Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tanah longsor adalah salah satu bencana alam, di samping gempa bumi, banjir,

dan angin topan, dan lain-lain. Tingginya frekuensi gerakan tanah di Indonesia

sangat berhubungan erat dengan faktor alamiah penyebab dari gerakan tanah

yang meliputi morfologi permukaan bumi, penggunaan lahan, litologi, struktur

geologi, curah hujan, dan kegempaan (Kusumosubroto, 2013). Selain faktor

alamiah, gerakan tanah juga disebabkan oleh faktor aktivitas manusia yang

mempengaruhi bentang alam, seperti kegiatan pertanian, pembebanan lereng,

pemotongan lereng, dan pembangunan (Karnawati, 2005).

Untuk memastikan kestabilan suatu lereng, diperlukan data lapangan, baik berupa

morfologi setempat, jurus-kemiringan dan jenis batuan, kondisi airtanah, dan lainnya,

yang diperlukan untuk simulasi kestabilan lereng. Data geotechnical drilling log

diambil dan diuji di laboratorium mekanika batuan guna mendapatkan parameter

kekuatan fisik yang dibutuhkan untuk mendapatkan klasifikasi massa batuan yang

akan memperhitungkan kondisi stabil dari setiap jumlah kelas massa batuan yang

dideskripsi dengan mengukur Unconfined Compressive Strength (UCS), Rock Quality

Designation (RQD) (Bienawski, 1989) dan identifikasi diskontinuitas dari batuan serta

kondisi air tanah pada sample core. Dalam penentuan klasifikasi masa batuan

digunakan penghitungan Rock Mass Rating (RMR) (Bieniawski, 1989), kemudian dari

hasil pembobotan nilai RMR diperoleh sudut maksimum pemotongan lereng (slope)

suatu masa batuan dalam keadaan stabil dengan menghitung nilai Slope Mass Rating

1
(SMR). Namun nilai SMR belum memberikan nilai keamanan dari suatu lereng, maka

diperlukan analisis kestabilan lereng.

1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi longsor dari desain lereng

pertambangan berdasarkan nilai SMR. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan

klasifikasi massa batuan berdasarkan karakteristik geomekanik (RMR), kemudian

tujuannya mengetahui nilai dan mendeskripsikan yang dibentuk dari massa batuan

SMR dengan jumlah bobot tersebut sehingga dapat dibuat peta potensi longsor daerah

penelitian.

1.3 Perumusan Masalah dan Batasan Masalah

Permasalahan yang akan dibahas adalah mencoba menentukan massa batuan

dengan metode Slope Mass Rating (SMR) lereng disekitar daerah bendungan untuk

mengetahui potensi longsor dari kondisi batuan, kemantapan stabilitas lereng dan jenis

kelongsorannya.

1.4 Hipotesa

Penelitian ini difokuskan pada analisis potensi gerakan tanah atau longsor

berdasarkan metode Slope Mass Rating (SMR), yang kemudian dari hasil data

lapangan permukaan dan data bawah permukaan (korelasi data bor) biasanya hasil

berbeda.

2
BAB II

TEORI DASAR

2.1 Fisiografi Regional

Menurut Van Bemmelen (1949) secara fisiografi, daerah penelitian termasuk

kedalaman Zona Bogor bagian barat. Zona Bogor berada di bagian selatan Zona

Dataran Pantai Jakarta dan berada di bagian utara Zona Pegunungan Bayah yang

membentang dari barat ke timur, yaitu Rangkasbitung, Bogor, Subang, Sumedang dan

berakhir di Bumiayu dengan panjang kurang lebih 40 km. Zona Bogor ini merupakan

daerah antiklinorium yang cembung ke utara dengan arah sumbu lipatan barat-timur.

Inti antiklinorium ini dari lapisan-lapisan batuan berumur Miosen dan sayapnya

ditempati batuan yang lebih muda yaitu berumur Pliosen-Pleistosen. Pada Zona Bogor,

terdapat beberapa morfologi intrusi berupa boss. Batuan terdiri atas batupasir,

batulempung dan breksi yang merupakan endapan turbidit, disertai beberapa intrusi

hypabisal, konglomerat dan hasil endapan gunungapi. Disamping itu juga terdapat

lensa-lensa batugamping. Endapannya terdiri oleh akumulasi endapan Neogen yang

memiliki tebal dengan dicirikannya endapan laut dalam.

