Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH BAKTERIOLOGI VETERINER

KOASISTENSI DIAGNOSA LABORATORIUM

Brucelosis

Oleh

Martina Olivia Yohanes, S.KH


NIM 1209011015
Kelompok D2

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Brucelosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh
bakteri dari genus Brucella sp yang secara primer dapat menyerang hewan
sapi, babi, kambing, domba dan secara sekunder dapat menyerang
mamalia lain seperti anjing, kucing, tikus serta manusia. Penyakit ini
dikategorikan oleh Office International des Epizooties (OIE) sebagai
penyakit zoonosis. Secara umum penyakit ini terjadi pada sapi sehinnga
disebut dikenal pula sebagai penyakit keluron (abortus) menular atau
penyakit Bang sedangkan pada manusia menyebabkan demam yang
bersifat undulans atau demam Malta. Gejala klinis dari penyakit ini
biasanya terjadi abortus pada hewan bunting dan orchitis/epididimitis pada
hewan jantan sedangkan pada manusia menyebabkan demam intermitan
dan gejala saraf (OIE, 2009).
Di Indonesia, brucelosis menyebar di seluruh provinsi kecuali di
Bali dan Lombok yang dinyatakan bebas brucelosis (Noor, 2006). Pada
tahun 2009 Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Jambi, Riau, dan Kalimantan
dinyatakan bebas bruselosis. Pada tahun 2011 Lampung juga dinyatakan
bebas bruselosis. Meskipun demikian, masih banyak daerah di Indonesia
yang belum bebas brucelosis seperti di NTT khususnya di Kabupaten
Kupang dengan prevalensi sebanyak 2% di tingkat ternak (Perwitasari,
2010) dan Kabupaten Belu dengan prevalensi mencapai 14,9% (Lake,
2010) yang telah dilaporkan oleh bahwa.
Kejadian brucelosis merugikan secara ekonomi baik bagi peternak
maupun pemerintah. Keputusan Menteri Pertanian No.
4026/Kpts/OT.140/4/2013 menyebutkan bahwa brucelosis merupakan
salah satu jenis Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) yang sudah
ada di Indonesia sehingga perlu dilakukan pengendalian dan
penanggulangan penyakit untuk meminimalkan kerugian ekonomi serta
penyebaran penyakit hewan. Kerugian ekonomi akibat brucelosis

1
disebabkan oleh adanya tambahan pengeluaran (cost) untuk pengobatan
dan pengendalian penyakit. Gejala abortus juga disertai dengan angka
konsepsi yang rendah yang menyebabkan biaya produksi menjadi tinggi
serta jarak beranak menjadi panjang.
Brucelosis merupakan penyakit yang menyebabkan kerugian
ekonomi dan gangguan kesehatan pada hewan dan manusia sehingga
tindakan pengendalian dan pemberantasan sangat penting untuk dilakukan
sehingga Provinsi NTT dapat dinyatakan bebas dari brucelosis.
.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini sebagai berikut.
Mahasiswa dapat mengetahui etiologi penyakit, gejala klinis dan
diagnosa penyakit brucelosis.
Mahasiswa dapat mengetahui teknik isolasi dan identifikasi dari
bakteri Brucella sp.

2
BAB II
ISI

2.1 Etiologi
Brucelosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh Brucella sp.
Bakteri ini bersifat Gram negatif, berbentuk kokobasil (batang halus),
mempunyai ukuran panjang 0,6-1,5 mikron dan lebar 0,6 mikron, tidak
bergerak, katalase positif, oksidase positif (B.ovis dan B.neotomae), urease
positif (kecuali B.ovis), tidak berspora, bersifat aerob dan capnofilik (B.ovis
dan beberapa biotipe B.abortus memerlukan 5-10% CO2 saat isolasi) (Quinn
et al, 2006). Bakteri ini merupakan parasit intraseluler fakultatif yang
dominan pada sistem reticulum endoplasma dan traktus reproduksi
(Anonim, 2009).
Ada enam spesies Brucella, yaitu Brucella abortus pada sapi, Brucella
melitensis pada kambing atau domba, Brucella suis pada babi, Brucella ovis
pada domba, Brucella canis pada anjing dan Brucella neotomae pada tikus
(Quinn et al, 2006). Spesies Brucella yang menimbulkan masalah pada
ternak terutama disebabkan oleh 3 species yaitu B.melitensis yang
menyerang kambing dan domba, B.abortus yang menyerang sapi dan B.suis
yang menyerang babi (Gambar 1).

