Anda di halaman 1dari 43

REFERAT

ILMU PENYAKIT MATA

PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI

Pembimbing:
dr. Teguh Anamani, Sp.M

Disusun oleh:
Paramita Ardiyanti
G4A015177

SMF ILMU PENYAKIT MATA


RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARDJO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO

2017
LEMBAR PENGESAHAN
TUGAS REFERAT

PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI

Disusun oleh:
Paramita Ardiyanti
G4A015177

diajukan untuk memenuhi persyaratan mengikuti ujian Kepaniteraan Klinik di


bagian Ilmu Penyakit Mata RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

Telah disetujui dan dipresentasikan


Pada tanggal, Agustus 2017

Pembimbing,

dr. Teguh Anamani, Sp. M


NIP. 19820730 201412 2 00
2
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT atas berkat, rahmat,
hidayah dan inayah-Nya, sehingga referat dengan judul Pemeriksaan
Oftalmologi ini dapat diselesaikan. Referat ini merupakan salah satu tugas di
SMF Ilmu Penyakit Mata. Oleh karena itu penyusun mengharapkan saran dan
kritik untuk perbaikan penulisan di masa yang akan datang.
Tidak lupa penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. dr. Teguh Anamani, Sp.M selaku dosen pembimbing
2. Dokter-dokter spesialis mata di SMF Ilmu Penyakit Mata RSUD Prof.
Dr. Margono Soekarjo Purwokerto
3. Orangtua serta keluarga penulis atas doa dan dukungan yang tidak pernah
henti diberikan kepada penulis
4. Rekan-rekan ko-assisten Bagian Ilmu Penyakit Mata atas semangat dan
dorongan serta bantuannya.
Penulis menyadari referat ini masih jauh dari kesempurnaan. Kritik dan saran
yang membangun dari semua pihak penulis harapkan demi referat yang lebih baik.
Demikian yang dapat penulis sampaikan, semoga referat ini bermanfaat bagi
semua pihak yang ada di dalam maupun di luar lingkungan RSUD Prof. Dr.
Margono Soekarjo Purwokerto.
Purwokerto, Agustus 2017

Penulis

3
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................. 2


KATA PENGANTAR .......................................................................................... 3
DAFTAR ISI ......................................................................................................... 4
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .......................................................................................... 5
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi dan Fisiologi Mata ..................................................................... 6
B. Pemeriksaan Mata ..................................................................................... 7
1. Pemeriksaan dasar mata ...................................................................... 7
2. Pemeriksaan tambahan ........................................................................ 21
3. Pemeriksaan lapang pandang .............................................................. 31
4. Pemeriksaan glaukoma ....................................................................... 35
III.KESIMPULAN ................................................................................................ 45
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 46

4
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penglihatan merupakan salah satu indera terpenting dan paling berharga
yang kita miliki. Penglihatan yang jelas melibatkan proses yang kompleks dan
rumit dalam mengumpulkan, memusatkan dan merubah cahaya menjadi
gambar. Seiring dengan bertambahnya usia, mata dan mekanisme
kepekaannya makin rentan terhadap kerusakan dan penyakit. Waspada
terhadap perubahan dalam penglihatan anda penting untuk mendeteksi
penyakit mata.
Beberapa penyakit mata seperti glaukoma dan diabetic retinopathy tidak
menunjukkan gejala pada tahap awal, mungkin tidak diketahui bahwa mata
bermasalah hingga penyakit ini telah mencapai tahap lanjut. Hal ini
menyebabkan penyakit mata menjadi lebih sulit diobati dan diatasi.
Pemeriksaan mata pada klien yang datang dengan keluhan yang dirasakan
pada mata mempunyai peranan penting dalam menentukan perjalanan
penyakit dan penyembuhan penyakit.
Deteksi dini kelainan mata secara tepat sangat penting untuk mencegah
kebutaan akibat penyakit yang tidak terdiagnosa dengan tepat atau terlambat
dirujuk, sehingga diperlukan pemeriksaan mata dasar untuk menegakkan
kemungkinan penyebab dan membantu ketepatan waktu dalam merujuk klien.
Dalam pelayanannya, paramedis merupakan ujung tombak untuk menngetahui
decara dini dan tepat serta dapat memberi gambaran dan informasi kepada
penderita tentang pencegahan, pengobatan serta pemahaman tentang kelainan
mata yang dijumpai serta tindakan pertolongan pertama yang diberikan
kepada klien.

5
II.TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi dan Fisiologi Mata


Secara anatomi mata terdiri dari bagian-bagian sebagai berikut :
1. Suprasilia (alis mata)
Terletak ditepi atas rongga orbita, yang berfungsi sebagai penahan
kotoran dan kosmetik.
2. Palpebra (kelopak mata)
Terdiri dari palpebra superior dan inferior (kelopak mata atas dan
bawah) yang berfungsi sebagai pelindung dari bola mata dimana dapat
membuka dan menutup.
Muskulus orbikularis dapat menyebabkan mata berkedip yang juga
menyebabkan sekresi glandula lakrimal (kelenjar air mata) yang
membasahai mata. Muskulus levator palpebra menyebabkan kelopak mata
dapat membuka dan menutup.
Kelenjar Meibom berfungsi sebagai penghasil cairan lapisan air mata,
selain itu terdapat kelenjar Zeiss dan Molle yang bermuara di folikel pada
bulu mata.
3. Konjungtiva (selaput lendir mata)
Merupakan lapisan transparan yang terdiri dari konjungtiva tarsalis
superior dan inferior yang menutupi kelopak mata atas dan bawah,
konjungtiva forniks serta konjungtiva bulbi yang menutupi bagian depan
bola mata.
Terdiri dari lapisan tipis yang banyak mengandung sel Goblet
menghasilkan zat yang menjadi lapisan dari air mata.
4. Bulbus okuli (bola mata)
6
Merupakan bagiain yang terltak di rongga orbita yang dapat diperikda
dari luar dengan bantuan lampu senter yaitu bagian bagian sebagai berikut
Kornea, Sklera bagian depan, Bilik mata depan (kamera okuli anterior),
Pupil dan iris (Teling mata) dan Lensa.
Sedang pemeriksaan badan kaca, retina dan Nervus II dapat dilakukan
dengan oftalmoskop, dengan Slit lamp dan Gonioskpi dapat diperiksa
sudut bilik mata depan.
a. Kornea (selaput bening mata) :
Merupakan lapisan yang jernih /transparan yang merupakan media
refraksi yang terdepan dari bola mata yang berfungsi sebagai jendela
masuknya cahaya. Persarafan sensorisnya didapat dari serabut N VII
untuk sensai rasa nyeri.
b. Sklera (selaput putih mata)
Merupakan lapisan paling luar dari dinding bola mata yang akan
melanjutkan diri ke bagian belakang bola mata yang terdiri dari 3
(tiga) la[pisan yaitu sklera, koroid dan retina.
c. Uvea terdiri dari :
Iris terletak melingkar membentuk pupil : terdiri dari otot sfingter
untuk gerakan miosis (pupil mengecil) dan otot dilatator unytuk
gerakan dilatasi atau midriasis, berfungsi mengatur jumlah cahaya
yang masuk ke dalam bola mata.
Badan siliar merupakan lanjutan iris di bagian belakang dan
memproduksi humor akuos yang memberi nutrisi untuk mata.
Di badan siliar terdapat otot otot yang berfungsi untuk akomodasi
lensa yang penting untuk melihat dekat.
d. Retina

