Anda di halaman 1dari 24

PAPER ILMU BEDAH SYARAF

NEUROFIBROMATOSIS

Disusun oleh:

Sonia Anisa 100100017

Agus Salim 100100027

Yulisa Afriani N 100100036

Carina Shelia 100100097

Nabila Al Fista 100100152

FAKULTAS KEDOKTERAN USU

DEPARTEMEN ILMU BEDAH SYARAF

2015

1
DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI.. ii

BAB 1 Pendahuluan... 3

1.1. Latar Belakang 3

BAB 2 Tinjauan Pustaka

2.1. Neurofibromatosis Tipe 1................................................................ 4

2.1.1 Definisi................................................................................... 4

2.1.2 Etiologi.................................................................................... 4

2.1.3 Epidemiologi........................................................................... 4

2.1.4 patofisiologi............................................................................ 5

2.1.5 Diagnosis................................................................................. 5

2.1.6 Diagnosis Banding................................................................. 15

2.2. Neurofibromatosis Tipe 2................................................................ 15

2.1.1 Definisi................................................................................... 15

2.1.2 Etiologi.................................................................................... 16

2.1.3 Epidemiologi............................................................................ 16

2.1.4 Diagnosis................................................................................ 16

2.1.5 Diagnosis Banding................................................................... 21

2.3. Tatalaksana 21

2.4. Prognosis 22

BAB 3 Kesimpulan. 23

Daftar Pustaka.... 24

2
BAB I
PENDAHULUAN
Neurofibromatosis ialah suatu kelainan genetik yang diturunkan secara autosomal
dominan dengan manifestasi pada syaraf dan struktur lain, disertai pembentukan
neurofibroma.1 Neurofibroma ialah tumor jinak syaraf tepi akibat proliferasi yang abnormal
dari sel-sel schwan.2 Secara umum neurofibromatosis terbagi atas Neurofibromatosis tipe I
(NF1) disebut juga Von Recklinghausen disease dan Neurofibromatosis tipe II (NF2).1
Penderita NF kebanyakan mendapatkan penyakit ini dari factor keturunan (dari kedua
orang tuanya),namun sekitar 30% kasus ternyata penderita NF tidak memiliki orang tua atau
riwayat keluarga yang memiliki penyakit NF pula. Artinya penyakit ini mereka dapat karena
tubuh mereka mengalami mutasi gen secara individual dan tidak selalu bawaan lahir.apabila
salah satu orang tua menderita kelainan NF ini ,maka 50% kemungkinan anaknya juga
menderita penyakit ini.
Neurofibromatosis tipe I terjadi pada 85% pasien neurofibromatosis. 1 dari 3500
penduduk dunia menderita NF-1. 30-50% pasien NF1 tidak memiliki riwayat keluarga.
Diperkirakan hal ini terjadi akibat mutasi sel germinal.
Neurofibromatosis tipe 2 terjadi akibat adanya mutasi pada gen NF2 berlokasi di 22q
yang berfungsi mensintesis protein merlin (Schwannomin). Mutasi pada gen NF2 dapat
terjadi secara germline mutation ataupun somatic mutation. Pada germline mutation paling
banyak akibat missense mutation pada exon 16 dan 17. Pada somatic mutation paling banyak
akibat frameshift mutation.3 Gen NF2 lebih kecil dibandingkan gen yang mensintesis
neurofibromin, inilah alasan mengapa gen NF2 lebih jarang bermutasi dibandingkan NF1.
Merlin berfungsi dalam regulasi pertumbuhan, motilitas dan remodeling sel melalui
mekanisme inhibisi transduksi mitosis extraselular. Merlin berfungsi dalam mencegah
aktivitas epidermal growth factor receptor (EGFR).4
Berdasarkan uraian diatas maka penulis menganggap perlu untuk membahas tentang
neurofibromatosis pada makalah ini.