3
Gambar 2.1 Fisiografi Jawa Barat (Van Bemmelen, 1949).

2.2 Stratigrafi Regional

Menurut E. Rusmana, K. Suwitodirdjo dan Suharsono (1991) daerah penelitian

masuk dalam Peta Geologi Lembar Serang, menyebutkan dari batuan tertua sampai

yang termuda sebagai berikut:

Formasi Bojongmanik (Tmb)

Formasi bojongmanik merupakan satuan batuan sedimen tertua yang

tersingkap berumur Tersier, kala Miosen formasi ini disusun oleh perselingan

batupasir dengan lempung, sisipan batugamping.

Andesit Hornblenda Piroksen (Tac, Tba)

Satuan andesit hornblenda piroksen merupakan satuan batuan terobosan

tertua yang tersingkap berumur Tersier, kala Miosen, satuan ini memiliki

komposisi litologi berupa andesit hornblenda piroksen dan basal piroksen olivia.

4
Formasi Genteng (Tpg)

Formasi genteng merupakan satuan batuan sedimen berumur Tersier, kala

Pliosen yang disusun oleh litologi Tufa batuapung, konglomerat dan breksi

andesit

Formasi Cipacar (Tpe)

Formasi Cipacar merupakan satuan batuan sedimen yang terendapkan di atas

formasi genteng secara selaras yang berumur Tersier, kala Pliosen yang tersusun

oleh litologi Tufa batuapung, batupasir tufaan dan napal glaukonitan.

Formasi Bojong (Qpb)

Formasi bojong merupakan satuan batuan sedimen yang terendapkan di atas

formasi cipacar secara selaras yang berumur Quarter, kala Plistosen yang

tersusun oleh litologi napal pasiran, lempung pasiran dan batupasir tufaan.

Hasil Gunungapi Gede (Qpvg)

Hasil gunungapi gede merupakan satuan batuan hasil gunungapi yang

berumur Quarter, kala plistosen.

Batuan Gunungapi Kamuning (Qpvk)

Batuan hasil gunungapi kamuning merupakan satuan batuan hasil gunungapi

yang berumur Quarter, kala plistosen.

Batuan Gunungapi Marikangen (Qpvm)

Batuan hasil gunungapi marikangen merupakan satuan batuan hasil

gunungapi yang berumur Quarter, kala Plistosen.

5
Batuan Gunungapi Payung dan Gedor (Qpvp)

Batuan hasil gunungapi payung dan gedor merupakan satuan batuan hasil

gunungapi yang berumur Quarter, kala Plistosen.

Andesit Pasir Terbang (Qat)

Satuan andesit pasir terbang merupakan satuan batuan terobosan yang

berumur Quarter, kala Plistosen

Tufa banten (Qpvb)

Tufa banten merupakan satuan batuan sedimen yang terendapkan secara

menjemari dengan formasi bojong yang berumur Quarter, kala plistosen satuan

ini disusun oleh litologi batupasir tufaan dan tuff.

Hasil Gunungapi Karang (Qvk)

Hasil gunungapi karang merupakan satuan batuan hasil gunungapi yang

berumur Quarter, kala Holosen.

Hasil Gunungapi Pulosari (Qvp)

Hasil gunungapi pulosari merupakan satuan batuan hasil gunungapi yang

berumur Quarter, kala Holosen.

Basal Gunung Pinang (Qbp)

Merupakan satuan batuan terobosan termuda yang berumur Quarter, kala

Holosen yang disusun litologi basal.

Lava Gunung Karang (Qvkl)

Merupakan satuan batuan hasil gunungapi karang yang berumur Quarter, kala

Holosen yang disusum oleh litologi andesit-basal piroksen, porfiritik dan pejal.

6
Batugamping koral (Ql)

Merupakan satuan batuan sedimen termuda yang terendapkan yang berumur

Quarter, kala Holosen tersusun oleh litologi koloni koral dan pecahan cangkang

moluska.

