Anda di halaman 1dari 54

Antara Darwin dan Harun Yahya: Mengenai Asal-usul Manusia

23 April 2015Esai, Karya, Kuliah, Semester 1, Sosiologi - Antropologiasal-


usul, Darwin,harun yahya, manusia
sebuah esai oleh Muh Rhaka Katresna (1404749), Mahasiswa Psikologi (kelas 1B)
Universitas Pendidikan Indonesia

Banyak orang memperbincangkan dan memperdebatkan teori mengenai asal-usul manusia.


Berbicara mengenai asal-usul manusia pastilah semua orang tahu. Dari sebuah garis sejarah,
sebagai bagian dari suatu bangsa, selayaknya manusia mengetahui apa yang membentuk
dirinya di masa lalu. Maka dari situlah manusia dapat memahami fitrahnya dalam hidup.

Dalam studi yang saya kerjakan, saya diperkenalkan dengan dua tokoh yang menjadi bahan
kajian saya dalam tulisan ini; Darwin dan Harun Yahya. Kedua tokoh tersebut mengajukan
suatu teori mengenai asal-usul manusia yang hingga kini masih diperdebatkan.Berikut
penjelasan mengenai konsep masing-masing tokoh dan perbandingan di antara kedua paham
tersebut.

Konsep Darwin

Charles Robert Darwin (lahir di Shrewsbury, Shropshire, Inggris, 12 Desember 1809


meninggal di Downe, Kent, Inggris, 19 April1882 pada umur 72 tahun) adalah seorang
naturalis Inggris yang teori revolusionernya meletakkan landasan bagi teori evolusi modern
dan prinsip garis keturunan yang sama (common descent) dengan mengajukan seleksi alam
sebagai mekanismenya.

Bukunya On the Origin of Species by Means of Natural Selection, or The Preservation of


Favoured Races in the Struggle for Life(biasanya disingkat menjadi The Origin of Species)
(1859) menjelaskan evolusi melalui garis keturunan yang sama sebagai penjelasan ilmiah
yang dominan mengenai keanekaragaman hayati.

Evolusi melalui mutasi dan seleksi alam pada saat ini adalah teori sentral dalam biologi, yang
memberikan kerangka penjelasan bagi berbagai fakta dalam catatan fosil, keragaman hayati,
pewarisan sifat, adaptasi, penyebaran, dan anatomi makhluk hidup. Teori evolusi yang
sekarang diterima para ilmuwan biologi pertama kali dirumuskan oleh Charles Darwin. Pada
1940-an para ilmuwan dari tiga cabang biologi yaitu genetika, paleontologi, dan taksonomi
menyempurnakan teori Darwin dengan melakukan sintesis antara konsep-konsep dan fakta-
fakta yang ditemukan di ketiga bidang tersebut, menghasilkan Neo-Darwinisme yang kini
menjadi dasar penjelasan pada hampir semua idang dalam biologi.

Teori Darwin yang menyatakan bahwa semua makhluk hidup bersaing di alam ini melalui
seleksi alam, membuat semua manusia terutama ras-ras tertentu merasa terancam. Sejak teori
ini dihembuskan, sejak itu pula secara signifikan manusia semakin berlomba untuk dapat
bertahan dengan berbagai cara, terutama melalui peperangan.

Pernyataan Darwin mendukung bahwa manusia modern berevolusi dari sejenis makhluk yang
mirip kera. Selama proses evolusi yang diduga telah dimulai dari 5 atau 6 juta tahun yang
lalu, dinyatakan bahwa terdapat beberapa bentuk peralihan antara manusia modern dan nenek
moyangnya yang ditetapkan menjadi empat kelompok dasar sebagai berikut:

1. Australophithecines (berbagai bentuk yang termasuk dalam genus Australophitecus)


2. Homo habilis
3. Homo erectus
4. Homo sapiens

Para evolusionis menggolongkan tahapan selanjutnya dari evolusi manusia sebagai


genus Homo, yaitu manusia. Menurut pernyataan evolusionis, makhluk hidup dalam
kelompok Homo lebih berkembang daripada Australopithecus, dan tidak begitu berbeda
dengan manusia modern. Manusia modern saat ini, yaitu spesies Homo sapiens, dikatakan
telah terbentuk pada tahapan evolusi paling akhir dari genus Homo ini. Fosil seperti Manusia
Jawa, Manusia Peking, dan Lucy, yang muncul dalam media dari waktu ke waktu dan
bisa ditemukan dalam media publikasi dan buku acuan evolusionis, digolongkan ke dalam
salah satu dari empat kelompok di atas. Setiap pengelompokan ini juga dianggap bercabang
menjadi spesies dan sub-spesies, mungkin juga. Beberapa bentuk peralihan yang diusulkan
dulunya, seperti Ramapithecus, harus dikeluarkan dari rekaan pohon kekerabatan manusia
setelah disadari bahwa mereka hanyalah kera biasa.

Dengan menjabarkan hubungan dalam rantai tersebut , evolusionis secara tidak langsung
menyatakan bahwa setiap jenis ini adalah nenek moyang jenis selanjutnya. Akan tetapi,
penemuan terbaru ahli paleoanthropologi mengungkap bahwa australopithecines, Homo
habilis dan Homo erectus hidup di berbagai tempat di bumi pada saat yang sama. Lebih jauh
lagi, beberapa jenis manusia yang digolongkan sebagai Homo erectus kemungkinan hidup
hingga masa yang sangat moderen. Dalam sebuah artikel berjudul Latest Homo erectus of
Java: Potential Contemporaneity with Homo sapiens ini Southeast Asia, dilaporkan bahwa
fosil Homo erectus yang ditemukan di Jawa memiliki umur rata-rata 27 2 hingga 53.3 4
juta tahun yang lalu dan ini memunculkan kemungkinan bahwa H. erectus hidup semasa
dengan manusia beranatomi moderen (H. sapiens) di Asia tenggara

Lebih jauh lagi, Homo sapiens neanderthalensis (manusia Neanderthal) dan Homo sapiens
sapiens (manusia moderen) juga dengan jelas hidup bersamaan. Hal ini sepertinya
menunjukkan ketidakabsahan pernyataan bahwa yang satu merupakan nenek moyang bagi
yang lain.

Pada dasarnya, semua penemuan dan penelitian ilmiah telah mengungkap bahwa rekaman
fosil tidak menunjukkan suatu proses evolusi seperti yang diusulkan para evolusionis. Fosil-
fosil, yang dinyatakan sebagai nenek moyang manusia oleh evolusionis, sebenarnya bisa
milik ras lain manusia atau milik spesies kera.

Konsep Harun Yahya

Adnan Oktar (lahir pada tahun 1956 di Ankara, Turki), juga dikenal sebagai Harun Yahya
(diambil dari nama nabi Harun dan Yahya) atau Adnan Hoca, adalah seorang penulis dan
kreasionis Islam. Ia merupakan penentang teori evolusi, Darwinisme dianggapnya sebagai
sumber terorisme.

Harun Yahya mengajukan usul untuk menggantikan teori evolusi Darwin. Teori Harun Yahya
berhak menerima pertimbangan serius dari kalangan ilmuwan biologi. Teori ini menjelaskan
berbagai penemuan dalam biologi dengan lebih baik daripada kerangka penjelasan evolusi
yang sekarang berlaku.

Meski Harun Yahya belum memberikan deskripsi sistematis atas teori yang mereka ajukan.
Harun Yahya menjelaskan kajiannya melalui buku Keruntuhan Teori Evolusi yang berisi:

1. Jenis-jenis makhluk hidup tak bisa berubah. Tidak mungkin terjadi perubahan dari
satu bentuk makhluk hidup ke bentuk lainnya, misalnya dari ikan menjadi amfibi dan reptil,
reptil ke burung, atau mamalia darat ke paus.
2. Tiap jenis makhluk hidup tidak bekerabat satu sama lain dan diturunkan dari leluhur
yang sama. Masing-masing merupakan hasil dari suatu tindakan penciptaan tersendiri.
3. Seleksi alam sebagaimana ditemukan Darwin adalah kaidah yang berlaku di alam,
namun tidak pernah menghasilkan spesies baru.
4. Tidak ada mutasi yang memberikan keuntungan berupa peningkatan kelestarian
makhluk hidup. Selain itu, mutasi tak menambah kandungan informasi dalam materi genetis
makhluk hidup.
5. Catatan fosil tak menunjukkan adanya bentuk transisional, serta menunjukkan
penciptaan tiap kelompok makhluk hidup secara terpisah.
6. Abiogenesis (kemunculan makhluk hidup dari materi tak-hidup) tak mungkin terjadi.
7. Kerumitan dan kesempurnaan yang ditemukan pada tubuh dan DNA makhluk hidup
tak timbul karena kebetulan, namun merupakan bukti bahwa ada yang merancang kerumitan
tersebut.
8. Materi dan persepsi kita adalah ilusi; yang nyata adalah Allah, yang meliputi
segalanya.

Teori Harun Yahya dan fakta Teori Harun Yahya menggunakan desain sebagai pengganti
evolusi untuk menjelaskan kerumitan struktur dan keragaman kehidupan. Bila teori mereka
lebih baik daripada evolusi, maka penjelasan desain seharusnya bisa diterapkan pada tiap
peristiwa pada sejarah kehidupan di Bumi. Tentunya tidak logis bila penjelasan desain hanya
diterapkan pada beberapa kasus (misalnya kejadian manusia) namun pada kasus lain
penjelasannya diserahkan pada evolusi. Asal-usul dari tiap jenis makhluk hidup harus bisa
dijelaskan sebagai tindak penciptaan terpisah.

Menurut Harun Yahya, kerumitan yang ditemukan pada tubuh makhluk hidup harus
merupakan hasil ciptaan Sang Pencipta. Jelas bahwa kerumitan tersebut bisa ditemukan di
berbagai makhluk hidup.
Dalam menyerang teori evolusi Darwin, Harun Yahya menyatakan bahwa mutasi dan seleksi
alam tidak mungkin menghasilkan spesies baru. Tidak ada mutasi menguntungkan, menurut
mereka; semua mutasi hanya menghasilkan cacat pada makhluk hidup yang mengalaminya.
Bagaimana menilai klaim ini? Mudah saja ditunjukkan bahwa ada mutasi yang bisa
meningkatkan kelestarian (mutasi menguntungkan), seperti timbulnya kekebalan pada
bakteri, kemampuan mencerna laktosa pada sebagian manusia, dan lain-lain. Namun penulis
lebih tertarik membahas konsekuensi dari klaim tersebut bila memang benar, seperti yang
diyakini para pendukung teori Harun Yahya. Mutasi adalah sesuatu yang selalu terjadi dalam
proses perkembangbiakan makhluk hidup. Setiap makhluk hidup adalah mutan, karena
memiliki DNA yang berbeda dengan induknya. Bila tidak ada mutasi menguntungkan, maka
makhluk hidup tidak bisa berbuat apa-apa apabila menghadapi perubahan lingkungan. Tidak
akan ada adaptasi yang timbul, karena tiap mutasi hanya menghasilkan cacat. Digabungkan
dengan penjelasan teori Harun Yahya bahwa tiap jenis makhluk hidup adalah hasil dari
tindakan penciptaan terpisah, maka konsekuensinya adalah bahwa setiap hasil ciptaan
tersebut tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menunggu punah, entah karena kalah bersaing
ataupun karena pengumpulan efek buruk mutasi. Entah apa niat Sang Desainer yang
dibayangkan Harun Yahya berbuat demikian.

Poin terakhir dari teori Harun Yahya yang bisa ditanggapi adalah pernyataan bahwa segala
sesuatu adalah ilusi. Penulis berpendapat bahwa apabila segala sesuatu adalah ilusi, maka
tidak ada gunanya kita berargumen menggunakan fakta-fakta yang ada di alam karena
segalanya tidak nyata. Semua pernyataan, baik oleh evolusionis maupun Harun Yahya,
didasarkan pada fakta-fakta yang sebenarnya hanya ilusi. Manusia hidup dalam dunia tak
nyata yang ada dalam pikirannya sendiri. Dan menurut teori Harun Yahya, pencipta dari
segala ilusi tersebut adalah Tuhan, Sang Desainer. Tuhan menciptakan dunia ilusi di mana
kita merasa hidup dan beraktivitas sehari-hari di dalamnya, dan apabila kita mati, kita
dipindahkan dari dunia ilusi tersebut ke akhirat yang juga ilusi. Segalanya tidak nyata dan
kita tak bisa lolos dari ilusi tersebut. Dan sekali lagi penulis bertanya, mengapa Sang
Desainer perlu menipu kita. Sang Desainer menciptakan berbagai fakta yang seolah-olah
menunjukkan bahwa telah terjadi evolusi, padahal sebenarnya tidak. Sang Desainer
menciptakan dunia yang seolaholah nyata, padahal sebenarnya ilusi. Kesimpulan Teori Harun
Yahya sebagai suatu teori ilmiah bisa saja diajukan untuk menggantikan evolusi. Akan tetapi,
sebagaimana telah ditunjukkan dalam tulisan ini, bila fakta-fakta di alam dijelaskan dengan
teori Harun Yahya (desain cerdas dan penciptaan terpisah), maka ada beberapa kesimpulan
mengenai Sang Desainer yang tak bisa dihindari, seperti bahwa desain Sang Desainer tidak
sempurna, Sang Desainer tidak bisa langsung menciptakan makhluk hidup seperti yang ada
sekarang tanpa menciptakan pendahulu yang mirip dengan makhluk hidup jenis lain, Sang
Desainer suka menyertakan hal-hal yang tak perlu dalam desainnya, bahkan bahwa Sang
Desainer bermaksud menipu kita agar percaya bahwa sebenarnya terjadi evolusi dan
sebenarnya ada dunia nyata yang bukan ilusi, padahal sebenarnya tidak! Yang demikian
bukanlah pernyataan yang dibuat-buat untuk menjelekkan teori Harun Yahya, melainkan
adalah konsekuensi logis dan teologis dari mempercayai teori Harun Yahya. Harun Yahya
berusaha mengidentifikasi Sang Desainer yang dibayangkannya denga Allah; tetapi apakah
Allah suka menipu makhluk-Nya? Mengapa mereka berusaha menjadikan Allah sebagai Sang
Desainer yang mereka bayangkan? 29:20 Katakanlah: Berjalanlah di bumi dan lihatlah
bagaimana Allah memulai penciptaan!

Pada akhir tulisannya, Harun Yahya menyimpulkan 4 hal yaitu:


1. Teori Evolusi Telah Runtuh

Sejak langkah pertamanya, teori evolusi telah gagal. Buktinya, evolusionis tidak mampu
menjelaskan proses pembentukan satu protein pun. Baik hukum probabilitas maupun hukum
fisika dan kimia tidak memberikan peluang sama sekali bagi pembentukan kehidupan secara
kebetulan.

Bila satu protein saja tidak dapat terbentuk secara kebetulan, apakah masuk akal jika jutaan
protein menyatukan diri membentuk sel, lalu milyaran sel secara kebetulan pula menyatukan
diri membentuk organ-organ hidup, lalu membentuk ikan, kemudian ikan beralih ke darat,
menjadi reptil, dan akhirnya menjadi burung? Begitukah cara jutaan spesies di bumi
terbentuk?

Meskipun tidak masuk akal bagi Anda, evolusionis benar-benar meyakini dongeng ini.

Evolusi lebih merupakan sebuah kepercayaan atau tepatnya keyakinan karena mereka
tidak mempunyai bukti satu pun untuk cerita mereka. Mereka tidak pernah menemukan satu
pun bentuk peralihan seperti makhluk setengah ikan-setengah reptil, atau makhluk setengah
reptil-setengah burung. Mereka pun tidak mampu membuktikan bahwa satu protein, atau
bahkan satu molekul asam amino penyusun protein dapat terbentuk dalam kondisi yang
mereka sebut sebagai kondisi bumi purba. Bahkan dalam laboratorium yang canggih, mereka
tidak berhasil membentuk protein. Sebaliknya, melalui seluruh upaya mereka, evolusionis
sendiri malah menunjukkan bahwa proses evolusi tidak dapat dan tidak pernah terjadi di
bumi ini.

2. Di Masa Mendatang pun Evolusi Tidak Dapat Dibuktikan

Menghadapi kenyataan ini, evolusionis hanya dapat menghibur diri dengan khayalan bahwa
suatu saat nanti, entah bagaimana caranya, ilmu pengetahuan akan menjawab semua dilema
ini. Mengharapkan ilmu pengetahuan akan membenarkan semua pernyataan tidak berdasar
dan tidak masuk akal ini adalah hal yang mustahil, sampai kapan pun. Sebaliknya, sejalan
dengan kemajuan ilmu pengetahuan, kemustahilan pernyataan evolusionis akan semakin
terbuka dan semakin jelas.

Begitulah yang terjadi sejauh ini. Semakin terperinci struktur dan fungsi sel diketahui,
semakin jelas bahwa sel bukan susunan sederhana yang terbentuk secara acak, seperti
pemahaman biologis primitif masa Darwin.

Rasa percaya diri berlebihan dalam menolak fakta penciptaan dan menyatakan bahwa
kehidupan berasal dari kebetulan-kebetulan yang mustahil, lalu berkeras
mempertahankannya, kelak akan berbalik menjadi sumber penghinaan. Ketika wajah asli dari
teori evolusi semakin tersingkap dan opini publik mulai melihat kebenaran, para pendukung
evolusi yang fanatik buta ini tidak akan berani lagi memperlihatkan wajah mereka.

3. Rintangan Terbesar bagi Evolusi: Jiwa


Banyak spesies di bumi ini yang mirip satu sama lain. Misalnya, banyak makhluk hidup yang
mirip dengan kuda atau kucing, dan banyak serangga mirip satu dengan lainnya. Kemiripan
seperti ini tidak membuat orang heran.

Sedikit kemiripan antara manusia dan kera, entah bagaimana terlalu banyak menarik
perhatian. Ketertarikan ini kadang menjadi sangat ekstrem sehingga membuat beberapa orang
mempercayai tesis palsu evolusi. Sebenarnya, kemiripan tampilan antara manusia dan kera
tidak memberikan arti apa-apa. Kumbang tanduk dan badak juga memiliki kemiripan
tampilan, namun menggelikan sekali jika mencari mata rantai evolusi di antara keduanya
hanya berdasarkan kemiripan tampilan saja; yang satu adalah serangga dan yang lainnya
mamalia.

Selain kemiripan tampilan, kera tidak bisa dikatakan berkerabat lebih dekat dengan manusia
dibandingkan dengan hewan lain. Jika tingkat kecerdasan dipertimbangkan, maka lebah madu
dan laba-laba dapat dikatakan berkerabat lebih dekat dengan manusia karena keduanya dapat
membuat struktur sarang yang menakjubkan. Dalam beberapa aspek, mereka bahkan lebih
unggul.

Terlepas dari kemiripan tampilan ini, ada perbedaan sangat besar an-tara manusia dan kera.
Berdasarkan tingkat kesadarannya, kera adalah hewan yang tidak berbeda dengan kuda atau
anjing. Sedangkan manusia adalah makhluk sadar, berkeinginan kuat dan dapat berpikir,
berbicara, mengerti, memutuskan, dan menilai. Semua sifat ini merupakan fungsi jiwa yang
dimiliki manusia. Jiwa merupakan perbedaan paling penting yang jauh memisahkan manusia
dari makhluk-makhluk lain. Tak ada satu pun kemiripan fisik yang dapat menutup jurang
lebar di antara manusia dan makhluk hidup lainnya. Di alam ini, satu-satunya makhluk hidup
yang mempunyai jiwa adalah manusia.