Gambar 1. Spesies Brucella, host dan gejala klinis (Quinn et al, 2006).

3
Gambar 2. Karakteristik bakteri Brucella sp (Quinn et al, 2006).

2.2 Patogenesis dan Patogenesitas


Infeksi yang terjadi tergantung pada jumlah bakteri yang menginfeksi,
virulensi bakteri dan ketehanan dari host. Bakteri ini memproduksi koloni
kasar yang kurang virulen dan koloni halus yang lebih virulen. Koloni kasar
dan halus dapat masuk kedalam sel. Koloni kasar akan dieliminasi
sedangkan koloni halus akan peristen dan bereplikasi di dalam sel. Brucella
yang virulen akan difagosit oleh membran mukus dan ditransportkan ke
limfonodus regional. Brucella persisten di dalam makrofag tetapi tidak di
dalam neutrofil. Inhibisi dari lisosom-fagosomal merupakan pertahanan
utama dari intraselular terhadap bakteri virulen. Selain itu, superoksida
dismutase dan produksi katalase diduga berperan dalam resistensi oksidatif.
Intermiten bakterimia akan menyebar dan berlokalisasi pada organ
reproduksi dan kelenjar yang terkait pada hewan dewasa kelamin. Erythritol
(alkohol polihidrat) bertindak sebagai faktor pertumbuhan Brucella,
konsetrasi tinggi pada plasenta sapi, domba, kambing dan babi. Faktor
pertumbuhan ini juga ditemukan pada organ lain seperti kelenjar susu dan
epididimis, yang merupakan target untuk brucellae. Pada brucellosis kronis
organisme berpredileksi di sendi atau cakram intevertebral (Quinn et al,
2006).

4
Gambar 3. Patogenesis Brucella abortus (Quinn et al, 2006).

2.3 Gejala Klinis


2.3.1 Pada Sapi
Sapi dapat menderita brucelosis kausa B. abortus namun sapi
juga dapat tertular oleh B. suis dan B. Melitensis. Gejala klinis pada
kasus ini umumnya terjadi abortus pada betina bunting, prematur,
stillborn, dan kelemahan pada anak sapi saat dilahirkan. Abortus
yang terjadi pada trisemester (5-8 bulan). Kejadian abortus yang
terjadi disertai dengan retensi plasenta, metritis, dan infertil.
Sedangkan pada sapi jantan terjadi epididimitis, orchitis disertai
dengan penurunan libido dan infertilitas, terkadang testis juga
mengalami atrofi, vesiculitis seminal, ampulitis, higroma, dan
arthritis. Sementara pedet dapat terinfeksi secara vertikal melalui air
susu induk yang menderita mastitis (Quinn et al, 2006).