3
BAB II
PEMBAHASAN
2. NEUROFIBROMATOSIS
Neurofibromatosis ialah suatu kelainan genetik yang diturunkan secara autosomal
dominan dengan manifestasi pada syaraf dan struktur lain, disertai pembentukan
neurofibroma.1 Neurofibroma ialah tumor jinak syaraf tepi akibat proliferasi yang abnormal
dari sel-sel schwan.2 Secara umum neurofibromatosis terbagi atas Neurofibromatosis tipe I
(NF1) disebut juga Von Recklinghausen disease dan Neurofibromatosis tipe II (NF2).1

2.1 NEUROFIBROMATOSIS TYPE I


2.1.1 Definisi
Neurofibromatosis ialah gangguan yang diturunkan secara dominan
autosomal, ditandai dengan perubahan perkembangan sistem syaraf, otot, tulang dan
kulit disertai bercak-bercak caf au lait, intertriginous freckling, nodul-nodul lisch,
dan neurofibroma multiple pedunkulata yang tersebar di seluruh tubuh.2

2.1.2 Etiologi
Neurofibromatosis tipe I terjadi akibat adanya mutasi sel germinal pada gen
NF1 berlokasi di 17q yang berfungsi mensintesis protein neurofibromin.
Neurofibromin ialah tumor suppressor yang dihasilkan oleh beberapa jenis sel tubuh,
termasuk sel syaraf dan sel pendukung seperti oligodendrosit dan sel schwan.
Neurofibromin menginhibisi mitosis Ras melalui GTPase activating protein (GAP)
yang berperan dalam tumorigenesis NF1. Akibat tidak adanya inhibisi aktivitas Ras,
terjadinya proliferasi dari jaringan syaraf dan kulit.2

2.1.3 Epidemiologi
Neurofibromatosis tipe I terjadi pada 85% pasien neurofibromatosis. 1 dari
3500 penduduk dunia menderita NF-1. 30-50% pasien NF1 tidak memiliki riwayat
keluarga. Diperkirakan hal ini terjadi akibat mutasi sel germinal.3

4
2.1.4 Patofisiologi
NF1 dan NF2 adalah penyakit yang diturunkan. Jika salah satu orangtua
memiliki NF1, masing-masing anak-anak mereka memiliki kesempatan 50% memiliki
penyakit.5
NF1 juga mucul pada keluarga yang tidak memiliki riwayat NF1. Dalam kasus
ini, hal itu disebabkan oleh perubahan gen baru (mutasi) dalam sperma atau sel telur.
NF1 disebabkan oleh masalah dengan gen untuk protein yang disebut neurofibromin.
Neurofibromin menghasilkan gen yang berfungsi sebagai penekan tumor.5

2.1.5 Diagnosis Neurofibromatosis tipe 1


A. Anamnesis
Diagnosis klinis Neurofibromatosis tipe 1 membutuhkan setidaknya dua dari
tujuh kriteria untuk memastikan kehadiran penyakit tersebut.Banyak dari tanda-tanda
di bawah ini yang tidak muncul sampai akhir masa kanak-kanak atau dewasa sehingga
diagnosis NF tipe 1 ini sering terlambat. Ketujuh kriteria klinis yang digunakan untuk
mendiagnosa NF tipe 1 adalah sebagai berikut :1,2,3
1. Terdapat enam atau lebih caf-au-lait spots atau macula hiperpigmentasi yang
diameternya lebih besar atau sama dengan 5 mm pada anak-anak prapubertas,
dan 15 mm jika sudah pubertas.
2. Bintik-bintik pada daerah aksila dan inguinal (>2)
3. Dua atau lebih neurofibroma yang tipikal atau satu pleksiformn eurofibroma
4. Glioma saraf optikus
5. Dua atau lebih hamartoma iris (Lisch Nodule) sering diidentifikasi hanya melalui
pemeriksaan lampu slit oleh seorang optamologis
6. Displasia spenoid atau tulang panjang yang abnormal (sebagai contoh:
pseudoartritis)
7. Riwayat keluarga derajat pertama (ayah, ibu, saudara perempuan, saudara laki-
laki) yang menderita NF tipe 1.

