Anda di halaman 1dari 154

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY TRAINING TERHADAP

HASIL BELAJAR SISWA KELAS X PADA MATERI POKOK


LISTRIK DINAMIS DI SMA NEGERI 1 GIRSANG
SIPANGANBOLON T.P. 2014/2015

Oleh:

Riris A Situmorang
NIM 4113121055
Program Studi Pendidikan Fisika

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar


Sarjana Pendidikan

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN
2015
i
ii

RIWAYAT HIDUP

Riris A Situmorang dilahirkan di Parapat pada tanggal 28 Maret 1993. Ayahanda


bernama H. Situmorang dan Ibunda bernama R. br Simbolon. Penulis merupakan anak
ketiga dari enam bersaudara. Pada tahun 1998, penulis mulai memasuki dunia
pendidikan di Taman Kanak-kanak Kencana Parapat dan lulus pada tahun 1999. Pada
tahun 1999, penulis melanjutkan sekolah di SD Negeri 091465 Kecamatan Girsang
Sipanganbolon, dan lulus pada tahun 2005. Pada tahun 2005, penulis melanjutkan
sekolah di SMP Negeri 1 Girsang Sipanganbolon dan lulus pada tahun 2008. Pada tahun
2008, penulis melanjutkan sekolah di SMA Negeri 1 Girsang Sipanganbolon dan lulus
pada tahun 2011. Pada tahun 2011 melalui seleksi nasional masuk perguruan tinggi
negeri, penulis diterima di Universitas Negeri Medan Jurusan Fisika Program Studi
Pendidikan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
iii

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY TRAINING


TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS X PADA
MATERI POKOK LISTRIK DINAMIS DI SMA
NEGERI 1 GIRSANG SIPANGANBOLON
T.P. 2014/2015

Riris A Situmorang (NIM 4113121055)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Inquiry


Training terhadap hasil belajar siswa kelas X pada materi pokok Listrik Dinamis di
SMA Negeri 1 Girsang Sipanganbolon T.P. 2014/2015. Jenis penelitian ini merupakan
quasi eksperimen dengan membagi sampel penelitan menjadi dua kelas yaitu kelas
eksperimen dan kelas kontrol. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
siswa kelas X di SMA Negeri 1 Girsang Sipanganbolon yang terdiri dari 8 kelas dan
berjumlah 240 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara cluster random
sampling dengan jumlah sampel sebanyak 30 orang untuk kelas eksperimen dan 30
orang untuk kelas kontrol.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor rata-rata pretes kelas eksperimen dan
kelas kontrol merupakan data yang normal dan homogen. Kemudian dilakukan uji t dua
pihak yang menunjukkan hasil thitung < ttabel dengan nilai thitung = 0,06 dan ttabel = 2,002,
ini berarti kemampuan awal siswa kedua kelas tersebut sama. Pembelajaran dengan
menggunakan model Inquiry Training pada kelas ekperimen dan model pembelajaran
konvensional pada kelas kontrol menghasilkan skor rata-rata postes kedua kelas juga
merupakan data yang normal dan homogen. Kemudian dilakukan uji t satu pihak
dimana hasil perhitungan menunjukkan bahwa thitung > ttabel dengan nilai thitung = 6,3 dan
ttabel = 0,673 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan akibat pengaruh
model pembelajaran Inquiry Training terhadap hasil belajar siswa kelas X pada materi
pokok listrik dinamis di SMA Negeri 1 Girsang Sipanganbolon T.P 2014/2015.

Kata Kunci : Inquiry Training, hasil belajar.


iv

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala
rahmat dan berkat-Nya yang memberikan hikmat kepada penulis hingga penelitian ini
dapat selesai tepat pada waktunya.
Skripsi berjudul Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Training Terhadap
Hasil Belajar Siswa Kelas X Pada Materi Pokok Listrik Dinamis SMA N 1 Girsang
Sipanganbolon T.P 2014/2015. Adapun skripsi ini disusun untuk memperoleh gelar
Sarjana Pendidikan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Medan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan ribuan terima kasih kepada Bapak
Drs. Henok Siagian, M.Si selaku Dosen Pembimbing Skripsi. Beliau telah banyak
memberikan bimbingan dan saran-saran kepada penulis sejak awal hingga akhir
penulisan skipsi ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Bapak Prof. Dr.
Mara Bangun Harahap, MS, Bapak Drs. Pintor Simamora,M.Si dan Ibu Dr. Eva M.
Ginting,M.Si sebagai dosen penguji I, II, dan III yang telah memberikan masukan dan
saran-saran mulai dari rencana penelitian sampai penyusunaan skripsi ini. Ucapan
terima kasih juga disampaikan kepada Ibu Dra. Ida Wahyuni,M.Pd, selaku dosen
Pembimbing Akademik yang telah membimbing dan memotivasi penulis selama
perkuliahan, Bapak Prof. Drs. Motlan Sirait, M.Sc, Ph.D selaku Dekan FMIPA Unimed.
Ucapan terima kasih kepada Bapak dan Ibu dosen serta Staf Pegawai Jurusan
Fisika yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan membantu penulis selama
perkuliahan. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Bapak Saor Boni Tua
Sihotang S.Pd selaku kepala sekolah SMA N 1 Girsang Sipanganbolon, dan Ibu
Pilippina Sariati Tampubolon S.Pd selaku guru bidang studi fisika yang telah banyak
membantu dan membimbing penulis selama penelitian dan para guru serta staf
administrasi yang telah memberikan kesempatan dan bantuan kepada penulis selama
melakukan penelitian.
Teristimewa penulis ucapkan terimakasih kepada kedua Ayahanda dan Ibunda
tercinta yang terus memberikan motivasi dan doa yang tulus serta kasih sayang yang tak
pernah henti hingga saat ini, kemudian kepada kedua abang tercinta yaitu Monang
v

Situmorang dan Remon Situmorang serta adik-adik tersayang yaitu Raden Situmorang,
Juliana Situmorang dan Masta Situmorang yang senantiasa memberikan doa, motivasi,
dukungan, serta bantuan baik materi maupun nonmateri kepada penulis dalam
menyelesaikan studi di UNIMED hingga selesainya skripsi ini. Dan tak lupa penulis
ucapkan terimakasih kepada sahabat-sahabat penulis (Trio Sesuatu) : Desri Sipapaga
dan Yusra Julia Maha yang selalu menemani penulis baik dalam senang dan susah saat
menjalani perkuliahan di UNIMED. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada Ivo
Dolla Simangunsong atas doa dan dukungannya kepada penulis dari awal hingga akhir
pembuatan skripsi ini. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada saudara-saudara
seiman Ikatan Keluarga Besar Kristen Fisika (IKBKF) yang juga banyak membantu
penulis dalam menjalani kuliah di jurusan fisika ini dan yang terakhir penulis ucapkan
terima kasih kepada teman-teman Fisika Dik A 2011 yang selalu kompak melewati hari-
hari yang indah semasa kuliah.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini,
untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca untuk
kesempurnaan skripsi ini. Kiranya skripsi ini bermanfaat bagi pembaca dan dunia
pendidikan.

Medan, Agustus 2015


Penulis,

Riris A Situmorang
NIM. 4113121055
vi

DAFTAR ISI

Halaman
Lembar Pengesahan i
Riwayat Hidup ii
Abstrak iii
Kata Pengantar iv
Daftar Isi vi
Daftar Gambar viii
Daftar Tabel ix
Daftar Lampiran x

BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Identifikasi Masalah 6
1.3 Batasan Masalah 6
1.4 Rumusan Masalah 7
1.5 Tujuan Penelitian 7
1.6 Manfaat Penelitian 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 9


2.1 Kerangka Teoritis 9
2.1.1 Pengertian Belajar 9
2.1.2 Hasil Belajar 9
2.2 Model Pembelajaran Inquiry Training 11
2.2.1 Pengertian Model Pembelajaran 11
2.2.2 Pengertian Model Pembelajaran Inquiry Trainng 12
2.2.3 Proses Pembelajaran Inquiry Training 13
2.2.4 Keterampilan Proses Sains 16
2.3 Teori Yang Mendukung 18
2.3.1 Teori Belajar Konstruktivisme 19
2.4 Pembelajaran Konvensional 19
2.4.1 Model Pembelajaran Langsung 20
2.5 Materi Pembelajaran 21
2.5.1 Listrik Dinamis 21
2.5.2 Arus Listrik 21
2.5.3 Alat Ukur Listrik 21
2.5.4 Hukum Ohm dan Hambatan Listrik 24
2.5.5 Hukum Kirchoff 29
2.5.6 Energi dan Daya Listrik 30
2.6 Penelitian Yang Relevan 32
2.7 Kerangka Konseptual 34
2.8 Hipotesis 35
vii

BAB III METODE PENELITIAN 36


3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 36
3.2 Populasi dan Sampel Penelitian 36
3.3 Rancangan Penelitian 36
3.4 Variabel Penelitian 37
3.5 Alat dan Teknik Pengumpulan Data 37
3.6 Teknik Pengolahan Data 40

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 45


4.1 Hasil Penelitian 45
4.2 Uji Analisis Data 47
4.3 Uji Hipotesis 48
4.4 Hasil Pembelajaran Inquiry Training 50
4.5 Pembahasan 52

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 55


5.1 Kesimpulan 55
5.2 Saran 55

DAFTAR PUSTAKA 56
viii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Penghantar yang menghubungkan dua benda berbeda potensial 21


Gambar 2.2 Rangkaian listrik sederhana 22
Gambar 2.3 Memasang amperemeter secara seri pada sebuah rangkaian sederhana
22
Gambar 2.4 Pemasangan hambatan shunt harus secara paralel dengan amperemeter
23
Gambar 2.5 Cara merangkai voltmeter secara paralel dengan menghubung
dua kabel dari voltmeter keujung lampu di titik A dan B 24
Gambar 2.6 Arah arus listrik 24
Gambar 2.7 Bentuk resistor 25
Gambar 2.8 Skema Penghantar dalam rangkaian listrik 25
Gambar 2.9 Susunan penghantar resistor (seri) 26
Gambar 2.10 Susunan penghantar resisitor (paralel) 28
Gambar 2.11 Skema diagram Hukum I Kirchoff dan analogi mekaniknya 29
Gambar 3.1 Skema penelitian 40
Gambar 4.1 Diagram batang nilai pretes kelas eksperimen dan kelas kontrol 45
Gambar 4.2 Diagram batang nilai postes kelas eksperimen dan kelas kontrol 46
Gambar 4.3 Hasil belajar keterampilan proses sains siswa saat pretes 51
Gambar 4.4 Hasil belajar keterampilan proses sains siswa pada saat postes 51
ix

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 2.1 Sintaks Model Inquiry Training 13
Tabel 2.2 Komponen dan Indikator KPS 17
Tabel 2.3 Peneiti Yang Relevan 32
Tabel 3.1 Desain Penelitian 36
Tabel 3.2 Komponen Keterampilan Proses Sains 37
Tabel 3.3 Kisi-Kisi Soal Keterampilan Proses Sains 38
Tabel 3.4 Kriteria Penskoran Essay Test 38
Tabel 4.1 Ringkasan Hasil Perhitungan Nilai Rata-Rata, Standar Deviasi
dan Varians 47
Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol 47
Tabel 4.3 Ringkasan Hasil Uji Homogenitas Kedua Kelas 48
Tabel 4.4 Ringkasan Perhitungan Uji t 49
Tabel 4.5 Komponen Keterampilan Proses Sains 50
x

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
Lampiran 1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) I 58
Lampiran 2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) II 70
Lampiran 3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) III 81
Lampiran 4 Lembar Kerja Siswa (LKS) I 91
Lampiran 5 Lembar Kerja Siswa (LKS) II 95
Lampiran 6 Lembar Kerja Siswa (LKS) III 98
Lampiran 7 Angket Siswa 100
Lampiran 8 Soal-Soal dan Penyelesaian 102
Lampiran 9 Instrumen Tes Keterampilan Proses Sains 109
Lampiran 10 Rekapitulasi Hasil Belajar 112
Lampiran 11 Data Pretes dan Postes Kelas Eksperimen 118
Lampiran 12 Data Pretes dan Postes Kelas Kontrol 119
Lampiran 13 Perhitungan Rata-rata, Varians dan Standar Deviasi 120
Lampiran 14 Uji Normalitas 123
Lampiran 15 Uji Homogenitas 126
Lampiran 16 Uji Hipotesis 129
Lampiran 17 Tabel Spesifikasi Tes 133
Lampiran 18 Nilai Kritis Uji Lilliefors 138
Lampiran 19 Tabel Wilayah Luas di Bawah Kurva Normal 0 ke Z 139
Lampiran 20 Nilai-Nilai Distribusi F 140
Lampiran 21 Nilai-Nilai Dalam Distribusi t (Tabel t) 143
Lampiran 22 Dokumentasi 144
1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Pendidikan di abad-21 saat ini sangat dituntut lebih melibatkan siswa aktif
dalam proses pembelajaran. Pendidikan dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang.
Tentu orang yang akan diubah sikapnya harus lebih aktif dalam proses pengubahan
sikap tersebut. Demikian halnya dalam proses pembelajaran, dimana belajar merupakan
proses memberi dan menerima yang kegiatannya dilakukan oleh dua pihak yaitu guru
dan pelajar. Pada hakikatnya, guru berperan sebagai pemberi dan siswa sebagai
penerima. Guru memiliki peran penting dalam proses memberi dan menerima ini. Guru
yang professional akan mampu memberi suasana belajar yang menarik dan
menyenangkan demi membantu siswanya dalam memahami apa yang sedang dipelajari.
Namun, semua hal ini akan berjalan dengan sangat baik jika siswa sangat dilibatkan
dalam proses pembelajaran tersebut dengan kata lain pembelajaran tersebut berorientasi
pada siswa.
Kegiatan proses pembelajaran yang berorientasi pada siswa menuntut guru
mampu membawa siswa menemukan sendiri pengetahuannya. Terutama dalam belajar
yang berhubungan dengan lingkungan alam sekitar siswa. Fisika merupakan mata
pelajaran yang membahas tentang alam dan sekitarnya. Fisika menjadi salah satu mata
pelajaran yang sangat penting untuk dipelajari baik di sekolah tingkat dasar, menengah
hingga tingkat lanjut dan perguruan tinggi. Fisika tidak pernah lepas dari kehidupan
sehari-hari manusia. Belajar fisika artinya belajar tentang alam sekitar. Belajar dengan
lebih melibatkan siswa akan sangat membantu siswa mempelajari tentang fisika.
Fisika menjadi salah satu mata pelajaran yang selalu dikategorikan sulit. Materi
yang harus dipelajari untuk satu pertemuan itu sangat banyak. Selain itu, setiap siswa
memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menerima mata pelajaran ini. Sehingga
hasil belajar yang didapat sering sekali jauh dari kata tuntas. Guru fisika dituntut
mampu menyiapkan, melaksanakan, hingga mengakhiri pembelajaran dengan sangat
baik agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara maksimal. Siswa akan sangat
2

menikmati pembelajaran jika guru mampu membimbing siswa belajar untuk melakukan
penelitian secara mandiri dengan cara yang berdisiplin sambil memecahkan
permasalahan yang sering ia alami dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang dapat
diterapkan ketika seorang guru memutuskan untuk memilih belajar yang beorientasi
pada siswa. Kebanyakan guru hanya berfokus membentuk kelompok belajar fisika saja,
tidak memusatkan pada bagaimana siswa menyelesaikan permasalahan saat belajar
kelompok.
Model pembelajaran Inquiry Training merupakan pembelajaran yang melibatkan
masalah untuk menimbulkan motivasi belajar. Model pembelajaran Inquiry Training
adalah model pembelajaran yang bertujuan untuk membantu siswa mengembangkan
keterampilan berpikir intelektual dan keterampilan lainnya seperti mengajukan
pertanyaan dan keterampilan menemukan jawaban yang berawal dari keingintahuan
mereka dan keterampilan-keterampilan tersebut merupakan komponen dari
keterampilan proses sains.
Proses yang dimiliki model pembelajarn Inquiry Training akan membawa
pikiran siswa untuk melakukan eksperimen dan mengumpulkan data. Dengan demikian
berarti siswa telah terpancing untuk mengeluarkan ide-ide ketika guru mengajukan
suatu masalah. Model pembelajaran Inquiry Training ini terdiri dari skenario masalah
dan urutan belajar yang membantu siswa mengembangkan keterampilan prosesnya.
Kemampuan ini merupakan kunci dari pemecahan masalah yang sesuai dengan dunia
nyata. Pembelajaran yang menyenangkan dengan membantu siswa mencari dan
menemukan pemecahan masalah yang sesuai dengan kehidupan nyata siswa inilah yang
diharapkan mampu menaikkan motivasi siswa dalam belajar dan menaikkan hasil
belajar siswa. Model pembelajaran Inquiry Training ini sangat cocok sekali dengan
pembelajaran tersebut. Dimana model pembelajaran Inquiry Training menyiapkan
langkah-langkah pembelajaran yang terstruktur dengan baik dan sangat mengharuskan
siswa terlibat aktif secara keseluruhan agar tujuan belajar dapat tercapai maksimal.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti terhadap siswa-siswi
kelas X-1 sebanyak 40 orang di SMA Negeri 1 Girsang Sipangan Bolon dengan
menggunakan angket, hanya 2 orang yang memilih fisika sebagai mata pelajaran yang
disukai, selainnya memilih biologi dan kimia sebagai mata pelajaran yang disukai.
3

Seluruh siswa menyatakan bahwa mata pelajaran fisika itu sulit. Selain karena rumus-
rumusnya dan materi yang dipelajari sangat banyak juga karena kurang terlibatnya
mereka dalam proses pembelajaran. Siswa mengharapkan proses pembelajaran yang
mereka jalani disekolah adalah belajar sambil bermain dan diberi permasalahan fisika
yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari karena 32 orang (80% siswa) memilih
option tersebut dalam menjawab angket yang peneliti berikan. Siswa sangat tertarik
ketika belajar dilibatkan dengan kejadian-kejadian yang sering terjadi disekitar mereka.
Hal ini akan lebih memotivasi mereka dalam belajar fisika dalam mencari dan
menemukan sendiri manfaat belajar fisika itu terhadap kehidupan mereka. Selain itu,
peneliti juga melakukan wawancara dengan guru bidang studi fisika berkenaan dengan
hasil observasi yang diperoleh peneliti. Dan dikatakan bahwa hasil belajar siswa pada
setiap rapor akhir bulanan masih tergolong rendah. Seperti yang diketahui bahwa nilai
KKM disekolah pada umumnya bernilai 70 demikian juga di SMAN 1 Girsang
Sipangan Bolon menetapkan 70 sebagai nilai KKM siswa dalam bidang studi fisika.
Namun, rata-rata siswa masih mendapat nilai dibawah 70. Setelah melakukan diskusi
yang lebih mendalam, peneliti dan guru bidang studi fisika mengidentifikasi beberapa
hal yang menjadi faktor alasan siswa mendapatkan hasil belajar yang masih rendah.
Adapun faktor-faktor tersebut antara lain kurang bervariasinya model pembelajaran
yang digunakan dalam proses pembelajaran, guru hanya berfokus pada model
pembelajaran langsung (berorientasi pada guru), kerja kelompok yang dilakukan hanya
sebagai tata acara yang dilaksanakan agar sesuai dengan rancangan pembelajaran tanpa
diketahui apakah ada ilmu yang didapat, tidak semua siswa bersedia secara sukarela
melibatkan diri dalam pembelajaran dan juga terdapat faktor lain yaitu kemampuan
matematika siswa yang rendah sehingga menyulitkan siswa dalam menyelesaikan soal
perhitungan fisika. Sedangkan di dalam fisika, matematika adalah alat bantu bagi
pemecahan persoalan fisika. Selain itu kurang efisiennya penggunaan waktu dalam
proses belajar mengajar. Sehingga hal ini berpengaruh terhadap rendahnya hasil belajar
siswa.
Sesuai dengan observasi yang dilaksanakan, siswa mengharapkan guru mengajar
dengan metode yang lebih bervariasi sehingga siswa dapat belajar mencari dan
menemukan sendiri pengetahuan tentang fisika. Karena pada dasarnya manusia
4

cenderung untuk mencari segala sesuatu yang menarik perhatiannya. Selain itu, siswa
juga mengharapkan suasana kelas yang lebih rileks dan tidak kaku. Ivor K. Davis
(Rusman 2012) mengemukakan Salah satu kecenderungan yang sering dilupakan
adalah melupakan bahwa hakikat pembelajaran adalah belajarnya siswa bukan
mengajarnya guru. Dan Sagala (2009:5) mengemukakan bahwa Guru perlu memiliki
pengetahuan tentang pendekatan dan teknik-teknik mengajar yang baik dan tepat
sehingga kegiatan belajar yang efektif dan efisien dapat berlangsung sesuai tujuan yang
diharapkan. Untuk mengatasi permasalahan di atas perlu diupayakan pemecahannya,
yaitu dengan menggunakan model pembelajaran yang dapat memacu semangat setiap
siswa untuk secara aktif ikut terlibat dalam pengalaman belajarnya. Salah satu model
pembelajaran yang cocok dengan hal tersebut adalah menggunakan model pembelajaran
Inquiry Training.
Penelitian mengenai model pembelajaran Inquiry Training sudah pernah diteliti
oleh peneliti sebelumnya yaitu Waruwu (2014) dengan judul Pengaruh Model
Pembelajaran Inquiry Training Menggunakan Audio Visual Terhadap Hasil belajar
Siswa pada Materi Pokok Listrik Dinamis di Kelas X Semester II SMA N 1 Sei Rampah
T.P. 2013/2014 diperoleh hasil belajar siswa dengan model pembelajaran Inquiry
Training menggunakan audio visual memiliki nilai rata-rata pretes 39,8864 dan postes
65,5682 dengan kategori tuntas KKM; pada ranah afektif dengan nilai rata-rata 76,1472
dengan kategori tuntas KKM; dan ranah psikomotorik dengan nilai rata-rata 65,5758
dengan kategori tuntas KKM. Kelemahan dalam penelitian ini adalah kurang
memperhatikan alokasi waktu dalam setiap fase model pembelajaran Inquiry Training
sehingga pembelajaran kurang efisien.
Demikian juga hasil penelitian Waramita (2013) dengan judul Pengaruh Model
Pembelajaran Inquiry Training dengan Menggunakan Alat Sederhana Terhadap Hasil
Belajar Siswa pada Materi Pokok Cahaya Kelas VIII Semester II SMP Negeri 3 Air
Putih Kab. Batu Bara T.P. 2012/2013 diperoleh aktivitas belajar siswa dengan model
pembelajaran Inquiry Training menggunakan alat sederhana mengalami peningkatan
dengan rata-rata nilai keseluruhan 83,68 dan hasil belajar siswa dengan model
pembelajaran Inquiry Training menggunakan alat sederhana dengan rata-rata nilai
keseluruhan 66,11 dengan kategori tuntas KKM. Kelemahan dalam penelitian ini
5

kurang memberikan motivasi pada siswa sebelum memulai pembelajaran sehingga


kurang kondusifnya proses pembelajaran yang dilaksanakan dan menyita waktu untuk
mengkondusifkan suasana kelas.
Pembelajaran Inquiry Training menuntut siswa untuk melakukan pemecahan
masalah-masalah yang disajikan dengan cara mencari informasi sebanyak-banyaknya,
kemudian menemukan sendiri solusi dari permasalahan yang ada. Model pembelajaran
Inquiry Training menyajikan pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar
berpikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih
banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa
benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar. Peranan guru dalam pembelajaran
dengan model pembelajaran Inquiry Training adalah sebagai pembimbing dan
fasilitator. Tugas guru memilih masalah yang perlu disampaikan kepada siswa untuk
dipecahkan, namun dimungkinkan juga masalah yang akan dipecahkan dapat dipilih
oleh siswa. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis akan mengadakan penelitian
dengan judul : Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Training Terhadap Hasil
Belajar Siswa Kelas X Pada Materi Pokok Listrik Dinamis di SMA Negeri 1
Girsang Sipanganbolon T.P. 2014/2015.
1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka diperoleh
bahwa :
1. Fisika merupakan mata pelajaran yang sulit dimana materi yang akan diajarkan
sangat banyak.
2. Guru hanya berfokus pada model pembelajaran langsung.
3. Tidak semua siswa secara sukarela mau terlibat aktif dalam proses
pembelajaran.
4. Pelaksanaan kerja kelompok yang kurang maksimal sehingga tidak didapat
tujuan belajar yang diharapkan.
5. Kemampuan matematika siswa yang kurang sehingga menjadikan fisika sulit
6

1.3 Batasan Masalah

Karena luasnya permasalahan dan keterbatasan kemampuan, waktu dan biaya


maka peneliti perlu membuat batasan masalah dalam penelitian ini. Adapun yang
menjadi batasan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Subjek penelitian adalah siswa kelas X semester 1 SMAN 1 Girsang Sipangan
Bolon Tahun Ajaran 2014/2015.
2. Model pembelajaran yang digunakan adalah Model Pembelajaran Inquiry
Training.
3. Hasil belajar yaitu Keterampilan Proses Sains (KPS) siswa pada materi pokok
listrik dinamis di kelas X SMAN 1 Girsang Sipangan Bolon.
4. Dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

1.4 Rumusan Masalah

Untuk memperjelas permasalahan penelitian ini, maka batasan masalah dalam


penelitian ini adalah :
1. Bagaimana hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan model
pembelajaran konvensional pada materi Listrik Dinamis di SMAN 1 Girsang
Sipangan Bolon T.P. 2014/2015 ?
2. Bagaimana hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan model
pembelajaran Inquiry Training pada materi Listrik Dinamis di SMAN 1 Girsang
Sipangan Bolon T.P. 2014/2015 ?
3. Apakah ada pengaruh menggunakan model pembelajaran Inquiry Training
terhadap hasil belajar siswa pada materi Listrik Dinamis di SMAN 1 Girsang
Sipangan Bolon T.P. 2014/2015 ?

1.5 Tujuan Penelitian

Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah sebagai berikut :


7

1. Untuk mengetahui hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan model
pembelajaran konvensional pada materi Listrik Dinamis di SMAN 1 Girsang
Sipangan Bolon T.P. 2014/2015.
2. Untuk mengetahui hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan model
pembelajaran Inquiry Training pada materi Listrik Dinamis di SMAN 1 Girsang
Sipangan Bolon T.P. 2014/2015.
3. Untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Inquiry Training terhadap
hasil belajar siswa pada materi Listrik Dinamis di SMAN 1 Girsang Sipangan
Bolon T.P. 2014/2015.