5
2.3.2 Pada Babi
Babi dapat menderita brucelosis kausa B. suis. B. suis memiliki
3 biotipe yaitu 1, 2, dan 3. Babi juga dapat terinfeksi B. abortus
namun bersifat asimptomatik dan hanya terbatas pada daerah kepala
dan leher. Gejala klinis yang terjadi umumnya abortus, infertilitas,
anak babi lahir lemah, orchitis, epididimitis, arthritis, abses, dan
spondylitis. Infeksi umumnya bersifat sementara pada babi yang
disapih sekalipun dapat memunculkan terjadinya hewan karier
(Quinn et al, 2006).
2.3.3 Pada Kambing
Kambing dapat menderita brucelosis kausa B. Melitensi.
Umumnya gejala klinis yang tampak sama pada hewan lainnya
meliputi epididimitis, hygroma, arthritis, spondylitis, dan orchitis.
Ada juga gejala utamanya adalah abortus pada betina bunting pada
trisemester (3-4 bulan) masa kehamilan. Pada kambing betina dapat
menyebabkan mastitis sebagai tanda awal terjadinya infeksi
brucelosis pada suatu kelompok (Quinn et al, 2006).
2.3.4 Pada Domba
Brucelosis pada domba jantan dibedakan menjadi 2 yaitu
brucellosis klasik dan brucellosis epididymitis. Brucellosis klasik
disebabkan oleh B. melitensis yang banyak menyerang domba di
wilayah penggembalaan secara intensif sedangkan brucelosis
epididymitis disebabkan oleh B. ovis. Gejala klinis berupa lesi pada
organ genital, abortus atau kematian neonatal, epididymitis unilateral
atau bilateral, atrofi testis, dan spondilitis (Quinn et al, 2006).
2.3.5 Pada Kuda
Patogen yang menginfeksi adalah B. abortus dan B. suis.
Biasanya penyakit ini bermanifestasi dalam bentuk fistulous bursitis
pool evil dan fistulus withers. Gejala abortus jarang terjadi
meskipun pada feses ditemukan agen infeksi tapi gejala biasanya
berupa spondilitis. Pada umumnya kuda tahan terhadap infeksi dan

6
penularan penyakti dari kuda ke kuda belum diketahui (Quinn et al,
2006).
2.3.6 Pada Anjing dan Kucing
Kasus brucelosis pada anjing bersifat sporadis disebabkan oleh
B. abortus, B. suis, dan B. melitensis. Gejala bisa bersifat subkilnis
namun juga dapat muncul gejala seperti demam, kekurusan, ochitis,
anestrus, arthritis, dan abortus. Pada kucing, penyakit brucelosis
bersifat epizootic yang disebabkan oleh B. canis. Gejala klinis
penyakit pada kucing demam panjang, kematian embrionik, aborsi,
prostatitis, epididymitis, scrotal dermatitis, lymphadenitis, dan
splenitis. Abortus muncul pada 50 hari masa kebuntingan. Namun
meskipun dapat terinfeksi, kucing cenderung resisten dan jarang
dilaporkan adanya kasus brucelosis pada kucing (Quinn et al, 2006).
2.3.7 Pada Manusia
Manusia merupakan hospes aksidental dan tidak menularkan
pada manusia lainnya. Prevalensi infeksi pada hewan hewan
reservoir merupakan kunci terjadinya infeksi pada manusia. Manusia
dapat tertular oleh B. melitensis, B. suis, B. abortus, dan B. Canis.
Dari keempat strain Brucella yang dapat menginfeksi manusia, B.
melitensis lah yang paling bersifat patogen dan paling cepat menulari
manusia. Pada umumnya masa inkubasi penyakit antara 1 3
minggu. Penyakit ini bersifat septikemik dengan kematian yang tiba
tiba atau gejala awalnya tidak diketahui secara pasti yang disertai
oleh demam. Gejala brucelosis bersifat akut yang gejalanya meliputi
demam undulan merupakan gejala khas karena suhu tubuh naik turun
dan bervariasi hingga 40C , berkeringat, dan badan bau busuk di
malam hari. Gejala lainnya seperti susah tidur, impotent, sakit
kepala, anoreksia, sembelit, dan arthralgia. Brucellosis juga
berpengaruh pada sistem saraf. Banyak pasien juga mengalami
pembesaran getah bening (splenomegali) dan hepatomegali.
Komplikasi brucelosis dapat menimbulkan masalah serius seperti