B. Pemeriksaan Fisik
Gejala klinis yang paling cepat muncul pada anak-anak dengan NF tipe 1
adalah bercak-bercak hiperpigmentasi (multiple caf-au-lait spots.) (gambar 2.1).
Bercak ini mungkin sudah ada pada saat lahir, atau mucul seiring dengan berjalannya
waktu, semakin berkembang dengan penambahan ukuran dan jumlah. Pada orang
5
dewasa, bercak-bercak ini cenderung menghilang dan tidak tampak begitu jelas pada
saat pemeriksaan.1,4
Bintik-bintik pada daerah aksila dan inguinal jarang muncul pada saat lahir,
tetapi muncul pada saat kanak-kanak hingga dewasa (Gambar 2.2). 1,4
Neurofibroma subkutan dan kutan jarang terlihat pada anak-anak, tapi muncul
pada anak-anak menjelang dewasa.Lesi yang dalam dapa terdeteksi hanya melalui
palpasi, sedangkan lesi kutan awalnya muncul sebagai papul kecil pada badan,
ekstremitas, kulit kepala, ataupun wajah.Pubertas atau kehamilan dapat berhubungan
dengan peningkatan jumlah dari neurofibroma dimanater jadi pertumbuhan yang lebih
cepat dari lesi yang telah ada (Gambar 2.3).1,4
Neurofibroma pleksiform pertumbuhannya lebih difus dimana dapat menjadi
invasif secara lokal dan agak dalam; hal ini berhubungan dengan erosi tulang dan
nyeri.Pleksiform neurofibroma dapat diikuti oleh hiperpigmentasi atau
hipertrikosis.Dapat juga terjadi gangguan pada penglihatan seperti, kehilangan
kemampuan melihat yang tidak dapat dikoreksi sebagai kelainan yang paling sering
muncul, kehilangan lapangan pandang yang tidak kentara, kesulitan diskriminasi
gambar, saraf optikus yang pucat, atau proptosis dapat terjadi tanpa kehilangan
ketajaman penglihatan. Beberapa anak-anak yang menuju dewasa dan orang dewasa
menunjukkan daya lihat yang semakin buruk sebagai efek sekunder dari pertumbuhan
optic nerve glioma yang lambat. Sehingga pemeriksaan penglihatan harus dilakukan
secara kontiniu pada anak-anak hingga dewasa .Pada orang dewasa mungkin saja
mengalami optic nerve glioma yang terdeteksi secara tidak sengaja dari CT Scan atau
MRI otak (Gambar 2.4).1,4
Walaupun Lisch Nodule dapat terlihat secara langsung ataupun tidak langsung
saat menggunakan optalmoskop, khususnya pada orang-orang yang irisnya berwarna
merah, mereka biasanya tidak dapat dengan jelas dilihat tanpa menggunakan slit-
lamp.Abnormalitas dari koroid dengan tampilan yang tidak sempurna dapat juga
dilihat dengan pemeriksaan funduskopi menggunakan cahaya infrared
monokromatik.Perubahan pembuluh darah retina juga ditemui pada beberapa pasien
dengan NF tipe 1 (Gambar 2.5).1,4
Displasia tulang sfenoid biasa nyata gejala, tetapi dapat juga berhubungan
dengan herniasi melalui kelainan tulang.Pada pasien dengan neurofibroma pleksiform
pada kelopak mata, displasia tulang sfenoid ipsilateral dapat terjadi. Pseudoartrosis
kongenital pada saat lahir dapat terjadi dimana tulang tibia tampak
6
membengkok.Penipisan dan angulasi dari tulang panjang dapat terjadi pada masa
kanak dan dewasa dengan penonjolan pada tibia anterior dan deformitas yang
progresif.Skoliosis dengan atau tanpa kifosis dapat menjadi bukti pada saat anak-anak
atau dewasa.Ketika scoliosis ditemukan pada anak-anak umur di bawah 10 tahun,
maka prognosisnya akan menjadi lebih buruk dan akan berkembang dengan cepat.
Jika ditemukan pada usia dewasa, harus dilakukan pemeriksaan berkala, dan pada
umumnya membutuhkan intervensi dari ortopedi (Gambar 2.6).1,4

Gambar 2.1 Seorang anak laki-laki 4 tahun dengan caf-au-lait spots

7
Gambar 2.2 Axilla Freckling

Gambar 2.3 Inguinal Freckling

8
Gambar 2.3 Multiple Neurofibroma

9
Gambar 2.4 Neurofibroma Pleksiform

Gambar 2.5 Lisch Nodule

10
Gambar 2.6 Tulang Radial dan Ulnaris yang membengkok

C. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
Diagnosis NF tipe 1 biasanya dibuat secara klinis, bagaimanapun tes
molekular dapat juga berguna untuk pasien yang lebih muda dengan penampilan
klinis tungal seperti ditemukannya caf-au-lait spots tanpa adanya riwayat keluarga
sebelumnya.Runtunan gen neurofibromin menawarkan tingkat deteksi yang paling
tinggi dan mendekatikira-kira 95% pada penderita yang terkena, 97 % pasien dengan