7
Lapisan yang meliputi 2/3 bagian dalam dari dinding bola mata,
terdiri dari lapisan sensoris yang secara dapat terlepas dari lapisan di
bawahnya sehingga terjadi apa yang disebut ablasio retina.
e. Akuos humor
Merupakan cairan dalam bola mata yang berfubgsi selain sebagai
cairan nutrisi juga untuk mempertahankan tekanan intra okular antara
10-20 mm Hg. Sirkulasi Humor akuos adalah dari bilik mata
belakang melalui celah antara iris dan lensa masuk ke bilik mata
depan. Selanjutnya ke saluran Schlemm yang terdapat disudut bilik
mata depan . Bila sirkulasi tehgambat, tekanan intra okular (TIO) akan
meninggi terjadi apa yang disebut glaukoma.
5. Lapisan airmata
Terdiri dari 3 (tiga) lapisan yaitu lapisan lemak dari kelenjar Meibom,
air dari kelenjar lakrimal dan musin dari sel Goblet. Berfungsi untuk
membasahi kornea , bersifat anti mikroba. Air mata kan disalurkan ke
kanalikuli superior dan inferior kemudian ke sakus lakrimalis, selanjutnya
melalui duktus nasolakrimalis akan masuk ke rongga hidung.
6. Otot otot penggerak bola mata berfungsi untuk menggerakan bola mata ke
madial, lateral, superioir dan inferior serta oblik. Masing masing mendapat
persarafan sebagai berikut (Ilyas, 2010).
a. Rektus medial (N III) : menggerakkan mata ke medial
b. Rektus lateral (N VI) : menggerakkan mata ke temporal
c. Rektus superior (N III) : menggerakkan mata keatas
d. Rektus inferior (N III) : menggerakkan mata ke bawah
e Oblikus superior (N IV) : bekerja untuk menggerakkan mata keatas,
abduksi dan eksiklotorsi.
f. Oblikus inferior (N. III) : Depresi, eksoklotorsi, aduksi.

8
Gambar 2.1 Anatomi Mata

B. Pemeriksaan Mata
1. Pemeriksaan dasar mata
Tujuan pemeriksaan fisik mata adalah untuk menilai fungsi
maupun anatomi kedua mata. Fungsi di sini mencakup fungsi penglihatan
dan bukan-penglihatan, seperti gerak mata dan kesejajaran (alignment).
Secara anatomis, masalah mata dapat dibagi menjadi tiga daerah: masalah
pada adneksa (patpebra dan jaringan periokular), bola
mata, dan orbita.
a. Pemeriksaan Segmen Anterior
1) Orbita
Raba rima orbita : nilai adakah krepitasi.

9
Gambar 2.2 Rima Orbita
2) Bola mata : Hirschberg test (kedudukan bola mata, dengan
melihat reflex kornea)

Gambar 2.3 Hirschberg test


a) senter di depan pasien pada jarak 30 cm
b) Pasien diminta untuk melihat senter
c) lihat jatuhnya pantulan sinar senter di kornea pasien
d) Penilaian reflex sinar
0 : di tengan pupil
15 : di margo iris
30 : di corpus iris
45 : di iris root/ tepi pupil dengan limbus
e) Interpretasi:
-Esotropia: penyimpangan sumbu penglihatan yang nyata
dimana salah satu sumbu penglihatan menuju titik fiksasi
sedangkan sumbu yang menyimpang pada bidang horizontal
kea rah medial
-Eksotropia: penyimpangan sumbu penglihatan yang nyata
dimana salah satu sumbu penglihatan menuju titik fiksasi

10
sedangkan sumbu penglihatan yang lainnya menyimpang
pada bidang horizontal kea rah lateral.
-hipertropia: penyimpangan sumbu penglihatan dimana salah
satu sumbu penglihatan menuju titik fiksasi sedangkan
sumbu penglihatan yang lainnya menyimpang pada bidang
vertikal ke arah superior
-hipotrpia: penyimpangan sumbu penglihatan dimana salah
satu sumbu penglihatan menuju titik fiksasi sedangkan
sumbu penglihatan yang lainnya menyimpang pada bidang
vertikal kea rah inferior

3) Gerakan Bola Mata

Gambar 2.4 Arah bola mata


a) Pasien diminta untuk melihat dan mengikuti gerakan senter
b) Letakkan senter di depan pasien geser ke arah lateral,
superolateral, superior, superomedial, medial, inferomedial,
inferior, inferolateral
c) Nilai apabila ada hambatan gerak
4) Palpebra
11
Gambar 2.5 Palpebra superior et inferior

a) Senter di depan pasien


b) Pasien diminta membuka dan menutup mata nilai
c) Pasien melihat ke depan, pemeriksa di depan
d) Inspeksi :
- lagoftalmos : kelopak yang tidak dapat menutup sempurna
- ptosis : kelopak sukar terangkat
- edem
- entropion : terbalik ke dalam tepi jaringan
- ektropion : terbalik ke luar tepi jaringan
e) Palpasi : masa, perabaan hangat, nyeri tekan
5) SIlia

Gambar 2.6 Silia


a) Senter di depan pasien + ophthalmic lope
12
b) Pasien melihat ke depan, pemeriksaan di depan
c) Inspeksi: arah tumbuh silia, barisan silia, krusta, skuama, ulkus
di dasar silia
-trikiasis : silia tumbuh salah arah
-madarosis: silia rontok
-distikiasis : tumbuhnya baris bulu mata ganda pada satu
kelopak
6) Konjungtiva
a) Konjungtiva palpebra superior

