Anda di halaman 1dari 69

KORELASI ANTARA KALIBRASI DAN VERIFIKASI (TERA)

Kalibrasi : menentukan penyimpangan (kesalahan/koreksi)


alat ukur atau bahan ukur terhadap nilai benar

Setiap proses memerlukan alat ukur dengan batas unjuk


kerjatertentu

Pemilik perlu melakukan verifikasi untuk memastikan bahwa


alat ukur atau bahan ukur dapat digunakan dalam proses
yang diperlukn

Verifikasi : dilakukan dengan membandingkan antara proses


dengan penyimpangan yang diperoleh dari kalibrasi
Kalibrasi dan verifikasi/Tera
Dalam metrologi ilmiah/industri : kalibrasi alat ukur
secara periodik sesuai dengan sistem mutu yang
diimplementasikan :
Bertujuan untuk memelihara mutu produk
Persyaratan ditentukan oleh pelanggan
Bersifat voluntary/sukarela

Dalam metrologi legal : tera / uji kesesuaiaian alat ukur


secara periodik dengan regulasi legal/Pemerintah
Bertujuan untuk melindungi kepentingan negara
Persyaratan ditentukan oleh regulasi Pemerintah
Bersifat mandatory/wajib
Kalibrasi dan verifikasi/Tera

Kalibrasi Tera
Penentuan hubungan antara nilai yang Pemeriksaan kesesuaian alat ukur dengan
diukur dan nilai terkait yang persyaratan legal (yang ditetapkan
direalisasikan dengan standar dengan perundang undangan)
- dalam kondisi tertentu - Pemeriksaan kualitatif
- pada tanggal dan waktu tertentu - Pemeriksaan Batas Kesalahan /MPE

Pernyataan yang meliputi kesalahan atau Pembubuhan cap tanda tera sah/batal
koreksi dan ketidakpastian pengukuran pada alat ukur yang diuji

Menerbitkan sertifikat kalibrasi Menerbitkan SKHP atau pembubuhan cap


tanda tera
Kalibrasi dan verifikasi/Tera
KARAKTERISTIK TERA KALIBRASI

DASAR Aturan Legal ( pemerintah) AturanTeknis,Standar,permintaan


pelanggan
TUJUAN Menjamin penunjukkan alat Menghubungkan penunjukkan alat ukur
ukur berada dalam BKD/ MPE dengan nilai benar konvensional
selama alat ukur digunakan
dalam periode keabsahan tera
Dapat digunakan pada bidang Keberterimaan hasil kalibrasi secara luas
yang diregulasikan
PRASARAT Dapat di tera secara langsung Alat ukur hendaknya dapat dikalibrasi
atau dengan persetujuan/ijin
type (type approval) bila
dipersyaratkan
KEABSAHAN HASIL Dalam periode yang ditetapkan Pada saat kalibrasi, dalam kondisi kalibrasi
untuk tera ulang tertentu
EVALUASI HASIL Oleh institusi metrologi legal Oleh pengguna alat ukur

KETERTULUSURAN Diatur dengan prosedur (ST) Bukti yang ditunjukkan oleh Laboratorium
Kalibrasi
KETIDAKPASTIAN U95 1/3 MPE (pada saat tera Bergantung pada kompetensi teknik
Komponen kegiatan tera

TERA

PEMERIKSAAN
PEMERIKSAAN KUALITATIF
KUANTITATIF
(kondisi alat ukur)
(kesalahan alat ukur)

KALIBRASI
EvaluasiHasil Pembandingan hasil
dengan persyaratan yang
ditetapkan dalam aturan

Sertifikasi Kesesuaian
pembubuhan CTT atau SKHP
TIMBANGAN

Alat ukur yang dipergunakan untuk


menentukan massa suatu benda dengan
memanfaatkan gravitasi yang bekerja pada
benda tersebut