1.6 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah ;


1. Sebagai informasi mengenai pengaruh model pembelajaran Inquiry Training
pada materi pokok listrik dinamis.
2. Sebagai bahan pertimbangan bagi guru bidang studi untuk mempertimbangakan
penggunaan model pembelajaran Inquiry Training dalam proses belajar
mengajar.
3. Sebagai bahan perbandingan dan referensi bagi penelitian selanjutnya yang akan
mengkaji dan membahas masalah relevan dengan penelitian ini.
4. Bagi peneliti, dapat lebih memperdalam pengetahuan mengenai model
pembelajaran Inquiry Training untuk dapat diterapkan dimasa yang akan datang.
8

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kerangka Teoritis
2.1.1 Pengertian Belajar
Belajar merupakan kegiatan yang pasti dialami setiap orang. Sejak lahir manusia
sudah belajar bagaimana menjalani hidup mereka. Kegiatan belajar dapat berlangsung
melalui proses pengamatan, pendengaran, membaca dan meniru. Seseorang dikatakan
belajar, bila didalam diri seseorang itu terjadi kegiatan yang mengakibatkan suatu
perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku ini berlaku dalam waktu yang relatif
lama, sehingga seseorang dari yang tidak mampu mengerjakan sesuatu menjadi mampu
mengerjakannya. Dalam buku karangan Sagala dituliskan pendapat Gage (1984)
mengenai belajar yaitu suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya
akibat dari pengalaman.
Sudjana (2005), mengatakan belajar adalah suatu perubahan yang ditandai
dengan adanya perubahan pada diri seseorang dan perubahan itu sebagai hasil dari
proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti perubahan
pengetahuan, pemahaman, sikap, tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan,
serta aspekaspek lain . Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah
merupakan suatu proses dan suatu kegiatan untuk merubah tingkah laku maupun
pengetahuan seseorang. Dan hasil belajar tersebut yang didapat bukan suatu penguasaan
hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan, dimana perubahan yang dimaksudkan
merupakan perubahan yang positif. Jadi kata kunci untuk belajar adalah perubahan
tingkah laku.
2.1.2 Hasil Belajar

Hasil belajar sering disebut sebagai prestasi belajar yang diraih siswa setelah
melewati proses pembelajaran. Menurut Sudjana (2005:22) hasil belajar adalah
kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman
belajarnya. Horward Kingsley membagi tiga macam hasil belajar, yakni (a)
Keterampilan dan kebiasaan, (b) Pengetahuan dan pengertian, (c) Sikap dan cita-cita.
Dan membagi lima kategori hasil belajar, yakni (a) informal verbal, (b) Keterampilan
intelektual, (c) Strategi kognitif, (d) Sikap, dan (e) Keterampilan motoris.
9

Berakhirnya suatu proses pembelajaran, seorang siswa akan memperoleh hasil


belajar berupa kemampuan yang belum dimiliki sebelum mengikuti pembelajaran.
Seperti yang dikemukakan oleh Abdurrahman (1999:37) bahwa Hasil belajar adalah
kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar . Anak yang berhasil
dalam belajar merupakan yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau
tujuan-tujuan instruksional. Pada umumnya hasil belajar tersebut meliputi ranah-ranah
kognitif, efektif dan psikomotorik. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Bloom
bahwa ada tiga ranah (domain) hasil belajar, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.
Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir, ranah afektif berhubungan
dengan kemampuan perasaan, sikap dan kepribadian, sedangkan ranah psikomotor
berhubungan dengan persoalan keterampilan motorik yang dikendalikan oleh
kematangan psikologis.
Inti dari pembelajaran adalah interaksi dan proses untuk mengungkapkan ilmu
pengetahuan oleh pendidik dan peserta didik yang menghasilkan suatu hasil belajar
(Sagala, 2009: 23). Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik
tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari
Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah yakni ranah
kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris. Ranah kognitif berkenaan dengan hasil
belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan dan ingatan,
pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yaitu
penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi (Sudjana, 2005:
22).
Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan
kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotoris, yakni (a) gerakan refleks,
(b) keterampilan gerak dasar, (c) kemampuan perseptual, (d) keharmonisan dan
ketepatan, (e) gerakan keterampilan kompleks, dan (f) gerakan ekspresif dan
interpretative.
Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Diantara ketiga
ranah itu ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru di sekolah karena
10

berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi pelajaran (Sudjana, 2009:
23).
2.2 Model Pembelajaran Inquiry Training
2.2.1 Pengertian Model Pembelajaran
Model pembelajaran merupakan rencana pembelajaran yang telah disusun sesuai
dengan kurikulum pendidikan. Joyce dan Weil berpendapat dalam bukunya Models of
Teaching bahwa model pembelajaran merupakan suatu rencana atau pola yang dapat
digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang),
merancang bahan-bahan pembelajaran dan membimbing pembelajaran di kelas atau
yang lain.
Rusman (2012 : 133) menyatakan bahwa sebelum menentukan model
pembelajaran yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran, ada beberapa hal
yang harus dipertimbangkan guru dalam memilihnya, yaitu :
1. Pertimbangan terhadap tujuan yang ingin dicapai. Pertanyaan yang dapat
diajukan adalah :
a) Apakah tujuan pembelajaran yang ingin dicapai berkenaan dengan
kompetensi akademik, keprbadian, sosial dan kompetensi vokasional atau
yang dulu diistilahkan dengan domain kognitif, afektif atau psikomotor ?
b) Bagaimana kompleksivitas tujuan pembelajaran yang ingin dicapai?
c) Apakah untuk mencapai tujuan itu memerlukan keterampilan akademik ?
2. Pertimbangan yang berhubungan dengan bahan atau materi pembelajaran
a) Apakah materi pembelajaran berupa fakta, konsep, hukum atau teori
tertentu?
b) Apakah untuk mempelajari materi pembelajaran itu memerlukan prasyarat
atau tidak ?
c) Apakah tersedia bahan atau sumber-sumber yang relevan untuk mempelajari
materi itu ?
3. Pertimbangan dari sudut peserta didik atau siswa
a) Apakah model pembelajaran sesuai dengan tingkat kematangan peserta
didik?
11

b) Apakah model pembelajaran itu sesuai minat, bakat, dan kondisi peserta
didik?
c) Apakah model tersebut sesuai dengan gaya belajar peserta didik ?
4. Pertimbangan lainnya yang bersifat nonteknis
a) Apakah untuk mencapai tujuan hanya cukup dengan satu model saja ?
b) Apakah model yang kita terapkan dianggap satu-satunya model yang dapat
digunakan ?
c) Apakah model pembelajaran itu memiliki nilai efektivitas atau efisiensi?

2.2.2 Pengertian Model Pembelajaran Inquiry Training


Model pembelajaran ini dikembangkan oleh seorang tokoh yang bernama
Suchman. Suchman meyakini bahwa anak-anak merupakan individu yang penuh rasa
ingin tahu akan segala sesuatu. Adapun dasar teori mendukung model pembelajaran ini
yaitu :
1. Secara alami manusia mempunyai kecenderungan untuk selalu mencari tahu
akan segala sesuatu yang menarik perhatiannya
2. Mereka akan menyadari keingintahuan akan segala sesuatu tersebut dan akan
belajar untuk menganalisis strategi berpikirnya tersebut
3. Strategi baru dapat diajarkan secara langsung dan ditambahkan/digabungkan
dengan strategi lama yang telah dimiliki siswa
4. Penelitian kooperatif (cooperative inquiry) dapat memperkaya kemampuan
berpikir dan membantu siswa belajar tentang suatu ilmu yang senantiasa bersifat
tentatif dan belajar menghargai penjelasan atau solusi altenatif.

Inquiry berarti pernyataan, atau pemeriksaan, penyelidikan. Inquiry sebagai


suatu proses umum yang dilakukan manusia untuk mencari dan memahami informasi
(Trianto, 2007: 13). Dengan kata lain model pembelajaran Inquiry Training adalah
model pembelajaran dari fakta menuju teori atau From Fact To Theoris (Joyce, 2008:
192). Jadi model Inkuiri Training adalah model yang membawa siswa secara langsung
kedalam proses ilmiah dalam waktu yang relatif singkat (Trianto, 2007: 136).
12

Model Inquiry Training bertujuan untuk melibatkan kemampuan siswa dalam


meneliti, menjelaskan fenomena, dan memecahkan masalah secara ilmiah (Hamzah,
2007: 17)
2.2.3 Proses Pembelajaran Inquiry Training

Terdapat lima tahap prosedur mengajarkan inquiry training yang ditunjukkan


pada tabel 2.1.
Tabel 2.1. Tahap Model Pembelajaran Inquiry Training
Tahap Satu: Tahap Dua:
Menghadapkan pada Masalah Pengumpulan Data-Verifikasi

Menjelaskan prosedur-prosedur Memverifikasi hakikat objek dan


penelitian. kondisinya.
Menjelaskan perbedaan-perbedaan Memverifikasi peristiwa dari keadaan
permasalahan.

Tahap Tiga: Tahap Empat:


Pengumpulan Data-Eksperimentasi Mengolah, Memformulasikan suatu
Penjelasan

Memisahkan variabel yang relevan. Memformulasikan aturan dan


Menghipotesiskan (serta menguji) penjelasan
hubungan kausal.
Tahap Lima:
Analisis Proses Penelitian

Menganalisis strategi penelitian dan mengembangkan yang paling efektif.

Tahap pertama mengharuskan guru untuk menyajikan situasi permasalahan dan


menjelaskan prosedur- prosedur penelitian pada siswa ( objek-objek dan prosedur
pertanyaan ya atau tidak). Untuk mendapatkan peristiwa yang unik , guru harus
mengerti sifat dan cirinya. Sifat umum suatu peristiwa unik dan membingungkan dapat
dijadikan sumber masalah dalam penelitian adalah bahwa peristiwa tersebut harus
bertentangan dengan perasaan, gagasan, pengertian, pengalaman, kebanyakan siswa
tentang suatu realitas.
Tahap kedua , verifikasi, merupakan proses dimana siswa mengumpulkan
informasi tentang suatu peristiwa yang mereka lihat atau alami. Eksperimentasi pada
13

tahap ketiga, siswa memperkenalkan elemen elemen baru ke dalam situasi


permasalahan untuk mengetahui mungkinkah terjadi hal lain ketika data penelitian
mereka diujicoba dengan cara yang berbeda. Walaupun verifikasi dan eksperimentasi
digambarkan sebagai tahap yang terpisah dari model ini, pemikiran siswa dan jenis
jenis pertanyaan yang mereka utarakan biasanya bergantian dan bergiliran antara dua
tahap pengumpulan data tersebut.
Ekperimentasi memiliki dua fungsi, eksplorasi ( exploration) dan pengujian
langsung ( direct testing). Eksplorasi mengubah sesuatu untuk melihat apa yang terjadi,
tidak semestinya dibimbing oleh sebuah teori atau hipotesis tapi bagaimana eksplorasi
tersebut dilaksanakan untuk menawarkan gagasan gagasan baru bagi suatu teori.
Pengujian langsung muncul ketika siswa menguji coba teori dan hipotesis. Salah satu
tugas guru adalah berusaha mengendalikan siswa kapanpun mereka berasumsi bahwa
sebuah variabel tidak dapat dibuktikan meskipun kita tahu sebenarnya variabel tersebut
dapat dibuktikan.
Tugas guru berikutnya adalah memperluas penelitian siswa dengan cara
mengembangkan jenis informasi yang mereka peroleh. Selama verifikasi, mereka
mungkin mengajukan pertanyaan pertanyaan tentang objek, sifat/karakteristik,
kondisi, dan kejadian. Pertanyaan tentang objek dimaksudkan untuk sifat atau identitas
suatu objek. Pertanyaan tentang peristiwa berusaha untuk memverifikasi terjadinya atau
sifat suatu tindakan. Pertanyaan tentang kondisi berhubungan dengan situasi objek atau
sistem pada waktu tertentu. Pertanyaan tentang sifat/karakteristik bertujuan untuk
memverifikasi perilaku objek di bawah kondisi kondisi tertentu sebagai cara
memperoleh informasi baru untuk membantu membangun suatu teori. Oleh karena
siswa cenderung tidak memverifikasi seluruh aspek dari suatu masalah, guru bisa tahu
jenis informasi apa yang dibutuhkan dan mulai mengubah pola pertanyaan.
Pada tahap keempat, guru meminta siswa mengolah data dan merumuskan suatu
penjelasan. Pada akhirnya, dalam tahap kelima , siswa diminta menganalisis pola
penelitian mereka. Mereka mungkin menentukan pertanyaan pertanyaan yang sangat
efektif , cara- cara bertanya yang produktif dan tidak, atau jenis informasi yang mereka
butuhkan dan tidak mereka peroleh. Tahap ini penting seandainya kita ingin membuat
14

proses penelitian sebagai suatu kesadaran dan mulai mencoba untuk


mengembangkannya secara sistematis.
Tugas terpenting dari seorang guru berada selama tahap kedua hingga ketiga.
Selama tahap kedua, tugas guru adalah membantu siswa untuk meneliti, bukan
melakukan penelitian untuk mereka. Jika guru ditanyai pertanyaan yang tidak bisa
dijawab dengan kata ya atau tidak, dia harus meminta siswa untuk menyusun kembali
pertanyaan mereka agar mereka bisa melanjutkan upayanya untuk mengumpulkan data
dan menghubungkan dengan situasi permasalahan. Jika perlu, guru bisa menjaga
pergerakan penelitian dengan membuat informasi baru yang tersedia pada kelompok
dan memfokuskan diri pada peristiwa peristiwa permasalahan tertentu atau dengan
mengajukan pertanyaan. Selama tahap terakhir, tugas guru adalah menjaga penelitian
untuk tetap diarahkan pada proses penyelidikan itu sendiri.
Suchman ingin sistem sosial dalam model inquiry training bersifat kooperatif
dan ketat dan dapat dirancang dengan baik dimana guru mengontrol interaksi dan
meresapkan prosedur-prosedur penelitian. Meski demikian, standar penilaian adalah
kerja sama, kebebasan intelektual, dan keseimbangan. Interaksi antara siswa seharusnya
juga didorong. Lingkungan intelektual terbuka untuk semua gagasan yang relevan.
Hasil pembelajaran utama dari model inquiry training adalah proses-proses yang
melibatkan aktivitas observasi, mengumpulkan dan mengolah data, mengidentifikasi
dan mengontrol variabel, membuat dan menguji hipotesis, merumuskan penjelasan, dan
menggambarkan kesimpulan. Format dari model inquiry training menawarkan
pembelajaran yang aktif dan otonom. Siswa juga akan menjadi lebih terampil dalam
ekspresi verbal seperti dalam mendengarkan pendapat orang lain dan mengingat apa
yang telah diutarakan.
2.2.4 Keterampilan Proses Sains (KPS)
Menurut Dimyati & Mudjiono (2006), keterampilan proses adalah sebagai
berikut:
a. Wahana penemuan dan pengembangan fakta, konsep, dan prinsip ilmu
pengetahuan bagi diri siswa.
15

b. Fakta, konsep, dan prinsip ilmu pengetahuan yang ditemukan dan dikembangkan
siswa berperan pula menunjang pengembangan keterampilan proses pada diri
siswa.
c. Interaksi antara pengembangan keterampilan proses dengan fakta, konsep, serta
prinsip ilmu pengetahuan, pada akhirnya akan mengembangkan sikap dan nilai
ilmuan pada diri siswa.
KPS dapat diartikan sebagai kemampuan atau kecakapan untuk melaksanakan
suatu tindakan dalam belajar sains sehingga menghasilkan konsep, teori, prinsip, hukum
maupun fakta atau bukti. KPS menekankan keterlibatan siswa dalam proses
pembelajaran. Mengajarkan keterampilan proses pada siswa berarti memberi
kesempatan kepada mereka untuk melakukan sesuatu bukan hanya membicarakan
sesuatu tentang sains (Widayanto, 2009).
Menurut Harlen dan Elstgeest (1992) menyatakan bahwa KPS adalah
keterampilan fisik dan mental terkait dengan kemampuan-kemampuan yang mendasar
yang dimiliki, dikuasai dan diaplikasikan dalam suatu kegiatan ilmiah, sehingga para
ilmuan berhasil menemukan sesuatu yang baru. Di samping sebagai sebuah pendekatan
dalam pembelajaran sains, keterampilan proses merupakan keterampilan yang harus
dimiliki anak sebagai modal dasar memahami ilmu sains. Dalam hal ini, terbentuknya
pengetahuan dalam sains dilakukan melalui proses yang ilmiah (metode ilmiah).
Metode ilmiah merupakan dasar dari pembentukan pengetahuan dalam sains.
Metode ilmiah dapat diartikan sebagai cara untuk bertanya dan menjawab pertanyaan
ilmiah dengan membuat obsevasi dan melakukan eksperimen. Menurut Harlen dan
Elstgeest (1992) keterampilan proses dapat dibedakan menjadi dua jenis; pertama
ketermpilan proses sains dasar yang meliputi keterampilan-keterampilan mengamati,
menyimpulkan, mengukur/menghitung, mengkomunikasikan, mengklasifikasi dan
memprediksi, kedua KPS terpadu yang meliputi keterampilan merumuskan hipotesa,
menafsirkan data dan bereksperimen. Komponen-komponen keterampilan proses sains
yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1) mengamati (observasi), 2) mengajukan
pertanyaan, 3) merumuskan hipotesis, 4) memprediksi, 5) menemukan pola dan
hubungan, 6) berkomunikasi secara efektif, 7) merancang percobaan 8) melaksanakan
percobaan, dan 9) mengukur dan menghitung. Adapun indikator dari keterampilan
16

proses sains yang merupakan karakteristik khusus dari masing-masing keterampilan


disajikan secara jelas pada Tabel 2.2
Tabel. 2.2 Komponen dan Indikator KPS
No Komponen Indikator keterampilan Proses Sains
Keterampilan
Proses
1 Mengamati 1.1.Menggunakan indera untuk mengumpulkan informasi
1.2.Mengidentifikasi persamaan dan perbedaan dari suatu
objek atau peristiwa
1.3.Mengenali urutan dan mengurutkan sesuai dengan
kriteria
2 Mengajukan 2.1.Mengajukan pertanyaan berdasarkan hipotesis
pertanyaan 2.2.Mengajukan pertanyaan yang dapat dijawab melalui
penyelidikan
3 Merumuskan 3.1.Merumuskan penjelasan hubungan beberapa prinsip
hipotesis atau konsep berdasarkan pengamatan dan pengalaman
terdahulu

4 Memprediksi 4.1.Menggunakan alasan yang logis untuk membuat


prediksi
4.2.Secara eksplisit menggunakan pola atau hubungan
untuk membuat prediksi
5 Menemukan 5.1.Mengumpulkan dan membuat kesimpulan berdasarkan
pola dan informasi yang ada
hubungan 5.2.Menemukan keteraturan melaui informasi yang
didapatkan dari pengukuran dan pengamatan
5.3.Mengidentifikasi hubungan antara satu variabel dengan
variabel lainnya
6 Berkomunikasi 6.1.Membuat laporan hasil percobaan untuk membuat
secara efektif hubungan atau ide
6.2.Mendengarkan ide-ide dari orang lain dan memberikan
tanggapan
6.3.Mengolah data dalam bentuk gambar, grafik maupun
tabel
7 Merancang 7.1.Memutuskan alat dan bahan yang dibutuhkan dalam
percobaan percobaan
7.2.Menentukan prosedur yang harus dilakukan dalam
percobaan
7.3.Berhasil dalam membuat model dengan kriteria tertentu
7.4.Mengidentifikasi variabel pengubah, variabel kontrol
dan variabel yang diukur
8 Melaksanakan 8.1.Melaksanakan percobaan dengan prosedur yang telah
percobaan ditentukan
17

9 Mengukur dan 9.1. Menggunakan alat ukur yang tepat untuk mengukur
menghitung
9.2. Menunjukkan akurasi dalam memeriksa pengukuran
dan perhitungan

2.3 Teori Yang Mendukung

Teori belajar yang mendukung model pembelajaran Inquiry Training ini yaitu
teori belajar konstruktivisme. Dimana konstruktivisme ini mencanangkan belajar yang
aktif dimana peran guru yaitu membawa suasana belajar yang menyenangkan dan
mengikuti perkembangan zaman. Guru diharapkan dapat membangun suasana belajar
yang tidak monoton melainkan harus dinamis atau bergerak sesuai apa yang terjadi.
Sedikit penjelasan tentang teori belajar konstruktivisme

2.3.1 Teori Belajar Konstruktivisme

Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan dapat


diartikan konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang
berbudaya modern. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi)
pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi
sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-
konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap
untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi
makna melalui pengalaman nyata. Teori konstruktivisme membawa siswa dapat berfikir
untuk menyelesaikan masalah, mencari idea dan membuat keputusan. Siswa akan lebih
paham karena mereka terlibat langsung dalam membina pengetahuan baru, mereka akan
lebih paham dan mampu mengaplikasikannya dalam semua situasi.

2.4 Pembelajaran Konvensional

Model pembelajaran yang masih berlaku dan sangat banyak digunakan oleh guru
adalah model pembelajaran konvensional. Defenisi Model pembelajaran konvensional
dalam konteks ini ialah model pembelajaran yang secara umum digunakan di SMA
Negeri 1 Girsang Sipangan Bolon. Di lapangan, Guru biasanya mengajar dengan
18

berpedoman pada buku teks atau LKS, dengan mengutamakan model pembelajaran
langsung. Efek model pembelajaran langsung adalah pencapaian kompetensi berupa
keterampilan sederhana dan kompleks serta pengetahuan deklaratif. Dengan
menggunakan model tersebut siswa cendrung menjadi kurang aktif, siswa tidak
terdorong untuk mencari, tetapi hanya menerima apa yang diberikan.
Peranan siswa untuk turut menentukan apa yang diberikan kepadanya tidak ada,
ataupun kalau ada peranan itu sangat kecil, karena semua guru yang memilih
pengalaman belajar untuknya. Dengan model ini minat siswa tidak terdorong untuk
berkembang. Guru juga kebanyakan berfokus pada beberapa siswa yang aktif tanpa
melibatkan keseluruhan siswa untuk sama-sama aktif dalam pembelajaran yang
dilewati. Berikut sedikit penjelasan mengenai model yang sering digunakan guru dalam
proses pembelajaran.
2.4.1 Model Pembelajaran Langsung
Model pembelajaran langsung adalah model pembelajaran yang paling sering
digunakan guru dalam pembelajaran fisika. Model ini meruapakn model pembelajaran
yang berorientasi pada guru sehingga sudah pasti siswa secara keseluruhan kurang
terlibat aktif dalam pembelajaran. Alasan guru sering menggunakan model ini karena
model ini dapat merangkum keseluruhan materi yang ingin dipelajari dalam sekali
pertemuan. Adapun sintaks model pembelajaran langsung ( Arends, 1997) adalah :
1. Menyampaikan tujuan (termasuk kompetensi), serta mempersiapkan siswa
Pada tahap ini guru menjelaskan tujuan serta kompetensi, informasi latar
belakang pelajaran, pentingnya belajar serta mempersiapkan siswa untuk belajar
2. Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan
Pada tahap ini guru mendemonstrasikan keterampian yang benar atau
menyajikan informasi tahap demi tahap
3. Membimbing pelatihan
Pada tahap ini guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal
4. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
Pada tahap ini guru mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas
dengan baik dan member umpan. Guru biasanya menggunakan metode tanya
jawab atau metode pemberian tugas
19

5. Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan


Pada tahap ini guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan
dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi yang lebih kompleks
dalam kehidupan sehari-hari.
2.5 Materi Pembelajaran
2.5.1 Listrik Dinamis
Listrik dinamis adalah ilmu yang mempelajari tentang muatan-muatan listrik
yang bergerak, yang menyebabkan munculnya arus listrik.
2.5.2 Arus Listrik

Arus listrik didefinisikan sebagai aliran muatan listrik melalui sebuah konduktor.
Arus ini bergerak dari potensial tinggi ke potensial rendah, dari kutub positif ke kutub
negatif, dari anoda ke katoda. Arah arus listrik ini berlawanan arah dengan arus
elektron. Muatan listrik dapat berpindah apabila terjadi beda potensial. Beda potensial
dihasilkan oleh sumber listrik, misalnya baterai atau akumulator. Setiap sumber listrik
selalu mempunyai dua kutub, yaitu kutub positif (+) dan kutub negatif ().

Gambar 2.1. Penghantar yang menghubungkan dua benda berbeda potensial


Arus listrik hanya dapat mengalir melalui suatu rangkaian tertutup, yaitu
rangkaian yang tidak berpangkal dan tidak berujung. Besaran yang menyatakan
kuantitas arus listrik adalah kuat arus listrik I, yang didefenisikan sebagai besar muatan
listrik Q yang mengalir dalam setiap satuan waktu t.
2.5.3 Alat Ukur Listrik
a) Amperemeter
Mengukur kuat arus digunakan suatu alat yang disebut amperemeter.
Amperemeter terdiri dari galvanometer yang dihubungkan paralel dengan resistor yang
mempunyai hambatan rendah. Tujuannya adalah untuk menaikkan batas ukur
ampermeter. Hasil pengukuran dapat terbaca pada skala amperemeter. Amperemeter ini
20

dipasang sedemikian rupa (secara seri) sehingga arus yang hendak diukur kekuatannya
mengalir melalui amperemeter. Perhatikan gambar 2.2 berikut ini.

Gambar 2.2. Rangkaian


listrik sederhana dan skemanya.
Dengan memutus salah satu penghantar dan menghubungkannya dengan amperemeter
dapat diukur kuat arus yang mengalir.

Gambar 2.3
Memasang
amperemeter secara seri pada sebuah rangkaian sederhana.
Perhatikan pada saat membaca skala yang digunakan, karena tergantung pada batas ukur
yang digunakan. Misalnya menggunakan batas ukur 1A, pada skala tertulis angka dari 0
sampai dengan 10. Pada saat jarum amperemeter menunjuk angka 10 berarti kuat arus
yang mengalir hanya 1A. Jika menunjukkan angka 5 berarti kuat arus yang mengalir 0,5
A.
Untuk mengukur kuat arus yang sangat besar (melebihi batas ukurnya). Ini berarti kuat
arus yang diukur lebih besar dari batas ukur alat, maka harus memperbesar batas ukur
dengan menggeser batas ukur jika masih
memungkinkan.

Gambar 2.4. Pemasangan hambatan shunt harus secara paralel amperemeter.


21

Sebuah amperemeter yang mempunyai batas ukur maksimum IA ampere dan hambatan
dalam amperemeter RA Ohm, supaya dapat dipakai untuk mengukur arus yang kuat
arusnya I = n x IA ampere harus dipasang shunt sebesar :

b) Voltmeter
Alat voltmeter atau multimeter/AVO meter digunakan mengukur ggl suatu
sumber tegangan atau beda potensial dua titik, dengan cara menghubungkan kedua
pencolok alat ukur listrik itu ke katoda dan anoda. Pencolok merah (+) ke anoda dan
pencolok hitam (-) ke katoda. Misalkan terdapat suatu rangkaian sederhana terdiri
sumber tegangan searah, lampu pijar dan kabel-kabel penghubung seperti pada gambar
8 berikut ini. Dengan menggunakan voltmeter akan diukur beda potensial di ujung-
ujung lampu. Menggunakan voltmeter berbeda dengan menggunakan ampermeter,
dalam menggunakan voltmeter harus dipasang paralel pada kedua ujung yang akan
dicari beda tegangannya. Dalam mengukur tegangan jepit, voltmeter harus dipasang
paralel dengan sumber tegangan dan alat tersebut tidak mengukur potensial A maupun
potensial B, tetapi voltmeter hanya mengukur beda atau selisih potensial antara titik A
dan titik B. Perhatikan gambar 2.6.

Gambar 2.5. Cara merangkai voltmeter secara paralel dengan menghubungkan dua
kabel dari voltmeter ke ujung-ujung lampu di titik A dan B.
Untuk mengukur beda potensial V = n x Vv (batas ukur maksimumnya), harus dipasang
hambatan depan (Rm). Besar hambatan muka yang dipasang pada voltmeter tersebut
adalah:
22

2.5.4 Hukum Ohm dan Hambatan Listrik


Tokoh fisika dari Jerman bernama George Simon Ohm (1789-1854) berhasil
mendapatkan hubungan antara besarnya beda potensial dengan besarnya arus yang
mengalir. Penemuannya dikenal dengan nama Hukum Ohm. Bunyi Hukum Ohm
sebagai berikut:Kuat arus yang mengalir dalam suatu penghantar sebanding
denganbeda potensial antara ujung-ujung penghantar itu, asalkan suhu penghantar itu
tetap

Gambar 2.6 arah arus listrik


Secara matematisnya hukum ini dapat ditulis sebagai berikut;

Dengan :
V = tegangan (volt)
= R= hambatan (ohm)
I = arus (ampere)

R (hambatan) merupakan suatu faktor perbandingan yang besarnya tetap untuk


suatu penghantar tertentu dan pada suhu tertentu pula. Faktor tetap R ini disebut
hambatan listrik Definisi hambatan suatu penghantar adalah hasil bagi beda potensial
antara ujung-ujung penghantar itu dengan kuat arus dalam penghantar itu. Satuan

hambatan listrik = = ohm Simbolnya dalam huruf yunani (omega). Satuan
ampere

lainnya kilo ohm (K ) = 1000 , mega ohm (M ) = 106. Sebuah penghantar disebut
mempunyai hambatan sebesar satu ohm bila bedapotensial sebesar satu ampere melalui
penghantar itu. Penghambat/resistor adalah komponen yang diproduksi pabrik dan
memiliki nilai hambatan tetap dengan toleransi tertentu.
23

Gambar 2.7 bentuk resistor.

Gambar 2.8 skema penghambat dalam rangkaian listrik


Hambatan atau resistansi suatu penghantar berguna untuk mengatur besarnya
kuat arus listrik yang mengalir melalui suatu rangkaian listrik. Dalam radio dan televisi,
resistansi berguna untuk menjaga kuat arus dan tegangan pada nilai tertentu dengan
tujuan agar komponen-komponen listrik lainnya dapat berfungsi dengan baik. Bila
panjang kawat penghantar dinyatakan dengan huruf , luas penampangnya dinyatakan
dengan huruf A, maka untuk berbagai jenis pengkantar, panjang dan penampang
berbeda terdapat hubungan sebagai berikut:

=

Dalam persamaan ini disebut hambatan jenis kawat penghantar, yang besarnya
bergantung kepada jenis bahan yang digunakan membuat kawat itu. Persamaan dapat
diubah menjadi sebagai berikut :


=

2
Sehingga satuan = =

Konduktivitas logam (bahan ohmik) tidak tergantung pada potensial dan kuat
arus, ada faktor lain yang mempengaruhinya, yaitu suhu, dinyatakn sebagai berikut:

Dengan :
= hambatan pada suhu t0C
0 = hambatan mula-mula
= koefisien suhu hambatan jenis (/0C)
= perubahan suhu (0C)

= 0 (1 + )
1) Rangkaian Hambatan Listrik
24

Suatu rangkaian listrik umumnya menggunakan beberapa hambatan. Hambatan tersebut


kadang-kadang disusun secara seri, paralel atau campuran seri dengan paralel.
Perhatikan gambar berikut :
1. Susunan Seri
Berikut digambarkan 3 buah penghambat (resistor) yang disusun secara seri dan
dihubungkan dengan sebuah sumber tegangan V.