Gambar 2.7 Konjungtiva palpebral superior


- Senter di depan pasien + ophthalmic loupe
- Pasien melirik ke bawah, pemeriksa di depan
- Letakkan jari telunjuk pada sulcus palpebral superior
- Letakkan ibu jari pada orifisium kelenjar meibom
- Geser palpebral superior dengan jari telunjuk ke inferior
- Eversi palpebral superior sehingga konjungtiva palpebral
superior dan konjungtiva forniks superior terpapar
- Inspeksi :
papil hipertrofi : berbentuk poligonal dan tersusun
berdekatan, permukaan datar, terdapat pada
konjungtivitis vernal
sikatriks : pada trakoma arah sikatriks sejajar dengan
margo palpebra massa (line of artl)
hiperemis
b) Konjungtiva palpebral inferior
13
Gambar 2.8 Konjungtiva palpebral inferior
- Senter di depan pasien + ophthalmic loupe
- Pasien melirik ke atas, pemeriksa di depan
- Tarik palpebral inferior ke bawah sehingga konjungtiva
palpebral inferior dan konjungtiva forniks inferior terpapar
- Inspeksi : folikel (penimbunan cairan dan sel limfoid di
bawah konjungtiva), massa, hiperemis, secret
c) Konjungtiva bulbi

Gambar 2.9 Konjungtiva bulbi


- Senter di depan pasien + ophthalmic loupe
- Pasien melihat ke depan, pemeriksa di depan
- Inspeksi :
injeksi konjungtiva : melebarnya arteri konjungtiva
posterior
injeksi siliar : melebarnya pembuluh perikorneal atau
arteri siliar anterior
Pterigium : proliferasi dengan vaskularisasi pada
konjungtiva yang berbentuk segitiga
degenerasi hialin

14
flikten : sel radang dengan neovaskularisasi pada
kornea
bitot spot
- Palpasi: gerakan palpebra inferior untuk mengetahui
perlekatan massa ke sklera
7) Kornea
Normalnya bening

Gambar 2.10 Keratokonus


- Senter di temporal pasien + ophthalmic loupe
- Pasien menunduk ke bawah, pemeriksa di temporal
- Geser palpebral superior ke atas
- Inspeksi : morfologi kornea: keratoconus

Gambar 2.11 Kelainan pada kornea


- Senter di depan pasien + ophthalmic loupe
- Pasien melihat ke depan, pemeriksa di depan
- Inspeksi :
Infiltrate : tertimbunnya sel radang pada kornea
sehingga warnanya menjadi keruh
15
Erosi : lepasnya epitel kornea superfisial
Ulkus : hilangnya sebagian permukaan kornea akibat
kematian jaringan kornea pada infeksi ataupun alergi
Neovaskularisasi
arcus senilis : cincin berwarna putih abu-abu di
lingkaran luar

Gambar 2.12 Keratic presipitat


- Senter di temporal pasien + ophthalmic loupe
- Pasien melihat ke depan
- Inspeksi : keratic presipitat (endapan sel radang di dataran
belakang atau endotel kornea)
8) Bilik mata depan (COA)
Normalnya mata cukup dalam dan jernih.
- senter di temporal pasien + ophthalmic loupe
- pasien melihat ke depan
- pemeriksa menilai dari depan
- Inspeksi : Iris tersenteri semua COA dalam

Gambar 2.13 Camera Occuli Anterior dalam


- Senter 45 di depan pasien + ophthalmic loupe
- Pasien melihat ke depan, pemeriksa menilai dari temporal
- Inspeksi : tyndal effect (COA keruh akibat penimbunan sel
radang atau bahan darah lainnya)
16
Gambar 2.14 Hifema dan Hipopion
- Senter di depan pasien + ophthalmic loupe
- Pasien melihat ke depan , pemeriksa di depan
- Inspeksi : darah, hipopion (penimbunan sel radang di bagian
bawah COA), massa
9) Iris dan pupil
Pemeriksaan iris dilakukan dengan caraL
- Senter di depan pasien + ophthalmic loupe
- Pasien melihat ke depan, pemeriksa di depan
- Inspeksi : warna, kripte, sinekia (menempelnya iris dengan
kornea), nodul iris, neovaskularisasi

Gambar 2.15 Kelainan Iris dan Pupil


Normalnya pupil mata kiri dan kanan sama lebarnya dan letaknya
simetris di tengah. Lebar pupil + 3 mm.
Pemeriksaan ada 2 cara :
17
- Refleks pupil langsung (Unconsensual) Respon pupil
langsung di nilai ketika diberikan cahaya yang terang, pupil
akan konstriksi ( mengecil ).
- Refleks pupil tidak langsung (consensual ) Dinilai bila
cahaya diberikan pada salah satu mata, maka fellow eye akan
memberikan respon yang sama.
10) Lensa mata
Normalnya jernih

Gambar 2.16 Pemeriksaan Irishadow


- Senter 45 pasien + ophthalmic loupe
- Pasien melihat ke depan, pemeriksa di depan
- Inspeksi: Irishshadow
-

Gambar 2.17 Kekeruhan pada lensa


- Senter di depan pasien + ophthalmic loupe
- Pasien melihat ke depan, pemeriksa di depan
- Inspeksi : kekeruhan, pigmen iris
b. Pemeriksaan segmen posterior.
Pemeriksaan segmen posterior yang sering dilakukan yaitu funduskopi
dan reflex fundus. Pemeriksaan ini menggunakan alat yang bernama
18
oftalmoskop. Oftalmoskop adalah suatu teknik pemeriksaan yang
digunakan untuk melihat adanya kelainan pada fundus okuli. Pada
pemeriksaan ini cahaya yang berasal dari alat oftalmoskop akan
memberikan reflex pada fundus dan akan tampak gambaran yang ada.
Oftalmoskopi dibedakan dalam oftalmoskopi langsung dan tidak
langsung.
1) Oftalmoskopi langsung
Oftalmoskopi langsung memberikan gambaran normal atau
tidak terbalik pada fundus okuli. Pemeriksaan dilakukan di kamar
gelap dengan pasien duduk dan dokter berdiri di sebelah mata yang
diperiksa. Mata kanan diperiksa dengan mata kanan demikian pula
sebaliknya. Jarak pemeriksaan antara kedua mata pemeriksa dan
pasien adalah 30 cm. Setelah terlihat refleks merah pada pupil
maka oftalmoskop didekatkan hingga 2-3cm dari mata pasien. Bila
kelopak memperlihatkan tanda menutup maka kelopak tersebut
ditahan dengan tangan yang tidak memegang alat oftalmoskop.
Untuk memperluas lapang penglihatan maka pasien dapat disuruh
melirik ke samping ataupun ke bawah dan ke atas.
2) Oftalmoskopi tak langsung.
Oftalmoskopi tak langsung memberikan bayangan terbalik, dan
kecil serta lapangan penglihatan yang luas di dalam fundus okuli
pasien. Jarak periksa adalah 50 cm atau sejarak panjang lengan.
Selain dipergunakan oftalmoskop tak langsung juga dipergunakan
lensa 15-20 dioptri yang diletakkan 10 cm dari mata sehingga letak
fundus berada di titik api lensa. Sama dengan oftalmoskopi
langsung pasien dapat diminta untuk melihat ke berbagai jurusan
untuk dapat diperiksa bagain-bagian retina.

