Anda di halaman 1dari 15

Hukum Waris Dalam Masyarakat Adat Minangkabau

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Minangkabau merupakan kumpulan etnik Nusantara yang berbahasa dan menjunjung adat
Minangkabau. Wilayah penganut kebudayaan Minangkabau meliputi Sumatera Barat, separuh darat
Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, bagian selatan Sumatera Utara dan barat daya Aceh.[1]
Kebudayaan mereka menganut aturan tertib hukum ibu (matrilineal), mulai dari lingkungan hidup yang
kecil, dari keluarga, sampai kepada lingkungan hidup yang paling atas yaitu sebuah nagari sehingga
dapat dilihat bahwa faktor turunan darah menurut garis ibu.[2]

Istilah adat biasanya digabungkan dengan istilah lain, yaitu hukum, sehingga menimbulkan terjemahan
istilah baru yaitu hukum adat[3] . Hukum Adat merupukan terjemahan dari Adatrecht yang
dikemukakan oleh Prof. Snouck Hurgronje, hukum adat adalah hukum yang tidak tertulis dan hidup
didalam masyarakat suatu adat tertentu. Hukum adat yang sifatnya tidak tertulis menjadikan hukum adat
bersifat dinamis, sehingga mudah menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Hukum waris minangkabau yang merupakan bagian dari hukum adat mengikuti tertib susunan menurut
hukum ibu, maka ahli waris menurut hukum adat minangkabau dihitung dari garis keturunan ibu.
Pengertian ahli waris baru akan muncul ketika telah ada harta peninggalan yang ditinggalkan oleh
pewaris yang telah meninggal dunia. Bagaimana asas asas serta penentuan ahli waris dalam hukum
adat Minangkabau akan kami bahas dalam bagian selanjutnya dalam makalah ini.

B. Rumusan Masalah

Dalam makalah ini penulis merumuskan beberapa hal yang akan di kaji meliputi pengertian hukum adat,
asas asas hukum kewarisan Minangkabau, dan ahli waris dalam sistem kewarisan Minangkabau.

Pembahasan

A. Tinjauan Umum Masyarakat Adat Minangkabau

Minangkabau merupakan suatu kesatuan lingkungan masyarakat adat yang diperkirakan terletak di
sumatera barat, di katakan diperkirakan karena pengertian Minangkabau tidak sama persis halnya
dengan sumatera barat. Minangkabau lebih banyak mengandung makna sosial kultural, sedangkan kata
Sumatera Barat mengandung makna geografis administratif.[4]

Minangkabau dan kebudayaannya telah ada sebelum masuknya islam, hindu, dan budha ke Nusantara.
Nenek moyang suku bangsa Minangkabau berasal dari percampuran antara bangsa Melayu tua yang
telah datang pada zaman Neoliticum dengan bangsa Melayu muda yang beru muncul kemudian pada
zaman perunggu, kedua bangsa ini masih satu rumpun dengan bangsa Astronesia.[5] Sebelum masuknya
pengaruh dari lua, rminangkabau telah mencapai puncaknya dengan kepribadain yang kokoh. Sehingga
kebudayaan luar tidak mudah untuk memasukkan pengaruhnya, penerimaan keudayaan dari luar
dilakukan secara selektif. Sehingga kebudayaan yang tidak sesuai dengan falsafah adat Minangkabau
akan musnah dan lenyap dengan sendirinya.

B. Hukum Kewarisan Adat

Syarat beralihnya suatu harta orang yang meninggal dunia kepada orang yang masih hidup adalah
adanya hubungan kekerabatan diantara keduanya, hubungan kekerabatan ini muncul akibat dari adanya
hubungan darah atau pun perkawinan. Seorang anak yang lahir dari rahim ibunya akan secara alamiah
memiliki hubungan kekerabatan dengan ibunya dan saudara saudara lain yang dilahirkan oleh ibunya.
Dengan begitu terbentuklah kekerabatan menurut garis ibu (materilineal).

Berdasarkan hubungan perkawinan seorang istri merupakan ahli waris dari suaminya, dan suami adalah
ahli waris bagi istrinya. Hubungan kewarisan antara suami dan istri ini mulai berlaku bilamana telah
dilangsungkan akad nikah yang sah, yang sesuai dengan rukun dan syarat masing masing agama dan
kepercayaan serta terhindar dari sesuatu hal yang menghalangi.[6]

C. Asas Asas Hukum Kewarisan

Hukum adat Minangkabau memiliki asas-asas tertentu dalam kewarisan, dimana asas-asas tersebut
bersandar pada sistem kekerabatan dan kehartabendaan, karena hukum kewarisan suatu masyarakat,
karena hukum kewarisan suatu masyarakat ditentukan oleh struktur kemasyarakatan.[7]

Kewarisan didasarkan pada sistem struktur kemasyarakatan dikarenakan kewarisan merupakan proses
perpindahan sesuatu hal baik yang berwujud benda ataupun tidak dari satu generasi ke generasi
berikutnya didalam satu keluarga. Pengertian keluarga didasarkan pada perkawinan, karena perkawinan
merupakan proses awal terbentuknya sebuah keluarga.[8] Dengan demikian kekeluargaan dan
perkawinan menentukan bentuk sistim kemasyarakatan.