I1 I2 I3
Rs
V 1 IR 1 V 2 IR 2 V 3 IR 3
I
I V V

a b
Gambar 2.9 Susunan penghambat (resistor) seri
(a) Tiga penghambat (resistor) disusun seri, V=V1+V2+V3
(b) Rangkaian pengganti dimana berlaku Rs=R1+R2+R3
Kuat arus listrik yang mengalir melalui tiga penghambat (resistor) adalah sama, I
= I1 = I2 = I3 , tetapi beda potensialnya berbeda, tergantung besar hambatannya. Beda
potensial antara ujung awal dan ujung akhir ketiga resistor adalah V dan beda potensial
antara ujung-ujung penghambat (resistor) itu adalah V1, V2, dan V3. Jadi pada tiga
penghambat (resistor) yang disusun seri seperti Gambar 2.9 berlaku:
V= V1+V2+V3
I=I1=I2=I3
Berdasarkan hukum Ohm, V = R I, maka
V1 = R1 I1; V2 = R2 I2; V3 = R3 I3
V= V1+V2+V3
RI= R1I1 + R2I2 + R3I3
RI=(R1 + R2 +R3) I
R = R1 + R2 +R3
Keterangan:
V = beda potensial susunan seri penghambat / resistor (volt)
V1 = beda potensial pada R1 (volt)
V2 = beda potensial pada R2 (volt)
V2 = beda potensial pada R2 (volt)
R = hambatan total resistor ( )
R1 = hambatan resistor 1 ( )
25

R2 = hambatan resistor 2 ( )
R3 = hambatan resistor 3 ( )
I = kuat arus listrik (A)
Susunan seri merupakan susunan pembagi beda potensial dan dapat digunakan
untuk memperbesar hambatan rangkaian. Apabila ada n buah resistor yang disusun
secara seri, maka hambatan totalnya dapat ditentukan dengan persamaan sebagai
berikut:
Rs=R1+R2+R3+...+Rn
2. Susunan paralel
Pada susunan paralel, beda potensial pada masing-masing penghambat (resistor)
sama besar.

I1 I2 I3 I
I

R1 R2 R3 V Rp
V

a b
Gambar 2.10 Rangkaian penghambat (resistor) parallel
(a) Tiga buah penghambat (resistor) disusun paralel
1 1 1 1
(b) rangkaian pengganti dimana
R p R1 R2 R3
V=V1=V2=V3
Sedangkan arus listrik dari baterai dibagi ke tiga penghambat (resistor) menjadi I1, I2,
dan I3 sehingga:
I=I1+I2+I3
V
Karena I
, maka:
R
V V V V

R R1 R2 R3
V 1 1 1
V
R R1 R2 R3
1 1 1 1

R R1 R2 R3
26

Berdasarkan uraian di atas, maka susunan paralel merupakan susunan pembagi arus dan
dapat digunakan untuk memperkecil hambatan. Apabila n buah penghambat (resistor)
disusun secara paralel, maka hambatan totalnya dapat ditentukan dengan persamaan
sebagai berikut:
1 1 1 1 1
...
R p R1 R2 R3 Rn

2.5.5 Hukum Kirchoff


Rangkaian listrik biasanya terdiri dari banyak hubungan sehingga akan terdapat
banyak cabang maupun titik simpul. Titik simpul adalah titik pertemuan tiga cabang
atau lebih. Hubungan kuat arus listrik yang masuk ke titik simpul dengan jumlah kuat
arus listrik yang keluar dari titik simpul tersebut dikenal dengan Hukum I Kirchoff yang
berbunyi : jumlah kuat arus listrik yang masuk ke suatu titik simpul sama dengan
jumlah kuat arus listrik yang keluar dari titik simpul tersebut.
Hukum I Kirchoff secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut:

Gambar 2.11 Skema diagram Hukum I Kirchoff & analogi mekaniknya


Hukum Tegangan Kirchhoff didasarkan pada Hukum Kekekalan Energi. Ketika
muatan listrik q berpindah dari potensial tinggi ke potensial rendah dengan beda
potensial V, energi muatan itu akan turun sebesar qV. Sekarang tinjau rangkaian listrik.
Baterai dengan tegangan terminal V akan melepas muatan q dengan energi
qV.sedemikian sehingga mampu bergerak pada lintasan tertutup (loop) abcda. Ketika
muatan q melintasi resistansi R1, energi muatan ini akan turun sebesar qV1. Demikian
pula ketika melintasi R2 dan R3, masing-masing energinya turun sebesar qV2 dan qV3.
Total penurunan energi muatan adalah qV1 + qV2 + qV3. Sesuai dengan Hukum
27

Kekekalan Energi, penurunan ini harus sama dengan energi yang dilepaskan oleh
baterai, qV. Dengan demikian berlaku :
qV = qV1 +qV2+qV3
V V1 V2 V3 = 0
Persamaan terakhir dapat ditulis :
V = 0
yang berarti bahwa jumlah tegangan pada sebuah loop (lintasan tertutup) sama dengan
nol, disebut Hukum Kedua Kirchhoff atau Hukum Tegangan Kirchhoff.
2.5.6 Energi dan Daya Listrik
1) Energi Listrik
Ujung-ujung suatu kawat penghantar yang hambatannya R terdapat beda
potensial V, maka di dalamnya mengalir arus sebesar I = V/R . Untuk mengalirkan arus
ini sumber arus mengeluarkan energi. Sebagian dari energi ini berubah menjadi kalor
yang menyebabkan kawat penghantar menjadi panas. Hal ini terjadi karena elektron-
elektron bebas dalam kawat atom-atom kawat yang dilaluinya. Berdasarkan pada hasil
percobaan J.P. Joule, besarnya kalor yang timbul ditentukan oleh faktor-faktor :
a) besarnya hambatan kawat yang dilalui arus
b) besarnya arus yang mengalir
c) waktu atau lamanya arus mengalir

Besarnya energi yang dikeluarkan oleh sumber arus untuk mengalirkan arus listrik
adalah
W = V.I.t
dimana : V dalam Volt
I dalam ampere dan
t dalam detik atau sekon
Karena V = I R maka

W = I2 R t
Karena I = V/R maka
2
V
W t
R
28

2) Daya Listrik

Daya suatu alat listrik adalah usaha yang dilakukan alat itu tiap detik. Usaha
yang dilakukan oleh sumber tegangan sama dengan energi yang dikeluarkan sumber
tegangan tersebut. Jadi daya suatu alat listrik = usaha yang dilakukan/waktu

W
Rumus : P
t

. .
=

= .
Karena V = I.R atau I = V/R maka;

2
= = 2

Dimana;
V = tegangan (V)
R = hambatan ()
2.6 Penelitian yang relevan
Penelitian yang relevan ditunjukkan pada tabel 2.3.
Tabel 2.3 Penelitian yang Relevan
No Peneliti Tahun Judul Hasil Penelitian
1 Ayu 2012 Model Pembelajaran Hasil peneltian menunjukkan
Rahmi Latihan Inkuiri Untuk terdapat peningkatan
Rahayu. Meningkatkan keterlaksanaan pembelajaran
Keterampilan Proses setiap pertemuan dengan kategori
Sains Siswa Pada sangat baik dan adanya
Materi Fluida Statis peningkatan keterampilan proses
sains siswa pada materi fluida
statis melalui penerapan model
pembelajaran latihan inkuiri
dengan rata-rata nilai N-Gain
sebesar 0,58 dengan kategori
29

No Peneliti Tahun Judul Hasil Penelitian


sedang.
2 Toenas 2012 Penerapan Model Terdapat interaksi antara model
Setyo, Inquiry Training pembelajaran Inquiry Training
Joeli Melalui Teknik Peta melauiteknik peta konsep dan
Indahwati Konsep Dan Teknik teknik puzzle dengan keberagaman
Puzzle Ditinjau Dari aktivitas belajardan keberagaman
Tingkat Keberagaman kemampuan memori terhadap
Aktivitas Belajar Dan prestasi belajar
Kemampuan Memori
3 Aulia 2012 Inquiry Training Hasil penilaian laporan penelitian
Azizah, Untuk menunjukkan bahwa, indikator
Parmin Mengembangkan minimal keberhasilan penelitian
Ketrampilan Meneliti telah tercapai karena 4 (50%)
Mahasiswa laporan penelitian telah
mendapatkan nilai 75. Selain itu,
berdasarkan angket sikap
mahasiswa terhadap bentuk
tindakan yang dipilih, bahwa dari
6 pernyataan secara langsung
berkaitan dengan Inquiry Training
lebih dari 85% mahasiswa
bersikap positif yang berarti
membantu mahasiswa menguasai
keterampilan melakukan
penelitian.
4 Saptorini 2013 Pengembangan Model Hasil kegiatan menunjukkan
Pembelajaran Berbasis pengembangan model
Inkuiri Sebagai Upaya pembelajaran kimia berbasis
Peningkatan inkuiri di Kabupaten Demak
30

No Peneliti Tahun Judul Hasil Penelitian


Kemampuan Inkuiri menunjukkan kemajuan positif
Guru Kimia Di menuju kearah penerap-
Kabupaten Demak kembangan model ini secara lebih
luas. Selain itu, penerapan model
pembelajaran kimia berbasis
inkuiri pada pokok bahasan redoks
dan elektrokimia memberikan
peningkatan motivasi dan hasil
belajar siswa.
5 Retno 2014 Penerapan Inquiry pemahaman konsep siswa sebelum
Putri Sari Training Model Untuk dilaksanakan pembelajaran Inquiry
Meningkatkan Training Model dan setelah
Motivasi Belajar Dan dilaksanakan pembelajaran Inquiry
Pemahaman Konsep Training Model mengalami
Fisika Siswa peningkatan yang cukup signifikan
Kelas VIII F SMPN 1 yaitu dari 30 siswa 36,7% yang
Karangploso tuntas atau mencapai KKM.

2.7 Kerangka Konseptual


Belajar merupakan suatu proses aktif dan memiliki tujuan, bukan proses yang
pasif, artinya kondisi belajar berhubungan dengan hasil yang diharapkan. Proses ini
akan lebih berhasil jika dalam pelaksanaan proses pembelajaran yang digunakan sesuai.
Pembelajaran juga diarahkan pada kegiatan yang lebih menyenangkan siswa dengan
tujuan yang tepat, efektif dan efisien dan dengan memperhatikan tingkat perkembangan
intelektual siswa.
Rendahnya hasil belajar fisika yang diperoleh siswa mungkin disebabkan
rancangan pembelajaran yang disajikan guru kurang tepat. Oleh karena itu diperlukan
model pembelajaran yang lebih mengutamakan pengajaran yang interaktif dan
mendekatkan siswa dengan lingkungan karena fisika tidak lepas dari lingkungan sekitar
siswa.
31

Kegiatan belajar di kelas, model pembelajaran Inquiry Training dapat digunakan


sebagai alat untuk mendekatkan siswa dengan lingkungan sekitarnya karena dalam
model ini siswa dilatih untuk mencari solusi masalah yang ada dalam bentuk kelompok
kerja dan mereka harus menyajikan hasil diskusi kelompoknya dalam bentuk laporan.
Dengan menggunakan model pembelajaran Inquiry Training siswa diharapkan dapat
mengemukakan seluruh pengetahuannya mengenai sesuatu masalah fisika dalam suatu
kelompok kerja. Selain itu siswa juga diharapkan mampu dalam mengembangkan
kemampuan berfikir, pemecahan masalah dan keterampilan intelektual sebagai upaya
meningkaatkan hasil belajar siswa.
2.8 Hipotesis
Adapun yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini adalah :
H0 : Tidak ada pengaruh model pembelajaran Inquiry Training terhadap hasil
belajar siswa kelas X pada materi pokok Listrik Dinamis SMAN 1 Girsang
Sipangan Bolon T.P 2014/2015.
Ha : Ada pengaruh model pembelajaran Inquiry Training terhadap hasil belajar
siswa kelas X pada materi pokok Listrik Dinamis SMAN 1 Girsang Sipangan
Bolon T.P 2014/2015.
32

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Girsang Sipangan Bolon
T.P.2014/2015. Waktu penelitian dilaksanakan pada semester II bulan Mei 2015.

3.2 Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas X SMA Negeri 1
Girsang Sipangan Bolon T.P.2014/2015 yang terdiri dari 8 kelas paralel yang berjumlah
240 orang.
Penelitian ini memiliki sampel yang terdiri dari dua kelas yang dipilih secara
acak dengan teknik Cluster Random Sampling dimana satu kelas sebagai kelas
eksperimen yaitu kelas X-1 yang berjumlah 30 orang (kelas yang menerapkan model
pembelajaran Inquiry Training) dan satu kelas lagi yaitu kelas X-3 yang berjumlah 30
orang sebagai kelas kontrol (kelas yang menerapkan model pembelajaran
konvensional).

3.3 Rancangan Penelitian


Penelitian ini membagi sampel menjadi dua kelas yaitu kelas eksperimen dan
kelas kontrol. Kepada kelas eksperimen dan kelas kontrol diberikan tes awal yang sama,
setelah itu kedua kelas diberikan perlakuan yang berbeda. Dikelas eksperimen diberikan
pengajaran yang menggunakan model pembelajaran Inquiry Training, sedangkan di
kelas kontrol diberikan pengajaran yang menggunakan konvensional. Sesudah itu maka
tes akhir diberikan. Disainnya adalah sebagai berikut :
Tabel 3.1 Disain Penelitian
Kelas Tes Awal Perlakuan Tes Akhir
Eksperimen T1 X1 T2
Kontrol T1 X2 T2
Keterangan :
33

T1 = Pretes pada kelas eksperimen dan kelas kontrol

T2 = Postes pada kelas eksperimen dan kelas kontrol

X1 = Perlakuan yang diberikan kepada kelas eksperimen

X2 = Perlakuan yang deberikan kepada kelas kontrol

3.4 Variabel Penelitian


Variabel dalam penelitian ini ada dua yaitu:
Variabel terikat : hasil belajar siswa
Variabel bebas : model pembelajaran Inquiry Training dan model
pembelajaran konvensional

3.5 Alat dan Teknik Pengumpulan Data


1) Tes Hasil Belajar
Penelitian ini menggunakan alat pengumpul data berupa evaluasi belajar berupa
pretest dan postest untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol. Bentuk tes evaluasi pretes
dan postes adalah bentuk essay test sebanyak 10 soal. Tes ini merupakan tes yang
menghitung keterampilan proses sains siswa. Tes keterampilan proses sains diberikan
berupa soal berbentuk essay dari tiap aspek keterampilan proses sains antara lain 1)
mengamati (observasi), 2) mengajukan pertanyaan, 3) merumuskan hipotesis, 4)
memprediksi, 5) menemukan pola dan hubungan, 6) berkomunikasi secara efektif, 7)
merancang percobaan 8) melaksanakan percobaan, dan 9) mengukur dan menghitung.
Tes ini diberikan sebanyak dua kali yaitu pada saat pretes dan postes. Jumlah soal yang
diberikan dalam penelitian ini direncanakan sebanyak 10 soal seperti yang disajikan
pada Tabel 3.2. Waktu yang digunakan untuk mengerjakan tes ini adalah 45 menit baik
untuk pretest maupun untuk postest yang diberikan pada kelas eksperimen dan kelas
kontrol adalah sama.
Tabel 3.2 Komponen Keterampilan Proses Sains

No Komponen KPS Keterangan


1 KPS 1 Mengamati (P1)
34

No Komponen KPS Keterangan


2 KPS 2 Mengajukan pertanyaan
3 KPS 3 Merumuskan hipotesis
4 KPS 4 Memprediksi
5 KPS 5 Menemukan pola dan hubungan
6 KPS 6 Berkomunikasi secara efektif
7 KPS 7 Merancang percobaan
8 KPS 8 Melaksanakan percobaan
9 KPS 9 Mengukur dan menghitung

Tabel 3.3 Kisi-Kisi Soal Keterampilan Proses Sains

Materi pokok Aspek Keterampilan Proses Sains Jumlah


KPS KPS KPS KPS KPS KPS KPS KPS KPS Soal
1 2 3 4 5 6 7 8 9
Alat Ukur 8 1
Listrik
Arus Listrik 2 10 2
Hukum Ohm 6 1
Hukum 3 7 9 3
Kirchoff
Rangkaian 4 1
Hambatan
Energi Listrik 1 1
Daya Listrik 5 1
Jumlah Soal 1 1 1 1 1 2 1 1 1 10

Penilaian hasil belajar yang digunakan adalah metode penskoran yang dimodifiksi dari
Marzano (2006) seperti yang ditunjukkan pada tabel 3.4.
Tabel 3.4 Kriteria Penskoran Essay Test
No Reaksi Terhadap Masalah Skor
35

1 Tidak ada jawaban/menjawab tidak sesuai dengan pertanyaan/tidak 0


ada yang benar.
2 Jawaban hampir tidak mirip/sesuai dengan pertanyaan, persoalan 1
atau dengan masalah.
3 Jawaban ada beberapa yang mirip/sesuai dengan pertanyaan, 2
persoalan atau dengan masalah tapi hubungannya tidak jelas.
4 Jawaban mirip atau sesuai dengan pertanyaan, persoaalan atau 3
masalah tetapi kurang lengkap
5 Jawaban sesuai dengan pertanyaan, persoalan atau dengan masalah 4
secara lengkap

Perhitungan persentase hasil keterampilan proses sains digunakan rumus:


n
P x 100% (Sugiyono, 2012)
N
dimana:
P = nilai persentase keterampilan proses sains.
n = jumlah skor yang diperoleh.
N = jumlah skor maksimum
Tes yang telah disusun divalidasi terlebih dahulu oleh 3 orang validator.
Validitas yang digunakan adalah validitas isi (content validasi). Validitas isi artinya
kejituan daripada suatu tes ditinjau dari isi tes tersebut. Validitas isi menunjukkan
kepada suatu instrumen yang memiliki kesesuaian isi dalam mengukur yang akan
diukur. Instrumen ini disusun berdasarkan kurikulum, buku pegangan siswa/guru.
Berikut ini akan diuraikan skema penelitian sebagai alat pengumpul data.
36

Populasi

Sampel

Memberi Pretes

Kelas Eksperimen Kelas Kontrol

KBM dengan model KBM dengan model


pembelajaran Konvensional
Inquiry Training

Memberi Postest

Mengolah Data

Menarik Kesimpulan

Gambar 3.1 Skema penelitian

3.6 Teknik Analisis Data


Pengolahan data dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menghitung skor mentah.
2. Menentukan Nilai Rata-Rata dan Simpangan Baku.
a. Menentukan nilai rata-rata dengan rumus
37

x
x i

n (Sudjana, 2005:67)

Keterangan:
x = Mean (rata-rata) nilai siswa

x i
= Jumlah nilai total siswa

n = Jumlah sampel (siswa)

b. Menentukan simpangan baku dengan rumus

n X i ( xi ) 2
2

S
n(n 1) (Sudjana, 2005:94)

Keterangan:
S = Simpangan baku

x i
= Jumlah nilai total siswa

n = Jumlah sampel (siswa)


3. Melakukan Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk memeriksa apakah data berdistribusi normal atau
tidak, uji yang digunakan adalah uji Liliefors. Menurut Sudjana (2005:466), langkah-
langkah yang dilakukan untuk pengujian adalah sebagai berikut:
a. Data X1, X2, X3,....,Xn dijadikan bilangan baku, Z1, Z2, Z3,....,Zn dengan

Xi X
menggunakan rumus Zi
S
Dimana: X i = nilai ujian siswa

X = Rata-rata hasil belajar siswa


S = Simpangan baku
b. Menghitung peluang F(Zi) = P (ZZi)
c. Menghitung proporsi Z1, Z2, Z3,....,Zn yang lebih kecil atau sama dengan Zi. Jika
proporsi ini dinyatakan oleh S (Zi) maka:
38

1, 2,.,
( ) =

d. Menghitung selisih F ( Z i ) S (Z i ) kemudian menentukan harga mutlaknya.
e. Mengambil harga mutlak yang paling besar dari selisih itu dan disebut Lhitung.
Selanjutnya pada taraf signifikan = 0,05 dari harga Ltabel pada daftar nilai kritis
L untuk uji Liliefors. Kriteria pengujian ini adalah:
Lhitung < Ltabel maka sampel berdistribusi normal.
Lhitung > Ltabel maka sampel tidak berdistribusi normal.
4. Uji Homogenitas
Uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui apakah penarikan sampel berasal
dari populasi yang homogen. Menurut Sudjana (2005:249), untuk uji homogenitas data
populasi digunakan uji kesamaan varians dengan rumus:
S12
F 2
S2

Keterangan: S12 = varians terbesar nilai pretes

S 22 = varians terkecil nilai pretes


Kriteria pengujiannya:
Jika Fhitung < Ftabel maka kedua sampel berasal dari populasi yang homogen.
Jika Fhitung > Ftabel maka kedua populasi tidak berasal dari populasi yang homogen.
Keterangan:
Ftabel =F1/2 (dk varians terkecil -1 dan dk varians terbesar -1)
Taraf signifikan () = 0.1
5. Uji Hipotesis.
Pengujian hipotesis dilakukan dengan dua cara yaitu :
a. Uji kesamaan rata-rata pretes (uji t dua pihak)
Uji t dua pihak digunakan untuk mengetahui kesamaan kemampuan awal
siswa pada kedua kelompok sampel. Hipotesis yang diuji berbentuk :

H0 : X 1 X 2

Ha : X 1 X 2
Keterangan :
39

X1 X 2 : Kemampuan awal siswa pada kelas eksperimen sama dengan


kemampuan awal siswa pada kelas kontrol.
X1 X 2 : Kemampuan awal siswa pada kelas eksperimen tidak sama dengan
kemampuan awal siswa pada kelas kontrol.
Bila data penelitian berdistribusi normal dan homogen maka untuk menguji
hipotesis menggunakan uji t dengan rumus:
X1 X 2
t
1 1
S
n1 n2
(Sudjana, 2005:239)
dimana S adalah varians gabungan yang dihitung dengan rumus :

s 2

n1 1s1 n2 1s 2
2 2

n1 n2 2

Keterangan : X 1 = nilai rata-rata hasil belajar di kelas eksperimen.

X 2 = nilai rata-rata hasil belajar di kelas kontrol.


n1 = jumlah sampel kelas eksperimen.
n2 = jumlah sampel kelas kontrol.
S2 = varians gabungan kelas
t = harga t perhitungan
Kriteria pengujian menurut Sudjana (2005:239) adalah H0 diterima jika
t1 1 t t1 1 dimana t1 1 didapat dari daftar distribusi t dengan dk =n1 + n2 - 2
2 2 2

dan 0,05 . Untuk harga t lainnya H0 ditolak.


b. Uji kesamaan rata-rata postes (uji t satu pihak)
Uji t satu pihak digunakan untuk mengetahui pengaruh dari suatu perlakuan
yaitu model pembelajaran inquiry training terhadap hasil belajar siswa. Hipotesis yang
diuji berbentuk :

H0 : X 1 X 2

Ha : X 1 X 2
40

Keterangan : X 1 X 2 : Tidak ada perbedaan akibat pengaruh model pembelajaran


inquiry training terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok
listrik dinamis.

X 1 X 2 : Ada perbedaan akibat pengaruh model pembelajaran inquiry


training terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok listrik
dinamis.
Pengujian hipotesis dilakukan bila data penelitian berdistribusi normal dan
homogen. Uji hipotesis menggunakan uji t dengan rumus (Sudjana 2005:239), yaitu :
X1 X 2
t
1 1
s
n1 n 2

dimana S adalah varians gabungan yang dihitung dengan rumus :

s 2

n1 1s1 n2 1s 2
2 2

n1 n2 2
Keterangan :
t = Distribusi t
X 1 Rata-rata hasil belajar fisika kelas eksperimen

X 2 Rata-rata hasil belajar fisika kelas kontrol

n1 = Jumlah siswa kelas eksperimen


n 2 = Jumlah siswa kelas kontrol
2
s1 = Varians kelas eksperimen
2
s 2 = Varians kelas kontrol
s 2 = Varians dua kelas sampel
Kriteria pengujiannya adalah : Terima H0, jika t t1 dimana t1 didapat dari

daftar distribusi t dengan peluang (1- ) dan dk = n1+ n2-2 dan 0,05 . Untuk harga t
yang lain H0 ditolak.
41

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian


Penelitian ini merupakan quasi eksperimen. Pemilihan kelas dilakukan secara
cluster random sampling. Sebelum dilakukannya penelitian, tes yang akan diberikan
kepada sampel terlebih dahulu divalidkan dengan validitas isi kepada validator yaitu
kepada dua orang dosen dan satu orang guru fisika SMA Negeri 1 Girsang
Sipanganbolon. Validasi ini dilakukan untuk menentukan soal tersebut termasuk dalam
kategori baik dan valid.
4.1.1 Data Nilai Pretes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Pada awal penelitian, kedua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol
diberikan pretes yang bertujuan untuk melihat kemampuan awal belajar siswa pada
kedua kelas tersebut. Berdasarkan data penelitian pada lampiran diperoleh nilai rata-rata
pretes siswa kelas eksperimen sebelum diberi perlakuan dengan menggunakan model
pembelajaran inquiry training sebesar 43,4 dengan standar deviasi 6 (lampiran 10),
sedangkan kelas kontrol diperoleh nilai rata-rata pretes siswa 43,3 dengan standar
deviasi 7,2 (lampiran 11). Hasil pretes kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat
dalam bentuk diagram batang dibawah ini :

Nilai Pretes Kelas Eksperimen dan Kelas


Frekuensi Kontrol
8

4
Eksperimen
2 Kontrol
0
27.5 30 32.5 35 37.5 40 42.5 45 47.5 50 52.5 55 57.5 60
Nilai Pretes

Gambar 4.1. Diagram Batang Nilai Pretes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
42

Gambar diagram diatas menunjukkan bahwa nilai pretes pada kelas eksperimen
dan kelas kontrol tidak jauh berbeda, dimana artinya kedua kelas mempunyai
kemampuan awal yang sama dan perolehan nilai kedua kelas merata.
4.1.2 Data Nilai Postes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Setelah kedua kelas diberikan perlakuan yang berbeda, kedua kelas selanjutnya
diberikan postes dengan soal yang sama seperti soal pretes yang bertujuan untuk melihat
kemampuan akhir belajar siswa pada kedua kelas tersebut. Berdasarkan data penelitian
pada lampiran diperoleh nilai rata-rata postes siswa kelas eksperimen setelah diberi
perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran inquiry training sebesar 75,1
dengan standar deviasi 4,7 (lampiran 10), sedangkan kelas kontrol yang diberi
perlakuan dengan menggunakan model konvensional diperoleh nilai rata-rata postes
siswa 65,5 dengan standar deviasi 6,9 (lampiran 11). Hasil pretes kelas eksperimen dan
kelas kontrol dapat dilihat dalam bentuk diagram batang dibawah ini :

Nilai Postes Kelas Eksperimen dan Kelas


Frekuensi Kontrol
7
6
5
4
3 Eksperimen
2 Kontrol
1
0
52.5 55 57.5 60 62.5 65 67.5 70 72.5 75 77.5 80 82.5 85
Nilai Postes

Gambar 4.2. Diagram Batang Nilai Postes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Gambar diagram diatas menunjukkan bahwa pada kelas eksperimen, banyaknya
siswa pada nilai-nilai rendah lebih sedikit dibandingkan dengan siswa kelas kontrol.
Nilai-nilai tinggi pada kelas eksperimen lebih bayak dibandingkan dengan kelas kontrol.
Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran inquiry training baik untuk
meningkatkan keterampilan proses siswa.
Tabel 4.1 Ringkasan Hasil Perhitungan Nilai Rata-Rata, Standar Deviasi dan
43

Varians
Keterangan Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
Pretes Postes Pretes Postes
Rata-Rata 43,4 75,1 43,3 65,6
Standar Deviasi 6 4,7 7,2 6,9
Varians 36,2 22,8 52,2 48,8

4.2 Uji Analisis Data


4.2.1 Uji Normalitas
Pengujian normalitas data pretes dan postes kelas eksperimen dan kelas kontrol
dilakukan dengan menggunakan uji Lilliefors. Hasil uji normalitas data pretes dan
postes kedua kelas dinyatakan dalam tabel 4.6 dibawah ini :
Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Data Pretes Data Postes
Kelompok Kesimpulan
Lhitung Ltabel Lhitung Ltabel

Eksperimen 0,1192 0,161 0,1088 0,161 Normal


Kontrol 0,1095 0,161 0,1279 0,161 Normal

Dari tabel di atas, untuk kelas eksperimen diperoleh nilai pretes dengan harga
Lo = 0,1192 dan untuk nilai postes diperoleh harga Lo = 0,1088. Pada taraf signifikan

= 0,05 dan n = 30 diperoleh harga Ltabel = 0,161 maka Ltabel > Lhitung . Sedangkan pada

kelas kontrol diperoleh nilai pretes dengan harga Lo = 0,1095 dan untuk nilai postes

diperoleh harga Lo = 0,1279. Pada taraf signifikan = 0,05 dan n = 30 diperoleh harga

Ltabel = 0,161 maka Ltabel > Lhitung . Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa data

dari kedua sampel berdistribusi normal.

4.2.2 Uji Homogenitas


Uji homogenitas data pretes dan postes kelas eksperimen dan kelas kontrol
dilakukan dengan uji kesamaan dua varians yang menunjukkan bahwa data dari kedua
44

kelas tersebut adalah homogen yang artinya bahwa data yang diperoleh dapat mewakili
seluruh populasi yang ada. Untuk selengkapnya hasil uji homogenitas data pretes dan
postes kedua kelas dinyatakan dalam tabel 4.3 dibawah ini :
Tabel 4.3 Ringkasan Hasil Uji Homogenitas Kedua Kelas

Data Fhitung Ftabel Kesimpulan

Pretes 1,44 2,15 Homogen


Postes 2,14 2,15 Homogen

4.3 Uji Hipotesis


4.3.1 Uji Kemampuan Awal / Pretes
Uji hipotesis kemampuan awal/pretes dilakukan dengan uji beda t. Hipotesis
yang akan diuji dalam penelitian ini adalah :

H0 : X 1 X 2

Ha : X 1 X 2
Keterangan :
X1 X 2 : Kemampuan awal siswa pada kelas eksperimen sama dengan
kemampuan awal siswa pada kelas kontrol.