19
Gambar 2.18 A. Oftalmoskopi direk dan B. Oftalmoskopi indirek

Gambar 2.19 Fundus Normal.Pembuluh darah retina tidak menyebrangi


fovea.
a) Cara pemeriksaan fundus reflex

Gambar 2.20 Keadaan pupil pada pemeriksaan


fundus refleks
- Mata penderita ditetesi midriasil 0,5%

20
- Pasien berada dalam ruangan gelap
- Pemeriksa berjarak 30 cm dari pasien
- Menggunakan ophtalmoskop
- Menilai warna merah jingga
b) Cara pemeriksaan funduskopi
- Tetes midriasil 0,5 %
- Pasien berada dalam ruangan gelap
- Jari tengah berada di proceccus maksilaris pasien
- Jari telunjuk berada di pemutar kekuatan cahaya
- Mata kanan di periksa dengan mata kanan dan sebaliknya
- Pemeriksaan:
Fokuskan pandangan pada retina yang Nampak
Ikuti pembuluh darah yang ada ke yang lebih besar
Setelah ditemukan papil n.II warna lebih kuning
Arahkan cahaya oftalmoskop ke temporal sebanyak 2-3
DD
Lihat zona avaskuler
Di sentralnya terdapat pantulan cahaya reflex fovea
- penilaian :
Papil N.II: bentuk, batas, warna, cup/disc ratio, oedema,
prominentia
Macula: eksudat, perdarahan, reflek fovea

21
Gambar 2.21 Pemeriksaan funduskopi dan gambaran
fundus okuli normal

2. Pemeriksaan tambahan
a) Pemeriksaan Aparatus lakrimal
1) Uji Anel

Gambar 2.22 Pemberian larutan fisiologik


Untuk mengetahui fungsi ekskresi dalam sistem lakrimal.
Diberikan anestesia topikal dan dilakukan dilatasi pungtum
lakrimal. Jarum anel dimasukan ke dalam pungtum dan kanalikuli
lakrimal. Dilakukan penyemprotan dengan garam fisiologik.
Ditanyakan apakah pasien merasa cairan masuk ke
tenggorokannya, atau dilihat apakah ada refleks menelan pada
pasien. Bila hal ini ada maka menunjukan fungsi ekskresi lakrimal
masih baik. Bila tidak,maka kemungkinan terjadi penyumbatan
pada duktus nasolakrimal.
2) Uji rasa (untuk fungsi ekskresi lakrimal) satu tetes larutan sakarin
diteteskan pada konjungtiva, bila pasien merasa manis setelah 5
menit berarti system ekskresi air mata baik.
3) Uji schirmer I (untuk keratokonjungtiva sika)
Merupakan pemeriksaan sekresi total air mata (reflex dan basal).

22
Penderita diperiksa di kamar penerangan redup dan tidak
mengalami manipulasi mata berlebihan sebelumnya.
Sepotong kertas filter atau kertas Whatman no. 41 lebar 5 mm dan
panjang 30 mm diselipkan pada forniks konjungtiva bulbi bawah,
ujung lain ketas menggantung pada bagian kertas yang terjepit
pada forniks inferior. Bila sesudah 5 menit tidak basah
menunjukkan air mata kurang.
Uji ini merupakan uji untuk menilai kuantitas dan tidak kualitias
air mata yang tidak berhubungan dengan kadar musin yang
dikeluarkan sel goblet.
Bila setelah 5 menit seluruh filter basah maka ini tidak banyak
nilainya karena reflex mungkin terlalu kuat. Bila bagian yang
basah kurang dari 10 mm berarti fungsi sekresi air mata
terganggu, bila lebih dari 10 mm berarti hipersekresi atau
pseudoepifora.
4) Uji schirmer II (untuk reflex sekresi lakrimal)
Uji ini dilakukan bila pada uji schirmer I kertas basah kurang dari
10 mm setelah 5 menit, dinilai apakah hal ini disebabkan
hambatan kelelahan sekresi atau fungsi kurang dari reflex sekresi.
Pada satu mata diteteskan anestesi topical dan diletakan kertas
Schirmer. Hidung dirangsang dengan kapas selama 2 menit. Bila
tidak basah berarti reflex sekresi gagal total. Pada keadaan normal
kertas filter akan basah 15 mm setelah 5 menit.
b) Pemeriksaan kornea
1) Uji Fluoresein (untuk melihat adanya defek epitel kornea)

23
Gambar 2.23 Kertas fluoresin dan Keadaan
kornea setelah di uji
Kertas fluoresin yang dibasahi terlebih dahulu dengan garam
fisiologis diletakan pada sakus konjungtiva inferior, penderita
diminta untuk menutup matanya selama 20 detik, beberapa saat
kemudian kertas ini diangkat. Dilakukan irigasi konjungtiva
dengan garam fisiologis. Dilihat permukaan kornea bila terlihat
warna hijau dengan sinar biru berarti ada kerusakan epitel kornea
misalnya terdapat pada keratitis superfisial epiteliel, tukak kornea,
dan erosi kornea. Defek kornea akan terlihat berwarna hijau,
akibat pada setiap defek kornea, maka bagian tersebut akan
bersifat basa dan memberikan warna hijau pada kornea. Pada
keadaan ini disebut uji fluorescein positif.
2) Keratometer

Gambar 2.24 Alat Keratometer


Keratometer adalah sebuah alat terkalibrasi yang mengukur radius
kelengkungan kornea dalam dua meridian yang terpisah 90
derajat. Pada kornea yang tidak bulat sempurna, kedua radius itu
akan berbeda. Ini disebut astigmatisme dan ditetapkan dengan
mengukur perbedaan antara kedua radius lengkung kornea tadi.
24
Pengukuran keratometer digunakan pada penyesuaian lensa
kontak dan perhitungan daya lensa intraokular sebelum operasi
katarak.
3) Uji sensibilitas kornea (untuk fungsi trigeminus kornea)

Gambar 2.25 Refleks kornea setelah diberi kapas kering


Penderita yang diminta melihat jauh ke depan dirangsang dengan
kapas kering dari bagian lateral kornea. Dilihat terjadinya reflex
mengedip, rasa sakit dan mata berair. Bila ada reflex tersebut
berarti fungsi trigeminus dan fasial baik.
4) Uji festel

