Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. B.M

Umur : 45 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Bangsa/Suku : Bugis

Alamat : Jln Sultan Alauddin 3

Tanggal Pemeriksaan : 26 September 2012

Dokter pemeriksa : dr. Hj. M

II. ANAMNESIS

Keluhan Utama : Nyeri pada mata kanan

Anamnesis Terpimpin :

Dialami sejak 7 hari yang lalu sebelum ke BKMM akibat benda asing masuk mata

kanan(semut) dan pasien megucek matanya. Mata merah (+). Air mata berlebih (+), Nyeri (+),

kotoran mata berlebih (+), rasa mengganjal (+). Pasien sulit membuka kelopak

mata(+),silau(+) . Riwayat hipertensi (-), Riwayat DM (-), Riwayat memakai kaca mata (+)

ketika membaca, Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga(-)

III. PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI


1
Foto klinis pasien

INSPEKSI

No Pemeriksaan OD
1 Palpebra Edem
2 Apparatus Lakrim
Lakrimalis
3 Silia Sekret
4 Konjungtiva Hipere
konjun
periko
5 Bola mata Norm
6 Mekanisme muscular Keseg
ODS
OD
OS
7 Kornea Keruh
fluore
8 Bilik mata depan Norm
9 Iris Cokla
10 Pupil Bulat,
11 Lensa Jernih
B. PALPASI

No Pemeriksaan OD OS
1 Tensi okuler Tn Tn
2 Nyeri tekan (-) (-)
3 Massa tumor (-) (-)
4 Glandula pre-aurikuler Tidak ada pembesaran Tdk ada pembesaran

C. TONOMETRI : Tidak dilakukan pemeriksaan

D. VISUS : VOD = 1/2/60

: VOS = 3/60

E. CAMPUS VISUAL: Tidak dilakukan pemeriksaan.


2
F. COLOR SENSE : Tidak dilakukan pemeriksaan.

G. LIGHT SENSE : Tidak dilakukan pemeriksaan.

H. PENYINARAN OBLIK :

No Pemeriksaan OD OS
1 Konjungtiva Hiperemis(+)inj Hiperemis (-)
konjungtiva(+)inj
perikornea(-)
2 Kornea Keruh bagian sentral, jernih
fluorescent(-)Infiltrat
berbentuk bulat seperti
uang logam
3 Bilik Mata Depan Normal Normal
4 Iris Coklat, kripte (+) Coklat, kripte (+)
5 Pupil Bulat, Sentral, RC (+) Bulat, Sentral, RC(+)
6 Lensa Jernih Jernih

I. DIAFANOSKOPI : Tidak dilakukan pemeriksaan

J. OFTALMOSKOP : Tidak dilakukan pemeriksaan

K. SLIT LAMP :

SLOD : Konjungtiva hiperemis (+), kornea keruh bagian sentral ukuran diameter +
3mm , BMD normal, iris coklat, kripte (+), pupil bulat, RC (+)
SLOS : Konjungtiva hiperemis (-), kornea jernih , BMD normal, iris coklat, kripte (+),
pupil bulat, RC (+)
L. SEIDEL TES : Tidak dilakukan pemeriksaan

M. EFLOURESCENT: kornea (-)

N. LABORATORIUM

Darah Rutin :

WBC 11.47 x 103


RBC 4,85 x 106
HGB 14,6
HCT 42,9 %
3
PLT 201
CT 700
BT 200
PT 11,2 control 11.7
INR 0,9
APTT 21,2 control 23.7

Kimia Darah :

GDS 126
Ureum 19
Kreatinin 0,8
GOT 35
GPT 65
HbsAg Negatif

IV. RESUME

Seorang laki-laki umur 45 tahun datang ke BKMM, dengan keluhan utama mata kanan terasa

nyeri yang dialami sejak 7 hari yang lalu sebelum ke BKMM akibat benda asing masuk

mata kanan(semut) dan pasien megucek matanya. Mata merah (+). Air mata berlebih (+),

Nyeri (+), kotoran mata berlebih (+), rasa mengganjal (+). Pasien sulit membuka kelopak

mata(+),silau(+) .

Pada pemeriksaan inspeksi, OD konjungtiva hiperemis (+), kornea keruh bagian

sentral, lakrimasi (+),BMD normal , iris coklat (kripte +), lensa jernih.