X1 X 2 : Kemampuan awal siswa pada kelas eksperimen tidak sama dengan


kemampuan awal siswa pada kelas kontrol.
Hasil pengujian tentang kemapuan awal (pretes) siswa sebelum diberikan
perlakuan yang berbeda, diperoleh harga thitung = 0,06 . Pada taraf signifikansi =0,05
dan dk = 30 + 30 -2 = 58 didapat harga ttabel = 2,002 (perhitungan lengkap pada
lampiran 16 ). Dengan membandingkan thitung dan ttabel diperoleh thitung < ttabel atau 0,06 <
2,002 artinya Ho diterima atau Ha ditolak, sehingga diperoleh kesimpulan bahwa tidak
ada perbedaan yang signifikan antara kemampuan awal siswa seblum diberikan
perlakuan yang berbeda.
4.3.2 Uji Kemampuan Akhir/Postes
Pengujian hipotesis kemampuan postes dilakukan dengan uji beda t yaitu
membedakan rata-rata hasil postes siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan
45

tujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang diajar dengan model
pembelajaran konvensional dan yang diajar dengan model pembelajaran inquiry
training pada materi pokok listrik dinamis dikelas X. Dalam menguji hipotesis
digunakan rumus uji-t satu pihak, dengan hipotesis :

H0 : X 1 X 2

Ha : X 1 X 2

Keterangan : X 1 X 2 : Tidak ada perbedaan akibat pengaruh model pembelajaran


inquiry training terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok
listrik dinamis.
X 1 X 2 : Ada perbedaan akibat pengaruh model pembelajaran inquiry
training terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok listrik
dinamis.
Dari hasil perhitungan uji-t satu pihak diperoleh t hitung = 6,3. Pada taraf signifikan =

0,05 dan dk = 58 diperoleh t tabel = 0,673. Dimana kriteria pengujiannya adalah H a

diterima jika t t1 / 2 (6,3 > 0,673). Karena t hitung jatuh pada daerah H a maka H a

diterima dan H0 ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang
signifikan antara hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran inquiry
training dan yang diajar dengan model pembelajaran konvensional.
Tabel 4.4. Ringkasan Perhitungan Uji t

Data Kelas Rata rata thitung ttabel Keterangan

Eksperimen 43,4 Kemampuan


Pretes 0,06 2,002 awal sama
Kontrol 75,1
Eksperimen 43,2 Ada pengaruh
Postes 6,3 0,673
Kontrol 65,5

4.4 Hasil Pembelajaran Inquiry Training


Model pembelajaran inquiry training menghasilkan pembelajaran yang
melbatkan aktivitas observasi, mengumpulkan dan mengolah data, mengidentifikasi dan
46

mengontrol variabel, membat dan menguji hiptesis, merumuskan penjelasan dan


menggambarkan kesimpulan (Joyce : 2008). Hasil pembelajaran tersebut termasuk
dalam keterampilan proses sains. Komponen-komponen keterampilan proses sains
terdapat pada tabel dibawah ini
Tabel 4.5 Komponen Keterampilan Proses Sains
No Komponen KPS Keterangan
1 KPS 1 Mengamati
2 KPS 2 Mengajukan pertanyaan
3 KPS 3 Merumuskan hipotesis
4 KPS 4 Memprediksi
5 KPS 5 Menemukan pola dan hubungan
6 KPS 6 Berkomunikasi secara efektif
7 KPS 7 Merancang percobaan
8 KPS 8 Melaksanakan percobaan
9 KPS 9 Mengukur dan menghitung

Data untuk perolehan nilai KPS 1 (mengamati) hingga KPS 9 (mengukur dan
menghitung) dapat dilihat pada lampiran 17. Untuk melihat perkembangan keterampilan
proses sains siswa ditampilkan dalam visualisasi diagram batang dibawah ini
100
90
Rata-Rata Kemampuan Siswa

80
70
60
50
Kelas Eksperimen
40
Kelas Kontrol
30
20
10
0
KPS 1 KPS 2 KPS 3 KPS 4 KPS 5 KPS 6 KPS 7 KPS 8 KPS 9
Komponen KPS
47

Gambar 4.3. Hasil belajar keterampilan proses sains siswa pada saat pretes
120
Rata-rata kemampuan siswa

100

80

60
Kelas Eksperimen
40 Kelas Kontrol

20

0
KPS 1KPS 2KPS 3KPS 4KPS 5KPS 6KPS 7KPS 8KPS 9
Komponen KPS

Gambar 4.4. Hasil belajar keterampilan proses sains siswa pada saat postes

Gambar 4.3 diatas menunjukkan bahwasanya siswa kelas eksperimen dan siswa
kelas kontrol memiliki keterampilan proses yang sama dengan pembuktian nilai-nilai
pretes mereka memiliki rata-rata yang tidak jauh berbeda dan masih tergolong rendah.
Gambar 4.4 menunjukkan bahwasanya kelas eksperimen meningkat keterampilan
proses sainsnya setelah diberi pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
inquir training karena memang hasil pembelajaran model ini yaitu keterampilan proses
sains. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa kelas eksperiemen
pada saat postes dibandingkan nilai kelas kontrol, yang juga diberi postes dengan soal
yang sama dengan kelas eksperimen.

4.5 Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara hasil
belajar siswa yang berupa keterampilan proses sains dengan menggunakan model
pembelajaran inquiry training dan model pembelajaran konvensional pada materi listrik
dinamis di kelas X semester II SMA N 1 Girsang Sipanganbolon T.P. 2014/2015. Hal
ini diperkuat dengan perolehan nilai rata-rata dikelas eksperimen pada saat pretes 43,4
dan setelah postes rata-rata nilai siswa naik menjadi 75,1 sedangkan dikelas control
48

diperoleh nilai rat-rata pretes siswa sebesar 43,3 dan nilai rata-rata postes siswa sebesar
65,5. Selanjutnya dilakukan analisis data terhadap kemampuan awal siswa dimana
diperoleh t hit sebesar 0,06 yang jatuh pada daerah t tab yang berarti bahwa kemampuan
awal siswa pada kelas eksperimen sama dengan kemampuan awal siswa pada kelas
kontrol (tidak terdapat perbedaan). Demikian pula untuk uji normalitas dan uji
homogenitas untuk kelas eksperimen maupun kelas kontrol tersebut sudah normal dan
homogen. Kemudian setelah postes untuk mengetahui adanya perbedaan hasil belajar
pada kedua kelas ini diuji dengan uji beda (uji t). Ternyata hasil uji t diperoleh t hitung =
6,3 > ttabel = 0,673 dengan = 0,05 dan dk 58. Hasil ini menyatakan perbedaan yang
signifikasi antara hasil belajar siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran inquiry
training dengan hasil belajar siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran
konvensional.
Hasil pembelajaran utama dari model pembelajaran inquiry training ini adalah
keterampilan proses sains. Seperti yang telah disajikan sebelumnya komponen-
komponen keterampilan proses sains ini berupa : 1) mengamati, 2) mengajukan
pertanyaan, 3) merumuskan hipotesis, 4) memprediksi, 5) menemukan pola dan
hubungan, 6) berkomunikasi secara efektif, 7) merancang percobaan, 8) melaksanakan
percobaan, dan 9) mengukur dan menghitung. Peningkatan keterampilan proses sains
pada siswa kelas eksperimen dapat dilihat melalui perbedaan nilai rata-rata siswa kelas
eksperimen dengan kelas kontrol setelah postes.
Berdasarkan gambar 4.4 dapat diamati perbedaan rata-rata tiap komponen
keterampilan siswa kelas eksperimen selalu lebih tinggi dibandingkan dengan kelas
kontrol. Komponen keterampilan proses sains yang pertama yaitu mengamati, rata-rata
kemampuan kelas eksperimen sebesar 103 sedangkan kelas kontrol rata-rata
kemampuan mengamati sebesar 80. Komponen yang kedua yaitu mengajukan
pertanyaan, rata-rata kemampuan kelas ekperimen sebesar 97 sedangkan kemampuan
mengajukan pertanyaan kelas kontrol sebesar 83. Komponen yang ketiga yaitu
merumuskan hipotesis, rata-rata kemampuan kelas ekperimen sebesar 96 sedangkan
kemampuan kelas kontrol sebesar 81. Komponen yang keempat yaitu memprediksi,
rata-rata kemampuan kelas ekperimen sebesar 98 sedangkan kemampuan kelas kontrol
sebesar 97. Komponen yang kelima yaitu menemukan pola dan hubungan, rata-rata
49

kemampuan kelas ekperimen sebesar 90 sedangkan kemampuan kelas kontrol sebesar


74. Komponen yang keenam yaitu berkomunikasi secara efektif, rata-rata kemampuan
kelas ekperimen sebesar 86 sedangkan kemampuan kelas kontrol sebesar 81,5.
Komponen yang ketujuh yaitu merancang percobaan, rata-rata kemampuan kelas
ekperimen sebesar 103 sedangkan kemampuan kelas kontrol sebesar 96. Komponen
yang kedelapan yaitu melaksanakan percobaan, rata-rata kemampuan kelas ekperimen
sebesar 70 sedangkan kemampuan kelas kontrol sebesar 60. Komponen yang
kesembilan yaitu mengukur dan menghitung, rata-rata kemampuan kelas ekperimen
sebesar 73 sedangkan kemampuan kelas kontrol sebesar 47. Dapat disimpulkan bahwa
keterampilan proses sains kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu seperti yang diteliti oleh
Waruwu (2014) dengan judul Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Training
Menggunakan Audio Visual Terhadap Hasil belajar Siswa pada Materi Pokok Listrik
Dinamis di Kelas X Semester II SMA N 1 Sei Rampah T.P. 2013/2014 diperoleh hasil
belajar siswa dengan model pembelajaran Inquiry Training menggunakan audio visual
memiliki nilai rata-rata pretes 39,8864 dan postes 65,5682 dengan kategori tuntas
KKM; pada ranah afektif dengan nilai rata-rata 76,1472 dengan kategori tuntas KKM;
dan ranah psikomotorik dengan nilai rata-rata 65,5758 dengan kategori tuntas KKM.
Demikian juga hasil penelitian Waramita (2013) dengan judul Pengaruh Model
Pembelajaran Inquiry Training dengan Menggunakan Alat Sederhana Terhadap Hasil
Belajar Siswa pada Materi Pokok Cahaya Kelas VIII Semester II SMP Negeri 3 Air
Putih Kab. Batu Bara T.P. 2012/2013 diperoleh aktivitas belajar siswa dengan model
pembelajaran Inquiry Training menggunakan alat sederhana mengalami peningkatan
dengan rata-rata nilai keseluruhan 83,68 dan hasil belajar siswa dengan model
pembelajaran Inquiry Training menggunakan alat sederhana dengan rata-rata nilai
keseluruhan 66,11 dengan kategori tuntas KKM.
Meningkatnya hasil belajar melalui proses pembelajaran menggunakan model
pembelajaran Inquiry Training ini karena Inquiry Training mampu membawa siswa
lebih terampil dalam melakukan kegiatan praktikum sehingga setiap siswa akan terlatih
keterampilan proses sainsnya seperti mengamati, melakukan observasi hingga menarik
kesimpulan dari percobaan yang dilakukan.
50

Pada penelitian ini, pada penerapannya masih terdapat pula terdapat kendala
yaitu masih terdapatnya beberapa siswa yang kurang berpartisipasi dalam mengeluarkan
pendapat, masih mengandalkan teman-temannya yang aktif sehingga penerapan model
ini kurang terlaksana sepenuhnya. Apabila kendala ini dapat diatasi maka pembelajaran
dengan inquiry training dapat dijadikan salah satu model pembelajaran yang diharapkan
dapat meningkatkan keterampilan proses sains siswa.
51

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Dari hasil analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut:
1. Hasil belajar siswa kelas kontrol yang diajar dengan menggunakan model
pembelajaran konvensional pada materi listrik dinamis kelas X di SMA Negeri 1
Girsang Sipanganbolon memiliki rata-rata hasil belajar 65,5 lebih rendah
dibandingkan dengan hasil belajar kelas eksperimen.
2. Hasil belajar siswa kelas eksperimen yang diajar menggunakan model
pembelajaran Inquiry Training pada materi listrik dinamis kelas X di SMA
Negeri 1 Girsang Sipanganbolon memiliki nilai rata-rata sebesar 75,1.
3. Berdasarkan hasil perhitungan uji t satu pihak diperoleh nilai thitung yaitu 6,3 dan
ttabel yaitu 0,673, hal ini membuktikan bahwa ada pengaruh menggunakan model
pembelajaran Inquiry Training terhadap hasil belajar siswa kelas X pada materi
listrik dinamis di SMA Negeri 1 Girsang Sipanganbolon.

5.2. Saran
1. Kepada peneliti selanjutnya hendaknya membuat perencanaan yang lebih baik
pada pengorganisasian kelompok, sebaiknya jumlah siswa dalam setiap
kelompok cukup 2-3 orang saja agar semua aktif dalam melakukan praktikum.
2. Kepada peneliti selanjutnya yang ingin meneliti permasalahan yang sama
disarankan untuk memperhatikan kemampuan awal siswa dan mempersiapkan
permasalahan yang menggugah rasa ingin tahu siswa sehingga siswa termotivasi
untuk menemukan jawaban dari permasalahan.
52

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman., M.1999. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Rineka Cipta


: Jakarta

Arends,R.I.1997.Classroom Instruction and Management. New York:Mcgraw Hill

Azizah,Aulia.,Parmin.2012.Inquiry Training Untuk Mengembangkan Ketrampilan


Meneliti Mahasiswa.FMIPA UNNES: Semarang

Dimyati & Mudjiono. 2006. belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Hamzah. 2007. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang


Kreatif dan Efektif. PT. Bumi Aksara : Jakarta

Harlen, W., Elsgeest, J. 1992. UNESCO Sourcebook for Science in the Primary School.
France. Imprimerie de la Manutention.

Joice, B. 2011. Models of Teaching. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2005. Jakarta: Depdiknas.

Kanginan, Marthen.2007.Fisika untuk SMA Kelas X.Jakarta:Erlangga

Marzano, R.J. 2006. Classroom Assesment & Grading That Work. Association for
Supervision and Curriculum Development. Alexandria, Virginia USA

Rahayu,Ayu.2012.Model Pembelajaran Latihan Inkuiri Untuk Meningkatkan


Keterampilan Proses Sains Siswa Pada Materi Fluida Statis.Universitas Islam
Negeri Sunan Gunung Djati :Bandung

Rusman. 2012.Model-Model Pembelajaran Edisi Ke 2. Bandung :Raja Grafindo

Sagala, S. 2009. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : CV. ALFABETA

Saptorini.2013.Pengembangan Model Pembelajaran basis Inkuiri Sebagai Upaya


Peningkatan Kemampuan Inkuiri Guru Kimia Di Kabupaten Demak.Jurnal
FMIPA UNNES: Semarang
53

Sari, Retno.,P.2014. Penerapan Inquiry Training Model Untuk Meningkatkan


Motivasi Belajar Dan Pemahaman Konsep Fisika Siswa Kelas VIII
FSMPN1 Karangploso.Universitas Negeri Malang : Malang

Setyo,Toenas., Joeli., Indahwati.2012.Penerapan Model Inquiry Training Melalui


Teknik PetaKonsep Dan Teknik Puzzle Ditinjau Dari Tingkat
Keberagaman Aktivitas Belajar Dan Kemampuan Memori.Universitas
Sebelas Maret Surakarta

Sudjana,Nana.2005.Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar.Bandung: Rosdakarya

Sudjana.2005. Metoda Statistika Edisi Ke 5.Penerbit Tarsito:Bandung.

Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Beroreiontasi Kontruktivistis.


Presentasi Pustaka Publisher : Jakarta

Waramita.2013.Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Training dengan


Menggunakan Alat Sederhana Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi
Pokok Cahaya Kelas VIII Semester II SMP Negeri 3 Air Putih Kab. Batu Bara
T.P. 2012/2013.Skripsi FMIPA.Unimed:Medan.

Waruwu. 2014.Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Training Menggunakan Audio


Visual Terhadap Hasil belajar Siswa pada Materi Pokok Listrik Dinamis di Kelas X
Semester II SMA N 1 Sei Rampah T.P. 2013/2014.Skripsi
FMIPA.Unimed:Medan.

Widayanto. 2009. Pengembangan Keterampilan Proses dan Pemahaman Siswa Kelas X


Melalui Kit Optik. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 5 (2009) 1-7.
54

Lampiran 1
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
RPP-1
Satuan Pendidikan : Sekolah Menengah Atas
Kelas/ Semester : X/ Genap
Mata Pelajaran : Fisika
Materi Pokok : Listrik Dinamis
Sub Materi Pokok : 1. Arus listrik
2. Alat Ukur Listrik
3. Hukum Ohm dan Hambatan
Alokasi Waktu : 3 x 45 menit

A. Standar Kompetensi
Menerapkan konsep kelistrikan dalam berbagai penyelesaian masalah dan berbagai
produk teknologi.
B. Kompetensi Dasar
Meningkatkan keterampilan proses sains dalam melakukan percobaan listrik
dinamis melalui suatu rangkaian listrik tertutup sederhana (satu loop) serta
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

C. Indikator
1. Merancang percobaan mengenai hukum ohm.
2. Mengumpulkan dan mengolah data melalui percobaan hukum ohm.
3. Mengidentifikasi penerapan hukum ohm dalam kehidupan sehari-hari.
4. Menggambarkan kesimpulan dari percobaan hukum ohm dalam bentuk tabel dan
grafik.

D. Tujuan Pembelajaran
Agar peserta didik mampu :
1. Mengklasifikasikan alat-alat ukur listrik sesuai dengan fungsinya melalui
percobaan hukum ohm.
55

2. Melaksanakan percobaan hukum ohm.


3. Merumuskan hipotesis melalui percobaan hukum Ohm
4. Memprediksi variabel yang mempengaruhi hukum Ohm
5. Menarik kesimpulan dari percobaan hukum ohm dalam bentuk tabel maupun
grafik.

E. Materi pembelajaran
Listrik Dinamis

Listrik dinamis adalah ilmu yang mempelajari tentang muatan-muatan listrik


yang bergerak, yang menyebabkan munculnya arus listrik.
1. Arus Listrik

Arus listrik didefinisikan sebagai aliran muatan listrik melalui sebuah konduktor.
Arus ini bergerak dari potensial tinggi ke potensial rendah, dari kutub positif ke kutub
negatif, dari anoda ke katoda. Arah arus listrik ini berlawanan arah dengan arus
elektron. Muatan listrik dapat berpindah apabila terjadi beda potensial.
2. Alat Ukur Listrik
c) Amperemeter
Mengukur kuat arus digunakan suatu alat yang disebut amperemeter.
Amperemeter terdiri dari galvanometer yang dihubungkan paralel dengan resistor yang
mempunyai hambatan rendah. Tujuannya adalah untuk menaikkan batas ukur
ampermeter. Hasil pengukuran akan dapat terbaca pada skala yang ada pada
amperemeter. Amperemeter ini dipasang sedemikian rupa (secara seri) sehingga arus
yang hendak diukur kekuatannya mengalir melalui amperemeter.
56

Gambar 2.4. Pembacaan amperemeter yang menunjukkan skala = 4, dan skala


maksimum = 5,serta batas ukur 1 A. Besar kuat arus = 4/5 x 1 A = 0,8 A.
Hasil pengukuran kuat arus dibaca dengan cara sebagai berikut.

skala
Besar kuat arus = x batas ukur
skala max

d) Voltmeter
Alat voltmeter atau multimeter/AVO meter digunakan mengukur ggl suatu
sumber tegangan atau beda potensial dua titik, dengan cara menghubungkan kedua
pencolok alat ukur listrik itu ke katoda dan anoda. Pencolok merah (+) ke anoda dan
pencolok hitam (-) ke katoda. Dengan menggunakan voltmeter akan diukur beda
potensial di ujung-ujung lampu. Menggunakan voltmeter berbeda dengan menggunakan
ampermeter, dalam menggunakan voltmeter harus dipasang paralel pada kedua ujung
yang akan dicari beda tegangannya. Dalam mengukur tegangan jepit, voltmeter harus
dipasang paralel dengan sumber tegangan dan alat tersebut tidak mengukur potensial A
maupun potensial B, tetapi voltmeter hanya mengukur beda atau selisih potensial antara
titik A dan titik B.

Gambar 2.7. Pembacaan voltmeter yang menunjukkan skala= 4, dan skala maksimum
= 5,serta batas ukur 1 V. Besar beda potensial = 4/5 x 1 V= 0,8 V.

Hasil pengukuran ggl atau beda potensial dibaca dengan cara sebagai berikut.

Besar tegangan = skala x batas ukur


skala max

3. Hukum Ohm dan Hambatan Listrik


57

Bunyi Hukum Ohm sebagai berikut:Kuat arus yang mengalir dalam suatu
penghantar sebanding denganbeda potensial antara ujung-ujung penghantar itu, asalkan
suhu penghantar itu tetap

Gambar 2.9 arah arus listrik

Secara matematisnya hukum ini dapat ditulis sebagai berikut;

Dengan :
V = tegangan (volt)
R= hambatan (ohm)
I = arus (ampere)

R (hambatan) merupakan suatu faktor perbandingan yang besarnya tetap untuk


suatu penghantar tertentu dan pada suhu tertentu pula. Faktor tetap R ini disebut
hambatan listrik Definisi hambatan suatu penghantar adalah hasil bagi beda potensial
antara ujung-ujung penghantar itu dengan kuat arus dalam penghantar itu.

Gambar 2.10 bentuk resistor.


Hambatan atau resistansi suatu penghantar berguna untuk mengatur besarnya
kuat arus listrik yang mengalir melalui suatu rangkaian listrik. Bila panjang kawat
penghantar dinyatakan dengan huruf , luas penampangnya dinyatakan dengan huruf A,
maka untuk berbagai jenis pengkantar, panjang dan penampang berbeda terdapat
hubungan sebagai berikut:

F. Metode Pembelajaran
58

a. Kelas Eksperimen
Metode Pembelajaran : Ceramah, Tanya jawab, Diskusi, Latihan,
Pemberian tugas
Model Pembelajaran : Inquiry Training
b. Kelas Kontrol
Metode Pembelajaran : Ceramah, Tanya jawab, Latihan, Pemberian tugas
Model Pembelajaran : Konvensional(model pembelajaran langsung)
G. Sumber Belajar
1. Kanginan, M., (2007), Fisika untuk SMA Kelas X, Jakarta:Erlangga.
2. Lembar Kerja Siswa (LKS)
3. Lingkungan

H. Media/Alat/Bahan
a. Media : Power Point
b. Alat : Multimeter
c. Bahan : Baterai, kabel , Lampu,
63

I. Kegiatan Pembelajaran Kelas Eksperimen

Tahap-tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Metode Media/ alat Sumber Waktu Karakter
pembelajaran / bahan yang di
harapkan
Pendahuluan
1. Mengucap salam 1. Menjawab salam dan Ceramah Kanginan, M., 3 Berperilaku
pembuka dan mendengarkan guru santun
(2007), Fisika
mengabsen
2. Member pretes 2. Mengerjakan pretes untuk SMA Kelas Berfikir
45
kreatif,
X,
3. Memberikan apersepsi 3. Mendengarkan dan kritis, dan
Apa yang menjawab pertanyaan Tanya Jakarta:Erlangga. logis
menyebabkan sengatan guru. jawab 2
listrik di dalam tubuh
manusia, arus atau
tegangan?
4. Menyampaikan tujuan 4. Memperhatikan dan Berperilaku
pembelajaran. mendengarkan dengan santun
ceramah 2
baik
Fase I Kegiatan inti Berperilaku
1. Menjelaskan prosedur- 1. Memahami prosedur santun
Menghadapkan Ceramah 3
inquiry training yang
masalah prosedur inquiry
telah dijelaskan
training kepada siswa. Berfikir
2. Mengorganisasikan
kreatif,
siswa dalam kelompok 2. Membentuk kelompok Ceramah 5
masing-masing kritis, dan
eksperimentasi dan logis
membagikan LKS
64

Tahap-tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Metode Media/ alat Sumber Waktu Karakter
pembelajaran / bahan yang di
harapkan
Fase II 1. Membimbing siswa 1. Mengumpulkan Tanya Lampu 10 Berfikir
untuk mengumpulkan informasi yang jawab pijar kreatif,
Pengumpulan
data verifikasi informasi yang berhubungan dengan Baterai kritis, dan
berhubungan dengan permasalahan yang Kabel logis
permasalahan yang diajukan Multi
diajukan mengenai beda meter
potensial dan kuat arus
yang dapat dijawab Berfikir
dengan kata ya atau kreatif,
tidak 2
ceramah kritis, dan
2. Membimbing siswa 2. Memberikan jawaban logis
untuk membuat sementara (hipotesis)
jawaban sementara
(hipotesis)
Fase III 1. Mengarahkan siswa 1. Melakukan percobaan Eksperimen 10 Berperilaku
untuk mengetahui data santun
Pengambilan Diskusi
penelitian ketika diuji
data Berfikir
coba dengan cara yang
eksperimentsi kreatif,
berbeda. kritis, dan
15 logis
2. Membimbing siswa 2. Mengambil data dan Eksperimen
mengamati perubahan mencatat data Tanya
yang terjadi selama jawab
melakukan percobaan
65

Tahap-tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Metode Media/ alat Sumber Waktu Karakter
pembelajaran / bahan yang di
harapkan

Fase IV 1. Membimbing siswa 1. Mengolah serta Diskusi LKS 15 Berfikir


untuk mengolah data menganalisis data hasil Tanya kreatif,
Mengolah dan
serta menganalisis data percobaan kritis, logis
merumuskan jawab
hasil percobaan dan dan teliti
penjelasan
menjawab pertanyaan
diskusi yang terdapat
dalam LKS Berfikir
2. Meriview serta 2. Menyimak dan Tanya 5 kreatif,
menganalisis hasil merespon kegiatan jawab kritis, dan
diskusi siswa melalui Tanya jawab. Diskusi logis
Tanya jawab
Fase V 1. Membimbing siswa 1. Mendengarkan dan ceramah lembar hasil 10 Jujur dan
menganalisis tahap- menyimak dengan kerja kelompok santun
Analisis proses
tahap inkuiri yang telah baik penjelasan guru
inkuiri Menjasi
dilaksanakan serta pendengar
menguatkan jawaban yang baik
siswa yang benar
mengenai beda
potensial dan kuat arus
Penutup
1. Menyimpulkan materi 1. Mendengarkan dan Ceramah 5
pelajaran yang telah memperhatikan guru Berperilaku
disampaikan serta mencatat santun
rangkuman
2. Mencatat tugas
66

Tahap-tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Metode Media/ alat Sumber Waktu Karakter
pembelajaran / bahan yang di
harapkan
2. Memberikan tugas Penugasan Menjadi
kepada siswa untuk pendengar
3
dikerjakan dirumah 3. Membalas salam dari yang baik
3. Menutup pembelajaran guru
dan mengucapkan
salam penutup

Kegiatan Pembelajaran Kelas Kontrol

Kegiatan Pembelajaran Sumber Alokasi


Tahap Pembelajaran Metode Media
Guru Siswa Belajar Waktu
Kegiatan Pendahuluan 1. Mengucapkan salam 1. Menjawab salam dari 3
pembuka dan guru. Lingkungan
mengkondisikan
siswa
2. Memberi Pretes 2. Mengerjakan pretes 45

Fase 1 : Menyampaikan Ceramah


tujuan (termasuk 3. Mengarahkan 3. Memperhatikan dan
kompetensi), serta kegiatan belajar dan menyimak tujuan 6
mempersiapkan siswa memotivasi siswa pembelajarandari
dengan guru
menyampaikan
tujuan pembelajaran.
4. Menjelaskan proses 4. Menyimak proses 6
67

Kegiatan Pembelajaran Sumber Alokasi


Tahap Pembelajaran Metode Media
Guru Siswa Belajar Waktu
pembelajaran yang pembelajaran yang
harus dilakukan akan dilakukan
siswa dalam setia
proses
pembelajaran.
Kegiatan Inti 1. Menjelaskan materi 1. Menyimak Ceramah Power Kanginan, M., 15
Fase 2 : mengenai arus listrik, penjelasan guru Demonstrasi Point (2007), Fisika
Mendemonstrasikan beda potensial dan tentang materi arus untuk SMA Kelas
pengetahuan atau hukum Ohm. listrik, beda potensial X,
keterampilan dan hukum ohm. Jakarta:Erlangga.