Adat Minangkabau memiliki pengertian tersendiri tentang kekeluargaan dan tata cara perkawinan, dari
dua hal ini kemudian timbul ciri khas struktur kemasyarakat minangkabau yang menimbulkan asas atau
bentuk yang khas atau berbeda di dalam sistem kewarisan. Beberapa asas pokok dalam hukum
kewarisan adat Minangkabau adalah sebagai berikut :

a. Asas Unilateral

Yang dimaksud asas Unilateral adalah hak kewarisan yang hanya berlaku dalam satu garis kekerabatan,
dan satu garis kekerabatan disini adalah garis kekerabatan ibu. Harta pusaka dari atas diterima dari
nenek moyang hanya melalui garis ibu kebawah diteruskan kepada anak cucu melalui anak perempuan,
sama sekali tidak ada yang melalui garis laki laki baik ke atas maupun kebawah.

b. Asas Kolektif

Asas ini brarti bahwa yang berhak atas harta pusaka bukan lah orang perorangan, tetapi suatu kelompok
secara bersama-sama. Berdasarkan asas ini maka harta tidak dibagi bagi dan disampaikan kepada
kelompok penerimanya dalam bentuk kesatuan yang tidak terbagi. Dalam bentuk harta pusaka tinggi
adalah wajar bila diteruskan secara kolektif, karena pada waktu penerimaannya juga secara kolektif.
Harta pusaka rendah masih dapat dikenal olehpemiliknya yang oleh si pemilik diperoleh berdasarkan
pencahariannya. Harta dalam bentuk ini pun diterima secara kolektif oleh generasi berikutnya.

c. Asas Keutamaan

Asas keutamaan berarti bahwa dalam penerimaan harta pusaka atau penerimaan peranan untuk
mengurus harta pusaka, terdapat tingkatan- tingkatan yang menyebabkan satu pihak lebih berhak
dibanding yang lain dan selama yang berhak itu masih ada maka yanag lain belum akan menerimanya.

Memang asas keutamaan ini dapat berlaku dalam setiap sistem kewarisan, mengingat keluarga atau
kaum itu berbeda tingkat jauh dekatnya dengan pewaris. Tetapi asas keutamaan dalam hukum kewarisan
Minangkabau mempunyai bentuk sendiri. Bentuk tersendiri ini disebabkan oleh bentuk - bentuk lapisan
dalam sistem kekerabatan matrilineal minangkabau.[9]

D. Ahli Waris

Pengertian ahli waris disini adalah orang atau orang orang yang memiliki peranan dalam pengurusan
harta. Menurut adat minangkabau pemegang harta secara praktis adalah perempuan, karena
ditangannya terpusat kekerabatan matrilineal.[10] Dalam beberapa literatur tradisional adat yaitu
tambo, dijelaskan bahwa menurut asalnya warisan adalah untuk anak sebagaimana berlaku dalam
sistem kewarisan sistem parental.

Sedangkan ahli waris atas harta pencaharian seseorang yang tidak mempunya anak dan istri adalah
ibunya, apabila ibu sudah tidak ada maka hak tersebut turun kepada saudaranya yang perempuan, dan
selanjutnya kepada keponakan yang semuanya berada dirumah ibunya.[11] Adat Minangkabau tidak
mengakui adanya kewarisan istri terhadap harta mendiang suaminya begitu pula sebaliknya.[12] Hal ini
didasarkan pada ketentuan bahwa harta tidak boleh beralih keluar kaum, sedangkan suami atau istri
berada diluar lingkungan kaum berdasarkan perkawinan eksogami. Namun dalam perkembangannya,
setelah islam masuk ke Minangkabau barulah dikenal hak kewarisan janda atau duda, itu pun tertentu
pada harta pencaharian (harta yang diperoleh suami isteri selama mereka masih dalam ikatan
perkawinan).

.
Kesimpulan

Minangkabau merupakan etnis yang menganut tertib aturan hukum ibu (materilineal), dimana dalam
pembagain waris secara praktis ditentukan bahwa ahli waris diberikan hanya melalui satu garis
keturunan ibu kebawah diteruskan kepa anak cucu melalui anak perempuan, sama sekali tidak ada yang
melalui garis laki-lak baik ke atas maupun kebawah.

1.Apa sistem kekerabatan yang berlaku di Minangkabau?

2.Apa yang dimaksud dengan sistem kekerabatan matrilineal?

3.Apa ciri-ciri sistem kekerabatan matrilineal?

4.Bagaimana peran dan kedudukan wanita di minang menurut sistem kekerabatan matrilimeal?

5.Bagaimana peran dan tanggung jawab laki-laki di minang?

BAB II ISI

2.1 Sistem Kekerabatan Yang Berlaku di Minangkabau

Masyarakat minangkabau menganut sistem kekerabatan matrilineal. Sistem matrilineal adalah suatu
sistem yang mengatur kehidupan dan ketertiban suatu masyarakat yang terikat dalam suatu jalinan
kekerabatan dalam garis ibu. Seorang anak laki-laki atau perempuan merupakan klen dari perkauman
ibu.Ayah tidak dapat memasukkan anaknya ke dalam sukunya sebagaimana yang berlaku dalam sistem
patrilineal.Dengan kata lain seorang anak di minangkabau akan mengikuti suku ibunya.