F=mxg
Massa Sebenarnya

Massa yang memperhitungkan massa jenis


bahan anak timbangan, kondisi media udara
dan suhu pada saat pengujian, gaya tekan udara
Massa Konvensional
Massa konvensional anak timbangan adalah
sama dengan nilai massa anak timbangan
standar yang terbuat dari bahan dengan massa
jenis 8000 kg/m3 yang setimbang dengan anak
timbangan yang diuji dalam media udara dengan
massa jenis 1,2 kg/m3 dan dilakukan pada suhu
20o C
PEMBAGIAN TIMBANGAN
Rekomendasi OIML (R-76)
TIMB.ELEKTRONIK

TIMB. PENUNJUKAN OTOMATIS TIMB. CEPAT

TIMB. PEGAS

TIMBANGAN BUKAN OTOMATIS TIMB. PENUNJUKAN SEMI OTOMATIS TIMB. CEPAT MEJA

NERACA

TIMB.PENUNJUKAN BUKAN OTOMATIS TIM MEJA

TIM DACIN

TIMB. SENTISIMAL
TIMBANGAN BAN BERJALAN
TIMB. BOBOT
TIMBANGAN OTOMATIS TIMBANGAN PENGISIAN INGSUT

TIMBANGAN PENGECEK/ PENYORTIR


Timbangan
Timbangan merupakan alat ukur untuk menentukan
massa benda yang bekerja berdasarkan aksi gaya gravitasi
yang dirasakan oleh benda tersebut.

Timbangan juga dapat digunakan untuk menentukan


besaran, parameter atau karakteristik yang berhubungan
dengan massa.

Berdasarkan metoda pengoperasiannya timbangan dibagi


menjadi 2 (dua) jenis, yaitu timbangan otomatis (AWI) dan
timbangan non-otomatis (NAWI).
Konsep Gaya Gravitasi

benda

F = mg cos ()
F = mg F = mg

90 o 90 o
Timbangan Otomatis
(AWI)
Timbangan dimana proses penimbangannya tanpa
intervensi operator, beroperasi mengikuti program
otomatis yang ditentukan.
Timbangan Non-Otomatis
(NAWI)
Timbangan dimana proses penimbangannya dengan
intervensi operator.
Timbangan
Timbangan Mekanik Elektronik
Timbangan Elektronik
Kelas Akurasi Timbangan
Nilai perbandingan
kapasitas maksimum
(Max) dan nilai skala
verifikasi (e)
I
Max
m
e II

III

IIII
Nilai skala
verifikasi (e)
Menentukan BKD Timbangan
Nilai perbandingan
muatan dan nilai skala
verifikasi (e)

Muata
m
BKD
e

Kelas Timbangan

I II III IIII
Tabel Kelas Ketelitian
Kelas Interval Skala Jumlah interval Kap.
Verifikasi (e) skala verifikasi Min
(m= Max/e)
Min Maks
I 0.001g e 50.000 - 100e
II 0.001g e 0.05g 100 100.000 20e
0.1g e 5.000 100.000 50e
III 0.1g e 2g 100 10.000 20e
5g e 500 10.000 20e
IIII 5g e 100 1.000 10e
Tabel BKD
KD Untuk Muatan (m)
Dinyatakan dalam interval skala (e)
I II III IIII
0.5 e 0 m 50.000 0 m 5.000 0 m 500 0m5

1.0 e 50.000 <m 200.000 5000 <m 20.000 500 <m 2000 50 <m 20

1.5 e 200.000 < m 20.000 <m 100.000 2000 <m 10.000 200<m 1
Contoh Menentukan Kelas
Timbangan
1. Diketahui: Kapasitas timbangan mekanik 300 kg,
daya baca terkecil timbangan (e) = 200 g.
Pertanyaan: Kelas berapa timbangan tersebut dan
nilai BKD?
1. Jawaban
m = kapasitas maksimum timbangan / daya baca
timbangan
= 300 kg / 200 g
= 300.000 g / 200 g
Diperoleh nilai m = 1.500 dan e=200
Dari tabel klasifikasi timbangan didapat kelas III dan
dari tabel BKD diperoleh 1 e
Contoh Menentukan Kelas
2. Diketahui: Timbangan pegas memiliki kapasitas
maksimum 50 kg, daya baca terkecil timbangan (e) =
200g.
Pertanyaan: Kelas berapa timbangan pegas tersebut,
BKD-nya, dan minimum menimbang ?
2. Jawaban
m = kapasitas maksimum timbangan / daya baca
timbangan
= 50 kg / 200 g
= 50.000 g / 200 g
Diperoleh nilai m = 250
Dari tabel didapat kelas IIII dengan BKD untuk muatan 50
kg adalah 1,5 e.
Minimum menimbang = 10 e =10 x 200 g = 2000 g = 2 kg
Contoh
Penentuan Kelas Timbangan
Timbangan Elektronik 1 kg dengan e=0,01 g dan
d=0,001 g