Pada pemeriksaan visus, VOD = 1/2/60, VOS= 3/60. SLOD : Konjungtiva hiperemis

(+), kornea keruh bagian sentral dengan infiltrate berbentuk seperti uang logam ukuran

diameter + 3mm ,efluorescent(-), BMD normal, iris coklat, kripte (+), pupil bulat, RC (+)

4
V. DIAGNOSIS

OD Keratitis Numularis

VI. TERAPI

Obat tetes:

Vigamox 6x1tetes OD

Obat oral :

Ciprofloxacin 2x1
Metylprednisolon 3x1

VII. ANJURAN

Pemeriksaan laboratorium

VII. Diskusi

Dari anamnesis, pasien mengeluh adanya nyeri pada mata kanan akibat kemasukan

benda asing(semut). Nyeri bisa disebabkan oleh aktifasi mediator-mediator radang akibat

trauma, selain itu juga bisa disebabkan oleh trauma pada daerah kornea, dimana daerah ini

memiliki serabut saraf tidak bermielin (sensibilitas cabang pertama nervus trigimenus pada

kornea), sehingga sangat sensitif terhadap rangsangan.

Penglihatan pasien juga menjadi kabur setelah trauma. Pada pemeriksaan fisis

didapatkan VOD = 1/2/60. Penglihatan kabur ini bisa disebabkan oleh adanya gangguan

media refraksi. Kornea adalah salah satu media refrakta, adanya defek pada kornea membuat

5
pembiasaan cahaya tidak berjalan sempurna yang membuat sinar datang menjadi terhalang

sehingga membuat visus pasien menurun.

KERATITIS

A.PENDAHULUAN

Keratitis adalah infeksi kornea pada yang ditandai dengan timbulnya infiltrat pada

lapisan kornea, biasanya diklasifikasikan menurut lapisan kornea yang terkena, yaitu keratitis

superfisialis apabila mengenai lapisan epitel atau Bowman dan keratitis profunda atau

interstisialis (atau disebut juga keratitis parenkimatosa) yang mengenai lapisan stroma

Keratitis superfisial adalah radang kornea yang mengenai lapisan epitel dan membran

Bowman, keratitis dapat terjadi pada anak-anak maupun dewasa. Kornea merupakan alat

media refraksi penglihatan dan berperan besar dalam pembiasan cahaya diretina. Oleh karena

itu setiap kelainan pada kornea termasuk infeksi dapat menyebabkan terganggunya

penglihatan. Terganggunya penglihatan biasanya karena terjadi kekeruhan pada kornea akibat

keberadaan infiltrat pada lapisan kornea. Bakteri pada umumnya tidak dapat menyerang
6
kornea yang sehat, namun beberapa kondisi dapat menyebabkan infeksi bakteri terjadi.

Contohnya, luka atau trauma pada mata dapat menyebabkan kornea terinfeksi. Mata yang

sangat kering juga dapat menurunkan mekanisme pertahanan kornea.

Beberapa etiologi yang dapat meningkatkan kejadian terjadinya keratitis antara lain:

perawatan lensa kontak yang buruk, penggunaan lensa kontak yang berlebihan, trauma,

keracunan obat, infeksi jamur, bakteri, virus, alergi, defisiensi vitamin A, kekebalan tubuh

menurun karena penyakit yang Lain. Keratitis dapat menimbulkan gejala pada mata berupa

tajam penglihatan menurun, tanda radang pada kelopak mata, rasa nyeri, mata merah,

fotofobia, mata berair, sensasi benda asing didalam mata.

Di Indonesia kekeruhan kornea masih merupakan masalah kesehatan mata sebab

kelainan ini menempati urutan kedua penyebab kebutaan.Kekeruhan kornea ini disebabkan

oleh infeksi mikroorganisme berupa bakteri, jamur dan virus. Dan bila terlambat di diagnosis

atau diterapi secara tidak tepat akan mengakibatkan kerusakan stroma dan meninggalkan

jaringan parut yang luas.

B. ANATOMI BOLA MATA

Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24 mm. Bola mata di bagian

depan (kornea) mempunyai kelengkungan yang lebih tajam sehingga terdapat bentuk

dengan 2 kelengkungan yang berbeda.1

7
Gambar 1
Gambar anatomi bola mata.
Dikutip dari kepustakaan no. 3

Kornea (latin cornum = seperti Tanduk) adalah selaput bening mata. Kornea

transparan (jernih), bentuknya hampir sebagian lingkaran dengan diameter vertikal 10-11mm.