4. Allah Mencipta Menurut Kehendak-Nya

Apakah akan menjadi masalah jika skenario yang diajukan evolusionis benar-benar telah
terjadi? Sedikit pun tidak, karena setiap tahapan yang diajukan teori evolusioner dan
berdasarkan konsep kebetulan, hanya dapat terjadi karena suatu keajaiban. Bahkan jika
kehidupan benar-benar muncul secara berangsur-angsur melalui tahapan-tahapan demikian,
masing-masing tahap hanya dapat dimunculkan oleh suatu keinginan sadar. Kejadian
kebetulan bukan hanya tidak masuk akal, melainkan juga mustahil.

Jika dikatakan bahwa sebuah molekul protein telah terbentuk pada kondisi atmosfir primitif,
harus diingat bahwa hukum-hukum probabilitas, biologi dan kimia telah menunjukkan bahwa
hal itu tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Namun jika kita terpaksa menerima bahwa hal
tersebut memang terjadi, maka tidak ada pilihan lain kecuali mengakui bahwa keberadaannya
karena kehendak Sang Pencipta.

Logika serupa berlaku juga pada seluruh hipotesis yang diusulkan oleh evolusionis.
Misalnya, tidak ada bukti paleontologis maupun secara pembenaran fisika, kimia, biologi
atau logika yang membuktikan bahwa ikan beralih dari air ke darat dan menjadi hewan darat.
Akan tetapi, jika seseorang membuat pernyataan bahwa ikan merangkak ke darat dan berubah
menjadi reptil, maka dia pun harus menerima keberadaan Pencipta yang mampu membuat
apa pun yang dikehendaki-Nya dengan hanya mengatakan jadilah. Penjelasan lain untuk
keajaiban semacam itu berarti penyangkalan diri dan pelanggaran atas prinsip-prinsip akal
sehat.

Kenyataannya telah jelas dan terbukti. Seluruh kehidupan merupakan karya agung yang
dirancang sempurna. Ini selanjutnya memberikan bukti lengkap bagi keberadaan Pencipta,
Pemilik kekuatan, pengetahuan, dan kecerdasan yang tak terhingga.

Pencipta itu adalah Allah, Tuhan langit dan bumi, dan segala sesuatu di antaranya.

Kesimpulan

Darwin menjelaskan bahwa evolusi makhluk hidup terjadi melalui mutasi dan seleksi alam.
Setiap makhluk hidup bersaing dalam lingkungannya untuk tetap hidup dan melestarikan
populasinya. Di sisi lain, teori tersebut menunjukan bahwa makhluk hidup berasal dari
makhluk hidup sebelumnya, yang saya nilai menjadi sisi imajinatif yang ditawarkan oleh
Darwin sendiri.

Darwin pula menyimpulkan bahwa manusia modern berevolusi dari sejenis makhluk hidup
mirip kera, yang dijelaskan berawal dari species Pilopithecus yang berevolusi hingga
menjadi Homo Sapiens.

Teori ini memberi perspektif imajinatif terhadap asal-usul manusia. Pula menyimpulkan
bahwa manusia dan kera berhubungan sebagai suatu keturunan yang sama dari satu spesies.
Tetapi, teori evolusi manusia Darwin menurut saya kurang sesuai dengan pemahaman agama
yang jelas menyebutkan bahwa manusia adalah satu spesies utuh dari awal penciptaannya.
Tidak mungkin ada hubungan kekerabatan yang terjalin antara dua spesies; manusia dan kera.

Meski begitu, keanekaragaman hayati bisa saja terbentuk karena hasil adaptasi terhadap
lingkungannya. Perbedaan antar ras manusia mungkin terjadi sebagai bentuk adaptasi
manusia terhadap lingkungannya. Seperti perbedaan warna kulit, postur tubuh, dan hal
lainnya bisa terbentuk dari adaptasi tersebut.

Selanjutnya, mengenai teori yang dipaparkan Harun Yahya. Harun Yahya menjelaskan bahwa
setiap makhluk hidup telah didesain sedemikian rupa oleh Sang Desainer, yaitu Sang
Pencipta. Setiap jenis makhluk yang telah diciptakan tidak bisa berubah, tidak berkerabat satu
sama lain, dan diturunkan dari leluhur yang sama. Jelas menyanggah teori Darwin mengenai
seleksi alam yang dapat menimbulkan suatu spesies baru.

Manusia hanya berasal dari satu keturunan yaitu Adam dan Hawa. Bukan berasal dari kera.
Dan makhluk-makhluk mirip kera lainnya. Hal ini ditunjukkan melalui perbedaan struktur
tulang dan otot dari berbagai temuan yang dijelaskan Harun Yahya. Meskipun teorinya
bersifat kreasionis.

Harun Yahya memandang bahwa Darwinisme sebagai terorisme. Hal ini terlihat dari
beberapa tulisannya yang berusaha mematahkan teori-teori Darwin melalui fakta-fakta
penciptaan yang ditulis dalam bukunya. Teori Darwin menurutnya memberikan pemikiran
materialistis terhadap alam semesta. Juga berusaha memberikan suatu pandangan bahwa alam
ini tidak hanya bersifat materiil tetapi juga memiliki sisi spiritual yang harus diilhami oleh
setiap umat beragama.

Persamaan yang saya dapatkan dari kedua konsep tersebut adalah seleksi alam bisa saja
menimbulkan suatu keanekaragaman hayati. Selain itu, perbedaan ras yang terjadi di antara
manusia adalah bentuk adaptasi manusia terhadap lingkungannya.

Perbedaan yang terlihat, jelas konsep Harun Yahya menentang konsep Darwin. Harun Yahya
memberikan suatu perspektif kreatif bahwa makhluk hidup diciptakan dengan desainnya
masing-masing oleh Sang Pencipta. Setiap manusia diberikan kelebihan dan kekurangan
adalah konsep manusia yang disampaikan oleh Harun Yahya. Tetapi konsep Darwin
menjelaskan bahwa antara manusia dan kera memiliki hubungan kekerabatan. Secara tidak
langsung konsep Darwin menunjukkan bahwa tidak ada batas yang jelas antara manusia dan
makhluk hidup lainnya. Hal inilah yang ditentang oleh Harun Yahya. Manusia memiliki
martabat yang lebih baik daripada hewan. Memiliki suatu kelebihan yang jelas membedakan
antara manusia dan hewan, yaitu akal.

Pada akhirnya, semua jawab dari pertanyaan manusia kembali kepada-Nya, Sang Desainer,
Sang Pencipta yang Maha Tahu. Asal-usul manusia yang disampaikan oleh kedua tokoh
tersebut kembali kepada pembacanya menjadi seperti apakah manusia selanjutnya. Apakah
manusia menjadi sama saja seperti hewan, ataukah harus menjalani hakikatnya sebagai
manusia yang utuh.

DAFTAR PUSTAKA

http://cucukurniaillahi.blogspot.com/2011/10/asal-usul-manusia-menurut-teori-darwin.html

http://taufiqandepi.blogspot.com/2013/09/teori-asal-mula-manusia-menurut-charles.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Charles_Darwin

http://www.darussalaf.or.id/aqidah/teori-darwin-tentang-evolusi-manusia-menurut-islam/

http://kmtmammesa.blogspot.com/2013/05/asal-mula-manusia-teori-evolusi-darwin.html

http://grelovejogja.wordpress.com/2007/12/03/teori-evolusi-charles-darwin/

http://hbis.wordpress.com/2011/07/07/asal-usul-bangsa-indonesia-versi-manusia-purba/

http://mashudimansda.blogspot.com/2008/02/mempertimbangkan-teori-harun-yahya.html

http://id.harunyahya.com/id/books/772/KERUNTUHAN-TEORI-
EVOLUSI/chapter/2282/Kesimpulan-Evolusi-adalah-sebuah-kebohongan
Charles Darwin adalah tokoh yang sangat terkenal dalam kaitannya dengan evolusi.Darwin
banyak mengemukakan gagasan-gagasannya tentang teori evolusi. Karenapemikirannya
tersebut, Darwin dikenal sebagai Bapak Evolusi.Pokok-pokok pemikiran yang melandasi
ajaran Darwin mengenai evolusi antara
lain:1. Tidak ada individu yang identik, selalu ada variasi meskipun dalam satuketurunan2. Se
tiap populasi cenderung bertambah banyak karena setiap makhluk hidupmampu berkembang
biak.3. Untuk berkembangbiak diperlukan makanan dan ruang yang cukup.4. Pertambahan po
pulasi tidak berlangsung secara terus menerus, tetapidipengaruhi oleh berbagai macam
faktor pembatas antara lain makanan dan predasi.Ada juga pihak yang menentang Teori
Evolusi dari sudut pandang yang berbeda.Yang menolak Teori Evolusi dari sudut pandang
ajaran agama. Kelompok ini dikenalsebagai kelompok yang menganut paham kreasionisme.
Paham kreasionisme adalahsuatu paham yang meyakini bahwa makhluk hidup dan segala
jenisnya diciptakanoleh Tuhan, secara terpisah (tidak ada kesamaan leluhur, atau bahwa satu
jenismakhluk hidup tidak diturunkan dari jenis makhluk hidup lain). Salah satu tokoh
yanggigihmenyampaikan teori paham kreasionisme ini adalah Harun Yahya. Beliau adalah
seorang dai dan ilmuwan terkemuka asal Turki yang
memiliki nama asli Adnan Oktar.Dalam karyanya yang berjudul Keruntuhan Teori
Evolusi, Harun Yahya mengungkapkanbantahan-bantahannya terhadap teori evolusi yang
dicetuskan oleh Darwin diatas.Menurut pandangan Harun Yahya, konsep kehidupan yang
berasal dari benda matibertentangan dengan hukum dasar biologi. Dalam hal ini, Harun
Yahya memberikangambaran bahwa sel hidup merupakan hasil pembelahan dari sel
hidup juga danbukan dari pembelahan sel mati. Harun Yahya membantah gagasan
yangmenyatakan bahwa kehidupan muncul dari kehidupan sebelumnya. Gagasantersebut
mengandung arti bahwa makhluk hidup yang pertama kali muncul di bumiberasal dari
kehidupan yang ada sebelumnya.Harun Yahya mengungkapkanpendapatnya dari sudut
pandang berbeda yang menyatakan bahwa di alamsemesta ini ada pencipta (creator) yaitu
Tuhan Yang Maha Esa. Salah satu bantahanHarun Yahya tersebut merupakan bagian dari
pendapatnya dalam meruntuhkanTeoriEvolusi Darwin.

* Kelemahan teori evolusi Darwin menurut Harun YahyaDalam karyanya, Harun Yahya
mengungkapkan bahwa Teori Evolusi yangdikemukakan oleh Darwin merupakan gagasan
yang tidak ilmiah. Ada beberapa halyang dijadikan dasar bagi Harun Yahya untuk membantah
Teori Evolusi
Darwin.* Yang pertama, masih minimnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologipadamas
a Darwin dan Lamarck untuk menjelaskan fenomena asal usul kehidupan. Ilmugenetika dan
biokimia pada masa Darwin belum ada sehingga mempersempitpenjelasan Darwin tentang
evolusi dari sudut pandang genetika dan
biokimia.* Yang kedua, komposisi dan susunan unsur genetik pada makhluk hidup yangsanga
t rumit menunjukkan ketidakabsahan mekanisme evolusi kehidupan. MenurutHarun Yahya,
kerumitan yang ada dalam setiap unsur genetik tersebut merupakanhasil rancangan Sang
Pencipta alam semesta ini.* Yang Ketiga, Harun Yahya juga mengungkapkan kelemahan-
kelemahan buktievolusi yang dikemukakan oleh Darwin, salah satunya dari catatan fosil.
Dari berbagaifosil yang ditemukan, tidak ada satu pun fosil yang menunjukkan bentuk
transisi yangdapat dijadikan sebagai petunjuk proses evolusi. Di samping
itu, perbandingananatomi menunjukkan bahwa spesies yang diduga telah berevolusi dari
spesies lainternyata memiliki ciri-ciri anatomi yang sangat berbeda, sehingga mereka
tidakmungkin menjadi nenek moyang dan
keturunannya.* Yang keempat mengenai seleksi alam, Harun Yahya mengungkapkan bahwati
dak pernah ada satu spesies pun yang mampu menghasilkan spesies lain melaluimekanisme
seleksi alam. Sebagai contoh, masih ingatkah kalian tentang evolusi kupu-kupu Biston
betularia di Inggris?Menurut Harun Yahya, terbentuknya kupu-kupu Biston betularia
bersayap gelap yangterjadi pada pada awal revolusi industri di Inggris sebenarnya tidak ada.
Ceritasebenarnya adalah pada awalnya warna kulit batang pohon di Inggris benar-
benarterang. Oleh karena itu, kupu-kupu berwarna gelap yang hinggap pada pohon-
pohontersebut mudah terlihat oleh burung-burung pemangsa, sehingga mereka
memilikikemungkinan hidup yang rendah. Lima puluh tahun kemudian akibat polusi, warna
kulitkayu menjadi lebih gelap dan saat itu kupu-kupu berwarna cerah menjadi mudahdiburu.
Akibatnya, jumlah kupu-kupu berwarna cerah berkurang, sementara populasikupu-kupu
berwarna gelap meningkat karena tidak mudah terlihat oleh pemangsa.Dalam kasus ini,
Harun Yahya menganggap bahwa tidak terjadi perubahan warnasayap kupu-kupu yang
diturunkan. Namun, yang terjadi sebenarnya adalah jumlahkupu-kupu yang berwarna cerah
telah banyak dimangsa oleh burung-burung

pemangsa, sehingga jumlah kupu-kupu berwarna cerah lebih sedikit dibanding kupu-kupu
yang berwarna lebih
gelap.* Yang kelima, ialah satu pokok pikiran Teori Evolusi yang juga tak luput daribantahan
Harun Yahya adalah tentang mutasi. Di dalam pandangan evolusi Darwin,mutasi dikatakan
sebagai proses yang memunculkan spesies baru yang berbeda daritetuanya. Harun Yahya
menentang pandangan yang menyatakan bahwa mutasidapat bersifat menguntungkan, tetapi
pada kenyataannnya setiap mutasi bersifatmembahayakan. Lalu, Harun Yahya mengajukan
tiga alasan utama mengapa mutasitidak dapat dijadikan bukti pendukung
evolusi:1. Tidak pernah ditemukan mutasi yang bermanfaat, karena mutasi terjadi secaraacak
dan akan merusak susunan dan komposisi materi
genetik.2. Mutasi tidak menambahkan informasi genetik yang baru, tetapi hanya bersifatmeru
bah atau merusak yang dapat mengakibatkan
ketidaknormalan.3. Agar dapat diwariskan pada generasi selanjutnya, mutasi harus terjadi pa
da sel-sel reproduksi organisme.Jadi, kesimpulannya teori evolusi darwin ditentang oleh teori
evolusi yang dikemukakanoleh Harun Yahya. Menurut pandangan Harun Yahya, konsep
kehidupan yang berasaldari benda mati bertentangan dengan hukum dasar biologi. Gagasan
tersebutmengandung arti bahwa makhluk hidup yang pertama kali muncul di bumi
berasaldari kehidupan yang ada sebelumnya, dan bukan dari benda mati yang
dikemukakanoleh Charles Darwin. Harun Yahya berpendapat bahwa di alam semesta
ini adapencipta yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Harun Yahya juga menemukan kelemahan
teorievolusi Charles Darwin, yaitu tentang komponen dan penyusun unsur genetik,
catatanfosil, seleksi alam, dan mutasi.http://f0ry0uguys.blogspot.com/2013/05/teori-evolusi-
harun-yahya-yang.html Pendapat Ahli dan Penemuan-penemuan Ilmiah Berkaitan dengan
Teori EvolusiCharles DarwinSecara umum, tanggapan ahli lain terhadap teori Darwin
adalah:a. Mendapat tantangan terutama dari golongan agama, dan yang menganut pahamteori
penciptaan (Universal Creation).b. Mendapat pembelaan dari penganut Darwin antara lain ,
Yoseph Hooker danThomas Henry Huxley (1825-1895).
diposting oleh erlian-ff07 pada 10 January 2012
di D. Harun Yahya - 4 komentar

Setiap detail di alam semesta ini menunjukkan adanya penciptaan yang mahaagung.
Sebaliknya, materialisme, yang berupaya meng-ingkari fakta penciptaan di alam raya, tak
lebih dari kegagalan yang tidak ilmiah.
Begitu materialisme digugurkan, semua teori yang dilandaskan pada filsafat ini menjadi tak
berdasar. Yang terpenting darinya adalah Darwin-isme, yakni, teori evolusi. Teori ini, yang
mengajukan bahwa kehidupan berasal dari materi tak hidup melalui peristiwa kebetulan, telah
dirontokkan dengan pengetahuan bahwa alam semesta diciptakan oleh Allah. Astrofisikawan
Amerika, Hugh Ross menjelaskan hal ini sebagai berikut:
Ateisme, Darwinisme, dan sebetulnya seluruh isme yang berasal dari filsafat abad ke-18
hingga 20 dibangun atas asumsi, asumsi yang keliru, bahwa alam semesta ini tidak terbatas.
Singularitas telah membawa kita berhadap-hadapan dengan sebab atau penyebab di latar/di
belakang/ sebelum alam semesta dan semua isinya, termasuk kehidupan itu sendiri.19
Allah-lah yang telah menciptakan alam semesta dan merancangnya hingga ke detail terkecil.
Karenanya, mustahil teori evolusi, yang berpe-gangan bahwa makhluk hidup tidak diciptakan
oleh Allah, melainkan hasil dari peristiwa kebetulan, adalah benar.
Tidak mengagetkan, jika kita mengamati teori evolusi, kita melihat bahwa teori ini dibantah
oleh temuan-temuan ilmiah. Perancangan kehidupan sangatlah kompleks dan menakjubkan.
Di alam tak hidup, misalnya, kita dapat menjelajahi betapa sensitifnya keseimbangan atom-
atom, dan lebih jauh lagi, di alam hidup, kita dapat mengamati dalam rancangan kompleks
mana atom-atom ini dihimpun, dan betapa luar biasa mekanisme dan struktur seperti protein,
enzim, dan sel, yang dibuat dengannya.
Rancangan luar biasa dalam kehidupan ini menggugurkan Dar-winisme di akhir abad ke-20.
Kami telah membahas pokok ini teramat detail dalam sejumlah kajian, dan akan terus
melakukannya. Bagaimanapun, kami pikir, dengan mempertimbangkan kepentingannya, akan
sangat membantu jika di sini pun diberikan sebuah ringkasan pendek.

Keruntuhan Ilmiah dari Darwinisme


Walaupun merupakan sebuah doktrin yang berawal hingga sejauh jaman Yunani kuno, teori
evolusi dikembangkan secara meluas pada abad ke-19. Perkembangan terpenting yang
membuat teori ini menjadi topik utama dari dunia sains adalah buku karya Charles Darwin
yang berjudul The Origin of Species yang diterbitkan pada tahun 1859. Dalam buku ini,
Darwin menolak bahwa spesies-spesies makhluk hidup yang berbeda di bumi diciptakan
secara terpisah oleh Allah. Menurut Darwin, semua makhluk hidup mem-punyai nenek
moyang yang sama dan mereka bervariasi melalui perubahan-perubahan kecil dalam waktu
yang panjang.
Teori Darwin tidak didasarkan pada temuan ilmiah konkret apa pun; seperti juga ia terima,
teori itu hanyalah sebuah asumsi. Lebih-lebih lagi, sebagaimana diakui Darwin dalam bab
yang panjang pada bukunya tersebut yang bertajuk Kesulitan-Kesulitan Teori, teori tersebut
gagal dalam menghadapi banyak pertanyaan yang kritis.
Darwin menanamkan semua harapannya pada penemuan-penemuan ilmiah baru, yang dia
harap akan menyelesaikan kesulitan-kesulitan teori tersebut. Namun, berlawanan dengan
harapannya, temu-an-temuan ilmiah justru mengembangkan dimensi dari kesulitan-kesulitan
itu.
Kekalahan Darwinisme terhadap sains dapat ditinjau dari tiga topik dasar:
1) Teori tersebut tidak dapat dengan cara apa pun menjelaskan bagai-mana kehidupan
berawal di bumi.
2) Tidak ada sama sekali temuan ilmiah yang menunjukkan bahwa mekanisme
evolusi yang diajukan teori tersebut memiliki kekuatan untuk berevolusi.
3) Catatan fosil membuktikan hal yang sepenuhnya berlawanan dari apa yang
dikemukakan teori evolusi.
Pada bagian ini, kita akan menguji tiga poin dasar ini dalam kerang-ka-kerangka umum.

