Anda di halaman 1dari 2

1.

Fase inflamasi
Fase inflamasi berlangsung sejak terjadinya luka sampai hari kelima. Pembuluh Fase penyembuhan luka
darah yang terputus pada luka menyebabkan pendarahan dan tubuh akan Fase Inflamasi (fase initial, substrat, produktif, autolitik,katabolik)
berusaha menghentikannya dengan vasokonstriksi. Pengerutan pembuluh yang Reaksi awal tubuh terhadap adanya trauma luka, antara hari 1-4,reaksi untuk
terputus (retraksi) dan reaksi hemostasis. Hemostasis terjadi karena trombosit menghilangkan mikroorganisme, benda asing dan jaringan non vital yang
yang keluar dari pembuluh darah saling melengket dan bersama dengan jala terdapat dalam luka sebagai persiapan reparasi. Makin hebat proses
fibrin yang terbentuk membekukan darah yang keluar dari pembuluh darah. Sel inflamasi terjadi makin lama fase ini berlangsung. Di dalam fase ini terjadi 3
mast dalam jaringan ikat menghasilkan serotonin dan histamin yang aktivitas: respon vaskuler, respon hemostatik dan respon seluler.
meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga terjadi eksudasi cairan, Fase Proliferatif (fibroplasia, kolagen)
pembentukan sel radang disertai vasodilatasi setempat menyebabkan Fase ini terdiri dari proses epitelialisasi, kontraksi luka dan reparasi jaringan
pembengkakan. ikat. Berlangsung pada hari ke 5 20.
2.Fase proliferasi Fase Maturasi (remodelling, resorbsi, diferensiasi).
Fase proliferasi disebut juga fibroplasia karena yang menonjol adalah proses Proses ini berlangsung setelah integritas jaringan tercapai. Proses ini mulai
proliferasi fibroblas. Fase ini berlangsung dari akhir fase inflamasi sampai kira-kira hari ke 21 sampai sekitar 3 bulan atau bahkan bisa bertahun-tahun
akhir minggu ketiga. Pada fase ini serat kolagen yang mempertautkan tepi luka.
3 Fase penyudahan. Lipscomb GH. Wound healing, suture material and surgical instrumentation.
Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri dari penyerapan kembali Dalam: Rock AJ, Jones HW, penyunting. Te lindes operative gynecology. Edisi
jaringan yang berlebih dan perupaan kembali jaringan yang terbentuk. Fase ini ke-10. Philadelphia : Lippincott Williams & wilkins; 2008 : 226-42.
dapat berlangsung berbulan-bulan dan dinyatakan berakhir kalau semua tanda
radang sudah lenyap. Tubuh berusaha menormalkan kembali semua yang Proses penyembuhan luka pada fase proliferasi secara normal memiliki masa
menjadi abnormal karena proses penyembuhan (Sjamsuhidajat. R dan Wim de perbaikan yang sangat cepat, yaitu : 24 sampai 48 jam, tetapi untuk mencapai
jong, 1997). reaksi puncak memerlukan waktu yang lebih lama, biasanya 2 sampai 3 minggu
pasca cidera dan proses akan berjalan perlahan hingga beberapa bulan (Watson,
2.2. Proses penyembuhan luka 2006)
Penyembuhan luka adalah proses kinetik dan metabolik yang kompleks yang Watson, 2006, Soft Tissue Healing and Repair: 2
melibatkan berbagai sel dan jaringan dalam usaha untuk menutup tubuh dari
lingkungan luar dengan cara mengembalikan integritas jaringan. Pada setiap Pada luka kronik khususnya pasien diabetes, jangka waktu proses proliferasi tidak
perlukaan baik yang bersih maupun yang terinfeksi tubuh akan berusaha dapat di prediksi. Berdasarkan penelitian Usui tahun 2008 hal ini terjadi karena
melakukan penyembuhan luka.Dikenal tiga cara penyembuhan luka : sel basal keratinosit pada luka kronik sulit di aktivasi oleh tubuh (Usui, 2008).