Segala sesuatunya diatur menurut garis keturunan ibu.Tidak ada sanksi hukum yang jelas mengenai
keberadaan sistem matrilineal ini, artinya tidak ada sanksi hukum yang mengikat bila seseorang
melakukan pelanggaran terhadap sistem ini. Sistem ini hanya diajarkan secara turun temurun kemudian
disepakati dan dipatuhi, tidak ada buku rujukan atau kitab undang-undangnya. Namun demikian, sejauh
manapun sebuah penafsiran dilakukan atasnya, pada hakekatnya tetap dan tidak beranjak dari fungsi
dan peranan perempuan itu sendiri.

2.2 Ciri-ciri Sistem Kekerabatan Matrilineal

Adapun karakteristik dari sistem kekerabatan matrilineal adalah sebagai berikut:

1.Keturunan dihitung menurut garis ibu.

2. Suku terbentuk menurut garis ibu

Seorang laki-laki di minangkabau tidak bisa mewariskan sukunya kepada anaknya.Jadi jika tidak ada anak
perempuan dalam satu suku maka dapat dikatakan bahwa suku itu telah punah.
3. Tiap orang diharuskan kawin dengan orang luar sukunya (exogami)

Menurut aturan adat minangkabau seseorang tidak dapat menikah dengan seseorang yang berasal dari
suku yang sama . Apabila hal itu terjadi maka ia dapat dikenakan hukum ada, seperti dikucilkan dalam
pergaulan.

4. Yang sebenarnya berkuasa adalah saudara laki-laki

Yang menjalankan kekuasaan di minangkabau adalah laki-laki ,perempuan di minangkabau di posisikan


sebagai pengikat ,pemelihara ,dan penyimpan harta pusaka.

5. Perkawinan bersifat matrilokal, yaitu suami mengunjungi rumah istrinya

6. Hak-hak dan pusaka diwariskan oleh mamak kepada kemenakannya dan dari saudara laki-laki ibu
kepada anak dari saudara perempuan.

2.3 Peran dan Kedudukan Wanita di Minangkabau

Pada dasarnya sistem matrilineal bukanlah untuk mengangkat atau memperkuat peranan perempuan,
tetapi sistem itu dikukuhkan untuk menjaga, melindungi harta pusaka suatu kaum dari kepunahan, baik
rumah gadang, tanah pusaka dan sawah ladang.

Dalam sistem matrilineal perempuan diposisikan sebagai pengikat, pemelihara dan penyimpan,
sebagaimana diungkapkan pepatah adatnya amban puruak atau tempat penyimpanan. Itulah sebabnya
dalam penentuan peraturan dan perundang-undangan adat, perempuan tidak diikut sertakan.
Perempuan menerima bersih tentang hak dan kewajiban di dalam adat yang telah diputuskan
sebelumnya oleh pihak ninik mamak.

Perempuan menerima hak dan kewajibannya tanpa harus melalui sebuah prosedur apalagi bantahan.

Hal ini disebabkan hak dan kewajiban perempuan itu begitu dapat menjamin keselamatan hidup mereka
dalam kondisi bagaimanapun juga. Semua harta pusaka menjadi milik perempuan, sedangkan laki-laki
diberi hak untuk mengatur dan mempertahankannya.

Perempuan tidak perlu berperan aktif seperti ninik mamak. Perempuan minangkabau yang memahami
konstelasi seperti ini tidak memerlukan lagi atau menuntut lagi suatu prosedur lain atas hak-haknya.
Mereka tidak memerlukan emansipasi lagi, mereka tidak perlu dengan perjuangan gender, karena sistem
matrilineal telah menyediakan apa yang sesungguhnya diperlukan perempuan.

2.4. Peran dan Kedudukan Laki-laki di Minangkabau


Kedudukan laki-laki dan perempuan di dalam adat Minangkabau berada dalam posisi seimbang. Laki-laki
punya hak untuk mengatur segala yang ada di dalam perkauman, baik pengaturan pemakaian maupun
pembagian harta pusaka. Perempuan sebagai pemilik dapat mempergunakan semua hasil itu untuk
keperluannya anak beranak.

Peranan laki-laki di dalam dan di luar kaumnya menjadi sesuatu yang harus dijalankannya dengan
seimbang dan sejalan. Adapun peranan laki-laki di minangkabau terbagi atas:

2.4.1 Sebagai Kemenakan

Di dalam kumnya seorang laki-laki berawal sebagai kemenakan. Sebagai kemenakan dia harus mematuhi
segala aturan yang ada di dalam kaum. Belajar untuk mengetahui semua aset kaumnya dan semua
anggota keluarga kaumnya.

Oleh karena itu, ketika seseorang berstatus menjadi kemenakan, dia selalu disuruh ke sana ke mari untuk
mengetahui segala hal tentang adat dan perkaumannya.