Gambar 2.26 Keadaan kornea setelah di uji seidel


Uji festel, disebut juga Seidel (untuk mengetahui letak dan adanya
kebocoran kornea). Pada konjungtiva inferior ditaruh kertas
fluorescein atau ditetekan fluoresin. Pasien diminta untuk

25
berkedip, lalu lepaskan fluorescein strip, periksa dengan sinar
cobalt blue, pasien di minta untuk berkedip kembali. Kemudian
dilihat adanya aliran humour aquos yang keluar dari fistel kornea.
Bila terdapat kebocoran kornea adanya fistel kornea akan terlihat
pengaliran cairan mata yang berwarna hijau muai dari lubang
fistel. Cairan mata terlihat bening dengan disekitarnya terdapat
larutan fluorescein yang berwarna hijau.
5) Papan plasido

Gambar 2.27 Papan plasido


Uji plasido (untuk melihat lengkung kornea). Dipakai papan
plasido dengan gambaran lingkaran konsentris putih hitam yang
menghadap pada sumber cahaya atau jendela, sedang pasien
sendiri membelakangi jendela.
Papan plasido merupakan papan yang mempunyai gambaran garis
melingkar konsentris dengan lobang kecil pada bagian sentralnya.
Melalui lubang di tengah plasidoskop dilihat gambaran bayangan
plasido pada kornea. Normal bayangan plasido pada kornea
berupa lingkaran konsentris dan bila:
- Lingkaran konsentris berarti permukaan kornea licin dan
irregular
- Lingkaran lonjong berarti adanya astigmatisme kornea
- Garis lingkran tidak beraturan berarti astigmatisme irregular
akibat adanya infiltrate ataupun parut kornea.
26
- Kurang tegas mungkin akibat edem kornea keruh
c) Pemeriksaan retina
Untuk melihat fungsi retina maka dilakukan pemeriksaan subjektif
retina seperti: tajam penglihatan, penglihatan warna, dan lapang
pandang. Pemeriksaan objektif adalah: elektroretinografi (ERG),
elektrookulografi
1) Elektroretinografi

Gambar 2.28 Elektroretinografi dan keadaan retina


Pemeriksaan ini mengukur respons listrik retina terhadap kilatan
cahaya, flash electroretinogram (ERG) atau terhadap stimulus
pembalikan checkerboard, pattern ERG (PERG). Pemeriksaan
ini berguna untuk menilai kerusakan luas pada retina. Pada ERG
dikenal gelombang-gelombang:
a : respons negative permulaan setelah periode laten rangsangan
(lapis sel fotoreseptor)
b : defleksi positif (sel bipolar)
c : defleksi positif ringan
d : potensi positif yang terjadi bila sinar dihilangkan
2) Visual Evoked Response
Suatu tes untuk mengukur respon elektrik otak dalam
menganggapi rangsangan sensoris, dengan tujuan mendeteksi
pengiriman sinyal saraf yang lambat atau tertunda akibat

27
kerusakan saraf. Rangsangan pada mata akan menimbulkan
rangsangan pada jalur penglihatan hingga korteks oksipital. Bila
dibandingkan kedua mata akan dapat diketahui adannya perbedaan
rangsangan yang sampai pada korteks sehingga dapar diketahui
adanya gangguan rangsangan atau penglihatan pada seseorang.
d) Pemeriksaan retina dan macula
1) Amsler grid/Uji kisi-kisi Amsler

Gambar 2.29 Pemeriksaan amsler grid dan kartu pemeriksaan


Merupakan kartu pemeriksaan untuk mengetahui fungsi
penglihatan sentral makula. Pemeriksaan didasarkan pada
gangguan kuantitatif sel kerucut makula yang akan mengakibatkan
metamorfopsia.
Penderita disuruh melihat kartu Amsler yang mempunyai garis-
garis sejajar berjarak 1 derajat bila dilihat pada jarak baca 30 cm.
Apabila pasien melihat kelainan bentuk garis pada kartu Amsler
berarti terdapat kelainan makula yang akan menggaggu fungsi
penglihatan makula sentral.
Uji ini berguna untuk dengan cepat melihat adanya skotoma pada
lapang pandangan dan dokumentasi metamorfopsia.
Kisi-kisi Amsler yang memakai penerangan sinar X pada sebuah
kotak dapat dipakai untuk meramalkan penglihatan pasca bedah
katarak.

28
Kemampuan uji kisi-kisi Amsler untuk meramalkan prognosis
katarak pada katarak ringan sama dengan interferometer.
2) Uji Ishihara (untuk buta warna)
Merupakan uji untuk mengetahui adanya defek penglihatan warna
didasarkan pada menentukan angka atau pola yang ada pada kartu
dengan berbagai ragam warna.Merupakan pemeriksaan untuk
penglihatan warna dengan memakai satu seri gambar titik bola
kecil dengan warna dan besar berbeda (gambar pseudokromatik),
sehingga dalam keseluhuran terlihat warna pucat dan
menyukarkan pasien dengan kelainan penglihatan warna
melihatnya. Penderita buta warna atau dengan kelainan
penglihatan warna dapat melihat sebagian ataupun sama sekali
tidak dapat melihat gambaran yang diperlihatkan.
Pada pemeriksaan pasien diminta melihat dan mengenali tanda
gambar yang diperlihatkan dalam waktu 10 detik.Penyakit tertentu
dapat terjadi gangguan penglihatan warna seperti buta merah dan
hijau pada atrofi saraf optic, optic neropati toksik dengan
pengeculian neuropati iskemia, glaucoma dengan atrofi optic yang
memberikan gangguan penglihatan biru kuning.
Buta biru kuning juga terdapat pada pasien retinopati hipertensif,
retinopati diabetes dan degenerasi makula senil.Degenerasi
Stangardt dan fundus flavimakulatus memberikan gangguan
penglihatan warna merah.