7
encephalitis, meningen peripheral neuritis, spondilitis, supuratif
arthritis, dan endokarditis. Bentuk kronis brucelosis dapat muncul
dan disertai reaksi hipersensitivitas. Pada daerah enzootik, kasus
brucelosis dapat bersifat asimptomatik (Quinn et al, 2006).
2.4 Diagnosa
Untuk keperluan diagnosa terhadap brucelosis, sampel dapat diambil
dari beberapa organ yang biasanya bergantung kepada gejala klinis yang
timbul. Pada hewan, bagian placenta adalah bagian yang paling banyak
terkena infeksi dan memiliki konsentrasi bakteri yang paling tinggi,
kemudian nodus lympatikus dan susu ; dan darah pada manusia. Organ lain
yang mengandung konsentrasi organisme yang tinggi adalah usus, limpa
dan paru-paru dari janin yang digugurkan, swab vagina, semen dan cairan
arthritis atau hygroma dari hewan dewasa. Dari karkas hewan, jaringan yang
memiliki potensi untuk pembuatan kultur adalah glandula mammae, nodus
limpatikus supramammary, illiaca medial dan illiaca internal,
retropharyngeal, parotis, prescapular, serta limpa. Semua spesimen harus
dikemas secara terpisah dan dengan segera dibawa ke laboratorium dengan
menggunakan kontainer yang anti bocor. Untuk manusia, sampel darah
untuk kultur merupakan material yang bersifat pilihan, namun spesimen
harus diambil pada awal terjadinya penyakit. Sampel harus disimpan dalam
kondisi beku sampai dengan digunakan untuk pembuatan kultur (OIE,
2009).
Metode diagnosa laboratoris terhadap brucelosis adalah identifikasi
agen penyebab dan uji serologis. Beberapa metode yang termasuk dalam
identifikasi agen penyebab adalah pewarnaan gram (MZN staining),
observasi langsung morfologi koloni (Henrys method dengan reflek oblik
dari lampu, the acriflavine test oleh Braun & Bonestell, atau White &
Wilsons crystal violet method untuk pewarnaan koloni), karakteristik
pertumbuhan, test urease and oxidase, dan test slide agglutination dengan
serum polyclonal anti-Brucella (anti-A, -M atau -R monospecific sera),
culture (biakan) dan molekuler sedangkan metode uji serologis dalam

8
mendeteksi penyakit brucellosis adalah Rose Bengal Plate Test (RBPT),
Buffered Plate Agglutination Test (BPAT), Complement Fixation Test
(CFT), Enzym-linked Immunosorbent Assay (ELISA), Flourenscence
Polarisation Assay (FPA), Brucellin Skin Test (Skin Test), dan Serum
Agglutination Test (SAT) Milk Test.
Pewarnaan (Staining).
Metode karakterisasi pewarnaan masih sering digunakan meskipun teknik
ini tidak spesifik karena agen abortus lainnya seperti Chlamydophila abortus
(sebelumnya Chlamydia psittaci) atau Coxiella burnetiiare akan
memberikan hasil warna merah juga seperti Brucella. Teknik seperti ini
akan memberikan informasi yang berharga dalam hal analisa terhadap
material yang diabortuskan. Brucella spp. berbentuk coccobacillus (batang
halus) dengan panjang 0.6-1,5 m dan lebar 0.6 m. Biasanya beraksi
secara tunggal dan dapat diamati dalam dua atau lebih kelompok, jarang
terdapat formasi bipolar. Brucella spp. adalah bakteri gram negatif yang
mampu untuk bertahan dengan perlakuan asam yang lemah dan hal itu yang
menimbulkan warna merah setelah dilakukan pewarnaan khas modifikasi
Stamps dari metode ZiehlNeelsens. Metode ini biasanya digunakan
untuk pewarnaan gram dari sampel organ atau cairan tubuh yang
sebelumnya difiksasi denga panas atau etanol. Bakteri ini akan terwarnai
merah dengan latar belakang biru, tunggal (kadang 2-3 kelompok), tidak
bipolar, berbentuk batang pendek. Namun demikian, mikroorganisme yang
terkait secara morfologis seperti Chlamydophila abortus, Chlamydia
psittaci dan Coxiella burnetti dapat menjadi differensial diagnosa karena
kesamaan pada bagian superfisial. Dengan demikian, isolasi Brucella sp
pada media kultur yang sesuai seperti media selektif Farrell
direkomendasikan untuk akurasi dari diagnosa (OIE Terrestrial Manual,
2016).
Biakan (Culture)
Isolasi bakteri selalu diperlukan untuk mengelompokkan strain. Media yang
digunakan biasanya media solid yang akan memudahkan pengenalan dari