Jumlah skala m :
Max 1000 g
m 100 000
e 0,01 g

Kelas (lihat tabel):


0,001 g e 0,05 g
II
100 m 100 000
Contoh
Penentuan Toleransi Timbangan
Timbangan 1 kg dengan e=0,01 g ; d=0,001 g; n=100
000; kelas II

RENTANG : MPE :
0 m 5 000 0,5 e
TABEL 5 000 < m 20 000 1,0 e
20 000 < m 100 000 1,5 e

RENTANG : MPE :
0 m 50 g 0,005 g
PENERAPAN 0,010 g
50 g < m 200 g
200 g < m 1 000 g 0,015 g
Grafik Toleransi Timbangan
Timbangan 1 kg dengan e=0,01 g ; d=0,001 g; n=100
000; kelas II
MPE (g)
+ 0,015

+ 0,010

+ 0,005
50
Muatan (g)
100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000
- 0,005

- 0,010

- 0,015
Klasifikasi Timbangan

OIML R76-1
Kesalahan Maksimum yang Diijinkan
(MPE) atau Toleransi atau Remidi

OIML R76-1
Sumber Kesalahan pada Penunjukan Timbangan
Keseluruhan kesalahan pada pembacaan timbangan
merupakan kombinasi dari kesalahan individual yang
ditimbulkan dari berbagai aspek karakteristik timbangan
dan cara penggunaan timbangan. Komponen kesalahan-
kesalahan tersebut meliputi :

1) Repeatability of the balance mechanism


2) Non-linearities in the balances response
3) Errors in-built weights or external calibration weights
4) Errors due to off-centre loading of the balance
5) Errors induced by the environment:
temperature, humidity, vibration, dust, air movement,
magnetic interference, electromagnetic interference
etc.
6) Operator errors
Anak Timbangan Standar yang Digunakan untuk
Mengkalibrasi
Timbangan 1 kg dengan e=0,01 g ; d=0,001 g; n=100
000; kelas II

Kelas anak timbangan yang digunakan ?

The standard weights or standard masses used


for the verification of an instrument shall not
have an error greater than 1/3 of the maximum
permissible error of the instrument for the
applied load (3.7.1 R76)
PENENTUAN MPE AT