2. Memberikan 2. Mencatat dan 10


Fase 3 : Membimbing kesempatan kepada bertanya tentang
pelatihan siswa untuk mencatat materi yang telah
dan bertanya tentang disampaikan guru.
materi yang telah
disampaikan.
Fase 4 : Mengecek 3. Menyuruh siswa 15
3. Mengerjakan soal
pemahaman dan mengerjakan soal latihan.
memberikan umpan balik latihan. Pemberian
Tugas

Fase 5 : Memberikan 10
kesempatan untuk 4. Membahas bersama 4. Mengikuti
pelatihan lanjutan dan soal latihan yang pembahasan yang
penerapan telah dikerjakan siswa dibimbing guru.
68

Kegiatan Pembelajaran Sumber Alokasi


Tahap Pembelajaran Metode Media
Guru Siswa Belajar Waktu

Kegiatan Penutup 1. Membimbing siswa 1. Menyimpulkan Diskusi 15


untuk menyimpulkan materi
materi.
2. Memberikan 2. Mencatat tugas yang
pekerjaan rumah diberikan guru Pemberian
kepada siswa untuk Tugas
pedalaman materi.
3. Menyampaikan salam
3. Menjawab salam dari
penutup
guru
69

J. Penilaian
1. Jenis Penilaian : Tulisan
2. Prosedur Penilaian : Penilaian Hasil
3. Instrumen : Tes Hasil Belajar
4. Bentuk Instrumen :Soal Uraian

Soal Uraian
1. Apa yang dimaksud dengan arus listrik?
2. Arus listrik 20 mA mengalir pada suatu kawat penghantar. Jika beda potensial
ujung-ujung kawat 4 V, tentukan hambatan listrik kawat tersebut!
Kunci Jawaban
1) Arus listrik adalah Arus listrik adalah gerakan atau aliran muatan listrik yang
mengalir dari potensial tinggi ke potensial rendah.
2) Dik : I = 20 mA = 2 x 10-2 A
= 0,02 A
V = 4 Volt
Dit : R =?

Jawab : =

4
= = 200
0,02


= 100

Arti tingkat penguasaan yang dicapai :


90 - 100 = baik sekali 60 - 69 = cukup
80 - 89 = baik 50 - 59 = kurang
70 - 79 = sedang
Medan, 2015
Mahasiswa Peneliti

Riris A Situmorang
NIM. 4113121055
70

Lampiran 2
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP-2)
Satuan Pendidikan : SMA Negeri 1 Kecamatan Binjai
Mata Pelajaran : FISIKA
Materi Pokok : Listrik Dinamis
Sub Materi Pokok : 1. Rangkaian Hambatan
2. Hukum Kirchoff
Kelas/Semester : X/ II
Alokasi Waktu : 3 x 45 menit

A. Standar Kompetensi :
Menerapkan konsep kelistrikan dalam berbagai penyelesaian masalah dan
berbagai produk teknologi.

B. Kompetensi Dasar :
Meningkatkan keterampilan proses sains dalam melakukan percobaan listrik
dinamis melalui suatu rangkaian listrik tertutup sederhana (satu loop) serta
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

C. Indikator
1. Merancang percobaan mengenai hukum kirchoff.
2. Mengumpulkan dan mengolah data melalui percobaan hukum kirchoff.
3. Menggambarkan kesimpulan dari percobaan hukum kirchoff dalam
bentuk tabel maupun grafik.
4. Mengidentifikasi penerapan rangkaian hambatan seri dan paralel dalam
kehidupan sehari-hari.

D. Tujuan Pembelajaran
Setelah pembelajaran ini siswa diharapkan mampu:
1. Melaksanakan percobaan hukum kirchoff dengan benar.
71

2. Mengolah data yang diperoleh melalui percobaan hukum kirchoff.


3. Membuat kesimpulan dari percobaan hukum kirchoff dalam bentuk tabel
maupun grafik
4. Memahami penerapan rangkaian hambatan dalam kehidupan sehari-hari.

E. Materi Pembelajaran
1. Rangkaian Hambatan Listrik
Suatu rangkaian listrik umumnya menggunakan beberapa hambatan.
Hambatan tersebut kadang-kadang disusun secara seri, paralel atau campuran seri
dengan paralel. Perhatikan gambar berikut :
2. Susunan Seri
Berikut digambarkan 3 buah penghambat (resistor) yang disusun secara seri
dan dihubungkan dengan sebuah sumber tegangan V.

I1 I2 I3
Rs
V 1 IR 1 V 2 IR 2 V 3 IR 3
I
I V V

a b
Gambar 1 Susunan penghambat (resistor) seri
(a) Tiga penghambat (resistor) disusun seri, V=V1+V2+V3
(b) Rangkaian pengganti dimana berlaku Rs=R1+R2+R3

3. Susunan paralel
Gambar 2 menunjukkan tiga buah penghambat (resistor) yang yang disusun
secara paralel. Pada susunan paralel, beda potensial pada masing-masing penghambat
(resistor) sama besar.
72

I1 I2 I3 I
I

R1 R2 R3 V Rp
V

a b
Gambar 2 Rangkaian penghambat (resistor) parallel
(a) Tiga buah penghambat (resistor) disusun paralel
1 1 1 1
(b) rangkaian pengganti dimana
R p R1 R2 R3
4. Hukum I Kirchoff
Titik simpul adalah titik pertemuan tiga cabang atau lebih. Hubungan kuat
arus listrik yang masuk ke titik simpul dengan jumlah kuat arus listrik yang keluar
dari titik simpul tersebut dikenal dengan Hukum I Kirchoff yang berbunyi : jumlah
kuat arus listrik yang masuk ke suatu titik simpul sama dengan jumlah kuat arus
listrik yang keluar dari titik simpul tersebut.
Hukum I Kirchoff secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut:

Gambar 3 Skema diagram Hukum I Kirchoff & analogi mekaniknya


5. Hukum II kirchoff
Hukum Tegangan Kirchhoff didasarkan pada Hukum Kekekalan Energi.
Ketika muatan listrik q berpindah dari potensial tinggi ke potensial rendah dengan
beda potensial V, energi muatan itu akan turun sebesar qV. Sekarang tinjau
rangkaian listrik. Baterai dengan tegangan terminal V akan melepas muatan q dengan
73

energi qV.sedemikian sehingga mampu bergerak pada lintasan tertutup (loop) abcda.
Ketika muatan q melintasi resistansi R1, energi muatan ini akan turun sebesar qV1.
Demikian pula ketika melintasi R2 dan R3, masing-masing energinya turun sebesar
qV2 dan qV3. Total penurunan energi muatan adalah qV1 + qV2 + qV3. Sesuai dengan
Hukum Kekekalan Energi, penurunan ini harus sama dengan energi yang dilepaskan
oleh baterai, qV. Dengan demikian berlaku :
qV = qV1 +qV2+qV3
V V1 V2 V3 = 0
Persamaan terakhir dapat ditulis :
V = 0 yang berarti bahwa jumlah tegangan pada sebuah loop (lintasan tertutup)
sama dengan nol, disebut Hukum Kedua Kirchhoff atau Hukum Tegangan Kirchhoff.

F. Metode Pembelajaran
c. Kelas Eksperimen
Metode Pembelajaran : Ceramah, Tanya jawab, Diskusi, Latihan,
Pemberian tugas
Model Pembelajaran : Inquiry Training
d. Kelas Kontrol
Metode Pembelajaran : Ceramah, Tanya jawab, Latihan, Pemberian
tugas
Model Pembelajaran : Konvensional(model pembelajaran langsung)

G. Sumber Belajar
1. Kanginan, M., (2007), Fisika untuk SMA Kelas X, Jakarta:Erlangga.
2. Lembar Kerja Siswa (LKS)

H. Media/Alat/Bahan
a. Media : Power Point
b. Alat : Multimeter
c. Bahan : Baterai, Lampu, Resistor
74

II. Kegiatan Pembelajaran Kelas Eksperimen

Tahap-tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Metode Media/ alat Sumber Waktu Karakter
pembelajaran / bahan yang di
harapkan
Pendahuluan
5. Mengucap salam 5. Menjawab salam dan Ceramah Kanginan, M., 3 Berperilaku
pembuka dan mendengarkan guru santun
(2007), Fisika
mengabsen
untuk SMA Kelas Berfikir
6. Memberikan apersepsi 6. Mendengarkan dan Tanya kreatif,
X,
Pada saat natal tiba, menjawab pertanyaan jawab 10 kritis, dan
kita banyak melihat guru. Jakarta:Erlangga. logis
lampu kerlap-kerlip
dijual di toko,
terkadang ada satu
lampu yang padam,
lampu lain tetap Berperilaku
menyala dan tidak ikut santun
padam. Bagaimana hal
tersebut dapat terjadi ?
Disajikan pipa
berbentuk Y, pipa
dialiri air. Apakah
jumlah air dalam pipa
sebelum melewati
cabang sama dengan
jumlah air setelah
melewati cabang?
75

Tahap-tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Metode Media/ alat Sumber Waktu Karakter
pembelajaran / bahan yang di
harapkan

7. Menyampaikan tujuan 7. Memperhatikan dan ceramah 4


pembelajaran. mendengarkan dengan
baik
Fase I Kegiatan inti
Menghadapkan 3. Menjelaskan prosedur- 3. Memahami prosedur Ceramah 3 Berperilaku
inquiry training yang
masalah prosedur inquiry santun
telah dijelaskan
training kepada siswa.
4. Membentuk kelompok Berfikir
4. Mengorganisasikan Ceramah 5
masing-masing kreatif,
siswa dalam kelompok
eksperimentasi dan kritis, dan
membagikan LKS logis

Fase II 3. Membimbing siswa 3. Mengumpulkan Tanya Lampu 10 Berfikir


untuk mengumpulkan informasi yang jawab pijar kreatif,
Pengumpulan
data verifikasi informasi yang berhubungan dengan Baterai kritis, dan
berhubungan dengan permasalahan yang Kabel logis
permasalahan yang diajukan Multi
diajukan mengenai beda meter
potensial dan kuat arus
yang dapat dijawab Berfikir
dengan kata ya atau kreatif,
tidak 7
kritis, dan
4. Membimbing siswa 4. Memberikan jawaban ceramah logis
untuk membuat sementara (hipotesis)
76

Tahap-tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Metode Media/ alat Sumber Waktu Karakter
pembelajaran / bahan yang di
harapkan
jawaban sementara
(hipotesis)
Fase III 3. Mengarahkan siswa 3. Melakukan percobaan Eksperimen 20 Berperilaku
untuk mengetahui data santun
Pengambilan Diskusi
penelitian ketika diuji
data Berfikir
coba dengan cara yang
eksperimentsi kreatif,
berbeda. kritis, dan
20 logis
4. Membimbing siswa 4. Mengambil data dan Eksperimen
mengamati perubahan mencatat data Tanya
yang terjadi selama jawab
melakukan percobaan

Fase IV 3. Membimbing siswa 3. Mengolah serta Diskusi LKS 20 Berfikir


untuk mengolah data menganalisis data hasil Tanya kreatif,
Mengolah dan
serta menganalisis data percobaan kritis, logis
merumuskan jawab
hasil percobaan dan dan teliti
penjelasan
menjawab pertanyaan
diskusi yang terdapat
dalam LKS Berfikir
4. Meriview serta 4. Menyimak dan Tanya 15 kreatif,
menganalisis hasil merespon kegiatan jawab kritis, dan
diskusi siswa melalui Tanya jawab. Diskusi logis
Tanya jawab
77

Tahap-tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Metode Media/ alat Sumber Waktu Karakter
pembelajaran / bahan yang di
harapkan
Fase V 2. Membimbing siswa 2. Mendengarkan dan ceramah lembar hasil 10 Jujur dan
menganalisis tahap- menyimak dengan kerja kelompok santun
Analisis proses
tahap inkuiri yang telah baik penjelasan guru
inkuiri Menjasi
dilaksanakan serta pendengar
menguatkan jawaban yang baik
siswa yang benar
mengenai beda
potensial dan kuat arus
Penutup
4. Menyimpulkan materi 4. Mendengarkan dan Ceramah Berperilaku
5
pelajaran yang telah memperhatikan guru santun
disampaikan serta mencatat
rangkuman
5. Memberikan tugas 5. Mencatat tugas Menjadi
kepada siswa untuk pendengar
Penugasan
dikerjakan dirumah 3 yang baik
6. Menutup pembelajaran 6. Membalas salam dari
dan mengucapkan guru
salam penutup
78

Kegiatan Pembelajaran Kelas Kontrol

Kegiatan Pembelajaran Sumber Alokasi


Tahap Pembelajaran Metode Media
Guru Siswa Belajar Waktu
Kegiatan Pendahuluan 5. Mengucapkan salam 5. Menjawab salam dari 3
pembuka dan guru. Lingkungan
mengkondisikan
siswa

6. Mengarahkan 6. Memperhatikan dan 6


Fase 1 : Menyampaikan kegiatan belajar dan menyimak tujuan Ceramah
tujuan (termasuk memotivasi siswa pembelajarandari
kompetensi), serta dengan guru
mempersiapkan siswa menyampaikan
tujuan pembelajaran.
7. Menjelaskan proses 7. Menyimak proses 6
pembelajaran yang pembelajaran yang
harus dilakukan akan dilakukan
siswa dalam setia
proses
pembelajaran.
Kegiatan Inti 5. Menjelaskan materi 5. Menyimak Ceramah Power Kanginan, M., 25
Fase 2 : mengenai rangkaian penjelasan guru Demonstrasi Point (2007), Fisika
Mendemonstrasikan hambatan dan Hukum tentang materi arus untuk SMA Kelas
pengetahuan atau Kirchoff. listrik, beda potensial X,
keterampilan dan hukum ohm. Jakarta:Erlangga.

6. Memberikan 6. Mencatat dan 20


Fase 3 : Membimbing kesempatan kepada bertanya tentang
79

Kegiatan Pembelajaran Sumber Alokasi


Tahap Pembelajaran Metode Media
Guru Siswa Belajar Waktu
pelatihan siswa untuk mencatat materi yang telah
dan bertanya tentang disampaikan guru.
materi yang telah
disampaikan.
Fase 4 : Mengecek 7. Menyuruh siswa 25
pemahaman dan mengerjakan soal 7. Mengerjakan soal
memberikan umpan balik latihan. latihan. Pemberian
Tugas

Fase 5 : Memberikan 8. Membahas bersama 8. Mengikuti 25


kesempatan untuk soal latihan yang pembahasan yang
pelatihan lanjutan dan telah dikerjakan siswa dibimbing guru.
penerapan
Kegiatan Penutup 4. Membimbing siswa 4. Menyimpulkan Diskusi 15
untuk menyimpulkan materi
materi.
5. Memberikan
pekerjaan rumah 5. Mencatat tugas yang Pemberian
kepada siswa untuk diberikan guru Tugas
pedalaman materi.
6. Menyampaikan salam 6. Menjawab salam dari
penutup guru
80

J. PENILAIAN

1.Jenis Penilaian : Tulisan


2.Prosedur Penilaian : Penilaian Hasil
3.Instrumen : Tes Hasil Belajar
4.Bentuk Instrumen :Soal Uraian
Soal :
1. Prinsip susunan hambatan seri adalah..
2. Prinsip susunan hambatan paralel adalah..
3. Pada gambar rangkaian di bawah ini, gambar manakah lampu yang
menyala lebih terang

Kunci Jawaban :
1. Kuat arus melalui setiap hambatan sama
2. Tegangan melalui setiap hambatan sama
3. Pada gambar A, B, dan C tidak ada yang lebih terang tetapi nyala lampu
pada gambar A, B, dan C sama terang.


= 100

Arti tingkat penguasaan yang dicapai :


90 - 100 = baik sekali 60 - 69 = cukup
80 - 89 = baik 50 - 59 = kurang
70 - 79 = sedang
Medan, 2015
Mahasiswa Peneliti
Riris A Situmorang
NIM. 4113121055
81

Lampiran 3
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP-3)
Satuan Pendidikan : SMA
Mata Pelajaran : FISIKA
Materi Pokok : Listrik Dinamis
Sub Materi Pokok : 1. Energi listrik
2. Daya Listrik
Kelas/Semester : X/ II
Alokasi Waktu : 3 x 45 menit

A. Standar Kompetensi
Menerapkan konsep kelistrikan dalam berbagai penyelesaian masalah dan
berbagai produk teknologi.
B. Kompetensi Dasar
Meningkatkan keterampilan proses sains dalam melakukan percobaan
listrik dinamis melalui suatu rangkaian listrik tertutup sederhana (satu
loop) serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
C. Indikator
1. Mengidentifikasi penerapan energi dan daya listrik dalam kehidupan
sehari-hari.
D. Tujuan Pembelajaran
Setelah pembelajaran ini siswa diharapkan mampu:
1. Memahami hubungan antara energi dan daya listrik
2. Mengolah data mengenai energi listrik yang dibutuhkan alat listrik
rumah tangga

E. Materi Ajar
Daya Listrik
1. Pengertian Daya Listrik
82

Besar usaha atau energi listrik tiap satu satuan waktu disebut daya listrik.
Dirumuskan dengan:

= ==

Karena energi listrik dapat dinyatakan dengan persamaan W = V.I.t maka daya
listrik dapat dituliskan dalam bentuk persamaan lain yaitu:
. .
= = .

Karena V = I.R atau I = V/R maka;
2
= = 2

Dimana;
V = tegangan (V)
R = hambatan ()
F. Metode Pembelajaran
e. Kelas Eksperimen
Metode Pembelajaran : Ceramah, Tanya jawab, Diskusi, Latihan,
Pemberian tugas
Model Pembelajaran : inquiry training
f. Kelas Kontrol
Metode Pembelajaran : Ceramah, Tanya jawab, Latihan, Pemberian
tugas
Model Pembelajaran : konvensional(model pembelajaran langsung)
G. Sumber Belajar
1. Kanginan, M., (2007), Fisika untuk SMA Kelas X, Jakarta:Erlangga.
2. Lembar Kerja Siswa (LKS)
3. Lingkungan
H. Media/Alat/Bahan
a. Media : Power Point
b. Alat : Buku dan alat tulis
83

III. Kegiatan Pembelajaran Kelas Eksperimen

Tahap-tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Metode Media/ alat Sumber Waktu Karakter
pembelajaran / bahan yang di
harapkan
Pendahuluan
8. Mengucap salam 8. Menjawab salam dan Ceramah Kanginan, M., 3 Berperilaku
pembuka dan mendengarkan guru santun
(2007), Fisika
mengabsen
untuk SMA Kelas Berfikir
9. Memberikan apersepsi 9. Mendengarkan dan kreatif,
X, 2
Mengapa setrika listrik menjawab pertanyaan Tanya kritis, dan
ketika disambung ke guru. jawab Jakarta:Erlangga. logis
sumber arus dapat
menghasilkan panas
pada permukaan
setrika tersebut ?
Dapatkah kamu Berperilaku
memahami tegangan santun
yang tertera pada alat
listrik yang ada di
rumah kamu ?

10. Menyampaikan 10. Memperhatikan


tujuan pembelajaran. dan mendengarkan 2
dengan baik ceramah
Fase I Kegiatan inti Berperilaku
5. Menjelaskan prosedur- 5. Memahami prosedur santun
Menghadapkan
84

Tahap-tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Metode Media/ alat Sumber Waktu Karakter
pembelajaran / bahan yang di
harapkan
masalah prosedur inquiry inquiry training yang Ceramah 3
training kepada siswa. telah dijelaskan Berfikir
6. Mengorganisasikan kreatif,
siswa dalam kelompok 6. Membentuk kelompok kritis, dan
eksperimentasi dan masing-masing Ceramah 5 logis
membagikan LKS

Fase II 5. Membimbing siswa 5. Mengumpulkan Tanya Lampu 10 Berfikir


untuk mengumpulkan informasi yang jawab pijar kreatif,
Pengumpulan
data verifikasi informasi yang berhubungan dengan Baterai kritis, dan
berhubungan dengan permasalahan yang Kabel logis
permasalahan yang diajukan Multi
diajukan mengenai beda meter
potensial dan kuat arus
yang dapat dijawab Berfikir
dengan kata ya atau kreatif,
tidak 2
ceramah kritis, dan
6. Membimbing siswa 6. Memberikan jawaban logis
untuk membuat sementara (hipotesis)
jawaban sementara
(hipotesis)
Fase III 5. Mengarahkan siswa 5. Melakukan percobaan Eksperimen 10 Berperilaku
untuk mengetahui data santun
Pengambilan Diskusi
penelitian ketika diuji
data Berfikir
eksperimentsi coba dengan cara yang kreatif,
berbeda.
85

Tahap-tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Metode Media/ alat Sumber Waktu Karakter
pembelajaran / bahan yang di
harapkan
kritis, dan
6. Membimbing siswa 6. Mengambil data dan Eksperimen logis
15
mengamati perubahan mencatat data
yang terjadi selama Tanya
melakukan percobaan jawab
Fase IV 5. Membimbing siswa 5. Mengolah serta Diskusi LKS 15 Berfikir
untuk mengolah data menganalisis data hasil Tanya kreatif,
Mengolah dan
serta menganalisis data percobaan kritis, logis
merumuskan jawab
hasil percobaan dan dan teliti
penjelasan
menjawab pertanyaan
diskusi yang terdapat
dalam LKS Berfikir
6. Meriview serta 6. Menyimak dan Tanya 5 kreatif,
menganalisis hasil merespon kegiatan jawab kritis, dan
diskusi siswa melalui Tanya jawab. Diskusi logis
Tanya jawab
Fase V 3. Membimbing siswa 3. Mendengarkan dan ceramah lembar hasil 10 Jujur dan
menganalisis tahap- menyimak dengan kerja kelompok santun
Analisis proses
tahap inkuiri yang telah baik penjelasan guru
inkuiri Menjasi
dilaksanakan serta pendengar
menguatkan jawaban yang baik
siswa yang benar
mengenai beda
potensial dan kuat arus
Penutup
86

Tahap-tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Metode Media/ alat Sumber Waktu Karakter
pembelajaran / bahan yang di
harapkan
7. Menyimpulkan materi 7. Mendengarkan dan Ceramah 5 Berperilaku
pelajaran yang telah memperhatikan guru santun
disampaikan serta mencatat
rangkuman 45
8. Memberikan postes 8. Mengerjakan postes

9. Menutup pembelajaran 9. Membalas salam dari 3


dan mengucapkan guru
salam penutup

Kegiatan Pembelajaran Kelas Kontrol

Kegiatan Pembelajaran Sumber Alokasi


Tahap Pembelajaran Metode Media
Guru Siswa Belajar Waktu
Kegiatan Pendahuluan 8. Mengucapkan salam 8. Menjawab salam dari 3
pembuka dan guru. Lingkungan
mengkondisikan
siswa

Fase 1 : Menyampaikan 9. Mengarahkan 9. Memperhatikan dan


tujuan (termasuk kegiatan belajar dan menyimak tujuan Ceramah 6
kompetensi), serta memotivasi siswa pembelajarandari
mempersiapkan siswa dengan guru
menyampaikan
tujuan pembelajaran.
87

Kegiatan Pembelajaran Sumber Alokasi


Tahap Pembelajaran Metode Media
Guru Siswa Belajar Waktu
10. Menjelaskan proses 10. Menyimak proses 6
pembelajaran yang pembelajaran yang
harus dilakukan akan dilakukan
siswa dalam setia
proses
pembelajaran.
Kegiatan Inti 9. Menjelaskan materi 9. Menyimak Ceramah Power Kanginan, M., 15
Fase 2 : mengenai energi dan penjelasan guru Demonstrasi Point (2007), Fisika
Mendemonstrasikan daya listrik. tentang materi arus untuk SMA Kelas
pengetahuan atau listrik, beda potensial X,
keterampilan dan hukum ohm. Jakarta:Erlangga.

10. Mencatat dan 10


10. Memberikan
Fase 3 : Membimbing kesempatan kepada bertanya tentang
pelatihan siswa untuk mencatat materi yang telah
dan bertanya tentang disampaikan guru.
materi yang telah
disampaikan.
Fase 4 : Mengecek 15
11. Menyuruh siswa 11. Mengerjakan soal
pemahaman dan mengerjakan soal latihan.
memberikan umpan balik Pemberian
latihan.
Tugas

Fase 5 : Memberikan 10
kesempatan untuk 12. Membahas bersama 12. Mengikuti
pelatihan lanjutan dan soal latihan yang pembahasan yang
88

Kegiatan Pembelajaran Sumber Alokasi


Tahap Pembelajaran Metode Media
Guru Siswa Belajar Waktu
penerapan telah dikerjakan siswa dibimbing guru.

Kegiatan Penutup 7. Membimbing siswa 7. Menyimpulkan Diskusi 13


untuk menyimpulkan materi
materi.
8. Memberikan postes. 8. Mengerjakan postes 45

9. Menyampaikan salam 9. Menjawab salam dari 2


penutup guru
89

J. PENILAIAN

5. Jenis Penilaian : Tulisan


6. Prosedur Penilaian : Penilaian Hasil
7. Instrumen : Tes Hasil Belajar
8. Bentuk Instrumen :Soal Uraian

Soal :
1. Sebuah lampu memiliki spesifikasi 18 watt, 150 Volt. Lampu dipasang pada
tegangan 150 volt. Energi yang digunakan lampu selama pemakaian 12 jam
adalah sebesar
2. Sebuah alat pemanas air dengan daya P dipasang pada tegangan V memerlukan
waktu 10 menit untuk menaikkan suhu air dari 10 menjadi 50. Jika dua buah
pemanas yang sama disusun seri, maka waktu yang diperlukan untuk menaikkan
suhu air pada jumlah dan selisih suhu yang sama adalah

Kunci Jawaban :
1. Dik. P = 18 watt
V = 150 volt
t = 12 jam
Dit. W ?
Jwb. Energi yang digunakan lampu selama pemakaian 12 jam. Dari rumus
energi listrik jika telah diketahui dayanya (P) dan waktu (t)
W = Pt

W = 18 watt x 432000 s = 777600 joule = 777,6 kilojoule

5. Susunan Seri, daya total seperti contoh di atas akan menjadi 1/2 P, sehingga
waktu yang diperlukan menjadi dua kali lebih lama
t = t1 + t 2
t = 10 menit + 10 menit = 20 menit


= 100

90

Arti tingkat penguasaan yang dicapai :


90 - 100 = baik sekali
80 - 89 = baik
70 - 79 = sedang
60 - 69 = cukup
50 - 59 = kurang

Medan, 2015
Mahasiswa Peneliti

Riris A Situmorang
NIM.4113121055
91

Lampiran 4
Lembar Kerja Siswa (LKS - I)
Alat ukur dan Hukum Ohm
C. Standar Kompetensi
Menerapkan konsep kelistrikan dalam berbagai penyelesaian masalah dan
berbagai produk teknologi.
D. Kompetensi Dasar
Meningkatkan keterampilan proses sains dalam melakukan percobaan listrik
dinamis melalui suatu rangkaian listrik tertutup sederhana (satu loop) serta
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
C. Indikator
5. Merancang percobaan mengenai hubungan anatar kuat arus dengan beda
potensial (hukum ohm).
6. Mengumpulkan dan mengolah data melalui percobaan hukum ohm.
7. Mengidentifikasi penerapan hukum ohm dalam kehidupan sehari-hari.
8. Menggambarkan kesimpulan dari percobaan hukum ohm dalam bentuk
tabel dan grafik.
D. Tujuan Pembelajaran
Agar peserta didik mampu :
6. Mengklasifikasikan alat-alat ukur listrik sesuai dengan fungsinya melalui
percobaan hukum ohm.
7. Melaksanakan percobaan hukum ohm.
8. Merumuskan hipotesis melalui percobaan hukum Ohm
9. Memprediksi variabel yang mempengaruhi hukum Ohm
10. Menarik kesimpulan dari percobaan hukum ohm dalam bentuk tabel
maupun grafik.
E. Permasalahan
- Doni dan Dedi mendapat tugas dari sekolah untuk membawa senter
sebagai salah satu alat untuk praktikum listrik. Doni memiliki senter
dengan susunan dua baterai dan Dedi memiliki senter dengan sususan
tiga baterai. Saat dinyalakan lampu senter Dedi lebih terang dari lampu
92

senter Doni, padahal spesifikasi lampu yang mereka gunakan sama.


Bagaimana hal tersebut dapat terjadi ?
- Jika anda memperhatikan lampu yang memiliki spesifikasi 220 V/2A.
Lampu tersebut akan bekerja secara optimal dan tahan lama jika
dipasang pada tegangan 220 V dan kuat arus 2 A. Bagaimanakah nyala
lampu jika lampu tersebut dipasang pada tegangan yang lebih tinggi
atau yang lebih rendah (misalnya pada tegangan 440 V dan 110 V) ?
F. Alat dan bahan
1. 3 buah baterai 1,5 V
2. 3 buah lampu pijar
3. Kabel secukupnya
4. Multimeter
G. Rumusan Masalah
Untuk lebih mudah memahami masalah maka masalah dirumuskan
sebagai berikut:

H. Menentukan Hipotesis
Dari rumusan masalah yang anda buat, maka hipotesis percobaan adalah:

I. Prosedur Percobaan
1. Susunlah tiga macam rangkaian seperti gambar berikut
2. Catat kuat arus yang ditunjukkan oleh multimeter pada setiap
rangkaian (a), (b) dan (c)

J. Pola Hubungan antar Variabel


Catat hasil pengamatan hubungan V dan I
93

Beda Potensial (V) Kuat Arus (I) (ampere) V


(Volt) I

1,5

3,0

4,5

K. Buatlah kesimpulan dalam bentuk grafik hubungan antara V dan I

Lampiran 5
Lembar Kerja Siswa (LKS - II)
Rangkaian hambatan dan Hukum Kirchoff
H. Standar Kompetensi :
94

Menerapkan konsep kelistrikan dalam berbagai penyelesaian masalah dan


berbagai produk teknologi.