Langkah Pertama yang Tak Terpecahkan:


Asal-usul Kehidupan
Teori evolusi berhipotesa bahwa semua spesies makhluk hidup ber-evolusi dari sebuah sel
hidup tunggal yang muncul dari bumi primitif 3,8 miliar tahun yang lalu. Bagaimana sebuah
sel tunggal dapat menurunkan jutaan spesies makhluk hidup yang kompleks, dan jika evolusi
seperti itu benar-benar terjadi, mengapa jejaknya tidak dapat diamati dalam catatan fosil
adalah sebagian dari pertanyaan yang tidak dapat dijawab teori ini. Bagaimana pun, pertama
dan utama, dari langkah pertama proses evolusioner yang diajukan, harus disidik: Bagaimana
sel pertama ini berawal?
Karena teori evolusi menolak penciptaan dan tidak menerima inter-vensi ilahiah apa pun, ia
terus bertahan bahwa sel pertama bermula secara kebetulan dalam hukum-hukum alam,
tanpa rancangan, rencana, atau pengaturan apa pun. Menurut teori ini, materi tak hidup
mestilah telah memproduksi sebuah sel hidup sebagai hasil dari peristiwa kebe-tulan. Ini,
bagaimana pun, adalah sebuah klaim yang tidak konsisten bahkan dengan aturan-aturan
biologi yang paling tak tergoyahkan.

Kehidupan Datang dari Kehidupan


Dalam bukunya, Darwin tidak pernah merujuk kepada asal usul kehidupan. Pemahaman sains
yang primitif pada zamannya berpegang pada asumsi bahwa makhluk hidup mempunyai
struktur yang sangat sederhana. Sejak masa abad pertengahan, gene-ratio spontanea, teori
yang menyatakan bahwa materi tak hidup berkumpul untuk membentuk organisme hidup,
diterima secara luas. Diyakini secara umum bahwa serangga berasal dari sisa-sisa makanan,
dan tikus dari gandum. Percobaan yang menarik dilaku-kan untuk menguji teori ini. Sejumlah
gandum dile-takkan di secarik kain kotor, dan dipercayai bahwa tikus akan muncul dari situ
setelah beberapa waktu.
Begitu juga, ulat yang berkembang pada daging dianggap sebagai bukti dari generatio
spontanea. Namun, hanya beberapa waktu kemu-dian, dipahami bahwa ulat tidak muncul
pada daging secara spontan, tetapi dibawa ke sana oleh lalat dalam bentuk larva, yang tak
terlihat oleh mata biasa.
Bahkan dalam periode ketika Darwin menulis The Origin of Species, kepercayaan bahwa
bakteri dapat muncul dari materi tak hidup diterima secara luas di dalam dunia sains.
Namun, lima tahun setelah buku Darwin diterbitkan, penemuan Louis Pasteur membuktikan
kekeliruan teori ini, yang merupakan landasan bagi evolusi. Pasteur meringkaskan
kesimpulan yang dicapainya setelah banyak penelaahan dan percobaan yang menyita waktu:
Klaim bahwa materi tak hidup sebagai asal usul kehidupan terkubur selamanya dalam
sejarah.20
Para pembela teori evolusi menolak penemuan Pasteur dalam waktu yang cukup lama.
Namun, begitu perkembangan sains menguraikan struktur kompleks dari sel makhluk hidup,
gagasan bahwa kehidupan dapat muncul secara kebetulan menghadapi kebuntuan yang lebih
besar.

Upaya-Upaya yang Tak Meyakinkan di Abad ke-20


Evolusionis pertama yang mengangkat subjek asal usul kehidupan pada abad ke-20 adalah
ahli biologi terkenal dari Rusia, Alexander Oparin. Dengan berbagai tesis yang diajukannya
pada tahun 1930-an, ia mencoba untuk membuktikan bahwa sel dari makhluk hidup dapat
bermula dengan peristiwa kebetulan. Kajian-kajian ini, bagaimana pun, ditakdirkan untuk
gagal, dan Oparin harus membuat pengakuan berikut ini: Sayangnya, asal usul sel tetaplah
sebuah pertanyaan yang masih merupakan poin tergelap dari keseluruhan teori evolusi. 21
Evolusionis pengikut Oparin mencoba untuk melakukan berbagai eksperimen untuk
menyelesaikan masalah asal usul kehidupan. Yang paling terkenal dari percobaan ini dila-
kukan oleh ahli kimia Amerika, Stanley Miller, pada tahun 1953. Dengan menggabungkan
gas-gas yang dianggapnya ada pada atmosfer bumi purba dalam sebuah upaya eks-perimen,
dan menambahkan energi kepada campuran ini, Miller menyin-tesis beberapa molekul
organik (asam amino) yang terdapat pada struktur protein.
Hampir beberapa tahun telah berlalu sebelum terungkap bahwa percobaan ini, yang
dikemukakan sebagai sebuah langkah penting dalam evolusi, ternyata tidak absah, atmosfer
yang digunakan dalam eksperi-men tersebut sangat berbeda dengan kondisi bumi sebenarnya.
22
Setelah bungkam cukup lama, Miller sendiri mengakui pula bahwa kondisi atmosfer dalam
eksperimennya tidak realistis.23
Semua upaya para Evolusionis yang diajukan sepanjang abad ke-20 untuk menjelaskan asal
usul kehidupan berakhir dengan kegagalan. Ahli geokimia Jeffrey Bada dari Institut San
Diego Scripps menyetujui fakta ini dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam majalah
Earth pada tahun 1998:
Hari ini, saat kita meninggalkan abad kedua puluh, kita masih menghadapi masalah terbesar
yang tak terselesaikan yang kita punyai saat kita memasuki abad kedua puluh: Bagaimana
kehidupan bermula di bumi? 24

Struktur Kehidupan yang Kompleks


Alasan utama mengapa teori evolusi berakhir dengan kebuntuan be-gitu besar tentang asal
usul kehidupan adalah bahwa bahkan organisme hidup yang dianggap paling sederhana pun
memiliki struktur yang luar biasa kompleks. Sel dari makhluk hidup lebih kompleks dari
semua produk teknologi yang dihasilkan manusia. Saat ini, bahkan dalam laboratorium paling
maju di dunia, sebuah sel hidup tidak dapat dihasilkan dengan menggabungkan materi-materi
tak hidup.
Kondisi-kondisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sebuah sel terlalu besar jumlahnya
untuk diterangkan dengan peristiwa kebetulan. Probabilitas protein, bahan penyusun sel,
untuk tersintesis secara kebetulan adalah 1 banding 10950 untuk sebuah protein rata-rata
yang terbuat dari 500 asam amino. Dalam matematika, suatu probabilitas yang lebih kecil
dari 1 banding 1050 secara praktis dianggap mustahil terjadi.
Molekul DNA, yang berada di inti sebuah sel dan menyimpan infor-masi genetik, merupakan
sebuah bank data yang menakjubkan. Diper-hitungkan bahwa jika informasi yang disimpan
dalam DNA dituliskan, akan sebanding dengan sebuah perpustakaan dengan 900 jilid ensiklo-
pedia setebal 500 halaman masing-masingnya.
Sebuah dilema yang sangat menarik muncul dari poin ini: DNA hanya dapat bereplikasi
dengan bantuan sejumlah protein tertentu (enzim). Namun, sintesis dari enzim-enzim ini
hanya dapat terjadi dengan informasi yang tersimpan dalam DNA. Karena saling tergantung,
keduanya harus ada pada saat bersamaan untuk replikasi. Ini membawa skenario bahwa
kehidupan bermula dengan sendirinya kepada jalan buntu. Prof. Leslie Orgel, seorang
evolusionis terkemuka dari Universitas San Diego, California, mengakui fakta ini dalam
majalah Scientific American edisi September 1994:
Sangat tidak mungkin bahwa protein dan asam nukleat, yang keduanya berstruktur kompleks,
muncul secara spontan di tempat yang sama pada saat yang sama. Tetapi juga mustahil ada
yang satu tanpa yang lainnya. Maka, pada pandang pertama, seseorang mungkin harus
menyimpulkan bahwa faktanya, kehidupan tidak pernah dapat bermula dengan cara
kimiawi.25
Tak diragukan, jika kehidupan mustahil bermula dari penyebab na-tural, maka harus diterima
pula bahwa kehidupan diciptakan dengan cara supernatural. Fakta ini secara eksplisit
menggugurkan teori evolusi, yang tujuan utamanya adalah mengingkari penciptaan.

Mekanisme Evolusi Khayalan


Poin penting kedua yang menyangkal teori Darwin adalah bahwa kedua konsep yang
dikemukakan oleh teori ini sebagai mekanisme evolusioner diketahui, pada kenyataannya,
tidak memiliki kekuatan evolusioner.
Darwin melandaskan anggapan evolusi sepenuhnya pada meka-nisme seleksi alam.
Kepentingan yang diletakkannya pada mekanisme ini sangat nyata pada judul bukunya: The
Origin of Species, By Means of Natural Selection ....
Seleksi alam berpandangan bahwa makhluk hidup yang lebih kuat dan lebih sesuai dengan
kondisi alam habitatnya akan bertahan dalam pertarungan untuk hidup. Misalnya, dalam
sebuah kawanan rusa yang terancam oleh serangan bintang buas, mereka yang mampu berlari
lebih kencang akan bertahan hidup. Maka, kawanan rusa akan terbentuk dari individu-
individu yang lebih cepat dan lebih kuat. Namun, tak diragu-kan, mekanisme ini tidak akan
membuat rusa berevolusi dan mengubah dirinya menjadi spesies makhluk hidup lainnya,
misalnya, kuda.
Karenanya, mekanisme seleksi alam tidak memiliki kekuatan evo-lusioner. Darwin juga
menyadari fakta ini dan terpaksa menyatakan dalam bukunya The Origin of Species:
Seleksi alam tidak dapat melakukan apa pun hingga variasi yang menguntungkan
berkesempatan terjadi.26

Pengaruh Kuat Lamarc


Jadi, bagaimana variasi yang menguntungkan ini terjadi? Darwin mencoba menjawab
pertanyaan ini dari titik tolak pemahaman sains yang primitif di zamannya. Menurut ahli
biologi Prancis, Lamarc, yang hidup sebelum Darwin, makhluk-makhluk hidup meneruskan
sifat-sifat yang mereka peroleh sepanjang masa hidupnya kepada generasi selanjutnya, dan
sifat-sifat ini, yang berakumulasi dari satu generasi ke yang lainnya, menyebabkan
terbentuknya spesies baru. Contohnya, menurut Lamarc, jerapah berevolusi dari antilop;
begitu mereka berjuang untuk memakan daun-daun di pohon-pohon yang tinggi, leher
mereka memanjang dari generasi ke generasi.
Darwin juga memberikan contoh-contoh yang serupa, dan dalam bukunya The Origin of
Species misalnya, disebutkan bahwa sejumlah beruang yang pergi ke perairan untuk mencari
makanan lama-kelamaan berubah menjadi ikan paus. 27
Namun, hukum pewarisan sifat yang ditemukan oleh Mendel dan diakui oleh ilmu genetika
yang berkembang pada abad ke-20, meroboh-kan sama sekali legenda bahwa sifat-sifat yang
diperoleh diteruskan ke generasi berikutnya. Dengan demikian, seleksi alam telah gagal
sebagai mekanisme evolusioner.

Neo-Darwinisme dan Mutasi


Agar mendapatkan penyelesaian, para Darwinis mengembangkan Teori Sintetis Modern,
atau yang umum dikenal, Neo-Darwinisme, pada akhir 1930-an. Neo-Darwinisme
menambahkan mutasi, yang merupakan gangguan yang terbentuk dalam gen makhluk hidup
karena faktor-faktor eksternal seperti radiasi atau kesalahan replikasi, sebagai penyebab dari
variasi yang menguntungkan sebagai tambahan bagi mutasi alamiah.
Saat ini, model yang mempertahankan evolusi di dunia adalah Neo-Darwinisme. Teori ini
tetap mengajukan bahwa jutaan makhluk hidup yang ada di atas bumi terbentuk sebagai hasil
dari proses di mana banyak organ kompleks dari organisme ini seperti telinga, mata, paru-
paru, dan sayap, telah mengalami mutasi, yakni, gangguan genetis. Akan tetapi, ada sebuah
fakta ilmiah yang seketika meruntuhkan teori ini sepenuh-nya: Mutasi tidak menyebabkan
makhluk hidup berkembang; sebalik-nya, selalu merugikan mereka.
Alasannya sangat sederhana: DNA memiliki struktur yang sangat kompleks dan pengaruh
acak hanya dapat mengakibatkan kerusakan kepadanya. Ahli genetika dari Amerika, B.G.
Ranganathan menjelaskan sebagai berikut:
Mutasi bersifat kecil, acak, dan merugikan. Mereka jarang sekali terjadi dan kemungkinan
terbaik adalah bahwa mereka tidak berpengaruh. Keempat ciri dari mutasi ini berimplikasi
bahwa mutasi tidak dapat membawa kepada perkembangan evolusioner. Suatu perubahan
acak dalam sebuah organisme yang sangat terspesialisasi akan tak berpengaruh, atau
merugikan. Perubahan acak pada sebuah jam tidak dapat memperbaikinya. Ia paling mungkin
akan merusak jam itu atau setidaknya tidak berpengaruh. Sebuah gempa bumi tidak akan
memperbaiki sebuah kota, hanya membawa kerusakan.28
Tidak mengejutkan bahwa sejauh ini tidak ada contoh mutasi yang bermanfaat, yakni, yang
teramati mengembangkan kode genetis, dite-mukan. Semua mutasi terbukti merugikan. Telah
dipahami bahwa mutasi, yang ditampilkan sebagai sebuah mekanisme evolusioner,
sebenarnya merupakan peristiwa genetik yang merugikan makhluk hidup, dan menjadikan
mereka cacat (efek mutasi paling umum pada manusia adalah kanker). Tak diragukan, sebuah
mekanisme yang meru-sak tidak mungkin menjadi mekanisme evolusioner. Seleksi alam,
di sisi lain, tidak dapat melakukan apa pun dengan sendirinya, sebagai-mana juga diakui
oleh Darwin. Fakta ini menunjukkan kepada kita bahwa tidak terdapat mekanisme
evolusioner di alam. Karena tidak ada meka-nisme evolusioner, tidak mungkin pula proses
khayalan yang dinamakan evolusi pernah terjadi.

Catatan Fosil: Tidak Ada Tanda-Tanda Bentuk Antara


Bukti paling jelas bahwa skenario yang diajukan oleh teori evolusi tidak pernah terjadi adalah
catatan fosil.
Menurut teori evolusi, setiap makhluk hidup berasal dari pen-dahulu. Sebuah spesies yang
telah ada sebelumnya lama-kelamaan ber-ubah menjadi spesies lain dan semua spesies
muncul dengan cara seperti ini. Menurut teori tersebut, perubahan ini terjadi secara perlahan
dalam periode perubahan yang panjang.
Misalnya, mestilah pernah hidup di masa silam sejumlah makhluk separo ikan/separo reptil
yang telah memperoleh beberapa sifat reptil sebagai tambahan atas sifat ikan yang telah
mereka miliki. Atau seharus-nya telah terdapat sejumlah reptil-burung, yang memperoleh
beberapa sifat burung sebagai tambahan atas sifat reptil yang telah mereka miliki. Karena
bentuk-bentuk ini berada dalam fase transisi, mereka tentunya merupakan makhluk hidup
yang cacat, lumpuh, dan tidak sempurna. Para evolusionis menyebut makhluk-makhluk
khayalan ini, yang mereka percayai pernah hidup di masa lampau, sebagai bentuk-bentuk
transisi.
Jika binatang-binatang seperti itu benar-benar pernah ada, mereka seharusnya ada jutaan dan
jutaan lagi jumlah dan variasinya. Lebih pen-ting lagi, sisa-sisa makhluk aneh ini seharusnya
ada di dalam catatan fosil. Dalam The Origin of Species, Darwin menjelaskan:
Jika teori saya benar, tak terhitung jumlahnya varietas antara, yang menghubungkan dengan
sangat rapat semua spesies dalam grup yang sama mestilah pernah ada. Konsekuensinya,
bukti keberadaan mereka dahulu hanya dapat ditemukan di antara sisa-sisa fosil. 29
Harapan Darwin Hancur Berantakan
Namun, walaupun para evolusionis telah bekerja keras mencari fosil-fosil sejak pertengahan
abad ke-19 di seluruh penjuru dunia, tidak pernah ditemukan bentuk transisi apa pun. Semua
fosil yang ditemukan dalam penggalian menunjukkan bahwa, berlawanan dengan harapan
para evo-lusionis, kehidupan muncul di bumi secara tiba-tiba dan dalam bentuk yang
sempurna.
Seorang ahli paleontologi Inggris ternama, Derek V. Ager, mengakui fakta ini meskipun ia
seorang evolusionis:
Poin yang muncul adalah bahwa jika kita mengamati catatan fosil secara terperinci, baik pada
tingkat ordo maupun spesies, kita temukan lagi dan lagi bukanlah evolusi bertahap, namun
ledakan tiba-tiba satu kelompok makhluk hidup yang disertai kepunahan kelompok lain. 30
Artinya, dalam catatan fosil , semua spesies makhluk hidup tiba-tiba muncul dalam bentuk
sempurna, tanpa bentuk-bentuk peralihan apa pun di antaranya. Ini sangat berlawanan dengan
asumsi-asumsi Darwin. Juga, ini merupakan bukti kuat bahwa makhluk hidup diciptakan.
Penjelasan satu-satunya dari spesies makhluk hidup yang muncul secara tiba-tiba dan lengkap
dalam setiap detail tanpa nenek moyang evolusioner adalah bahwa spesies ini telah
diciptakan. Fakta ini juga diakui oleh ahli biologi evolusionis terkenal, Douglas Futuyma:
Penciptaan dan evolusi, di antara mereka, muncul penjelasan yang mungkin bagi asal usul
makhluk hidup. Organisme muncul di bumi dengan sepenuhnya maju atau tidak. Jika tidak,
mereka mestilah berkembang dari spesies yang ada lebih awal dengan proses modifikasi. Jika
mereka benar-benar muncul dalam keadaan yang telah sepenuhnya maju, mereka tentunya
mestilah telah diciptakan oleh suatu kecerdasan yang mahakuasa.31
Fosil-fosil menunjukkan bahwa makhluk hidup muncul dengan se-penuhnya maju dan dalam
keadaan sempurna di muka bumi. Ini berarti bahwa asal usul spesies, berlawanan dengan
perkiraan Darwin, bukanlah evolusi, tetapi penciptaan.

