Anda di halaman 1dari 11

BENCANA ALAM DALAM AL-QURAN

I. Definisi Bencana

Bencana alam definisi yang diberikan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 131)--adalah

sesuatu yang menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, kerugian, atau penderitaan yang

disebabkan oleh alam. Biasanya bencana ini menyangkut segala kejadian yang menimpa dalam

skala yang besar dan efek yang luar biasa.

Beberepa tahun belakangan ini, khususnya sejak Desember 2004 lima tahun silam; saat

tsunami menerjang kawasan Barat Indonesia, khususnya wilayah Nanggro Aceh Darussalam,

kita semakin sering melihat dan menyaksikan berbagai peristiwa besar yang menimpa negeri ini,

dan terakhir gempa dengan kekuatan 7.8 SR mengguncang wilayah Sumatera, khususnya kota

Padang dan Padang Pariaman. Peristiwa-peristiwa besar (bencana alam) itu bahkan juga

menimpa hampir semua kawasan di atas bumi ini, tak terkecuali Negara-negara maju teknologi

seperti Jepang, Taiwan, Cina, Eropa, Amerika dan sebabagainya.

Berbagai bencana alam seperti, gempa bumi, banjir besar, tsunami, berbagai penyakit yang

mewabah dan bahkan di berbagai kawasan Amerika malah angin topan dan badai. Bencana alam

akibat ulah tangan manusia, seperti pengeboman, peperangan, kecelakaan beruntun, kecelakaan

pesawat, dan kebakaran.Tsunami, gempa bumi, banjir, lumpur Porong, dan kekeringan, susul-

menyusul menghabiskan air mata kita sebagai bangsa.

Manusia yang tidak pernah mau dan tidak mampu menjadikan berbagai

peristiwa alam tersebut sebagai pelajaran dan sebagai bukti kekuasaan dan kebesaran Allah.
Mereka bukannya mengoreksi diri dan kembali kepada Allah, melaikan semakin bertambah

kesombongan dan pembangkangan mereka pada Allah dan Rasul-Nya. Hal seperti ini dijelaskan

Allah dalam Al-Quran, di antaranya dalam surat Ghafir / 40 : 21 27 :

"Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan betapa

kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu adalah lebih hebat kekuatannya

daripada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi maka Allah mengazab

mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan mereka tidak mempunyai seorang pelindung dari

azab Allah" (21) Yang demikian itu adalah karena telah datang kepada mereka rasul-rasul

mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata lalu mereka kafir; maka Allah mengazab

mereka. Sesungguhnya Dia Maha Kuat lagi Maha Keras hukuman-Nya (22) Dan sesungguhnya

telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata,(23)

kepada Fir'aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata: "(Ia) adalah seorang ahli sihir yang

pendusta."(24) Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami

mereka berkata: "Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersama dengan dia dan
biarkanlah hidup wanita-wanita mereka." Dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah

sia-sia (belaka) (25) Dan berkata Fir'aun (kepada pembesar-pembesarnya): "Biarkanlah aku

membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku

khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi."(26) Dan

Musa berkata: "Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang

yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab."(27) (Q.S. Ghafir : 21

-27)"

Al-Quran dengan tegas menjelasakan bawa sebab utama terjadinya semua peristiwa di

atas bumi ini, apakah gempa bumi, banjir, kekeringan, tsunami, penyakit thaun (mewabah) dan

sebagainya disebabkan ulah manusia itu sendiri, baik yang terkait dengan pelanggaran sisitem

Allah yang ada di laut dan di darat, maupun yang terkait dengan sistem nilai dan keimanan yang

telah Allah tetapkan bagi hambanya. Semua pelanggaran tersebut (pelanggaran sunnatullah di

alam semesta dan pelanggaran syariat Allah yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul-Nya,

termasuk Nabi Muhammad Saw), akan mengakibatkan kemurkaan Allah. Kemurkaan Allah

tersebut direalisasikan dengan berbagai peristiwa seperti gempa bumi, tsunami dan seterusnya.