MPE Timbangan:
0,005 g
0,010 g
0,015 g
RENTANG :
0 m 50 g
50 g < m 200 g
200 g < m 1 000 g
MPE AT:
(1/3) 0,005 g = 1,6 mg
(1/3) 0,010 g = 3,3 mg
(1/3) 0,015 g = 5,0 mg
Maximum Permissible Errors
for Weights, OIML R 111 (2004)
Nominal dm in mg
Value E1 E2 F1 F2 M1 M1-2 M2 M2-3 M3
5000 kg 25000 80000 250000 500000 800000 1600000 2500000
2000 kg 10000 30000 100000 200000 300000 600000 1000000
1000 kg 1600 5000 16000 50000 100000 160000 300000 500000
500 kg 800 2500 8000 25000 50000 80000 160000 250000
200 kg 300 1000 3000 10000 20000 30000 60000 100000
100 kg 180 500 1600 5000 10000 16000 30000 50000
50 kg 25 80 250 800 2500 5000 8000 16000 25000
20 kg 10 30 100 300 1000 3000 10000
10 kg 5 16 50 160 500 1600 5000
5 kg 2.5 8 25 80 250 800 2500
2 kg 1.0 3 10 30 100 300 1000
1 kg 0.5 1.6 5 16 50 160 500
1000 g 0.5 1.6 5 16 50 160 500
500 g 0.25 0.8 2.5 8 25 80 250
200 g 0.10 0.3 1.0 3 10 30 100
100 g 0.05 0.16 0.5 1.6 5 16 50
50 g 0.03 0.10 0.3 1.0 3 10 30
20 g 0.025 0.08 0.25 0.8 2.5 8 25
10 g 0.020 0.06 0.20 0.6 2.0 6 20
5 g 0.016 0.05 0.16 0.5 1.6 5 16
2 g 0.012 0.04 0.12 0.4 1.2 4 12
1 g 0.010 0.03 0.10 0.3 1.0 3 10
1000 mg 0.010 0.03 0.10 0.3 1.0 3 10
500 mg 0.008 0.025 0.08 0.25 0.8 2.5
200 mg 0.006 0.020 0.06 0.20 0.6 2.0
100 mg 0.005 0.016 0.05 0.16 0.5 1.6
50 mg 0.004 0.012 0.04 0.12 0.4
20 mg 0.003 0.010 0.03 0.10 0.3
10 mg 0.003 0.008 0.025 0.08 0.25
5 mg 0.003 0.006 0.020 0.06 0.20
2 mg 0.003 0.006 0.020 0.06 0.20
1 mg 0.003 0.006 0.020 0.06 0.20
PENENTUAN KELAS AT

Titik Uji MPE MPE Anak Kelas Anak


Timbangan Timbangan Timbangan Timbangan

200 mg 0,005 g 1,6 mg M1 ( 0,6 mg)


10 g 0,005 g 1,6 mg F2 ( 0,6 mg)
20 g 0,005 g 1,6 mg F2 ( 0,8 mg)
50 g 0,005 g 1,6 mg F2 ( 1,0 mg)
100 g 0,010 g 3,3 mg F2 ( 1,6 mg)
200 g 0,010 g 3,3 mg F2 ( 3,0 mg)
500 g 0,015 g 5,0 mg F1 ( 2,5 mg)
1 000 g 0,015 g 5,0 mg F1 ( 5,0 mg)
Sifat-sifat Metrologis
1. Ketidaktetapan
2. Kepekaan
3. Kebenaran
Ketidaktetapan/Repeatibility
Kemampuan timbangan untuk memberikan hasil-
hasil penimbangan yang mendekati satu sama lain
bila dimuati secara berulang dengan muatan yang
sama pada kondisi pengujian yang relatif tetap
Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah
timbangan dapat memberikan hasil yang konsisten
pada muatan yang sama
Kepekaan/Diskriminasi
Kemampuan timbangan untuk
memberikan reaksi terhadap
perubahan dari muatan terkecil
Tujuan mengetahui kepekaan /
sensitivitas suatu timbangan
Acuan :
-OIML R-76 (1992) Non Automatic Weighing Instrument
-Guide to the Expression of Uncertainty in Measurement, ISO 1993

PERSIAPAN :
Anak timbangan standar
Imbuh 0,1e
Kaos tangan
Pinset
Hygrometer
Thermometer
Alat Pendatar
Alat Penghitung
Instruksi Manual dari timbangan
Cerapan/Form Kalibrasi
Kebenaran / Weighing
Kemampuan untuk mendapatkan penunjukan yang
sama dengan nilai sesungguhnya dari yang diukur
dengan cara membandingkan dengan massa standar.
Tujuan untuk mengetahui koreksi atau kesalahan dari
timbangan
parameter yang diuji
pada kalibrasi timbangan
1. Repeatability
2. Eksentrisitas
3. Diskriminasi
4. Zero Accuracy
- Automatic Zero Setting
- Non-Automatic Zero Setting
5. Weighing Test
e
PENUNJUKAN TIMBANGAN ELEKTRONIK P I L
2