Kisah Evolusi Manusia


Subjek yang paling sering diangkat oleh para pembela teori evolusi adalah tentang asal usul
manusia. Klaim Darwinis menyatakan bahwa manusia modern hari ini berevolusi dari sejenis
makhluk menyerupai ke-ra. Selama proses evolusioner yang dianggap ada ini, yang
diperkirakan bermula 4-5 juta tahun yang lalu, diklaim bahwa terdapat sejumlah ben-tuk
transisi antara manusia modern dan leluhurnya. Menurut skenario yang sepenuhnya
khayalan ini, didaftar empat kategori dasar:
1. Australopithecus
2. Homo habilis
3. Homo erectus
4. Homo sapiens
Para evolusionis menamakan apa yang disebut sebagai nenek mo-yang pertama manusia yang
menyerupai kera ini Australopithecus yang berarti kera Afrika Selatan. Makhluk hidup
ini sebenarnya tak le-bih dari spesies kera kuno yang telah punah. Penelitian yang luas atas
be-ragam spesimen Australopithecus oleh dua ahli anatomi yang terkenal di dunia dari
Inggris dan AS, yaitu, Lord Solly Zuckerman dan Prof. Charles Oxnard, telah menunjukkan
bahwa mereka tergolong spesies kera biasa yang telah punah dan tidak memiliki kemiripan
dengan manusia. 32
Para evolusionis menggolongkan tahap berikutnya dari evolusi ma-nusia sebagai homo,
yaitu manusia. Menurut klaim evolusionis, makhluk hidup dalam seri Homo lebih maju
daripada Australopithecus. Para evolusionis merencanakan sebuah skema evolusi yang
fantastis dengan menyusun fosil-fosil yang berbeda dari makhluk-makhluk ini dalam urutan
tertentu. Skema ini hanya khayalan karena tidak pernah terbukti bahwa ada hubungan
evolusioner antara kelas-kelas yang ber-beda ini. Ernst Mayr, salah satu pembela teori evolusi
yang terkemuka pada abad ke-20, mengakui fakta ini dengan mengatakan bahwa rantai yang
mencapai sejauh Homo sapiens benar-benar hilang.33
Dengan menyusun rantai hubungan sebagai Australopithecus > Homo habilis > Homo
erectus > Homo sapiens, evolusionis menyatakan bahwa masing-masing spesies ini adalah
nenek moyang spesies lainnya. Akan tetapi, temuan ahli-ahli paleoantropologi baru-baru ini
mengung-kapkan bahwa Australopithecus, Homo habilis, dan Homo erectus hidup di belahan
bumi yang berbeda pada saat bersamaan.34
Bahkan, suatu segmen manusia tertentu yang digolongkan sebagai Homo erectus ternyata
hidup hingga zaman modern. Homo sapiens nean-dertalensis dan Homo sapiens sapiens
(manusia modern) pernah hidup bersama di wilayah yang sama. 35
Situasi ini jelas menunjukkan ketidakabsahan klaim bahwa mereka adalah nenek moyang
bagi yang lain. Ahli paleontologi dari Universitas Harvard, Stephen Jay Gould, menjelaskan
jalan buntu dari teori evolusi ini meskipun ia sendiri seorang evolusionis:
Apa jadinya dengan urutan yang kita susun, jika ada tiga keturunan homi-nid hidup bersama
(A. africanus, A. robustus, dan H. habilis), dan tidak satu pun dari mereka menjadi keturunan
dari yang lain? Lagi pula, tidak satu pun dari ketiganya memperlihatkan kecenderungan
evolusi semasa mereka hidup di bumi.36
Lord Solly Zuckerman, salah satu ilmuwan yang paling terkenal dan dihormati di Inggris,
yang melakukan penelitian atas subjek ini selama bertahun-tahun, dan khususnya
mempelajari fosil Australopithecus selama 15 tahun, akhirnya menyimpulkan, walau ia
sendiri seorang evo-lusionis, bahwa kenyataannya tidak ada pohon silsilah yang berasal dari
makhluk menyerupai kera kepada manusia.
Zuckerman juga menyusun sebuah spektrum sains yang menarik. Ia membentuk spektrum
sains dari yang dianggapnya ilmiah hingga tidak ilmiah. Menurut spektrum Zuckerman, yang
paling ilmiah tergantung pada data konkret adalah bidang kimia dan fisika. Setelah itu
biologi, kemudian diikuti ilmu-ilmu sosial. Pada ujung berlawanan, yang dianggap paling
tidak ilmiah, terdapat Extra Sensory Perception (ESP) konsep seperti telepati dan indra
keenam dan terakhir adalah evolusi manusia. Zuckerman menjelaskan alasannya:
Kita kemudian bergerak dari kebenaran objektif langsung ke bidang-bidang yang dianggap
sebagai ilmu biologi, seperti extra sensory perception atau interpretasi sejarah fosil manusia.
Dalam bidang-bidang ini, segala sesuatu mungkin terjadi bagi yang percaya, dan orang yang
sangat percaya kadang-kadang mampu meyakini sekaligus beberapa hal yang saling
kontradiktif.37
Kisah evolusi manusia menguap hingga tidak bersisa apa pun kecuali penafsiran penuh
praduga dari sejumlah fosil yang ditemukan oleh orang-orang tertentu, yang menganut teori
mereka secara membuta.
Kepercayaan Materialis
Informasi yang telah disampaikan sejauh ini menunjukkan kepada kita bahwa teori evolusi
adalah klaim yang jelas-jelas berbeda dengan temuan-temuan ilmiah. Klaim teori ini atas asal
usul kehidupan tidak ber-sesuaian dengan sains, mekanisme evolusioner yang diajukannya
tidak memiliki kekuatan evolusioner, dan fosil-fosil menunjukkan bahwa ben-tuk-bentuk
antara yang diwajibkan teori ini tidak pernah ada. Maka, tentu kemudian teori evolusi mesti
disingkirkan sebagai sebuah gagasan yang tidak ilmiah. Seperti inilah banyak gagasan,
misalnya model alam semes-ta dengan bumi sebagai pusat, telah dikeluarkan dari agenda
sains se-panjang sejarah.
Namun, teori evolusi tetap disimpan sebagai agenda sains. Sejumlah orang malahan berupaya
menamakan kritisisme yang diarahkan kepada teori ini sebagai serangan atas sains.
Mengapa?
Alasannya adalah bahwa teori evolusi merupakan kepercayaan dogmatis yang tak boleh
disingkirkan bagi sementara kalangan. Kalangan ini secara membuta mengabdikan diri
kepada filsafat materialis dan mengadopsi Darwinisme karena inilah satu-satunya penjelasan
materialis yang dapat dikemukakan untuk bekerjanya alam.
Yang menarik, mereka pun mengakui fakta ini dari waktu ke waktu. Ahli genetika evolusionis
terkenal dari Universitas Harvard, Richard C. Lewontin, mengakui bahwa dia pertama dan
utama adalah seorang materialis dan baru ilmuwan:
Bukan metode dan institusi sains yang mendorong kami menerima penjelasan material
tentang dunia yang fenomenal ini. Sebaliknya, kami dipaksa oleh keyakinan apriori kami
terhadap prinsip-prinsip material untuk menciptakan perangkat penyelidikan dan serangkai
konsep yang menghasilkan penjelasan material, betapapun bertentangan dengan intuisi, atau
membingungkan orang-orang yang tidak berpengetahuan. Lagi pula, materialisme itu absolut,
jadi kami tidak bisa membiarkan Kaki Tuhan memasuki pintu..38
Ini merupakan pernyataan yang eksplisit bahwa Darwinisme meru-pakan sebuah dogma yang
terus dihidupkan hanya untuk ketaatan ter-hadap filsafat materialis. Dogma ini
mempertahankan bahwa tiada keber-adaan selain materi. Oleh karena itu, ia berargumen
bahwa materi tak hi-dup dan tak berkesadaran telah menciptakan kehidupan. Ia berkeras bah-
wa jutaan spesies makhluk hidup yang berbeda-beda; misalnya, burung, ikan, jerapah,
harimau, serangga, pepohonan, bunga, ikan paus, dan manusia berasal mula sebagai hasil dari
interaksi antara materi seperti hujan yang turun, petir yang menyambar, dan seterusnya, dari
materi tak hidup. Ini adalah sebuah ajaran yang bertentangan baik dengan akal sehat maupun
sains. Akan tetapi para Darwinis terus mempertahankannya tepat sebagaimana tidak
membiarkan Kaki Tuhan memasuki pintu.
Siapa pun yang tidak memperhatikan asal usul makhluk hidup de-ngan praduga materialis
akan melihat kebenaran yang terang ini: Semua makhluk hidup adalah karya dari Sang
Pencipta, Yang Mahakuasa, Mahabijaksana, dan Maha Mengetahui. Pencipta ini adalah Allah,
yang menciptakan seluruh alam semesta dari ketiadaan, merancangnya dalam bentuk yang
paling sempurna, dan membentuk semua makhluk hidup.

Mereka menjawab: Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami keta-hui selain dari apa
yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesung-guhnya Engkaulah Yang Maha
Mengetahui lagi Mahabijaksana. (QS. Al Baqarah, 2 : 32) !

"Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau
ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi
Mahabijaksana." (QS. Al Baqarah, 2: 32) !

Picture Text

Louis Pasteur menggugurkan klaim bahwa materi tak hidup dapat menciptakan kehidupan
yang merupakan titik tolak dari teori evolusi, dengan eksperimen yang dilakukannya.
Upaya Alexander Oparin untuk memberikan penjelasan evolusionis tentang asal usul
kehidupan berakhir dengan kegagalan besar.
Sebagaimana juga diterima oleh sumber-sumber evolusionis, asal usul kehidupan masih
merupakan batu sandungan besar bagi teori evolusi.
Salah satu fakta yang menghapuskan teori evolusi adalah struktur kehidupan yang luar biasa
kompleks. Molekul DNA merupakan semacam bank data yang dibentuk dari susunan empat
molekul yang berbeda dalam berbagai urutan yang berlainan. Bank data ini mengandung
kode-kode dari semua sifat fisik dari makhluk hidup. Jika DNA manusia dituliskan,
dikalkulasikan bahwa ini akan berupa sebuah ensiklopedia yang terdiri dari 900 jilid. Tak
dipertanyakan lagi, informasi yang begitu luar biasa jelas menyangkal konsep kebetulan.
Sejak awal abad ini, para evolusionis telah mencoba untuk menghasilkan mutasi pada lalat
buah, dan mengajukan ini sebagai contoh dari mutasi yang menguntungkan. Namun, satu-
satunya hasil yang didapat pada akhir segala upaya yang berlangsung selama beberapa
dasawarsa ini adalah lalat-lalat yang rusak, sakit, dan cacat. Di samping adalah kepala dari
seekor lalat buah normal dan di kanan adalah kepala dari seekor lalat buah yang mengalami
mutasi.
Teori evolusi mengklaim bahwa spesies makhluk hidup secara bertahap berevolusi dari satu
ke yang lain. Catatan fosil, bagaimana pun, secara eksplisit menolak klaim ini. Misalnya,
pada Periode Kambrium, sekitar 550 juta tahun yang lalu, lusinan spesies yang telah punah
total tiba-tiba muncul. Makhluk-makhluk yang dilukiskan pada gambar di atas ini memiliki
struktur yang sangat kompleks. Fakta ini, yang disebut sebagai Ledakan Kambrium dalam
literatur ilmiah, adalah bukti nyata penciptaan.
Catatan fosil muncul seperti barikade besar di hadapan teori evolusi, karena ia menunjukkan
bahwa spesies makhluk hidup muncul secara tiba-tiba dan terbentuk sempurna, tanpa bentuk-
bentuk transisi evolusioner di antaranya. Fakta ini merupakan bukti bahwa spesies diciptakan
secara terpisah.

Masih banyak bukti dan hukum-hukum ilmiah lain yang menggugurkan teori evolusi. Namun dalam
buku ini kita hanya membahas beberapa di antara-nya. Itu pun seharusnya sudah cukup untuk
menyingkap se-buah kebenaran terpenting. Meskipun ditutup-tutupi dengan kedok ilmu
pengetahuan, teori evolusi hanyalah sebuah kebohongan; kebohongan yang dipertahankan hanya
untuk kepentingan filsafat materialistis. Kebohongan yang tidak berdasarkan pada ilmu
pengetahuan tetapi pada pencucian otak, propaganda dan penipuan.

Berikut ini adalah rangkuman dari pembahasan sejauh ini:

Teori Evolusi Telah Runtuh


Sejak langkah pertamanya, teori evolusi telah gagal. Buktinya, evolusionis tidak mampu
menjelaskan proses pembentukan satu protein pun. Baik hukum probabilitas maupun hukum fisika
dan kimia tidak memberikan peluang sama sekali bagi pembentukan kehidupan secara kebetulan.

Bila satu protein saja tidak dapat terbentuk secara kebetulan, apakah masuk akal jika jutaan
protein menyatukan diri membentuk sel, lalu milyaran sel secara kebetulan pula menyatukan diri
membentuk organ-organ hidup, lalu membentuk ikan, kemudian ikan beralih ke darat, menjadi
reptil, dan akhirnya menjadi burung? Begitukah cara jutaan spesies di bumi terbentuk?

Meskipun tidak masuk akal bagi Anda, evolusionis benar-benar meyakini dongeng ini.

Evolusi lebih merupakan sebuah kepercayaan atau tepatnya keyakinan karena mereka tidak
mempunyai bukti satu pun untuk cerita mereka. Mereka tidak pernah menemukan satu pun bentuk
peralihan seperti makhluk setengah ikan-setengah reptil, atau makhluk setengah reptil-setengah
burung. Mereka pun tidak mampu membuktikan bahwa satu protein, atau bahkan satu molekul
asam amino penyusun protein dapat terbentuk dalam kondisi yang mereka sebut sebagai kondisi
bumi purba. Bahkan dalam laboratorium yang canggih, mereka tidak berhasil membentuk protein.
Sebaliknya, melalui seluruh upaya mereka, evolusionis sendiri malah menunjukkan bahwa proses
evolusi tidak dapat dan tidak pernah terjadi di bumi ini.
Di Masa Mendatang pun Evolusi Tidak
Dapat Dibuktikan
Menghadapi kenyataan ini, evolusionis hanya dapat menghibur diri dengan khayalan bahwa suatu
saat nanti, entah bagaimana caranya, ilmu pengetahuan akan menjawab semua dilema ini.
Mengharapkan ilmu pengetahuan akan membenarkan semua pernyataan tidak berdasar dan tidak
masuk akal ini adalah hal yang mustahil, sampai kapan pun. Sebaliknya, sejalan dengan kemajuan
ilmu pengetahuan, kemustahilan pernyataan evolusionis akan semakin terbuka dan semakin jelas.

Begitulah yang terjadi sejauh ini. Semakin terperinci struktur dan fungsi sel diketahui, semakin
jelas bahwa sel bukan susunan sederhana yang terbentuk secara acak, seperti pemahaman biologis
primitif masa Darwin.

Rasa percaya diri berlebihan dalam menolak fakta penciptaan dan menyatakan bahwa kehidupan
berasal dari kebetulan-kebetulan yang mustahil, lalu berkeras mempertahankannya, kelak akan
berbalik menjadi sumber penghinaan. Ketika wajah asli dari teori evolusi semakin tersingkap dan
opini publik mulai melihat kebenaran, para pendukung evolusi yang fanatik buta ini tidak akan
berani lagi memperlihatkan wajah mereka.

Rintangan Terbesar bagi Evolusi: Jiwa


Banyak spesies di bumi ini yang mirip satu sama lain. Misalnya, banyak makhluk hidup yang mirip
dengan kuda atau kucing, dan banyak serangga mirip satu dengan lainnya. Kemiripan seperti ini
tidak membuat orang heran.

Sedikit kemiripan antara manusia dan kera, entah bagaimana terlalu banyak menarik perhatian.
Ketertarikan ini kadang menjadi sangat ekstrem sehingga membuat beberapa orang mempercayai
tesis palsu evolusi. Sebenarnya, kemiripan tampilan antara manusia dan kera tidak memberikan arti
apa-apa. Kumbang tanduk dan badak juga memiliki kemiripan tampilan, namun menggelikan sekali
jika mencari mata rantai evolusi di antara keduanya hanya berdasarkan kemiripan tampilan saja;
yang satu adalah serangga dan yang lainnya mamalia.

Selain kemiripan tampilan, kera tidak bisa dikatakan berkerabat lebih dekat dengan manusia
dibandingkan dengan hewan lain. Jika tingkat kecerdasan dipertimbangkan, maka lebah madu dan
laba-laba dapat dikatakan berkerabat lebih dekat dengan manusia karena keduanya dapat membuat
struktur sarang yang menakjubkan. Dalam beberapa aspek, mereka bahkan lebih unggul.

Terlepas dari kemiripan tampilan ini, ada perbedaan sangat besar an-tara manusia dan kera.
Berdasarkan tingkat kesadarannya, kera adalah hewan yang tidak berbeda dengan kuda atau anjing.
Sedangkan manusia adalah makhluk sadar, berkeinginan kuat dan dapat berpikir, berbicara,
mengerti, memutuskan, dan menilai. Semua sifat ini merupakan fungsi jiwa yang dimiliki manusia.
Jiwa merupakan perbedaan paling penting yang jauh memisahkan manusia dari makhluk-makhluk
lain. Tak ada satu pun kemiripan fisik yang dapat menutup jurang lebar di antara manusia dan
makhluk hidup lainnya. Di alam ini, satu-satunya makhluk hidup yang mempunyai jiwa adalah
manusia.
Allah Mencipta Menurut Kehendak-Nya
Apakah akan menjadi masalah jika skenario yang diajukan evolusionis benar-benar telah terjadi?
Sedikit pun tidak, karena setiap tahapan yang diajukan teori evolusioner dan berdasarkan konsep
kebetulan, hanya dapat terjadi karena suatu keajaiban. Bahkan jika kehidupan benar-benar muncul
secara berangsur-angsur melalui tahapan-tahapan demikian, masing-masing tahap hanya dapat
dimunculkan oleh suatu keinginan sadar. Kejadian kebetulan bukan hanya tidak masuk akal,
melainkan juga mustahil.

Jika dikatakan bahwa sebuah molekul protein telah terbentuk pada kondisi atmosfir primitif, harus
diingat bahwa hukum-hukum probabilitas, biologi dan kimia telah menunjukkan bahwa hal itu tidak
mungkin terjadi secara kebetulan. Namun jika kita terpaksa menerima bahwa hal tersebut memang
terjadi, maka tidak ada pilihan lain kecuali mengakui bahwa keberadaannya karena kehendak Sang
Pencipta.

Logika serupa berlaku juga pada seluruh hipotesis yang diusulkan oleh evolusionis. Misalnya, tidak
ada bukti paleontologis maupun secara pembenaran fisika, kimia, biologi atau logika yang
membuktikan bahwa ikan beralih dari air ke darat dan menjadi hewan darat. Akan tetapi, jika
seseorang membuat pernyataan bahwa ikan merangkak ke darat dan berubah menjadi reptil, maka
dia pun harus menerima keberadaan Pencipta yang mampu membuat apa pun yang dikehendaki-Nya
dengan hanya mengatakan "jadilah". Penjelasan lain untuk keajaiban semacam itu berarti
penyangkalan diri dan pelanggaran atas prinsip-prinsip akal sehat.

Kenyataannya telah jelas dan terbukti. Seluruh kehidupan merupakan karya agung yang dirancang
sempurna. Ini selanjutnya memberikan bukti lengkap bagi keberadaan Pencipta, Pemilik kekuatan,
pengetahuan, dan kecerdasan yang tak terhingga.

Pencipta itu adalah Allah, Tuhan langit dan bumi, dan segala sesuatu di antaranya.

