuk depresi. Pada beberapa kasus, unggas mati tanpa gejala.

10
Kematian dapat terjadi 24 jam setelah timbul gejala. Pada kalkun, kematian dapat
terjadi dalam 2 sampai 3 hari.

H. Pemeriksaan Penunjang
No Pemeriksaan Temuan Normal
Diagnostik

1 Pemeriksaan Apusan Ditemukan virus / bakteri yang Tidak ditemukan


menyebabkan flu burung virus / bakteri yang
menyebabkan flu
burung

2 Rontgen Pemeriksaan toraks dapat Paru-paru bersih


dilihat yaitu bagi penderita (tidak ditemukan
H5N1 dan H1N1 terdapat pneumonia)
pneumonia (radang membrane
paru) akibat eksudat pada
rongga pleura yang berlebihan

3 Pemeriksaan darah Leukosit Leukosit normal


rutin baik laki-laki
Pada pasien H5N1 dan H1N1
maupun perempuan
ditemukan leukosit meningkat.
yaitu 5 10.000

Hb

Hb normal laki-laki

11
yaitu 13,5 18 g/dl

Hb normal wanita
yaitu 11,5 16 g/dl

4 Pemeriksaan PCR Tidak ditemukan


Lab.virologi virus influenza
Pemeriksaan dapat mendeteksi
adanya virus influenza

5 CT-Scan dan MRI Memeberikan gambaran khas Tidak ditemukan


yang terletak di pons dan gambaran khas
thalamus. Kelainan yang khas kelainan otak pada
yang terletak di pons dan thalamus, pons, dan
thalamus yang tampak dalam batang otak.
CT otak adalah gambaran
densitas rendah simetris di
thalamus, pons dan batang
otak. Pada pemeriksaan MRI
dengan kontras didapatkan
gambaran kelainan berbentuk
outcome
ensefalitis/ensefalopati
berhubungan dg usia penderita
& temuan CT / MRI.

I. Prognosis

12
Pasien yang diobati tamiflu , 24% sembuh dan yang tidak diobati tamiflu, 25%
sembuh. Pasien penderita flu burung dapat pulang setelah tidak mengalami demam, tidak
batuk, terdapat perbaikan foto toraks, dan pemeriksaan laboratorium yang sebelumnya
tidak normal menjadi normal. Satu minggu setelah pulang, pasien harus melakukan
kontrol ke rumah sakit yang dirujuk.

Penanganan jenazah penderita flu brurung harus secara khusus pula yaitu ditutup
dengan plastiatau bahan lain yang tidak tembus air seperti kayu atau bahan lain yang
tidakudah tercemar dan tidak boleh desemayamkan lebih dari 4 hari

Pada unggas :

1. Tingkat kematian mencapai 100% hanya dalam kurun waktu 48 jam


Pada manusia :

1. Terjadi gagal nafas dan gagal multi organ yang ditandai dengan gejala tidak
berfungsinya ginjal dan jantung, sampai dengan sepsis dan bahkan kematian.

Pemberantasan

Kebijakan Pemerintah:

1. Memberikan konpensasi bagi peternakan rakyat selama 6 bulan dari 29 Januari 30


Juli 2004 berupa DOC dan Pakan.

2. Memusnahkan semua unggas yang terserang flu burung dengan cara dibakar.

3. Mengadakan vaksinasi bagi ayam atau ternak unggas yang masih sehat.

4. Melakukan tindakan biosekuriti (pengawasan secara ketat terhadap lalu-lintas unggas


produk unggas dan limbah peternakan unggas) untuk daerah yang bebas flu burung

J. Komplikasi
1. Meningitis (aseptic meningitis, meningitis serosa/non bakterial)

13
Meningitis adalah peradangan yang terjadi pada meninges, yaitu membrane atau
selaput yang melapisi otak dan syaraf tunjang. Meningitis dapat disebabkan berbagai
organisme seperti virus, bakteri ataupun jamur yang menyebar masuk ke dalam darah
dan berpindah ke dalam cairan otak.
2. Encephalitis ( bulbar )
Encephalitis adalah suatu peradangan dari otak. Ada banyak tipe-tipe dari encephalitis,
kebanyakan disebabkan oleh infeksi-infeksi. Paling sering infeksi-infeksi ini
disebabkan oleh virus-virus. Encephalitis dapat juga disebabkan oleh penyakit-
penyakit yang menyebabkan peradangan dari otak.
3. Myocarditis (Coxsackie Virus Carditis) atau pericarditis
Myocarditis adalah peradangan pada otot jantung atau miokardium, pada umumnya
disebabkan oleh penyakit-penyakit infeksi, tetapi dapat sebagai akibat reaksi alergi
terhadap obat-obatan dan efek toxin bahan-bahan kimia dan radiasi (FKUI, 1999).
Kerusakan miokard oleh kuman-kuman infeksius dapat melalui tiga mekanisme dasar,
yaitu:
a. Invasi langsung ke miokard.
b. Proses immunologis terhadap miokard.
c. Mengeluarkan toksin yang merusak miokardium.
4. Paralisis akut flaksid