29
Gambar 2.30 Uji ishihara angka 45
3) Adaptasi gelap
Pemeriksaan didasarkan pada keadaan bila terdapat kekurangan
gizi atau kekurangan vitamin A. akan terjadi gangguan pada
adaptasi gelap. Dengan uji ini dilakukan penilaian fungsi sel
batang retina pada pasien dengan keluhan buta senja.
Pada pasien yang sebelumnya telah mendapat penyinaran terang,
dilihat kemampuana melihatnya sesudah sekitarnya digelapkan
dengan perlahan-lahan dinaikkan intensitas sumber sinar. Ambang
rangsang mulai terlihat menunjukkan kemampuan pasien
beradaptasi gelap.
4) Uji proyeksi sinar
Pada pasien yang berada di ruang gelap disuruh melihat jauh dan
kemudian diberikan sinar dengan sentolop pada meridian yang
berbeda kemudian pasien disuruh menyatakan arah darimana
datangnya sinar maka dapat secara kasar dikatakan keadaan retina
perifer pasien adalah normal.
5) Uji defek aferen pupil (pupil maarcus gunn untuk fungsi
makula dan saraf optic)
Pemeriksaan ini hampir sama dengan uji sentolop berayun
(swinging light test) Merupakan uji untuk mengetahui apakah
serabut aferen penglihatan berfungsi baik dengan melihat reaksi
pupil langsung atau tidak langsung pada kedua mata.
Pemeriksaan dilakukan di kamar gelap. Pada waktu istirahat kedua
pupil mempunyai ukuran yang sama.
Pada mata normal bila disinari dengan sentolop akan terjadi
miosis pada kedua pupil akibat reaksi langsung dan konsensual

30
pada mata yang tidak disinari. Setiap mata menunjukkan tenaga
pupilomotor.
Dilakukan penyinaran pada mata dan kemudian sentolop
dipindahkan ke mata yang lain dengan cepat. Pada keadaan
normal kedua pupil akan mengecil bila disinari. Kemudian satu
mata disinari maka akan memberikan refleks miosis langsung dan
konsensual pada mata lainnya. Sinar diarahkan pada mata
sebelahnya. Terdapat 3 kemungkinan pada keadaan ini, yaitu :
- Pupil ukuran tidak berubah, yang berarti fungsi penglihatan
kedua mata sama baik atau saraf optik dan makula normal
- Pupil yang disinari terakhir miosis (mengecil) yang berarti
fungsi makula dan saraf optik mata pertama kurang
dibanding terakhir. Pada keadaan ini terjadi pula miosis pada
mata pertama.
- Pupil yang disinari terakhir midriasis (membesar), yang
berarti fungsi mata terakhir kurang dibanding mata pertama
atau sebelahnya. Pada keadaan ini terjadi pula midriasis mata
pertama.
Hal ini tidak akan terlihat bila saraf penglihatan atau makula
kedua mata rusak, dimana pupil akan sama-sama madriasis.
Walaupun mata katarak hal ini tetap terjadi, karena yang diperiksa
adalah fungsi serabut aferen saraf optik.
Fenomena ini terjadi akibat setiap mata akan menjunjukkan tenaga
pupilomotor bila disinari dan akan terlihat pengaruhnya pada
kedua mata.
Bila uji ini dilakukan pada degenerasi makula, lubang makula
(macular hole) maka tidak akan memberikan tanda patologik
walaupun tidak memberikan tajam penglihatan 5/5. Kadang-
31
kadang pada pasien dengan neuritis optik lama dan glaukoma
lanjut dengan pulau sentral normal akan tetap memberikan tajam
penglihatan yang baik.
Walaupun uji ini sederhana, objektif dan dapat dipercaya masih
merupakan cara kasar untuk penilaiannya, dan penilaiannya akan
lebih berarti bila dilakukan bersama dengan uji VER.
6) Uji diskriminasi 2 sinar (uji untuk fungsi makula)
Biasanya uji ini dipergunakan untuk meramalkan prognosis tajam
penglihatan pasien pasca bedah katarak. Dengan pemeriksaan
mengecilkan jarak 2 sumber sinar akan di dapatkan kesan kasar
fungsi makula.
Di dalam ruang yang digelapkan 2 sinar dipegang berdekatan
dengan jarak 60 cm di depan mata pasien yang akan diperiksa atau
dengan katarak. Penderita diminta menentukan adanya 2 sinar di
depan matanya. Kemudian ditanyakan apakah pasien melihat
kedua lampu itu terpisah. Bila kedua lampu itu tidak terpisah
maka perlahan-lahan kedua lampu itu dijauhkan satu terhadap
yang lainnya. Jarak antera kedua lampu pada keadaan dimana
pasien dapat menyatakan kedua lampu terpisah diukur, bila :
- Jarak antara kedua lampu 12,5 cm atau kurang maka tajam
penglihatannya adalah 1/300 1/tak terhingga
- Jarak kedua lampu 7,5 cm, berarti tajam penglihatan pasca
bedah akan 5/100 1/60
- Jarak lampu 5 cm, tajam penglihatan akan lebih baik dari
5/100.
Uji ini sekarang dianggap kurang memadai.
7) Uji Maddox rod

32
Gambar 2.31 Filter Maddox rod merah
Filter Maddox rod merah ditaruh di depan mata yang akan
diperiksa. Kemudian disinari dengan sentolop pada jarak 30 cm.
Dimana penderita diminta untuk melihat sentolop melalui Moddox
rod (merah), dan akan terlihat :
- Pada makula normal bayangan sinar lurus merah
- Pada fungsi makula terganggu sinar garis merah Maddox rod
akan terlihat terpotong
- Pada skotoma sentral bila Maddox rod diputar pada beberapa
meridian akan terlihat adanya skotoma sentral.
Uji ini berguna untuk mengetahui fungsi makula, yang dipakai 2
dekade terakhir ini.
3. Pemeriksaan Lapang Pandang
a) Uji Konfrontasi

Gambar 2.32 Uji Konfrontasi


Mata kiri pasien dan mata kanan pemeriksa dibebat. Penderita
diperiksa dengan duduk berhadapan terhadap pemeriksa pada jarak
kira-kira 1 meter. Mata kanan pasien dengan mata kiri pemeriksa
saling bertahap. Sebuah benda dengan jarak yang sama digeser
perlahan-lahan dari perifer lapang pandangan ke tengah. Bila pasien
sudah melihatnya ia diminta memberi tahu. Pada keadaan ini bila
pasien melihat pada saat yang bersamaan dengan pemeriksa berarti

33
lapang pandangan pasien adalah normal. Syarat pada pemeriksaan ini
adalah lapang pandangan pemeriksa adalah normal.
b) Kampimeter dan Perimeter
Keduanya merupakan alat pengukur atau pemetaan lapang pandangan
terutama daerah sentral atau parasentral. Lapang pandangan, bagian
ruangan yang terlihat oleh satu mata dalam sikap diam memandang
lurus ke depan. Pemeriksaan lapang pandangan diperlukan untuk
mengetahui adanya penyakit-penyakit tertentu ataupun untuk menilai
progresivitas penyakit tertentu.
Pemeriksaan lapang pandangan dapat dilakukan dengan :
- Pemeriksaan konfrontasi, yaitu pemeriksaan dengan melakukan
perbandingan lapang pandangan pasien dengan si pemeriksa
sendiri.
- Pemeriksaan perimeter atau kampimetri
Lapang pandangan normal adalah 90 derajat temporal, 50 derajat
atas, 50 derajat nasal dan 65 derajat ke bawah.