9
koloni yang diisolasi. Media solid yang sering digunakan adalah tryptose
(atau trypticase)soy agar (TSA) dengan penambahan 2-5% serum kuda
atau sapi untuk pertumbuhan Brucella abortus biovar 2. Media lainnya yang
dapat digunakan adalah blood agar (BA), serumdextrose agar (SDA) atau
glycerol dextrose agar. Media selektif yang digunakan untuk isolasi bakteri
Brucella sp. adalah medium Farrel (FM) yang mengandung antibiotik yang
mampu untuk menghambat pertumbuhan bakteri lain yang ada di dalam
sampel. Media selektif ThayerMartins modified (mTM) juga biasa
digunakan tetapi kurang selektif dibading FM. Media selektif terbaru yang
dapat digunakan adalah CITA. Beberapa spesies Brucella, seperti tipe
Brucella abortus yang ada di alam liar (biovar 1 4), perlu CO2 untuk
pertumbuhan, sementara yang lain, seperti tipe Brucella abortus yang ada di
alam liar (biovar 5,6,9). Diinkubasi dengan konsentrasi CO2 5-10% pada
suhu 36-38C. Setelah 2-3 hari, koloni akan tampak kasar, diameter 1-2
mm, pinggiran halus, translucen, berwarna pucat madu, permukaan konveks
tampak dari atas. Untuk sampel yang memiliki konsistensi berupa cairan,
sensitivitas pengujian akan meningkat apabila menggunakan media
biphasic seperti media Castaneda, pada awalnya digunakan untuk kultur
darah manusia. Pertumbuhan mungkin akan nampak setelah hari, tapi
biakan/kultur akan dianggap negatif setelah 2-3 minggu masa inkubasi (OIE
Terrestrial Manual, 2016).
Identifikasi Molekuler
Untuk dapat menentukan tipe dari Brucella spp., AMOS PCR multipleks,
dinamai berdasarkan penggunaannya yang untuk mendeteksi spesies
abortus, mellitensis, ovis, suis. PCR ini beserta dengan protokolnya
memungkinkan untuk dapat membedakan berbagai macam spesies Brucella
dan membedakan antara vaksin dengan strain yang berasal dari alam liar.
Namun demikian mereka tidak dapat membedakan semua biovar dari semua
spesies Brucella. PCR multiplex Bruce Ladder adalah metode pertama
yang di desain untuk mengidentifikasi dan mendifferensiasikan semua
spesies Brucella yang telah dikenal dan strain vaksin pada uji yang sama.

10
Beberapa teknik identifikasi terbaru tampak menjanjikan untuk dapat
mendifferensiasikan isolat dari biovar yang sama dari satu spesies yang ada
: singler-nucleotide polymorphism, polimorfisme nukleotida tunggal, yang
mendeteksi perbedaan nukleotida tunggal dalam urutan DNA dari satu
spesies : MLSA, yang mendeteksi variasi sequence DNA dalam satu set
gen-gen pemelihara tubuh, dan mengkarakterisasikan strain melalui profil
unik allel mereka ; dan MLVA yang menganalisa variasi lokus-lokus yang
mengandung sequence yang diulang. Untuk lebih singkatnya, metode
identifikasi tipe secara klasik dapat membedakan biovar-biovar dari
Brucella, namun, sebentar lagi singler-nucleotide polymorphism, MLSA,
dan MLVA akan menjadi teknik identifikasi yang secara rutin dilaksanakan
untuk dapat membedakan strain pada level biovar yang sama, yang
memungkinkan analisa epidemiologi molekuler. PCR adalah metode yang
baru dan menjanjikan yang memungkinkan untuk dapat mendapatkan
diagnosa Brucellosis secara cepat dan akurat tanpa keterbatasan yang
dimiliki oleh metode-metode konvensional. PCR didasarkan kepada sifat
polimorfisme yang timbul dari insersi sequence yang spesifik pada setiap
spesies dalam kromosom Brucella. Teknik PCR memiliki kekurangan yaitu
ketidakmampuannya dalam mengidentifikasi Brucella canis dan Brucella
neotomae (OIE Terrestrial Manual, 2016).
Rose Bengal Plate Test (RBPT)
RBPT adalah teknik tempat agglutinasi yang juga dikenal dengan sebutan
uji kartu (card test) atau tes buffered Brucella antigen. Uji ini menggunakan
larutan sel halus Brucella abortus yang diwarnai dengan rose Bengal,
dengan larutan penyangga sampai dengan pada pH 3,65. Pada pH netral, uji
ini dapat mengukur keberadaan igM, IgG1 dan IgG2. Namun, IgM nampak
sebagai bagian yang paling aktif. RBPT, pada yang disangga yaitu 3,5 ,
mencegah agglutinasi dengan IgM, dan tampaknya hanya mengukur IgG1.
Metode ini adalah uji yang direkomendasikan secara internasional sebagai
uji skrining pada ruminansia kecil, namun tidak memiliki derajad
standarisasi antigen. pH yang rendah dari antigen akan meningkatkan