UNIVERSAL : Kontroversi Teori Evolusi Part II


Teori evolusi sudah berusia 150 tahun, dan juga telah berpengaruh besar pada pandangan hidup yang
dianut masyarakat. Teori ini menyatakan sebuah dusta, yaitu bahwa manusia muncul ke dunia ini
sebagai akibat faktor kebetulan (Teori Spotanea), dan bahwa manusia adalah suatu spesies binatang.
Lebih jauh lagi, teori ini mengajarkan bahwa satu-satunya hukum yang berlaku adalah usaha makhluk
hidup, yang hanya mementingkan diri sendiri, untuk bertahan hidup.

INTERMEZO

Karena, beberapa diantara pembaca masih belum memahami beberapa hal dalam teori Creasionist, saya rasa
tidak ada salahnya membuat artikel serupa untuk menutupi kekurangan yang ada pada Part I.

TEORI EVOLUSI TIDAK ABSAH SECARA ILMIAH

Teori evolusi menyatakan bahwa makhluk hidup di muka bumi tercipta sebagai akibat dari peristiwa kebetulan
dan muncul dengan sendirinya dari kondisi alamiah. Teori ini bukanlah hukum ilmiah maupun fakta yang sudah
terbukti. Di balik topeng ilmiahnya, teori ini adalah pandangan hidup materialis yang dijejalkan ke dalam
masyarakat oleh kaum Darwinis. Dasar-dasar teori ini - yang telah digugurkan oleh bukti-bukti ilmiah di segala
bidang adalah cara-cara mempengaruhi dan propaganda, yang terdiri atas tipuan, kepalsuan, kontradiksi,
kecurangan, dan ilusi permainan sulap.

Teori evolusi diajukan sebagai hipotesa rekaan di tengah konteks pemahaman ilmiah abad kesembilan belas
yang masih terbelakang, yang hingga hari ini belum pernah didukung oleh percobaan atau penemuan ilmiah apa
pun. Sebaliknya, semua metode yang bertujuan membuktikan keabsahan teori ini justru berakhir dengan
pembuktian ketidakabsahannya.

Francis Kirk

Dilema mengkhawatirkan lainnya (dari sudut pandang evolusionis) adalah molekul DNA yang terdapat di dalam
inti sel hidup, sebuah sistem kode yang terdiri dari 3,5 miliar satuan berisi semua rincian makhluk hidup. DNA
pertama kali ditemukan melalui kristalografi sinar-X pada akhir tahun 1940-an dan awal 1950-an, dan merupakan
sebuah molekul raksasa dengan rancangan yang luar biasa. Selama bertahun-tahun, Francis Crick, pemenang
hadiah Nobel, meyakini teori evolusi molekuler. Namun pada akhirnya, ia sendiri pun harus mengakui bahwa
molekul yang begitu rumit tak mungkin muncul dengan sendirinya secara tiba-tiba karena kebetulan, sebagai
hasil dari sebuah proses evolusi:

Evolusionis berkebangsaan Turki, Profesor Ali Demirsoy, terpaksa memberikan pengakuan sebagai berikut:
Sebenarnya, kemungkinan terbentuknya sebuah protein dan asam nukleat (DNA-RNA) adalah di luar
batas perhitungan. Lebih jauh lagi, peluang munculnya suatu rantai protein adalah sedemikian kecilnya
sehingga bisa disebut astronomis (tidak mungkin).

Homer Jacobson, Profesor Emeritus di bidang Ilmu Kimia, menyatakan pengakuan tentang kemustahilan
munculnya kehidupan akibat faktor kebetulan, sebagai berikut:

Petunjuk untuk reproduksi rencana, untuk energi dan untuk pengambilan bagian-bagian dari
lingkungan sekitar, untuk urutan pertumbuhan, dan untuk mekanisme efektor yang menerjemahkan
instruksi menjadi pertumbuhan - semua itu harus ada secara serentak pada saat tersebut [saat awal
munculnya kehidupan]. Kemungkinan kombinasi semua peristiwa itu secara kebetulan tampaknya
sungguh luar biasa kecil.

Catatan fosil pun menyajikan fakta lain, yang menjadi kekalahan telak bagi teori evolusi. Dari seluruh fosil yang
telah ditemukan selama ini, tidak ada satu pun bentuk antara (bentuk peralihan) yang ditemukan, yang
seharusnya ada jika makhluk hidup berevolusi tahap demi tahap dari spesies yang sederhana menjadi spesies
yang lebih kompleks, seperti yang dinyatakan oleh teori evolusi. Jika makhluk seperti itu ada, seharusnya
jumlahnya banyak sekali, berjuta-juta, bahkan bermiliar-miliar. Lebih dari itu, sisa dan kerangka makhluk
semacam itu haruslah ada dalam catatan fosil. Kalau bentuk-bentuk antara ini benar-benar ada, jumlahnya akan
melebihi jumlah spesies binatang yang kita kenal di masa kini. Seluruh dunia akan penuh dengan fosil makhluk
tersebut. Para evolusionis mencari bentuk-bentuk antara ini di semua penelitian fosil yang menggebu-gebu, yang
telah dilangsungkan sejak abad kesembilan belas. Akan tetapi, sama sekali tidak ditemukan jejak-jejak makhluk
perantara ini, meskipun pencarian telah dilakukan dengan penuh semangat selama 150 tahun.

Singkat kata, catatan fosil menunjukkan bahwa makhluk hidup muncul secara tiba-tiba dan dalam wujud
sempurna, bukan melalui sebuah proses dari bentuk primitif menuju tahap yang lebih maju, seperti yang
dinyatakan teori evolusi.

Kaum evolusionis telah berusaha keras untuk membuktikan kebenaran teori mereka. Namun nyatanya, dengan
tangannya sendiri, mereka justru telah membuktikan bahwa proses evolusi adalah mustahil. Kesimpulannya,
ilmu pengetahuan modern mengungkapkan fakta yang tak mungkin disangkal berikut ini: Kemunculan makhluk
hidup bukanlah akibat faktor kebetulan yang buta, melainkan hasil ciptaan Tuhan.
Ledakan Zaman Kambrium meruntuhkan teori evolusi

Jenis makhluk hidup dibagi-bagi oleh para ahli biologi menjadi kelompok-kelompok utama, seperti tumbuhan,
hewan, jamur, dst. Kelompok utama ini kemudian dibagi lagi menjadi filum (dari kata phylum atau phyla). Saat
menelaah berbagai filum ini, haruslah diingat bahwa setiap filum memiliki struktur fisik yang amat berlainan.
Hewan jenis Artropoda (serangga, laba-laba, dan makhluk lainnya yang kakinya beruas-ruas), misalnya, adalah
satu filum tersendiri, dan semua hewan dalam filum ini memiliki struktur dasar fisik yang sama. Filum Chordata
meliputi hewan yang memiliki notochord atau sumsum tulang belakang (kolumna spinalis). Semua hewan
berukuran besar, seperti ikan, unggas, reptil, dan mamalia yang kita kenal sehari-hari, tergolong ke dalam sub-
filum Chordata yang disebut vertebrata.

Terdapat sekitar 35 filum hewan, termasuk Moluska, yang meliputi hewan bertubuh lunak, seperti siput dan
gurita, serta Nematoda, yang mencakup cacing berukuran kecil. Ciri terpenting filum ini, seperti telah kita
sebutkan tadi, adalah terdapatnya ciri-ciri fisik yang amat berbeda. Kategori di bawah filum memiliki rancangan
tubuh yang serupa, tetapi satu filum amatlah berbeda dari filum lainnya.

Jadi, bagaimanakah perbedaan-perbedaan ini timbul?

Pertama, mari kita tinjau hipotesa Darwinis. Seperti kita ketahui, Darwinisme menyatakan bahwa makhluk hidup
berkembang dari satu nenek moyang yang sama, dan variasi timbul setelah melalui serentetan perubahan kecil.
Jika benar demikian, artinya makhluk hidup yang pertama haruslah memiliki bentuk yang sama dan sederhana.
Dan menurut teori ini pula, perbedaan di antara, dan meningkatnya kerumitan makhluk hidup, harus terjadi
secara paralel seiring dengan waktu.

Menurut Darwinisme, kehidupan haruslah berupa sebatang pohon, dengan sebuah akar bersama, yang bagian
atasnya berkembang menjadi cabang-cabang yang berbeda. Hipotesa ini terus-menerus ditekankan dalam
sumber-sumber Darwinis, di mana gambaran tentang "pohon silsilah kehidupan" seringkali digunakan. Menurut
konsep pohon ini, awalnya harus muncul satu filum, lalu berbagai filum lain perlahan-lahan muncul, dengan
perubahan-perubahan kecil dan dalam tenggang waktu yang amat panjang.

Menurut Darwinisme, kehidupan haruslah berupa sebatang pohon, dengan sebuah akar bersama, yang bagian
atasnya berkembang menjadi cabang-cabang yang berbeda. Hipotesa ini terus-menerus ditekankan dalam
sumber-sumber Darwinis, di mana gambaran tentang "pohon silsilah kehidupan" seringkali digunakan. Menurut
konsep pohon ini, awalnya harus muncul satu filum, lalu berbagai filum lain perlahan-lahan muncul, dengan
perubahan-perubahan kecil dan dalam tenggang waktu yang amat panjang.

Itulah pernyataan teori evolusi. Tetapi, benarkah itu yang terjadi?

Sama sekali tidak. Sebaliknya, binatang sudah berwujud amat kompleks dan saling berlainan sejak saat pertama
kali muncul di Bumi. Semua filum binatang yang telah kita ketahui muncul di saat yang sama, di tengah tenggang
waktu geologis yang dikenal sebagai Zaman Kambrium. Zaman Kambrium adalah periode waktu dalam ilmu
geologi, yang lamanya diperkirakan kurang-lebih 65 juta tahun, sekitar 570 hingga 505 juta tahun yang silam.
Tetapi, kemunculan mendadak berbagai kelompok utama hewan terjadi pada fase yang jauh lebih singkat di
masa Zaman Kambrium ini, yang sering disebut dengan "ledakan Kambrium ". Stephen C. Meyer, P. A.
Nelson, dan Paul Chien, dalam sebuah artikel yang didasarkan pada pengkajian literatur terperinci di tahun
2001, menyatakan "ledakan Kambrium terjadi dalam sepenggal waktu geologis yang teramat sempit, yang
lamanya tak lebih dari 5 juta tahun."

Sebelum itu, tak ada sedikit pun catatan fosil tentang makhluk hidup, selain yang bersel tunggal serta sedikit
makhluk bersel majemuk yang amat primitif. Semua filum hewan muncul serentak dalam wujud sempurna, dalam
tenggang waktu singkat Ledakan Kambrium (Lima juta tahun adalah amat singkat dalam istilah geologi)

Dalam bebatuan Kambrium ditemukan fosil-fasil dari makhluk-makhluk yang amat berbeda, seperti siput,
trilobita, spons, ubur-ubur, bintang laut, kerang, dst.

Kebanyakan makhluk pada lapisan ini memiliki sistem yang rumit dan struktur yang maju, misalnya mata, insang,
dan sistem sirkulasi, yang persis sama dengan yang terdapat pada spesimen hewan di zaman modern. Semua
truktur ini sangatlah maju dan sangat berlainan satu dengan yang lain.

Richard Monastersky, seorang staf penulis jurnal Science News, menyatakan tentang ledakan Kambrium,
yang merupakan perangkap maut bagi teori evolusi:
Setengah miliar tahun silam, beragam jenis hewan yang amat kompleks, yang kita lihat sekarang, tiba-tiba
muncul. Saat itu, tepat di awal Zaman Kambrium di Bumi, sekitar 550 juta tahun yang lalu, menandai ledakan
evolusioner yang mengisi penuh lautan dengan berbagai makhluk kompleks pertama di dunia.

Phillip Johnson, seorang profesor Universitas California di Berkeley, yang juga salah seorang kritikus
Darwinisme paling menonjol di dunia, menjabarkan pertentangan antara Darwinisme dengan kebenaran
paleontologis ini:

Teori Darwinisme meramalkan adanya sebuah "kerucut peningkatan keragaman", yang mana organisme hidup
pertama, atau spesies hewan pertama, secara bertahap dan kontinyu menjadi beragam dan menciptakan tingkat
taksonomi yang lebih tinggi. Namun catatan fosil binatang lebih mirip kerucut yang terbalik, yaitu banyak filum
yang berada di jenjang awal, dan setelah itu semakin berkurang.

Seperti diungkapkan Phillip Johnson, yang telah terjadi bukanlah terbentuknya berbagai filum secara bertahap.
Jauh daripada itu, semua filum timbul serentak, dan bahkan ada yang punah dalam periode selanjutnya.
Munculnya makhluk hidup yang beragam dalam wujud sempurna dan seketika, merupakan bukti penciptaan,
seperti juga diakui oleh evolusionis Futuyma. Telah kita saksikan, semua penemuan ilmiah yang ada telah
menyatakan bahwa pernyataan teori evolusi adalah salah, serta mengungkapkan kebenaran dari penciptaan.

Semua ilmuwan terbesar dalam kemajuan ilmiah adalah penganut fakta penciptaan (kreasionis)

Tak menjadi soal, betapapun keras upaya kaum evolusionis dalam menampilkan diri mereka sebagai pemuncul
gagasan seperti inovasi (pembaruan) dan kemajuan, sejarah telah membuktikan bahwa pencetus yang
sebenarnya dari inovasi dan kemajuan adalah selalu para ilmuwan beriman yang meyakini penciptaan oleh
Tuhan.

Kita dapat menyaksikan adanya ilmuwan yang beriman di setiap titik kemajuan ilmiah. Leonardo da Vinci,
Copernicus, Kepler, dan Galileo, yang memulai era baru dalam ilmu astronomi, Cuvier, pendiri
paleontologi, Linnaeus, pendiri sistem penggolongan modern untuk flora dan fauna, Isaac Newton, penemu
hukum gravitasi, Edwin Hubble, yang menemukan adanya galaksi dan pemuaian alam semesta, serta banyak
lagi, dan banyak lainnya yang meyakini Tuhan dan percaya bahwa alam semesta dan makhluk hidup adalah
ciptaanNya.

Salah satu ilmuwan terbesar di abad kedua puluh,

Albert Einstein, berkata:


Saya tak dapat membayangkan seorang ilmuwan sejati tanpa keimanan yang kuat. Situasi ini dapat dilukiskan
sebagai: Ilmu tanpa agama adalah lumpuh.

Max Planck, pendiri fisika modern berkebangsaan Jerman, berkata:

"Siapa pun yang secara sungguh-sungguh telah terlibat dalam kerja ilmiah jenis apa pun juga, akan sadar
bahwa di atas pintu gerbang memasuki kuil ilmu pengetahuan tertera kalimat: Engkau harus beriman. Ini adalah
sifat yang tak dapat dilepaskan dari seorang ilmuwan.