11
NF 1 yang positif diharapkan dapat memenuhi kriteria klinis pada umur 8 tahun.Jika
tidak memenuhi kriteria atau bertimpaan, maka perlu dipikirkan sindrom Legius, dan
tes molekular dilakukan untuk konfirmasi.1
Neurofibromatosis tipe 1 dapat didiagnosa dengan dua metode selama periode
prenatal
Dalam keluarga dengan riwayat beberapa anggota keluarga yang terkena
NF1, linkage analysis dapat mengikuti jejak gene NF1 dalam keturunan
untuk menentukan region kromosom 17 yang fetus dapatkan, tetapi hal ini
sudah jarang dilakukan1
Untuk salah satu orang tua dengan NF1 dimana hanya dia saja yang
menderita NF tipe 1, rangkaian gen dapat digunakan untuk
mengindentifikasi mutasi gen yang spesifik. Identifikasi mutasi pada orang
tua yang terkena akan mengijinkan untuk diagnosis prenatal melalui
amniocentesis atau sampel vilikorion1.
Selain itu dapat juga dilakukan tes urin, untuk mengetahui kadar katekolamin
(norepinephrine dan epinephrine) begitu juga bentuk metabolitnya (normetanephrine,
metanephrine, dan vanillylmandelic acid) yang diukur dalam pengumpulan urin
selama 24 jam untuk skrining tes pada kasus suspek pheochromocytma.1

2. Pencitraan
Skrining rutin otak dengan pencitraan (neuroimaging) pada pasien dengan NF
tipe 1 masih kontro versi. Hal ini disebabkan oleh sedikit bukti kalau deteksi awal
akan menurunkan tingkat kehilangan daya penglihatan. Beberapa klinisi
mengutamakan untuk melakukan pemeriksaan CT Scan atau MRI pada anak-anak
atau dewasa pada saat didiagnosis, kemudian diikuti dengan pemeriksaan lainnya
hanya jika masalah neurologisnya muncul.MRI adalah jenis pencitraan yang lebih
diutamakan untuk kasus NF tipe 1.MRI sering mendeteksi objek terang yang tidak
teridentifikasi (unidentified bright objects) pada parenkim otak pada pasien dengan
NF tipe 1.( Gambar 2.7)6

12
Gambar 2.7 Unidentified bright objects pada parenkim otak
CT scan atau MRI otak harus dipertimbangkan untuk evaluasi ukuran
ventrikel ketika peningkatan lingkar kepala didapati pada bayi atau anak-anak. Jarang
ditemukan hidrosefalus dan atau malformasi Chiaritipe 1 dijumpai pada anak-anak
dan bahkan dewasa dengan NF tipe 1.MRI juga bisa digunakan untuk evaluasi saraf
optikus atau khiasma optikus. (Gambar 2.9).6

Gambar 2.8 Glioma saraf optikus kiri dan penebalan saraf dan proptosis

13
Ini diindikasikan untuk pasien dengan saraf optikus yang pucat,perubahan
penglihatan, proptosis, pubertas prekoks.Potongan tipis melalui orbita dan saraf
optikus adalah cara ideal untuk identifikasi patologi saraf optikus.
MRI Otak harus dipertimbangkan pada pasien dengan sakit kepala yang
kualitasnya berubah-ubah atau peningkatan frekuensi atau intensitas.MRI telah
membuktikan kegunaannya dalam evaluasi lesi internal seperti masa mediastinal,
tumor medulla spinalis, pleksiform neufibroma dalam, neurofibroma dari pleksus
brachial atau sacral, lesi pada abdomen pelvis.
PET (Positron emission tomography) : F18 fluorodeoxyglucose (FDG) dapat
digunakan untuk mengetahui stadium dan follow up Malignant peripheral nerve
sheath tumor (MPNSTs) sebelum, selama, dan setelah terapi. Dapat digunakan
sebagai alat skrining untuk pasien dengan NF biasanya pasien dengan neurofibroma
pleksiform yang besar ketika ada satu atau lebih area yang bertransformasi menjadi
ganas.7

