Anda di halaman 1dari 2

Analisa tentang legitimasi gojek sebagai angkutan umum menurut UU Lalu Lintas dan Angkutan

Jalan

Dalam Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menyatakan bahwa barangsiapa
melakukan usaha angkutan orang dan/atau barang tanpa ijin dapat dipidana kurungan paling
lama tiga bulan atau denda paling banyak tiga juta rupiah. Hal ini jelas mengarah pada
keberadaan ojek meskipun tidak disebutkan secara eksplisit dalam Undang-Undang tersebut
sebab Undang-Undang tersebut tak menyebutkan kendaraan roda dua (sepedamotor) sebagai
angkutan penumpang maupun barang. Melihat arah dari UULLAJ tentang ojek sudah tegas
melarang karena tidak berizin dan kecil kemungkinan untuk diberi izin.1 Hal ini dapat kita lihat
dalam pasal 47 ayat 1 UULLAJ dimana membagi kendaraan menjadi kendaraan bermotor dan
kendaraan tidak bermotor. Pada ayat 2 nya menjelaskan bahwa yang dimaksud kendaraan
bermotor dibagi menjadi sepeda motor, mobil penumpang, mobil bus, mobil barang dan
kendaraan khusus dimana ada yang perseorangan dan juga kendaraan bermotor umum.
Berdasarkan Pasal 1 poin ke-10 UU 22 Th. 2009, Kendaraan bermotor umum adalah setiap
kendaraan yang digunakan untuk angkutan barang dan/atau orang dengan pungutan bayaran.2
Dengan membandingkan dua hal tersebut seharusnya dapat disimpulkan bahwa ojek
merupakan kendaraan bermotor umum. Namun yang dipermasalahkan adalah pada
kendaraannya itu sendiri yaitu sepeda motor. Sepeda motor dianggap tidak termasuk dalam
angkutan umum yang terdapat dalam UU No. 22 Tahun 2009. Dalam UU tersebut memang tidak
menyebutkan dengan jelas bahwa sepeda motor termasuk kendaraan bermotor umum, tetapi
dalam UU tersebut juga tidak terdapat larangan mengenai penggunaan sepeda motor sebagai
kendaraan bermotor umum. Seperti contoh pada Pasal 137 ayat 2 berbunyi Angkutan orang
yang menggunakan Kendaraan Bermotor berupa Sepeda Motor, Mobil Penumpang, atau bus.
Dalam Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 2014 tentang Angkutan Jalan juga tidak dijelaskan
mengenai penggunaan sepeda motor sebagai kendaraan umum untuk mengangkut orang. Tidak
adanya pengaturan yang mengkhusus mengenai ojek sepeda motor didalam UULLAJ maupun PP
Nomor 74 Tahun 2014 tentang Angkutan Jalan mengakibatkan ketidakpastian hukum terkait
dengan kedudukan ojek sepeda motor sebagai angkutan orang dengan kendaraan bermotor
umum, khususnya Gojek yang dianggap melanggar peraturan angkutan orang. Walaupun telah
mengantongi izin, namun usaha yang disediakan Gojek dianggap ilegal karena melibatkan ojek
yang tidak termasuk dalam salah satu sarana angkutan umum berdasarkan Keputusan Menteri
Nomor 35 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan Dengan Kendaraan
Umum. Hal ini dipertegas dengan dikeluarkannya Surat Nomor UM.302/1/21/phb/2015 oleh

1
Sudaryatmo, 1996, Masalah Perlindungan Konsumen di Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, hlm. 68
2
22 http://katadata.co.id/telaah/2015/07/28/teknologi-informasi-yang-mengubah-bisnis-ojek, (diakses
tanggal 7 maret 2017)
Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan. Surat tersebut berisikan pemberitahuan kepada instansi-
instansi baik taksi maupun ojek online dinilai tidak memenuhi ketentuan sebagai angkutan
umum karena tidak sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 dan PP No 74 Tahun
2014. Oleh karenanya, Menteri Perhubungan meminta segenap instansi terkait tersebut untuk
mengambil langkah-langkah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Jonan menegaskan
Kementrian Perhubungan hanya mengeluarkan surat imbauan, bukan larangan.3

Seperti kita ketahui bahwa Gojek adalah perusahaan penyedia aplikasi untuk jasa
transportasi berbasis aplikasi namun perlu dipisahkan antara pelaku usaha jasa teknologi
aplikasi sebagai jasa penghubung dengan penyedia jasa transportasi itu sendiri. Jika memang
perusahaan yang menyediakan aplikasi jasa transportasi online sebagai pelaku usaha
penghubung, maka ia tidak wajib memiliki izin usaha seperti perusahaan angkutan umum. Di
sisi lain, penyedia jasa transportasi selaku content provider, haruslah memenuhi perizinan di
bidang transportasi. Hal ini dikarenakan, berdasarkan UU No. 22 tahun 2009 tentang Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan dan PP No. 74 Tahun 2014 tentang Angkutan Jalan, Perusahaan
angkutan umum wajib memenuhi standar pelayanan minimal yang meliputi keamanan,
keselamatan, kenyamanan, keterjangkauan, kesetaraan dan keteraturan, yang ditetapkan
berdasarkan jenis pelayanan yang diberikan.4 Pemerintah menilai pengoperasian Gojek tidak
memenuhi UULLAJ karena dalam UU tersebut menjelaskan bahwa ketentuan angkutan umum
adalah minimal beroda tiga, berbadan hukum, dan memiliki izin penyelenggaraan angkutan
umum.

Meskipun tidak sesuai dengan aturan, Gojek tetap diberikan ijin untuk beroperasi. Selain
telah memperoleh SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan), Gojek dianggap telah memberikan
dampak yang besar kepada masyarakat. Disini, andil pemerintah daerah untuk menjamin
beberapa hak yang dimiliki masyarakat , salah satuny adalah memberikan pelayanan
transportasi umum yang layak. Pemerintah dianggap paling mengerti apa yang dibutuhkan oleh
daerahnya sehingga pemerintah daerah harus sigap dalam menyediakan transportasi umum,
dengan begitu pemerintah daerah memiliki kewenangannya sendiri untuk membangun
daerahnya.5

3
http://www.suara.com/news/2015/12/18/121801/jonan-kemenhub-tak-bermaksud-melarang-ojek-online
(diakses 8 Maret 2017)
4
http://www.skystarventures.com/mari-melek-hukum-belajar-dari-kasus-gojek-dan-uber/ (diakses 8 Maret
2017)
5
Fidel Miro, 1997, Sistem Transportasi Kota, Trasito, Bandung, hlm.2