I. Kompetensi Dasar :
Meningkatkan keterampilan proses sains dalam melakukan percobaan
listrik dinamis melalui suatu rangkaian listrik tertutup sederhana (satu
loop) serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

J. Indikator
5. Merancang percobaan mengenai hukum kirchoff.
6. Mengumpulkan dan mengolah data melalui percobaan hukum kirchoff.
7. Menggambarkan kesimpulan dari percobaan hukum kirchoff dalam
bentuk tabel maupun grafik.
8. Mengidentifikasi penerapan rangkaian hambatan seri dan paralel dalam
kehidupan sehari-hari.

K. Tujuan Pembelajaran
Setelah pembelajaran ini siswa diharapkan mampu:
5. Melaksanakan percobaan hukum kirchoff dengan benar.
6. Mengolah data yang diperoleh melalui percobaan hukum kirchoff.
7. Membuat kesimpulan dari percobaan hukum kirchoff dalam bentuk
tabel maupun grafik
8. Memahami penerapan rangkaian hambatan dalam kehidupan sehari-
hari.
L. Permasalahan
- Pada saat belajar listrik di kelas IX, anda tentu sudah mengenal
rangkaian hambatan seri dan rangkaian hambatan paralel. Anda tentu
sudah mengetahui apa yang dimaksud dengan hambatan pengganti.
Jika anda melihat gambar rangkaian hambatan campuran seperti di
bawah ini, temukanlah minimal 2 cara untuk menentukan hambatan
pengganti, kuat arus yang mengalir R1, R2 ,R3 dan R4 serta beda
95

potensial hambatan R1, R2 ,R3 dan R4. Diskusikanlah dengan teman


satu kelompok anda.

Dimana R1= 10 , R2 = 15 , R3 = 30 , R4 = 5 dan = 24


- Apersepsi yang diberikan guru pada awal pembelajaran yaitu ketika
disajikan pipa Y dan dialiri air, jumlah air yang mengalir melalui pipa
akan sama jumlahnya dengan air yang keluar dari pipa Y tersebut.
Analogikanlah hal tersebut dalam percobaan yang akan kamu lakukan
untuk membuktikan hal tersebut juga berlaku pada rangkaian listrik.
Tentukanlah apakah jumlah arus listrik yang mengalir dalam rangkaian
listrik sama dengan jumlah kuat arus listrik yang keluar.
M. Rumusan Masalah
Untuk lebih mudah memahami masalah maka masalah dirumuskan
sebagai berikut:

N. Menentukan Hipotesis
Dari rumusan masalah yang anda buat, maka hipotesis percobaan adalah:

O. Alat dan bahan


96

a. Hukum Kirchoff
1. Baterai 2 buah
2. 3 buah bola lampu
3. Pegangan lampu

P. Prosedur Percobaan
1. Susunlah alat-alat seperti gambar di bawah ini:

2. Arus ditutup, aliran listrik akan terjadi ke semua cabang.


Pergunakanlah amperemeter untuk mengukur kuat arus berganti-
gantian yakni; di A, kemudian ukurlah berturut-turut antara P dan Q di
Lampu 1, di lampu 2, dan lampu 3. Setelah itu isilah di bawah ini:
Q. Pola Hubungan antar Variabel
Catat hasil pengamatan
di A di L1 di L2 di L3 di B
........A .....A .....A .....A .....A

R. Kesimpulan

Lampiran 6
Lembar Kerja Siswa (LKS - III)
Energi dan Daya Listrik
H. Standar Kompetensi
97

Menerapkan konsep kelistrikan dalam berbagai penyelesaian masalah dan


berbagai produk teknologi.
I. Kompetensi Dasar
Meningkatkan keterampilan proses sains dalam melakukan percobaan
listrik dinamis melalui suatu rangkaian listrik tertutup sederhana (satu
loop) serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
J. Indikator
2. Mengidentifikasi penerapan energi dan daya listrik dalam kehidupan
sehari-hari.
K. Tujuan Pembelajaran
Setelah pembelajaran ini siswa diharapkan mampu:
3. Memahami hubungan antara energi dan daya listrik
4. Mengolah data mengenai energi listrik yang dibutuhkan alat listrik
rumah tangga
L. Permasalahan
- Perpisahan untuk kakak kelas XII SMA Negeri 1 Girsang Sipangan
Bolon, seluruh siswa kelas X-4 mendapat tugas untuk menyiapkan
panggung hiburan. Budi salah satu siswa kelas X-4 mendapat tugas
untuk menyiapkan lampu dengan spesifikasi 40 W,220 V. Jika yang
tersedia tegangan listrik yaitu 110 V dan 440 V, menurut anda
manakah yang akan dipilih Budi untuk memasang lampu tersebut?
Berikan alasan anda.
_________________________________________________________
_________________________________________________________
________
- Anda pasti sering mendengar mengenai energi listrik saat ini semakin
meningkat karena peralatan rumah tangga dengan tenaga listrik
semakin bertambah. Contohnya mesin pendingin, AC, mesin cuci dan
sebagainya. Misalnya keluarga anda berlangganan listrik PLN sebesar
1300 Watt pada tegangan 220 Volt, dimana daya sebesar ini dapat
digunakan untuk menerangi rumah 300 watt selama 12 jam tiap
98

malam, menghidupkan TV 50 Watt selama 4 jam setiap hari, mesin


cuci 150 Watt selama 1 jam setiap harinya, mesin pendingin 100 watt
hidup selama 24 jam setiap harinya. Pajak listrik yang harus dibayar ke
PLN sebesar 300,- per kilowatt jam. Perkirakanlah berapa tagihan
listrik keluarga anda bulan depan.
_________________________________________________________
_________________________________________________________
________
99

Lampiran 7
Angket Siswa
Nama :
Sekolah :
Kelas :
Petunjuk :
a. Tuliskan nama anda di kolom yang telah disediakan
b. Bacalah pertanyaan dibawah ini dengan baik kemudian beri tanda silang
(x)
c. Jawablah dengan jujur

Proses belajar-mengajar
1. Apa mata pelajaran yang kamu sukai ?
a. Fisika
b. Kimia
c. Matematika
d. Lain-lain
(__________________________________________________)
2. Bagaimana pendapatmu tentang pelajaran fisika
a. Menyenangkan
b. Biasa aja
c. Kurang menyenangkan
d. Lain-lain
(__________________________________________________)
3. Tingkatan kesulitan dalam belajar fisika yang kamu alami
a. Sangat sulit
b. Sulit
c. Mudah
d. Lain-lain
(__________________________________________________)
4. Apakah kamu membaca buku fisika sebelum memulai pelajaran fisika
a. Selalu
b. Sering
c. Jarang
d. Lain-lain
(__________________________________________________)
5. Pada saat belajar fisika, bagian mana yang menurut kamu paling sulit
a. Rumus-rumus fisika
b. Materi fisika
c. Praktikum / eksperimen tentang materi fisika
100

d. Lain-lain
(__________________________________________________)
6. Bagaimana cara belajar fisika yang kamu inginkan ?
a. Banyak mengerjakan soal
b. Kerja kelompok yang dibimbing guru
c. Belajar sambil bermain dengan diberikan permasalahan fisika yang
berkaitan dengan kehidupan sehari-hari
d. Lain-lain
(__________________________________________________)
7. Bagaimanakah nilai fisika yang kamu terima :
a. Baik (85-100)
b. Cukup baik (75-84)
c. Buruk (50-74)
d. Lain-lain
(__________________________________________________)
8. Apakah kamu pernah bertanya saat tidak paham tentang materi fisika
a. Sering
b. Jarang
c. Tidak pernah
d. Lain-lain
(__________________________________________________)
9. Apakah kamu pernah melakukan praktikum di sekolah
a. Sering
b. Jarang
c. Tidak pernah
d. Lain-lain
(__________________________________________________)
10. Apakah kamu pernah menyelesaikan soal kedepan kelas
a. Sering
b. Jarang
c. Tidak pernah
d. Lain-lain
(__________________________________________________)

Medan, Februari 2015


Mahasiswa Peneliti

Riris A Situmorang
NIM. 4113121055
102

Lampiran 8
SOAL-SOAL DAN PENYELESAIAN
Mata pelajaran : Fisika
Materi Pokok : Listrik Dinamis
Kelas/ Semester : X / II
No Materi Komponen Indikator KPS Soal Kunci Jawaban Skor
(KPS)
1 Energi Mengamati Menggunakan Disediakan alat dan bahan seperti pada Jika ingin mengukur kuat arus 4
listrik indera untuk tabel dibawah ini : listrik, maka amperemeter harus
mengumpulkan disusun secara seri atau berurutan
informasi No Nama Alat dan Bahan Jumlah dengan komponen yang akan
mengenai cara 1. Lampu pijar 1 diukur kuat arusnya.
mengukur kuat 2. Baterai 1,5 V 1
arus listrik 3. Amperemeter 1 Jawaban : Gambar 2
4. Papan kayu 1
5. Kabel Secukupnya

Prosedur Kerja : Susunlah lampu pijar,


baterai, amperemeter dan kabel diatas papan
kayu seperti pada gambar dibawah ini.

(1) (2)
103

(3)
Amati dan jelaskanlah pada susunan nomor
berapa kuat arus listrik dapat terukur ?
2 Arus Mengajukan Mengajukan Joni dan Jeni mendapat tugas membawa Rumusan Masalah : 4
Listrik pertanyaan pertanyaan senter untuk praktikum di sekolahnya. Joni - Apakah ada perbedaan nyala
berdasarkan memiliki senter dengan susunan 2 buah batu lampu jika jumah baterai yang
hipotesis baterai sedangkan Jeni 3 buah batu baterai digunakan juga berbeda?
dengan spesifikasi kedua lampu sama. Ketika
- Berapa besar perbedaan arus
dinyalakan lampu Jeni lebih terang dari
lampu Joni. Berdasarkan pengamatan yang mengalir dalam rangkaian
mereka, Joni dan Jeni membuat hipotesis : senter Joni dan Jeni ?
bahwa semakin banyak baterai atau sumber
arus yang digunakan maka lampu akan
menyala semakin terang. Buatlah pertanyaan
dalam bentuk rumusan masalah dari
pengamatan diatas.

3 Hukum Merumuska Merumuskan Disediakan alat dan bahan seperti pada Hipotesis yang dapat dibuat adalah 4
Kirchoff n Hipotesis penjelasan tabel dibawah ini : :
hubungan - Jumlah arus dititik A sama
beberapa No Nama Alat dan Bahan Jumlah dengan dititik B
prinsip atau 1. Multimeter 1 - Jumlah arus yang mengalir
konsep 2 Baterai 2 pada titik L1,L2, dan L3 sama
berdasarkan 3 Penjepit Buaya Secukupnya dengan jumlah arus yang
pengamatan dan masuk pada titik A dan yang
104

pengalaman 4 Kabel penghubung Secukupnya keluar pada titik B


terdahulu 5 Lampu 3
Urutan langkah-langkah percobaan dalam
praktikum hukum 1 Kirchoff :
(1) Menyiapkan alat dan bahan yaitu :
baterai 2 buah, 3 buah bola lampu
dan pegangan lampu
(2) Menyusun alat dan bahan
berdasarkan gambar berikut

(3) Menggunakan amperemeter dalam


mengukur kuat arus listrik di titik A,
titik L1, titik L2, titik L3, dan di titik
B.
(4) Mencatat hasil percobaan dalam
bentuk tabel
Titik A L1 L2 L3 B
Nilai .
Kuat
arus

(5) Menarik kesimpulan dari hasil


percobaan
105

Berdasarkan percobaan hukum 1 kirchoff.


Kemukakanlah hipotesis anda pada
percobaan tersebut berdasarkan konsep
hukum kirchoff.
4 Rangkai Memprediksi Secara eksplisit Jika diberikan alat dan bahan seperti a) Tabel jawaban : 4
an menggunakan pada gambar tabel dibawah ini : Resistor Arus yang megalir
Hambata hubungan No Nama Alat dan Bahan Jumlah R I1 = V/R
n antara hambatan 1 Catu Daya 1 2R I2 = V/2R = I1
dan kuat arus 2 Amperemeter 1 3R I3 = V/3R = 1/3 I1
listrik dalam 3 Resistor 1
suatu rangkaian Kemudian dirangkai dalam sebuah rangkaian b) Kesimpulan :
untuk membuat seri, seperti gambar dibawah ini Semakin banyak resistor
prediksi
yang dirangkai secara seri
maka arus yang mengalir
dalam rangkaian akan
semakin kecil

a) Prediksikan apa yang terjadi dengan arus


sesaat yang mengalir dalam rangkaian,
jika resistor yang sama ditambahkan satu
persatu sebanyak 3 kali secara seri dalam
rangkaian. ( buatlah dalam tabel)
b) Buatlah kesimpulan yang diperoleh

5 Daya Menemukan Mengumpulkan Petir terjadi karena adanya perbedaan Umumnya petir terjadi ketika hujan 4
listrik pola dan dan membuat potensial antara awan dengan bumi sehingga karena air pada awan bersifat
hubungan kesimpulan adanya muatan listrik yang mengalir. sebagai konduktor, sehingga petir
pembayaran Jelaskanlah mengapa saat langit terlihat akan lebih mudah merambat ketika
106

listrik satu berawan tebal sebelum terjadi hujan dan saat terjadi hujan atau saat langit
bulan dengan terjadi hujan selalu disertai dengan adanya berawan tebal. Konduktor itu
pemakaian petir? sendiri berhubungan dengan sifat
empat macam hambatan pengahantar. Semakin
daya tinggi konduktivitasnya maka besar
hambatan itu semakin kecil,
sehingga arus lebih mudah
mengalir.
6 Hukum Berkomunik Mengolah data Perhatikan grafik berikut ini Nilai hambatan yang paling besar 4
Ohm asi secara dalam bentuk ditunjukkan oleh nomor 4, karena
efektif gambar, grafik makin kecil arus untuk suatu
maupun tabel
tegangan maka semakin besar
hambatan yang dihasilkan

Grafik diatas merupakan hasil percobaan


mengenai hukum ohm. Grafik tersebut
menunjukkan hubungan antara kuat arus,
tegangan dan hambatan listrik. Hambatan
listrik ditunjukkan pada nomor 1,2,3 dan 4.
Dari grafik tersebut tentukanlah nilai
hambatan yang paling besar.

7 Hukum Berkomunik Menentukan Perhatikan gambar dibawah ini! Hukum Kirchoff I : I = 0 4


Kirchoff asi secara nilai kuat arus I1 + I2 I3 + I4 = 0
efektif melalui gambar 5 A + 4 A 2 A + I4 = 0
rangkaian listrik I4 = -7A
4 cabang Sehingga besar I4 aalah 7 ampere,
dimana menjauh P
107

Suatu sistem ditunjukkan seperti pada


gambar diatas. Pada titik A dari suatu
rangkaian listrik terdapat 4 cabang, masing-
masing dengan arus I1 = 5 A, I2 = 4 A dan I3
= 2 A. jika arah masing-masing arus seperti
pada gambar diatas, maka berapakah besar
I4?
8 Alat Merancang Berhasil dalam Disediakan alat dan bahan seperti pada Gambar rangkaian 4
ukur percobaan membuat tabel dibawah ini :
listrik rangkaian No Nama Alat dan Bahan Jumlah
dengan 1 Baterai 1
menyediakan 2 Lampu Pijar 1
lampu, kabel 3 Multimeter 1
dan multimeter Gambarlah rangkaian secara sederhana
percobaan untuk mengukur kuat arus yang
mengalir dalam rangkaian tersebut.

9 Alat Melaksanak Melaksanakan Disediakan alat dan bahan seperti pada Langkah-langkah percobaan yang 4
Ukur an percobaan tabel dibawah ini : harus dilakukan adalah :
Listrik percobaan dengan No Nama Alat dan Bahan Jumlah 1. Merangkai alat seperti pada
prosedur yang 1 Baterai 1,5 volt 4 gambar atau skema yang
telah ditentukan 2 Amperemeter 1 disediakan diatas papan
3 Voltmeter 1 projectboard
4 Lampu 1 2. Mengamati dan mencata beda
potensial yang terukur oleh
Rangkailah seperti pada gambar dibawah voltmeter serta kaut arus
ini listrik yang terukur oleh
voltmeter
3. Mengulangi percobaan
dengan menambah jumlah
baterai
4. Mencatat hasil percobaan
108

kedalam tabel dan


menghitung besarnya
hambatan suatu penghantar

Tuliskanlah dengan kata-kata anda sendiri


langkah-langkah percobaan dalam mengukur
beda potensial listrik sesuai gambar diatas.
10 Arus Mengukur Menunjukkan Perhatikanlah gambar berikut ini a) Hasil pengamatan= 4
listrik dan akurasi dalam


menghitung memeriksa
pengukuran dan
menghitung
kuat arus listrik Hasil pengamatan = 4/10 x 5 = 2 A

b) Memperbesar hambatan dari


Julia mengukur kuat arus listrik yang 3 menjadi 6
melewati sebuah hambatan. Perhitungannya yaitu
a) Jika penunjukan posisi batas ukur dan I = V/R
jarumnya terlihat seperti pada I= 1,5 V/6
gambar. Berapa kuat arus listrik yang I = 0,25 A
terukur ?
b) Bagaimana caranya arus dalam
rangkaian tersebut diturunkan
menjadi 0,25 A,
102

Lampiran 9

INSTRUMEN TES KETERAMPILAN PROSES SAINS


Mata Pelajaran : Fisika
Kelas/Semester : X/II
Waktu : 45 Menit

TES KETERAMPILAN PROSES SAINS


1. Pada sebuah toko terdapat 5 jenis lampu dengan spesifikasi pada tabel dibawah ini

Lampu Daya Tegangan


1 5W 220 V
2 10 W 220 V
3 15 W 220 V
4 20 W 220 V
5 25 W 220 V
Ketika dirangkai secara paralel, lampu manakah yang akan menyala paling terang dan
ketika dirangkai secara seri, lampu manakah yang akan menyala paling terang ?
2. Joni dan Jeni mendapat tugas membawa senter untuk praktikum di sekolahnya. Joni
memiliki senter dengan susunan 2 buah batu baterai sedangkan Jeni 3 buah batu
baterai dengan spesifikasi kedua lampu sama. Ketika dinyalakan lampu Jeni lebih
terang dari lampu Joni. Berdasarkan pengamatan mereka, Joni dan Jeni membuat
hipotesis : bahwa semakin banyak baterai atau sumber arus yang digunakan maka
lampu akan menyala semakin terang. Buatlah pertanyaan dalam bentuk rumusan
masalah dari pengamatan diatas.
3. Berdasarkan percobaan hukum 1 kirchoff pada soal nomor 5. Kemukakanlah hipotesis
anda pada percobaan tersebut berdasarkan konsep hukum kirchoff.
4. Jika diberikan rangkaian sebuah catu daya, sebuah resistor dan sebuah amperemeter
dalam sebuah rangkaian seri, seperti gambar dibawah ini

a) Prediksikan apa yang terjadi dengan arus sesaat yang mengalir dalam rangkaian,
jika resistor yang sama ditambahkan satu persatu sebanyak 3 kali secara seri dalam
rangkaian. ( buatlah dalam tabel)
b) Buatlah kesimpulan yang diperoleh
5. Sebuah rumah memakai 5 lampu dengan daya masing-masing 60 Watt, kulkas 160
Watt, televisi 80 Watt, dan 3 lampu dengan daya 40 Watt. Semua alat listrik itu
menyala rata-rat 12 jam/hari. Jika harga sewa listrik Rp.250,- per kWh, maka berapa
biaya listrik dalam sebulan ?
6. Perhatikan grafik berikut ini
103

Grafik diatas merupakan hasil percobaan mengenai hukum ohm. Grafik tersebut
menunjukkan hubungan antara kuat arus, tegangan dan hambatan listrik. Hambatan
listrik ditunjukkan pada nomor 1,2,3 dan 4. Dari grafik tersebut tentukanlah nilai
hambatan yang paling besar.
7. Perhatikan gambar dibawah ini!

Suatu sistem ditunjukkan seperti pada gambar diatas. Pada titik A dari suatu
rangkaian listrik terdapat 4 cabang, masing-masing dengan arus I1 = 5 A, I2 = 4 A dan
I3 = 2 A. jika arah masing-masing arus seperti pada gambar diatas, maka berapakah
besar I4?
8. Disediakan sebuah baterai, sebuah lampu, kabel secukupnya dan multimeter sebagai
alat ukur kuat arus listrik. Gambarlah rangkaian secara sederhana percobaan untuk
mengukur kuat arus yang mengalir dalam rangkaian tersebut.

9. Berikut merupakan langkah-langkah percobaan dalam praktikum hukum 1 Kirchoff


yang disusun secara acak :
(1) Menyusun alat dan bahan berdasarkan gambar dibawah ini:

(2) Menyiapkan alat dan bahan yaitu : baterai 2 buah, 3 buah bola lampu dan
pegangan lampu.
(3) Mencatat hasil percobaan dalam bentuk tabel.

Titik A L1 L2 L3 B
Nilai .
Kuat
arus
104

(4) Menggunakan amperemeter dalam mengukur kuat arus listrik di titik A, titik L1,
titik L2, titik L3, dan di titik B.
(5) Menarik kesimpulan dari hasil percobaan.
Urutkanlah percobaan tersebut dengan benar dari awal percobaan hingga akhir.
10. Perhatikanlah gambar berikut ini

Julia mengukur kuat arus listrik yang melewati sebuah hambatan.


a) Jika penunjukan posisi batas ukur dan jarumnya terlihat seperti pada gambar.
Berapa kuat arus listrik yang terukur ?
b) Bagaimana caranya arus dalam rangkaian tersebut diturunkan menjadi 0,25 A, jika
lampu memiliki hambatan 3 A dan sumber sebesar 1,5 V?
112

Lampiran 10
REKAPITULASI HASIL BELAJAR
KELAS EKSPERIMEN
Data Pretes
Nomor Soal
No Nama Siswa Skor X X
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 Aan Jana 1 2 0 0 3 2 2 1 1 1 13 32.5 1056.25
2 Agrivina Manik 2 2 3 3 1 2 0 1 0 0 14 35 1225
3 Arthur Hutauruk 2 2 1 2 3 3 2 0 0 3 18 45 2025
4 Asmita Lusiana Sirait 0 2 2 0 2 1 1 4 2 0 14 35 1225
5 Asni Clorita Silalahi 1 0 2 2 3 2 1 0 1 2 14 35 1225
6 Doni Situmorang 3 3 1 2 0 2 3 3 3 1 21 52.5 2756.25
7 Eka Paramita Sinaga 2 2 1 2 3 2 2 4 0 0 18 45 2025
8 Fam Yudha H Tambunan 0 2 2 3 3 0 1 4 0 1 16 40 1600
9 Iin Rita Yessica Sirait 3 2 1 1 2 0 0 3 0 1 13 32.5 1056.25
10 Imanuel G. Sihombing 2 2 0 3 3 2 0 4 3 0 19 47.5 2256.25
11 Indah Ade Syahputri 3 2 2 0 1 4 0 4 2 0 18 45 2025
12 Intan Permatasari 1 2 1 1 3 3 1 4 4 0 20 50 2500
13 Iwan 2 2 3 3 2 1 1 3 0 0 17 42.5 1806.25
14 Jessi C Sirait 1 1 0 3 3 2 0 3 1 0 14 35 1225
15 Karto Sirait 2 2 3 3 1 2 2 1 0 0 16 40 1600
16 Kethrin Sitio 1 1 0 3 3 2 0 4 2 0 16 40 1600
17 Landro Sinaga 2 3 3 0 1 1 2 4 0 0 16 40 1600
18 Lauren 2 2 3 3 1 2 2 4 0 0 19 47.5 2256.25
19 Mentina Sirait 2 2 2 3 3 2 1 4 0 0 19 47.5 2256.25
20 Mikael Simatupang 2 1 0 3 3 2 0 3 1 1 16 40 1600
21 Nani Pratiwi Manurung 2 2 1 3 3 2 0 4 1 2 20 50 2500
22 Raissa Mranda A Situmorang 3 1 3 3 0 2 2 3 0 1 18 45 2025
23 Rentina Ambarita 2 2 1 1 0 0 2 4 1 2 15 37.5 1406.25
113

24 Ridwan Siallagan 2 2 2 1 1 2 3 2 2 2 19 47.5 2256.25


25 Ririn Rindani Sirait 1 2 2 3 3 3 1 4 2 0 21 52.5 2756.25
26 Risty Stevanista Sinaga 2 2 2 4 2 0 2 4 2 0 20 50 2500
27 Ronaldo Situmorang 3 2 1 3 3 2 1 1 1 1 18 45 2025
28 Sania Jelina Lazira 2 2 1 3 3 2 1 3 2 1 20 50 2500
29 Silvana D Simbolon 3 2 2 4 4 2 0 3 0 0 20 50 2500
30 Sinar Abdy Sirait 2 2 1 4 4 3 0 0 2 1 19 47.5 2256.25
Jumlah 56 56 46 69 67 55 33 86 33 20 521 1302.5 57643.8
MEAN 43.4
VARIANS 36.2
SIMPANGAN BAKU 6

Data Postes
Nomor Soal
No Nama Siswa Skor X X
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 Aan Jana 3 2 2 4 4 4 0 4 3 3 29 72.5 5256.25
2 Agrivina Manik 2 4 0 4 3 4 4 3 2 2 28 70 4900
3 Arthur Hutauruk 3 4 3 4 0 4 4 2 3 4 31 77.5 6006.25
4 Asmita Lusiana Sirait 2 4 4 3 3 2 3 4 4 2 31 77.5 6006.25
5 Asni Clorita Silalahi 3 2 3 4 4 3 3 4 1 4 31 77.5 6006.25
6 Doni Situmorang 3 3 3 4 3 4 3 4 0 2 29 72.5 5256.25
7 Eka Paramita Sinaga 2 4 3 3 3 4 1 4 3 4 31 77.5 6006.25
8 Fam Yudha H Tambunan 3 4 4 3 3 3 4 4 1 1 30 75 5625
9 Iin Rita Yessica Sirait 4 3 4 3 3 4 4 4 3 0 32 80 6400
10 Imanuel G. Sihombing 4 3 4 3 3 4 3 4 3 2 33 82.5 6806.25
11 Indah Ade Syahputri 4 4 3 4 3 2 3 4 2 0 29 72.5 5256.25
12 Intan Permatasari 4 4 4 4 3 1 4 4 0 4 32 80 6400
13 Iwan 4 3 3 3 3 3 3 4 2 3 31 77.5 6006.25
14 Jessi C Sirait 3 4 4 4 4 3 3 3 2 3 33 82.5 6806.25
114

15 Karto Sirait 2 43 3 4 3 3 0 2 2 26 65 4225


16 Kethrin Sitio 4 33 4 3 2 2 4 1 2 28 70 4900
17 Landro Sinaga 4 33 3 3 3 3 4 2 2 30 75 5625
18 Lauren 3 33 3 2 2 3 4 3 3 29 72.5 5256.25
19 Mentina Sirait 4 32 3 3 0 3 4 3 4 29 72.5 5256.25
20 Mikael Simatupang 3 34 3 3 3 0 3 2 3 27 67.5 4556.25
21 Nani Pratiwi Manurung 3 44 3 3 2 4 4 2 3 32 80 6400
22 Raissa Miranda Situmorang 4 33 3 2 4 4 4 4 3 34 85 7225
23 Rentina Ambarita 4 23 3 4 4 0 4 2 4 30 75 5625
24 Ridwan Siallagan 4 44 0 3 2 3 4 4 0 28 70 4900
25 Ririn Rindani Sirait 4 44 3 3 4 4 0 2 0 28 70 4900
26 Risty Stevanista Sinaga 4 22 4 2 4 2 4 3 4 31 77.5 6006.25
27 Ronaldo Situmorang 4 33 3 3 2 3 4 3 2 30 75 5625
28 Sania Jelina Lazira 4 34 3 3 2 3 4 4 0 30 75 5625
29 Silvana D Simbolon 4 34 4 3 3 0 4 0 3 28 70 4900
30 Sinar Abdy Sirait 4 23 3 4 4 0 4 4 4 32 80 6400
Jumlah 103 97
96 98 90 89 79 107 70 73 902 2255 170162.5
MEAN 75.167
VARIANS 22.8
SIMPANGAN BAKU 4.7

KELAS KONTROL
Data Pretes
No Nama Siswa Nomor Soal Skor X X2
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 Adi Putra Sinaga 3 0 0 1 1 2 2 4 1 2 16 40 1600
2 Adythia Ambarita 0 3 3 2 1 2 2 4 0 1 18 45 2025
115