1) Kampimeter

34
Gambar 2.33 Alat kampimeter
Alat pengukur atau pemetaan lapang pandangan terutama daerah
sentral atau parasentral. Disebut juga sebagai uji tangent screen.
Pasien duduk 2 meter dari sebuah tabir kain berwarna hitam layar
(screen Bjerrum) dengan berfiksasi dengan satu mata pada titik
tengahnya. Obyek digeser perlahan-lahan dari tepi ke arah titik
tengah. Dicari batas-batas pada seluruh lapangan pada saat mana
benda mulai terlihat. Pada akhirnya didapatkan pemetaan daripada
lubang pandangan pasien.
Dengan cara ini dapat ditemukan defek lapang pandangan dan
adanya skotoma.
2) Perimeter
Pemeriksaan kampimetri dapat dilakukan dengan perimeter.
Perimeter alat ini berbentuk setengah bola dengan jari-jari 30 cm,
dan pada pusat parabola ini mata penderita diletakkan untuk
diperiksa. Mata berfiksasi pada bagian sentral parabola perimeter.
Obyek digeser perlahan-lahan dari tepi ke arah titik tengah. Dicari
batas-batas pada seluruh lapangan pada saat mana benda mulai
terlihat.

35
Batas lapang pandangan perifer 90 derajat temporal, 70 derajat
inferior, 60 derajat nasal, dan 50 derajat superior.
Dikenal perimetri :
- Perimeter kinetik yang disebut juga perimeter isoptik dan
topografik, dimana pemeriksaan dilakukan dengan objek
digerakkan dari daerah tidak terlihat menjadi terlihat oleh
pasien.

Gambar 2.34 Alat perimeter kinetik


- Perimeter statik atau perimeter profil dan perimeter curve
differential threshold, di mana pemeriksaan dengan tidak
menggerakkan objek akan tetapi dengan menaikkan intensitas
objek sehingga terlihat oleh pasien.
Pemeriksaan lapang pandangan diperlukan untuk mengetahui
adanya penyakit-penyakit tertentu ataupun untuk menilai
progresivitas penyakit tertentu.
Pemeriksaan lapang pandangan merupakan pemeriksaan yang
penting bagi seorang ahli neurooftalmologi. Bentuk yang sederhana
daripada kelainan lapang pandangan adalah bila terdapat kelainan
pada prekiasma, kiasma, dan retrokiasma. Pada defek monokular
prekiasma maka akan terlihat kelainan pada kedua mata. Kelainan
kiasma akan memberikan kelainan nonhomonim sedang pada
rektrokiasma bersifar homonim.
Bentuk kampus lesi prekiasma sering karakteristik.
36
Iskemik optik neuropati, kampus dengan defek inferior dan
altitudinal
Neuritis optik, dengan skotoma sentral atau sekosentral
Kompresi saraf, gangguan lapang pandangan perifer
4. Pemeriksaan Glaukoma
Pemeriksaan tekanan bola mata dilakukan dengan alat yang dinamakan
tonometer. Pemeriksaan tekanan yang dilakukan dengan tonometer pada
bola mata dinamakan tonometri. Tindakan ini dapat dilakukan oleh dokter
umum dan dokter spesialis lainnya.
Pengukuran tekanan bola mata sebaiknya dilakukan pada setiap orang
berusia di atas 20 tahun pada saat pemeriksaan fisik medik secara umum.
Dikenal beberapa alat tonometer seperti alat tonometer Schiotz dan
tonometer aplanasi Goldman.
a) Tonometri Schiotz

Gambar 2.35 Tonometer schiotz dan angka skala pada tabel


Tonometer Schiotz merupakan alat yang praktis sederhana.
Pengukuran tekanan bola mata dinilai secara tidak langsung yaitu
dengan teknik melihat daya tekan alat pada kornea karena itu
dinamakan juga tonometri indentasi Schiotz. Dengan tonometer
Schiotz dilakukan indentasi (penekanan) terhadap permukaan kornea.
Bila suatu beban tertentu memberikan kecekungan pada kornea maka
37
akan terlihat perubahan pada skala Schiotz. Makin rendah tekanan
bola mata makin mudah bola mata ditekan, yang pada skala akan
terlihat angka skala yang lebih besar. Hal ini juga berlaku sebaliknya.
Angka skala yang ditunjuk dapat dilihat nilainya di dalam tabel untuk
mengetahui kesamaan tekanan dalam mmHg. Transformasi
pembacaan skala tonometer ke dalam tabel akan menunjukkan
tekanan bola mata dalam mmHg.
Pemeriksaan ini dilakukan pada pasien ditidurkan dengan posisi
horizontal dan mata ditetesi dengan obat anestesi topikal atau
pantokain 0.5%. Tonomter Schiotz kemudian diletakkan di atas
permukaan kornea, sedang mata yang lainnya berfiksasi pada satu titik
di langit-langit kamar periksa.
Kelemahan alat ini mengabaikan faktor kekauan sklera (scleral
rigidity). Cara yang paling sederhana untuk mengetahui derajat
kekakuan sklera ialah dengan menggunakan 2 macam beban 5.5 dan
10 gram. Bila hasil bacaan dengan beban 10 gram selalu lebih tinggi
dibanding hasil bacaan dengan 5.5 gram maka mata tersebut
melakukan kekakuan sklera yang lebih tinggi dari normal dibanding
hasil bacaan pada saat tersebutl; sebaliknya bila hasil bacaan selalu
lebih rendah dengan beban 10 gram maka mata tersebut memiliki
kekakuan sklera yang lebih rendah dari normal dan berarti tekanan
bola mata yang sebenarnya lebih tinggi daripada hasil bacaan pada
saat itu.
Pemeriksaan tekanan intraokular dengan tonometer Schiotz sebaiknya
dilakukan dengan berhati-hati, karena dapat mengakibatkan lecetnya
kornea sehingga dapat mengakibatkan keratitis dan erosi kornea.
b) Tonometer aplanasi