Penyembuhan primer Selama proses proliferasi berlangsung, sel-sel akan bermigrasi ke dalam matriks
Adalah penyembuhan yang terjadi tanpa penyulit. Pembentukan jaringan sementara dan fibroblast luka memperoleh fenotipe kontraktil yang akan
granulasi sangat minimal, misalnya pada luka sayat atau luka aseptik dikelola merubah menjadi myofibroblasts. Tipe sel ini memainkan peran utama dalam
dengan penutupan yang akurat. kontraksi luka (Werner, 2003)
Penyembuhan sekunder Selain adanya mekanisme sel yang bekerja dalam tubuh, jangka waktu
Adalah penyembuhan yang terjadi dengan pembentukan jaringan granulasi pemulihan luka juga akan dipengaruhi oleh faktor yang dapat mengurangi
sebelum terjadi jaringan epitelialisasi. Misalnya pada luka yang terbuka dan efisiensi penyembuhan, seperti : area sekitar luka yang kurang hygiene, efek
tidak dijahit atau luka suatu dead space. Keadaan ini bisa terjadi karena samping dari medikasi, gangguan vaskularisasi pada luka berupa kondisi yang
kerusakan atau kehilangan jaringan yang cukup luas atau infeksi. hypoxia, kebiasaan pasien mengkonsumsi alcohol atau merokok, dan kurangnya
Penyembuhan tertier suplai nutrisi (DiPietro, 2010). Pemulihan luka juga dipengaruhi oleh faktor,
Adalah penyembuhan yang dalam prosesnya dibantu dengan tindakan bedah seperti : infeksi bakteri yang menghasilkan biofilm, kadar kalium, dan cairan
agar luka tertutup. Misalnya pada luka yang dibiarkan terbuka pada fase-fase luka. Adanya biofilm pada dasar luka dapat menghambat aktivitas fagositosis
pertama penyembuhan luka (3-4 hari). Selanjutnya dijahit atau luka ditutup neutrofil polimorfonuklear. Biofilm ini dihasilkan oleh bakteri Staphylococcus
dengan skin graft. aureus dan Pseudomonas Aeuroginosa. Manifestasi klinis akibat adanya
hambatan tersebut yaitu proses inflamasi akan berlangsung lama dan kerusakan
jaringan baru saat memasuki fase proliferasi (DiPietro, 2010). Penelitian lain
menyebutkan penurunan ion Kalium (K+) dalam sel dapat menghambat
proliferasi yang berkaitan erat dengan respon fisiologis dari sel limfosit.
Hambatan kalium juga akan menyebabkan aktivasi sel terganggu dan akan
menimbulkan efek imunosupresif (Pardo, 2004). Sementara, pada cairan yang
dihasilkan dari luka kronik sangat berisiko menghambat proses proliferasi sel
fibroblast baru (NbFb) karena cairan tersebut bersifat apoptosis atau
mengandung jaringan mati. Cairan yang mengandung jaringan mati ini akan
menghambat konsistensi migrasi dari hormon growth factors dan sitokinin (Seah,
2005). Werner, Sabine, 2003, Regulation Of Wound Healing by Growth Factors
and Cytokines, : 836-837
DiPietro. L.A & Guo.S, 2010, Factor Affecting Wound Healing, United States
Of America (USA), Vol 89 : 223-227.
Pardo, Luis, 2004, Voltage-Gated Potassium Channels in Cell Proliferation,
Vol 19 : 285
Seah, Ching, 2005, Chronic Wound Fluid Suppresses Proliferation Of Dermal
Fibroblasts Through a Ras-Mediated Signaling Pathway, Vol 124:467

Skin graft yaitu tindakan memindahkan sebagian atau seluruh tebalnya kulit dari
satu tempat ke tempat lain supaya hidup ditempat yang baru tersebut dan
dibutuhkan suplai darah baru (revaskularisasi) untuk menjamin kelangsungan
hidup kulit yang dipindahkan tersebut
Perdanakusuma DS. Skin Grafting. Surabaya : Airlangga University Press, 1998;
1-38