4999,95 5000,05
0,5 e

4999,9 0,5 e 5000,1


5000,0

POSISI PENUNJUKAN 5000,0 TERLETAK DI 4999,95 5000 < 5000,05


Contoh : Perhitungan Nilai Sebenarnya

Massa Nominal 5000 g


e = 0,1g
Penunjukan timbangan elektronik 5000 g (IL)
L = 60 mg (penunjukan berubah +1e)

Posisi Penunjukan Sebenarnya


P = I L + 0.5e L
P = 5000 + 0.5*0.1 0.06
P = 4999,99 g
1. Pengujian Repeatability
Tujuan :
Untuk mengetahui apakah timbangan dapat memberikan hasil yang
konsisten, apabila diberi muatan yang sama secara berulang-ulang pada
posisi yang relatif sama.

Langkah-langkah pengujian :
a. Set nol timbangan
b. Naikkan muatan uji (50% Maks) dan baca penunjukan I.
c. Tambahkan imbuh (0,1e) secara bertahap sampai tepat saat perubahan
penunjukan (I+e) dan stabil, catat jumlah imbuh L.
d. Ulangi langkah a sampai dengan c, minimum 3 kali pengulangan (saran
penulis : 10 kali).
e
e. Hitung posisi penunjukan timbangan dengan rumus : P I 2 L

Pi P
2

f. Hitung nilai repeatability dengan rumus : S n 1 i


n 1

|MPE|
Contoh Cerapan Pengujian Repeatability

A. PENGUJIAN REPEATABILITY
Set Nol Timbangan (I0)
Muatan Penambahan Imbuh Turunkan Muatan Posisi
( Minimum 50% Penunjukan s/d dan Imbuh. Penunjukan Repeatability
dari Kapasitas ) Penunjukan (IL+1e) Set Nol Timbangan Timbangan
L IL L I0 P = IL + e - L R = Sn-1(P)
(g) (g) (g) (g) (g) (g)
200.000 0.0005 0 200.0000
200.000 0.0005 0 200.0000
200.000 0.0005 0 200.0000
200.000 0.0005 0 200.0000
200.000 0.0005 0 200.0000
200 0.00032
200.000 0.0005 0 200.0000
200.000 0.0005 0 200.0000
200.000 0.0005 0 200.0000
200.000 0.0005 0 200.0000
200.001 0.0005 0 200.0010
2. Pengujian Eksentrisitas
Tujuan :
Untuk mengetahui kinerja timbangan dalam memberikan hasil penimbangan
bila muatan yang sama diletakkan pada posisi-posisi yang berbeda.

Langkah-langkah pengujian :
a. Set nol timbangan
b. Naikkan muatan uji (sekitar 1/3 Maks) pada posisi 1 dan baca
penunjukan I.
c. Tambahkan imbuh (0,1e) secara bertahap sampai tepat saat
perubahan penunjukan (I+e) dan stabil, catat jumlah imbuh L.
d. Ulangi langkah a sampai dengan c untuk posisi yang lainnya (posisi 2
sampai dengan posisi 5) searah putaran jarum jam.
e. Hitung penunjukan timbangan untuk setiap posisinya dengan rumus :
e
P I L
2
f. Hitung kesalahan penunjukan timbangan : E PL

Point b. tergantung pada jumlah load cell (n-1)


Posisi Lantai Muatan
Air Bubble Air Bubble

2 3
2 3

1 1

5 4
5 4
Contoh Cerapan Pengujian Eksentrisitas

B. PENGUJIAN EKSENTRISITAS

2 3 2 3
1 1
5 4 5 4
Set Nol Timbangan (I0)
Muatan Penambahan Imbuh Turunkan Muatan Posisi
( Minimum 50% Posisi Penunjukan s/d dan Imbuh. Penunjukan Kesalahan
dr Kapasitas ) Muatan Penunjukan (IL+1e) Set Nol Timbangan Timbangan
L IL L I0 P = IL + e - L E=P-L
(g) (g) (g) (g) (g) (g)
1 50.000 0.0005 0 50.0000 0.0000
2 50.000 0.0005 0 50.0000 0.0000
50 3 50.000 0.0005 0 50.0000 0.0000
4 50.000 0.0005 0 50.0000 0.0000
5 50.000 0.0005 0 50.0000 0.0000
3. Pengujian Diskriminasi
Tujuan :
Untuk mengetahui kemampuan timbangan terhadap adanya perubahan kecil
muatan.