11
spesifitas dari uji ini, sedangkan tempertur antigen dan temperatur
lingkungan tempat dilaksanakannya pengujian dapat mempengaruhi
sensitivitas dan spesifitas dari uji ini (OIE Terrestrial Manual, 2016).
Buffered Plate Agglutination Test (BPAT)
Metode pengujian RB (Rose Bengal) dan BA (Buffered Plate Agglutination)
adalah metode uji antigen Brucella dengan larutan penyangga yang sudah
umum dikenal. Pengujian-pengujian ini adalah uji aglutinasi secara cepat
yang membutuhkan waktu 4 menit sampai dengan selesai pada sebuah glass
plate dengan bantuan suatu antigen dengan larutan penyangga yang
bernuansa asam (pH3.65 0.05). Pengujian-pengujian ini telah dikenal di
beberapa negara sebagai uji skrining standar karena sangat sederhana dan
dianggap lebih sensitif dibandingkan dengan SAT. Seperti RBT, metode uji
ini juga sangat sensitive, terutama jika untuk mendeteksi antibody yang
diinduksi oleh vaksin, dan sampel yang memberikan hasil positif harus di
uji ulang dengan menggunakan metode uji konfirmasi dan/atau uji
komplemen lainnya (OIE Terrestrial Manual, 2016).
Complement Fixation test (CFT)
Kemampuan CFT terutama dalam mendeteksi isotipe antibodi IgG1,
sedangkan sebagian dari IgM hancur pada saat dilaksanakannya proses
inaktivasi. Karena antibodi tipe IgG1 muncul setelah didahului dengan
kemunculan antibodi tipe IgM, pengendalian dan surveilans terbaik
dilaksanakan dengan menggunakan metode SAT dan CFT. Uji ini
menunjukkan hubungan yang baik dengan ditmukannya organisme Brucella
pada hewan yang dimasukkan organisme Brucella ataupun pada hewan yang
terinfeksi secara alamiah. Walaupun uji dapat dilaksanakan secara cepat dan
mampu memberikan hasil yang akurat, namun uji ini tidak mampu
membedakan tipe antibodi akibat infeksi dan tipe antibodi akibat vaksinasi.
CFT juga dapat digunakan untuk menguji suatu hasil positif palsu, ketika
antibodi IgG2 menghambat terjadinya fiksasi komplemen. CFT adalah uji
yang digunakan secara luas dan telah dianggap sebagai yang paling spesifik
dan merupakan uji serologis yang diterima untuk mendiagnosa Brucellosis.