5. Pneumonia ( peradangan paru )

Penyakit pada paru-paru dengan kondisi pulmonary alveolus (alveoli) yang


bertanggung jawab menyerap oksigen dari atmosfer meradang dan terisi oleh cairan.
Radang paru-paru dapat disebabkan oleh beberapa penyebab,
termasuk infeksi oleh bakteria, virus, jamur, ataupasilan (parasite). Radang paru-paru
dapat juga disebabkan oleh kepedihan zat-zat kimia atau cedera jasmani pada paru-
paru atau sebagai akibat dari penyakit lainnya, seperti kanker paru-paru atau
berlebihan minum alkohol.
6. Kematian
Terjadi jika mengalami gagal nafas akut

14
K. Penatalaksanaan
1. Pengobatan
Dapat bersifat simptomatik sesuai gejala yang ada; jika batuk dapat diberi obat
batuk dan jika sesak dapat diberi bronkodilator. Pasien juga harus mendapat terapi
suportif, makanan yang baik dan bergizi, jika perlu diinfus dan istirahat cukup.
Secara umum daya tahan tubuh pasien haruslah ditingkatkan.
Selain itu dapat pula diberikan obat anti virus. Ada 2 jenis yang tersedia :
kelompok M2 inhibitors yaitu amantadine dan rimantadine serta kelompok dari
neuraminidase inhibitors yaitu oseltamivir dan zanimivir. Amantadine dan
rimantadine diberikan pada awal penyakit, 48 jam pertama selama 3-5 hari, dengan
dosis 5 mg/kg bb./ hari, dibagi 2 dosis, artinya, jika penderita memiliki 30 kg, maka
diberikan amantadine dan rimantidine sebanyak 30 x 5 gr = 150 gr, yang dosisnya
dibagi menjadi 2 kali sehari, mejadi 75 gr per 12 jam. Jika berat badan lebih dari 45
kg diberikan 100 mg 2 kali sehari. Sedangkan oseltamivir diberikan 75 mg, 1 kali
sehari selama 1 minggu.

2. Pencegahan
Kebiasaan pola hidup sehat tetap berperanan penting. Secara umum pencegahan flu
tentunya tetap menjaga daya tahan tubuh, makan yang seimbang dan bergizi,
istirahat teratur dan olahraga teratur. Penanggulangan terbaik saat ini memang
berupa penanganan langsung pada unggas yaitu pemusnahan unggas atau burung
yang terinfeksi flu burung, dan vaksinasi unggas yang sehat.
a. Pencegahan pada manusia
1) Kelompok berisiko tinggi ( pekerja peternakan dan pedagang )
a) Mencuci tangan dengan desinfektan dan mandi sehabis bekerja.
b) Hindari kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi flu burung.
c) Menggunakan alat pelindung diri ( contoh : masker dan pakaian kerja ).
d) Meninggalkan pakaian kerja di tempat kerja
e) Bahan yang berasal dari saluran cerna unggas, seperti tinja harus
ditatalaksana dengan baik ( ditanam atau dibakar ) agar tidak menjadi
sumber penularan bagi orang di sekitarnya.

15
f) Kandang dan tinja tidak boleh dikeluarkan dari lokasi peternakan.
g) Alat-alat yang digunakan dalam peternakan harus dicuci dengan
desinfektan.
h) Bersihkan kandang dan alat transportasi yang membawa unggas.
i) Lalu lintas orang keluar masuk kandang dibatasi.
j) Imunisasi unggas yang sehat

2) Masyarakat
a. Menjaga daya tahan tubuh dengan makan makanan bergizi dan istirahat
cukup.
b. Tidak mengimpor daging ayam dari tempat yang diduga terkena wabah
avian flu
c. Mengolah unggas dengan cara yang benar, yaitu :
(1) Pilih unggas yang sehat (tidak terdapat gejala-gejala penyakit di
tubuhnya).
(2) Memasak daging ayam sampai dengan suhu 80C selama 1 menit dan
telur sampai dengan suhu 64C selama 5 menit.