Dan horisontal 11-12mm, tebal0,6-1mm terdiri dari 5 lapis. Kemudian indeks bias 1,375

dengan kekutan pembiasan80%. Sifat kornea yang dapat ditembus cahaya ini disebabkan oleh

struktur kornea yang seragam, avaskuler dan diturgesens atau keadaan dehidrasi jaringan

kornea relatif yang dipertahankan oleh pompa bikarbonat aktif pada endotel dan oleh

fungsisawar epitel dan endotel. Endotel lebih penting daripada epitel untuk mencegah

dehidrasi dan cedera kimiawi atau fisik pada endotel jauh lebih berat daripada cedera pada

epitel. Kerusakan sel-sel endotel menyebabkan sifat transparan hilang dan edema kornea,

sedangkan kerusakan epitel hanya menyebabkan edema lokal sesaat karena akan menghilang

seiring dengan regenerasi epitel1

8
Kornea dipersarafi oleh banyak serat saraf sensoris terutama saraf siliarislongus, saraf

nasosiliaris, Saraf Ke V saraf siliaris longus berjalan supra koroid, masuk kedalam stroma

kornea, menembus membran Bowman melepaskan selubung Schwannya. Seluruh lapis epitel

dipersarafi sampai kedua lapis terdepan tanpa ada akhir saraf. Bulbus Krause untuk sensasi

dingin ditemukan di daerah limbus. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus

terjadi dalam waktu 3 bulan. Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan

mengakibatkan sistem pompa endotel terganggu sehingga dekompensasi endotel kornea

edema terjadi. Endotel tidak mempunyai daya regenerasi.

Gambar
Gambar lapisan kornea.
Dikutip dari kepustakaan no. 3

9
Kornea merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan dan terdiri

atas lapis: 1

1.Epitel: Bentuk epitel gepeng berlapis tanpa tanduk. Bersifat larut dalam lemak.

Ujung saraf kornea berakhir di epitel oleh karena itu pada kelainan epitel akan menyebabkan

gangguan sensibilatas korena dan rasa sakit dan mengganjal. Daya regenerasi cukup Besar,

perbaikan dalam beberapa hari tanpa membentuk jaringan parut. Tebalnya 50um, terdiri atas

sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih, satu lapis sel basal, sel poligonal dan

sel gepeng. Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, sel muda ini terdorong ke depan menjadi

lapis sel sayap dan semakin maju kedepan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat dengan

sel basal disampingnya dan sel poligonal didepannya melalui desmosom dan makulaokluden,

Ikatan ini menghambat pengaliran udara, elektrolit dan glukosa yang merupakan pembatas.

Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi gangguan

akan menjadi erosi rekuren. Epitel berasal dari ektoderm permukaan.1

2.Membrana Bowman terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan

kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. Ia

mempertahankan bentuk kornea. Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi.Kerusakan akan

berakhir dengan terbentuknya jaringan parut.

3.Stroma : Lapisan yang paling tebal dari kornea. Bersifat larut dalam air. Terdiri atas

jaringan kolagen yang tersusun atas lamel-lamel, pada permukaan terlihat anyaman yang

teratur. Sedang dibagian perifer Ssrat kolagen bercabang. Stroma bersifat higroskopis yang
10
menarik udara, kadar air diatur oleh fungsi pompa sel endotel dan penguapan oleh sel epitel.

Gangguan dari susunan serat kornea terlihat keruh.Terbentuknya serat kolagen memakan

waktu lam. Kadang-kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel stroma kornea Yang

merupakan fibroblast terletak di antara serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk

bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma.

4. Membran tipis Descemet : Lapisan yang bersifat kenyal, kuat, tidak berstruktur dan

bening terletak di bawah stroma dan pelindung atau penghalang infeksi dan masuknya

pembuluh darah. Merupakan membran Selular dan merupakan batas belakang stroma kornea

dihasilkan. Sel endotel merupakan membran basalnya. Bersifat sangat elastis dan berkembang

terus seumur hidup, mempunyai Tebal 40um.

5.Endotel : Satu lapis sel terpenting untuk mempertahankan kejernihan kornea,

mengatur cairan di dalam stroma kornea, tidak mempunyai daya regenerasi, pada kerusakan

bagian ini tidak akan lagi yang normal. Dapat rusak atau terganggu fungsinya akibat trauma

bedah, penyakit intra okuler dan usia lanjut. Berasal dari mesotalium, berlapis satu bentuk

heksagonal besar 20-40um. Endotel melekat pad amebran descemet melalui hemi desmosom

dan zonula okluden.1

C.PATOFISIOLOGI

Karena kornea avaskular, maka pertahanan sewaktu peradangan tidak dapat segera

datang. Maka badan kornea, sel-sel yang terdapat di dalam stroma segera bekerja sebagai