Lava Muda Gunung Karang (Qhkl)

Merupakan satuan batuan hasil gunungapi yang berumur Quarter, kala

Holosen tersusun oleh litologi batuan andesit-basal piroksen yang terkekarkan

dan berongga.

Satuan Endapan Permukaan (Qa)

Satuan ini berumur paling muda yang berumur Quarter, kala Holosen yang

merupakan endapan alluvium berupa kerakal, pasir, lanau dan lumpur.

2.3 Struktur Geologi Regional

Menurut Van Bemmelen (1949), Jawa Barat telah mengalami 2 periode tektonik,

yaitu:

1. Periode Tektonik Intra Miosen. Pada periode ini, berlangsung

pembentukan antiklin Jawa dibagian selatan yang menyebabkan

timbulnya gaya-gaya ke arah utara sehingga terbentuk struktur lipatan dan

sesar yang berumur Miosen tengah dan terutama di bagian tengah dan

utara pulau Jawa. Sejalan dengan itu berlangsung pula terobosan intrusi

dasit dan andesit hornblende.

2. Periode Tektonik Plio-Plistosen. Pada periode ini, terjadi proses perlipatan

dan pensesaran yang diakibatkan oleh gaya-gaya yang mengarah ke utara

7
dikarenakan oleh turunnya bagian utara Zona Bandung, sehingga menekan

Zona Bogor dengan kuat. Tekanan ini menimbulkan struktur perlipatan

dan sesar naik di bagian utara Zona Bogor yang merupakan suatu zona

memanjang antara Subang dan Gunung Ciremai.

Kegiatan tektonik Pliosen-Pleistosen di daerah ini mengakibatkan terjadinya sesar

terobosan komplek kromong yang andesitis dan dasitis. Setelah berakhir kegiatan

tersebut terbentuklah Tambakan Beds yang berumur Pleistosen Bawah dan menutupi

satuan lainya secara tidak selaras. Tidak adanya batuan yang berumur Pliosen Atas di

daerah ini menunjukan adanya kekosongan pengendapan batuan. Pada kala Pleistosen

Tengah sampai Atas di Zona Bogor bagian tengah dan timur terbentuk endapan

Vulkanik tua (Gunung Slamet tua) dan Vulkanik muda dari Gunung Ciremai,

selanjutnya disusul oleh aktifitas pada Pleistosen Atas yang menghasilkan Linggopodo

Beds dan diikuti lagi oleh kegiatan Vulkanik Resen dari Gunung Ciremai sehingga

terbentuk endapan Vulkanik muda ke bagian utara zona tersebut. Tekanan tersebut

menimbulkan struktur perlipatan dan sesar naik dibagian Zona Bogor yang dikenal

sebagai Baribis thrust.

2.4 Teori Dasar


Menurut Made Astawa Rai (1993) kemantapan suatu lereng dinyatakan dengan

faktor keamanan (safety factor), yang merupakan perbandingan antara besarnya gaya

penahan dengan gaya penggerak longsoran, dan dinyatakan sebagai berikut:

8
Gambar 2.2 Gaya yang bekerja pada suatu bidang miring.

N = Gaya Normal.

W = Gaya Berat.

FK = Faktor Keamanan.

= Sudut Lereng.

(2.1)

Dimana Jika:

FK > 1.0 Lereng dianggap.

FK < 1.0 Lereng dianggap terjadi longsoran.

FK = 1.0 Lereng dianggap kritis.

Faktor-faktor yang menyebabkan lereng menjadi tidak stabil antara lain yaitu:

1. Penyebaran batuan

9
Jenis batuan atau tanah yang terdapat di daerah penyelidikan harus

diketahui, demikian juga penyebaran batuannya karena sifat-sifat fisis dan

mekanis suatu batuan berbeda dengan batuan lain sehingga kekuatan

menahan batuan bebannya sendiri juga berbeda.

2. Morfologi

Faktor ini yang mempengaruhi laju erosi, pengendapan dan menentukan

arah aliran air permukaan dan air tanah. Untuk daerah yang curam,

kecepatan aliran air permukaan tinggi mengakibatkan pengikisan lebih

intensif dari daerah yang lebih landai, sehinga banyak dijumpai singkapan

batuan yang menyebabkan pelapukan yang lebih cepat dan berkurangnya

kestabilan lereng.