3. Pemeriksaan Histologis
Neurofibroma adalah tumor yang biasanya terdiferensiasi dengan baik dan
mengandung sel spindle panjang seperti pleomorphic fibroblast-like cells. Sel
inflamasi jarang ditemukan.
Kadang-kadang suatu neurofibroma mengalami transformasi menjadi
neurofibromasarcoma. Tidak seperti neurofibroma, neurofibrosarcoma di ciri-ciri kan
dengan hiperseluler dengan sel raksasa, peningkatan jumlah mitosis, dan proliferasi
vaskular.1

Gambar 2.9 pewarnaan hemaoxylin eosin dengan pembesaran 20 mikron


memperlihatkan; (a) benign neurofibroma : gambaran seluleritas yang longgar dengan
adanya sel berinti yang proporsinya sama dengan collagen disekitarnya; (b) atypical
neurofibroma : terjadi peningkatan selularitas dengan gambaran enlarged

14
hyperchromatic nuclei (tanda panah); (c) intermediate grade MPNST : gambaran
hiperselularitas dari sel sel spindle atipikal dengan akitivas mitosis yang tinggi.8

2.1.5 Diagnosis Banding


Brainstem Gliomas
Tumor yang terjadi di batang otak, yang merupakan daerah antara aquaductus
sylvius dan ventrikel keempat. Temuan klinis yang umum dapat diringkas sebagai
merupakan tiga serangkai defesit saraf cranial, long tract sign, dan ataksia (batang
dan tungkai). 6

Meningioma
Memiliki ciri sebagai berikut: 80% terletak di region thorakalis dan 60%
pada wanita usia pertengahan, pertumbuhan lambat, pada 25% kasus terdapat
nyeri radikuler, tetapi lebih sering dengan gejala traktur piramidalis dibawah lesi,
dan sifat nnyeri radikuler biasanya bilateral dengan jarak waktu gejala lain lebih
pendek.6

Neurofibromatosis tipe II
NF2 dikenal sebagai neurofibromatosis bilateral, ditandai dengan beberapa
tumor dan lesi pada otak dan sumsum tulang belakang. Tumor yang tumbuh pada
saraf pendengaran yang menyebabkan gangguan pendengaran yang merupakan
gejala utama penyakit. Seringkali hal ini tidak jelas sampai akhir remaja atau awal
20-an.6

2.2 NEUROFIBROMATOSIS TYPE II


2.2.1 Definisi
Neurofibromatosis tipe 2 ialah gangguan yang diwariskan secara dominan
autosomal, ditandai dengan acoustic neuromas yang bilateral, terkadang dijumpai
perubahan kulit yang terlihat seperti pada NF1 serta kekeruhan pada lensa pada usia
muda bagi penderita NF tipe 2.2 NF2 ialah tumor yang ditandai dengan adanya
schwanoma dan meingioma.4

15
2.2.2 Etiologi
Neurofibromatosis tipe 2 terjadi akibat adanya mutasi pada gen NF2 berlokasi
di 22q yang berfungsi mensintesis protein merlin (Schwannomin). Mutasi pada gen
NF2 dapat terjadi secara germline mutation ataupun somatic mutation. Pada germline
mutation paling banyak akibat missense mutation pada exon 16 dan 17. Pada somatic
mutation paling banyak akibat frameshift mutation.4 Gen NF2 lebih kecil
dibandingkan gen yang mensintesis neurofibromin, inilah alasan mengapa gen NF2
lebih jarang bermutasi dibandingkan NF1. Merlin berfungsi dalam regulasi
pertumbuhan, motilitas dan remodeling sel melalui mekanisme inhibisi transduksi
mitosis extraselular. Merlin berfungsi dalam mencegah aktivitas epidermal growth
factor receptor (EGFR).9

2.2.3 Epidemiologi
Prevalensi Neurofibromatosis tipe II lebih jarang dibandingkan
neurofibromatosis tipe I. diperkirakan 1 dari 25.000 orang menderita NF2. Kasus NF2
50% terjadi akibat mutasi sel germinal.2 Diperkirakan prevalensi ini akan terus
meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup. Namun angka survival rate juga
akan meningkat seiring dengan perkembangan teknologi dalam penatalaksanaan
untuk neurofibromatosis.10