makrofag baru kemudian disusul oleh pembuluh darah yang terdapat di limbus dan tampak
11
sebagi Injeksi perikornea. Sesudahnya baru terjadi infiltrat, yang tampak sebagai bercak

bewarna kelabu, keruh, dan permukaan yang licin. Kemudian dapat terjadi kerusakan epitel

kornea dan timbul ulkus yang dapat menyebar ke permukaan dalam stroma. Pada peradangan

yang hebat, toksin dari kornea dapat menyebar ke iris dan badan siliar dengan melalui

membran descemet dan endotel kornea. Baru demikian iris dan Badan siliar meradang dan

timbullah kekeruhan dicairan COA, disusul dengan terbentuknya hipopion. Bila peradangan

terus mendalam, tetapi tidak mengenai membran descemet dapat timbul tonjolan membran

descement yang disebut mata lalat atau descementocele. Pada peradangan dipermukaan

kornea, penyembuhan dapat berlangsung tanpa pembentukan jaringan parut. Pada peradangan

yang lebih dalam, penyembuhan berakhir dengan terbentuknya jaringan parut yang dapat

berupa nebula, makula, atau leukoma. Bila ulkusnya lebih mendalam Lagi dapat timbul

perforasi yang dapat mengakibatkan endoftalmitis, panoftalmitis, dan berakhir dengan ptisis

bulbi.

GEJALA UMUM

Keratitis dapat memberikan gejala mata merah, rasa silau, epiforia, nyeri, kelilipan,

dan penglihatan menjadi sedikit kabur. Jika penyebabnya adalah sinar ultraviolet, maka

gejala-gejala biasanya muncul lambat dan berlangsung selama 1-2 hari. Jika penyebabnya

adalah virus, maka kelenjar getah bening di depan telinga akan membengkak dan nyeri bila

ditekan. Gejala lain yang mungkin ditemukan adalah mata terasa perih, gatal dan

mengeluarkan kotoran.

12
KLASIFIKASI

Keratitis dapat dibagi menjadi :

a. Keratitis Subepitelial
Biasanya terjadi sekunder karena keratitis epitel, misalnya lesi numuler keratokonjungtivitis

epidemic yang disebabkan adenovirus 8 dan 19.

Contoh :
1. Keratitis Numular
2. Keratokonjungtivitis Epidemik
3. Keratitis Numular pada pemakaian contact lens
4. Kekeruhan numular pada Keratitis Zoster.
5. Kekeruhan numular pada keratitis sifilis congenital (keratitis interstitial)8

b.Keratitis Epitel
Pada hampir semua kasus konjungtivitis, epitel kornea biasanya ikut terkena, lesi-lesi

epitel kornea ini dapat dilihat dengan fluorosensi bentuk dan lokasi dari lesi epitel ini

berbeda-beda dan mempunyai arti diagnostic yang sangat bernilai.


Misalnya pada :
1. Keratitis Stafilokokus
Erosi kecil kornea terutama di sepertiga kornea bawah.
2. Keratitis Herpes
Khas dendrite (bercabang) kadang-kadang bulat/lonjong dengan sembab dan

degenerasi kornea
3. Keratitis Adenovirus
Lesi difus lebih nyata didaerah pupil.
4. KPS (Keratitis Pungtata Superfisial)8

c.Keratitis Interstitial (IK)


Merupakan inflamasi nonsupuratif dari stroma kornea dengan infiltrasi dan

vaskularisasi tanpa mengenai epitel atau endotel secara primer. Umumnya karena

reaksi hipersensitifitas tipe IV terhadap infeksi mikroorganisme atau antigen lain di

stromakornea.
Penyebabnya antara lain :

13
o
Bakteri: sifilis congenital, M.Tuberkulosis, M.Lepra, Rubella,

Limfogranuloma Venereum
o
Virus : HSV I, HSV II, Variola, Vaccinia, Mumps, Rubella, Rubeol, Influenza
o
Protozoa
o
Cacing
o
Penyakit yang tidak diketahui seperti Hodgkin Disease dan Sarcoidosis, dan

lain-lain8

Klasifikasi kelainan kornea berdasarkan lokasi ini, dapat juga sebagai berikut :

Superfisial : mengenai epitel dan struma superficial. Bentuk-bentuk klinik keratitis


superfisialis antara lain adalah :