3. Struktur Geologi

Struktur geologi yang merupakan bidang lemah dalam suatu massa batuan

seperti sesar, kekar, bidang perlapisan dan perlipatan perlu diperhatiakn

karena sangat mempengaruhi kestabilan lereng.

4. Air

Secara garis besar, air sangat mempengaruhi terhadap stabilitas lereng

adalah menghasilkan peningkatan tekanan air pori, meningkatkan harga

berat jenis tanah, erosi internal dan eksternal, perubahan kandungan

mineral.

5. Geometri lereng

10
Semakin tinggi lereng maka semakin besar resiko kelongsoran terjadi dan

lereng akan menjadi kurang kuat jika sudut atau kemiringan lerengnya

terlalu besar.

6. Gaya luar

Faktor ini cukup banyak mempengaruhi kemantapan suatu lereng, gaya ini

berupa gempa bumi, peledakan, dan lalu lintas kendaraan jika di sekitar

lereng tersebut.

Menggunakan klasifikasi massa batuan untuk evaluasi kemantapan suatu lereng

harus memperhatikan berbagai model longsoran yang tentunya diatur oleh

karakteristik kekar. Macam-macam tipe longsoran akibat kekar menurut Made Astawa

Rai (1993) sebagai berikut:

1. Longsoran Busur (Circular Failur)

Longsoran ini terjadi pada material yang bersifat tanah (over burden,

waste, dan batuan lapuk), dengan sistem kekar yang rapat dan tidak

mempunyai pola struktur.

Gambar 2.3 Longsoran Busur (Circular Failure).

11
2. Longsoran Bidang (Plane Failure)

Longsoran ini terjadi karena kemiringan bidang kekar rata-rata hampir

atau searah kemiringan lereng.

Gambar 2.4 Longsoran Bidang (Plane Failure).

3. Longsoran Baji (Wedge Failure)

Longsoran ini terjadi karena perpotongan dua bidang kekar yang

mempunyai kemiringan ke arah kemiringan lereng.

Gambar 2.5 Longsoran Baji (Wedge Failure).

12
4. Longsoran Guling (Toppling Failure)

Longsoran ini biasanya terjadi pada lereng batuan yang kemiringan bidang

lemahnya berlawanan dengan kemiringan lereng.

Klasifikasi massa batuan dibuat untuk mengetahui kualitas dari suatu massa

batuan yang baik dan praktis. Klasifikasi massa batuan umum yang ada Rock Mass

Rating (RMR) System/Geomechanics Classification (Bieniawski, 1973). Sistem RMR

pada awalnya dikembangkan untuk terowongan, namun kemudian dapat digunakan

juga buat rock slopes dan pondasi, penilaian ground rippability, masalah-masalah di

pertambangan.

2.4.1 Rock Mass Rating (RMR)


Klasifikasi ini sudah dimodifikasi beberepa kali sesuai dengan data baru agar

dapat digunakan untuk berbagai kepentingan dan standar internasional

(Bieniawski, 1973). RMR menggunakan parameter untuk mengklasifikasi

massa batuan yaitu:

1. Uniaxial Compressive Strength (UCS) Test

Pengujian ini menggunakan mesin tekan untuk menekan suatu batuan yang

bentuknya silinder, balok, atau prisma dari satu arah. Klasifikasi teknis

batuan utuh menurut Deere (1968) adalah sebagai berikut:

13
Tabel 2.1 Klasifikasi Teknis Batuan Utuh (Deere, 1968)

Pemerian Kekuatan UCS (Mpa) Contoh Batuan

Sangat Lemah 1 25 Kalk, Halite


Batubara, siltstone,
Lemah 25 50 sekis

Sedang 50 100 Batupasir, Slate, Shale

Kuat 100 200 Marmer, Granit

Sangat Kuat >200 Kuarsit, Gabro, Basalt

2. Rock Quality Designation (RQD)

Parameter yang dapat menunjukan kualitas massa batuan atau sejauh mana

batuan ini hancur sebelum penggalian dilakukan (Deere, 1968).