12
Dengan demikian, CFT adalah uji yang direkomendasikan untuk diterapkan
pada perdagangan internasional (OIE Terrestrial Manual, 2016).
Enzym-Linked Immunosorbent Assay (ELISA)
Metode ELISA dibagi menjadi dua kategori, metode tidak langsung ELISA
(iELISA) dan metode ELISA kompetitif (cELISA). Kebanyakan iELISA
menggunakan LPS halus dimurnikan sebagai antigen tapi ada kemungkinan
yang lebih bagus dengan menggunakan immunoglobulin konjugat anti-sapi.
Kebanyakan iELISA mendeteksi terutama sub-kelas IgG atau IgG. Kualitas
utama terletak pada tingginya sensitivitas yang mereka miliki, tetapi lebih
rentan terhadap reaksi non-spesifik, terutama yang disebabkan oleh infeksi
YO9. Reaksi silang yang terlihat di iELISA mendukung pengembangan
cELISA. Rantai dari LPS halus Brucella mengandung epitop tertentu yang
tidak dibagi dengan LPS dari YO9. Oleh karena itu, dengan menggunakan
antibodi monoklonal yang ditujukan terhadap epitop tertentu dari LPS
Brucella, sehingga pengembangan cELISA menjadi lebih spesifik telah
dimungkinkan. Uji ini lebih spesifik, tetapi kurang sensitif, dibandingkan
dengan iELISA (OIE Terrestrial Manual, 2016).
Flourescence Polarization Assay (FPA)
FPA didasarkan pada cahaya terpolarisasi menarik molekul flourescence,
molekul flourescence akan memancarkan cahaya terpolarisasi. Dalam
larutan, tingkat polarisasi cahaya yang dipancarkan berbanding terbalik
dengan kecepatan rotasi molekul, yang dipengaruhi oleh tingkat viskositas
larutan, temperatur absolut, volume molekul dan konstanta gas.Dalam, hal
serologi terhadap Brucellosis, berat molekul subunit kecil OPS diberikan
label dengan menggunakan fluorescein isothiocyanate dan digunakan
sebagai antigen. Ketika sedang menguji serum, darah atau air susu, jika ada
antibodi terhadap OPS, laju rotasi antigen yang berlabel; akan menurun
sampai pada level yang sebanding dengan jumlah antibodi yang ada. Uji
FPA sangatlah akurat, dan tingkat spesifitas maupun sensitivitasnsya dapat
diatur dengan mengubah kisaran nilai reaksi antara hasil positif dan negatif
untuk dapat memberikan hasil uji skrining yang memiliki tingkat sensitivitas

13
yang tinggi atau memiliki tingkat spesifitas yang tinggi ketika digunakan
sebagai uji konfirmasi. Uji FPA dapat membedakan antibodi yang timbul
dari kegiatan vaksinasi pada sebagian besar hewan yang divaksinasi, dengan
antibodi yang timbul sebagai akibat dari reaksi silang dari mikroorganisme
yang menjasi penyebabnya (OIE Terrestrial Manual, 2016).
Brucellin Skin Test
Skin test (Uji Kulit) menggunakan antigen protein yang berasal dari
Brucella (gen Brucella atau Brucellin). Brucellosis mampu untuk
menimbullkan respon selluler maupun respon yang dimedmiasi oleh
antibodi pada tubuh hospes ; sehingga brucellin skin test (uji kulit brucellin)
harus dipertimbangkan penggunaannya dalam kondisi reaksi serologis yang
menghasilkan positif palsu. Uji ini memiliki tingkat spesifitas yang tinggi
sehingga hewan yang terinfeksi secara laten tanpa menghasilkan level
antibodi yang mampu untuk diukur, dan hewan yang tidak divaksinasi yang
memberikan reaksi positif terhadap uji ini, harus dikategorisasikan sebagai
hewan yang terinfeksi. Oleh karena itu, hasil dari pengujian dengan
menggunakan metode ini dapat membantu dalam melaksanakan interpretasi
terhadap dugaan reaksi serologis positif palsu diakrenakan keberadaan
bakteri yang mampu menyebabkan reaksi silang, teruatama didaerah yang
telah dinyatakan secara resmi sebagai daerah bebas Brucellosis (OIE
Terrestrial Manual, 2016).
Serum Agglutination (SAT)
Uji ini didasarkan kepada reaktivitas antibodi terhadap bagian halus
lipopolisakarida (S-LPS). Konsentrasi antibodi yang terlalu tinggi akan
mengakibatkan terjadinya hasil negatif palsu karena terjadi efek prozone
yang dapat diatasi dengan melakukan pengenceran sampel serum 1 : 2
sampai dengan 1 : 64 yang akan meningkatkan spesifitas uji. Uji ini
dilaksanakan pada pH sekitar netral, yang membuatnya lebih efisien dalam
mendeteksi antibodi IgM. Oleh karena itu, metode uji ini paling baik untuk
mendeteksi kejadian infeksi akut. Uji ini tidak efektif untuk mendeteksi
IgG, sehingga uji ini memiliki level spesifitas yang rendah. SAT tidak dapat