2.2.4 Diagnosis Neurofibromatosis Tipe 2


A. Anamnesis
Karena hampir setengah dari orang yang terkena menunjukkan perubahan gen
baru, riwayat keluarga selalu negatif, pembuatan diagnosis menjadi sulit. Diagnosis
klinis dari neurofibromatosis tipe 2 (NF 2) membutuhkan kehadiran setidaknya satu
dari gejala di bawah ini5:
Bilateral vestibular schwannomas
Riwayat keluarga derajat satu dengan NF2 dan
o Unilateral vestibular schwannomaatau
o Salah satudari : meningioma, schwannoma, glioma, neurofibroma,
posterior subcapsular lenticular opasiti.
Unilateral vestibular schwannomadan

16
o Salah satudari : meningioma, schwannoma, glioma, neurofibroma,
posterior subcapsular lenticular opasiti
Multipel meningioma dan
o Unilateral vestibular schwannomaatau
o Salah satudari :schwannoma, glioma, neurofibroma, cataract

B. Pemeriksaan Fisik
Tidak seperti neurofibromatosis tipe 1 (NF1) yang sering berhubungan dengan
sejumlah diagnosis kutan, NF tipe 2 diikuti oleh tanda-tanda eksternal yang sedikit.
Gejala yang tampak termasuk hilangnya pendengaran, rasa berdenging di telinga
(tinnitus), dan gangguan keseimbangan berhubungan dengan lesi di saraf vestibular
.Seseorang dengan resiko untuk NF tipe 2 harus diskrining secarahati-hati untuk tanda
awal dari hilangnya pendegaran, perubahan motorik atau sensorik, dan penurunan
penglihatan. Optic nerve sheath meningioma yang secara umum jarang pada anak-
anak mungkin bisa muncul sebagai tanda dari NF tipe 2.11
Kelumpuhan saraf kranial dapat terjadi dari kompresi saraf yang berdekatan
sebagai efek sekunder dari vestibular schwannoma yang melebar atau secara langsung
dari schwan nomas saraf kranial non vestibular.11
Membedakan secara klinis antara NF tipe 1 yang sering dan NF tipe 2 yang
jarang kadang-kadang masih menjadi masalah. Pasien dengan NF tipe 2 hampir tidak
pernah menunjukkan sejumlah besar caf-au-lait spots ( walaupun dalam kasus
jarang, 6 atau lebih dapat terlihat), sementara caf-au-lait spots banyak terlihat pada
kasus NF tipe 1. Baik bercak pada aksila dan inguinal tidak sering terjadi pada NF
tipe 2.11
Transformasi malignansi dari pertumbuhan yang jinak hamper tidak terdengar
dari NF2, tidak seperti NF1.Bagaimanapun, individu dengan baik NF1 atau NF2 dapat
membentuk multiple lesi subkutan yang mungkin secara klinis tidak dapat dibedakan.
(Gambar 2.9).Pada NF tipe 2, lesi ini kebanyakan selalu dipastikan secara histologis,
sebagai schwannomas atau neurilemomas, sementara NF 1 dipastikan secara histologi
sebagai neurofibroma. Neurofibroma subkut anter kadang bisa muncul pada NF tipe 2

17
Gambar 2.9a Lesi subkutan dan kutan dengan NF tipe 2 dan caf-au-lait spot yang sedikit.

18
Gambar 2.9b Wajah yang asimetris, ptosis dan ekstropia, dengan beberapa lesi subkutan
pada kening pada pasien dengan NF tipe 2

C. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Genetik
Untuk keluarga yang asimtomatik, pada anggota yang beresiko,
pemeriksaan molecular dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Ketika diagnosis
NF 2 dipastikan, maka orang tersebut ditawarkan analisa molecular secara
langsung untuk dapat melihat apakah mutasi dapat diidentifikasi.Untuk keluarga
yang tidak adamutasi yang teridentifikasi pada individu yang terkena, analisa
linkage atau tes genetic secara tidak langsung dapat diterapkan.