16
BAB II

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

A. Pengkajian Umum
Data tergantung pada tahap penyakit dan darajat yang terkena

AKTIVITAS / ISTIRAHAT

Gejala : Kelelahan umum & kelemahan

Nafas pendek saat bekerja

Kesulitan tidur pada malam / demam malam hari, mengigil dan berkeringat

Mimpi buruk

Tanda : Dipsnea pada saat kerja

Kelelahan otot, nyeri, dan sesak ( tahap lanjut)

INTEGRITAS EGO

Gejala : Adanya / faktor stress

Masalah keuangan

Perasaan tak berdaya

Tanda : Menyangkal ( khususnya selama tahap dini)

Ansietas, ketakutan, mudah terangsang

MAKANAN / CAIRAN

Gejala : Kehilangan nafsu makan

Anoreksia

17
Tak dapat mencerna

Penurunan berat badan

Tanda : Turgor kulit buruk, kering / kulit berisisik

Kehilangan otot / hilang lemak subkutan

NYERI / KENYAMANAN

Gejala : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang

Tanda : Berhati-hati pada area yang sakit

Perilaku distraksi, gelisah

PERNAPASAN

Gejala : Batuk produktif / tak produktif

Napas pendek

Riwayat H5N1 & H1N1 / terpajan pada individu terinfeksi

Tanda : Peningkatan frekuensi pernapasan

Perkusi pekak dan penurunan fremitus. Bunyi napas: menurun / tak ada
secara bilateral /unilateral.

Bunyi napas tubuler. Karakteristik sputum : hijau / purulen, mukoid


kuning.

Tak perhatian, mudah terangsang, dan perubahan mental ( tahap lanjut)

KENYAMANAN

Gejala : Adanya kondisi penekanan imun, contoh AIDS, kanker

Tes HIV positif

Tanda : Demam tinggi / sakit panas akut

18
INTERAKSI SOSIAL

Gejala : Perasaan isolasi / penolakan karena penyakit menular

Perubahan pola biasa dalam tanggung jawab / perubahan kapasitas fisik


untuk melaksanakan peran.

PENYULUHAN / PEMBELAJARAN

Gejala : Riwayat keluarga H5N1 / H1N1

Ketidakmampuan umum / status kesehatan buruk

Gagal untuk membaik / kambuhnya penyakit

Tidak berpartisipasi dalam terapi

B. Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan napas tidak efektif b/d penumpukan sekret
2. Pola napas tdk efektif b/d penurunan suplai oksigen
3. Gangguan keseimbangan cairan b/d output cairan berlebihan

4. Gangguan keseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d absorbsi nutrisi tak
adekuat.

5. Hipertermi b/d perubahan pada regulasi temperatur

6. Resiko syok hipovolemik b/d kekurangan cairan

C. INTERVENSI
No Dx. Keperawatan Tujuan & KH Intervensi Rasional

19
1. Bersihan jalan Dalam waktu 1x 30 Pemeriksaan fisik Ronchi menunjukkan
napas tidak efektif menit, jalan napas
dengan cara adanya gangguan
b/d penumpukan kembali efektif.
auskultasi
sekret pernafasan akibat atas
KH : sesak berkurang,
mendengarkan suara
bunyi weezing pd nafas cairan atau sekret yang
berkurang, nyeri dada nafas (adanya
menutupi sebagian dari
berkurang, sekresi ronchi).
hidung berkurang, saluran pernafasan
frek.nafas mulai
sehingga perlu
optimal.
dikeluarkan untuk

mengoptimalkan jalan

nafas.

Secara anatomi posisi

kepala ekstensi
Bebaskan jalan nafas
merupakan cara untuk
dengan mengatur
posisi meluruskan rongga

kepala ekstensi. pernafasan sehingga

proses respiransi tetap

berjalan lancar dengan

menyingkirkan

pembuntuan jalan
nafas.