Tabel 2.2 Hubungan RQD & Kualitas Teknik Batuan (Deere, 1968).
Pemerian Kualitas Batuan

<25 Sangat Jelek (Very Poor)

25-50 Jelek (Poor)

50-75 Sedang (fair)

75-90 Baik (Good)

90-100 Sangat Baik (excellent)

3. Spasi Kekar (Spacing joint)

Menurut Deere (1968), jarak kekar adalah jarak tegak lurus antara dua

kekar berurutan sepanjang garis pengukuran kekar yang dibuat sembarang.

14
Tabel 2.3 Klasifikasi Untuk Spasi Kekar (Deere, 1968).

Pemerian Spasi Kekar Keeterangan

Sangat lebar >3 m Padat

Lebar 1-3 m Masif

Cukup Dekat 0,3-1 m Bloky/Seamy

Dekat 50-300 mm Terpecah

Sangat Dekat <50 mm Hancur dan tersebar

4. Kondisi Diskontinyu (Condition of Discontinuities)

Kemenerusan dari rekahan mempengaruhi sifat massa batuan. Rekahan

bisa tidak mengandung bahan pengisi atau bisa juga mengandung bahan

pengisi, apabila dalam rekahan itu terdapat bahan pengisi maka serta

ketebalan pengisi tersebut harus diamati dan dicatat.

5. Kondisi Air Tanah (Groundwater Conditions)

Mempunyai pengaruh yang besar terhadap kestabilan. Untuk bukaan

bawah tanah, aliran air merupakan faktor yang dominan, sedangkan untuk

lereng dan pondasi, penyebaran tegangan pori dalam massa batuan tersebut

yang lebih dominan.

6. Orientasi Kekar

Dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh kekar terhadap lereng

penggalian disesuaikan dengan arah pondasi.

Dari semua yang diperoleh parameter-parameter tersebut maka dilakukan

klasifikasi Geomekanik atau menggunakan Rock Mass Rating dengan

15
menghitung bobot (rating) dari total kelima parameter yang terdapat dalam

Tabel 2.4 sesuai dengan kondisi lapangan sebenarnya. Setelah melakukan

rating dari semua parameter tersebut didapat selanjutnya mendeskripsikan

massa batuannya berdasarkan klasifikasi massa batuan menurut Bieniawski

(1989).

Tabel 2.4 Klasifikasi dan Bobot RMR (Bieniawski, 1989)

16
Tabel 2.5 Kelas Massa Batuan (Bieniawski, 1989)

Bobot 100-81 80-61 60-41 40-21 <20

Kelas I II III IV V

Sangat Sangat
Deskripsi Batuan Baik Baik Sedang Buruk Buruk

20 thn, 1 thn, 1 minggu, 10 jam, 30 menit,


Stand up time rata-
15m 10m 5m 2.5m 1m
rata & span

2.4.2 Slope Mass Rating (SMR)


Untuk menentukan geometri lereng yang terbentuk dapat dilakukan dengan

metode Slope Mass Rating (SMR) dalam hal ini adalah metode Romana (1993)

sebagai berikut:

SMR = RMR (F1 x F2 x F3) (2.2)

Dimana:

SMR = Slope Mass Rating.

RMR = Merupakan Klasifikasi dari RMR.

F1 = (Arah dip kekar arah dip lereng) - 180.

F2 = Dip kekar.

F3 = Dip kekar dip lereng.

17
Tabel 2.6 Pembobotan Kekar (Romana, 1993).

Sangat
Sangat Tidak
Tipe Formula Diskontinuitas Baik Biasa Tidak
Baik Baik
Baik

Lb = j s

Derajat >30 30-20 20-10 10-5 <5


F1 Lg = j s -
180

Lb = Lg Bobot 0.15 0.4 0.7 0.85 1


Lb = j Derajat <20 20-30 30-35 35-45 >45

F2 Lb Bobot 0.15 0.4 0.7 0.85 1


Lg Bobot 1 1 1 1 1

Lb = j s >10 10-0
0
F3 0 (-10) <-10
Derajat >120
Lg = j + s <100 100-200

Lb = Lg Bobot 0 -6 -25 -50 -60

Lb =Longsoran bidang Lg = Longsoran guling


j = Dip direction kekar j = Dip kekar
s = Dip direction lereng s = Dip lereng

18
Tabel 2.7 Klasifikasi Slope Mass Rating (Romana, 1993)

KLASIFIKASI V IV III II I

SMR 0-20 21-40 41-60 61-80 >80

Sangat
DESKRIPSI Tidak baik Sedang Baik Sangat baik
tidak baik

Sangat
Tidak Sebagian Sangat
STABILITAS tidak Mantap
mantap mantap Mantap
mantap

Bidang atau
seperti Dikontrol
KEMUNGKINAN
Bidang
BENTUK runtuhan oleh adanya Berupa blok
atau baji
LONGSORAN material kekar
lepas