19
Untuk orang tua yang memiliki NF tipe 2, tes prenatal dapat dilakukan pada
amniocytes atau vilikorion, baik melalui analisa mutasi gen secara langsung atau
analisa linkage.12

b. Pencitraan
1. Radiografi
Foto polos dari tulang belakang dapat membantu dalam evaluasi scoliosis
tapi terbatas untuk melihat tumor spinal cord yang dapat terjadipada NF tipe 2.5

2. MRI
MRI tetap menjadi pilihan dalam diagnosis dan skrining dari CNS, saraf
kranial, tumor spinal cord.Individu dengan resiko mungkin dimonitor untuk
permulaan dari tumor CNS dalam usia belasan, dengan MRI tahunan pada kepala
sampai umur 50 an. MRI dengan 3 D sekarang diutamakan untuk pertumbuhan
vestibular schwannoma.5
MRI tulang belakang diindikasikan secara diagnostik ketika seorang
individu dengan perubahan motoric atau sensori yang menunjukkan lesi spinal
cord.Kata kunci disinia dalah deteksi awal untuk hasil yang lebih baik. MRI tidak
diindikasikan untuk orang yang asimtomatik.5

c. Pemeriksaan Auditori
Evaluasi pendengaran, termasuk brainstem auditory-evoked response
(BAER) penting dalam identifikasi hilangnya pendengaran dan dapat
mendemonstrasikan keabnormalan sebelum massa terdeteksi pada MRI.5

d. Pemeriksaan Optalamik
Pemeriksaan mata yang tampak dilatasi merupakan bagian pentingdari
orang yang terkena karena mereka beresiko untuk membentuk katarak atau lesi
katarak.Sebagai tes diagnostik, pemeriksaan mata untuk opasiti lensa, hamartoma
retinal, atau epiretinal membrane dapat berguna bahkan pada anak yang beresiko
NF tipe 2.Kenyataanya, katarak juvenile sering terjadi pada anak dan dapat
terlihat jauh sebelum ada bukti vestibular schwannoma.5

20
2.2.5 Diagnosa Banding
Brainstem Gliomas
Tumor yang terjadi di batang otak, yang merupakan daerah antara aquaductus
sylvius dan ventrikel keempat. Temuan klinis yang umum dapat diringkas sebagai
merupakan tiga serangkai defesit saraf cranial, long tract sign, dan ataksia (batang
dan tungkai).6

Ependymoma
Memiliki karakteristik sebagai berikut: rata-rata penderita berumur di atas 40
tahun, wanita lebih dominan, nyeri terlokalisir di tulang belakang, nyeri disestetik
(nyeri terbakar), menunjukkan gejala kronis, jenis miksopapilari rata-rata pada
usia 21 tahun, pria lebih dominan.6

Meningioma
Memiliki ciri sebagai berikut: 80% terletak di region thorakalis dan 60%
pada wanita usia pertengahan, pertumbuhan lambat, pada 25% kasus terdapat
nyeri radikuler, tetapi lebih sering dengan gejala traktur piramidalis dibawah lesi,
dan sifat nnyeri radikuler biasanya bilateral dengan jarak waktu gejala lain lebih
pendek.6

Neurofibromatosis Tipe I
NF1 merupakan kelainan genetik multisistem yang biasanya dikaitkan dengan
kulit, saraf, dan tulang. Karakteristik gejala dapat muncul beberapa bercak
berwarna seperti kopi dengan ukuran > 5mm pada prapubertas dan >15mm pada
postpubertas.6

2.3 TATALAKSANA
Karena manifestasi NF 1 dan NF 2 bervariasi dan kompleks, pendekatan yang
interdisipliner tidak bisa dihindari. Pemeriksaan skrining dua tahunan di masa kecil dan
kemudian setiap tahun sangat dianjurkan. Pemeriksaan harus mencakup pengukuran lingkar
kepala serta pemeriksaan tekanan darah karena beresiko pheochromocytoma dan kelainan
ginjal1. Di masa kanak-kanak, perilaku dan perkembangan harus dievaluasi secara hati-hati