Semakin besar pelanggaran manusia atas sistem dan syariat Allah, semakin besar pula peristiwa

alam yang Allah timpakan pada mereka. Allah menjelaskan dalam Al-Quran :
"Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada

yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara

keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di

antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya

mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.(Q.S. Al-Ankabut / 29 :

40)"

II. Kelompok Bencana

Alquran mengelompokkan bencana menjadi dua kelompok ini, yaitu :

1. Kelompok bencana yang menjadi ujian terdapat setidaknya pada ayat berikut: "Mengapa

ketika ditimpa bencana (pada Perang Uhud), padahal kalian telah mengalahkan dua kali

lipat musuh-musuhmu (pada Perang Badar), kalian berkata, 'Darimana datangnya

(bencana berupa kekalahan) ini?' Katakanlah, 'Itu (berasal) dari (kesalahan) dirimu

sendiri.' Allah Mahakuasa atas segala sesuatu," (QS Ali Imran [3]: 165).

2. Kelompok bencana yang menjadi siksa yang diakibatkan perilaku zalim terdapat pada

ayat berikut: "Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan di dalam kehidupan dunia

ini, seperti angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang menyapu tanaman

kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya
mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri," (QS Ali Imran [3]:

117). Bencana yang menjadi siksa terdapat pada ayat berikut: "Orang yang tidak

beriman senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana

itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga janji Allah itu terbukti. Allah tidak

menyalahi janji," (QS Al-Ra'd [13]: 31).

Namun, bila yang dimaksudkan bencana alam, maka Alquran selalu mengelompokkannya

ke dalam bencana yang menjadi siksa dan berkait dengan perilaku tidak beriman. Ada lima

bencana alam yang disinggung dalam Alquran: gempa, banjir, angin topan, petir, hujan batu, dan

paceklik. Terkait dengan gempa, Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut:

1. "Katakanlah, 'Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan siksa kepadamu, dari atas kamu

atau dari bawah kakimu," (QS Al-An'am [6]: 65).

2. "Karena itu mereka ditimpa gempa, lalu mereka menjadi mayat-mayat yang

bergelimpangan di tempat tinggal mereka," (QS. Al-A'raf [7]: 78).

3. "Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan tobat kepada

Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Lalu, ketika mereka digoncang gempa

bumi, Musa berkata, 'Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau

membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami

karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan

dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan

Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang

memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah

Pemberi ampun yang sebaik-baiknya,"(QS Al-A'raf [7]: 155).


4. "Mereka tidak mengimani Syuaib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah

mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka,"(QS Al-

Ankabut [29]: 37).

5. "Tetapi mereka berpaling, Kami pun datangkan kepada mereka banjir yang besar dan

Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon)

yang berbuah pahit, pohon Atsl, dan sedikit dari pohon Sidr," (QS Saba' [34]: 16).

6. "Tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka,

mereka berkata, 'Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.' (Bukan!)

bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera, (yaitu) angin (topan)

yang mengandung azab yang pedih,"(QS Al-Ahqaf [46]: 24).


7"Kami telah menghembuskan

kepada mereka angin

yang sangat kencang

pada hari nahas yang

terus menerus," (QS

[54]: 19).

8."Apakah kamu merasa aman (dari hukuman Tuhan) yang menjungkirbalikkan sebagian

daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu

kecil? dan kamu tidak akan mendapat seorang pelindungpun bagi kamu,"(QS Al-Isra

[17]: 68).

9."Kaum 'Ad telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang," (QS

Al-Haqqah [69]: 6).

10."Angin itu tidak membiarkan satu pun yang dilaluinya, melainkan dijadikannya seperti

serbuk," (QS Al-Dzariyat [51]: 42).


11."Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang

menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan sebelum fajar

menyingsing,"(QS Al-Qamar [54]: 34).