19
BAB III

METODE KERJA

3.1 Studi Pustaka

Tahap studi pustaka yakni mempelajari literatur-literatur peneliti terdahulu

khususnya yang berhubungan erat dengan daerah penelitian dimaksudkan, dengan

tujuan untuk mendapatkan gambaran umum tentang daerah penelitian dan penyusunan

diagram alir.

3.2 Pengumpulan Data

Proses pelaksanaan pengumpulan dibagi menjadi 2 (dua) macam yaitu:

1. Data primer

Pada tahap ini dilakukan pemetaan geologi untuk mengukur kekar (kondisi

kekar dan jarak kekar), strike dip dan litologi data tersebut diperoleh dari

hasil survey observasi lapangan. Data yang didapat dari observasi lapangan

akan menjadi data stratigrafi, struktur geologi, yang kemudian menjadi peta

geologi dan geomorfologi. Sampel bor akan dianalisis untuk data berupa

kondisi air tanah, RQD, dan UCS yang kemudian hasil dari korelasi bor

tersebut akan mengasilkan peta geologi teknik.

2. Data Sekunder

Peta geologi regional lembar Serang yang diperoleh dari Pusat Penelitian

dan Pengembangan Geologi (P3G) yang dipetakan oleh E. Rusmana, K.

Suwitodirdjo dan Suharsono (1991)

20
3.3 Analisa Data

Setelah korelasi, data bor ini juga mempunyai nilai dari Uniaxial Compressive

Strength (UCS) dan Rock Quality Designation (RQD). Setelah melakukan deskripsi

bor selesai, selanjutnya mengumpulkan semua data pengukuran lapangan dari setiap

lokasi dan masing-masing lapisan/trap. Data tersebut selanjutnya akan diolah tahapan

sebagai berikut:

1. Pembobotan Rock Mass Rating (RMR)

Metode RMR adalah Suatu metode pembobotan massa batuan (Bieniawski,

1989). Metode RMR dipakai untuk menentukan suatu kondisi batuan

dengan nilai dan diberi pembobotan.

2. Perhitungan Slope Mass Rating (SMR)

Hasil pembobotan data RMR pada tiap lapisan/trap, akan dijadikan data

perhitungan SMR, yang dilengkapi dengan data dip kekar, dip bidang

lereng untuk menentukan geometri lereng sehingga didapat hasil berupa

klasifikasi SMR Romana (1993).

3. Pembuatan Peta Potensi Longsor

Pembuatan peta potensi longsor didasarkan dari perhitungan Slope Mass

Rating (SMR) untuk mengelompokan geometri lereng kedalam klasifikasi

SMR, sebagai dasar pembutan penyebaran zona longsor pada Peta Potensi

Longsor.

21
3.4 Penulisan Laporan

Merupakan tahap terakhir, penyusunan laporan disusun berdasarkan data-data

yang telah dikumpulkan dan yang telah dianalisis. Laporan ini harus disusun dengan

menggunakan metodologi penulisan laporan yang baik dan benar.

3.5 Diagram Alir

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian

22
BAB IV

HASIL DIHARAPKAN

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi longsor dari desain lereng

tambang menggunakan metode SMR, hasil yang diharapkan dari penelitian ini berupa

peta potensi longsong berdasarkan klasifikasi geometri lereng SMR, serta

rekomendasi support system lereng pada daerah penelitian.

23
BAB V

RENCANA KERJA

Novem
Desember
Juli Agustus September Oktober ber
No. Tasks
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1 Persetujuan Proposal
2 Persetujuan Administrasi
3 Tahap Pengumpulan Data Lapangan

4 Tahap Analisa Data

5 Penyusunan Laporan
6 Revisi dan Konsultasi Akhir

24