Beberapa Kesalahan Di Dalam


Buku Harun Yahya

Oleh : Abu Hudzaifah al-Atsari

Manusia tidak dapat lepas dari kesalahan, sedangkan kewajiban setiap


Muslim adalah saling mengingatkan di dalam menetapi kebenaran dan
kesabaran. Harun Yahya saddadahullahu- adalah diantara cendekiawan dan
saintis muslim yang juga terperosok ke dalam kesalahan yang cukup fatal di
dalam masalah aqidah.
Kesalahan-kesalahan beliau ini tersebar di mayoritas buku-bukunya yang
membicarakan tentang Islam. Kami tidak menutup mata dari mashlahat yang
beliau berikan bagi ummat di dalam membela Islam dan membantah faham-
faham materialistis saintifis. Namun, biar bagaimanapun beliau adalah
manusia yang kadang salah kadang benar, sehingga kita wajib menolak
kesalahan-kesalahannya dan wajib menerangkannya kepada ummat agar
ummat tidak terperosok ke dalam kesalahan yang sama. Semoga Allah
menunjuki diri kami, diri beliau dan seluruh ummat Islam.
Beliau memiliki kesalahan-kesalahan yang fatal di dalam buku-bukunya,
diantaranya yang berjudul EVOLUTION DECEIT (Keruntuhan Teori
Evolusi)yang menunjukkan pemahamannya terhadap Aqidah dan Tauhid yang
keliru. Bab yang menunjukkan kesalahan ini diantaranya terdapat di dalam
bab The Real Essence of Matter. Perlu saya tambahkan di sini, walaupun
Harun Yahya melakukan kesalahan serius di dalam perkara aqidah, namun
saya tidak pernah menvonisnya sebagai Ahlul Bidah, terlebih-lebih
menvonisnya sebagai kafir, nasalullaha salamah wa afiyah. Sebab, bukanlah
hak saya untuk melakukan vonis semacam ini, namun hal ini adalah hak para
ulama dan ahlul ilmi yang mutamakkin (mumpuni). Saya di sini hanya ingin
menunjukkan beberapa kesalahan yang beliau lakukan sebagai bentuk amar
maruf nahi munkar.
Harun Yahya saddadahullahu- berkata di dalam pembukaannya di
dalam Where is God? (Dimana Tuhan) pada halaman 175, sebagai berikut :
The basic mistake of those who deny God is shared by many people who
in fact do not really deny the existence of God but have a wrong perception
of Him. They do not deny creation, but have superstitious beliefs about
where God is. Most of them think that God is up in the sky. They
tacitly imagine that God is behind a very distant planet and interferes with
worldly affairs once in a while. Or perhaps that He does not intervene at
all: He created the universe and then left it to itself and people are left to
determine their fates for themselves. Still others have heard that in the
Quran it is written that God is everywhere but they cannot perceive what
this exactly means. They tacitly think that God surrounds everything like
radio waves or like an invisible, intangible gas. However, this notion and
other beliefs that are unable to make clear where God is (and maybe
deny Him because of that) are all based on a common mistake. They hold a
prejudice without any grounds and then are moved to wrong opinions of
God. What is this prejudice?
Yang artinya adalah :
Kesalahan mendasar bagi mereka yang mengingkari Tuhan yang tersebar
pada kebanyakan orang adalah pada kenyataannya mereka tidaklah
mengingkari keberadaan Tuhan itu sendiri, namun mereka memiliki persepsi
yang berbeda terhadap Tuhan.
Mereka tidaklah mengingkari penciptaan, namun mereka memiliki keyakinan
takhayul mengenai dimanakah Tuhan itu berada. Mayoritas mereka
beranggapan bahwa Tuhan berada berada di atas Langit.
Mereka secara diam-diam membayangkan bahwa Tuhan berada di balik
planet-planet yang sangat jauh dan turut mengatur urusan dunia sesekali
waktu.
Atau mungkin Tuhan tidak turut campur tangan sama sekali.
Dia menciptakan alam semesta dan membiarkan apa adanya dan manusia
dibiarkan begitu saja mengatur nasib mereka masing-masing. Sedangkan
lainnya, ada yang pernah mendengar bahwa Tuhan ada di mana-mana,
namun mereka tidak dapat memahami maksud hal ini secara benar.
Mereka secara diam-diam berfikir bahwa Tuhan meliputi segala sesuatu
seperti gelombang radio atau seperti udara yang tak dapat dilihat ataupun
diraba.
Bagaimanapun juga, dugaan ini dan keyakinan lainnya yang tidak mampu
menjelaskan dimanakah Tuhan berada (atau bahkan mungkin mengingkari
Tuhan dikarenakan hal ini), seluruhnya adalah kesalahan yang lazim terjadi.
Mereka berpegang pada praduga yang tak berdasar dan akhirnya menjadi
keliru di dalam memahami Tuhan. Apakah prasangka ini??
Kemudian beliau sampai kepada perkataan filsafat sebagai berikut (hal. 189) :
Consequently it is impossible to conceive Allah as a separate being
outside this whole mass of matter (i.e the world) Allah is surely
everywhere and encompasses all.
Yang artinya :
Maka dari itu, merupakan suatu hal yang mustahil untuk memahami Allah sebagai
suatu Dzat yang terpisah dari keseluruhan massa partikel/materi (yaitu dunia), Allah
secara pasti berada di mana-mana dan meliputi segala sesuatu.
Perkataan ini jelas-jelas perkataan kaum shufiyah, bahkan menyimpan
pemahaman konsep Wihdatul Wujud.
Pemahaman ini jelas-jelas suatu kekeliruan yang nyata dan fatal yang setiap
muslim dan mukmin harus baro (berlepas diri) darinya. Karena Ahlus Sunnah
meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Taala beristiwa di atas Arsy-Nya di atas
Langit, Dzat-Nya terpisah dari makhluk-Nya dan Ilmu-Nya meliputi segala
sesuatu.
Harun Yahya saddadahullahu- menulis di halaman 190 tentang kedekatan
Allah secara tidak terbatas terhadap makhluk-Nya dengan membawakan dalil
:
Jika hamba-hamba-Ku bertanya tentang-Ku, sesungguhnya Aku dekat. (Al-
Baqoroh : 186)
Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: Sesungguhnya (ilmu)
Tuhanmu meliputi segala manusia. (Al-Israa : 60)
Harun Yahya juga membawakan ayat yang berhubungan dengan kedekatan
Allah terhadap manusia tatkala sakaratul maut, yaitu :
Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu
melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak
melihat. (Al-Waaqiah : 83-85)
Padahal ayat-ayat yang dibawakan oleh Harun Yahya ini, tidak sedikitpun
menunjukkan pemahaman bahwa Allah Dzat Allah ada dimana-mana,
namun menurut pemahaman Ahlus Sunnah yang dimaksud oleh Firman
Allah di atas adalah, Ilmu Allah-lah yang meliputi segala sesuatu.
Sebagaimana dikatakan oleh al-Imam Sufyan ats-Tsauri, tatkala ditanya
tentang ayat wa huwa maakum ayna ma kuntum (Dia berada dimanapun
kamu berada), beliau berkata : Yang dimaksud adalah Ilmu-Nya. (Khalqu
Afalil Ibad, Imam Bukhari)
Harun Yahya berkata pada permulaan halaman 190 sebagai berikut :
That is, we cannot perceive Allahs existence with our eyes, but Allah has
thoroughly encompassed our inside, outside, looks and thoughts.
Yang artinya :
Oleh karena itulah, kita tidak dapat membayangkan keberadaan Allah dengan
mata kita, namun Allah benar-benar sepenuhnya meliputi bagian luar, bagian
dalam, pengelihatan, pemikiran
Ucapan ini adalah ucapan yang keliru dan bathil. Ini adalah pemahaman
filsafat shufiyah jahmiyah mutazilah. Sungguh, keseluruhan bab yang
berjudul The real essence of Matter benar-benar diselaraskan dengan
filosofi Harun Yahya terhadap aqidahnya. Yang apabila diringkaskan
keseluruhan bab ini menjadi satu kalimat, yaitu :
That there is no US, the WORLD is not REAL, Allah is REAL, so ALLAH is
EVERYWHERE and WE ARE an ILLUSION
Yang artinya :
Bahwa kita ini tidak ada, dunia itu tidak nyata, Allah sajalah yang nyata, oleh
karena itu Allah berada di mana-mana sedangkan kita hanyalah ilusi belaka.
Hal ini tersirat di dalam perkatannya di halaman 193 :
As it may be seen clearly, it is a scientific and logical fact that the
external world has no materialistic reality and that it is a collection of
images perpetually presented to our soul by God. Nevertheless, people
usually do not include, or rather do not want to include, everything in the
concept of the external world.
Yang artinya :
Sebagaimana telah tampak secara nyata, merupakan suatu hal yang saintifis
dan fakta bahwa dunia eksternal tidak memiliki materi yang realistis dan
dunia eksternal hanyalah merupakan kumpulan gambaran yang secara terus
menerus berada di dalam jiwa kita oleh Tuhan. Walau demikian, manusia
seringkali tidak memasukkan, atau lebih jauh tidak mau memasukkan, segala
sesuatu ke dalam konsep dunia luar.
Ucapan ini berlanjut hampir pada keseluruhan bab, dan hal ini tentu saja
suatu penyimpangan yang fatal dan dapat menimbulkan syubuhat terhadap
para pembaca buku ini, karena biar bagaimanapun buku ini mengandung data-
data saintifis, bukti-bukti rasional dan bantahan-bantahan ilmiah rasionalis
terhadap kaum materialistis. Oleh karena itu menjelaskan kesalahan-
kesalahan aqidah dan selainnya adalah suatu keniscayaan dan kewajiban,
karena membela al-Haq lebih dicintai dari seluruh perkara lainnya.
Sebagai kesimpulan, di sini saya akan meringkaskan poin-poin kesalahan
pemahaman Harun Yahya di dalam bukunya EVOLUTION DECEIT (dan
selainnya), sebagai berikut :
1. Harun Yahya memiliki perkataan yang bernuansa shufiyah kental, yakni
meyakini pemahaman Allah ada dimana-mana, bahkan beliau memiliki
perkataan yang mengarah kepada konsep Wihdatul Wujud yang kufur, semoga
Allah memberinya hidayah dan mengampuninya.
2. Harun Yahya memiliki aqidah yang serupa dengan Qodariyah-Mutazilah
di dalam masalah Qodar (Taqdir), sebagaimana secara jelas terlihat pada
tulisannya di halaman 190 akhir.
3. Harun Yahya memiliki aqidah yang dekat kepada Jahmiyah di dalam
menolak sifat-sifat Allah, terutama sifat istiwa Allah di atas Arsy-Nya dan
Arsy-Nya berada di atas langit.
Demikianlah sebagian kecil yang dapat saya tuliskan tentang beberapa
kesalahan fatal di dalam buku-buku Harun Yahya saddadahullahu-, dan apa
yang saya tuliskan di sini bukanlah menunjukkan hanya ini sajalah kesalahan
beliau, namun yang saya tuliskan di sini hanyalah sebagian kecil saja dari
kesalahan-kesalahan yang bersifat aqidah yang terdapat pada
beliau. Tulisan ini lebih banyak diadopsi dari tulisan al-Akh Abu Jibrin al-
Birithani yang meluangkan waktunya menyusun beberapa kekeliruan aqidah
Harun Yahya.
Bagi para ikhwah yang tertarik dengan modern sains dan bantahan-bantahan
terhadap saintis sekuler atau yang berideologi materialistis, saya lebih
menyarankan untuk merujuk kepada tulisan-tulisan dan ceramah al-Ustadz
DR. Zakir Naik al-Hindi, seorang ilmuwan muda India yang telah hafal al-
Quran pada usia 10 tahun, dan sekarang menjadi presiden IRC (International
Research Center) India. Beliau juga dekat dengan masyaikh jumiyah Ahlul
Hadits India, sehingga insya Allah dalam masalah aqidah, beliau jauh lebih
salimah daripada ilmuwan muslim lainnya seperti Harun Yahya.
Walaupun di dalam beberapa hal beliau juga melakukan
kesalahan-kesalahan yang perlu mendapatkan perhatian
tersendiri. Oleh karena itu, kami tidak mengambil perkara manhaj
dari beliau (DR. Zakir Naik), namun di dalam perkara yang beliau
berkompeten di dalamnya, maka tidak ada alasan bagi kami
menolaknya.
Wallahu alam bish showab.
Sumber : http://abusalma.wordpress.com

Read more https://aslibumiayu.net/7109-akidah-harun-yahya-yang-cukup-fatal-


tertuang-dalam-buku-bukunya.html

ANALISIS DARI KESIMPULAN


SANGGAHAN HARUN YAHYA
TERHADAP TEORI
EVOLUSI DARWIN
Menurut Harun Yahya, teori Darwin yang menyatakan tentang segala hal yang
berkaitan dengan proses evolusi sama sekali telah terbantahkan. Hal tersebut
karena didukung oleh beberapa fakta yang menunjukkan bahwa keseluruhan teori
tersebut lebih cenderung kepada fiktif belaka. Hal tersebut adalah:

Darwinisme tidak lagi mampu mengatakan bahwa protein dapat


terbentuk melalui evolusi. Sebab, peluang terbentuknya satu protein saja
dengan urutan yang benar secara acak adalah 1 : 10950, sebuah angka
yang menunjukkan kemustahilan secara matematis.
Darwinisme tidak lagi merujuk kepada fosil-fosil sebagai bukti terjadinya
evolusi. Hal ini dikarenakan seluruh penggalian yang dilakukan di seluruh
dunia dari pertengahan abad ke-19 hingga hari ini, tak satu pun dari
bentuk-bentuk peralihan yang menurut para evolusionis seharusnya
ada dalam jumlah jutaan ternyata tidak pernah ditemukan. Telah disadari
bahwa bentuk-bentuk mata rantai ini tidak lain hanyalah sebuah kisah
khayalan.

Para evolusionis berputus asa di hadapan fosil-fosil yang berjumlah tak


berhingga yang telah berhasil digali hingga saat ini. Hal ini disebabkan
semua fosil-fosil ini memiliki seluruh ciri-ciri yang mendukung dan
membuktikan penciptaan.
Para evolusionis tidak lagi mampu menyatakan bahwa Archaeopteryx
adalah nenek moyang burung, sebab penelitian terkini terhadap fosil-fosil
Archaeopteryx telah sama sekali menggugurkan pernyataan bahwa
Archaeopteryx adalah makhluk setengah-burung. Telah diketahui
bahwa Archaeopteryx memiliki struktur anatomi dan otak yang sempurna
yang diperlukan untuk terbang, dengan kata lain Archaeopteryx adalah
seekor burung sejati, dan dongeng khayal tentang evolusi burung tidak
lagi dapat dipertahankan keabsahannya.

Darwinisme tidak lagi mampu menyatakan bahwa seleksi alam


mendorong terjadinya evolusi, sebab telah dibuktikan secara ilmiah
bahwa mekanisme yang dimaksud tidak dapat menyebabkan makhluk
hidup berevolusi dan tidak dapat menyebabkan mereka memperoleh
sifat-sifat baru.

Ada pepatah yang menyatakan bahwa "Mempelajari ilmu pengetahuan dikatakan benar apabila
dengan tersebut mampu mendekatkan dan mengenalkan manusia kepada Tuhan yang memiliki
ilmu dan hikmah yang tak terbatas. Dialah Allah S.W.T penguasa langit dan bumi"

Setiap orang yang mengamati alam raya nan luas ini secara teliti dan seksama tentu akan
menemukan 250 miliar galaksi yang masing-masing terdiri dari 300 miliar bintang. Masing-
masing bergerak menurut hukum dan keteraturan tertentu. Terdapat rancangan, desain,
keharmonisan peran dan keseimbangan yang sempurna disegenap penjuru alam raya. Bumi
yang secara kasat mata terlihat sebagai hamparan nan luas ternyata hanyalah sebuah noktah
sangat kecil di tengah keanggunan dan kebesaran jagad raya. Bumi pun didesain dengan
keseimbangan yang sangat sempurna ditengah kompleksitas ekosistem biosfer yang rumit. Tak
seperti benda langit yang telah diketahui, atmosfer dan permukaan bumi telah disiapkan untuk
menunjang adanya kehidupan di dalamnya. Air yang merupakan komponen utama kehidupan
menutupi sebagian besar permukaan bumi. Kisaran suhu yang sangat ideal, waktu peredaran,
komposisi gas dan material yang sesuai menunjukkan kepada kita bahwa bumi beserta fasilitas
didalamnya memang dipersiapkan untuk adanya sebuah kehidupan. Bumi merupakan rumah
bagi jutaan makhluk hidup yang tersusun kompleks dan beraneka ragam. Jutaan makhluk hidup
tersebut hidup dalam keserasian dan keharmonisan yang sempurna. Kehidupan pun terus
berlanjut tanpa terusik kecuali oleh campur tangan manusia. Tapi, yang perlu kita renungkan
adalah bagaimana sebuah Maha Karya yang luar biasa ini berawal ? Bagimana makhluk hidup
beserta perangkat organ yang sesuai dengan peranannya dalam keseimbangan ekosistem
menjadi ada ? Keseimbangan desain ini bagi orang yang mau berpikir secara mendalam dan
tulus pasti terbersit akan adanya seniman yang telah menciptakan ini semua. Seniman yang
memiliki ilmu dan hikmah tiada tara. Seniman itu telah memperkenalkan dirinya kepada manusia
sebagai makhluk yang telah diistimewakanNya. Dialah Allah, Tuhan yang Maha Perkasa dan
Bijaksana. Penguasa langit dan bumi serta apa-apa yang ada diantara keduanya.

Namun, teori Darwin yang muncul pada abad ke 19 menolak segala bukti-bukti penciptaan yang
nyata-nyata telah terhampar dihadapan kita. Tokoh promotor dalam hal ini adalah seorang
ilmuwan bernama Charles Darwin. Dalam bukunya The Origin of species. Darwin menyerahkan
segala peristiwa ajaib ini pada hukum kebetulan dan mengingkari adanya penciptaan. Makhluk
hidup yang sangat beraneka ragam ini diklaimnya berasal dari satu nenek moyang yang sama
dan terus semakin berubah melalui suatu proses evolusi kumulatif dalam jangka waktu yang
lama. Teori ini telah tersebar lewat sarana dan propaganda dahsyat dari pendukungnya yaitu
para evolusionist. Darwin menyadari, bahwa dalam teorinya masih terdapat banyak sekali
kekurangan. Namun ia berharap kekurangan tersebut dapat diketemukan titik terang seiring
berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun ibarat menangkap bayangan,
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi justru mematahkan klaimnya satu persatu.
Satu hal yang perlu digaris bawahi adalah bagaimana makhluk awal yang diklaimnya sebagai
nenek moyang Makhluk Hidup berawal ? Darwin sama sekali tidak mengulas terkait hal ini.
Adalah anggapan umum di masanya bahwa makhluk hidup dapat muncul dari benda tak
hidup/materi. Katak dapat muncul dari lumpur, serangga dari sisa makanan, tikus dari
segenggam gandum di kain kotor, belatung pada daging busuk dsb. Tapi klaim tersebut
terbantahkan satu persatu diantaranya ternyata diketahui belatung pada daging busuk tidak
dapat muncul sendiri melainkan adanya lalat yang meletakkan larva mikroskopis ke dalamnya.
Dimasa Darwin, sel sederhana yang dianggap sebagai nenek moyang makhluk hidup hanya
terlihat dengan mikroskop dimasanya sebagai segmen-segmen kecil. Namun, penemuan
mikroskop elektron canggih pada pertengahan abad 20 menunjukkan betapa rapi dan
kompleksnya struktur sel. Dalam suatu sel yang mikroskopis ada kehidupan tersembunyi
layaknya sebuah pabrik yang sangat teratur dan dinamis. Mustahil hal ini merupakan hasil
kebetulan. Analoginya Adalah mustahil sebuah hempasan angin tornado ke tumpukan barang-
barang bekas kemudian mendesainnya menjadi pesawat boeing 747 yang canggih dan modern.
Beberapa eksperimen para ilmuwan ternama seperti Stanley Miller, Alexandre Oparin dan Louis
Pasteur semakin melemahkan ke-absahan teori Evolusi. Hingga akhirnya eksperimen-eksperiman
tersebut bertemu pada satu kesimpulan bahwa materi tak akan pernah bisa menciptakan
makhluk hidup sekalipun dalam bentuk yang paling sederhana

Penemuan struktur DNA oleh James Watson dan Francis Crick membuka mata kita semua bahwa
kehidupan jauh lebih kompleks dari yang di bayangkan sebelumnya. Didalam DNA terdapat
informasi-informasi sifat fisik dan fisiologis seperti warna bola mata, bentuk wajah hingga bentuk
dan fungsi organ dalam terdapat dalam untaian helix ganda DNA yang tersimpan didalam inti
sel. Jika semua informasi dalam untaian DNA dibukukan maka akan memerlukan 40x lebih
banyak dari buku ensiklopedia. Sebuah kumpulan informasi terlengkap yang pernah di buat
manusia. Uniknya, gudang informasi raksasa ini tersimpan di dalam inti sel kita yang sangat
sangat kecil berukuran sekitar 1/1000 mm. Jelas keajaiban ini tidak akan pernah muncul secara
kebetulan melainkan ada seniman super hebat yang telah mendesainnya. Teori darwin tak akan
mampu berkata apa-apa dihadapkan pada semua keajaiban ini

Seperti tak kekurangan akal, para evolusionist menambahkan mekanisme seleksi alam untuk
memperkokoh teorinya. Namun belakangan diketahui bahwa seleksi alam hanyalah
menghilangkan individu-individu lemah dan cacat sebagai upaya menjamin kelangsungan hidup
spesies yang bersangkutan. Namun, mekanisme ini tidaklah dapat mengubah suatu spesies
menjadi spesies lain bahkan yang jauh hubungan kekerabatannya semisal reptil menjadi burung,
ikan menjadi burung, reptil menjadi mamalia dsb. Begitupun dengan mekanisme mutan, mutasi
adalah suatu proses reaksi karena adanya stimulus dari luar yang menyebabkan teracak atau
terdistorsinya susunan kode genetik suatu makhluk hidup. Namun ini bersifat merusak susunan
organisme yang telah sempurna bukannya malah memunculkan organ baru dan membentuknya
menjadi organisme yang semakin kompleks dan sempurna. Dalam artian tidak akan pernah
memunculkan mata dari organisme yang tadinya tidak punya mata atau melahirkan bagi
organisme yang tadinya bertelur dsb. Berbagai ekperimen dilakukan untuk membuktikan
eksperimen ini ternyata hanya menghasilkan organisme yang cacat, mandul dan kontraproduktif.
Seorang professor bernama Richard Dawkins terdiam ketika diminta menunjukkan sebuah
contoh perbaikan informasi genetis dari proses mutasi di alam.

Tak hanya dari sisi sains, ilmu paleontologi pun tak menemukan bukti ilmiah tentang adanya
proses evolusi. Tidak ada catatan fosil yang menunjukkan adanya organisme transisi. Seperti
makhluk setengah ikan setengah reptil, setengah reptil setengah mamalia, setengah reptil
setengah burung dsb. Jika teori ini benar sudah tentu fosil organisme bentuk transisi dalam
jumlah melimpah akan ditemukan. Indikasi terkuat semua organisme dalam jumlah banyak
muncul secara tiba-tiba dengan kata lain ada yang telah menciptakannya. Salah satu organisme
yang di klaim sebagai organisme transisi adalah sebuah organisme bernama coelacanth. Namun
pukulan telak terjadi ketika pada tahun 1930-an seekor coelacanth tertangkap hidup-hidup di
samudera hindia dan ternyata ia hanyalah sejenis ikan yang hidup di kedalaman samudera dan
tak pernah muncul secara sendirinya ke daratan. Dan bentuk fisiknya pun tak beda jauh dengan
fosil yang ditemukan para ahli.

Jika kita mengamati dengan seksama makhluk-makhluk hidup, insting beserta kompleksitas
organnya dan interaksinya terhadap keseimbangan ekosistem. Jelas tampak bahwa ini semua
adalah karya seni. Sebagai karya seni tentu ada seniman yang telah menciptakan dan mendesain
Maha Karya ini. Seniman yang memiliki ilmu dan hikmah tiada tara. Seniman itu telah
memperkenalkan dirinya kepada manusia sebagai makhluk yang telah diistimewakanNya. Dialah
Allah, Tuhan yang Maha Perkasa dan Bijaksana. Penguasa langit dan bumi serta apa-apa yang
ada diantara keduanya.