1. Keratitis punctata superfisialis. Berupa bintik-bintik putih pada


permukaan kornea yang dapat disebabkan oleh berbagai penyakit
infeksi virus antara lain virus herpes simpleks, herpes zoster dan
vaksinia.
2. Keratitis flikten. Benjolan putih yang yang bermula di limbus tetapi
mempunyai kecenderungan untuk menyerang kornea.
3. Keratitis sika. Suatu bentuk keratitis yang disebabkan oleh
kurangnya sekresi kelenjar lakrimale atau sel goblet yang berada di
konjungtiva.
4. Keratitis lepra. Suatu bentuk keratitis yang diakibatkan oleh
gangguan trofik saraf, disebut juga keratitis neuroparalitik.
5. Keratitis nummularis .Bercak putih berbentuk bulat pada
permukaan kornea biasanya multiple dan banyak didapatkan pada
petani.

Interstisial : mengenai struma baik anterior atau posterior, local atau difus

Profunda : terutama mengenai Descemet dan endotel serta stroma profunda9

1. Keratitis superfisial nonulseratif

1.1 Keratitis Pungtata superfisial


14
Merupakan suatu peradangan akut, yang mengenai satu, kadang-kadang dua mata,

mulai dengan konjungitivitis kataral, disertai dengan infeksi dari traktusrespiratorius

bagian atas. Disusul dengan pembentukan infiltrat yang berupa titik-titik pada kedua

permukaan membran Bowman. Infiltrat tersebut dapat besar atau kecil dan dapat

timbul hingga berratus-ratus. Infiltrat ini di dapatkan di bagian superfisialdari stroma,

sedang epitel di atasnya tetap licin sehingga tes fluoresin (-) Oleh karena letaknya di

subepitelial. Penyebabnya adalah infeksi virus, bakteri, parasit,8

Gambar 4
Gambar keratitis pungtata superfisial.
Dikutip dari kepustakaan no.4

1.2 Keratitis Numularis atau Keratitis Dimmer

Keratitis numularis bentuk keratitis dengan ditemukan infiltrat yang bundar


berkelompok dengan inti jernih dan warna putih disekelilingnya berbatas tegas sehingga
memberikan gambaran halo. Tes fluoresen (-). Bila sembuh akan menyebabkan sikatrik ringan

15
Gambar 5
Gambar keratitis Numularis
Dikutip dari kepustakaan no.4

1.3 Keratitis Disiformis

Disebut juga sebagai keratitis sawah, karena merupakan peradangan kornea yang

banyak di negeri persawahan basah. Penyebabnya adalah virus yang berasal daris ayuran dan

binatang. Pada umumnya anamnesa ada riwayat trauma dari lumpur sawah. Pada mata tanda

radang tidak jelas, mungkin terdapat Injeksi silier. Apabila disertai dengan infeksi sekunder,

mungkin timbul tanda-tanda konjungtivitis. Pada kornea tampak infiltrat yang Bulat-Bulat, di

tengahnya lebih Padat bahasa di daripada tepi dan terletak subepitelial. Tes Fluoresin (-).

Terletak terutama dibagian tengah kornea.Umumnya menyerang orang-orang berumur 15-30

tahun1

16
Gambar 6
Gambar keratitis Disiformis
Dikutip dari kepustakaan no.5

2.Keratitis Superfisial Ulseratif

2.1 Keratokonjungtivitis Flikten

Gambar 7. Keratokonjungtivitis flikten


(Sumber: dikutip dari kepustakaan 6)
Merupakan radang kornea dan konjungtiva akibat dari reaksi imun yang mungkin sel

mediated pada jaringan yang sudah sensitif terhadap antigen. Pada mata terdapat flikten yaitu

berupa benjolan berbatas tegas berwarna putih keabuan yang terdapat pada lapisan superfisial

kornea dan menonjol di atas permukaan kornea. 2,5


Bentuk keratitis dengan gambaran bermacam-macam, dengan ditemukannya infiltrat

dan neovaskularisasi pada kornea. Gambaran karakteristiknya adalah dengan terbentuknya

17
papul dan pustula pada kornea ataupun konjungtiva. Pada mata terdapat flikten pada kornea

berupa benjolan berbatas tegas berwarna putih keabuan, dengan atau tanpa neovaskularisasi

yang menuju kearah benjolan tersebut. Biasanya bersifat bilateral yang dimulai dari daerah

limbus.
Pada gambaran klinis akan terlihat suatu keadaan sebagai hiperemia konjungtiva,

kurangnya air mata, menebalnya epitel kornea, perasaan panas disertai gatal dan tajam

penglihatan yang berkurang. Pada limbus di dapatkan benjolan putih kemerahan dikelilingi

daerah konjungtiva yang hyperemia. Bila terjadi penyembuhan akan terjadi jaringan parut

dengan noevaskularisasi pada kornea.