Langkah-langkah pengujian :
a. Stel nol timbangan
b. Naikkan muatan uji sebesar minimum menimbang.
c. Tambahkan imbuh (0,1d) secara bertahap sampai tepat saat perubahan
penunjukan I1=I+d dan stabil.
d. Tambahkan kembali imbuh (0,1d) secara bertahap sampai tepat saat
perubahan penunjukan I2=I+2d dan stabil, catat jumlah imbuh L.
(note : untuk legal tambah langsung 1,4d)
e. Nilai diskriminasi adalah D= L.
f. Ulangi langkah a sampai dengan e untuk muatan uji 50%Max dan
100%Max.
Persyaratan: jika penunjukan berubah sebesar d maka timbangan dinyatakan
baik,sebaliknya jika tidak berubah maka timbangan dinyatakan tidak lulus uji.
Contoh Cerapan Pengujian Diskriminasi

C. PENGUJIAN DIKRIMINASI

Set Nol Timbangan (I0)


Penambahan Imbuh Penambahan Imbuh Komentar
Muatan s/d Penunjukan s/d Penunjukan Dalam Metrologi
Penunjukan (IL+1d) Penunjukan (I1+1d) Legal Penamba-
L L I1 L I2 han Imbuh
(g) (g) (g) (g) (g) langsung 1,4 d
Min I1+1d dan timbangan
50% I1+1d harus menunjuk

Max I1+1d (I1 + 1d)


3. Pengujian Zero Accuracy
Tujuan :
Untuk mengetahui kinerja penyetel nol timbangan setelah timbangan disetel nol.

Penentuan jenis timbangan :


1. Timbangan dengan penunjukan digital.
- Automatic zero setting
- Non-automatic zero setting
2. Timbangan dengan penunjukan analog.

Penentuan Automatic dan Non-automatic zero setting :


1. Set nol timbangan
2. Muati timbangan dengan muatan sebesar 5e.
3. Re-zero timbangan.
4. Angkat muatan 5e dari timbangan.
5. Tunggu 15 second dan amati penunjukannya.
- Jika kembali ke nol maka : Automatic zero setting
- Jika tidak kembali ke nol maka : Non-automatic zero setting
3.1. Zero Accuracy
Untuk Jenis Timbangan Automatic Zero Setting
Langkah-langkah :
1. Set nol timbangan.
2. Naikkan muatan 10e dan catat penunjukannya I.
3. Tambahkan imbuh (0,1e) secara bertahap sampai tepat saat
perubahan penunjukan (I+e) dan stabil, catat jumlah imbuh L.
4. Hitung kesalahan penunjukan dengan rumus:

e
E0 I L 10e
2
Persyaratan:
- Tambahkan imbuh standar 0,25 e harus tetap penunjukannya, tambahkan
lagi imbuh standar 0,25 e harus berubah sebesar 1 e
3.2. Zero Accuracy
Untuk Jenis Timbangan Non-Automatic Zero Setting
Langkah-langkah :
1. Set nol timbangan.
2. Naikkan muatan sebesar 0 s.d 4 % maks (pada umumnya 2% maks)
3. Tambahkan imbuh (0,1e) secara bertahap sampai tepat saat
perubahan penunjukan (I+e) dan stabil, catat jumlah imbuh L.
4. Re-zero timbangan.
5. Naikkan muatan sebesar 10e.
6. Tambahkan imbuh (0,1e) secara bertahap sampai tepat saat
perubahan penunjukan (I+e) dan stabil, catat jumlah imbuh L.
7. Hitung kesalahan penunjukan dengan rumus:
e
E0 I ' L 10e
2
Persyaratan:
- Setelah dimuati 10 e tambahkan imbuh standar 0,25 e harus tetap
penunjukannya, tambahkan lagi imbuh standar 0,5 e harus berubah
sebesar 1 e
3.3. Zero Accuracy
Untuk Jenis Timbangan dengan Penunjukan Analog
Langkah-langkah :
1. Set nol timbangan.
2. Naikkan muatan (bebas).
3. Turunkan muatan
4. Amati penunjukannya pada posisi nol.
5. Tambahkan atau kurangkan imbuh (0,1e) secara bertahap sampai
tepat menunjuk posisi kesetimbangan nol dan catat jumlah imbuh
yang dibutuhkan L.
6. Kesalahan nol timbangan adalah sebesar L.
4. Weighing Test (Pengujian Kebenaran)
Tujuan :
Untuk mengetahui kebenaran penunjukan dari timbangan.