3 Anggi Aritonang 3 0 1 1 0 3 1 4 0 0 13 32.5 1056.25


4 Anjelina Sialagan 3 3 2 3 1 3 2 4 1 0 22 55 3025
5 Aprialdi Silaen 2 3 2 2 1 3 2 3 1 0 19 47.5 2256.25
6 Arbi Sinaga 3 2 1 2 1 2 2 3 0 0 16 40 1600
7 Christina Sirait 3 0 1 1 3 1 2 3 1 0 15 37.5 1406.25
8 Cindy Sitanggang 1 1 2 2 2 2 2 4 2 0 18 45 2025
9 Delima Harianja 1 3 1 1 2 1 0 2 1 0 12 30 900
10 Dime Sari Sinaga 3 1 1 2 3 2 2 4 1 0 19 47.5 2256.25
11 Dosma Sinaga 0 2 2 2 1 1 3 4 1 1 17 42.5 1806.25
12 Elia Manik 3 2 1 2 2 2 0 1 1 1 15 37.5 1406.25
13 Grace Simanihuruk 2 2 3 2 2 2 2 3 0 1 19 47.5 2256.25
14 Hanna Rumapea 3 1 3 2 2 2 2 4 2 2 23 57.5 3306.25
15 Jenny Juleta Sinaga 3 1 1 2 0 2 1 0 0 1 11 27.5 756.25
16 Jepri Siagian 2 2 3 2 0 0 2 4 1 2 18 45 2025
17 Jerry Tambunan 0 3 1 2 2 3 2 1 2 2 18 45 2025
18 Juni Sirait 2 2 1 3 4 2 1 3 2 0 20 50 2500
19 Kristina Tamba 2 3 3 2 3 0 2 1 0 1 17 42.5 1806.25
20 Megawati Sirait 2 3 3 3 1 0 2 1 2 3 20 50 2500
21 Nurhayati Sidabutar 0 4 3 3 1 2 1 0 2 2 18 45 2025
22 Ratnawaty L Sirait 1 2 0 2 3 3 2 4 1 0 18 45 2025
23 Rendy Tambunan 3 2 0 2 1 2 3 0 3 3 19 47.5 2256.25
24 Richardo Siahaan 0 3 1 3 3 3 1 3 0 2 19 47.5 2256.25
25 Rina Sinaga 4 2 4 2 1 0 0 2 1 2 18 45 2025
26 Romulus Sinaga 1 1 2 3 2 2 2 0 0 3 16 40 1600
27 Sella Panggabean 3 1 3 1 3 2 1 4 0 2 20 50 2500
28 Sephia Malau 2 3 1 2 0 3 1 3 3 2 20 50 2500
29 Trimei Siregar 0 0 3 0 3 1 0 3 2 2 14 35 1225
30 Yos Sudarso Sinaga 0 1 2 0 3 2 0 1 3 0 12 30 900
JUMLAH 55 56 54 57 52 55 45 77 34 35 520 1300 57850
116

MEAN 43.3
VARIANS 52.2
SIMPANGAN BAKU 7.2

Data Postes
Nomor Soal
No Nama Siswa Skor X X
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 Adi Putra Sinaga 2 2 2 4 1 4 0 4 3 3 25 62.5 3906.25
2 Adythia Ambarita 2 4 0 4 1 4 4 3 1 2 25 62.5 3906.25
3 Anggi Aritonang 4 1 3 4 0 4 4 2 1 1 24 60 3600
4 Anjelina Sialagan 3 3 3 3 3 3 4 4 3 0 29 72.5 5256.25
5 Aprialdi Silaen 2 2 3 4 4 2 3 4 2 0 26 65 4225
6 Arbi Sinaga 3 2 3 2 3 4 2 4 0 0 23 57.5 3306.25
7 Christina Sirait 2 4 3 3 3 4 1 4 3 2 29 72.5 5256.25
8 Cindy Sitanggang 3 4 4 3 3 3 4 4 1 1 30 75 5625
9 Delima Harianja 1 4 0 3 3 3 3 1 3 2 23 57.5 3306.25
10 Dime Sari Sinaga 4 3 4 3 3 4 3 3 3 0 30 75 5625
11 Dosma Sinaga 3 2 3 4 4 4 3 4 2 0 29 72.5 5256.25
12 Elia Manik 4 4 0 4 3 2 3 4 0 4 28 70 4900
13 Grace Simanihuruk 4 3 3 3 3 3 3 3 2 3 30 75 5625
14 Hanna Rumapea 3 4 1 4 0 4 2 4 2 2 26 65 4225
15 Jenny Juleta Sinaga 0 4 2 3 2 4 4 3 2 2 26 65 4225
16 Jepri Siagian 4 3 3 4 3 0 4 3 0 0 24 60 3600
17 Jerry Tambunan 4 3 4 3 3 1 3 3 2 0 26 65 4225
18 Juni Sirait 2 3 3 3 3 0 2 4 3 3 26 65 4225
19 Kristina Tamba 4 3 4 3 0 0 2 3 3 4 26 65 4225
20 Megawati Sirait 3 3 2 3 4 3 3 4 2 3 30 75 5625
21 Nurhayati Sidabutar 4 4 4 3 4 2 3 4 2 0 30 75 5625
22 Ratnawaty L Sirait 2 3 3 3 0 4 3 3 4 3 28 70 4900
117

23 Rendy Tambunan 2 2 4 3 3 4 2 2 0 2 24 60 3600


24 Richardo Siahaan 2 1 2 0 4 2 4 2 4 0 21 52.5 2756.25
25 Rina Sinaga 0 4 2 3 3 4 3 2 2 0 23 57.5 3306.25
26 Romulus Sinaga 4 2 3 4 2 4 2 2 3 2 28 70 4900
27 Sella Panggabean 4 2 4 3 3 2 3 3 3 2 29 72.5 5256.25
28 Sephia Malau 2 3 3 3 3 2 3 3 1 0 23 57.5 3306.25
29 Trimei Siregar 1 3 3 4 3 3 0 3 0 3 23 57.5 3306.25
30 Yos Sudarso Sinaga 2 3 3 4 0 0 0 4 3 3 22 55 3025
JUMLAH 80 88 81 97 74 83 80 96 60 47 786 1965 130125
MEAN 65.5
VARIANS 48.8
SIMPANGAN BAKU 6.9
126

Lampiran 11
Data Pretes dan Postes Kelas Eksperimen

Pretes Postes
No Nama Siswa X1 X 12 X2 X22
1 Aan Jana 32.5 1056.25 72.5 5256.25
2 Agrivina Manik 35 1225 70 4900
3 Arthur Hutauruk 45 2025 77.5 6006.25
4 Asmita Lusiana Sirait 35 1225 77.5 6006.25
5 Asni Clorita Silalahi 35 1225 77.5 6006.25
6 Doni Situmorang 52.5 2756.25 72.5 5256.25
7 Eka Paramita Sinaga 45 2025 77.5 6006.25
8 Fam Yudha H Tambunan 40 1600 75 5625
9 Iin Rita Yessica Sirait 32.5 1056.25 80 6400
10 Imanuel G. Sihombing 47.5 2256.25 82.5 6806.25
11 Indah Ade Syahputri 45 2025 72.5 5256.25
12 Intan Permatasari 50 2500 80 6400
13 Iwan 42.5 1806.25 77.5 6006.25
14 Jessi C Sirait 35 1225 82.5 6806.25
15 Karto Sirait 40 1600 65 4225
16 Kethrin Sitio 40 1600 70 4900
17 Landro Sinaga 40 1600 75 5625
18 Lauren 47.5 2256.25 72.5 5256.25
19 Mentina Sirait 47.5 2256.25 72.5 5256.25
20 Mikael Simatupang 40 1600 67.5 4556.25
21 Nani Pratiwi Manurung 50 2500 80 6400
22 Raissa Mranda A Situmorang 45 2025 85 7225
23 Rentina Ambarita 37.5 1406.25 75 5625
24 Ridwan Siallagan 47.5 2256.25 70 4900
25 Ririn Rindani Sirait 52.5 2756.25 70 4900
26 Risty Stevanista Sinaga 50 2500 77.5 6006.25
27 Ronaldo Situmorang 45 2025 75 5625
28 Sania Jelina Lazira 50 2500 75 5625
29 Silvana D Simbolon 50 2500 70 4900
30 Sinar Abdy Sirait 47.5 2256.25 80 6400
Rata-rata 43,4 75,1
Standar deviasi 6 4,7
Varians 36,2 22,8
127

Lampiran 12
Data Pretes dan Postes Kelas Kontrol

Pretes Postes
No Nama Siswa X1 X 12 X2 X22
1 Adi Putra Sinaga 40 1600 62.5 3906.25
2 Adythia Ambarita 45 2025 62.5 3906.25
3 Anggi Aritonang 32.5 1056.25 60 3600
4 Anjelina Sialagan 55 3025 72.5 5256.25
5 Aprialdi Silaen 47.5 2256.25 65 4225
6 Arbi Sinaga 40 1600 57.5 3306.25
7 Christina Sirait 37.5 1406.25 72.5 5256.25
8 Cindy Sitanggang 45 2025 75 5625
9 Delima Harianja 30 900 57.5 3306.25
10 Dime Sari Sinaga 47.5 2256.25 75 5625
11 Dosma Sinaga 42.5 1806.25 72.5 5256.25
12 Elia Manik 37.5 1406.25 70 4900
13 Grace Simanihuruk 47.5 2256.25 75 5625
14 Hanna Rumapea 57.5 3306.25 65 4225
15 Jenny Juleta Sinaga 27.5 756.25 65 4225
16 Jepri Siagian 45 2025 60 3600
17 Jerry Tambunan 45 2025 65 4225
18 Juni Sirait 50 2500 65 4225
19 Kristina Tamba 42.5 1806.25 65 4225
20 Megawati Sirait 50 2500 75 5625
21 Nurhayati Sidabutar 45 2025 75 5625
22 Ratnawaty L Sirait 45 2025 70 4900
23 Rendy Tambunan 47.5 2256.25 60 3600
24 Richardo Siahaan 47.5 2256.25 52.5 2756.25
25 Rina Sinaga 45 2025 57.5 3306.25
26 Romulus Sinaga 40 1600 70 4900
27 Sella Panggabean 50 2500 72.5 5256.25
28 Sephia Malau 50 2500 57.5 3306.25
29 Trimei Siregar 35 1225 57.5 3306.25
30 Yos Sudarso Sinaga 30 900 55 3025
Rata-rata 43,3 65,5
Standar deviasi 7,2 6,9
Varians 52,2 48,8
128

Lampiran 13
Perhitungan Rata-rata, Varians dan Standar Deviasi
1. Data Hasil Belajar Siswa Kelas Eksperimen

A. Pretes

X = 1303 X2 = 57644 N = 30
o Rata rata

__
X =
X i = 1303 = 43,4
N 30
o Standar Deviasi

N ( X 2 ) ( X ) 2
Sx =
N ( N 1)

30(57644) (1303) 2
Sx =
30(30 1)

31511
Sx =
870

Sx = 36,2
Sx =6
o Varians

S2 = 36,2
B. Postes

X = 2255 X2 = 170162,5 N = 30
o Rata-rata

__
X =
Xi = 2255
= 75,25
N 30

o Standard Deviasi
129

N ( X 2 ) ( X ) 2
o Sx =
N ( N 1)

30(170162,5) (2255) 2
Sx =
30(30 1)

19850
Sx =
870

Sx = 22,8
Sx = 4,7
o Varians

S2 = 22,8
2. Data Hasil Belajar Siswa Kelas Kontrol

A. Pretes

X = 1300 X2 = 57850 N = 30
o Rata rata

__
X =
X i = 1300 = 43,33
N 30
o Standar Deviasi

N ( X 2 ) ( X ) 2
Sx =
N ( N 1)

30(57850) (1300) 2
Sx =
30(30 1)

45500
Sx =
870

Sx = 52,29 = 7,2
o Varians

S2 = 52,29
B. Postes
130

X = 1965 X2 = 130125 N = 30
o Rata rata

__
X =
X i = 1965 = 65,5
N 30
o Standar Deviasi

N ( X 2 ) ( X ) 2
Sx =
N ( N 1)

30(130125) (1965) 2
Sx =
30(30 1)

42525
Sx =
870

Sx = 48,87
Sx = 6,9
o Varians

S2 = 48,87
131

Lampiran 14
Uji Normalitas
Pretes
A. Kelas Eksperimen
Ltabel dengan taraf = 0,05 adalah sebesar 0,161
No Xi Fi Fkum Zi F(Zi) S(Zi) | F(Zi) - S(Zi) |
1 32,5 2 2 -1,82 0,0344 0,0667 0,0323
2 35 4 6 -1,40 0,0808 0,2 0,1192
3 37,5 1 7 -0,98 0,1635 0,2333 0,0698
4 40 5 12 -0,57 0,2843 0,4 0,1157
5 42,5 1 13 -0,15 0,4404 0,4333 0,0071
6 45 5 18 0,27 0,6064 0,6 0,0064
7 47,5 5 23 0,68 0,7518 0,7667 0,0149
8 50 5 28 1,10 0,8642 0,9333 0,0691
9 52,5 2 30 1,52 0,9357 1 0,0643
__
X = 43,4 ; SD = 6 ; Lo = 0,1192
Kesimpulan : Lo < Lt yaitu 0,1192<0,161 Maka pretes kelas
eksperimen berdistribusi normal

B. Kelas Kontrol
Ltabel dengan taraf = 0,05 adalah sebesar Lt = 0,161
No Xi Fi Fkum Zi F(Zi) S(Zi) | F(Zi) - S(Zi) |
1 27,5 1 1 -2,20 0,0139 0,0333 0.0194
2 30 2 3 -1,85 0,0322 0,1 0.0678
3 32,5 1 4 -1,50 0,0668 0,1333 0.0665
4 35 1 5 -1,16 0,1230 0,1667 0.0437
5 37,5 2 7 -0,81 0,2090 0,2333 0.0243
6 40 3 10 -0,46 0,3228 0,3333 0.0105
7 42,5 2 12 -0,12 0,4522 0,4 0.0522
8 45 7 19 0,23 0,5910 0,6333 0.0423
9 47,5 5 24 0,58 0,7190 0,8 0.0810
132

10 50 4 28 0,93 0,8238 0,9333 0.1095


11 55 1 29 1,62 0,9474 0,9667 0.0193
12 57,5 1 30 1,97 0,9756 1 0.0244
__
X = 43,33 ; SD = 7,2 ; Lo = 0,1095
Kesimpulan : Lo < Lt yaitu 0,1095<0,161 Maka pretes kelas
kontrol berdistribusi normal

Postes
A. Kelas Eksperimen
Ltabel dengan taraf = 0,05 adalah sebesar 0,161

No Xi Fi Fkum Zi F(Zi) S(Zi) | F(Zi) - S(Zi) |


1 65 1 1 -2,15 0,0158 0,0333 -0,0175
2 67,5 1 2 -1,62 0,0526 0,0667 -0,0141
3 70 5 7 -1,09 0,1379 0,2333 -0,0954
4 72,5 5 12 -0,55 0,2912 0,4 -0,1088
5 75 5 17 -0,02 0,4920 0,5667 -0,0747
6 77,5 6 23 0,51 0,6950 0,7667 -0,0717
7 80 4 27 1,04 0,8508 0,9 -0,492
8 82,5 2 29 1,57 0,9418 0,9667 -0,0249
9 85 1 30 2,11 0,9826 1 -0,0174
__
X = 75,1 ; SD = 4,7 ; Lo = 0,1088
Kesimpulan : Lo < Lt yaitu 0,1088<0,161 Maka postes kelas
eksperimen berdistribusi normal

B. Kelas Kontrol
Ltabel dengan taraf = 0,05 adalah sebesar 0,161
133

No Xi Fi Fkum Zi F(Zi) S(Zi) | F(Zi) - S(Zi) |


1 52,5 1 1 -1,88 0,0301 0,0333 -0,0032
2 55 1 2 -1,52 0,0643 0,0667 -0,0024
3 57,5 5 7 -1,16 0,1230 0,2333 -0,1103
4 60 3 10 -0,80 0,2119 0,3333 -0,1214
5 62,5 2 12 -0,43 0,3336 0,4 -0,0664
6 65 6 18 -0,07 0,4721 0,6 -0,1279
7 70 3 21 0,65 0,7422 0,7 0,0422
8 72,5 4 25 1,01 0,8348 0,8333 0,0105
9 75 5 30 1,38 0,9147 1 -0,0853
__
X = 65,5 ; SD = 6,9 ; Lo = 0,1279
Kesimpulan : Lo < Lt yaitu 0,1279<0,161 Maka postes kelas
kontrol berdistribusi normal
134

Lampiran 15
UJI HOMOGENITAS

Untuk mengetahui apakah data dari kedua kelompok mempunyai varians


yang homogen atau tidak, maka dilakukan uji kesamaan dua varians dengan
rumus:

Fhitung =

1. Homogenitas Data Pretes


Dari analisis data kelompok eksperimen dan keas kontrol diperoleh:
Varians data pretes kelas eksperimen : S2 = 36,2
Varians data pretes kelas Kontrol : S2 = 52,2
n : 30
Maka:

Fhitung =

52,2
=
36,2
= 1,44
Dari daftar distribusi F, nilai Ftabel untuk = 0,05, dengan dk penyebut (n-1) = 29
dan dk pembilang (n-1) = 29 tidak diketahui, maka nilai Ftabel diperoleh dengan
interpolasi sebagai berikut:
Harga Ftabel :
= 0,05
dk pembilang = (30 1) = 29 (dk berada di antara 24 dan 30)
dk penyebut = (30 1) = 29
135

F0, 05)( 24, 29) 1,90


F0, 05( 30, 29) 1,85
Maka :
29 24
Ftabel F0, 05( 24, 29) ( F0, 05(30,30) F0, 05( 24 29) )
29 30
1,90 (5)(1,85 1,90)
1,90 (5)( 0,05)
1,90 0,25
Ftabel 2,15

Dari hasil di atas diperoleh bahwa untuk Fhitung = 1,44 dan Ftabel = 2,15.
Karena Fhitung < F tabel (1,44 < 2,15) maka dapat disimpulkan bahwa data
pretes dari kedua kelas tersebut memiliki varian yang seragam (homogen).
112

2. Homogenitas Data Postes


Dari analisis data kelompok eksperimen dan keas kontrol diperoleh:
Varians data postes kelas eksperimen : S2 = 22,8
Varians data postes kelas Kontrol : S2 = 48,8
Maka:

Fhitung =

48,8
=
22,8
= 2,14
Dari daftar distribusi F, nilai Ftabel untuk = 0,05, dengan dk penyebut (n-1) = 29 dan dk
pembilang (n-1) = 29 tidak diketahui, maka nilai Ftabel diperoleh dengan interpolasi sebagai
berikut:
Harga Ftabel :
= 0,05
dk pembilang = (30 1) = 29 (dk berada di antara 24 dan 30)
dk penyebut = (30 1) = 29
F0, 05)( 24, 29) 1,90
F0, 05( 30, 29) 1,85
Maka :
29 24
Ftabel F0, 05( 24, 29) ( F0, 05( 30,30) F0, 05( 24 29)
29 30
5
1,90 ( )(1,85 1,90)
1
1,90 (5)( 0,05)
1,90 0,25
Ftabel 2,15
Dari hasil di atas diperoleh bahwa untuk Fhitung = 2,14 dan Ftabel = 2,15. Karena Fhitung <
F tabel (2,14 < 2,15) maka dapat disimpulkan bahwa data postes dari kedua kelas tersebut
memiliki varian yang seragam (homogen).
113

Lampiran 16
PENGUJIAN HIPOTESIS
Dalam pengujian hipotesis digunakan uji t dengan rumus :
X1 X 2
t
1 1
S
n1 n2

Dengan S adalah varians gabungan yang dihitung dengan rumus :

S2
n1 1S1 2 n2 1S 2 2
n1 n2 2

1. Untuk Nilai Pretes


Dalam menguji kemampuan awal siswa digunakan uji-t dua pihak, dengan hipotesis
sebagai berikut :

H0 : X 1 X 2

Ha : X 1 X 2

Keterangan : X 1 X 2 : Tidak ada perbedaan akibat pengaruh model pembelajaran inquiry


training terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok listrik dinamis.
X 1 X 2 : Ada perbedaan akibat pengaruh model pembelajaran inquiry training
terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok listrik dinamis.
Dari lampiran 12 diperoleh :

Kelas eksperimen : X 1 = 43,4 ; S1 36,2 ; n1 = 30


2

: X 2 = 43,3 ; S 2 52,2 ; n 2 = 30
2
Kelas kontrol
Dengan ;
n1 1S1 2 n2 1S 2 2
S2
n1 n2 2
(30 1)36,2 (30 1)52,2
S2
30 30 2
S 44,2
2

S 6,6
114

X1 X 2
Maka : t
1 1
S
n1 n2

43,4 43,3
t
1 1
6,6
30 30
0,1
t
1,7
t 0,06

Dari daftar distribusi t untuk = 0,05 dan dk = 30 + 30 -2 = 58 berada diantara dk = 40 dan dk =


60, maka ttabel dihitung dengan interpolasi linear yaitu :
- Untuk dk = 40 dan = 0,05 didapat t(1-1/2) = t(0,975) = 2,021
- Untuk dk = 60 dan = 0,05 didapat t(1-1/2) = t(0,975) = 2,000
Maka :
58 40
ttabel (0,05) (58) = 2,021 (2,000 2,021)
60 40
= 2,02 + 0,9 (-0,02)
= 2,02 0,018
= 2,002
Dengan membandingkan antara thitung dan ttabel maka thitung < ttabel yaitu 0,06 < 2,002 , sehingga
dapat diperoleh kesimpulan bahwa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol mempunyai
kemampuan awal yang sama.

2. Untuk Nilai Postes


Dalam menguji hipotesis digunakan rumus uji-t satu pihak. Uji t satu pihak digunakan
untuk mengetahui pengaruh dari suatu perlakuan yaitu model pembelajaran inquiry training
terhadap hasil belajar siswa. Hipotesis yang diuji berbentuk :

H0 : X 1 X 2

Ha : X 1 X 2
115

Keterangan : X 1 X 2 : Tidak ada perbedaan akibat pengaruh model pembelajaran inquiry


training terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok listrik dinamis.
X 1 X 2 : Ada perbedaan akibat pengaruh model pembelajaran inquiry training
terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok listrik dinamis.
Dari lampiran 12 diperoleh :

Kelas eksperimen : X 1 = 75,1 ; S1 22,8 ; n1 = 30


2

: X 2 = 65,5 ; S 2 48,8 ; n 2 = 30
2
Kelas kontrol
Dengan ;
n1 1S1 2 n2 1S 2 2
S2
n1 n2 2
(30 1)22,8 (30 1)48,8
S2
30 30 2
S 35,8
2

S 5,9

X1 X 2
Maka : t
1 1
S
n1 n2

75,1 65,5
t
1 1
5,9
30 30
9,6
t
1,52279
t 6,3
Harga ttabel :
= 0,05
dk = n1 + n2 2
= 30 + 30 2
= 58
Karena harga t (0,05) untuk dk = 58 berada diantara dk = 40 dan dk = 60, aka ttabel dihitung
dengan interpolasi linear yaitu :
- Untuk dk = 40 dan = 0,05 didapat t(1-) = t(0,95) = 1,684
116

- Untuk dk = 60 dan = 0,05 didapat t(1-) = t(0,95) = 1,671

58 40
t tabel 1,684 1,671 1,684
60 40
t tabel 1,684 0,011
t tabel 0,673
Berdasarkan data dari hasil penelitian postes kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan
thitung = 6,3 dan ttabel = 0,673. Dan berdasarkan kriteria pengujian hipotesis sebagaimana
dijelaskan pada bab III bahwa jika thitung < ttabel maka Ho diterima, dan jika thitung > ttabel maka Ha
diterima. Sehingga dapat disimpulkan thitung > ttabel atau 6,3 > 0,673 maka ada pengaruh model
pembelajaran inquiry training terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok listrik dinamis
pada kelas eksperimen.
117

Lampiran 17
Tabel Spesifikasi Tes
A. Tabel Komponen Keterampilan Proses Sains

No Komponen KPS Keterangan


1 KPS 1 Mengamati (P1)
2 KPS 2 Mengajukan pertanyaan
3 KPS 3 Merumuskan hipotesis
4 KPS 4 Memprediksi
5 KPS 5 Menemukan pola dan hubungan
6 KPS 6 Berkomunikasi secara efektif
7 KPS 7 Merancang percobaan
8 KPS 8 Melaksanakan percobaan
9 KPS 9 Mengukur dan menghitung

B. Tabel Kisi-Kisi Soal Keterampilan Proses Sains

Materi pokok Aspek Keterampilan Proses Sains Jumlah


KPS KPS KPS KPS KPS KPS KPS KPS KPS Soal
1 2 3 4 5 6 7 8 9
Alat Ukur Listrik 8 1
Arus Listrik 2 10 2
Hukum Ohm 6 1
Hukum Kirchoff 3 7 9 3
Rangkaian Hambatan 4 1
Energi Listrik 1 1
Daya Listrik 5 1
Jumlah Soal 1 1 1 1 1 2 1 1 1 10

C. Tabel Jumlah Skor Siswa Pada Saat Pretes

Kelas Eksperimen
No Soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Skor Yang
56 56 46 69 67 55 33 86 33 20
Didapat

Kelas Kontrol
No Soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Skor Yang 55 56 54 57 52 55 45 77 34 35
Didapat
118

Dari tabel diatas dapat diambil skor siswa yang didapat pada kategori KPS 1 ( Memahami )
Nomor Soal Eksperimen Kontrol
1 56 55
Rata-Rata 56 55

Skor siswa yang didapat pada kategori KPS 2 ( Mengajukan Pertanyaan )


Nomor Soal Eksperimen Kontrol
2 56 56
Rata-Rata 56 56

Skor siswa yang didapat pada kategori KPS 3 ( Merumuskan Hipotesis )


Nomor Soal Eksperimen Kontrol
3 46 54
Rata-Rata 46 54

Skor siswa yang didapat pada kategori KPS 4 ( Memprediksi )


Nomor Soal Eksperimen Kontrol
4 69 57
Rata-Rata 69 57

Skor siswa yang didapat pada kategori KPS 5 ( Menemukan Pola dan Hubungan )
Nomor Soal Eksperimen Kontrol
5 67 52
Rata-Rata 67 52

Skor siswa yang didapat pada kategori KPS 6 ( Berkomunikasi Secara Efektif )
Nomor Soal Eksperimen Kontrol
6 55 33
7 55 45
Rata-Rata 55 39

Skor siswa yang didapat pada kategori KPS 7 ( Merancang Percobaan )


Nomor Soal Eksperimen Kontrol
8 86 77
Rata-Rata 86 77

Skor siswa yang didapat pada kategori KPS 8 ( Meaksanakan Percobaan )


Nomor Soal Eksperimen Kontrol
9 33 34
Rata-Rata 33 34

Skor siswa yang didapat pada kategori KPS 9 ( Mengukur dan Menghitung )
Nomor Soal Eksperimen Kontrol
10 20 35
119

Rata-Rata 20 35

Dari data diatas dapat diperoleh rata-rata kemampuan awal siswa dilihat dari skor total siswa
berdasarkan kategori keterampilan proses sains
Kategori Kelas
Eksperimen Kontrol
KPS 1 56 55
KPS 2 56 56
KPS 3 46 54
KPS 4 69 57
KPS 5 67 52
KPS 6 55 39
KPS 7 86 77
KPS 8 33 34
KPS 9 20 35

D. Tabel Jumlah Skor Siswa Pada Saat Pretes

Kelas Eksperimen
No Soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Skor Yang
Didapat 103 97 96 98 90 89 83 103 70 73

Kelas Kontrol
No Soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Skor Yang
Didapat 80 88 81 97 74 83 80 96 60 47

Dari tabel diatas dapat diambil skor siswa yang didapat pada kategori KPS 1 ( Memahami )
Nomor Soal Eksperimen Kontrol
1 103 80
Rata-Rata 103 80

Skor siswa yang didapat pada kategori KPS 2 ( Mengajukan Pertanyaan )


Nomor Soal Eksperimen Kontrol
2 97 88
Rata-Rata 97 88

Skor siswa yang didapat pada kategori KPS 3 ( Merumuskan Hipotesis )


Nomor Soal Eksperimen Kontrol
3 96 81
Rata-Rata 96 81

Skor siswa yang didapat pada kategori KPS 4 ( Memprediksi )


Nomor Soal Eksperimen Kontrol
120

4 98 97
Rata-Rata 98 97

Skor siswa yang didapat pada kategori KPS 5 ( Menemukan Pola dan Hubungan )
Nomor Soal Eksperimen Kontrol
5 90 74
Rata-Rata 90 74

Skor siswa yang didapat pada kategori KPS 6 ( Berkomunikasi Secara Efektif )
Nomor Soal Eksperimen Kontrol
6 89 83
7 83 80
Rata-Rata 86 81,5

Skor siswa yang didapat pada kategori KPS 7 ( Merancang Percobaan )


Nomor Soal Eksperimen Kontrol
8 103 96
Rata-Rata 103 96

Skor siswa yang didapat pada kategori KPS 8 ( Meaksanakan Percobaan )


Nomor Soal Eksperimen Kontrol
9 70 60
Rata-Rata 70 60

Skor siswa yang didapat pada kategori KPS 9 ( Mengukur dan Menghitung )
Nomor Soal Eksperimen Kontrol
10 73 47
Rata-Rata 73 47

Dari data diatas dapat diperoleh rata-rata kemampuan awal siswa dilihat dari skor total siswa
berdasarkan kategori keterampilan proses sains
Kategori Kelas
Eksperimen Kontrol
KPS 1 103 80
KPS 2 97 83
KPS 3 96 81
KPS 4 98 97
KPS 5 90 74
KPS 6 86 81,5
KPS 7 103 96
KPS 8 70 60
KPS 9 73 47
121