Refleksi

Masih banyak lagi usaha-usaha yang dilakukan para evolusionist untuk mempertahankan
teorinya mati-matian. Hal ini menunjukkan betapa gigihnya tipu daya mereka yang dikomandoi
Iblis untuk memalingkan hati manusia dari jalan keimanan termasuk dengan jalan ilmu
pengetahuan ilmiah. Begitulah kerjaan ia sampai akhir zaman, makhluk yang telah
memproklamirkan dirinya sebagai penyesat manusia ini telah menyiapkan jutaan perangkap
kepada masing-masing tipologi manusia dengan berbagai wajah. Kepada para ilmuwan,
akademisi, politisi, pemimpin negara, rakyat jelata dll ia datang dengan wajah yang berbeda.

Sebagai orang yang berkeyakinan, tentunya kita telah ditunjuki kepada aksioma-aksioma yang
telah selayaknya menjadi suatu yang prinsipil dalam hidup kita agar tidak terpalingkan di tengah-
tengah gelombang samudera kehidupan. Adalah sesuatu yang berbahaya jika pintu kebenaran
hanya dibuka melalui jalan nalar semata. Tidak semua hal terjangkau oleh nalar manusia yang
terbatas ini. Betapa banyak hal yang dahulu di mata nalar manusia adalah sebuah kemustahilan
bahkan menjadi bahan tertawaan kini telah menjadi kenyataan dan terhampar secara nyata
dihadapan kita. Sebut saja kisah tragis galileo galilei karena teorinya. Namun kini, manusia
meyakini kebenaran teori matahari sentris-nya. Atau ide yang dianggap "gila" pada wright
bersaudara. Hari ini, manusia dapat menikmati jasa penemuannya. Atau, pada kisah nabi Nuh
A.S dengan kapalnya, dulu sewaktu ia membuat kapal ditengah darat dianggap gila oleh
kaumnya bahkan dilempari kotoran, namun kini, sejarah mencatat dengan kapalnya peradaban
manusia terselamatkan. Hal tersebut karena akal manusia terbatas, ia butuh pengajaran agar
dapat berkembang dan berkembang untuk memahami semuanya. Ia butuh suplemen petunjuk
dari Sang Pemilik kunci-kunci pengetahuan dan hikmah yaitu Allah S.W.T agar tak salah arah.
Jangan sampai kita menyesal beribu sesal ketika pemahaman tersebut datang di waktu yang
sudah sangat terlambat sehingga kita tidak dapat melakukan apa-apa lagi kecuali menyesal.
Yaitu ketika pintu-pintu ikhtiar sama sekali telah ditutup.

Itulah kenapa ilmu pengetahuan harus berdiri dan bernaung pada landasan dan wadah yang
benar, agar apa-apa yang dihasilkan sesuai dengan garis hukum-hukum yang telah ditetapkan
dan berdaya guna untuk menunjang tugas dan misi yang telah dimandatkan sang Maha Pencipta
dan Penguasa Alam semesta kepada Makhluk bernama manusia. Untuk keseimbangan dan
keharmonisan hubungan antara alam raya, manusia dan Pemilik alam dan manusia itu sendiri
yaitu Allah S.W.T. Bukan malah memalingkannya !. Wallahua'lam bisshawab.

6. Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu
Yang Maha Pemurah ?

7. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan
tubuh)mu seimbang,
8. dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.

9. Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.

10. Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu),

(Q.S Al-Infithaar 6-10)

Harun Yahya
03.11 |

A. LATAR BELAKANG

Menurut teori evolusi, makhluk hidup terwujud melalui berbagai

kebetulan, dan berkembang lebih jauh sebagai sebuah hasil dari dampak yang

tidak disengaja. Sekitar 3,8 miliar tahun lalu, ketika tidak ada makhluk hidup di

bumi, makhluk bersel satu (prokaryota) sederhana pertama muncul. Seiring

dengan perjalanan waktu, sel-sel yang lebih kompleks (eukaryota) dan

organisme bersel banyak muncul. Dengan kata lain, menurut Darwinisme,

kekuatan alam membangun benda-benda mati sederhana menjadi rancangan

sangat kompleks dan sempurna.


Menurut Harun Yahya, teori Darwin yang menyatakan tentang segala hal

yang berkaitan dengan proses evolusi sama sekali telah terbantahkan. Hal

tersebut karena didukung oleh beberapa fakta yang menunjukkan bahwa

keseluruhan teori tersebut lebih cenderung kepada fiktif belaka.

Teori evolusi sudah berusia 150 tahun, dan juga telah berpengaruh besar

pada pandangan hidup yang dianut masyarakat. Teori ini menyatakan sebuah

dusta, yaitu bahwa manusia muncul ke dunia ini sebagai akibat faktor

kebetulan, dan bahwa manusia adalah suatu spesies binatang. Lebih jauh

lagi, teori ini mengajarkan bahwa satu-satunya hukum yang berlaku adalah

usaha makhluk hidup, yang hanya mementingkan diri sendiri, untuk bertahan

hidup. Pengaruh gagasan ini tampak di abad kesembilan belas dan kedua puluh:

manusia semakin egois, akhlak masyarakat yang memburuk, semakin

merebaknya sikap mementingkan diri sendiri, sikap tidak berperikemanusiaan,

dan kekerasan, tumbuh berkembangnya ideologi berdarah dan diktator seperti

fasisme dan komunisme, krisis individual dan sosial karena manusia semakin

jauh dari akhlak agama.

B. PEMBAHASAN
Menurut pandangan Harun Yahya, konsep kehidupan yang berasal dari

benda mati bertentangan dengan hukum dasar biologi. Dalam hal ini, Harun

Yahya memberikan gambaran bahwa sel hidup merupakan hasil pembelahan

dari sel hidup juga dan bukan dari pembelahan sel mati. Harun Yahya

membantah gagasan yang menyatakan bahwa kehidupan muncul dari kehidupan

sebelumnya. Gagasan tersebut mengandung arti bahwa makhluk hidup yang

pertama kali muncul di bumi berasal dari kehidupan yang ada

sebelumnya. Harun Yahya mengungkapkan pendapatnya dari sudut pandang

berbeda yang menyatakan bahwa di alam semesta ini ada pencipta (creator)

yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Salah satu bantahan Harun Yahya tersebut

merupakan bagian dari pendapatnya dalam meruntuhkan Teori Evolusi Darwin.

Dalam karyanya, Harun Yahya mengungkapkan bahwa Teori Evolusiyang

dikemukakan oleh Darwin merupakan gagasan yang tidak ilmiah. Ada beberapa

hal yang dijadikan dasar bagi Harun Yahya untuk membantah Teori

Evolusi Darwin.

Yang pertama, masih minimnya kemajuan ilmu pengetahuan dan

teknologi pada masa Darwin dan Lamarck untuk menjelaskan fenomena asal

usul kehidupan. Ilmu genetika dan biokimia pada masa Darwin belum ada

sehingga mempersempit penjelasan Darwin tentang evolusi dari sudut pandang

genetika dan biokimia.


Yang kedua, komposisi dan susunan unsur genetik pada makhluk hidup

yang sangat rumit menunjukkan ketidakabsahan mekanisme evolusi

kehidupan. Menurut Harun Yahya, kerumitan yang ada dalam setiap unsur

genetik tersebut merupakan hasil rancangan Sang Pencipta alam semesta ini.

Harun Yahya juga mengungkapkan kelemahan-kelemahan bukti evolusi

yang dikemukakan oleh Darwin, salah satunya dari catatan fosil. Dari berbagai

fosil yang ditemukan, tidak ada satu pun fosil yang menunjukkan bentuk

transisi yang dapat dijadikan sebagai petunjuk proses evolusi. Di samping itu,

perbandingan anatomi menunjukkan bahwa spesies yang diduga telah

berevolusi dari spesies lain ternyata memiliki ciri-ciri anatomi yang sangat

berbeda, sehingga mereka tidak mungkin menjadi nenek moyang dan

keturunannya.

Mengenai seleksi alam, Harun Yahya mengungkapkan bahwa tidak pernah

ada satu spesies pun yang mampu menghasilkan spesies lain melalui mekanisme

seleksi alam. Sebagai contoh, masih ingatkah kalian tentang evolusi kupu-

kupu Biston betularia di Inggris?


Menurut Harun Yahya, terbentuknya kupu-kupu Biston

betulariabersayap gelap yang terjadi pada pada awal revolusi industri di Inggris

sebenarnya tidak ada. Cerita sebenarnya adalah pada awalnya warna kulit

batang pohon di Inggris benar-benar terang. Oleh karena itu, kupu-kupu

berwarna gelap yang hinggap pada pohon-pohon tersebut mudah terlihat oleh

burung-burung pemangsa, sehingga mereka memiliki kemungkinan hidup yang

rendah. Lima puluh tahun kemudian akibat polusi, warna kulit kayu menjadi

lebih gelap dan saat itu kupu-kupu berwarna cerah menjadi mudah diburu.

Akibatnya, jumlah kupu-kupu berwarna cerah berkurang, sementara populasi

kupu-kupu berwarna gelap meningkat karena tidak mudah terlihat oleh

pemangsa.

Dalam kasus ini, Harun Yahya menganggap bahwa tidak terjadi

perubahan warna sayap kupu-kupu yang diturunkan. Namun, yang terjadi

sebenarnya adalah jumlah kupu-kupu yang berwarna cerah telah banyak

dimangsa oleh burung-burung pemangsa, sehingga jumlah kupu-kupu berwarna

cerah lebih sedikit dibanding kupu-kupu yang berwarna lebih gelap.

Salah satu pokok pikiran Teori Evolusi yang juga tak luput dari bantahan

Harun Yahya adalah tentang mutasi. Di dalam pandangan evolusi Darwin, mutasi

dikatakan sebagai proses yang memunculkan spesies baru yang berbeda dari

tetuanya. Harun Yahya menentang pandangan yang menyatakan bahwa mutasi

dapat bersifat menguntungkan, tetapi pada kenyataannnya setiap mutasi

bersifat membahayakan.
Harun Yahya mengajukan tiga alasan utama mengapa mutasi tidak dapat

dijadikan bukti pendukung evolusi:

1. Tidak pernah ditemukan mutasi yang bermanfaat, karena mutasi terjadi


secara acak dan akan merusak susunan dan komposisi materi genetik.
2. Mutasi tidak menambahkan informasi genetik yang baru, tetapi hanya
bersifat merubah atau merusak yang dapat mengakibatkan ketidaknormalan.
3. Agar dapat diwariskan pada generasi selanjutnya, mutasi harus terjadi
pada sel-sel reproduksi organisme.

Yang ketiga, menurut Harun Yahya para evolusionis tidak lagi mampu

menyatakan bahwa Archaeopteryx adalah nenek moyang burung, sebab

penelitian terkini terhadap fosil-fosil Archaeopteryx telah sama sekali

menggugurkan pernyataan bahwa Archaeopteryx adalah makhluk setengah-

burung. Telah diketahui bahwa Archaeopteryx memiliki struktur anatomi dan

otak yang sempurna yang diperlukan untuk terbang, dengan kata lain

Archaeopteryx adalah seekor burung sejati, dan dongeng khayal tentang

evolusi burung tidak lagi dapat dipertahankan keabsahannya.

Menanggapi pertanyaan apakah terdapat bukti fosil bagi evolusi reptilia-

burung, evolusionis mengajukan satu nama makhluk hidup. Dialah fosil burung

yang disebut Archaeopteryx, salah satu yang dianggap sebagai bentuk peralihan

yang paling dikenal luas di antara sedikit bukti yang masih dipertahankan

evolusionis.
Archaeopteryx, yang disebut sebagai nenek moyang burung modern

menurut evolusionis, hidup sekitar 150 juta tahun yang lalu. Teori

menyebutkan bahwa beberapa dinosaurus kecil,

seperti Velocariptor atauDromaeosaurus, berevolusi dengan memperoleh sayap

dan kemudian mulai mencoba untuk terbang.

Begitulah, Archaeopteryx dianggap sebagai bentuk peralihan yang muncul dari

nenek moyang dinosaurus dan mulai terbang untuk pertama kalinya.

Akan tetapi, kajian terbaru tentang fosil Archaeopteryx menunjukkan

bahwa penjelasan ini tidak memiliki landasan ilmiah apapun. Ini sama sekali

bukanlah bentuk peralihan, tetapi satu spesies burung yang telah punah, yang

memiliki beberapa perbedaan tak berarti dengan burung-burung modern.


Pendapat bahwa Archaeopteryx adalah setengah burung yang tidak bisa

terbang dengan sempurna sangat popular di kalangan evolusionis hingga

beberapa waktu yang lalu. Ketiadaan sternum (tulang dada) pada hewan ini

dijadikan sebagai bukti terpenting bahwa burung ini tidak bisa terbang dengan

baik. (Sternum adalah tulang yang terletak di bawah dada tempat melekatnya

otot untuk terbang. Pada saat ini, tulang dada semacam ini telah teramati pada

setiap burung baik yang bisa terbang ataupun tidak, dan bahkan pada

kelelawar, mamalia terbang yang termasuk dalam famili yang jauh berbeda.)

Akan tetapi, fosil Archaeopteryx ke tujuh, yang ditemukan pada tahun 1992,

menyangkal pendapat ini. Alasannya adalah dalam penemuan fosil terbaru ini,

tulang dada yang telah lama dianggap evolusionis tidak ada akhirnya ditemukan

masih ada. Fosil ini digambarkan dalam jurnal Nature sebagai berikut:

Spesimen ke tujuh Archaeopteryx yang baru-baru ini ditemukan masih

memiliki sebagian sternum berbentuk persegi panjang, yang telah lama

diperkirakan ada tetapi tak pernah terdokumentasikan. Ini menegaskan pada

keberadaan otot terbangnya, tetapi kemampuannya untuk terbang lama patut

dipertanyakan.124

Penemuan ini menggugurkan pernyataan bahwa Archaeopteryx adalah

makhluk setengah burung yang tidak bisa terbang dengan baik.


Ditambah lagi, struktur bulu burung ini menjadi potongan bukti terpenting

yang memperkuat bahwa Archaeopteryx adalah burung yang benar-benar bisa

terbang. Struktur bulu yang asimetris pada Archaeopteryx tidak bisa dibedakan

dari burung modern, dan menunjukkan bahwa Archaeopteryx bisa terbang

secara sempurna. Sebagai seorang ahli paleontologi terkenal, Carl O. Dunbar

menyatakan, Karena bulunya, [Archaeopteryx] secara pasti mestinya

dikelompokkan sebagai burung. 125 Ahli paleontologi Robert Carroll menjelaskan

permasalahan ini lebih jauh:

Bentuk geometri dari bulu-bulu terbang Archaeopteryx adalah serupa

dengan burung modern yang bisa terbang, sementara burung yang tidak bisa

terbang memiliki bulu-bulu yang simetris. Cara bulu-bulu ini tersusun pada

sayap juga termasuk dalam kisaran burung-burung modern Menurut Van Tyne

dan Berger, ukuran dan bentuk relatif dari sayap Archaeopteryx mirip dengan

yang dimiliki burung yang bergerak di antara celah-celah pepohonan, seperti

burung gallinaceous, merpati, woodcocks, burung pelatuk, dan sebagian besar

burung passerine Bulu untuk terbang ini telah tidak berubah selama

sedikitnya 150 juta tahun126


Kenyataan lain yang terungkap dari struktur bulu Archaeopteryx adalah

bahwa hewan ini berdarah panas. Seperti yang telah dibahas diatas, reptilia dan

dinosaurus adalah hewan berdarah dingin yang suhu tubuhnya naik turun

mengikuti suhu lingkungannya, tidak diatur secara tetap. Satu fungsi sangat

penting dari bulu burung adalah menjaga suhu tubuh agar tetap. Kenyataan

bahwa Archaeopteryx memiliki bulu menunjukkan bahwa Archaeopteryxadalah

benar-benar seekor burung berdarah panas yang perlu mempertahankan suhu

tubuhnya, sangat berbeda dengan dinosaurus.

Gigi dan Cakar Archaeopteryx

Dua hal penting yang diandalkan oleh para ahli biologi evolusi ketika

mereka menyatakan Archaeopteryx sebagai bentuk peralihan, adalah cakar

pada sayap burung itu dan giginya.

Yang keempat, menurut Harun Yahya para evolusionis berputus asa di

hadapan fosil-fosil yang berjumlah tak berhingga yang telah berhasil digali

hingga saat ini. Hal ini disebabkan semua fosil-fosil ini memiliki seluruh ciri-ciri

yang mendukung dan membuktikan penciptaan.


Yang kelima, menurut Harun Yahya Darwinisme tidak lagi merujuk kepada

fosil-fosil sebagai bukti terjadinya evolusi. Hal ini dikarenakan seluruh

penggalian yang dilakukan di seluruh dunia dari pertengahan abad ke-19 hingga

hari ini, tak satu pun dari bentuk-bentuk peralihan yang menurut para

evolusionis seharusnya ada dalam jumlah jutaan ternyata tidak pernah

ditemukan. Telah disadari bahwa bentuk-bentuk mata rantai ini tidak lain

hanyalah sebuah kisah khayalan.

Yang keenam, menurut Harun Yahya Darwinisme tidak lagi mampu

mengatakan bahwa protein dapat terbentuk melalui evolusi. Sebab, peluang

terbentuknya satu protein saja dengan urutan yang benar secara acak adalah

1 : 10950, sebuah angka yang menunjukkan kemustahilan secara matematis.

POSTED BY IQBAL ALI WAFA ON 04.49 | NO COMMENTS

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Dalam penciptaan manusia, seringkali para ilmuwan menghadapi beberapa masalah. Permasalahan
yang pertama bagaimana asal usul manusia. Dari mana manusia diciptakan, dan banyak
permasalahan yang akan dihadapi para ilmuwan. Ilmuwan terdahulu akan berbeda pendapat dengan
ilmuwan yang sekarang. Dengan berjalanya waktu dan berkembangnya pemikiran, maka hasil dari
pendapat-pendapat yang terdahulu dan sekarang akan sangat berbeda. Bahkan pendapat yang
terdahulu akan berlawanan dengan pendapat para ilmuwan yang sekarang.
Para ilmuwan. Terutama yang menganut materialisme mengira bahwa teori ini adalah fakta yang
sudah terbukti secara ilmiyah. Dengan sangat mendukungnya dan juga dengan sengitnya mereka
menolak gagasan uyang bertentangan denganya.
Kelompok kedua terdiri atas orang-orang yang tidak punya cukup keterangan tentang berbagai
pernyataan teori evolusi. Mereka tak begitu tertarik kepadanya, karena tidak menyadari kerusakan
yang telah dibawa Darwinisme kepada kemanusiaan dalam satu setengah abad terakhir ini. Bagi
mereka tidak menjadi masalah bahwa teori ini dicekokkan kepada masyarakat serta dipertahankan
mati-matian, sekalipun secara ilmiah teori ini sudah tidak absah, sebab mereka telah menutup mata
terhadap apa yang sedang berlangsung.
Seandaimnya para ilmuwan atau orang orang yang menganggap teori tersebut telah kehilangan
semua nilai kebenaran ilmiahnya, mereka tidak bisa bersungguh menghadapi orang yang masih
memandangnya penting, karena mereka sendiri tidak menganggapnya penting. Mereka pikir tidak
perlu menerangkan ketidak-absahan teori tersebut, menerbitkan buku, atau menggelar ceramah-
ceramah tentang perihal ini, sebab di mata mereka teori itu sudah jadi barang kuno atau usang.
Kelompok ketiga adalah para ilmuwan dan mereka, yang di bawah pengaruh saran dan propaganda
materialis, memandang teori ini sebagai fakta ilmiah dan mencari "jalan tengah" antara teori evolusi
dan iman kepada Allah. Mereka menerima segenap uraian Darwinisme tentang asal-muasal
kehidupan, namun mencoba membangun jembatan yang menghubungkan teori evolusi dengan
kepercayaan agama, yaitu dengan berpendapat bahwa peristiwa dalam uraian tersebut berlangsung
dalam kendali Allah.
Sesungguhnya, semua pandangan itu keliru, sebab teori evolusi tidak dapat disajikan secara nalar
sebagai sebuah fakta ilmiah, diabaikan seakan sepele, maupun disesuaikan dengan agama. entah
dimana para ilmuwan akan menentukan kebenaran yang sah.
Namun sebagai umat islam, akan menemui bebrapa titik terang. Karena agama samawi yakni agama
islam telah membenarkan bahwa allah menciptakan semua yang ada di bumi ini. Namun tetap saja
umat islam membela teori yang salah dan telah terevisi dan terbkti ketidak validan.
Ada beberapa pokok masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yang diambil dari permasalahan
diatas dan akan dirumuskan dalam bab berikutnya.