Langkah-langkah pengujian :
a. Stel nol timbangan
b. Naikkan muatan uji (Min) pada posisi 1 dan baca penunjukan I.
c. Tambahkan imbuh (0,1e) secara bertahap sampai tepat saat
perubahan penunjukan (I+e) dan stabil, catat jumlah imbuh L.
d. Ulangi langkah a sampai dengan c untuk muatan uji yang lainnya
(minimal 5 titik uji) secara berturutan (naik).
e. Setelah pengujian naik selesai, lakukan pengujian dengan muatan
maksimum ke minimum (secara menurun).
f. Hitung penunjukan timbangan untuk setiap muatan ujinya dengan
rumus :

e
P I L
2
Contoh Cerapan Pengujian

E. WEGHING TEST
Set Nol Timbangan (I0)

Penambahan Imbuh Posisi


Muatan Penunjukan s/d Penunjukan Kesalahan
Penunjukan (IL+1e) Timbangan
L IL L P = IL + e - L E=P-L
( kg ) ( kg ) ( kg ) ( kg ) ( kg )
200 200 2 203 3
5000 5000 5 5000 0
10600 10610 7 10608 8
15625 15640 8 15637 12
19874 19890 8 19887 13
25204 25220 6 25219 15
30650 30670 10 30665 15
40676 40690 3 40692 16
45779 45800 10 45795 16
49889 49910 10 49905 16
Ketidakpastian Pada Kalibrasi Timbangan

Sumber-sumber ketidakpastian :
a. Repeatability
b. Resolusi timbangan
c. Eksentrisitas
d. Pengaruh variasi suhu
e. Anak timbangan standar
f. Gaya apung udara
ketidakpastian
a. Repeatability
Ketidakpastian akibat tingkat kemampuan ulang (repeatability) timbangan
dinyatakan melalui standar deviasi, yaitu :

P P
n
2
i
S n 1 i 1
u R S n1
n 1

p 68%

p 95%

p 99,73%

-3 -2 - + +2 +3
ketidakpastian
b. Resolusi Timbangan
Ketidakpastian yang disebabkan oleh adanya kemampuan timbangan untuk
membedakan terhadap muatan yang kecil perberbedaanya dinyatakan sbb :

Bila
0,5d
resolusi ud
timbangan 3
=d

a = 0,5d a = 0,5d

a- a+
ketidakpastian
c. Eksentrisitas
Ketidakpastian ini disebabkan oleh adanya sifat eksentrisitas dari timbangan.

Perbedaan terbesar
antara penunjukan
posisi central u ex
dengan off-center 2 3
=

a = 0,5 a = 0,5

a- a+
ketidakpastian
d. Pengaruh Variasi Suhu
Ketidakpastian ini disebabkan oleh adanya perubahan (variasi) suhu pada
tempat atau laboratorium kalibrasi timbangan.