Pada anak-anak keratitis flikten disertai gizi buruk dapat berkembang menjadi tukak

kornea karena infeksi sekunder. Tukak flikten sering ditemukan berbentuk sebagai benjolan

abu-abu, yang pada kornea terlihat sebagai:

- Ulkus fasikular, berbentuk ulkus yang menjalar melintas kornea dengan pembuluh

darah jelas dibelakangnya.

- Flikten multipel di sekitar limbus

- Ulkus cincin, yang merupakan gabungan ulkus.

2.3 Keratitis Herpetika

Keratitis herpes simpleks merupakan radang kornea yang disebabkan oleh infeksi

virus herpes simpleks tipe 1 maupun tipe 2. Kelainan mata akibat infeksi herpes simpleks

dapat bersifat primer dan kambuhan. lnfeksi primer ditandai oleh adanya demam, malaise,

limfadenopati preaurikuler, konjungtivitis folikutans, bleparitis, dan 2/3 kasus terjadi keratitis

18
epitelial. Kebanyakan kasus bersifat unilateral, walaupun dapat terjadi bilateral khususnya

pada pasien-pasien atopi.


Berat ringannya gejala-gejala iritasi tidak sebanding dengan luasnya lesi epitel,

berhubung adanya hipestesi atau insensibilitas kornea. Dalam hal ini harus diwaspadai

terhadap keratitis lain yang juga disertai hipestesi kornea, misalnya pada: herpes zoster

oftalmikus, keratitis akibat pemaparan dan mata kering, pengguna lensa kontak, keratopati

bulosa, dan keratitis kronik. Gejala spesifik pada keratitis herpes simpleks ringan adalah tidak

adanya fotofobia.
Infeksi herpes simpleks laten terjadi setelah 2-3 minggu paska infeksi primer dengan

mekanisme yang tidak jelas. Virus menjadi inaktif dalam neuron sensorik atau ganglion

otonom. Dalam hal ini ganglion servikalis superior, ganglion nervus trigeminus, dan ganglion

siliaris berperan sebagai penyimpan virus. Namun akhir-akhir ini dibuktikan bahwa jaringan

kornea sendiri berperan sebagai tempat berlindung virus herpes simpleks2.

19
Gambar 8. Keratitis dendritik
(sumber : dikutip dari kepustakaan 8)

Keratitis superfisial dapat berupa pungtata, dendritik, dan geografik. Keratitis

dendritika merupakan proses kelanjutan dari keratitis pungtata yang diakibatkan oleh

perbanyakan virus dan menyebar sambil menimbulka kematian sel serta membentuk defek

dengan gambaran bercabang. Keratitis dendritika dapat berkembang menjadi keratitis

geografika, hal ini terjadi akibat bentukan ulkus bercabang yang melebar dan bentuknya

menjadi ovoid. Dengan demikian gambaran ulkus menjadi seperti peta geografi dengan kaki

cabang mengelilingi ulkus.


Keratitis herpes simpleks bentuk dendrit harus dibedakan dengan keratitis herpes zoster, pada

herpes zoster bukan suatu ulserasi tetapi suatu hipertropi epitel yang dikelilingi mucus

plaques; selain itu, bentuk dendriform lebih kecil.


Keratitis epitelial dapat berkembang menjadi ulkus metaherpetik, dalam hal ini terjadi

perobekan membrana basalis. Ulkus metaherpetik bersifat steril, deepitelisasi meluas sampai

stroma. Ulkus ini berbentuk bulat atau lonjong dengan ukuran beberapa milimeter dan bersifat

tunggal. Pada kasus ini dapat dijumpai adanya edema stroma yang berat disertai lipatan

membrana descemet. Reaksi iritasi konjungtiva bersifat ringan akibat adanya hipestesia.

Reflek lakrimasi berkurang, sehingga produksi tear film menjadi relatif tidak cukup. Ulkus

metaherpetik dapat menetap dalam beberapa minggu sampai beberapa bulan. Untuk

penyembuhannya memerlukan waktu sekurang-kurangnya 6 minggu.


Klasifikasi Diagnosis:
Hogan dkk. (1964) membuat klasifikasi diagnosis keratitis herpes simpleks sebagai berikut:

1. Superfisial, dibedakan atas bentuk dendritika, dendritika dan stroma, geografika.


2. Profunda, dibedakan atas stroma dan disciform, stroma dan penyembuhan, stroma dan

ulserasi.
20
3. Uveitis, dibedakan atas kerato uveitis dan uveitis; dalam hal ini keratouveitis

dibedakan atas bentuk ulserasi dan non ulserasi.