14
diterapkan untuk menguji Brucella canis dan Brucella ovis karena kedua
spesies ini tidak memiliki rantai O polisakarida pada permukaannya (OIE
Terrestrial Manual, 2016).
Milk Ring Test (MRT)
MRT pada dasarnya adalah uji agglutinasi cepat yang dilakukan pada susu
atau krim. Sel-sel Brucella yang dicat menggunakan haematoxylin
ditambahan ke dalam cairan susu dan diinkubasikan selama beberapa waktu
agar terjadi reaksi. Immunoglobulin yang ada pada air susu sebagian akan
menempel pada bagian Fc pada globuli lemak dari moleku susu.
Immunoglobulin yang dapat dideteksi oleh MRT adalah IgM dan IgA. Uji
ini bisa diterapkan pada hewan secara individual atau pada tempat/tangki
pengumpul air susu. MRT telah menjadi uji yang sangat efektif dan
biasanya menjadi pilhan dalam menguji kawanan sapi perah, dan mungkin
dapat digunakan sebagai metode untuk melaksanakan kegiatan skrining
dengan biaya yang rendah jika dibandingkan dengan metode uji yang
lainnya (OIE Terrestrial Manual, 2016).

15
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Brucellosis dapat terjadi pada sapi, babi, kambing, domba, kuda,
anjing,kucing dan juga manusia. Penyakit ini ditetapkan oleh OIE
sebagai penyakit zoonosis.
Tekik diagnosa brucellosis berdasarkan gejala klinis, isolasi \bakteri
dan uji serologis.
Isolasi bakteri Brucella sp dengan meggunakan media Farrel dengan
hasil positif koloni akan tampak kasar, diameter 1-2 mm, pinggiran
halus, translucen, berwarna pucat madu, permukaan konveks tampak
dari atas.
Uji serologis yang digunakan untuk deteksi brucellosis menurut OIE
adalah Rose Bengal Plate Test (RBT) ; Complement Fixation Test
(CFT) ; Enzym-linked Immunosorbent Assay (ELISA) : Flourescence
Polarisation Assay (FPA). Sensitivitas dari tertinggi ke terendah dari 4
uji tersebut secara berturut turut adalah : ELISA > FPA > CFT > RBT .
Spesifitas dari tertinggi ke terendah dari 4 uji tersebut secara berturut
turut adalah : DFT > ELISA > FPA > RBT.

16
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2016. The Merck Veterinary Manual 11th Edition, Merek & CO, Inc
Rahway, New Jersey, USA.

Anonim, 2016. OIE Terrestrial Manual Chapter 2.1.4 Bovine brucellosis, 2016.

Anonim, 2009. Textbook for Veterinary Microbiology (VETS3040) and Animal


Disease (VETS3038): Bacteriology. Faculty Of Veterinary Science. The
University Of Sydney.

Megid, Jane., Mathias, Luis Antonio., dan Robles Carlos A. 2014, Clinical
Manifestations of Brucellosis in Domestic Animals and Humans, The Open
Veterinary Science Journal Vol 4.

Lake, P. R. M. T / 2008 / Kajian Lintas Seksional Brucellosis pada Sapi di


Kabupaten Belu. Bogor : Bogor

Noor, Susan Maphilindawati. 2006. Brucellosis: Penyakit Zoonosis Yang Belum


Banyak Dikenal Di Indonesia. Balai Penelitian Veteriner Bogor : Bogor.

Perwitasari, R. 2010. Prevalensi dan Faktor Penyebab Brucellosis pada Sapi


Potong di Kabupaten Kupang. Bogor : Bogor.

Quinn PJ, Markey BK, Carter ME, Donnelly WJC, Leonard FC and Maghire D
2002. Veterinary Microbiology and Microbial Disease. Blackwell Science
Ltd. Blackwell Publishing Company Australia.

17