Dalam kaitan ini, peranan surau menjadi penting, karena surau adalah sarana tempat mempelajari
semua hal itu baik dari mamaknya sendiri maupun dari orang lain yang berada di surau tersebut. Dalam
menentukan status kemenakan sebagai pewaris sako dan pusako, anak kemenakan dikelompokan
menjadi tiga kelompok:

a. Kemenakan di bawah daguak

Kemenakan di bawah daguak adalah penerima langsung waris sako dan pusako dari mamaknya

b. Kemenakan di bawah pusek

Kemenakan di bawah pusek adalah penerima waris apabila kemenakan di bawah daguak tidak ada
(punah).

c. Kemenakan di bawah lutuik

Kemenakan di bawah lutuik, umumnya tidak diikutkan dalam pewarisan sako dan pusako kaum.

2.4.2 Sebagai Mamak

Pada giliran berikutnya, setelah dia dewasa, dia akan menjadi mamak dan bertanggung jawab kepada
kemenakannya. Mau tidak mau, suka tidak suka, tugas itu harus dijalaninya. Dia bekerja di sawah
kaumnya untuk saudara perempuannya anak-beranak yang sekaligus itulah pula kemenakannya. Dia
mulai ikut mengatur, walau tanggung jawab sepenuhnya berada di tangan mamaknya yang lebih tinggi,
yaitu penghulu kaum

2.4.3 Sebagai Penghulu

Selanjutnya, dia akan memegang kendali kaumnya sebagai penghulu. Gelar kebesaran diberikan
kepadanya, dengan sebutan datuk. Seorang penghulu berkewajiban menjaga keutuhan kaum, mengatur
pemakaian harta pusaka. Dia juga bertindak terhadap hal-hal yang berada di luar kaumnya untuk
kepentingan kaumnya.

Setiap laki-laki terhadap kaumnya selalu diajarkan; kalau tidak dapat menambah (maksudnya harta
pusaka kaum), jangan mengurangi (maksudnya, menjual,menggadai atau menjadikan milik sendiri).
Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa peranan seorang laki-laki di dalam kaum disimpulkan dalam
ajaran adatnya:

Tagak badunsanak mamaga dunsanak

Tagak basuku mamaga suku

Tagak ba kampuang mamaga kampuang

Tagak ba nagari mamaga nagari

2.4.4 Peranan Laki-laki di Luar Kaum

Selain berperan di dalam kaum sebagai kemanakan, mamak atau penghulu, seorang anak lelaki setelah
dia kawin dan berumah tangga, dia mempunyai peranan lain sebagai tamu atau pendatang di dalam
kaum isterinya. Artinya di sini, dia sebagai duta pihak kaumnya di dalam kaum istrinya, dan istri sebagai
duta kaumnya pula di dalam kaum suaminya.Satu sama lain harus menjaga kesimbangan dalam berbagai
hal, termasuk perlakuan-perlakuan terhadap anggota kaum kedua belah pihak. Di dalam kaum istrinya,
seorang laki-laki adalah sumando (semenda). Sumando ini di dalam masyarakat Minangkabau dibuatkan
pula beberapa kategori;

a. Sumando ninik mamak

Artinya, semenda yang dapat ikut memberikan ketenteraman pada kedua kaum; kaum istrinya dan
kaumnya sendiri. Mencarikan jalan keluar terhadap sesuatu persoalan dengan sebijaksana mungkin. Dia
lebih berperan sebagai seorang yang arif dan bijaksana.Sikap ini yang sangat dituntut pada peran setiap
sumando di minangkabau
b. Sumando kacang miang

Artinya, sumando yang membuat kaum istrinya menjadi gelisah karena dia memunculkan atau
mempertajam persoalan-persoalan yang seharusnya tidak dimunculkan.Sikap seperti ini tidak boleh
dipakai.

c. Sumando lapik buruk

Artinya, sumando yang hanya memikirkan anak istrinya semata tanpa peduli dengan persoalan-persoalan
lainnya.

Dikatakan juga sumando seperti seperti itu sumando apak paja, yang hanya berfungsi sebagai tampang
atau bibit semata. Sikap seperti ini juga tidak boleh dipakai dan harus dijauhi.Sumando tidak punya
kekuasan apapun di rumah istrinya, sebagaimana yang selalu diungkapkan dalam pepatah petitih:

Sadalam-dalam payo

Hinggo dado itiak

Sakuaso-kuaso urang sumando

Hinggo pintu biliak

Sebaliknya, peranan sumando yang baik dikatakan;

Rancak rumah dek sumando

Elok hukum dek mamaknyo

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Minangkabau menganut sistem kekerabatan matrilineal dimana wanita mempunyai peran penting
sebagai pengikat, pemelihara,dan penyimpan harta pusaka.Sedangkan laki-laki mempunyai peranan
penting untuk mengatur dan mempertahankan harta pusaka.
Kedudukan laki-laki dan perempuan di dalam adat Minangkabau berada dalam posisi seimbang. Laki-laki
punya hak untuk mengatur segala yang ada di dalam perkauman, baik pengaturan pemakaian,
pembagian harta pusaka, perempuan sebagai pemilik dapat mempergunakan semua hasil itu untuk
keperluannya .

3.2 Saran

Makalah yang penulis susun ini tentu saja masih jauh dari kesempurnaan .Untuk itu ,saran dan kritik
yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini pada masa
mendatang.