Klasifikasi tersebut ternyata kurang sempurna, karena bentuk keratitis pungtata yang

merupakan awal keratitis dendnitik tidak dimasukkan. Selain itu, pada beberapa kasus yang

berat ternyata dijumpai glaukoma sekunder yang diakibatkan oleh radang jaringan

trabekulum.8
Untuk membuat diagnosis, sekarang ini dianut kiasifikasi yang dibuat oleh Pavan-

Langston (1983) sebagai berikut:


1. Ulserasi epitelial, dibedakan atas bentuk pungtata, dendritika,

dendrogeografika, geografika.
2. Ulserasi trophik atau meta herpetika.
3. Stroma, dibedakan atas bentuk keratitis disciform, keratitis interstitialis.
4. Uveitis anterior dan trabekulitis.8
Klasifikasi menurut Pavan-Langston inipun belum sempurna, mengingat sangat jarang

ditemukan kasus uveitis anterior maupun trabekulitis yang berdiri sendiri tanpa melibatkan

adanya keratitis.

2.4 Keratokonjungtivitis Sika

Gambar 9. Keratokonjungtivitis sika


21
(sumber : dikutip dari kepustakaan 6)

Keratokonjungtivitis sika adalah suatu keadaan keringnya permukaan kornea dan

konjungtiva. Kelainan ini terjadi pada penyakit yang mengakibatkan :

1. Defisiensi komponen lemak air mata. Misalnya: blefaritis menahun, distikiasis dan

akibat pembedahan kelopak mata.


2. Defisiensi kelenjar air mata: sindrom Sjogren, sindrom Riley Day, alakrimia

congenital, aplasi congenital saraf trigeminus, sarkoidosis limfoma kelenjar air mata,

obat-obat diuretik kimia, atropin dan usia tua.


3. Defisiensi komponen musin: benign ocular pemphigoid, defisiensi vitamin A, trauma

kimia, sindrom Stevens Johnson, penyakit-penyakit yang mengakibatkan cacatnya

konjungtiva.
4. Akibat penguapan yang berlebihan seperti pada keratitis neroparalitik, hidup di gurun

pasir, keratitis lagoftalmus.


5. Karena parut pada kornea atau menghilangnya mikrovili kornea.
Pada keratokonjungtivitis sika terdapat rasa gatal pada mata. Pada mata didapatkan sekresi

mukus yang berlebihan. Sukar menggerakkan kelopak mata. Mata kering karena dengan erosi

kornea.
Pada pemeriksaan lama celah didapatkan miniskus air mata pada tepi kelopak mata bawah

hilang, edema konjungtiva bulbi, filamen (benang-benang) melekat di kornea.1

2.5 Rosasea Keratitis

22
Gambar 10. Keratitis rosasea
(sumber : dikutip dari kepustakaan 7)

Didapat pada orang yang menderita akne rosasea, yaitu penyakit dengan kemerahan

dikulit, disertai akne diatasnya, yang merupakan komplikasi dari akne rosasea dan lebih

sering terjadi pada orang dengan kulit putih. Hiperemi yang terjadi berlangsung beberapa

lama dan diikuti dengan dilatasi pembuluh darah kecil yang tetap, terutama di daerah hidung.

Bagian dalam dari kulit menebal, terutama di daerah hidung. Hipertrofi kulit hidung

menimbulkan lipatan yang disebut rinofima. Penyakit ini timbul pada dewasa muda dan

hilang pada usia lanjut. Penyebabnya tidak diketahui dengan jelas, namun mungkin ada

hubungan dengan makanan, kelainan pencernaan, kebanyakan alkohol, dan gastric achlorida.
Lebih dari 50% menunjukkan blefaritis, konjungtivitis, yang mungkin disebabkan

oleh infeksi sekunder, dengan stafilokok. Dapat terjadi kerusakan kornea apabila akne

mengenai kornea. Pada pemeriksaan mikroskopik, perifer kornea dapat mengalami ulserasi

dan vaskularisasi, dan keratitis memiliki dasar yang sempit pada daerah limbus dan infiltrat

yang luas pada bagian sentral.4

23
Penyakit rosasea adalah penyakit yang menahun dan sering menimbulkan

kekambuhan serta memberikan respon yang jelek terhadap pengobatan. Pada setiap serangan

penglihatan bertambah buruk.