20
Tindakan bantuan

Bersihkan saluran untuk mengeluarkan


nafas
sekret, sehingga
dari sekret dan lendir
mempermudah proses

respirasi

2. Pola napas tdk Setelah dilakukan Auskultasi bunyi Bunyi napas sering
efektif b/d asuhan keperawatan 1x napas,
menurun pada dasar
penurunan suplai 30 menit, pola napas
catat area yang
oksigen kembali efektif. paru berhubungan
menurun, ada
KH : Sesak berkurang, dengan terjadinya
tidaknya
frek. Napas mulai
atelektasis. Bunyi
optimal (16-20x /mnt). bunyi napas, dan
adanya tambahan seperti

bunyi tambahan crackels/ronchi dapat

menunjukkan

akumulasi cairan atau

obstruksi jalan napas

parsial

Tinggikan kepala Merangsang fungsi

21
tempat pernapasan atau

tidur, letakkan posisi ekspansi paru, efektif

duduk semi fowler, pada pencegahan dan

bantu peningkatan kongesti paru

waktu tidur

Evaluasi frekuensi Kecepatan upaya


pernapasan, catat mungkin meningkatkan
upaya
nyeri, takut, demam,
pernapasan, catat
menurunkan volume
adanya
respirasi, akumulasi
dispnea
secret dan hipoksia,

penurunan kecepatan

dapat terjadi dari

penggunaan analgesic

berlebihan

Catat respon pada


Catat keefektifan terapi
pelatihan napas
dalam atas kebutuhan untuk

atau pengobatan pemilihan intervensi

pernapasan lain, lebih agresif

22
catat

bunyi napas sebelum

atau sesudah
pengobatan

Kolaborasi
Melihat kemajuan
Kaji ulang laporan kondisi tubuh klien
foto

dada dan
pemeriksaan

laboratorium setelah

indikasi

3. Gg.keseimbangan Dalam waktu 1x 30 Rencanakan target Mempermudah


cairan b/d output menit, kebutuhan cairan
pemberian asupan memantauan kondisi
cairan berlebihan tubuh pasien terpenuhi.
cairan
klien
KH : Nafsu makan
bertambah, pasien
tampak segar, sakit
kepala berkurang, sakit
Kaji pemahaman
tenggorokan berkurang, Pemahaman tentang
klien tentang alasan
frek. BAB dalam batas alasan tersebut
mempertahankan
normal (2/3 x sehari),
hidrasi yg adekuat membantu klien dalam
feses tidak encer, bibir
tampak lembab, turgor mengatasi gangguan

23
kulit baik, kulit lembab, Catat intake dan
mata tdk cekung. output cairan
Untuk mengetahui

perkembangan status

cairan klien
Pantau intake per
oral
Untuk mengontrol

intake cairan klien

Pantau output cairan


Untuk mengetahui

perkembangan status

cairan klien

4. Gg.keseimbangan Dalam waktu 1x 30 Kaji riwayat nutrisi, Mengidentifikasi


nutrisi kurang dari menit, kebutuhan nutrisi
termasuk makanan defisiensi, sehingga
kebutuhan tubuh terpenuhi.
yang disukai mempermudah
b/d absorbsi
KH : Pasien tampak melaksanakan
nutrisi tak adekuat
segar, ada nafsu makan, intervensi
mual dan muntah
berkurang, anoreksia
hilang, dapat mencerna Mengawasi masukan

24
dan menelan makanan, Observasi dan catat kalori atau kualitas
berat badan bertambah.
masukan makanan kekurangan konsumsi

pasien makanan

Makan sedikit dapat

Berikan makan menurunkan kelemahan


sedikit
dan meningkatkan
dan frekuensi sering
pemasukan
dan/atau makan di

antara waktu makan


Meningkatkan nafsu

makan dan pemasukan


Berikan dan bantu
oral, menurunkan
higiene mulut yang
pertumbuhan bakteri,
baik;
meminimalkan
sebelum dan sesudah
kemampuan infeksi
makan, gunakan
sikat

gigi halus untuk

penyikatan yang
lembut
Membantu dalam

membuat rencana diet


Kolaborasi
untuk memenuhi

25
Konsul pada ahli kebutuhan individual
gizi

Meningkatkan

efektivitas program

pengobatan, termasuk
Pantau pemeriksaan
sumber diet nutrisi
laboratorium seperti
yang dibutuhkan
Hb,