B. Rumusan masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini akan dikelompokkan dengan bab.
a. Bab i membahas mengenai pendahuluan mengenai permasalahan yang ada
b. Bab ii membahas bagaimana asal usul manusia menurut teori darwin dan menurut harun yahya
c. Bab iii membahas mengenai asal usul manusia dikaji melalui revew dari al-qur an
d. Bab iv membahas pendapat penulis mengenai asal usul manusia
e. Bab v penutup

BAB II
TEORI EVOLUSI
A. TEORI EVOLUSI MENURUT DARWIN
Menempati suatu sistem yang rumit. Atsmosfir dan permukaan bumi memngkinkan terjadinya
kehidupan. Air yang menutupi sebagian permukaan bumi merupakan satu unsur utama kehidupan.
Kisaran suhu, ciri-ciri orbit dan putaran orbit semua menunjukkan planet ini didesain untuk
kehidupan. Planet bumi memiliki kehidupan yang sangat komplek dan beraneka raam.
Jutaan spesies dan tumbuhan yang berbeda hidup di bumi dengan sangat harmonis. Keharmonisan
ini sangat sempurna. Sehinhgga kehidupan terus berlanjut tanpa terusik kecuali oleh campur tangan
sengaja manusia. Tapi bagaimanakah sistem dan kehidupan ini berawal. Dengan mengamati
seksama makhluk hidup di bumi akan nampak desain atau gambaran yang nyata. Setiap makhluk
hidup dilenggkapi dengan sistem yang sangat kompleks yang memungkinkanya memainkanya peran
yang seluruhan sistem sebaik mungkin karena kehidupan ini terancam terdesain dan tertata maka
sudah pasti semua makhluk memiliki pencipta dan pencipta ini telah memperkenalkan diri pada
manusia sejak kehidupan ini bermula. Dialah Allah yang mencipakan langit dan bumi dari ketiadaan
dan yang menciptakan segala sesuatu didalamnya.
Teori Darwinisme adalah teori yg mengatakan keanekaragaman makhluk hidup terjadi oleh adanya
seleksi alam yang sering disebut dengan teori evolusi . Sedangkan evolusi sendiri adalah
pekembangan dan pertumbuhan yang berangsur, angsur dan perlahan yang dikemukakanpada abad
19 menolak fakta penciptaan ini. Teori ini menyatakan bahwa spesies dibumi ini bukan diciptakan
oleh allah. Tapi muncul akibat ada karena proses yang dikendalikan oleh periastiwa betulan.Charles
Darwin adalah pencetus teori ini Dalam bukunya The Origin Of Species 1859. Buku tersebut laris
keras karena ideologis buku tersebut. Buku tersebut mendukukung gagasan materialisme yang
menolak fakta adanya tuhan. Pendapat lain mengungkapkan bahwa Evolusi adalah sebagian dari
paham kebendaan (materialisme), dan, menurut materialisme, alam semesta tidak berawal atau
berakhir, sehingga tidak memerlukan Sang PenciptaBumi
Dalam buku as opposed to introductory biology yang ditulis oleh Douglas J. Futuyma, ia
berpendapat :

A few words need to be said about the "theory of evolution," which most people take to mean
the proposition that organisms have evolved from common ancestors. In everyday speech, "theory"
often means a hypothesis or even a mere speculation. But in science, "theory" means "a statement of
what are held to be the general laws, principles, or causes of something known or observed." as the
Oxford English Dictionary defines it. The theory of evolution is a body of interconnected statements
about natural selection and the other processes that are thought to cause evolution, just as the
atomic theory of chemistry and the Newtonian theory of mechanics are bodies of statements that
describe causes of chemical and physical phenomena. In contrast, the statement that organisms have
descended with modifications from common ancestors--the historical reality of evolution--is not a
theory. It is a fact, as fully as the fact of the earth's revolution about the sun. Like the heliocentric
solar system, evolution began as a hypothesis, and achieved "facthood" as the evidence in its favor
became so strong that no knowledgeable and unbiased person could deny its reality. No biologist
today would think of submitting a paper entitled "New evidence for evolution;" it simply has not been
an issue for a century.

Jika diterjemahkan kedalam bahasa indonesia, Beberapa kata mengenai "teori evolusi", yang
kebanyakan orang berangapan bahwa organisme berevolusi dari nenek moyang yang sama. Dalam
percakapan sehari-hari, " teori " sering diartikan sebagai hipotesis atau spekulasi belaka . Tapi dalam
ilmu pengetahuan," teori " berarti " sebuah pernyataan dari apa yang dianggap hukum umum,
prinsip-prinsip , atau penyebab sesuatu yang diketahui atau diamati . "
Dari kamus Oxford English Dictionary mendefinisikan itu. Teori evolusi adalah tubuh pernyataan
yang saling berhubungan tentang seleksi alam dan proses-proses lain yang diduga menyebabkan
evolusi , seperti teori atom kimia dan teori mekanika Newton adalah tubuh dari pernyataan yang
menjelaskan penyebab fenomena kimia dan fisik. Sebaliknya, pernyataan bahwa organisme telah
diturunkan dengan modifikasi dari nenek moyang yang sama - realitas sejarah evolusi - adalah bukan
teori. Ini adalah sebuah fakta, semaksimal fakta revolusi bumi terhadap matahari. Seperti tata surya
heliosentris, evolusi dimulai sebagai hipotesis dan mencapai facthood" sebagai bukti yang
mendukung begitu kuat sehingga tidak ada orang yang berpengetahuan dan tidak bisa menyangkal
dengan realitas. Tidak ada ahli biologi saat ini akan berpikir mengirimkan sebuah makalah berjudul
"Bukti baru evolusi " itu hanya belum menjadi masalah selama satu abad
Pendiri materialisme Dialektika Karl Mark mempersembahkan bukunya untuk darwin. Teori darwin
menyatakan bahwa semua teori berasal dari nenek moyang yang sama. melalui perubahan komulatif
sedikit demi sedikit dalam waktu laama. Darwin belum mampu membenarkan klaimnya bahkan ia
menyadari bahawa banyak fakta penting yang dapat menggugurkanya.
Menurtut teori spontan generation yang berkembang pada saat itu, sesuatu makhlik hidup dapat
muncul dari benda tak hidup. Pada saat itu katak akan muncul pada sendirinya dari lumpur dan
serangga muncul dari sisa makanan. Dan beberapa percobaan dilakukan untuk membuktikan untuk
membuktikan teori ini. Belatung yang muncul dari dagng pun dianggap sebagai makhluk hidup
berasal dari benda mati.
Namun berjalanya waktu, belatung tidak bsa muncul dengan sendirinya, melainkan berasal dari larva
microskopik yang dibawa oleh lalat yang diletakkan pada daging.
Lima tahun setelah penerbitan buku the one species, muncul kesimpulan yang sangat penting.
Mampukah materi melakukan pembentukan microba sendiri.namun jawabanya tidak. sampai saat ini
belum diketahui. Seseorang yang dapat membuktikan bahwa makhluk mikroskopik terbentuk tanpa
induk yang menyerupai mereka.
Sampai pada abad 20, pembuktian teori evolusi berakhir gagal. Namun pertanyaan mengenai asal
usul kehidupan belum terpecahkan. Kesulitan yang dialami untuk membuktikan teori evolusi adalah
kecilnya sistem aingan yang pada saat itu belum terlihat jelas karena masih menggunakan mikroskop
sederhana dan begitu kompleksnya sistem tersebut yang dihailkan dari kebetulan belaka.
B. Asal usul menurut harun yahya
Ketika mengamati makhluk hidup apapun di alam, akan didapati betapa agungnya penguasaan sang
pencipta. Masing masing makhluk hidup dan spesies yang hidup di dalam bumi adalah karya seni.
Layaknya sebuah seni, maka seni tersebut akan mengenalkan pembuat seni tersebut, yakni Allah
tuhan langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di keduanya.
Jika kita mengambil conto sederhana, sebuah molekul protein telah terbentuk pada kondisi atmosfir
primitif, harus diingat bahwa hukum-hukum probabilitas, biologi dan kimia telah menunjukkan bahwa
hal itu tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Namun jika kita terpaksa menerima bahwa hal
tersebut memang terjadi, maka tidak ada pilihan lain kecuali mengakui bahwa keberadaannya karena
kehendak Sang Pencipta.
Logika serupa berlaku juga pada seluruh hipotesis yang diusulkan oleh evolusionis. Misalnya, tidak
ada bukti paleontologis maupun secara pembenaran fisika, kimia, biologi atau logika yang
membuktikan bahwa ikan beralih dari air ke darat dan menjadi hewan darat. Akan tetapi, jika
seseorang membuat pernyataan bahwa ikan merangkak ke darat dan berubah menjadi reptil, maka
dia pun harus menerima keberadaan Pencipta yang mampu membuat apa pun yang dikehendaki-Nya
dengan hanya mengatakan "jadilah". Penjelasan lain untuk keajaiban semacam itu berarti
penyangkalan diri dan pelanggaran atas prinsip-prinsip akal sehat.
Kenyataannya telah jelas dan terbukti. Seluruh kehidupan merupakan karya agung yang dirancang
sempurna. Ini selanjutnya memberikan bukti lengkap bagi keberadaan Pencipta, Pemilik kekuatan,
pengetahuan, dan kecerdasan yang tak terhingga.
Berbagai contoh penciptaan yang sangat rumit, jika secara ilmiyah sult dibuktikan maka ada pencipta
dibalik semua kejadian asal usul penciptaan makhluk hidup.
Berbagai contoh yang sangat rumit dan sulit dibuktikan secara ilmiah sangat banyak diantara kita.
Namun dalam perkembangan ilmu, satu persatu permasalahan ilmiyah yang dikaitkan dengan al-
quran mulai berkembang. Secra tidak langsung, peristiwa ilmiah akan menguatkan iman para
muslimin dengan al quran.
Sebagai contoh , Lebah menghasilkan madu lebih banyak daripada yang dibutuhkannya dan
menyimpannya di sarang. Semua orang sangat mengenal struktur heksagonal sarang lebah.
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa sarang lebah berbentuk heksagonal, bukan oktagonal atau
pentagonal?
Para ahli matematika yang mencari jawaban pertanyaan itu mencapai kesimpulan menarik:
"Heksagon adalah bentuk geometri paling tepat untuk penggunaan maksimum suatu ruang."
Sel berbentuk heksagonal membutuhkan jumlah lilin minimum, tetapi mampu menyimpan madu
dalam jumlah maksimum. Jadi, lebah menggunakan struktur sarang yang paling tepat.
Metode yang digunakan untuk membangunnya pun sangat menakjubkan: lebah-lebah memulainya
dari dua atau tiga tempat berbeda dan menjalin sarang-nya secara serentak dengan dua atau tiga
deretan. Meskipun memulai dari tempat yang berbeda-beda, lebah yang jumlahnya banyak ini
membuat heksagon-heksagon identik, kemudian menjalinnya jadi satu dan bertemu di tengah-
tengah. Titik-titik sambungnya dipasang dengan begitu terampil sehingga tidak ada tanda-tanda telah
digabungkan.
Melihat kinerja luar biasa ini, kita harus benar-benar mengakui kehendak agung yang mengatur
makhluk-makhluk ini. Tetapi evolusionis menjelaskan prestasi ini dengan konsep "insting" dan
mencoba mengajukannya sebagai sifat sederhana pada lebah. Namun, jika ada insting yang ber-
peran mengendalikan semua lebah dan kalaupun semua lebah bekerja dengan harmonis walau tanpa
saling bertukar informasi, berarti ada suatu Kebijakan Agung yang meng-atur seluruh makhluk kecil
ini.
Tegasnya, Allah, pencipta makhluk-makhluk kecil ini, "mengilhami" mereka dengan apa yang harus
mereka kerjakan. Fakta ini dinyatakan dalam Al Quran 14 abad yang lalu:
"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon
kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-
buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar
minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang
menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda
(kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan." (QS. An-Nahl, 16:68-69)

BAB III
ASAL USUL MANUSIA DALAM PRESPEKTIF AL-QURAN
Para ulama telah memberikan pengingkaran atas teori Darwin ini, karena menyelisihi nash-nash Al-
Quran, As-Sunnah, dan ijma para salaf. Oleh karenanya, Syaikh bin Baaz dan ulama sejawatnya
yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta memberikan jawaban
terhadap pertanyaan seputar teori Darwin dengan menyatakan dengan tega.
Pendapat ini tak benar!! Dalil yang membuktikan hal itu (yakni, kebatilan teori Darwin), Allah -Taala-
telah menjelaskan dalam Al-Quran tentang periode penciptaan Adam seraya berfirman,












Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah
menciptakan Adam dari tanah. (QS. Ali Imraan: 59)
Kemudian tanah ini dibasahi sehingga menjadi tanah liat yang melengket pada tangan. Allah -Taala-
berfirman,






Dan Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. (QS.
Al-Muminun: 12)
Allah -Taala- berfirman,





Sesungguhnya kami telah menciptakan mereka dari tanah liat. (QS. Ash-Shaaffat: 11)
Kemudian menjadi lumpur hitam yang diberi bentuk. Allah -Taala- berfirman,









Dan sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal)
dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (QS. Al-Hijr: 26)
Kemudian setelah menjadi kering, maka ia menjadi tanah kering seperti tembikar. Allah -Taala-
berfirman,






Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar. (QS. Ar-Rahman: 14)
Allah membentuknya sesuai bentuk yang dikehendaki oleh Allah, dan meniupkan ruh padanya dari
ruh-ruh (ciptaan)-Nya. Allah -Taala- berfirman,








.
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku akan
menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi
bentuk. Lalu apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh
(ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (QS.Al-Hijr : 28-29)
Inilah periode-periode yang dilalui penciptaan Adam menurut Al-Quran. Adapun periode-periode yang
dilalui oleh penciptaan anak-cucu Adam, maka Allah -Taala- berfirman,




,
,




.
Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal
daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus
dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah,
Pencipta yang paling baik. (QS. Al-Muminun: 12-14)
Adapun istri Adam (yakni, Hawwa), maka Allah -Taala- pun menjelaskan bahwa Dia menciptakannya
dari Adam seraya berfirman,











Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang
diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang
biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan
(mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan
silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An-Nisaa:1)
Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa allah menciptakan manusia dengan beberapa tahapan. Dan
keberadaan manusia didalam bumi juga terdapat beberapa tahapan. Penciptaan jagat ini pun juga
bertahap. Tidak dapat ditempati langsung oleh manusia.
Menurut firman Allah SWT dalam beberapa ayatnya yang menjelaskan bahwa penciptaan langit dan
bumu beserta isinya adalah 6 masa.

Dan sungguh, Kami telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antar keduanya dalam
enam masa, kan Kami tidak merasa letih sedikitpun. (QS. Qaf ayat 39)

Keenam masa dalam Al- Quran yang di sebutkan yakni dua masa pertama merupakan masa untuk
menciptakan bumi sebagai hamparan dan fondasi, l alu dua masa berikutnya untuk menciptakan
langit dan bintang- bintang, an masa terakhir untuk menciptakan beraneka ragam makhluk hidup
yang menempati bumi. Taukah bahwa Adam dan Hawa adalah manusia yang pertama kali Allah
ciptakan sebagai penghuni bumi.

Dan ingatlah kepada Tuhanmu berfirman kepada malikat:Sesungguhnya Aku akan menciptakan
seorang manusia dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang di beri bentuk. Maka
apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah menuipkan kedalamnya ruh (ciptaan)- ku,
maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.
(QS. Al hijr (15) 28-29)

Tahapan kejadian manusia di bagi menjadi tiga, yakni proses kejadian manusia pertama yaitu Adam,
proses yang ke dua yaitu Hawa, yang ketiga yaitu keturunan Adam dan Hawa.
Dalam Al- Quran proses kejadian manusia secara biologis dijelaskan secaara terperinci melalui
firmannya:

Dan sesungguhnya Kami telah manciptakan manusia dari sari pati tanah. Kamudian Kami jadiakn
saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami
jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal dagin
itu Kami jadikan tulang balulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus denagn daging. Kemudian
Kami jadikan ia makhluk yang berbentuk lain. Maka Maha Suci Alla, Pencipta Yang Paling Baik.
(QS. Al- Mukminuun (23): 12 - 14)
Dari ayat-ayat tersebut telah dijelaskan dengan terperinci. Dari proses penciptaan jagad sampai
penciptaan manusia. Dan hakikat manusia. Wallahu`alam.

BAB IV
PENDAPAT PENULIS
Penulis berpendapat bahwa asal usul manusia yang dapat diterima oleh akal adalah menggunakan
keyakinan manusia pada al-quran. Karena dalam kehidupan dibutuhkan keyakinan untu mengimbangi
ilmu pengetahuan.
Jika manusia lebih menggunakan teori evolusi. Dimana teori evolusi lebih mata materialis, yang
mementingkan suatu penciptaan berasal dari materi dan tidak meyakini adanya tuhan yang membuat
makhluk hidup. maka kehidupan seperti ini tidak imbang dan akan muncul beberapa enyanggahan.
Eleh sebab itu dalam menjalani kehidupan dibutuhkan suatu keyakinan yang membawahi ilmu
pengetahuan. Ilmu pengetahuan disini adalah alat untuk dapat meyakini adanya Allah.
Penciptaan manusia dan awal kehidupan telah dijelaskan di bab sebelumnya.













Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang
diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang
biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan
(mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan
silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An-Nisaa:1)
Didalam surat an-nisa ayat 1 telah jelas bahwa manusia diwajibkan untuk bertaqwa dan meyakini
adanya penciptaan dari Allah SWT. Dan dari penciptaan makhluk tersebut allah menciptakan makhluk
lain yang berbeda jenis. Tujuanya adalah berkembang biak. Nah sudah jelas., dari perkembangan
melalui pasangan pasangan maka kehidupan manusia dan asal usul manusia dapat diketahui. Bahwa
sangat mungkin suatu makhluk sama seperti makhluk yang sebelumynya.

BAB V
SIMPULAN
Sebuah simpulan dapat diambil, teori evolusi telah digugurkan banyaknya kekurangan teori tersebut,
banyak keraguan dan banyak teori yang menyangkal teori darwinisme. Penciptaan manusia sudah
dijelaskan dengan jelas dalam al-quran. Sebagaimana yang terdapat pada bab iv. Selayaknya kaum
muslim lebih menambah imanya kepada Allah SWT.

Daftar puetaka
Koentjoningrat.Sejarah Teori Antropologi. 1981. Salemba :Universitas Indonesia
Kaplan, David. Teori Budaya. 2002. :Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Coleman, Simon. Watson, Helen. Pengantar Antropologi. 2005. Bandung :Nuansa