21
untuk tanda-tanda ketidakmampuan belajar dan kecurigaan Attention deficit hyperactivity
disorder (ADHD). 2,3
Secara umum, pasien dengan NF 1 danNF 2 harus menjalani neurologis tahunan dan
pemeriksaan optalmologi4 . Terapi dari tumor biasanya adalah operasi. Meskipun jinak, eksisi
lengkap tumor sering tetap menjadi pilihan terapi karena lokasi yang dekat dengan saraf.
Harus dicatat bahwa eksisi- tumor beresiko tinggi untuk mengalami kekambuhan 5,6. Untuk
NF2, total reseksi bedah vestibular schwannomas adalah pilihan terapi yang cocok dan dapat
mengontorol pertumbuhan tumor. Namun, karena sering teradi multilobulating dan infiltrasi
tumor, kadang kadang terjadi kerusakan pada saraf cochlear atau saraf wajah yang beresiko
tinggi mengalami kerusakan permanen pada pendengaran dan kerusakan lainnya 7.
Tidak ada pengobatan khusus untuk neurofibromatosis, Umumnya dibiarkan
jika tidak mengganggu. Dilakukan pembedahan jika hanya ditemukan satu benjolan.
Jika ditemukan banyak benjolan, diperlukan persipan lebih matang untuk pembedahannya
(eksisi paliatif), untuk menilai lebih lanjut saraf yang mungkin terlibat.
Bila neurofibroma tidak mengenai serabut saraf besar, saraf yang mengandung tumor
biasanya dioperasi. Bila terkena serabut saraf besar maka, maka tumor dipisahkan dari
serabut saraf lalu kemudian diangkat atau dibiarkan bila tidak ada keluhan.13

2.4 PROGNOSIS
Prognosis untuk pasien neurofibromatosis tergantung pada jenisnya,lokasi,onset,dan
jumlah tumor tersebut. Diagnosa dan pengobatan dini (pembedahan atau radiasi) dapat
mengurangi tingkat kematian.5

22
BAB III
KESIMPULAN
Neurofibromatosis ialah suatu kelainan genetik yang diturunkan secara autosomal
dominan dengan manifestasi pada syaraf dan struktur lain, disertai pembentukan
neurofibroma. Neurofibromatosis memiliki kriteria dalam penegakan diagnosis.
Neurofibromatosis memiliki prevalensi yang rendah namun angka ini akan terus meningkat
seiring dengan perkembangan zaman.

23
DAFTAR PUSTAKA

1. Jr King, Zamora AC. Neurofibromatosis. Elvesier. 2006:92-97.


2. Gerber PA, Antal AS, Neumann NJ. Neurofibromatosis. Eur J Med Res. 2009 March;
14:102-105.
3. Dorland WA. Dorlands Illustrated Medical Dictionary. Ed.31. Jakarta:EGC, 2010.
4. Gareth D, Evans R. Neurofibromatosis type 2 (NF2): A Clinical and Molecular
Review. Orph J Rare Dis. 2009 June; 4(16):1-11.
5. Hsieh DT. Neurofibromatosis Type 1 and 2. Available from
:http://emedicine.medscape.com/article/215840-overview ( Accessed 14 February
2014, Last updated : October 2014
6. Hsieh DT. Neurofibromatosis Type 1. Available from
:http://emedicine.medscape.com/article/215840-overview ( Accessed 14 February
2014, Last updated : October 2014
7. Tonsgard JH. Clinical Manifestation and Management of Neurofibromatosis Type 1.
Semin Pediatr Neurol. 2006; 13:2-7.
8. Beert E, Brems H, Daniels B. Atypical neurofibromas in Neurofibromatosis Type I are
Premalignant Tumors. Gen Chrom Canc. 2011; 50:1021-1032.
9. Xiao GH, Chernoff J. NF2 : The Wizardry of Merlin. Gen Chrom Canc. 2003;
38:389-399.
10. Dimitrova, Valentina et al. A Case of Nuerofibromatosis Type II. Journal of IMAB -
Annual Proceeding (Scientific Papers). 2008; 14(1):12-18.
11. North K. Neurofibromatosis Type II. Am J Med Gened. 2000; 97:119-127.
12. Farner RE. Neurofibromatosis I and Neurofibromatosis II : a Twenty Fisdrt Century
Perspective. Lancet Neurol. 2007; 6:340-351.
13. Mc Clatchey AI. Neurofibromatosis. Annu Rev Pathol. 2007; 2:191-216

24