Dalam sistem kekerabatan Bali Aga mengenal sistem klen patrilineal yang disebut karang. Dan gabungan
dari beberapa karang disebut dadia. Orang Bali aga mempunyai mata pencaharian bercocok tanam di
ladang serta masih percaya pada hal yang gaib dan menyembah roh para luhur. Perkawinan adalah hal
yang penting bagi masyarakat Bali karena bila orang itu sudah melakukan pernikahan akan dianggap
penuh sebagai warga masyarakat. Masyarakat Bali dalam melakukan pernikahan masih memandang
kasta atau setidak-tidaknya pernikahan dilakukan dengan kasta yang sederajat. Pada perkawinan yang
diidam-idamkan dari masyarakat Bali yang masih kolot yaitu perkawinan antara anak-anak dari dua orang
saudara laki-laki. Orang bali melarang adanya pernikahan antara wanita dari kasta yang tinggi dengan
laki-laki yang lebih rendah kastanya. Karena apabila sampai terjadi, hal ini akan mencoreng atau
membuat malu seluruh kasta dari pihak wanita. Dahulu bila ada perkawinan seperti ini maka wanitanya
akan dinyatakan keluar dari dadianya dan secara fisik suami istri akan dihukum buang untuk beberapa
lama jauh dari tempat asalnya. Akan tetapi setelah tahun 1951, hukuman ini tidak pernah dijalankan.
Selain itu ada juga perkawinan yang dapat mendatangkan bencana yaitu perkawinan pertukaran antara
saudara perempuan suami dengan saudara laki-laki istri.

Pada jaman dahulu laki-laki dalam mendapatkan istri ada dua cara, yaitu meminang kepada keluarga
gadis dan melarikan gadis. Cara ini merupakan cara adat. Suami istri yang baru menikah dan ikut dalam
kompleks perumahan dari orang tua suami dinamakan virilokal. Sedangkan suami istri yang baru
menikah dan ikut dalam komplek perumahan keluarga istri dinamakan uxorilokal. Hal ini akan
mempengaruhi anak keturunan mereka. Bila suami istri menetap dengan cara virilokal maka anak
keturunannya akan menjadi warga dari soroh suami, sebaliknya jika suami istri menetap dengan cara
uxorilokal, maka anak keturunannya akan menjadi warga dari soroh istri.

Di dalam rumah tangga biasanya juga terdiri dari keluarga batih bersifat monogami, atau biasanya sering
ditambah anak laki-laki yang sudah berumah tangga bersama keluarga batih mereka. Juga ada orang lain
yang menumpang baik masih kerabat ataupun bukan. Beberapa waktu kemudian anak laki-laki yang
sudah sukses baik dalam masyarakat maupun dalam memenuhi kebutuhannya sehingga merasa mampu
untuk dapat memisahkan diri dari orang tua, dapat mendirikan rumah tangga sendiri yang baru,
tujuannya adalah untuk melanjutkan garis keturunan orang tuanya jika sudah tidak berdaya lagi atau
untuk melanjutkan rumah tangga orang tuanya. Setiap keluarga batih maupun keluarga yang lain sangat
menjaga hubungan kelompok kerabatnya yang lebih kuat (klen/tunggal dadia). Di daerah pegunungan,
masyarakat tunggal dadia yang telah memisahkan diri karena hidup neolokal tidak perlu mendirikan
tempat-tempat pemujaan luhur di kediamannya. Hal ini berbeda dengan desa di tanah datar yang justru
sebaliknya. Jadi orang-orang yang hidup neolokal wajib mendirikan tempat pemujaan di kediamannya
yang disebut dengan Kemulan taksu.

Disamping itu, keluarga batih yang hidup neolokal mempunyai kewajiban terhadap kuil asal di rumah
mereka. Sehingga pura atau kuil dapat menjadi sarana untuk mengintensifkan rasa solidaritas anggota
keluarga suatu klen kecil. Ada juga kelompok kerabat lebih besar yang melengkapi kerabat tunggal dadia
atau sanggah dan memuja kuil atau pura yang sama. Tempat pemujaan inilah yang mempersatukan
suatu lingkungan terbatas dari kaum kerabat yang masih dikenal hubungannya. Sehingga kekerabatan ini
biasanya mempunyai asal usul yang ditulis dalam bentuk babad, kemudian disimpan oleh keluarga senior
atau yang dituakan yang biasanya merupakan keturunan langsung dan merupakan salah satu cabang
tertua dalam klen.

Dalam sistem kemasyarakatan Bali dikenal beberapa kelompok atau kesatuan masyarakat yaitu sebagai
berikut;

A. Banjar

Banjar merupakan suatu bentuk kesatuan sosial wilayah. Kesatuan sosial ini dilakukan dengan
pelaksanaan upacara keagamaan yang keramat. Di daerah pegunungan anggotanya sangat terbatas,
hanya pada mereka yang lahir di wilayah tersebut. Sedangkan di daerah yang datar, sifat keanggotaan
nya tidak tertutup bagi orang-orang di wilayah lain atau lahir di wilayah lain. Apabila seseorang menetap
di sana maka yang bersangkutan dipersilahkan untuk menjadi anggota jika menghendaki.