Hct, BUN, Albumin,

Protein, Transferin,
Besi

Serim, B12, Asam


Folat, TIBC,
Elektrolit Serum

5. Hipertermi b/d Dalam waktu 1x 60 Observasi tanda- Menentukan langkah


perubahan pada menit, suhu tubuh dalam tanda
intervensi selanjutnya
regulasi batas normal.
vital terutama suhu
temperature
KH : demam
tubuh
hilang/berkurang, dapat
beristirahat pd malam
Suhu ruangan harus di
hari, wajah tampak
Pantau suhu
segar, mata tidak ubah untuk
lingkungan
cekung, bibir lembab.
mempertahankan suhu

normal

26
Pantau intake dan Pemahaman tentang
output
alasan tersebut
Cairan
membantu klien dalam

mengatasi gangguan

Jelaskan kepada
Untuk mengetahui
klien
perkembangan status
pentingnya
cairan klien
mempertahankan
intake

cairan adekuat

Kolaborasi Digunakan untuk

Berikan antipireutik mengurangi demam

seperti aspirin atau dengan aksisentralnya

asetaminoven pada hipotalamus

meskipun demam dapat

bergun untuk

27
mengatasi

pertumbuhan

organisme dan

meningkatkan

autoimun dari sel-


selyang terinfeksi

6. Resiko syok Setelah dilakukan Kaji turgor kulit, Indikator tidak


hipovolemik b/d asuhan keperawatan 1x membrane mukosa langsung dari status
kekurangan cairan 60 cairan tubuh pasien & rasa haus cairan
terpenuhi.

KH: Pasien tampak


Pantau tanda-tanda Indikator dari volume
segar, turgor kulit baik,
vital, termasuk CVP cairan sirkulasi
mata tidak cekung, kulit
bila terpasang, catat
lembab, tanda2 vital
hipertensi, termasuk
stabil.
perubahan postural

Pantau pemasukan
oral & memasukan
Mempertahankan
cairan sedikitnya
keseimbangan cairan
2500 ml/hari

Ukur haluran &


berat jenis urine

Peningkatan berat jenis


urine menunjukan

28
perubahan perfusi
ginjal / volume
sirkulasi

Timbang berat
Melihat peningkatan
badan
asupan makanan yg
diberikan

Mendukung /
memperbesar volume
Berikan cairan /
sirkulasi, terutama
elektrolit
pemenuhan oral tak
adekuat

Menigkatkan
kebutuhan metabolisme

Catat peningkatan
suhu dan durasi
demam. Berikan
kompres hangat
sesuai indikasi.
Pertahankan
kenyamanan suhu

29
lingkungan

Mengurangi insiden
muntah untuk
Berikan obat-obatan
mengurangi kehilangan
sesuai indikasi :
cairan / elektrolit lanjut
Antiemetik.
mis.prokloperazin
maleat (compazine);
trimetobenzamid
(Tigan);
metaklopramid
(Reglan).

D. EVALUASI
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang
menandakan seberapa jauh diagnose keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaannya
berhasil dicapai. Evaluasi bisa bersifat formatif yaitu dilakukan terus-menerus untuk menilai
setiap hasil yang telah di capai. Dan bersifat sumatif yaitu dilakukan sekaligus pada akhir
dari semua tindakan keparawatan yang telah dilakukan. Melalui SOAP kita dapat
mengevaluasi kembali
S : Respon pasien saat dilakukannya implementasi atau asukan keperawatan pada tahap
akhir
O : Catatan perkembangan pasien oleh perawat saat melakukan asuhan keperawatan tahap
akhir
A : Tercapai atau tidaknya tujuan asuhan keperawatan
P : Mempertahankan kondisi pasien jika tujuan asuhan keperawatan tercapai dan lanjutkan
intervensi jita tujuan belum tercapai

30
Daftar Pustaka

http://ocw.usu.ac.id/course/download/128-Kesehatan-Anak/kesehatan_anak_slide_flu_burung_-
_avian_flu_-_avian_influenza_-_bird_flu.pdf

http://www.researchgate.net/profile/Maksum_Radji/publication/261914456_REVIEW_ARTIKE
L_AVIAN_INFLUENZA_A_(H5N1)__PATOGENESIS_PENCEGAHAN_DAN_PENYEBAR
AN_PADA_MANUSIA/links/0c960535f3e00bedab000000.pdf

http://e-journal.kopertis4.or.id/file/13.%20Penyakit%20Flu%20Burung.pdf

Padila. 2012. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta: Nuha Medika

Hidayat, A.A, Aziz. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi Konsep & Proses
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika

Nanda Internasional. 2010. Diagnosa Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2009-2011. Jakarta:
EGC

Kusuma.Hardi & Amin Huda NUrarit. 2012. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
NANDA. Yogyakarta: Media Hardy

Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan
Kriteria Hasil NOC, Ed.7.alih bahasa Widyawati.Jakarta: EGC

Masjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapiu

31