Lampiran 18
NILAI KRITIS UNTUK UJI LILLIEFORS
Ukuran Taraf Nyata ( )
Sampel 0.01 0.05 0.10 0.15 0.20
0.417 0.381 0.352 0.319 0.300
n= 4 0.405 0.337 0.315 0.299 0.285
5 0.364 0.319 0.294 0.277 0.265
6 0.348 0.300 0.276 0.258 0.247
7 0.331 0.285 0.261 0.244 0.233
8 0.311 0.271 0.249 0.233 0.223
9 0.294 0.258 0.239 0.224 0.215
10 0.284 0.249 0.230 0.217 0.206
11 0.275 0.242 0.223 0.212 0.199
12 0.268 0.234 0.214 0.202 0.190
13 0.261 0.227 0.207 0.194 0.183
14 0.257 0.220 0.201 0.187 0.177
15 0.250 0.213 0.195 0.182 0.173
16 0.245 0.206 0.289 0.177 0.169
17 0.239 0.200 0.184 0.173 0.166
18 0.235 0.195 0.179 0.169 0.163
19 0.231 0.190 0.174 0.166 0.160
20 0.200 0.173 0.158 0.147 0.142
25 0.187 0.161 0.144 0.136 0.131
30 1.031 0.886 0.805 0.768 0.736
n > 30
n n n n n

Sumber: Sudjana, (2005), Metoda Statistika, Bandung : Tarsito


122

Lampiran 19
Tabel Wilayah Luas di Bawah Kurva Normal 0 ke z

Sumber: Sudjana, (2005), Metoda Statistika, Bandung : Tarsito


140

Lampiran 20

NILAI-NILAI DISTRIBUSI F
(Baris Atas Untuk = 0,05 Dan Baris Bawah Untuk = 0,01)
v2 = dk v1 = dk pembilang
Penyebut
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 14 16 20 24 30 40 50 75 100 200 500 00
1 181 200 2,16 225 230 234 237 239 241 242 243 244 246 245 248 249 250 251 252 253 253 254 254 254
4.052 4999 5403 5625 5764 5859 5928 5981 6022 6022 6082 6106 6142 6169 6208 6234 6258 6286 6302 6323 6334 6352 6361 6366
2 18,51 19,00 19,16 19,25 19,30 19,33 19,36 19,37 19,38 19,39 19,40 19,41 19,42 19,43 19,44 19,45 19,46 19,47 19,47 19,48 19,49 19,49 19,50 19,50
98,49 99,01 99,17 99,25 99,30 99,33 99,34 99,36 99,38 99,40 99,41 99,42 99,43 99,44 99,45 99,46 99,47 99,48 99,48 99,49 99,49 99,49 99,50 99,50
3 10,13 9,55 9,28 9,12 19,01 8,94 8,94 8,94 8,94 8,94 8,94 8,94 8,94 8,94 8,94 8,94 8,94 8,94 8,94 8,94 8,94 8,94 8,94 8,94
34,12 30,81 29,46 28,71 28,21 28,91 27,67 27,49 27,34 27,23 27,13 27,05 26,92 26,83 26,69 26,60 26,50 26,41 26,30 26,27 26,23 26,18 26,14 26,12
4 7,71 6,94 6,59 6,39 6,26 6,16 6,09 6,04 6,00 5,96 5,93 5,91 5,87 5,84 5,80 5,77 5,74 5,71 5,70 5,68 5,66 5,65 5,64 5,63
21,20 18,00 16,69 15,98 15,52 15,21 14,98 14,80 14,66 14,54 14,45 14,37 14,24 14,15 14,02 13,93 13,83 13,74 13,69 13,61 13,57 13,52 13,48 13,46
5 6,61 5,79 5,41 5,19 5,05 4,95 4,88 4,82 4,78 4,74 4,70 4,68 4,64 4,60 4,56 4,53 4,50 4,46 4,44 4,42 4,40 4,38 4,37 4,36
16,26 13,27 12,06 11,39 10,97 10,67 10,45 10,27 10,15 10,05 9,96 9,89 9,77 9,68 9,55 9,47 9,38 9,29 9,24 9,17 9,13 9,07 9,04 9,02
6 5,99 5,14 4,76 4,53 4,39 4,28 4,21 4,45 4,10 4,06 4,03 4,00 3,96 3,92 3,87 3,84 3,81 3,77 3,75 3,72 3,71 3,69 3,68 3,67
13,74 10,92 9,78 9,15 8,75 8,47 8,26 8,10 7,98 7,87 7,79 7,72 7,60 7,52 7,39 7,31 7,23 7,14 7,09 7,02 6,99 6,94 6,90 6,88
7 5,59 4,74 4,35 4,12 3,97 3,97 3,97 3,97 3,97 3,97 3,97 3,97 3,97 3,97 3,97 3,97 3,97 3,97 3,97 3,97 3,97 3,97 3,97 3,97
12,25 9,55 8,45 7,85 7,46 7,39 7,00 6,81 6,71 6,62 6,54 6,47 6,35 6,27 6,15 6,07 5,98 5,90 5,85 5,78 5,75 5,70 5,67 5,63
8 5,32 4,46 4,07 3,84 3,69 3,58 3,50 3,44 3,39 3,34 3,31 3,28 3,23 3,20 3,15 3,12 3,08 3,05 3,03 3,00 3,58 2,98 2,94 2,93
11,26 8,65 7,59 7,01 6,63 6,37 6,19 6,03 5,91 5,82 5,71 5,67 5,56 6,08 5,36 5,28 5,20 5,41 5,06 5,06 5,00 4,96 4,88 4,86
9 5,12 4,26 3,86 3,63 3,18 3,37 3,29 3,23 3,18 3,13 3,10 3,07 3,02 2,98 2,93 2,90 2,86 2,82 2,80 2,77 2,76 2,73 2,72 2,71
10,56 8,02 6,99 6,12 6,02 5,80 5,62 5,47 5,35 5,26 5,18 5,44 5,00 4,92 4,80 4,73 4,64 4,56 4,51 4,45 4,44 4,36 4,33 4,31
10 4,96 410 3,71 3,48 3,33 3,22 3,14 3,07 3,02 2,97 2,94 2,91 2,86 2,82 2,77 2,74 2,70 2,67 2,64 2,61 2,59 2,56 2,55 2,54
10,04 5,56 6,55 5,99 5,64 5,39 5,21 5,06 4,95 4,85 4,78 4,71 4,60 4,52 4,41 4,33 4,25 4,17 4,12 4,05 4,01 3,96 3,93 3,91
11 4,84 3,98 3,59 3,36 3,20 3,09 3,01 2,95 2,90 2,86 2,82 2,79 2,74 2,70 2,65 2,61 2,57 2,53 2,50 2,47 2,45 2,42 2,41 2,40
9,65 7,20 6,22 5,67 5,32 5,07 4,88 4,74 4,63 4,54 4,46 4,40 4,29 4,21 4,10 4,02 3,94 3,86 3,74 3,80 3,70 3,66 3,94 3,60
12 4,75 3,88 3,49 3,26 3,11 3,00 2,92 2,85 2,80 2,76 2,72 2,69 2,64 2,60 2,54 2,50 2,46 2,42 2,40 2,36 2,35 2,32 2,31 2,30
9,33 6,93 5,95 5,41 5,06 4,82 4,65 4,50 4,39 4,30 4,22 4,16 4,05 3,98 3,86 3,78 3,70 3,61 3,56 3,49 3,49 3,41 3,38 3,36
13 4,67 3,80 3,41 3,18 3,02 2,92 2,84 2,77 2,72 2,67 2,63 2,60 2,55 2,51 2,46 2,42 2,38 2,34 2,32 2,28 2,26 2,24 2,24 2,21
9,07 6,70 5,74 5,20 4,86 4,62 4,44 4,30 4,19 4,10 4,02 3,96 3,85 3,78 3,67 3,59 3,51 3,42 3,37 3,30 3,27 3,21 3,18 3,16
14 4,60 3,74 3,34 3,11 2,96 2,85 2,77 2,70 2,65 2,60 2,56 2,53 2,48 2,44 2,39 2,35 2,31 2,27 2,24 2,21 2,19 2,16 2,14 2,13
8,86 6,51 5,56 5,03 4,69 4,46 4,28 4,14 4,03 3,94 3,86 3,80 3,70 3,62 3,51 3,43 3,34 3,26 3,21 3,14 3,11 3,06 3,02 3,00
15 4,54 3,68 3,29 3,06 2,90 2,79 2,70 2,64 2,59 2,55 2,51 2,48 2,43 2,39 2,33 2,29 2,25 2,21 2,18 2,15 2,12 2,10 2,08 2,07
8,68 6,36 5,42 4,89 4,56 4,32 4,14 4,00 3,89 3,73 3,67 3,56 3,48 3,89 3,36 3,29 3,20 3,12 3,07 3,00 2,97 2,92 2,89 2,87
16 4,49 3,63 3,24 3,01 2,85 2,74 2,66 2,59 2,54 2,49 2,45 2,42 2,37 2,33 2,28 2,24 2,20 2,16 2,13 2,09 2,07 2,04 2,02 2,01
8,53 6,23 5,29 4,77 4,44 4,20 4,03 3,89 3,78 3,69 3,61 3,55 3,45 3,37 3,25 3,18 3,10 3,01 2,96 2,89 2,86 2,80 2,77 2,75
17 4,45 3,59 3,20 2,96 2,81 2,70 2,62 2,55 2,50 2,45 2,41 2,38 2,33 2,29 2,23 2,19 2,15 2,11 2,08 2,04 2,02 1,99 1,97 1,96
8,40 6,11 5,18 4,67 4,34 4,10 3,93 3,79 3,68 3,59 3,52 3,45 3,35 3,27 3,16 3,08 3,00 2,92 2,86 2,79 2,76 2,70 2,67 2,65
18 4,41 3,55 3,16 2,93 2,77 2,66 2,58 2,61 2,46 2,41 2,37 2,34 2,29 2,25 2,19 2,15 2,11 2,07 2,04 2,00 1,98 1,95 1,93 1,92
8,28 6,01 5,09 4,58 4,25 4,01 3,85 3,71 3,60 3,51 3,44 3,37 3,27 3,19 3,07 3,00 2,91 2,83 2,78 2,71 2,68 2,62 2,59 2,57
19 4,38 3,52 3,13 2,90 2,74 2,63 2,55 2,48 2,43 2,38 2,34 2,31 2,26 2,21 2,15 2,11 2,07 2,02 2,00 1,96 1,94 1,91 1,90 1,88
8,18 5,93 5,01 1,50 4,17 3,94 3,77 3,63 2,52 3,43 3,36 3,30 3,19 3,12 3,00 2,92 2,84 2,76 2,70 2,63 2,60 2,54 2,51 2,49
20 4,35 3,49 3,10 2,87 2,71 2,60 2,52 2,45 2,40 2,35 2,31 2,28 2,23 2,18 2,12 2,08 2,04 1,99 1,96 1,92 1,90 1,87 1,85 1,84
8,10 5,85 4,94 4,43 4,10 3,87 3,71 3,56 3,45 3,37 3,30 3,23 3,13 3,05 2,94 2,86 2,77 2,69 2,63 2,56 2,53 2,47 2,44 2,42
141

v2 = dk v1 = dk pembilang
Penyebut
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 14 16 20 24 30 40 50 75 100 200 500 00
21 4,32 3,47 3,07 2,84 2,68 2,57 2,49 2,42 2,37 2,32 2,28 2,25 2,20 2,15 2,09 2,05 2,00 1,96 1,93 1,89 1,87 1,84 1,82 1,81
8,02 5,78 4,87 4,37 4,04 3,81 3,65 3,51 3,40 3,31 3,24 3,17 3,07 2,99 2,88 2,80 2,72 2,63 2,58 2,51 2,47 2,42 2,38 2,36
22 4,30 3,44 3,05 2,82 2,66 2,55 2,47 2,40 2,35 2,30 2,26 2,23 2,18 2,13 2,07 2,03 1,98 1,93 1,91 1,87 1,84 1,81 1,80 1,78
7,94 5,72 4,82 4,31 3,99 3,76 3,59 3,45 3,35 3,26 3,18 3,12 3,02 2,94 2,83 2,75 2,67 2,58 2,53 2,46 2,42 2,37 2,33 2,31
23 4,28 3,42 3,03 2,80 2,64 2,53 2,45 2,38 2,32 2,28 2,24 2,20 2,14 2,10 2,04 2,00 1,96 1,96 1,96 1,96 1,96 1,96 1,96 1,96
7,88 5,66 4,76 4,26 3,94 3,71 3,54 3,41 3,30 3,21 3,14 3,07 2,97 2,89 2,78 2,70 2,62 2,53 2,48 2,41 2,37 2,32 2,28 2,26
24 4,26 3,40 3,01 2,78 2,62 2,51 2,43 2,36 2,30 2,26 2,22 2,18 2,13 2,09 2,02 1,98 1,94 1,89 1,86 1,82 1,80 1,76 1,74 1,73
7,82 5,61 4,72 4,22 3,90 3,67 3,50 3,36 3,25 3,17 3,09 3.03 2,93 2,85 2,74 2,65 2,58 2,49 2,44 2,36 2,33 2,27 2,23 2,21
25 4,24 3,38 2,99 2,76 2,60 2,49 2,41 2,34 2,28 2,24 2,20 2,16 2,11 2,06 2,00 1,96 1,92 1,87 1,84 1,80 1,77 1,74 1,72 1,71
7,77 5,57 4,68 4,18 3,86 3,63 3,46 3,32 3,21 3,13 3,05 2,99 2,89 2,81 2,70 2,62 2,54 2,45 2,40 2,32 2,29 2,23 2,19 2,17
26 4,22 3,37 2,89 2,74 2,59 2,47 2,39 2,32 2,27 2,22 2,18 2,15 2,10 2,05 1,99 1,95 1,90 1,85 1,82 1,78 1,76 1,72 1,70 1,69
7,72 5,53 4,64 4,14 3,82 3,59 3,42 3,29 3,17 3,09 3,02 2,96 2,86 2,77 2,66 2,58 2,50 2,41 2,36 2,28 2,25 2,19 2,15 2,19
27 4,21 3,35 2,96 2,73 2,57 2,46 2,37 2,30 2,25 2,20 2,16 2,13 2,08 2,03 1,97 1,97 1,97 1,97 1,97 1,97 1,97 1,97 1,97 1,97
7,68 5,49 4,60 4,11 3,79 3,56 3,39 3,26 3,14 3,06 2,98 3,93 3,83 3,74 2,63 2,63 2,63 2,63 2,63 2,63 2,63 2,63 2,63 2,63
28 4,20 3,34 2,95 2,71 2,56 2,44 2,36 2,29 2,24 2,19 2,15 2,21 2,06 2,02 1,96 1,91 1,87 1,81 1,78 1,75 1,72 1,69 1,67 1,65
7,64 5,45 4,57 4,07 3,76 3,53 3,36 3,23 3,11 3,03 2,95 2,90 2,80 2,71 2,60 2,52 2,44 2,35 2,30 2,22 2,18 2,13 2,09 2,06
29 4,18 3,33 2,93 2,70 2,54 2,43 2,35 2,28 2,22 2,18 2,14 2,10 2,05 2,00 1,94 1,90 1,85 1,80 1,77 1,73 1,71 1,68 1,65 1,64
7,60 5,52 4,54 4,04 3,73 3,50 3,33 3,20 3,08 3,00 2,92 2,87 2,77 2,68 2,57 2,49 2,41 2,32 2,27 2,19 2,15 2,10 2,06 2,03
30 4,17 3,32 2,92 2,69 2,53 2,42 2,34 2,27 2,21 2,16 2,12 2,09 2,04 1,99 1,93 1,89 1,84 1,79 1,76 1,72 1,69 1,66 1,64 1,62
7,56 5,39 4,51 4,02 3,70 3,47 3,30 3,17 3,06 2,98 2,90 2,84 2,74 2,66 2,55 2,47 2,38 2,29 2,24 2,16 2,13 2,07 2,03 2,01
32 4,15 3,30 2,90 2,67 2,51 2,40 2,32 2,25 2,19 2,14 2,10 2,07 2,02 1,97 1,91 1,86 1,82 1,76 1,74 1,69 1,67 1,64 1,61 1,59
7,50 5,34 4,46 3,97 3,66 3,42 3,25 3,12 3,01 2,94 2,86 2,80 2,70 2,62 2,51 2,42 2,34 2,25 2,20 2,12 2,08 2,02 1,98 1,96
34 4,13 3,28 2,88 2,65 2,49 2,38 2,30 2,23 2,17 2,12 2,08 2,05 2,00 1,95 1,89 1,84 1,80 1,74 1,71 1,67 1,64 1,61 1,59 1,57
7,44 5,29 4,42 3,93 3,61 3,38 3,21 3,08 2,97 2,89 2,82 2,76 2,66 2,58 2,47 2,38 2,30 2,21 2,15 2,08 2,04 2,98 2,94 2,91
36 4,11 3,26 2,80 2,63 2,48 2,36 2,28 2,21 2,15 2,10 2,06 2,03 1,89 1,89 1,89 1,89 1,89 1,89 1,89 1,89 1,89 1,89 1,89 1,89
7,39 5,25 4,38 3,89 3,58 3,35 3,18 3,04 2,94 2,86 2,78 2,72 2,62 2,62 2,62 2,62 2,62 2,62 2,62 2,62 2,62 2,62 2,62 2,62
38 4,10 3,25 2,85 2,62 2,46 2,35 2,26 2,19 2,14 2,09 2,05 2,02 1,96 1,92 1,85 1,80 1,76 1,71 1,67 1,63 1,60 1,57 1,54 1,53
7,35 5,21 4,34 3,86 3,54 3,32 3,15 3,02 2,91 2,82 2,75 2,69 2,59 2,51 2,40 2,32 2,22 2,14 2,08 2,00 1,97 1,90 1,86 1,84
40 4,08 3,23 2,84 2,61 2,45 2,34 2,25 2,18 2,12 2,07 2,04 2,00 1,95 1,90 1,84 1,79 1,74 1,69 1,65 1,61 1,659 1,55 1,53 1,51
7,31 5,18 4,31 3,83 3,51 3,29 3,12 2,99 2,88 2,80 2,73 2,66 2,56 2,49 2,37 2,29 2,20 2,11 2,05 1,97 1,94 1,88 1,84 1,81
42 4,07 3,22 2,83 2,59 2,44 2,32 2,24 2,17 2,11 2,06 2,02 1,99 1,94 1,89 1,82 1,78 1,73 1,68 1,64 1,60 1,57 1,54 1,51 1,49
7,27 5,15 4,29 3,80 3,49 3,26 3,10 2,96 2,86 2,77 2,70 2,64 2,54 2,46 2,35 2,26 2,17 2,08 2,02 1,94 1,91 1,85 1,80 1,78
44 4,06 3,21 2,82 2,58 2,43 2,31 2,23 2,16 2,10 2,05 2,01 1,98 1,92 1,88 1,81 1,76 1,66 1,63 1,58 1,56 1,52 1,50 1,48 1,48
7,24 5,12 4,26 3,78 3,46 3,24 3,07 2,94 2,84 2,75 2,68 2,62 2,52 2,44 2,32 2,24 2,06 2,00 1,92 1,88 1,82 1,78 1,75 1,75
46 4,05 3,20 2,81 2,57 2,42 2,30 2,22 2,14 2,09 2,04 2,00 1,97 1,91 1,87 1,80 1,75 1,71 1,65 1,62 1,57 1,54 1,51 1,48 1,46
7,21 5.10 4,24 3,76 3,44 3,22 3,05 2,92 2,82 2,73 2,66 2,60 2,50 2,42 2,39 2,22 2,13 2,04 1,98 1,90 1,86 1,80 1,76 1,72
48 4,04 3,19 2,80 2,56 2,41 2,30 2,21 2,14 2,08 2,03 1,99 1,96 1,90 1,86 1,79 1,74 1,70 1,64 1,61 1,56 1,53 1,50 1,47 1,45
7,19 5,08 4,22 3,74 3,42 3,20 3,04 2,90 2,80 2,71 2,64 2,58 2,48 2,40 2,28 2,20 2,11 2,02 1,96 1,88 1,84 1,78 1,73 1,70
50 4,03 3,18 2,79 2,56 2,40 2,29 2,29 2,13 2,07 2,02 1,98 1,95 1,90 1,85 1,78 1,74 1,69 1,63 1,69 1,55 1,52 1,48 1,46 1,44
7,47 5,06 4,20 3,72 3,11 3,18 3,02 2,88 2,78 2,70 2,62 2,56 2,16 2,39 2,26 2,18 2,40 2,00 1,94 1,86 1,82 1,76 1,71 1,68s
55 4,02 3,17 2,78 2,51 2,38 2,27 2,18 2,11 2,05 2,00 1,97 1,93 1,88 1,83 1,76 1,72 1,67 1,64 1,58 1,52 1,50 1,46 1,43 1,41
7,12 5,01 4,16 3,68 3,37 3,15 2,98 2,85 2,75 2,66 2,59 2,53 2,43 2,35 2,23 2,45 2,00 1,96 1,90 1,82 1,78 1,71 1,66 1,64
60 4,00 4,00 3,45 2,76 2,52 2,37 2,25 2,17 2,10 2,01 1,99 1,95 1,92 1,86 1,81 1,75 1,70 1,65 1,59 1,56 1,50 1,48 1,44 1,41
7,08 7,08 4,98 4,13 3,65 3,31 3,12 2,95 3,82 3,72 2,03 2,56 2,50 2,40 2,32 2,20 2,12 2,02 1,93 1,87 1,79 1,71 1,68 1,63
142

65 3,99 3,11 2,73 2,54 2,36 2,24 2,45 2,08 2,02 1,98 1,91 1,90 1,85 1,80 1,73 1,68 1,63 1,57 1,5 1,49 1,46 1,42 1,39 1,37
7,01 4,95 4,10 3,62 3,31 3,09 2,93 2,79 2,70 2,61 2,51 2,17 2,37 2,30 2,18 2,09 2,00 1,90 1,81 1,76 1,71 1,61 1,60 1,56

v2 = dk v1 = dk pembilang
Penyebut
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 14 16 20 24 30 40 50 75 100 200 500 00
70 3,98 3,13 2,71 2,50 2,35 2,32 2,11 2,07 2,01 1,97 1,93 1,89 1,84 1,79 1,72 1,67 1,62 1,56 1,53 1,17 1,45 1,40 1,37 1,35
7,01 4,92 4,08 3,60 3,29 3,07 2,91 2,77 2,67 2,59 2,51 2,15 2,35 2,28 2,15 2,07 1,98 1,88 1,82 1,74 1,69 1,63 1,56 1,53
80 3,96 3,11 2,72 2,48 2,33 2,21 2,42 2,05 1,99 1,95 1,91 1,88 1,82 1,77 1,70 1,65 1,60 1,60 1,60 1,60 1,60 1,60 1,60 1,60
6,96 4,86 4,04 3,58 3,25 3,01 2,87 2,71 2,61 2,55 2,48 2,44 2,32 2,24 2,11 2,04 1,94 1,94 1,94 1,94 1,94 1,94 1,94 1,94
100 3,91 3,09 2,70 2,46 2,30 2,49 2.40 2,03 1,97 1,92 1,88 1,85 1,79 1,75 1,68 1,63 1,57 1, 1,63 1,63 1,63 1,63 1,63 1,63
6,90 4,82 3,98 3,51 3,20 2,99 2,82 3,69 2,59 2,51 2,43 2,36 2,26 2,49 2,06 1,98 1,89 1,98 1,98 1,98 1,98 1,98 1,98 1,98S
125 3,92 3,07 2,68 2,44 2,29 2,17 2,08 2,01 1,95 1,90 1,86 1,83 1,77 1,72 1,65 1,60 1,55 1,49 1,45 1,39 1,36 1,31 1,27 1,25
6,81 4,78 3,91 3,47 3,17 2,95 2,79 2,65 2,56 2,47 2,40 2,33 2,23 2,45 2,03 1,91 1,85 1,75 1,68 1,59 1,54 1,46 1,40 1,37s
150 3,91 3,06 2,67 2,43 2,27 2,16 2,07 2,00 1,91 1,89 1,85 1,82 1,76 1,54 1,61 1,59 1,54 1,47 1,44 1,37 1,34 1,29 1,25 1,22
6,81 4,75 3,91 3,14 3,13 2,92 2,76 2,62 2,53 2,41 2,37 2,30 2,20 2,42 2,00 1,91 1,82 1,72 1,66 1,56 1,51 1,43 1,37 1,33
200 3,89 3,01 2,65 2,11 2,26 2,14 2,05 1,98 1,92 1,87 1,83 1,80 1,71 1,69 1,62 1,57 1,52 1,45 1,42 1,35 1,32 1,26 1,22 1,19
6,76 4,74 3,85 3,44 3,41 2,90 2,73 2,60 2,50 2,44 2,33 2,28 2,17 2,09 1,97 1,88 1,79 1,69 1,62 1,53 1,48 1,39 1,33 1,28
400 3,86 3,02 2,62 2,39 2,23 2,42 2,03 1,96 1,90 1,83 1,81 1,78 1,72 1,67 1,60 1,54 1,49 1,42 1,38 1,32 1,28 1,22 1,16 1,13
6,70 4,66 3,83 3,36 3,06 2,85 2,69 2,55 2,46 2,37 2,29 2,23 2,12 2,04 1,92 1,84 1,74 1,64 1,57 1,47 1,42 1,32 1,24 1,19
1000 3,85 3,00 2,64 2,38 2,22 2,10 2,02 1,95 1,89 1,81 1,80 1,76 1,70 1,65 1,58 1,53 1,47 1,44 1,36 1,30 1,26 1,19 1,13 1,08
6,68 4,62 3,80 3,34 3,04 2,82 2,66 2,53 2,13 2,34 2,26 2,20 2,09 2,04 1,89 1,81 1,71 1,61 1,54 1,44 1,38 1,28 1,19 1,11
3,81
6,61
2,99
4,60
2,60
3,78
2,37
3,32
2,21
3,02
2,09
2,80
2,01
2,61
1,94
2,51
1,88
2,11
1,83
2,32
1,79
2,24
1,75
2,48
1,69
2,07
1,64
1,99
1,57
1,87
1,52
1,79
1,46
1,69
1,40
1,59
1,35
1,52
1,28
1,41
1,24
1,36
1,47
1,25
1,11
1,15
1,00
1,00

Sumber: Sudjana, (2005), Metoda Statistika, Bandung : Tarsito


143

Lampiran 21
Nilai-Nilai Dalam Distribusi t (Tabel t)

untuk uji dua pihak (two tail test)


0,5 0,2 0,1 0,05 0,02 0,01
untuk uji satu pihak (one tail test)
Dk 0,25 0,1 0,05 0,025 0,01 0,005
1 1,000 3,078 6,314 12,706 31,821 63,657
2 0,816 1,886 2,920 4,303 6,965 9,925
3 0,765 1,638 2,353 3,182 4,541 5,841
4 0,741 1,533 2,132 2,776 3,747 4,604
5 0,727 1,486 2,015 2,571 3,365 4,032
6 0,718 1,440 1,943 2,447 3,143 3,707
7 0,711 1,415 1,895 2,365 2,998 3,499
8 0,706 1,397 1,860 2,306 2,896 3,355
9 0,703 1,383 1,833 2,262 2,821 3,250
10 0,700 1,372 1,812 2,228 2,764 3,165
11 0.697 1,363 1,796 2,201 2,718 3,106
12 0,695 1,356 1,782 2,178 2,681 3,055
13 0,692 1,350 1,771 2,160 2,650 3,012
14 0,691 1,345 1,761 2,145 2,624 2,977
15 0,690 1,341 1,753 2,132 2,623 2,947
16 0,689 1,337 1,746 2,120 2,583 2,921
17 0,688 1,333 1,740 2,110 2,567 2,898
18 0,688 1,330 1,743 2,101 2,552 2,878
19 0,687 1,328 1,729 2,093 2,539 2,861
20 0,687 1,325 1,725 2,086 2,528 2,845
21 0,686 1,323 1,721 2,080 2,518 2,831
22 0,686 1,321 1,717 2,074 2,508 2,819
23 0,685 1,319 1,714 2,069 2,500 2,807
24 0,685 1,318 1,711 2,064 2,492 2,797
25 0,684 1,316 1,708 2,060 2,485 2,787
16 0,684 1,315 1,706 2,056 2,479 2,779
27 0,684 1,314 1,703 2,052 2,473 2,771
28 0,683 1,313 1,701 2,048 2,467 2,763
29 0,683 1,311 1,699 2,045 2,462 2,756
30 0,683 1,310 1,697 2,042 2,457 2,750
40 0,681 1,303 1,684 2,021 2,423 2,704
60 0,679 1,296 1,671 2,000 2,390 2,660
120 0,677 1,289 1,658 1,980 2,358 2,617
0,674 1,282 1,645 1,960 2,326 2,576

Sumber: Sudjana, (2005), Metoda Statistika, Bandung : Tarsito


144

Lampiran 22
Dokumentasi
Kelas Eksperimen

Gambar 1. Suasana saat siswa kelas eksperimen mengerjakan soal pretes

Gambar 2. Peneliti sedang membimbing siswa masuk kedalam tahap pembelajaran sesuai dengan
model inquiry training
145

Gambar 3. Peneliti membagi siswa kedalam beberapa kelompok untuk melakukan percobaan

Gambar 4. Siswa melaksanakan percobaan dan mengumpulkan data


146

Gambar 5.
Peneliti membimbing siswa dalam mengolah data dan menganalisis data hasil percobaan

Gambar 6. Siswa kelas eksperimen melaksanakan postes

Kelas Kontrol
147

Gambar 7. Suasana kelas saat pembagian soal pretes kelas kontrol

Gambar 8. Suasana kelas saat siswa mengerjakan soal postes


148
149