Banjar dikepalai oleh seorang kepala yang disebut kelian banjar dan menjabat sebagai sesuai dengan
ketentuan yang telah disepakati warga. Kelian banjar mempunyai tugas tidak hanya dalam kehidupan
sosial suatu komunitas tetapi juga dalam hal kehidupan keagamaan, bahkan terkadang juga mengurus
hal hal yang berkaitan dengan administrasi pemerintahan.

B. Subak

Subak merupakan suatu kesatuan masyarakat tersendiri yang lepas dari banjar. Warga subak adalah para
penggarap sawah yang mendapat air dari irigasi. Tetapi ini semua tidak menjadi arti karena orang Bali
ingin menciptakan suatu kedamaian sehingga warga Banjar dan Subak akan menggabungkan diri dalam
mengolah lahan sawah.

C. Sekaha

Dalam kehidupan masyarakat Bali terdapat organisasi yang bersifat turun-temurun dan sementara.
Bersifat turun-temurun adalah yang berfungsi untuk menyelenggarakan upacara adat desa misalnya
sekaha baris, yaitu perkumpulan tari baris. Sekaha teruna teruni, sekahs tersebut sifatnya permanen.
Sedangkan sekaha bersifat sementara merupakan sekaha yang dibentuk berdasarkan suatu kebutuhan
tertentu seperti;

1. Sekaha memula yaitu suatu. perkumpulan atau kelompok menanam

2. Sekahamayi, yaitu suatu perkumpulan atau kelompok menuai.

3. Sekaha gong yaitu suatu perkumpulan gamelan.

Kehidupan sosial di masyarakat Bali mengenal sistem gotong-royong. Dalam bergotong-royong dapat
dilihat saat mengolah sawah, memperbaiki atap rumah, membuat sumur dan lain sebagainya. Semua itu
didasari oleh pengertian bahwa bantuan tenaga yang diberikan wajib dibalas dengan bantuan serupa.
Selain itu terdapat pula gotong-royong antar sekaha yang disebut dengan ngendeng. Misalnya suatu
perkumpulan gamelan diminta untuk ikut dalam penyelenggaraan suatu tarian dalam rangka suatu
upacara odalan. Bentuk lain dari gotong rotong adalah kerja bakti menyangkut kepentingan agama,
masyarakat dan pemerintah.

Sistem Kewarisan Adat

Masyarakat Indonesia menganut berbagai macam agama dan kepercayaan yang berbeda-beda,
mempunyai sistem kekeluargaan yang berbeda-beda pula. Secara teoritis garis keturunan pada dasarnya
dapat digolongkan menjadi tiga sistem kekeluargaan atau kekerabatan, yaitu sebagai berikut:

a. Sistem Kekeluargaan Patrilineal

Yaitu sistem kekeluargaan yang menarik garis keturunan menurut garis bapak, di mara menurut sistem
ini kedudukan laki-laki lebih menonjol dibandingkan dengan kedudukan perempuan terutama dalam hal
pewarisan. Contohnya : Masyarakat Batak, Bali, Nias, Sumba, dan lain-lain.

a. Sistem Kekeluargaan Matrilineal

Yaitu sistem kekeluargaan yang menarik garis keturunan menurut garis ibu, dimana menurut sistem ini
kedudukan perempuan lebih menonjol dibandingkan dengan kedudukan laki-laki dalam hal pewarisan.
Contoh: Masyarakat Minangkabau

b. Sistem kekeluargaan Parental atau Bilateral

Yaitu sistem kekeluargaan yang menarik garis keturunan berdasarkan garis bapak dan ibu, di mana
menurut sistem ini kedudukan antara laki-laki dan perempuan dalam hal pewarisan adalah seimbang
atau sama. Contoh: Masyarakat Jawa, Sunda, Aceh, Kalimantan, dan lain-lain.

Dari ketiga sistem kekeluargaan atau kekerabatan di atas, masing-masing sistem sangat mempengaruhi
dalam hal pembagian waris, karena hal ini menentukan siapa-siapa saja yang berhak menjadi ahli waris,
tapi hal ini tidak berarti bahwa sistem harta adat yang sama akan berlaku sistem hukum waris adat yang
sama pula. dengan kata lain masih ada variasi-variasinya. Contohnya: antara masyarakat adat Lampung
dan Batak, yaitu sama-sama menganut sistem kekeluargaan Patrilineal tetapi dalam hal pewarisan di
Batak berlaku sistem kewarisan individual, sedangkan di Lampung berlaku sistem kewarisan kolektif.
Pada umumnya di Indonesia berlaku tiga sistem kewarisan menurut hukum adat, yaitu sebagai berikut:

a. Sistem Kewarisan Individual

Yaitu suatu sistem dimana harta warisan dibagi-bagikan kepada masingmasing ahli waris yang berhak
menerimanya. Seperti dalam masyarakat bilateral di Jawa.

b. Sistem Kewarisan Kolektif

Yaitu suatu harta peninggalan yang diwarisi oleh sekumpulan ahli waris secara bersama-sama yang
merupakan semacam badan hukum di mana harta tersebut yang disebut dengan harta pusaka, tidak
boleh dibagi-bagikan kepemilikannya diantara para ahli waris dimaksud dan hanya dibagibagikan
pemakaiannya saja kepada mereka itu (hanya mempunyai hak pakai saja). Seperti dalam masyarakat
matrilineal di Minangkabau.

c. Sistem Kewarisan Mayorat

Yaitu harta peninggalan yang diwariskan baik keseluruhannya maupun sebagiai, besar kepada seorang
anak saja. Misalnya anak laki-laki tertua saja atau perempuan tertua atau nula anak yang terkeeit saja.
Seperti halnya di Bali di mana terdapat tak mayorat anak laki-laki yang tertua, dan di Tanah Semendo di
Sumatra Selatan dimana terdapat apat hak mayorat anak perempuan yang tertua.