Penatalaksanaan

Keratitis superfisial nonulseratif

1.Keratitis Pungtata superfisial :Pengobatan yang dapat diberikan Pada keratitis pungtata

superfisial adalah pengobatan lokal, yaitu salep antibiotik atau sulfa untuk mencegah

terjadinya infeksi sekunder, dapat ikombinasi dengan kortikosteroid

24
2.Keratitis Numularis atau Keratitis Dimmer

Tidak ada pengobatan yang spesifik terhadap penyakit ini. Obat-obatan hanya

diberikan untuk mencegah infeksi sekunder. Untuk terapi lokal diberikan salep antibiotika

yang dapat dikombinasi dengan kortikosteroid .

3 Keratitis Disiformis

Untuk keratitis Disiformis dapat diberikan salep mata antibiotik yang dapat dikombinasikan

dengan kortikosteroid. Pada keratitis ini, biasanya perjalanan penyakit lama hingga berbulan-

bulan.

Keratitis Superfisial Ulseratif

Keratitis Pungtata Superfisial Ulserativa

Salep antibiotika atau sulfa yang sesuai dengan kumannya yang didapatkan atau

memakai obat antibiotika yang berspektrum luas.

Keratokonjungtivitis Flikten

Pengobatan keratokonjungtivitis flikten adalah dengan memberi steroid lokal maupun

sistemik. Flikten kornea dapat menghilang tanpa bekas namun apabila telah terjadi ulkus

akibat infeksi sekunder dapat terjadi parut kornea. Dalam keadaan yang berat dapat terjadi

perforasi kornea.

25
Keratitis Herpetika

Pengobatan kadang-kadang tidak diperlukan karena dapat sembuh spontan atau dapat

sembuh dengan melakukan debridement. Dapat juga dengan memberikan obat antivirus

topikal dan antibiotika topikal. Antivirus seperti IDU 0.1% diberikan setiap 1 jam atau

asiklovir.
Sebagian besar para pakar menganjurkan melakukan debridement sebelumnya.

Debridement epitel kornea selain berperan untuk pengambilan spesimen diagnostik, juga

untuk menghilangkan sawar epitelial sehingga antiviral lebih mudah menembus. Dalam hal

ini juga untuk mengurangi subepithelial "ghost" opacity yang sering mengikuti keratitis

dendritik. Diharapkan debridement juga mampu mengurangi kandungan virus epithelial

sehingga reaksi radang akan cepat berkurang.

Keratokonjungtivitis Sika

Pengobatan harus langsung bertujuan untuk mempertahankan lapisan air mata dengan

menggantinya dengan air mata buatan. Pada keratokonjungtivitis yang berhubungan dengan

Sjogren sindrom pemberian kortikosteroid dosis rendah dan topikal siklosporin menunjukkan

keefektifan.
Pengobatan juga tergantung dari penyebabnya:

a. Pemberian air mata tiruan bila yang kurang adalah komponen air mata
b. Pemberian lensa kontak apabila komponen mukus yang berkurang
c. Penutupan pungtum lakrimal bila terjadi penguapan yang berlebihan

Rosasea Keratitis

Pengobatan penyakit ini adalah dengan menghindari makan makanan pedas dan panas

serta minuman beralkohol yang dapat menyebabkan dilatasi dari pembuluh darah di wajah.

26
Adanya infeksi stafilokokus harus diobati dengan oral tetrasiklin atau doksisiklin. Dosis

maintenen dapat diadministrasikan untuk mengontrol penyakit ini1.

DAFTAR PUSTAKA

1. ILyas S. Mata merah dengan penglihatan turun mendadak. Dalam : Ilyas S. Ilmu Penyakit

Mata edisi 3; 2004. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal ; 149

2. Zorab R A, Straus H,Dondrea, et.al. Fundamental and Principles of Ophtalmology. Section

2. International ophtalmology american academy of ophtalmology. The Eye M.D;2008-

2009. p.43
3. Vaughan & (2008) Asbury General Ophthalmology, edisi ke-17, United Statesof

America:. McGraw-Hill
4. http//optometricarticle.com
5. http//Sarawakeyecare.com/atlasofopthalmology/anteriorsegment/.htm
6. http://www.nyee.edu/digitalatlas.html
7. http://odlarmed.com/?p=3709
8. Khurana AK. ComprehensiveOpthamology.Disease of Cornea.Chapter 5,2007
9. Lang G.Infectious Keratitis dalam Opthamology.A textbook Atlas.2nd Edition 2006.
27
28