38
Gambar 2.36 Interpretasi pemeriksaan tonometer aplanasi
Alat ini mengukur kenanan bola mata dengan memberikan tekanan
yang akan membuat rata permukaan kornea dalam ukuran tertentu dan
kecil. Alat ini sangat baik karena membuat sedikit sekali perubahan
pada permukaan kornea atau bungkus bola mata.
Tonometer aplanasi merupakan alat yang paling tepat untuk mengukur
tekanan bola mata dan tidak dipengaruhi oleh faktor kekakuan sklera.
Dikenal Draeger dan Goldmann aplanasi tonometer.
Dasar ilmu Fisika alat ini adalah tekanan = daya/luas. Bila sebagian
dari bola yang lentur (kornea) dibuat mendatar oleh permukaan yang
rata (tonometer aplanasi), maka tekanan di dalam bola akan melawan
tekanan pendataran ini dan sama dengan tekanan yang diberikan daya
= tekanan x luas.
Pada saat ini diperkenalkan tonometer aplanasi dengan memakai jet
udara yang akan membuat permukaan kornea rata.
c) Tonometri digital
Tonometer digital adalah cara paling buruk dan tidak dibenarkan
untuk dipakai oleh dokter ahli sebagai cara rutin pada pengamatan
seorang penderita dengan glaukoma. Tanpa alat dapat juga ditentukan
tekanan bola mata dengan cara tonometri digital atau dengan jari.
Dasar pemeriksaannya adalah dengan merasakan reaksi lenturan bola
mata bola (balotement) dilakukan penekanan bergantian dengan kedua
jari tangan. Balotemen ini tidak dilakukan seperti balotemen pada hati
karena tidak dilakukan balotemen di dalam orbita. Yang dilakukan
adalah menekan atau melakukan identasi sklera dan merasakan daya
membulat kembali sklera pada saat jari dilepaskan tekanannya.
Tekanan yang baik dilakukan pada sklera dengan mata tertutup dan
39
tidak pada kornea. Akibat fenomena Bell pada saat mata ditutup
biasanya kornea akan menggulir ke atas, sehingga sebaiknya penderita
diminta melihat ke bawah.
Tekanan bola mata dengan cara digital dinyatakan dengan tanda N+1,
N+2, N+3, dan sebaliknya N-1 dan seterusnya.
Penderita dengan mata tertutup disuruh melirik mata kaki. Pemeriksa
atau dokter dengan kedua telunjuknya menekan dan merasakan
tekanan balik pada telunjuk tangan kanan dan kirinya. Dengan
pengalaman dapat ia merasakan besarnya tekanan yang diduga berada
di dalam mata tersebut. Penilaian biasanya diberikan atas derajat :
1) N (normal), N+1, N+2, N+3, yang berarti tekanan lebih tinggi
dibanding normal, dimana N+1<N+2
2) Atau N-1, N-2, N-3, yang berarti tekanan bola mata lebih rendah.
Cara pemeriksaannya:
1) Pasien diminta untuk mlirik kebawah
2) Jari tengah kanan dan kiri pemeriksa diletakkan di atas alis sebelah
nasal dan temporal
3) Jari telunjuk kanan dan kiri pemeriksa dilektakkan di atas palpebral
superior
4) Jari telunjuk kanan menekan palpebral
5) Jari telunjuk kiri merasakan fluktuasi
Interpretasi :
T(DIG) N: seperti menekan ujung hidung
T(DIG) N+: seperti menekan lidah dibalik pipi
T(DIG) N++:seperti menekan dahi
T(DIG) N-: seperti menekan hipotenar
d) Gonioskopi

40
Gambar 2.37 Pemeriksaan gonioskopi (Barbara, 2014).
Dengan lensa gonioskopi dapat dilihat keadaan sudut bilik mata yang
dapat menimbulkan glaukoma. Penentuan gambaran sudut bilik mata
dilakukan pada setiap kasus yang dicurigai adanya glaukoma.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan meletakkan lensa sudut (goniolens)
di dataran depan kornea setelah diberikan lokal anestesi. Lensa ini
dapat digunakan untuk melihat sekeliling sudut bilik mata dengan
memutarnya 360 derajat (Barbara, 2014).
e) Uji lain pada glaucoma
1) Uji Kopi
Penderita meminum 1-2 mangkok kopi pekat, bila tekanan bola
mata naik 15- 20 mmHg setelah minum 20-40 menit menunjukkan
adanya glaucoma (Eva, 2010).
2) Uji Minum Air
Sebelum makan pagi tekanan bola mata diukur dan kemudian
pasien disuruh minum dengan cepat 1 liter air. Tekanan bola mata
diukur setiap 15 menit. Bila tekanan bola mata naik 8-15 mmHg
dalam waktu 45 menit pertama menunjukkan pasien menderita
glaucoma (Eva, 2010).
3) Uji Steroid
Pada pasien yang dicurigai adanya glaukoma terutama dengan
riwayat glaukoma simpleks pada keluarga, diteteskan betametason
atau deksametason 0,1% 3-4 kali sehari. Tekanan bola mata
diperiksa setiap minggu. Pada pasien berbakat glaukoma maka
tekanan bola mata akan naik setelah 2 minggu (Eva, 2010).
4) Uji Variasi Diurnal
Pemeriksaan dengan melakukan tonometri setiap 2-3 jam sehari
penuh, selama 3 hari biasanya pasien dirawat. Nilai variasi harian
41
pada mata normal adalah antara 2-4 mmHg, sedang pada
glaukoma sudut terbuka variasi dapat mencapai 15-20
mmHg.Perubahan 4-5 mmHg sudah dicurigai keadaan patologik
(Eva, 2010).

5) Uji Kamar Gelap


Pada uji ini dilakukan pengukuran tekanan bola mata dan
kemudian pasien dimasukkan ke dalam kamar gelap selama 60-90
menit. Pada akhir 90 menit tekanan bola mata diukur. 55% pasien
glaukoma sudut terbuka akan menunjukkan hasil yang positif,
naik 8 mmHg (Eva, 2010).
5. Pemeriksaan gangguan motor sensorik visus atau strabismus
a) Metoda Hirschberg

Gambar 2.38 Interpretasi pemeriksaan metoda Hirschberg


Pada Kedudukan mata normal yang diberikan penyinaran maka akan
terlihat refleks sentolop pada sisi dan kedudukan yang sama pada

42
kornea. Pada uji ini dari sentolop diberikan pada jarak 30 cm dari
mata (Souza, 2010).:
1) Bila terdapat desenterasi 1 menit berarti terdapat deviasi 7 derajat
atau 15 prisma dioptri
2) Bila refleks sinar dekat tengah pupil dibanding tepi pupil
diperkirakan juling 5-6 derajat
3) Bila refleks sinar berbeda yang satu di tengah sedang yang lain di
tepi pupil berarti kedudukan mata ini juling 15 derajat atau 30
prisma dioptri
4) Bila refleks sinar berada antara tepi pupil dengan limbus, berarti
deviasi 25 derajat pada tepi limbus berarti juling 45 derajat atau 90
prisma
5) Bila refleks diluar limbus deviasi 60 80 derajat
6) Bila letak di tepi pupil nasal berarti mata juling ke luar sedang bila
letaknya di tepi pupil berarti juling ke dalam

43