Dari ketiga sistem kewarisan tersebut di atas, masing-masing sistem kewarisan tidak langsung menunjuk
kepada suatu bentuk susunan masyarakat tertentu di mana sistem kewarisan itu berlaku, suatu sistem
kewarisan tersebut di atas dapat dikemukakan juga dalam berbagai bentuk susunan masyarakat ataupun
dalam satu bentuk susunan masyarakat, dan dapat pula dijumpai lebih dari satu sistem kewarisan dalam
berbagai bentuk susunan masyarakat atau sistem kekeluargan. Di Bali yang menganut sistem
kekeluargaan patrilineal dalam hal inipun tidak berlaku mutlak, disebabkan karena dipengaruhi oleh adat
desa, kala, dan patra. Sehingga di suatu tempat lainnya terdapat perbedaan-perbedaan. sebagai contoh
di desa Tanganan Pengeringsingan Kabupaten Karangasem dianut sistem bilateral. Berdasarkan hasil
penelitian V. E. Korn menemukan bahwa di desa Bayung Gede Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli
Provinsi Bali hanya anak laki-laki bungsu (terkecil) saja yang berhak mendapatkan ahli waris, sedangkan
di desa Kayubuhi Kecamatan Kubu Kabupaten Bangli hanya anak laki-laki sulung (terbesar) saja yang
berhak mendapatkan ahli waris (V. E. Korn, 1978: 9). Dengan menganutnya sistem patrilineal yang dianut
oleh Masyarakat Bali, membawa konsekwensi bahwa hanya anak laki-laki saja yang berhak mendapatkan
waris, sedangkan bila orang tua mempunyai anak perempuan, maka kalau sudah berumah tangga alran
diberi bekal berupa perhiasan dan perabot rumah tangga. Harta warisan yang dapat dibagi umumnya
diwarisi secara individual di antara ahli waris (sistem kewarisan individual). Pembagian warisan dilakukan
secara musyarwah diantara Ali waris berdasarkan asas laras, rukum dan patut yang dipimpin oleh orang
tuanya sendiri. Apabila orang tuanya sudah tidak ada, maka musyawarah dipimpin oleh anak laki-laki
yang tertua, kadang-kadang juga diundang pejabat desa (kepala desa dan kelian desa pakraman) untuk
meniadi saksi. Tidak ada ketentuan yang tegas mengenai masing-masing ahli waris, kecuali perbandingan
bagian antara anak laki-laki Jan anak perempuan yang belum kawin, yaitu dua berbanding satu ategen
asuun. Umumnya, dalam musyawarah yaitu dibicarakan segala sesuatunya menyangkut tanggung jawab
masing-masing ahli waris, jenis harta warisan, jenis dan tingkat kesuburan tanah, nilai ekonomi tanah
dan sebagainya, baru kemudian disepakati mengenai bagian masing-masing. Disamping harta warisan
yang dapat dibagi, terdapat pula golongan. harta warisan yang tidak dapat dibagi, seperti
sanggah/merajan, duwe tengah (tanah milik bersama) yang diperuntukkan untuk laba (pembiayaan)
sanggah/merajan. Untuk harta warisan golongan ini umumnya diwarisi secara kolektif (sistem kewarisan
kolektif). Sedangkan terhadap tanah-tanah adat seperti tanah pekarangan desa dan tanah ayahan desa
lazimnya diwarisi oleh seorang anak, anak laki-laki sulung atau anak laki-laki bungsu (sistem kewarisan
mayorat) tergantung aturan adat dari masyarakat setempa

Pembagian Waris Menurut Hukum Adat Jawa

Ibu saya telah meninggal dan mempunyai anak sebanyak 7 orang dari suami yang berbeda, saya selaku
anak (laki-laki) pertama dari suami pertama namun tidak ikut ibu saya dari saya masih bayi (tidak
dibesarkan langsung). Apakah saya masih mempunyai hak waris? Ibu saya memiliki rumah di atas tanah
warisan dari nenek. Pertanyaan: Bagaimanakah pembagian warisnya menurut hukum adat (ahli warisnya
yaitu 2 orang laki-laki dan 5 orang perempuan), dan apakah suaminya pun dapat hak waris jugakah?

Sedikit ingin menggali keterangan dari Anda, karena saya kira ada yang harus dilengkapi dari pertanyaan
di atas. Jika memang pertanyaan tersebut terkait dengan hukum adat, maka sebaiknya perlu
ditambahkan keterangan, hukum waris adat suku apa yang Anda maksudkan dalam contoh di atas.