12."Jika mereka berpaling, maka katakanlah, 'Aku telah memperingatkan kamu dengan

petir, seperti petir yang menimpa kaum 'Ad dan Tsamud,'"(QS Al-Syura [41]: 13).

13."Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab

dari langit. Mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka

berkata, 'Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata." Mereka disambar petir

karena kezalimannya. Mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka

bukti-bukti yang nyata, lalu Kami aafkan (mereka) dari yang demikian. Kami telah
14"Kami telah menghukum (Firaun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim

kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil

pelajaran," (QS Al-A'raf [7]: 130).

III. Kunci Menghadapi Bencana

Kunci lain yang bisa mempercepat pemulihan pascamusibah dan pascamasalah ialah

menata diri untuk tetap berada di jalan-Nya. Dengan kata lain, seseorang harus tetap konsisten

menjalankan apa yang menjadi kewajiban dan menjauhi apa yang bukan menjadi hak sebagai

orang yang beragama. Inilah yang dalam bahasa agama biasa disebut takwa. Kata ini memang

terlalu populer, tetapi implementasinya tidak mengakar dalam kehidupan keseharian. Padahal, ini

sesungguhnya yang mampu menjamin kesempurnaan keberagamaan seseorang. Tidak hanya itu,

sikap ini juga mampu mengantarkan seseorang pada kesempurnaan kemanusiaan. Sikap ini pun

sangat bermanfaat untuk mengembalikan dan memulihkan sisi kemanusiaan yang terkoyak pada

saat mengalami bencana. Dengan memiliki sikap ini, kehambaan dan penghambaan tidak labil.

Kalaupun berfluktuasi, bukan fluktuasi yang mengantarkannya pada sisi negatif. Ia stabil meski

digoncang apa pun.

Allah telah menjamin akan memberikan jalan keluar atas semua kesulitan hidup bila

seseorang memiliki sikap ini. Dia juga berjanji akan selalu memberi rezeki dari pintu yang tak
terduga pada orang yang memiliki sikap ini. Apalagi bila mau menambahkan sikap ini dengan

kepasrahan yang disertai usaha dan doa, maka yakinlah Dia pula yang akan mencukupi apa pun

yang kita butuhkan. Siapa saja yang bertakwa pada Allah, maka Allah akan memberinya jalan

keluar dan membukakan pintu rezeki dari tempat yang tak terduga. Siapa yang pasrah kepada

Allah, niscaya Dia akan mencukupi kebutuhannya, (QS Ath-Thalaq [65]: 2-3). Siapa saja yang

bertakwa pada Allah, niscaya Allah memudahkan segala urusannya, (QS Ath-Thalaq [65]: 4).

Dan, yang terpenting, jaminan dan janji Allah tidak pernah diingkari-Nya. Biasanya hanya soal

waktu saja.

"Setiap ada kesulitan pasti ada kelapangan," (QS Al-Insyirah [94]: 5). Setiap habis hujan

deras pasti mentari bersinar lebih indah. Setiap kemacetan separah apa pun, pasti setelahnya ada

kelengangan yang menjadi penghibur bagi pengendara yang melaluinya. Seperti sudah

disinggung sebelumnya, manusia memang tidak bisa menolak bencana. Ia hanya bisa

meminimalisasinya. Itu pun jika Allah berkehendak. Karena, semua yang dikehendaki-Nya pasti

terlaksana. Nah, ketika kehendak-Nya itu sudah terlaksana, yakinilah bahwa semua sudah

diukurnya. Dia juga pasti adil memperlakukan ketentuan-Nya. Kehendak-Nya pun pasti diiringi

kehendak-Nya yang lain, yang meskipun mulanya terlihat menyusahkan, tetapi pada akhirnya

akan menyenangkan. Dia tidak akan memberikan bencana melebihi kadar yang sanggup

ditanggung. Allah pasti melaksanakan semua yang dikehendaki-Nya. Allah juga telah

menentukan kadar segala sesuatu, (QS Ath-Thalaq [65]: 2-3-).