Variasi Suhu
t = tmax - tmin
ut
1
t TK L
12

TK adalah gradien suhu dalam ppm/K. Nilai dapat


diestimasi atau juga melalui penelitian khusus. Pada
umumnya nilai berkisar sekitar 1 x 10-6 /K
ketidakpastian
e. Anak Timbangan Standar
Ketidakpastian ini disebabkan massa konvensional dari anak timbangan
standar yang digunakan untuk mengkalibrasi timbangan mempuyai nilai
ketidakpastian ataupun berada dalam rentang MPE tertentu:

Bila menurut sertifikat : U


Ketidakpastian pd 95% = U uS
dgn faktor cakupan = k k

atau

dm
Bila MPE AT = dm uS
3
ketidakpastian

f. Air Buoyancy (Gaya Apung Udara)


Ketidakpastian ini disebabkan variasi massa jenis udara (a) dan massa jenis
anak timbangan standar (W).

u 2a uW2
u BC L a 0 .
2

2
W 4
W

Dimana :

L = massa muatan
0 = massa jenis udara acuan, yaitu 1,2 kg/m3
a = massa jenis udara saat kalibrasi timbangan
W = massa jenis anak timbangan standar
ua = ketidakpastian massa jenis udara
uW = ketidakpastian massa jenis anak timbangan standar
e. Ketidakpastian standar gabungan

uC ci .ui
2

f. Faktor cakupan

k t 95 eff
g. Ketidakpastian yang diperluas

U kuC
Angka Penting
Dibatasi pada penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian dari
hasil-hasil pengukuran. Semua angka yang diperoleh dari hasil pengukuran
merupakan angka penting

Aturan mengenai angka penting:


Semua angka yang bukan angka nol adalah angka penting
Contoh : 125,73 (lima angka penting)
Angka nol yang terletak diantara angka-angka bukan nol adalah angka
penting
Contoh : 1,002 (empat angka penting)
Anka nol disebelah kanan angka bukan nol termasuk anka penting
Contoh : 12570 (lima angka penting) , 1,00 (tiga angka penting)
Anka nol yang terletak disebelah kiri angka bukan nol bukan angka
penting
Contoh : 0,0003 (satu angka penting) , 0,300 (empat angka penting)
Penulisan ketidakpastian
HASIL
Result

Muatan Uji Nilai Posisi Muatan


No Jenis Pengujian Posisi
( kg ) ( kg )
2 3
1 Repeatability 1 18430 2.404
2 Discrimination 1 200 10 1
1 18430 10
1 5 4
49889 10
3 Accuracy of zero setting 1 950 4
Ketidakpastian
Muatan Uji Kesalahan
No Jenis Pengujian Posisi ( k = 2)
( kg ) ( kg ) ( kg )
4 Eccentricity 1 18430 -4.0 6.0

2 18430 0.0 6.0

3 18430 3.0 6.0

4 18430 0.0 6.0

5 18430 0.0 6.0

5 Weighing Test 1 200 3.0 6.0

1 5000 0.0 6.0

1 10600 8.0 6.0

1 15625 12.0 6.0

1 19874 13.0 6.0

1 25204 15.0 6.0

1 30650 15.0 6.0

1 40676 16.0 6.0

1 45779 16.0 6.0

1 49889 16.0 6.0


Hal-hal Yang Berpengaruh Terhadap Timbangan
Elektronik
Pengaruh Gravitasi
Pengaruh Gelombang elektromagnetik
Continue (motor generator, switch power supplies,
televisi, radio, dsb)
Discontinu (petir, elektrostatik dan radiasi)
Gaya Tekan ke atas
Pengaruh suhu , getaran/vibrasi, kelembabapan
dsb
Operator
Referensi
Nonautomatic weighing instruments, OIML R 76 1, 1992
Adrian Valcu, Calibration of NAWI, NMI Romania, OIML Bulletin
Volume XLVIII Number I, January 2007.
Supplementary example two, Calculation of the uncertainty of a
balance calibration, NATA, Australia, 2004
APEC/APLMF, Training the trainer course on the verification of
weighing scale, Thailand, 2008
Conventional value of the result of weighing in air, OIML D 28,
Edition 2004 (E)
Technical guide, Laboratory Balances Calibration Requirements,
International Accreditation New Zealand, 2002
Guide to the expression of uncertainty in measurement (GUM),
ISO 1993