Saya ingin mengutipkan pengertian hukum waris adat yang disebutkan oleh Supomo, yang mana
menurutnya, hukum adat waris memuat beberapa aturan yang mengatur proses penerusan serta
pengoperan barang-barang harta benda dan barang-barang yang tidak berwujud benda dari suatu
angkatan manusia kepada turunannya.

Hukum waris adat memuat tiga unsur pokok, yaitu:

1. Mengenai subyek hukum waris, yaitu siapa yang menjadi pewaris dan siapa yang menjadi ahli waris.

2. Mengenai kapan suatu warisan itu dialihkan dan bagaimana cara yang dilakukan dalam pengalihan
harta waris tersebut. Serta bagaimana bagian masing-masing ahli waris.

3. Mengenai obyek hukum waris itu sendiri, yaitu tentang harta apa saja yang dinamakan harta
warisan, serta apakah harta-harta tersebut semua dapat diwariskan.
Di dalam masyarakat adat Indonesia, secara teoritis sistem kekerabatan dapat dibedakan menjadi tiga
macam, yaitu:

1. Sistem Patrilineal,

2. Sistem Matrilineal, dan

3. Sistem Parental atau bilateral.

Ad.1. Sistem Patrilineal adalah sistem kekerabatan yang menarik garis dari Pihak Bapak, maksudnya
dalam hal ini setiap orang hanya menarik garis keturunan dari Bapaknya saja. Hal ini mengakibatkan
kedudukan pria lebih menonjol pengaruhnya daripada wanita dalam hal mewaris. Sistem ini dianut oleh
suku-suku seperti, Batak, Gayo, Nias, Lampung, Seram, NTT dan lain-lain.

Ad.2. Sistem matrilineal adalah sistem kekerabatan yang ditarik dari garis Pihak Ibu. Sehingga dalam hal
kewarisan kedudukan wanita lebih menonjol pengaruhnya dari pada garis Bapak. Sistem kekerabatan ini
dianut oleh masyarakat Minangkabau, Enggano dan Timor.

Ad.3. Sistem parental/bilateral adalah sistem kekerabatan yang menarik garis keturunan dari kedua belah
pihak Bapak dan Ibu, sehingga kedudukan anak laki-laki dan anak perempuan dalam hal mewaris adalah
seimbang dan sama. Masyarakat yang menganut sistem ini misalnya Sumatera Timur, Sumatera Selatan,
Riau, Kalimantan dan lain-lain.

Secara umum, asas pewarisan yang dipakai dalam masyarakat adat bergantung dari jenis sistem
kekerabatan yang dianut. Namun menurut Hazairin, hal itu bukan suatu hal yang paten. Artinya, asas
tersebut tidak pasti menunjukkan bentuk masyarakat di mana hukum warisan itu berlaku. Seperti
misalnya, asas individual tidak hanya ditemukan pada masyarakat yang menganut sistem bilateral, tetapi
juga ditemukan pada masyarakat yang menganut asas patrilineal, misalnya pada masyarakat Batak yang
menganut sistem patrilineal, tetapi dalam mewaris, memakai asas individual.

Jika kita mengambil contoh Suku Jawa yang hukum adat-nya bersistem parental, maka terhadap
permasalahan di atas, hal-hal yang menjadi catatan kita adalah:

a. Saudara adalah anak kandung dari Suami Pertama.

b. Saudara tidak tinggal bersama secara langsung.

c. Ibu Saudara memiliki anak-anak lagi dari hasil perkawinannya yang sekarang sebanyak 6 orang.

d. Sehingga jumlah keseluruhan anaknya adalah 7 orang, yang mana jumlah anak laki-laki 2 dan
anak perempuan 5, serta meninggalkan seorang suami.
e. Warisan Ibu berasal dari neneknya, artinya bukan berasal dari harta bersama dengan suami
kedua-nya, artinya harta tersebut adalah harta bawaan, yang akan diwariskan kepada anak
keturunannya.

Di dalam masyarakat Jawa, semua anak mendapatkan hak mewaris, dengan pembagian yang sama,
tetapi ada juga yang menganut asas sepikul segendongan (Jawa Tengah), artinya anak laki-laki
mendapatkan dua bagian dan anak perempuan mendapatkan satu bagian, hampir sama dengan
pembagian waris terhadap anak dalam Hukum Islam.

Pada dasarnya, yang menjadi ahli waris adalah generasi berikutnya yang paling karib dengan Pewaris
(ahli waris utama) yaitu anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga (brayat) si Pewaris. Terutama anak
kandung. Sementara untuk anak yang tidak tinggal bersama, tidak masuk ke dalam ahli waris utama.
Tetapi ada juga masyarakat Jawa (Jawa Tengah), yang mana anak angkat (yang telah tinggal dan dirawat
oleh orang tua angkatnya) mendapatkan warisan dari kedua orang tuanya, baik orang tua kandung atu
angkat.

Jika anak-anak tidak ada, maka kepada orang tua dan jika orang tua tidak ada baru saudara-saudara
Pewaris.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan, semoga berkenan dan bermanfaat